LEMBARAN DAERAH KOTA DUMAI
PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 06 TAHUN 2005
TENTANG
PENGOPERASIAN KENDARAAN TIDAK BERMOTOR JENIS BECAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA DUMAI,
Menimbang : a. bahwa Becak merupakan salah satu jenis kendaraan tidak bermotor yang banyak beroperasi di wilayah Kota Dumai, dipandang perlu dibuat pengaturannya dan penggunaannya di jalan sehingga dapat tercipta ketertiban dan kelancaran berlalu lintas serta dapat meningkatkan mutu pelayanan angkutan orang/barang;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud di atas, dipandang perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pengoperasian Kendaraan Tidak Bermotor Jenis Becak. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3480);
3. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Dumai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3829); 4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5489);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesian Nomor 4437);
6. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
7. Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 132, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4441);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3529);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1993 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3530);
11. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952);
12. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1139);
13. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 48 Tahun 1997 tentang Kendaraan Tidak Bermotor dan Penggunaannya di Jalan;
14. Peraturan Daerah Kota Dumai Nomor 13 Tahun 2002 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Dumai (Lembaran Daerah Kota Dumai Tahun 2002 Nomor 26 Seri D).
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DUMAI dan
WALIKOTA DUMAI MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI TENTANG PENGOPERASIAN KENDARAAN TIDAK BERMOTOR JENIS BECAK.
BAB I KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Daerah Kota Dumai;
b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah;
c. Walikota adalah Walikota Dumai;
d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selanjutnya disebut DPRD adalah Badan Legislatif Kota Dumai;
e. Dinas perhubungan adalah Dinas Perhubungan Kota Dumai; f. Kendaraan Tidak Bermotor adalah Kendaraan yang digerakkan
g. Becak adalah kendaraan tidak bermotor roda tiga yang digerakkan oleh tenaga manusia dipergunakan untuk angkutan orang atau barang;
h. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan dimaksud untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang. Penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan;
i. Wajib Retribusi adalah orang pribadi dan badan yang menurut Peraturan Perundang-undangan Retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi;
j. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib retribusi untuk memanfaatkan izin operasi;
k. Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Kendaraan Tidak Bermotor adalah Tanda Bukti untuk mengemudikan Kendaraan Tidak Bermotor;
l. Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor (Becak) adalah Tanda Bukti Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor; m. Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor telah
didaftarkan dan dapat beroperasi;
n. Plat Nomor adalah Tanda Bukti bahwa Kendaraan Tidak Bermotor telah didaftarkan dan dapat dioperasikan; o. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari,
mengumpulkan, dan mengolah data dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban retribusi berdasarkan Peraturan perundang-undangan Retribusi Daerah;
p. Penyidik Tindak Pidana di bidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut Penyidik, untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindakan Pidana di bidang retribusi daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2
Maksud pengaturan Pengoperasian Kendaraan Tidak Bermotor Jenis Becak adalah untuk menciptakan ketertiban, kelancaran dan kenyamanan berlalu lintas di jalan dengan tujuan kendaraan tidak bermotor beroperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta membatasi jumlahnya.
BAB III
PERSYARATAN TEKNIS
KENDARAAN TIDAK BERMOTOR JENIS BECAK Pasal 3
Setiap kendaraan bermotor jenis becak, harus memenuhi/ melengkapi persyaratan teknis sebagai berikut :
a. Ukuran utama muatan adalah maksimum 1.500 mm, tinggi maksimum 1.800 mm, panjang maksimum 2.800 mm; b. Sepakbor yang harus memenuhi persyaratan :
1. Mampu mengurangi percikan air atau Lumpur ke belakang kendaraan ataupun badan kendaraan;
2. Memiliki lebar sekurang-kurangnya selebar telapak ban. c. Rem yang bekerja dengan baik, minimal terdapat pada roda penggerak kendaraan yang dapat bekerja dengan baik sesuai dengan besarnya beban;
d. Melengkapi dengan dua buah lampu atau lentera yang ditempatkan disebelah kiri dan sebelah kanan pada jarak tidak lebih dari 150 mm dari bagian terluar kendaraan yang bersangkutan dan menyinarkan cahaya putih atau kuning kedepan, dan menyinarkan cahaya merah kesamping dan kearah belakang;
e. Tuter atau alat peringatan dengan bunyi lainnya;
f. Serta persyaratan teknis lainya, yang akan diatur lebih lanjut oleh Walikota.
BAB IV
PERSYARATAN ADMINISTRATIF
KENDARAAN TIDAK BERMOTOR JENIS BECAK Pasal 4
Setiap kendaraan tidak bermotor jenis becak diwajibkan memenuhi persyaratan administratif sebagai berikut :
a. Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak; b. Surat Tanda Kepemilikan;
c. Surat Tanda Nomor dan Plat Nomor; d. Surat Tanda Uji Kendaraan.
Pasal 5
(1) Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak, diberikan kepada pengemudi becak yang mengangkut orang/barang.
(2) Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku selama 3 (tiga) tahun.
Pasal 6
(1) Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor diberikan kepada Pemilik Becak.
(2) Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor berlaku selama Kendaraan Tidak Bermotor tersebut masih dapat dioperasikan/laik jalan.
(3) Apabila Kendaraan Tidak Bermotor dipindah-tangankan/dijual atau ganti pemilik Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor wajib dibaliknamakan dengan menerbitkan Surat Tanda Kepemilikan yang baru.
Pasal 7
(1) Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor, diberikan Plat Nomor Kendaraan Tidak Bermotor 1 (satu) pasang yang diperuntukkan untuk di depan dan belakang Kendaraan Tidak Bermotor.
(2) Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor berlaku selama 1 (satu) tahun dan plat nomor kendaraan berlaku selama 3 (tiga) tahun.
Pasal 8
Surat Tanda Uji Kelayakan Kendaraan Tidak Bermotor berlaku selama 1 (satu) tahun.
Pasal 9
Prosedur dan tata cara penerbitan persyaratan administratif sebagaimana dimaksud Pasal 4, akan diatur lebih lanjut oleh Walikota
BAB V
KETENTUAN RETRIBUSI Pasal 10
Setiap pemberian Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak, Surat Tanda Kepemilikan, Surat Tanda Nomor dan Plat Nomor dipungut Retribusi.
Pasal 11
Retribusi sebagaimana dimaksud pada Pasal 10, termasuk golongan Retribusi Perizinan Tertentu.
Pasal 12
Tingkat Pengguna jasa Retribusi diukur berdasarkan besarnya biaya untuk menutupi sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin dan jenis bahan yang digunakan.
Pasal 13
Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur tarif retribusi dimaksudkan untuk menutup biaya penyelenggaraan penyediaan pelayanan fasilitas pemberian plat nomor dan jenis becak dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.
Pasal 14
Besarnya tarif retribusi adalah sebagai berikut :
NO JENIS TARIF (Rp)
1. Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak 20.000,-2. Surat Tanda Kepemilikan 50.000,-3. Surat Tanda Nomor dan Plat Nomor 15.000,-4. Surat Tanda Uji Kendaraan
10.000,-Pasal 15
(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.
(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(3) Hasil pungutan retribusi disetor ke Kas Daerah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pasal 16
Dalam hal Wajib Retribusi tidak membayar tepat pada waktu atau kurang membayar, dikenakan Sanksi Admistrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari besarnya retribusi dan ditagih dengan menggunakan STRD.
Pasal 17
(1) Instansi pemungutan retribusi pemberian plat nomor dan jenis becak ditetapkan oleh Walikota.
(2) Biaya pemungutan atas pungutan retribusi ini ditetapkan sebesar 5% (lima persen) dari jumlah pungutan.
BAB VI LARANGAN
Pasal 18
(1) Becak yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 dan atau Pasal 4 huruf b, c dan d, dilarang beroperasi.
(2) Dilarang mengemudikan becak apabila tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada Pasal 4 huruf a.
Pasal 19
Pengemudi kendaraan tidak bermotor dilarang untuk :
a. Melanggar peraturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas yang sudah terpasang;
b. Melawan arus lalu lintas untuk menjaga keselamatan orang lain bagi pemakai jalan umum;
c. Memutar ditempat larang untuk memutar;
d. Menggunakan kendaraan yang tidak sesuai peruntukannya untuk beroperasi di jalan umum;
e. Membawa penumpang melebihi kapasitas.
Pasal 20
Dilarang memasukkan dan merakit serta membuat kendaraan tidak bermotor jenis becak di Wilayah Kota Dumai.
BAB VII SANKSI DAN DENDA
Pasal 21
(1) Barang siapa melanggar ketentuan dalam Pasal 8 ayat (1) dan (2), diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 (satu) bulan atau dengan sebanyak-banyaknya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah).
(2) Selain sanksi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, Kendaraan Tidak Bermotor jenis Becak yang tidak memenuhi ketentuan Pasal 3 dan Pasal 4, akan disita untuk selanjutnya dilakukan penghapusan dan pemusnahan.
BAB VIII PENYIDIKAN
Pasal 22
(1) Selain Pejabat Penyidik Umum yang bertugas menyidik tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Daerah ini juga dapat dilakukan oleh Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah yang mengangkatnya ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Dalam melaksanakan tugas Penyidikan para Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil sebagaimana tersebut ayat (1) berwenang:
a. Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana;
b. Melakukan tindakan pertama pada saat itu ditempat kejadian serta melakukan pemeriksaan;
c. Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka;
d. Melakukan penyitaan benda atau surat; e. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang; f. Memanggil seseorang untuk didengar dan diperiksa
sebagai tersangka atau saksi;
g. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
h. Menghentikan penyidikan setelah mendapat petunjuk dari Penyidik Umum bahwa tidak terdapat cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan merupakan tindak pidana dan selanjutnya melalui Penyidik Umum, tersangka atau keluarganya;
i. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
BAB IX KETENTUAN LAIN
Pasal 23
(1) Dalam rangka kelancaran tertib lalu lintas, Walikota akan membatasi jumlah maksimal becak yang dapat beroperasi secara bertahap dan membatasi zona-zona yang dapat beroperasi becak.
(2) Pengaturan lebih lanjut terhadap pembatasan jumlah becak dan zona wilayah becak, akan diatur kemudian oleh Walikota.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP Pasal 24
Dinas Perhubungan ditunjuk untuk melaksanakan ketentuan yang termuat dalam Peraturan Daerah ini.
Pasal 25
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Walikota.
Pasal 26
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Dumai.
Ditetapkan di Dumai
pada tanggal 28 November 2005
WALIKOTA DUMAI, Cap/dto H. ZULKIFLI A.S.
Diundangkan di Dumai
pada tanggal 30 November 2005
SEKRETARIS DAERAH KOTA DUMAI, Cap/dto
H. WAN FAUZI EFFENDI PEMBINA TK.I NIP. 010055541
PENJELASAN ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA DUMAI NOMOR 6 TAHUN 2005
TENTANG
PENGOPERASIAN KENDARAAN TIDAK BERMOTOR JENIS BECAK I. UMUM
Peraturan Daerah tentang Pengoperasian Kendaraan Tidak Bermotor Jenis Becak ini adalah untuk menciptakan ketertiban, kelancaran dan kenyamanan berlalu lintas di jalan dengan tujuan kendaraan tidak bermotor beroperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan membatasi jumlah Kendaraan Tidak Bermotor di Kota Dumai, dan merupakan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993, tentang Kendaraan dan Pengemudi dijabarkan dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 48 Tahun 1997 tentang Kendaraan Tidak Bermotor dan Penggunaan di Jalan.
Dalam kedudukan dan peranan yang demikian sudah selayaknya apabila Pemerintah Kota Dumai memberikan bimbingan dan pembinaan Kendaraan Tidak Bermotor dapat diselenggarakan secara tertib dan teratur, system perizinan lebih menitikberatkan kepada jaminan kualitas pelayanan angkutan orang dengan Kendaraan Tidak Bermotor.
Surat Tanda Kecakapan Mengemudi Becak diberlakukan sebagai Tanda Bukti seseorang bisa membawa becak sesuai Ketentuan yang berlaku.
Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor diberlakukan sebagai Tanda Bukti Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor.
Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor dan Plat Nomor diberlakukan sebagai Tanda Bukti Kendaraan Tidak Bermotor telah mendaftarkan dan dapat dioperasikan.
Dalam Peraturan Daerah ini diatur pula tarif Retribusi Surat Izin Mengemudi Izin Kendaraan Tidak Bermotor Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor, Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor dan Plat Nomor.
Ruang Lingkup pengaturan dalam Peraturan Daerah ini meliputi: a. Ketentuan Umum;
b. Maksud dan Tujuan;
c. Persyaratan Teknis Kendaraan Tidak Bermotor;
d. Pembatasan Pengoperasian Kendaraan Tidak Bermotor; e. Tata Tertib Berlalu lintas;
f. Surat Izin Mengemudi Kendaraan Tidak Bermotor; g. Surat Tanda Kepemilikan Kendaraan Tidak Bermotor;
h. Surat Tanda Nomor Kendaraan Tidak Bermotor dan Plat Nomor; i. Kewenangan;
j. Penghapusan Kendaraan Tidak Bermotor; k. Sanksi dan Denda;
l. Penyidik;
m. Ketentuan Penutup.
II. PASAL DEMI PASAL
Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Huruf c
Rem yang harus memenuhi persyaratan yang memungkinkan pengemudi dapat mengendalikan kecepatan atau memperlambat dan memberhentikan kendaraan dari tempat duduknya tanpa melepaskan kedua tangannya dari stang kemudi.
Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7
Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Cukup jelas Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas
65
Pasal 20 Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas