HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa Cikahuripan merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi dengan luas wilayah 702 Ha, ketinggian diatas permukaan laut yaitu 0.20 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan curah hujan sebesar 3000-3500 mm. Desa Cikahuripan terbagi dalam 3 Dusun, 15 Rukun Warga (RW) dan 38 Rukun Tetangga (RT). Batas wilayah Desa Cikahuripan adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Gunung Tanjung Sebelah Timur : Desa Cisolok
Sebelah Selatan : Samudera Indonesia Sebelah Barat : Desa Pasir Baru
Adapun jarak Kantor Desa ke Ibu Kota Kecamatan Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat dan ke Ibu Kota Negara adalah sebagai berikut:
Ibu Kota Kecamatan : 1 Km
Ibu Kota Kabupaten Sukabumi : 15 Km Ibu Kota Propinsi Jawa Barat : 170 Km
Desa Cikahuripan memiliki beberapa sarana dan prasarana yang mendukung kagiatan pemerintahan maupun kemasyarakatan seperti ditunjukkan pada Tabel 2. Sarana tersebut berupa satu buah kantor desa dimana seluruh kegiatan pemerintahan di Desa Cikahuripan berlangsung. Kondisi kantor Desa Cikahuripan sangat baik, dilengkapi dengan sebuah ruang rapat yang cukup besar dengan kapasitas lebih dari 50 orang.
Dalam bidang kesehatan, Desa Cikahuripan memiliki empat buah posyandu yang tersebar di tiga dusun. Hanya saja, baru satu posyandu yang memiliki bangunan tetap, sedangkan tiga posyandu lainnya dilakukan di rumah kader. Alat timbang yang dipergunakan masih sederhana, hanya satu posyandu yang sudah menggunakan timbangan digital untuk mengukur berat badan balita.
Untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki pengetahuan agama yang baik, Desa Cikahuripan memiliki tiga buah sekolah dasar, tiga buah PAUD dan 3 buah Lembaga Pendidikan Agama. Khusus untuk PAUD, satu buah PAUD belum memiliki bangunan tetap. Untuk melaksanakan
kegiatan belajar, PAUD ini masih menumpang di bangunan Posyandu. PAUD ini belum memiliki fasilitas seperti bangku, meja, alat permainan edukatif (APE) dan papan tulis. Hal ini berbeda dengan PAUD lainnya yang memiliki fasilitas sudah lengkap, hanya saja tidak memiliki lapangan yang cukup luas untuk bermain anak, karena PAUD ini diapit dengan Masjid dan rumah warga.
Untuk memfasilitasi kegiatan keagamaan bagi masyarakat desa Cikahuripan, desa ini memiliki dua belas buah masjid dan lima belas buah mushola. Untuk menyalurkan hobi dan keinginan berolahraga masyarakat, Desa Cikahuripan memfasilitasi kegiatan tersebut. Desa ini memiliki dua buah lapangan badminton dan dua buah meja pingpong.
Jumlah penduduk Desa Cikahuripan berdasarkan data laporan tahunan desa tahun 2007 adalah 5.869 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 2866 jiwa dan perempuan 3003 jiwa. Mata pencaharian penduduk Desa Cikahuripan cukup beragam. Sebagian besar penduduk Desa Cikahuripan bermata pencaharian sebagai nelayan. Mata pencaharian penduduk Desa Cikahuripan meliputi petani, buruh migran, pedagang keliling, artis, dosen, dan lain-lain. Sebaran penduduk berdasarkan mata pencahariannya dengan lengkap ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2 Sebaran Penduduk Desa Cikahuripan menurut Jenis Mata Pencaharian
No Pekerjaan n % 1. Petani 126 5,0 2. Buruh Tani 600 23,9 3. Buruh Migran 28 1,1 4. Pedagang Keliling 25 1,0 5. Nelayan 1425 56,8 6. Montir 16 0,6 7. Pegawai Negri 41 1,6
8. Pembantu Rumah Tangga 152 6,1
9. Pengusaha Kecil dan Menengah 21 0,8
10. Peternak 13 0,5
11. Guru Swasta 18 0,7
12. Lainnya 42 1,7
Total 2507 100
Sebagian besar penduduk Desa Cikahuripan memiliki tingkat pendidikan tamat SD/Sederajat, penduduk lainnya memiliki tingkat pendidikan tamat
SMP/sederajat, tamat SMA/sederajat, dan taman perguruan tinggi. Sebaran penduduk berdasarkan tingkat pendidikannya ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3 Sebaran Penduduk Desa Cikahuripan menurut Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan n %
Buta Aksara dan Huruf/Angka Latin 84 1,9
Tidak Tamat SD 106 2,4
Tamat SD/Sederajat 3073 70,6
Tamat SMP/Sederajat 456 10,5
Tamat SMA/Sederajat 408 9,4
Tamat Perguruan Tinggi 224 5,1
Total 4351 100
Karakteristik Keluarga Umur
Umur suami berkisar antara 22 tahun hingga 65 tahun dengan rata- rata 42,34 tahun, sedangkan umur istri 19- 47 tahun dengan rata- rata 37,35 tahun. Berdasarkan Tabel 4, terlihat bahwa persentase terbesar umur suami termasuk dalam kategori umur dewasa madya (52,83%), dan proporsi terbesar umur istri termasuk dalam kategori dewasa awal (71,15%). Hal ini menunjukkan proporsi terbesar keluarga contoh termasuk dalam usia produktif.
Tabel 4 Sebaran Contoh menurut Kategori Umur Suami dan Isteri
Kategori umur (tahun) Suami Istri
n % n % Dewasa awal(18-40) 24 45,28 37 71,15 Dewasa madya (41-60) 28 52,83 15 28,85 Dewasa lanjut (> 60) 1 1,89 0 0 Total 53 100 52 100 Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar, berlangsung terus menerus, sistematis dan terarah, yang bertujuan mendorong terjadinya perubahan-perubahan pada setiap individu yang terlibat di dalamnya. Pendidikan formal merupakan segala sesuatu (proses belajar mengajar) yang diupayakan untuk mengubah segenap perilaku seseorang (Gunarsa & Gunarsa 2004 diacu dalam Nuryani 2007).
Tingkat pendidikan suami bervariasi mulai dari tidak pernah sekolah hingga tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA), sedangkan tingkat pendidikan formal istri berkisar mulai dari tidak tamat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa persentase terbesar tingkat pendidikan suami (73,58%) dan istri (84,62%) adalah tamat Sekolah Dasar (SD).
Mengacu pada batas tingkat pendidikan dasar sembilan tahun yang dicanangkan oleh pemerintah, maka lama pendidikan yang ditempuh oleh sebagian besar suami dan istri adalah kurang dari 9 tahun. Hal ini berarti bahwa rata-rata pendidikan yang ditempuh suami dan istri termasuk dalam pendidikan tergolong rendah.
Tabel 5 Sebaran Contoh berdasarkan Tingkat Pendidikan Suami dan Istri
Tingkat Pendidikan Suami Istri
n % n % Tidak Sekolah 1 1,89 0 0 Tidak Tamat SD 9 16,98 4 7,69 Tamat SD 39 73,58 44 84,62 Tamat SMP 3 5,66 4 7,69 Tamat SMA 1 1,89 0 0 Total 53 100.00 52 100.00 Jenis Pekerjaan
Persentase terbesar suami contoh memiliki pekerjaan sebagai nelayan juragan (52,83%) dan sisanya bekerja sebagai nelayan buruh (47,17%). Selain itu, sebagian besar istri contoh (82, 69%) tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga. Istri yang memutuskan tidak bekerja biasanya lebih memfokuskan diri terhadap keluarga dan untuk mengurus rumah tangga di bidang domestik dan kegiatan mencari nafkah diserahkan sepenuhnya kepada suami/kepala rumah tangga. Pada istri yang bekerja, mereka bekerja sebagai pedagang (7,69%), wiraswasta (5,77%) dan pekerjaan lainnya (3,85%) seperti petani, buruh, dan karyawan.
Tabel 6 Sebaran Contoh berdasarkan Jenis Pekerjaan Suami dan Istri
Pekerjaan Suami n %
Nelayan Buruh 25 47,17
Nelayan Juragan 28 52,83
Tabel 7 Sebaran Contoh berdasarkan Jenis Pekerjaan Suami dan Istri (lanjutan)
Pekerjaan Istri n %
Tidak Bekerja/ Ibu Rumah Tangga 43 82,69
Pedagang 4 7,69
Wiraswasta 3 5,77
Lainnya 2 3,85
Total 52 100.00
Keterangan : 1 orang istri sudah meninggal Besar Keluarga
Besar keluarga ditentukan oleh banyaknya jumlah anggota keluarga. Hatmadji dan Anwar (1993) diacu dalam Rambe (2004) juga menjelaskan bahwa jumlah anggota keluarga sedikit akan menyebabkan beban keluarga berkurang sehingga tanggungan keluarga menjadi kecil.
Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 2 sampai 8 orang dengan rata-rata 4,62 orang. Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa lebih dari separuh (54,72%) keluarga contoh memiliki jumlah anggota keluarga ≤ 4 orang. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh keluarga contoh termasuk dalam keluarga kecil.
Tabel 8 Sebaran Contoh berdasarkan Besar Keluarga
Kategori besar keluarga n %
Kecil (≤ 4 orang) 29 54,72 Sedang (5-6 orang) 16 30,19 Besar (≥ 7 orang) 8 15,09 Total 53 100.00 Rata- rata+ SD 4,62+1,47 Min- Maks 2-8
Keterangan: Klasifikasi menurut BKKBN (1996) Pendapatan Per Kapita
Pendapatan per kapita merupakan indikator yang baik bukan saja pada tingkat kesejahteraan jasmaniah yang dapat dicapai seseorang, tetapi juga terhadap kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat (Ginting & Penny 1984 diacu dalam Nuryani 2007). Pendapatan per kapita pada penelitian ini merupakan rata-rata pendapatan per bulan dibagi banyaknya anggota keluarga. Peneliti menggambarkan pendapatan per kapita pada tiga musim yang berbeda, yaitu musim biasa (2 bulan), musim panen (4bulan) dan musim paceklik (6 bulan) dan rata- rata pendapatan per kapita dari ketiga musim.
Tabel 9 Sebaran Contoh berdasarkan Kategori Pendapatan Perkapita Per Bulan untuk Tiap Musim
Pendapatan (per Kapita/bulan)
Biasa Panen Paceklik Rata- rata
n % n % n % n % ≤145733 15 28,30 0 0,00 36 67,92 7 13,21 145734 - 291467 17 32,08 7 13,21 11 20,75 16 30,19 291468 - 437200 8 15,09 4 7,55 3 5,66 12 22,64 437201 - 582933 7 13,21 10 18,87 1 1,89 2 3,77 582934 < 6 11,32 32 60,38 2 3,77 16 30,19 Total 53 100,00 53 100,00 53 100,00 53 100 Rata- rata (Rp) 326.644,12 1.201.679,47 121.112,13 515.556,57
Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 8), terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam pendapatan perkapita pada tiga musim yang yang berbeda. Rata- rata pendapatan per kapita terbesar berada dalam musim panen sebesar Rp. 1.201.679,47 dan rata- rata pendapatan per kapita terkecil berada pada musim paceklik, yaitu sebesar Rp. 121.112,13, sedangkan pendapatan per kapita rata- rata untuk keseluruhan musim sebesar Rp. 515.556,57.
Pengeluaran Per Kapita
Pengeluaran per kapita dikelompokkan berdasarkan pengeluaran pangan dan non pangan, sehingga selain dapat menggambarkan pengeluaran secara keseluruhan, juga dapat menggambarkan perbedaan porsi antara pengeluaran pangan dan non pangan.
Rata- rata alokasi pengeluaran pangan per kapita/bulan untuk keseluruhan keluarga nelayan contoh adalah Rp 210.601,5 (60,25%) dan pengeluaran non pangan per kapita/bulan adalah Rp 138.922,3 (39,75%). Hal ini menunjukkan bahwa keluarga nelayan contoh mengalokasikan pendapatannya untuk memenuhi pengeluaran pangan lebih besar daripada alokasi pengeluaran untuk kebutuhan non pangan. Tinggi rendahnya alokasi pengeluaran pangan adalah indikasi tingkat kesejahteraan keluarga. Pada masyarakat yang lebih sejahtera, kebutuhan akan pangan tetap penting, namun pendapatan yang dialokasikan untuk belanja pangan umumnya semakin mengecil.
Menurut hukum Engel, pada saat terjadi peningkatan pendapatan, keluarga (rumahtangga) akan membelanjakan pendapatannya untuk pangan dengan persentase yang semakin mengecil. Sebaliknya bila pendapatan menurun,
persentase pendapatan yang dibelanjakan untuk kebutuhan pangan akan meningkat (BPS 2007; Sunarti 2008).
Tabel 10 Rata-Rata, Standar Deviasi dan Persentase Pengeluaran Pangan dan Non Pangan
Pengeluaran (per kapita/ bulan)
Rata-rata (Rp) Std (Rp) % Pengeluaran Pangan 210.601,5 134.488 60,25 Pengeluaran Non Pangan 138.922,3 100.120 39,75 Pengeluaran Total 349.523,8 212.765,8 100
Teori hierarki kebutuhan Maslow mengemukakan bahwa manusia akan mengutamakan kebutuhan fisiologisnya sebelum memenuhi kebutuhan yang lain (seperti kebutuhan akan rasa aman, cinta, dan harga diri). Pemenuhan akan pangan termasuk dalam kebutuhan fisiologis. Oleh karena itu, dalam kondisi kurang sejahtera, maka kebutuhan pangan harus terpenuhi meski harus membelanjakan sebagian besar penghasilannya. Menurut Roedjito diacu oleh Sunarti (2008) tingkat pendapatan yang lebih tinggi akan memberi peluang yang lebih besar bagi keluarga untuk memilih pangan dalam jumlah banyak dan beragam jenisnya.
Kepemilikan Aset
Aset merupakan apapun yang dimiliki maupun diakses, yang dapat memberikan nilai tukar untuk mencapai tujuan. Menurut Guhardja et. al. (1992) aset keluarga dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu aset lancar dan aset tidak lancar. Aset lancar merupakan barang-barang kekayaan yang relatif cepat dapat diuangkan, seperti emas, perhiasan, dan uang tunai. Aset tidak lancar merupakan barang-barang kekayaan yang relatif agak lama jika diuangkan, misalnya tanah, rumah, kendaraan, dan kebun. Aset pada penelitian ini adalah kekayaan yang dimiliki keluarga berupa kepemilikan rumah, kendaraan, barang elektronik, perhiasan, tabungan, aset perikanan, pertanian dan ternak, dan lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar (88,7%) keluarga contoh menempati rumah milik sendiri. Selain tanah dan rumah sebagai tempat tinggal, sebagian kecil keluarga contoh juga memiliki sawah (5,7%) dan ladang/kebun (17,0%). Sawah dan ladang ini umumnya ditanami tanaman untuk kebutuhan sehari-hari atau juga sebagai pekerjaan sampingan di saat tidak melaut.
Hanya sebagian kecil keluarga contoh yang memiliki kendaraan berupa motor (13,2%) dan sepeda (17,0%). Barang-barang elektronik yang dimiliki keluarga contoh cukup bervariasi, antara lain televisi (88,7%), radio (26,4%), Tape/compo (20,8%), dan VCD player (56,6%). Sebagian besar barang-barang elektronik ini, dimiliki oleh keluarga contoh dengan membeli secara kredit. Perhiasan emas hanya dimiliki oleh sebagian kecil keluarga contoh (34, 0%).
Untuk menjalankan pekerjaan utama sebagai nelayan, tidak semua nelayan yang menjadi keluarga contoh memiliki kapal/perahu sendiri. Nelayan yang sudah memiliki kapal/perahu sendiri sebesar 52,8 persen dari keseluruhan contoh. Contoh yang tidak memiliki kapal umumnya menjadi nelayan buruh atau menyewa kapal saat akan pergi melaut. Selain tidak memiliki kapal, nelayan dari keluarga contoh juga tidak semua memiliki peralatan melaut, hampir separuh contoh (45,3%) memiliki jaring sendiri. Tabel 10 menunjukkan kepemilikan aset yang dimiliki oleh keluarga contoh. Sebagian besar keluarga contoh memiliki asset dalam kategori sedikit sebesar 84,91 persen.
Tabel 11 Sebaran Contoh berdasarkan Kepemilikan Aset
Kepemilikan Aset n %
Banyak (66,8- 100) 0 0,00
Sedang (33,4- 66,7) 8 15,09
Sedikit (0- 33,33) 45 84,91
Total 53 100.00
Manajemen Keuangan Keluarga
Manajemen keuangan keluarga terdiri dari kebiasaan contoh dalam merencanakan, menggunakan uang sesuai perencanaan dan mengevaluasi keuangan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan keluarga. Sebuah rencana keuangan merupakan sebuah rencana bagi pengeluaran yang akan datang dan mencerminkan langkah pertama dalam suatu proses manajemen keuangan, suatu rencana keuangan dapat berhasil maka harus realistis dan fleksibel.
Berdasarkan Tabel 11, terlihat bahwa sebagian besar contoh membuat rencana keluarga (73,58%) dan menghitung perkiraan biaya keperluan keluarga (64,15%). Perencanaan juga dilakukan sebagian besar keluarga contoh untuk memenuhi kebutuhan pangan (84,91%), pendidikan anak (75,47%), peralatan
dapur (64,15%) dan tempat berobat (83,02%). Merencanakan meminjam uang/hutang juga dilakukan oleh sebagian besar keluarga contoh (73,58%) dengan tujuan untuk menanggulangi kekurangan dalam pemenuhan kebutuhan hidup keluarga contoh.
Tabel 12 Sebaran Contoh berdasarkan Perencanaan Manajemen Keuangan
Pernyataan Ya Tidak
n % n %
Membuat rencana keuangan keluarga 39 73,58 14 26,42 Menghitung perkiraan biaya keperluan keluarga 34 64,15 19 35,85 Melakukan pengaturan pengeluaran untuk pangan 45 84,91 8 15,09 Membuat rencana pendidikan anak 40 75,47 13 24,53 Menentukan tempat berobat 44 83,02 9 16,98 Merencanakan membeli pakaian santai keluarga 19 35,85 34 64,15 Merencanakan membeli peralatan dapur 34 64,15 19 35,85 Merencanakan membeli perhiasan 19 35,85 34 64,15 Rencana Hutang/meminjam uang 39 73,58 14 26,42 Memiliki kebiasaan menabung 26 49,06 27 50,94
Menabung adalah investasi di masa yang akan datang, yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masa yang akan datang atau kebutuhan mendadak yang tidak terduga. Hampir separuh (49,06%) keluarga contoh memiliki kebiasaan menabung. Kebiasaan menabung keluarga contoh umumnya tidak dilakukan di bank, tapi dilakukan di sekolah putra- putrinya, selain itu ada juga yang menabung dengan jalan menitipkan di warung sebagai uang cadangan. Merencanakan membeli baju santai keluarga dan merencanakan membeli perhiasan tidak banyak dilakukan oleh keluarga, hal ini karena kedua barang tersebut tidak dianggap sebagai kebutuhan pokok yang harus dibeli.
Praktek manajemen keuangan keluarga lainnya tergambar dalam kegiatan penggunaan uang yang dimiliki. Berdasarkan Tabel 12, hampir sebagian besar (92,45%) keluarga contoh memiliki prioritas dalam pengeluaran keuangan yang dimiliki diantaranya menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan pangan seperti membeli beras atau makanan pokok dan lauk untuk makan, membayar hutang, membiayai sekolah anak, menabung dan membayar listrik. Separuh (50,94%) keluarga contoh melaksanakan penggunaan keuangan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat, namun separuh lainnya tidak sesuai dengan
perencanaan yang dibuat, hal ini diduga karena penghasilan mereka yang kecil dan tidak tetap, sehingga sering mengalami kesulitan dalam pembagian penggunaan uang yang mereka miliki.
Tabel 13 Sebaran Contoh berdasarkan Pelaksanaan Manajemen Keuangan
Pertanyaan Ya Tidak
n % n %
Memiliki prioritas dalam pengeluaran keuangan 49 92,45 4 7,55 Melaksanakan penggunaan keuangan sesuai rencana 27 50,94 26 49,06 Memanfaatkan pekarangan dengan tanaman pangan 3 5,66 50 94,34 Memiliki kebiasaan makan di luar rumah 3 5,66 50 94,34 Menyuruh anak membantu pekerjaan 26 49,06 27 50,94
Mengambil tabungan 16 30,19 37 69,81
Berdasarkan Tabel 13, hampir seluruh (94,34%) keluarga contoh tidak memanfaatkan pekarangan rumah dengan tanaman pangan, karena sebagian besar rumah keluarga contoh tidak memiliki pekarangan atau halaman yang luas. Hampir seluruh (94,34%) keluarga contoh juga tidak memiliki kebiasaan makan di luar mengingat keterbatasan uang yang mereka miliki, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan hal ini.
Tabel 14 Sebaran Contoh berdasarkan Evaluasi Manajemen Keuangan
Pertanyaan Ya Tidak
n % n %
Mencatat setiap pengeluaran 4 7,55 49 92,45 Mengevaluasi manajemen keuangan yang dilakukan 18 33,96 35 66,04 Mencari tambahan pekerjaan 27 50,94 26 49,06 Mengurangi konsumsi pangan 33 62,26 20 37,74 Mengurangi biaya kesehatan 12 22,64 41 77,36 Menjual aset / menggadaikan barang 24 45,28 29 54,72 Mengurangi biaya pendidikan anak (anak putus
sekolah/sering bolos) 9 16,98 44 83,02
Mencatat pengeluaran akan membantu memahami apa yang sudah dilakukan terhadap uang yang dimiliki dan membantu mengontrol pengeluaran keuangan keluarga. Hampir seluruh keluarga contoh (92,45%) tidak mencatat setiap pengeluaran atau penggunaan uang yang mereka miliki. Tindakan evaluasi atas pengelolaan atau manajemen keuangan keluarga juga tidak dilakukan oleh dua pertiga keluarga contoh (66,04%) seperti yang terlihat dalam Tabel 13 di atas.
Kegiatan lain terkait evaluasi manajemen keuangan keluarga dilakukan dengan mengurangi konsumsi pangan yang dilakukan oleh sebanyak 62,26 persen keluarga contoh dan berusaha mencari pekerjaan tambahan yang dilakukan oleh 50,94 persen keluarga contoh. Sedangkan kegiatan mengurangi biaya kesehatan dan mengurangi biaya pendidikan anak dilakukan oleh sebagian kecil keluarga contoh. Kegiatan menjual aset/ menggadaikan barang dilakukan oleh separuh keluarga contoh (54,72%) untuk memenuhi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga.
Tabel 14 menujukkan sebaran keluarga contoh berdasarkan kategori manajeman keuangan keluarga. Sebagian besar keluarga contoh berada pada kategori cukup baik (81,13%) dan sebagian kecil lainnya berada pada kategori kurang baik (15,09%) dan hanya 3,77 persen keluarga contoh yang berada dalam kategori baik.
Tabel 15 Sebaran Contoh berdasarkan Manajemen Keuangan Keluarga
Manajemen Keuangan Keluarga n %
Baik ( 66,8- 100) 2 3,77
Cukup Baik (33,4- 66,7) 43 81,13
Kurang Baik (0- 33,33) 8 15,09
Total 53 100,00
Tekanan Ekonomi
Tekanan ekonomi pada penelitian ini, dilihat dari permasalahan keuangan, kepemilikan hutang, rasio pendapatan dan pengeluaran serta tekanan ekonomi subjektif. Permasalahan keuangan, kepemilikan hutang, rasio pendapatan dan pengeluaran merupakan keadaan tekanan ekonomi keluarga secara objektif. Permasalahan Keuangan
Berdasarkan Tabel 15, sebagian besar (73,58%) contoh memiliki permasalahan keuangan. Permasalahan keuangan tersebut paling banyak (33,96 %) dialami oleh keluarga contoh terjadi pada bulan- bulan tertentu, khususnya bulan dimana terjadi musim paceklik, sedangkan 24,53 persen keluarga contoh lainnya merasakan permasalahan ekonomi setiap bulannya.
Permasalahan terbesar yang dialami oleh hampir semua keluarga contoh yang memiliki masalah keuangan adalah permasalahan pendapatan. Pendapatan
yang diterima oleh keluarga contoh umumnya tidak tetap dan tidak pasti, karena pekerjaan nelayan sangat tergantung musim dan kondisi laut. Selain itu, biaya atau kebutuhan hidup yang semakin meningkat juga dialami oleh 23,08 persen keluarga contoh. Permasalahan ekonomi lainnya yang dialami keluarga contoh antara lain biaya sekolah putra-putrinya yang mahal, kekurangan modal untuk usaha, kepemilikan hutang, kepala keluarga yang sakit, serta ketidakmampuan mengelola keuangan.
Berhutang merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh keluarga contoh ketika pendapatan tidak mencukupi kebutuhannya. Lebih dari separuh contoh (50,94%) memiliki hutang. Jumlah hutang yang dimiliki keluarga contoh bervariasi dari sepuluh ribu rupiah hingga jutaan rupiah.
Tabel 16 Sebaran Permasalahan Keuangan dan Kepemilikan Hutang Keluarga Contoh (n=53)
Memiliki Masalah Keuangan n %
Ya 39 73,58
Tidak 14 26,42
Total 53 100,00
Waktu Masalah n %
Setiap waktu 13 33,33
Setiap awal/akhir bulan 5 12,82
Setiap bulan tertentu 18 46,15
Lainnya 3 7,69
Total 39 100,00
Masalah Yang Dihadapi n %
Biaya Sekolah 4 10,26 Kekurangan Modal 2 5,13 Biaya/Kebutuhan Hidup 9 23,08 Pendapatan 38 97,44 Lainnya 3 7,68 Kepemilikan Hutang n % Ya 27 50,94 Tidak 26 49,06 Total 53 100,00
Perbandingan Pendapatan dan Pengeluaran
Besarnya pengeluaran seseorang tergantung pada pendapatan keluarga. Keluarga contoh dinilai memiliki masalah jika pendapatan lebih kecil dari pengeluaran karena tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Berdasarkan
Tabel 16 terlihat bahwa lebih dari separuh contoh (64,15%) memiliki pendapatan per kapita yang lebih besar daripada pengeluaran per kapita keluarga.
Tabel 17 Sebaran Perbandingan Pengeluaran dan Pendapat Keluarga Contoh
Perbandingan n %
Pengeluaran > Pendapatan 19 35,85
Pengeluaran < Pendapatan 34 64,15
Total 53 100,00
Tekanan Ekonomi Subjektif
Tekanan ekonomi subjektif merupakan cara pandang seseorang terhadap keadaan ekonomi yang mereka rasakan. Tekanan ekonomi subjektif diukur dengan menanyakan hal yang dirasakan contoh mengenai keadaan kondisi perekonomian keluarga contoh.
Berdasarkan Tabel 17, dapat dilihat bahwa keluarga contoh sering merasakan kecukupan uang dalam membayar listrik (49,06%) dan untuk pengeluaran non makanan (58,49%), serta lebih dari separuh keluarga contoh tidak saling bertengkar soal kecukupan uang keluarga contoh (60,38%). Kecukupan ekonomi terbanyak yang kadang-kadang dirasakan oleh keluarga contoh adalah kecukupan untuk membeli pakaian (71,70%), membeli pakaian sehari- hari (52,83%) dan membeli input usaha/produksi (45,28%).
Tabel 18 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Tekanan Ekonomi Subjektif
Pernyataan 1 2 3
Ayah dan Ibu tidak saling bertengkar soal kecukupan uang
keluarga 60,38 33,96 5,66
Mempunyai cukup uang untuk pakaian 7,55 71,70 20,75 Mempunyai cukup uang untuk bayar keperluan sekolah anak 32,08 39,62 24,53 Mempunyai cukup uang untuk beli makanan sehari-hari 41,51 52,83 5,66 Mempunyai cukup uang untuk beli input produksi/ usaha 15,09 45,28 39,62 Mempunyai cukup uang untuk bayar listrik 49,06 33,96 16,98 Mempunyai cukup uang untuk non makanan 58,49 32,08 9,43
Keterangan 1=Sering, 2= kadang-kadang, 3= tidak pernah
Secara umum, hasil pengukuran tekanan ekonomi subjektif menunjukkan lebih dari separuh (67,92%) keluarga contoh berada dalam tekanan ekonomi subjektif kategori sedang. Kondisi tekanan ekonomi subjektif sedang ini dapat
disebabkan karena keluarga contoh kadang-kadang merasakan ketidakmampuan dalam mencukupi kebutuhan hidupnya.
Tabel 19 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Tekanan Ekonomi Subjektif
Tekanan Ekonomi Subjektif n %
Rendah (0- 33,33) 2 3,77
Sedang (33,4- 66,7) 36 67,92
Tinggi (66,8-100) 15 28,30
Total 53 100,00
Tingkat Tekanan Ekonomi
Tingkat tekanan ekonomi keluarga pada penelitian ini diperoleh dari rata- rata skor permasalahan keuangan, kepemilikan hutang, rasio pendapatan dan pengeluaran serta tekanan ekonomi subjektif. Tabel 19 menunjukkan lebih dari separuh contoh (75,47%) berada dalam kategori tekanan ekonomi sedang, dan satu perlima contoh (20,75%) berada dalam kategori tekanan ekonomi yang besar.
Tabel 20 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Tingkat Tekanan Ekonomi
Tingkat Tekanan Ekonomi n %
Kecil (0- 33,33) 2 3,77
Sedang (33,4- 66,7) 40 75,47
Besar (66,8-100) 11 20,75
Total 53 100,00
Strategi Koping
Strategi koping dapat diartikan suatu hal yang merujuk pada adaptasi individu terhadap kondisi yang relatif sulit dan tidak menyenangkan (Lazarus 1991 diacu dalam Goldsmith 1996). Strategi koping yang diteliti dalam penelitian ini terbagi menjadi empat bagian, yaitu masalah pangan, kesehatan, pendidikan dan keuangan.
Permasalahan pangan diduga timbul karena keterbatasan pendapatan dan tidak menentunya pendapatan yang didapat oleh nelayan yang disebabkan pekerjaan sebagai nelayan sangat bergantung kepada cuaca dan kondisi alam. Bentuk strategi koping yang dilakukan dalam permasalahan pangan dilakukan dengan beberapa cara diantaranya mengurangi pembelian kebutuhan pangan,
mengganti bahan pokok (beras), mengurangi frekuensi makan, mengurangi uang jajan anak dan membawa bekal ke tempat kerja.
Tabel 21 Sebaran Contoh berdasarkan Strategi Koping Menghadapi Permasalahan Pangan
Strategi Koping Sering Kadang-kadang Tidak
n % n % n %
Mengurangi pembelian kebutuhan pangan 22 41,51 20 37,74 11 20,75 Mengganti makanan pokok (beras) dg
makanan pokok lain 3 5,66 5,00 9,43 45,00 84,91 Mengurangi frekuensi makan 11 20,75 12,00 22,64 30,00 56,60 Mengurangi penggunaan teh/kopi/gula 14 26,42 17 32,08 22 41,51 Mengurangi jajan anak 13 24,53 11 20,75 26 49,06 Membawa bekal saat bekerja 37 69,81 3 5,66 13 24,53 Menyimpan makanan yang tidak habis 24 45,28 11 20,75 18 33,96
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian makanan pokok (beras) dengan makanan pokok lain tidak dilakukan oleh sebagian besar keluarga contoh (84, 91%). Hal ini diduga karena pada umumnya keluarga contoh tidak terbiasa makan makanan pokok selain beras. Lebih dari separuh contoh contoh (56,60%) tidak mengurangi frekuensi makan. Berdasarkan Tabel 20 keluarga contoh sering melakukan strategi koping dengan cara mengurangi pembelian kebutuhan pangan (41,51%), membawa bekal saat bekerja (69,81%), menyimpan makanan yang tidak habis (45,28%) dan tidak mengurangi uang jajan anak (24,53%).
Tabel 22 Sebaran Contoh berdasarkan Strategi Koping Menghadapi Permasalahan Kesehatan
Strategi Koping Sering Kadang-kadang Tidak
n % n % n %
Mengganti obat mahal dg yg harganya
murah 8 15,09 14 26,42 31 58,49
Menggunakan jamu/obat tradisional daripada
obat modern 2 3,77 13 24,53 38 71,70
Mengurangi pembelian rokok 17 32,08 17 32,08 17 32,08
Tindakan strategi koping yang dilakukan untuk menghadapi permasalahan kesahatan ada tiga, yaitu mengganti obat mahal dengan yang murah sering (58,49%), mengurangi pembelian rokok (32,08%) dan sebagian besar (71,70%) contoh tidak menggunakan jamu/obat tradisional daripada obat modern.
Tabel 23 Sebaran Contoh berdasarkan Strategi Koping Menghadapi Permasalahan Pendidikan
Strategi Koping Sering Kadang-kadang Tidak
n % n % n %
Mengurangi uang saku anak sehari-hari 12 22,64 8 15,09 28 52,83 Anak berhenti sekolah saat ada masalah
keuangan keluarga 5 9,43 3 5,66 40 75,47 Membeli seragam bekas untuk sekolah anak 1 1,89 1 1,89 46 86,79 Strategi koping dalam permasalahan pendidikan hanya dilakukan oleh contoh yang memiliki anak yang masih bersekolah, yang berjumlah 48 responden. Keluarga contoh yang sering mengurangi uang saku anak sehari-hari sebesar 22,64 persen dan anak berhenti sekolah saat ada masalah keuangan keluarga hanya 9,43 persen dari keseluruhan keluarga contoh. Membeli seragam bekas dan sepatu bekas untuk anak sekolah hanya sering dilakukan sebagian kecil (1,89%) contoh.
Tabel 24 Sebaran Contoh berdasarkan Strategi Koping Menghadapi Permasalahan Keuangan
Strategi Koping Sering Kadang-kadang Tidak
n % n % n %
Mengurangi penggunaan air/listrik/telepon 11 20,75 14 26,42 28 52,83 Mengurangi pembelian pakaian 22 41,51 18 33,96 13 24,53 Mengurangi pembelian perabot rumah
tangga 19 35,85 16 30,19 17 32,08
Mengurangi pembelian peralatan dapur 19 35,85 16 30,19 18 33,96 Meminjam uang kepada
Keluarga 19 35,85 14 26,42 20 37,74
Tetangga 6 11,32 11 20,75 35 66,04
Teman 1 1,89 6 11,32 46 86,79
Bank 0 0,00 2 3,77 51 96,23
Lainnya 6 11,32 11 20,75 36 67,92
Menjual aset/barang berharga 9 16,98 24 45,28 20 37,74
Tabel 24 menunjukkan kategori strategi koping yang dilakukan keluarga contoh dalam menghadapi permasalahan pangan, kesehatan, pendidikan dan keuangan. Hampir dua per tiga (64,15%) keluarga contoh berada dalam kategori sedikit. Sebagian kecil keluarga contoh (32,08%) berada dalam kategori sedang dan hanya 3,77 persen keluarga contoh berada dalam kategori banyak.
Tindakan mengurangi penggunaan air/listrik/telepon hanya dilakukan oleh sebagian kecil contoh (20,75%). Hampir sebagian kecil contoh sering mengurangi pembelian pakaian, mengurangi pembelian perabot rumah tangga, dan mengurangi pembelian peralatan dapur. Meminjam uang kepada keluarga menjadi pilihan lebih dari sepertiga keluarga contoh (35,85%). Sebagian kecil contoh sering meminjam uang kepada keluarga (35,85%), tetangga (11,32%), dan lainnya (11,32%) seperti kepada teman, tukang kredit, juragan atau atasan. Hampir separuh responden (45,28%) kadang-kadang menjual aset/barang berharga untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tabel 25 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Strategi Koping
Strategi Koping n % Sedikit (0- 33,33) 34 64,15 Sedang (33,4- 66,7) 17 32,08 Banyak (66,8- 100) 2 3,77 Total 53 100 Tingkat Kesejahteraan Kesejahteraan Objektif
Kesejahteraan objektif didefinisikan sebagai pengukuran tingkat kesejahteraan keluarga yang diukur dengan rata- rata patokan tertentu baik ukuran ekonomi, sosial maupun ukuran lainnya, sementara kesejahteraan subjektif diukur dengan tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat sendiri bukan oleh orang lain (Suandi 2007). Kesejahteraan atau pendekatan objektif diturunkan dari data kuantitatif yang diperoleh dari angka-angka yang langsung dihitung dari aspek yang ditelaah pada keluarga (Raharto & Romdiati 2000 diacu Nuryani 2007). Kesejahteraan objektif diukur berdasarkan indikator pendapatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan konsep kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic need approach) untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga. Sebaliknya kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan yang diukur dengan menggunakan garis kemiskinan. Garis kemiskinan di setiap daerah berbeda berdasarkan lokasi dan indeks harga konsumen yang berlaku di daerah tersebut. Garis kemiskinan Kabupaten Sukabumi menurut BPS tahun 2007 sebesar Rp 145 733,00 per kapita per bulan. Keluarga dikatakan sejahtera
jika pendapatan per kapitanya diatas garis kemiskinan yang ditetapkan oleh BPS. Tabel 25 memperlihatkan kondisi kesejahteraan keluarga nelayan contoh berdasarkan garis kemiskinan BPS Kabupaten Sukabumi.
Tabel 26 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Objektif Tingkat Kesejahteraan Biasa Panen Paceklik Rata- rata
n % n % n % n %
Miskin 15 28,30 0 0 36 67,92 7 13,21 Tidak Miskin 38 71,70 53 100 17 32,08 46 86,79 Total 53 100,00 53 100,00 53 100,00 53 100,00
Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 25), terdapat perbedaan terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam tingkat kesejahteraan pada tiga musim yang berbeda, yaitu musim panen tidak terdapat keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan, pada musim biasa terdapat 28,30 persen yang berada dalam kategori miskin dan pada musim paceklik terdapat 67,92 persen yang berada dalam kategori miskin. Namun berdasarkan rata-rata, terlihat bahwa hampir sebagian besar (86,79%) keluarga contoh berada dalam kondisi tidak miskin atau sejahtera. Gambaran pendapatan tersebut menunjukkan bahwa pada musim paceklik nelayan akan berada pada kondisi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Pada kondisi ini, diperlukan upaya untuk menjaga agar nelayan tetap dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga.
Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan dengan pendekatan subjektif diukur dari tingkat kebahagiaan dan kepuasan yang dirasakan oleh masyarakat sendiri, bukan oleh orang lain. Pendekatan subjektif mendefinisikan kesejahteraan berdasarkan pemahaman penduduk mengenai standar hidup dan bagaimana mendefinisikannya (Milligan et. al. 2006).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh keluarga contoh (54,72%) tidak merasa puas dengan kondisi keuangan keluarga yang sekarang. Hal ini diduga karena pada umumnya nelayan tidak memiliki penghasilan tetap dan adanya peningkatan kebutuhan hidup, sehingga diperlukan pendapatan yang besar juga. Lebih dari separuh contoh (60,38%) merasa cukup puas dengan keadaan makanan keluarga.
Pemenuhan kebutuhan kesehatan terbagi menjadi dua aspek, yaitu kesehatan fisik dan spiritual/mental. Hampir separuh contoh (43,40%) merasa cukup puas dengan keadaan spiritual/mental keluarga mereka saat ini, sedangkan dalam aspek kesehatan fisik, 32,08% keluarga contoh merasa tidak puas.
Tabel 27 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Kesejahteraan Subjektif
Tingkat Kepuasan 1 2 3
Keadaan keuangan keluarga 54,72 33,96 11,32 Keadaan makanan keluarga 24,53 60,38 15,09 Keadaan tempat tinggal keluarga 43,40 37,74 18,87 Keadaan materi/aset keluarga 54,72 32,08 13,21 Keadaan spiritual/mental keluarga 28,30 43,40 28,30 Keadaan kesehatan fisik keluarga 32,08 33,96 33,96 Survival strategi yang dilaksanakan keluarga anda 39,62 50,94 9,43 Gaya manajemen keuangan keluarga 47,17 35,85 16,98 Gaya manajemen pekerjaan anda 28,30 52,83 18,87 Hubungan/komunikasi dengan orang tua/ mertua 15,09 22,64 54,72 Hubungan/komunikasi dengan saudara/ kerabat 11,32 28,30 60,38 Hubungan/komunikasi dengan tetangga 13,21 32,08 54,72 Keterlibatan istri dalam kegiatan sosial 22,64 49,06 24,53 Pengetahuan dan keterampilan istri yang dimiliki 41,51 32,08 22,64 Perasaan istri terhadap kebersihan rumah 32,08 30,19 33,96 Perasaan istri terhadap sekolah anak 35,85 33,96 22,64 Perasaan istri terhadap perilaku anak 22,64 37,74 33,96 Perasaan istri terhadap penghasilan suami anda 41,51 28,30 26,42 Perasaan istri terhadap komunikasi dengan suami 5,66 41,51 49,06 Perasaan istri terhadap perilaku suami dalam membantu
pekerjaan di rumah tangga 32,08 43,40 20,75 Kepuasan hubungan perkawinan dengan suami ? (6
bulan terakhir) 1,89 33,96 60,38
Kebahagiaan hubungan perkawinan (6 bulan terakhir) 5,66 24,53 66,04
Keterangan 1=Tidak Puas, 2=Cukup Puas, 3=Puas Sekali
Kepuasan hubungan/ komunikasi dengan orang lain terbagi menjadi tiga, yaitu hubungan/ komunikasi dengan orang tua/ mertua, saudara/ kerabat dan tetangga. Berdasarkan hasil penelitian, lebih dari separuh contoh merasa puas sekali dengan hubungan/ komunikasi mereka, baik itu dengan orang tua/ mertua (54,72%), saudara/ kerabat (60,38%) maupun tetangga (54,72%).
Berkaitan dengan hubungan suami istri atau perkawinan, lebih dari separuh contoh merasa puas sekali (60,38%) dengan hubungan perkawinan mereka dan merasakan bahagia dengan hubungan perkawinan mereka (66,04%).
Tabel 28 Sebaran Keluarga Contoh berdasarkan Tingkat Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan Subjektif n %
Sejahtera 45 84,91
Tidak Sejahtera 8 15,09
Total 53 100,00
Secara umum, hasil pengukuran kesejahteraan subjektif menunjukkan sebagian besar keluarga contoh (84,91%) berada dalam kondisi sejahtera. Kondisi kesejahteraan yang secara subjektif baik ini dapat disebabkan karena tingginya perasaan menerima keadaan dan kehidupan yang dialami keluarga contoh.
Hubungan Antar Variabel
Hubungan antara Karaktaristik Keluarga dengan Manajemen Keuangan Keluarga, Tekanan Ekonomi dan Strategi Koping
Tabel 28 menunjukkan koefisien korelasi Pearson yang menghubungkan karakteristik keluarga dengan manajemen keuangan, tekanan ekonomi dan strategi koping. Terdapat hubungan positif dan signifikan antara pendidikan istri (r=0,341, p<0.05) dengan manajemen keuangan keluarga, hal ini sejalan dengan penelitian Firdaus (2008) dan Rusydi (2011). Lama pendidikan mengindikasikan tingkat pengetahuan yang dimiliki seseorang. Semakin lama pendidikan seseorang, maka semakin banyak pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, semakin lama pendidikan isteri maka semakin baik manajemen keuangan yang dilakukan karena semakin memahami bagaimana melakukan aktivitas manajemen yang baik. Tidak terdapat hubungan antara umur suami dan umur istri dengan manajemen keluarga. Hal ini sejalan dengan penelitian Firdaus (2008) yang menyatakan terdapat tidak terdapat hubungan antara umur suami dan umur istri dengan manajemen keluarga.
Pekerjaan suami (r=-0,290, p<0,05) memiliki hubungan yang nyata negatif dengan tekanan ekonomi, dimana semakin tinggi pekerjaan suami, maka akan semakin rendah tekanan ekonomi yang dirasakan oleh keluarga contoh. Tingginya pekerjaan suami dalam penelitian ini dapat dimaknai dengan pekerjaan suami sebagai nelayan juragan, sedangkan rendahnya pekerjaan suami dapat dimaknai dengan pekerjaan sebagai nelayan buruh.
Tabel 29 Sebaran Koefisien Korelasi Spearman antara Karaktaristik Keluarga dengan Manajemen Keuangan Keluarga, Tekanan Ekonomi dan Strategi Koping
Variabel Manajemen
Keuangan
Tekanan
Ekonomi Strategi Koping
Umur Suami -0,030 -0,147 0,027 Pendidikan Suami 0,198 -0,270 -0,182 Pekerjaan Suami 0,066 -0,290* 0,005 Umur Istri -0,026 -0,159 0,013 Pendidikan Istri 0,341* -0,107 -0,092 Pekerjaaan Istri 0,147 -0,300* -0,255 Besar Keluarga 0,244 0,048 0,093
Pendapatan per kapita 0,061 -0,331* -0,197 Pengeluaran per kapita 0,141 -0,399** -0,297* Keterangan:
* : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01
Pekerjaan istri (r=-0,300, p<0,05) juga memiliki hubungan yang nyata negatif dengan tekanan ekonomi, dimana semakin tinggi pekerjaan istri, maka akan semakin rendah tekanan ekonomi yang dirasakan oleh keluarga contoh. Tingginya pekerjaan istri dalam penelitian ini dapat dimaknai dengan istri memiliki pekerjaan sedangkan rendahnya pekerjaan istri dapat dimaknai dengan istri tidak bekerja.
Pendapatan per kapita (r=-0,331, p<0,05) memiliki hubungan nyata negatif dengan tekanan ekonomi. Semakin tinggi pendapatan per kapita yang didapat, maka akan semakin rendah tekanan ekonomi yang dirasakan. Hal ini diduga karena dengan semakin besarnya pendapatan yang keluarga contoh terima, maka keluarga contoh akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak mengalami permasalahan keuangan.
Pengeluaran per kapita keluarga contoh (r= -0,399, p<0.01) juga memiliki hubungan nyata negatif dengan tekanan ekonomi. Semakin tinggi pengeluaran yang dilakukan oleh keluarga contoh, makan tekanan ekonomi yang dirasakan akan semakin rendah. Hal ini diduga karena pengeluaran per kapita erat kaitannya dengan pendapatan per kapita yang nelayan terima.
Pengeluaran per kapita (r=-0,297,p<0,05) memiliki hubungan nyata negatif dengan strategi koping yang dilakukan oleh keluarga contoh, yang artinya
semakin besar pengeluaran maka akan semakin rendah strategi koping yang dilakukan oleh keluarga contoh. Hal ini diduga karena dapat terpenuhinya kebutuhan keluarga contoh, sehingga tidak perlu melakukan usaha penyesuaian. Hubungan antara Karakteristik Keluarga dengan Tingkat Kesejahteraan
Hubungan antara karakteristik keluarga dengan tingkat kesejahteraan dapat dilihat dalam tabel 29. Kesejahteraan terbagi menjadi dua pendekatan, yaitu kesejahteraan subjektif dan objektif. Pendekatan subjektif diperoleh dari persepsi masyarakat tentang aspek kesejahteraan, sedangkan pendekatan objektif menggunakan pendekatan garis kemiskinan BPS, yang kemudian dilihat berdasarkan berdasarkan rata- rata pendapatan per kapita dari tiap musim.
Hasil penelitian tidak menunjukkan adanya variabel yang berhubungan dengan kesejahteraan subjektif yang dirasakan oleh keluarga contoh. Hal ini diduga keluarga contoh menerima kondisi yang dialami saat ini. Pekerjaan suami memiliki hubungan nyata positif dengan kesejahteraan objektif yang artinya, semakin tinggi pekerjaan suami maka akan semakin tinggi juga kesejahteraan objektifnya. Hal ini diduga karena dengan tingginya pekerjaan suami, akan memungkinkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar, sehingga mampu menjadikan keluarganya sejahtera. Tingginya pekerjaan suami dalam penelitian ini dapat dimaknai dengan pekerjaan suami sebagai nelayan juragan, sedangkan rendahnya pekerjaan suami dapat dimaknai dengan pekerjaan sebagai nelayan buruh.
Tabel 30 Sebaran Koefisien Korelasi Pearson Antara Karaktaristik Keluarga dengan Tingkat Kesejahteraan
Variabel Kesejahteraan Subjektif Kesejahteraan Objektif Umur Suami -0,084 -0,041 Pendidikan Suami -0,035 0,097 Pekerjaan Suami 0,203 0,281* Umur Istri 0,016 -0,122 Pendidikan Istri -0,138 0,175 Pekerjaaan Istri 0,068 0,130 Besar Keluarga 0,053 -0,216
Pendapatan Per Kapita 0,185 0,294*
Pengeluaran Per Kapita 0,254 0,218
Keterangan:
* : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01
Penentuan kesejahteraan objektif menggunakan pendekatan garis kemiskinan erat kaitannya dengan faktor pendapatan yang dimiliki oleh keluarga contoh, karena pendapatan menjadi salah satu sumber utama dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Hal ini didukung dengan adanya hubungan nyata positif variabel pendapatan per kapita dengan kesejahteraan objektif, seperti terlihat pada Tabel 29 di atas.
Hubungan Manajemen Keuangan Keluarga, Tekanan Ekonomi Keluarga dan Strategi Koping dengan Tingkat Kesejahteraan
Strategi koping (r=-0,315, p<0.05) memiliki hubungan yang nyata negatif dengan kesejahteraan subjektif. Semakin tinggi tinggi strategi koping yang dilakukan, maka semakin rendah kesejahteraan subjektif yang dirasakan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Simanjuntak (2010) yang menyatakan bahwa strategi koping yang sedikit akan memberikan pengaruh tidak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan subjektif keluarga. Semakin banyak strategi koping yang dilakukan berarti semakin banyak juga usaha-usaha penyesuaian yang dilakukan, sehingga diduga membuat keluarga contoh kurang merasa nyaman dengan kondisi seperti ini.
Tabel 31 Sebaran Koefisien Korelasi Pearson antara Manajemen Keuangan Keluarga, Tekanan Ekonomi dan Strategi Koping dengan Tingkat Kesejahteraan Variabel Kesejahteraan Subjektif Kesejahteraan Objektif Manajemen Keuangan -0,068 0,175 Tekanan Ekonomi -0,172 -0,470** Strategi Koping -0,315* -0,218 Keterangan:
* : korelasi signifikan pada p<0.05 ** : korelasi signifikan pada p<0.01
Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa ada hubungan nyata negatif antara tekanan ekonomi dengan kesejahteraan objektif. Artinya semakin besar tekanan ekonomi yang dirasakan keluarga contoh akan semakin rendah kesejahteraan objektif yang diperoleh keluarga contoh, begitu juga sebaliknya. Hal ini diduga karena dengan semakin tingginya kesejahteraan objektif yang diterima oleh keluarga contoh, maka kebutuhan hidup keluarga contoh dapat
terpenuhi, sehingga tidak timbul permasalahan-permasalahan yang dapat menjadi sumber tekanan ekonomi.
Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Kesejahteraan Objektif Faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan keluarga objektif diketahui dari hasil uji regresi linier berganda, dengan variabel dependen kesejahteraan objektif dan variabel independennya pekerjaan suami, pendidikan suami, umur istri, besar keluarga, pendapatan per kapita rata-rata, pengeluaran per kapita, manajemen keuangan keluarga, tekanan ekonomi dan strategi koping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan keluarga objektif dipengaruhi sebesar 23,1 persen oleh variabel- variabel independen yang diujikan dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa tekanan ekonomi keluarga (β=-0,438, p=0,005) berpengaruh negatif terhadap kesejahteraan keluarga objektif. Hal ini menunjukkan bahwa jika tekanan ekonomi meningkat satu satuan, maka akan mempengaruhi kesejahteraan objektif menurun sebesar 0,438. Semakin besar tekanan ekonomi keluarga maka kesejahteraan keluarga objektif semakin kecil. Hal ini diduga karena besarnya tekanan ekonomi keluarga, menunjukkan besarnya beban ekonomi yang harus ditanggung oleh keluarga contoh. Hasil uji regresi linier berganda secara lengkap terlihat dalam Tabel 31 berikut :
Tabel 32 Hasil Uji Regresi Linier Berganda Faktor yang Berpengaruh terhadap Tingkat Kesejahteraan Objektif
Variabel Tingkat Kesejahteraan Objektif
Beta t Sig.
X1 Pendidikan Suami -0,074 -0,543 0,590
X2 Pekerjaan Suami 0,172 10,232 0,225
X3 Umur Istri -0,170 -10,274 0,210
X5 Besar Keluarga -0,252 -10,589 0,120
X7 Pendapatan Per Kapita Rata-rata 0,023 0,155 0,878
X8 Pengeluaran Per Kapita -0,104 -0,662 0,512
X9 Tekanan Ekonomi -0,438 -20,782 0,008
X10 Manajemen Keuangan 0,213 10,603 0,116
X11 Strategi Koping -0,080 -0,581 0,564
Keterangan : *siginifikan pada taraf 0,05
Muflikhati (2010) dalam penelitiannya tentang analisis dan pengembangan model peningkatan kualitas sumberdaya manusia di wilayah pesisir, mengungkapkan bahwa kesejahteraan keluarga kondisi ekonomi.
Kondisi ekonomi mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Semakin baik kondisi ekonomi keluarga, maka kesejahteraan keluarga cenderung lebih tinggi.
Pembahasan Umum
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari manajemen keuangan, tekanan ekonomi, strategi koping dan tingkat kesejahteraan keluarga nelayan. Penelitian dilakukan di Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa Desa Cikahuripan merupakan salah satu desa di kawasan pesisir Kabupaten Sukabumi yang memiliki sumberdaya alam potensial, namun dinilai tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih rendah.
Berdasarkan hasil penelitian, terlihat bahwa faktor tekanan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kesejahteraan objektif keluarga contoh, artinya semakin tinggi tekanan ekonomi maka akan semakin rendah tingkat kesejahteraan objektif yang dialami keluarga nelayan. Tekanan ekonomi ini besumber dari permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh keluarga contoh, yang utamanya adalah permasalahan pendapatan nelayan yang tidak tetap atau tidak menentu. Pendapatan nelayan yang sangat bergantung kepada musim atau jumlah mengakibatkan terdapat perbedaan yang mencolok antara pendapatan per kapita di musim panen dengan pendapatan per kapita di musim paceklik, dimana ketika musim paceklik tiba, banyak keluarga contoh yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya atau dengan kata lain berada di bawah garis kemiskinan. Pada kondisi ini, diperlukan upaya dan strategi untuk menjaga agar nelayan tetap dapat memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan mendorong keluarga nelayan untuk menabung uang hasil penjualan yang didapat ketika hasil tangkapan melimpah dan mendorong nelayan untuk mampu membuka atau melakukan usaha produktif lain di saat tidak berangkat ke mencari ikan.
Manajemen keuangan keluarga yang telah dilakukan oleh keluarga contoh saat ini masih tergolong kurang baik, sehingga diperlukan peningkatan keterampilan dalam melakukan pengelolaan keuangan, sehingga pendapatan yang didapat mampu mencukupi kebutuhan hidupnya baik itu di musim panen, biasa
maupun paceklik. Dengan pengelolaan keuangan yang baik ini akan dapat memperkecil besarnya tekanan ekonomi yang dirasakan oleh keluarga contoh.
Keterbatasan Peneitian
Penelitian ini diakui memikili beberapa keterbatasan yang dapat dijadikan perbaikan untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Keterbatasan-keterbatasan tersebut yaitu:
1. Ketiadaan data populasi yang jelas, mengakibatkan kesulitan dalam menentukan contoh, sehingga menggunakan teknik pengambilan contoh dengan metode snowball yang menjadikan kesimpulan dari penelitian ini tidak dapat mewakili populasi nelayan di di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
2. Jumlah contoh yang terbatas dan tidak dibedakan antara keluarga contoh yang bekerja sebagai nelayan juragan dan nelayan buruh ataupun dengan keluarga yang bukan nelayan.
3. Instrumen yang digunakan ada yang mengukur data retrospektif, sehingga ada kemungkinan bias recall (ingatan)