• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL ROLE PLAYING BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL BALI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH MODEL ROLE PLAYING BERBASIS PERMAINAN TRADISIONAL BALI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA KELAS III"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL ROLE PLAYING BERBASIS PERMAINAN

TRADISIONAL BALI TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA

PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

SISWA KELAS III

Kadek Yuda wibawa

1

, Desak Putu Parmiti

2

, Ndara Tanggu Renda

3 1,2,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected], [email protected]2 [email protected]3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan berbicara antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional Bali dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas III SD di Gugus II Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2015/2016. Jenis penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimen (eksperimen semu), dengan rancangan penelitian menggunakan desain penelitian eksperimen “posttest only with equivalent

control group design. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD di Gugus II

Kecamatan Buleleng, dengan SD Negeri 3 Penarukan sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 38 siswa dan SD negeri 4 Penarukan sebagai kelas kontrol yang berjumlah 33 siswa. Objek penelitian ini adalah keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode non tes (observasi). Data dianalisis dengan teknik analisis statistik deskriptif dan inferensial. Berdasarkan hasil analisis pada uji hipotesis diperoleh thitung=6,68 dan ttabel=1,66 pada

taraf signifikansi 5% dan dk=69, dengan membandingkan hasil thitung dengan ttabel dapat

disimpulkan bahwa thitung>ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil

analisis pada uji hipotesis maka penelitian menujukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus II Kecamatan Buleleng.

Kata kunci: Bahasa Indonesia, permainan tradisional Bali, role playing

Abstract

The purpose of research is to know the difference between the speaking skills of students who take the role playing Learning Model with balinese traditional games bases compared with the conventional learning on Indonesian subject on the 3rd grade of elementary school students in Gugus II Buleleng distric school years 2015/2016. Type of the research is quasi research experiment (quasi-experiment), the research plan with “posttest only with equivalent control group design”. The subject of the research is 3rd grade of elementary school students in Gugus II Buleleng distric, with the Penarukan elementary school no 3 as experiment class as 38 many student and Penarukan elemntary school no 4 as control class as 33 many student. The object of the research is speaking skills with the conventional learning on Indonesia. Data as collected with tecnique by the non-test method (observation). Analys of data as analys tecnique statistic descriptive and inferential. Base the result of analys on hypothesis test obtainable is

tcalculate=6,68 and ttable=1,66 by the extent from 5% significance and dk=69, with result

oppuse tcalculate with ttable can concluted that tconclute>ttable, so H0 rejected dan Ha accept.

Base the result of analys on hypothesis test that the research be found deffrent as significant speaking skills with the conventional learning on Indonesia students who take the role playing Learning Model with balinese traditional games and student who take conventional of student on the 3rd grade of elementary school students in Gugus II Buleleng distric.

(2)

PENDAHULUAN

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan

menemukan serta menggunakan

kemampuan analisis dan imajinatif yang ada dalam dirinya (Marsiana: 2008)

Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memahami dan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi secara efektif, baik dengan cara lisan maupun tulis. Pembelajarannya mencakup empat aspek keterampilan, yaitu; aspek menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Keempat aspek keterampilan berbahasa tersebut merupakan satu kesatuan yang terjalin satu sama lainnya. Artinya, dalam pembelajaran bahasa, keempat aspek keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis) tidak dipandang sebagai komponen yang dapat diajarkan terpisah atau diajarkan satu-persatu. Keempat keterampilan berbahasa tersebut wajib dikuasai oleh siswa. Salah satu keterampilan berbahasa yang memiliki peran penting untuk menciptakan siswa yang aktif dan kreatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah keterampilan berbicara.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi dengan kepala sekolah dan guru Bahasa Indonesia di Gugus II kecamatan Buleleng pada tanggal 25 Desember 2015, ditemukan bahwa pembelajaran di kelas khususnya pembelajaran bahasa Indonesia pada umumnya menerapkan pembelajaran dengan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Metode tersebut masih efektif digunakan dan tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Namun, seorang guru mesti melakukan variasi dalam kegiatan pembelajarannya dengan menerapkan model dan metode pembelajaran yang inovatif agar siswa

memperoleh hasil belajar yang optimal. Salah satu model pembelajaran yang inovatif yang dapat digunakan pada pembelajaran bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara adalah model pembelajaran bermain peran (Role

Playing).

Mulyasa (2006:139) menyatakan “model pembelajaran Role Playing adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat”. Melalui model pembelajaran

Role Playing siswa dapat mencoba

mengimplementasikan

hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan, mendiskusikan, dan mengkomunikasikan sehingga secara

bersama-sama siswa dapat

mengeksplorasi perasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Model pembelajaran Role Playing ini dapat diterapkan dengan berbasis permainan tradisional Bali. Dengan berbasis permainan tradisional Bali diharapkan dapat membentuk suasana pembelajaran menjadi menyenangkan, karena pada dasarnya semua permainan tradisional khususnya permainan tradisional bali merupakan aktivitas budaya yang rekreatif dan penuh canda yang sangat bermanfaat sebagai media belajar.

Berbicara memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari karena melalui berbicara segala informasi dapat tersalurkan. Berbicara tidak hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara merupakan sebuah proses komunikasi aktif dengan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi serta

mengucapkan kata-kata untuk

mengekpresikan, menyatakan,

menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan kepada orang lain (Taringan, 1990).

Penerapan model Role Playing berbasis permainan tradisional Bali di kelas eksperimen diharapkan dapat mengetahui perbedaan keterampilan berbicara pada mata pelajaran Bahasa

(3)

Indonesia dengan kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional.

Berdasarkan uraian diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan keterampilan berbicara antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Role Playing

berbasis permainan tradisional Bali dengan pembelajaran konvensional pada mata pelajaran bahasa Indonesia siswa kelas III SD di Gugus II Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE

Jenis penelitian ini adalah penelitian

quasi eksperimen (eksperimen semu).

Penelitian ini dikatakan sebagai penelitian

quasi eksperimen. Penelitian quasi eksperimen menggunakan subjek dalam

kelompok belajar untuk diberi perlakuan, bukan menggunakan subjek yang diambil secara acak, dengan rancangan penelitian menggunakan desain penelitian eksperimen “post-test only with equivalent

control group design”.

Tabel 1 Rancangan eksperimen post-test

only control group design

(diadaptasi dari Arikunto, 1998) Penelitian ini dilaksanakan SD di gugus II kecamatan Buleleng. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas III di SD tersebut. Kemampuan siswa di tiap kelas homogen tidak didasarkan peringkat, sehingga siswa yang memiliki prestasi tinggi tersebar dalam kelas. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 160 orang. Distribusi jumlah siswa pada masing-masing kelas dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

Tabel 2 Komposisi anggota popolasi

NO Kelas Populasi Jumlah

Siswa 1 SD N 1 Penarukan 30 2 SD N 2 Penarukan 31 3 SD N 3 Penarukan 38 4 SD N 4 Penarukan 33 5 SD N 5 Penarukan 28 Jumlah 160

Sebelum menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol perlu dilakukan uji kesetaraan sampel penelitian dengan menggunakan ANAVA Satu Jalur atau sering disebut uji F. Dengan menganalisis hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Indonesia semester I siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng. Berdasarkan analisis dengan menggunakan ANAVA satu jalur pada taraf signifikansi 5% diperoleh nilai Fhitung

sebesar 0,29 dan nilai Ftabel pada dbantar =

4 dbdalam = 156 adalah 2,41. Dengan

demikian, Fhitung lebih kecil Ftabel (Fhitung <

Ftabel), maka H0 diterima. Jadi, tidak

terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng atau dengan kata lain kemampuan siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng adalah setara.

Pada penelitian ini teknik pemilihan sampel yang digunakan untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah dengan cara Random sampling (sampling kelompok acak). Berdasarkan teknik tersebut SD Negeri 3 Penarukan digunakan sebagai kelas eksperimen dan mendapat perlakuan pembelajaran dengan Metode Pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional

Bali dan SD Negeri 4 Penarukan digunakan sebagai kelas kontrol yang mendapat perlakuan dengan model pembelajaran konvensional.

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu metode non tes (observasi) karena dalam mengukur dan menilai keterampilan berbicara siswa menggunakan lembar observasi.

Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian adalah teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial.

Kelompok Perlakuan Post-test

Eksperimen X O1

(4)

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui tinggi rendahnya kualitas dari dua variabel yaitu metode pembelajaran

Role Playing berbasis permainan tradisional Bali dan data keterampilan berbicara siswa yang mengikuti pembelajaran konvesional, yang mencangkup mengitung rata-rata (mean), median, modus, dan standar deviasi (s).

Analisis Statistik inferensial digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis penelitian. Dalam penelitian ini uji hipotesis akan dianalisis dengan menggunakan uji-t. Sebelum dilakukan analisis uji-t, terlebih dahulu dilaksanakan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Keterampilan Berbicara

Kelas Eksperimen

Setelah diberikan treatment

sebanyak 6 kali pada kelas eksperimen, di akhir penelitian diberikan post-test untuk mengukur dan menilai keterampilan berbicara siswa melalui lembar observasi Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi seperti pada tabel 3 berikut ini.

Tabel 3 Distribusi frekuensi data kelas eksperimen No Interval Nilai Tenga h (Xi) Freku ensi (f) Persentas e 1 60-64 62 1 2,63 2 65-69 67 2 5,26 3 70-74 72 5 13,15 4 75-79 77 8 21,05 5 80-84 82 9 23,68 6 85-89 87 8 21,05 7 90-94 92 5 13,15 Jumlah 38 100%

Gambaran yang lebih jelas mengenai distribusi frekuensi keterampilan berbicara kelas eksperimen yaitu kelas III SD Negeri 3 Penarukan dapat dilihat pada histogram berikut ini.

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 62 67 72 77 82 87 92 Nilai Tengah (x)

Gambar 1. Histogram keterampilan siswa berbicara kelas eksperimen

Berdasarkan distribusi frekuensi di atas, data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui mean,

standar deviasi, varians, median, modus, skor maksimum, skor minimum, rentangan, panjang kelas, dan banyak kelas. Perhitungan tersebut memperoleh hasil seperti pada tabel 4 berikut ini. Tabel 4. Deskripsi Post-test Kelas Eksperimen Statistik Keterampilan Berbicara Mean 80,68 Standar Deviasi 7,33 Varians 53,81 Modus 82 Median 81 Maksimum 92 Minimum 60 Rentangan 33 Panjang Kelas 5 Banyak Kelas 6

Keterampilan berbicara siswa pada kelas eksperimen kemudian dikategorikan sesuai dengan norma kerangka teoritik kurva normal ideal. Perhitungan tersebut memperoleh hasil seperti pada tabel 5 berikut ini. F re k u e n s i

(5)

No. Interval Frekuensi Persentase Kategori 1 75,01 – 100 30 78,94% Sangat Baik 2 58,34 – 75,01 8 21,06% Baik 3 41,67 – 58,34 - - Cukup 4 25,00 – 41,67 - - Kurang 5 0 – 25,00 - - Sangat kurang Jumlah 38 100%

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa dari 38 siswa terdapat 34 siswa kategori keterampilan berbicaranya sangat baik dengan presentase 78,94% dan 8 siswa kategori keterampilan berbicaranya baik dengan presentase 21,06%.

Deskripsi Keterampilan Berbicara

Kelas Kontrol

Pada kelas kontrol setelah diberikan

treatment sebanyak 6 kali di akhir

penelitian diberikan post-test untuk mengukur dan menilai keterampilan berbicara siswa melalui lembar observasi Data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi seperti pada tabel 6 berikut ini.

Tabel 6 Distribusi frekuensi data kelas kontrol No Interv al Nilai Tengah (Xi) Frekue nsi (f) Persentas e 1 54-58 56 4 12,12% 2 59-53 61 6 18,18% 3 64-68 66 10 30,30% 4 69-73 71 6 18,18% 5 74-78 76 4 12,12% 6 79-83 81 2 6,06% 7 84-88 86 1 3,03% Jumlah 38 100%

Gambaran yang lebih jelas mengenai distribusi frekuensi keterampilan berbicara kelas eksperimen yaitu kelas III SD Negeri 4 Penarukan dapat dilihat pada histogram berikut ini.

0 2 4 6 8 10 12 56 61 66 71 76 81 86 Nilai Tengah (x)

Gambar 2. Histogram keterampilan siswa berbicara kelas kontrol

Berdasarkan distribusi frekuensi di atas, data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mengetahui mean,

standar deviasi, varians, median, modus, skor maksimum, skor minimum, rentangan, panjang kelas, dan banyak kelas. Perhitungan tersebut memperoleh hasil seperti pada tabel 7 berikut ini. Tabel 7. Deskripsi Post-test Kelas

Eksperimen Statistik Keterampilan Berbicara Mean 67,51 Standar Deviasi 7,45 Varians 55,51 Modus 66 Median 66,75 Maksimum 84 Minimum 54 Rentangan 31 Panjang Kelas 5 Banyak Kelas 6

Tabel 5. Kategori Keterampilan Berbicara Kelas Eksperimen

F re k u e n s i

(6)

Keterampilan berbicara siswa pada kelas kontrol kemudian dikategorikan sesuai dengan norma kerangka teoritik kurva normal ideal. Perhitungan tersebut memperoleh hasil seperti pada tabel 8 berikut ini.

No. Interval Frekuensi Persentase Kategori

1 75,01 – 100 4 12,12% Sangat Baik 2 58,34 – 75,01 25 75,76% Baik 3 41,67 – 58,34 4 12,12% Cukup 4 25,00 – 41,67 - - Kurang 5 0 – 25,00 - - Sangat kurang Jumlah Jumlah 33 100%

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa dari 33 siswa terdapat 4 siswa kategori keterampilan berbicaranya sangat baik dengan presentase 12,12%, 25 siswa kategori keterampilan berbicaranya baik dengan presentase 75,76%, dan 4 siswa kategori keterampilan berbicaranya cukup dengan presentase 12,12%.

Hasil Uji Hipotesis

uji hipotesis dianalisis dengan menggunakan uji-t. Sebelum dilakukan analisis uji-t, terlebih dahulu dilaksanakan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas varians.

Uji Normalitas Sebaran Data

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui dapat atau tidaknya melakukan uji hipotesis dengan menggunakan statistik parametrik. Untuk mengetahui sebaran data nilai keterampilan berbicara siswa berdistribusi normal atau tidak maka digunakan analisis

Chi-Square.

Berikut ini disajikan tabel kerja untuk menguji normalitas data kelas eksperimen dan kelas kontrol.

No Kelas Interval

f

0

f

e

(

f

o

f

e

)

(

f

o

f

e

)

2

e e o f f f  2 1 60-64 1 0,22 0,77 49,19 2,75 2 65-69 2 1,25 0,74 134,65 0,43 3 70-74 5 4,02 0,9 8,67 0,23 4 75-79 8 7,93 0,06 65,49 0,05 5 80-84 9 8,55 0,44 72,49 0,02 6 85-89 8 10,67 -2,67 48,18 6,92 7 90-94 5 4,37 0,63 82,67 0,09 Jumlah 38 37 0 461,37 10,47

Berdasarkan tabel kerja tersebut diperoleh = 10,47 dan = 12,59,

sehingga diperoleh , maka

H0 diterima. Hal ini berarti sebaran data

nilai keterampilan berbicara pada

pelajaran bahasa Indonesia kelas eksperimen berdistribusi normal.

Sementara itu untuk data pada kelas kontrol disajikan pada tabel 10 berikut ini.

Tabel 8. Kategori Keterampilan Berbicara Kelas Kontrol

(7)

Tabel 10. Uji Normalitas Nilai Post-Test Kelas Kontrol No Kelas Interval

f

0

f

e

(

f

o

f

e

)

(

f

o

f

e

)

2

e e o f f f  2 1 54-58 4 16,45 -12,45 155,01 9,42 2 59-53 6 11,49 -5,49 30,18 2,62 3 64-68 10 11,66 -1,66 2,78 0,23 4 69-73 6 14,19 -8,19 67,13 4,72 5 74-78 4 1,35 2,64 6,98 5,15 6 79-83 2 -2,13 4,13 17,07 -8,00 7 84-88 1 -2,10 3,10 9,62 -4,57 Jumlah 38 51 -17,92 288,79 9,58

Berdasarkan tabel kerja tersebut diperoleh = 9,58 dan = 12,59,

sehingga diperoleh , maka

H0 diterima. Hal ini berarti sebaran data

nilai keterampilan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia kelas kontrol berdistribusi normal.

Dari hasil pengujian kedua kelas data tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua data nilai keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia baik kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal.

Uji Homogentitas Varians

Uji homogenitas varians digunakan untuk menguji bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan antar kelas, bukan sebagai akibat perbedaan dalam kelas, uji homogenitas data dilakukan dengan uji F dari Havley. Berikut dijabarkan nilai standar deviasi dan varians dari kedua kelas data dinyatakan pada tabel 11 berikut ini.

Tabel 11. Standar Deviasi dan Varians Data Post-test Stastistik Kelas Eksperimen Kelas Kontrol Standar Deviasi (SD1) 7,33 7,60 Varians (SD2) 53,81 55,51

Berdasarkan tabel di atas dapat dilakukan uji homogentitas sebagai berikut.

terkecil

Varians

terbesar

Varians

F

hitung

(1)

81

,

53

51

,

55

03

,

1

Hasil perhitungan diperoleh

F

hitung

= 1,03, nilai ini kemudian dibandingkan dengan nilai Ftabel. Derajat kebebasan

pembilang 38 – 1 = 37 dan derajat kebebasan penyebut 33 – 1 = 32, dengan taraf signifikansi 5%, diperoleh Ftabel =

1,74. Maka nilai Fhitung < Ftabel, ini berarti

data nilai keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia kedua kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol

(8)

tidak terdapat perbedaan varians (homogen).

Uji Hipotesis

Setelah data keterampilan berbicara dari kedua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol di uji dengan normalitas dan uji homogenitas varians, terbukti bahwa kedua data berdistribusi normal dan homogen. Maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis penelitian dengan menggunakan uji-t sebagai berikut.





2 1 2 1 2 2 2 1 1 2 1

1

1

2

1

1

n

n

n

n

s

n

s

n

X

X

t

(2) Sedangkan hipotesis statistik dan penilainnya adalah sebagai berikut.

H0 : Tidak terdapat perbedaan yang

signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode pembelajaran Role Playing

berbasis Permainan tradisional Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model

konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus II Kecamatan Buleleng tahun pelajaran 2015/2016.

Ha : Terdapat perbedaan yang

signifikan terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode pembelajaran Role Playing

berbasis Permainan tradisional Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional pada siswa kelas III SD di Gugus II Kecamatan Buleleng tahun pelajaran 2015/2016.

Adapun kriteria pengujiannya adalah apabila thitung < ttabel, maka H0 diterima

(gagal ditolak) dan Ha ditolak. Sebaliknya

apabila thitung > ttabel, maka H0 ditolak dan

Ha diterima. Dengan dk= n1 + n2 – 2 dan

taraf signifikansi 5% (α = 0,05) atau taraf kepercayaan 95% dapat dinyatakan dalam tabel 12 berikut ini.

Tabel 11. Hasil Analisis Uji-t Data Post Test

No Sampel N Dk S2 t hitung ttabel Keteranga n 1 Kelas Eksperimen 38 69 80,68 53,81 6,68 1,66 thitung > ttabel 2 Kelas Kontrol 33 67,51 55,51

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh thitung sebesar 6,68, sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5% dan dk= n1

+ n2 – 2 = 38 + 33 -2 = 69 adalah 1,66.

Maka nilai thitung > ttabel, sehingga H0 ditolak

dan Ha diterima, hal ini berarti terdapat

perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2015/2016.

Pembahasan

Berdasarkan Hasil perhitungan uji-t dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2015/2016.

Hasil tersebut diperkuat dengan simpulan hasil penelitian dari Ni Nyoman Sukreni (2014) yang menyatakan bahwa

(9)

Terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia antara siswa yang dibelajarkan melalui penerapan model pembelajaran role playing berbasis penilaian kinerja dengan siswa yang dibelajarkan melalui penerapan pembelajaran konvensional, dengan thitung

> ttabel (thitung = 3,43 > ttabel = 2,00).

Berdasarkan nilai rata-rata keterampilan berbicara, diketahui bahwa rata-rata kelas siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran role playing berbasis penilaian kinerja lebih tinggi dari pada rata-rata kelas siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD di Gugus Kapten Japa Tahun Pelajaran 2013/2014. Dan penelitian yang dilakukan oleh Ni Putu Ekayanti, dengan judul “Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas III SD No.1 Manukaya Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Tahun Ajaran 2011/2012”. Hasil penelitian PTK tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I, rata-rata skor keterampilan berbicara adalah sebesar 64,00, yang berada pada kategori cukup baik. Pada siklus II,rata-rata skor keterampilan berbicara adalah 88,00 yang berada pada kategori sangat baik. Peningkatan dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 24%.

Penerapan model pembelajaran role

playing berbasis permainan tradisional

Bali dalam penerapannya, guru berusaha menciptakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, ditambah dengan pengenalan permainan-permainan tradisional khas Bali yang diintegraasikan dalam pembelajaran role playing sehingga

menciptakan suasana yang

menyenangkan, belajar seraya bermain dan bermain seraya belajar akan dirasakan oleh siswa.

Berbeda dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang menerapkan pembelajaran konvensional, selama pembelajaran berlangsung siswa menjadi kurang terlibat aktif secara langsung dalam pembelajaran. Guru menerapkan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan, sehingga pembelajaran

dan jenuh, kurang motivasi dalam belajar karena proses pembelajarannya berpusat pada guru.

Perbedaan keterampilan berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia yang tampak antara siswa yang mengikuti pembelajaran role playing berbasis permainan tradisional Bali dengan siswa

yang mengikuti pembelajaran

konvensional dapat dilihat dari rata-rata hasil post-test yang menunjukan bahwa nilai rata-rata pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan secara signifikan keterampilan berbicara

antara siswa yang mengikuti

pembelajaran role playing berbasis permainan tradisional Bali dengan siswa

yang mengikuti pembelajaran

konvensional.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan yaitu berdasarkan hasil analisis data post-test pada kelas eksperimen, dapat diketahui bahwa dari 38 siswa terdapat 30 siswa kategori keterampilan berbicaranya sangat baik dengan presentase 78,94% dan 8 siswa kategori keterampilan berbicaranya baik dengan presentase 21,06%. Hal ini menunjukkan bahwa kecendrungan siswa yang mengikuti pembelajaran role playing berbasis permainan tradisional Bali memperoleh nilai keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dengan kategori sangat baik.

Berdasarkan hasil analisis data

post-test pada kelas kontrol, dapat

diketahui bawa dari 33 siswa terdapat 4 siswa kategori keterampilan berbicaranya sangat baik dengan presentase 12,12%, 25 siswa kategori keterampilan berbicaranya baik dengan prensentase 75,76%, dan 4 siswa kategori keterampilan berbicaranya baik dengan presentase 12,12%. Hal ini menunjukkan bahwa kecendrungan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional memperoleh nilai keterampilan berbicara Bahasa Indonesia dengan kategori baik.

Berdasarkan hasil analisis data

(10)

eksperimen lebih tinggi daripada rata-rata nilai keterampilan berbicara siswa kelas kontrol (80,68 > 67,51). Berdasarkan hasil analisis uji-t diperoleh diperoleh thitung =

6,68 dan ttabel = 1,66 pada taraf signifikansi

5% dan dk= 69. Karena thitung > ttabel (6,68 >

1,66), maka H0 ditolak dan Ha diterima,

yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berbicara pada pelajaran Bahasa Indonesia antara siswa yang mengikuti pembelajaran Role Playing berbasis permainan tradisional

Bali dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada siswa kelas III SD Gugus II Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2015/2016.

SARAN

Berdasarkan pemaparan simpulan di atas, adapun saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut. Kepada Siswa, dengan diterapkannya model pembelajaran Role Playing

berbasis permainan tradisional Bali pada penelitian ini, diharapkan siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses

pembelajaran serta mampu

mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mencapai hasil belajar yang optimal pada pelajaran Bahasa Indonesia khususnya dalam keterampilan berbicara.

Kepada Guru, dengan diadakan penelitian ini, kepada guru diharapkan untuk lebih menambah wawasan tentang pembelajaran inovatif, serta mampu mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menerapkan strategi, pendekatan, model, dan metode yang mampu memberikan kontribusi yang baik. Dengan penerapan model pembelajaran Role

Playing berbasis permainan tradisional

Bali menjadi salah satu model yang dapat diterapkan guru dalam proses pembelajaran pada pelajaran Bahasa Indonesia sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna serta dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Kepada Sekolah, diharapkan bisa menciptakan kondisi pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, serta mampu mendorong para guru untuk mencoba menerapkan model-model pembelajaran

yang baru untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran di sekolah.

Kepada Peneliti Lain, diharapkan memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai refrensi penelitian yang kan dilakukan. Peneliti disarankan melakukan penelitian dengan model yang sama tetapi dengan subjek yang berbeda, sehingga siswa lebih aktif dan tertarik belajar Bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Agung, A. A. Gede. 2012. Metodologi

Penelitian Pendidikan. Singaraja:

Undiksha, Singaraja.

Arikunto, Suharsini. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rhineka Cipta.

Ekayanti, Ni Putu. 2012. “Penerapan Metode Pembelajaran Role Playing Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia Kelas III SD No.1

Manukaya Kecamatan

Tampaksiring Kabupaten Gianyar Tahun Ajaran 2011/2012”. Jurnal

Pendidikan dan pembelajaran.

Tersedia pada

http://lib.unnes.ac.id/

360/1/1118.pdf. Diakses 18 Januari 2016.

Koyan, I wayan. 2011. Asesmen dalam

Pendidikan. Singaraja: Universitas

Pendidikan Ganesha Press.

Marciana dan Kris. 2008. Ayo Belajar

Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Mulyasa, E. 2006. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT

Remaja Rosdakarya.

Sukreni, Ni Nyoman. 2014. “Pengaruh Model Pembelajaran Role Playing Berbasis Penilaian Kinerja Terhadap Keterampilan Berbicara Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus Kapten Japa Tahun Ajaran 2013/2014”.

Jurnal Pendidikan dan pembelajaran. Tersedia pada http://lib.unnes.ac.id/

360/1/1074.pdf. Diakses 15 Januari 2016.

(11)

Taringan, Henry Guntur. 1990. Berbicara

Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Gambar

Tabel  3  Distribusi  frekuensi  data  kelas  eksperimen  No  Interval  Nilai  Tenga h (X i )  Frekuensi (f)  Persentase  1  60-64  62  1  2,63  2  65-69  67  2  5,26  3  70-74  72  5  13,15  4  75-79  77  8  21,05  5  80-84  82  9  23,68  6  85-89  87  8
Tabel  6  Distribusi  frekuensi  data  kelas  kontrol  No  Interv al  Nilai  Tengah  (X i )  Frekuensi (f)  Persentase  1  54-58  56  4  12,12%  2  59-53  61  6  18,18%  3  64-68  66  10  30,30%  4  69-73  71  6  18,18%  5  74-78  76  4  12,12%  6  79-83

Referensi

Dokumen terkait

Semakin besar angka ini menunjukkan tingkat penyediaan pelaya- nan angkutan umum bagi penduduk kota juga besar Dari hasil analisa didapatkan tingkat penyediaan pelayanan angkutan

MAUPUN NON AKADEMIK // TIDAK HANYA SISWA / DISEKOLAH INI / PARA GURUPUN TIDAK SEDIKIT YANG BERHASIL MEMENANGKAN SEJUMLAH.

In spatial, streets can be divided into two parts; street space and street wall. Street space can be 

Tidak ditemukannya perbedaan signifikan retensi berat badan pasca melahirkan berdasarkan konsumsi pasca melahirkan disebabkan ibu dengan konsumsi energi kurang

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dapat digunakan jika ada aspek yang menyangkut hukum publik seperti perceraian karena suami atau istri menyiksa,

[r]

No Nomor Peserta Nama Asal Sekolah

Melalui game yang Penulis buat diharapkan user tidak merasa bosan berlama-lama di depan komputer dan juga bisa membantu gerak refleks anak atau merangsang kecepatan berfikir pada