• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARASITOLOGI - Bab III. Entomologi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARASITOLOGI - Bab III. Entomologi"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

BAB

III

(2)

PENDAHULUAN

pntomologi

Kedokteran

ialah

ilmu

t*ryang

mempelajari

tentang

vektor,

kelainan

dan

penyakit yang

disebabkan

oleh

artropoda. Delapan

puluh

lima

persen

atau

kira-kira

600.000

spesies hewan adalah artropoda.

Morfologi

Umum

Artropoda mempunyai

4

tanda mor_

fologi

yang jelas, yaitu badan beruas-ruas, umbai-umbai yang juga beruas-ruas, ekso_

skelet dan bentuk badan simetris bilateral Sebelah

luar

badan serangga dilapisi oleh

kitin

yang pada bagian tertentu me_ ngeras dan membentuk eksoskelet. Ekso_ skelet tersebut berfungsi sebagai penguat

tubuh, pelindung

alat

dalam,

tempat melekat otot, pengatur penguapan air dan penerus rangsang yang berasal

dari

luar

badan.

Umbai-umbai tumbuh menurut fungsi_ nya: pada kepala tumbuh menjadi antena dan mandibula, pada toraks menjadi kaki

dan sayap, dan pada abdomen menjadi kaki

pengayuh.

Artropoda

juga

mempunyai

sistem

pencemaan, pemapasan (dengan

tzkea), saraf(otak dan ganglion), peredaran darah (terbuka) dan sistem reproduksi.

Daur

Hidup

Pertumbuhan artropoda dipengaruhi

hormon

juvenile

yang dikeluarkan

oleh

kelenjar korpora

alata.

Kadar

hormon

juvenile

paling

tinggi

padalawa

instar I, selanjufirya kadar hormon berkurang sesuai

dengan bertambahnya

umur

dan paling

rendah padalawa instar IV. Berkurangnya hormon

juvenile

merupakan petanda bagi

kelenjar protorak untuk

mengeluarkan hormon ekdison yang berfungsi untuk me_

rangsang pengelupasan kulit/eksoskelet.

Eksoskelet

bersifat keras dan

kaku

se_

hingga pada saat pertumbuhan eksoskelet

harus dilepaskan

(ekolisis

:

pergantian

kulit).

Selama

pertumbuhannya

serangga mengalami perubahan bentuk yang disebut

metamorfosis. Metamorfosis

sempurna

mempunyai stadium

telur

-

larva _ pupa

- dewasa. Antaratingkat muda dan dewasa terdapat perbedaan

morfologi

yang jelas, disertai perbedaan biologi (tempat hidup dan makanan). Pada metamorfosis tidak sem_

puma dijumpai telur-(arva)-nimfa_dewasa.

Morfologi

serta

biologi

bentuk muda dan dewasa hampir sama (Gambar 2g).

(3)

t--\o oo d o b6 a (€ rl I a cd

r!

ct

.-, C-'

r-

.= -a

*6

E>

H.i

otr

aFl

-is

Ecd !a ru 6l cd Ebo to L*

=z

ts€

0)e -cg OQ ! a(d .9F L!

oa

-9E9 d(J c){' 60 (rl tr

r-x

cl r:

trl!

dg

6)

-a

-v

Gi

l-iiF

=ho (uc Ecs 5 (5L

6R

JZ

H

-rz

,'; f\J

c

L

o

z

$ o o = o E

.eE

.t) =

€Ftfltr-

Fo) =

o

fi*

\-n

s

r >ii

a'E

o

c

o .o

J

(5 E f

F

(4)

2.

J.

4.

5.

Menurut besamya peran dalam

ilmu

kedokteran, artropoda

dikelompokkan sebagai berikut:

l.

artropoda

yang

menularkan penyakit

(vektor dan hospes perantara)

artropoda yang menyebabkan penyakit

(parasit)

arhopoda yang menimbulkan kelainan karena toksin yang dikeluarkan

artropoda yang menyebabkan alergi artropoda yang menimbulkan entomo-fobia.

Serangga dapat menularkan penyakit

melalui

beberapa cara. penularan secara

mekanik

berlangsung

dari

penderita ke

grang

lain

dengan perantaraan bagian

luar

tubuh

serangga.

Misalnya

tilur

cacing,

kista protozoa

dan

bakteri

usus dapat dipindahkan dari

tinja

ke makanan

melalui

kaki

atau

badan

lalat

rumah.

Penularan secara

biologik

dilakukan

se-telah parasit/agen

yang

diisap mengalami proses

biologik

dalam tubuh vektor.

Bila

di

dalam

tubuh vektor, parasit

(virus,

bakteri,

spiroket) hanya

membelah

diri

menjadi banyak, penularan disebut

penu-laran propagatif, misalnya yersinia pestis

{1fam

pinjal

tikus

(Xenopsylta chiopis).

Bila di

dalam tubuh vektor, parasit

(pks-modium, Leishmania, Trypanosoma)

ber-ubah bentuk dan membelah

diri

menjadi

banyak, disebut penularan

sikliko-propa-gatif,

misalnya Plasmodium

falcipaium

dalam nyamuk Anopheles.

Bila di

dalam

ryb"h

vektor, parasif (Wuchereria, Brugia, Onchocerca) hanya berubah bentuk

min-jadi

bentuk

infektif,

disebut

penularan

siHiko-developmental, misalnya Wchereria

bancrofti dalam badan nyamuk Culex.

Penularan transovarian

terjadi

se-bagai berikut. Vektor yang terinfeksi akan

menularkan

penyebab

penyakit

kepada

keturunannya. Selanjutnya

lawa

infektif

kefurunannya

itulah

yang akan

menular-kan penyakit kepada

manusia,

misalnya

Rickettsia

tsutsugamushi

dalam

lawa

infektif

(ci i gge

r)

Leptotrombid i u m.

Serangga

dapat bertindak

sebagai

parasit

dan

dapat

dibagi

berdasarkan habitatrya pada manusia. Endoparasit hidup atau mengembara

di

dalam jaringan tubuh,

misalnya law a lalat penyebab miasis dan

p n1 a! (Tun g a p e n e tr ans) penyebab

tungia-sis.

Ektoparasit

hidup

pada

permukian

fubuh

hospes,

misalnya tungau,

tuma,

pinjal,

nyamuk.

Berdasarkan

lamanya

hidup

pada

ho-spe9, dibedakan parasit p"r-a.r^en yurrg

seluruh atau

sebagian

besar

hidupnya

ada pada satu hospes,

misalnya

tungau

kudis dan tuma pada manusia,

pinjal

dan

sengkenit

keras pada binatang.

parasit

periodik berpindah-pindah dari situ hospes

ke

hospes

lain

dalam daur

hidupnya,

misalnya nyamuk, sengkenit lunak.

Beberapa serangga dapat memasuk_

kan

toksinnya

ke

dalam badan manusia

dengan cara kontak langsung (ulat), gigit_ an (kelabang, laba-laba), sengatan

ltita_

jengking) atau tusukan (Triatoma).

forcin

serangga dapat menyebabkan

gejala

se_

tempat

atau gejala

umum, seperti

gatal,

urtikaria, lepuh (ulat, kutu buzuk),

hemo-lisis

(kalajengking),

perdarahan (lebah)

dan gangguan saraf (kalajengking).

- Serangga dapat menyebabkan alergi qapa 9_rang yang rentan, misalnya tungau

debu

Q

e rm a t op h a g o i d e s dan m ayfly) dap at

menimbulkan asma dan tusukan nyamuk

dapat menyebabkan gatal-gatal. Seiangga

dapat pula menimbulkan rasa ngeri, rasa takut

karena

bentuk

serangga

yang

dilihatnya

(5)

mengkhayal-248

Parasitolosi Kedokteran

kan

penyakit yang mungkin

timbul. Bila

gangguan

itu

berlangsung

lama

disebut

entomofobia. Gangguan

akibat

serangan

nyamuk

dapat

berpengaruh

terhadap kebiasaan hidup sehari-hari.

Taksonomi dan

Sistematika

Pembagian filum artopoda didasmkan

pada pentingnya peran artropoda dalam

ilmu

kedokteran dan dibagi menjadi kelas insekta, arachnida, crustacea, chilopoda

dan kelas diplopoda.

Kelas dibagi lagi dalam ordo, famili,

genus dan qpesies. Pada Tabel 5 tertera daftar serangga yang termasuk parasit manusia,

baik

sebagai

vektor,

hospes perantara,

penyebab kelainan

atau

yang

hidup

sebagai parasit. Thbel5. FitumArhopoda Contoh n. Tribus Anophelini Tribus Culicini ?lbrzs Toxorhynchitini Phlebotomidae Simulidae Tabanidae Muscidae Calliphoridae Sarcophagidae Culex Aedes Mansonia Coquillettidia Tbxorhynchites Phlebotomus Simulium Tabanus Chrysops Musca Glossina Chrysomyia Wohlfahrtia An. sundaicus An. maculatus An. subpictus An. barbirostris An. vagus Cx. quinquefasciatus Cx. tritamionb,nchus Cx. bitaenionltynchus Cx. anrlulirostris Ae. aegtpti Ae. albopictus Ae. togoi Ma. uniformis Ma. annulifera Ma. indiana Ma. annulata Ma. dives Ma. bonneae Cq. crassipes Tx. amboinensis Tx. splendens Tx. inornatu.g P. papatasii P. longipalpis S. damnosum S. metallicum T. striatus C. dimidiata M. domestica G. morsitans G. palpalis C. bezziana W. magnifca

(6)

Thbel

5.FilumArtrcpoda

Arachnida Crustacea Chilopoda Diplopoda Anoplura Hemiptera Dyctioptera Lepidoptera Coleoptera Hymenoptera Scorpionida Aranea Acari (ixodoidea) Acari (sarcoptoidea) Copepoda Decapoda Pediculidae Reduviidae Cimicidae Staphylinidae Ixodidae Argasidae Sarcoptidae Trombiculidae Demodicidae Pyroglyphidae Neopsylla Stivalius Pulex Tunga Ctenocephalides Pediculus Phthirus Triatoma Reduvius Panstrongtlus Rhodnius Cimex Blatella Blatta Periplaneta Lagoa Megalopyge Anaphe Parasa Lytta Tenebrio Paederus Paraponera Centruroides Latrodectus Loxosceles Dermacentor Rhipicephalus Ornithodoros Sarcoptes Leptotrombidium Demodex Dermatophagoides Cyclops Diaptomus Potamon Cqmbqrus Scolopendra Fontaria' N. sondaica S. cognatus P initans T. penetrans C. felis C. canis P. humanus capitis P. humanus corporis P. pubis T. rabrofasciata R. cognatus P. megistus R. prolixus C. hemipterus C. lectularius B. germanica B. orientalis P. americana P. australasiae L: crispata M. opercularis A. infracta P. hilarata L. yesicatoria T. molitor P sabaeus P. clavata C. suffussus L. mactans L. laeta D. andersoni R. sanguineus O. moubata S. scabiei

L.

deliensis D. folliculorum D. pteronyssinus S. strenuus D. gracilis P. dehaani C. virilis S. subspinipes F. virginiensis

(7)

MORFOLOGI, DAUR

HIDUP

DAN

PERILAKU

NYAMUK

NTyamut

termasuk kelas insekta, ordo

I \

diptera dan

famili

culicidae. Nyamuk dapat mengganggu manusia dan binatang

melalui gigitannya serta berperan sebagai

vektor

penyakit pada manusia dan

bina-tang yang penyebabnya

terdiri

atas

ber-bagai macam parasit.

Di

dalam

tubuh

nyamuk

parasit penyebab

filariasis

ber-ubah bentuk tanpa

berkembang

biak,

sedangkan

Plasmodiun

berkembangbiak,

berubah

bentuk

dan

tumbuh

menjadi

bentuk

infektif

sebelum

ditularkan

dari

penderita kepada orang yang sehat. Virus

dengue berkembang

biak

dalam

tubuh

nyamuk

tanpa berubah

bentuk

sebelum

ditularkan ke manusia.

Famili

culicidae dibagi menjadi

3

tribus, yaitu tribus anophelini (Anopheles),

tribus

culicini

(Culex, Aedes, Mansonia)

dan

fibus

toxorhynchitini (Toxorhynchites).

Jumlah

spesies

yang telah

diketahui +

2400.

Nyamuk

dapat

hidup

sampai

ke-tinggian

4200

meter

di

atas permukaan

laut (seperti

di

Kashmir) dan sampai 115

meter

di

bawah permukaan

laut

(seperti

di tambang emas di India Selatan). Jumlah

spesies

di

daerah

tropik

lebih

banyak

dibandingkan

di

daerah

dingin

seperti di kutub selatan.

Morfologi

Nyamuk

berukuran

kecil

(4-13 mm)

dan rapuh. Kepalanya mempunyai probosis halus dan panjang yang melebihi panjang kepala. Pada nyamuk betina probosis

di-pakai sebagai alat untuk mengisap darah,

sedangkan

pada

nyamuk

jantan

untuk

mengisap bahan-bahan

cair

seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga

keringat.

Di

kiri

kanan probosis terdapat

palpus

yang

terdiri

atas

5

ruas

dan

se-pasang antena yang

terdiri

atas 15 ruas.

Antena

pada nyamuk

jantan

berambut Iebat (plumose) dan pada nyamuk betina

jarang

@ilose).

Sebagian

besar

toraks

yang tampak (mesonotum),

drliputi

bulu

halus. Bulu tersebut berwama putih/ kuning dan membentuk gambaran yang khas unhrk

masing-masing

spesies.

Posterior

dari

mesonotum terdapat skutelum yang pada anophelini bentuknya melengkung (rounded)

dan pada

culicini

membentuk

tiga

leng-kungan (trilobus)

(Gambar

29).

Sayap nyamuk panjang dan langsing, mempunyai vena yang permukaannya diturnbuhi

sisik-sisik

sayap

(wing

scales)

yang

letaknya

mengikuti

vena. Pada

pinggir

sayap ter-dapat sederetan rambut yang disebut umbai

(fringe). Abdomen berbentuk

silinder

dan

terdiri

atas 10 ruas. Dua ruas terakhir

(8)

o L o a. ho d

a

(N o

x

! a k I -); C) O

0) (H dO OI '?5 q)o tcd vF<

EE

6c

'Zrii

6(E

E.9

cr>

L>, cg ho Fl .o -9 o\ -: 61 6 .(B cgd

€o.

d!Y r:1 .= v€ C) +r o o (€ € I ,r4 ,o k (E b0 d k -o F \J 0)

c

o .Y o o -o

=

(E lz c) -Y E '6_ o t L f E o o E

6

o-5 f -o I I a a I I a 5 _o-$ o- J..-"6

o

I 0)

o

'9 o

t

i

fr

c

o)

c

(s E f J lz a o(5

'aE

-otr

I

o

f

6

o

o (E a G =

o

<) l< f E (!

z

il m

c

o E o E -o(! a a t a E o o -= f

o

I a I C0.A

-88

oo

-:z P Jr

il

a (', o

c

(U a I I

E

o o J f -o (o

t

o J il

(9)

Nyamuk

mempunyai

3

pasang kaki

(heksapoda)

yang

melekat pada

toraks

dan

tiap kaki

terdiri

atas 1 ruas femur, 1

ruas tibia dan 5 ruas tarsus.

Daur

Hidup

Nyamuk mengalami

metamorfosis sempurna: telur

-

larva

-

pupa

-

dewasa.

Stadium

telur,

larva

dan

pupa

hidup

di

dalam air sedangkan stadium dewasa hidup

di

daraVudara.

Nyamuk

dewasa betina

biasanya mengisap

darah manusia

dan

binatang. Telur yang baru diletakkan ber-warna

putih,

tetapi sesudah

l-2

jam

ber-ubah menjadi hitam. Pada genus Anopheles

telur

diletakkan satu

per

satu

terpisah

di

permukaan

air.

Pada Aedes telur

juga

diletakkan

satu

per

satu terpisah tetapi

telur

diletakkan

di

dinding

wadah

air.

Pada

genus

Culex

dan

Mansonia

telur

diletakkan

saling

berlekatan

sehingga membentuk rak,tt (rafi). Telur Cul ex

diletak-kan

di

atas

permukaan

air,

sedangkan

telur Mansonia

dlletakkan

di balik

daun tumbuh-tumbuhan air.

Setelah

2-4 hair telur

menetas

men-jadi

larva yang

selalu

hidup

di

dalam

air. Tempat perindukan (breeding

place)

untuk

masing-masing spesies berlainan,

misalnya

rawa, kolam,

sungai,

sawah,

comberan dan tempat-tempat yang dapat

digenangi

air

seperti

got,

saluran

air, bekas

jejak kaki

binatang, lubang-lubang

di

pohon dan kaleng-kaleng. Lawa

terdiri

atas

4

substadium (instar) dan mengambil

makanan

dari

tempat

perindukannya.

Pertumbuhan

larva

stadium

I

sampai

dengan stadium

IV

berlangsung 6-8 hari

pada

Culex

dan Aedes, sedangkan pada

Mansonia

pertumbuhan

memerlukan waktu kira-kira 3 minggu. Kemudian larva berubah menjadi pupa yang tidak makan,

tetapi masih

memerlukan oksigen yang

diambilnya melalui

tabung

pernapasan

(breathing trumpet). Untuk tumbuh

men-jadi

dewasa

diperlukan

waktu

l-3

hari

sampai

beberapa

minggu.

pupa

jantan

menetas

lebih

dahulu. Nyamuk

jantan

biasanya tidak pergi jauh dari tempat

per-indukan, menrnggu nyamuk betina untuk

berkopulasi.

Nyamuk betina

kemudian

mengisap darah yang diperlukannya untuk

pembentukan

telur, tetapi

ada beberapa

spesies

yang

tidak

memerlukan

darah

untuk pembentukan telur (autogen) misal-nya Tbxorhynchites ambo inens is.

Perilaku Nyamuk

Umur

nyamuk

tidak

sama.

pada

umumnya

nyamuk betina hidup

lebih

lama dari nyamuk jantan. Biasanya umur

nyamuk

kira-kira

2

minggu, tetapi

ada

nyamuk

yang

dapat

hidup

sampai 2-3

bulan, misalnya Anopheles punctipennis

di Amerika. Hospes yang disukai nyamuk

juga

berbeda, ada yang hanya mengisap

darah manusia

(antropofilik),

ada

pula

yang hanya

mengisap

darah

binatang

(zoofilik) dan

ada nyamuk

yang

lebih

suka mengisap darah binatang

jika

diban-dingkan dengan darah manusia

(antropo-zoofilik). Setelah mengisap darah, nyamuk

tersebut mencari tempat

untuk

istirahat,

baik

untuk

menunggu

proses perkem-bangan telur, maupun istirahat sementara,

yaitu

pada

waktu

nyamuk masih

aktif

mencari darah. Untuk tempat istirahat ada

(10)

(endofilik) yaitu dinding rumah, ada pula

yang

memilih

di

luar

rumah (eksofilik)

yaitu tanaman, kandang binatang, tempat-tempat dekat tanah atau di tempat-tempat

yangagak tinggi.

Aktivitas

menggigit nyamuk

juga

berlainan. Ada yang mengisap darah pada

malam

hari

(night-biters), ada pula yang

mengisap

darah pada siang

hari

(day-biters).Ada yang menggigit di dalam rumah

(endofagik) dan ada

jugayang

menggigit

di luar rumah (eksofagik).

Nyamuk betina

mempunyai jarak

terbang lebih jauh daripada nyamuk jantan.

Daya terbang tersebut berbeda-beda

me-nurut spesies. Aedes aegtpti

jarakterbang-nya

pendek,

50-100

m.

Jarak

terbang

Aedes

vexans

dapat mencapai

30

km.

Kebanyakan

nyamuk

Anopheles

dapat

(11)

254

ParasitologiKedokteran

VEKTOR

PENYAKIT

PROTOZOA

Vektor

Malaria

\fVamut

anophelini yang berperan

se-I \

bagai vektor malaria hanyalah genus Anopheles.

Di

seluruh

dunia,

genrts

Ano-pheles

jmlalnya+

2000 spesies, 60 spesies

di antaranya sebagai vektor malaria. Junlah

nyamuk

anophelini

di

Indonesia

+

80 spesies

dan 16

spesies

telah

dibuktikan

berperan sebagai

vektor

malaria,

yang

berbeda-beda

dari

satu daerah

ke

daerah

lain

berganfung pada bermacam-macam faktor, seperti penyebaran geografik,

iklim

dan tempat perindukan.

Morfologi nyamuk anophelini berbeda

jika

dibandingkan dengan

culicini.

Telur anophelini yang diletakkan satu

per

satu

di

atas permukaan

air

berbentuk seperti

perahu yang bagian bawahnya konveks,

bagian atasnya

konkaf

dan mempunyai

sepasang pelampung yang terletak pada sebelah lateral. Larva anophelini tampak

mengapung sejajar dengan

permukaan

air,

mempunyai

bagian-bagian

badan yang bentuknya khas, yaitu spirakel pada bagan posterior abdomen, tergal plate pada bagan tengah sebelah dorsal abdomen dan sepasang bulu palma pada bagian lateral abdomen. Pupa mempunyai tabung per-napasan (respiratory trumpet) yang

bentuk-nya

lebar

dan pendek; digunakan untuk

mengambil O, dari udara.

Pada nyamuk dewasa palpus nyamuk

jantan dan

betina mempunyai

panjang

hampir

sama dengan panjang

probosis-nya. Perbedaannya adalah pada nyamuk

jantan ruas

palpus

bagian apikal

ber-bentuk gada (club

form),

sedangkan pada

nyamuk betina ruas

tersebut mengecil.

Sayap

pada bagian

pinggir

(kosta

dan

vena

I)

ditumbuhi

sisik-sisik sayap yang berkelompok membentuk gambaran belang-belang hitam dan putih. Selain itu, bagian

ujung

sisik

sayap membentuk lengkung

(tumpul). Bagian posterior abdomen tidak

seruncing

nyamuk

Aedes

dan

tidak

se-tumpul nyamuk Mansonia, tetapi sedikit

melancip.

Daur Hidup

Nyamuk anophelini mengalami

meta-morfosis sempurna.

Telur

menetas

men-jadi

lawa

yang kemudian

melakukan

pengelupasan

kulit/eksoskelet

sebanyak

4

kali;

lalu

tumbuh menjadi pupa

dan

akhirnya menjadi nyamuk dewasa jantan

atau betina. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan sejak telur diletakkan sampai

menjadi

dewasa

bervariasi

antara

2-5

minggu, tergantung pada spesies, makanan

yang

tersedia

dan

suhu udara.

Tempat perindukan nyamuk anophelini

(12)

dapat

dibagi

menurut

3

kawasan yaitu

kawasan pantai, pedalaman,

kaki

gunung dan kawasan gunung.

Di

kawasan

pantai

dengan tanaman bakau di danau pantai atau lagun (lagoon),

rawa

dan empang sepanjang

pantai,

di-temukan Anopheles sundaicus.

Selain

An.sundaicus, dapat

juga

ditemukan An.subpictus di tempat perindukan tersebut

terutama danau

di

pantai dan

empang.

Di

kawasan pedalaman

yang

ada sawah,

rawa, empang, saluran

irigasi

dan sungai ditemukan An.aconitus, An.barbirostris,

An.farauti,

An.bancrofii,

An.subpictus, An.nigewimus dan An. s inens is.

Di

kawasan

kaki

gunung

dengan perkebunan

atau hutan ditemukan

I

n. balab acensls, sedang-kan di daerah gunung ditemukan

An.macu-latus. Tempat

perindukan

secara terinci

dapat dilihat pada Tabel 6.

Perilaku

Anophelini

Aktivitas

nyamuk

Anophelini

sangat dipenganrhi

oleh

kelembaban

udara

dan suhu. Umumnya anophelini

altif

mengisap darah hospes pada malam hari atau sejak

senja

sampai

dini

hari.

Jarak

terbang anophelini biasanya 0,5-3 km, tetapi dapat mencapai puluhan km karena dipengaruhi

oleh

transportasi (kendaraan, kereta api,

kapal

laut

dan kapal

terbang)

dan

ken-cangnya

angin.

Umur

nyamuk

dewasa

anophelini

di

alam

bebas

1-2

minggu,

tetapi

di

laboratorium dapat mencapai 3-5 minggu. Perilaku

nyamuk

dewasa secara

terinci dapat

dilihat

pada Tabel 7.

Epidemiologi

Penentuan vektor malaria didasarkan

atas penemuan sporozoit malaria di kelenjar

liur

nyamuk anophelini

yang hidup

di alam bebas. Cara yang digunakan adalah

pembedahan

nyamuk betina.

Berbagai

faktor yang perlu

diketahui

untuk

menentukan vektor di suatu daerah endemi malaria adalah 1) pada pembedahan nyamuk

alam

positif

mengandung

sporozoit

2)

kebiasaan

nyamuk

anophelini

meng-isap

darah manusia (antropofili$;

-)

umur nyamuk

betina lebih

dari

l0

hari;

4)

kepadatan

yang

tinggi

dan

mendo_

minasi

spesies

lain;

5) hasil infeksi

per-cobaan di laboratorium yang menunjukkan

kemampuan untuk mengembangkan p/as_ modium menjadi stadium sporozoit.

Prevalensi kasus malaria di satu daerah

endemi

malaria dan

di

daerah endemi

malaria lainnya

tidak

sama, terganfung pada perilaku spesies nyamuk yang men_

jadi

vektor.

Di

daerah Cilacap misalnya

yang

vektor

malarianya

An.sundaicus,

kasus

malaria

ditemukan

lebih

banyak

pada musim kemarau,

jika

dibandingkan musim hujan, karena pembenfukan tempat perindukan di muara sungai vrftikAn.sun_

daicus meningkat. Sebaliknya untuk daerah Jawa Barat yang vektor malarianya An.aco_ nitus kasus

malaia

meningkat jumlahnya

pada musim hujan; karena

di

sawah

ter-benfuk

tempat-tempat perindukan untuk

An.aconitus. Kedua kejadian di atas terjadi akibat kurangnya perhatian terhadap

peng-aturan

air

atau

tidak

teraturnya saluran

(13)

256

ParasitologiKedokteran

Tabel 6. Tempat Perindukan Larvq Tempat Istirahat dan Perilaku Anophetes

Vektor Tempat perindukan larva Perilaku nyamuk dewasa musim kemarau, tambak ikan yang kurang malam

2. An. aconitus 3. An. subpictus 4. An. barbirostris 5. An.balabacensis 6. An. letifer 7. An.farauti 8. An. punctulatus 9. An. koliensis 10. An. ludlowi 11. An. nigerrimus 12. An. sinensis 13. An. fiavirostris 14. An. karwari 15. An. maculatus 16. An. bancrofti 17. An. barbumbrosus

terpelihara, parit di sepanjang pantai

bekas galian yang terisi air payau, tempat

penggaraman (Bali) di air tawar (Kal Tim dan Sum)

Persawahan dengan saluran irigasi, tepi sungai pada musim kemarar.r, kolam ikan

dengan tanaman nmput di tepinya

Kumpulan air yang permanen/ sementara,

celah tanah bekas kaki binatang, tambak ikan

dan bekas galian di pantai (pantai utara pulau

Jawa)

Sawah dan saluran irigasi, kolam, rawa, mata air, sumur dan lainJain

Bekas roda yang tergenang air, bekas jejak kaki binatang pada tanah berlumpur yang berair, tepi sungai pada musim kemaraq kolam

atau kali yang berbatu di hutan atau daerah pedalaman

Air tergenang (tahan hidup di tempat asam)

terutama dataran pinggir pantai)

Kebun kangkung, kolam, genangan air dlm

perahu, genangan air hujan, rawa dan saluran

air

Air di tempat terbuka dan terkena sinar

matalnri, panai (musim hujan), tepi sngai Bekas jejak roda kendaraan, lubang di tanah yang berisi air, saluran, kolam, kebun kangkung dan rawa

Sungai di daerah pegunungan

Sawah, kolam dan rawa yang ada tanaman air

Sawah, kolam dan rawa yang ada tanaman air

Sungai dan mata air terutama yang bagian tepinya berumput

Air tawar yang jemih dan kena sinar matahari, di daerah pegunungan

Mata air dan sungai dengan air jemih yang mengalir lambat di daerah pegunungan, perkebunan teh (di Jawa)

Danau dengan tumbuhan bakung, air tawar

yang tergenang, rawa dengan tumbuhan pakis Di pinggir sungai yang terlindung dengan air yang mengalir lambat dekat hutan di dataran

tinggi

Tit: di dalam dan di luar rumah

Zoofilik > antropofilik

Eksofagik menggigit di waktu senja sampai dini

hari

Tit: di luar rumah

Antropofilik > zoofilik menggigit di waktu

malam

Tit : di dalam dan di luar rumah (di kandang)

Antropofilik (Sul & NT)

Zoofilik (Jawa & Sum)

Eksofagik> endofagik menggigit malam hari

Tit: di luar rumah (pada tanaman) Antropofilik < zoofilik

Endofilik menggigit malam hari

Tit: di luar rumah (di sekitar kandang)

Antropofilik > zoofilik

Tit: bagian bawah atap di luar rumah

Antropofilik > zoofilik

Eksofagik menggigit malam hari

Tit: di dalam dan di luar rumah

Anfiopofilik > zoofilik menggigit malam hari

Tit: di luar rumah

Antropofilik >> zoofilik menggigit malam hari

Tit: di dalam rumah

Anhopofilik >> zoofilik

Zoofilik > antropofilik menggigit senja-malam Tit: di luar rumah (kandang)

Zoofilik > antropofilik menggigit senja-malam Tit: di luar rumah (kandang)

Zoofilik > antropofilik Tit: belum ada laporan

Zoofilik > antropofilik Tit: di luar rumah

Zoofilik > antropofilik menggigit malam

Tit: di luar rumah (sekitar kandang)

Zoofilik > antropofilik Tit: belumjelas

Bionomiknya belum banyak dipelajari

Antropofilik

(14)

Pemberantasan malaria dapat dilaku-kan

melalui

berbagai cara,

di

antaranya: 1) mengobati penderita malaria;

2)

meng-usahakan agar

tidak

terjadi

kontak

antan

nyamuk

anophelini

dan

manusi4

yaitu

dengan memasang kawat kasa di bagian-bagian terbuka di rumah (endela dan pintu) penggunaan

kelambu

dan

repellent;

3)

mengadakan penyuluhan tentang sanitasi

lingkungan

dan

pendidikan

kesehatan

kepada masyarakat

yang

berkaitan

de-ngan

upaya memusnahkan tempat-tempat

perindukan nyamuk

dan

penempatan kandang ternak

di

antara tempat

perindu-kan dan rumah penduduk.

Tabel 7. Penyebaran Geografik Vektor Malaria di Indonesia

Spesies 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. t4. 15. 16. t7. An.sundaicus An.sinensis An.maculatus An.letifer An.nigerrimus An.subpictus An.balabacensis An.aconitus An.barbirostris An.flavirostris An.barbumbrosus An.ludlowi An.farauti An.punctulatus An.koliensis An.karwari Sum Sum Sum Sum Sum Kal Jawa Jawa Jawa

Sul

NT Sul Jawa Jawa Jawa MI MI MI MI MI

S"f

-t:t

Y

Sul

NT Sul Sul Sul Kal An.

(')

Sum: Sumatra; Sul

:

Sulawesi, Kal

:

Kalimantan, NT: Nusa Tenggara

(15)

258

ParasitoloeiKedokteran

Vektor Tripanosomiasis

Afrika

Vektor tripanosomiasis (penyakit

tidur Afrika

:

African

sleeping sickness) adalah

lalat

Tse tse

(Glossina)

yang ter-masuk ordo diptera dari kelas insekta. Lalat

ini

berukuran

6-13

nun,

mengalami

metamorfosis sempuma, bersifat vivipar,

mempunyai

tipe mulut

tusuk

isap.

Baik

jantan

maupun betina, keduanya

meng-isap

darah

dengan

aktivitas

menggigit

terutama pada pagi hari. Ada dua spesies

yang

berperan sebagai

vektor

biologik

tripanosomiasis, antara latn Glossine

mor-sitans

yang

menularkan

Trypanosoma rhodesiense

di Afrika

bagian

timur

dan Glossina

palpalis

sebagai vektor

Trypano-soma gambiense

di

Afrika

bagian barat

(Gambar 30). Habitat dari kedua spesies

ini

juga berbeda, Glossina morsitans menyukai

daerah yang terbuka dengan tanah yang

keras seperti padang

rumput,

sedangkan

Glossina

palpalis

lebih menyukai habitat berpasir atau tanah

di

sekitar sungai atau danau yang banyak ditumbuhi pohon.

Vektor

Tripanosomiasis

Amerika

Triatoma rubrofasciata dan Rhodnius

prolixus merupakan vektor biologik

Trypa-nos oma cruzi y ang menyebabkan

Tripano-somiasis

Amerika

(penyakit

Chagas),

termasuk dalam

ordo

hemiptera

dari

kelas

insekta. Penularan

penyakit

dapat

terjadi

secara

anterior

inokulatif

atau

posterior kontaminatif (melalui feses yang

terkontaminasi dengan

bentuk infektif

T.cruzi). Insekta

ini

mempunyai bentuk

badan

pipih

dorsoventral,

mempunyai sayap, probosis

dilipat di

bagian bawah kepala dan mengalami metamorfosis tidak

sempurna.

Stadium

telur, nimfa

dan

dewasa biasanya berada pada satu habitat yaitu pada celah-celah dinding rumah yang

retak. Selain

berperan

sebagai vektor

penyakit, tusukan Triatoma menimbulkan

luka yang nyeri dan mengeluarkan darah, pada tempat tusukan akan timbul benjolan

merah dan keras dengan diameter

*

2

cm,

benjolan

ini

baru

akan

hilang

sekitar

1

minggu atau lebih.

Vektor

Leismaniasis

Phlebotomus longipalpis (lalat pasir

:

sand

fly)

termasuk ordo diptera dari kelas

insekta. Lalat ini benrkuran kecil

*

1,5-4 mm, berwama kuning/kelabu dan seluruh badan

berbulu

serta mengalami

metamorfosis sempurna dengan

tipe mulut

tusuk isap,

baik

lalat jantan maupun lalat betina

ke-duanya mengisap

darah

(Gambar

30).

Habitat lalat

ini

terutama

pada

lubang yang terdapat dionggokan tanah. peranan

lalat

ini

adalah sebagai

vektor biologik

Leishmania donovani, Leishmania tropica

dan Leishmania brqsiliense. Selain

me-nularkan flagelata darah lalat ini juga

me-nularkan

virus

penyebab

Phlebotomus

fever

dan bakteri penyebab bartonelosis.

(16)

G/ossrna

palpalis

G/osslna morsitans

(Lalat Tse-tse - Afrika

Tengah)

(Lalat Tse{se - Afrika Timur)

Musca domestica (lalat rumah)

Gambar 30. Jenis-jenis lalat

Gambar ulang dari Textbook of Clinical Parasitology, David L. Belding, Edisi kedua, tahun 1952

(17)

260

ParasitologiKedokteran

VEKTOR PENYAKIT

GAGING

(FTLARTASIS)

Vektor Filariasis

Limfatik

(Nyamuk)

yamuk anophelini dan

non-anophe-lini

dapat berperan

sebagai vektor filariasis limfatik pada manusia dan filariasis

binatang.

Di

Indonesia

ditemukan

3

jenis parasit nematoda penyebab filariasis

limfatik

pada manusia,

yaitu

Wuchereria

bancrofti,

Brugia malayi dan

Brugia

timori.

Parasit-parasit

ini

tersebar

di

seluruh kepulauan

di

Indonesia

oleh berbagai spesies nyamuk yang termasuk

dalam

genus Aedes, Anopheles, Culex,

Mansonia, Coquilettidia

dan Armigeres.

Beberapa spesies Anopheles,

Culex

dan

Aedes

telah

dilaporkan menjadi

vektor

filariasis bancrofti

di

perkotaan

atau

di

pedesaan.

Vektor utama

filariasis

di

daerah perkotaan adalah Culex

quingue-fasciatus, sedangkan di pedesaan filariasis

bancrofti

dapat ditularkan oleh berbagai spesies

Anopheles seperti

An.aconitus,

An.bancrofti, An.farauti,

An.punctulatus dan An.subpictus, atau dapat pula

ditular-kan oleh nyamuk Aedes

kochi,

Cx.bitae-niorrhynchus, Cx.annulirostris dan

Armi-geres obsturbans. Vektor utama Filariasis malayi ialah berbagai spesies Anopheles, Iu[msonia dan Coquilettidia, sepern Mans onia

Uniftrmis

dan beberapa spesies Mansonia

lainny4 Coquilettidia crassipes (tipe zoofilik

:

subperiodik nokturna) dan

An.barbiros-tris,

An.nigerrimus

(tipe antropofilik

:

periodik noktuma), sedangkan vektor utama

filariasis

timori

ialah

An.barbirostris.

Vektor filariasis

dan daerah penyebaran

di Indonesia dapat dilihat pada tabel 8.

Morfologi Non-Anophelinil Culicini

Nyamuk non-anophelini dapat dikenal

dari

morfologinya

dengan memperhatikan

bagian-bagian badannya. Stadium telur

non-anophelini

yang

diletakkan satu

per

satu atau berkelompok membentuk raktt (raft),

mempunyai bermacam-macam bentuk. Ada yang berbentuk lonjong dengan kedua ujung

sedikit lancip dan berdinding yang

meng-gambarkan anyaman

kain

kasa (Aedes),

ada juga yang menyerupai peluru senapan

(Culex) dan ada pula yang

mirip

duri atau sasaran

untuk

pelemparan

bola bowling

(Mansonia).

Stadium

larva

non-anophe-lini

yang tampak tergantung pada permu-kaan air mempunyai bagian-bagian badan

yang

morfologinya

khas:

sifon

yang

mengandung

bulu-bulu

sifon

(siphonal

tuft)

dan pekten,

sisir

atau comb dengan

gigi-gigi sisr

(comb teeth), segmen anal dengan pelana (saddle). Larva tiap spesies

(18)

Tabel 7. Penyebaran

Geografik Vektor Filariasis di

Indonesia Brugia malayi periodik An.barbirostris An.nigerrimus Brugia malayi subperiodik Ma.dives Ma.uniformis Ma.annulifera Ma.indiana Ma.annulata Ma.bonnae Cq.crassipes Brugia timori An.borbirostris Wucheria bqncrofti Cx.quinquefasciatus Cx.annulirostris Cx.bitaeniorrhynchus Ae.kochi An.subpictus An.koliensis An.aconitus An.bancrofti An.farauti An.punctulatus Arobturbons Sul Sul

Jawa

Kal

-*t--NT

-NT

__Y'

-

Kal Sum Sum Sum Sum Sum Sum Mal Kal Kal Kal Kal Kal Kal Kal

ria

Irja Irju Irja

td"

Irja Irja

Itja

cq

:

coquillettidia, Ar = Armigeres, Ae

:

Aedes, cx

:

culex, An

:

Anopheles, Ma

:

Mansomia

Sum: Sumatra, Kal

:

Kalimantan, Sul

:

Sulawesi,

Mal:

Maluku,Tia:IianJaya,

(19)

262

Parxitologi Kedokteran

nyamuk mempunyai

jumlah

dan

bentuk

bulu sifon, pekten dan gigi sisir yang tidak

sama. Pelana dapat digunakan untuk me-nentukan genus,

misalnya

Culex

mem-punyai

pelana

tertutup,

Aedes terbuka. Stadium pupa

culicini

mempunyai tabung pernapasan

yang

bentuknya

sempit

dan

panjang,

digunakan

untuk

pengambilan

oksigen.

Pada

stadium dewasa nyamuk

culicini

betina, palpinya lebih

pendek

daripada probosisnya,

sedangkan pada

nyamuk

culicini jantan, palpinya

me-lebihi panjang probosisnya. Sisik sayapnya ada yang lebar dan asimetris (Mansonia), ada pula yang sempit dan panjang Q4edes, Culex). Kadang-kadang sisik sayap ini

mem-benflrk kelompok

sisik

yang

sewarna sehingga tampak sisik sayap membentuk bercak-bercak pada sayap berwama putih dan

kuning

atau

putih

dan

coklat, jrrga putih dan hitam (speckled). Ujung abdomen Aedes lancip (pointed), sedangkan ujung

abdomen

Mansonia

seperti

tumpul

dan

terpancung (trunc ated).

Daur

Hidup

Seperti

juga

pada nyamuk

anophe-lini,

nyamuk

non-anophelini mengalami metamorfosis sempum a, tetapi waktu yang

diperlukan

untuk

pertumbuhan

dari

telur sampai menjadi dewasa lebih pendek

(1-2

minggu).

Tempat perindukan nyamuk

non-anophelini berbeda dari tempat

per-indukan

anophelini. non-anophelini dapat bertelur

di

tempat-tempat perindukan ber-air jemih, maupun berair keruh (polluted). Permukaan

air

dapat ditumbuhi oleh

ber-bagai

macam

tanaman

at

(Graminea, Ipomoea, Pistia, Salvinia dan Eichornia).

Tempat perindukan vektor filariasis secara

rinci terdap at pada tabel 8.

Perilaku Non-Anophelini

Berbeda

dari

nyamuk

anophelini,

nyamuk non-anophelini ada yang

mem-punyai kebiasaan mengisap darah hospes

pada malam

hari

saja

(Culex),

ada yang

pengisapan darahnya dilakukan pada siang dan malam harr (Mansonia) dan ada

juga

yang hanya pada siang hari (Aedes). Jarak terbang culicini biasanya pendek

mencapai jarak rata-rata beberapa puluh

meter saja, walaupun ada yang

jarak

ter-bangnya

jauh

kira-kira

30

ktrt

(Aedes

vexans).

Umur

nyamuk

dewasa

non-anophe-lini

baik

di

alam maupun

di

laboratorium

sama seperti

anophelini,

biasanya

kira-krra

2

minggu. Perilaku nyamuk dewasa

secara rinci dapat dilihat,pada tabel 9.

Epidemiologi Filariasis

Perilaku nyamuk

sebagai

vektor

filariasis

turut

menentukan

penyebar-luasan

penyakit

filaria

dan

timbulnya

daerah-daerah

endemi

filariasis.

Di

arftaraperilaku vektor tersebut adalah: 1)

derajat

infeksi

alami

hasil

pembedahan

nyamuk

alam/har

yang tinggi;

2)

sifat antropofilik dan

zoofilik

yang

meningkat-kan

jumlah

sumber

infeksi;

3)

umur

nyamuk

yang panjang sehingga mampu

mengernbangkan pertumbuhan larva men-capai stadium

infektif

untuk

disebarkan/

ditularkan;

4)

dominasi terhadap spesies nyamuk lainnya yang ditunjukkan dengan

kepadatan

yang tinggi

di

suatu daerah

endemi; 5) mudahnya menggunakan

tempat-tempat

pengandung

air

sebagai tempat

perindukan

yang

sesuai

untuk

(20)

Seperti

juga

pada upaya

pemberan-tasan

penyakit

malaria,

pemberantasan

penyakit

filariasis

dapat

dilakukan

me-lalui

berbagai cara: 1) pengobatan semua

penderita

filariasis;

2)

upaya

pengen-dalian

vektor

dengan cara yang mudah

dan

tidak

memerlukan

biaya mahal;

3)

Tabel S. Tempat Perindukan Larva, Tempat Istirahat dan Kebiasaan Nyamuk Dewasa Vektor Filariasis

perlindungan/pencegahan terhadap gigitan

vektor;

4)

meningkatkan

pengetahuan

masyarakat mengenai

penyakit

filariasis

dan

penularannya, sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam pemberantasan

penyakit

ini.

An.nigerrimus Ma.uniformis Ma.annulifera Ma.indiaia Ma.annulata Ma.dives Ma.bonnae Cq.crassipes Cx.quinquefasciatus Cx.annulirostris Cx.bitaeniorrhynchus Ae.kochi An.bancrofti An.subpictus An.koliensis An.farauti An.punctulatus An.aconitus Lihat tabel 6

Pada akar tanaman air (-) di

rawa

Antropofilik < zoofilik

menggigit

atau

empang

malam > siang

Tit: di luar rumah (kandang) s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a s.d.a

Kecomberan- dengan air

keruh

Antropofilik, zoofilik menggigit

dan kotor dekat

rumah

malam

Tit: di dalam rumah atau di luar rumah

(pada benda yang tergantung dan berwarna gelap)

Sawah, daerah pantai dan

rawa

Menggigit malam hari

yang berair

payau

Tit: di dalam dan di luar rumah

I"-pul

yang

mengandung

Antropofilik, zoofilik menggigit lumut dalam air tawar ata.o

air

malam hari di dalam dan dliu"ar rumah

Payau

Tit: di luar rumah

Kumpulan air hujan di

sekitar

Menggigit siang hari kadang-kadang

rumah

masuk

kl

dalam rumah

Tit: di luar rumah

Lihat tabel 6 Lihat tabel 6 Lihat tabel 6 Lihat tabel 6 Lihat tabel 6 Lihat tabel 6

c) salvinia natans, Eichornia

(21)

264

ParasitologiKedokteran

Vektor Filariasis

Non

Limfatik

(Lalat)

Vektor filariasis non-limfatik ialah lalat

yang

termasuk

dalam ordo diptera

dari

kelas insekta.

lalat

yang berperan dalam

menularkan

filariasis ialah:

genus

Simu-lium

dan Chrysops. Simulium (Black

fly)

mempunyai badan berukuran

2-3

mm.

Lalat yang mengisap darah biasanya hany a

lalat betina yang

aktif

p ada pagi hari dan sore

hari.

Simulium damnosum berperan sebagai vektor biologik onkosersiasis (river

blindness) yang disebabkan oleh nematoda

Onchocerca

volvulus

di

Afrika.

Parasit

ini

menyebabkan kebutaan dan menjadi

masalah kesehatan masyarakat di

Afrika.

Simulium metallicum,

S.ochraceum dan

S.callidum berperan sebagai vektor Oncho-cerca volvulus

diAmerika.

Chrysops

(horsefiy:

deerfly)

badan-nya sebesar lalat rumah,lalat jantanumum-nya mengisap sari tumbuh-tumbuhan

se-bagar makanan, sedangkan

lalat

betina

mempunyai tipe mulut

piercing,

sucking dan mengisap darah.

Lalat

ini

aktif

me-nyerang manusia

pada pagi dan

sore

hari.

Loaiasis

di

Afrika

ditularkan

oleh Chrysops silacea dart C.dimidiafa. Selain

kedua

spesies tersebut

juga

dilaporkan bahwa mikrofilaria Loa loa dapat berkem-bang normal dalam Chrysops centurionis,

C. longicorms dan C. dis tinctipennis.

Daftar

Pustaka

7.

Despomminer DD, Gwadz RW Hotez PJ,

Knirsch CA. Parasitic Disease. 4th ed. New York Apple Tiees Productions LLC,2000. Neva FA, Brown HW. Basic Clinical

Para-sitology. 6'h ed. Prentice Hall International

Editions; 1994.

Smith KGV. Insects and Other Arthropoda

of

Medical Importance. London: British

Museum (national history), 1973.

Mattingly PF. The Science

of

Biology, Series

l.

The Biology of Mosquitoe-Bome Disease. London: George Allen & Unwin, 1969.

Herms WB, James MT. Medical Entomology.

kl5. NewYork: The MacMillan Company, 1960

Horsfall WR. Mosquitoes. Their Bionomic and Relation

to

Disease. New York: The

Ronald Press Company, 1955.

O'Connor CT, Tine Sopa. (eds). A Checklist

of

the Mosquitoes

of

Indonesia.

A

special

publication

of

the

U.S.

Naval Medical

Research Unit No.2 Jakarta, Indonesia, 1981.

Ramalingam S. A Brief ,Mosquito Survey of

Java,1973. WHO - WHOA/BC/74, 504.Raid

JA. Anopheline Mosquitoes

of

Malaya and

Bomeo. Govemment of Malaysia, 1968.

Ford J. The Role

of

the trypanosomiasis in

African Ecololgy. The Study

of

Tsetse Fly

problem. Oxford: Clarendon Press, 1971.

Lewis DJ. The Biology of Phlebotomidae in

relation to leishmaniasis. Annu Rev Entomol.

1974; 19:363-84.

DalmatHT. The blackflies (Diptera, Simuliidae)

of

Guatemala and their role as vectors of

onchocerciasis. Washington DC: Smithsonian

Institution, 1955.

Usinger RL. The triatominae of North and

Central America and West Indies and their Public health significance. Public Health

BrlJl.1944;288: 1-88.

Buxton PA. Biology of blood sucking bug

Rhodnius prolixus. Trans Entomol Soc Lond.

1930; 78: 227-76.

l.

3. 5. 6. 8. 9. 10 11. 12. 13.

(22)

VEKTOR PENYAKIT VIRUS,

RIKETSIA,

SPIROKETA DAN BAKTERI

Vektor

Penyakit

Virus

Demam

Berdarah

Dengue

Demam berdarah dengue atau Dengue

Hemorrhagic

Fever

(DIf)

adalah

penyakit

virus

yang

berbahaya karena dapat menyebabkan penderita meninggal

dalam

waktu yang

sangat

pendek (beberapa

hari).

Penyakit

ini

masuk ke Indonesia tahun 1968 melalui pelabuhan Surabaya dan pada tahun 1980 DFIF telah dilaporkan tersebar luas

di

seluruh propinsi

di

Indonesia. Gejala

klinis DHF

berupa

demam

tinggi

yang

berlangsung terus

menerus selama 2-7 harj' dan manifestasi perdarahan yang biasanya didahului dengan

terlihatnya tanda

khas berupa

bintik-bintik

merah (trtetechia) pada badan

pen-derita. Penderita dapat mengalami syok

dan meninggal. Sampai sekarang penyakit

ini

masih merupakan masalah kesehatan

masyarakat.

Vektor utama

DIIF

adalah

nyamuk kebun yang disebut Aedes aegtpti, sedangkan

vektor

potensialnya

adalah Aedes albopictus.

Morfologi

dan

Daur

Hidup

Aedes aegtpti dewasa berukuran lebih

kecil

jika

dibandingkan dengan ukuran

nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus),

mempunyai warna

dasar

hitam

dengan

bintik-bintik putih terutam a pada kakinya.

Morfologinya

khas

yaitu

mempunyai gambaran fua (lyre-form) yang putih pada punggungnya (mesonotum) . Telw Ae. ae

gtpti

mempunyai

dinding yang

bergaris-garis

dan

menyerupai

gambaran

kain

kasa.

Larva Ae. aeg,tpti mempunyai pelana yang terbuka dan

gigi

sisir yang berduri lateral.

Nyamuk

betina meletakkan telurnya

di

dinding tempat perindukannya

I-2

cm

di

atas permukaan

air.

Seekor nyamuk

betina

dapat meletakkan rala-rata

100

butir

telur tiap

kali

bertelur. Setelah

kira-kjra

2

hari telur

menetas menjadi larva

lalu

mengadakan pengelupasan

kulit

se-banyak

4kal|

tumbuh menjadi pupa dan

akhirnya menjadi

dewasa. Pertumbuhan

dari telur

sampai

menjadi

dewasa me-merlukan waktu

kira-kira

t

hari.

Tempat perindukan utama Ae.aegl,tpti

adalah

tempat-tempat

berisi

air

bersih

yang berdekatan letaknya dengan rumah

(23)

266

ParasitologiKedokteran

500 meter dari rumah. Tempatperindukan

tersebut berupa tempat perindukan buatan manusia; seperti tempayanl gentong tempat penyimpanan

air

minum,

bak

mandi, pot bunga, kaleng, botol, drum, ban mobil yang terdapat

di

halaman rumah atau

di

kebun yang berisi air hujan,

juga

berupa tempat perindukan alamiah; seperti kelopak daun

tanaman

(keladi,

pisang),

tempurung kelapa, tonggak bambu dan lubang pohon yang berisi airhujan. Di tempatperindukan

Ae.aegypti seringkali ditemukan lawa

Ae. alb opictus y ang hidup bersama-sama.

Perilaku Nyamuk Betina

Nyamuk

betina

mengisap

darah manusia pada siang

hari

yang dilakukan

baik

di

dalam

rumah

ataupun

di

luar

rumah.

Pengisapan

darah

dilakukan

dari pagi

sampai

petang

dengan

dua

puncak

waktu

yaitu

setelah

matahari

terbit

(3.00-10.00) dan sebelum matahari terbenam ( 1 5.00- I 7.00). Tempat istirahat

Ae.aegypti berupa

semak-semak

atau

tanaman

rendah

termasuk

rerumputan

yang terdapat di halaman/kebun/ pekarangan

rumah.

Juga

berupa

benda-benda yang

tergantung di dalam rumah seperti pakaian,

srillrlg,

kopiah dan lain sebagainya. Umur

nyamuk

dewasa

betina

di

alam

bebas

kira-kira 10 hari, sedangkan di laboratorium mencapai

dua

bulan.

Ae.aegtpti

mampu

terbang sejauh

2

kilometer,

walaupun

umumnya j arak terbangnya adalah pendek yaitu kurang lebih 40 meter.

Epidemiologi

Ae.aegl,tpti tersebar

luas

di

seluruh Indonesia. Walaupun spesies

ini

ditemu-kan

dikota-kotapelabuhanyangpenduduk-nya

padat,

nyamuk

ini

juga

ditemukan

di

pedesaan.

Penyebaran

Ae.aegtpti

dari

pelabuhan

ke

desa disebabkan larva

Ae. aegypti terbawa melalui transportasi.

Walaupun umurnya pendek

yaitu

kira-kira sepuluh hari , Ae.aegtpti dapat

me-nularkan virus dengue yang masa

inkubasi-nyaantara3-10hari.

Pemberantasan Ae. aegypti

Pada saat

ini

pernberantasan Ae.aeg,pti

merupakan

cara utama

yang

dilakukan

unfuk

memberantas

demam

berdarah dengue, karena

vaksin untuk

mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia. Pemberant asan A e. ae

gtpti

dapat

dilakukan terhadap nyamuk dewasa atau

jentiknya.

A.

Pemberantasan

Nyamuk

Dewasa

Pemberantasannyamuk dewasa, dilaku-kan dengan cara penyemprotan (pengasapan

:

fo

S4ind

dengan inseltisida yaitu:

-

Organofosfat misalnya malation,

feni-trotion

-

Piretroid sintetik, misalnya lamda

siha-lotrin,

permetrin.

-

Karbamat

B. Pemberantasan

Jentik

Pemberantasanj

entikl

e. a e gyp t i y ang

dikenal

dengan

istilah

pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dilakukan dengan cata:

1.

Kimia:

pemberantasan larva dilalnrkan dengan larvasida yang dikenal dengan

istilah

abatisasi. Larvasida yang biasa digrrnakan adalah temefos. Formulasi temefos yang digunakan ialah granules

(24)

(sandgranules). Dosis yang digunakan

I

ppm atau 10 gram

(1

1 sendokmakan

rata) unhrk

tiap

100

liter

air. Abatisasi dengan temefos tersebut mempunyai efek residu 3 bulan.

2.

Biologi:

misalnya memelihara

ikan

pemakan

jentik

(ikan

kepala timah, ikan guppy)

3.

Fisik

cara

ini

dikenal dengan kegiatan

3M

(Menguras, Menutup, Mengubur)

yaitu

menguras bak mandi, bak WC,

menutup tempat

penampungan

air

rumah

tangga (tempayan,

drum

dan

lain-lain),

serta mengubur atau

me-musnahkan

barang bekas

(seperti:

kaleng, ban, dan lain-lain). Pengurasan

TPA perlu

dilakukan

secara teratur sekurang-kur angnya seminggu sekali agar nyamuk

tidak

dapat berkembang

biak ditempat itu.

Apabila

PSN

dilaksanakan seluruh

masyarakat

maka

diharapkan

nyamuk

Ae.aegpti dapat terbasmi. Untuk itu

diperlu-kan

usaha penyuluhan

dan

motivasi

kepada masyarakat secara terus menerus dalam jangka

waktu

lama, karena

keber-adaan

jentik

nyamuk

tersebut berkaitan erat dengan perilaku masyarakat.

Pengendalian

Ae.aegtpti

dilakukan

dengan

berbagai

cara: 1.

perlindungan

perseorangan

untuk mencegah

gigitan

Ae.aegtpti

yaitu

dengan

memasang kawat kasa

di

lubang-lubang angin

di

atas

jendela atau pintu,

tidur

dengan kelambu, penyemprotan dinding rumah dengan insek-tisida dan penggunaan repellent pada saat berkebun; 2. pembuangan atau mengubur benda-benda di pekarangan atau di kebun

yang dapat menarnpung air hujan seperti

kaleng, botol, ban mobil dan tempat-tempat

lain

yang menjadi tempat

perindukan

Ae.aegypti (man made breeding places);

3. mengganti

ak

ataumembersihkan tempat-tempat air secara teratur tiap minggu sekali,

pot

bunga, tempayan dan

bak

mandi; 4. pemberian temefos ke dalam tempat penam-pungan airlpenyimpanan air bersih (abati-sasi); 5. melakukan -foSSinS dengan

mala-tion

setidak-tidaknya

2

kali

dengan

jarak

waktu 10 hari di daerah yang terkena wabah

di

daerah endemi

DHF;

6. pendidikan ke-sehatan masyarakat melalui ceramah agar masyarakat dapat memelihara kebersihan

lingkungan dan

turut

secara perseorangan memusnahkan tempat-tempat perindukkan

Ae. aegtpti di sekitar rumah.

Pemantauan kepadatan

populasi

Ae.aeg,'pti merupakan

hal

yang penting

sekali untuk meningkatkan kewaspadaan wabah DHF.

Pengukurankepadatanpopulasi

dilaku-kan dengan cara survei lawa. Pada survei

larva

semua

tempat atau

bejana

yang

dapat

menjadi

tempat

berkembangbiak

Ae.aegypti diperiksa

untuk

mengetahui

adaltidalnya

lawa. Untuk

memeriksa

tempat

penampungan

atr

(TPA)

yang

berukuran

besar

seperti

bak

mandi,

tempayan,

drum

dan

bak

penampungan

air

lainnya,

jika

pada pandangan

(peng-lihatan)

pertama

tidak

ditemukan

lawa,

tunggu

kira-kira

%

-

I

menit

untuk

me-mastikan

bahwa

larva

benar

tidak

ada.

Untuk

memeriksa

tempat

berkembang-biak

yang

kecil

seperti

vas bunga

dan botol maka air didalamnya perlu dipindah-kan ke tempat lain, sedangkan untuk

(25)

atau aimya keruh digunakan lampu senter.

Survei

lawa

dapat dilakukan

dengan single larval method atau cara visual. Pada

single

larval

method

survei

dilakukan

dengan

mengambil satu

larva

di

setiap

TPA

lalu diidentifikasi.

Bila

hasil

identi-fikasi

menunjukkan Ae.aegl,tpti

maka seluruh larva yang ada dinyatakan sebagai

lawa Ae.aegypti. Pada cara visual, survei

cukup dilakukan

dengan

melihat

ada

atau

tidaknya

Iarva

di

setiap TPA tanpa

mengambil lawanya. Dalam

program

pemberantasan

DBD

survei

lawa

yang

biasa

digunakan adalah cara

visual.

Ukuran yang dipakai unhrk

mengetahui

kepadatan law a Ae. ae

g,,pti

ialah:

Angka

bebas

jentik

dan house index lebih menggambarkan luasnya penyebaran

nyamuk

di

suatu

wilayah

sedangkan Breteau Index menunjukkan kepadatan dan

penyebaran

larva Ae.aegtpti.

Container

index menggarnbarkan kepadatan nyamuk. Vektor potensial DFIF adalah Ae.albo-pictus. Spesies

ini

tersebar luas

di

seluruh kepulauan di Indonesia. Spesies ini sepintas

tampak seperti

nyamuk

Ae.aeg1,tpti,

yaitu

mempunyai warna dasar

hitam

dengan

bintik-bintik putih,

tetapi

pada mesonotumnya terdapat garis tebal

putih

vertikal.

Walaupun kadang-kadang larva

Ae.albopicrzs

ditemukan

hidup

bersama

dalam satu tempat perindukan dengan larva Ae.aegtpti namun larva nyamuk

ini

lebih

menyukai

tempat-tempat

perindukan alamiah (trtlant containers); seperti kelopak

daun, tonggak bambu dan

tempurung

kelapa

yang

mengandung

air

hujan.

Perilaku nyamuk

dewasa Ae.albopictus

boleh

dikatakan

sama dengan perilaku

Ae.aegypti meskipun nyamuk

ini

lebih

suka beristirahat

di

luar rumah.

Japonese

B.

encephalitis

Penyakit

ini

ditemukan

di

Asia

Tenggara

yaitu

di

Filipina,

Kamboja,

Muangthai, Malaysia dan Singapura.

Di

Indonesia Japanese

B.encepha-litis

belum

banyak

dipelajari, tetapi

ada

kemungkinan besar,

bahwa penyakit ini

juga

ada

di

Indonesia karena: 1) banyak kasus meninggal dengan gejalaklinis yang sama dengan Jap.

B.encephalitis,2)

ke-padatan

nyarnuk

yang

menjadi

vektor,

tinggi

dan telah dapat diisolasi virus Jap. B.encephalitis dari nyamuk yang ditangkap

di

sekitar Jakarta.

Gejala

klinis

penyakit

ini

berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, lemas,

malaise

dan

mental disorientation.

Ke-matian

terjadi 2-4

hat'' setelah terinfeksi

virus Jap. B.encephalitis.

Vektor penyakit

ini

adalah nyamuk

Culex tritaeniorhlmchus dan

Culu

gelidus. Tempat perindukan Cx. tritaeniorhynchus

adalah rawa dan sawah, sedangkan untuk

Cx.gelidus comberan atau empang dekat

sawah.

Kedua

spesies

nyamuk

di

atas

tempat

perindukannya

dekat

kandang

ternak seperti kandang kerbau, sapi atau

babi;

kecuali

mengisap darah manusia,

juga

mengisap darah

binatang

(kerbau, sapi, babi, burung, bebek) dan pengisapan darah dilakukan pada malam hari baik

di

dalam atau

di

luar rumah.

Chikungunyu

Virus

Chikungunya

telah

dapat

di-isolasi dari nyamuk Ae.aeg,,pti

di

Jakorrtn.

Gejala klinis penyakit ini mirip gej ala

klinis

Jap. B.encephalitis yang ditandai dengan

(26)

rumah/bangunanyang

x

100%o 2. House index

(HI):

Jumlah ryma_h / bangqlan yang ditemukan

jentik

x

fi1vo

Jumlah rumah

I

yangdiperiksa 3. Container index

(Cl):

Jumlah

containerberisi

ientlk

x

I00%o Jumlah container yang diperiksa

4. Breteau index

(BI):

Jumlah container berisi

jentik

dalam 100 rumah/ bangunan

1. Angka Bebas Jentik (ABJ):

Jumlah rumah

/

demam, sakit kepala seperti influensa dan penderita mengalami kelumpuhan

motorik

yang tidak

pennanen.

Vektor

penyakit

C h ikun guny

a

adalah A e. ae g,tp t i.

Demam

Kuning

Penyakit

ini

belum pemah dilaporkan

di

Indonesia, walaupun

Ae.aegtpti

yang

menjadi veklornya tersebar di seluruh

Indo-nesia.

Di

Amerika

Selatan dan

di

Afrika

Selatan penyakit

ini

telah berpuluh-puluh tahun

yang

lalu

dilaporkan,

yaitu

sejak WalterReedpadatahun 1 900

diKubamem-buktikan Ae.aeg,pti sebagai vektor penyakit demam kuning. Gejala

klinis

penyakit

ini

berupa pusing,

nyeri

punggung, demam

dan muntah. Kematian

terjadi 5-8

hari

setelah terinfeksi oleh virus demam kuning.

Vektor utama demam

kuning

adalah

Ae.aegtpti.

tidak ditemukan entik

Colorado

Tick

Fever

Penyakit

ini

ditemukan

di

daerah pegunungan

di

Amerika,Serikat

dan

di-sebabkan

oleh virus.

Vektornya

adalah

Dermocentor andersoni.

Di

dalam

seng-kenit virus

berkembangbiak secara

pro-pagatif.

Infeksi

terjadi karena

gigitan

sengkenit.

Fur-Eastern Spring

S

ummer

Encqhalitis

Penyakit

ini

ditemukan di daerah hutan

di

Rusia, Siberia, Korea, Cina, Malaysia

dan India.

Penyebabnya

adalah

virus.

Vektor yang diketahui

adalah sengkenit

Dermacentor

pictus,

D.marginatus

dan

Ixodes persulcatus. Virus dalam sengkenit

berkembangbiak secara propagatif. Cara

(27)

270

Parasitologi Kedokteran

Phlebotomus

Fever

(Papatasifever)

Penyakit yang disebabkan oleh virus

ini

ditemukan

di

daerah

tropik

dan

sub-tropik

dengan

musim

panas

yang

lama

dan

kering

(daerah sekitar

Laut

Tengah, negeri-negeri

Arab

sampai

Birma,

China

dan Asia Tengah). Vektor terpenting adalah

P hleb otomus pap at as

ii

dan P. longip alpis,

Vektor Penyakit Riketsia

Demam

Semak

Contoh penyakit riketsia yang

vektor-nya

arhopoda

dan

terdapat

di

Indonesia adalah demam semak (scrub typhus, tsutsu-.

gamushi disease,

Deli

kaorts).

Penyakit

ini

ditemukan

di

daerah Sumatra, Jawa,

Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya; penye-babnya ialah Rickettsia tsutsugamushi.

Gejala

klinis

penyakit

ini

berupa kepala pusing (1tost orbital), apati, malaise,

limfadenitis

dan escar. Penyakit

ini

dapat

menyebabkan

kematian penderita

dan

dilaporkan angka kematian

berkisar

1-60%. Vektor penyakit

ini

adalah tungau

Leptotrombidium akamus i, L. deliens

is

dan

L.fletscheri.

Morfologi

dan

I)aur Hidup

Leptotrombidium

dewasa berukuran

kira-kira

I

mm, berkaki 4 pasang,

badan-nya

berbulu, hidup

sebagai pemangsa

Qtredator)

artropoda

lain

dan

biasanya

pemakan tanaman

(vegetable feeder).

Hanya stadium larva yang mengisap darah

mamalia

dan manusia.

Telur

tungau

ini

diletakkan

di

tanah atau

di

tangkai daun tanaman rendah seperti rerumputan dan

semak. Setelah

telur

menetas, keluarlah

lawa

Leptotrombidium yang berkaki

3

pasang. Lawa

ini

lalu mencari mangsanya untuk mengisap darah yaitu burung, tikus,

mamalia

dan

manusia

yang

berada

di

dekatnya. Setelah kenyang makan, larva

menjatuhkan

diri

ke

tanah dan berubah

menjadi stadium

nimfa

dan

menjadi

dewasa, kemudian kawin lalu yang betina

bertelur. Sejak

larva

Leptotrombidium

mendapatkan

infeksi

Rickettsia

sampai

menjadi larva generasi

berikutrya

masih

tetap infektif. Inilah penrilaran yang terjadi

secara

transovarian.

Pertumbuhan dari

telur sampai menjadi dewasa memerlukan

waktu1-2bulan.

Epidemiologi

R.tsutsugamushi biasanya

hidup

se-bagai parasit

tikus

ladang,

bukan

tikus

rumah; larva

tungau

mendapat infeksi

Rickettsia ketika mengisap darah selama

2-4 hari

pada daun

telinga, hidung

atau pangkal ekor hospes. Pencegahan penularan

dapat

dilalrukan

dengan

cara

menjaga

jangan sampai kontak dengan tungau

jika

sedang bekerja

di

ladang atau

di

hutan di

daerah endemi scrub typhus yaitu dengan

menggunakan

repelen.

Pencegahan

juga

dapat dilalnrkan dengan minum klo-ramfenikol 500

mg

sehari selama 10 hari

Gambar

Tabel  6.  Tempat  Perindukan  Larvq  Tempat  Istirahat  dan Perilaku  Anophetes
Tabel  7.  Penyebaran  Geografik Vektor  Malaria  di  Indonesia
Gambar  30.  Jenis-jenis  lalat
Tabel  7.  Penyebaran  Geografik Vektor  Filariasis  di  Indonesia Brugia  malayi periodik An.barbirostris An.nigerrimus Brugia malayi subperiodik Ma.dives Ma.uniformis Ma.annulifera Ma.indiana Ma.annulata Ma.bonnae Cq.crassipes Brugia timori An.borbirostr
+5

Referensi

Dokumen terkait

korban berupa kerbau dan babi, upacara rambu solo’ ini bisa diakkai dengan menambahkan tujuh ekor kerbau yang dilaksanakan selama tujuh hari dan bersama dengan

filaria akan mati juga. Nyamuk culex ini biasanya berkembang biak di daerah sekitar kandang ternak babi, sapi, air tanah, rawa – rawa dan sekitar sawah atau

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui

Fasilitas penunjang Taman Sari Buwana meliputi rumah keluarga khas Bali dengan luas 20 are yang terdiri 8 rumah, kandang ternak (babi &amp; bebek), rest area

8 Penelitian di Desa Konda Maloba, nyamuk ini tidak ditemukan mengisap darah di dalam maupun di luar rumah dan hanya ditemukan beristirahat di sekitar kandang ternak, begitu juga

Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui

Jumlah ternak ruminansia Kecamatan Indaralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Jenis Ternak Ekor Tahun 2014 2015 Sapi 2.416 3.000 Kerbau 175 750 Domba 66 200 Babi 0 0 Sumber : Badan

Limbah ternak sapi dan bebek yang dipelihara dalam Program TANTE SISKA ini mendapatkan 2 perlakuan, yang pertama, adalah untuk mengurangi bau tidak sedap, lingkungan kandang disemprot