STUDI KETERKAITAN PENYEBARAN Pb, DEBU dan CO
DENGAN KESEHATAN MASYARAKAT
Abstrak
Jumlah kendaraan yang beroperasi di Kota Jakarta dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan, hal ini menyebabkan emisi gas buang dari kendaraan bermotor juga meningkat, khususnya Pb, debu dan CO, yang akan berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh adanya kebijakan pembangunan transportasi yang kurang baik, yaitu manajemen transportasi yang kurang tepat serta tidak memperhatikan aspek kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penyebaran Pb, debu dan CO dalam menyusun sistem pengelolaan lingkungan terhadap dampak risiko pencemaran udara dalam kaitan dengan kesehatan masyarakat setempat. Metode analisis yang digunakan adalah melalui pengukuran tingkat penyebaran Pb, debu dan CO dibeberapa titik pengamatan. Hasil penelitian menujukkan akumulasi Pb pada tiga tanaman sampel di enam lokasi pengamatan dan dalam tubuh manusia, kandungan Pb rata-rata berada di atas ambang baku mutu lingkungan. Namun kandungan Pb pada manusia kadarnya lebih rendah dibandingkan dengan yang terakumulasi dalam tanaman. Untuk menurunkan kadar pencemaran udara terutama Pb yang berasal dari kendaraan bermotor diperlukan sistem pengelolaan lingkungan yang baik dengan melibatkan semua pihak melalui beberapa upaya seperti larangan masuk, larangan parkir, mengatur zona lalu lintas, hari tanpa mengemudi, bersepeda, penerapan teknologi baru, dan penanaman vegetasi.
Keyword: Penyebaran Pb, debu dan CO
Pendahuluan
Komponen udara terdiri dari campuran dari berbagai macam gas dengan oksigen merupakan salah satu komponennya,yaitu sekitar 20% berdasarkan volume. Gas-gas lainnya baik vang terdapat dalam jumlah besar (N , COx, Ar) maupun yang terdapat dalam jumlah kecil (He, Kr, H , O , CH dan lain-lain) bersama-sama oksigen terserap melalui proses pernafasan dan mencapai paru-paru. Ketika udara yang terhirup mencapai paru-paru, oksigen diserap yang kemudian terikat dengan hemoglobin, sedangkan gas-gas lain dibuang kembali melalui hidung. Secara alamiah, udara di atmosfer bukan saja mengandung gas-gas yang bermanfaat dan gas-gas yang tidak bermanfaat, namun juga mengandung beberapa gas yang
2
2 3 4
berbahaya bagi manusia misalnya SO , N0 , CO dan H S. Meskipun demikian keberadaan gas-gas tersebut dalam keadaan alamiah kadarnya sangat kecil, sehingga tidak membahayakan bagi manusia.
2 2 2
Kota Jakarta yang merupakan salah satu kota besar di Indonesia memiliki tingkat aktivitas yang sangat tinggi yang membawa implikasi meningkatnya mobilitas penduduk, barang dan jasa, maka jumlah kendaraan bermotor juga makin meningkat. Frekuensi kendaraan di jalan raya makin meningkat, bahkan di titik-titik tertentu sangat tinggi dan menimbulkan kemacetan DKI Jakarta harus mampu melayani 20,7 juta penjelasan setiap harinya (Pemprov DKI Jakarta 2010).
Dengan makin banyaknya kendaraan yang beroperasi di Kota Jakarta, maka emisi gas buang dari kendaraan bermotor juga meningkat, khususnya gas Pb dan debu. Keberadaan kadar gas-gas tersebut yang semakin meningkat di udara jalan raya juga akan menyebar akan menyebar ke daerah sekitarnya dan sehagai akibatnya dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Kebijakan pembangunan transportasi yang kurang baik, yaitu manajemen transportasi yang kurang tepat serta tidak memperhatikan aspek kesehatan masyarakat setempat tentu akan makin memperburuk dampak negatif tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penyebaran Pb, debu dan CO dalam menyusun sistem pengelolaan lingkungan terhadap dampak resiko pencemaran udara dalam kaitan dengan kesehatan masyarakat di sekitarnya.
Metode Penelitan
a. Lokasi Penelitian
Pengamatan Pb, debu dan CO dilakukan pada jalan Cawang-Semanggi dengan 5 titik pengamatan (Gambar 6) Dipilihnya 5 lokasi gedung tempat pengamatan dan pengukuran, karena 5 lokasi gedung tersebut berada di jalan Cawang – Semanggi, ramai dilalui kendaraan beroda dua dan empat, serta tujuh meter di atas permukaan laut. Pengamatan dilakukan pada siang dan sore hari dari pukul 09.00 – 10.00 WIB dan pukul 13.00-16.00 WIB.
b. Pengukuran Debu, Pb dan CO
Pengukuran Debu, Pb dan CO dilakukan sesuai dengan prosedur standar SNI (Tabel 10). Sampling dan analisis tersebut dilakukan atas kerjasama dengan Laboratorium Terpadu, IPB, Bogor.
Hasil dan Pembahasan
Studi tingkat penyebaran Pb, debu dan CO dilaksanakan di Jalan Cawang sampai Jalan Semanggi Provinsi DKI Jakarta. Panjang jalan lokasi penelitian sekitar 12 km mulai dari arah timur menuju ke barat laut. Secara geografis jalan tersebut terletak pada 42o32’40” Lintang Selatan dan 106o57’10” Bujur Timur, terletak pada ketinggian antara 7 m sampai dengan 10 m di atas permukaan laut.
Kesehatan petugas Polantas Metro Jaya yang menderita penyakit ringan batuk-batuk dan flu sebagai akibat ISPA dapat dilihat pada Tabel 35.
Tabel 35. Data Kesehatan Anggota Kor Lalulintas Metro Jaya Tahun ISPA Bunuh Diri Stress Ingin Pindah Tempat Tugas 2005 116 2 27 15 2006 98 - 30 16 2007 65 - 18 9 2008 43 1 11 6 2009 36 - 7 3 2010 27 - 2 2
Sumber : Direktorat Kesehatan Polda Metro Jaya
Data masyarakat yang meninggal akibat CO selama lima tahun dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel 36. Korban CO dan Tempat Kejadian Perkara
Tahun Korban CO Tempat
2005 3 Ancol (Jakarta), Bandung dan Medan 2006 1 Parangtritis (Jogjakarta) 2007 1 Losari (Makasar) 2008 1 Ancol (Jakarta) 2009 2 Ancol (Jakarta) dan Surabaya 2010 1 Depok Sumber : Didserseum
Luas obyek penelitian adalah = 9.000 m x 280 m = 2520.000 m2 atau 252 ha. Daerah seluas itu diurus oleh dua walikota kepala pemerintah wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Wilayah itu terbagi menjadi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Tebet, Kecamatan Pancoran, Kecamatan Mampang, Kecamatan Setia Budi, Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Tanah Abang.
Jumlah gedung dan perkantoran yang telah dibangun oleh pemerintah sebanyak 870 gedung dan swasta 516 gedung. Untuk mengetahui besarnya penyebaran Pb, debu dan CO terkait dengan kesehatan di lokasi studi, maka sebagai parameter adalah besarnya Pb, debu dan CO yang menempel dan terjerap pada tanaman dan manusia.
Kandungan Pb pada Tanaman.
Berdasarkan hasil survey diperoleh data mengenai jumlah pohon peneduh jalan raya Cawang – Semanggi dapat diuraikan sebagai berikut :
- Pada ukuran pohon (diameter > 40 cm) = 617 - Pada jenis ukuran tiang (diameter < 42 cm) = 910 - Pada jenis ukuran pancang (diameter < 10 cm) = 1340
Jumlah = 2867 Pohon
Hasil penelitian kondisi kimiawi terhadap parameter Pb yang menempel pada daun tanaman di lokasi penelitian menunjukkan bahwa kandungan Pb pada daun dari masing-masing jenis tanaman menunjukkan nilai yang beragam, kandungan Pb tertinggi (Pb tanaman pada jarak kurang 10 m dari tepi jalan) terdapat pada tanaman Sweitenia mahagoni sebesar 6,053 μg/Nm3 dan terendah pada tanaman Acacia mangium sebesar 4,155 μg/Nm3. Sedangkan pada jarak 10-20 m dari tepi jalan, kandungan Pb tertingi terdapat pada tanaman Sweitenia mahagoni μg/Nm3 dan Kandungan Pb terkecil terdapat pada jenis tanaman Minusops elengi sebesar 3,470 μg/Nm3, secara rinci kandungan Pb masing-masing jarak tanam dan jenis tanaman tersaji pada Tabel 37.
Tabel 37. Hasil pengukuran kandungan Pb di setiap jenis tanaman penghijauan tepi jalan tol Cawang – Semanggi (Februari 2008)
Jenis Tanaman
Rerata kandungan Pb tanaman pada jarak kurang 10 m (ppm)
Rerata kandungan Pb tanaman pada jarak
10 – 20 m (ppm) Acacia mangium Minusops elengi Sweitenia mahagoni 4,155 5,735 6,053 3,933 3,470 4,798
Sumber : Hasil pengukuran.
Kandungan Pb pada daun dari jenis tanaman yang sama menunjukkan jenis tanaman yang ditanam pada jarak tanam kurang 10 m lebih besar dari kandungan Pb tanaman pada jarak tanam 10 sampai dengan 20 m dari tepi jalan. Kandungan Pb yang berbeda pada tanaman yang sama, tetapi jarak dari tepi jalan tol berbeda sesuai dengan Fardiaz (1992), dan manyatakan bahwa, semakin jauh dari jalan raya, kandungan Pb di daerah pertanian akan makin rendah. Hal ini disebabkan oleh ukuran partikel Pb di udara yang semakin jauh jaraknya dari sumber pencemar, maka ukurannya akan semakin kecil. Pada jarak yang jauh dari sumber pencemar, Pb yang diakumulasikan oleh daun semakin sedikit. Hal ini disebabkan jarak yang ditempuh perjalanan Pb dalam perjalannya menuju daun tanaman cukup jauh sehingga Pb jatuh terlebih dahulu ke tanah sebelum sampai ke tanaman yang dituju.
Pb yang terjerap pada tanaman berdasarkan hasil pengamatan dengan jenis tanaman yang digunakan adalah eceng gondok (Eichornia crassppes), kangkung (Ipomoca reptans) dan genjer (Limmochoris flava). Ketiga jenis tanaman ini diduga memiliki kemampuan dapat menjerap Pb yang lebih besar dari lingkungan dibandingkan dengan jenis tanaman lainnya. Sampel ketiga jenis tanaman ini di tempatkan di Gedung Badan Narkotika Nasional (BNN), Kor Lalulintas, di Gedung Mustika Ratu,Lembaga IlmuPengetahuan Indonesia (LIPI) dan Jembatan Semanggi Jakarta dan kontrol pengamatan di Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Baranang Siang Bogor selama 3 bulan musim kemarau dan musim hujan. Kandungan Pb dari tiga jenis tanaman tersebut tersaji pada Tabel 38.
Tabel 38. Penjerapan kandungan Pb pada sampel tanaman contoh di lokasi penelitian selama musim kemarau dan musim hujan tahun 2008. K H K H K H K H K H K H Eceng Gondok 4 5.5 3.8 5.1 4 4.3 3.3 5.4 4.1 6 2.3 3.5 Kangkung 3.8 4.8 4 4.5 3.7 4 3 4.3 4 5.9 2 3.1 Genjer 3.3 4.3 3.2 3.8 3.5 3.9 2.5 3.4 3.8 4.9 1.8 2.1 IPB (Bogor) (Kontrol) Jenis Tanaman
BNN Lalulintas Mustika Ratu LIPI Jembatan
Semanggi
Keterangan: K= Musim Kemarau, H = Musim Hujan
Tabel 38, terlihat ada perbedaan penyerapan Pb antara musim kemarau dan musim hujan masing-masing tanaman percobaan tahun 2008. Pada musim hujan konsentrasi Pb pada ketiga jenis tanaman lebih besar dibanding musim kemarau. Hal ini disebabkan karena pada musim hujan kandungan air dalam tanah lebih tinggi dibandingkan di musim kemarau, sehingga ion Pb yang masuk ke jaringan tanaman lebih besar dibandingkan dengan musim kemarau. Di sekitar Kampus IPB Baranang Siang, kandungan Pb baik pada tanaman eceng gondok, kangkung, dan genjer semakin meningkat dari musim kemarai ke musim penghujan walaupun kandungan Pb terlihat lebih rendah dibandingkan dengan lokasi pengukuran lainya. Untuk lokasi pengukuran di sekitar Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mustika Ratu, Kor Lalulintas, dan BNN memperlihatkan fluktuasi kandungan yang hampir sama pada tiga lokasi baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau.
Jika dibandingkan dengan nilai ambang baku mutu udara ambien yang diperkenankan khususnya Pb sebesar 0,06 mg/m3 hasil analisis diatas, terlihat kandungan Pb dalam tanaman telah melewati batas ambang baku mutu udara ambien yang diperkenankan. Ini menunjukkan bahwa tanaman mempunyai kemampuan untuk menyerap ion Pb dalam jumlah yang besar dan selanjutnya akan diakumulasikan dalam tubuh tanaman melalui proses-proses fisiologi yang berlangsung dalam tanaman itu sendiri. Apabila Pb ini terjerap pada tanaman yang dapat dikonsumsi oleh manusia, maka keberadaan Pb dalam tanaman tersebut menjadi ancaman bagi kesehatan manusia.
Kandungan Pb pada Rambut Polisi yang bertugas di Lokasi Penelitian
Kandungan Pb pada rambut manusia (petugas kepolisian) dibedakan atas lama bekerja di lokasi (lama bekerja 0 sampai dengan 1 tahun, 5 sampai dengan 10 tahun, dan 10 sampai dengan 15 tahun) dengan konsentrasi di lima lokasi masing-masing di BNN, Kor Lalulintas POLRI, Mustika Ratu/Pancoran, LIPI dan Semanggi. Hasil penelitian kandungan Pb pada rambut pekerja tersaji pada Tabel 39 dan Gambar 14.
Tabel 39. Hasil analisis kandungan Pb pada rambut polisi yang bertugas di sepanjang jalan Cawang-Semanggi. Lama Bekerja Lokasi RATA-RATA
BNN Kor Lalu Lintas POLRI
Mustika Ratu/
Pancoran LIPI Semanggi 0 – 5 Tahun 0.25 0.3 0.51 0.05 0.15 0,252 5 – 10 Tahun 0.73 0.81 0.92 0.08 0.33 0,574 10 – 15 Tahun 1.01 0.98 1.02 0.1 0.85 0,792
Sumber: Hasil analisis 2007
Gambar 14. Kandungan Pb pada rambut pekerja sepanjang jalan Cawang-Semanggi.
Tabel 39 dan Gambar 14 menunjukkan bahwa kandungan Pb pada rambut pekerja di sepanjang jalan Cawang sampai Semanggi meningkat dengan semakin lamanya orang yang bekerja di lokasi pengamatan yaitu di BNN, Kor Lalulintas,
Mustika Ratu, LIPI dan Semanggi. Ini menunjukkan bahwa lamanya waktu tinggal di suatu lokasi pencemaran Pb, orang yang bersangkutan akan makin banyak menyerap partikel Pb ke dalam tubuh yang kemudian diakumulasi pada rambut. Kenaikan konsentrasi Pb terjadi lebih cepat pada lokasi Semanggi, Kor Lalu lintas POLRI, dan Mustika Ratu, sedangkan konsentrasi yang lebih rendah adalah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tingginya konsentrasi Pb di dalam rambut di empat lokasi tersebut di atas disebabkan oleh tingginya tingkat kemacetan kendaraan terutama pada jam-jam sibuk.
Konsentrasi Pb pada rambut di lokasi-lokasi penelitian masih relatif kecil (lebih kecil dari 2,8-4,8 ppm) yang menunjukkan tingkat pencemaran Pb terhadap orang-orang yang bekerja di lokasi tersebut masih aman. Namun demikian, konsentrasi ini akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya waktu dan tingkat kemacetan di setiap lokasi pengamatan sehingga pada suatu saat keberadaan Pb akan menjadi tidak aman bagi orang-orang yang berada di sekitar lokasi studi karena dapat mengganggu kesehatan mereka.
Berdasarkan hasil pengamatan tersebut di atas, terdapat kecenderungan terjadinya kenaikan konsentrasi Pb pada rambut dengan semakin lamanya orang bekerja di suatu lokasi yang tercemar dengan logam berat Pb. Hal ini disebabkan karena lama pemaparan zat pencemar terhadap tubuh seseorang dipengaruhi oleh waktu pemaparan. Kandungan logam berat Pb pada rambut tidak mutlak berasal dari makanan, minuman ataupun udara yang terhirup masuk ke dalam tubuh, tetapi bisa juga menempel langsung di rambut, bila udara di lingkungan mengandung Pb. Hubungan antara lokasi dengan konsentrasi Pb dalam rambut disajikan seperti dalam Gambar 14.
Dari Tabel 35 telah menunjukan signifikan antara kesehatan anggota Polantas dengan penemuan Pb pada rambut. Kesehatan warga masyarakat Pal Merion pada tahun 2005 yang menjerab Pb, menurut Satriyo (2004) telah membuat warga menjadi pemarah dan pada anggota kepolisian Trigger Happy.
Gambar 15, menunjukkan bahwa hubungan antara lokasi dengan konsentrasi Pb pada rambut dapat dijelaskan semakin lama tercemar logam Pb, maka konsentrasi Pb dalam rambut semakin tinggi.
Gambar 15. Grafik hubungan antara lokasi dengan konsentrasi Pb pada rambut.
Unsur Timbal / Pb masuk ke dalam tubuh terutama melalui saluran pencernaan dari makanan dan minuman, tetapi juga melalui pernafasan atau melalui kulit dari udara yang tercemar Pb. Semua bahan pangan alami mengandung Pb dalam konsentrasi yang kecil dan dalam proses mempersiapkan makanan konsentrasi Pb mungkin akan bertambah. Pb di dalam rambut, selain berasal dari makanan, udara, dan air, Pb dalam rambut dapat berasal dari cat rambut yang mengandung asetat dan dapat juga berasal dari debu (Cohen dan Roy 1991).
Sumber utama pencemar Pb di udara adalah kendaraan bermotor, industri dan sumber yang ada secara alamiah. Rustiawan (1994) menyatakan 60 sampai 70% pencemar udara di perkotaan berasal dari kendaraan bermotor, dan salah satunya adalah Pb. Emisi alami juga melepaskan Pb terutama akibat erosi tanah dan aktivitas gunung berapi.
Hasil Penelitian Pb di tahun 2011
Gambar 16, 17, 18. Perbandingan hasil penelitian Pb (ppm), debu (g/m³) dan bising (dBA) pada tahun 2008, 2011 dan Desember 2011.
Pengukuran udara tanggal 13 Februari 2008.
Gambar 16. Hasil pengamatan,pengukuran udara tanggal 13 Februari 2008. Debu (ug/Nm3)
Kebisingan (db A)
Pb (ug/Nm3)
Pengukuran udara tanggal 11 November 2011
Pengukuran udara tanggal 5 Desember 2011
Gambar 18. Hasil pengamatan pengukuran udara tanggal 5 Desember 2011.
Adapun hubungan antara peningkatan pencemaran udara yang berasal dari kendaraan bermotor terhadap kesehatan manusia khususnya penyakit ISPA seperti pada Tabel 40 dan Gambar 19.
Tabel 40. Kasus penyakit ISPA akibat peningkatan jumlah kendaraan di beberapa lokasi pengamatan di Jakarta tahun 2008.
No. Lokasi Rata-rata Jumlah
kendaraan per bulan
Kasus Penyakit ISPA 1. BNN 885,6 1,346 2. Kor Lalulintas 871,2 489 3. LIPI 883,44 1,489 4. Mustika Ratu 873,36 950 5. Jembatan Semanggi 892,08 1,907
relasi antara jumlandaraan erbulan pada lokasi berbeda (x) dengan Kasus Penyakit ISPA (y)
Gambar 19. Regresi dan Korelasi antara jumlah kendaraan terhadap peningkatan penyakit ISPA di Jakarta.
Berdasarkan hasil analisis regresi linier seperti pada Gambar 19 menunjukkan bahwa terjadi hubungan linier antara jumlah kendaraan bermotor di Kota DKI Jakarta dengan gangguan kesehatan masyarakat dimana parameter gangguan kesehatan masyarakat yang digunakan adalah penyakit Inpeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Dengan kata lain semakin banyak kendaraan yang beroperasi maka gangguan kesehatan manusia akan semakin meningkat dengan persamaan regresi Y = 0,059X – 51.086 dan koefisien korelasi R2 = 91,98 %.
Lokasi pengamatan yang memiliki kasus gangguan kesehatan ISPA tertinggi lebih banyak terjadi di Semanggi dengan jumlah kasus mencapai 1.907 kasus, sedangkan jumlah kasus tersendah terjadi di lokasi pengamatan Kor Lalulintas MT. Haryono dengan jumkah kasus yang hanya mencapai 489 kasus.
Sedangkan hubungan antara jumlah kendaraan bermotor terhadap peningkatan gangguan pendengaran seperti pada Tabel 41 dan Gambar 20.
Tabel 41. Hubungan antara jumlah kendaraan bermotor dengan gangguan pendengaran masyarakat pada beberapa lokasi penelitian.
No. Lokasi Bising (dBA)
Rata-rata Jumlah kendaraan per Jam Kasus Gangguan pendengaran 1. BNN 74,5-76,3 885,6 67 2. Kor Lalulintas 74,6-76,3 871,2 9 3. LIPI 69,8-70,4 883,44 65 4. Mustika Ratu 71,8-72,6 873,36 26 5. Jembatan Semanggi 68,7-69,5 892,08 80
ubungan antara JumlahKenraan pada setiap Loaksi Berbeda (x) dengan
Gangguan Pendengaran (y)
Gambar 20. Regresi dan Korelasi antara jumlah kendaraan terhadap peningkatan berlalulintas pada gangguan pendengaran masyarakat di DKI Jakarta.
Berdasarkan hasil analisis regresi linier seperti pada Gambar 20 juga menunjukkan bahwa terjadi hubungan linier antara jumlah kendaraan bermotor di Kota Jakarta dengan gangguan pendengaran masyarakat di Kota Jakarta. Dengan kata lain semakin banyak kendaraan yang beroperasi maka gangguan pendengaran akan semakin meningkat dengan persamaan regresi Y = 0,0034X – 2.942,1 dan koefisien korelasi R2 = 95,56 %.
Untuk kasus gangguan pendengaran, kasus terbanyak terjadi di lokasi pengamatan sekitar Semanggi dengan jumlah kasus sekitar 80 kasus gangguan pendengaran dan terendah di lokasi pengamatan Kor Lalulintas MT. Haryono.
Pb sebagai salah satu unsur polutan udara sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Mengingat bahayanya yang sangat besar bagi kesahatan, maka mutlak dikurangi penggunaannya. Beberapa produk bensin tanpa Pb sudah diperkenalkan mulai tahun 1985, yaitu Super TT. Super TT adalah bahan bakar dengan bilangan oktan (RON) sebesar 98. Jenis lain yaitu Petro 2T yang dirancang khusus untuk sepeda motor, adalah bensin tanpa Pb yang dikeluarkan oleh PT Sigma Rancang Perdana. Di awal tahun 1998, produk bensin tanpa Pb yang lain adalah BB2L (Bensin Biru 2 Langkah) dengan harga yang lebih murah daripada premium. Jika membandingkan terhadap bilangan oktan, Super TT mempunyai RON 98, premium 88 dan premix 94. Artinya produk tanpa Pb pun mampu memperpanjang oktan melebihi bensin yang masih mengandalkan unsur Pb. Bensin premium sendiri masih mengandung TEL 0,3 l dan premix 0,45 l (KPBB 1999).
Kesimpulan
1. Masih dapat dibuktikan adanya jerapan Pb pada tanaman eceng gondok 5.05, kangkung 4,05 dan 4,35 genjer pada penelitian tahun 2008.
2. Pb yang terjerap pada rambut petugas ditandai dengan waktu lamanya mereka bertugas. Lama bertugas 10 sampai 15 tahun di jalan tol terdapat 0,792 dibandingkan dengan 0,252 yang baru bertugas selama kurang dari lima tahun.
3. Regresi dan korelasi antara jumlah kendaraan berlalulintas dengan gangguan pendengaran yaitu menggambarkan semakin banyaknya berlalulintas maka makin besar gangguan pendengaran pada masyarakat disekitarnya.
4. Pb digambarkan menurun sebagai hasil dari regulasi larangan mobil berpolutan masuk kota (Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005).