• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan suatu bangsa dimana melalui pendidikan dapat dicetak sumber daya yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. kemajuan suatu bangsa dimana melalui pendidikan dapat dicetak sumber daya yang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ujian Nasional merupakan salah satu fase yang dialami oleh tiap siswa dalam menjalani pendidikan di Indonesia. Pendidikan adalah penentu perkembangan kemajuan suatu bangsa dimana melalui pendidikan dapat dicetak sumber daya yang berkompeten dan berkualitas. Keberhasilan pendidikan dapat dilihat dari keberhasilan pembelajaran yang selama ini dilakukan guru terhadap para siswanya. Untuk menilai dan mengukur pembelajaran yang dilakukan guru terhadap para siswanya diperlukan evaluasi. Evaluasi itu dilakukan untuk menilai dan mengukur seberapa keberhasilan siswanya dalam mengikuti pembelajaran. Evaluasi tersebut dapat dilihat melalui ujian nasional yang biasanya dilaksanakan pada tingkat akhir pendidikan (Daryanto, 2001).

Pendidikan merupakan bagian penting dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menunjang pembangunan tersebut maka diperlukan peningkatan pendidikan nasional yang merata dan bermutu. Salah satu yang digagas oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan saat ini, Anies Baswedan, adalah pelaksanaan Ujian Nasional yang berbasis komputer dan terdapat sistem perbaikan bagi siswa yang gagal dalam Ujian Nasional pertama. Seluruh Standar Operasional Pelaksanaan (SOP) tersebut dituangkan dalam bentuk Peraturan Badan Standar Nasional Pendidikan Nomor 0034/P/BSNP/XII/2015.

(2)

Ujian Nasional merupakan kebijakan pemerintah untuk menentukan standar mutu pendidikan. Kebijakan tersebut berkaitan dengan berbagai aspek yang dinamis, seperti budaya, kondisi sosial ekonomi, bahkan politik, dan keamanan, sehingga akan selalu rentan terhadap perbedaan dan kontroversi sejalan dengan perkembangan masyarakat (Millatina, 2010). Perencanaan Ujian Nasional perlu diimbangi dengan kesiapan berbagai pihak, mulai dari sekolah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Pusat hingga Kemdiknas. Perlunya koordinasi tersebut diupayakan agar anak tidak merasa cemas dalam menghadapi Ujian Nasional karena segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang. Namun kenyataanya, bayang-bayang takut gagal dalam Ujian Nasional masih sering menjadi ancaman bagi siswa.

Ujian Nasional menjadi agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 2016 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar Ujian Nasional (UN) sebanyak tiga kali. Rangkaian Ujian Nasional tersebut berupa ujian perbaikan bagi peserta Tahun Ajaran 2014/2015, Ujian Ujian Nasional utama, dan perbaikan Ujian Nasional Tahun Ajaran 2015/2016 (https://m.tempo.co/read/news/2015/07/14/273683917/tahun- 2016- ada- 3- kali- ujian-nasional). Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud, Totok Suprayitno, menjelaskan bahwa pelaksanaan, UN perbaikan 2015 akan dilakukan dengan berbasis komputer. (http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2015/07/rencana-pelaksanaan-un-tahun-2016-4364-4364-4364).

Ujian Nasional yang akan diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah dipersiapkan secara matang dengan melalui berbagai pertimbangan yang dibuat oleh dinas tersebut. Upaya pengkonversian Ujian Nasional berbasis kertas (Paper Based Test) menjadi berbasis komputer (Computer Based Test) dinilai baik oleh beberapa kalangan karena dapat mampu membangun kepercayaan publkc dan

(3)

menambah indeks intergritas sekolah yang menerapkan ujian berbasis komputer indeks integritas tinggi (http://bsnp-indonesia.org/?p=2456).

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan nampak optimis dengan sistem yang diberlakukan pada Ujian Nasional yang sudah berlangsung pada April yang lalu. Berbagai persiapan telah dibuat sedemikian rupa oleh Pemerintah. Namun, nampaknya masih terdapat beberapa kendala dalam penyelenggaraan Ujian Nasional. Hal tersebut terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Akademik SMA Negeri 2 Kota Madiun, Bekti Patria Dwi Hastuti, para siswa SMA Negeri 2 Kota Madiun cukup cemas dalam mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional 2016. Hal itu terkait segi teknis dikarenakan sekolah kekurangan fasilitas komputer. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah mengizinkan siswa kelas XII untuk membawa laptop yang nantinya akan dipasang beberapa siswa demi menunjang pelaksanaan Ujian Nasional. Bekti pun menambahkan bahwa para siswa juga tengah dihadapkan pada materi yang mengacu dua kurikulum sekaligus. Para siswa mengalami kebingungan untuk berkiblat pada kurikulum KTSP atau kurikulum 2013 (http://www.madiunpos.com/2015/11/12/un-2016-komputer- tak- cukup-sma-kota-madiun- minta-siswa-bawa-laptop-660403).

Ardiyansyah, siswa SMA Negeri 2 Kota Madiun, mengakui kecemasannya menghadapi UN karena belum terbiasa mengikuti ujian dengan berbasis komputer. Selain itu Wulan, siswi SMAN 1 Bantul menyampaikan pada Try Out ke-2, sekolahnya mengalami server down sehingga pelaksanaan try out hari itu dibatalkan. Hal itu juga membuat cemas siswa lain karena mereka takut kejadian serupa terjadi di hari pelaksanaan Ujian Nasional. Senada dengan hal itu, Ardiansyah juga takut terjadi kesalahan teknis pada perangkat komputer atau laptop serta jaringan internet selama mengerjakan soal Ujian Nasional (http://www.madiunpos.com/2015/11/12/

(4)

un-2016-komputer-tak-cukup-sma-kota-madiun-minta-siswa-bawa-laptop-660403). Lain hal dengan Ardiansyah, Ernest, siswa SMAN 3 Yogyakarta, menuturkan bahwa pelaksanaan Ujian Nasional sekolahnya dibuat beberapa gelombang dalam pemakaian komputer. Hal itu ditempuh karena kekurangan fasilitas komputer dalam penyelenggaraan Ujian Nasional.

Kendala seperti itu bukan cuma dirasakan siswa di pulau Jawa saja, namun juga di rasakan di pulau lainnya. Selain terkendala oleh jumlah komputer, Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Jayapura, Melkianus Mawene pun menuturkan bahwa koneksi internet juga tidak stabil saat pelaksanaan Try out berlangsung (http://news.liputan 6.com/ read/ 2213041 / un-2015 -di-papua- masih -terkendala-komputer). Dari berbagai kasus yang terjadi disimpulkan bahwa masih terdapat banyak kendala yang terjadi menjelang penyelenggaraan Ujian Nasional. Hal tersebut tentu bukan hanya membuat pihak sekolah was-was, para siswa selaku yang menjalani Ujian Nasional juga merasa cemas. Dari berbagai persiapan yang dilakukan baik oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah, nampaknya Ujian Nasional Berbasis Komputer sudah dapat diakomodasi oleh sejumlah pihak. Namun, pelaksanaan ini belum dapat menyentuh seluruh daerah di Indonesia. "Dari 50 ribu sekolah SMA/SMK, hanya 4.400 yang ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Tidak sampai satu persen," ungkap salah seorang Praktisi Pendidikan, Indra Charismiadji. (http: //www. jpnn.com /read/ 2016/05/03/ 399117/ Hanya- 1- Persen- Siswa- IkutUNBK- Kontribusi- Pemda- Dipertanyakan-).

Ujian Nasional memunculkan kecemasan pada para siswa. Menurut Atkinson, dkk (1997) kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah-istilah kekhawatiran, keprihatinan, dan rasa takut yang kadang-kadang dialami dalam tingkatan yang berbeda-beda. Kekhawatiran tersebut muncul akibat dari

(5)

peraturan yang diterapkan oleh pemerintah yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Hal itu tercermin pada Peraturan BSNP tahun 2016. Ada beberapa kebijakan yang berubah, salah satunya adalah kelulusan tiap siswa dikembalikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal tersebut, bila dilihat dari kacamata tiap sekolah, pasti tidak ada sekolah yang tidak meluluskan siswanya. Berkaitan dengan hal tersebut, seharusnya para siswa tidak perlu cemas dalam Ujian Nasional karena pihak sekolah pasti “menolong” dalam hal tersebut. Namun, kenyataannya Ujian Nasional tetap memberi dampak kekhawatiran, rasa was-was, dan rasa takut pada para siswa yang seolah menghadapi sesuatu hal yang belum pasti. Hal itu juga dikarenakan Ujian Nasional menjadi salah satu penentu dalam kelulusan SBMPTN sebab lebih menyangkut pada masa depan katanya. Berkaitan dengan SBMPTN hal ini termasuk pada ancaman yang tidak begitu jelas.

Sudrajat (2008) menjelaskan bahwa kecemasan atau anxiety merupakan salah satu bentuk emosi individu yang berkenaan dengan adanya rasa terancam oleh sesuatu, biasanya terkait dengan objek ancaman yang tidak begitu jelas. Kecemasan dengan intensitas wajar memiliki nilai positif sebagai motivasi, tetapi apabila intensitasnya tinggi dan bersifat negatif dapat menimbulkan kerugian dan dapat mengganggu keadaan fisik dan psikis individu yang bersangkutan (Durland & Barlow, 2006). Dalam hal ini, kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional diharapkan dapat menjadi motivasi belajar para siswa agar mendapat hasil yang terbaik.

Kecemasan dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, sering dikatakan sebagai bentuk kecemasan akademis. Menurut Viliante dan Pajares (dalam Pratiwi, 2009) kecemasan akademis merupakan suatu bentuk perasaan tegang dan takut pada sesuatu yang akan terjadi, dimana perasaan tersebut mengganggu pelaksanaan tugas dan beragam aktivitas dalam situasi akademis. Seorang tokoh terkenal yaitu, Chaplin

(6)

(2001) menjelaskan bahwa pada dasarnya kecemasan akan menyertai di setiap kehidupan manusia terutama bila dihadapkan pada hal-hal yang baru maupun adanya konflik. Kecemasan merupakan suatu kondisi normal yang pernah dialami hampir oleh semua orang, namun tarafnya berbeda-beda. Kecemasan adalah perasaan campuran yang berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa yang akan datang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut. Pada kecemasan yang tingkatnya tinggi akan mengakibatkan stres. Kecemasan yang terjadi pada siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional adalah normal. Namun, tiap siswa belum tentu dapat mengatasi rasa cemasnya. Hal itu tergantung pada kemampuan siswa tersebut dalam merespon kecemasan yang dialaminya. Hal yang biasa dilakukan untuk mengurangi rasa cemas seperti belajar bersama teman, ikut bimbingan les, memperbanyak ibadah, hangout bersama teman, dan sebagainya. Dalam belajar diperlukan motivasi belajar karena poin tersebut berperan penting dalam memberikan gairah atau semangat belajar (Winkel, 2004).

Ujian Nasional juga memberikan dampak kecemasan bagi para siswa yang akan menjalankannya. Dari berbagai kasus di atas dapat disimpulkan bahwa para siswa merasa cemas karena berbagai hal, salah satunya karena sistem yang baru diterapkan, yaitu Ujian Nasional Berbasis Komputer. Selain itu, para siswa juga diperhadapkan dengan dua kurikulum yang berbeda yaitu Kurikulum KTSP dan Kurikulum 2014. Beberapa dari antara subjek penelitian juga mengungkapkan tentang minimnya latihan penggunaan komputer dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Kecemasan berupa hal teknis dan psikis juga dapa melanda para siswa dalam menghadapi Ujian Nasional pada Tahun Ajaran 2015/2016.

Pembahasan mengenai kecemasan lebih sering ditelaah melalui perspektif psikologi barat. Hal tersebut mungkin menjadi sangat berbeda bila di bahas

(7)

berdasarkan pemahaman kawruh jiwa Suryomentaram yang sedang giat digali serta ditumbuhkembangkan dalam ilmu psikologi, salah satunya melalui penelitian ini. Kawruh jiwa Suryomentaram belakangan ini kerap didiskusikan, ditelaah, dam diteliti konsepnya. Salah satu pandangan atau pemikiran dalam kawruh jiwa Suryomentaram adalah konsep yang disampaikan oleh Suryomentaram yang terkait dengan strategi koping. Konsep pemikiran Suryomentaram yang terkait dengan strategi koping adalah kemampuan mulur mungkret dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

Mulur mungkret merupakan salah satu kemampuan dalam beradaptasi terhadap sesuatu yang menurut pandangan Suryomentaram akan membantu seseorang untuk mendapat kebahagiaan di dalam hidupnya (Waringah, 2015). Gagasan-gagasan Suryomentaram mengungkap bahwa kebahagiaan sejati dan jalan mencapai kebahagiaan tidak terdapat di luar diri manusia, melainkan ada dalam diri manusia itu sendiri, yakni sikap tabah. Dengan bersikap tabah, manusia dapat merasakan

kebahagiaan (Prihartanti, 2004). Mulur mungkret merupakan kemampuan sikap elastis dalam menghadapi

masalah dan menghayati kehidupan (Waringah, 2015). Mulur berasal dari bahasa Jawa yang secara bahasa berarti memanjang/mengembang. Mungkret berarti meringkus atau mengecil (Suryomentaram, 1989).

Menurut pemikiran kawruh jiwa Suryomentaram, setiap manusia memiliki keinginan. Keinginan/karep membuat seseorang terdorong untuk melakukan suatu tindakan untuk mencapai keinginan tersebut. Keinginan/karep yang tercapai akan menimbulkan rasa senang. Selain itu, keinginan/karep yang tercapai pasti mulur (memanjang) dalam arti meningkat. Itu berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat, entah jumlahnya entah mutunya. Bila keinginan yang mulur ini tetap terpenuhi, maka pasti akan mulur lagi. Sebaliknya, seseorang ketika memiliki

(8)

keinginan yang tinggi, namun tidak tercapai, maka secara otomatis karep/keinginan tersebut akan mungkret (mengecil). Selanjutnya, ketika karep/keinginan tersebut akan terus menerus tidak terpenuhi maka akan mencapai kondisi dimana dirinya akan menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan (Suryomentaram, 1989).

Seseorang yang mengikuti falsafah Mulur mungkret ini, maka dirinya akan dapat lebih menikmati hidup. Seseorang akan selalu termotivasi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, namun tidak akan stres jika ternyata cita-cita (keinginan) awalnya tidak dapat tercapai. Kemampuan tersebut akan diteliti melalui penelitian yang akan dijalankan ini. Peneliti akan mencermati hubungan kecemasan dalam menghadapi Ujian Nasional dengan kemampuan mulur mungkret. Peneliti melakukan beberapa kali wawancara informal pada beberapa siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional. Seorang subjek menyebutkan bahwa telah mengalami kejenuhan belajar untuk mempersiapkan Ujian Nasional. Hal itu mengakibatkan malas belajar dan prokrastinasi saat belajar di luar sekolah. Subjek lain menyatakan bahwa ia telah mempersiapkan Ujian Nasional dengan baik, namun ia masih merasa kurang puas dengan hasil pencapaiannya. Kedua subjek tersebut sama-sama menyatakan mengalami kecemasan terutama mendekati hari pelaksanaan Ujian Nasional. Kecemasan yang dialami oleh siswa dapat mengakibatkan banyak hal negatif dalam performa siswa di dalam kegiatan akademik seperti, prokrastinasi, menurunnya performa dalam pekerjaan sekolah, dan lain sebagainya (Attri & Neelam, 2013).

Berbeda dengan Attri dan Neelam, Stuart dan Laraia (2001) menjelaskan bahwa ketika siswa berada dalam kecemasan pada kondisi yang ringan, kecemasan tersebut dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas (Stuart dan Laraia, 2001). Namun, ketika kecemasan tersebut berada pada kecemasan yang tinggi,

(9)

maka individu akan mengalami panik dan tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. (Stuart dan Laraia, 2001).

Tema ini menjadi menarik untuk diteliti mengingat kemampuan mulur mungkret pada tiap orang berbeda dan tergantung pada pribadi tersebut menyikapi masalah yang dihadapi. Kondisi tersebut bersesuaian dengan subjek pada tempat penelitian akan dilaksanakan, yaitu Sekolah Menengah Atas BOPKRI 2 Yogyakarta. Rata-rata siswa yang mendaftar dan masuk ke SMA BOPKRI 2 Yogyakarta karena tidak diterima di SMA negeri. Hal tersebut menunjukkan bahwa para subjek penelitian telah mengalami mungkret (karep/keinginan yang tidak tercapai) karena tida berhasil masuk di SMA negeri. Selain itu, siswa yang bersekolah di SMA swasta juga sudah mendapat label tersendiri bahwa kemampuannya masih di bawah siswa yang bersekolah di SMA negeri. Hal tersebut yang membuat peneliti memilih bahwa siswa kelas XII SMA BOPKRI 2 Ygoyakarta sangat tepat untuk menjadi subjek dalam penelitian ini.

Santrock (2007) menyatakan tingkat kecemasan tinggi yang dialami oleh sejumlah remaja pada umunya disebabkan oleh ekspektasi dan tekanan untuk berprestasi yang tidak realistis dari orangtua atau dari pihak sekolah. Bagi banyak individu, kegelisahan dapat meningkat seiring dengan situasi yang sedang dihadapi seperti menghadapi evaluasi, perbandingan sosial, dan (bagi sebagian siswa) mengalami kegagalan. Lazarus & Folkman (1984) menyatakan bahwa bukan kegagalan itu sendiri yang menyebabkan kecemasan. Tetapi, yang terpenting adalah bagaimana orang memproses keberhasilan dan bangkit dari kegagalan secara objektif dan bagaimana melihat pengalaman dalam situasi yang dihadapi.

Persepsi dan penilaian yang positif terhadap Ujian Nasional seorang siswa akan lebih mampu untuk mengelola kecemasan yang muncul sehingga perasaan-perasaan

(10)

yang muncul juga akan menjadi lebih positif. Emosi positif yang rutin dapat membuat orang lebih sehat dan lebih tangguh, mendorong seseorang berfungsi secara optimal, kesejahteraan, dan pengembangan (Frederikcson, 2001; Frederickson & Joiner, 2002). Emosi positif memperluas strategi pemecahan masalah (Frederickson & Branigan, 2000). Hal tersebut ditandai dengan siswa tetap bersemangat mengikuti Try out, walaupun mereka sudah mengikuti hal tersebut berulang kali. Ketika seorang siswa mampu untuk mengelola kecemasan yang muncul hal ini menandakan bahwa ia dapat menerapkan kemampuan mulur mungkret dalam dirinya. Rasa hidup yang ada pada diri manusia akan memunculkan adanya sikap mulur mungkret yaitu pemahaman dan pengendalian terhadap rasa yang meningkat. Rasa senang dan susah sebenarnya tidak ada yang kekal selamanya, sehingga manusia perlu mempunyai sisi fleksibilitas (Hartono, 2010).

Manusia mempunyai kemampuan untuk mengerti tujuan hidup dan kebutuhan hidup dengan pikirannya. Tindakan manusia untuk mencukupi kebutuhannya didasarkan atas ilmu (Jatman, 1997). Dalam upaya mendapatkan hasil yang baik, siswa memiliki cara tersendiri ketika ia mempelajari dan mempersiapkan Ujian Nasional. Usaha-usaha tersebut menjadi bekal agar ia dapat menjalankan Ujian Nasional dengan lancar dan dapat menempuh pendidikan ke jenjang yang berikutnya (Firmantyo, 2016). Namun, ketika usaha tersebut kurang dimaksimalkan, maka akan timbul kecemasan tersendiri pada siswa. Persiapan yang dilakukan Seo (2012) menunjukkan bahwa jangka waktu persiapan belajar siswa untuk menghadapi ujian berpengaruh terhadap prestasi akademik. Semakin pendek jangka waktu persiapan belajar siswa dalam menghadapi ujian, siswa merasa terbebani dengan bahan materi ujian yang banyak sehingga prestasi akademik yang diperoleh siswa menjadi kurang maksimal. Siswa yang memahami kemampuan dirinya dalam mencapai hasil yang optimal akan

(11)

mempersiapkan diri dari awal saat pemberian materi pembelajaran untuk menghadapi ujian. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan mulur mungkret dalam mengakomodir usaha-usaha yang ditempuh dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Mulur mungkret erat kaitannya dengan rasa. Ketika seseorang mengerti rasa dalam hidupnya, maka hal tersebut dapat menimbulkan rasa merdeka. Bila dikaitkan dengan pergaulan, mengerti rasa diri sendiri akan menimbulkan rasa damai. Dalam pemahaman tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa meneliti dan mengerti rasa sendiri itu perlu (Jatman, 1997).

Dari berbagai pemaparan yang sudah dijelaskan di atas, penelitian ini akan melihat hubungan antara kecemasan menghadapi Ujian Nasional dengan kemampuan mulur mungkret berdasarkan kawruh jiwa Suryomentaram. Dalam menghadapi Ujian Nasional, siswa pun dihadapkan pada keinginan pribadi, orangtua, dan sekolah untuk mencapai hasil yang terbaik. Ketika siswa dapat mengerti dan memahami seluruh keinginan tersebut, maka ia sudah mampu untuk menerapkan kemampuan mulur mungkret dalam dirinya. Sebaliknya ketika siswa belum atau hanya sebagian keinginan yang dapat ia pahami, maka timbulah kecemasan dalam dirinya menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Oleh karena itu, kemampuan mulur mungkret seseorang diperkirakan menjadi salah satu penentu naik atau turunnya kecemasan menghadapi Ujian Nasional pada siswa SMA.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hubungan antara kecemasan menghadapi Ujian Nasional dengan kemampuan Mulur mungkret di lingkungan SMA. Maka dari itu diperoleh suatu rumusan pertanyaan penelitian sebagai berikut: “Apakah kecemasan

(12)

menghadapi ujian nasional berhubungan dengan kemampuan Mulur mungkret pada siswa SMA ?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji adanya hubungan antara kecemasan menghadapi Ujian Nasional dengan kemampuan Mulur mungkret pada siswa SMA.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah cakupan wawasan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang ilmu psikologi kepribadian dan psikologi pendidikan lebih khusus bagi pengembangan pemaknaan konsep psikologi Nusantara.

2. Manfaat praktis a. Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi sekolah dalam mengetahui dinamika kecemasan siswa dalam menghadapi Ujian Nasional. Pihak sekolah dapat dapat menempuh cara tertentu dalam memberikan penanganan yang tepat dalam mempersiapkan materi dan mental pada siswa yang akan menempuh Ujian Nasional.

b. Bagi Siswa

Peneliti berharap siswa dapat aktif dan mandiri dalam upaya mempersiapkan materi dan mental menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Siswa juga diharapkan

(13)

dapat mengenal dan memahami rasa sendiri sehingga dapat mempraktikkan kemampuan mulur mungkret dalam kehidupan sehari-hari.

c. Bagi Penelitian Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan pada peneliti lain yang tertarik pada tema yang serupa.

Referensi

Dokumen terkait

Kecemasan yang terjadi pada siswa saat menghadapi Ujian Nasional karena.. adanya tekanan internal dan

Keresahan siswa tersebut menjadikan kecemasan tersendiri dalam menghadapi ujian nasional (Rini, H. Ketakutan tersebut bisa menjadi beban dan membuat para peserta ujian

banyak dari mereka menyatakan bahwa dalam menghadapi ujian nasional mereka mengalami kecemasan dikarenakan mereka takut soal ujian nasional nanti tidak seperti yang pernah

Selanjutnya, penelitian tentang “Hubungan Tingkat Kecemasan Dalam Menghadapi Tes/Ujian dengan Prestasi Belajar Siswa Berdasarkan Jenis Kelaminnya” yang dilakukan oleh

Siswa – siswi sebelum menghadapi ujian nasional dapat melakukan usaha untuk menambah pengetahuan agar sewaktu ujian nasional lebih siap dan tidak terjadi perasaan cemas

Berdasarkan pemikiran di atas dan melihat realitas dunia pendidikan sekarang, khususnya dengan adanya ujian nasional yang memberikan berbagai dampak psikologis siswa, maka

Hubungan ke arah negatif antara self-efficacy dengan kecemasan menghadapi ujian nasional pada siswa kelas XII AP di SMK Negeri 1 Salatiga dapat dijelaskan dengan teori

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah dijelaskan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan tingkat kecemasan siswa dalam menghadapi