POLITIK PENGUATAN INSTITUSI
PENDIDIKAN TINGGI ISLAM INDONESIA
(Telaah Historis Transformasi FA-UII Ke PTAIN Era
Menteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim)
STAI Abstract
This study aims to dev treasures on the focus of educa studies that are not yet familiar especially regarding the politics of Islamic education institutions Era of Religion K.H.A. Wahid Hasyim Ind never been studied by anyone, becomes important to study. Th "Interest Groups Theory" whic incorporated in The Politics Association (PEA) as an analysis kn relevant to the context of the d method in this study uses the qua "Library Research" with an educa approach with historical style. collecting data obtained do docum and interview, and data analysis tec qualitative circular analysis describing, classifying and combinin there were two important findin emergence of a program of strength higher education institutions in Ind basis of the construction of interna factors was the existence of the "B praxis by using a rational and spir which was emphasized in the conce namely the balance between scien between logic and morality, betwee public education, both must complem which is confirmed through the politic his institutional notion which is "complete Islamic University and makes PTAIN a modern embryo under the control of the Ministry second finding, in practice, is the inte used by the era of the Minister of R A. Wahid Hasyim in the process o Islamic higher education institutions an interaction pattern of "A Compromistic Associative", namely interaction that has an indication synthesis with secular groups, even
POLITIK PENGUATAN INSTITUSI
PENDIDIKAN TINGGI ISLAM INDONESIA
(Telaah Historis Transformasi FA-UII Ke PTAIN Era
Menteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim)
Darul Abror
AI As-Shiddiqiyah Lempuing Jaya OKI Sumsel E-mail:[email protected] evelop scientific cational political iliar in Indonesia, of strengthening of the Minister of Indonesia that has e, so this study This study uses hich has been of Education knife so that it is discussion. The ualitative method cational political le. Whereas in umentation study technique used by technique by ining. In this study dings. First, the ngthening Islamic Indonesia on the rnal and external "Balance Motive" spiritual approach cept and practice, ience and piety, een religious and lement each other litical program of is to establish a d library" which o of civilization try Religion. The interaction pattern f Religion of K.H. s of strengthening ns in Indonesia is "Accommodative ely the pattern of tion of "balanced" ven training with
the regime, in ways that ar prioritize stability and inte reflecting competitive, com and tassammuh and tawassu conflict between groups with alternative solutions.
Keywords:
Politics, Islam
K.H.A. Wahid Hasyim.
Abstrak
Penelitian ini mengembangkan khazanah kajian politik pendidikan ya Indonesia khususnya tentan institusi pendidikan tingi Isla K.H.A. Wahid Hasyim In pernah ditelitioleh siapapun menjadi penting untuk d menggunakan “Interest Gr
sudah tergabung dalam The Association (PEA) sebaga sehingga relevan pembahasan.Metode dalam menggunakan metode
Reseach”dengan pendekatan dengan corak historis pengumpulan data dipero dokumentasi dan wawancar data yang digunakan den kualitatif melingkar d menggolongkan dan m penelitian ini teradapat d Pertama, munculnya progra pendidikan tinggi Islam di konstruksi faktor internal da adanya praksis “Motif menggunakan pendekatan ras yang ditegaskan dalam ko yakni adanya keseimba pengetahuan dan taqwa, anta antara pendidikan agama d
POLITIK PENGUATAN INSTITUSI
PENDIDIKAN TINGGI ISLAM INDONESIA
(Telaah Historis Transformasi FA-UII Ke PTAIN Era
Menteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim)
t are more adaptive and interests all groups by ompromise, cooperative suth processes to reduce ith the aim of obtaining
amic Higher Education,
bertujuan untuk ah ilmiah pada fokus yang belum familier di tang Politik penguatan slam Era Menteri Agama Indonesia yang belum pun,sehingga kajian ini diteliti. Penelitian ini
Groups Theory” yang he Politics of Education agai pisau analisisnya dengan konteks lam penelitian ini kualitatif “Library
tan politik pendidikan ris.Sedangkan dalam eroleh melakukanstudi cara, dan teknik analisa dengan teknik analisis dengan memerikan, menggabungkan.Dalam t dua temuan penting, gram penguatan institusi di Indonesia atas dasar dan eksternalnya adalah tif Imbang” dengan rasional dengan spiritual konsep dan praksisnya, bangan antara ilmu ntara logika dan akhlak, dan umum, keduanya
harus saling melengkapi yang dite program politik gagasan institusio
mendirikan “Universitas Islam le perpustkaannya” yang nondikotom
menjadikan PTAIN sebagai emb modern di bawah kontrol Kemen Temuan kedua, pada praksisnya, yang digunakan era Menteri Agama Hasyim dalam proses pengu pendidikan tinggi Islam di Indones
interaksi “Asosiatif
Kompromistis”yakni polainteraksi indikasi sintesis “imbang” den
sekuler, bahkan bergaining dengan cara yang lebih adaptif serta m stabilitas dan kepentingan semua go refleksi proses yangkompetitif, kooperatif, dantassammuhsertataw mengurangi konflikantar groups mendapatkan solusi alternatif. Kata Kunci: Politik, Pendidikan K.H.A. Wahid Hasyim.
Pendidikan Islam di Indo lama mengalami suatu proses pendidikan dengan kompleksitas d berimplikasi positif maupun negatif itu menjadi spirit bagi bangsa untuk dengan jiwa nasionalismenya, d dengan halnegatifnya, adanya diskriminasi pendidikan pada tuju pendidikan oleh penjajah Belanda.Ha dapat dipahami secara kompleks faktornya dalam fakta-fakta his perkembangan pendidikan Islam terhambat sekaligus tertantang dalam khususnya dalam aspek pendidika lebih-lebih di perguruan tinggi pesantren, para Kyai sebelum mengkhawatirkan pendidikan mod lebih menekankan pengembangan ra pengetahuan dan sikap duniawi yan melunturkan budi luhur bangsa Indo mereka memperkuat terlebih d pendidikan pesantren dalam rangka luhur bangsa. (Dhofier, 2011, demikian, besarnya harapan uma memperoleh pendidikan yang no nilai-nilai dengan menjaga etika k yang tentunya harapan itu tercur
itegaskan melalui tusionalnya yakni lengkap beserta tomik, sehingga mbrio peradaban enterian Agama. a, pola interaksi a K.H. A. Wahid guatan institusi nesia adalah pola Akomodatif si yang memiliki engan golongan an rezim, dengan memprioritaskan golongan dengan titif, kompromistis, tawassuth untuk s dengan tujuan an Tinggi Islam,
donesia era orde ses politik dan s dinamika yang tif. Positifnya hal tuk lebih asosiatif demikian pula ya signifikansi tujuan dan esensi a.Hal ini tentunya ks dengan multi historis.Sehingga bisa dikatakan lam penguatannya ikan di pesantren i Islamnya. Di lumnya memang odel Eropa yang rasionalitas ilmu yang dinilai dapat donesia, sehingga dahulu tradisi ka menjaga budi 1, 168).Dengan mat Islam untuk non-diskriminatif kemanusiaannya curahkan kepada
pemangku kebijakan pend
“Kementerian Agama”.
Di era Menteri Ag Hasyim memang memiliki jauh dijangkau oleh kaum a pada umumnya.Permasalaha eranya adalah pada masa pen memperkuat basis kolonia maupun ideologisnya.Salah sejarah yang paling bern
peninggalan “Dikotomi ilmu
pengetahuan Islam dengan Praksis dikotomi ilmu peng sengaja didesain oleh kelo
memperkuat basis berkesinambungan sehingga negatif terhadap persatuan ba adanya sekulerisasi sosio-id
“pendidikan”, khususnya pad Islam di Indonesia, sehingga
lebih kental dan berpengaruh Hal di atas dapat penjajah Belanda pada wak dilakukan penjajah dengan d dan keluar, kedalam deng pikiran-pikiran modern d mempertahankan yang kolot-keluar dengan mengenalkan gambaran jelek pada Islam, s ke Islam, dengan kata lain p dengan cara lahiriyah, melain maka penjajahan kebudayaa penting, hal ini sesuai dengan ahli pikir penjajah, C. Snou tegas bahwa “memasukkan p
rakyat, nanti dengan sendiri pendidikannya yang dulu,
Islam,“makin lama ma Islam”.(Atjeh, 930-931).
Sesuai historis di
point dasar bagi penelit
merenung dan
deep analis
yang perlu dijelaskan da
yang lebih signifikan,
penguatan institusi pendidi
Indonesia era Menteri Ag
Hasyim. Maka setidaknya
ndidikan Islam, yakni Agama K.H. A. Wahid ki realitas sejarah yang atau masyarakat awam han yang mendasar di penjajahan Belanda yang nialsiasi sosial, politik lah satu peninggalan ernilai negatif adalah
mu pengetahuan” antara
an pengetahuan umum. engetahuan di Indonesia
elompok “Barat” untuk
ideologis yang ga memiliki implikasi bangsa, dengan harapan -ideologis melalui jalur
pada institusi pendidikan
ga keberpihakan “Barat”
uh secara kontinyu. pat dilihat dari politik
aktu itu, usaha yang dua hal, yakni kedalam ngan cara menghalangi dalam Islam dengan lot-kolot, kemudian yang an dunia terpelajar akan , sehingga enggan untuk n penjajahan tidak hanya lainkan dengan batiniyah, aan adalah yang paling gan yang diutarakan oleh ouck Hurgronje, dengan
n pendidikan barat pada
irinya ia akan menjauhi lu, artinya pendidikan
makin jauh dengan
di atas, terdapat dua
neliti dengan mencoba
lisys
nilai-nilai historis
dalam sudut pandang
n, yakni fokus pada
ndidikan tinggi Islam di
Agama K.H.A Wahid
nya ada tiga peristiwa
yang melatar belakangi kondisi
yang relevan pada penelitian in
atas implikasi negatif kolonialisa
yang “Dikotomik” di Indone
Adanya spirit yang tinggi da
nasionalis sekuler dalam pros
paradigma dan kemajuan bangs
dikotomik atau yang lebih tepat de
sekuler model Barat yang be
paradigmanya dengan identitas k
kebangsaan
Indonesia,
khus
kelompok nasionalis agamis. Dim
nasionalis agamis mayoritas masi
oleh perasaan tinggi dan lema
sedangkan golongan sekuler
dengan cara pandangnya yang di
keberpihakan sistem pemerintaha
Tentu hal di atas menjadi sa yang mendasar bagi kelompok nas memiliki keinginan besar untu Univeritas Islam yang tentunya seca terlepas atas keberhasilan dari kelom
“Sekuler”.Budairy dan Zawawi (2
249) mengemukakan bahwa,“dalam nasionalis sekuler telah mampu berdirinya Universitas Gajah Ma Yogyakarta yang mulai digagas sej 1946 dan tepatnya pada 16 Desemb diresmikan di Yogyakarta.Pada wak K.H. A. Wahid Hasyim sebagai M RIS juga menghadiri pada acara pe tersebut, tentunya hal ini sebagai ref tasammuhantar sesama golongan. S argument dari ketua UGM yang me Wahid Hasyim terbangkitkan adala Sardjito menyatakan bahwa :“Leta
Gajah Mada diantara Candi Pr Borobudur, maka Universitas haruslah kelak menjelmalkan rekarn
dan Borobudur”.(Suryanegara, Ah 2016, 287). Mendengar isi pidato kemudian Menteri Agama RIS Hasyim berupaya semaksim merencanakan dan mendirikan Un beserta perpustakaannya. (Yusuf 67)Pada esensinya komentar P
kondisi sosio-politik
n ini, khususnya
lisasi pendidikan
ndonesia.
Pertama
,
dari golongan
oses penguatan
ngsa yang lebih
t dengan bahasa
belum relevan
s keislaman dan
hususnya
bagi
imana golongan
asih dikungkung
mahnya logika,
r telah mapan
ng didukung oleh
han saat itu.
i salah satu alasan nasionalis agamis ntuk mendirikan ecara politik tidak lompok nasionalis (2009, hal. 248-lam hal ini, kaum pu menggolkan ada (UGM) di sejak 17 Februari mber 1949 UGM aktu yang sama, i Menteri Agama peresmian UGM refleksi nilai-nilai . Salah satu bukti membuat K.H. A. alah ketika Prof.Letak Universitas Prambanan dan s Gajah Mada arnasi Prambanan Ahmad Mansur, to tersebut, maka KH.A. Wahid imal mungkin Universitas Islam suf dkk, 2017, Prof. Sardjito tampaknya memiliki ke alumninya sebagai pelanjut a Budha, sehingga mengguga Hasyim untuk mendirikan P Negeri.(Suryanegara, Ahmad Peneliti lebih memahami m rengkarnasi sebagai proses m unsur-unsur kejayaan sepe sehingga statment tersebut di pada model kemajuan Hindu-menjauh dari nilai-nilai syari’
Bahkan yang lebi
tajam dari peneliti adala
negatif ideologis dari gol
mengiginkan Kementeria
Menteri Agama K.H. A.
dihapuskan dengan mengg
pendidikan pada kemente
kebudayaan saja.“
Kemente
era
tersebut
memang
serangan tajam dari kelo
membubarkan Kementeria
HS. 1997. 137-140). A
menggugat
Kementerian
Rasuna Said dan Sirajjud
menghendaki
dibubarka
Agama dan Departemen
alasan bahwa
“kedua de
efisien, dan lebih merupa
partai-partai tertentu saja
dikuasai oleh partai terte
NU) yang pada waktu itu
PNI”.
(Puslitbang Kehidup
Penelitian
dan
Penge
1980/1981, 47-48).Tentun
menjadikan tugas berat
Agama era Menteri Agam
Hasyim untuk membendu
sekuler yang memiliki “sa
dari Belanda, yakni Sekule
Latar historis kecenderungan rezim memb terhadap golongan sekulerda tinggi khususnya UGM dan peninggalan sosio-ideologiskeinginan menjadikan t ajaran Hindu dan ajaran ugah hati K.H. Wahid Perguruan Tinggi Islam ad Mansur, 2016, 288). makna filosofisnya dari s menghidupkan kembali eperti era sebelumnya t di anggap lebih berpihak du-Budha atau lebih tepat
ari’at Islam.
ebih mendapat sorotan
dalah adanya implikasi
golongan sekuler yang
rian Agama di era
. Wahid Hasyim agar
enggabungkan urusan
nterian pendidikan dan
nterian Agama yang di
ang
masih
mendapat
elompok sekuler untuk
rian Agama”.
(Mastuki,
Adapun tokoh yang
ian
Agama
adalah
jjudin Abbas, Cs yang
rkannya
Departemen
n Penerangan dengan
departeman ini tidak
upakan ajang rebutan
aja jika departemen itu
rtentu saja (Masyumi
–
tu dikuasai oleh Partai
dupan Beragama dan
ngembangan
Agama,
tunya peristiwa di atas
at bagi Kementerian
gama K.H. A. Wahid
ndung gerakan-gerakan
“sanad ideologis” jelas
ulerisme.
ris Kedua,adanya berikan perhatian lebih rdalam aspek pendidikan an salah satu Univrsitas gis Belanda, yakni UI.
yang melatar belakangi kondisi sosio-politik
yang relevan pada penelitian ini, khususnya
atas implikasi negatif kolonialisasi pendidikan
yang “Dikotomik” di Indonesia.
Pertama
,
Adanya spirit yang tinggi dari golongan
nasionalis sekuler dalam proses penguatan
paradigma dan kemajuan bangsa yang lebih
dikotomik atau yang lebih tepat dengan bahasa
sekuler model Barat yang belum relevan
paradigmanya dengan identitas keislaman dan
kebangsaan
Indonesia,
khususnya
bagi
kelompok nasionalis agamis. Dimana golongan
nasionalis agamis mayoritas masih dikungkung
oleh perasaan tinggi dan lemahnya logika,
sedangkan golongan sekuler telah mapan
dengan cara pandangnya yang didukung oleh
keberpihakan sistem pemerintahan saat itu.
Tentu hal di atas menjadi salah satu alasan yang mendasar bagi kelompok nasionalis agamis memiliki keinginan besar untuk mendirikan Univeritas Islam yang tentunya secara politik tidak terlepas atas keberhasilan dari kelompok nasionalis
“Sekuler”.Budairy dan Zawawi (2009, hal.
248-249) mengemukakan bahwa,“dalam hal ini, kaum nasionalis sekuler telah mampu menggolkan berdirinya Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta yang mulai digagas sejak 17 Februari 1946 dan tepatnya pada 16 Desember 1949 UGM diresmikan di Yogyakarta.Pada waktu yang sama, K.H. A. Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama RIS juga menghadiri pada acara peresmian UGM tersebut, tentunya hal ini sebagai refleksi nilai-nilai tasammuhantar sesama golongan. Salah satu bukti argument dari ketua UGM yang membuat K.H. A. Wahid Hasyim terbangkitkan adalah ketika Prof. Sardjito menyatakan bahwa :“Letak Universitas
Gajah Mada diantara Candi Prambanan dan Borobudur, maka Universitas Gajah Mada haruslah kelak menjelmalkan rekarnasi Prambanan
dan Borobudur”.(Suryanegara, Ahmad Mansur, 2016, 287). Mendengar isi pidato tersebut, maka kemudian Menteri Agama RIS KH.A. Wahid Hasyim berupaya semaksimal mungkin merencanakan dan mendirikan Universitas Islam beserta perpustakaannya. (Yusuf dkk, 2017, 67)Pada esensinya komentar Prof. Sardjito
Sesuai apa yang katakan oleh Mastu yang mengemukakanbahwa “Pada tahun 1950, upaya pemerintah di le tinggi terkonsentrasi pada penge universitas pada pengembangan d yang telah ada sebelumnya, yak Gadjah Mada (UGM) dan Univers (UI)–dahulu milik Belanda.Pada 1949 Fakultas yang berpencar disa UGM. Sementara UI dirintis oleh tahun 1940-an dimaksudkan untu semua perguruan tinggi yang a Surabaya, Bandung, Bogor dll, dan pendidikan tinggi 1946 dikemban beberapa Universitas yang dimulai d 1950, Universitas Erlangga 195 Hasanuddin Makassar 1956, ITB 19 dan IKIP Jakarta 1964. Seb perhatian terhadap pendidikan tingg naungi di bawah Kemente memungkinkan juga belum terfikirk saat itu.
Hal ini tentunya atas power di era pasca kemerdekaaan. Salah sa kelompok sosialis dan sekuler seper dan Amir Saifudin y mendominasi.(Suryanegara, Ahmad 289). Maka dengan sistem parle memungkinkan Rezim Soekar kecenderungan lebih kepada kelom
“sekuler”, salah satunya fokus perh
terhadap pendidikan UGM dan belanda) daripada institusi pendidik Pesantren, karena sistem parlem sebuah sistem pemerintahan yang memiliki peranan penting dalam dalam hal ini parlemen memiliki we mengangkat perdana menteri dan dapat menjatuhkan pemerintahan, ya mengeluarkan semacam mosi tidak p Latar historis ketiga, Ada mendesak bagi umat Islam deng alumni Madrasah dan Pesantren terakomodir pada pendidikan tinggi UII sendiri. Hal ini seirama denga 231-233), yang mengemukakan bah yang mendasari terbentuknya pe Islam (PTI) adalah pertama; ada
stuki (2010, 258) a paruh pertama i level perguruan ngembangan dua dua universitas yakni Universitas iversitas Indonesia a 19 Desember disatukan menjadi leh Belanda pada ntuk menyatukan ada seperti di an melalui dekrit mbangkan menjadi lai dari UI Jakarta 954, Universitas 1959, IPB 1963, ebaliknya, fokus ggi Islam yang di nterian Agama ikirkan oleh rezim er yang dominan satunya kekuatan erti sultan syahrir yang lebih ad Mansur, 2016, arlemen tersebut karno memiliki lompok nasionalis
erhatiannya lebih n UI (tinggalan idikan Islam atau lemen merupakan ang parlemennya m pemerintahan, i wewenang dalam an parlemen pun yaitu dengan cara k percaya.
danya kebutuhan engan banyaknya tren yang belum gi umum maupun ngan Nata (2001, ahwa dua alasan perguruan tinggi danya kebutuhan
umat Islam dengan kondisi b sudah menyelesaikan di seko pesantren. Kedua, semakin lulusan universitas sekuler m masyarakat Indonesia dengan umat Islam untuk berpikir pendidikan tinggi bagi gene juga didukung oleh Nor Hud peraturan di Universitas Is tentang tolak ukur baku ya pendidikan matrikulasi yang persiapan bagi para mu ditutup.(Huda, Nor. 201 mendasar di atas tidak bisa d aspek politik, sosial, pendidik Indonesia. Sehingga imp
“Sekulerisme” di atas tentun
besar era Menteri Agama K. untuk berpikir dan bertind penguatan sistem pendidikan tinggi Islam yang nondikotom di Indonesia.Walaupun deng K.H. A. Wahid Hasyim me kuat agar para santri kedudukannya dalam masya barat.(Atjeh, H. Aboebakar, 2 Selain permasalahan tantangan besar dalam intern atas hasil dari Konferensi Internasional di Den Haag yang menjadikan Indonesia menteri, yakni perdana Indoenesia Serikat (RIS) Mu Menteri Agamanya K.H. A Perdana Menteri Republik In dengan Menteri Agama Usman.Tentu sesuatu yang dijalani, sehingga dengan berdampak secara politis di i bangsa Indonesia tidak dina Umat Islam. Menurut K.H. dualisme kementerian mema tersendiri dengan dua per satunya dalam pelaksanaan pendidikan tinggi Islam yan
yakni Pendirian “Universita
beliau berupaya ada satu agama dengan melakukan
i banyaknya alumni yang ekolah atau madrasah di akin besarnya peranan r model Barat di tengah an sendirinya menantang ikir menyediakan sistem enerasi mudanya.Hal ini uda bahwa kasus adanya Islam Indonesia (UII) yang dikehendaki bagi ng memiliki arti kursus urid madrasah harus 2015, 330).Permasalah a dianggap remeh dalam idikan dan ideoligi bangsa mplikasi dari praksis
tunya menjadi tantangan
K.H.A. Wahid Hasyim tindak maksimal dalam an khususnya pendidikan tomik dan berkebangsaan engan tantangan di atas, memiliki keinginan yang i tidak lebih rendah syarakat daripada kaum r, 2015, 171).
han di atas, juga terdapat ternal umat Islam sendiri si meja Bundar (KMB) ag Belanda tahun 1949 sia dengan dua perdana a manteri Republik uhammad Hatta dengan A. Wahid Hasyim dan Indonesia (RI) A. Halim manya K.H. Faqih ng tidak mudah untuk an kebijakan di atas, i internal perkembangan inamis, khususnya bagi K.H. A. Wahid Hasyim, mang menjadi hambatan perdana menteri, salah aan program penguatan yang telah dicanangkan,
sitas Islam”, untuk itu
u kesatuan kementerian an konsolidasi efektif
dengan Hatta selaku perdana mente Halim selaku perdana menteri RI un Negara kesatuandengan meny kementerian dan melebur menjadi s Umam, 1998, 83).
Sehingga Deliar Noer,
mengemukakan bahwa “percatur
Indonesia pada tahun 1950-an.Sal utamanya adalah bukan lagi pada fa
“kemerdekaan” dan lainnya
sejauhmana kedekatan para pemimp politik dengan presiden dan tentara para pemimpin partai lain”.Par memang tidak bisa dihindarkan parlementernya, akan tetapi intrinsiknya dan trakrecordnya tentu pertimbangan dan lebih penting. Ha yang dikatakan oleh Harry J. Be
)bahwa “pengaruh tokoh sentral p
Hasyim Asy’ari dalam hal ini seb
jalan kompromi antara Indonesia J kondisi yang sudah tua, tentunya s rekomendasi terhadap putera mengembangkan pola dan proses p kepada K.H. Wahid Hasyim, tentun Hasyim sendiri memiliki pengaruh penting terhadap Islam di Indonesia dijadikannya sebagai Menteri Aga tanpa pertimbangan, melainkan spiritnya di era revolusi saat itu.Dem Umam (1998, 89) mengemukakan 1945-1950 merupakan periode ke perjuangan, sedangkan dalam tah adalah perebutan partai-partai dala kekuasaan, dan era Menteri Agama Hasyim sebagai Menteri era Ko
Pembelaan eksistensi Kementerian A
Disisilainatas realitas perm politik di atas, K.H. A. Wahid Ha cita-cita tinggi agar bangsa Indon identitas yang khas dengan mensite pengetahuan agama dan umum, ilm dan taqwa, antara logika dan akh harus saling melengkapidan telah dite program Kementerian Agama
“mendirikan Universitas leng
perpustakaannya”. Sesuai denga
nteri RIS dan A. untuk membentuk enyatukan dua i satu. (Azra dan r, (1987, 197) turan politik di Salah satu faktor a faktor keamanan
ya, melainkan pemimpin partai tara serta dengan Partisipasi rezim n dengan sistem i faktor relasi ntu juga menjadi Hal ini sesuai apa Benda(1957, 313 l pesantren K.H. sebagai pembuka ia Jepang, dengan a secara eksplisit teranya dalam s politik Nasional tunya K.H. Wahid ruh yang sangat sia”.Sampai pada Agama, bukannya atas tingginya Demikan Azra dan an bahwa“Tahun kesatuan dalam tahun 1950-1955 alam memperoleh ma K.H. A. Wahid Konsolidasi dan n Agama”. rmasalahan sosio-Hasyim memiliki donesia memiliki nsitesiskan antara ilmu pengetahuan akhlak, keduanya ditegaskan dalam a RIS untuk ngkap beserta
gan apa yang
tegaskan oleh Azra dan Um
“pada masa kementerian a Hasyim,berupaya dengan g dengan tujuan menyeimbang umum dan agama dengan pandangan Islam yang tida dan harus sama-sama cuk
syarat hidup”.Tentunya membangun jiwa bangsa berpikir maju, modern dilandaskan pada spirit keaga
Untuk itu, sesuatu peneliti dalam kajian ini ada penguatan pendidikan tinggi muncul di era Menteri Ag Hasyim? dan Bagaimana politik dalam penguatan pend Indonesia era Menteri Aga Hasyim tersebut?, sehingg tujuan pendidikan yang beliau secara “formalitas”te
belum pernah mengenyam seperti tokoh-tokoh lain se mampu memformalisasikan tinggi Islam di Indonesia den kosmopolit berbasis persauda penting dan bernilai serta men Metode Penelitian
Penelitian ini bersif (Library Research)dengan pendidikanyang bercora sehinggapenelitian ini m kualitatif. Menurut Cre mengemukakan bahwa merupakan metode-metode dan memahami makna oleh s sekelompok orang dianggap sosial atau kemanuasiaan sebagaimana dikemukakan masalah yang dikaji term materi kefilsafatan denga historis-faktual mengenai per Zubair, 1994, 61), Disisila berusaha memahami dan me peristiwa interaksi tingkah la perspektif berdasarkan pene
mam, (1998, 91) bahwa agama K.H.A. Wahid gagasan konstruktifnya ngkan ilmu pengetahuan an dasar taqwa dalam tidak mungkin dijauhkan cukup lengkap sebagai a tujuannya untuk a Indonesia agar bisa dan moderat yang gamaan yang tinggi. atu yang menggelitik adalah mengapa program gi Islam di Indonesia itu Agama K.H. A. Wahid a pola interaksi sosio-endidikan tinggi Islam di Agama K.H. A. Wahid gga mampu mencapai non-dikotomikpadahal
”tercatat dalam sejarah
am pendidikan formal semasanya, akan tetapi an institusi pendidikan dengan cara yang ilegan, udaraan. Tentu kajian ini enarik untuk hal diteliti.
rsifat kajian kepustakaan an pendekatan politik orak historis, merupakan penelitian Cresswell, (2014,4-5), penelitian kualitatif e untuk mengeksplorasi h sejumlah individu atau ap berasal dari masalah an.Dalam konteks ini n Bakker dan Zubair rmasuk dalam kategori gan model penelitian peran tokoh.(Bakker dan ilain, Metode kualitatif enafsirkan makna suatu laku manusia terkadang neliti sendiri.(Gunawan,
2014, 80). Pendekatan dalam penelitia pendekatan politik pendidikan, kh prosesnya penguatan pendidikan dengan telaah historis politis y deskriptif pada transformasi Fakultas PTAIN di era menteri Ag Hasyim.Kajian sejarah merupaka mengungkapkan fakta-fakta itu m ilmiah yang bermakna. dalam k pendidikan, tentunya membahas ma kepentingan dan kekuatan antar kelo kekuatan, maka dalam konteks i sangat relevan jika dalam penelitia juga bisa jadi membahas tentan peristiwa dan kasus. (Cresswell, 2 terjadi di era itu.
Sukardi, (2014, 18), m penelitian semacam ini secara dilakukan dengan empat langkah, y kritik, interpretasi dan historiografi.He langkah pengumpulan dan pembu sumber data sejarah melalui p berbagai dokumen sejarah, situs wawancara dengan orang-orang ter kritik adalah upaya peneliti untuk m menguji sumber dan data sejara dikumpulkan. Dalam hal ini peneliti melakukan kritik ekstern dan kritik Ekstern dilakukan untuk menguji otentitas sumber sejarah da memb sumber sejarah yang asli dengan ya intern dilakuukan unutk menguji sejarah. Kritik ekstern dan intern fakta sebagai data yang telah terse Interpretasi adalah upaya p menafsirkan-berdasarkan perspektif sejarah sebelum dan selama prose fakta ietu menjadi bentuk dan struk Langkah historiografi adalah me penafsiran di atas menjadi tulisan ata yang utuh dan bermutu.(Sukardi, Analisis ini bersifat deskriptif, yakn berupaya memaparkan fakta-fakta adanya tetapi juga berangkat dari yang sudah ada sebelumnya.
Menurut M. Sirozi, mengemukakan dokumen sesungg sumber data yang siap pakai,
nelitian ini adalah khususnya pada an tinggi Islam yang bersifat ltas Agama UII ke Agama Wahid kan kajian yang menjadi karya konteks politik manuver-manuver elompok dan antar s ini sebenarnya litian historis ini tang fakta-fakta, 2009, 20), yang mengemukakan ra umum dapat , yakni heuristik, fi.Heuristik adalah buruan berbagai i pelacakan atas itus sejarah, dan tertentu. Langkah k mengkritisi dan arah yang sudah eliti sejarah harus ritik intern.Kritik uji keaslian atau mbedakan antara yang palsu.kritik ji validitas data tern menghasilkan rseleksi. Langkah peneliti untuk ktif tertentu-fakta oses rekonstruksi truktur yang logis. menuliskan hasil atau karya sejarah i, 2014, 18-19), akni analisis yang kta sejarah apa ari kajian sejarah i, (2004, 99), ngguhnya adalah i, dalam bentuk
rentangan luas bahan tertulis catatan umum atau arsip. Ka garis besar banyak berkaitan pendidikan di era menteri a maka sumber primernya adala rekaman kuantitas (Quantitatif (Oral Testimonies), danRelic 117). Sehingga dengan diungkapkan dengan jelas dan penguatan pendidikan tinggi Menteri Agama K.H. A. Wah pada transformasi Fakultas Ag Dalam hal ini tentunya pe suatu konferensi, tulisan K.H. teman serta lawan politikny buku sejarah hidup Wahid tersiar yang disusun oleh tentunya juga bisa menjadi penelitian ini, karena beliau penulis yang memahami mengumpulkan karya-karya Hasyim sekaligus tokoh yan khsusnya fokus pada kajia Islam, dan yang terpenting merupakan salah satu tim peraturan Menteri Agama ( 1954 tentang panitia penyus karangan tersiar K.H. A. Wah Dengan demikian, la menjadi dokumen prime ini.Selain itu, Atjeh juga h Wahid Hasyim sebagai bi menteri agama RIS Wahi sumber sekunder adalah kar tulisan yang relevan dan men ini dari beberapa buku ruju mutakhir, serta di akui secara adalah pada karya Azuma Umam tentang Menteri-Me Sosial Politik dan beberapa relevan. Serta buku-buku tent dan hasil penelitian serta j dengan penilitian penulis.
Mengingat peneli kepustakaan dengan meng terkait yang berkaitan dengan tingginya, strategi, rencan Suharsimi mendefinisikan
tulis dan fisik termasuk Karena kajian ini secara itan dengan proses politik i agama Wahid Hasyim alah dokumen, rekaman-titatif Records), kesaksian elics.(Sanjaya, 2013, 116-an demikian, dapat dan akurat tentang proses gi Islam di Indonesia era ahid Hasyim khususnya s Agama UII Ke PTAIN. pertelaan-pertelaan pada K.H. A. Wahid Hasyim, litiknya yang samasa, seta id Hasyim dan karangan leh Aboe Bakar Atjeh adi sumber primer pad liau adalah satu-satunya i dan mengerti serta rya K.H. A. Wahid yang hidup di masa itu ajian pendidikan tinggi ting lagi adalah beliau m yang disusun sesuai a (PMA) NO. 4 Tahun usun riwayat hidup dan ahid Hasyim.
, layak jika buku tersebut mer dalam penelitian a hidup semasa dengan bidang penerbitan era ahid Hasyim.Sedangkan karya-karya dan tulisan-endukung kajian ini, hal jukan yang penting dan ara ilmiah, salah satunya mardi Azra dan Saiful enteri Agama Biografi pa penelitian lain yang tentang politik pendidikan ta jurnal yang berkaitan elitian ini bersifat engumpulkan dokumen gan kebijakan pendidikan cana dan dampaknya. an bahwa, metode
dokumentasi yaitu mencari data me variabel yang berupa catatan, transk kabar, majalah, prasasti, notulen agenda, dan sebagainya.( Dokumenter adalah informasi yang didokumentasikan sebagai bahan bahan dokumenter antaralain, (a) Oto Surat-surat pribadi, (c) Kliping, Pemerintah maupun swasta, (e) Cer cerita rakyat, (f) Data diserver dan data tersimpan di Wib site, dll.( Sanjaya (2013,116), juga m dokumen adalah segala macam yan informasi baik di tulis maupun di ceta data dengan menggunakan bibliog adalah menyusun, mengedit dan m data sesuai fungsinya untuk permasalahan. Sementara yan bibliografi final adalah memilih, m menyajikan data sesuai karakteristik hingga terkumpul dan secara final. terutama merupakan sumber yang ba kasus kualitatif karena mereka bis penyeledikan dalam konteks m diselidiki.(M. Sirozi, 2004, 99).
Pemahaman penulis menge transformasi fakultas agama UII ke P Agama Wahid Hasyim dalam pr kebijakan tersebut bersifat po
menyatakan “setiap analisis ser
pertanyaan tentang kebijakan umum meluas menjadi pembahasan tentan
umumnya dan masyarakat secara ke
Sirozi, (2004, 8).M. Sirozi juga bahwa kajian politik pendidikan bu kajian konsep pendidikan Islam, pendidikan Islam atau pada ideolo Islam, bahkan bukan pula kajian kajian politik Islam, tapi yang bena tentang proses politik M. Sirozi, (2 penguatan pendidikan tinggi Islam Agama K.H. A. Wahid Hasyim dala Fakultas UII ke PTAIN pada tahun Indonesia. Komunikasi dan kons Menteri Agama RIS Wahid Ha Menteri Agama RI Faqih Usman tela kepada rezim dalam memberikan
mengenai hal-hal nskip buku, surat len rapat, legger, a.((Arikunto,274), ng disimpan atau an dokumenter, ) Otobiografi, (b) g, (d) Dokumen erita Roman dan dan flashdisk, (g) ll.(Bungin, 125). mengemukakkan ang mengandung i cetak.Penyusunan liografi fungsional n mengklasifikasi masing-masing ang dimaksud , mereduksi, dan tik permasalahan, al.Data dokumen bagus untuk studi bisa mengadakan masalah yang ngenai penguatan e PTAIN Menteri proses formulasi politis. Forwad serius mengenai um dengan cepat tang politik pada
keseluruhan” (M. ga menambahkan bukan merupakan , atau kebijakan ologis pendidikan n ini merupakan nar adalah kajian (2004, 8). Dalam m di era Menteri alam transformasi hun 1949-1952 di onsolidasi di era Hasyim dengan telah meyakinkan an pertimbangan
kebijakan tentang urgensi pe Negeri di bawah Kementerian Kajian ini dirancan uraian analisis deskriptif fakta-fakta sejarah apa adany kajian sejarah yang sudah atas urutan sejarah di era M Hasyim dalam Mentranforma Islam di Indonesia, Juga hubungan antara kementer Wahid Hasyim dengan era m Usman, sampai pada proses pemerintah No. 34 Tahun 19 adalah bagian representas pengembangan pendidikan transformasi Fakultas Agam Indonesia (UII) menjadi PT Dikatan dengan cara lebih mencakup usaha untuk me historis politis mengenai men era Menteri Agama Wahi interaksnya dalam proses ters Kajian politik pend kajian proses kebijakan itu d sesungguhnya kebijakan di bu yang dilakukan berbagai pela dirancang untuk menggamba ranah dan proses transformas Indonesia, menjajaki keterka dan sumber daya manusia d Wahid Hasyim. Dan kajian in sebagai kajian isi kebijaka berfokus pada preferensi kep Agama Wahid Hasyim. Sela dijelaskan suatu analisis a proses.
Adapun analisis da dengan analisis historis yang Menteri Agama K.H. Wahid data dilakukan dengan bebe mengklasifikasikan data te penguatan pendidikan ting Agama Wahid Hasyim, seh proses yang lebih tepat da menginterpresentasikan infor dalam strategi dan evaluasi Menteri Agama Wahid Hasy
i pendidikan tinggi Islam ian Agama saat itu. cang untuk memberikan tif dengan memaparkan nya tetapi berangkat dari h ada sebelumnya serta Menteri Agama Wahid masi pendidikan Tinggi a akan dijelaskan pola terian agama RIS Era menteri RI agama Fakih ses ratifikasi peraturan 1950, karena hal tersebut tasi kebijakan dalam an tinggi Islam dengan Agama Universitas Islam PTAIN di Yogyakarta. ih sederhana, kajian ini engembangkan laporan engapa ide itu muncul di ahid Hasyim dan pola tersebut.
ndidikan ini lebih pada dirumuskan, bagaimana i buat, yakni tindakan apa pelakunya.kajian ini juga barkan dan menganalisis asi pendidikan tinggi di kaitan nilai, kepentingan ia di era Menteri Agama n ini juga bisa dijelaskan akan karena kajian ini kepentingan era Menteri elain itu kajian ini juga advokasi (pembelaan) data pada penelitian ini ng bersifat politis di era id Hasyim, maka analisis eberapa tahap, pertama, tentang proses politik tinggi Islamera Menteri ehingga diketahui mana dalam sejarah. Kedua, formasi yang ada, baik si politik pendidikan era syim.Ketiga,melakukan
analisis, yakni implikasinya atas tentang Proses Formulasi Keb pendidikan Tinggi era Menteri Ag Hasyim. Sehingga menjadi penting memberikan satu pola analisis pa Analisis memusatkan perhatian pemahaman dan pengertian keterlibatan mereka. Semua data y analisis dan disampaikan denga gambar.Oleh sebab itu analisis in be Ini mengikuti proses melingkar den proses memerikan, menggolongk hubungan, seperti yang disampaikan 2004, 111).
Langkah “memerikan”
melingkar ini mencakup laporan y komprehensif mengenai kon keterlibatan di Era Menteri Agama dalam proses transformasi Fakultas PTAIN. Ketiga aspek di atas tid dengan sesederhana mungkin, mela semaksimal mungkin yang menca deskriptif tentang konteks kegiatan strategi, cara yang mengatur dar Agama Wahid Hasyim serta dampak tersebut. Konteks ditempatkan untuk kegiatan dan menjangkau latar kegiatan terjadi dan waktu terja Menteri Agama Wahid Hasyim menjelaskan bagaimana mereka situasinya, dan apa motivasi menggerakkan kegiatan tersebut, proses kegiatannya dan apa tu bagaimana cara mereka berin mempertahankan atau mengu programnya.
Langkah menggolongkan d dalah proses konseptual yang dipaka karakteristik data dan kemudian m kenatar berbagai data. Dan untuk da analisis diperoleh dengan bebe kesimpulan dari data, pertanya subtansi, kebijakan dan masalah imajinasi, intuisi dan pengetahua Kemudian langkah akhirn menghubungkan, dilakukan deng penyimpangan atau sesuatu yang
tas serangkaian Kebijakan politik i Agama Wahid ting bahwa untuk pada kajian ini. n makna pada mereka akan yang relevan di ngan kata atau bersifat kualitatif. engan melibatkan gkan dan antar an ey, (M. Sirozi,
dalam proses
yang tuntas dan onteks, proses a Wahid Hasyim tas Agama UII ke tidak dinyatakan elainkan dengan ncakup informasi tan, niat, tujuan, dari era Menteri ak dari prosesnya tuk menempatkan r sosial tempat rjadinya. Di era dipakai untuk ka merumuskan asinya yang but, sejauhmana tujuannya serta rinteraksi untuk gubah kegiatan/ dalam siklus ini kai untuk menilai memasukkannya dapat fokus pada eberapa sumber, yaan penelitian, lah teoritik dan uan sebelumnya. irnya adalah ngan memeriksa g kurang sesuai,
ragam, dan kejanggalan semuanya dikumpulkan bersa
Ketiga langkah ini interpretatif, semuanya memberikan pemerian anali relevan bagi proses p pendidikan tinggi Islam di data di atas sebagai s tersusun, dan member memberikan kesimpulan tindakan.(Gunawan, 211).Ha untuk meingkatkan pemaham acuan mengambil tindakan be pemahaman sajian data pen kualitatif, penyajian data b bentuk uraian singkat, ba kategori, flowchart dan se 341)Sehingga dengan lang disusunnya laporan dari sub memungkinkan menghasilk digunakan di era kontom berdasarkan sejarah dan peng Kajian teori
Kajian penelitian ini politik penguatan institusi pe dengan menilisik lebih jauh munculnya program pengua islam era menteri agama sekaligus pola interaksi yang agama Wahid Hasyim dalam tinggi islam di Indonesia. dataini, secara teoritik dipe yang menjadi pisau analisis hal-hal yang di anggap do politik pendidikan Islam.
Maka secara teoritis teori yang sudah layak dan kajian politik pendidikan. Se (2013, 41-42) yang memb kajian ini, beliau menyarank yang berminat fokus pada ka secara konseptual untuk menggunakan teori yang telah Politics of Education Ass kerangka konseptual dalam p tepat, terarah dan akuntab salah satunya yang me
di dalam data lalu rsama.
ini bersifat deskriptif dan dimaksudkan untuk alitik tentang data yang perumusan kebijakan di Indonesia. Pemaparan sekumpulan informasi berikan kemungkinan n dan pengambilan Hal ini penting dilakukan aman kasus dan sebagai berdasarkan analisis dan eneliti.Dalam penelitian bisa dilakukan dalam bagan, hubungan antar sejenisnya. (Sugiyono, ngkah tersebut penting ubstansi kajian ini yang ilkan teori yang bisa tomprer dengan tetap ngembangan tersebut.
ini lebih difokuskan pada i pendidikan tinggi Islam uh tentang faktor-faktor uatan pendidikan tinggi a Wahid Hasyim, dan ng digunakan era menteri lam penguatan pendidikan ia. Untuk memperoleh iperlukan kerangka teori is sekaligus menyangkut dominan dalam kajian itis penulis menggunakan an baku dalam konteks Sesuai dengan M. Sirozi, mbidangi dalam fokus ankan bagi para peneliti kajian politik pendidikan tuk mempelajari dan lah tergabung dalamThe Association (PEA) agar penelitian tersebut lebih tabel secara konseptual, enurut penulis tepat
digunakansebagai Grand Theory penelitian ini adalah Interest Group Kelompok Kepentingan) yang dikem Bentley. (M. Sirozi, 2013, 41-45)
Menurut perspektif teo kepentingan, politik pendidikan kelompok kepentingan yang k berubah-ubah (complex, changing interest groups), bentuk-bentuk plu sedang berjalan (forms pluralisme satu sama lain saling usil (fussin menjatuhkan (tumbling), keti meredefinisikan isu-isu terkait d langkah-langkah untuk merapat pa kelompok simpatisan lain. Mereka sering bertarung untuk mendapatk kebijakan dan program-program inginkan. M. Sirozi, (2013, 5). Kare Bentley, teori kelompok kepenting kajian esensial tentang pendekata kepentingan dengan mempertahank satu kelompok dengan tetap mempertimbangkan kepenting kelompok lain.
Interest Group Theory (Te Kepentingan) yang disingkat denga tulisan ini yang dikembangkan (1908:214) menjelaskan bagian ese
kelompok kepentingan adalah “Ther get hold of one group interest exce
others” (tidak ada cara untuk m kepentingan satu kelompok kecuali kepentingan kelompok-kelompok la (2013, 46). Pertarungan kelom kepentingan cenderung tidak dalam menutupi, tetapi dalam format sali menyesuaikan atau kompromi. Untu penulis, Interest Group Theory mer yang lebih dominan pada pro kepentingan kelompok de memperhatikan dan mem kepentingan kelompok lain melalui k transparan yang juga memahami dan kapasitas dan kondisi masing-masing Pada implementasinya, I Theory dalam fokus kajian politi peneliti lebih pada aspek permas
Interest Group Theory y dalam konteks up Theory (Teori ikembangkan oleh ) teori kelompok n adalah sistem kompleks dan ging systems of pluralisme yang me at work), yang ssing) dan saling ketika mereka dan mengambil t pada kelompok-ka satu sama lain atkan kebijakan-m yang kebijakan-mereka Karena itu menurut tingan merupakan atan representasi nkan kepentingan p melihat dan tingan-kepentingan (Teori Kelompok ngan TKK dalam n oleh Bentley esensial dari teori here is no way to xcept in terms of mempertahankan li dengan melihat lain). M. Sirozi, lompok-kelompok lam format saling aling memahami, ntuk itu, asumsi erupakan kajian proses eksistensi dengan tetap empertimbangkan lui kompromi yang dan menyesuaikan
ing.
Interest Group olitik pendidikan asalahan tingkat
Nasional, yakni adanya im atas kebijakan Konferensi M Den Haag, Belanda de dualisme Perdana menteri da yakni Menteri Agama Repu di Jakarta (RIS) dengan K.H. sebagai menteri Agamanya d sebagai Perdana Menterinya Republik Indonesia (RI) yan tahun 1946 pasca kemerde Agamanya Fakih Usman yan Masjkur dengan Perdana m Sehingga hal tersebut m terhadap lambannya pr pendidikan tinggi Islam di pada proses penyusunan kebijakan Pendidikan Tingg sudah menjadi bagian ren Agama (RIS) K.H. Abdul Wa
Untuk itu karena teo dengan konteks masalahnya, teori kelompok kepentingan pendidikan perlu memperha pokok, pertama struktur k yang berubah-ubah, kedua,p berubah-ubah, dan ketiga, in ubah. M. Sirozi, (2013, 47 penulis hidangkan dalam ben mudah dipahami substansi penelitian ini, adapun skem Group Theory dapat dilihat d (1) Struktur Kelompok Kepen ubah
Gambar 1.Interest Gr (2) Program yang berubah-u (3) Interaksi yang berubah-ub
Hal ini sesuai denga Interest Group Theory b
Nasionalis Agamis dan Nasionalis masa itu, adakah kesesuain anta digunakan oleh penulis dengan pros pada era menteri Agama Wahid transformasi fakultas UII ke PTA relevan atau tidaknya teori itu ya peneliti gali secara mendalam pada k itu penting dijelaskan secara komponen-komponennya teori In Theory sebagai pisau analisis p konteks fokus kajian peneliti, yakni pendidikan tinggi Islam dalam prose Fakultas Agama UII ke PTAIN. Hasil dan Diskusi
Dalam penelitian ini ada yang telah didiskusikan dengan para satunya ahli kajian politik pendidika adalah M. Sirozi, kemudian Gus S selaku putra Wahid Hasyim, kem Kementerian Agama Jakarta, se dokumen klasik di tiga kota besar, Yogyakarta dan Jakarta. Unutk itu d dibahas tentang dua pembahasan dengan fokus kajian politik pendid fokus akan membahas alasa-la munculnya program penguatan insti tinggi Islam itu ada di era Menteri Ag Wahid Hasyim, dankeduafokus me pola interaksi sosio politik yang Menteri Agama K.H. A. Wahid penguatan intitusi pendidikan tin Indonesia.Adapun pembahasannya s ini.
1. Munculnya Program Penguata era Menteri Agama K.H. A. Wa
Sesuai denagn fakta-fakta program penguatan istitusi pendidik di Indonesia era Menteri Agama K. Hasyim karena adadua faktor Pertama faktor internal dan kedua f Faktor Internal dari Menteri Agama Hasyim sendiri, yakni Pertama, a karebet yang katuranggan, dimaks
silsilah keturunan keratin yakni “
pangeran Adiwijaya (Raja Pajan disebut Jaka Tingkir atau mas kare
lis Sekuler pada ntara teori yang roses yang terjadi id Hasyim dalam PTAIN, sehingga yang ingin lebih a kajian ini, untuk ra proporsional Interest Group peneliti dalam ni pada penguatan oses transformasi a beberapa hasil ara ahlinya, salah ikan di Indonesia Sholudin Wahid emudian Pejabat serta dokumen-r, Kota Jombang, u dalam kajian ini an yang relevan didikan, pertama -lasan mendasar stitusi pendidikan ri Agama K.H. A. membahas tentang g dilakukan oleh id Hasyim dalam tinggi Islam di a sesuai di bawah
tan Institusi PTI Wahid Hasyim
kta sejarah, ide idikan tinggi Islam K.H. A. Wahid r penting, yakni a faktor eksternal. a K.H. A. Wahid , adanya genitas aksudkan adanya i “Pangeran” dari
jang) atau biasa arebet yang masih
keturunan dari Brawijaya VI
sikap yang koopeatif “g
tasammuh“toleransi”.
Menurut Atjeh (201 dalam sejarah bahwa Joko T Adiwidjaya merupakan sulta yang tepatnya berada di daer memiliki guru salah satu Kalijogo. Salah satu pola st dalam memperkuat masa ke adalah dengan lebih mengako pemuda yang cakap dan pa sebagai bagian keluarga k menantu atau sebagai an memiliki posisi strategis. S Adiwidjaya juga mengaja anaknya untuk selalu menj
kerukunan dengan lebih “tole
setiap permasalahan sosial y maupun di luar kesultanan. W (2012, 58-65) mengemukak bahwa salah satu sikap tolera Jaka Tingkir (Pangeran Adi ada permasalahan dengan p yaitu sikap dan tindakan perbedaan dan mempun kesempatan memperbaiki k Adiwijaya pernah menyam begal, aku ora bakal nguku sabalamu gelem mertobat la
tumindakmu sing nista iki.”( tidak tahu namamu. Tap menghukummu asal kalian se tidak mengulangi lagi tind ini).Unsur nilai budi pekerti m toleransi adalah saat mereka dibunuh/dihukum oleh Jak bertobat di jalan yang lurus.
Kedua,Kuatnya m merupakan tingginya kem Wahid Hasyim terhadap pe otodidaknya.Ketiga, Wahid dalam berorganisasi baik pendidikan maupun politik. H dasar fakta sejarah bahwa M Hasyim juga kerap men bekunjung kerumah tokoh-to Soebardjo selaku tokoh P
VI yang terkenal dengan
“gotog royong” dan
2015, 47), telah tercatat o Tingkir atau Pangeran ltan pertama di Padjang aerah Jawa Tengah yang satunya adalah Sunan strategi yang dilakukan kerajaan sebagai Sultan akomodir potensi-potensi pandai untuk dijadikan keraton, baik sebagai anggota keraton yang . Selain itu, Pangeran ajarkan kepada anak-enjaga kekerabatan dan
toleran” dalam mensikapi
l yang ada di kesultanan . Wide Priyambono Giri kakan dalam jurnalnya, leran yang ada pada jiwa diwijaya) adalah ketika perampok atau begal, kan yang menghargai unyai toleransi dan kesalahan orang lain. ampaikan “Gegedhuge
ukum kowe sauger kowe t lan ora mbaleni maneh
i.”(Ketuanya begal, saya api saya tidak akan semua mau bertobat dan tindakanmu yang tercela ti mengembangkan sikap ka (para perampok) tidak aka Tingkir jika mau s.
motif Intrinsik ini emauan dan perhatian pendidikan dengan ala id Hasyim juga piawai aik organisasi sosial, . Hal ini dibuktikan atas Menteri Agama Wahid engajak anak-anaknya -tokoh politik yang lain, Partai Islam, Tokoh
Masyumi, Muhammad Natsir mangkusasmito, selain itu juga ser ke tokoh yang berbeda paham, mis Yamin dan Mr Sartono dari p Indonesia. tokoh politik nasional singgah di rumah Wahid, sehingga mengatakan“sampai-sampai teman bilang, kalau ayam di rumahmu pasti dia ikut ngomongin politik.(Nu 36).Nugroho (2011, 36). Jug
waeancara dengan Aisyah “Putri ke
Hasyim: Aisyah jua mengatakan “
menunjukkan kepada kami, ia membeda-bedakan orang”, imbuh dengan pengalaman organisasi dan p lebih dari 25 pengalaman organis hidup menjadi penting untuk di tauladan dalam berkiprah dalam pen tetap menjaga dan memperkuat nilai sesama, baik dengan law kawan.Keempat,adanya kecenderu Nasionalis modern yang moderat u kebutuhan sosiologis masyarakat d dengan tetap mengedepankan landasan.Hal ini terlihat dengan g Hasyim memiliki keinginan yang k santri tidak lebih rendah kedudu
masyarakat daripada kaum barat”
171).Tentunya hal ini menjadi b politik ideologisnya atas dasar sekaligus implikasi pendidikan ole Indonesia saat itu, sehingga upa sumber daya manusianyapun tetap aspek pendidikan.
Kelima,Luasnya pengeta moderat.Hal ini terlihat ketika berk Hasyim menegaskan pentingnya ilm atau dalam bahasa Wahid, Lo
mengutip hadits “Tidak ada agama yang tidak berakal”. Azra dan Um
bahwa Wahid Hasyim pernah meng Islam,.. logika adalah pokok yang menentukan benar atau salah suatu kejadian atau suatu peristiwa yang tidak dapat diterima, di dalam a
tidak bisa juga diterima. …Islam tid segala yang tidak tunduk pada
dan Prawoto sering berkunjung misal Muhammad partai Nasional l memang kerap ga Gus Sholudin man saya saat itu mu bisa ngomong, .(Nugroho, 2011, uga melakukan i ke empat Wahid “Bapak hendak ia tidak pernah uh Aisyah.Maka n politiknya yang nisasi selama ia di jadikan suri endidikan dengan ilai toleransi antar lawan maupun rungan berpikir t untuk menjawab t di era tersebut an progresifitas gagasan Wahid kuat agar“para
udukannya dalam at”. Atjeh (2015, i bagian praksis sar diskriminasi oleh kolonial di upaya penguatan tap dimulai dari getahuan yang erkali-kali Wahid ilmu pengetahuan, Logika. Dengan ama bagi orang
mam (1992, 90),
ngatakan;“dalam
ang penting bagi atu hal atau stau ng menurut logika m anggapan Islam
m tidak mengakui da logika”. Dan
Keenam, Wahid Hasyim jug dapat diterima oleh semua sehingga sangat memungk Kementerian Agama Wah
meletakkan pondasi “embrio”
Indonesia melalui gagasann
“Universitas Islam” di bawah
walaupun yang berdiri adala Kementerian Agama.
Sedangkan faktor ek pertama faktor Sosiologis kecemburuan sosial berdirin logika golongan mayoritas
kecenderungan kelompok “s
dari syariat. Salah sat ketua UGM yang membuat K terbangkitkan adalah keti menyatakan bahwa :“Leta
Mada di antara Candi Pramb maka Universitas Gajah M menjelmalkan rekarnasi
Borobudur”. (Suryanega Mendengar isi pidato terse Menteri Agama RIS KH. berupaya semaksimal mungk mendirikan Universitas Perpustakaannya. Yusuf, dk, Kedua,adanya peng dengan memberikan pilihan tr PTAIN yang dikuatkan oleh tentang pendirian PTAIN.K politik yakni, adanya wakt menguatnya reaksi golonga yang didukung atas keterlib reaksi kooperatif dari golo agamis. Hal ini seirama dengan Gus Sholahudin Wah 2018), Salah satu putra dar Hasyim, terkait dengan ide at pendidikan tinggi Islam di In era Menteri Agama Wa
memberikan jawaban dua
Wahid Hasyim punya kes menjadi menteri agama, sebe cuma jika dilihat dari siste lumayan lama, tiga kabine usia 3 tahun, sehingga puny
juga terkenal cakap dan ua golongan di eranya, ngkinkan jika di era ahid Hasyim mampu
io” peradaban moderndi nnya unutk mendirikan
ah Kementerian Agama
dalah PTAIN di bawah ekternalnya, terdiri dari gis, antaralain adanya irinya UGM, lemahnya itas muslim, dan adanya
“sekuler” yang menjauh
satu bukti argument dari t K.H. A. Wahid Hasyim ketika Prof. Sardjito
etak Universitas Gajah
ambanan dan Borobudur, Mada haruslah kelak si prambanan dan gara, 2016, 691). rsebut, maka kemudian KH. A. Wahid Hasyim ngkin merencanakan dan itas Islam beserta
k, (2017, 67).
ngaruh partisipasi Rezim n transformasi FA-UII ke h PP. No. 34 tahun 1950 N.Ketiga, adanya faktor aktu yang cukup lama, ngan nasionalis agamis libatan masyumi dengan olongan nasionalisdan a dari hasil wawancara ahid (Jombang, 7 April dari K.H. Abdul Wahid atau program penguatan i Indonesia itu muncul di ahid Hasyim, beliau
a hal, “pertama mbah kesempatan yang lama ebenarnya ndak lama ya, stem pada waktu itu ya inet, cukup panjang lah nya banyak waktu untuk
memikirkan banyak hal. Kedua, Pak punya perhatian untuk mendirika artinya PTAIN itu diperlukan untu umat Islam di Indonesia kedepan,
yang paling awal ya”.Untuk itu
bahwa masa yang cukup dalam “
Kementerian, menjadikan Wahid mudah untuk mengorganisir pr konstruktif berbasis kebangsaan tersebut.
Faktor eksternal keemp adanyapengaruh dan keterlibatan ideologis tebangun oleh tokoh se
K.H. Hasyim Asy’ari yang respo
sosial, kemudian K.H. Fakih koopertaif selaku Menteri Agama R dan K.H. Maskur yang sela pelaksanaan program era Kemen Hasyim dan bijak ketika setiap permasalahan-permasalahan. Tentu bagian motvasi eksternal bagi Wahid mengaktualisasikan program dan eranya.
2. Pola Interaksi sosio-politik Agama K.H. A. Wahid Hasyim
Adapun pola interaksi da institusi pendidikan tinggi Islam di Menteri Agama Wahid Hasyim ada interaksi, antaralain;Pertama, p asosiatif kooperatif, dimaksudkan Menteri Agama K.H. A. Wahid Ha karakteristik kooperatif dengan sia tujuan untuk menyatukan pe kelompok, baik kelompok Mayorita Minoritas. Penulis berasumsi bah dalam penerimaan PTAIN di era M K.H. A. Wahid Hasyim merupak lebih kooptatif.walaupun prosesnya dengan struktur kelompok lain dan bargaining dengan rezim. Hal ini tercermin dalam kepribadian Mente A. Wahid Hasyimsendiri. Salah satu dari Isa Al-Anshary, salah seor persatuan Islam (PERSIS) saat itu,“
adalah sosok pemimpin yang tena menyatukan berbagai aspirasi. organisatoris ulung, pandai d
Pak wahid hasyim ikan PTAIN itu, untuk memajukan an, saya fikir itu itu maka penting
“posisi politik” id Hasyim lebih program-program n dan keuamatn eempat adalah n tokoh, secara sentralnya yakni
ponsif atas fakta
ih Usman yang a RI Yogyakarta, elalu membantu enterian Wahid p menyelesaikan tu hal ini menjadi hid Hasyim dalam n gagasannya di ik era Menteri im dalam penguatan di Indonesia era da beberapa pola pola interaksi kan bahwa era Hasyim memiliki siapapun dengan persepsi-persepsi ritas, Sekuler dan bahwa kooperasi a Menteri Agama akan sikap yang nya juga koalitif an terlihat sekilas ini tentunya juga nteri Agama K.H. atunya pernyataan eorang pimpinan ,“Wahid Hasyim
tenang dan dapat si. Dia adalah dan bijaksana
memainkan “kartu” perjuan
1998, 102).Komitmennya menurut Menteri Agama K. (1950,5)pada tulisannya “S
bergolong-golong itu di dal air kita, apabila diterus-berakibat rusaknja kemurnia
sebangsa”. Ini tentunya ju implikas dari penanaman id
Hasyim Asy’ari tentang penti
persaudaraan. (Misrawai, 201 Pola interaksi Kedu asosiatif akomodatif era Me Wahid Hasyim terlihat ada
gagasan dan ekspektasi “U
walaupun belum terlaksana
atas kemajuan kelompok
landasan sikap “Tasammuh”
konteks pendidikan, Mente Menteri Agama K.H. A. Wa juga menyampaikan pid ketimuran tidaklah dimakna suat pendidikan yang didasa anggapan orang timur, adat pendidikan timur lebih d pendidikan yang didasarkan
filsafat kerohanian”.Selain
51) juga mengemukakan
Wahid Bagus, “Jika ada k
bagus, dia dekati dan masuk
Muchit Muzadi”.(Hasil w dengan Muchit Muzadi (s pondok pesantren Tebu Ir santri dari K.H. A. Wah sesepuh pesantren Tebu Ire jelas, bahwa pola interaksi progresif yang sesuai dengann
Pola interaksiKetig Agama K.H.A. Wahid Has pendidikan tingginya ada kompetitif, pola interaksi dis dimaksudkan adanya proses bersifat kulturalistik edukatif, UGM yang di asumsikan seb
gagasan “kolonialisme”
pengetahuan dari pengetahua atas pondasi kepentingan keb
dengan tidak ada aspek “kek
angan.(Azra dan Umam, tentang persaudaraan K.H. A. Wahid Hasyim
“Sikap dan semangat
dalam lingkungan tanah us-teruskan tentu akan rnian persaudaraan kita juga salah satu aspek ideologi ayahnya K.H.
entingnya kerjasama dan 013, 238-240).
edua,yaknipola interaksi Menteri Agama K.H. A. adanya equilibrium atas
“Universitas Islam” nya
a dengan realitas sosial
ok “Sekuler” dengan
mmuh” yang tinggi. Dalam nteri Agama K.H. A. Wahid Hasyim (1950, 4) pidatonya “pendidikan
knakan sederhana, yaitu asarkan atas anggapan-at istiadanggapan-at, bahasa timur, dari hal itu, ialah kan atas filsafat timur, in itu, Nugroho (2017,
n bahwa “Insting Gus
a kader yang dianggap
suk lingkaran inti,imbuh wawancara Nugroho (salah satu alumni di Ireng yang merupakan ahid Hasyim sekaligus Ireng).Dengan demikian ksinya lebih akomodatif ann kebutuhan di eranya.
tiga, di Era Menteri Hasyim dalam penguatan adalah pola disosiatif disosiatif kompetetif ini es kompetesi yang lebih tif, yakni atas berdirinya ebagai representasi spirit
” untuk dikotomik
uan agama dengan tetap ebangsaan dan keumatan
dibuktikan pada permasalahan “
golongan di eranya agar tidak terlal melebar, masyarakat butuh pema kompleks, maka juga diperjelas Hasyim ketika membuka Pendidika di Yogyakarta. Adapun pidato peres Yogyakarta Wahid Hasyim (20 mengemukakan; “PTAIN yang dir hari ini, mungkin timbul pertanya dugaan, seoalah-olah PTAIN ini bag yang merupakan usaha dari Kemen ada maksud melebihkan golonga mengurangi harga golongan agama sebenarnya tidaklah demikian. B Islam sekolah agama yang yang me memelihara pendidikan agama pengetahuan betul-betul bernila belumlah ada di Indonesia, sedang yang lain sudah ada sekolah tingg dapat dibanggakan dan membuahka
bagi kepentingan masyarakat d
Tentunya hal ini salah satu bentuk terhadap eksistensi Kementerian memiliki “Universitas Islam”m
setidaknya PTAIN lah yang memun tersebut untuk menjadi cangkok da untuk mengukuhkan menjadi Un masa berikutnya. Maka hal ini Menteri Agama Wahid Hasyim s yang kompetitif dengan Universitas la
lebih fokus pada teologi dan pendidik
Atjeh, (2015, 878) mengem spirit Pidato di atas yang disam landasan keagamaan dan kenegaraa
“Perguruan Tinggi Islam Negeri”
pidato yang diucapkan pada pe penyerahan PTAIN (perguruanTingg Negeri) di Yogyakarta pada 26 S yang kemudian diterbitkan pada M November, 1951. Pada pidatonya be beberapa point penting, antarala perguruan tinggi agama Islam ne sebagai jawaban atas sumber daya m Indonesia yang masih lemah d Indonesia, kedua, beliau juga mene perbedaan falsafah hidup yang dig islam Indonesia dengan islam di ne
“sentimenisme”
lalu menjalur dan mahaman secara las oleh Wahid ikan Tinggi Islam resmian PTAIN di 2011, 141-142), diresmikan pada nyaan disebabkan bagi agama Islam menterian Agama, ngan Islam dan ma lainnya, yang Bagi golongan mengajarkan dan dengan dasar ilai Universitas ng bagi golongan tinggi teologi yang kan cerdik pandai
t dan Negara”.
tuk ekspektasinya n Agama untuk
”mandiri, dan
ungkinkan di era dan modal utama Universitas pada i dijadikan oelh sebagai embrio itas lain yang hanya
idikan “Umum”.
emukakan bahwa ampaikan dengan raan dengan tema
i” ini merupakan pembukaan dan inggi Agama Islam September 1951 Mimbar Agama berisi ini dengan ralain; pertama, negeri didirikan manusia islam di dan lambat di enegaskan adanya digunakan antara i negeri lain, salah
satu upayanya adalah d pengetahuan yang tidak bo perasaan keagamaan yan perguruan tinggi Islam neg dalam memandang pengetah dan rasionalitas yang ti menundukkan politik pada politik lebih pada nilai-nila
Kemanusiaan” dan b
Ketiga,Menteri Agama Wahid kembali adanya syarat bersanding, yakni Ilmu pen karena kedua unsur inilah masyarakat lebih berkem berkarakter atau berkepribadia Agama K.H. A. Wahid Hasyi bahwa“Kemajuan otakyang kemajuan budipekerti yang b menyebabkan nilai dan pan berubah banyak, bukannya bawah, hingga suatu keja merusakkan jiwa atau nyawa perbuatan jahat, tetapi me nyawa atau bangsa dengan seluruh negeri, di anggap se berharga atau mendapat
tinggi”.(Atjeh, 2015, 881-882 Kelima, salah satu beliau Menteri Agama HasyimHasyim dalam peresm islam adalah agar terlahir pandai, berilmu agama dan kepada Allah swt. Jika harap dapat di akomodir sampai se akan terjadi perselisihan kekerasan dan ketidak adil berasumsi realitas hari ini, s apa yang dikhawatirkan oleh A. Wahid HasyimHasyim yakni pertimbangan politik pertimbangan ilmu pengeta pengetahuan menjadi pelaya tentunya yang menjadi prob di Indonesia.Maka dalam ko penting bahwa ilmu bena politik, sehingga mampu m
dengan menempatkan boleh dikungkung oleh yang sempit. Kedua, egeri ini sebagai media tahuan dari sudut logika tinggi dengan tetap a ilmu, sehingga tujua
ilai “Kemaslahatan dan
bukan “kekuasaan”.
ahid Hasyim menegaskan t mutlak yang harus pengetahuan dan taqwa, ilah sehingga kehidupan embang dengan tetap adian yang baik. Menteri syimHasyim menegaskan ang tidak disertai dengan g baik atau taqwa, telah pandangan manusia jadi ya ke atas, melaikan ke kejahatan kecil seperti wa seseorang, di anggap merusakkan jiwa atau gan cara damai kepada sebagai pahlawan yang pat nama baik yang
882)
atu tujuan dan harapan a K.H. A. Wahid esmian perguruan tinggi ir insan yang cerdik, n umum serta bertaqwa rapan dan tujuan tersebut sekarang, tentunya tidak n yang mengakibatkan dilan. Akan tetapi jika i, sudah tepat setidaknya leh Menteri Agama K.H. im benar-benar terjadi, litik lebih atas dari pada etahuan, sehingga ilmu yan hawa nafsu. Hal ini oblem serius pendidikan konteks politik, menjadi nar-benar mandiri dari memberikan nilai-nilai
keadilan, kemanusiaan dan kesejahe di Indonesia, khususnya umat islam. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perolehan wawancara, terdapat dua findingpenting.Pertama, munculn penguatan institusi pendidikan tin Indonesia era Menteri Agama K. Hasyim adalah adanya praksis “M antara faktor internal dan ekster permasalahan dengan cita-cita yan dengan menggunakan pendekatan spiritual, yang ditegaskan dalam kon
adanya pengetahuan dan taqwa”, k
saling melengkapi yang ditega
program politik gagasan institusion Islam” yang nondiktomis, sehi dijadikan sebagai embrio formalis tinggi Islam di bawah kntrol Kemente
Temuan kedua, sesu beberapa pola interkasi yang ada d pola interaksi yang digunakan era M K.H. A. Wahid Hasyim dalam pro institusi pendidikan tinggi Islam adalah pola interaksi “Asosiatif Kompromistis”,merupakan proses memiliki indikasi yang imbang de
sekuler “bahkanBergainingdengan
cara yang lebih adaptif serta m stabilitas dan kepentingan semua go sikap yang kompromistis, tas tawassuth untuk mengurangi perten tujuan mendapatkan solusi alte
menjadikan “persatuan” sebagai ref berbangsa dan pancasilais.
Daftar Pustaka
Arikunto,
Suharsimi.(2013).
Penelitian; Suatu Pendeka
Jakarta: Rineka Cipta.
Atjeh, H. Abubakar. (2015).
Se
K.H. Abdul Wahid Hasj
Tebu Ireng. 47,
Azra dan Umam. (1998)
. Me
Agama
RI
Biograf
Politik.
Jakarta: INIS dan
RI.
heraan bagi umat m.
han dokumen dan a konstruksi ulnya program tinggi Islam di K.H. A. Wahid “Motif Imbang” ternalnya, antara ang direfleksikan tan rasional dan konsepsinya yakni , keduanya harus itegaskan melalui ional “Universitas ehingga PTAIN lisasi pendidikan enterian Agama. esuai konstruksi di eranya, maka a Menteri Agama proses penguatan m di Indonesia iatif Akomodatif s interaksi yang dengan golongan an Rezim”dengan memprioritaskan golongan dengan tassammuh dan tentangan dengan lternatif dengan refleksi nilai-nilai
).
“
Prosedur
ekatan Praktik
”
,
.
Sejarah Hidup
asjim.
Jombang:
Menteri-Menteri
ografi
Sosial-dan PPIM Depag
B.J. Boland.(1985).
The St
Modern Indonesia.
Grafitri Pers.
Bakker
dan
Zubair.(1
Penelitian
Kanisius.
Bungin, Burhan. (2007).Pene Kualitatif.Jakarta: Pren
Cresswell, John W. (2010
Qualitative, Quant
MethodsApproache
Yogyakarta: Pustak
Dewanto, Nugroho, (2011
Wahid Hasyim unt
Tebuireng”,
Ibid. T
36.
Dhofier, Zamakhsyari. (2011 Studi Pandangan Hid Mengenai Masa Jakarta:LP3ES. Giri, Wide Priyambono.,“Nila
Cerbung Jaka Tingkir Majalah Djaka Lodan
Tahun 2012”E-Jurna Pendidikan Bahasa da Jawa_Universitas Mu Purworejo.,Vol. / 08 / hal.58-65.
Gunawan, Imam.(2014).
Kualitatif; Teori
Bumi Aksara.
Hasyim, A. Wahid. (
Ketuhanan.
Mimba
resmi
yang
ter
Kementerian Aga
Jakarta. Kementeria
---, (195
untuk
Kebahaga
Perdamaian
Duni
Penjiaran kementera
---, (2011
Memilih Nahdlatul
tulisan
Wahid
pengantar dari put
Wahid)
. Jakarta: Mi
M. Sirozi,“Politics of EducatioProduction in Indone the Roles of Muslim L in the Establishment o 1989”.Disertasi (Aus University). 2004
Strunggle Of Islam In
sia.
Trj.Jakarta: PT.
r.(1994).
Metodologi
Filsafat.
Yogyakarta:
enelitianrenada Media Group.
010).
Reseach Design
”
uantitative, and Mixed
hes,
Thir
Edition.
taka Pelajar.
2011). “
Menteri Agama
untuk Republic dari
d. Tempo, Jakarta : hlm.
11).Tradisi Pesantren : Hidup Kyai dan Visinya Depan Indonesia.Nilai Budi Pekerti Dalam
kir Karya Ambarwati, dang Edisi 17 Sampai 25 rnal Program Studi
dan Sastra uhammadiyah
8 / No. 02 / Maret 2016,
).
Metode Penelitian
ri dan Metode
.Jakarta:
(1950).
Pendidikan
bar Agama, Majalah
terbit
berkala
dari
gama Jilid I.No.56.
rian Agama. hal.4.
1950)
“Latihan Lapar
hagaian
Hidup
dan
unia”
Djakarta:
nteraian Agama,. P.5.
2011).
Mengapa Saya
tul Ulama (Kumpulan
d
Hasyim
dengan
putranya Sholahuddin
Mizan.
cational Policy nesia: A Case Study of lim Leaders in the leaders
nt of the Number 2 Act of ustralia: Monast