• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL CAHAYA DI PENJURU HATI KARYA ALBERTHIENE ENDAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL CAHAYA DI PENJURU HATI KARYA ALBERTHIENE ENDAH"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya

Volume 4 Nomor 2, 2020

Journal homepage : http://journal2.um.ac.id/index.php/basindo

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL CAHAYA DI PENJURU

HATI KARYA ALBERTHIENE ENDAH

Sherly Priyanti*

Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang A R T I C L E I N F O A B S T R A C T Article history: Received: 12 Jul 2019 Accepted: 11 Nov 2020 Published: 16 Des 2020 Keyword: nilai, pendidikan karakter, novel

Tujuan penelitian ini mendeskripsikan nilai pendidikan karakter pada novel Cahaya di penjuru Hati karya Alberthiene Endah dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berupa data verbal berupa dialog antar tokoh, narasi, tanda-tanda yang menggambarkan pendidikan karakter, serta kutipan yang menggambarkan pendidikan karakter. Hasil dari penelitian ini mencakup tiga hal, yakni nilai pendidikan karakter hubunagannya dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama.

PENDAHULUAN

Karya sastra merupakan suatu cara untuk mengungkapkan gagasan, ide, pemikiran dengan gambaran kehidupan masyarakat yang dituangkan dalam bentuk tulisan yang disertai imajinasi oleh penulisnya. Sugihastuti (dalam Yusuf dan Nurihsan, 2008:53) menyatakan bahwa karya sastra merupakan salah satu media komunikasi yang digunakan pengarang untuk menyampaikan gagasan dan pengalamannya secara kreatif dengan bentuk yang berbeda. Selain itu, karya sastra juga dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan nilai pendidikan karakter yang merupakan refleksi dari kehidupan nyata.

Novel sebagai salah satu karya sastra yang merefleksikan kehidupan nyata memegang peranan penting kepada pembaca untuk menyikapi kehidupan. Karya sastra berupa novel hadir sebagai media pendidikan untuk membangun manusia dan masyarakat yang berkarakter. Masyarakat berkarakter merupakan kumpulan individu yang masing-masing individu ini memiliki nilai karakter dan dapat merealisasikan nilai karakter tersebut kedalam kehidupan masyarakat sehinggaa terciptanya masyarakat yang berkarakter.

* Corresponding author.

E-mail addresses: [email protected] (Sherly Priyanti)

ISSN : 2579-3799 (Online) - BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License

(2)

Pendidikan merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang dapat memperoleh pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Syah,2005:10). Ilahi (2014:48) menyatakan bahwa sampai kapan pun pendidikan karakter masih menjadi sarana efektif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter diharapkan mampu mempengaruhi sikap dan perilaku peserta didik dalam membentuk kepribadian yang lebih baik. Pendidikan karakter pada saat ini menjadi salah satu ranah pendidikan yang menjadi fokus penting pemerintah dalam membangun peserta didik yang berkarakter.

Salah satu novel yang dapat memberi pembelajaran dan memberikan nilai pendidikan karakter bagi pembacanya ialah novel Cahaya Di Penjuru Hati Karya Alberthiene Endah. Alberthiene Endah menulis novel Cahaya di Penjuru Hati ini berdasarkan kisah nyata yang begitu mengharu biru. Pembaca tak hanya diajak untuk larut dalam setiap ukiran kata yang ditulisnya namun juga merenungkan betapa berharganya sebuah cinta yang tulus dalam keluarga serta nilai-nilai yang dapat diambil dalam setiap ceritanya. Peneliti memilih novel ini dikarenakan novel ini memiliki nilai-nilai yang membangun dalam kehidupan yang bercerita tentang seseorang pemuda bernama Wim. Wim lahir dari keluarga yang serba kekurangan bisa dikatakan keluarganya berekonomi rendah. Hal itu menjadikan ia pemuda yang memiliki semangat untuk terus berusaha, menjadi pendorong untuk tidak pernah mengeluh dan selalu rajin untuk menuntut ilmu dan memiliki semagat yang tinggi untuk memperjuangkan cita-cita. Hal itu ia lakukan agar bisa mengubah kehidupan keluarganya yang lebih baik lagi. Ia melewati perjuangan untuk bisa sukses tidaklah mudah banyak sekali rintangan yang ia hadapi. Sebuah pelajaran berharga bagi semua orang, tentang mimpi, kesabaran, ketekunan, dan ketabahan dalam menghadapi berbagai rintangan hidup ini. Novel ini erat kaitannya dengan pendidikan karakter Dengan adanya penelitian ini diharapkan generasi muda dapat memahami dan melaksanakan pentingnya nilai-nilai pendidikan karakter untuk diterapkan dalam kehidupan diri sendiri maupun bermasyarakat.

Berdasarkan hasil pelacakan di perpustakaan Universitas Negeri Malang, penelitian dengan judul Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Cahaya di Penjuru Hati Karya Alberthiene Endah belum pernah diteliti sebelumnya. Peneliti serupa tentang nilai karakter pernah dilakukan oleh Dwi Septiningtyas (2018) dengan judul Nilai-Nilai Karakter dalam Teks Cerpen Karya Siswa Kelas XI- MIPA 1 SMA Negeri 7 Malang. Dalam Penelitian ini ditemukan: (a) lima belas nilai karakter yang muncul pada novel ini yakni, religius, jujur, toleransi, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial dan tanggung jawab, (b) tiga nilai karakter yang tidak muncul dalam novel ini yakni, disiplin, semangat kebangsaan, dan peduli lingkungan.

Berdasarkan paparan di atas, artikel ini akan membahas tiga hal, yakni nilai pendidikan karakter hubunagannya dengan Tuhan, diri sendiri dan sesama. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai nilai pendidikan karakter dalam novel Cahaya di Penjuru Hati. Sementara itu, secara praktis hasil penelitian ini ditujukan untuk beberapa pihak, seperti dosen, mahasiswa, dan praktisi/peneliti lain yang memiliki kepentingan berkaitan dengan apresiasi sastra.

(3)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif. Analisis yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan dijabarkan secara deskriptif. Data penelitian ini berupa data verbal berupa dialog antar tokoh, narasi, tanda-tanda yang menggambarkan pendidikan karakter, serta kutipan yang menggambarkan pendidikan karakter berupa nilai pendidikan karakter yang berupa nilai ketuhanan, individu, dan sesama. Sumber data utama dalam penelitian ini berupa novel Cahaya di Penjuru Hati karya Alberthine Endah. Pada penelitian ini instrumen utama ialah peneliti. Peneliti memiliki tugas sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, penganalisi data, dan yang melaporkan hasil analisis. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara, yaitu (a) membaca novel Cahaya di Penjuru Hati karya Alberthiene Endah dengan teliti dan berulang-ulang, (b) menandai hal-hal penting yang terdapat dalam novel yang dapat dijadikan sebagai data penelitian, (c) mencatat hal-hal penting yang telah ditandai sebelumnya yang terdapat dalam novel yang dapat dijadikan sebagai data penelitian (d) memasukan hal yang telah dicatat (data) ke dalam tabel data, (e) mengklasifikasi data. Berikut tabel panduan pengumpulan data. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yakni: reduksi data, kategorisasi data dan sintesisasi data, serta penyimpulan data. Pada penelitian ini pengecekan keabsahan data dapat dilakukan dengan tiga cara yakni, ketekunan pengamatan, pemeriksaan sejawat melalui diskusi dan dosen pembimbing.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Tuhan a. Beriman Kepada Tuhan

Pertama, yakin akan keberadaan Tuhan

“Mungkin tuhan mendengarkan doaku. Dan Ia menghadiahkan anugerah padaku dalam

bentuk kelulusan UGM. Aku merasa Tuhan begitu dekat denganku.” (A/01/S2/71)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim begitu yakin akan keberadaan Tuhan. Ia yakin bahwa Tuhan mendengarkan doanya sehingga Tuhan mewujudkan permohonannya yang ingin lulus di UGM. Wim merasa Tuhan begitu dekat dengannya.

Kedua, Ditunjukkan dalam perkataan dan perbuatan.

“Lili terus-menerus menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Aku seperti dibawa masuk

ke ruang kelabu. Anak-anak muram. Aku tak patah semangat. Kukumpulkan

anak-anakku dengan rutin di kamar dan kami berdoa. Setiap hari kami melakukan itu.”

(A/01/S7/238)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sedang menemani istrinya dirumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan. Wim melihat anak- anaknya muram dengan melihat kondisi ibunya, dengan keadaan seperti ini Wim tidak patah semangat. Setiap hari ia kumpulkan anak-anaknya dikamar untuk melakukan berdoa bersama dengan memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Lili.

Dari dua data yang dijabarkan tersebut sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) beriman berarti mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan, Menurut istilah (dalam Syafrida 2017:310) pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan).

(4)

Pertama, melakukan perbuatan sesuai dengan perintah Tuhan

“Pada awal 80-an aku bahkan semakin jauh terlibat dalam pelayanan. Salah satu ruang

di percetakanku kupakai sebagai tempat kelompok Doa Yerusalem yang diikuti oleh mahasiswa. Aku sering menerima para pendeta yang sedang melakukan kunjungan pelayanan ke Yogya untuk menginap di rumahku. Kujemput mereka dan kusiapkan

rumahku untuk menjadi tempat istirahat yang nyaman.” (A/02/S6/209)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim melakukan perbuatan baik dengan cara melakukan pelayanan. Wim juga menjadikan salah satu ruang dipercetakannya sebagai tempat doa, serta Wim juga memperlakukan dengan baik para pendeta jika berkunjung ke Yogya. Ia akan menyiapkan rumahnya untuk menjadi tempat istirahat yang nyaman bagi pendeta.

Kedua, beribadah dengan sungguh-sungguh berdasarkan iman kepada Tuhan.

“Tuhan, aku menginginkan ada rahmat dalam keluargaku. Aku menginginkan ada

damai. Semoga engkau berkenan mengatur dan menataku agar aku bisa bersikap

seperti yang kau inginkan.” (A/02/S5/165)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sedang berdoa untuk mengutarakan permohonannya kepada Tuhan. Ia menginginkan agar ada rahmat dan damai dalam keluarganya. Selain itu, ia memohon semoga Tuhan menjadikan dia seperti yang diinginkan Tuhan.

Dari dua data yang dijabarkan tersebut sesuai pendapat Kesuma (2012:12) yang menyatakan bahwa nilai karakter ketuhanan salah satunya adalah taat beribadah. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) taat berarti senantiasa tunduk kepada Tuhan.

c. Syukur

Pertama, mengungkapkan syukur melalui kata-kata.

Sheila dengan telaten membantu Lili menyiapkan apa saja yang diperlukan ibunya. Aku merasa lega. Keluarga adalah malaikat pertama sebelum tubuh disentuh oleh dokter dan tim medis. Aku bersyukur telah mengarungi puluhan tahun sebagai seseorang ayah dengan cara didik yang kusepakati dengan Lili. Hasilnya, anak-anak kami sangat mengasihi orangtuanya.

Mereka seperti tim ajaib yang meringankan beban batin kami di saat yang begini sulit.”

(A/03/S11/384)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sangat bersyukur memiliki anak-anak yang peduli terhadap dirinya dan Lili. Wim merasa berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik, dengan cara mendidik yang disepakati dengan istrinya. Hasilnya anak-anaknya sangat mengasihi orangtuanya. Seperti Sheila, anak perempuannya dengan telaten merawat ibunya serta menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan ketika ibunya sakit.

Kedua, mengungkapkan syukur melalui perbuatan (tidak mudah mengeluh dan berpaling dari Tuhan saat mengalami kesulitan).

”Uang kiriman ibu sangat terbatas dan kami tak protes. Kami tahu betapa susahnya ia

mencari uang. Sebisa mungkin kami berhemat” (A/O3/S2/64)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim adalah seorang anak yang tidak mudah mengeluh. Ia dan adiknya Tiong begitu mengerti keadaan orangtuanya yang sedang susah dan ia tak pernah protes jika diberikan uang oleh Ibunya dengan jumlah yang terbatas. Sebisa mungkin ia berusaha untuk berhemat. Dari dua data yang dijabarkan tersebut sesuai dengan pendapat Sagir (2014:25) yang menyatakan bahwa Syukur dengan hati dilakukan dengan

(5)

menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena

cobaan, anugerah dan kemurahan Ilahi.

2. Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Diri Sendiri a. Jujur

Pertama, berbicara apa adanya.

“Dengan keberanian yang kuperjuangkan mati-matian, aku menghadap petinggi

kampus. Ia menerimaku dengan ramah di kantornya. Namanya Profesor Oey Liang Lee. Kuutrakan keadaanku bahwa aku telah lulus dan mampu membayar uang pangkal. Tapi tak mampu membiayai uang semesteran. Aku mengatakan terus terang apakah aku bisa

mendapat keringanan.” (B/01/S4/120)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim adalah seorang pemuda yang tidak malu mengatakan tentang keadaan atau kesulitan yang ia alamai. Ia berkata secara jujur mengenai kondisi keuangannya kepada Profesor Oey Liang Lee mengenai biaya uang semesteran yang tak mampu ia bayar. Ia mengatakan secara terus terang dan dengan keberanian mengungkapkan permohonan apakah ia bisa mendapat keringanan.

Kedua, menjadikan dirinya selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan baik terhadap diri sendiri dan pihak lain.

”hasil kerjamu cukup baik, Wim,” ujar pimpinan itu, Pak Wahyudi. “Kau juga sangat

baik menjalankan tugas sebagai bagian dari tim pembina menghadapi ujian negara. Saya perhatikan pekerjaanmu yang detail dan rapi. Kau bisa membantu di bagian

perlengkapan kampus.”

Aku mengangguk takzim.

“Kau bertanggung jawab langsung padaku,” kata Pak Wahyudi lagi.”

(B/01/S4/135)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim menjadikan dirinya seorang pekerja yang dapat dipercaya oleh pimpinan sehingga ia diberikan tanggung jawab lebih besar lagi. Setiap pekerjaan ia selesaikan secara detail dan rapi sehingga pak Wahyudi puas dengan hasil pekerjaannya.

Dari dua data yang dijabarkan tersebut sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jujur yang berarti lurus hati; tidak berbohong (misalnya dengan berkata apa adanya). Sementara itu, menurut Oetomo (38:2012) kejujuran adalah melakukan dengan baik apa yang dipercayakan padamu dengan penuh tanggung jawab.

b. BertanggungJawab

Pertama, berani menanggung resiko dari perbuatannya.

“Aku terus berdoa dan bersabar. Ditengah-tengah itu aku menghadapi pihak-pihak yang

murka. Kusabarkan mereka kudatangi mereka. Aku tidak bersembunyi. Karena aku

memang tidak punya niat yang buruk. Keadaanku terlalu payah.” (B/01/S8/286)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim bertanggung jawab dari masalah yang terjadi. Ia tidak bersembunyi, ia datangi orang-orang yang sedang murka kepadanya. Karena, memang ia tidak punya niat yang buruk. Ia berikan penjelasan dan meminta mereka untuk bersabar. Ia pasti membayar itu semua secara perlahan, karena keadaan yang begitu buruk jadi tidak bisa secepat itu melunasi hutang-hutangnya. Ia masih menunggu hotel itu ada yang membeli, jika hotel itu sudah terjual dari hasil penjualan tersebut ia bisa membayar hutangnya.

Kedua, melakukan kewajibannya sesuai perannya dengan sebaik-baiknya.

“Semua proses itu dilakukan Ibu sendirian. Tanpa harus banyak berkata- kata, apa yang

(6)

menghargai apa yang ia buat. Kami, aku, Tiong dan John, melesat kesekolah tanpa uang

jajan.” (B/02/S1/19)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim dan adik-adiknya merupakan anak yang mengerti akan kewajiban. Ia mengerti bagaimana susahnya orang tua mencari rezeki untuk menyekolahkannya. Karena hal itu ia tak ingin membuat orang tuanya kecewa. Ia dan adik-adiknya menghargai apa yang sudah orang taunya lakukan untuk bisa menyekolahkan mereka, untuk bisa membalas perjuangan orang tuanya adalah dengan cara bersemangat untuk sekolah. Mereka berangkat sekolah tanpa uang jajan, karena mereka tidak tega meminta dan juga mereka tahu orang tuanya tak mempunyai uang.

Dari dua data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan pendapat Oetomo (2012:37) yang menyatakan bahwa tanggung jawab adalah kebiasaan menyelesaikan tugas dan pekerjaan dengan tuntas dan baik. Sedangkan, menurut Samani dan Hariyanto (2012:51) tanggung jawab adalah melakukan tugas sepenuh hati, bekerja dengan etos kerja yang tinggi, berusaha keras untuk mencapai prestasi terbaik, mampu mengontrol diri dan mengatasi stress, berdisiplin tinggi, akuntabel terhadap pilihan dan keputusan yang diambil.

c. Bergaya Hidup Sehat

Bergaya hidup sehat yakni melakukan tindakan positif seperti berolahraga serta mengkonsumsi makanan yang sehat.

“Jarak kampus dari rumah begitu dekat. Sehingga, aku lebih sering berjalan kaki. Kunikmati

pagi yang sejuk dan riuh oleh cicit burung disepanjang perjalananku menuju kampus.”

(B/03/S6/192)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa jarak kampus dari rumah Wim begitu dekat sehingga ia lebih sering berjalan kaki. Ketika berjalan kaki ia menikmati pagi yang sejuk dan riuhnya cicit burung. Berjalan kaki merupakan olahraga santai yang baik bagi kesehatan dan apabila dilakukan secara rutin dapat menghilangkan stres.

Hal tersebut sesuai dengan pendapat Anne ( dalam Susanti & Kholisoh, 2018:3) gaya hidup merupakan salah satu indikator kualitas hidup seseorang. Seseorang yang memiliki gaya hidup sehat akan menjalankan kehidupannya dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan seperti makanan, pikiran, kebiasaan olahraga, dan lingkungan yang sehat.

d. Disiplin

Disiplin merupakan hidup terjadwal dan teratur.

“aku tak memiliki alasan untuk membuang waktu dengan lamunan tak berguna. Aku

sudah duduk di ruang kerjaku ketika pagi masih dilumpuri embun. Bahagia membakar

semangatku.” (B/04/S5/160)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sudah berada di kantor ketika pagi masih di lumpuri embun. Ia bekerja dengan disiplin serta penuh semangat, ia tak ingin membuang waktunya dengan lamunan tak berguna.

Hal tesebut sesuai dengan pendapat Salim (2013:136) disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban. Sementara itu, menurut Gea (2014:779) yang menyatakan bahwa Time management adalah tentang perencanaan hari/waktu supaya bisa melakukan penggunaan paling baik atas waktu yang dimiliki.

(7)

e. Kerja Keras

Pertama, tidak mudah menyerah atau mengeluh saat menghadapi hambatan.

“Tidak mudah memasarkan buku. Bahkan aku sempat berdarah-darah. Aku jatuh

bangun. Tapi ini sudah menjadi cita-cita. Aku tak boleh mundur. Aku harus maju terus. Aku pergi ke Seantero Indonesia dan memasarkan buku- buku kami. Lelah. Luar biasa

lelah. Dan banyak gagalnya.” (B/05/S6/213)

Kutipan menunjukkan bahwa Wim sedang mengalami hambatan di bidang memasarkan buku. Namun, ia terus bekerja keras memasarkan buku-buku karena itu sudah menjadi cita-citanya. Ia maju terus pantang untuk mundur. Ia juga pergi ke Seantero Indonesia untuk memasarkan buku-bukunya. Ia merasakan lelah dan juga gagal. Namun ia tak menyerah, ia terus berusaha untuk memasarkan buku- bukunya.

Kedua, melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh.

Aku menggeluti pekerjaan ini dengan tekun. Setiap hari sepulang kuliah, aku segera beraksi. Ada saatnya aku tenggelam di arena pasar loak dan mencari barang yang bisa kutawarkan. Setelah dapat esoknya aku mulai memasarkan di kampus dan sekitar

rumah kos.” (B/05/S3/89)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sedang menggeluti pekerjaannya sebagai penjual barang bekas, ia menggeluti pekerjaannya dengan tekun. Ia berkeliling dipasar loak mencari barang yang masih bisa untuk diual lagi. Setelah ia mendapatkan barang yang ia cari, keesokan harinya ia mulai memasarkan barang itu di kampus maupun disekitar kos. Ia menjadi seorang pemuda yang menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan bekerja.

Darti dua data tersebut sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kerja yang berarti melakukan sesuatu dan keras yang dapat diartikan gigih (bersungguh-sungguh). Sementara itu, Oetomo (2012:24) menyatakan bahwa kerja keras adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, disiplin dan rajin. Dengan kerja keras pasti menghasilkan sesuatu yang lebih baik

f. Percaya Diri

Percaya diri yakni memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri untuk mencapai suatu hal.

“Walau masuk jurusan sosial, cita-citaku tak berubah. Aku ingin menjadi dokter. Kala itu

fakultas kedokteran masih menerima siswa lulusan SMA dari jurusan sosial. Aku menjadi tenang. Impianku bisa masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran Malang atau STKM atau ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya. Itu tujuan pasti. Maka yang kujaga selama Sekolah, nilaiku harus baik agar layak untuk mengikuti tes masuk

kedokteran.” (B/06/S2/65)Kutipan menunjukkan bahwa Wim sangat percaya diri bisa

mencapai cita- citanya yaitu sebagai dokter. Walaupun masuk jurusan sosial, tidak masalah baginya. Karena, kala itu fakultas kedokteran masih menerima siswa jurusan sosial. Karena keyakinannya itu, ia mempunyai mimpi bisa masuk ke Sekolah Tinggi Kedokteran Malang atau Ke fakultas Kedokteran Airlangga Surabaya. Maka dari itu, ia berusaha agar nilainya baik agar layak untuk mengikuti tes kedokteran.

Dari dua data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan pendapat Komara (2016:36) kepercayaan diri adalah karakteristik pribadi seseorang yang di dalamnya terdapat keyakinan akan kemampuan diri dan mampu mengembangkan serta mengolah dirinya sebagai pribadi yang mampu menanggulangi suatu masalah dengan situasi terbaik.

g. Berjiwa Wirausaha

(8)

untuk berorientasi ke depan.

“Kubangun pergaulan rapat dengan orang-orang berada yang gemar berbelanja

barang-barang bagus. Aku berkenalan dengan mereka. Orang- orang kaya itu gampang bosan dengan barang-barang bagus mereka. Jika hendak membeli barang baru, mereka akan mengontakku untuk menjual barang bekas mereka. Sementara untuk mendapatkan pasar, aku bergaul dengan dengan masyarakat sederhana. Merekalah yang akan menyerbu dagangan barang bekasku.” (B/07/S4/137)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sangat cerdas membangun sebuah relasi. Ia membangun pergaulan dengan masyarakat berada dan masyarakat sederhana untuk membangun bisnis barang bekasnya. Hal ini dikarenakan orang kaya gampang bosan dengan barang-barang yang dimilikinya, sehingga ketika mereka hendak membeli barang baru tentunya akan mengontaknya untuk menjual barang bekasnya. Sementara itu, untuk mendapatkan pasar, Wim bergaul dengan masyarakat sederhana, karena merekalah yang akan menyerbu barang bekas Wim.

Dari data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan pendapat Suharyono (2017:3) berjiwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi resiko.

h. Kreatif

Kreatif yakni menemukan cara atau ide baru saat menghadapi suatu hal.

Pada saat itu, keberanianku melangkah telah semakin hebat. Semula aku hanya ingin berkutat dengan percetakan. Namun, aku kemudian melihat tantangan di medan yang jauh lebih menarik. Aku berinisiatif menerbitkan buku-buku pendidikan yang bagus. Aku melihat betapa besar fungsi buku dalam tumbuh kembang manusia, usia berapapun. Terutama mereka yang berada di masa sekolah. Aku lalu berburu para penulis andal yang mampu membuat buku-buku pelajaran.” (B/08/S6/212)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim mempunyai keberanian untuk melangkah yang semakin hebat. Semula ia hanya berkutat dengan percetakannya. Kemudian, ia melihat tantangan yang membuatnya tertarik. Ia berinisiatif menerbitkan buku-buku pendidikan yang bagus. Ia melihat betapa besarnya fungsi buku dalam tumbuh kembang manusia, usia berapun. Terutama untuk yang berada di masa sekolah. Ia merasa bahwa buku sangat penting, ia kemudian berburu para penulis handal yang mampu membuat buku-buku pelajaran.

Dari data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kreatif yakni memiliki kemampuan untuk menciptakan suatu hal. Sementara itu, Samani dan Hariyanto (2012:51) menyatakan bahwa kreatif adalah mampu menyelesaikan secara inovatif, luwes, kritis, berani mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, menampilkan sesuatu secara luar biasa (unik), memiliki ide baru, ingin terus berubah, dapat membaca situasi dan memanfaatkan peluang baru.

i. Mandiri

Mandiri yakni tidak bergantung pada orang lain.

Mati-matian ku atur uangku. Sebisa mungkin aku tak meminta uang pada Ibu. Jangan

sampai. Dukungan orangtuaku sudah lebih dari cukup.” (B/09/S3/85)

Kutipan menunjukkan bahwa Wim merupakan anak yang mengerti keadaan orangtuanya. Ia berusaha untuk bisa mengatur uangnya, sebisa mungkin

(9)

ia tidak meminta uang pada ibunya. Ia malu dan tak enak hati jika meminta uang pada ibunya. Padahal, kebutuhan di Yogya semakin banyak. Ia tidak ingin merepotkan ibunya. Baginya, dukungan yang diberikan orang tuanya sudah lebih dari cukup.

Dari data yang dijabarkan tersbut, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mandiri adalah keadaan yang dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Sementara itu, menurut Salim (2013:143) menyatakan bahwa mandiri adalah suatu sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

j. Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu memiliki indikator yakni, keinginan lebih dalam untuk mengetahui hal-hal baru.

Tak hanya giat mendatangi tempat-tempat yang memiliki kemungkinan butuh percetakan, aku juga mendatangi percetakan yang ada di Yogya. Kuatur sedemikian rupa pembawaanku hingga aku bisa diterima dan boleh bertanya-tanya. Banyak hal

yang kutanya. Kebanyakan tentang strategi produksi dan pengadaan alat.”

(B/10/S6/196)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim juga mendatangi percetakan yang ada di Yogya, ia mengatur dengan baik pembawaannya sehingga ia bisa diterima dan boleh bertanya-tanya. Banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada pemilik atau pekerja di percetakan itu, kebanyakan yang ingin ia tanyakan adalah tentang strategi produksi dan pengadaan alat. Rasa ingin tahunya sangat tinggi mengenai percetakan, karena itu ia selalu ingin belajar lebih banyak lagi kepada orang-orang yang berpengalaman dibidang percetakan.

Dari data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) rasa ingin tahu diartikan sebagai perasaan atau sikap yang kuat untuk mengetahui sesuatu atau dorongan kuat untuk mengetahui lebih banyak tentang sesuatu. Sedangkan menurut Samani dan Hariyanto (2012:119) rasa ingin tahu adalah keinginan untuk menyelidiki dan mencari pemahaman terhadap rahasia alam atau peristiwa sosial yang sedang terjadi.

3. Nilai Pendidikan Karakter dalam Hubungannya dengan Sesama a. Sadar Akan Kewajiban Diri dan Orang Lain

Pertama, mengekspresikan kepedulian terhadap sesama.

“Kami bepergian ke dusun-dusun di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara,

bahkan Maluka. Kami menikmati kunjungan itu. setiap kali memasuki pedesaan dan singgah di dusun yang sangat bersahaja, hati kami seperti dielus-elus. Kami menggelar

seminar keluarga dengan dasar cinta dan membangun sekolah.” (C/01/S9/299)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim sangat peduli kepada sesama. Ia melakukan kunjungan ke dusun-dusun yang ada di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Nusa Tenggara, dan Maluka. Setiap ia memasuki peedesaan dan singgah di dusun tersebut, ia merasakan hatinya seperti sedang dielus-elus. Akhirnya, dengan dasar cinta ia menggelar seminar keluarga dan membangun sekolah.

Kedua, berupaya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi orang lain.

“Aku giat megadakan KKR, Kebaktian Kebangunan Rohani. Aku menggelar rapat

demi rapat untuk mengadakan seminar rohani. Aku rogoh uangku sendiri untuk merealisasikan acara-acara itu. Aku juga banyak memelapori pembangunan gereja. Dan yang sangat membuatku bahagia, aku merintis dan mendirikan FGBMFI,

(10)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Wim giat untuk mengadakan KKR, Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia juga menggelar rapat untuk mengadakan seminar rohani, untuk merealisasikan acara-acara itu ia menggunakan uangnya sendiri. Ia juga banyak memelapori pembangunan gereja serta mendirikan FGBMFI yaitu persekutuan usahawan, karyawan, dan kaum profesi.

Dari data yang dijabarkan tersebut sesuai dengan pendapat Samani & Hariyanto (2012:117) kepedulian adalah memperlakukan orang lain dengan penuh kebaikan dan kedermawanan, peka terhadap perasaan orang lain, siap membantu orang yang membutuhkan pertolongan, tidak pernah berbuat kasar dan menyakiti hati orang lain dan peduli terhadap lingkungan.

b. Menghargai Prestasi Orang Lain

Menghargai prestasi memiliki indikator yakni, mengakui dan menghormati keberhasilan dan prestasi orang lain.

“Ibu tekun dan gigih. Setiap detik tak pernah ia sia-siakan. Hasilnya, ia bisa menyekolahkan anak-anaknya. Sederhana tapi pasti.” (C/02/S6/193)

kutipan tersebut menunjukkan bahwa selain mengakui keberhasilan orang lain, Wim juga mengakui keberhasilan Ibunya. Ia melihat ibunya tekun dan gigih, ibunya tak pernah menyia-nyiakan waktu. Hasilnya, ibunya bisa menyekolahkan anak-anaknya. Ibunya berjuang demi anaknya bisa berhasil dan bisa mengubah hidup keluarga untuk menjadi lebih baik. Sederhana tapi pasti. Wim sangat mengakui keberhasilan ibunya dalam mendidik, sehingga anak-anaknya bisa sukses dengan jalannya masing-masing.

Dari data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan pendapat Narwati (dalam Nurjanah 2017:3) menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberasilan orang lain.

c. Bersahabat

Bersahabat yakni senang bergaul dengan orang lain dan senang membantu.

Pertama, senang bergaul dengan orang lain.

”Saat itu SMA Dempo dipimpin oleh Romo Siswanto, seorang pastor yang tegas, humoris, juga baik hati. aku sempat bercakap-cakap dengannya dan segera saja aku menyukainya, amat sangat. kami kemudian bergaul cukup rapat.”

(C/03/S2/55)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa wim sedang memuji Romo Siwanto yaitu seorang pemimpin SMA Dempo. Pujian yang ia utarakan kepada Romo Siswanto adalah beliau seorang pastor yang tegas, humoris dan juga baik hati. Ketika Wim bercakap-cakap dengan Romo Siswanto, Wim merasa sangat senang dan segera menyukai Romo Siswanto. Ketika obrolan itu terjadi, mereka kemudian bergaul dengan cukup rapat.

Kedua, senang membantu.

Hal yang menggembirakan, Lili tertular kerja kerasku. Pada suatu hari ia

menyampaikan niatnya pada ku “aku juga ingin berbisnis sepertimu. Ajari aku.”

Aku bahagia mendengar itu. (C/03/S4/137)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Lili menyampaikan niatnya ingin berbisnis seperti Wim. Lili meminta Wim untuk mengajarinya cara berbisnis. Lili terinspirasi pada kerja keras yang dilakukan Wim saat

(11)

berbisnis jual beli barang bekas. Dengan senang hati Wim mengajarinya Dari data yang dijabarkan tersebut, sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bersahabat adalah berkawan, berteman, menyenangkan dalam pergaulan dan ramah. Sementara itu, menurut Ahmadi (2007:16) persahabatan adalah suatu hubungan antar pribadi yang akrab atau intim yang melibatkan setiap individu sebagai suatu kesatuan.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian menunjukkan tiga hal. Pertama, nilai pendidikan karakter dalam hubungannya dengan Tuhan ada tiga, yakni: beriman kepada Tuhan, taat beribadah dan syukur. Kedua, nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri ada sepuluh, yakni: jujur, bertanggung jawab, bergaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, kreatif, mandiri dan rasa ingin tahu. Ketiga, nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama ada tiga, yakni: sadar akan kewajiban diri dan orang lain, menghargai prestasi dan bersahabat

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian novel Cahaya di Penjuru Hati karya Alberthiene Endah, peneliti memberikan saran sebagai berikut (a) bagi pembaca agar dapat dijadikan sebagai pengetahuan tambahan dan pemahaman tentang nilai pendidikan karakter dalam novel Cahaya di Penjuru Hati, (b) bagi peneliti selanjutnya dapat dijadikan sebagai referensi dan masukan dalam mengembangkan penelitian tentang nilai pendidikan karakter, serta mampu memacu peneliti lanjutan untuk mengkaji penelitian berikutnya secara mendalam melalui sudut pandang yang berbeda.

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, A. 2007. Psikologi sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Gea, A., A,. 2014. Time Management:Menggunakan Waktu Secara Efektif & Efisien.(Online),

(http://researchdashboard.binus.ac.id/uploads/paper/document/publicati on/Proceeding/Humaniora/Vol%205%20no%202%20Oktober%202014/2 2_CB_Antonius.pdf), diakses 28 April 2019.

KBBI. Online, diakses tanggal 8 april 2019.

Komara, I,. B,. 2016. Hubungan antara Kepercayaan Diri dengan Prestasi Belajar

dan Perencanaan Karir Siswa. (Online),

(http://journal.uad.ac.id/index.php/PSIKOPEDAGOGIA/article/downlo ad/4474/2602), diakses 28 April 2019.

Nurjanah, Siti. 2017. Penanaman Karakter Kerja Keras dan Menghargai Prestasi PadaSiswa.(Online),(https://www.google.com/search?q=menghargai+p restasi+pdf.vol&rlz=1C1GGRV_enID761ID761&oq=menghargai+pres

tasi+pdf.vol&aqs=chrome..69i57.14675j0j1&sourceid=chrome&ie=UT F-8), diakses 23 April 2019.

Oetomo, Hasan. 2012. Pedoman Dasar Pendidikan Budi Pekerti dalam Membangun Karakter Bangsa yang Terpuji. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Kesuma Dharma, Triatna Cepi, & Permana Johar. 2012. Pendidikan Karakter (Kajian Teori dan Praktik di Sekolah). Bandung:PT Remaja Rosdakarya. Sagir, Akhmad. 2014. Pertemuan Sabar dan Syukur dalam Hati. (Online),

(12)

(https://www.researchgate.net/publication/316549340_PERTEMUAN_ SABAR_DAN_SYUKUR_DALAM_HATI), diakses 23 April 2019.

Samani, Muchlas. & Hariyanto 2012. Pendidikan Karakter (Konsep dan Model). Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Suharyono. 2017. Sikap dan Perilaku Wirausahaan. (Online), (http://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/download/422/323), diakses 28 April.

Susanti, Endang. & Kholisoh, Nur. 2018. Konstruksi Makna Kualitas Hidup Sehat.(Online),(http://ojs.stiami.ac.id/index.php/lugas/article/download/1 17/102), diakses 28 April 2019.

Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Syafrida, Lis. 2017. Pendidikan Iman Sebagai Basis Pembangunan Karakter (Suatu Tinjauan Psikologi Pendidikan Islam). (Online),

(http://ap.fip.um.ac.id/wp-content/uploads/2017/12/Lis-Yulianti- Syafrida-Siregar.pdf), diakses 22 April 2019.

Yusuf, Syamsu dan Nurihsan, Juntika. 2008. Teori Kepribadian. Bandung: PT. Remaja Karya.

Referensi

Dokumen terkait

Banyak manfaat yang didapatkan dari pemberian ASI secara eksklusif, akan tetapi praktik pemberian ASI eksklusif masih rendah yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Mahas Esa karena kuasa dan limpahan-Nya kami telah dapat menyelesaikan Laporan Akhir Penelitian Hibah Bersaing dengan judul “Model

sebagaimana dimaksud dalam huruf e, telah dilakukan pembahasan serta dituangkan dalam Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Depok Nomor :

Salah satu bentuk dari kualitas organik adalah dengan adanya label, seperti halnya produk berlabel halal yang dikonsumsi oleh umat muslim yang telah dikeluarkan oleh

Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan lembaran Negara

Tetapi dalam penelitian ini penulis lebih menekankan pada teori sintaksis dalam menganalisis kalimat untuk mengetahui struktur kalimat majemuk dan letak konjungsi.. 2.2.1

dipergunakan dalam pembuatan batu bata merah adalah bahan yang asalnya dari.. tanah porselin yang telah bercampur dengan tepung pasir-kwarsa dan

Media seni batik diharapkan dapat menjadi inspirasi oleh guru-guru di Indonesia sebagai inovasi pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik.. Kata Kunci