MEDIAEFKAGAMA
Sarana komunikasi keluarga besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah MadaVol. 14 | Edisi IV Tahun 2020
Sinergi
Academic Health System
Menghadapi Pandemi COVID -19
Topik Utama
AHS ditengah badai Pandemi COVID-19.
Riset
Peran UGM dalam Pengembangan Vaksin Merah Putih
Tamu Kita
DARI REDAKSI
Academic Health System menjadi kekuatan yang dimiliki FK-KMK UGM dalam menghadapi pandemi COVID-19. Kuartal akhir tahun 2020, Media Efkagama banyak mengupas sinergi jejaring Academic Health System UGM dalam menangani pandemi COVID-19. Ber-bagai kolaborasi antar institusi pendidikan, rumah sakit, maupun pemerintah daerah mampu menciptakan inovasi, perubahan dalam pendidikan, penelitian, pengabdian maupun pelayanan di masa pandemi. Berbagai metode pembelajaran, seperti blended learn-ing, virtual maupun daring dapat berjalan dengan baik, inovasi produk-produk penelitian banyak diluncurkan untuk menangani pandemi COVID-19 yang hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat. Termasuk salah satunya adalah peran UGM dalam mengembang-kan vaksin COVID-19.
Peringatan Hari Kesehatan edisi ini masih seperti edisi-edisi se-belumnya mengangkat topik COVID-19, seperti Semangat Hari Kesehatan Nasional menetralisir polemik penanggulangan COV-ID-19, peringatan hari Osteoporosis di masa COVCOV-ID-19, bagaimana melindungi mata dalam kondisi adaptasi kebiasaan baru. Selain itu juga membahas bagaimana perilaku merokok berdampak pada penderita COVID-19, serta peringatan Hari Dokter Indonesia. Adapula cerita dari alumni menjalankan peran sebagai almamater UGM dalam membangun daerah terpencil. Bagaimana terus kon-sisten dan perkon-sisten dalam menjaga marwah profesi kedokteran dan kesehatan yang disampaikan oleh Guru Besar FK-KMK, serta Guru Besar FK-KMK yang menjadi satu-satunya perwakilan dalam pertemuan Asean University Network – Health Promotion Network 2020. Tidak lupa tamu yang diundang oleh Tim Media Efkagama untuk dimuat dalam edisi 4 tahun 2020, serta topik-topik lain yang tentunya menarik untuk dibagikan.
Selamat membaca..
SUSUNAN
R E D A K S I
P E N G A R A H Dekan P E N A N G G U N G J A W A B Wakil Dekan Bidang Akademik danKemahasiswaan
P I M P I N A N R E D A K S I Suhardjo, Prof.dr., SU,Sp.M(K),
R E D A K T U R JB.Soebroto, dr.Sp.PA(K) Sri Awalia Febriana, dr., Mkes., Sp.KK.
P E N Y U N T I N G Dian Paramitasari, S.Sos Winanti Praptiningsih, S.Ikom
Alamat Redaksi
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM
International Relations Office, Gedung KPTU Jl. Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta, 55281 Kontribusi artikel dari bapak/ibu dapat dikirimkan ke email redaksi.
E D I T O R Gunadi,dr. Ph.D, Sp.BA Nurul Wulansari, ST, M.Sc
Sari Wulandari, SE Supriyati Dr, S.Sos., M.Kes Yayuk Hartriyanti, SKM., M.Kes Yoyo Suhoyo, dr. M.Med.Ed., Ph.D.
D E S A I N G R A F I S Kurnia Widiastuti, SE Reni Rakhmawati, SS Yuyun Yohana, STP F O T O G R A F E R Heru Prasetyo, ST Yupiter Aryo, SS R E P O R T E R Vania Elisya Septiani, S.Kep., Ns PELAKSANA BAGIAN UMUM
Nafingatun Sugeng Hariyanta S I R K U L A S I Purnomo Slamet Riyadi L A Y O U T Yupiter Aryo, SS P. +62 274 560 300 ext 115 HP: +62 811 2573 111 Website: http://fk.ugm.ac.id Email: [email protected]
Tema Media EFKAGAMA edisi ini: Academic Health System (AHS) menghadapi dampak pandemi
COV-ID-19, solusinya diintegrasikan dengan Semangat Peringatan Hari Kesehatan Nasional-HKN.
Pandemi COVID-19 memang virus baru yang berdampak serba sulit menyulitkan multi aspek
khu-susnya di bidang kesehatan-ekonomi-sosial-pendidikan, karena mudah menular, mematikan, dan
sifatnya yang masih sulit diprediksi.
Salah satu orientasi AHS adalah kerjasama antara rumah-rumah sakit pendidikan jejaring untuk
men-dukung program Tridharma FK-KMK UGM.
Dampak COVID-19 memang mempengaruhi proses Tridharma ini, sehingga berakibat mundurnya
mutu dan waktu pendidikan residen dan koas.
Semangat peringatan HKN adalah mengukuhkan pembangunan nasional bidang kesehatan sebagai
tu-lang punggung keseimbangan kesehatan pembangunan di segala bidang yang memang harus dikerjakan
simultan parallel di rentang waktu darurat COVID-19.
Suatu rangkaian pekerjaan yang tidak mudah walaupun resepnya sudah dideklarasikan Bapak
Pre-siden Jokowi beserta Pemerintahannya “Bersatu Bekerjasama Kita Bisa”.
Resep ini akan semakin kuat kalau sekaligus dijiwai kelima sila Pancasila yang telah teruji
powerfull
;
re-sepnya menjadi “Bersatu Bekerjasama Bersama Allah Kita Bisa”.
Segala usaha di dalam ketidakpastian dan serba keterbatasan kita, kita mohonkan penyertaan berkah
kasih kuasa Allah Sang Maha Tak Terbatas.
Salah satu orientasi pelaksanaannya adalah kolaborasi musyawarah lintas sektor apapun dan siapapun
sekaligus menghindari-mencegah polemik kontra produktif di segala bidang.
“Maju Kena Mundur Kena”, namun kita harus sepakat maju melangkah bekerja maksimal ke depan
sambil akseleratif melakukan evaluasi; program utamanya disiplin PROKES, PSBB, Pengadaan Vaksin.
Blessing in disguise
semangat HKN tersebut kita kuatkan dengan peringatan hari-hari penting terkait
yakni Hari Ayah, Hari Ibu, Hari Keluarga, Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, Hari Bakti Dokter.
Last but not least kita kuatkan dengan santapan rohani yang berjudul “Bekerjasama Mengatasi
Kondi-si Buruk Akibat COVID-19” dan Semangat Hari Persatuan Pemuda 28 Oktober, Hari Kepahlawanan 10
November yang InsyaAllah kita yakin memasuki Tahun Baru 2021 dengan Mantap. Bersemangat dan
Maju Terus FK-KMK UGM!
ETOS
DAFTAR
ISI
H A L A M A N0 3
D a r i R e d a k s i
0 4
H A L A M A NM a n g E t o s
0 6
H A L A M A NK a b a r D e k a n a t
1 0
H A L A M A NT o p i k U t a m a
1 8
H A L A M A NO p i n i C i v i t a s
2 0
H A L A M A NT o p i k K h u s u s
3 0
H A L A M A NP e n g a b d i a n
M a s y a r a k a t
3 6
H A L A M A NT a m u K i t a
3 8
H A L A M A NK a b a r A l u m n i
4 6
H A L A M A NI l m i a h
P o p u l e r
5 0
H A L A M A NL a i n - l a i n
10
36
42
5 8
H A L A M A NS a n t a p a n
R o h a n i
4 2
H A L A M A NR i s e t
KABAR
DEKANAT
yang riil dan fokus pada masalah mitiga-si COVID-19, jejaring AHS, HPU adalah investasi yang sangat berharga.
Pandemi ini belum berhenti, namun kita semakin percaya dan meyakini bahwa kita diberi akal dan daya upaya untuk melewati masa ujian dengan meng-hasilkan banyak kebaruan dalam tata kelola, dan tata kerja kita dalam kehidu-pan sehari-hari. Salam sehat dan tetap semangat.
Prof. dr. Gandes Retno Rahayu,
M.Med.Ed., Ph.D. (Wakil Dekan
Bidang Akademik dan
Kemaha-siswaan)
‘Safety’ menjadi patokan utama kita yang kemudian diikuti dengan adapta-si. Adaptasi sesuai kebutuhan peserta didik prodi S1, profesi, pascasarjana, PPDS maupun subspesialis, dan ber-jenjang sesuai kompetensi tahun studi. Tidak semua pembelajaran bisa dilak-sanakan daring, ada blended learning
Pandemi ini belum berhenti, namun kita
se-makin percaya dan meyakini bahwa kita diberi
akal dan daya upaya untuk melewati masa
ujian dengan menghasilkan banyak kebaruan
dalam tata kelola, dan tata kerja kita dalam
kehidupan sehari-hari.
F O T O :
D E K A N A T F K - K M K U G M
Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,
Ph.D., SpOG(K). (Dekan)
Tahun kembar 2020 bisa disebut tahun istimewa. Tahun yang memberikan uji-an bagi umat muji-anusia, tetapi sekaligus juga memberikan peluang bagi manusia untuk merefleksikan perikehidupan se-lama ini. Kinerja FK-KMK ternyata justru meningkat dengan terlaksananya ber-bagai target kinerja yang bahkan me-lebihi perencanaan sebelumnya. Bisa dicatat bahwa percepatan penggunaan TI dalam pembelajaran terjadi selama masa pandemi ini, peningkatan ke-mampuan staf dan tenaga kependidikan dalam mengelola TI sungguh luar biasa, mungkin sulit dicapai dalam kondisi bi-asa. Kinerja penelitian juga melejit den-gan memperkuat kerja sama lintas disi-plin dan lintas institusi. Berbagai inovasi yang dihilirkan lahir pada masa sulit ini. Belum lagi dengan adanya kolaborasi
untuk beberapa skills (clinical skills, OSCE comprehensive, praktikum, rotasi klinik/ners/dietisie, residensi). Ketika harus luring maka melalui penerapan ketat protokol kesehatan, dimulai dari isolasi mandiri bagi peserta didik seti-banya di Jogja, penyesuaian fasilitas pembelajaran, pembatasan jumlah pe-serta didik dalam satu ruang, pemada-tan waktu hingga modifikasi program pembelajaran. Kita melakukan penghi-tungan, mapping sehingga terdata per hari siapa saja yang berkegiatan luring, berapa orang, di gedung apa, ruang dan lantai mana saja. Ada evaluasi dan koor-dinasi termasuk terbitnya SK Bersama FK-KMK dengan RSS sebagai dasar kita melakukan penyesuaian-penyesuaian pembelajaran klinis dengan segala
dina-mikanya. Satu waktu kita mengirimkan peserta didik ke RS jejaring, kemudian kita tarik lagi begitu kondisi tidak me-mungkinkan, ada tarik ulur. Ada juga fase di mana kita hanya menggunakan RS di dalam Jogja.
Proses-proses lain day-to-day tetap ber-jalan daring maupun blended. Akredi-tasi untuk 4 sub-spesialis baru (IPD, Obsgin, IKA sudah terlaksana, tinggal anestesi yang belum) dan re-akreditasi prodi S2 (IPK, Tropmed, Biomedis, IKK). PPSMB, konseling mahasiswa, kegiatan kemahasiswaan yang sangat banyak ragamnya berjalan daring termasuk ke-juaraan terakhir yang cukup membang-gakan PIMNAS dengan kita berkontri-busi medali paling banyak, tertinggi di
UGM, di luar kejuaraan nasional dan internasional lain yang kita menang-kan. Pun CFHC dengan tantangan yang tidak gampang ke keluarga mitra dalam penerapan praktikum lapangan daring. Summer course menjadi online sum-mer pertama kita yang cukup berhasil dengan modul yang dikemas khusus. Ada apresiasi dari pihak luar terhadap pelaksanaan online ini yang kita terus-kan di winter course Januari 2021. Kita juga menyediakan beberapa alternatif pengganti program exchange student karena secara fisik masih belum diizin-kan ke LN.
Kemampuan adaptif harus dimiliki baik oleh personal orang per orang (maha-siswa, dosen, tendik) maupun oleh
in-stitusi fakultas. Kondisi pandemi covid menjadi tantangan untuk kita berpikir secara berbeda (out of the box) dengan tetap mengakomodasi kebutuhan dar-ing dan lurdar-ing yang menerapkan pro-tokol kesehatan. Kita tidak bisa memak-sakan semua harus daring, ada proses learning from each-others. Pada titik tertentu semua dapat ‘menerima pe-rubahan’ adaptasi penyesuaian, belum terjadi sekarang tapi nanti karena pros-es orang belajar itu speed-nya lain-lain. Pandemi ini juga merupakan berkah (amat sangat berkah). Program tero-bosan yang sudah kita rintis jauh sebe-lum pandemi, misal hibah pemanfaatan TI untuk media ajar, bisa diterapkan saat ini. Melalui booklet hasil hibah
2017-2019, kita bisa melihat produk-produk apa saja yang dapat dipakai, se-bagai contoh Artificial Intelligent yang digunaan dalam pembelajaran anatomi. Mindset pemanfaatan TI sudah ada se-jak dulu, bagaimana kita harus punya materi pembelajaran yang mahasiswa bisa akses kapan pun di waktu senggang baik sebagai materi inti ataupun pen-dukung. Jadi tiap departemen dan prodi harus punya produk learning process. Pada hibah 2020-2021 akan kita ting-katkan termasuk keharusan ada kerja sama dengan mitra. Harapannya hibah pemanfaatan TI dapat menghasilkan produk-produk pembelajaran 3-4 kali lipat lebih banyak. Kita ingin mengger-akkan sampai pelaksanaan kuliah-kuliah di FK-KMK juga blended dengan dukun-gan fasilitas streaming di setiap ruang kuliah. Jadi nanti bertahap ketika sudah pada kondisi mahasiswa bisa datang ke kampus, katakanlah satu angkatan 250 orang, tidak harus semuanya masuk kelas yang lain bisa sambil tiduran di rumah mengikuti kuliah streaming. Mahasiswa bisa mendaftar, first-come-first-serve basis, lebih fleksibel mem-berikan pilihan-pilihan yang nanti bisa dievaluasi.
Masing-masing bidang punya tantan-gan, tapi saya sangat senang bekerja sama dengan tim yang satu visi. Kedok-teran memiliki tantangan yang masih besar dalam mendesain learning pro-cess, upaya kita ke arah sana sudah di jalur yang benar meskipun bertahap karena uang terbatas dan itu pun harus dialokasikan untuk banyak pos. Kita tidak bisa melakukan secara revolu-sioner, dalam hukum pandemi, safety first tidak hanya dosen tapi juga keluar-ganya, “ga mungkin orang yang ga safe harus diminta mengajar”. Masih ban-yak yang harus kita kerjakan, kita ting-katkan, utamanya sumber daya, mesin uang (sarana-prasarana) dan mesin
SDM (dosen dan tendik).
Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes,
Sp.MK. (Wakil Dekan Bidang
Keuangan, Aset dan Sumber Daya)
Pencapaian visi misi FK KMK UGM mem-butuhkan dukungan sumberdaya manu-sia, sarana prasarana, keuangan serta teknologi informasi.
Mengingat pentingnya SDM yang berkualitas, maka teroboson pada ta-hun 2020 ini meliputi implementasi penilaian angka kredit online, pening-katan frekuensi konsultasi klinik kenai-kan pangkat, roadshow ke departemen serta pelatihan untuk peningkatan kin-erja dosen dan tendik. Kegiatan terse-but menghasilkan penambahan jum-lah guru besar dan lektor kepala serta dosen yang berpendidikan S3. Selain itu beberapa dosen mendapatkan penghar-gaan di tingkat nasional maupun inter-nasional. Pun halnya tenaga kependidi-kan memperoleh penghargaan di tingkat universitas. Monitoring mandat capaian kinerja dan indikator kinerja utama dari Kemendikbud dilakukan dengan monev triwulan pada unit kerja departemen, program studi dan pusat kajian. Hasil monitoring disampaikan dalam dashboard capaian kinerja yang semakin hari capaiannya semakin baik. Situasi pandemik tidak menyurutkan se-mangat FK-KMK UGM menjalankan keg-iatan tridharma. Fakultas telah melang-gan zoom untuk memfasilitasi kegiatan tridharma secara daring. Selain itu, di-lakukan pengadaan alat teknologi infor-masi dan pengembangan 5-unit layanan (TI, IRO, InaHealth, Kanal Pengetahuan, LERES-Learning Resource and Innova-tion Development Unit) yang bertugas mengembangkan dan melaksanakan sistem informasi serta mendiseminasi
pengetahuan baik internal dan ekster-nal maupun masyarakat luas. Kebutu-han informasi terkait referensi ilmiah dipenuhi melalui layanan perpustakaan dengan melanggan beberapa database dan optimalisasi layanan digital. Aspek keselamatan, kesehatan, kemu-dahan dan kenyamanan bekerja di ling-kungan FK-KMK UGM dipastikan dengan survei layak fungsi pada gedung KPTU, Radiopoetro dan Mikrobiologi. Tata ruang telah disesuaikan mengacu pro-tokol kesehatan era new normal dengan dukungan tenaga sarpras yang telah dilatih dan disiapkan untuk menjalan-kan tugas sesuai prosedur. FK-KMK juga memberikan dukungan spiritual di ling-kungan kerja, salah satunya melalui ren-ovasi Masjid Ibnu Sina. Terkait dengan pandemi covid, telah dilakukan fasilitasi skrining bagi yang kontak erat, dukun-gan moril bagi yang terinfeksi covid, ser-ta bantuan alat pelindung diri maupun extra feeding bagi tim yang bertugas. Semua kegiatan tersebut tentunya didukung dengan sistem keuangan yang memadai dan dapat dipertanggung-jawabkan yang ditunjukan dari hasil audit internal maupun eksternal tanpa adanya temuan.
dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc.,
Ph.D., FRSPH (Wakil Dekan Bidang
Penelitian dan Pengembangan)
Tahun 2020 merupakan tahun yang luar biasa bagi penelitian dan pengemban-gan di FK-KMK UGM. Di satu sisi pan-demi COVID-19 menimbulkan banyak kendala dalam pelaksanaan penelitian karena berimbas pada pembatasan ak-tifitas di lab, faskes maupun di komu-nitas, serta realokasi pendanaan dan sumber daya penelitian untuk men-dukung respon pandemi. Di sisi lain
COVID-19 juga membawa banyak pelu-ang peningkatan capaian penelitian dan pengembangan, sebagaimana terlihat dari meningkatnya jumlah publikasi in-ternasional bereputasi dan inovasi yang terhilirisasi dari civitas FK-KMK UGM di masa pandemi.
Pembelajaran dari masa pandemi ini dari sisi penelitian dan pengembangan menggarisbawahi semakin pentingnya penelitian-penelitian translasional un-tuk dapat menghasilkan solusi-solusi yang dapat diterapkan baik di di faskes maupun komunitas. Masa pandemi ini juga menekankan semakin dibutuhkan-nya pendekan-pendekatan transdisiplin untuk mengatasi masalah-masalah kes-ehatan yang kompleks dan multidimen-sional.
Inovasi-inovasi yang telah dihasilkan selama ini juga menggarisbawahi peran penting integrasi antara FK-KMK den-gan Rumah Sakit jejaring untuk mem-percepat penelitian translasional dan transdisiplin. Dengan demikian supaya lebih mampu untuk menjawab masalah-masalah kesehatan global yang semakin kompleks, ke depan FK-KMK UGM perlu semakin memperkuat kapasitas untuk penelitian translasional dan transdisip-lin AHS UGM.
dr. Mei Neni Sitaresmi, M.Sc.,
Ph.D., SpA(K). (Wakil Dekan Bidang
Kerja Sama, Alumni dan
Pengabdi-an Masyarakat)
Pandemi COVID-19 selain memberikan tantangan tetapi juga memberikan pe-luang untuk melakukan berbagai adap-tasi dan inovasi dalam berbagai bidang. Pandemi ini juga membuktikan perlunya komunikasi, koordinasi dan kerja sama yang baik di antara anggota AHS UGM
maupun dengan berbagai pemangku kepentingan baik pemerintah maupun non pemerintah, termasuk alumni. Dengan adanya penguatan kerja sama dan sinergi di antara anggota AHS ter-jadi akselerasi pencapaian berbagai tar-get dan inovasi.
Sejak Pandemi COVID-19 dinyatakan sebagai bencana nasional pada Maret 2020, FK-KMK telah merespon dengan membentuk satgas COVID-19 tingkat fakultas, maupun menginisiasi pemben-tukan Satgas COVID-19 UGM serta Sat-gas bersama FK-KMK UGM dengan RSUP DR Sardjito. Peran Satgas COVID-19 san-gat penting terutama di saat awal pan-demi, di mana banyak pihak yang belum siap menghadapi pandemi ini serta in-formasi dan pengetahuan terkait COV-ID-19 sangat dinamis. Satgas COVCOV-ID-19 telah melakukan komunikasi dan koor-dinasi secara rutin, baik di lingkungan internal FK-KMK, universitas maupun antar anggota AHS melalui forum ko-munikasi (FORKOM) AHS supaya semua kegiatan dalam mengatasi pandemi ber-jalan secara sinergi, efektif dan efisien. Dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, FK-KMK telah berperan aktif dalam melakukan diseminasi infor-masi, edukasi publik maupun advokasi kebijakan terkait COVID-19. Berbagai diskusi/ seminar ilmiah secara daring dilakukan misalnya melalui Cochrane Center Indonesia dan Forum Manaje-men COVID-19. Peran tim Health Pro-moting University (HPU) dan InaHealth sangat penting dalam memberikan in-formasi kesehatan yang cepat, benar dan akurat. Jurnal pengabdian kepada masyarakat milik FK-KMK, Journal of Community Empowerment for Health (JCOEMPH), pada tahun 2020 telah ter-akreditasi SINTA 3, telah menerbitkan edisi khusus tentang COVID-19. Buku saku “Desa Tangguh COVID-19” yang
dibuat oleh Pusat Kedokteran Tropis FK-KMK telah dialihbahasakan dalam berbagai bahasa daerah.
Pandemi ini mendorong timbulnya solidaritas dari berbagai pihak, mitra dalam negeri maupun luar negeri, ter-masuk alumni. FK-KMK dalam kerang-ka AHS UGM bersama Kagamadok telah menyelenggarakan konser amal “Meridian, Medical Charity Night” untuk menggalang donasi bantuan APD. Pandemi ini membuktikan sin-ergi, koordinasi dan kolaborasi antar anggota AHS UGM mapun dengan pihak luar menjadi kunci ketahanan dan “survive” menghadapi pandemi COVID-19.
TOPIK UTAMA
Pandemi COVID-19 mampu mengubah banyak hal. Namun, tidak jarang kondisi ini justru menjadi tantangan baru atau kesempatan untuk berubah dan berkembang. Secara organisasi, AHS UGM terdiri dari institusi pendidi-kan, rumah sakit, maupun praktisi atau pemerintah daerah. Masing-masing institusi memegang peran penting satu sama lain, terutama dalam menghadapi kondisi pandemi ini.
Pembentukan Satgas COVID-19 men-jadi langkah pertama FK-KMK UGM dalam menghadapi kondisi pan-demi COVID-19. Yang pada akhirnya, langkah tersebut menginisiasi UGM untuk membentuk satgas COVID-19 di tingkat universitas, dan rumah sakit juga memiliki satgas tersendiri. Adanya keterkatian peran dan fungsi yang bersinggungan antar institusi yang tergabung dalam AHS UGM pada akh-irnya memunculkan pemikiran bersama perlunya pembentukan satgas bersama dengan RSUP Dr. Sardjito.
Kompetensi dan Safety
FK-KMK UGM tergolong memiliki sisi ‘keunikan’ dalam hal penyelenggaraan pendidikan. Bahwa tidak semua pen-didikan bisa dijalankan secara daring, karena adanya program pendidikan profesi seperti Ners, Dietisien, Dokter Muda, maupun Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Selain itu, kes-iapan SDM juga perlu untuk diperhati-kan dalam menghadapi perubahan. Ketua II AHS UGM, yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Alumni dan Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD., SpA(K), Senin (28/12) menegas-kan adanya dua hal penting dalam pen-didikan profesi yang harus diperhatikan di masa pandemi. Pertama, pencapaian kompetensi di masa pandemi merupa-kan sesuatu yang tidak mudah. Kedua, keamanan bagi peserta didik, dosen, serta pasien.
“Di awal masa pandemi, untuk mengu-rangi transmisi, semua proses penu-gasan ke rumah sakit jejaring di luar DIY pernah berhenti. Saat itu FK-KMK UGM hanya menugaskan ke RSUP Dr. Sardjito, namun hal tersebut tidak
Kolaborasi menjadi hal
penting. Inilah yang
men-jadi penegasan dr. Mei Neni
sebagai poin pembelajaran
di masa pandemi, pertama,
kolaborasi yang menguatkan.
AHS di Tengah Badai
Pandemi
mungkin juga karena rumah sakit ini memiliki level kompetensi A, bukan untuk dokter muda,” kenang dr. Mei. Di tambah lagi dengan penurunan jumlah pasien yang sangat drastis akibat ketakutan pasien berobat ke rumah sakit, dan fokus SDM pada keterbatasan APD menambah panjang deretan catatan penyelenggaraan pen-didikan di masa pandemi.
“Pada akhirnya ada inovasi program studi, bahwa kegiatan yang bisa diselenggarakan secara daring akan didaringkan. Dan kami menindaklanjuti dengan pembuatan panduan yang ter-wujud dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang pembelajaran klinik di masa pandemi COVID-19 yang ditan-datangani oleh Dekan FK-KMK UGM dan Direktur RSUP Dr. Sardjito. SKB ini diberlakukan di beberapa rumah sakit jejaring AHS UG,” papar dr. Mei. Beragam kesepakatan yang tertuang dalam SKB tersebut di antaranya ada-lah: pertama, kesepakatan penugasan dokter muda maupun residen di DIY. Kedua, setiap mahasiswa yang masuk
ke DIY harus melakuan isolasi man-diri namun tidak perlu swab. Ketiga, adanya prasyarat rumah sakit yang akan menerima peserta didik termasuk kesiapan protokol kesehatan di era adaptasi baru. Keempat, memiliki zo-nasi yang jelas.
“Memulai penugasan peserta didik dengan protokol ketat itu tidak mudah. Ada SKB, forkom setiap 2 bulan sekali, pengadaan surat keterangan sehat, kesiapan pemenuhan APD, termasuk pembagian tanggung jawab jika ada peserta didik yang kena tracing positif harus jelas,” ungkap dr. Mei.
Bahkan dokter Mei juga menambah-kan jika dalam perkembangan awal, layanan diagnostik di bawah koordinasi Pemda DIY/BPPTKL ini tidak hanya melayani DIY dan juga Jateng. Namun karena perkembangan kasus DIY sudah melebihi batas akhirnya pelayanan untuk jateng dihentikan. “Pandemi memang kompleks, namun kami tetap melakukan inisiasi, koordinasi dan diskusi dengan anggota jejaring AHS UGM,” tegasnya. K o n f e r e n s i P e r s S k r i -n i -n g C O V I D - 1 9 u -n t u k t e n a g a p u s k e s m a s d a n k o m u n i t a s d i K a b u p a t e n S l e m a n m e n g -g u n a k a n R D T R I - G H A C O V I D - 1 9 D O K U M E N T A S I : H U M A S F K - K M K U G M f o t o
Kolaborasi, Jalan Inovasi
Pandemi COVID-19 setidaknya men-jadikan rumah sakit memahami bahwa penelitian menjadi salah satu misi institusi. Bahkan, melalui pandemi juga membuktikan bahwa kolaborasi antar institusi dalam kerangka AHS menjadi hal penting bagi kemajuan inovasi. “Banyak inovasi yang muncul, seperti Genose. Bahwa kolaborasi tidak hanya dari FK-KMK UGM, namun bisa juga berkolaborasi dengan fakultas lain. Untuk menguji teknologi kami memer-lukan ruang yang tepat, oleh karenanya alat tersebut diujicobakan di rumah sakit seperti RSA UGM, RS Bhayangka-ra. Bahkan inovasi ventilator, maupun pengembangan rapid test menjadi salah satu bagian dari rangkaian inovasi yang diluncurkan bersama,” terang dr. Mei.
Kebutuhan pengembangan SDM juga menjadi perhatian dalam forum AHS UGM. Di beberapa forum komuni-kasi, bahkan, terdapat usulan untuk pengadaan workshop pengembangan SDM. Hal tersebut direspon kemudian
TOPIK UTAMA
dengan pembukaan kelas khusus dalam penulisan manuskrip, yang bisa diikuti oleh SDM dari rumah sakit jejaring AHS UGM.Bidang pengabdian juga tidak kalah cepat dalam berinovasi. Seperti pembentukan call center, tim skrining, penyusunan buku siaga COVID-19, HPU maupun penguatan media informasi inahealth berhasil diwujudkan di masa pandemi COVID-19. Selain itu, AHS UGM selalu mendiskusikan isu-isu yang memang muncul dari lingkungan sekitar. Sedangkan untuk kegiatan pelayanan, peran FK-KMK UGM dan RSUP Dr. Sardjito terkait penelitian dan pelayanan tidak terpisahkan. Bahkan, FK-KMK UGM mengikuti kegiatan solidaritas, seperti halnya di forum ‘Sonjo’. “Termasuk dalam hal pelay-anan kesehatan untuk COVID-19 ini AHS berfokus pada healthy aging, KIA,
dan COVID-19,” tegas dr. Mei.
Belajar dari Pandemi
Kolaborasi menjadi hal penting. Inilah yang menjadi penegasan dr. Mei Neni sebagai poin pembelajaran di masa pandemi, pertama, kolaborasi yang menguatkan. “AHS UGM ini memiliki bentuk kolaborasi dengan kesamaan visi misi, menghadapi masalah yang sama, dan mencari solusi dengan kerja bersama-sama. Kerekatan inilah yang membuat AHS UGM bisa saling men-guatkan,” imbuhnya.
Bahkan untuk meningkatkan kolaborasi internal dan eksternal, AHS UGM saat ini sedang mengupayakan pengemban-gan situs web. “Kita perlu belajar risk communication, bagaimaan mengelola komunikasi publik yang baik, meramu informasi, berbasis data, melakukan
analisis data, hingga mengembang-kan big data,” tegas dr. Mei.
Kedua, kesiapan dalam segala bentuk kondisi bencana memegang peran penting untuk menghadapi ben-cana fisik maupun non fisik seperti pandemi COVID-19. Dokter Mei Neni dalam hal ini juga memberikan gambaran contoh penyusunan grand desain mitigasi bencana yang telah terbentuk terdahulu. Bahkan, beliau juga menambahkan bahwa rumah sakit telah memiliki hospital dis-aster planning, dan justru univer-sitas atau fakultas belum memiliki disaster planning. “Namun kami masih beruntng memiliki tim ben-cana yang memandu dalam kondisi darurat, seperti pembuatan satgas, tim tersebut menjadi komandonya,” ungkapnya.
Menyatukan Keunggulan
di Masa Pandemi
Academic Health System (AHS) UGM mampu menyatukan keunggulan masing –masing rumah sakit. Kalimat ini diung-kapkan Ketua I AHS UGM, Prof. dr. Budi Mulyono, SpPK(K)., MM., Selasa (15/12) saat diwawancarai secara daring. “Sin-ergi yang kita (AHS UGM) hasilkan bahkan bisa melebihi dari keunggulan yang mereka miliki. Karena kita bisa menyatukan keunggulan dan menopang satu sama lain. Seperti halnya pelayanan pasien dengan kasus sulit bisa dikonsultasikan di rumah sakit,” terangnya.
Memang fakultas menggiatkan penelitian dan inovasi, na-mun rumah sakit bisa menjadi lahan pengaplikasian segala inovasi tersebut. Demikian Prof. Budi Mulyono menam-bahkan. “Seperti Genose itu di rumah sakit mungkin tidak pernah terpikirkan. Ternyata dari fakultas Kedokteran dan MIPA bisa membuat, harapannya, apa yang sudah dikerjakan bisa diaplikasikan di rumah sakit,” imbuhnya.
Gerakan Perubahan
Pandemi ‘memaksa’ semua pihak untuk mengedepankan kegiatan daring. Prof. Budi Mulyono mengakui bahwa hal ini dulu tidak pernah terpikirkan. Kalaupun kegiatan daring di-lakukan, itu terlebih sebagai kegiatan tambahan saja. Namun tidak di masa pandemi. Kuliah, konsultasi, praktikum, bahkan ujian dimungkinkan secara daring.
“Dengan adanya pandemi ini, kita harus menghindari keg-iatan tatap muka. Mekanisme daring menjadi luar biasa. Dengan unsur keterpaksaan justru kita menjadi bisa. Di mana
pemanfaatan media daring benar-benar bisa dimaksimalkan. Dalam masa ini, teknologi informasi sangat berpengaruh sekali.,” papar Prof. Budi Mulyono.
Seperti halnya saat mahasiswa melakukan konsultasi secara daring, mereka memfoto pembacaan kasus ataupun foto mikroskop untuk dikonsultasikan. Bahkan untuk diskusi kasus secara daring cukup dihadiri oleh 5 orang. Tinjauan kasus tetap dilakukan di masa pandemi, karena untuk pendidikan dokter spesialis (residen) pengayaan kasus merupakan hal yang sangat penting.
“Memang dalam kondisi pandemi ini mana yang memung-kinkan dilakukan secara daring akan didaringkan. Jika tidak mungkin, tetap dilakukan secara luring namun dengan me-matuhi protokol kesehatan. Seperti jika terpaksa harus meli-hat pasien maka hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, karena adanya pembatasan pertemuan luring,” tambahnya. Sedangkan untuk penelitian, Prof. Budi Mulyono menyata-kan bahwa mahasiswa bisa melakumenyata-kan analisis systematic review. Hal ini karena selama masa pandemi ini, mahasiswa tidak langsung berhubungan dengan pasien secara langsung (hands on). “Keterbatasan penelitian ini terjadi di masa pandemi. Jika dahulu mahasiswa bisa keliling rumah sakit, sekarang tidak bisa. Kuesioner dikirim dan dijawab secara daring, kemudian dianalisis,” tegasnya.
Di penghujung wawancara, Prof. Budi Mulyono berharap agar AHS UGM tidak letih untuk senantiasa berinovasi, memper-baiki kekurangan yang ada, memonitoring evaluasi dan men-jalankannya dengan ketat, saat menghadapi kondisi bencana. (Penulis: Winanti Praptiningsih. Editor: Sri Awalia Febriana)
TOPIK UTAMA
AHS UGM bukan hanya rumah sakit aupun
institusi pendidikan saja, namun ada juga
keterlibatan Pemda yakni Dinkes.
Sebagai salah satu rumah sakit anggota jejaring AHS,
Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM mengakui adanya
manfaat yang baik dalam pengembangan rumah sakit
terutama saat menghadapi pandemi COVID-19.
Keg-iatan pendidikan, penelitian, maupun pengabdian
masyarakat menjadi satu kesatuan proses keterlibatan
RSA UGM dalam jejaring AHS UGM.
AHS UGM senantiasa berupaya mengkoordinasikan
kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di Rumah Sakit
Jejaring. Di mana RSUP Dr. Sardjito sebagai RS
Pendidi-kan Utama berperan penting untuk mengkoordinasiPendidi-kan
dalam hal distribusi peserta didik melalui Komkordik.
“AHS UGM memiliki forum komunikasi bulanan yang
membahas perubahan proses pendidikan menghadapi
pandemi COVID-19. Artinya bahwa ada pembatasan
kegiatan tatap muka yang memunculkan masalah baru
yang harus dibahas seperti penyediaan dan penggunaan
APD, pembatasan jumlah kuota peserta didik di rumah
sakit, keamanan proses pendidikan, hingga pencapaian
kompetensi,” ungkap Direktur Utama RSA UGM, dr.
Ar-ief Budiyanto, PhD., Sp.KK(K), saat diwawancarai secara
daring, Jumat (18/12).
Sedangkan untuk kegiatan penelitian, dr. Arief
menya-takan bangga karena anggota AHS UGM terlibat dalam
penelitian bersama dengan publikasi menggunakan
nama AHS UGM. Selain itu, FK-KMK UGM juga telah
memberikan hibah pendanaan penelitian bagi Rumah
Sakit Jejaring. COVID-19 menjadi topik penelitian yang
banyak dikaji di masa pandemi ini.
Pasang surutnya kondisi pandemi COVID-19 di DIY
men-RSA UGM dalam
Sinergi AHS
dorong AHS UGM untuk senantiasa mengkoordinasikan
pelayanan. “Di masa pandemi ini rumah sakit sejatinya
garda belakang yang merawat pasien dengan gejala.
Garda depan justru masyarakat yang harus mematuhi
protokok kesehatan. Namun ini banyak yang
mengabai-kan. Pada akhirnya AHS UGM bersinergi dengan Satgas
COVID-19 membuat media edukasi untuk menggugah
kesadaran masyarakat,” papar dr. Arief.
Harapan di Tengah Bencana
Indonesia menjadi wilayah rawan bencana. Tidak
han-ya bencana alam, bencana non alam seperti pandemi
COVID-19 cukup memberikan terpaan kuat bagi negeri
Indonesia. “Sudah saatnya manajemen bencana non
alam bisa membentuk koordinasi satu pintu atau tidak
berjalan sendiri-sendiri. Ini juga membuka
kemung-kinan AHS UGM untuk bersinerg idengan pemerintah
daerah,” ungkap dr. Arief.
Seperti halnya manajemen bencana alam yang sudah
memiliki Incident Command System (ICS) yang sangat
bagus baik struktur maupun pelaksanaannya.
Sedang-kan untuk ICS masalah pandemi maupun penyakit
men-ular ini, menurut dr. Arief harus selalu dievaluasi dan
diperbaiki secara terus menerus.
“AHS UGM bukan hanya rumah sakit aupun institusi
pendidikan saja, namun ada juga keterlibatan Pemda
yakni Dinkes. Jika kita berkembang dan terlibat
bersa-ma-sama, saat terjadi bencana non alam lainnya kita
sudah siap. Kita bisa belajar dari pandemi ini,”
pung-kasnya.
(Penulis: Winanti Praptiningsih. Editor: Sri Awalia Febriana)
D i r e k t u r U t a m a R S A U G M
Sampai dengan bulan Desember 2020, RSUP Dr.
Sard-jito telah menampung 3.600 peserta didik. Dari FK-KMK
UGM sekitar 1800 peserta didik yang terdiri mahasiswa
PPDS, dokter muda, dietisien, maupun keperawatan.
Setiap tahun terjadi mutasi 3600 peserta didik per
tahun. Hal ini dipaparkan Kepala Komkordik RSUP Dr.
Sardjito, dr. Bambang Purwanto Utomo, Sp.Rad(K).,
M.Med.Ed., Kamis (24/12).
Seiring dengan perkembangan pemerataan kasus
COV-ID-19 secara nasional, proses pendidikan pun berlaku
sistem zonasi. Bahwa untuk wilayah dengan zona
me-rah tidak boleh melakukan proses pendidikan. “Saat
itu kami harus memanggil peserta didik yang ada di RS
Jejaring pendidikan baik di DIY maupun luar DIY
bah-kan luar Jawa. Bahbah-kan, di RSUP Dr. Sardjito sendiri pun
kami mengurangi jumlah populasi sepertiga dari jumlah
peserta didik. Ada peserta didik yang sementara kami
kembalikan ke institusi pendidikan, seperti Dietisien
kami kembalikan terlebih dahulu,” ungkap dr. Bambang.
Pada bulan Mei 2020, AHS UGM mengeluarkan Surat
Keputusan Bersama (SKB) yang berisi mengenai
pro-tokol pelaksanaan pendidikan peserta didik di RS
Je-jaring selama masa pandemi. “Sesudah SKB terbit dan
disosialisasikan dengan rumah sakit, dalam
perjalanan-nya diketahui bahwa setiap wilayah kabupaten
memi-liki kebijakan yang mensyaratkan isolasi mandiri 14 hari
sebelum masuk rumah sakit,” imbuh dr. Bambang.
Adaptasi Penugasan Baru Mahasiswa Profesi
Merespon hal tersebut, Komkordik mengakui juga
mel-akukan penyesuaian rilis terbaru WHO yang
mencantu-mkan persyaratan untuk melakukan rapid tes.
Berkaitan dengan proses pendidikan, Rumah Sakit
Je-jaring selama pandemi COVID-19 ini juga diharapkan
mampu mengupayakan proses pembelajaran di era
COVID. “Jika itu belum bisa diwujudkan maka peserta
didik tidak akan kami tugaskan terlebih dahulu,” tegas
dr. Bambang.
Dokter Bambang juga menegaskan bahwa
keseraga-man RS Jejaring dalam pengelolaan peserta didik di era
adaptasi baru penting untuk dilakukan. “Bagaimanapun
kondisi pandemi COVID-19 ini justru mampu membuka
wawasan kita semua tentang pendidikan PPDS, terkait
pemenuhan fasilitas, model pembelajaran, bahkan
pencapaian kompetensi,” pungkasnya.
(Penulis: Winanti Praptiningsih. Editor: Sri Awalia Febriana)
(Foto Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif)
f o t o : d r . B a m b a n g P u r w a n t o U t o m o , S p . R a d ( K ) . , M . M e d . E d
TOPIK UTAMA
Keberanian untuk berjuang di masa pandemi agar mencapai
kompetensi pembelajaran yang diharapkan menjadi poin
penting yang ditegaskan Letkol Suud untuk memotivasi
ma-hasiswa.
Sejak ditetapkan sebagai salah satu ru-mah sakit rujukan besar untuk pasien COVID-19 di Yogyakarta sejak Maret 2020, RSPAU Hardjolukito sudah ber-siap. Tidak tanggung-tanggung, demi mengemban amanah dari TNI, Kepala Staf Angkatan Udara, Kepala Dinas Kes-ehatan dan Gubernur DIY untuk mem-bantu menangani pandemi, Gedung C RSPAU Hardjolukito difokuskan menjadi ruang rawat inap pasien COVID-19. Mu-lai dari kapasitas 78 tempat tidur kemu-dian berkembang menjadi 105 tempat tidur, 78 ruang bertekanan negatif, 24 ruang non tekanan negatif serta 3 ICU, menjadi bentuk keseriusan RSPAU Hard-jolukito mempersiapkan pelayanan kes-ehatan yang berkualitas untuk pasien COVID-19.
Segala kematangan persiapan telah di-lakukan, namun tidak bisa dipungkiri bahwa kekurangan tenaga medis masih cukup dirasakan RSPAU Hardjolukito. Tidak jarang, dokter jaga IGD harus mer-angkap sebagai dokter jaga IGD untuk pasien COVID-19. Dalam keterbatasan yang dirasakan, komunikasi menjadi
RSPAU Hardjolukito:
Waspada dan Berani Hadapi
Pandemi
faktor kunci pelaksanaan pelayanan pasien di masa pandemi.
“Semua pasien yang dirawat akhir-akhir ini di RSPAU Hardjolukito cenderung menunjukkan gejala sedang hingga be-rat. Nah, tenaga yang ada dalam lay-anan itu tidak terlalu signifikan untuk bertambah. Sudah ada 12 relawan yang mulai bekerja sejak pertengahan bu-lan kemarin juga belum cukup mampu mem-back up penerimaan rujukan dari rumah sakit tipe B,” kisah Kepala Keper-awatan RSPAU Hardjolukito, Letkol Kes Sai Suud saat diwawancarai secara dar-ing Senin (21/12).
Pendidikan Harus Sehat
“Pendidikan harus tetap jalan, hanya saja dalam pelaksanaan penerimaan peserta didik klinis, mahasiswa harus benar-benar dipastikan dalam kondisi sehat yakni tidak panas, sesak napas maupun demam. Selain itu ruangan juga harus dipastikan sehat. Kalaupun ada gejala kami langsung mengambil tindakan dengan memeriksa apakah ada COVID-19 atau tidak,” ungkap Let-kol Suud.
Letkol Suud juga menambahkan, ke-disiplinan mengenakan baju kerja den-gan tepat dan benar menjadi fokus utama. Bahwa mahasiswa saat sudah tiba di ruang kerja RSPAU Hardjolukito harus berganti baju kerja dan APD un-tuk mencegah adanya kontaminasi dari luar. Begitu pula sebaliknya, saat sudah selesai bekerja di RSPAU Hardjolukito, mereka juga harus bergegas berganti baju.
Hal ini juga ditegaskan oleh dr. Budi Pranowo, SpA., Senin (21/12) bahwa dalam proses pendidikan klinis, ma-hasiswa wajib mematuhi protokol kes-ehatan dengan ketat baik sebelum ikut serta dalam kegiatan poliklinik, bangsal, maupun penelitian di RSPAU Hardjoluki-to. “Kami pun terlibat sebagai salah satu rumah sakit di Jogja dalam ujicoba penelitian Genose,” imbuhnya.
Selain itu, dalam situasi pandemi COV-ID-19 ini, RSPAU Hardjolukito juga me-nerapkan penyesuaian jumlah peneri-maan mahasiswa rotasi klinik (koas) dan penyesuaian proses pendidikan. “Den-gan situasi seperti ini, kalau mengi-kuti MoU itu kan banyak, tetapi kami membatasi jumlah mahasiswa hampir separuh lebih agar tidak terjadi penum-pukan, hingga sekarang sudah mulai lebih sedikit lagi, maksimal sekitar 6 mahasiswa,” ungkap Letkol Yudis, Senin (21/12).
Dokter Budi Pranowo juga menegaskan jika dalam masa pandemi ini memang ada pembatasan mahasiswa rotasi klinik, praktik untuk MiniCex ataupun bedside. Oleh karenanya penambahan kegiatan tutorial sangat diperlukan. Hal ini menurut dr. Budi sudah sesuai dengan arahan FK-KMK UGM tentang bagaimana upaya meningkatkan kuali-tas bimbingan.
“Kalau terkait pencapaian kompetensi,
(Penulis: Winanti Praptiningsih. Narasumber RSPAU Hardjolukito: Letkol Agung/
Humas, Letkol Sai Suud, Letkol Yudis, dr. Budhi Pranowo, SpA., dr. Wahyudi, SpKJ.
Editor: Sri Awalia Febriana)
di RSPAU Hardjolukito sejauh ini bisa tercapai, karena jika mahasiswa dalam waktu seminggu tidak mendapatkan kasus ataupun pembelajaran, akan kami perpanjang masa penugasan di rumah sakit ini,” sambungnya.
Keamanan dan Capaian Kompetensi Tim Koordinator Pendidikan RSPAU Hardjolukito, dr. Wahyudi, SpKJ dalam hal ini justru menegaskan selama kasus COVID-19 menimpa, rumah sakit masih menjadi wahana pembelajaran yang aman dengan target logbook pendidi-kan masih bisa tercapai. Dan untuk saat ini, dr. Wahyuni menambahkan jika Departemen Saraf, Bedah, dan Jiwa RS-PAU Hardjolukito masih menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa di masa pandemi COVID-19. Ditambah dengan Departemen Anak RSPAU Hardjoluki-to yang baru sekitar beberapa bulan menjadi tempat penugasan mahasiswa klinik.
Beragam upaya untuk menjamin kea-manan peserta didik maupun tena-ga kesehatan di RSPAU Hardjolukito
ditegaskan dr. Wahyudi. Pertama, pen-erapan tes kesehatan bagi peserta didik yang akan melakukan rotasi di RSPAU Hardjolukito. “Pada awalnya kami me-nerapkan rapid test biasa bagi peserta didik yang akan masuk RSPAU Hard-jolukito. Seiring dengan meningkatnya kasus COVID-19, kami meminta peserta didik untuk melakukan swab antigen, walaupun pemeriksaannya tidak harus di rumah sakit jejaring, namun hara-pannya mereka bisa melampirkan hasil pemeriksaan tersebut sebelum masuk rumah sakit.
Kedua, peserta didik harus mengurangi kerumunan saat bekerja di rumah sakit dan datang dengan baju kerja yang ditetapkan. Ketiga, forum komunikasi yang diselenggarakan satu bulan sekali dalam jejaring AHS UGM sudah cukup untuk membahas masalah penting yang berkaitan dengan proses pendidikan antar institusi.
Keberanian Berjuang
Keberanian untuk berjuang di masa pandemi agar mencapai kompetensi
pembelajaran yang diharapkan men-jadi poin penting yang ditegaskan Letkol Suud untuk memotivasi mahasiswa. “Mahasiswa koas jangan terlalu takut seandainya ada kejadian yang sakit setelah di swab antigen hasilnya positif. Kita kontak pakai APD semua termasuk tenaga kesehatan. Intinya jangan takut. Kalau tidak ada gejala, tidak perlu dita-kutkan, agar kompetensinya tercapai. Asalkan, setiap orang yang masuk ruan-gan atau rumah sakit harus dipastikan sehat,” terangnya.
Di penghujung wawancara, dr. Wahyudi bahkan menegaskan agar peserta didik jangan takut menghadapi kondisi pan-demi yang tidak bisa dihindari ini. Dirin-ya juga juga berharap program vaksinasi di akhir Januari bisa berjalan lancar. Dengan mengutamakan tenaga keseha-tan, harapannya vaksin bisa menjadi solusi terbaik dan aman, sehingga kasus menurun dan pembelajaran akan terus berjalan. “Demi pendidikan, janganlah mundur, harus berani dan waspada,” tegasnya.
OPINI CIVITAS
OPINI CIVITAS
Evi Widowati, S. KM., M. Kes.,
Mahasiswa Prodi Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
Angkatan 2018
“Dimasa pandemic layanan prodi sangat bagus, tetap lancer komunikasi
melal-ui WA, pengiriman berkas-berkas studi dapat dilakukan melalmelal-ui softfile (seperti
bukti bayar KRS, bukti publikasi hingga file untuk maju ujian), dan komunikasi
dengan promotor, ko promotor, Kaprodi dan Sekprodi melalui WA lancer. Layanan
publikasi, berupa editing jurnal ke bahasa inggris dan penerbitan sertifikat
proof-read serta editing tidak ada masalah, sertifikat dapat dikirim melalui email. Akses
ke berbagai jurnal dengan akun UGM juga tidak ada masalah, walaupun diakses
melalui jalur luar ugm, serta layanan perpustakaan juga sangat bagus. Namun
ka-lau boleh memberikan saran, sebaiknya semua dosen UGM dan dosen luar UGM
yang terkait dengan proses ujian disertasi alangkah lebih efisiennya semua
difasil-itasi digisig atau digital signature sehingga validasi tanda tangan penguji (8 atau
9 orang) akan menjadi lebih sangat efisien karena antara mahasiswa dan penguji
tidak perlu bertemu secara langsung untuk proses tanda tangan dan validasi
per-baikan disertasi. Sehingga para dosen hanya perlu klik saja di sistem administrasi
yg dikembangkan misalnya “sidiser”, setelah semua penguji lengkap telah
mem-berikan tanda tangan mahasiswa bisa langsung cek di akun dan bisa langsung print
untuk dilampirkan ke disertasi. Mengingat tidak semua mahasiswa ada di sekitar
Jogja serta guna mendukung program pencegahan COVID-19.”
dr. Nabil Hajar,
Mahasiswa Prodi S2 Magister Ilmu Biomedik Angkatan 2019
“Harus dibentuk sistem yang baru oleh Fakultas dan RS Jejaring terkait
pengam-bilan penelitian agar dapat melindungi mahasiswa. Jika tidak memungkinkan,
maka dapat disarankan kepada mahasiswa/dosen untuk beralih menggunakan
penelitian sekunder lewat meta-analysis atau systematic review. Untuk itu, perlu
diperbanyak pelatihan-pelatihan untuk memperkuat dasar dan metodologi.
Un-tuk pendidikan mungkin memang belum memungkinkan, sehingga dapat dicoba
sistem 50% di fakultas (kuliah daring dan praktikum skill lab skala kecil) dan 50%
di RS (diakumulasi saat pandemi berakhir).”
OPINI CIVITAS
Zena Sabilatuttaqiyya,
Mahasiswa Profesi Dokter Angkatan 2015
“Pada awalnya, pembelajaran semi-online selama pandemi membuat saya
kha-watir tidak bisa memperoleh kompetensi yang semestinya dibutuhkan untuk
menjadi five-star-doctor. Namun, ternyata pandemi ini membuat para dosen dan
mahasiswa semakin kreatif dan inovatif untuk membuat proses pembelajaran
semakin menarik. Mahasiswa pun pada akhirnya juga menjadi lebih menghargai
dan memaksimalkan waktu saat sesekali diberi kesempatan untuk dapat bertemu
pasien secara langsung.”
Diana Citrasari,
Mahasiswa Profesi Dietisien Angkatan 2020
“Mengikuti pendidikan profesi dietisien itu bener-bener menantang dan banyak
pengalaman. Meskipun di masa pandemi, prodi telah menyiapkan berbagai
me-tode agar mahasiswa tetap mendapatkan ilmu semaksimal mungkin, meskipun
membatasi kegiatan praktik lapangan. Di masa pandemi juga jadi belajar
me-nyelenggarakan kegiatan seperti seminar, konseling klien, dan lainnya dengan
vir-tual meeting.”
Ganar Rajni Fathariq,
Mahasiswa Profesi Ners Angkatan 2019
“Dimasa pandemi ini saya merasa tertantang untuk dapat memenuhi
kompe-tensi yang ada dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Masa profesi
meru-pakan tempat untuk memperdalam skills dan belajar untuk siap menjadi tenaga
kesehatan kedepannya, tetapi waktu untuk bertemu dengan pasien berkurang
dibandingkan sebelum pandemi COVID-19 menjadi salah satu tantangan dalam
mencapai kompetensi tersebut. Meski banyak tantangan, saya merasa terbantu
oleh pembimbing akademik dan pembimbing klinik yang selalu memfasilitasi
ma-hasiswa dalam membimbing baik selama daring maupun luring.”
dr. Dandy f irmansyah,
Residen PPDS Ilmu Penyakit Dalam Angkatan juli 2017
“Pandemi menuntut kita melakukan adaptasi sistem pendidikan. Perlu
keseim-bangan dalam menetapkan metode belajar pada setting klinis maupun virtual
untuk mencapai target kompetensi. Penerapan protokol kesehatan, perlindungan
optimal dan efektifitas waktu adalah kunci dalam kesuksesan pembelajaran di
era pandemic.”
TOPIK KHUSUS
COVID-19 telah dinyatakan sebagai pandemi global sejak Maret 2020 oleh World Health Organization (WHO). COVID-19 yang juga melanda Indonesia memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat. Kondisi pan-demi memengaruhi banyak sektor, baik kesehatan, pendidikan, ekonomi, mau-pun sosial. Peningkatan kasus COVID-19 yang luar biasa memberikan dampak besar bagi tenaga medis sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan dalam penanganan COVID-19. Sebagian tena-ga medis terutama di luar Jawa ber-isiko tinggi terpapar infeksi karena ter-batasnya alat perlindungan diri (APD). Mereka sangat memerlukan bantuan APD, serta logistik lain misalnya suple-men makanan dan obat-obatan untuk menjaga kesehatan dengan meningka-tan kekebalan tubuh.
MERIDIAN, sebagai program charity ta-hunan yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, pada tahun 2020 menggandeng Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Ke-dokteran (KAGAMADOK), RSUP Dr.
Sardjito dan RS Akademik UGM sebagai panitia penyelengara berbagai kegiatan untuk berbagi.
Setelah sukses menyelenggarakan ME-RIDIAN 2019 yang berhasil mengum-pulkan donasi filantrofi untuk pemban-gunan One Stop Learning Kaum Difabel di Kebumen bersama Ascendia Tranta, membantu Perpustakaan Griya Lare Utami, pemberian peralatan kuliner untuk usaha kaum difabel, pemberian bantuan usaha komputer salah satu pasien difabel dan pelatihan bahasa isyarat untuk petugas kecamatan di Lendah, Kulon Progo, MERIDIAN tahun 2020 digelar sangat spesial yaitu dengan konsep virtual. Hasil seluruh penjualan tiket dalam MERIDIAN 2020 didonasi-kan untuk membantu tenaga kesehatan di garda depan dan masyarakat ter-dampak COVID-19 dengan prioritas di luar Jawa, yaitu di Kalimantan, Papua, dan Lombok.
dr. Hanggoro Tri Rinonce, Ph.D., Sp.PA(K). atau yang kerap disapa dr. Hengky selaku Ketua MERIDIAN 2020 menerangkan bahwa di wilayah Jawa APD relatif cukup, namun di luar Jawa
Secara umum, tujuan
MERIDIAN 2020 digelar
selain untuk pertama,
memberikan bantuan
ke-pada masyarakat dan tenaga
medis di garda depan yang
terdampak COVID-19
Berbagi Kebaikan untuk
Negeri Melalui MERIDIAN
2020
(Kontributor: dr. Hanggoro Tri Rinonce, Ph.D., Sp.PA(K), Tim Panitia MERIDIAN 2020. Penulis: Vania Elysia Septiani. Editor: Sri Awalia Febriana)
masih banyak yang kekurangan APD. “Oleh karena itu, daerah luar Jawa dip-rioritaskan”, tegasnya.
Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA., dalam video dalam MERIDIAN 2020 juga mengungkapkan tujuan penyaluran do-nasi tahun ini yaitu, “Agar mereka aman, agar mereka mendapatkan perlindun-gan yang baik. Walaupun tidak nyaman (baca: menggunakan APD), tetapi sebai-knya semua alat perlindungan diri digu-nakan. Jadi membantu dan berdonasi untuk tenaga kesesehatan dan petugas di garda depan agar mereka mendapat-kan perlindungan yang lebih baik lagi dan terjamin kontinuitasnya”, jelasnya. “Pandemi ini memang tidak dapat dis-elesaikan hanya oleh satu profesi, teta-pi semua mesthi nyengkuyung (saling membantu), semua mesthi saling handarbeni (merasa memiliki/ ikut menjaga), dan mesthi saling ngugemi (tidak meninggalkan apa yang telah ditetapkan oleh hati). Acara ini bukan sekedar untuk mengumpulkan sumban-gan, tetapi gerakan memperkuat kema-nusiaan”, jelas Ganjar Pranowo, Ketua KAGAMA yang sekaligus menjabat
seba-gai Gubernur Jawa Tengah dalam samb-utannya pada acara MERIDIAN 2020. “Makna filosofis dari Alumni Berbagi itu adalah ‘berbagi’. Tidak hanya berb-agi pengetahuan, tetapi berbberb-agi hal lain juga. Spirit ‘berbagi’-nya harus benar-benar ditekankan”, tegas dr. Hengky. Hingga 6 Desember 2020, dana yang telah terkumpul baik dari penjualan tiket, sponsor, dan donasi dari alumni sebesar Rp 102.567.727,-. “Bantuan akan diberikan sesuai dengan kebutu-han masing-masing daerah. Kebetulan memang daerah-daerah sasaran tidak meminta bantuan dalam bentuk uang, karena untuk mencari APD dan alat kes-ehatan lain juga relatif susah, sehingga akan kami kirimkan dalam bentuk ba-rang. Misalnya di Lombok membutuh-kan masker dan hand sanitizer, maka akan kami kirimkan”, jelas dr. Hengky. Kemudian dr. Hengky lebih lanjut me-nerangkan bahwa untuk mempermu-dah penyaluran donasi dalam bentuk barang, FK-KMK UGM bekerjasama dengan Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat (DPKM) UGM. Hal ini
diK o n f e r e n s i P e r s S k r i -n i -n g C O V I D - 1 9 u -n t u k t e n a g a p u s k e s m a s d a n k o m u n i t a s d i K a b u p a t e n S l e m a n m e n g -g u n a k a n R D T R I - G H A C O V I D - 1 9 D O K U M E N T A S I : H U M A S F K - K M K U G M f o t o
lakukan karena DPKM UGM juga mel-akukan pengiriman-pengiriman serupa, sehingga apabila beririsan atau terda-pat lokasi baru yang membutuhkan, dan ada alumni KAGAMADOK di daerah sasaran, maka bantuan bisa disalurkan. Secara umum, tujuan MERIDIAN 2020 digelar selain untuk pertama, memberi-kan bantuan kepada masyarakat dan tenaga medis di garda depan yang ter-dampak COVID-19 di Kalimantan, Lom-bok, dan Papua melalui Alumni FK-KMK UGM yang berada pada daerah-daerah tersebut, kedua, mengetahui dan mem-etakan kebutuhan di wilayah yang dis-asar terkait kebutuhan dana, APD dan logistik, serta ketiga, meningkatkan keilmuan melalui seminar series, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi. “Kita berharap melalui ajang ini akan terjalin kekompakan di antara kita semua, kelu-arga besar alumni FK-KMK UGM”, ung-kap Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., saat memberikan sambutan dalam ME-RIDIAN 2020.
Rangkaian kegiatan Seminar Series dan Medical Charity Night Concert Alumni
TOPIK KHUSUS
Berbagi MERIDIAN 2020 telah berhasil terselenggara, dengan diawali Seminar Series pada tanggal 7 dan 8 November 2020 pukul 10.00-12.00 secara virtual yang menghadirkan narasumber dokter, perawat dan ahli gizi alumni FK-KMK UGM. Tema yang diusung dalam semi-nar tersebut yaitu “Integrated Collabo-ration in Autoimmune Disease” dan “STI and Mental Health”.Seminar “Integrated Collaboration in Autoimmune Disease” menghadirkan narasumber dr. Sumadiono, Sp.A(K); Dr. dr. Sunardi Radiono, Sp.KK(K); Lely Lusmilasari, S.Kp., M.Kes., Ph.D; dan Aviria Ermamilia., S.Gz., M.Gizi, RD; ser-ta moderator Dr. dr. Addin Trirahmanto, Sp.OG(K) dan dr. Deshinta Putri Mulya, M.Sc., Sp.PD-KAI, FINASIM.
Sedangkan seminar “STI and Mental Health” menghadirkan narasumber Dr. dr. Satiti Retno Pudjiati, Sp.KK(K); dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ; dan Tulus Se-tiono, S.Kep., Ns., MPH; serta modera-tor Dr. dr. Carla Raymondalexas Marchi-ra, Sp.KJ(K) dan dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ.
Konser amal virtual dan talk show atau Medical Charity Night Concert sebagai puncak acara MERIDIAN 2020 digelar pada Minggu, 15 November 2020 pukul 18.30-21.30 dan disiarkan secara lang-sung dari Auditorium FK-KMK UGM dan Auditorium Gedung Pasca Sarjana Tahir Foundation FK-KMK UGM. Acara terse-but dimeriahkan oleh para alumni serta sivitas akademika dan hospitalia RSUP Dr. Sardjito dan RSA UGM, serta Mas-ter of Ceremonies dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD dan dr. Eta Auria Latiefa. Dalam Medical Charity Night Concert diadakan dua talkshow. Talkshow per-tama mengenai “Filantrofi Kesehatan” menghadirkan narasumber Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D; Prof.
dr. Sofia Mubarika Haryana, M.Med. Sc., Ph.D; dan dr. Faiz Alauddien Reza Mahardika; serta moderator dr. Arief Budiyanto, Sp.KK(K)., Ph.D dan Mar-tina Sinta Kristanti, S.Kep., Ns., MN. Sedangkan talkshow kedua mengenai “Tenaga Kesehatan di Garda Depan”, menghadirkan narasumber dr. Muham-mad Fajri Adda’I; Setyawan, S.Kep., Ns; dan Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp.S(K), serta moderator dr. Estelita Lia-na dan dr. DaLia-nar Wicaksono.
Acara Medical Charity Night Concert diisi dengan penampilan dosen, ma-hasiswa, tendik dan alumni FK-KMK UGM yang berasal dari lintas angkatan dan lintas program studi, antara lain dr. Rayhan Maditra, Summer Jazz, Prof. Budi Yuli Setianto, Sp.PD(K)., Sp.JP(K), Prof. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D, Prof. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D, Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B(K)Onk, Impressio (Alumni FK-KMK UGM Angka-tan 2012), Band 80 All Stars; The Dean 1621, Srikandi Voice, The Axon, RSA, dan D’Lantern.
“Walaupun digelar secara daring, agar tidak mengurangi makna MERIDIAN maka kegiatan ini tetap menghadir-kan lintas angkatan dan lintas program studi. Harapannya selain mendapatkan spirit berbagi, juga sekaligus meng-hilangkan sekat-sekat antar angkatan maupun antar profesi, sehingga dapat berkolaborasi atau ‘nyawiji’. Harapan-nya MERIDIAN mendatang lebih ramai dan lebih banyak yang terlibat”, jelas dr. Hengky.
Beliau juga berharap, tak hanya para pengisi acara saja yang lintas angka-tan dan lintas profesi, akan tetapi juga kepanitiaannya. “Hal itu sangat baik dan sangat perlu dipertahankan. Dengan kerjasama tersebut akan menimbulkan efek yang cukup besar. Akan banyak sekali link yang didapatkan, baik dari
junior maupun senior. Link adalah mod-al utama saat ini untuk menghasilkan sesuatu yang besar dan bermanfaat. Jadi kemampuan teman-teman dalam kerjasama dan kolaborasi itu sangat penting”, jelasnya.
Membuka satu link baru, seperti mem-buka satu pintu dimana pintu tersebut akan menuntun kita untuk membuka pintu-pintu yang lain.
Secara umum, kegiatan ini diharap-kan mampu memperkaya pengeta-huan kepada peserta seminar tentang pentingnya penanganan terintegrasi, multidisiplin dan interprofesi, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan sum-bangsih alumni FK-KMK UGM berbagi kebaikan dan kemanfaatan untuk neg-eri.
TOPIK
KHUSUS
Merokok dan
Pandemi
COVID-19
Tembakau masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di masyarakat. World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Lebih dari 7 juta kematian ini diakibatkan oleh penggunaan langsung tembakau dan sekitar 1,2 juta diakibatkan paparan asap rokok orang lain.
Pakar Kardiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawa-tan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. dr. Budi Yuli Setianto, Sp.PD(K)., Sp.JP(K) men-gungkapkan, “Perilaku merokok su-dah terbukti sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner yang sebetulnya bisa dikendalikan. Manifes-tasi penyakit jantung koroner bisa akut
berupa serangan jantung dengan segala komplikasinya atau kronis. Seseorang dengan komorbid penyakit jantung bila kemudian menderita COVID-19, ting-kat keparahan dan mortalitasnya akan meningkat”, jelasnya.
Prof. Budi Yuli juga mengungkapkan bahwa merokok segala jenis tembakau akan berdampak mengurangi kapasitas paru-paru serta meningkatkan risiko dan gejala penyakit pernapasan. Sedan-gkan COVID-19 adalah penyakit infeksi yang terutama menyerang paru-paru. Kebiasaan merokok dapat menurunkan fungsi paru-paru, dan menyebabkan beban lebih berat bagi tubuh untuk memerangi virus COVID-19 dan pen-yakit lainnya. Riset yang ada menduga perokok berada dalam risiko lebih tinggi
(Penulis: Vania Elysia. Narasumber: Prof. Dr. dr. Budi Yuli Setianto, Sp.PD(K)., Sp.JP(K) dan Prof. Dra. Raden Ajeng Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D. Editor: Supriyati)
untuk menderita sakit COVID-19 yang lebih parah dan bahkan sampai mening-gal.
“Pengkajian atas penelitian yang dilaku-kan pakar-pakar kesehatan masyarakat yang diadakan WHO pada tanggal 29 April 2020 juga mendapati bahwa per-okok lebih tinggi kemungkinannya men-derita penyakit COVID-19 yang parah dibandingkan orang yang tidak mer-okok”, jelas Prof. Budi Yuli.
“Belum ada studi peer-reviewed (di-kaji antar ilmuwan) yang mengevalu-asi risiko infeksi SARS-CoV-2 (COVID-19) terkait kebiasaan merokok. Meski de-mikian, perokok tembakau mungkin lebih rentan tertular COVID-19 karena aktivitas merokok melibatkan kontak
TOPIK KHUSUS
jemari dengan bibir, yang akan menam-bah peluang penularan virus dari tangan ke mulut. Merokok dengan pipa, atau sisha, bahkan sering dilakukan dengan berbagi banyak mulut, dapat memberi jalan penularan virus penyebab COV-ID-19 di komunitas”, tegas Prof. Budi Yuli.Tak hanya itu, Prof. Budi Yuli juga men-gungkapkan, tembakau juga merupa-kan faktor risiko besar bagi penyakit-penyakit tidak menular seperti penyakit-penyakit jantung, kanker, penyakit saluran perna-pasan, dan diabetes. Orang-orang yang menderita gangguan-gangguan keseha-tan ini lebih berisiko sakit parah saat terkena COVID-19.
Fakta tersebut ternyata belum mampu membuat masyarakat sadar akan ba-haya merokok dan memulai perilaku tidak merokok. Menurut Guru Besar FK-KMK UGM, Prof. Dra. Raden Ajeng Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., jumlah perokok di Indonesia selama pandemi COVID-19 kemungkinan tidak men-galami perubahan yang signifikan. “Ke-mungkinan jumlah perokok tetap sama. Hanya saja perilaku merokok menjadi terbatas di ruang publik akibat adanya himbauan untuk tetap di rumah. Sela-ma adanya pembatasan aktivitas di luar rumah, saya tidak yakin bahwa orang berhenti merokok. Kemungkinan orang malah merokok di dalam rumah”, ung-kap Prof. Yayi. Menurutnya, berhenti merokok bukan sesuatu yang mudah. Selama rokok masih dapat diakses den-gan mudah maka kebiasaan merokok tidak akan banyak berubah.
Jaga Diri dan Keluarga dari Virus
Corona
Di masa adaptasi kebiasaan baru, ak-tivitas-aktivitas mulai bergerak kembali
sehingga kebiasaan merokok pun mulai terlihat kembali di ruang-ruang pub-lik. Walaupun sudah banyak kampanye untuk berhenti merokok dan hidup se-hat, akan tetapi hal tersebut ternyata belum benar-benar dipahami sehingga belum dapat menyadarkan seseorang untuk berhenti merokok. “Dalam masa pandemi COVID-19, kita harus hidup sehat dan memaksimalkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) ter-masuk di dalamnya tidak merokok”, un-gkap Prof. Yayi.
“WHO juga terus mengevaluasi tian-penelitian baru, termasuk peneli-tian tentang kaitan antara penggunaan tembakau, penggunaan nikotin, dan COVID-19. WHO mendorong para pe-neliti, ilmuwan, dan media agar berhati-hati tentang menyebarkan klaim-klaim bahwa tembakau atau nikotin dapat menurunkan risiko COVID-19 yang be-lum terbukti. Informasi yang ada saat ini belum cukup untuk mengonfirmasi kaitan apa pun antara tembakau atau nikotin dalam pencegahan atau pen-gobatan COVID-19”, tambah Prof. Budi Yuli.
Dalam hal ini, promotor kesehatan diharapkan dapat terus memberikan pemahaman terhadap masyarakat khususnya perokok di masa pandemi COVID-19. “Kami bersama dengan Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan FK-KMK UGM beberapa kali telah menggelar webinar, salah satunya webinar men-genai “Sapa Tokoh Rumah Bebas Asap Rokok Yogyakarta” pada 10 Juni 2020 lalu dengan menghadirkan para tokoh masyarakat. Juga terus melakukan lit-erasi kesehatan melalui HPU - Health Promoting University UGM di laman website (www.hpu.ugm.ac.id), laman Instagram (@hpu_ugm) dan laman Fa-cebook (HPU UGM), serta laman twitter (@HpuUgm)”, jelas Prof. Yayi yang juga
merupakan Ketua Perkumpulan Promo-tor & Pendidik Kesehatan Masyarakat Indonesia (PPPKMI) Wilayah DI Yogya-karta ini.
Menurutnya, mengajak masyarakat khususnya generasi muda supaya tetap menjaga kesehatan diri dan keluarga dari pandemi COVID-19 ini membutuh-kan influencer’s muda, yang dapat men-gajak generasi ini untuk memikirkan kembali perilakunya. Atau dapat juga dengan menghadirkan para penyintas yang awalnya seorang perokok dan su-dah berhenti merokok, juga seorang yang pernah terinfeksi COVID-19, se-hingga mereka dapat memberikan tes-timoni bahwa sudah pernah mengalami dan kini menyadari bahwa perilaku tersebut tidak ada gunanya bahkan malah memperburuk kondisi. Influ-encer’s muda ini juga bisa memberikan contoh tentang sumber-sumber berita yang dapat dipercaya dan menjadi te-ladan dalam berperilaku hidup sehat. Karena sebenarnya literasi kesehatan itu sendiri tidak hanya terbatas pada pengetahuan tentang kesehatan saja, namun literasi kesehatan merupakan kemampuan individu atau kelompok masyarakat dalam mengakses berba-gai informasi kesehatan yang kredibel, memahaminya, menganalisisnya hingga akhirnya mampu mengambil keputusan untuk hidup sehat.
Memberikan literasi kesehatan melalui dawai (gadget) memang memberikan manfaat, akan tetapi dengan masyarakat yang beragam ini, hal tersebut belum dapat menjangkau masyarakat secara luas, sehingga tetap diperlukan edu-kasi secara langsung turun ke lapangan melalui tokoh masyarakat, kader kes-ehatan, maupun promotor kesehatan itu sendiri.
melalui tokoh masyarakat. “Menurut saya tidak semua masyarakat terpapar dawai (gadget), sehingga edukasi tetap perlu dilakukan dengan konvensional, termasuk untuk informasi mengenai protokol kesehatan. Tokoh masyarakat dan tokoh agama sangat diperlukan untuk membantu mengkampanyekan GERMAS untuk menjaga diri dan kelu-arga dari virus corona”, jelasnya saat di-hubungi pada Kamis (26/11) lalu. Tak hanya itu saja, sebagai promo-tor kesehatan, kita perlu mendorong teman-teman profesi di puskesmas un-tuk terus mengingatkan dan mengedu-kasi masyarakat, tidak hanya menge-nai protokol kesehatan saja tetapi juga GERMAS secara keseluruhan. “Saya menghimbau pada teman-teman pro-motor kesehatan untuk ikut aktif apa-bila tergabung dalam berbagai macam WhatsApp Group, untuk meluruskan in-formasi yang benar dan melawan hoax yang disebarkan”, himbau Prof. Yayi. Demi mendukung kegiatan promosi kes-ehatan ke masyarakat, “Kami bersama Dinas Kesehatan Yogyakarta beberapa waktu lalu telah melakukan pelatihan untuk petugas kesehatan. Selain itu pada September – Oktober 2020 lalu HPU UGM bersama dengan Center of Health Behavior and Promotion (CHBP) FK-KMK UGM juga melakukan pelati-han kader secara daring untuk menjadi peer educator untuk berhenti merokok. Advokasi terkait perilaku berhenti mer-okok juga terus dilakukan oleh Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau bersama dengan forum/ NGO lainnya”, jelas Prof. Yayi yang juga merupakan Ketua Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau. Menurutnya Forum Jogja Sehat Tanpa Tembakau ini memang berperan dan berdedikasi dalam hal tersebut.
“Apabila kita bertekad bulat menuju
Indonesia Sehat sesuai dengan tekad dalam Hari Kesehatan Nasional ke-56, marilah kita berperilaku hidup sehat. Perilaku hidup sehat dalam rangka pandemi ini dapat dilakukan, pertama, jangan kendor mengikuti protokol kes-ehatan 3M yaitu Menggunakan masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak dan menghindari kerumunan; kedua, men-jaga diri dan keluarga dari virus corona dengan GERMAS, diantaranya dilakukan dengan melakukan aktivitas fisik dan is-tirahat cukup; makan makanan bergizi seimbang seperti buah dan sayur; tidak merokok; cuci tangan pakai sabun; gu-nakan masker; minum air mineral 8 ge-las/hari; makan makanan yang di masak sempurna; melakukan cek kesehatan berkala; menjaga kebersihan lingkun-gan; dan bila demam dan sesak nafas segera ke fasilitas kesehatan; serta tetap berdoa.
“Jangan merokok dan hindarilah asap rokok. Mulailah berpikir untuk berhen-ti merokok. Selain fakta bahwa risiko komplikasi COVID-19 akan lebih parah apabila seseorang merokok, tetapi juga fakta bahwa kondisi ekonomi selama pandemi menurun. Oleh karenanya, marilah berpikir untuk mengalihkan pengeluaran, demi memenuhi kebutu-han yang benar-benar diperlukan saat ini, seperti makanan sehat, buah dan sayur”, pesan Prof. Yayi.
WHO juga menganjurkan agar para perokok segera mengambil tindakan untuk berhenti merokok dengan meng-gunakan metode-metode yang sudah terbukti. Dalam waktu 20 menit sejak berhenti merokok, laju denyut jantung meningkat dan tekanan darah menu-run. Setelah 12 jam, kadar karbon mo-noksida di dalam darah menurun men-jadi tingkat yang normal. Dalam waktu 2-12 pekan, peredaran darah meningkat dan fungsi paru-paru menjadi semakin
baik. Setelah 1-9 bulan, batuk dan sesak napas berkurang.
Beliau juga berpesan, jangan sam-pai lengah dengan penyakit lainnya. “Meskipun terjadi pandemi COVID-19, kita juga harus waspada dengan pen-yakit lain, termasuk penpen-yakit tidak menular yang mengintip saat kita Work From Home atau di rumah saja”, pung-kas Prof. Yayi.