• Tidak ada hasil yang ditemukan

(Peran Pushidrosal dalam Mendukung Diplomasi Maritim Indonesia)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(Peran Pushidrosal dalam Mendukung Diplomasi Maritim Indonesia)"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

Jl. Pantai Kuta V/1 Ancol Timur Jakarta Utara 14430

Harjo Susmoro

Haris Djoko Nugroho

Yanuar Handwiono

Diterbitkan oleh:

(2)

PENETAPAN BATAS MARITIM

RI – NEGARA TETANGGA

(Peran Pushidrosal dalam Mendukung

Diplomasi Maritim Indonesia)

Harjo Susmoro Haris Djoko Nugroho Yanuar Handwiono

Cetakan I: Oktober 2019

PUSAT HIDROGRAFI DAN OSEANOGRAFI TNI AL

(PUSHIDROSAL)

(3)

Bunga Rampai Penetapan Batas Maritim RI – Negara Tetangga (Peran Pushidrosal dalam Mendukung Diplomasi Maritim Indonesia)

Editor: A. Aziz Muttaqim,___Jakarta, Pushidrosal, 2019 vii + 64 hal, 21 cm

ISBN: 978-623-91688-7-2

1. Judul 1. A. Aziz Muttaqim

Bunga Rampai Penetapan Batas Maritim RI – Negara Tetangga

(Peran Pushidrosal dalam Mendukung Diplomasi Maritim Indonesia)

Pengarang:

Harjo Susmoro Haris Djoko Nugroho

Yanuar Handwiono Editor: A. Aziz Muttaqim Perancang Isi: Try Ariyah Desain Kover: Untung Sugiarto Cetakan I: Oktober 2019 Penerbit:

Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI AL

Jl. Pantai Kuta V No. 1 Ancol Timur Jakarta Telp. 62-21-64714810 Fax: 62-21-64714819

www.pushidrosal.id [email protected]

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari pemegang hak cipta,

(4)

ii

Sejak Indonesia meratifikasiUnited Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 melalui UU No 17 tahun 1985, dimana sesuai dengan ketentuan yang tercantum pada UNCLOS’82 tersebut Indonesia sebagai suatu negara kepulauan memiliki hak atas wilayah perairan yang meliputi perairan pedalaman, laut territorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif (ZEE), landas kontinen (LK). Bila ditinjau secara geografis, Indonesia memiliki perbatasan maritim dengan beberapa negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua New Guinea (PNG), Australia, Timor Leste (RDTL). Sehingga, prioritas utama dalam implementasinya adalah penetapan batas maritim dengan negara tetangga.

Sebagai negara kepulauan, tentunya batas maritim dengan negara tetangga menjadi masalah yang sangat penting dan perlu menjadi perhatian dan prioritas tersendiri. Sampai dengan saat ini delegasi RI terus aktif melakukan perundingan batas maritim dengan negara tetangga untuk mendapatkan kesepakatan, pada beberapa wilayah telah dihasilkan kesepakatan dan sebagian wilayah lainnya masih dalam upaya perundingan untuk mencapai kesepakatan. Penulisan ini buku ini bertujuan untuk menyajikan gambaran tentang pendekatan penyelesaian permasalahan perbatasan dengan negara tetangga melalui perspektif

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut

(5)

iii

Indonesia yang secara teknis turut berperan aktif dalam mendukung proses perundingan batas maritim dengan negara tetangga, disamping tugas pokoknya sebagai penyelenggara serta pembina tunggal profesi, fungsi dan kegiatan hidro-oseanografi yang meliputi survei, penelitian, pemetaan laut, publikasi, penerapan lingkungan laut dan keselamatan navigasi pelayaran untuk kepentingan TNI maupun kepentingan umum, nasional dan internasional.

Besar harapan kami, buku ini dapat menjadi sumbangsih pemikiran dan media penyampaian informasi tentang pelaksanaan tugas, serta peran strategis Pushidrosal dalam mendukung pembangunan nasional maupun peran pemerintah RI pada lingkup regional maupun internasional. Selanjutnya kepada semua pihak, selaku Kapushidrosal, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah turut berperan serta dan memberikan sumbang saran dalam melengkapi materi serta referensi yang diperlukan sehingga penerbitan buku ini dapat terlaksana tepat waktu. Demi kesempurnaan dari buku ini, kami juga sangat mengharapkan saran dan sumbangan pemikiran dari semua pihak untuk perbaikan di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga buku ini dapat menjadi tambahan dalam almanak pengetahuan dan sejarah penetapan batas maritim nasional.

Jakarta, Oktober 2019 Kapushidrosal,

Dr. Ir. Harjo Susmoro, S.Sos., S.H., M.H. Laksamana Muda TNI

(6)

ii

Hal

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iv

DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR TABEL vii

I. PERBATASAN MARITIM DAN UNCLOS 1982 1

Batas Negara dan Rejim Laut Wilayah Perbatasan UNCLOS dan Penetapan Batas Maritim

1 3

Prinsip-Prinsip dalam Penetapan Batas Maritim

5

Metode Penetapan Batas Martitim 7

II. MPLEMENTASI BATAS MARITIM INDONESIA 9

III. KONDISI AKTUAL BATAS MARITIM INDONESIA 12

a. Batas Maritim Indonesia - India 12

b. Batas Maritim Indonesia - Thailand 15

c. Batas Maritim Indonesia - Malaysia 18

d. Batas Maritim Indonesia - Singapura 27

e. Batas Maritim Indonesia - Vietnam 33

f. Batas Maritim Indonesia - Philipina 35

g. Batas Maritim Indonesia - Palau 40

h. Batas Maritim Indonesia - Papua Nugini (PNG)

43

i. Batas Maritim Indonesia - Australia 45

j. Batas Maritim Indonesia - Republik Demokratik Timor Leste (RDTL)

53

PENUTUP 56

(7)

iii

Gambar 1 Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan India berdasarkan perundingan 8 Agustus 1974

13

Gambar 2 Garis Batas LK antara Republik Republik Indonesia dengan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.

15

Gambar 3 Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan Thailand berdasarkan perundingan 17 Desember 1971.

16

Gambar 4 Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan Thailand berdasarkan perundingan 11 Desember 1975.

18

Gambar 5 Overlay garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia di Selat Malaka berdasarkan perjanjian 27 Oktober 1969 (garis biru) dengan klaim zona ekonomi ekslusif Republik Indonesia (garis merah).

21

Gambar 6 Garis batas laut territorial antara Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura bagian Barat berdasarkan perundingan 25 Mei 1973.

23

Gambar 7 Garis batas laut territorial antara Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura bagian Barat berdasarkan perundingan 25 Mei 1973.

29

Gambar 8 Garis batas laut teritorial Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura berdasarkan perjanjian kedua negara yang telah ditandatangani pada tanggal 3 September 2014.

30

Gambar 9 Garis Batas Laut Landas Kontinen antara Republik Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan berdasarkan perundingan 26 Juni 2003.

31

Gambar 10 Klaim Republik Indonesia atas batas ZEE dengan Republik Vietnam.

33

Gambar 11 Garis Batas Laut Teritorial antara Republik Indonesia dengan Filipina di di lima segmen (Provisional Exclusive Economic Zone Boundary Line /PEBL) pada area delimitasi sepanjang 600 mil.

34

Gambar 12 Peta batasantara Republik Indonesia dengan Filipina di lima segmen yang ditandatangai menteri luar negeri

(8)

iv

Gambar 13 Peta Batas ZEE antara Republik Indonesia dengan Filipina Di lima segmen yang ditandatangani menteri Luar Negeri Masing-masing negara.

39

Gambar 14 Klaim garis batas ZEE (unilateral) antara Republik Indonesia dengan Republik Palau.

43

Gambar 15 Persetujuan Republik Indonesia dengan Papua Nugini segmen Selatan yang merupakan lanjutan perjanjian RI – Australia Tahun 1971.

44

Gambar 16 Persetujuan Republik Indonesia dengan Papua Nugini yang merupakan lanjutan perjanjian RI – Australia Tahun 1971.

45

Gambar 17 Persetujuan Republik Indonesia dengan Australia tentang penetapan Batas Tertentu di Daerah Laut Timor dan Arafuru.

49

Gambar 18 Overlay Garis Batas LK dan ZEE antara Republik Indonesia dengan Australia.

50

Gambar 19 Peta batas Maritim antara Republik Indonesia – Australia untuk penangkapan sumber daya alam hayati di Samudera Hindia, Laut Tomor dan Laut Arafuru.

52

Gambar 20 Klaim garis batas maritim antara Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste (TRDL)

54

Gambar 21 Klaim garis batas teritorial antara Republik Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste (Okusi)

55

Gambar 22 Batas Relevan Area Antara RI dengan Republik Demokratik Timor Leste dengan jumlah empat area.

(9)

v

Hal

Tabel 1 Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 8 Agustus 1974 Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 8 Agustus 1974

13

Tabel 2 Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.

14

Tabel 3 Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand berdasarkan perundingan 17 Desember 1971.

16

Tabel 4 Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand berdasarkan perundingan 11 Desember 1975.

17

Tabel 5 Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Selat Malaka berdasarkan perundingan 27 Oktober 1969.

19

Tabel 6 Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Pantai Timur Serawak berdasarkan perundingan 27 Oktober 1969.

19

Tabel 7 Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Laut Cina Selatan berdasarkan perundingan 27 Oktober 1969.

20

Tabel 8 Koordinat titik garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia di Selat Malaka berdasarkan perundingan 17 Maret 1970.

(10)

vi

Tabel 10 Koordinat titik garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Republik Singapura segmen Barat Selatan berdasarkan perundingan 10 Maret 2009.

30

Tabel 11 Koordinat titik garis batas laut teritorial Republik Indonesia dan Republik Singapura berdasarkan perundingan 8 Desember 2013.

32

Tabel 12 Koordinat titik garis batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik Vietnam berdasarkan perundingan 26 Juni 2003

34

Tabel 13 Koordinat titik garis batas ZEE Republik Indonesia dan Filipina berdasarkan perundingan 23 Mei 2014.

40 Tabel 14 Titik Dasar Yang Digunakan Palau Dalam Penarikan

Garis Pangkal.

42 Tabel 15 Titik-titik koordinat batas wilayah laut Republik Indonesia

dengan Pemerintah Australia

(11)

I.

NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA

a. Tinjauan Sejarah1

Perjuangan Indonesia untuk memperoleh pengakuan sebagai sebuah negara kepulauan tidaklah mudah, memerlukan perjuangan yang cukup panjang yang dilakukan sejak awal kemerdekaan. Pada awalnya pengakuan dunia internasional terhadap kemerdekan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 masih sebatas kedaulatan teritorial di daratan sebagai bekas wilayah jajahan Belanda, sementara di lautan Indonesia sebagai negara dipisahkan oleh laut antar pulau berdasar warisan hukum laut kolonialTerritoriale Zee en Maritieme Kringen Ordonantie1939, atau yang lebih dikenal dengan Ordonantie 1939. Ketentuan ini mengatur kedaulatan laut Indonesia hanya sejauh 3 mil dari batas air surut terendah. Akibatnya pulau-pulau di Indonesia menjadi terpisah. Hal tersebut terkait dengan pandangan pada masa itu dimana laut bukan bersifat menyatukan, tetapi memisahkan pulau-pulau, sehingga setiap kapal tidak boleh berlayar melewati batas yuridiksi 3 mil dari setiap pulau. Akan tetapi, untuk laut perariran di luar batas 3 mil dianggap laut terbuka dan dapat dilewati kapal-kapal asing secara bebas. Kondisi serta keleluasaan pandangan tentang rezim laut tersebut kemudian dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk menjalankan politik agresi 1945-1949 atas wilayah kedaulatan Indonesia pasca proklamasi untuk memblokade laut teritorial dan mendaratkan pasukannya termasuk melaksanakan invasi ke Papua Barat.

Gagasan kedaulatan laut sebagai bagian dari negara kesatuan Republik Indonesia mulai digagas di era Perdana

1 Eko Sulistyo, Deklarasi Djuanda dan Hari Nusantara, Kompas 13

(12)

Menteri (PM) Ali Sastroamidjojo pada tahun 1956 dengan membentuk Panitia Inter-Departemental untuk merancang RUU Wilayah Perairan Indonesia dan Lingkungan Maritim. Pada Agustus 1957 PM Djuanda berupaya mencari landasan hukum guna menjadikan laut sebagai bagian dari Indonesia secara utuh, kemudian dirumuskan “Asas Archipelago” yang menjadi konsep dari negara kepulauan (archipelagic state) dan untuk pertama kali diperkenalkan sebagai rumusan dalam hukum laut internasional. Dan kemudian menjadi titik awal perjuangan panjang pemerintah Indonesia di panggung internasional untuk mendapat pengakuan terhadap pandangan serta rumusan Rezim Hukum Negara Kepulauan.

Selanjutnya, pada tanggal 13 Desember 1957 PM

Djuanda mengeluarkan Pengumumam Pemerintah

mengenai Perairan Negara Republik Indonesia, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang menyatakan bahwa “Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai corak tersendiri, sejak dahulu kepulauan nusantara sudah merupakan satu kesatuan, dan ketentuan ordonansi 1939 dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia”. Tujuan dari deklarasi ini adalah untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat; serta hak menentukan batas-batas wilayah NKRI sesuai dengan azas negara kepulauan; selain juga otoritas untuk mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Perjuangan pengakuan pada kancah internasional dimulai tahun 1958 dalam Konferensi Hukum Laut Internasional I di Jenewa (Swiss). Untuk pertama kalinya asas negara kepulauan “archipelagic state principles” diperkenalkan kepada dunia. Beberapa negara protes keras sebagaimana disampaikan oleh Amerika Serikat, akan tetapi Indonesia berhasil memperoleh dukungan dari berbagai negara Gerakan Non Blok.

(13)

Perjuangan kemudian dilanjutkan dalam Konferensi Hukum Laut Internasional II pada tahun 1960. Dimana pada konferensi ini kembali Amerika Serikat dan beberapa negara lain menolak usulan Indonesia untuk menetapkan batas laut teritorial sejauh 12 mil. Namun pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas akan tetap menjalankan klaim batas laut teritorial 12 mil guna menjaga keutuhan wilayah negara di darat dan laut.

Pemerintah Indonesia kemudian melakukan

persiapan matang menuju Konferensi Hukum Laut III. Setelah melalui lobi-lobi diplomatik dan berbagai sidang dari tahun 1973 hingga 1982, akhirnya baru pada Konferensi III tersebut berhasil dicapai sebuah Kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982 (United Nation Convention of the Law of the Sea), yang ditandatangani oleh 119 negara di Teluk Montego, Jamaika, pada tanggal 10 Desember 1982 dan selanjutnya dikenal dengan sebutan UNCLOS 1982. Pada akhirnya setelah berjuang selama 25, konsepsi asas negara kepulauan berhasil mendapatkan pengakuan dunia Internasional.

Pada UNCLOS 1982 tercantumkan bahwa yang dimaksud sebagai Negara Kepulauan adalah suatu negara yang seluruhnya terdiri atas satu atau lebih kepulauan dan dapat mencakup pulau-pulau lainnya. Kepulauan berarti suatu gugusan pulau termasuk bagian pulau, perairan di antaranya, dan lain-lain wujud ilmiah yang hubungan satu sama lainnya demikian erat yang merupakan satu kesatuan geografis, ekonomi dan politik. UNCLOS 1982 selanjutnya selain mengatur tentang negara kepulauan juga mengatur laut di luar laut teritorial, transportasi laut, dan sumber daya alam yang berada di bawah laut, di dasar laut, di dalam laut, dan di atas permukaan laut.

UNCLOS 1982 juga merupakan wujud pengakuan internasional terhadap Wawasan Nusantara yang telah

(14)

digagas sejak Deklarasi Djuanda 1957. Pemerintah Indonesia kemudian meratifikasi UNCLOS 1982 dalam UU No. 17 Tahun 1985, yang dalam penjelasannya dikatakan bahwa pengakuan resmi atas Negara Kepulauan sangat penting bagi Indonesia dalam mewujudkan satu kesatuan wilayah NKRI.

b. Implikasi Terhadap Perbatasan Maritim

Adanya pengakuan internasional terhadap Indonesia sebagai negara kepulauan pada UNCLOS 1982 memberikan implikasi yang besar terhadap luas wilayah perairan. Tugas besar selanjutnya adalah menetapkan titik-titik pangkal dan garis pangkal nasional sebagai dasar penetapan wilayah kedaulatan Republik Indonesia, dan selanjutkan digunakan sebagai dasar penetapan batas maritim dengan negara tetangga. Penetapan garis pangkal nasional dilaksanakan berdasarkan bentuk geografis pulau-pulau termasuk konfigurasi gosong-gosong (low tide elevation) yang terletak di bagian terluar wilayah Indonesia. Adapun dalam penetapan garis pangkal, dikenal beberapa jenis definisi garis pangkal seperti garis pangkal normal, garis pangkal lurus, garis pangkal kepulauan, dan garis pangkal penutup teluk dan muara sungai, dalam hal ini Indonesia menerapkan garis pangkal kepulauan2.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia dapat menetapkan garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline). Garis pangkal kepulauan ini merupakan sistem garis pangkal yang melingkupi kepulauan Indonesia dengan menghubungkan titik-titik terluar dari pulau atau gosong terluar Indonesia. Meskipun demikian pada kenyataannya akan tetap ada garis pangkal normal yang diterapkan untuk suatu wilayah yang tidak mungkin ditarik garis lurus. Karena

(15)

itu sistem garis pangkal yang melingkupi seluruh negara Indonesia merupakan gabungan antara segmen garis pangkal lurus dan normal3.

Indonesia telah menetapkan titik-titik pangkal yang menghubungkan garis-garis pangkal melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.38/2002, yang ditetapkan pada bulan Juni 2002. PP ini memuat nama, lokasi, skala peta dan datum geodesi yang digunakan untuk titik-titik pangkal Indonesia. Dalam perkembangannya ada beberapa peristiwa yang menyebabkan perlunya peninjauan terhadap posisi titik-titik pangkal Indonesia. Indonesia telah merevisi PP.38/2002 dengan PP.37/2008 karena perubahan status pulau Sipadan dan pulau Ligitan yang sekarang resmi menjadi milik Malaysia, dan lepasnya Timor Leste dari Indonesia.

c. Peran Pushidrosal dalam Penetapan Garis

Pangkal dan Batas Maritim

Menetapkan batas maritim dengan negara lain adalah suatu tugas penting dan merupakan salah satu prioritas utama dari negara. Tugas ini tentu saja tidak dapat dilaksanakan sendiri oleh suatu badan tertentu tetapi memerlukan kerjasama yang baik antar beberapa institusi yang terkait. Pushidrosal sesuai dengan tugas pokoknya diantaranya melakukan pemetaan laut di seluruh wilayah perairan Indonesia dan menjalankan fungsi diplomasi internasional, yaitu sebagai wakil pemerintah Republik Indonesia dibidang hidrografi dan sebagai anggota Tim Teknis Delegasi Republik Indonesia pada diplomasi batas maritim, berkontribusi memberikan data peta laut yang dibuat berdasarkan survei hidrografi sebagai peta dasar resmi untuk penetapan batas maritim. Peta laut memuat

(16)

data garis surut terendah maupun gosong-gosong (low tide elevations) di wilayah terluar Indonesia yang menjadi dasar penetapan titik-titik dasar guna penarikan garis pangkal nasional, selanjutnya garis pangkal yang dihasilkan digunakan sebagai dasar negosiasi penetapan batas maritim dengan negara tetangga. Pushidrosal juga turut melakukan kajian berupa exercise (usulan penarikan batas maritim) yang ditetapkan berdasarkan ketetapan-ketetapan UNCLOS 82 maupun TALOS sebagai masukan kepada tim nasional penetapan batas maritim.

(17)

II.

PERBATASAN MARITIM DAN UNCLOS 1982

a. Batas Negara dan Rejim Laut Wilayah Perbatasan

Indonesia sebagai negara kepulauan (archipelagic state) terbesar di dunia, yang terdiri atas 17.499 pulau dengan luas wilayah NKRI sekitar 8,4 juta km2, memiliki luas

perairan sekitar 6,5 juta km2, yang terdiri atas luas perairan

kepulauan Indonesia 3,1 km² dan laut teritorial sebesar 0,29 juta km2dan luas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sebesar 3,1

km2, serta memiliki garis pantai mencapai 81.290 km.

Ditinjau dari aspek geografis, terutama dari aspek panjang garis pantai dan luasnya wilayah perairan, menjadikan RI memiliki perbatasan darat dengan tiga negara yaitu Malaysia, Papua Nugini dan Republik Demokratik RDTL (RDTL), serta memiliki perbatasan maritim dengan sepuluh negara yakni India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dan Australia4.

Sementara itu, dalam konteks perbatasan, batas suatu negara dapat terdiri atas batas darat, batas laut dan batas udara. Batas darat dan batas udara merupakan batas teritorial yang memiliki kedaulatan penuh (full sovereignty),

sementara batas laut tidak hanya laut Teritorial, akan tetapi juga mencakup Zona Tambahan (Contiguous Zone), batas Zona Ekonomi Eksklusif (Economic Exclusive Zone), dan batas Landas Kontinen (Continental Shelf). Oleh karena batas laut tidak hanya batas teritorial, maka terminologi yang tepat digunakan untuk laut adalah batas maritim, dimana memuat batas kedaulatan penuh dan batas hak berdaulat

(sovereign right).

(18)

Terminologi yang digunakan berkaitan dengan batas-batas maritim adalah sebagai berikut5:

1. Batas Laut Teritorial (Territorial Sea Boundary); 2. Batas Zona Tambahan (Contiguous Zone Boundary);

3. Batas Zona Ekonomi Eksklusif (Exclusive Economic Zone Boundary);

4. Batas Landas Kontinen (Continental Shelf Boundary);

5. Batas Landas Kontinen Ekstensi (Extended Continental Shelf Boundary).

Dari terminologi diatas, kemudian dikenal Rejim Laut dimana, dalam penetapannya berlandaskan pada jarak terhadap garis pangklal negara pantai, sebagai berikut :

Batas Laut Teritorial, merupakan batas wilayah perairan negara pantai yang secara teori diukur tidak lebih 12 Mil Laut dari garis pangkal negara pantai yang telah ditetapkan.

Batas Zona Tambahan, merupakan batas daerah wilayah perairan negara pantai yang secara teori diukur tidak lebih dari 24 Mil Laut dari garis pangkal yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dapat dilakukan oleh negara pantai pada Zona Tambahan dibahas pada Bab II Bagian 4 Artikel 33, UNCLOS 82.

Batas Zona Ekonomi Eksklusif, merupakan suatu daerah di luar dan berdampingan dengan Laut Teritorial dengan lebar zona tidak melebihi 200 Mil

5UNCLOS, dalam Buku Panduan Aspek-Aspek Teknis Dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut.

(19)

Laut dari garis pangkal. Hak yurisdiksi dan kewajiban negara pantai pada ZEE dibahas lengkap pada Bab V Artikel 56 UNCLOS 82. Penegakan hukum dan aturan oleh negara pantai di ZEE dibahas pada Artikel 73 UNCLOS 82.

Landas Kontinen, terdiri atas dasar laut dan lapisan tanah di bawahnya yang memanjang lebih dari batas Laut Teritorial hingga batas benua atau hingga maksimal 350 Mil Laut yang diukur dari garis pangkal bila batas terluar benua melebihi jarak tersebut. Hak negara pantai pada wilayah Landas Kontinen dibahas pada Bab V Artikel 77 UNCLOS 82.

Sedangkan untuk Landas Kontinen ekstensi merupakan perpanjangan landas kontinen yang berada di luar 200 mil laut dan dalam penentuan batasnya ditentukan oleh klaim Negara pantai dengan mengajukan data-data ilmiah hasil survei dan pemetaan seperti yang ditentukan dalam artikel 76 UNCLOS’82.

b. UNCLOS’82 dan Penetapan Batas Maritim

Dalam upaya penetapan batas maritim harus mengacu kepada beberapa aspek yang meliputi aspek hukum, aspek ilmiah dan aspek teknis secara satu kesatuan yang menyeluruh. Penetapan batas-batas maritim juga harus ditentukan berdasarkan ketentuan hukum internasional dalam hal ini Hukum Laut (Law of the Sea). Dimana dalam konteks penetapan wilayah perbatasan suatu negara, Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menghasilkan tiga konvensi PBB tentang hukum laut dan kemudian dikenal sebagai United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

(20)

Konferensi Jenewa tahun 1958 (UNCLOS I) menghasilkan empat konvensi meliputi Konvensi tentang Laut Teritorial dan Zone Tambahan, Konvensi tentang Laut Bebas, Konvensi tentang Perikanan dan Konservasi Sumber Kekayaan Hayati di Laut Bebas, dan Konvensi tentang Landas Kontinen. Konferensi Jenewa tahun 1960 (UNCLOS II) tidak menghasilkan kesepakatan apapun yang tertuang dalam perjanjian internasional. Konferensi PBB tentang Hukum Laut 1973-1982 (UNCLOS III) menghasilkan United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982). UNCLOS 1982 yang diratifikasi oleh sebagian besar negara pantai di dunia merupakan sumber hukum yang paling banyak digunakan dalam delimitasi batas maritim. Pemerintah RI telah meratifikasi UNCLOS’82 melalui UU No. 17 Tahun 1985.

Setelah memahami aspek legal dalam delimitasi batas maritim, perlu mempelajari aspek teknis yang tertuang dalam

A Manual on the Technical Aspects os the United Nations Convention on the Law of the Sea – 1982 (TALOS) yang dikeluarkan oleh tiga organisasi profesi yaitu

Intergovernmental Oceanographic Commision (IOC),

International Hydrographic Organisation (IHO), dan

International Association of Geodesy(IAG).

Pada lingkup Pemetaan Nasional, Pushidrosal telah ditetapkan sebagai Lembaga Hidrografi Nasional sesuai Keppres No. 164 Th.1960 yang kemudian direvisi melalui Kepres No. 62 Th.2016, dimana selain menjadi perwakilan RI di IHO, Pushidrosal juga mengirimkan perwakilan sebagai bagian dari delegasi delimitasi Pemerintah RI dalam setiap perundingan perbatasan laut dengan negara tetangga.

(21)

c. Prinsip-Prinsip dalam Penetapan Batas Maritim6

Proses delimitasi batas maritim antara dua negara atau lebih diatur oleh prinsip-prinsip dan aturan hukum internasional publik. Hukum internasional menyediakan aturan main yang menjelaskan bagaimana delimitasi batas maritim seharusnya dilakukan. Meskipun pada prakteknya aturan hukum internasional tersebut tidak serta merta bisa diterapkan dan dipedomani oleh negara-negara yang bersengketa. Delimitasi batas maritim harus diselesaikan melalui perundingan antara pihak-pihak yang bersengketa atau dengan mengajukan kasus delimitasi kepada pihak ketiga yang dipercaya seperti Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dan International Tribunal

on the Law of the Sea (ITLOS). Selain itu dapat juga dilakukan dengan mediasi melibatkan pihak ketiga (bisa institusi atau perorangan) yang dipercaya oleh kedua negara yang bersengketa.

Tumpang tindih klaim dapat terjadi di laut teritorial, ZEE maupun landas kontinen, masing-masing diselesaikan dengan cara yang berbeda sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Prinsip-prinsip yang digunakan dalam delimitasi batas maritim meliputi delimitasi laut teritorial, delimitasi zone tambahan, delimitasi zone ekonomi eksklusif (ZEE), dan delimitasi landas kontinen.

1. Delimitasi Laut Teritorial, Dua negara yang saling berhadapan atau berdampingan tidak diperkenankan mengklaim laut teritorialnya melebihi garis tengah (median line) antara kedua negara tersebut, kecuali jika kedua negara tersebut membuat kesepakatan lain, karena adanya hak

(22)

berdasarkan pertimbangan sejarah atau kondisi lain yang memungkinkan tidak diterapkannya prinsip garis tengah (Pasal 15 UNCLOS). Penetapan batas maritim berdasarkan faktor sejarah dan kondisi khusus dapat diterapkan dengan syarat negara tetangga menyetujui, jika tidak maka harus diselesaikan melalui negosiasi atau perundingan.

2. Delimitasi Zone Tambahan, Zone tambahan adalah wilayah perairan diluar laut teritorial dengan lebar maksimum 24 mil laut dari garis pangkal. Ada dua alasan tidak adanya delimitasi khusus di zone tambahan yaitu bahwa zone tambahan sebenarnya ada di dalam ZEE, selain itu zone tambahan bukanlah merupakan wilayah kedaulatan atau yurisdiksi eksklusif, sehingga tidak ada alasan yang cukup kuat untuk melakukan delimitasi di zone tambahan.

3. Delimitasi Landas Kontinen, Tidak ada aturan hukum internasional yang memuat petunjuk secara rinci untuk delimitasi landas kontinen. Konvensi Landas Kontinen 1958, batas landas kontinen antara kedua negara harus ditentukan dengan kesepakatan, jika tidak terjadi kesepakatan maka ditentukan dengan median line. UNCLOS Pasal 83 (1) menyatakan delimitasi landas kontinen ditetapkan dengan hukum internasional seperti dinyatakan dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional untuk mencapai solusi yang adil. Pasal UNCLOS tersebut juga tidak menyebut secara rinci. UNCLOS hanya mewajibkan pengadilan untuk mengacu kepada konvensi internasional baik umum maupun khusus, memperhatikan aturan yang dipakai oleh negara yang bertikai, praktek hukum internasional,

(23)

prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh negara-negara yang beradab.

4. Delimitasi Zone Ekonomi Eksklusif (ZEE), Di dalam UNCLOS delimitasi ZEE hampir identik dengan delimitasi landas kontinen, tidak satupun pasal yang memberikan petunjuk rinci tentang proses delimitasi tetapi hanya menyebutkan perlunya mencapai solusi yang adil. Banyak negara yang bersengketa menyepakati garis batas ZEE yang tumpang tindih dengan landas kontinen sepanjang tidak merugikan salah satu pihak, meskipun sebenarnya batas landas kontinen berlaku untuk dasar laut sedangkan batas ZEE berlaku untuk kolom air. Namun demikian ada beberapa kasus yang menunjukkan perbedaan yang signifikan antara batas ZEE dengan batas landas kontinen seperti antara Australia dengan Papua Nugini dan Australia dengan Indonesia.

d. Metode Delimitasi Batas Maritim7

Secara teoritis ada beberapa metode penetapan batas maritim; metode sama jarak, metode paralel dan meridian, metode enclaving; metode tegak lurus; metode garis paralel; dan metode batas alami .

1. Metode sama jarak, merupakan sebuah garis (equidistance line) sebagai tempat kedudukan titik-titik yang sama jarak dari garis pantai. Untuk menghindari kerumitan dan memudahkan bagi pengguna laut, garis equidistance ini perlu disederhanakan dengan mengurangi titik belok. Sedangkan dalam hal terdapat

(24)

karang di sekitar garis equidistance, maka garis dibelokkan sedemikian rupa untuk mengakomodasi klaim laut teritorial karena adanya unsur geografis dimaksud.

2. Metode paralel dan meridian, adalah cara delimitasi menggunakan garis paralel lintang dan/atau bujur. Metode ini biasanya diterapkan untuk kasus negara-negara berdampingan untuk menghindari efek pemotongan seperti yang terjadi pada metode equidistance. Metode ini cocok untuk negara-negara yang mempunyai garis pantai arah utara-selatan atau timur-barat (mengikuti garis lintang/bujur).

3. Metode enclaving, merupakan suatu cara untuk memberikan sabuk kawasan laut pulau yang

ter-enclave berupa garis lingkaran yang diukur dari titik pangkal terluar. Terdapat dua jenis metode enclave

yaitu enclave penuh dan enclave sebagian. Enclave

penuh diterapkan bila sebuah pulau terpisah secara keseluruhan dari kawasan daratan utama, sedangkan

enclave sebagian digunakan untuk pulau yang terletak pada garis delimitasi.

4. Metode tegak lurus, menggunakan garis tegak lurus dengan arah umum garis pantai sebagai garis batas maritim. Metode ini jarang dipakai mengingat tidaklah untuk menentukan arah umum garis pantai, disamping itu garis pantai pada peta skala besar bisa berbeda dengan arah garis pantai pada peta skala kecil.

5. Metode garis paralel, menggunakan garis lurus paralel untuk menghasilkan band (saluran) kawasan

(25)

maritim. Metode ini termasuk metode yang jarang diterapkan.

6. Metode batas alami, menggunakan unsur-unsur alami sebagai batas maritim.Thalweg (saluran/sungai bawah laut) adalah salah satu contoh batas alami. Justifikasi menggunakan thalweg sangat sulit dilakukan karena tidak pasti.

7. Metode dua tahap, menggunakan dua tahap pendekatan dalam negosiasi batas maritim. Tahap awal digunakan pendekatanequidistance, selanjutnya dilakukan negosiasi untuk mengubah garis

equidistancetersebut berdasarkan pertimbangan yang masuk akal yang dapat diterima oleh semua pihak.

(26)

II. IMPLEMENTASI BATAS MARITIM INDONESIA

Sebagai negara pihak penandatangan UNCLOS 1982,

maka Indonesia memiliki kewajiban untuk

mengimplementasikan UNCLOS 1982 kedalam hukum nasionalnya, termasuk diantaranya mengenai negara kepulauan, pengaturan perbatasan negara dengan negara-negara tetangga, dan batas wilayah yurisdiksi dengan laut bebas. Sejalan dengan berlakunya UNCLOS 82, prioritas utama dalam rangka implementasi ratifikasi tersebut adalah penetapan batas maritim dengan negara tetangga. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia mempunyai perbatasan maritim dengan 10 (sepuluh) negara. Penyelesaian batas maritim tersebut dilakukan secara diplomasi melalui perundingan.

Hasil perjanjian perbatasan maritim yang telah dilaksanakan antara Indonesia dengan negara tetangga antara lain sebagai berikut:

a. Batas Laut Teritorial dengan Malaysia (1970), Singapura untuk segmen Tengah (1973), untuk segmen Barat (2009) dan segmen Timur di Selatan Changi (2014)

b. Batas ZEE dengan Australia (1997, belum diratifikasi), dengan Filipina pada tanggal 23 Mei 2014. c. Batas Landas Kontinen dengan Malaysia (1969), Australia (1971 dan 1972) untuk tahun 1997 belum diratifikasi, Thailand (1971 dan 1975), Malaysia dan Thailand (1971), India (1974 dan 1977), Thailand dan India (1978), dan Vietnam (2003).

d. Batas Tertentu RI – PNG dengan Australia (1973).

e. Batas Maritim dengan PNG (1971) dilanjutkan penetapan batas ZEE tahun 1982.

(27)

Sementara batas maritim yang masih dalam proses perundingan diantaranya sebagai berikut:

a. Batas Laut Teritorial dengan Malaysia di Segmen Selat Malaka bagian Selatan, segmen Selat Singapura bagian Timur, segmen laut Cina Selatan perairan sekitar Tanjung Datu, Kalimantan Barat dan perairan Laut Sulawesi.

b. Batas ZEE dengan Vietnam di Laut China Selatan.

c. Batas ZEE dengan Palau di Samudera Pasifik.

Beberapa perundingan batas maritim yang belum dilakukan secara bilateral dengan negara tetangga diantaranya:

a. BatasLaut Teritorialdengan:

1. Selat Singapura (Pedra Branca/ Pulau Batu Puteh).

2. RDTL di Laut Sawu, Selat Wetar, dan Laut Timor.

b. BatasZEEdengan:

1. India di Samudera Hindia dan Laut Andaman.

2. Malaysia di Selat Malaka dan Laut China Selatan.

3. Thailand di Selat Malaka sebelah Utara.

4. RDTL

c. BatasLandas Kontinendengan: 1. Filipina di Laut Sulawesi. 2. Palau di Samudera Pasifik.

(28)

III. KONDISI AKTUAL BATAS MARITIM INDONESIA

Penetapan garis batas maritim sejak munculnya berbagai rejim hukum perairan semakin kompleks. Di berbagai wilayah termasuk di wilayah negara-negara yang sudah cukup maju pun masih terdapat banyak segmen-segmen perairan yang masih belum tuntas penetapan batasnya8. Indonesia menghadapi persoalan yang lebih

kompleks lagi karena untuk pertama kalinya dalam sejarah negara-negara, Indonesia menerapkan garis pangkal kepulauan sebagai dasar perundingan, suatu konsepsi yang belum ada presedennya dalam sejarah perundingan batas maritim. Konfigurasi geografis Indonesia yang bersifat kepulauan dengan sistem garis pangkal lurus kepulauan menyebabkan penyelesaian batas maritim Indonesia dengan negara tetangga membutuhkan waktu yang cukup lama. Beberapa perundingan batas maritim Indonesia dengan negara tetangga dapat diuraikan dibawah ini:

a. Batas Maritim Indonesia – India

Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen antara Pemerintah RI dan Republik India telah ditandatangani pada tanggal 8 Agustus 1974 di Jakarta, dengan menyetujui 4 (empat) titik koordinat. Perjanjian tersebut telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden RI No. 51 Tahun 1974 tanggal 25 September 1974 (Lembaran negara nomor 47). Republik India meratifikasi perjanjian tersebut pada tanggal 22 Agustus 1974. Pertukaran piagam ratifikasi dilaksanakan oleh kedua negara di New Delhi pada tanggal 17 Desember 1974. Lokasi garis batas LK tersebut terletak di daerah antara P. Rondo, P. Breueh dan P. Nicobar (Gambar 1). Dengan titik koordinat sebagai berikut :

(29)

Tabel 1. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 8 Agustus 1974

Gambar 1. Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan India berdasarkan perundingan 8 Agustus 1974

Pada tanggal 14 Januari 1977 di New Delhi ditandatangani perjanjian garis Batas Landas Kontinen antara Republik Indonesia dan Republik India sebagai kelanjutan dari perjanjian 1974. Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi perjanjian ini dengan Keputusan Presiden RI No.26 Tahun 1977, tanggal 04 April 1977. Pemerintah Republik India meratifikasi perjanjian tersebut

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG-BUJUR) 1 06° 38’ 30” U – 094° 38’ 00” T 2 06° 30’ 00” U – 094°32’ 24” T 3 06° 16’ 12” U – 094° 24’ 12” T 4 06° 00’ 00” U – 094°10’ 18” T

(30)

pada tanggal 22 Juni 1977. Pertukaran piagam ratifikasi dilakukan di Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1977. Titik koordinat perjanjian antara Republik Indonesia dan Republik India tentang garis batas landas kontinen pada tahun 1977 (Gambar 2) adalah sebagai berikut :

Tabel 2. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.

Garis Batas ZEE dan Landas Kontinen antara Republik Republik Indonesia dan Republik India bukan merupakan singleline (segaris). Sampai dengan saat ini garis batas ZEE antara kedua negara belum disepakati dan belum pernah dilaksanakan perundingan, sehingga berpotensi adanya konflik di perbatasan dalam rangka pengelolaan sumber daya alam hayati. Untuk kepentingan penegakan hukum di laut sesuai kesepakatan Tim Teknis Batas Maritim Republik Indonesia menggunakan Peta Laut Indonesia no. 353 yang sudah tergambarkan garis batas ZEE (klaim unilateral Republik Indonesia) maupun garis batas LK yang sudah disepakati.

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 1 06° 38’ 30” U – 094° 38’ 00” T K 07° 02’ 24” U – 094° 55’ 37” T N 07° 40’ 06” U – 095° 25’ 45” T O 07° 46’ 06” U – 095° 31’ 12” T 4 06° 00’ 00” U – 094° 10’ 18” T R 05° 25’ 20” U – 093° 41’ 12” T S 04° 27’ 34” U – 092° 51’ 17” T T 04° 18’ 31” U – 092° 43’ 31” T U 04° 01’ 40” U – 092° 23’ 55” T

(31)

Gambar 2. Garis Batas LK antara Republik Republik Indonesia dengan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.

b. Batas Maritim Indonesia - Thailand

Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen antara Pemerintah RI dengan Pemerintah Kerajaan Thailand, disetujui dan ditandatangani di Bangkok pada tanggal 17 Desember 1971 dan telah diratifikasi melalui Keputusan Presiden RI No. 21 Tahun 1972 tanggal 11 Maret 1972 (Lembaran Negara nomor 16). Kerajaan Thailand meratifikasi perjanjian tersebut pada tanggal 02 April 1973. Pertukaran Piagam ratifikasi dilaksanakan oleh kedua negara di Jakarta pada tanggal 02 April 1973. Garis Batas Landas Kontinen antara Republik Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand dibagian Utara Selat Malaka dan Laut Andaman (Gambar 3).

(32)

Tabel 3. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand berdasarkan perundingan 17 Desember 1971.

Gambar 3. Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan Thailand berdasarkan perundingan 17 Desember 1971.

Sebagai kelanjutan garis batas Landas Kontinen yang disepakati pada tanggal 17 Desember 1971, pada tanggal 11 Desember 1975 di Jakarta telah disepakati 2 titik koordinat garis Batas Landas Kontinen di Laut Andaman antara Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand (Gambar 4). Garis Batas Landas Kontinen pada perjanjian ini diperoleh dari hasil plotting padaBritish Admiralty Chart no. 830 dengan titik-titik koordinatnya:

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 1. 06° 21,’6 U - 097° 54.’0 T 2. 07° 05,’8 U - 096° 36.’5 T

(33)

Tabel 4. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand berdasarkan perundingan 11 Desember 1975.

Gambar 4. Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan Thailand berdasarkan perundingan 11 Desember 1975.

Garis Batas ZEE dan Landas Kontinen antara Republik Republik Indonesia dan Kerajaan Thailand bukan merupakan singleline (segaris), namun demikian pihak Kerajaan Thailand beranggapan bahwa garis batas ZEE kedua Negara adalah berimpit dengan garis batas Landas Kontinen yang telah disepakati (singleline). Sampai dengan saat ini belum ada kesepakatan garis batas ZEE antara kedua negara, sehingga berpotensi adanya konflik di perbatasan dalam rangka pengelolaan sumber daya alamnya. Untuk kepentingan penegakan hukum di laut sesuai kesepakatan Tim Teknis Batas Maritim Republik

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) A 07° 05’ 08” U - 096° 36’ 05” T L 07° 46’ 01” U - 095° 33’ 01 “ T

(34)

Indonesia agar penegak hukum di laut menggunakan Peta Laut Republik Indonesia no. 353 yang sudah tergambarkan garis batas ZEE (klaim unilateral Republik Indonesia) maupun LK yang sudah disepakati untuk kepentingan operasi di lapangan.

c. Batas Maritim Indonesia - Malaysia

Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen antara Pemerintah RI dengan Malaysia dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1969, dalam perjanjian tersebut menyetujui 25 (dua puluh lima) titik koordinat yang terletak di segmen Selat Malaka (Titik 1-10), segmen Laut Cina Selatan (dekat Semenanjung Malaka) yaitu Titik 11-20 dan di Bagian Barat Laut P. Kalimantan (Serawak) yaitu Titik 21-25. Untuk Perjanjian tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 89 Tahun 1969, tanggal 15 November 1969. Titik Koordinatnya sebagai berikut :

Tabel 5. Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Selat Malaka berdasarkan perundingan 27 Oktober

1969. NO. TITIKKOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 1. 05º 27’ 00 “ U – 098° 17’ 05 “ T 2. 04º 55’ 07 “ U – 098° 41’ 05 “ T 3. 03º 59’ 06 “ U – 099° 43’ 05 “ T 4. 03º 47’ 04 “ U – 099° 55’ 00 “ T 5. 02º 41’ 05 “ U – 101° 12’ 01 “ T 6. 02º 15’ 04 “ U – 101° 46’ 05 “ T 7. 01º 55’ 02 “ U – 102° 13’ 04 “ T 8. 01º 41’ 02 “ U – 102° 35’ 04 “ T 9. 01º 19’ 05 “ U – 103° 03’ 09 “ T 10. 01º 15’ 00 “ U – 103° 22’ 08 “ T

(35)

Tabel 6. Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Pantai Timur Serawak berdasarkan perundingan 27

Oktober 1969.

Tabel 7. Koordinat titik garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia segmen Laut Cina Selatan berdasarkan perundingan 27 Oktober

1969.

Dasar hukum yang dipergunakan bagi perundingan ini adalah Konvensi Hukum Laut 1958 mengingat perundingan tentang UNCLOS III baru mulai dilaksanakan pada tahun 1976. Batas Landas Kontinen ini ditafsirkan oleh Malaysia sebagai garis batas ZEE (sesuai dengan deklarasi yang

NO. TITIKKOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 21. 02º 05’ 00 “ U – 109° 38’ 08 “ T 22. 03º 00’ 00 “ U – 109° 54’ 05 “ T 23. 04º 40’ 00 “ U – 110° 02’ 00 “ T 24. 05º 31’ 02 “ U – 109° 59’ 00 “ T 25. 06º 18’ 02 “ U – 109° 38’ 06 “ T NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 11. 01º 23’ 09 “ U – 104° 29’ 05 “ T 12. 01º 38’ 00 “ U – 104° 53’ 00 “ T 13. 01º 54’ 04 “ U – 105° 05’ 02 “ T 14. 02º 22’ 05 “ U – 105° 01’ 02 “ T 15. 02º 55’ 01 “ U – 104° 51’ 05 “ T 16. 03º 50’ 00 “ U – 104° 46’ 05 “ T 17. 04º 03’ 00 “ U – 104° 51’ 09 “ T 18. 05º 04’ 07 “ U – 105° 28’ 08 “ T 19. 05º 40’ 06 “ U – 105° 47’ 01 “ T 20. 06º 05’ 08 “ U – 105° 49’ 02 “ T

(36)

dibuat oleh Malaysia pada saat ratifikasi UNCLOS 1982). Malaysia menggunakan Pulau Jara dan Pulau Perak dalam menarik garis pangkalnya. Sementara itu, Pemerintah Republik Indonesia menghendaki agar garis batas ZEE ditetapkan terpisah (berdasarkan UNCLOS 1982),

Gambar 5. Overlay garis batas landas kontinen Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia di Selat Malaka berdasarkan perjanjian 27 Oktober 1969 (garis biru)

dengan klaim zona ekonomi ekslusif Republik Indonesia (garis merah).

yakni dengan median line, karena garis batas Landas Kontinen tidak dapat ditetapkan sekaligus sebagai batas ZEE mengingat rejim yang mengatur keduanya berbeda. Disamping itu, penarikan garis pangkal Malaysia saat menetapkan garis batas LK tahun 1969 tidak sesuai UNCLOS 1982 dimana Malaysia yang bukan sebagai negara kepulauan menarik garis pangkalnya dari Pulau Jara ke Pulau Perak yang jaraknya lebih dari 100 Nm.

Pada tanggal 17 Maret 1970 di Kuala Lumpur, telah ditandatangani Perjanjian Garis Batas Laut Wilayah antara

(37)

Pemerintah RI dengan Malaysia, perjanjian tersebut menyetujui / menyepakati 8 (delapan) titik koordinat yang terletak di Selat Malaka. Selanjutnya Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi perjanjian ini melalui UU Republik Indonesia No. 2 Tahun 1971, tanggal 10 Maret 1970. Garis batas laut wilayah Indonesia dengan Malaysia adalah garis tengah sama jarak dari garis-garis dasar kedua negara dan untuk selat yang lebarnya tidak lebih dari 24 mil laut, maka garis Batas Laut ditarik di tengah-tengah selat yang diukur dari garis-garis pangkal yang ditetapkan oleh masing-masing negara sesuai ketentuan-ketentuan pada Konvensi Jenewa tahun 1958. Dengan koordinat sebagai berikut :

NO TITIK

KOORDINAT POSISI (LINTANG-BUJUR) 1 02º 51’ 06 “ U – 101° 00’ 02 “ T 2 02º 41’ 05 “ U – 101° 12’ 01 “ T 3 02º 15’ 04 “ U – 101° 46’ 05 “ T 4 01º 55’ 02 “ U – 102° 13’ 04 “ T 5 01º 41’ 02 “U – 102° 35’ 00 “ T 6 01º 19’ 05 “ U – 103° 03’ 09 “ T 7 01º 15’ 00 “ U – 103° 22’ 08 “ T 8 01º 15’ 00 “ U – 103° 22’ 08 “ T

Tabel 8. Koordinat titik garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Kerajaan Malaysia di Selat Malaka berdasarkan perundingan 17 Maret 1970.

(38)

Gambar 6. Garis batas laut teritorial antara Republik Indonesia dengan Malaysia di Selat Malaka menurut Perjanjian Kuala Lumpu

Tanggal 17 Maret 1970 (Garis hijau)

Garis batas laut wilayah Indonesia adalah garis yang menghubungkan titik-titik koordinat no. 5, 6, 7 dan 8, sedangkan batas laut wilayah Kerajaan Malaysia adalah garis yang melalui titik-titik koordinat no. 5, 7 dan 8, untuk sementara enclave area sebagai akibat dihubungkannya titik-titik koordinat no. 5, 6, dan 7 berstatus sebagai perairan bebas. Perjanjian Garis Batas Landas Kontinen antara Pemerintah RI dengan Malaysia dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 1969. Garis Batas ZEE antara Republik Indonesia dengan Malaysia bukan merupakan single line

(segaris) dan sampai dengan saat ini belum ada kesepakatan antara kedua negara tentang garis ZEEnya, sehingga berpotensi adanya konflik di perbatasan dalam

(39)

rangka pengelolaan sumber daya alamnya. Untuk kepentingan penegakan hukum dilaut sesuai kesepakatan Tim Teknis Batas Maritim Indonesia agar menggunakan Peta Laut Indonesia no. 353, 102 dan 101 yang sudah tergambarkan garis batas Laut Teritorial, LK maupun ZEE

(unilateral claim).

Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi perjanjian ini dengan Keputusan Presiden RI No. 89 Tahun 1969 tanggal 15 November 1969, dimana dasar hukum yang dipergunakan bagi perundingan ini adalah Konvensi Hukum Laut 1958 mengingat perundingan tentang UNCLOS III baru dimulai pada tahun 1976. Pemerintah Republik Indonesia menghendaki agar garis batas ZEE ditetapkan terpisah (berdasarkan UNCLOS 1982), yakni dengan

median line, karena garis batas Landas Kontinen tidak dapat ditetapkan sekaligus sebagai batas ZEE mengingat rejim yang mengatur keduanya berbeda. Disamping itu, penarikan garis pangkal Malaysia juga tidak sesuai dengan konfigurasi pantai serta menyalahi ketentuan maksimal yang diperkenankan, 100nautical miles.

Perundingan penetapan batas ZEE belum pernah dibicarakan secara tersendiri sejak tahun 1997. Perundingan batas maritim Indonesia (RI) – Malaysia dilaksananakan secara periodik 2 (dua) bulan sekali bergantian di RI dan di Malaysia. Segmen yang dirundingkan antara lain : Perairan pantai Timur Kalimantan (perairan P. Sebatik, P. Sipadan dan P. Ligitan), Selat Malaka bagian Utara dan Selatan serta perairan Barat Kalimantan (Tanjung Datu), pada tahun 2005 telah di laksanakan perundingan batas maritim dengan Malaysia sebanyak 6 (enam) kali dan perundingan terakhir di Surakarta, pada tanggal 28 – 30 Nopember 2005. Hasil

(40)

perundingan batas maritim RI – Malaysia belum menunjukan hasil yang signifikan

Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi perjanjian ini dengan Keputusan Presiden RI No. 89 Tahun 1969 tanggal 15 November 1969, dimana dasar hukum yang dipergunakan bagi perundingan ini adalah Konvensi Hukum Laut 1958 mengingat perundingan tentang UNCLOS III baru dimulai pada tahun 1976. Pemerintah Republik Indonesia menghendaki agar garis batas ZEE ditetapkan terpisah (berdasarkan UNCLOS 1982), yakni dengan

median line, karena garis batas Landas Kontinen tidak dapat ditetapkan sekaligus sebagai batas ZEE mengingat rejim yang mengatur keduanya berbeda. Disamping itu, penarikan garis pangkal Malaysia juga tidak sesuai dengan konfigurasi pantai serta menyalahi ketentuan maksimal yang diperkenankan, 100nautical miles.

Perundingan batas maritim Indonesia (RI) – Malaysia dilaksananakan secara periodik bergantian di RI dan di Malaysia. Segmen yang dirundingkan antara lain: segmen Selat Malaka, segmen Selat Malaka bagian Selatan, segmen Selat Singapura bagian Timur, segmen Laut China Selatan dan segmen Laut Sulawesi, sampai tahun 2016 ini telah dilaksanakan perundingan batas maritim dengan Malaysia sebanyak 30 (tiga puluh) kali perundingan dimana perundingan yang ke-30 dilaksanakan di Kuala Lumpur pada tanggal 17 s.d. 20 Juli 2016 yang membahas masalah penutupan garis dari ujung Utara provisional teritorial sea boundary (PTSB) ke provisional common point (PCP) dan perpanjangan garis PTSB sampai memotong batas laut Teritorial Indonesia.

Secara umum hasil perundingan batas maritim RI – Malaysia masih belum menunjukkan hasil kemajuan yang

(41)

signifikan. Meskipun tim teknis penetapan batas maritim kedua negara telah menyepakati garis Provisional Territorial Sea Boundary (PTSB) di segmen Laut Sulawesi dan segmen Selat Malaka bagian Selatan, namun garis tersebut masih bersifat belum mengikat, sampai kedua pemerintahkan meresmikan garis PTSB tersebut kedalam sebuah perjanjian.

Kedua kepala pemerintahan sepakat untuk membentuk sebuah pendekatan baru untuk mempercepat penyelesaian penetapan garis batas maritim di segmen Laut Sulawesi, dengan menunjuk seorang utusan khusus (special envoy) dari masing-masing pihak. Pada 10th Annual Consultation, Jakarta, 19 Desember 2013: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan PM Dato Sri Mohd Najib sepakat untuk membentuk mekanisme baru percepatan penyelesaian penetapan batas maritim di Laut Sulawesi, dengan membentuk Utusan Khusus (special envoy). Melalui surat PM Malaysia, pada tanggal 9 Januari 2014, PM Malaysia menginformasikan bahwa dirinya telah melantik Tan Sri Mohd Radzi Abdul Rahman sebagai Utusan Khusus Malaysia9.

Sebagai tindak lanjut pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak pada Kunjungan Kenegaraan ke Malaysia, dan pertemuan Menteri Luar Negeri RI dan Menteri Luar Negeri Malaysia di Kota Kinabalu, beberapa waktu lalu, Presiden RI Joko Widodo telah menunjuk Duta Besar (Dubes) Edy Pratomo sebagai Utusan Khusus / Special Envoy Presiden untuk Penetapan Batas Maritim antara Republik Indonesia dan Malaysia, melalui Keppres No.67/M Tahun 2015 tentang Pengangkatan Utusan Khusus Presiden untuk Penetapan

(42)

Batas Maritim antara Republik Indonesia dan Malaysia (UKP-PBM). Tugas-tugasnya antara lain :

1. Memberikan pertimbangan dalam penyelesaian penetapan garis batas maritim antara RI – Malaysia dengan memperhatikan kepentingan nasional;

2. Melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Presiden melalui Menteri Luar Negeri dan dikoordinasikan oleh Sekretaris Kabinet;

3. Melaksanakan tugas lain yang berkaitan dengan batas maritim antara RI – Malaysia yang diberikan oleh Presiden. Sesuai kesepakatan antara Pemimpin kedua negara.

Sampai dengan saat ini, utusan khusus kedua negara telah melakukan pertemuan untuk membahas permasalah batas maritim sebanyak 3 kali. Utusan Khusus Malaysia hanya mendapat mandat untuk menyelesaikan permasalah di segmen Laut Sulawesi, sementara Utusan Khusus Indonesia mendapat mandat untuk menyelesaikan batas maritim antara Indonesia dan Malaysia di seluruh segmen.

d. Batas Maritim Indonesia - Singapura

Perjanjian Garis Batas Laut Wilayah antara Pemerintah RI dengan Singapura dilaksanakan di Jakarta, pada tanggal 25 Mei 1973. Perjanjian tersebut menyetujui 6 (enam) titik koordinat yang terletak di Selat Singapura (Gambar 6), dan Pemerintah Republik Indonesia telah meratifikasi perjanjian ini dengan UU. No. 7 Tahun 1973, tanggal 8 Desember 1973 (Lembaran Negara RI No. 3018). Adapun titik-titik koordinatnya sebagai berikut :

(43)

Tabel 9. Koordinat titik garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Republik Singapura berdasarkan perundingan 25 Mei 1973.

Penentuan titik-titik koordinat pada batas laut wilayah Indonesia dan Singapura ini, didasarkan pada prinsip sama jarak antara dua pulau yang berdekatan. Pengesahan titik-titik koordinat tersebut di atas didasarkan pada kesepakatan kedua pemerintah, dimana isi pokok perjanjian ini adalah Garis Batas Laut Wilayah Indonesia dan Laut Wilayah Singapura di Selat Singapura yang sempit (lebar lautnya kurang dari 15 mil) adalah garis yang terdiri dari garis-garis lurus yang ditarik dari titik koordinat no.1 s.d. titik koordinat no.6. NO. TITIKKOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 1 01° 10’ 46,0” U - 103° 40’ 14,6” T 2 01° 07’ 49,3” U - 103° 44’ 26,5” T 3 01° 10’ 17,2” U - 103° 48’ 18,0” T 4 01° 11’ 45,5” U - 103° 51’ 35,4” T 5 01° 12’ 26,1” U - 103° 52’ 50,7” T 6 01° 16’ 10,2” U - 104° 02’ 00,0” T

(44)

Gambar 7. Garis batas laut territorial antara Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura bagian Barat berdasarkan perundingan 25 Mei 1973.

Perjanjian Penentuan / Penetapan Titik-titik Koordinat Batas Perairan Indonesia dan Singapura ini dilakukan sebelum dilangsungkan Konvensi Hukum Laut tahun 1982.

Perjanjian Batas Maritim RI - Singapura di Segmen Barat Selat Singapura ditandatangani di Jakarta pada tanggal 10 Maret 2009 dan diratifikasi Pemerintah RI melalui Undang - Undang No. 4 tahun 2010 (Gambar 8). Menghasilkan titik 1A, 1B dan 1C kearah Barat dari Titik No.1. Garis Batas Laut RI - Singapura yang belum disepakati disebelah Timur pada Titik No. 6 masih menyisakan sepanjang 5,69 NM dan perairan disekitar Suar Batu Putih (Honsberg). Disamping itu disebelah Barat pada Titik No. 1C masih menyisakan Tri - Junction Pointantara RI – Singapura – Malaysia. Agar kapal - kapal institusi penegak hukum di laut saat melaksanakan operasi / patroli diperbatasan RI - Singapura berpedoman kepada Peta Laut No. 347 skala 1 : 50.000 edisi ke 6 tahun 2009 Peta Laut No. 348 skala 1: 50.000 edisi ke 9 tahun 2012, Peta Laut No.349

(45)

skala 1 : 50.000 edisi ke 7 tahun 2010. Titik-titik koordinatnya adalah sebagai berikut :

Tabel 10. Koordinat titik garis batas laut wilayah Republik Indonesia dan Republik Singapura segmen Barat Selatan berdasarkan perundingan 10 Maret 2009.

Gambar 8. Garis batas laut territorial antara Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura bagian Barat berdasarkan perundingan 25 Mei 1973.

Dengan telah disepakatinya garis Batas Laut Teritorial antara Republik Indonesia dengan Republik Singapura di

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 1A 01° 11’ 17,4” U - 103° 39’ 38,5” T 1B 01° 11’ 55,5” U - 103° 34’ 20,4” T 1C 01° 11’ 43,8” U - 103° 34’ 00,0” T

(46)

segmen Barat dan segmen tengah maka masih terdapat Batas Laut Teritorial antara Republik Indonesia dengan Singapura yang belum selesai disepakati, yaitu pada segmen Barat adalah trijuction point antara Republik Indonesia, Republik Singapura dan Malaysia. Sementara itu di segmen Timur dibagi dua yaitu segmen Timur 1 (perairan antara Changi dan Batam) dan segmen Timur 2 (perairan di sekitar Menara Suar Pedra Branca) merupakan trilateral antara Republik Indonesia, Republik Singapura dan Malaysia.

Pada tanggal 3 September 2014, Menteri Luar Negeri kedua negara menandatangani naskah perjanjian garis batas martim antara RI dan Singapura di Selat Singapura bagian timur (Selatan Changi). (Gambar 9)10.

Gambar 9. Garis batas laut teritorial Republik Indonesia dengan Singapura di Selat Singapura berdasarkan perjanjian kedua negara yang telah ditandatangani pada

tanggal 3 September 2014.

(47)

Titik titik koordinat 6, 7 dan 8 adalah sebagai berikut :

Tabel 11. Koordinat titik garis batas laut teritorial Republik Indonesia dan Republik Singapura berdasarkan perundingan 8 Desember 2013.

Pada tanggal 12 Januari 2017, Pemerintah Republik telah meratifikasi perjanjian di Segmen Timur tersebut melalui Undang Undang RI nomor 1 Tahun 2017 tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah Antara Republik Indonesia dan Republik Singapura di Bagian Timur Selat Singapura, 2014 (Treaty Between The Republic of Indonesia and The Republic of Singapore Relating to The Delimitation of The Territorial Seas of The Two Countries In The Eastern Part of The Strait of Singapore, 2014)11.

Garis tersebut merupakan garis yang mengubungkan titik-titik koordinat no. 6, 7 dan 8. Hal ini merupakan kemajuan yang sangat berarti bagi kedua Negara dan merupakan landasan awal yang baik dalam penyelesaian batas laut teritorial selanjutnya di Segmen Timur. Dengan diratifikasinya garis batas Laut Teritorial antara Republik Indonesia dan Republik Singapura, berarti adanya pengakuan dari negara asing mengenai penggunaan garis pangkal kepulauan (archipelagic baselines) dalam menetapkan garis batas laut wilayah. Disamping itu dalam hal ini juga merupakan penegasan praktek hukum internasional bahwa reklamasi tidak memperluas laut

11 Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL, 2016.

NO. TITIK KOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 06 1° 16’ 10.2’’ N - 104° 02’ 00.0” E 07 1° 16’ 22.8” N - 104° 02’ 16.6” E 08 1° 16’ 34.1” N - 104° 07’ 06.3” E

(48)

wilayah suatu negara ataupun mengubah perjanjian yang telah disepakati. Penegasan praktek hukum internasional bahwa Traffic Separation Scheme (TSS) dan Port Limit

bukan merupakan parameter dalam penetapan batas maritim.

e. Batas Maritim Indonesia - Vietnam

Perundingan penetapan Batas Landas Kontinen antara RI – Vietnam telah dilaksanakan pada tanggal 26 Juni 2003 di Hanoi Vietnam. Perundingan ini menyepakati 6 (enam) titik koordinat yaitu : 20 – H – H1 – A4 – X1 – 25 sebagai garis batas landas kontinen kedua Negara (Gambar 10). Garis batas Landas Kontinen kedua negara ini disepakati setelah melakukan perundingan selama kurang lebih 23 tahun. Pemerintah Indonesia telah meratifikasi perundingan tersebut melalui Undang-Undang No. 18 Tahun 2007 tanggal 15 Maret 2007 Lembaran Negara No. 43 Tambahan Lembaran Negara No. 4706.

(49)

Gambar 10. Garis Batas Laut Landas Kontinen antara Republik Indonesia dengan Vietnam di Laut China Selatan berdasarkan perundingan

26 Juni 2003.

Adapun titik-titik koordinatnya adalah sebagai berikut:

Tabel 12. Koordinat titik garis batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik Vietnam berdasarkan perundingan 26 Juni 2003.

Gambar 11. Klaim Republik Indonesia atas batas ZEE dengan Republik Vietnam (Garis merah). NO. TITIKKOORDINAT POSISI (LINTANG – BUJUR) 20 06° 05’ 48” U - 105° 49’ 12” T H 06° 15’ 00” U - 106° 12’ 00” T H1 06° 15’ 00” U - 106° 19’ 01” T A4 06° 20’ 59,88” U - 106° 39’ 37,67” T X1 06° 50’ 15” U - 109° 17’ 13” T 25 06° 18’ 12” U - 109° 38’ 36” T

(50)

Republik Indonesia dan Vietnam sampai dengan saat ini telah melakukan Pertemuan Teknis penetapan Batas ZEE kedua negara sebanyak 8 kali pertemuan, terakhir Pertemuan Teknis ke-8 dilaksanakan di Bali pada tanggal 22 s.d. 24 Maret 2016. Selama kedua negara belum memperoleh kesepakatan dalam menetapkan garis batas ZEE, maka bagi penegak hukum di laut dan pengguna laut agar menggunakan peta laut 354 yang sudah terdapat gambar garis batas ZEE klaimunilateral Indonesia (Gambar 11).

f.

Batas Maritim Indonesia – Philipina

Republik Indonesia dan Republik Filipina berbatasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Laut Sulawesi dan Laut Filipina. Terdapat 5 (lima) segmen batas ZEE antara lain:

Segmen 1: Perairan sekitar Laut Sulawesi bagian Tengah;

Segmen 2: Perairan sekitar Laut Sulawesi Bagian Timur;

Segmen 3: Perairan diantara P. Marore (RI) dan P. Balut (Filipina);

Segmen 4: Perairan di Utara Miangas; dan

Segmen 5: Perairan di Laut Filipina mendekati perairan Palau.

Penetapan batas maritim Republik Indonesia dengan Republik Filipina dilakukan di dalam forum Joint Permanent Working Group on Maritime and Ocean Concerns between the Republic of Indonesia and the Republic of the Philippines (JPWG-MOC), yang telah diselenggarakan dalam 7 (tujuh) putaran:

(51)

a. JPWG-MOC 1: di Manila, pada tanggal 1-5 Desember 2003.

b. JPWG-MOC 2: di Jakarta, pada tanggal 2 - 6 Agustus 2004 dengan Informal Sub-Working Group Meeting on Maritime Boundary Delimitation: Manila, 5 – 6 November 2004.

c. JPWG-MOC 3: di Cebu, pada tanggal 21 – 23 September 2005.

1. First Joint Technical Team Meeting on Maritime Boundary Delimitation (JTT-MBD): di Batam, pada tanggal 5–7 Desember 2005. 2. Second JTT-MBD: dilaksanakan pada tanggal 16–17 Maret 2006.

d. JPWG-MOC 4: di Bogor, pada tanggal 29 Mei – 1 Juni 2006.

e. JPWG-MOC 5: di Davao City, pada tanggal 20 – 22 Maret 2007.

6. JPWG-MOC 6: di Yogyakarta, pada tanggal 23 – 25 Mei 2007.

f. JPWG-MOC 7: di Jakarta, pada tanggal 19 – 21 Juni 2007.

1. Informal, Non-Binding Exercises based on the Cebu Principles of the JPWG-MOC:

dilaksanakan di Batam, pada tanggal 2 – 3 Juli 2007.

2. Maritime Boundary Delimitation Discussions: dilaksanakan di Manila, pada tanggal 15 Desember 2011.

3. The First Preparatory Meeting to the 8th JPWG-MOC: di laksanakan di Jakarta, pada tanggal 29 Oktober 2012.

4. The Second Preparatory Meeting to the 8th JPWG-MOC, dilaksanakan di Jakarta, pada tanggal 7 – 9 Januari 2014.

(52)

Hasil-hasil pertemuan tersebut adalah sebagai berikut:

a) Tercapai kesepakatan garis

sementara batas ZEE kedua negara di lima segmen (Provisional Exclusive Economic Zone Boundary Line / PEBL) pada area delimitasi sepanjang 600 mil laut (Gambar 12) setara dengan 1.111,2 kilometer. b) PEBL terdiri atas 8 (delapan) titik belok (turning points), membentang sepanjang 627,5 mil laut atau setara dengan 1.161,2 kilometer.

c) Kesepakatan untuk

meng-konsultasikan PEBL dengan otoritas yang lebih tinggi di pemerintahan masing-masing guna diperoleh mandat untuk menyepakati dan menetapkan garis PEBL sebagai garis batas ZEE definitif.

5. The Third Preparatory Meeting to the 8th JPWG-MOC, dilaksanakan di Jakarta, pada tanggal 4 – 6 Januari 2014, dengan agenda utama adalah membicarakan draft perjanjian dan draft peta sebagai lampiran dari perjanjian tersebut.

6. Pada tanggal 23 Mei 2014 telah ditandatangani garis Batas ZEE Republik Indonesia dengan Filipina oleh Menteri Luar Negeri kedua Negara di Manila disaksikan oleh Presiden Republik Indonesia dan Presiden Republik Filipina (Gambar 13).

(53)

Gambar 12. Garis Batas Laut Teritorial antara Republik Indonesia dengan Filipina di di lima segmen (Provisional Exclusive Economic Zone Boundary Line /PEBL) pada

(54)

Gambar 13. Peta batas ZEE antara Republik Indonesia dengan Filipina di lima segmen yang ditandatangai menteri luar negeri masing-masing Negara.

7. Dengan disepakatinya garis batas ZEE antara RI dan Filipina, maka masih diperlukan perhatian terhadap potensi tri-junction point

antara RI – Filipina – Palau dan RI – Filipina – Malaysia.

8. Adapun koordinat titik-titik yang telah disepakati adalah sebagai berikut:

(55)

Tabel 13. Koordinat titik garis batas ZEE Republik Indonesia dan Filipina berdasarkan perundingan 23 Mei 2014.

9. DPR RI telah meratifikasi Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Filipina mengenai Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif dengan pengesahan Undang-Undang pada tanggal 27 April 2017.

10. Republik Indonesia dan Filipina dalam mengimplementasikan perjanjian batas ZEE kedua negara serta untuk sosialisasi garis batas ZEE yang telah disepakati, berupaya untuk membuat peta laut bersama yang memuat garis batas ZEE dengan berbagai sekala untuk kebutuhan keselamatan navigasi pelayaran.

g. Batas Maritim Indonesia - Palau

Republik Palau yang berada di sebelah Timur Laut Indonesia, secara geografis terletak pada posisi 06o 51’ U

dan 135o 50’ T, adalah negara federal yang merupakan

negara kepulauan dengan luas daratan500 km2. Republik

Palau terdiri dari beberapa pulau, diantaranya adalah pulau

TITIK POSISI (LINTANG – BUJUR) 1. 03° 06’ 41” U - 119° 55’ 34” T 2. 03° 26’ 36” U - 121° 21’ 31” T 3. 03° 48’ 58” U - 122° 56’ 03” T 4. 04° 57’ 42” U - 124° 51’ 17” T 5. 05° 02’ 48” U - 125° 28’ 20” T 6. 06° 25’ 21” U - 127° 11’ 42” T 7. 06° 24’ 25” U - 128° 39’ 02” T 8. 06° 24’ 20” U - 129° 31’ 31” T

Gambar

Tabel 1. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 8 Agustus  1974
Tabel 2. Koordinat Batas Landas Kontinen Republik Indonesia dan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.
Gambar 2. Garis Batas LK antara Republik Republik Indonesia dengan Republik India berdasarkan perundingan 14 Januari 1977.
Gambar 3. Garis Batas LK antara Republik Indonesia dengan Thailand berdasarkan perundingan 17 Desember 1971.
+7

Referensi

Dokumen terkait

(Blok Ambalat Timur) di Laut Sulawesi yang mereka nyatakan berada di dalam batas Landas Kontinen Malaysia seperti yang termuat dalam peta Wilayah perairan

Selain itu MoU RI dengan Malaysia yang ditandatangani pada 27 Oktober 1969 menetapkan Pulau Jara dan Pulau Perak sebagai acuan titik dasar dalam penarikan Garis Pangkal

Dalam UNCLOS 1982 tercantum batas terluar dari landas kontinen tidak boleh melebihi garis kedalaman 2500 m ditambah jarak 100 mil laut, atau melebihi garis 350 mil laut dari

Dalam Perjanjian Batas Laut 1973 antara Indonesia dan Singapura dinyatakan bahwa garis batas menghubungkan titik-titik berkoordinat geografis; sehingga jarak antara titik batas

Batas laut wilayah tersebut dituangkan dalam Perjanjian antara Republik Indonesia dan Republik Singapura tentang Penetapan Garis Batas Laut Wilayah Kedua Negara di Bagian

Garis Batas Landas Kontinen Indonesia dan India adalah garis lurus yang ditarik dari titik pertemuan menuju arah barat daya yang berada di Laut Andaman. Hal itu berdasarkan

Garis Batas Landas Kontinen Indonesia dan India adalah garis lurus yang ditarik dari titik pertemuan menuju arah barat daya yang berada di Laut Andaman. Hal itu

Titik-titik tetap yang merupakan garis batas luar landas kontinen pada dasar laut, yang ditarik sesuai dengan ayat 4 (a) (i) dan (ii), atau tidak akan boleh melebihi 350 mil laut