• Tidak ada hasil yang ditemukan

kolokium arwin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "kolokium arwin"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

EFEKTIVITAS MEDIA TANAM LIMBAH SOLID KELAPA

SAWIT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT

(Elaeis Guineensis Jacq.) DI PRE NURSERY

MAKALAH KOLOKIUM PENDUKUNG

OLEH : ARWIN SHOLEH

130301078

AGROEKOTEKNOLOGI

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat- Nya, penulis dapat menyelesaikan paper kolokium ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Adapun judul dari paper kolokium ini adalah “Efektivitas Media Tanam Limbah Solid Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Pre Nursery ” yang merupakan bahan tinjauan untuk melakukan penelitian diFakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada dosen pembimbing kolokium yaitu Ir. Lisa mawarni MP., yang membantu dalam penyelesaian paper ini.

Penulis menyadari paper ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan paper ini di masa mendatang.

Akhirnya penulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 13 juni 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

PENDAHULUAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Botani Tanaman...4

Syarat Tumbuh...5

Iklim...5

Tanah...5

Efektivitas Media Tanam Limbah Solid Kelapa Sawit Pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Pre Nursery Limbah solid kelapa sawit (Elaeis Guineensis Jacq.)...7

Kandungan unsur hara limbah solid...8

Pengolahan limbah solid...9

Faktor Yang Mempengaruhi Tidak Digunakannya Top Soil...11

Keuntungan Limbah Solid Sebagai Media Tanam Kalapa Sawit...11

Madia tanam limbah solid...12

(4)

PENDAHULUAN Latar belakang

Kelapa sawit merupakan tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodi e sel) dan berbagai jenis turunannya seperti minyak alkoh ol , m argarin, li l in, s abun, industri k o s m etik a , industri b a j a, kawat, r a d i o, k u lit, dan industri f ar m asi. Sisa pengolahannya dapat dimanfaatkan menjadi kompos dan campuran pakan ternak (htt p : / /id.w i kipedia. o rg/,2009).

Minyak sawit merupakan sumber karotenoid alami yang paling besar. Kadar karotenoid dalam minyak sawityangbelumdimurnikan berkisarantara 500-700ppm dan lebih dari80%-nya adalah αdanβ karoten. Dilihat dari kadar aktivitas provitamin A, kadar karotenoid minyak sawit mempunyai aktivitas10 kali lebih besar dibanding wortel dan300 kali lebih besar dibanding tomat (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1997).

Kelapa sawit merupakan tanaman dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi karena merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati. Bagi Indonesia, kelapa sawit memiliki arti penting karena mampu menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat dan sebagai sumber perolehan devisa negara. Sampai saat ini Indonesia merupakan salah satu produsen utama minyak sawit dunia selain Malaysia dan Nigeria (Syahfitri, 2007).

Pada tahun 2008, luas areal pertanaman kelapa sawit Indonesia yang telah menghasilkan sekitar 6,6 juta Ha dengan total produksi sekitar 17,6juta ton CPO. Terdiri dari Perkebunan Rakyat seluas 2,6jutaha dengan produksi 5.895.000ton CPO, Perkebunan Besar Nasional seluas 687 ribu Ha dengan produksi 2.313.000 ton CPO, dan Perkebunan Besar Swasta seluas 3,4 jutaHa dengan produksi 9.254.000 ton CPO. Sedangkan untuk luas areal pertanaman kelapa sawit Indonesia tahun 2008 yang belum menghasilkan seluas 2,8juta Ha (htt p : / /di t je n bun.deptan . go.id/, 2009).

(5)

tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang (Shell) sebanyak. 6,5% atau 65 kg, wet decanter solid (lumpur sawit) 4 % atau 40 kg, serabut (Fiber) 13% atau 130 kg serta limbah cair sebanyak 50% yang dihasilkan dari unit sterealisasi, klasifikasi dan unit hidrosiklon. (Mandirim 2012).

Kebutuhan akan ketersediaan bibit kelapa sawit berkualitas dengan kuantitas yang terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan penduduk dunia akan minya ksawit. Perawatan bibit yang baik dipembibitan awal dan pembibitan utama melalui dosis pemupukan yang tepat merupakan salah satu upaya untuk mencapai hasil yang optimal dalam pengembangan budidaya kelapa sawit (Santidan Goenadi, 2008).

Aplikasi pupuk dengan efisiensi tinggi dapat diperoleh melalui peningkatan daya dukung tanah dan peningkatan ketersediaan unsur hara pupuk dalam media tanam bibit. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut yaitu melalui kombinasi penggunaan pupuk buatan(anorganik) dan kompos sebagai agen pembenah tanah. Penggunaan kompos pada medium pembibitan kelapa sawit sangat diperlukan untuk mengatasi terbatasnya ketersediaan bahan organik (Lubis, 1992).

Pada dasarnya semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya limbah organik rumah tangga, kotoran/limbah peternakan, limbah-limbah pertanian, limbah-limbah-limbah-limbah agroindustri, limbah-limbah pabrik kertas, limbah-limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll (Crawford, 2003).

Bibit merupakan produk dari suatu proses pengadaan bahan tanaman yangdapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Bahan tanaman yang berkualitas merupakan kebutuhan pokok suatu industri perkebunan. Faktor bibit memegang peranan penting di dalam menentukan keberhasilan penanaman kelapa sawit (Syahfitri, 2007).

(6)

Untuk pembibitan di main nursery dilakukan selama 4-12 bulan dengan pelepah sebanyak 12-14 helai pelepah. (Rizkyarti dkk., 2011).

Tujuan

(7)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Menurut Sumarno (2008) taksonomi kelapa sawit adalah sebagai berikut : Divisi : Spermatophyta, Sub divisi : Angiospermae, Kelas : Angiopspermae, Subkelas : Monocotyledoneae, Ordo : Spadiciflorae, Famili : Palmaceae, Genus : Elaeis,

Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

Akar tanaman kelapa sawit adalah serabut . akar pertama yang muncul dari biji yang telah tumbuh (berkecambah) adalah radikula yang panjangnya dapat mencapai 15 cm. Akar primer mampu bertahan sampai 6 bulan yang bertugas mengambil air dan makanan terkait dengan cadangan makanan pada endosperm biji telah habis yang ditandai dengan lepasnya biji. Akar primer ini akan tumbuh akar sekunder dengan diameter 2-4 mm yang tumbuh horizontal (Prihutami, 2011).

Batang kelapa sawit adalah bulat panjang, tidak bercabang : 25 –75 cm, terus bertambah tinggi selama tanaman hidup, tetapi untuk perkebunan, umur ekonomis 25 –35 tahun, dengan tinggi 10 –11 m (Yahya dan Suwarto, 2011).

Daun pertama yang tumbuh pada stadium benih berbentuk lanset (lanceolate), kemudian muncul bifurcate dan setelah dewasa berbentuk menyirip (pinnate). Pada tanaman dewasa dapat menghasilkan 40-60 daun dengan laju dua daun /bulan dan satu helai daun hidup fungsional dua tahun (Suwarno, 2008).

Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monoccious) artinya bunga jantan dan betina terdapat dalam satu tanaman, akan tetapi tidak dalam satu tandan yang sama. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan rangkaian bunga betina. Kadang-kadang pada kelapa sawit terbentuk rangkaian bunga hermaprodit terutama pada tanaman yang masih muda (Manalu, 2008).

(8)

atau inti. Inti dapat disamakan dengan daging buah. Kernel mengandung minyak (PKO) sebesar 3% dari berat tandan. Berwarna jernih dan bermutu sangat tinggi (Sastrosayono, 2007).

Biji kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot yang berbeda untuk setiap jenisnya. Umunya, biji kelapa sawit memiliki waktu dorman. Perkecambahan bisa langsung dari enam bulan dengan tingkat keberhasilan 50% (Lubis dan Widanarko, 2011).

Syarat Tumbuh Iklim

Curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang tahun, suhu optimal 26°C, kelembaban rata-rata 75 %, dapat tumbuh pada pH yaitu antara 5,5 - 7,0 (Rahmat, 2006).

Iklim sangat berpengaruh terhadap variasi pertumbuhan kelapa sawit. Salah satu faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap produktifitas kelapa sawit adalah air. Ketersediaan air ini sangat dipengaruhi oleh curah hujan, irigasi yang diberikan ke perkebunan serta kapasitas tanah dalam menahan air. Defisit air yang tinggi menyebabkan produksi turun drastis dan baru normal pada tahun ketiga dan keempat karena merusak perkembangan bunga sebelum anthesis dan pada bunga yang telah anthesis menyebabkan kegagalan matang pandan (Manalu, 2008).

Lama penyinaran matahari yang baik untuk kelapa sawit antara 5-7 jam/hari. Tanaman ini memerlukan curah hujan tahunan 1500-4000 mm, temperature optimal 24-28ºC. ketinggian tempat yang ideal untuk sawit antara 1-500 mdpl (diatas permukaan laut). Kelembaban optimum yang ideal untuk tanaman sawit sekitar 80-90% dan kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan (Kiswanto dkk., 2008)

Tanah

(9)

busuk. Selain itu pertumbuhan batang dan daunnya tidak mengindikasikan produksi buah baik. Kesuburan tanah bukan merupakan syarat mutlak bagi perkebunan kelapa sawit (Sumarno, 2008).

Kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah Podzolik, Latosol, Hidromorfik Kelabu, Alluvial atau Regosol, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai. Tingkat keasaman (pH) yang optimum untuk sawit adalah 5,0-5,5. Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase (beririgasi) baik dan memiliki lapisan solum cukup dalam (80 cm) tanpa lapisan padas. Kemiringan lahan pertanaman kelapa sawit sebaiknya tidak lebih dari 15º (Kiswanto. 2008).

(10)

Efektivitas Media Tanam Limbah Solid Kelapa Sawit Pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Di Pre Nursery

Limbah Solid

Kelapa Sawit merupakan salah satu tanaman budidaya penghasil minyak nabati

menghasilkan CPO juga menghasilkan limbah sangat banyak Diketahui untuk 1ton kelapa sawit akan mampu menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebanyak 23% atau 230kg, limbah cangkang (Shell) sebanyak. 6,5% atau 65kg, wetdecanter solid (lumpursawit) 4% atau 40kg, serabut (Fiber) 13% atau 130kg serta limbah cair sebanyak 50% yang dihasilkan dari unit sterealisasi, klasifikasi dan unit hidrosiklon. (Mandirim 2012).

Solid merupakan salah satu limbah padat dari hasil pengolahan minyak sawit kasar. Di Sumatera, limbah ini dikenal sebagai lumpur sawit, namun solid biasanya sudah dipisahkan dengancairannya sehingga merupakan limbah padat. Ada dua macam limbah yang dihasilkan pada produksi CPO, yaitu limbah padat dan limbah cair.

Saat sekarang ini produksi limbah solid di dua pabrik pengolahan CPO di Kabupaten Kota waringin Barat sekitar 36-42t/hari (rata-rata 20t/pabrik/hari). Jumlah limbah solid yang dihasilkan bergantung pada TBS yang diolah. Produksi TBS akan makin bertambah pada masa mendatang seiring dengan makin luasnya area perkebunan kelapa sawit yang berproduksi. Diharapkan dalam setiap 10.000 ha berdiri satu pabrik pengolahan CPO.

(11)

ampas tahu, berwarna kecokelatan, berbau asam-asam manis, dan masih mengandung minyak CPO sekitar 1,5% (Ruswendi, 2008).

Solid dapat tahan lama apabila disimpan dalam tempat tertutup, misalnya dalam kantong plastik hitam dengan meminimumkan jumlah oksigen yang masuk. Teknologi sederhana ini terinspirasi oleh teknologi “silo”. Kantong plastik hitam akan menggantikan fungsi bangunan silo. Jumlah oksigen dalam kantong plastik diminimumkan dengan cara mengisap udara memakai pompa sepeda. Kantong plastik dibuat rangkap tiga. Kantong plastik pertama diisi dengan solid kemudian udaranya diisap dan ujungnya diikat. Selanjutnya bungkusan plastik dimasukkan ke dalam kantong plastik kedua dan sebelum diikat, udara yang ada di dalamnya diisap terlebih dahulu. Setelah diikat, bungkusan dimasukkan ke dalam kantong plastik ketiga, dikeluarkan udaranya kemudian diikat. Daya simpan solid sangat ber- gantung pada tempat penyimpanan (kualitas kantong plastik).Dengan cara ini solid tahan disimpan lebih dari 1 bulan dengan warna relatif tidak berubah, yaitu cokelat muda. Solid yang disimpan di tempat terbuka menjaditengik(busuk)dan warnanya menja dikehitaman. Walaupun permukaan solid sudah berubah warna (busuk), bagian dalamnya memiliki konsistensi dan warna yang tidak berubah.(Utomo et al. 2002).

Kandungan Unsur Hara Limbah Solid

Efisiensi pemupukan dapat dicapai dengan takaran pupuk yang tepat yang dipengaruhi oleh hubungan antara sifat-sifat tanah dan tanaman. Tanaman kelapa sawit memerlukan media tanah yang bersifat permeabel (mudah meloloskan dan menyerap air dan udara tanah), dan lapisan tanah yang tebal, serta kandungan air pada tanah, yang sesuai kebutuhan tanaman (Riwandi, 2004).

(12)

Limbah padat hasil pengolahan kelapa sawit mempunyai potensiuntuk dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis karena mengandung bahan organik dengan kadar yang cukup tinggi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pratiwietal (1988), bahwa komposisi kimia tandan kosong kelapa sawit terdiri atas selulosa (36,81%), hemiselulosa (27,01%), lignin (15,70%), dan abu (6,04%). Disamping itu, Irawadi (1991) juga melaporkan bahwa komposisi kimia tandan kosong terdiri atas hemiselulosa (34,78%), selulosa (28,28%), lignin (21,56%), lemak (6,95%), dan protein (6,94%), sedangkan kandungan kimia cangkangnya terdiri atas hemiselulosa (31,70%), selulosa (32,53%), lignin (20,09%), lemak (5,33%), dan protein (4,45%).

Pada beberapa perkebunan, antisipasi terhadap limbah tersebut ditempuh dengan pembuatan pipa-pipa instalasi untuk mengalirkan limbah ini ke lahan perkebunan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa padatan solid memiliki kandungan bahan kering 81,56% yang didalamnya terdapat protein kasar 12,63%; serat kasar 9,98%; lemak kasar 7,12%; kalsium 0,03%; fosfor 0,003%; dan energi 154kal/100 gram. (Utomodan Widjaja, 2005).

Pengolahan Limbah Solid Kelapa Sawit

(13)

digunakan bertekanan 3 kg/cm2dansuhu 140oC selama 75-90 menit. Setelah sterilisasi, buah dipisahkan dari tandan. Tahap ini dikenal sebagai pemipilan atau treshing. Buah yang telah dipisahkan dari tandan dilumatkan menggunakan steam pada suhu 90oC dengan menggunakan digester. Pada tahap berikutnya, minyak diekstrak dari serat. Proses terakhir adalah pemurnian. Selain menghasilkan CPO, PKS juga menghasilkan minyak inti kelapa sawit (PKO).

Untuk menghasilkan CPO, PKS juga menghasilkan limbah. Limbah yang keluar dari PKS berbentuk padatan, gas, dan cair. Limbah yang keluar dari PKS sebenarnya belum bisa dikatakan 100% sebagai limbah, lebih tepat dikatakan produk samping atau side product.

Limbah padat yang keluar dari PKS meliputi tandan kosong (tankos) dengan persentase sekitar 23% terhadap TBS, abu boiler (sekitar 0.5% terhadap TBS), serat (sekitar 13.5% terhadap TBS) dan cangkang (sekitar 5.5% terhadap TBS). Limbah padat yang keluar dari PKS umumnya tidak memerlukan penanganan yang rumit. Limbah padat dapat digunakan lagi sebagai bahan bakar, pupuk, pakan ternak, dan juga bisa dijual untuk menghasilkan pendapatan tambahan.

Serat, cangkang dan tankos bisa digunakan sebagai bahan bakar. Abu boiler dapat diaplikasikan langsung sebagai sumber pupuk kalium, tankos sebagai pupuk dengan cara menjadikan mulsa dan pengomposan. Ampas inti digunakan sebagai pakan ternak.

Terdapat dua sumber pencemaran gas yang keluar dari PKS yaitu boiler yang menggunakan serat dan cangkang sebagai bahan bakar dan juga incinerator yang membakar tankos untuk mendapatkan abu kalium. Pada saat ini incinerator sudah mulai ditinggalkan.

(14)

yang berbeda, terdiri dari 60% dari total POME berasal dari stasiun klarifikasi, 36% dari total POME berasal dari stasiun rebusan, 4 % dari total POME berasal stasiun inti.

Singkatnya dapat disebutkan pertama diterimanya tandan buah sawit, lalu pengumulan di pabrik kelapa sawit, proses hidrolisis berlanjut hingga dikeluarkannya limbah industri dalam hal ini adalah limbah solid setelah itu pengepakan atau pengumpulan dan pengeringan yang berkelanjutan.

Faktor Yang Mempengaruhi Tidak Digunakannya Top Soil

Dari penelusuran informasi penulis disebuah Perkebunan Besar, saat ini mulai adanya kesulitan dalam mencari dan menyediakan tanah top soild alam skala besar untuk media pembibitan. Dan dalam penyediaan tanah top soil ini, ada beberapa hal yang menjadi masalah yaitu sebagai berikut :

 jauhnya lokasi pengambilantanah topsoil darilokasi pembibitan.

 biaya untukmembeli tanah topsoil cukupmahal.

 biaya transportasi yang cukupmahal dalampengangkutannya.

 lokasi pengambilan harus dipastikanbebas ganoderma.

 merusak lokasi bekas pengambilan karena hilangnya lapisan tanah atasnya Dariuraian diatas, limbahsolid dari pabrik pengolahan kelapa sawit memiliki potensi yang cukup besar untuk dimanfaatkan yaitu solid yang telah menjadi kompos dapat dibuat sebagai bahan campurandalam media tanam pembibitan kelapa sawit, sehingga pemakaian tanah top soil pun dapat dikurangi dan dapat menghemat biaya untuk media pembibitan. Kompos solid sebagai agen pembenah tanah diharapkan dapat meningkatkan daya dukung tanah akan ketersediaan bahan organik dan unsur hara terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di prenursery.

Keuntungan Limbah Solid Sebagai Media Tanam Kalapa Sawit

Adapun manfaat dari limbah solid sebagai sumber bahan media tanam kelapa sawit antara lain:

 Dapat mengurangi pemakaian tanah topsoil.

 Dapat menghemat biaya untuk media pembibitan.

(15)

 Meningkatkan daya dukung tanah akan ketersediaan bahan organic dan unsur hara terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit.

 Memiliki kandungan hara yang cukup sebagai unsur hara.

 Dapat menjaga keseimbangan tumbuh tanaman karena memiliki serat kasar yang cukup baik.

 Pemakaian Solid sebagai bahan pupuk di lapangan akan mengurangi jumlah pemakaian pupuk buatan.

Media Tanam Limbah Solid Kelapa Sawit

Prosedur media tanam antara lain:

 Penyediaan pasir dengan limbah solid.

 Lalu dilakukan Pencampuran atau pengadukan dua bahan secara berulang sambil penyiapan Penyiapan polibag.

 Kemudian Pengisian media kedalam polibag.

 Setelah terisi hampir penuh ditanamkan bibit unggul kelapa sawit.

 Pada pembibitan sebaiknya diberi naunagan yang difungsikan agar bibit tanaman tidak tekena hujan maupun sinar matahari secara langsung.

(16)

KESIMPULAN

1. Kelapa sawit merupakan tanaman yang membutuhkan unsur hara dan drainase yang baik.

2. Solid adalah limbah padat dari hasil samping proses pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik kelapa sawit.

3. Solid mentah memiliki bentuk dan konsistensi seperti ampas tahu, berwarna kecokelatan, berbau asam-asam manis, dan masih mengandung minyak cpo sekitar 1,5%

4. Padatan solid memiliki kandungan bahan kering 81,56%; protein kasar 12,63%; serat kasar 9,98%; lemak kasar 7,12%; kalsium 0,03%; fosfor 0,003%; dan energi 154kal/100 gram.

5. Tandan buah sawit, penerimaan di pabrik, proses yang dihasilkan dari unit sterealisasi, klasifikasi dan unit hidrosiklon adalah limbah solid.

6. Pemakaian solid sebagai bahan pupuk di lapangan akan mengurangi jumlah pemakaian pupuk buatan

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, D. 1986. Perkebunan kelapa sawit sebagai sumber pakan ternak di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan PertanianV(4):93-99. Basri, H.B., Mannan, M.A., and Zain, M.F.M., 1999. Textural and Chemical

Properties of Adsrobent Prepared from Palm Shell by Phosphoriq Acid Activation,Cement Concrete Res, 29, 61–62.

Bettidan Winiati, 1995. Penanganan Limbah Industri Pangan, IPB, Kansius, Yogyakarta.

Cheng-Juri, J.,Y. Hong, and C. Zhi-Rong. 2005. Hydrogenation of Ortho – Nitrochloro - Benzene on Activated Carbon Supported Platinum Catalysts. Jounal of Zhejiang University Science 6B (5) : 378-381.

Darnoko, dan A.S.Sutarta. 2006. Pabrik Kompos diPabrik Sawit. Artikel Tabloid Sinar Tani, 9 Agustus 2006.

Dinas Kehewanan Kalimantan Tengah. 2001.Kebijakan dan strategi pembangunan pe-ternakan di Kalimantan Tengah tahun 2001-2005.Makalah disampaikan padaTemu Aplikasi Paket Teknologi dan Temu Informasi Pertanian Subsektor Peternakan 13-14 November 2001 diBalai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Palangkaraya.

Djaenudin,D.,H.Subagio, dan S.Karama.1996. Kesesuaian lahan untuk pengembangan peternakan di beberapa propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Cisarua 7-8 November 1995. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pe-ternakan, Bogor. hlm.165-174.

Figueroa-Torres, M.Z.,A.Robau-Sanchez, L.D.I.Torre-Saenz, and A.Aguilar- Elguezabal. 2007. Hydrogen

(18)

Guo. J., Lua. Y.A.C., Chi. R.A.,Chen. Y.L., Bao. X.T., and Xiang. S.X., 2007,

Adsorption of Hydrogen Sulphide (H2S) by Activated Carbons Derived from Oil-Palm Shell, Carbon, 45,330– 360.

Hanafiah. K.A., 2005, Rancangan Percobaan Aplikatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Harahap, I. Y. 2006. Penataan Ruang Pertanaman Kelapa Sawit Berdasarkan Pada

Konsep Optimalisasi Pemanfaatan Cahaya Matahari. Warta PPKS. Medan. Hermantoro. 2009. Pemodelan Dan Simulasi Produktivitas Perkebunan Kelapa

Sawit Berdasarkan Kualitas Lahan Dan Iklim Menggunakan Jaringan Proceedings of an International Symposium held in Association with

7th AAAP Animal Science Congress, Bali, Indonesia,11-16 July 1994.

Kamaruddin, A. 1997. The effects of feeding palm oil by-products on the growth per- formance and nutrients utilization by growing lambs. Prosiding Seminar Nasional II Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak,15-16 Juli 1997. Kerja Sama Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dengan Asosiasi Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Indonesia (AINI), Bogor .hlm.7172.

Ketaren, P.P. 1986. Bungkil inti sawit dan ampas minyak sawit sebagai pakan ternak. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 8(4-6):10-11. Kiswanto. 2008. Tanaman Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar dan

Pengembangan. Teknik Pertanian. Jakarta.

Lubis, R. E dan A. Widanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Agromedia Pustaka. Jakarta.

(19)

Manalu, A.F. 2008. Pengaruh Hujan Terhadap Produktivitas dan Pengelolaan Air di Kebun kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Masa Estate. Kalimantan Selatan. IPB. Bogor.

Marsono, 1997, Teknik Pengolahan Air Limbah Secara Biologi, Media Informasi Teknik Lingkungan ITS, Surabaya.

Miswan, 2004, Penurunan Tingkat Pencemaran Limbah Cair Rumah Potong Hewan dengan Menggunakan Sabut Kelapa, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Pahan.I, 2006, Panduan Lengkap Kelapa Sawit, Penebar Swadaya, Jakarta.

Panjaitan, C. 2010. Pengaruh Pemanfaatan kompos Solid Dalam Media Tanam dan Pemberian NPKMg (15:15:6:4) Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pre Nursery. Departemen Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Rahmat, H. 2006. Budidaya Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.). Dinas Perkebunan Dati I. Propinsi Irian Jaya. Jayapura.

Sastrosayono, S. 2007. Budidaya Kelapa Sawit. Kanisius. Yogyakarta.

Sarwani. M. 2008. Teknologi Budidaya Kelapa Sawit. Balai Besar Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Lampung.

Sumarno, M. 2008. Kelapa Sawit Indonesia. Repository IPB. IPB. Bogor.

Syahfitri. D. 2007. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) DI Pembibitan Utama Akibat Perbedaan Konsentrasi Dan Frekuensi Pemberian Pupuk Pelengkap Cair. Universitas Bengkulu. Bengkulu. Syakir. M. 2010. Budidaya Kelapa Sawit. Aska Media. Bogor.

(20)

Judul : Efektivitas Media Tanam Limbah Solid Kelapa Sawit terhadap

Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis Guineensis Jacq.) Di Pre Nursery

Nama : Arwin Sholeh

Nim : 120301078

Program Studi : Agroekoteknologi

Diperiksa Oleh :

Dosen Pembimbing Kolokium

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Judul Tesis Kajian Kemampuan Teknologi Industri Pengolahan Berbahan Baku Kelapa Sawit : Kasus Dua Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit Sawit Bekri dan Kebun Pabatu1. Nama

Judul Tesis Kajian Kemampuan Teknologi Industri Pengolahan Berbahan Baku Kelapa Sawit : Kasus Dua Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit Sawit Bekri dan Kebun Pabatu1. Nama

Tandan kosong kelapa sawit yang digunakan merupakan limbah dari pabrik. pengolahan kelapa sawit.Komposisi tandan kosong kelapa sawit dapat dilihat

Dimana perusahaan tersebut bergerak dibidang kontruksi industri kelapa sawit dan bidang desain pabrik (rekayasa) ,yang meliputi pabrik pengolahan kelapa sawit dan pabrik

Perusahaan kelapa sawit biasanya terdiri dari perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit, sehingga para petani langsung mengolah sendiri kelapa sawit dari

tandan buah segar kelapa sawit maupun dari proses pengolahan limbah. cair di pabrik

TKKS yang digunakan merupakan TKKS yang baru keluar dari proses pengolahan sawit dari pabrik kelapa sawit Pinang Tinggi, Jambi. Pemilihan pengambilan TKKS di

Pengolahan di Pabrik Kelapa Sawit dari TBS hingga