Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Sarjana Strata Satu (S-1) dalam Ilmu Ushuluddin dan Filsafat
Oleh:
Maratus Sholikhah
NIM : E51212051
PRODI FILSAFAT AGAMA
JURUSAN PEMIKIRAN ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UIN SUNAN AMPEL
vii
nilai-nilai keberagamaan mulai memudar dengan semakin modernnya zaman. Etika dan moral merupakan kunci utama manusia untuk bisa berhubungan baik dengan manusia lain. Dengan kedua kunci tersebut rasa toleransi terhadap perbedaan yang hadir pun akan mudah terwujud. Seperti yang penulis katakan diparagraf sebelumnya, kini etika dan moralitas mulai memudar dengan berkembangnya zaman. Para pemeluk agama yang harusnya hadir dengan wajah ramah kini menghalalkan darah sesamanya untuk kepentingan pribadi maupun kelopok. Dari kegelisahan itulah skripsi yang berjudul “Kekerasan Atas Nama Agama dalam Konteks Etika Immanul Kant” hadir. Skripsi ini nantinya akan menggunakan metode penelitian pustaka. Dimana semua data diambil dari buku, artikel, jurnal, koran dan lain-lain. Selain itu, pisau analisis yang akan digunakan penulis adaah etika Immanuel Kant. Karena etika yang ia miliki (etika Imperatif Kategoris) dirasa pas untuk dijadikan jalan keluar untuk melemahkan kekerasan yang berjubahkan agama dewasa ini.
x
Pernyataan Keaslian...ii
Persetujuan Pembimbing...iii
Persembahan...iv
Motto...vi
Abstrak...vii
Kata Pengantar...viii
Daftar Isi...x
BAB I: Pendahuluan A. Latar Belakang...1
B. Rumusan Masalah...8
C. Tujuan Penulisan...8
D. Kegunaan Penelitian...9
E. Tinjauan Pustaka...10
F. Definisi Konsep...12
G. Metode Penelitian...13
1. Jenis Penelitian...13
2. Pengumpulan Data...14
xi
H. Sistematika Pembahasan...18
BAB II: Biografi dan Etika Immanuel Kant A. Biografi Immanuel Kant...20
B. Latar Belakang Pemikiran Filosofis Immanuel Kant...26
a. Immanuel Kant dan Zaman Pencerahan...27
b. Wilhem Leibniz dan David Hume...29
C. Pemikiran Immanuel Kant dalam Tiga Karya Besarnya...32
D. Pengertian Etika dan Moralitas...36
E. Konsep Etika Immanuel Kant...38
F. Karya-karya Immanuel Kant...41
BAB III: Mengungkap Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama A. Kekerasan Bernuansa Agama...43
B. Fundamentalisme sebagai Produk Modernitas...46
C. Kekerasan Berjubah Agama di Indonesia...48
BAB IV : Kekerasan atas Nama Agama dalam Konteks Etika Immanuel Kant A. Etika Imperatif Kategoris Immanuel Kant...59
a. Hukum Umum...61
xii
Kant...68
BAB V: Penutup
A. Kesimpulan...75
B. Saran...76
1 A. Latar Belakang
Ada sentilan dalam suatu novel terjemahan yang berjudul Black Beuaty, “Aku tak percaya agama, karena aku tak melihat orang-orang religius lebih baik
dari orang-orang kebanyakan”.1 Kalimat tersebut penulis maknai sebagai sebuah
sindiran bagi seorang manusia yang notabennya makhluk sosial dan memilih
untuk beragama. Latar belakang mendasar kalimat tersebut terangkai lantaran
dewasa ini banyak sekali orang beragama, tetapi tidak banyak orang yang mau
mengaplikasikan nilai-nilai keagamaan yang ia peluk. Kekerasan secara verbal
maupun non verbal merajalela, korupsi menjadi budaya negara, teroris seolah juga
bagaikan jamur di musim penghujan. Ironis memang, orang Barat yang
notabennya tak beragama mampu dan terbiasa mengaplikasikan nilai-nilai yang
terkandung dalam ajaran agama dengan baik; budaya antri, menjaga kebersihan,
menghargai waktu, menghargai orang lain, toleransi, dan lain sebagainya.
Tidak sedikit para cendikiawan muslim mengatakan bahwa agama
merupakan salah satu landasan atas sebuah tindakan. Agama (Islam) mengatur
semua aktivitas manusia di muka bumi. Sikap toleransi dan tolong menolong
sangat dianjurkan antar sesama manusia. Tidak memandang ia beragama apa dan
berasal dari suku mana. Seperti yang dikatkan Abdurrahman Wahid atau yang
akrab disapa dengan Gus Dur bahwa “ Tidak penting apa agama atau pun sukumu,
kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak
akan pernah bertanya apa agamamu”.
Agama ada di dunia ini sudah berabad-abad lamanya. Di setiap zamannya
tantangan yang harus dihadapi oleh orang beragama pun juga selalu berbeda-beda.
Oleh sebab itulah al-Qur’an dan al-Hadits (pedoman orang Islam) sudah
seharusnya dimaknai secara kontekstual, bukan lagi tekstual. Memaknai sesuai
konteks zaman. Bukan zaman yang harus mengimbangi teks-teks tersebut.2
Zaman Rasulullah dan zaman para Khalifah pun sudah berbeda. Apalagi dengan
zaman modern seperti saat ini? Sederhananya, manusia merupakan hewan berakal
yang selalu memberikan penemuan-penemuan di setiap abadnya dengan inovasi
yang berbeda-beda. Hasrat ketidakpuasan yang dimiliki manusia membuatnya
ingin selalu memberikan hal baru. Berjalan dinamis berenang bersama kemajuan
zaman. Contohnya, zaman dahulu manusia masih menggunakan lampuublekatau
oncor untuk penerangan di malam hari. Tetapi dengan perkembangan zaman Thomas Alva Edison mengganti alat penerangan dengan lampu yang lebih bersifat
praktis. Tekstual terhadap wahyu Tuhan bisa menjadikan manusia stagnan tanpa
adanya pembeharuan. Kemungkinan besar, pemaknaan yang tekstual bisa jadi
akan melahirkan pemeluk agama yang radikal, dan tidak ada manusia sehat yang
pernah mengklaim menjadi seorang mahatahu yang sempurna.3
2 Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: Epistimologi, Metodologi, dan Etika(Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2006), 27.
3 Immanuel Kant, Kritik Atas Akal Budi Praktis, terj. Nurhadi (Yogyakarta: Pustaka
Seperti yang sudah terpaparkan di paragraf sebelumnya, salah satu dari
tujuan agama adalah untuk membuat kepribadian manusia menjadi lebih baik.
Termasuk baik secara moralitas. Kekerasan yang masih mengatasnamakan agama
merupakan bentuk kegagalan tersendiri bagi pemeluk agama tersebut. Bukan
hanya merugikan diri sendiri, secara tidak langsung ia telah mengotori makna
“baik” yang ada dalam pribadi orang beragama. Karen Amstrong
mengungkapkan, setiap kekerasan dan terorisme yang mengatasnamakan agama
merupakan sebuah kesesatan.4
Bagi Immanuel Kant untuk menjadi pribadi bermoral atau beretika
merupakan sebuah keharusan. Ia juga berpendapat bahwa hidup bermoral itu
memiliki nilai lebih daripada sekedar hidup secara bijaksana.5 Ketika seseorang
melakukan perbuatan apapun motifnya haruslah benar: kewajiban harus
dilaksanakan demi kewajiban itu saja, dan bukan atas motif lain; kebahagiaan atau
faktor-faktor emosi lainnya dari luar.6 Yang dimaksud kewajiban oleh Kant di
sini adalah hukum moral.7 Apabila motif berbuat baik sudah dilandasi dengan
niatan yang salah bisa jadi kebaikan yang ia lakukan tidak termakanai sebagai
kebaikan yang hakiki.
4 Ika Andri Setiyadi, “Fundamentalisme Agama Perspektif Karen Amstrong” (Skripsi,
Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008), 7.
5 Franz Magnis Suseno, 13 Model Pendekatan Etika (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
1998), 136-137.
6Hans Fink,Filsafat Sosial: Dari Feodalisme hingga Pasar Bebas(Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, , 2010), 91.
7 Lili Tjahjadi, Hukum Moral; Ajaran Immanuel Kant Tentang Etika dan Imperatif
Etika Kant secara hakiki merupakan etika kewajiban. Etika yang ia usung
berbeda dari pola etika eudemonistik para filosof Yunani samapaidengan Spinoza.
Bukan apa yang mendekatkan kita kepada kebahagiaan menentukan kualitas
moral kehendak kita, melainkan apakah kita mau taat pada hukum moral. Orang
baik adalah orang yang bersedia melakukan (menghendaki) apa yang menjadi
kewajibannya.8 Kant mengatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini
(termasuk manusia) berperilaku menurut hukum-hukum tertentu. Tetapi hanya
makhluk rasionallah yang dapat berperilaku sesuai konsepsi hukum-hukum.9
Sumber etika menurut Immanuel Kant tidak bersifat rasional atau pun
teoritis. Bahkan menurut Kant ia bukan bersifat nalar murni. Justru, apabila
manusia menggunakan nalarnya dalam merumuskan etika, ia dengan sendirinya
tidak akan sampai pada etika sesungguhnya. Di samping akan berselisih satu
dengan mengenai baik dan buruk, etika yang bersifat rasional sudah bukan lagi
etika, melainkan bisa terjebak ke dalam perhitungan untung-rugi. Dengan kata
lain, perbuatan etis dapat menghasilkan keuntungan bagi pelakunya, tetapi juga
dapat mengakibatkan kerugian baginya. Kant mengatakan bahwa etika adalah
urusan nalar praktis. Artinya pada dasarnya nilai-nilai moral itu telah tertanam
pada diri manusia sebagai sebuah kewajiban (imperatif kategoris). Kecenderungan
untuk berbuat baik, misalnya, telah ada pada diri manusia. Manusia pada intinya
hanya menunaikan kecenderungan diri dalam setiap perbuatan. Dengan kata lain,
pebuatan etis bersifat deontologis10dan berada di balik nalar.11
Immanuel Kant membedakan dua macam kewajiban atau imperatif.
Pertama adalah Imperatif Hipotesis, yaitu menyuruh melakukan suatu tindakan hanya atas dasar pengandaian bahwa kita mau mencapai suatu tujuan tertentu.
Misalnya, berhentilah merokok kalau mau menjaga kesehatan. Apabila tujuan
menjaga kesehatan tidak kita kehendaki, maka perintah berhentilah merokok
kehilangan artinya. Kedua adalah Imperatif Kategoris. Berbeda dengan yang sebelumnya, imperatif kategoris berlaku mutlak dan tanpa kecuali, karena apa
yang diperintahkan olehnya merupakan kewajiban pada dirinya sendiri, jadi tidak
tergantung dari suatu tujuan selanjutnya.12
Menurut Immanuel Kant, tujuan moralitas adalah kebaikan tertinggi
(summum bonum), dan kebaikan tertinggi tentunya juga berarti kebahagiaan sempurna (bukan kebahagiaan dalam arti empiris: kesenangan, kesehatan,
kekayaan, kuasa, dan lain sebagainya).13 Ketika memahami filsafat etika Kant,
maka akan didapatkan sebuah persamaan dengan nilai-nilai kebaikan yang
10 Deontologis merupakan salah satu aliran dalam etika. Deontologis berasal dari bahasa
Yunani deon yang memiliki arti yang diharuskan, yang wajib. Teori ini mengatakan bahwa betul salahnya suatu tindakan tidak dapat ditentukan dari akibat-akibat tindakan itu melainkan ada cara bertindak yang begitu saja terlarang, atau begitu saja wajib. Jadi untuk mengetahui apakah kita boleh mengambil mangga dari pohon tetangga tanpa bertanya lebih dahulu kepadanya, kita tidak perlu bertanya bagaimana akibat dari perbuatan itu, melainkan mengambil barang orang lain tanpa izinnya begitu saja tidak boleh (Baca lebih Juhaya S. Praja Aliran-Aliran Filsafat & Etika (Bandung: Yayasan Piara, 1997), hal 43).
11 M. Amin Abdullah, Antara al-Ghozali dan Kant: Filsafat Etika Islam, terj. Hamzah
(Bandung: Mizan, 2002), 17.
12Ibid., 137-138.
13Tjahjadi,Hukum Moral; Ajaran Immanuel Kant Tentang Etika dan Imperatif Kategoris,
terkandung dalam agama. Yaitu berbut baik dari dalam hati, tidak perduli
merugikan orang lain atau pun diri sendiri. Kant beranggapan bahwa “baik” yang
sesungguh-sunggunya itu berasal dari dalam diri manusia. Ada banyak hal baik
dalam arti tertentu. Misalnya, menyebut keberanian atau kepintaran seseorang
sebagai sesuatu yang baik. Akan tetapi, “baik”-nya semua ini tidak bersifat
mutlak; semuanya itu malahan akan menjadi “tidak baik” apabila disalahgunakan
oleh orang yang berkehendak jahat. Dalam keadaan manusiawi biasa, manusia
harus berjuang melawan dorongan-dorongan dan berbagi nafsu yang tidak teratur,
kehendak baik itu terewanjatah dalam bertindak demi kewajiban (Pflicht).
Bagi Immanuel Kant, agama adalah pertama-tama dan utama mengenai
moralitas, yakni kesadaran akan semua kewajiban yang harus terpenuhi oleh
seorang manusia.14 Istilah agama (Religion) kerap kali dipakai Kant untuk
menunjuk pada pranata sosial yang partikular dan kepercayaan pada yang Illahi.
Kant juga memaknai istilah agama dalam arti khusus: agama adalah pengakuan
kewajiban-kewajiban seorang hamba kepada perintah Illahi. Dan bila dikaitkan
dengan teologi, agama itu tidak lain dari pada penerapan teologi pada moralitas.
Jadi bagi Kant agama adalah pertama-tama dan terutama soal moralitas, yakni
kesadaran akan semua kewajiban yang harus dipenuhi.15
Kant juga berpendapat bahwa moralitas mengarah kepada agama melalui
“pemahaman mengenai kebaikan tertinggi” (Begriff des hochsten Guts). Maksudnya, Tuhan adalah Yang Sempurna (kudus dan baik) secara moral.
Mengingat tujuan moral adalah kebaikan tertinggi dan kebaikan tertinggi itu
terdapat dalam Tuhan, dan hanya bisa dicapai dengan menerima adanya Tuhan
secara postulat. Oleh sebab itulah, apabila seorang manusia menginginkan
kebiakan tertinggi maka seorang manusia mesti menyelaraskan diri dengan
kehendak dan perintah Tuhan yang sempurna secara moralitas itu. Dengan adanya
penyelarasan inilah, manusia akan mengakui kewajibannya sebagai hambaNya.
Dan itu pulalah yang disebut agama bagi Kant.16
Di dalam karya tulis yang berjudul “Kekerasan Agama dalam Konteks
Etika Immanuel Kant” iniakan menjabarkan tentang etika yang harusnya dimiliki
oleh seorang manusia (terkhusus bagi mereka-mereka yang memilih untuk
beragama) dalam sudut pandang etika Immanuel Kant. Konsep etika Immanuel
yang akan dijadikan sudut pandang dalam karya tulis ini adalah konsep etika yang
bersifat Imperatif Kategoris.
Di dalam agama (Islam) terdapat tiga pembagian urgen yang perlu
mendapatkan perhatian lebih, pertama adalah aqidah (tauhid), kedua Ibadah, dan
ketiga adalah akhlak.17 Dan di karya tulis ini akan lebih menyoroti kekerasan agama yang terjadi karena akhlak atau etika manusia terhadap manusia yang lain.
Seorang yang beragama, yang mengedepankan kekerasan secara verbal maupun
non verbal untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
16Ibid., 57.
17 Endang Saifuddin A, Wawasan Islam; Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam dan
Siapapun yang mencintai Tuhan dan berakhlak dengan sifat-sifat Ilahi,
hendaknya menjadi pribadi penyebar damai dan kasih sayang untuk
lingkungannya. Karena menerima keberadaan Tuhan adalah suatu tuntutan moral
pula.18 Pribadi yang berkualitas dalam al-Qur’an sering dimisalkan dengan kata
“cahaya” dan “air”. Bagi masyarakat padang pasir, tatkala al-Qur’an diturunkan,
cahaya dan air benar-benar dirasakan sebagai penerang dan sumber kehidupan
paling nyata. Tatkala cahaya datang, kegelapan akan terhalau.19 Bukannya
masalah menebar kedzaliman dengan menghalalkan darah antar sesamanya demi
kepentingan perseorangan maupun kelompok. Seperti yang ditegaskan oleh
Immanuel Kant, orang baik adalah orang yang bertindak atas dalam dirinya
sendiri. Bukan dari faktor yang lain.
B. Rumusan Masalah:
1. Bagaimana konsep etika Immanuel Kant?
2. Bagaimana kekerasan atas nama agama dalam konteks etika Immanuel
Kant?
C. Tujuan Penulisan
Segala kegiatan, termasuk penelitian pasti memiliki tujuan. Tujuan
penelitian harus konsisten dengan rumusan judul, rumusan masalah, serta
hipotesis (jika ada yang diajukan). Perlu diingat, tujuan penelitian bukan
tujuan peneliti dalam melaksanakan penelitian. Dalam konteks ini, tujuan
penelitian tidak identik dengan tujuan subjektif si peneliti, tapi tujuan
penelitian harus dapat menjawab mengapa penelitian tersebut
dilaksanakan. Dengan begitu jika peneliti menuliskan seperti “penelitian
ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
sarjana”, hal itu bukan tujuan penelitian, tetapi merupakan tujuan individu
si peneliti yang tentu saja tidak perlu dituliskan dalam skripsi.20 Tujuan
karya tulis ini sendiri adalah:
1. Untuk mengetahui secara terperinci mengenai konsep etika Immanuel
Kant
2. Berupaya untuk mengkontekstualisasikan konsep etika Immanuel Kant
dalam menyikapi kekerasan yang mengatas namakan agama dewasa ini.
D. Kegunaan Penelitian
Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, penelitian yang berjudul
“Kekerasan Agama dalam Konteks Etika Immanuel Kant” memiliki
kegunaan sebagai berikut:
1. Manfaat penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan
menambah wawasan terhadap khazanah keilmuan filsafat, terutama
pengkajian tentang kekerasan yang mengatasnamakan agama dilihat
dari kaca mata etika Immanuel Kant.
2. Manfaat dari penelitian yang dilakukan oleh penulis yang notabennya
adalah seorang mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi, karya
tulis ini sebagai bentuk upaya untuk merealisasikan salah satu Tri
Darma Perguruan Tinggi, yaitu penelitian.
E. Tinjauan Pustaka
Anggun Nur Tafik, “Etika dalam Pandangan Muhammad Iqbal dan
Immanuel Kant”. Di dalam penelitian ini mengungkap tentang etika dalam
pandangan Muhammad Iqbal dan juga Immanuel Kant. Bagi penulis, setelah
membaca latar belakang dan isi skripsi tersebut, skripsi tersebut berupaya
untuk mendalami pemikiran etika Muhammad Iqbal dan Immanuel Kant.
Selain itu, skripsi tersebut berupaya untuk mencari titik temu perbedaan dan
persamaan antara pemikiran etika Muhammad Iqbal serta etika Immanuel
Kant.21
Achmad Chabibi, “Study Komparatif Etika Immanuel Kant dan
Muhammad Iqbal”. Di dalam penelitian tersebut berisi tentang upaya
mengkomparasikan pesmikiran etika dua tokoh tersebut. Setelah
pengkomparasian, diakhir pembahasan terdapat tambahan mengenai
implikasi konsep etika Muhammad Iqbal dan Immanuel Kant terhadap
kehidupan bermasyarakat.22
Riatus Sholihah,“Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama; Studi
Atas Konflik Antara Pengikut Tajul Muluk dan Rois Hukama di Desa
Nangkernang Kecamatan Omben Kabupaten Sampang Madura”. Di dalam
penelitian tersebut mengungkap tentang hubungan Sunni dan Syi’ah di
Sampang Madura. Selain itu, penulis juga menguraikan pemicu konflik
21 Anggun Nur Taufik, “Etika dalam Pandangan Muhammad Iqbal dan Immanuel Kant”
(Skripsi, IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2004), 4-5.
22 Achmad Chabibi, “Study Komparatif Etika Immanuel Kant dan Muhammad Iqbal”
kekerasan antara pengikut Tajul Muluk (Syi’ah) dengan pengikut Rois
Hukama (Sunni) di Sampang Madura.23
Siti Maryam,“Konflik Kekerasan Keagamaan di Madura; Studi
Komparatif atas Hubungan Syi’ah dan Ahlussunah di Bangkalan dan
Sampang”. Siti Maryam dalam penelitiannya tersebut menjabarkan tentang
kehidupan sosial keagamaan masyarakat Syi’ah dan Sunni di Bangkalan
serta yang berada di Bangkalan. Penulis juga mendeskripsikan kronologi
terjadinya konflik Syi’ah dan juga Sunni di Sampang serta aktor-aktor yang
terlibat di dalamnya. Selain itu, di dalam skripsi tersebut juga menjabarkan
mengenai perbedaan hubungan Syi’ah dan Sunni di Sampang serta
Bangkalan.24
M. Amin Abdhullah, “Antara al-Ghozali dan Kant: Filsafat Etika
Islam”. mengkaji tentang teori etika yang dirumuskan oleh al-Ghazali dan
juga Immanuel Kant. Kedua teori etika itu secara kritis diteliti untuk
dipetakan persamaan dan perbedaannya, serta konsekuensi praktisnya
terhadap bidang-bidang lain kehidupan manusia. Kendati sama-sama
menolak metafisika spekulatif dan mengunggulkan etika atas metafisika,
keduanya amat berbeda dalam metodologinya. Metode etika Kant bercorak
“rasionalis”, sedangkan al-Ghozali bercorak religius. Immanuel Kant
23Riatus Sholihah, “Kekerasan yang Mengatasnamakan Agama; Studi Atas Konflik
Pengikut Tajul Muluk dan Rois Hukama di Desa Nangkernang Kecamatan Omben Kabupaten Sampang Madura”(Skripsi, UIN Sunan Ampel, Surabaya, 2014), 40.
24 Siti Maryam, “Konflik Kekerasan Keagamaan di Madura; Studi Komparatif atas
menggunakan pendekatan analitis, al-Ghozali pendekatan yang digunakan
ialah hipotesis.25
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan sebelumnya mengenai
etika Immanuel Kant maupun mengenai kekerasan yang mengatasnamakan
agama, belum ada yang mengkolaborasikan keduanya dalam satu metode
penelitian. Maksudnya, belum ada penelitian yang menggunakan sudut
pandang etika Immanuel Kant dalam menyikapi kekerasan yang
mengatasnamakan agama. Oleh sebab itulah, penelitian tentang karya tulis
ini dianggap penting untuk dilakukan.
F. Definisi Konsep
Kekerasan Atas Nama Agama: Kekerasan bisa bermakana perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya
orang lain.Kata ini berasal dari kata “keras”, yang memiliki arti padat atau
kuat.26 Dan Agama sendiri menurut Kamus Filsafat memiliki banyak
pengertian. Ada yang mengatakan kata ini berhubungan dengan kata kerja
latin religare yang berarti “mengikat dengan kencang”, atau kata kerja
relegere yang berarti “membaca kembali” atau “membaca berulang-ulang dan penuh perhatian”.27 Agama juga bisa dikatakan sebagai sistem yang
mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan pribadatan kepada Tuhan yang
25Abdullah,Antara al-Ghozali dan Kant: Filsafat Etika Islam, 21.
26Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia(Jakarta: Balai Pustaka, 1982),
488-489.
27 Lorens Bagus, Kamus Filsafat Cetakan Kedua (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
dengan manusia serta lingkungannya.28
Konsep Etika : Etika berarti ilmu yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Apabila memakai istilah modern, dapat dikatakan juga
bahwa etika membahas “konvensi-konvensi sosial” yang ditemukan dalam
masyarakat.29Selain itu, etika juga bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan
tentang asas-asas akhlak (moral).30 Sedangkan konsep sendiri di Kamus
Ilmiah Populer bermakna pendapat, pemikiran, ide dasar dll.31Dan “konsep
etika” di dalam judul ini lebih mengarah kepada pemikiran etika yang
digagas oleh seorang tokoh filsafat, penulis fokuskan kepada konsep etika
yang diusung oleh Immanuel Kant.
Immanuel Kant: Immanuel Kant merupakan tokoh filsafat modern yang sangat berpengaruh di zamannya.32 Ia adalah salah satu tokoh filsafat yang
konsen dalam kajian etika.
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini akan dilakukan dengan penelitian kualitatif,
dimana analisa kualitatif pada dasarnya mempergunakan pemikiran logis,
analisa dengan logika, induksi dan deduksi, analogi, komparasi, dan
28 Desy Anwar,Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Surabaya: Amelia Surabaya, 2003),
18.
29K. Bertens, EtikaCetakan Kesebelas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2011), 4. 30Ibid., 5.
31Plus A Partanto dan M. Dahlan al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola,
2009), 366.
32 K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat Cetakan keduapuluh empat (Yoyakarta:
sejenisnya.33 Adapun tema dalam skripsi ini tergolong kajian pustaka,
tanpa harus terjun kelapangan. Jadi semua substansinya diolah dengan
rasio atau logika. Model penelitiannya adalah bibliografi, yakni dengan
meneliti, membaca, menulis, dan mengambil kepustakaan yang berkenaan
dengan pemikiran Immanuel Kant dan kekeresan yang mengatas namakan
agama. Setiap buku yang dibaca tidak lupa untuk melihat daftar indeksnya.
Tidak hanya buku, selain itu peneliti mencari sumber lainnya baik berupa
jurnal, artikel, maupun media massa.
Objek material dalam karya ini adalah kekerasan yang mengatas
namakan agama, sedangkan objek formalnya adalah etika Immanuel Kant
sebagai sudut pandang dari objek material tersebut.
2. Pengumpulan Data
Untuk mencapai tujuan-tujuan dari karya tulis ini, maka diperlukan
data. Penulis mengkatagorikan data dalam penulisan karya tulis ini
menjadi dua macam, data primer yang merupakan karya utama Immanuel
Kant dan data sekunder yang merupakan data-data pendukung.
a. Data Primer
a. Untuk mendukung karya tulis ini, data utama penulis akan
menggunakan karya Immnuel Kant yang mengungkap tentang konsep
etika; Kritik der rainen Vernunf atau Critique of Practical Reason
(Kritik Atas Akal Budi Praktis), Zum Ewigkn Frieden atau Pertual Peace(Menuju Perdamaian Abadi),
b. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan untuk melengkapi karya tulis ini
berasal dari penelitian-penelitian terdahulu (skripsi), koran, artikel, jurnal
dan buku-buku pendung lainnya. Seperti,Hukum Moral: Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif Kategoris karya S.P. Lilit Tjahjadi,
filsafat Sosial karya Frans Fink, 90 Menit Bersama Kant karya Paul Strathern terj. Frans Kowa,Kuliah Islam tentang Ethika & Keadilan Sosial
karya Muchtar Lintang, Sophie’s World karya Jostein Gaarder yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Rahmani Astuti dengan
judul Dunia Sophie; sebuah novel filsafat, 13 Model Pendekatam Etika
karya Franz Magnis Suseno, The Elements of Moral Philosophy karya James Rachels yang diterjemahkan oleh A. Sudiarja dengan judul Filsafat Moral,Kant’s Moral Philosopy karya H. B. Acton yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Hardani dengan judul Dasar-dasar Filsafat Moral; Elaborasi terhadap Pemikiran Etika Immanuel Kant, Etika Dasar; Masalah-masalah Pokok Filsafat Moral karya Franz Magnis Suseno, Islam Tanpa Kekerasan Karya Abdurrahman Wahid,
Islamku Islam Anda IslamKita karya Abdurrahman Wahid, dan lain-lain. 3. Teknik Pengolahan Data
Setelah mendapatkan data-data yang dibutuhkan berkaitan dengan
Immanuel Kant” hal yang selanjutnya dilakukan adalah proses penulisan
karya tulis atau skripsi.
Teknik pengolahan data pertama yang akan dilakukan adalah
mengumpulkan data-data primer dipadukan dengan data sekunder untuk
keperluan penulisan. Langkah ini dilakukan untuk mempermudah proses
penyusunan karya tulis yang akan dibuat.34
Teknik kedua adalah editing karya tulis. Langkah ini dilakukan
untuk mengoreksi ulang proses penulisan atau penyusunan karya tulis.
Langkah ini juga sangat penting, mengingat kadang sering terjadi
kesalahan dalam data, sehingga melalui langkah pengeditan,
kesalahan-kesalahan dapat dihindari, karena kesalahan-kesalahan terkait dengan pengumpulan
data berkaitan erat dengan berkualitas tidaknya hasil analisa dan laporan
penelitian.35
Langkah selanjutnya adalah organizing atau penyusunan hasil penelitian untuk memudahkan pelaksanaan analisa. Melalui penyusunan
ini peneliti akan mengatur hasil penelitian, untuk dijadikan sandaran dalam
melakukan analisa.
4. Teknik Analisis Data
Setelah melakukan pengolahan data, langkah selanjutnya adalah
teknik analisa data. Ada tiga langkah yang akan dilakukan untuk
menganalisa data:
1. Kesinambungan Historis
Analisis historis merupakan pendekatan penelitian dengan
melakukan penelaahan terhadap sejarah tokoh yang diteliti, berkaitan
dengan segala hal yang berkaitan dengan riwayat hidup tokoh
bersangkutan; seperti lingkungan, pendidikan, dan yang melatar belakangi
pemikiran tokoh. Serta faktor-faktor lain yang berkaitan dengan tokoh
kajian yang bersifat internal maupun eksternal.36
Metode ini digunakan untuk mengungkap perjalanan hidup
Immanuel Kant dan latar belakang pemikirannya mengenai etika.
2. Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan langkah yang dilakukan peneliti
sebagai upaya untuk memahami objek penelitian.
Proses ini merupakan upaya untuk menafsirkan pemikiran
Immanuel Kant yang dikontekstualisasikan dalam menyikapi kekerasan
yang mengatasnamakan agama.
3. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah uraian secara lengkap dan teratur tentang
konsep tokoh yang diteliti.37 Di proses ini penulis akan menjabarkan
pemikiran Immanuel Kant dan menguraikan secara teratur hasil
kontekstualisasi terhadap kekerasan yang mengatasnamakan agama
dewasa ini.
G. Sistematika Penulisan
Karya tulis ini nantinya akan terbagi dalam beberapa bab untuk
memudahkan uraian pembahasan, yaitu:
Bab satu merupakan pedahuluan yang akan memberikan gambaran menyeluruh dan sekaligus untuk memahami pemaparan di bab selanjutnya. Bab
ini nanti akan menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, definisi konsep, kegunaan penelitian, kajian pustaka, metode
penelitian, dan sistematika pembahasan.
Babdua karya tulis ini membahas biografi Immanuel Kant, latar belakang perkembangan intelektual, konsep etika, karya dan hal-hal lain berkaitan
dengannya yang bersifat internal maupun eksternal.
Babtiga akan mengurai tentang kekerasan atas nama agama, faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut terjadi dan sejarahnya.
Babempatnantinya akan menjelaskan tentang kekerasan atas nama agama dalam konteks etika Immanuel Kant. Di bab ini nanti akan dilakukan analisis
kritis mengenai kekerasan yang mengatasnamakan agama dalam sudut pandang
etika Immanuel Kant.
Bab lima penutup yang berisi kesimpulan mengenai penjabaran yang dilakukan dari bab-bab sebelumnya dan saran yang ditujukan kepada para
pembaca maupun peneliti lain yang ingin mengupas mengenai etika Immanuel
20 A. Biografi Immanuel Kant
Immanuel Kant merupakan filsuf modern yang cukup menggelegar. Ia
lahir di Konigsberg, Prusia Timur, Jerman. Ia dilahirkan pada tanggal 22 April
1724. Pemikiran dan karya-karyanya membawa revolusi yang begitu kuat
hingga saat ini.1
Pada saat Kant dilahirkan, Prusia Timur sedang memulihkan diri dari
kehancuran yang disebabkan oleh perang dan wabah penyakit. Semua bencana
itu telah mengurangi jumlah penduduk di sana hingga tinggal kurang dari
separuhnya. Kant besar ditengah-tengah kemiskinan. Dia adalah anak keempat
dalam keluarganya. Kant memiliki lima saudara perempuan dan satu orang
saudara laki-laki. Ayah Kant yang berdarah Skotlandia itu adalah seorang
tukang potong tali kulit yang cekatan. Satu kali dengan jenaka ia mengatakan
“Kau tahu nak, aku tak pernah bisa mempertemukan kedua ujung tali ini”.2
Namun demikian, sejak awal hidupnya, pengaruh yang paling besar bagi
Kant adalah ibunya. Frau Kant adalah seorang perempuan Jerman yang tidak
mendapatkan pendidikan formal, namun memiliki kecerdasan alamiah yang
luar biasa. Kecerdasan inilah yang turun dalam diri Immanuel Kant atau
Manelchen (Manny Kecil), ibunya biasa memanggil. Ibunya biasa mengajak
anak lelakinya itu berjalan-jalan di wilayah perkampungan dan
1
Juhaya S. Praja,Aliran-Aliran Filsafat dan Etika(Bandung: Yayasan Piara, 1997), 77.
2
memberitahukan berbagai nama tanaman dan bunga padanya.3 Di malam hari,
si ibu mengajak anaknya itu memandangi langit, menyebutkan nama
bintang-bintang beserta konstelasinya. Dia adalah seorang perempuan saleh, dan
sikapnya yang keras namun penuh dengan cinta itu telah berhasil mengasah
karakter moral anaknya. Pengaruh yang begitu kuat atas fakta dan kewajiban
moral ini tertanam sangat mengakar di sepanjang hidup Kant, hingga tampak
begitu jelas di dalam filsafatnya. Kata-kata Kant yang paling terkenal, yang
dinyatakan lebih dari lima puluh tahun kemudian, sangatlah berkaitan dengan
masa kecil Kant bersama ibunya, “Langit yang dipenuhi cahaya bintang di atas
sana dan hukum moral yang ada dalam diri kita, akan mengisi pikiran kita
dengan kekaguman dan keterpesonaan yang selalu baru dan semakin baik, bila
kita mau lebih sering dan terus-menerus merenunginya”.4
Kant dibesarkan dalam suasana Pietist5yang ketat, dan sejak usia delapan
tahun hingga enam belas tahun ia belajar di sekolah Pietist lokal. Di sinilah
kecerdasannya yang luar biasa dan kehausannya untuk terus-menerus belajar
mulai terganggu akibat terlalu banyaknya nasihat-nasihat religius yang ia
dengar. Kebenciannya atas ajaran resmi agama tetap tinggal dalam dirinya
sampai akhir hidupnya (saat ia dewasa, Kant tidak pernah datang ke gereja). Meskipun demikian, banyak sekali ajaran Pietist yang tetap mewarnai hidup
3
Ibid., 5.
4
Ibid., 5.
5Pietist merupakan salah satu aliran dalam agama Protestan, ia merupakan gerakan yang
Kant, terutama yang berkaitan cara hidup sederhana yang berdasarkan prinsip
moral yang ketat.
Pada usia 18 tahun Kant memasuki Universitas Konigsberd sebagai
mahasiswa teologi.6 Pada mulanya Kant mendapatkan bantuan keuangan dari
gereja Pietist lokal untuk kuliahnya, tetapi ia juga berusaha untuk
membiayainya sendiri dengan memberikan les kepada teman-teman kuliahnya
yang agak ketinggalan. Dengan segera Kant menjadi sangat bosan pada teologi
dan mulai menunjukkan minatnya yang besar pada matematika dan fisika.
Pada tahun 1746, ketika Kant berusia 22 tahun, ayahnya meninggal
dunia. Kant bersama lima orang adik perempuannya ditinggalkan dalam
keadaan miskin. Adik perempuannya yang terkecil dipungut anak oleh sebuah
keluarga Pietist, sedangkan adik-adiknya yang lain bekerja sebagai pelayan.
Kant melamar bekerja di sebuah sekolah lokal, tapi lamarannya ditolak, hingga
ia akhirnya terpaksa meninggalkan bangku kuliah sebelum sempat meraih gelar
sarjana. Selama sembilan tahun berikutnya, Kant membiayai dirinya sendiri
dengan memberikan les pada keluarga-keluarga kaya di sekitar wilayah
pedesaan.7
Ketika keluarga-keluarga kaya tersebut pergi ke pedesaan untuk berlibur
pada musim panas, Kant diajak serta untuk menemani mereka. Kadang-kadang
perjalanan ke tempat berlibur tersebut bisa berjarak puluhan mil dari
6 Ketika berada di bangku kuliah, Kant dididik dalam suasana rasionalisme yang pada
waktu itu merajalela di universitas-universitas Jerman. Baca lebih lanjut FX. Mudji Sutrisno,Para Filsuf Penentu Gerak Zaman(Yogyakarta: Kanisius, 1992), 64.
7
Konigsberg. Perjalanan ini merupakan perjalanan terpanjang yang pernah
ditempuh Kant sepanjang hidupnya.
Pada tahun 1755, ketika berusia 31 tahun, Kant berhasil meraih gelar
sarjana dari Universitas Konigsberg berkat kebaikan hati seorang dermawan
Pietist. Di usia tersebut bisa dikatakan terlambat untuk mendapatkan gelar
kesarjanaan; dan seperti halnya yang akan kita lihat, Kant memang termasuk
filsuf yang perkembangannya terlambat.
Setelah mendapatkan gelarnya, Kant memperoleh jabatan di universitas
sebagai seorang privatdozent (dosen yunior). Jabatan ini dipegangnya selama lima belas tahun; sebuah jabatan akademis yang tidak mengenal bayaran yang
pantas. Kant memberikan kuliah dalam bidang matemtika dan fisika, serta
menerbitkan sejumlah risalah dalam berbagai persoalan ilmu pengetahuan. Di
antara banyaknya bidang pengetahuan yang menjadi pusat perhatiannya adalah
gunung, kodrat angin, antropologi, penyebab gempa bumi, api, usia bumi,
bahkan juga planet-planet (yang semuanya diramalkannya pada suatu hari akan
bisa dihuni, dan planet yang letaknya paling jauh dengan matahari akan
mengembangkan spesies yang paling cerdas).
Tubuh Kant pendek, hingga ketika berbicara dibalik mimbar hanya
kepalanya yang lebar dan berwig yang kelihatan di mata para pendengarnya.
Tetapi, kepala yang sedang bicara di atas mimbar itu mengeluarkan berbagai
gagasan, kebijaksanaan, dan pengetahuan yang mengesankan. Kuliah-kuliah
yang diberikan Kant digemari banyak pendengarnya, hingga ia segera menjadi
tentang berbagai subjek ilmu pengetahuan. Kuliah musim panasnya tentang
ilmu geografi selalu menarik banyak sekali peminat dari luar universitas.
Hal ini berlangsung selama lebih dari tiga puluh tahun, yang
mengantarkan Kant menjadi guru akademisi pertama dalm bidang geografi.
Meskipun Kant tidak pernah melihat gunung sebelumnya, bahkan ia tidak
pernah melihat lautan (yang hanya berjarak dua puluh mil dari tempat
tinggalnya). Penggambaran yang dilakukan begitu hidup dan cerdas, hingga
mampu membuat pendengarnya membayangkan tempat-tempat yang
sebelumnya telah dibaca Kant dengan penuh semangat, sambil menghabisakan
malam-malam panjang di musim dingin, ketika kabut dari Baltik yang
menggigilkan itu menyelimuti dan menggerayangi Konigsberg.
Selain itu, Kant juga mulai memberikan kuliah-kuliah dalam bidang
filsafat. Dari caranya berbicara, orang segera melek betapa Kant telah
melakukan perjalanan yang begitu jauh melalui wilayah-wilayah etika dan
epistimologi jauh melalui wilayah-wilayah etika dan epistimologi yang penuh
bahaya, bahkan melampaui Utima Thule (jarak terjauh) logika, hingga memasuki wilayah yng begitu jauh dari peradaban seperti metafisika (bahkan
ia harus pula mengisahkan berbagai dongeng yang berhubungan dengan ilmu
ini). Sementara itu, risalah-risalah mengenai berbagai hal lain yang lebih bisa
diterima seperti peledak, pertahanan militer, dan teori tentang angkasa raya,
tetap mengalir lancar dari mata penanya. Walau pun begitu, Kant tetap saja
ditolak untuk menjadi profesor di Universitas Konigsberg. Ada dua kali Kant
lain mengatakan bahwa banyak profesor di sana yang tidak suka dengan Kant.
Apa pun alasannya, Kant sangat menyukai Konigsberg. Kesimpulan ini bisa
ditarik dari kenyataan bahwa ia pernah menolak tawaran dari Universitas
Berlin untuk menjadi profesor dalam bidang puisi. Pada tahun 1770 kebijakan
di Universitas Konigsberg melembek, dan Kant pun dingkat sebagai profesor
dalam bidang logika dan metafisika.
Selama sebelas tahun Kant tidak mempublikasikan apa pun, namun ia
tetap tekun menggarap filsafatnya. Selama itu pula ia menjalani kehidupan
yang betul-betul sangat teratur. Keteratuan inilah yang membuat Kant menjadi
sebuah legenda. Seperti yang diungkapkan oleh Heine, “Bangun pagi, minum
kopi, menulis, memberikan kuliah, makan malam, jalan-jalan sore adalah
kegiatan Kant yang masing-masing mempunyai jadwalnya sendiri. Dengan
jaket abu-abu dan tongkat di tangannya, Immanuel Kant muncul dari balik
pintu rumahnya dan berjalan ke arah sebuah jalan setapak yang dihiasi
pohon-pohon linden (sejenis pohon-pohon dari genus Tilia). Inilah yang disebut dengan “The
Philosopher’s Walk”, dan semua orang tahu persis bahwa saat itu jarum jam
menunjukkan angka setengah empat tepat. Ia selalu menggunakan waktu
tersebut untuk berjalan-jalan di musim apa pun. Ketika cuacanya sedang
mendung, maka pelayannya yang tua, Lampe, akan tampak berjalan di
belakang Kant dengan mengempit payung, sebagai sebuah lambang
kebijaksanaan”.8
8
Kant pernah pula mempertimbangkan untuk menikah. Bahkan hingga
dua kali. Sayangnya Kant terlalu lama menimbang-nimbang. Saking lamanya
pertimbangannya, akhirnya Kant harus gigit jari. Pada kedua peristiwa itu,
tepat setelah ia selesai berpikir keras dan memutuskan untuk menikah, kedua
calon pasangannya sudah lebih dulu meninggalkannya. Seorang menikah
dengan laki-laki lain, sedangkan yang seorang lagi pindah ke kota lain. Kant
bukanlah jenis orang yang biasa mengambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Tidak heran apabila kekagumannya pada gagasan-gagasan romantik Rousseau
pun tidak melahirkan teori tersendiri.9
Pada tanggal 8 Oktober 1803, Immanuel Kant jatuh sakit untuk pertama
kalinya di sepanjang hidupnya. Ia mengalami srok ringan setelah terlalu
banyak makan keju Inggris kegemarannya. Setelah empat bulan keadaannya
menjadi semakin lemah dan akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 12
februari 1804.10 Kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah Es ist gut (It is good).
B. Latar Belakang Pemikiran Filosofis Kant
Dalam sejarah filsafat, pemikiran tajam seorang filsuf kerap kali muncul
sebagai akibat atau suasana pemikiran filosofis zamannya. Berikut adalah
beberapa hal yang melatar belakangi pemikiran filosofis Immanuel Kant.11
9Strathern, 90 Menit Bersama Kant,20-21.
10 S.P. Lili Tjahjjadi, Hukum Moral; Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif
Kategoris(Yogyakarta: Kaniisius, 1991), 28.
a. Immanuel Kant dan Zaman Pencerahan
Pada abad ke-18 Eropa Barat mengalami suatu zaman baru, yang
disebut “zaman pencerahan” (bhs. Jerman: Aufklarung; bhs. Inggris:
Enlightenment). Nama ini diberikan pada zaman ini karena manusia mulai mencari cahaya baru di dalam rasionalnya sendiri. Menurut Kant, dengan
pencerahan dimaksudkan bahwa orang keluar dari keadaan tidak akil-balik,
yang dengannya ia sendiri bersalah. Kesalahan itu terletak dalam
keengganan atau ketidakmauan manusia untuk memanfaatkan rasionya;
orang lebih suka berputat pada otoritas diluar dirinya (wahyu Ilahi, nasehat
orang terkenal, ajaran Gereja atau negara). Berhadapan dengan sikap ini,
abad pencerahan memiliki semboyan “Beranilah berpikir sendiri”.12
Kepercayaan manusia akan akal budinya sendiri dalam abad ke 18 ini
amat dimajukan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan saat itu.
Misalnya, Isaac Newton (1643-1727) yang merpakan orang pertama yang
memberi dasar pada fisika klasik dengan karyanya “Ilmu Alam Berdasarkan
Prinsip-prinsip Matematisnya”. Sejak saat itu ilmu pengetahuan melaju
cepat dan semakin cepat; hampir setiap tahun ditemukan penemuan baru.
Semua gerakan pencerahan mulai berkembang di Inggris. Di sana
suasana politik mengizinkan pemikiran bebas, sebab sejak tahun 1693
undang-undang Kerajaan nggris menjamin kebebasan mencetak. Dari
Inggris gerakan ini menyebar ke Eropa Daratan. Di Prancis gerakan ini
bahkan berjalan amat radikal. Di sini pencerahan secara tidak langsung
mempersiapkan jalan bagi meletusnya revolusi Prancis yang ditandai
dengan penyerbuan penjara Bastille pada tahun 1789. Berbeda dengan
Jerman, di sini pencerahan berjalan dengan lebih tenang, kurang
menampakkan pertentangan dengan gereja maupun negara. Di sini pusat
pemikirannya lebih tertuju kepada etika dan teologi.
Sebagai seorang filsuf yang hidup pada puncak perkembangan
pencerahan Jerman, Kant juga terpengaruh dengan suasana zamannya.
Pengaruh itu khususnya nampak dalam epistimologi, teologi, dan etikanya.
Layaknya seperti Newton yang berusaha mencari prinsip-prinsip dalam
anorganik. Dia pun mencari prinsip-prinsip yang ada dalam tingkah laku
dan kecenderungan manusia. Sedangkan Pietisme yang ia kenal sejak zaman
kanak-kanak, menampakkan pengaruh ganda pada dirinya. Di satu pihak
Kant tidak mau beribadah di gereja, di lain pihak keyakinan kaum Pietis
bahwa tingkah laku saleh lebih penting daripada ajaran teologis tampak
dalam penghayatan hidup dirinya sehari-hari.13
Selanjutnya keyakinan tadi tampak lagi dalam pandangan Kant bahwa
Tuhan, kehendak bebas, dan kebakaan jiwa tidak bisa dibuktikan secara
teoritis, melainkan harus bisa diterima secara postulat dari budi praktis
(yakni sebagai Idea) yang menyangkut kewajiban kita menaati hukum
moral.14
13Ibid,. 30.
b. Leibniz dan Hume
Gottfriend Wilhelm Leibniz dan David Hume mempunyai pengaruh
besar terhadap epistimologi Kant. Ia sendiri yang mengatakan bahwa Hume
membangunkannya dari “tidur dogmatisnya”.15 Laibniz tampil sebagai
tokoh penting dari aliran rasionalisme, sedangkan Hume muncul sebagai
wakil dari aliran empirisme. Rasionalisme adalah aliran filsafat yang
mengajarkan bahwa sumber pengetahuan yang sejati adalah akal budi
(rasio). Pengalaman hanya dapat dipakai untuk meneguhkan pengetahuan
yang telah di dapatkan akal budi, sedangkan akal budi sendiri tidak
memerlukan pengalaman. Akal budi dapat menurunkan
kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri, yakni berdasakan azaz-azaz yang pertama
dan pasti. Metode kerjanya bersifat deduktif. Sedangkan empirisme
berpendapat bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber utama
pengetahuan, baik pengalaman lahiriah maupun pengalaman batiniah. Akal
budi bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah
bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman menjadi pengetahuan. Metodenya
bersifat induktif.16
Seperti halnya Rene Descartes (1596-1650) dan Baruch Spinoza
(1632-1677), Leibniz memulai filsafatnya atas pengertian mengenai “sudstansi”.
Akan tetapi berbeda dengan mereka, Leibniz mengatakan bahwa terdapat
banyak sekali substansi, jumlahnya tidak terhingga. Tiap substansi
15Suseno,13 Tokoh Etika, 137.
16 Tjahjjadi, Hukum Moral; Ajaran Immanuel Kant tentang Etika dan Imperatif
dinamainyamonade. Monade itu bukanlah atom, melainkan suatu titik yang bersifat murni metafisik, tanpa bentuk dan keluasan spesial. Setiap monade
berdiri sendiri dan mewujudkan suatu keseluruhan yang tertutup.
Monade-monade tersebut kata menurut Leibniz tidak berjendela, tempat segala
sesuatu bisa keluar-masuk. Kendati demikian tiap monade dapat aktif
bekerja. Kerjanya bersifat imanen, artinya ia mengungkapkan diri
semata-mata di dalam dan oleh dirinya sendir. Kerja di dalam dan oleh dirinya
sendiri itu terdiri dari mengamati dan menginginkan.
Ajaran Leibniz mengenai monade ini diterapkannya juga pada ajrn
mengenai proses pengetahuan manusia. Menurut Leibniz, pengetahuan
manusia mengenai alam semesta sesungguhnya telh ada di dalam dirinya
sendiri sebagai bawaan. Pada mulanya pengetahuan ini berbentuk gagasan
atau idea yang belum sadar, tetapi kemudian ini dijadikan sadar oleh karya
imanen jiwa manusia yang meruapakan sebuah monade inti.17
Oleh karena itu, bagi Leibniz pengetahuan manusia itu
diperkembangkan lebih lanjut oleh pengalaman. Akan tetapi pengalaman itu
sendiri bukanlah sumber pengetahuan, melainkan tingkat perdana
pengetahuan akali. Di dalam pengetahuan dalam bentuk pengertian, rasio
atau daya berpikir sendirilah yang lebih berusaha untuk menaikkan isi
pengetahuan, dari pengalaman hingga menjadi pengetahuan yang jelas dan
disadari. Sifat pengetahuan ini adalah umum dan mutlak perlu, justru karena
tidak berasal dari pengalaman seseorang. Darisinilah sangat terlihat bahwa
Leibniz merupakan penganut aliran rasionalisme.
Sir David Hume adalah filsuf Skotlandia dan penganut aliran
empirisme, berbeda dan bertentangan pedapat dengan Leibniz. Hume
menolak bahwa manusia memiliki pengetahuan bawaan. Bagi Hume sumber
pengetahuan itu adalah pengalaman. Dari pengalaman diperoleh dua hal,
yaitu kesan-kesan dan pengertian-pengertian idea-idea. Kesan-kesan adalah
apa yang diperoleh secara langsung dari pengalaman, baik pengalaman
lahiriah maupun pengalaman batiniah. Yang dimaksud idea adalah apa yang
diperoleh secara tidak langsung dari penglaman, lewat refleksi dalam
kesadaran. Idea-idea ini kurang jelas dan kurang hidup dibandingkan
kesan-kesan. Menurutnya, sebagian besar umat manusia mendasarkan
pengetahuannya atas dasar pengertian atau idea. Akibatnya, manusia
seringkali ragu-ragu dan merasa tidak pasti sebab sifat dari idea-idea itu
kurang jelas.18 Bagi Hume, kita harus kembali kepada sumber pengetahuan
sejati agar keraguan itu hilang. Maksudnya, kita harus mendasarkan
pengetahuan kita atas kesan-kesan yang diterima langsung dari pengalaman.
Baru dengan demikian kita punya keyakinan yang dapat diandalkan.
Keyakinan ini dinamakannya kepercayaan. Kita percaya bahwa di dalam
kesan-kesan itu, pngalaman kita bukan lagi hal yang menyesatkan atau
salah, melainkan suatu kepastian.
C. Pemikiran Kant dalam Tiga Karya Besarnya
Pada tahun 1781, Kant menerbitkanCritique of Pure Reason(Kritik Atas Rasio Murni) yang secara umum dianggap sebagai karya besarnya.19 Ia setuju
dengan Hume dan para empirisme lain tentang tidak adanya gagasan-gagasan
yang sudah ada dari “sananya”; tetapi ia menolak pernyataan Hume bahwa
segala pengetahuan berasal dari pengalaman. Kaum empiris berpendapat
bahwa semua pengetahuan harus bersesuaian dengan pengalaman, dan dengan
cemerlang Kant membalikkan pernyataan ini dengan menyatkan bahwa Semua pengelaman harus bersesuaian dengan pengetahuan.
Bagi Kant ruang dan waktu merupakan sesuatu yang subjektif. Ruang
dan waktu itu bisa diibaratkan seperti kaca mata yang tidak bisa
berpindah-pindah.20 Tanpa ruang dan waktu, kita tidak bisa membuat pengalaman kita
masuk akal. Tetapi unsur-unsur subjektif yang membantu kita memahami
pengalaman bukan hanya ruang dan waktu belaka. Kant menjelaskna adanya
berbagai “kategori” yang kita mengerti melalui pengalaman kita tanpa
bergantung pada pengalaman. Kategori-kategori ini mencangkup berbagai hal
seperti kualitas (quality), kuantitas (quantity) dan hubungan (relation). Semua ini adalah kaca mata yang tidak bisa dipindahkan. Kita tidak bisa memandang
dunia dengan cara lain selain menggunakan kategori kualitas, kuantitas
tersebut. Meskipun begitu, melalui kaca mata yang tidak bisa digerakkan ini,
kita hanya bisa menyaksikan fenomenna dunia; kita sama sekali tidak akan
19Sutrisno,Para Filsuf Penentu Gerak Zaman, 64.
20
mampu mempersoalkan noumena, yakni sesuatu yang merupakan realitas sebenarnya yang mendukung atau membuat munculnya fenomena.
Setelah menerbitkan Critique of Pure Reason-nya, Kant tetap melanjutkan hidupnya yang penuh dengan rutinitas yang membosankan itu.
Tentu saja ia masih sempat bersosialisasi, walaupun kegiatan ini jarang ia
lakukan. Ia masih menjaga hubungan baik dengan para mahasiswa yang cerdas,
juga dengan sejumlah koleganya. Namun, ia tidak pernah benar-benar akrab
dengan orang yang ia kenal.
Tujuh tahun setelah menerbitkan karyanya yang berjudul Critique of Pure Reason tersebut, Kant menerbitkan karya lainya yang berjudulCritique of Practical Reason (Kritik Atas Akal Budi Praktis).21 Lebih pendek dari karya sebelumnya. Di dalam karya ini Kant kembali mempermasalhkan Tuhan yang
sebelumnya dianggap tidak bisa dibicarakan karena tidak tergolong dalam
kategori-kategori. Buku ini dimaksudkan sebagai bagian etika dari sistem Kant.
Di sini Kant tidak lagi mencari dasar-dasar metafisika bagi persepsi, namun
mencari dasar-dasar tersebut bagi moralitas.22 Apa yang Kant cari adalah
hukum moral yang fundamental. Kant yakin tentang kemungkinan adanya
sebuah hukum dasar, tetapi dia melakukan hal tersebut dengan menyingkirkan
sesuatu yang dianggap oleh sebagian orang besar manusia sebagai pertanyaan
utama. Dalam hal ini, kebaikan (good) dan kejahatan (evil) bukanlah hal yang dipermasalahkan Kant. Di karya ini Kant juga mengatakan bahwa “Banyak
21 Immanuel Kant, Kritik Atas Akal Budi Praktis, terj. Nurhadi (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2005), xxxii
orang cerdas ternyata begitu yakin bahwa kebahagiaan merupakan suatu
hukum praktis yang universal”. Bagi Kant, kebagiaan sama sekali tidak
mempunyai hubungan dengan moralitas.23
Dia tidaklah berupaya untuk menemukan sejumlah esensi dari seluruh
penafsiran yang saling berbeda-beda atas konsep moral yang mendasar ini.
Kant menekankan bahwa dirinya mencari “landasan” moralitas dan bukanya
moralitas tersebut. Seperti halnya yang terjadi pada penalaran sejati yang ia
utarakan sebelumnya, maka dalam penalaran praktis berlaku landasan yang
sama: yang diperlukan adalah serangkaian prinsipp apriori semacam kategori.
Pada kenyataannya, akhirnya Kant menyimpulkan bahwa hanya adanya
sebuah prinsip tunggal: yakni “imperatif kategoris”-nya atau biasa disebut
dengan katagori yang tidak bisa dihindari. Inilah tindakan apriori bagi semua
tindakan moral, yakni premis metafisika. Dengan cara yang analog dengan
kategori-kategori dalam penalaran sejti, imperatif kategoris ini memberikan
kerangka kerja bagi pemikiran etis (penalaran praktis) kita, tanp
memberikannya isi moral tertentu. Imperatif kategoris Kant menyatakan:
Bertindaklah sesuai dengan sebuah prinsip yang pada saat bersamaan prinsip tersebut Anda kehendaki akan menjadi hukum universal.24
Prinsip ini membawa Kant pada suatu keyakinan bahwa kita seyogyanya
bertindak sesuai dengan kewajiban-kewajiban kita, bukanya menurut
perasaan-perasaan kita. Kant menyatakan bahwa nilai moral dari sesuatu tindakan
selayaknya tidak ditentukan menurut akibat-akibat ditimbulkannya. Namun
hanya didasarkan pada sejauh mana tindakan itu selaras dengan kewajiban
yang melatarbelakanginya.
Sistem etika Kant menggiringnya untuk percaya bahwa kita seharusnya
sama sekali tidak boleh berbohong, tidak perduli apapun akibatnya. Ia
betul-betul sadar konsekuensi dari argumen ini. Menurut Immanuel berdusta itu
memang keliru.25 “Membohongi seorang pembunuh yang sedang
mengejar-ngejar teman yang sedang numpang di rumah Anda adalah kejahatan”.
Apakah kita harus percaya bila saja Kant memiliki seorang teman
Yahudi, ia tidak akan segan-segan melaporkannya pada Nazi? Tentu saja tidak,
segala sesatu yang kita ketahui tentang karakter Kant hampir pasti
menunjukkan bila ia akan melakukan kewajibannya. Kant dengan
kecerdasannya akan mengatakan bahwa yang menjadi kewajibannya ialah
untuk tidak menyerahkan temannya. Namun pertanyaan tentang jangan pernah
berbohong dalam keadaan apapun, memunculkan sebuah cacat yang sangat
kelihatan dalam sistem Kant
Namun demikian, dalam persoalan-persoalan yang lebih serius Kant tetap
tidak tergoyahkan. Ia sungguh anti membaca novel. Cerita khayalan ini
membuat pikiran menjadi terpecah-pecah dan melemahkan ingatan. Maka
sebuah keniscayaan apabila Kant mampu mengingat semua buku-buku yang
pernah ia baca. Dalam hal ini Kant mengabaikan fakta bahwa ketika ia
membaca novel karya Rousseau Heloise yang ia lakukan tanpa membuat
pikirannya meledak amburadul atau memperlemah ingatannya.
25Hans Fink, Filsafat Sosial; Dari Feodalisme hingga Pasar Bebas, terj. Sigit Djatmiko
Pada tahun 1790, keetika Kant berusia 58 tahun, ia menerbitkan karya
spektakulernya yang ketiga dengan judul Critique of Judgment.26 Walau pun
dari judulnya karya tersebut hanya membahas keputusan-keputusan estetis, di
dalamnya juga di bahas mengenai teologi. Kant berdalih bahwa keberadaan
seni mensyaratkanadanya seniman, dan melalui keindahan dunialah manusia
bisa mengenali pencipta yang mulia. Seperti yang telah ia suratkan
sebelumnya, manusia mengenali karya-karya Tuhan pada bintang-bintang yang
ada di langit maupun dari suara hati kita untuk melakukan kebaikan.
Sama seperti halnya dengan teori persepsi dan teori etikanya, Immanuel
Kant Kant berusaha untuk memberikan dasar metafisika bagi teori tentang
keputusan estetik. Dia berharap untuk menciptakan suatu prinsip apriori yang
membuat pengertian akan keindahan menjadi mungkin. Dalam hal ini Kant
kembali membangun fondasi yang rapuh.27
Immanuel Kant bersikukuh bahwa biarpun kita tidak dapat membuktikan
bahwa dunia mempunyai suatu tujuan, kita harus menganggap seolah-olah
mempunyai tujuan. Immanuel Kant sendiri tidak membantah adanya
aspek-aspek dunia yang jahat, buruk. Ia beranggapan bahwa jumlah hal-hal yang
negatif jauh lebih sedikit ketimbang dengan hal-hal yang menjadi
kebalikannya.
D. Pengertian Etika dan Moralitas
Sebelum mengurai lebih jauh mengenai etika Immanuel Kant, kata etika
sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno,ethos yang berarti “adat kebiasaan”,
“watak” atau “kelakuan manusia”.28 Etika merupakan sebuah ilmu, bukan
ajaran. Etika ialah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan (moral).29 Etika dan
ajaran-ajaran moral tidak berada di tingkat yang sama. Yang mengatakan
bagaimana kita harus hidup bukan etika melainkan ajaran moral. Etika mau
mengerti mengapa kita harus mengikuti ajaran moral tertentu, atau bagaimana
kita dapat mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan
berbagai ajaran moral.30
Secara etimologis, kata etika sebenarnya sama dengan filsafat moral.
Kata moral berasal dari akar kata Latin “mos” – “moris” yang memiliki arti
“adat kebiasaan”. Sebagai istilah sering kali keduanya dibedakan. Istilah etika
dipakai untuk menyebut ilmu dan prinsip-prinsip dasar penilaian
baik-buruknya perilaku manusia sebagai manusia. Sedangkan istilah moral untuk
menyebut aturan dan norma yang lebih konkret bagi penilaian baik-buruknya
perilaku manusia.31
Objek material filsafat moral adalah “tindakan manusia sebagai
manusia”. Tindakan yang dimaksud bukan sekedar tindakan yang dilakukan
oleh manusia, tetapi tindakan khas yang dilakukan oleh manusia. Tindakan
yang hanya seperti makan, tidur, berjalan (misalnya), tidak hanya dilakukan
oleh manusia, tetapi juga dilakukan oleh binatang. Tindakan-tindakan yang
28J. Sudarminta, Etika Umum; Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika
Normatif(Yogyakarta: Kanisius, 2013), 3.
29 De Vos, Pengantar Etika, terj. Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana
Yogya, 1987), 1.
30 Franz Magnis Suseno, Etika Dasar; Masalah-masalah pokok Filsafat Moral
(Yogyakarta: Kanisius, 1987), 14.
31 Sudarminta, Etika Umum; Kajian tentang Berbagai Masalah Pokok dan Teori Etika
dilakukan manusia yang dimaksud adalah tindakan khas. Tindakan moral juga
merupakan tindakan yang akibatnya mempunyai dampak yang menentukan
kualitas watak pelakunya.32Hakikat moralitas menurut Kant adalah kesadaran
akan kewajiban, kewajiban yang mutlak. Namun, kewajiban mutlak tidak ada
kaitan sama sekali dengan kebahagiaan. Secara sederhana, menurut Kant
orang tidak dinilai sebagai orang baik karena ia berhasil menjadi bahagia,
melainkan karena ia memenuhi kewajiban (tanggung jawab).33
Etika kurang lebih merupakan ajaran moral. Ajaran moral dapat
diibaratkan dengan buku petunjuk bagimana manusia harus memperlakukan
sepeda motor tersebut dengan baik, sedangkan etika memberikan pengertian
tentang struktur dan teknologi sepeda motor sendiri.34
E. Konsep Etika Immanuel Kant
Etika Immanuel Kant bisa dikatagorikan dalam etika deontologis.35 Ia
pulalah pelopor dari gerakan ini. Etika deontologis adalah teori filsafat moral
yang mengajarkan bahwa sebuah tindakan itu benar kalau tindakan tersebut
selaras dengan prinsip kewajiban yang relevan untuknya. Apabila ditelaah dari
kata Yunani,deonberarti “kewajiban yang mengikat”.36Etika deontologis juga
sering disebut sebagai etika yang tidak menganggap akibat tindakan sebagai
32Ibid,. 4.
33Suseno, 13 Tokoh Etika, 154-155.
34Suseno,Etika Dasar; Masalah-masalah pokok Filsafat Moral,28.
35 Di dalam filsafat terdapat tiga macam jenis etika, etika hedonistik, utilitarian, dan
deontologis. Baca lebih lanjut di M. Amin Abdullah, Antara al-Ghozali dan Kant; Filsafat Etika Islam, 16.
faktor yang relevan untuk diperhatikan dalam menilai moralitas suatu tindakan
(non-consequentialist theory of ethics).37
Para penganut aliran etika deontologis berpendapat bahwa norma moral
itu mengikat secara mutlak dan tidak tergantung dari apakah ketaatan atas
norma itu membawa hasil yang menguntungkan atau tidak. Misalnya norma
moral “jangan bohong” atau “bertindaklah secara adil” tidak perlu
dipertimbangkan terlebih dahulu apakah menguntungkan atau tidak, disenangi
atau tidak, melainkan selalu dan di mana saja harus ditaati, entah apa pun
akibatnya. Hukum moral mengikat mutlak semua manusia sebagai makhluk
rasional.38
Menurut Kant, manusia baru bersikap moral sungguh-sungguh apabila
mematuhi kewajiban moralnya karena sikap hormat terhadap hukum moral.
Misalnya, ia tidak berbohong bukan karena akibat tindakan tersebut
menguntungkan baginya, melainkan karena berbohong itu bertentangan dengan
hukum moral. Manusia wajib berkata benar, entah itu membawa keuntungan
atau pun kerugian baginya. Kaidah etika deontologis bisa dirumuskan sebagai
berikut:“Benar salahnya suatu tindakan tidak tergantung dari apakah tindakan
itu mempunyai akibat baik atau buruk, tetapi apakah kaidah yang mendasari
tindakan tersebut dapat sekaligus dikehendaki sebagai kaidah yang berlaku
umum atau tidak”. Dengan kata lain, apakah kaidahnya sesuai dengan hukum
37 Sudarminta, Etika Umum; Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika
Normatif, 136.
38 Bagi Immanuel Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah
moral atau tidak. Apakah dilakukan dengan motivasi murni demi hormat
terhadap hukum moral atau tidak.39
Tujuan filsafat moral menurut Kant adalah untuk menetapkan dasar yang
paling dalam guna menentukan keabsahan (validity) peraturan-peraturan moral. Ia berusaha untuk menunjukkan bahwa dasar yang paling dalam ini terletak
pada akal budi murni, dan bukan pada kegunaan, atau nilai lain. Moralitas
baginya menyediakan kerangka dasar prinsip dan peraturan yang bersifat
rasional dan yang mengikat serta mengatur hidup setiap orang, lepas dari
tujuan-tujuan dan keinginan-keinginan pribadinya.
Di dalam kajian etika Immanuel Kant terdapat dua macam imperatif
tindakan; imperatif hipotesis dan imperatif kategoris. Pertama, imperatif hipotesis yang memberi tahu kita apa yang harus kita lakukan jika kita ingin
memuaskan keinginan-keinginan kita. Atau bisa dikatakan sebagai perintah
bersyarat yang mengatakan suatu tindakan diperlukan sebagai sarana atau
syarat untuk tercapai sesuatu yang lain.40 Contohnya, jika ingin mendapatkan
nilai sepuluh dalam ujian bahasa Indonesia, belajarlah dengan giat. Perintah ini
memberikan suatu tindakan baik dalam arti tertentu (giat belajar) sebagai
sarana untuk tujuan tertentu (mendapat nlai sepuluh dalam ujian). Kedua,
adalah imperatif kategoris, yang memberi tahu kita sebagai makhluk moral, apa
yang seharusnya kita lakukan. Imperatif ini tidak mempersoalkan pilihan atau
39J. Sudarminta, Etika Umum; Kajian tentang Beberapa Masalah Pokok dan Teori Etika
Normatif, 137.
40Tjahjadi,Petualangan Intelektual; Konfrontasi dengan Para Filsuf dari Zaman Yunani
selera, dan diberlakukan bagi kita secara tanpa syarat dan secara impersonal
sebagai makhluk moral rasional.41
F. Karya-karya Immanuel Kant
Immanuel Kant merupakan filsuf yang sangat produktif dalam
mengembangkan intelektualnya. Karya-karya Immanuel sendiri terbagi
menjadi dua periode, periode praktis dan priode kritis. Dalam masa praktis
1746-1770, Kant menulis tentang berbagai masalah dari bidang ilmu alam,
ilmu pasti, dan filsafat. Kemudian sebelas tahun ia tidak menuliskan apa pun.
Dan saat-saat itulah pemikirannya berubah.42 Berikut adalah karya-karya
Immanuel:43
a. Kritik der Reiner Vernunf atau Critique of Pure Reason (Kritik Atas Rasio Murni), 1781 M.
b. Prolegomena zu Einer Jeden Kunftigen Metaphysik atauProlegomena to Any Futur Metaphisics (Pengantar Metafisika Masa Depan), 1783 M.
c. Idea for Universal History, 1784 M.
d. Grundlegung zur Metaphysik der Sitten atau Groundwork of The Metaphysic of Morals(Pendasaran Metafisika Kesusilaan), 1785 M. e. Metaphysical Faundations of Normal Science (Pendasaran Metafisika
Pengetahuan Alam), 1786 M.
41Aiken,Abad Ideologi, 33. 42Suseno,13 Tokoh Etika, 137.
43 Simon Petrus L. Tjahjadi, Petualangan Intelektual; Konfrontasi dengan Para Filsuf