BAB I PENDAHULUAN. Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat berkembang pesat

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat berkembang pesat saat ini. Sektor ini memberikan manfaat yang besar pada penambahan nilai devisa negara. Seperti yang tercantum pada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1996 tentang Pengesahan Agreement on C.A.B. International, Bab II pasal 2 bahwa pembangunan pariwisata bertujuan untuk meningkatkan pendapatan devisa pada khususnya dan pendapatan negara dan masyarakat pada umumnya. Aspek ekonomi merupakan aspek yang paling banyak memperoleh sorotan karena dengan berwisata, maka wisatawan akan mengeluarkan sejumlah biaya di tempat wisatawan itu melakukan perjalanan.

Pariwisata adalah suatu proses kepergian sementara seseorang atau lebih menuju tempat lain dari luar tempat tinggalnya karena suatu alasan dan bukan untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan uang (Suwantoro, 1997). Bagi wisatawan, pariwisata bertujuan untuk mengeluarkan biaya di daerah tujuan wisata. Hal ini terkait pada kegiatan wisatawan yang bermacam seperti membeli berbagai cinderamata, pergi berlibur, dan menginap di penginapan atau hotel.

Pariwisata, dewasa ini bukan merupakan suatu kebutuhan sekunder, namun sudah merupakan tuntutan hidup di jaman modern (Yoeti 1997:2). Permintaan pariwisata dari tahun ke tahun terus meningkat dan dengan banyak permintaan dari

(2)

orang-orang yang melakukan perjalanan wisata, dapat mempegaruhi penawaran dari segi akomodasi seperti hotel dan resort.

Bisnis perhotelan mulai banyak diincar oleh sebagian investor baik dalam maupun luar negeri. Pertumbuhan penginapan dan hotel di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta sangatlah pesat. Pada tahun 2013 saja, sudah ada 106 hotel baru yang berpotensi tumbuh di Kota Yogyakarta dan 11 diantaranya telah memperoleh ijin dari Dinas Perijinan Kota Yogyakarta dan 86 permohonan merupakan permohonan yang diajukan pada akhir 2013 1 . Menurut catatan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Yogyakarta, sudah terdapat 110 izin hotel yang dikeluarkan Pemerintah Kota Yogyakarta per Januari 20142, dari jumlah sebanyak itu, 55 hotel di antaranya telah mendapatkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) pada Mei lalu. Hingga saat ini jumlah hotel di wilayah Yogyakarta tercatat sebanyak 1.160 hotel. Sebanyak 60 di antaranya merupakan hotel bintang dengan 6.000-an kamar dan 1.100 hotel lainnya merupakan hotel kelas Melati dengan 12.660 kamar. Berdasarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 77 Tahun 2013 tentang Pengendalian Pembangunan Hotel, menyebutkan bahwa penghentian sementara permohonan Izin Membangun Bangunan (IMB) ini terhitung mulai 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Desember 2016. Oleh karena itu, banyak hotel-hotel

1

Informasi diperoleh secara online www.harianjogja.com/baca/2014/01/14/106-hotel-berpotensi-tumbuh-di-kota-jogja-481730 dalam “106 Hotel Berpotensi Tumbuh Di Kota Jogja” diakses 14 April 2014

2

Informasi diperoleh secara online http://jabar.tribunnews.com/2014/07/06/per-januari-pemkot-yogyakarta-izinkan-110-hotel-baru dalam “Per Januari 2014, Pemkot YogyakartaIzinkan 110Hotel Baru” diakses 1 Oktober 2014

(3)

baru yang berlomba-lomba memperoleh IMB dari Dinas Perizinan Kota Yogyakarta sebelum tanggal 1 Januari 2014.

Pekembangan persaingan bisnis di Indonesia adalah salah satu fenomena yang sangat menarik untuk diteliti, terlebih dengan adanya globalisasi dalam bidang ekonomi yang semakin membuka peluang pengusaha asing untuk turut berkompetisi dalam menjaring konsumen lokal. Dampak globalisasi menyebabkan industri jasa yang terdiri dari berbagai macam industri seperti industri telekomunikasi, transportasi, perbankan, dan perhotelan berkembang dengan cepat (Zeithaml & Bit dalam Sulistiyono, 2003:1). Perusahaan lokal sebagai tuan rumah semakin dituntut untuk mengenali perilaku konsumen untuk kemudian menyesuaikan kemampuan perusahaan dengan kebutuhan mereka. Perusahaan yang tetap ingin bertahan dalam persaingan harus mempunyai nilai lebih yang menjadikan perusahaan tersebut berbeda dengan perusahaan lain. Nilai lebih yang ditawarkan ini akan semakin memberikan kemantapan kepada calon konsumen untuk bertransaksi atau mendorong para konsumen lama untuk bertransaksi kembali.

Industri perhotelan adalah industri jasa yang memadukan antara produk dan layanan. Desain bangunan, interior dan eksterior kamar hotel serta restoran, suasana yang tercipta di dalam kamar hotel, restoran serta makanan dan minuman yang dijual beserta keseluruhan fasilitas yang ada merupakan contoh produk yang dijual. Sedangkan layanan yang dijual adalah keramah-tamahan dan ketrampilan staff/karyawan hotel dalam melayani pelanggannya. Kotler dan Amstrong mendefinisikan jasa sebagai aktivitas atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak

(4)

lain yang pada dasarnya tanpa wujud dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Definisi jasa adalah suatu kegiatan yang memilki beberapa unsur ketidakberwujudan (intangibility) yang melibatkan beberapa interaksi dengan konsumen atau properti dalam kepemilikannya, dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan (Kotler dan Amstrong dalam Sulistiyono 2004:2).

Hotel kini berkembang menjadi suatu industri yang handal dan memiliki prospek yang menjanjikan. Banyaknya hotel bintang dan non-bintang yang tumbuh di Kota Yogyakarta ini terkait dengan permintaan pasar akan kebutuhan akomodasi. Pasar tidak lain adalah oranng-orang yang melakukan perjalanan dan berpotensi untuk menggunakan jasa pelayanan hotel dan produk yang dihasilkan hotel (Yoeti, 1997:2). Pasar industri hotel itu sendiri dapat dibagi 2 segmen penting, yaitu komersial (commercial) dan bersenang-senang (leisure), yang termasuk segmen komersial, yaitu orang-orang yang melakukan perjalanan untuk bisnis, termasuk pengunjung yang tergolong pejabat pemerintah, militer yang sedang melaksanakan perjalanan dinas, peserta konferensi, eksebisi, dan seminar. Sedangkan segmentasi pasar yang termasuk kategori bersenang-senang (leisure) yaitu orang-orang yang melakukan perjalanan wisata dengan tujuan untuk bersenang-senang, rekreasi, olahraga, atau dengan tujuan kesehatan (Yoeti, 2000:24). Oleh karena itu, sistem pemasaran hotel mejadi hal yang sangat menentukan bagi kelangsungan dan keberlanjutan hotel dalam meneruskan usaha jasanya.

(5)

Tabel 1. Rata-rata Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang Di Pulau Jawa No. Provinsi 2009 2010 2011 2012 2013 1 DKI Jakarta 50.69% 51.76% 56.05% 56.37% 55.68% 2 Jawa Barat 41.40% 43.49% 45.78% 45.92% 48.22% 3 Jawa Tengah 38.12% 41.01% 44.22% 48.58% 49.92% 4 DI Yogyakarta 49.53% 47.30% 50.86% 55.45% 56.48% 5 Jawa Timur 47.06% 46.05% 47.81% 47.44% 46.22% 6 Banten 42.07% 41.69% 37.88% 37.83% 52.60% Sumber: http://parekraf.go.id/asp/detil.asp?c=113&id=1419, diakses 19 Mei 2015

Tabel di atas merupakan rata-rata tingkat hunian kamar di Pulau Jawa. Dari data di atas, tingkat hunian kamar di hotel berbintang di Yogyakarta menempati peringkat kedua di Pulau Jawa setelah Jakarta pada tiga tahun berturut-turut, yakni 49.53% pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 56.48% pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan bahwa Yogyakarta sebagai kota wisata memiliki iklim yang positif untuk berinvestasi, terutama investasi di bidang akomodasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, pada Januari-Agustus 2013 ini rata-rata okupansi hotel berbintang sebesar 54,98 persen. Sementara okupansi hotel kelas melati hanya 29,14 %. Wisatawan asing yang menginap di hotel bintang periode itu sebanyak 98.071 orang dan wisatawan domestik 696,762. Adapun jumlah tamu menginap di hotel melati terdiri dari 24.134 wisatawan asing dan 1.484.376 tamu wisatawan nusantara3.

Pada kebanyakan hotel, kamar dan jasa biasanya dijual secara langsung (Walk In Guest/WIG) maupun secara tak langsung yang biasanya melalui pemesanan

3

Informasi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah secara online oleh http://jogja.tribunnews.com/2013/10/31/phri-catat-ada-1160-hotel-di-yogyakarta/ wawancara dengan Istidjab M Danunegoro dalam “PHRI Catat Ada 1160 Hotel di Yogyakarta” diakses 23 April 2014

(6)

atau reservation. Banyak cara dalam melakukan pemesanan kamar hotel, diantaranya dapat melalui jasa Biro Perjalanan Wisata (BPW), Tour Operator, Hotel Representative, dan dapat melakukan pemesanan sendiri dengan melakukan pemesanan online melalui situs-situs internet. Dengan pemesanan online ini, wisatawan dapat lebih obyektif memilih jenis kamar dengan harga yang dikehendaki selama melakukan perjalanan tanpa adanya interfensi dari pihak lain dan pada jam-jam pemesanan tertentu, hotel memberlakukan special rate dengan discount rate pada beberapa kamar hotel. Hal ini merupakan salah satu strategi marketing dalam menarik minat wisatawan untuk tinggal di hotel yang bersangkutan.

Konsumen dalam hal ini merupakan komunitas yang heterogen yang berasal dari berbagai latar belakang, sifat, kebiasaan, daerah, budaya, dan tingkat ekonomi. Menurut Payne dalam Sulistiyono (2010:8) pemasaran jasa merupakan proses mempersepsikan, memahami, menstimulasi dan memenuhi kebutuhan pasar sasaran yang dipilih secara khusus dengan menyalurkan sumber-sumber sebuah organisasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Dengan dilatar belakangi oleh beberapa teori dan penelitian sebelumnya, maka dilakukan penelitian untuk menganalisis pengaruh pemasaran online terhadap tingkat hunian kamar di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta. Penelitian mengenai pemasaran ini dirasa sangat perlu dilakukan, karena didasari oleh pengamatan yang berkaitan dengan bisnis hotel. Dengan melihat persaingan mengenai bisnis hotel di Yogyakarta dewasa ini, maka kinerja tim pemasaran suatu hotel menjadi sorotan utama dalam penelitian ini.

(7)

1.2Rumusan Masalah

Penulis memberikan batasan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Bagaimana Hotel Grand Tjokro Yogyakarta melakukan pemasaran online?

2. Bagaimana perbandingan tingkat hunian kamar online marketing terhadap offline marketing di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta?

1.3Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui metode Hotel Grand Tjokro Yogyakarta melakukan pemasaran online

2. Untuk mengetahui perbandingan tingkat hunian kamar online marketing terhadap offline marketing di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta

1.4Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat di bidang yang terkait, dalam hal ini bidang pemasaran hotel, seperti:

1.4.1 Manfaat Praktis

• Bagi hotel, memberikan ilmu mengenai strategi pemasaran yang tepat, guna menarik pasar wisatawan yang berkaitan dengan dunia perhotelan

(8)

Bagi pembaca, memberikan informasi mengenai pemasaran secara online yang ada pada hotel dan online travel agent dan pengaruhnya terhadap tingkat hunian kamar suatu hotel

1.4.2 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian yang berupa tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk menunjang perkembangan ilmu pariwisata yang telah ada, terutama bidang yang terkait dengan pemasaran pariwisata dan pemasaran hotel dan dapat dijadikan sebagai bahan kajian yang lebih baik pada penerapan ilmu tersebut

1.5Tinjauan Pustaka

Selanjutnya akan dijelaskan beberapa penelitian yang berkaitan dengan pengaruh online marketing dalam dunia pemasaran. Jurnal Ekonomika Vol 4 No.1 terbitan April 2004 tulisan Arman D. Hutasuhut yang berjudul “Strategi Pemasaran Berorientasi Hubungan Dengan Pelanggan” menjabarkan mengenai Relationship Marketing, yaitu strategi pemasaran yang memperdalam hubungan dengan pelanggan. Strategi ini mampu memberdayakan kekuatan keinginan pelanggan dengan tekanan teknologi informasi untuk memberikan kepuasan lebih kepada pelanggan. Selain itu dijelaskan pula mengenai pentingnya pemasaran yang memperhitungkan keberlanjutan dan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Hubungan yang dimaksud disini adalah hubungan secara menyeluruh yang dapat menyentuh berbagai aspek social, ekonomi, bahkan aspek politik

(9)

Seliat (2013:11) dalam The Effect of Growth of Electronics menyatakan bahwa keberadaan internet dan pemasaran melalui internet atau e-commerce pada khususnya dalam dunia industri pariwisata merupakan sebuah proses keberlanjutan dalam penyampaian informasi mengenai dunia kepariwisataan dan segala hal yang berhubungan dengan konsumen pariwisata, yang dapat juga berfungsi sebagai penyambung dalam dunia bisnis kepariwisataan dengan penambahan akses di dalamnya. Hal inilah yang membuat e-commerce menjadi sebuah kunci dalam setiap transaksi modern yang ada pada abad ke-21.

Berdasarkan pada studi yang dilakukan oleh Asosiasi Industri Telekomunikasi di Amerika Serikat pada tahun 2004, lebih dari setengah penduduk usia produktif di Amerika menggunakan internet untuk merencanakan perjalanan liburan, sedangkan 3 dari sepuluh orang yang diwawancarai memilih untuk melakukan reservasi melalui internet daripada harus pergi ke agen travel. E-commerce dianggap lebih murah, dan efektif (Seliat 2013:4).

Hal pembeda antara penelitian ini dengan beberapa penelitian yang terdahulu adalah hubungan yang dijalin antara pelanggan dalam hal ini tamu hotel, dengan hotel yang dituju. Metode pemasaran yang meliputi unsur 7P dalam bauran pemasaran melalui online lebih dijabarkan dan bukan hanya berfokus pada salah satu metode dalam bauran pamasaran. Selain itu penelitian ini menjelaskan mengenai efektifitas pemasaran yang dilakukan secara online dan imbasnya bagi penjualan melalui online. Dari tinjauan pustaka di atas, dapat dinyatakan bahwa penelitian dengan judul

(10)

“Analisis Pengaruh Pemasaran Online Terhadap Tingkat Hunian Kamar di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta” belum pernah dilakukan sebelumnya.

1.6Landasan Teori

Pada bagian ini, dijelaskan beberapa teori pendukung yang mendukung penelitian mengenai pemasaran online ini. Dijabarkan beberapa teori mengenai bauran pemasaran yang terkait dengan matode Grand Tjokro Yogyakarta dalam melakukan pemasaran yang dilakukan secara online melalui bantuan internet dan yang dimaksud dengan pemasaran dan penjualan secara online, serta definisi-definisi e-commerce sebagai bentuk pemasaran online

Pariwisata bukan saja sebagai sumber devisa, tetapi juga merupakan faktor dalam menentukan industri. Industri perhotelan, memiliki tujuan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dan mempertahankan keberlangsungan perusahaan dengan berbagai cara, salah satunya yaitu dengan meningkatkan penjualan tingkat hunian kamar (occupancy) dan menarik tamu untuk tinggal, menginap, serta menggunakan fasilitas yang disediakan hotel. Upaya untuk meningkatkan tingkat hunian kamar, dapat dilakukan melalui pemasaran. Dalam bidang pemasaran, konsep pemasaran yang banyak dikenal yaitu bauran pemasaran (marketing mix). Kotler (2012: 75) mengklasifikasikan bauran pemasaran ke dalam 4 kelompok variabel yang dikenal sebagai 4P yaitu product (produk), price (harga), place (tempat), dan promotion (promosi).

(11)

Dalam perkembangannya saat ini, 4P tersebut dapat dimodifikasi dengan ditambah berbagai variabel P, sesuai dengan strategi yang disusun untuk mencapai tujuan pemasaran. Morrison dalam Budi (2013:27), menjabarkan mengenai karakteristik pemasaran jasa yang biasa digunakan dalam industri perhotelan. Untuk menarik tamu tinggal dan menginap di hotel yang dapat ditentukan melalui 7P, yaitu product, price, promotion, place, people, process, dan physical of evidence yang kemudian ketujuh aspek pemasaran ini dikombinasikan menjadi satu untuk membuat strategi pemasaran yang ditujukan kepada target pasar. metode ini bukan hanya dilakukan secara langsung, namun dapat dilaksanakan melalui berbagai hal yang memanfaatkan bantuan teknologi. Pemasaran yang dibantu oleh kemajuan teknologi dapat disebut dengan e-commerce.

E-commerce merupakan sebuah set yang menggabungkan teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik (Baum dalam Budi, 2013:21). Perkembangan internet merupakan faktor pendorong terjadinya e-commerce. Internet adalah jaringan global yang menyatukan jaringan komputer seluruh dunia yang memungkinkan terjadinya komunikasi dan interaksi antar individu dan komunitas, maupun perusahaan yang satu dengan yang lainnya di seluruh dunia.

Chandra (2004:232) menyatakan bahwa media elektronik yang menunjang pemasaran dan penjualan melalui internet, untuk kemudian disebut e-commerce (electronic commerce) mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 1998,

(12)

sekitar 100 juta orang di dunia menggunakan internet dan 67 juta di antaranya bertempat tinggal di Amerika Serikat. Angka ini meningkat drastis dari yang hanya sekitar 3 juta pengguna di tahun 1994. Tingkat pertumbuhan jumlah pemakai internet di seluruh dunia meningkat pesat hingga diprediksi mencapai 10% per bulan, sedangkan lalu lintas internet ditafsir akan meningkat dua kali lipat selama 100 hari ( Yom, 1996: 8). Melalui internet, perdagangan yang kompleks dapat diatasi. Segala jenis barang dapat dipasarkan dan dijual dengan bantuan internet (Jasfar, 2005:123). Banyak aspek yang dapat dicantumkan di website internet, seperti jenis dan tipe barang, daftar harga, cara pembayaran yang adapat diakses oleh pembeli dari belahan dunia manapun.

E-commerce memiliki definisi yang cukup luas. Definisi e-commerce dapat ditinjau dari 5 prespektif, yaitu prespektif jual-beli online, prespektif komunikasi digital, prespektif pelayanan, prespektif proses usaha, dan prespektif kebutuhan pasar (Chandra: 2004:233) yang kemudian dapat dijelaskan sebagai berikut:

Tabel 2. Prespektif dan definisi e-commerce

No PRESPEKTIF DEFINISI E-COMMERCE

1 Prespektif Jual-Beli Online Sistem yang memungkinkan pembelian dan penjualan produk dan

informasi melalui iternet dan jasa online lainnya

2 Prespektif Komunikasi Digital Sistem yang memungkinkan pengiriman informasi digital, produk, jasa, dan pembayaran online

3 Prespektif Pelayanan

Sistem yang memungkinkan upaya menekankan biaya,

menyempurnakan kualitas produk, dan informasi instan terkini, dan meningkatkan kecepatan penyampaian jasa

4 Prespektif Proses Usaha Sistem yang memungkinkan optimasi transaksi bisnis dan aliran kerja 5 Prespektif Kebutuhan Pasar Sistem yang memungkinkan proses penyesuaian produk dan jasa untuk diadaptasikan pada kebutuhan dan keinginan pelanggan secara efisien

(13)

Beberapa definisi commerce di atas menunjukkan bahwa tujuan utama e-commerce adalah untuk memanfaatkan internet guna membangun hubungan dekat dengan konsumen dan mitra bisnis dan menggunakan manfaat internet lainnya untuk berjualan maupun melakukan pembelian melalui internet (Lupiyoadi, 2006: 271)

Menurut Kotler (2012: 532), online marketing merupakan salah satu upaya untuk memasarkan sebuah produk dan jasa, serta membangun sebuah hubungan baik dengan pelanggan yang dilakukan melalui internet. Sedangkan internet merupakan sebuah jaringan komputer yang cukup luas yang dapat mempertemukan banyak jenis pelanggan–dalam hal ini calon tamu yang menginap di hotel–sebagai salah satu media untuk saling bertukar informasi. Internet mampu memeberikan cara baru yang lebih efektif untuk memasarkan suatu produk dan membuat para pemasar mampu untuk membangun hubungan baru dengan para pelanggan

Sebuah hotel sekarang ini juga bergantung pada internet untuk memasarkan dan menjual produknya. Menurut Kotler (2012: 533-535) terdapat dua domain di internet bagi produsen untuk menjual produknya kepada konsumen yakni B to C (Business to Consumers) dan B to B (Business to Business). B to C merupakan produsen yang secara langsung menjual produknya kepada konsumen memalui pemasaran internet, tanpa adanya perantara. Sedangkan B to B adalah produsen yang memberikan wewenang kepada agen untuk menjualkan lagi produk produsen kepada konsumen melalui pemasaran internet dengan lebih efektif dan harga yang terjangkau.

(14)

1.7Metode Penelitian

1.7.1 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini berusaha menjawab dua hal rumusan masalah yang telah dijabarkan, yakni bagaimana metode hotel Grand Tjokro Yogyakarta dalam melakukan pemasaran online, dan besarnya pengaruh pemasaran online terhadap tingkat hunian kamar. Dalam melakukan penelitian, digunakan beberapa metode untuk memperoleh informasi yang menunjang penulisan penelitian ini guna merancang suatu pemikiran agar sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Data yang diperoleh dari jenis penelitian ini merupakan data deskriptif baik dalam bentuk lisan maupun bentuk tertulis. Dalam kegiatan pengumpulan data ini, terdapat beberapa jenis data, yaitu data primer dan data sekunder.

Dalam proses pengambilan data dan informasi dalam penelitian ini, dilakukan beberapa beberapa metode, yaitu sebagai berikut:

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diambil langsung dari lapangan. Pengumpulan data primer dilaksanakan dengan 2 metode, yaitu:

• Obeservasi: yaitu pengamatan langsung pada obyek penelitian. Observasi merupakan suatu cara pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan oleh pengumpul data terhadap gejala atau peristiwa yang diselidiki pada objek penelitian secara langsung. Dalam hal ini, peneliti melakukan observasi langsung ke Hotel Grand Tjokro Yogyakarta dan melakukan pengamatan

(15)

terhadap pemasaran online yang dilakukan di Grand Tjokro Yogyakarta. Pengamatan dapat berupa studi melalui guest comment yang telah disediakan oleh hotel untuk mengumpulkan informasi berupa tanggapan tamu terhadap pelayanan hotel dan alasan tamu tersebut menginap. Selain itu, observasi juga dilakukan melalui pengamatan data yang diperoleh selama melaksanakan pemagangan.

• Wawancara: yaitu teknik pengumpulan data utama dalam metode kualitatif. Wawancara dilakukan tidak hanya untuk memperoleh data langsung terhadap subyek dan obyek penelitian, tapi juga untuk menguji keakuratan data yang diperoleh dari sumber tertulis seperti buku, majalah, dan artikel dari internet. Wawancara dilakukan kepada subyek penelitian, dalam hal ini adalah tim pemasar, dan e-commerce staf Hotel Grand Tjokro Yogyakarta mencakup metode pemasaran yang digunakan oleh hotel, dalam hal ini adalah metode pemasaran online melalui internet dan berbagai Online Travel Agent (OTA). Selain pada subyek primer, wawancara juga dilakukan kepada subyek sekunder, dalam hal ini adalah tamu yang menginap. Wawancara juga dilakukan melalui breakfast power4 sebuah metode untuk berinteraksi dengan tamu pada saat tamu menikmati sarapan di Tjokro Restoran.

• Studi pustaka: metode yang dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan (library research) dengan cara mengumpulkan buku-buku, bahan

4 Informasi diperoleh melalui tim pemasaran Grand Tjokro Yogyakarta, Breakfast Power dilakukan

(16)

kuliah, dan jurnal yang terkait dengan topik penelitian untuk kemudian dijadikan bahan perbandingan dan penyaringan beberapa teori terkait sehingga diperoleh data yang relevan dengan topik penelitian.

b. Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder dapat melalui pengumpulan data yang tertulis maupun data yang tidak tertulis yang data berupa media elektronik, seperti data internet dan data statistik yang kemudian dianalisis dan dipelajari untuk kemudian dimasukkan ke dalam penelitian. Dokumen atau catatan diperoleh melalui penelitian yang dilakukan dan dengan pengambilan data di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta . 1.7.2 Metode Analisis Data

Penelitian yang diambil adalah jenis penelitian studi kasus. Penelitian studi kasus dibatasi oleh waktu dan tempat dan kasus yang dipelajari dapat berupa program, peristiwa, aktifitas, atau individu. Setelah semua kegiatan kepariwisataan dan data di lapangan yang terkait dengan pemasaran online terkumpul, data kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif analitis.

Penganalisisan data menggunakan teori bauran pemasaran (marketing mix) yang dikembangkan oleh Morrison, yakni teori 7P – Product, Price, Place, Promotion, People, Process, Physical Evidence yang dikombinasikan dengan teori Kenichi Ohmae, seorang ahli strategi dari Jepang, dengan teori 3C’s – Customer, Corporate, Competitor. Pada bagian price, akan diteliti dan dijabarkan mengenai metode hotel dalam menentukan harga yang tertera pada media penjualan online, yakni harga kamar yang tercantum pada Online Travel Agent (OTA).

(17)

Selain menggunakan teori 7P bauran pemasaran, penganalisaan data juga menggunakan metode pengambilan dan seleksi data yang didasarkan pada Monthly Report KAGUM yang dibuat oleh tim pemasar setiap bulannya. Data yang didapat berupa diagram pie yang berisikan segmentasi pasar Grand Tjokro Yogyakarta yang terdiri dari kategori Online Travel Agent (OTA) dan non-Online Travel Agent (non-OTA). Segmentasi Pasar yang termasuk dalam kategori Online Travel Agent merupakan segmentasi pasar yang berasal dari reservasi dan pembelian melalui online, dan yang termasuk dalam kategori non-Online Travel Agent adalah kepemerintahan, perusahaan yang telah bekerjasama dengan hotel, dan tamu-tamu individual.

1.8Sistematika Penulisan

Penelitian ini dibagi menjadi beberapa bab yang memiliki konsentrasi pembahasan yang berbeda-beda yang masih dalam ruang lingkup peneltian. Berikut merupakan susunan penulisan penelitian:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini bersisi mengenai latar belakang peneliti memilih pengaruh pemasaran online terhadap tingkat hunian kamar yang diterapkan oleh Hotel Grand Tjokro Yogyakarta sebagai bahan penelitian. Rumusan masalah dan tujuan penelitian memberikan batasan penelitian pada strategi pemasaran yang sejauh mana pengaruhnya terhadap tingkat hunian kamar di Hotol Grand Tjokro. Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis mengenai penelitian-penelitian yang sebelumnya untuk

(18)

melihat keaslian penelitian ini. Landasan teori berguna sebagai acuan dalam menjawab pertanyaan dari rumusan masalah, dan metodologi penelitian menjabarkan kerangka kerja yang bersistem dalam pelasanaan penelitian guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.

BAB II GAMBARAN UMUM

Bab ini berisi mengenai gambaran umum Hotel Grand Tjokro Yogyakarta, seperti sejarah dan luas wilayah yang digunakan dalam membangun hotel, pengelolaannya, dan sejauh mana eksistensinya di dunia perhotelan di Yogyakarta. Termasuk di dalamnya mengenai kamar hotel dan fasilitas yang ditawarkan Hotel Grand Tjokro Yogyakarta, serta visi dan misi hotel juga akan dijabarkan dalam bab ini.

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISIS DATA

Membahas mengenai strategi pemasaran yang diterapkan oleh Hotel Grand Tjokro dalam menarik tamu, dalam hal ini akan lebih berfokus mengenai penerapan pemasaran online melalui media internet dan pengaruhnya terhadap tingkat hunian kamar.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab ini peneliti menulis mengenai kesimpulan atas penelitian yang telah dilaksanakan yang juga merupakan jawaban dari rumusan masalah dan penjabaran saran dari penelitian yang telah dilaksanakan di Hotel Grand Tjokro Yogyakarta mengenai strategi pemasaran Hotel Grand Tjokro Yogyakarta.

Figur

Tabel 1. Rata-rata Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang Di Pulau Jawa  No.  Provinsi  2009  2010  2011  2012  2013  1  DKI Jakarta  50.69%  51.76%  56.05%  56.37%  55.68%  2  Jawa Barat  41.40%  43.49%  45.78%  45.92%  48.22%  3  Jawa Tengah  38.12%  41.01%  44.22%  48.58%  49.92%  4  DI Yogyakarta  49.53%  47.30%  50.86%  55.45%  56.48%  5  Jawa Timur  47.06%  46.05%  47.81%  47.44%  46.22%  6  Banten  42.07%  41.69%  37.88%  37.83%  52.60%  Sumber: http://parekraf.go.id/asp/detil.asp?c=113&id=1419, diakses 19 Mei 2015

Tabel 1.

Rata-rata Tingkat Hunian Kamar Hotel Berbintang Di Pulau Jawa No. Provinsi 2009 2010 2011 2012 2013 1 DKI Jakarta 50.69% 51.76% 56.05% 56.37% 55.68% 2 Jawa Barat 41.40% 43.49% 45.78% 45.92% 48.22% 3 Jawa Tengah 38.12% 41.01% 44.22% 48.58% 49.92% 4 DI Yogyakarta 49.53% 47.30% 50.86% 55.45% 56.48% 5 Jawa Timur 47.06% 46.05% 47.81% 47.44% 46.22% 6 Banten 42.07% 41.69% 37.88% 37.83% 52.60% Sumber: http://parekraf.go.id/asp/detil.asp?c=113&id=1419, diakses 19 Mei 2015 p.5

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di