80
Perubahan Karakteristik Kimia Kopi Luwak
Robusta In Vitro dengan Variasi Lama
Fermentasi dan Dosis Ragi
Muhammad Fauzi
1dan Nur Wahyu Hidayati
21Dosen Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember
2Mahasiswa Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember
Jalan Kalimantan 37, Kampus Tegal Boto jember 68121 1email: [email protected]
2email: [email protected]
Abstract
Civet coffee production currently should not depend on civet animals only because its only be able to produce civet coffee about 1,5 kg per night, so this amount can’t fill demand of local and international market. Therefore, it needed production alternative is to use civet coffee yeast with robusta coffee rind extract media which is then added the micro flora agent of civet feces. However, changes in the chemical characteristics of civet coffee in vitro is not yet known so the purpose of this research was to assess changes in the chemical characteristics of civet coffee in vitro by fermentation and yeast dosage. The research result shows that variations of fermentation time and additional yeast dosage be capable of affecting the chemical characteristics on robusta civet coffee in vitro. In addition, the treatment can also increase the water content and total acid titration up to 9.19% and 0.0267%, while the glucose, pH and caffeine levels drop to 9.02%; 5.65; and 8.39%.
Keywords: Civet coffee, civet coffee yeast, micro flora
I. PENDAHULUAN
Kopi luwak merupakan salah satu produk olahan kopi khas Indonesia yang dihasilkan dari buah kopi matang optimum yang dipilih oleh luwak berdasarkan rasa dan aroma, biji kopi beserta lendirnya akan dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak [4], [12]. Selama proses pencernaan, biji kopi akan mengalami fermentasi secara alami dengan bantuan mikroba spesies BAL
(Lactobacillus plantarum dan L. Brevis, Leuconostoc
paramesenteroides dan L. mesenteroides serta
Streptococcus faecium) dan enzim protease yang ada pada
pencernaan luwak [9], [16], [18]. Fermentasi tersebut dapat menghasilkan cita rasa dan aroma khas yang mampu memberikan daya tarik tersendiri terhadap penikmat kopi, sehingga pasar lokal maupun internasional menunjukkan permintaan kopi luwak yang semakin meningkat dari tahun ke tahun [24].
Permintaan kopi luwak datang dari negara-negara ASEAN, Timur Tengah, hingga Eropa sebesar 600 kg per bulan [17], sedangkan ketersediaan kopi luwak hanya sekitar 250-300 kg per bulan [20]. Permintaan yang meningkat dan terbatasnya pasokan kopi luwak membuat produksi kopi luwak tidak dapat hanya mengandalkan
hasil dari feses luwak saja. Salah satu alternatif untuk memproduksi kopi luwak adalah dengan proses fermentasi
in vitro (diluar pencernaan hewan luwak) menggunakan
ragi/kultur kering. Dari hasil implementasi ragi kering multi kultur dengan media tepung beras [3], tepung maizena [1], dan tapioka [26] dihasilkan kopi beras yang mempunyai skor citarasa preference 7,0-7,5 yang mendekati citarasa kopi luwak (7,75; good, chocolaty) pada fermentasi semi basah 24 jam. Selain itu penggunaan ragi cair dari mikroflora feses luwak yang ditumbuhkan pada media MRS broth dan difermentasi selama 16 atau 24 jam menghasilkan kopi dengan kadar kafein 6600-11000 mg/kg sesuai dengan penelitian Chan dan Garcia [5] sebesar 10000 mg/kg [22], [27].
Usaha peningkatan produksi kopi luwak menggunakan ragi yang dihasilkan dari beberapa penelitian diatas masih sulit untuk diterapkan petani kopi. Hal ini disebabkan oleh ragi kopi harus dibuat dalam media MRS broth, kesulitan memelihara biakan BAL secara individual, pembuatan media pengganti dan penumbuhan mikroflora. Upaya yang mungkin dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan membuat ragi kopi luwak kering bermedia ekstrak kulit buah kopi robusta yang ditambahkan agen mikroflora hasil isolasi feses luwak, sehingga ragi lebih
81
mudah disediakan dan digunakan. Namun, perubahan karakteristik kimia kopi luwak in vitro belum diketahui terutama berdasarkan lama fermentasi dan dosis ragi yang ditambahkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian kopi luwak in vitro menggunakan ragi kopi luwak sehingga diketahui perubahan kimianya.
II. BAHAN DAN METODE
A.
BahanBahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah feses luwak segar, MRS broth, kulit buah kopi, gula pasir, aquades, tepung beras dan biji kopi robusta yang diperoleh dari Desa Sidomulyo kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Untuk analisa digunakan MgO, kloroform, KOH 1%, NaOH 0,01N, kertas saring dan phenolphtalein.
B.
Metode3) Pembuatan ekstrak: Pembuatan ekstrak kulit buah
kopi menggunakan ekstraksi bertingkat. Perbandingan antara kulit buah dan aquades yaitu 1:4.
4) Pembuatan Inokulum: Feses luwak diinokulasi
sebanyak satu ose pada media 10 ml MRS Broth dan diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37-39oC. Sementara itu juga disiapkan media steril berupa ekstrak kulit buah kopi yang telah diperkaya dengan nutrisi gula (2,3% dari ekstrak kulit buah kopi). Kultur awal yang dihasilkan diinokulasi pada media steril dan kemudian diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37o-39o C.
5) Pembuatan Ragi Kopi Luwak: Pembuatan ragi kopi
menggunakan bahan pengisi berupa tepung beras dan ekstrak kulit buah kopi (2:1), kemudian dicampurkan dengan starter mikroflora secara homogen dan aseptik. Hasil campuran dibentuk bulatan kecil, lalu diinkubasi selama 24-48 jam dengan suhu 37o-39oC dan dikeringkan.
6) Fermentasi Kopi Luwak In Vitro [22]: Sebanyak 3
kilogram buah kopi robusta pulping difermentasi selama 24 jam dengan suhu 37-39oC secara semi basah menggunakan ragi kopi luwak dengan dosis 0,5% (A1); 1,5% (A2); dan 2,5% (A3). Pengambilan sampel dilakukan setiap 8 jam sekali yaitu pada saat fermentasi kopi mencapai 8 jam (B1), 16 jam (B2), dan 24 jam (B3). Setelah itu masing-masing sampel dicuci dan dikeringkan dibawah sinar matahari selama 3-4 hari hingga kadar air mencapai 10-12%. Biji kopi kering kemudian dihulling untuk mendapatkan kopi beras.
7) Uji Kimia Kopi Luwak In Vitro: Uji kimia biji kopi
luwak in vitro yang dilakukan meliputi kadar air (Metode Pemanasan; AOAC, 2005), kadar glukosa (Metode Elektrokimia; GlucoDr Strip, 2013), pH (AOAC, 1984), total asam tertitrasi (Metode Acidi-alkalimetri; Fardiaz, 1992), dan kadar kafein (Cara Bailey-Andrew).
III.HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kadar Air
Hasil uji kadar air biji kopi luwak in vitro menunjukkan semakin lama fermentasi dan semakin banyak konsentrasi ragi yang ditambahkan maka semakin tinggi pula kadar air yang terdapat dalam biji kopi. Hal ini dapat dilihat pada
Gambar 1.
Pengujian kadar air menunjukkan rata-rata sampel memiliki kadar air 8,5-9,5%. Pengujian kadar air sangat erat hubungannya dengan potensi tumbuhnya jamur seperti Aspergillus ochraeceus dan Aspergillus niger, penyebab okratoksin (OTA). OTA merupakan senyawa toksin atau racun yang menjadi standar kualitas mutu kopi dunia [13].
Gambar 1. Kadar air kopi luwak in vitro
Berdasarkan Gambar 1 diketahui bahwa perlakuan lama fermentasi 8 jam, 16 jam, dan 24 jam serta penambahan ragi kopi luwak 0,5%; 1,5%; dan 2,5% secara keseluruhan mengalami peningkatan kadar air bila dibandingkan dengan kontrol biji kopi robusta tanpa fermentasi (8,51%). Hal ini dikarenakan semakin lama waktu fermentasi dan semakin banyak ragi yang ditambahkan maka aktivitas mikroorganisme yang ada pada ragi kopi luwak semakin meningkat, sehingga proses degradasi senyawa biji kopi dan pengikatan molekul air juga meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Fardiaz [8] bahwa pada fermentasi terjadi perombakan glukosa menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O) sehingga akan meningkatkan kadar air pada bahan kering.
Fermentasi akan mempengaruhi kandungan air yang terdapat dalam biji kopi hasil fermentasi. Hasil analisa kadar air biji kopi luwak in vitro tertinggi didapatkan pada perlakuan lama fermentasi 16 jam dengan ragi kopi luwak sebanyak 2,5% yaitu 9,19%. Hal ini dikarenakan dalam pertumbuhannya, mikroorganisme yang terdapat pada ragi kopi luwak berada dalam fase eksponensial sehingga air (H2O) yang dihasilkan lebih banyak daripada fermentasi 8
0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 7,00 8,00 9,00 10,00 Ka d a r a ir ( % ) Jumlah Ragi 8 jam 16 jam 24 jam Lama Fermentasi
82
jam. Hal ini didukung dengan kadar glukosa yang rendah pada fermentasi 16 jam.
Analisa kadar air dari fermentasi 8 jam, 16 jam, dan 24 jam memiliki hasil yang fluktuatif. Fluktuatifnya hasil kadar air ini menurut Sudarmadji, et al [23] dikarenakan kadar air merupakan komponen yang tidak tetap karena mudah terpengaruh oleh faktor-faktor dari luar. Secara keseluruhan sampel biji kopi hasil fermentasi ini dapat dikatakan bermutu baik, karena menurut SNI kadar air biji kopi tidak boleh lebih dari 12%.
B. Kadar Glukosa
Glukosa merupakan bahan fermentasi yang apabila keberadaannya semakin sedikit menunjukkan keefektifan fermentasi yang terjadi. Perubahan kadar glukosa pada biji kopi robusta yang difermentasi menggunakan ragi kopi luwak dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Kadar glukosa kopi luwak in vitro
Dari Gambar 2. diketahui bahwa rata-rata kopi luwak
in vitro memiliki kadar glukosa 9-9,6%. Kadar glukosa
pada sampel semakin menurun seiring dengan penambahan ragi dan lama fermentasi. Pada sampel dengan penambahan ragi kopi luwak 0,5%; 1,5%; dan 2,5% perlakuan 8 jam, 16 jam, dan 24 jam memiliki kadar glukosa yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol biji kopi robusta tanpa fermentasi yaitu 9,72%. Penurunan kadar glukosa ini disebabkan adanya aktivitas mikroorganisme yang mengubah glukosa menjadi asam.
Hasil analisa kadar glukosa terendah didapatkan pada perlakuan lama fermentasi 16 jam dan 1,5% ragi kopi luwak yaitu 9,02%. Glukosa merupakan substrat bagi mikroorganisme, sehingga keberadaannya semakin berkurang seiring dengan lama fermentasi dan dosis ragi yang ditambahkan. Bakteri pemecah gula ini bekerja 5 sampai 24 jam dalam proses fermentasi. Sebagai hasil proses pemecahan gula adalah asam laktat dan asam asetat dengan kadar asam laktat yang lebih besar [19]. Pada penelitian ini dapat dilihat bahwa penurunan kadar glukosa diikuti dengan penurunan nilai pH serta
meningkatnya kandungan total asam tertitrasi pada biji kopi. Penurunan kadar glukosa diikuti oleh penambahan keasaman substrat atau nilai pH semakin menurun seiring dengan bertambahnya waktu fermentasi dan konsentrasi ragi yang ditambahkan.
C. pH
Menurut Day dan Underwood [7], pH didefinisikan sebagai logaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Hasil pengujian nilai pH pada biji kopi luwak in
vitro dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. pH kopi luwak in vitro
Berdasarkan Gambar 3 diketahui bahwa fermentasi dengan penambahan ragi kopi luwak 0,5%; 1,5%; dan 2,5% selama 8 jam, 16 jam, dan 24 jam memiliki pH sekitar 5,6-5,9. Keseluruhan sampel memiliki pH yang lebih rendah dibandingkan dengan kontrol biji kopi robusta tanpa fermentasi yaitu 5,8. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan asam-asam organik yang terbentuk selama proses fermentasi. Pembentukan asam-asam organik terjadi akibat adanya aktivitas metabolisme yang ada pada ragi terutama bakteri asam laktat.
Berdasarkan penelitian sebelumnya telah diketahui bahwa isolasi biji kopi luwak segar menghasilkan lima spesies BAL yang teridentifikasi sebagai Lactobacillus
plantarum, Lactobacillus brevis dan Streptococcus
faecium yang menghasilkan asam laktat sekitar 90%,
Leuconostoc paramesenteroides, Leuconostoc
mesenteroides dan Leuconostoc dextranicum yang akan
memecah glukosa menghasilkan ± 50% asam laktat dan sisanya dapat berupa etanol, asam asetat, asetaldehid, diasetil, dan CO2 [9], [21]. Asam laktat yang terbentuk menyebabkan pH semakin menurun. Menurut Afifah [2], pada umumnya semakin meningkatnya kandungan asam suatu bahan, maka nilai pH akan semakin menurun.
Hasil pengukuran pH biji kopi luwak in vitro terendah didapatkan pada sampel dengan perlakuan lama fermentasi 16 jam dan penambahan ragi kopi luwak sebanyak 2,5% yaitu 5,65. Penurunan pH selama fermentasi menunjukkan penambahan jumlah ragi kopi luwak mampu meningkatkan aktivitas metabolisme dalam
0,00 2,00 4,00 6,00 8,00 10,00 12,00 Ka d a r Gl u k o sa ( % ) Jumlah ragi 8 jam 16 jam 24 jam 0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 pH Jumlah Ragi 8 jam 16 jam 24 jam Lama Fermentasi Lama Fermentasi
83
mendegradasi gula seiring dengan perlakuan lama fermentasi, sehingga asam yang terbentuk meningkat. Hal ini mengindikasikan bahwa mikroorganisme yang terdapat dalam ragi kopi luwak mengandung kelompok mikroba yang mampu menghasilkan asam-asam organik. Hal ini diperkuat dengan pendapat Fauzi [10] yang menyatakan bahwa penurunan nilai pH disebabkan produksi asam laktat oleh inokulum ragi yang ditambahkan, dan juga dari mikroba kontaminasi dari lingkungan sekitar.
D. Total Asam Tertitrasi
Total asam tertitrasi (TAT) merupakan salah satu indikator terjadinya fermentasi yang dinyatakan dalam persen asam laktat. Perubahan total asam tertitrasi pada biji kopi luwak in vitro dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Total asam tertitrasi kopi luwak in vitro
Pada Gambar 4 dapat diketahui bahwa jumlah total asam tertitrasi cenderung semakin meningkat seiring dengan penambahan ragi dan lama fermentasi. Pada sampel dengan penambahan ragi kopi luwak 0,5%; 1,5%; dan 2,5% pada perlakuan 8 jam, 16 jam, dan 24 jam memiliki total asam tertitrasi sekitar 0,025-0,027%. Keseluruhan sampel memiliki total asam tertitrasi lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol biji kopi robusta tanpa fermentasi yaitu 0,0254%. Hal ini disebabkan karena kopi luwak in vitro telah mengalami proses fermentasi.
Asam tertitrasi mengalami peningkatan seiring dengan lama fermentasi dan jumlah ragi kopi luwak yang ditambahkan, karena mikroorganisme yang melakukan metabolisme juga semakin meningkat. Hal ini diperkuat oleh Legowo et al., [15] yang menyatakan bahwa peningkatan kadar asam laktat disebabkan adanya aktivitas BAL yang memecah laktosa dan gula-gula lain menjadi asam laktat.
Hasil pengukuran total asam tertitrasi biji kopi luwak in
vitro tertinggi didapatkan pada sampel dengan perlakuan
lama fermentasi 16 jam dan penambahan ragi kopi luwak sebanyak 2,5% yaitu 0,0267%. Pemberian ragi hingga
konsentrasi 2,5% menyebabkan asam laktat yang terbentuk semakin meningkat dan pH cenderung turun, yang kemudian mengakibatkan nilai total asam tertitrasi meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat Charalampopoulus et al., [6] yang menyatakan bahwa aktivitas mikroba selama fermentasi akan menyebabkan penurunan pH seiring dengan meningkatnya keasaman produk sebagai asam laktat, dan asam-asam organik lainnya akan terakumulasi.
E. Kadar Kafein
Hasil analisa kadar kafein biji kopi luwak in vitro
memiliki nilai yang fluktuatif, namun secara keseluruhan kadar kafein mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Kadar kafein tertitrasi kopi luwak in vitro Hasil analisis kadar kafein pada Gambar 5
menunjukkan bahwa biji kopi robusta yang telah difermentasi menggunakan ragi kopi luwak memiliki kadar kafein sekitar 0,8-1,5% lebih rendah dibandingkan dengan kontrol biji kopi robusta tanpa fermentasi yaitu 1,44%. Secara keseluruhan hasil analisa kadar kafein kopi luwak in vitro menggunakan ragi kopi luwak 0,5%; 1,5%; dan 2,5% masing-masing mengalami penurunan seiring dengan lama fermentasi. Hal ini sesuai dengan Hanifah dan Kurniawati [14] yang menyatakan bahwa proses fermentasi dapat menurunkan kandungan kafein secara signifikan baik fermentasi hewan luwak, fermentasi basah secara penuh, maupun fermentasi dengan ragi. Kafein akan diuraikan oleh bakteri-bakteri fermentasi dan enzim pengurai kafein.
Hasil fermentasi maksimum terjadi pada perlakuan penambahan ragi kopi luwak sebanyak 2,5% dengan lama fermentasi selama 24 jam yaitu 0,839%. Menurut Todar [25], semakin lama waktu fermentasi maka semakin sedikit konsentrasi kafein dalam kopi. Hal ini dikarenakan pada proses fermentasi terjadi degradasi kafein menjadi
uric acid, 7-methilxanthine, dan xanthine. Lebih lanjut,
0,00 0,01 0,02 0,03 T o ta l A sa m T er ti tr a si ( % ) Jumlah Ragi 8 jam 16 jam 24 jam 0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 1,40 1,60 Ka d a r Ka fe in (% ) Jumlah Ragi (%) 8 jam 16 jam 24 jam Lama Fermentasi Lama Fermentasi (jam)
84
penelitian Yano dan Mazzafera [28] mengemukakan bahwa pada proses degradasi kafein menjadi uric acid
mulai terbentuk pada waktu 12 jam fermentasi. Demikian juga menurut Gokulakrishnan et al. [11] proses degradasi kafein menjadi uric acid mulai terbentuk pada waktu fermentasi 12 - 36 jam. Reaksi yang terjadi yaitu:
Kafein uric acid+biomassa [11]
IV.KESIMPULAN
Hasil penelitian diketahui bahwa variasi lama fermentasi dan dosis ragi kopi luwak yang ditambahkan mampu mempengaruhi karakteristik kimia kopi luwak robusta in vitro. Selain itu, perlakuan juga dapat meningkatkan kadar air dan total asam tertitrasi hingga 9,19% dan 0,0267%, sedangkan kadar glukosa, pH dan kadar kafein turun hingga 9,02%; 5,65; dan 8,39%.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Afandi, I. L., “Studi Optimasi Dosis Ragi Kopi Luwak Multikultur
Bermedia Tepung Maizena Pada Pengolahan Kopi Robusta Secara Semi Basah”, Skripsi, Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP, UJ, 2011.
[2] Afifah, N. (2010) Analisis Kondisi dan Potensi Waktu Fermentasi
Medium Kombucha (Teh, Kopi, Rosella) dalam Menghambat
Pertumbuhan Bakteri Pathogen (Vibrio cholera dan
Bacilluscereus). http://pustaka . Uin.ac.id/ wpcontent
/uploads/2010/11/Analisis Kondisi Dan Potensi Waktu
Fermentasi Medium Kombucha.pdf. [30 April 2016].
[3] Agustin, R., “Optimasi Dosis Ragi Kopi Luwak Multikultur
Bermedia Tepung Beras Pada Pengolahan Kopi Robusta Secara Semi Basah”, Skripsi. Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP, UJ, 2011.
[4] Bannon, G.A., Goodman, R.E., Leach, J.N., Rice, E., Fuchs R.L.,
dan Astwood, J.D. Digestive Stability In The Context Of
Assessing The Potential Allergenicity Of Food Proteins, Nutrition
And Toxicology Journal, 8: 271-285, 2002.
[5] Chan, S dan Garcia, E., Comparative Physicochemical Analyses
of Regular and Civet Coffee, The Manila Journal of Science, 7(1):
19-23, 2011.
[6] Charalampopoulos, D., Wang, R., Pandiella, S.S., dan Webb, C.
“Isolation and Characterization of Lactic Acid Bacteria from “Ting” in the Northern Province of South Africa”, Thesis, Pretoria: University of Pretoria, 2002.
[7] Day, R. A. dan Underwood, A. L. Analisa Kimia Kuantitatif, Edisi
Keenam, Alih Bahasa oleh Dr. Ir. Iis Sopyan, M. Eng, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2002.
[8] Fardiaz, S. Mikrobiologi Pangan, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 1992.
[9] Fauzi, M., Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Biji
Kopi Luwak (Civet Coffe), Jember: Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Jember, 2008.
[10] Fauzi, M. Penentuan Dosis Ragi Kopi Luwak Bermedta Tapioka
Pada Pengolahan Kopi Robusta. Prosiding Seminar Nasional
PATPI 2013: Peran Teknologi dan Industri Pangan Untuk Percepatan Tercapainya Kedaulatan Pangan Indonesia. Jember: Universitas Jember, 2013.
[11] Gokulakrishman, S., Chandrajad, K., Gummadi, dan
Sathyanarayana, N., Microbial and Enzymatic Methods for The
Removal of Caffeine, Journal Enzyme and Microbial Technology,
Elsevier. 37: 225-232, 2005.
[12] Hadipernata, Mulyana dan Nugraha, Sigit., Identifikasi Fisik,
Kimia dan Mikrobiologi Biji Kopi Luwak sebagai Acuan
Teknologi Proses Kopi Luwak Artifical. Prosiding Seminar
Nasional Intensif Riset Sinas: 117-121, 2012.
[13] Handayani, Alfina., Penerapan Sistem Nilai Cacat pada
Komoditas Kopi Robusta (Studi Kasus di Wonokerso, Pringsurat,
Temanggung). Jurnal Litbang Provinsi Jawa Tengah, 11(2),
2013.
[14] Hanifah, Nurul dan Kurniawati, Desy., Pengeruh Larutan Alkali
dan Yeast terhadap Kadar Asam, Kefein, dan Lemak pada Proses
Pembuatan Kopi Fermentasi, Jurnal Teknologi Kimia dan
Industri, 2(2): 162-168, 2013.
[15] Legowo, A. M., Kusrahayu dan Mulyani, S., Teknologi
Pengolahan Susu, Semarang: Universitas Diponegoro, 2009.
[16] Marcone, N. F.. Composition and Properties of Indonesia Palm
Civet Coffee (Kopi Luwak) and Ethopian Civet Coffee. Food
Research International 37 (9): 901-912, 2004.
[17] Mustakim, R. (2015) Kopi Luwak Makin Populer Di Dunia,
Sudah Dipayungi Permentan. Portal Berita Info Publik [serial
online].
http://infopublik.id/read/122137/kopi-luwak-makin-populer-di-dunia-sudah-dipayungi-permentan.html. [15
September 2015].
[18] Nuga. “Pelatihan Kopi Malabar”. Tidak Diterbitkan. Makalah.
Pangalengan, Kabupaten Bandung, 2012.
[19] Oktadina, F. D., Argo, B. D., dan Hermanto, M. B., Pemanfaatan
Nanas (Ananas Comosus L. Merr) untuk Penurunan Kadar Kafein
dan Perbaikan Citarasa Kopi (Coffea Sp) dalam Pembuatan Kopi
Bubuk, Malang: Jurusan Keteknikan Pertanian, Fakultas
Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya. Jurnal Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem. 1(3): 265-273, 2013.
[20] Putra, Herry (2015) Kopi Lanang dari Luwak Lanang. [serial
online]
https://kopiluwaklanang.wordpress.com/artikel-article/kopi-lanang-dari-luwak-lanang/. [15 September 2015].
[21] Salminen, S and A.V. Wright., Lactic Acid Bacteria:
Microbiology and Fungsional Aspect, Edisi Kedua. New York: Marcel Dekker Inc, 1998.
[22] Sari, M. L., “Karakteristik Organoleptik dan Komponen Flavor
Biji Kopi Robusta (Coffee Robusta) Hasil Fermentasi
Menggunakan Starter Feses Luwak”, Skripsi, Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP, UJ, 2014.
[23] Sudarmadji, S., Haryono, B, dan Suhardi, Prosedur Analisa untuk
Bahan Makanan dan Pertanian, Yogyakarta: Liberty, 1997.
[24] Surya, Yohanes, Gasing Science 4A, Tangerang: PT. Kandol,
2013.
[25] Todar, K (2010) Nutrition and Growth of Bacteria. Department of
Bacteriology, University of Wisconsin.
http://textbookofbacterriology.net/nutgro_2.html (11 November 2015).
[26] Wijanarko, B., “Optimasi Dosis Ragi Kopi Luwak Multikultur
Bermedia Tepung Tapioka Pada Pengolahan Kopi Robusta Secara Semi Basah”, Skripsi, Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP, UJ, 2011.
[27] Wijayani, Reza Adi, “Karakteristik Kimia Kopi Biji Robusta Hasil
Fermentasi Menggunakan Mikroflora Asal Feses Luwak”, Skripsi, Jember: Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP, UJ, 2015.
[28] Yano, D. M. dan Mazzafera, P., Catabolism of Caffeine and
Purification of a Xanthine Oxidase Responsible for Methyluric
Acids Productions in Pseudomonas Putida L.. Revista de
Microbiologia. Vol. 30(1): 62-70, 1999.