• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Pendukung Keputusan

2.1.1 Pengertian Sistem Pendukung Keputusan

Decision Support System atau Sistem Pendukung Keputusan yang selanjutnya kita

singkat dalam draft skripsi ini menjadi SPK, secara umum didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan, baik kemampuan pemecahan masalah maupun kemampuan pengkomunikasian untuk masalah semi-terstruktur. Secara khusus, SPK didefinisikan sebagai sebuah sistem yang mendukung kerja seorang manajer maupun sekelompok manajer dalam memecahkan masalah semi-terstruktur dengan cara memberikan informasi ataupun usulan menuju pada keputusan tertentu. (Hermawan, 2005)

Dari definisi di atas bisa disimpulkan bahwa tujuan SPK dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:

1. Membantu menjawab masalah semi-terstrukur

2. Membantu manajer dalam mengambil keputusan, bukan menggantikannya 3. Manajer yang dibantu melingkupi top manajer ke manajer lapangan

4. Fokus pada keputusan yang efektif, bukan kepada keputusan yang efisien

2.1.2 Proses Pengambilan Keputusan

Proses pengambilan keputusan melibatkan empat tahapan, yaitu: 1. Tahap Intelligence

Dalam tahap ini pengambil keputusan mempelajari kenyataan yang terjadi sehingga kita bisa mengidentifikasi masalah yang sedang terjadi, biasanya

(2)

dilakukan analisis berurutan dari sistem ke subsistem pembentuknya. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen pernyataan masalah.

2. Tahap Design

Dalam tahap ini pengambil keputusan menemukan, mengembangkan, dan menganalisis semua pemecahan yang mungkin, yaitu melalui pembuatan model yang bisa mewakili kondisi nyata masalah. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen alternatif solusi.

3. Tahap Choice

Dalam tahap ini pengambil keputusan memilih salah satu alternatif pemecahan yang dibuat pada tahap Design yang dipandang sebagai aksi yang paling tepat

untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa dokumen solusi dan rencana implementasinya.

4. Tahap Implementation

Dalam tahap ini pengambil keputusan menjalankan rangkaian aksi pemecahan yang dipilih di tahap choice. Implementasi yang sukses ditandai dengan

terjawabnya masalah yang dihadapi, sementara kegagalan ditandai dengan tetap adanya masalah yang sedang dicoba untuk diatasi. Dari tahap ini didapatkan keluaran berupa laporan pelaksanaan solusi dan hasilnya.

2.1.3 Karakteristik dan Komponen SPK

2.1.3.1 Karakteristik SPK

Secara lebih spesifik, SPK dapat dirumuskan berdasarkan kemampuannya dalam berbagai hal yang merupakan syarat utama bagi tercapainya tujuan yang mendasari pengembangan suatu sistem, yang dapat dijelaskan pada karakteristik SPK sebagai berikut :

1. Didasarkan pada pendekatan yang luas dalam mendukung proses pengambilan keputusan yang menitikberatkan pada “Management by Perception” (sangat

(3)

2. Interface manusia dan mesin, dimana manusia sebagai pemakai dan tetap

mengontrol proses pengambilan keputusan.

3. Mendukung pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang tidak terstruktur dan semi terstruktur.

4. Menggunakan model-model, baik model matematis, statistik dan model lainnnya yang sesuai untuk menunjang proses pengambilan keputusan.

5. Mampu memberikan informasi yang sesuai untuk kebutuhan model interaktif. 6. Memiliki subsistem yang terintegrasi dalam suatu sistem pendukung keputusan

sehingga dapat berfungsi sebagai suatu kesatuan sistem, yang secara efektif dapat memberikan dukungan pada semua tingkatan manajemen.

7. Didukung dengan data-data yang komprehensif guna memenuhi fungsi-fungsi yang ada dalam tingkatan manajemen.

8. Pendekatan “easy to use”, artinya kemudahan sistem dalam penggunaannya ini

merupakan ciri SPK yang efektif, dimana memungkinkan pemakai bebas dan cepat untuk berinteraksi.

9. Mampu untuk beradaptasi secara cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, dengan kata lain sistem dapat menghadapi masalah-masalah yang baru muncul sebagai akibat dari adanya perubahan kondisi.

2.1.3.2 Komponen SPK

Suatu SPK memiliki tiga subsistem utama yaitu subsistem manajemen basis data, subsistem manajemen basis model dan subsistem manajemen perangkat lunak perangkat dialog (Hasan, 2002:32).

a. Subsistem Manajemen Basis Data

Kemampuan yang dibutuhkan dari manajemen basis data antara lain :

1. Kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai variasi data melalui pengambilan dan ekstraksi data

2. Kemampuan untuk menambahkan sumber data secara mudah dan cepat

3. Kemampuan untuk menggambarkan struktur data logikal sesuai dengan pengertian pemakai sehingga pemakai mengetahui apa yang tersedia dan dapat menentukan kebutuhan penambahan dan pengurangan

(4)

4. Kemampuan untuk menangani data secara personil sehingga pemakai dapat mencoba berbagai alternatif pertimbangan personil

5. Kemampuan untuk mengelola berbagai variasi data b. Subsistem Manajemen Basis Model

Kemampuan yang dimiliki manajemen basis model meliputi :

1. Kemampuan untuk menciptakan model-model baru secara cepat dan mudah 2. Kemampuan untuk mengakses dan mengintegrasikan model-model keputusan 3. Kemampuan untuk mengelola basis model dengan fungsi manajemen yang

analog dan manajemen basis data (seperti mekanisme menyimpan, membuat dialog, mengubungkan dan mengakses model)

c. Subsistem Perangkat Lunak Penyelenggara Dialog

Fleksibilitas dan kekuatan karakteristik SPK timbul dari kemampuan interaksi antara sistem dan pemakai yang dinamakan subsistem dialog. Subsistem dialog dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu bahasa aksi (papan ketik, panel sentuh,

joystick, perintah suara dan sebagainya), bahasa tampilan (printer, layar tampilan,

grafik, keluaran suara dan sebagainya), dan basis pengetahuan (kartu referensi, buku manual dan sebagainya).

Kombinasi dari kemampuan-kemampuan di atas terdiri dari apa yang disebut gaya dialog, misalnya meliputi pendekatan tanya dan jawab, bahasa perintah, menu dan mengisi tempat kosong. Kemampuan yang harus dimiliki oleh SPK untuk mendukung dialog pemakai/sistem meliputi :

1. Kemampuan untuk menangani berbagai variasi gaya dialog

2. Kemampuan untuk mengakomodasi tindakan pemakai dengan berbagai peralatan masukan

3. Kemampuan untuk menampilkan data dengan berbagai variasi format dan peralatan keluaran

4. Kemampuan untuk memberikan dukungan yang fleksibel untuk mengetahui basis pengetahuan pemakai

(5)

2.2 Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

2.2.1 Karakteristik Analytical Hierarchy Process (AHP)

Model AHP ini dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Dimana proses pengambilan keputusan pada dasarnya adalah memilih suatu alternatif. Peralatan utama Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya

persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan ke dalam kelompok-kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992:5).

Suatu tujuan yang bersifat umum dapat dijabarkan dalam beberapa subtujuan yang lebih terperinci yang menjelaskan apa yang dimaksud dalam tujuan pertama. Penjabaran ini dapat dilakukan terus hingga akhirnya diperoleh tujuan yang bersifat operasional. Dan pada hirarki terendah inilah dilakukan proses evaluasi atas alternatif-alternatif, yang merupakan ukuran dari pencapaian tujuan utama, dan pada hirarki terendah ini dapat ditetapkan dalam satuan apa kriteria diukur.

Gambar 2.1 Strukur Hirarki AHP

Perbedaan mencolok antara metode AHP dengan metode pengambilan keputusan lainnya terletak pada jenis inputnya. Metode yang sudah ada umumnya

Tujuan

Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria ke n

(6)

memakai input yang kuantitatif. Otomatis metode tersebut hanya dapat mengolah hal kuantitatif pula. Metode AHP menggunakan persepsi manusia yang dianggap ‘expert

sebagai input utamanya. Kriteria ‘expert’ di sini bukan berarti bahwa orang tersebut

haruslah jenius, pintar, bergelar doktor dan sebagainya tetapi lebih mengacu pada orang yang mengerti benar permasalahan yang diajukan, merasakan akibat suatu masalah atau punya kepentingan terhadap masalah tersebut. Karena menggunakan input yang kualitatif (persepsi manusia) maka AHP dapat juga mengolah hal kuantitatif disamping hal yang kualitatif.

Pada penelitian Faraby (2010), metode AHP digunakan untuk menentukan calon debitur mana yang layak menerima KUR dari BSM dengan mempertimbangkan beberapa kriteria yang ditentukan sebelumnya oleh pihak Bank yakni status kredit, produktivitas usaha, kondisi usaha, jaminan, dan kolektibilitas. Hasil dari penelitian beliau adalah nilai prioritas masing-masing nasabah yang berurut dari prioritas tertinggi sampai ke prioritas terendah, dan prioritas tertinggilah yang disarankan untuk diambil sebagai keputusan yang terbaik. Dilihat dari aspek pengukuran, metode AHP dinilai efektif untuk memecahkan kasus dengan multikriteria seperti penelitian tersebut. (Faraby, 2010)

Pada penelitian Supriyono (2007), metode AHP digunakan untuk membantu proses pemilihan pejabat struktural pada suatu sekolah tinggi. Dimana ada tiga calon pejabat struktural yang dibandingkan dan kriteria pemilihannya yaitu dari segi manajerial, kualitas kerja, pengetahuan dan keahlian, tanggung jawab, komunikasi, motivasi, serta disiplin kerja. Kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode AHP sehingga didapatkan prioritas global tertinggi dan sah karena rasio konsistensinya < 0,1. (Supriyono, 2007).

Kelebihan AHP dibandingkan dengan metode pengambilan keputusan lainnya adalah :

1. Struktur yang berhirarki, sebagai konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada sub-subkriteria yang paling dalam

2. Memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsistensi berbagai kriteria dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan

(7)

3. Memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitivitas

pengambilan keputusan

Selain itu, AHP mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi-objektif dan multi-kriteria yang berdasar pada perbandingan preferensi dari setiap elemen dalam hirarki. Jadi, model ini merupakan suatu model pengambilan keputusan yang komprehensif.

Pada dasarnya terdapat beberapa langkah yang diperlukan dalam menggunakan metode AHP, antara lain (Suryadi dan Ramdhani, 1998) :

1. Mendefenisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan

2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan dengan subtujuan-subtujuan, kriteria dan kemungkinan alternatif-alternatif pada tingkatan kriteria yang paling bawah

3. Membuat matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan

judgement dari pengambil keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu

elemen dibandingkan dengan elemen lainnya.

4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgement

seluruhnya sebanyak n x [(n-1)/2] buah, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan

5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi

6. Mengulangi langkah 3, 4 dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki

7. Menghitung vektor eigen dari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai vektor eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis

judgement dalam penentuan prioritas elemen-elemen pada tingkat hirarki

terendah sampai pencapaian tujuan.

8. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10 persen maka penilaian data judgement harus diperbaiki.

(8)

Untuk model AHP, matriks perbandingan dapat diterima jika nilai rasio konsistensi kurang ataupun sama dengan 0,1. Bila metode AHP digunakan untuk sekelompok orang yang sedang berdiskusi, maka selain dapat memberikan penilaian yang lebih baik juga diskusi dalam sebuah kelompok ini dapat menimbulkan masalah yaitu diperlukan waktu untuk mencapai suatu konsensus tertentu. Bila tidak tercapai suatu konsensus maka perlu dicari rata-rata geometrik dari penilaian yang diberikan oleh seluruh anggota kelompok.

2.2.2 Skala Perbandingan Berpasangan

Secara naluri, manusia dapat mengestimasi besaran sederhana melalui inderanya. Proses yang paling mudah adalah membandingkan dua hal dengan keakuratan perbandingan tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu Saaty (1980) menetapkan skala kuantitatif 1 sampai dengan 9 untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen lain yang dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut:

Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Pasangan

Intensitas

Kepentingan Keterangan Penjelasan

1 Kedua elemen sama pentingnya Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama besar terhadap tujuan 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang

lainnya

Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu elemen

dibandingkan elemen lainnnya 5 Elemen yang satu lebih penting

daripada elemen yang lainnya

Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong satu elemen dibandingkan elemen yang lainnya 7 Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen yang

lainnya

Satu elemen yang kuat disokong dan dominan terlihat dalam praktek 9 Satu elemen mutlak penting

daripada elemen yang lainnya

Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki

(9)

tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan

2, 4, 6, 8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan

Nilai ini diberikan jika ada dua kompromi diantara dua pilihan Kebalikan Jika aktivitas i mendapat satu angka dibandingkan dengan aktivitas j,

maka j memiliki nilai kebalikannya dibandingkan dengan i

2.2.3 Pengambilan Keputusan Secara Terpisah

Untuk melakukan pemberian bobot oleh expert yang jumlahnya lebih dari satu dapat

dilakukan dengan pengisian kuesioner. Setelah kuesioner diisi oleh expert maka untuk

mendapatkan hasil akhir dari sekian banyak expert yang mengisi kuesioner tersebut

dapat dicari dengan menghitung rata-rata penilaian dari semua expert dengan

menggunakan rumus (1) : n an) ... a2 (a1   aw  ... (1)

dimana, an = penilaian expert ke-n (dalam skala 1/9-9), aw = penilaian gabungan

(penilaian akhir) dan n= banyaknya expert. 2.2.4 Prinsip – prinsip AHP

Adapun prinsip-prinsip dari AHP adalah (Mulyono, 1996) :

a. Decomposition

Setelah persoalan didefenisikan, maka perlu dilakukan decomposition yaitu

memecah persoalan yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Jika ingin mendapatkan hasil yang akurat, pemecahan juga dilakukan terhadap unsur-unsurnya sampai tidak dapat dilakukan pemecahan lebih lanjut, sehingga didapatkan beberapa tingkatan dari persoalan yang ada. Oleh karena itu, maka proses analisis ini dinamakan hirarki. Terdapat dua jenis hirarki yaitu lengkap dan tidak lengkap. Dalam suatu hirarki lengkap, semua elemen yang ada pada suatu tingkat memiliki

(10)

semua elemen yang ada pada tingkat berikutnya dan jika yang terjadi adalah sebaliknya maka merupakan hirarki tidak lengkap.

b. Comparative Judgement

Prinsip ini memberikan penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkat diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari penggunaan metode AHP, karena AHP akan berpengaruh terhadap penentuan prioritas elemen-elemen yang dibandingkan. Hasil dari penilaian ini akan disajikan dalam bentuk matriks yang selanjutnya dinamakan matriks pairwise comparison. Pertanyaan yang biasa diajukan dalam menyusun

skala kepentingan adalah :

 Elemen mana yang lebih (penting/disukai/mungkin/...)? dan  Berapa kali lebih (penting/disukai/mungkin/...)?

Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika membandingkan dua elemen, seseorang yang akan memberikan jawaban perlu memiliki pengertian menyeluruh tentang elemen-elemen yang dibandingkan dan relevansinya terhadap kriteria atau tujuan yang dipelajari.

c. Synthesis of Priority

Dari setiap matriks pairwaise comparison kemudian dicari eigen vector-nya untuk

mendapatkan local priority. Hal ini karena matriks pairwise comparison terdapat

pada setiap tingkat, maka untuk mendapatkan global priority harus dilakukan

sintesa diantara local priority. Prosedur melakukan sintesa berbeda menurut

bentuk hirarki. Pengurutan elemen-elemennya menurut kepentingan realatif melalui prosedur sintesa dinamakan priority setting.

d. Logical Consistency

Konsistensi memiliki dua makna. Pertama, pada objek-objek serupa yang dikelompokkan sesuai dengan keseragaman dan relevansi. Seperti anggur dan kelereng dapat dikelompokkan dalam himpunan yang seragam jika bulatan merupakan kriterianya tetapi tidak dapat jika rasa sebagai kriterianya. Pengertian kedua, terletak pada tingkat hubungan antara objek-objek yang didasarkan

(11)

menurut kriteria. Seperti jika manis merupakan kriteria dan madu dinilai lima kali lebih manis dibanding gula dan gula dua kali lebih manis dibanding sirup maka seharusnya madu dinilai sepuluh kali lebih manis dibanding sirup. Jika madu hanya dinilai empat kali manisnya dibanding sirup maka penilaian tersebut tidak konsisten dan proses harus diulang lagi jika ingin memperoleh penilaian yang lebih tepat.

2.2.5 Perhitungan Konsistensi

Matriks bobot yang didapatkan dari hasil perbandingan secara berpasangan tersebut harus mempunyai hubungan kardinal dan ordinal. Hubungan tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut (Suryadi, 1998) :

Hubungan kardinal : aRij . RaRjkR = aRik

Hubungan ordinal : ARiR > ARjR, ARjR > ARkR maka ARiR > ARk

Hubungan di atas dapat dilihat dari dua hal sebagai berikut :

a. Dengan melihat preferensi multiplikatif, misalnya bila anggur lebih enak empat kali dari mangga dan mangga lebih enak dua kali dari pisang maka anggur lebih enak delapan kali dari pisang

b. Dengan melihat preferensi transitif, misalnya anggur lebih enak dari mangga dan mangga lebih enak dari pisang maka anggur lebih enak dari pisang

Pada keadaan sebenarnya akan terjadi beberapa penyimpangan dari hubungan tersebut, sehingga matriks tersebut tidak konsisten sempurna. Hal ini terjadi karena ketidakkonsistenan dalam preferensi seseorang.

Contoh konsistensi preferensi :

A =         1 2 1 2 4 1 1 2 1 2 1 4 1 k j i k j i         A

Error! Bookmark not defined.AAError! Bookmark not defined.AAError! Bookmark

(12)

ARijR . ARjkR = ARikR 4 . 2 1 = 2 ARik . RARkj R= ARij R2 . 2 = 4 ARjkR . ARkiR = ARjiR 2 1 . 2 1 = 4 1

Dalam teori matriks dapat diketahui kesalahan kecil pada koefisien akan menyebabkan penyimpangan kecil pada nilai eigen. Dengan mengkombinasikan apa

yang telah diuraikan sebelumnya, jika diagonal utama dari matriks A bernilai satu dan jika A konsisten maka penyimpangan kecil ARijR akan tetap menunjukkan nilai eigen terbesar λ maks, nilainya akan mendekati n dan nilai eigen sisanya akan mendekati

nol. Penyimpangan dari konsistensi dinyatakan dengan Indeks Konsistensi, dengan persamaan : CI = 1   n n maks

Dimana : λmaks = nilai eigen maksimum n = ukuran matriks

Indeks Konsistensi (CI) ; matriks random dengan skala penilaian 9 (1 s/d 9) beserta kebalikannya sebagai Indeks Random (RI). Perbandingan anatara CI dan RI untuk suatu matriks didefenisikan sebagai Rasio Konsistensi (CR)

CR =

RI CI

Berikut adalah nilai dari Indeks Random sesuai dengan ukuran matriksnya : Ukuran Matriks Indeks Random (Inkonsistensi) 1, 2 0,00 3 0,58 4 0,90 5 1,12 6 1,24 7 1,32 8 1,41 9 1,45 10 1,49

(13)

11 1,51 12 1,48 13 1,56 14 1,57 15 1,59

2.3 Anggaran Biaya Proyek

Anggaran adalah biaya yang dikeluarkan dengan syarat-syarat / aturan permainan dalam pelaksanaan pekerjaan, yang dihitung oleh ahli/penasehat dan disetujui oleh pemberi tugas. Dan anggaran biaya proyek adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan, upah-upah dan biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek (Mukomoko, 1993).

Pada dasarnya anggaran biaya ini merupakan bagian terpenting dalam menyelenggarakan suatu proyek pembangunan. Dan membuat anggaran biaya ini berarti menaksir atau mengira-ngira harga dari suatu barang, bangunan atau benda yang akan dibuat dengan teliti dan secermat mungkin.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi dasar untuk membuat perhitungan biaya anggaran, antara lain :

1. Syarat-syarat yang diminta oleh penyelenggara proyek 2. Harga bahan-bahan yang dipakai di daerah lokasi proyek 3. Harga upah buruh, tukang, dll setempat

4. Keamanan di tempat pekerjaan

5. Transport material ke tempat pekerjaan

Namun, meskipun kelima faktor di atas telah dipergunakan dalam membuat anggaran biaya, tetapi belumlah menjadi suatu jaminan bahwa anggaran biaya tersebut jumlahnya akan tepat sama dengan biaya yang akan dikeluarkan pada waktu pelaksanaan proyek Oleh sebab itulah, maka anggaran biaya itu hanya merupakan suatu taksiran saja yang kira-kira mendekati kepada biaya yang sebenarnya.

(14)

Selain dari kelima faktor di atas, untuk membuat suatu anggaran biaya proyek maka dibutuhkan suatu buku analisa yang memuat analisa-analisa untuk ragam pekerjaan, dan biasanya buku yang dipakai adalah buku analisa yang dipakai pemerintah. Buku analisa yang dibuat oleh pemerintah tersebut memuat segala macam pekerjaan yang pernah dilakukannya dan menerangkan bahwa satu bagian pekerjaan tertentu harus memakai sekian banyak bahan dan sekian banyak tenaga manusia.

Buku analisa pemerintah tersebut memiliki tujuan untuk membuat perencanaan biaya sebagai landasan keperluan bangunan dan analisanya tidak bersifat rahasia. Siapa saja boleh memakai sistem analisa tersebut, tapi yang terpenting dalam hal ini adalah pengisian data dalam analisa tersebut, yaitu angka-angka yang terjamin dan riil mengenai harga bahan, harga upah, dan lain-lain. Dan sekarang buku analisa pemerintah itu lebih dikenal dengan buku analisa B.O.W.

Sebagai contoh dari buku analisa B.O.W adalah pada Analisa A1. Analisa A1 dipakai untuk mengorek aluran pondamen ataupun untuk galian tanah biasa yang jumlahnya tidak besar. Bentuk Analisa A1 tersebut dituliskan seperti berikut :

U

Analisa A1U, untuk 1m3 galian tanah biasa, tidak lebih dari 1 meter.

0.75 pekerja ……….. Rp. ………. = Rp. ……….. 0.025 mandor ……… Rp. ………. = Rp. ……….

Rp. ………..

Misalkan upah pekerja per hari adalah Rp 42.900,- dan upah mandor per hari adalah Rp. 57.900,- maka :

0.75 pekerja ……….. Rp. 42.900,00 = Rp. 32.175,00 0.025 mandor ……… Rp. 57.900,00 = Rp. 1.447,50

Rp. 33.622.50

Artinya harga untuk 1m3 galian tanah adalah Rp. 33.622.50 dan harga ini adalah harga satuan untuk melakukan pekerjaan penggalian pada 1m3 tanah galian. Dan nantinya harga satuan ini akan dikalikan dengan berapa besar volume pekerjaan galian tanah ini untuk menghasilkan total biaya penggalian tanah. Nilai 0.75 dan 0.025

(15)

tersebut didapat berdasarkan pengalaman pemerintah dulu, yakni dalam satu hari kerja seorang buruh/pekerja adalah delapan jam (yang produktif maksimum hanya 6 ¼ jam), dan seorang pekerja rata-rata hanya dapat menggali tanah biasa 4/3 m3 disertai memindahkannya sejauh-jauhnya 3 meter kesamping. Jadi untuk mengali 1 m3 tanah, tidak diperlukan tenaga seorang pekerja seharian penuh 100% atau 8 jam kerja, tapi hanya diperlukan : 41/3 = ¾ tenaganya saja, atau dengan istilah lain 0.75 pekerja .

Dan untuk angka mandor tersebut didapat melalui melalui cara berikut : buruh-buruh atau para pekerja diawasi oleh seorang mandor agar mereka efektif dalam bekerja, tidak lalai dalam pekerjaannya dan lain sebagainya. Menurut pengalaman pemerintah dulu sejak bertahun-tahun diberbagai daerah, seorang mandor dalam menggali tanah dapat mengawasi 30 orang pekerja . Ini berarti seorang mandor memberikan tenaganya sehari untuk seorang pekerja dalam galian tanah tiap 1m3 tanah adalah : 301 x 0.75 x 1 mandor = 0.025 tenaga mandor.

Demikian seterusnya untuk angka-angka kesimpulan yang terdapat pada analisa-analisa pemerintah yang terdapat pada buku analisa B.O.W, baik itu pekerjaan yang berbeda dan dikerjakan diberbagai daerah, semuanya itu berlandaskan pada ratusan atau ribuan pengalaman pekerjaan dan hasil dari puluhan tahun penilaian.

Di dalam daftar anggaran biaya yang akan dibuat, disusun banyaknya tiap bagian-bagian dari pekerjaan tersebut sebagaimana yang telah disusun dalam rencana kerja. Dan bilamana jumlah satuan diperoleh (misalnya isi dalam m3 dan luas dalam m2), kemudian jumlah ini dikalikan dengan harga satuan (harga yang didapat dari analisa harga) tiap –tiap pekerjaan. Selanjutnya jumlah dari semua bagian-bagian pekerjaan tersebut adalah anggaran biaya proyek bangunan tersebut.

2.4 Irigasi

Irigasi adalah cara menyediakan, menyampaikan dan memberi air kedalam tanah pertanian karena kekurangan, untuk dimanfaatkan tanaman dalam rangka memproduksi hasil yang diperlukan.

(16)

Pengertian irigasi, bangunan irigasi, daerah irigasi dan petak irigasi telah dibakukan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.23/1982 Ps.1. Kutipan dari pengertian-pengertian tersebut adalah sebagai berikut :

1. Irigasi adalah usaha penyediaan dan pengaturan air untuk menunjang pertanian 2. Jaringan irigasi adalah saluran dan bangunan yang merupakan satu kesatuan

dan diperlukan untuk pengaturan air irigasi mulai dari penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan penggunaannya.

3. Daerah irigasi adalah kesatuan wilayah yang mendapat air satu jaringan irigasi 4. Petak irigasi adalah petak tanah yang memperoleh air irigasi.

Masalah pokok bagi ahli-ahli pertanian dan ahli-ahli bidang teknik sipil adalah bagaimana memanfaatkan air sebagai sumber/bahan yang penting ini dapat diefisienkan semaksimum mungkin, agar diperoleh suatu produk yang paling menguntungkan. Efisiensi penggunaan air adalah masalah pokok dan penting di dalam rangka perencanaan, design, operasi dan pemeliharaan, serta pengelolaan dalam

sistem irigasi.

Salah satu cara untuk menghemat air dan meminimisasi kehilangan air volumetris lewat penguapan (evaporasi) dan evavotranspirasi vegetasi di sepanjang saluran adalah dengan rancangbangun bangunan irigasi dan tataan jaringan irigasi. Selain itu di dalam merancangbangun bangunan dan tataan jaringan irigasi telah diupayakan agar manajemen irigasi (operasi dan pemeliharaan) yang dilakukan dapat menghindarkan kehilangan air yang tidak diharapkan.

Maksud utama dari pemberian air irigasi adalah untuk meningkatkan hasil usaha tani yang dikehendaki dengan tujuan agar memperoleh keuntungan yang maksimal. Untuk menyediakan dan menyampaikan air irigasi ke lahan pertanian maka ada dua bidang yang dapat ditinjau yakni :

1. Bidang Prasarana; yang menyangkut semua aspek konstruksi, seperti saluran dan bangunan-bangunan air yang biasa disebut jaringan irigasi

2. Bidang Sarana; yang menyangkut aspek-aspek yang berkaitan dengan airnya sendiri, baik ketersediaan dari sumbernya maupun mengaturnya dan

(17)

mengelolanya, dan biasa diistilahkan dengan pengelolaan air atau water management

Aturan-aturan pembangunan prasarana dan sarana irigasi yang baik diatur dalam suatu buku yang sering disebut dengan buku Standar Perencanaan Irigasi. Buku tersebut merupakan buku panduan untuk membangun bangunan-bangunan irigasi, baik itu bangunan untuk prasarana irigasi maupun bangunan untuk sarana irigasi. Di dalam buku tersebut terdapat beberapa bangunan yang dianggap penting dan merupakan syarat untuk suatu jaringan irigasi yang baik seperti bangunan bendung, saluran, bangunan bagi, pintu-pintu air, bangunan-bangunan pelengkap dan masih terdapat beberapa bangunan lagi yang fungsinya sudah dapat diwakilkan oleh kelima bangunan tersebut.

Keberhasilan operasional jaringan irigasi dilihat dari sudut pandang manajemen pada dasarnya adalah keberhasilan dalam mencapai sasaran sesuai dengan target yang telah ditetapkan dan disepakati bersama antara pengelola dan pemakai air (Service Agreement). Hal ini akan tergantung pada beberapa faktor, seperti ketelitian

dalam perkiraan ketersediaan air, kondisi jaringan irigasi meliputi kondisi saluran dan bangunan-bangunannya mulai dari bendung (headworks) sampai ke sawah serta

konsistensi dari pelaksana manajemen terhadap kesepakatan bersama (Hofwegen, 1992).

Gambar

Gambar 2.1 Strukur Hirarki AHP
Tabel 2.1 Skala Penilaian Perbandingan Pasangan

Referensi

Dokumen terkait

Ikan yang menjadi sasaran penangkapan muroami yaitu famili Caseodidae (ekor kuning dan pisang-pisang) yang merupakan kelompok ikan karang yang dapat dieksploitasi secara

Proses pengenalan karakter plat nomor kendaraan bermotor dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu akuisisi citra, pra proses yang meliputi grayscale, binerisasi, segmentasi,

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil berupa sistem aplikasi kasir pada kedai ter_serah.ko Sorong dan buku panduan menggunakan sistem

Apabiia siklus pemesanan makin besar akan menyebabkan jumlah pemesanan untuk setiap kali pesan menjadi makin kecil, hal ini akan memperkecil biaya penyimpanan dan sebaliknya

Isolat bakteri penambat N non-simbiotik pada sampel tanah HTA1 memperlihatkan bentuk, tepian dan elevasi yang berbeda-beda dengan warna koloni yang didominasi oleh

c) Unsur ketiga, dengan adanya persesuaian yang demikian itu menandakan (menjadi suatu tanda) atau menunjukkan adanya 2 (dua) hal in casu kejadian, ialah:

[r]

Kecenderungan untuk patuh membaca label informasi zat gizi ternyata lebih tinggi pada responden dengan sta- tus kerja ayah tetap, memliki sikap kesehatan dan label produk pangan