• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI 2.1.Tarif Kamar Hotel - PENENTUAN TARIF SEWA KAMAR DENGAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM (ABC SYSTEM) STUDI PADA HOTEL POUSADA DE BAUCAU TIMOR - LESTE - UMBY repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI 2.1.Tarif Kamar Hotel - PENENTUAN TARIF SEWA KAMAR DENGAN ACTIVITY BASED COSTING SYSTEM (ABC SYSTEM) STUDI PADA HOTEL POUSADA DE BAUCAU TIMOR - LESTE - UMBY repository"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1.Tarif Kamar Hotel

Tarif adalah nilai suatu jasa pelayanan yang ditetapkan dengan ukuran sejumlah uang berdasarkan pertimbangan bahwa dengan nilai uang tersebut sebuah hotel bersedia memberikan jasa kepada

pelanggan. Tarif dapat ditetapkan dengan berbagai tujuan sebagai berikut: (Trisnantoro,2005).

1. Penetapan Tarif untuk Pemulihan Biaya.

Biaya yang ditetapkan mampu mengembalikan modal awal yang berupa aset tetap maupun bentuk modal lainya.

2. Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Akses pelayanan.

Biaya yang ditetapkan bisa memberikan manfaat kepada publik

berupa produk berbentuk barang maupun jasa

3. Penetapan Tarif untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan.

Biaya yang ditetapkan biasa meningkatkan kinerja manajemen

untuk memberikan pelayanan kepada komsumen berupa barang maupun jasa.

4. Penetapan Tarif untuk Tujuan Lain.

Biaya yang ditetapkan diperuntukan untuk dana pengaman yang nantinya dimanfaatkan untuk keperluan operasional

(2)

12

Daftar tarif kamar hotel biasanya secara regular dipublikasikan. Daftar tarif ini biasa dikenal dengan The Rack Rate

yaitu suatu sistem tarif kamar hotel yang sudah ditetapkan berdasarkan kebijakan harga sebagai hasil keputusan manajemen

hotel dan dipublikasikan dalam bentuk leaflet atau brosur yang tersedia di front office.

2.2. Cara-cara Penetapan Tarif Kamar Hotel

Cara-cara penetapan tarif kamar hotel yang sering digunakan pihak manajemen hotel dalam penetuan tarif, yakni (yoeti,2007):

a. Target Profit Pricing.

Suatu cara penetapan tarif kamar berdasarkan rata-rata tingkat hunian kamar hotel yang dapat menjamin pengembalian investasi

yang dilakukan (Based on average occupancy which will provide an adequate return).

b. Perceived-Value Pricing.

Suatu sistem penetapan tarif kamar hotel berdasarkan nilai atau manfaat dari produk yang ditawarkan. Perceived-Value Pricing ini

merupakan suatu strategi yang secara umum ditujukan untuk a specific customer mix.

c. Going Rate.

Penetapan harga kamar berdasarkan permintaan rata-rata sebagai langkah menghadapi persaingan (keeping peace with the

(3)

13 d. Price Ranging.

Penetapan tarif kamar hotel berdasarkan pada penentuan tarif

kamar yang tertinggi untuk kamar yang terbaik, kemudian tarif kamar yang lebih rendah sampai kepada tarif kamar dengan

kualitas terjelek. Cara penetapan tarif kamar semacam ini dianut oleh hampir kebanyakan hotel sekarang ini.

e. Value –Added Pricing.

Penetapan tarif kamar hotel dengan cara memberikan tarif khusus atau diskon dalam bentuk paket-paket yang menarik dengan

memberikan bermacam-macam fasilitas yang dapat dinikmati oleh calon tamu hotel. Dalam menginformasikan tarif kepada tamu hotel maka dalam tarif kamar yang di informasikan perlu

disampaikan apa saja yang sudah termasuk dalam tarif itu:  Kamar saja (Room Only).

 Kamar dan makan pagi (Room and Breakfast).

 Kamar dan makan tiga kali (Room and Meals).

 Kamar dengan segala kebebasan untuk menggunakan fasilitas

yang ada (Room Plus all recreational facilities).

 Kamar dan tiket bebas untuk champagne, opera ticket, shopping

vouchers dan lain-lain. f. Price Skimming.

(4)

14

hotel jenis ini menetapkan tarif kamar yang relatif tinggi. Hal ini disebabkan oleh kualitas kamar yang tersedia dan produk serta

fasilitas lainnya

2.3. Harga Pokok

Dalam akuntansi biaya, biaya merupakan semua pengeluaran yang sudah terjadi (expired) yang digunakan dalam memproses produksi yang

difasilitaskan seluruh biaya expired tersebut membentuk suatu harga pokok. Perolehan suatu barang jasa yang ditunda pembebanannya di masa yang akan datang (Supriyono,2006).

Harga perolehan atau harga pokok (cost) adalah jumlah yang dapat diukur dalam satuan uang dalam bentuk:

 Kas yang dibayarkan, atau

 Nilai barang lainnya yang diserahkan atau dikorbankan , atau

 Nilai jasa yang diserahkan atau dikorbankan, atau

 Hutang yang timbul, atau

 Tambahan modal

Dalam rangka pemilihan barang dan jasa yang diperlukan

perusahaan baik pada masa lalu (harga perolehan yang telah terjadi) maupun pada masa yang akan datang ( harga perolehan yang akan

(5)

15

Sedangkan menurut Horgren (2008) “Harga pokok produksi adalah biaya barang yang dibeli untuk diproses sampai selesai, baik sebelum maupun selama periode akuntansi berjalan”.

Dalam pengertian ini Horngren menjelaskan semua biaya yang melekat dalam produksi barang akan diakui sebagai harga pokok produksi meskipun biaya

tersebut muncul sebelum periode akuntansi berjalan.

Menurut Mursyidi (2012) “Harga pokok produksi adalah biaya yang telah terjadi yang dibebankan / dikurangkan dari penghasilan “.

Hal ini menjelaskan jika semua beban yang dikurangkan dari omset atau penjualan kotor merupakan harga pokok produksi. jadi teori ini jelas menyebutkan

bahwa jika cara menghitung laba kotor dengan mengurangkan omset dengan harga pokok produksi.

Menurut Bastian Bustami dan Nurlela “Harga pokok produksi adalah kumpulan biaya produksi dalam proses awal dan dikurangi persedian produk dalam proses akhir. Harga pokok produksi terikat pada periode waktu tertentu. Harga pokok produksi akan sama dengan biaya produksi apabila tidak ada persediaan produk dalam proses awal dan akhir”.

Dalam definisi ini Bastian Bustami dan Nurlela menjelaskan bahwa harga pokok produksi berbeda dengan biaya produksi. Namun jika persediaan awal dan

persediaan akhirnya tidak ada maka kedua unsur biaya ini adalah sama.

Dari pengertian pengertian diatas dapat disimpulkan harga pokok adalah

(6)

16 2.4. Activity Based Costing (ABC System)

Beberapa pengertian Activity Based Costing yang dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi:

Menurut Supriyono (2006) “ABC system adalah sistem informasi yang dapat menyajikan informasi yang akurat dan tepat waktu mengenai pekerjaan (aktivitas) yang mengkonsumsi sumber (biaya aktivitas) untuk mencapai tujuan pekerjaan (produk dan pelanggan)”. Menurut Mowen (1999) Activity Based Cost System (ABC System) adalah pendekatan pembebanan biaya yang pada awalnya menggunakan penelusuran langsung dan penggerakan untuk membebankan biaya ke aktivitas dan kemudian menggunakan penggerakan untuk membebaskan biaya ke objek biaya”.

Menurut Mulyadi (2005) “ Activity Based Cost Syatem (ABC System) adalah sistem informasi biaya berbasis aktivitas yang didesain untuk memotivasi personel dalam melakukan pengurangan biaya dalam jangka panjang melalui pengelolaan aktivitas”.

Dari beberapa pengertian ABC diatas dapat disimpulkan bahwa ABC System merupakan pendekatan penentuan biaya jasa yang

membebankan biaya ke jasa berdasarkan konsumsi sumber daya yang disebabkan karena aktivitas. Pendekatan penentuan biaya ini adalah

bahwa jasa sebuah perusahaan dilakukan oleh aktivitas dan aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Sumber daya dibebankan ke aktivitas, kemudian

aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan kegunaannya.

Menurut (Supriyono, 2006): Konsep-konsep yang mendasari ABC

(7)

17

1. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pelanggan akan mengkonsumsi sumber-sumber

daya yang memerlukan uang. Manajer mengidentifikasi aktivitas-aktivitas utama yang dilakukan oleh setiap

departemen serta sumber-sumber daya yang dikonsumsinya dan kemudian memiliki pemicu biaya untuk setiap aktivitas tersebut. Pemicu biaya haruslah merupakan ukuran yang

terkuantifikasi dari apa yang menyebabkan sumber-sumber daya tadi digunakan.

2. Biaya sumber daya yang dikonsumsi oleh aktivitas-aktivitas haruslah dibebankan kepada obyek biaya berdasarkan unit aktivitas yang dikonsumsi oleh obyek biaya tersebut. Pemicu

biaya dipakai untuk mengalokasikan biaya-biaya ke produk dan jasa.

Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi sebelum kemungkinan penerapan sistem ABC System yaitu (Supriyono, 2006):

1. Biaya-biaya berdasar non unit harus merupakan persentase

signifikan dari biaya overhead. Jika biaya-biaya ini jumblahnya kecil, maka sama sekali tidak ada masalah

dalam pengalokasiannya pada tiap produk.

2. Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas berdasarkan unit dan aktivitas-aktivitas berdasarkan non unit harus

(8)

18

aktivitas overhead dengan rasio yang kira-kira sama, maka tidak ada masalah jika cost driver berdasar unit digunakan

untuk mengalokasikan semua biaya overhead pada setiap produk.

Menurut (Akbar, 2011):Syarat-syarat penerapan ABC System adalah

1. Diversitas produk perusahaan tinggi.

Disini maksudnya perusahaan memproduksi berbagai macam produk atau lain produk yang diproses dengan mengunakan fasilitas

manufaktur yang sama. Dengan demikian akan timbul masalah untuk mengalokasikan atau membebankan sumber daya yang

dikonsumsi masing-masing produk. 2. Menghadapi persaing ketat

Terhadap beberapa perusahaan yang memproduksi produk yang sama atau sejenis. Dengan adanya persaing maka masing-masing perusahaan masuk ke dalam persaingan untuk memperbesar pangsa

pasarnya. Dalam keadaan seperti ini, maka informasi tentang harga pokok produk yang akurat akan lebih mendukung berbagai macam

pengambilan keputusan.

3. Biaya pengukurkan dapat dikatakan rendah.

Agar penerapan ABC system dapat optimal, biaya-biaya pengukuran

(9)

19

Ini berarti biaya perencanaan dan pengoperasian sistem tersebut harus lebih rendah dari pada manfaat yang diperoleh dari penerapan

sistem tersebut di masa yang akan datang.

2.5. Langkah- Langkah Perhitungan Dalam ABC System

Dalam menjawab rumusan masalah mengenai tarif yang dibebankan untuk pelanggan maka pendekatan yang digunakan adalah

pendekatan kuantitatif yaitu dengan berbagai perhitungan untuk menentukan harga pokok jasa sewa kamar. Untuk melakukan perhitungan penentuan harga pokok jasa sewa kamar dengan ABC system adalah

melakukan tahapan sebagai berikut (Supriyono,2002):

2.5.1. Klasifikasi Aktivitas.

Biaya dibebankan kepada pusat-pusat biaya atau aktivitas yang mengkonsumsi sumber daya. Penggolongan aktivitas-aktivitas untuk

pembebanan kepada pusat-pusat biaya atau aktivitas adalah sebagai berikut:

1. Aktivitas berlevel unit (Unit Level Activites).

Aktivitas ini meliputi semua aktivitas yang dilakukan setiap kali satu unit jasa dihasilkan, yang dapat dipengaruhi oleh banyaknya pelanggan

yang menggunakan jasa sewa kamar. Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proprosional

(10)

20

2. Aktivitas berlevel tingkat kelompok unit (Batch-Level Activities)

Aktivitas ini berhubungan dengan sekelompok produk jasa yang

dihasilkan. Aktivitas dilakukan setiap kelompok unit diproses, tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada kelompok unit tersebut.

3. Aktivitas berlevel produk atau jasa (Product/Service-Sustaining Activities).

Aktivitas ini untuk mendukung kelangsungan produk jasa yang

dihasilkan. Aktivitas ini berhubungan dengan penelitian pengembangan produk. Aktivitas ini mendukung produksi atau jasa

spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan beberapa batch atau unit yang diproduksi atau dijual. Aktivitas ini dilakukan karena dibutuhkan untuk menopang produksi setiap jenis produk atau jasa

yang berlainan.

4. Aktivitas berlevel pendukung fasilitas (facility–sustaining Activities)

Aktivitas ini tidak dapat dihubungkan secara langsung dengan jasa yang dihasilkan tetapi untuk mendukung organisasi secara keseluruhan. Pengelompokan untuk level ini sulit dicari hubungan

sebab akibatnya dengan jasa yang dihasilkan tetapi dibutuhkan untuk kelancaran kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan proses

produksi jasa.

(11)

21

Cost driver adalah aktivitas yang menimbulkan biaya. Biaya overhead akan ditentukan cost driver tiap-tiap aktivitasan dengan menghitung

seluruh kapasitas (cost driver) untuk seluruh jenis sewa kamar dan masing-masing kelas. Dalam penentuan tarif kelompok yaitu

mengelompokkan aktivitas-aktivitas dalam suatu kelompok biaya (cost pool) dan menghitung tarif untuk setiap pool atau penentuan unit-unit cost driver. Tarif kelompok (pool rate)dihitungan dengan rumus “total

biaya untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur (cost driver) aktivitas kelompok tersebut.

6. Pendesainan ABC System

Biaya yang telah dikumpulkan dalam pusat biaya dibebaskan ke produk jasa. Tahap ini terdiri dari (Widjaja,2005):

a. Pembebanan biaya overhead ke setiap jenis jasa sewa kamar yaitu biaya overhead yang dibebankan–tarif

kelompok x unit cost driver yang digunakan. b. Menghitung biaya overhead per-pelanggan

c. Menghitung harga pokok produk jasa sewa kamar

dengan menjumlahkan biaya overhead tiap tipe kamar dengan biaya-biaya yang terjadi pada jasa sewa kamar.

(12)

22

perhitungan sistem ABC dengan mark-up yang ditentukan hotel ditambah harga pokok jasa sewa kamar

hasil perhitungan sistem ABC

e. Untuk mengetahui perbedaan antara tarif sewa kamar

dengan menggunakan sistem ABC dan tarif yang dibebankan oleh hotel, penulis akan membandingkan hasil perhitungan antara keduanya. Dari perbandingan

tersebut akan diperoleh selisih perbandingan tarif sewa kamar. Selisih tersebut akan menunjukkan overcosting

atau undercosting dalam pembebanannya.

2.5.2 Pemilikan Cost Driver Dalam Sistem ABC

Cost drive merupakan faktor utama yang menciptakan

permintaan aktivitas atau mempengaruhi biaya. Cost driver ini dipergunakan untuk menujukkan biaya yang diserap pada suatu

aktivitas secara signifikan, sebagai contoh adalah biaya aktivitas pembelian dapat dikaitkan dengan jumlah pesanan. Ada dua faktor utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan cost driver yaitu:

(Supriyono.2006). a. Biaya pengukuran.

Dalam sistem ABC, sejumlah cost driver dapat dipilih dan digunakan. Jika memungkinkan, adalah sangat penting untuk memiliki cost driver yang menggunakan informasi yang

(13)

23

ada sebelumnya berarti harus dihasilkan, dan akhirnya akan meningkatkan biaya sistem informasi perusahaan. Kelompok

biaya (coat pool) yang homogen dapat menawarkan sejumlah kemungkinan cost driver. Untuk keadaan ini, cost driver yang

dapat digunakan pada sistem informasi yang ada sebelumnya hendaknya dipiih. Pemilihan ini akan meminimumkan biaya pengukuran.

b. Tingkat korelasi antara cost driver dengan konsumsi overhaed sesungguhnya.

Pada struktur informasi yang ada sebelumnya dapat digunakan dengan cara lain untuk meminimumkan biaya dalam memperoleh kuantitas cost driver. Kadang-kadang

dimungkinkan untuk mengganti cost driver yang secara langsung mengukur penggunaan suatu aktivitas dengan suatu

cost driver yang secara tidak langsung mengukur penggunaan itu.

2.5.3 Penerapan Sistem ABC Pada Perusahaan Jasa

Ada beberapa tantangan khusus dalam penerapan ABC

(14)

24 1. Output sulit didefinisikan

Dengan memperhitungkan pemicu biaya, maka output yang

dicari tentu didasarkan pada seberapa banyak aktiva yang mampu menimbulkan biaya. Selain itu juga adalah

perhitungan setiap jasa sewa yang mampu terjual.

2. Pengendalian aktivitas pada permintaan kurang dapat didefinisi setiap jasa sewa yang terjual akan menimbulkan

pemicu biaya berupa aktivitas kerja. Keanekaragaman aktivitas yang beragam mengakibatkan kesesuaian antara

kamar yang terjual dengan biaya pokok kurang dapat didefinisikan.

3. Cost memiliki proprosi yang tinggi pada seluruh kapasitas

yang ada dan sulit untuk menghubungkan antara output dengan aktivitas.

Pemindaan harga jual yang berbeda-beda berpengaruh kepada banyaknya aktivitas kerja yang menjadi pemicu biaya sehingga sulit untuk menghubungkan proprosionalitas antara cost

(biaya) dengan output tersebut. Sistem Activity Based Costing, pada awalnya diterapkan pada perusahaan manufaktur. Sistem

ABC menjadikan aktivitas sebagai unit pusat kegiatannya. Informasi tentang aktivitas diukur, dicatat, dan disediakan dalam shared database melalui sistem ABC. Oleh karena aktivitas dapat

(15)

25

organisasi sektor publik dan organisasi nirlaba dapat memanfatkan sistem informasi biaya yang sangat bermanfaat untuk mengurangi

biaya dan penentuan secara akurat harga pokok produk atau jasa.

Sistem ABC tidak hanya berfokus ke perhitungan harga pokok produk atau jasa, namun mencakup perspektif yang lebih

luas, yaitu pengurangan biaya melalui pengelolaan aktivitas. Perusahaan manfaktur, jasa dan dagang serta organisasi sektor

publik dan organisasi nirlaba berkepentingan untuk mengurangi biaya dalam pengelolaan aktivitas, sehingga perusahaan dan

organisasi tersebut membutuhkan sistem informasi biaya yang mampu menyediakan informasi yang akurat. Kegiatan dalam perusahaan manufaktur cenderung menjadi jenis yang sama dan

dilakukan dengan cara yang serupa. Hal ini berbeda untuk perusahaan jasa. Perbedaan dasar lainnya antara perusahaan jasa

dan manufaktur adalah pendefinisian keluaran. Untuk perusahaan manufaktur, keluaran mudah ditentukan (produk-produk nyata yang diproduksi), tetapi untuk perusahaan jasa, pendefinisian

keluaran lebih sulit, keluaran untuk perusahaan jasa kurang nyata. Keluaran harus didefinisikan sehingga keluaran dapat dihitung

harganya.

Untuk menjawab permasalahan diatas, Activity Based Costing benar-benar dapat digunakan pada perusahaan jasa,

(16)

26

diperhatikan dalam penerapan Activity Based Costing System pada

perusahaan jasa adalah:

a. Identifying and Costing Activities.

Mengidentifikasi dan menghargai aktivitas dapat membuka beberapa kesempatan untuk pengoperasian yang efisien.

b. Special Challenger.

Perbedaan antara perusahaan jasa dan perusahaan manufaktur

akan memiliki permasalahan-permasalahan yang serupa. Permasalahan itu seperti sulitnya mengalokasikan biaya ke

aktivitas. Selain itu jasa tidak dapat menjadi sesuatu persediaan, karena kepastian yang ada namun tidak dapat digunakan menimbulkan biaya yang tidak dapat dihindari.

c. Output Diversity.

Perusahaan jasa juga memiliki kesulitan-kesulitan dalam

mengidentifikasi output yang ada. Pada perusahaan jasa, diversity yang menggambarkan aktivitas-aktivitas pendukung pada hal-hal yang berbeda mungkin sulit untuk dijelaskan atau

ditentukan.

2.5.4. Perbandingan Sistem ABC Dengan konvensional Costing.

Full costing dengan variable costing merupakan sistem

(17)

27

berdasarkan kondisi teknologi manufaktur pada masa lalu, sistem konvensional ini dirancangan hanya untuk menyajikan informasi

biaya pada tahap produksi saja yang merupakan salah satu dari tiga tahap proses pembuatan produk. Tahap produksi yang merupakan

pengolahan bahan baku menjadi produk jadi merupakan tahap yang singnifikan dan merupakan pengorbanan sumber daya yang material jumlahnya. Namun dalam perkembangan terakhir ini,

tahap desain dan pengembangan produk maupun tahap dukungan logistik merupakan tahap yang menentukan keunggulan daya saing

jangka panjang perusahaan.

Pada sistem konvensional, biaya overhead diasumsikan hanya disebabkan cost driver berdasarkan unit. Pada sistem

konvensional, biaya berlevel unit digolongkan sebagai biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya bervariasi secara

proporsional dengan perubahan jumlah produk. Sedangkan berlevel batch, berlevel pool (penopang) produk, dan berlevel fasilitas digolongankan ke dalam biaya tetap yaitu biaya yang

jumlah totalnya tidak berubah meskipun terjadi perubahan jumlah produk. Dalam pendekatan konvensional tersebut, sistem biaya

(18)

28

overhead pabrik yang tetap tersebut ditambahkan dengan biaya overhead variabel.

Sistem ABC memandang bahwa biaya overhead variabel dapat dilacak dengan cepat pada berbagai produk secara individual.

Biaya yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang dalam sistem tradisional disebut sebagai overhead variabel. Namun, alokasi biaya overhead tetap dalam sistem

tradisional yang hanya menggunakan cost driver berdasarkan unit sifatnya sembarang (arbitary) dan mungkin tidak menggambarkan

aktivitas yang sesungguhnya dikonsumsi oleh produk. Sistem ABC memperbaiki akurasi perhitungan harga pokok dengan mengakui bahwa banyak biaya overhead tetap berfariabel dalam proporsi

untuk berubah selain berdasarkan folium produk.

2.5.5. Manfaat Sistem ABC

Manfaat sistem ABC menurut (Mulyadi.2005).

a. Menyediakan informasi yang berlimpah tentang aktivitas yang

digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk dan jasa bagi customer.

b. Menyediakan fasilitas untuk menyusun dengan cepat anggaran berbasis aktivitas (activity-based budget).

c. Menyediakan informasi biaya untuk memantu implementasi

(19)

29

d. Menyediakan secara akurat dan multidimensi kos produk dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

2.5.6. Kebaikan Dan Kelemahan Sistem ABC

Suatu sistem yang dicapaikan bagaimanapun juga

mempunyai kebaikan dan kelemahan dimana antara keduanya dapat dijadikan sebagai sesuatu acuan untuk memperbaiki kinerja

suatu sistem tersebut. Adapun kebaikan dan kelemahan dari sistem ABC adalah sebagai berikut: (winarti,2005).

1. Kebaikan Sistem ABC

ABC system mengatasi adanya distori informasi atas biaya produk yang dibebankan yang dihasilkan dari sistem

tradisional.

2. ABC system lebih memberikan informasi yang akurat

mengenai biaya-biaya yang muncul dan dibebankan kepada produk, terutama pada perusahaan volume diversity dan product diversity.

3. ABC system memampukan manajer untuk melakukan korelasi atas aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan sehingga lebih

menghemat waktu dan produksinya.

4. ABC system memberikan data yang akurat bila biaya-biaya yang muncul di setiap aktivitas adalah sejenis dan bersifat

(20)

30 2.6. Penelitian Terdahulu

1. Berdasarkan Jurnal Penelitian “Penentuan Harga Pokok Kamar Hotel dengan Metode Activity Based Costing (Studi Kasus pada Hotel

Rachmad Jati Caruban) Oleh Ratna Kusumastuti 2015, setelah dilakukan pengolakasian biaya berdasarkan cost driver masing-masing, terbentuk harga pokok kamar berdasarkan Activity Based

Costing (ABC) untuk masing-masing jenis kamar. Harga pokok kamar ini selanjutnya ditambahkan laba yang diinginkan sehingga

membentuk harga jual kamar. Harga jual baru yang terbentuk lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga jual sebelumnya telah ditetapkan oleh pihak manajemen Hotel Rachmad Jati. Hal ini

dikarenakan dalam pembentukan harga pokok kamar lama, pihak manajemen tidak memasukan beberapa komponen biaya yang

seharusnya diperhitungkan.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Putikadea (2013) yang berjudul Penentuan harga Pokok Penjualan Kamar “Deluxe” dengan

Menggunakan Metode Activity Based Costing pada Resort G-Land Joyo’s Camp Tahun 2010, maka peneliti menyimpulkan bahwa hasil

dari perhitungan harga pokok penjualan kamar G-Land Joyo’s Camp untuk jenis “Deluxe Room” dengan menggunakan metode Activity

(21)

31

menggunakan metode Activity Based Costing dengan metode konvensional sebesar Rp 155.715,74. Hal ini membuktikan bahwa

hasil perhitungan harga pokok penjualan kamar G-Land Joyo’s Camp “Deluxe Room” dengan mengunakan metode Activity Based Costing

lebih rendah daripada metode konvensional atau dengan kata lain harga pokok penjualan kamar dengan menggunakan metode yang diterapkan oleh manajemen G-Land Joyo’s Camp disebut over costing

dikarenakan adanya pembebanan biaya yang menyeluruh per unit kamar bukan berdasarkan aktivitas yang terjadi.

3. Penelitian lain yang dilakukan oleh Erawati dan Syafitri (2013) tentang analisis harga pokok produksi sebagai dasar penentuan harga jual, menjelaskan bahwa selisih perhitungan harga pokok pesanan menurut

perusahaan yang lebih tinggi dibanding hasil perhitungan analisis. Maka hasil perhitungan harga jual lemari hias medium menurut

perusahaan juga akan tinggi yaitu sebesar Rp 7.513.029 per unitnya. Sedangkan dari hasil perhitungan analisis harga jual per unit adalah Rp 7.072.599. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketepatan

perhitungan harga pokok produksi akan mempengaruhi secara signifikan pada harga yang dibebankan kepada konsumen. Akan

Referensi

Dokumen terkait

Sistem dari pe- merintah kota Surabaya dibuat sebatas untuk pel- aporan yang dilakukan oleh puskesmas dan sistem pelaporan suspek TB dengan aplikasi berusaha menghubungkan

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa produk hukum ataupun undang-undang di Indonesia yang mengatur tentang aturan dalam berinteraksi dengan media sosial

Bekatul merupakan hasil samping proses penggilingan padi yang memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai pangan, khususnya pangan fungsional. Kabupaten Sidoarjo

Tujuan dari penelitian ini untuk menguji apakah mekanisme corporate governance, yang terdiri dari kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan

Pengukuran yang dilakukan untuk mengukur sedimentasi lumpur yaitu mengukur titik 0 pengukuran alat sampai kepermukaan sedimen dengan potensiometer 10k, kemudian sensor

ketiga bulan tersebut terkadang tidak dapat melakukannya pada hari dan tanggal yang sama disebabkan perbedaan dalam penetapan awal bulan-bulan tersebut; (b) bahwa

Realitas perbedaan kalender Hijriyah di kalangan umat Islam, pada umumnya, terjadi antar-negara.Tetapi tidak demikian yang terjadi di Indonesia.Di Indonesia

Pendidikan dan pendampingan oleh mentor dalam penerapan EBP tidak hanya memiliki efek langsung terhadap implementasi EBP, melaink- an secara luas mampu memberikan dampak baik bagi