• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN FILLER TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT AMPAS TEBU - SERBUK KAYU DALAM MATRIK POLYESTER SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN FILLER TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT AMPAS TEBU - SERBUK KAYU DALAM MATRIK POLYESTER SKRIPSI"

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN FILLER TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT AMPAS TEBU - SERBUK KAYU

DALAM MATRIK POLYESTER

SKRIPSI

Oleh: YANU RIANTO

K 2507008

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN FILLER TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT AMPAS TEBU - SERBUK KAYU

DALAM MATRIK POLYESTER

SKRIPSI

Oleh: YANU RIANTO

K 2507008

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana

Pendidikan Program Pendidikan Teknik Mesin

Jurusan Pendidikan Teknik Kejuruan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

(3)

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan di hadapan tim penguji skripsi

(4)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak

terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu

Perguruan Tinggi dan menurut sepengetahuan penulis juga tidak terdapat karya

atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara

tertulis mengacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

(5)

PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji Skripsi Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima

untuk memperoleh persyaratan gelar Sarjana Pendidikan.

Pada hari : Selasa

(6)

ABSTRAK

Yanu Rianto. PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN FILLER

TERHADAP KEKUATAN BENDING KOMPOSIT AMPAS TEBU - SERBUK KAYU DALAM MATRIK POLYESTER. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret Surakarta,

Desember 2011.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk ; (1) Mengetahui pengaruh

komposisi campuran filler terhadap kekuatan bending pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dalam matrik polyester, (2) Mengetahui komposisi campuran filler

yang mempunyai kekuatan bending paling besar pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dalam matrik polyester.

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Material Fakultas Teknik UNS

Surakarta dengan menggunakan alat uji Universal Testing Machine (UTM) dengan standar ASTM D 790. Pengujian dilakukan pada tiga variasi campuran

ampas tebu – serbuk kayu yaitu 10% : 30%, 20% : 20%, dan 30% : 10%. Komposit dibuat dengan cara hand lay-up dengan perbandingan fraksi volume antara matrik dan filler sebesar 60% : 40%.

Hasil penelitian ini adalah ; (1) Ada pengaruh yang signifikan komposisi

campuran filler terhadap kekuatan bending pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dalam matrik polyester, (2) Kekuatan bending tertinggi diperoleh pada komposisi campuran filler 20% ampas tebu dan 20% serbuk kayu yaitu sebesar 46.19 MPa.

(7)

ABSTRACT

Yanu Rianto. THE INFLUENCE OF FILLER MIXED COMPOSITION TO

THE BENDING STRENGTH OF CANE DREGS – WOOD DUST FILLER WITHIN POLYESTER MATRIX COMPOSITE. Research Paper, Surakarta: The Faculty of Teacher Training and Education. Sebelas Maret University of

Surakarta, December 2011.

The purpose of this research were; (1) to determine the influence of filler

mixed composition to the bending strength of cane dregs – wood dust filler within polyester matrix composite, (2) to find out the filler mixed composition which

resulting the higgest bending strength of cane dregs – wood dust filler within polyester matrix composite.

This research was conducted at the Material Laboratory of the

Engineering Faculty of Sebelas Maret University of Surakarta. The speciments

tested using a Universal Testing Machine (UTM) based on ASTM D 790. There

were three variations of cane dregs – wood dust filler mixed composition tested; they are 10% : 30%, 20% : 20%, and 30% : 10%. The composite was made using

hand lay-up method with the volume fraction between matrix and filler of 60% :

40%. The matrix used was polyester BQTN 157 with addition of 1% MEXPO

catalyst.

The result of this research show that; (1) there was significant influence

in filler mixed composition to the bending strength of cane dregs – wood dust filler within polyester matrix composite, (2) the highest bending strength gained at

the composition of 20% cane dregs and 20% wood dust which give a tensile

bending strength of 46.19 MPa.

(8)

MOTTO

Tantangan Dan Masalah Merupakan Tanda Bahwa Kita Masih Hidup.”

“Kekuatan Terbesar Untuk Menyelesaikan Pekerjaan Adalah Pada Saat Kita Berani Untuk Memulainya.”

Ω Parlindungan Marpaung Ω

“Daripada Mengutuki Kegelapan Lebih Baik Ambil Sebatang Lilin Dan Nyalakan.”

Ω Stephen Covey Ω

“Bersyukurlah Karena Engkau Tidak Memiliki Semua Yang Diinginkan, Jika Kamu

Memiliki Semuanya, Apalagi Yang Hendak Kau Cari”

“Bersyukurlah Atas Setiap Tantangan Baru, Karena Hal Itu Akan Membangun Kekuatan Dan Karaktermu”

(9)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk :

Ayah dan ibuku

Kakak dan adikku

Keluarga bahagiaku

Kekasih sejatiku

Mahasiswa PTM 2007

Dosen-Dosen PTM

(10)

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kepada kita nikmat,

taufiq, rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Komposisi Campuran Filler Terhadap

Kekuatan Bending Komposit Ampas Tebu-Serbuk Kayu Dalam Matrik Polyester”.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini banyak

menghadapi hambatan dan kesulitan. Namun dengan bantuan dari berbagai pihak

hambatan dan kesulitan tersebut dapat teratasi. Oleh karena itu, penulis

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan

memberi dukungan moral, maupun spiritual kepada penulis, antara lain :

1. ALLAH SWT atas segala kenikmatan yang telah diberikan.

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta

3. Bapak Drs. Sutrisno, S.T., M.Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan

Pendidikan Teknik dan Kejuruan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Bapak Yuyun Estriyanto, S.T., M.T, selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta, sekaligus sebagai dosen

pembimbing II, yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam

menyusun skripsi.

5. Bapak Budi Harjanto S.T., M. Eng, selaku Koordinator Skripsi Pendidikan

Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta.

6. Bapak Drs. Suwachid, M.T., M.Pd, selaku Dosen pembimbing I, yang telah

membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi.

7. Bapak Herman Saputro, M.T., M.Pd selaku pembimbing akademis yang telah

membantu dan membimbing penulis selama studi di PTM JPTK.

8. Segenap dosen Program Studi Pendidikan Teknik Mesin yang telah bersedia

dengan ikhlas berbagi ilmu dengan penulis.

(11)

10. Bapak, Ibu, keluarga tercinta, dan kekasih sejatiku yang telah memberikan

kasih sayang, semangat, dan dukungan.

11. Teman-teman seperjuangan di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin,

mahasiswa PTM 2007 yang „JOSS Tenan‟ yang telah memberikan kontribusi

dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan moral dan spiritual

hingga terselesainya skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan

dan jauh dari sempurna. Untuk itu kritik maupun saran yang sifatnya membangun

demi kebaikan skripsi ini sangat penulis harapkan.

Akhir kata penulis berharap bahwa skripsi ini dapat bermanfaat bagi

setiap orang yang membaca dan merupakan suatu referensi yang dapat

dipertimbangkan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah maghfirah

bagi kita semua. Amin.

Surakarta, Desember 2011

(12)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGAJUAN ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 3

D. Perumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 5

1. Komposit ... 5

2. Tebu... 12

3. Kayu ... 14

4. Polyester ... 18

(13)

6. Uji bending ... 20

B. Penelitian Yang Relevan ... 21

C. Kerangka Berpikir ... 22

D. Hipotesis Penelitian ... 23

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 24

B. Metode Penelitian... 24

C. Populasi dan Sampel ... 25

D. Teknik Pengumpulan Data ... 25

E. Pelaksanaan Eksperimen ... 31

F. Teknik Analisis Data ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Data ... 37

B. Pengujian Persyaratan Analisis ... 39

1. Uji Normalitas ... 39

2. Uji Homogenitas ... 40

C. Pengujian Hipotesis ... 40

1. Hasil Pengujian Hipotesis dengan Anava Satu Jalan ... 40

2. Hasil Komparasi Ganda Pasca Anava Satu Jalan ... 41

D. Pembahasan Analisis Data ... 43

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan ... 46

B. Implikasi ... 46

C. Saran ... 47

DAFTAR PUSTAKA

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kandungan Kimia Serat Alami ... 13

Tabel 2. Sifat Mekanik Berbagai Serat Alami ... 13

Tabel 3. Spesifikasi Resin Unsaturated polyester yucalac BQTN 157 ... 19

Tabel 4. Jumlah dan Variasi Spesimen Komposit ... 32

Tabel 5. Ringkasan Perhitungan Homogenitas dengan Uji Bartlett ... 34

Tabel 6. Daftar Anava Satu Arah ... 35

Tabel 7. Hasil Pengukuran Kekuatan Bending ... 37

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Metode Lilliefor ... 39

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas Dengan Metode Bartlet ... 40

Tabel 10. Hasil Pengujian Anava Satu Arah ... 41

(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Limbah Ampas tebu dan Serbuk Kayu Jati ... 1

Gambar 2. Komposit Serat ... 8

Gambar 3. Komposit Serpih ... 8

Gambar 4. Komposit Partikel ... 9

Gambar 5. FilledComposites ... 9

Gambar 6. Laminar Composites ... 10

Gambar 7. Pembebanan 3-Point Bending ... 20

Gambar 8. Bagan Kerangka Berpikir ... 23

Gambar 9. Bahan-Bahan Penelitian ... 27

Gambar 10. Alat-Alat Penelitian ... 29

Gambar 11. Diagram Alir Penelitian ... 30

Gambar 12. Spesimen Komposit... 32

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Volume dan Massa ... 50

Lampiran 2. Menghitung Kekuatan Bending ... 53

Lampiran 3. Standar Deviasi dan Uji Normalitas ... 56

Lampiran 4. Uji Homogenitas ... 64

Lampiran 5. Uji Anava Satu Jalan ... 65

Lampiran 6. Uji Pasca Anava... 67

Lampiran 7. Tabel-tabel Statistika ... 69

Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian ... 73

(17)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan tanaman penghasil

kayu, yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Tidak diketahui secara

pasti jumlah dan potensi keanekaragaman jenis-jenis kayu di Indonesia saat ini

mengingat semakin maraknya penebangan liar.

Indonesia yang terletak di kawasan tropis dengan sebagian penduduknya

masih bercocok tanam, merupakan salah satu negara penghasil tebu terbesar.

Dengan luas lahan mencapai 373.816 Ton/ha pada tahun 2005 dapat

menghasilkan tebu sebanyak 84,91 Ton/ha dimana dari proses pengolahan

keseluruhan tebu tersebut menjadi gula dihasilkan 90 % ampas tebu. Selama ini

pemanfaatan ampas tebu yang dihasilkan masih terbatas sebagai pakan ternak,

bahan baku pembuatan pupuk, pulp, Particle Board, dan bahan bakar boiler di pabrik gula. Di samping terbatas, nilai ekonomi yang diperoleh juga belum begitu

tinggi, oleh karena itu diperlukan adanya proses teknologi sehingga terjadi

disversifikasi pemanfaatan lahan pertanian yang ada, salah satunya dengan pembuatan komposit serat tebu.

(a) (b)

Gambar 1. (a) Limbah Ampas Tebu , (b) limbah serbuk kayu jati

Selain ampas tebu, limbah yang belum termanfaatkan secara optimal

(18)

sekitarnya bukanlah suatu hal yang baru. Munculnya industri kayu dan furniture

menjadi awal melimpahnya bahan ini.

Peningkatan kebutuhan untuk memproduksi furniture yang bahan baku utamanya terbuat dari kayu mengakibatkan banyak produksi kayu yang akan

berkurang seiring berkurangnya lahan penanaman yang digunakan penduduk

untuk tempat tinggal. Oleh karena itu dibutuhkan suatu inovasi dalam pembuatan

furniture yang memiliki kelebihan terutama dalam hal mereduksi penggunaan kayu baru.

Untuk menyiasati hal tersebut telah banyak dilakukan

penelitian-penelitian untuk memperoleh bahan yang berkualitas, ekonomis dan ramah

lingkungan (mudah didaur ulang) yang mungkin bisa menggantikan bahan

furniture atau logam yang semakin mahal. Material komposit yang diharapkan mampu memenuhi hal tersebut adalah material komposit dengan material pengisi

(filler) serbuk kayu (grajen). Keunggulan yang dimiliki oleh serbuk kayu dibandingkan dengan material buatan adalah mudah ditemukan, ramah

lingkungan, tidak beracun, dan murah harganya yang sekaligus dapat menarik

perhatian khusus dari para ahli. Penggunaan serbuk kayu sebagai filler dalam komposit tersebut mempunyai tujuan utama untuk mengurangi biaya bahan baku

dan memperoleh material alternatif yang lebih bagus dan bisa bermanfaat bagi

kehidupan manusia.

Komposit sebenarnya telah dikenal sejak dulu, tetapi baru tahun 1960-an

komposit mendapatkan perhatian dari dunia industri. Dalam industri manufaktur

dibutuhkan material yang memiliki sifat-sifat istimewa yang sulit didapat dari

logam. Komposit merupakan material alternatif yang dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan tersebut.

Penelitian mengenai pemanfaatan limbah serbuk kayu (grajen) sebagai

material komposit telah dilakukan, hanya saja bahan bakunya berupa serbuk arang

tempurung dan serbuk gergaji. Oleh karena itu penelitian ini akan menggunakan

serbuk kayu (grajen) yang dikombinasikan dengan ampas tebu, dalam bentuk

partikel sebagai bahan penguat komposit. Dengan berbagai pertimbangan dalam

(19)

murah dan mudah diperoleh. Dari hasil penelitian pembuatan-pembuatan

komposit di atas diharapkan dapat menjadi material alternatif yang baru yang

dapat memperbaiki sifat mekanisnya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Melihat permasalahan tersebut di atas melatar belakangi penulis untuk

membuat terobosan baru dalam memanfaatkan limbah serbuk kayu dan ampas

tebu yang dikombinasikan dengan matrik polyester sehingga bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dengan pertimbangan tersebut, maka dalam penelitian ini

perlu dilakukan pengujian bending terhadap komposit yang berbahan utama filler

dari ampas tebu dan serbuk kayu, dan penelitian ini penulis memberi judul

Pengaruh Komposisi Campuran Filler Terhadap Kekuatan Bending Komposit Ampas Tebu-Serbuk Kayu Dalam Matrik Polyester.”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di kemukakan di atas,

maka didapatkan beberapa permasalahan. Untuk itu perlu suatu identifikasi

terhadap permasalahan yang ada sebagai berikut:

1. Pemanfaatan limbah ampas tebu dan serbuk kayu yang belum optimal.

2. Dibutuhkan suatu inovasi dalam pembuatan furniture yang memiliki kelebihan terutama dalam hal mereduksi penggunaan kayu baru.

3. Material komposit berbahan serbuk kayu masih perlu dikembangkan.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian yang dilakukan lebih mengarah dan tidak menyimpang

dari permasalahan yang diteliti, maka penelitian ini membatasi permasalahannya

pada:

1. Filler yang digunakan adalah ampas tebu dan serbuk kayu jati. 2. Perbandingan volume antara matrik dengan filler sebesar 60% : 40%. 3. Variasi komposisi campuran filler berdasar fraksi volume.

(20)

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah tersebut di atas,

maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Adakah pengaruh komposisi campuran filler terhadap kekuatan bending pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester?

2. Manakah komposisi campuran filleryang mempunyai kekuatan bending paling besar pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui pengaruh komposisi campuran filler terhadap kekuatan bending

pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester.

2. Mengetahui komposisi campuran filler yang mempunyai kekuatan bending

paling besar pada komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat, sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

a. Sebagai bahan masukan atau referensi untuk penelitian selanjutnya.

b. Sebagai bahan pustaka di lingkungan Universitas Sebelas Maret Surakarta

khususnya di Program Pendidikan Teknik Mesin.

c. Membangkitkan minat mahasiswa untuk melanjutkan penelitian tentang

komposit.

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan alternatif solusi untuk memanfaatkan limbah ampas tebu dan

serbuk kayu.

b. Dapat digunakan sebagai acuan bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan

(21)

5

Kata komposit (composite) berasal dari kata "to compose" yang berarti menyusun atau menggabung. Komposit adalah suatu material yang terbentuk

dari kombinasi dua atau lebih material, dimana sifat mekanik dari material

pembentuknya berbeda-beda (Jones, 1975). Karena bahan komposit

merupakan bahan gabungan secara makro, maka bahan komposit dapat

didefinisikan sebagai suatu sistem material yang tersusun dari

campuran/kombinasi dua atau lebih unsur-unsur utama yang secara makro

berbeda di dalam bentuk dan atau komposisi material yang pada dasarnya

tidak dapat dipisahkan (Schwartz, 1984).

Penggabungan material yang berbeda bertujuan untuk menemukan

material baru yang mempunyai sifat antara (intermediate) material penyusunnya yang tidak akan diperoleh jika material penyusunnya berdiri

sendiri. Sifat material hasil penggabungan ini diharapkan saling memperbaiki

kelemahan dan kekurangan material penyusunnya. Sifat-sifat yang dapat

diperbaiki : kekuatan, kekakuan, ketahanan bending, berat jenis, pengaruh terhadap temperatur, isolasi termal, dan isolasi akustik (Jones, 1975).

b. Bahan Penyusun Komposit

Pada umumnya material komposit terdiri dari dua unsur, yaitu serat

(fiber)dan bahan pengikat serat-serat tersebut yang disebut matrik. 1) Serat

Serat berperan sebagai penyangga kekuatan dari struktur komposit,

beban yang awalnya diterima oleh matrik kemudian diteruskan ke serat

(22)

lebih tinggi daripadamatrik. Serat secara umum terdiri dari dua jenis yaitu

serat alam dan serat sintetis.

Serat alam adalah serat yang dapat langsung diperoleh dari alam.

Biasanya berupa serat yang dapat langsung diperoleh dari

tumbuh-tumbuhan dan binatang. Serat ini telah banyak digunakan oleh manusia

diantaranya adalah kapas, wol, sutera, pelepah pisang, sabut kelapa, ijuk,

bambu, nanas dan kenaf atau goni. Keunggulan serat alam sebagai filler

komposit dibandingkan dengan serat sintetis sudah dapat diterima dan

mendapat perhatian khusus dari para ahli material di dunia. Keunggulan

tersebut antara lain densitas rendah, harga lebih murah, ramah lingkungan,

dan tidak beracun. Serat alam memiliki kelemahan yaitu ukuran serat yang

tidak seragam, kekuatan serat sangat dipengaruhi oleh usia.

Serat sintetis adalah serat yang dibuat dari bahan-bahan anorganik

dengan komposisi kimia tertentu. Serat sintetis mempunyai beberapa

kelebihan yaitu sifat dan ukurannya yang relatif seragam, kekuatan serat

dapat diupayakan sama sepanjang serat. Serat sintetis yang telah banyak

digunakan antara lain serat gelas, serat karbon, kevlar, nylon, dan lain-lain (Schwartz, 1984).

2) Matrik

Menurut Gibson (1994), bahwa matrik dalam struktur komposit

dapat berasal dari bahan polimer, logam, maupun keramik. Matriks adalah

fasa dalam komposit yang mempunyai bagian atau fraksi volume terbesar

(dominan). Syarat utama yang harus dimiliki oleh bahan matrik adalah

bahan matrik tersebut harus dapat meneruskan beban, sehingga serat harus

bisa melekat pada matrik dan kompatibel antara serat dan matrik.

Umumnya matrik yang dipilih adalah matrik yang memiliki ketahanan

panas yang tinggi.

Matrik sebagai pengisi ruang komposit memegang peranan penting

dalam mentransfer tegangan, melindungi serat dari lingkungan dan

menjaga permukaan serat dari pengikisan. Matrik harus memiliki

(23)

matrik dalam struktur komposit bisa berasal dari bahan polimer, logam,

maupun keramik. Matrik secara umum berfungsi untuk mengikat serat

menjadi satu struktur komposit. Matrik memiliki fungsi:

a) Mengikat serat menjadi satu kesatuan struktur.

b) Melindungi serat dari kerusakan akibat kondisi lingkungan.

c) Mentransfer dan mendistribusikan beban ke filler.

d) Menyumbangkan beberapa sifat seperti: kekakuan, ketangguhan, dan

tahanan listrik.

Dalam proses pembuatan material komposit, matrik harus memiliki

kemampuan meregang yang lebih tinggi dibandingkan dengan serat.

Apabila tidak demikian, maka material komposit tersebut akan mengalami

patah pada bagian matriknya terlebih dahulu. Akan tetapi apabila hal itu

dipenuhi, maka material komposit tersebut akan patah secara alami

bersamaan antara serat dan matrik.

Berdasarkan bahan penyusunnya matrik terbagi atas matrik organik

dan inorganik. Matrik organik adalah matrik yang terbuat dari

bahan-bahan organik. Matrik ini banyak digunakan karena proses penggunaannya

menjadi komposit cepat dan mudah serta dengan biaya yang rendah. Salah

satu contoh matrik organik adalah resin polyester. Sedangkan matrik inorganik adalah matrik yang terbentuk dari bahan logam yang pada

umumnya memiliki berat dan kekuatan tinggi.

c. Jenis-Jenis Komposit

1) Menurut struktur dari penyusunnya

Komposit dibedakan menjadi 5 kelompok menurut bentuk struktur

dari penyusunnya (Schwartz, 1984), yaitu:

a) Komposit serat (Fiber composite)

Komposit serat merupakan jenis komposit yang menggunakan

serat sebagai bahan penguatnya. Dalam pembuatan komposit, serat

(24)

dapat dianyam (cross-ply laminate). Komposit serat sering digunakan dalam industri otomotif dan pesawat terbang (Schwartz, 1984).

a. unidirectional fiber composite b. random fiber composite

Gambar 2. Komposit Serat

(http:

//www.onkian.com/2009/10/skripsi-pengaruh-lebar-spesimen-pada_6420.html)

b) Komposit Serpih (flake composite)

Flake Composites adalah komposit dengan penambahan material berupa serpih kedalam matriksnya. Flake dapat berupa serpihan mika, glass dan metal (Schwartz, 1984).

Gambar 3. Komposit serpih

(http:

//www.onkian.com/2009/10/skripsi-pengaruh-lebar-spesimen-pada_6420.html)

c) Komposit butir (particulate composite)

Particulate composites adalah salah satu jenis komposit di mana dalam matrik ditambahkan material lain berupa serbuk/butir.

(25)

dari material penambahnya. Dalam particulate composites, material penambah terdistribusi secara acak atau kurang terkontrol daripada

flake composites. Sebagai contoh adalah beton (Schwartz, 1984).

Gambar 4. Komposit partikel

(http:

//www.onkian.com/2009/10/skripsi-pengaruh-lebar-spesimen-pada_6420.html)

d) Komposit isian (filled composite)

Filled composites adalah komposit dengan penambahan material ke dalam matriks dengan struktur tiga dimensi dan biasanya

filler juga dalam bentuk tiga dimensi (Schwartz, 1984).

Gambar 5. Filled (skeletal) composites

(http:

//www.onkian.com/2009/10/skripsi-pengaruh-lebar-spesimen-pada_6420.html)

e) Komposit lapisan (laminar composite)

(26)

Gambar 6. Laminar composites

(http:

//www.onkian.com/2009/10/skripsi-pengaruh-lebar-spesimen-pada_6420.html)

2) Berdasarkan Matriknya

Berdasarkan bentuk dari matriksnya komposit dapat dibedakan

menjadi sebagai berikut (Gibson, 1994):

a) Komposit Matrik Polimer (Polymer Matrix Composites – PMC)

Komposit jenis ini terdiri dari polimer sebagai matriks baik itu

thermoplastic maupun jenis thermosetting. Thermoplastic adalah plastik yang dapat dilunakkan berulang kali (recycle) dengan menggunakan panas. Thermoplastic merupakan polimer yang akan menjadi keras apabila didinginkan. Thermoplastic akan meleleh pada suhu tertentu, serta melekat mengikuti perubahan suhu dan mempunyai

sifat dapat kembali (reversibel) kepada sifat aslinya, yaitu kembali mengeras bila didinginkan. Thermoplastic yang lazim dipergunakan sebagai matriks misalnya polyolefin (polyethylene, polypropylene), vinylic (polyvinylchloride, polystyrene, polytetrafluorethylene), nylon, polyacetal, polycarbonate, dan polyfenylene.

Thermosets tidak dapat mengikuti perubahan suhu

(irreversibel). Bila sekali pengerasan telah terjadi maka bahan tidak dapat dilunakkan kembali. Pemanasan yang tinggi tidak akan

melunakkan termoset melainkan akan membentuk arang dan terurai

karena sifatnya yang demikian sering digunakan sebagai tutup ketel,

(27)

ini adalah epoxy dan polyester tak jenuh. Resin polyester tak jenuh adalah matrik thermosetting yang paling banyak dipakai untuk pembuatan komposit. Resin jenis ini digunakan pada proses pembuatan

dengan metode hand lay-up.

b) Komposit Matrik Logam (Metal Matrix Composites – MMC)

Metal Matrix composites adalah salah satu jenis komposit yang memiliki matrik logam. Komposit ini menggunakan suatu logam

seperti alumunium sebagai matrik dan penguatnya dengan serat seperti

silikon karbida. Material MMC mulai dikembangkan sejak tahun 1996. Komposit MMC berkembang pada industri otomotif digunakan

sebagai bahan untuk pembuatan komponen otomotif seperti blok

silinder mesin, pully, poros, dan gardan.

c) Komposit Matrik Keramik (Ceramic Matrix Composites – CMC)

CMC merupakan material 2 fasa dengan 1 fasa berfungsi

sebagai reinforcement dan 1 fasa sebagai matriks, dimana matriksnya terbuat dari keramik. Reinforcement yang umum digunakan pada CMC adalah oksida, carbide, dan nitrid. Salah satu proses pembuatan dari CMC yaitu dengan proses DIMOX, yaitu proses pembentukan komposit dengan reaksi oksidasi leburan logam untuk pertumbuhan matriks

keramik di sekeliling daerah filler (penguat).

3) Berdasarkan Strukturnya

a) Struktur laminate

Merupakan jenis komposit yang terdiri dari dua lapis atau lebih

yang digabung menjadi satu dan setiap lapisnya memiliki karakteristik

sifat sendiri.

b) Struktur sandwich

Komposit sandwich merupakan gabungan dua lembar skin

(28)

Fungsi utama skin adalah menahan beban aksial dan bending, sedangkan core berfungsi untuk mendistribusikan beban aksial menjadi beban geser pada seluruh luasan yang terjadi akibat

pembebanan gaya dari luar.

2. Tebu

Tebu (saccharum officinarum) merupakan tanaman perkebunan semusim, yang mempunyai sifat tersendiri, sebab di dalamnya terdapat zat gula.

Tebu termasuk keluarga rumput-rumputan (family graminae). Akar tanaman tebu adalah serabut dan tanaman ini termasuk ke dalam kelas monocotyledone

(Supriadi 1992).

Klasifikasi tanaman tebu adalah sebagai berikut :

Devisi : sphermatophyta

Sub divisi : agiospermae

Kelas : monocotyledone

Family : poaceae

Genus : saccarum

Species : saccharum officinarum

Tanaman tebu mempunyai batang yang kurus, tidak bercabang dan

tumbuh tegak. Tanaman yang tumbuh baik tingginya dapat mencapai 3-5

meter. Pada batangnya terdapat lapisan lilin yang berwarna putih atau

keabu-abuan. Batangnya beruas dengan panjang ruasnya 5-10 cm. Daun berpangkal

pada buku batang dengan kedudukan yang bersilang.

Ampas tebu atau Bagase adalah bahan sisa berserat dari batang tebu yang telah mengalami extraksi niranya dan banyak mengandung parenkin serta

tidak tahan lama disimpan karena mudah terserang jamur. Serat sisa dan ampas

tebu biasanya digunakan sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi

pengolahan gula. Serat tebu selain dimanfaatkan sebagai bahan bakar pabrik

juga dapat digunakan sebagai pembuatan papan partikel, kertas, media

(29)

Ampas tebu merupakan hasil samping dari proses ektraksi tebu. Dari

suatu pabrik dapat dihasilkan sekitar 35-40% dari berat tebu yang digiling

(Penebar Swadaya 2000).

Komponen kimia serat tebu dan beberapa serat lainya dapat dilihat

pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Kandungan kimia serat alami

Serat Lignin (%) Selulosa(%) Hemiselulosa (%)

Tandan sawit 19 65

Sumber : Sreekala et al (1997) dalam Iswanto Heri (2009)

Sifat mekanis serat tebu dan beberapa serat penting yang lainya dapat

dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 2. Sifat mekanis berbagai serat alami

Serat Kekuatan tarik

(30)

3. Kayu

b. Lignin, merupakan komponen pembentuk kayu yang meliputi 18%-28% dari

berat kayu. Komponen ini berfungsi sebagai pengikat satuan strukturil kayu

dan memberikan sifat keteguhan pada kayu.

c. Bahan-bahan ekstrasi, komponen ini yang memberikan sifat pada kayu, seperti:

bau, warna, rasa, dan keawetan.

d. Mineral pembentuk abu, komponen ini tertinggal setelah lignin dan selulosa

terbakar habis. Banyaknya komponen ini sebesar 0.2% - 1% dari berat kayu.

Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan

barang sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang

tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk

suatu tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu.

Sifat-sifat ini penting sekali dalam industri pengolahan kayu sebab dari pengetahuan

sifat tersebut tidak saja dapat dipilih jenis kayu yang tepat serta macam

penggunaan yang memungkinkan, akan tetapi juga dapat dipilih kemungkinan

penggantian oleh jenis kayu lainnya apabila jenis yang bersangkutan sulit didapat

secara kontinyu atau terlalu mahal.

Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang

beda. Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang

berbeda-beda. Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada

beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :

a. Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan

dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemiselulosa

(31)

b. Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan

tangensial).

c. Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan

suhu udara disekelilingnya.

d. Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama

dalam keadaan kering.

Kayu juga mempunyai fisik yang berbeda dengan material lainnya.

Sifat-sifat fisik kayu antara lain :

a. Berat dan Berat Jenis

Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air

dan zat ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan

BJ-nya. Kayu mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ

minimum 0,2 (kayu balsa) sampai BJ 1,28 (kayu nani). Umumnya makin

tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula.

b. Keawetan

Keawetan adalah ketahanan kayu terhadap serangan dari unsur-unsur

perusak kayu dari luar seperti jamur, rayap, bubuk dan lain-lain. Keawetan

kayu tersebut disebabkan adanya zat ekstraktif di dalam kayu yang merupakan

unsur racun bagi perusak kayu.

c. Nilai Dekoratif

Gambar kayu tergantung dari pola penyebaran warna, arah serat,

tekstur, dan pemunculan riap-riap tumbuh dalam pola-pola tertentu. Pola

gambar ini yang membuat sesuatu jenis kayu mempunyai nilai dekoratif.

d. Tekstur

Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya,

kayu digolongkan ke dalam kayu bertekstur halus (contoh: giam dan kulim),

kayu bertekstur sedang (contoh: jati dan sonokeling) dan kayu bertekstur kasar

(32)

e. Warna

Kayu yang beraneka warna macamnya disebabkan oleh zat pengisi

warna dalam kayu yang berbeda-beda.

f. Higroskopis

Kayu mempunyai sifat dapat menyerap atau melepaskan air. Makin

lembab udara di sekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai

keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama

dengan kelembaban udara di sekelilingnya disebut kandungan air

keseimbangan (EMC = Equilibrium Moisture Content). g. Sifat Kayu terhadap suara, yang terdiri dari :

1) Sifat akustik, yaitu kemampuan untuk meneruskan suara berkaitan erat

dengan elastisitas kayu.

2) Sifat resonansi, yaitu turut bergetarnya kayu akibat adanya gelombang

suara. Kualitas nada yang dikeluarkan kayu sangat baik, sehingga kayu

banyak dipakai untuk bahan pembuatan alat musik (kulintang, gitar, biola).

h. Daya Hantar Panas

Sifat daya hantar kayu sangat jelek sehingga kayu banyak digunakan

untuk membuat barang-barang yang berhubungan langsung dengan sumber

panas.

i. Daya Hantar Listrik

Pada umumnya kayu merupakan bahan hantar yang jelek untuk aliran

listrik. Daya hantar listrik ini dipengaruhi oleh kadar air kayu. Pada kadar air

0 %, kayu akan menjadi bahan sekat listrik yang baik sekali, sebaliknya apabila

kayu mengandung air maksimum (kayu basah), maka daya hantarnya boleh

dikatakan sama dengan daya hantar air.

Selain sifat fisik, kayu juga mempunyai sifat mekanik yang berbeda

dengan material lainnya. Sifat-sifat mekanik kayu antara lain :

a. Keteguhan Tarik

Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang

berusaha menarik kayu. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu

(33)

Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat.

Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar

arah serat.

b. Keteguhan tekan / Kompresi

Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan

muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu keteguhan tekan

sejajar arah serat dan keteguhan tekan tegak lurus arah serat. Pada semua kayu,

keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi sejajar

arah serat.

c. Keteguhan Geser

Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya

yang membuat suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di

dekatnya. Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :

1) Keteguhan geser sejajar arah serat

2) Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan

3) Keteguhan geser miring

Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan

geser sejajar arah serat.

d. Keteguhan lengkung (lentur)

Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya

yang berusaha melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun

hidup selain beban pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :

1) Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang

mengenainya secara perlahan-lahan.

2) Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang

mengenainya secara mendadak.

e. Kekakuan

Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk

(34)

f. Keuletan

Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga

yang relatif besar atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan

yang berulang-ulang yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan

perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.

g. Kekerasan

Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang

membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan

keuletan, kekerasan merupakan suatu ukuran tentang ketahanan terhadap

pengausan kayu.

4. Polyester

Unsaturated Polyester merupakan jenis resin thermoset yang biasa disebut dengan polyester saja. Polyester berupa resin cair dengan viskositas yang relatif rendah dan mengeras pada suhu kamar dengan penggunaan katalis tanpa

menghasilkan gas sewaktu pengesetan seperti banyak resin lainnya.

Mengenai sifat termalnya karena banyak mengandung monomer stiren, maka suhu deformasi thermal lebih rendah daripada resin thermoset lainnya dan ketahanan panas jangka panjangnya adalah kira-kira 110 - 1400 ˚C. Ketahanan dingin adalah baik secara relatif. Sifat listriknya lebih baik diantara resin

thermoset. Mengenai ketahanan kimianya, pada umumnya kuat terhadap asam kecuali asam pengoksid, tetapi lemah terhadap alkali. Bila dimasukkan dalam air

mendidih untuk waktu yang lama (300 jam), bahan akan pecah dan retak-retak.

Bahan ini mudah mengembang dalam pelarut, yang melarutkan polimer stiren.

Kemampuan terhadap cuaca sangat baik. Tahan terhadap kelembaban dan sinar

ultra violet bila dibiarkan di luar, tetapi sifat tembus cahaya permukaan rusak dalam beberapa tahun. Secara luas digunakan untuk konstruksi sebagai bahan

komposit.

Penggunaan resin jenis ini dapat dilakukan dari proses hand lay-up

sampai dengan proses yang kompleks yaitu dengan proses mekanik. Resin ini

(35)

pertimbangan harga relatif murah, curing yang cepat, warna jernih, kestabilan dimensional dan mudah penanganannya (Billmeyer, 1984).

Tabel 3. Spesifikasi resin Unsaturated Polyester Yukalac BQTN 157

Item Satuan Nilai tipikal Catatan

Berat jenis Gr/𝑐𝑚3 1.215

Kekerasan 40 Barcol GYZJ 934-1

Suhu distorsi panas ˚C 70

Sumber : Justus Kimia Raya, 1996

5. Fraksi Volume

Jumlah perbandingan yang biasanya digunakan dalam pembuatan

komposit adalah rasio berat (fraksi berat) dan rasio volume (fraksi volume). Hal

ini dikarenakan satuan dari matrik dan serat biasa dihitung dengan satuan massa

dan satuan volume.

(36)

6. Uji Bending

Kekuatan bending suatu material komposit dapat diketahui dengan melakukan uji bending pada material komposit mengacu pada ASTM D 790. Pada pengujian bending bagian atas spesimen akan mengalami tekanan, dan bagian bawah akan mengalami tegangan tarik. Pada uji bending, spesimen yang berbentuk batang ditempatkan pada dua tumpuan lalu diterapkan beban ditengah

tumpuan tersebut dengan laju pembebanan konstan. Pembebanan ini disebut

dengan metode 3-point bending.

Gambar 7. Pembebanan 3-point bending

Pada material simetris kekuatan bending dapat dihitung dengan menggunakan persamaan ASTM D 790 :

𝜎𝑏 = 𝑃𝐿

4 𝑋

1

2𝑑

𝑏𝑥𝑑3 12

𝜎𝑏 =

12.𝑃.𝐿.𝑑 8𝑏.𝑑3 𝜎𝑏 = 2.3.𝑏𝑃..𝑑𝐿2

Keterangan 𝜎𝑏 = kekuatan bending (MPa)

(37)

L = support span (mm)

b = lebar spesimen (mm)

d = tebal spesimen (mm)

B. Penelitian Yang Relevan

Penelitian yang akan dilakukan ini merujuk pada penelitian yang telah

dilakukan sebelumnya.

Pantoro meneliti tentang hubungan antara variasi ukuran filler dengan perilaku mekanik dan fisik dari material komposit resin serbuk kayu yang dikenai

pembebanan statik berupa beban tarik dan beban bending. Dalam Tugas Akhir ini komposit dibuat dari resin dengan variasi ukuran serbuk kayu (30 mesh, 40 mesh,

60 mesh, 80 mesh) dan jenis serbuk kayu adalah kayu jati (Tectona grandis) dan kayu kamper (Cinamommum camphora). Fraksi volume yang digunakan adalah 40%. Dari penelitian Tugas Akhir ini didapatkan bahwa kekuatan tarik terbesar

dimiliki oleh komposit dengan penguat serbuk kayu jati pada ukuran filler 80 mesh dengan nilai 0.3128 kg/mm. Sedangkan modulus elastisitas bending terbesar dimiliki komposit dengan penguat serbuk kayu jati dengan ukuran filler 80 mesh sebesar 512.4614 2 kg/mm. Akhirnya dari analisa diperoleh kesimpulan bahwa

variasi ukuran filler dan jenis filler berpengaruh terhadap kekuatan mekanik komposit.

Budi kurniawan melakukan penelitian tentang pengaruh panjang serat

terhadap keausan, kekuatan tarik, dan impact komposit serat ampas tebu bermatrik

polyester. Pada penelitian ini serat yang digunakan adalah serat ampas tebu dengan fraksi volume 40%, panjang serat 10mm, 20mm, 30mm, dan 40mm. Dari

hasil penelitian disimpulkan bahwa perbandingan panjang serat tidak begitu

berpengaruh terhadap kekuatan impact.

Agus Santoso melakukan penelitian tentang pengaruh variasi fraksi

volume pada komposit serbuk kayu dan resin katalis dengan variasi perbandingan

75%:25%, 65%:35% dan 55%:45% terhadap peningkatan kekuatan tarik dan

(38)

C. Kerangka Berpikir

Salah satu unsur penyusun bahan komposit adalah serat. Serat inilah

yang terutama menentukan karakteristik komposit seperti kekakuan, kekuatan

serta sifat-sifat mekanik lainnya. Serat dalam bahan komposit berperan sebagai

bagian utama yang menahan beban, sehingga besar kecilnya kekuatan bahan

komposit sangat tergantung dengan kekuatan pembentuknya. Orientasi dan

kandungan serat akan menentukan kekuatan mekanis dari komposit. Perbandingan

antara matrik dan serat juga merupakan faktor yang sangat menentukan dalam

memberikan karakteristik mekanis produk yang dihasilkan.

Jika serat pada komposit terdiri dari lebih dari satu serat, maka

perbandingan antara serat yang satu dengan yang lain juga diduga menjadi faktor

yang sangat menentukan dalam memberikan karakteristik mekanis produk yang

dihasilkan.

Komposit dengan ukuran serat yang lebih kecil diduga mempunyai

kemampuan untuk mengisi bagian-bagian kosong/rongga dalam komposit.

Berkurangnya jumlah rongga yang dihasilkan diduga akan menyebabkan kekuatan

bending semakin meningkat. Keberadaan rongga yang semakin berkurang diduga akan berpengaruh pada berkurangnya peluang terjadinya retakan awal yang akan

berkembang menjadi perpatahan. Berkurangnya peluang terjadinya perpatahan

diduga akan menghasilkan nilai kekuatan bending yang tinggi.

Pada penelitian ini, bahan punyusun utama spesimen komposit terdiri

dari matrik polyester dan serat alam. Serat alam yang digunakan yaitu ampas tebu dan serbuk kayu. Ampas tebu yang digunakan berukuran mesh 40 sedangkan serbuk kayu berukuran mesh 80. Perbandingan fraksi volume antara matrik dengan serat yaitu 60% : 40%. Dalam penelitian ini yang menjadi variasi ialah

perbandingan fraksi volume antara ampas tebu dengan serbuk kayu.

Ampas tebu dengan serbuk kayu mempunyai kandungan dan

karakteristik yang berbeda, sehingga variasi komposisi di antara keduanya akan

menghasilkan kekuatan bending yang berbeda-beda pada komposit. Dalam penelitian ini, variasi perbandingan fraksi volume antara ampas tebu dengan

(39)

Berdasarkan uraian di atas ditentukan paradigma penelitian sebagai

berikut :

Gambar 8. Kerangka Berpikir

Keterangan :

X : Variasi komposisi campuran (fraksi volume) filler

𝑋1 : Komposisi campuran filler dengan ampas tebu 10% dan serbuk kayu 30% 𝑋2 : Komposisi campuran filler dengan ampas tebu 20% dan serbuk kayu 20% 𝑋3 : Komposisi campuran filler dengan ampas tebu 30% dan serbuk kayu 10% 𝑌 : Kekuatan bending komposit

D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pemikiran di atas dapat

diambil hipotesis yaitu sebagai berikut :

1. Ada pengaruh komposisi campuran filler terhadap kekuatan bending komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester.

(40)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian merupakan lokasi dimana informasi diperoleh untuk

menyatakan kebenaran penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Material

Teknik Mesin UNS.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 5 bulan, dari bulan Juli 2011

sampai bulan Nopember 2011. Adapun pelaksanaan kegiatan penelitian sebagai

berikut :

a. Pengajuan Judul : 21 Juli 2011

b. Pembuatan Proposal : 25 Juli – 12 Agustus 2011 c. Seminar proposal : 18 Agustus 2011

d. Revisi proposal : 19 – 29 Agustus 2011

e. Perijinan : 5 – 16 September 2011

f. Proses penelitian : 27 September – 27 Oktober 2011

g. Analisis data : 28 - 31 Oktober 2011

h. Penulisan laporan : 1- 28 Nopember 2011

B. Metode Penelitian

Pada penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode eksperimen

dan merupakan penelitian kuantitatif yaitu memaparkan secara jelas hasil

eksperimen di laboratorium terhadap sejumlah benda uji, kemudian analisis

datanya dengan menggunakan angka-angka. Penelitian eksperimen adalah

penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap obyek

penelitian serta adanya pengawasan produk. Penelitian ini diadakan untuk

(41)

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Penelitian

Populasi penelitian ini adalah keseluruhan komposit ampas tebu-serbuk

kayu dengan matrik polyester.

2. Sampel Penelitian

Dalam penelitian ini, sampel penelitiannya diambil dengan menggunakan

Purposive Sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester yang mempunyai komposisi campuran filler

sebagai berikut :

a. Ampas tebu 10% dan serbuk kayu 30%

b. Ampas tebu 20% dan serbuk kayu 20%

c. Ampas tebu 30% dan serbuk kayu 10%

D. Teknik Pengumpulan Data 1. Identifikasi Variabel

Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian

suatu penelitian. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

a. Variabel Bebas

Variabel bebas merupakan variabel yang menjadi sebab timbulnya atau

berubahnya variabel terikat. Munculnya variabel ini tidak dipengaruhi atau

tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya variabel lain.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah variasi komposisi campuran

(42)

b. Variabel Terikat

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi karena adanya

variabel bebas. Dengan kata lain, ada atau tidaknya variabel terikat tergantung

ada atau tidaknya variabel bebas. Variabel terikat pada penelitian ini adalah

kekuatan bending komposit ampas tebu-serbuk kayu dengan matrik polyester.

c. Variabel Kontrol

Variabel kontrol merupakan himpunan sejumlah gejala yang memiliki

berbagai aspek atau unsur di dalamnya, yang berfungsi untuk mengendalikan

agar variabel terikat yang muncul bukan karena pengaruh variabel lain, tetapi

benar-benar karena pengaruh variabel bebas yang tertentu. Variabel kontrol

dalam penelitian ini adalah :

1) Matrik polyester BQTN 157 dengan fraksi volume 60% 2) Serbuk kayu dengan ukuran mesh 80

3) Ampas tebu dengan ukuran mesh 40

2. Instrumen Eksperimen

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah:

a. Ampas tebu

b. Serbuk kayu

(43)

(a) (b)

(c) (d) (e)

Gambar 9. Bahan-bahan Penelitian (a) ampas tebu, (b) serbuk kayu, (c)

Unsaturated PolyesterYucalac 157 BQTN-EX, (d) Katalis MEXPO, (e)

Realeaser Mirror Glase Wax

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :

a. Crushing Machine

Alat ini digunakan untuk menggiling/menghancurkan serat ampas tebu

sebelum disaring menggunakan mesh.

b. Mesh

Alat ini digunakan untuk mendapatkan ukuran serbuk ampas tebu setelah

di-crushing. c. Oven elektrik

Alat ini digunakan untuk mengeringkan ampas tebu dan serbuk kayu sebelum

(44)

pengujian (proses post cure). Pada alat ini dilengkapi dengan pengatur suhu dan waktu sehingga alat dapat diseting sesuai kebutuhan.

d. Timbangan digital

Alat ini digunakan untuk mengukur massa bahan komposit.

e. Wood moisture meter

Wood moisture meter digunakan untuk mengukur kadar air yang terkandung didalam komposit.

f. Universal Testing Mechine (UTM)

Alat ini digunakan untuk uji bending pada spesimen komposit. Ada di Laboratorium Material Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret Surakarta.

g. Gelas ukur

Alat ini digunakan untuk mengukur volume polyester.

h. Perangkat cetakan

Cetakan yang digunakan terbuat dari potongan-potongan kaca yang berukuran

190mmx40mmx4mm yang dirangkai menjadi satu cetakan.

i. Astralon

Astralon merupakan bahan seperti mika plastik yang berfungsi sebagai pelapis

alas cetakan agar spesimen tidak lengket dengan cetakan.

j. Jangka sorong

Alat ini digunakan untuk mengukur spesimen uji bending. k. Alat-alat bantu

Alat-alat ini berupa gunting, suntikan, gelas bekas air mineral, solasi

(45)

(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)

Gambar 10. Alat-alat Penelitian, (a) Mesin Crushing Machine, (b) Universal Testing Mechine (UTM), (c) oven elektrik, (d) timbangan digital, (e) cetakan kaca,

(46)

3. Diagram alir Penelitian

(47)

E. Pelaksanaan Eksperimen 1. Persiapan Awal

a. Menyiapkan alat dan bahan.

b. Perlakuan awal serat :

1) Ampas tebu dan serbuk kayu dikeringkan dengan cara dijemur.

2) Ampas tebu dan serbuk kayu yang sudah kering kemudian

dihancurkan/digiling secara terpisah dengan menggunakan mesin Crusher

hingga berbentuk butiran-butiran.

3) Butiran-butiran ampas tebu disaring dengan menggunakan mesh dan dipilih yang masuk ke ukuran mesh 40.

4) Butiran-butiran serbuk kayu disaring dengan menggunakan mesh dan dipilih yang masuk ke ukuran mesh 80.

5) Butiran-butiran ampas tebu dan serbuk kayu yang sudah disaring sesuai

ukuran kemudian dioven 700 C selama 1jam hingga mencapai kadar air

10-15%.

2. Pembuatan Spesimen

Pembuatan spesimen komposit dilakukan dengan cara hand lay up,

untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut :

a. Persiapan cetakan

1) Menyiapkan dua kaca sebagai alas cetakan dan penutup cetakan.

2) Mengolesi dua lembar astralon dengan wax secara merata.

3) Melapisi alas dan penutup cetakan dengan astralon yang sudah diolesi

dengan wax.

4) Menyusun cetakan kaca di atas alas cetakan

b. Persiapan bahan

1) Menyiapkan polyester, katalis MEKPO, ampas tebu, dan serbuk kayu sesuai takaran volumenya.

2) Mencampur ampas tebu dan serbuk kayu yang telah disiapkan.

(48)

c. Pencetakan bahan

1) Menuangkan kurang lebih seperempat volume polyester ke dalam cetakan, kemudian meratakannya.

2) Mencampurkan kurang lebih setengah volume polyester ke dalam campuran ampas tebu dan serbuk kayu, kemudian mengaduknya sampai

benar – benar tercampur.

3) Memasukkan campuran bahan-bahan ke dalam cetakan sampai merata.

4) Menuangkan sisa polyester yang ada ke atas bahan-bahan yang berada di cetakan, kemudian ditekan-tekan/ditusuk-tusuk dengan menggunakan lidi

sampai polyester masuk ke dalam cetakan.

5) Menutup cetakan dengan kaca penutup yang sudah dilapisi astralon yang

sudah diolesi wax.

6) Menaruh beban ke atas cetakan.

7) Menunggu sampai spesimen mengeras, kurang lebih 3jam.

Gambar 12. Spesimen komposit

Pembuatan spesimen komposit menggunakan fraksi volume 40 % yaitu

perbandingan volume antara serat/filler dan matrik sebesar 40 % serat/filler dan 60% matrik. Dalam penelitian ini memerlukan 4 macam spesimen di mana tiap

spesimen mempunyai variasi volume ampas tebu dan serbuk kayu yang berbeda.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4. Jumlah dan variasi spesimen komposit

Spesimen Variasi Volume Jumlah Spesimen

Polyester Ampas tebu Serbuk kayu

I 60% 10% 30% 4

II 60% 20% 20% 4

III 60% 30% 10% 4

(49)

3. Pengujian Bending

Setelah spesimen komposit jadi, kemudian diuji dengan menggunakan

mesin uji Universal Testing Machine (UTM) yang ada di Laboratorium Material Teknik Jurusan Teknik Mesin FT. UNS. Model pengujian yang akan dilakukan

mengacu pada standart ASTM D 790.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis

varian satu arah dan dilanjutkan uji pasca anava. Namun sebelumnya dilakukan

uji persyaratan analisis yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

1. Uji Persyaratan Analisis Data a. Uji Normalitas

Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah data pada variabel-variabel

penelitian berasal dari data yang berdistribusi normal atau tidak, Uji normalitas

yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas Lilliefors. Adapun prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1) Tentukan hipotesis

H0 = Sampel berasal dari populasi berdistribusi normal.

H1 = Sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal.

2) Tentukan taraf nyata α = 0,01

3) Menentukan harga S dengan rumus :

SD =𝑛𝛴𝑋𝑖

2(𝛴𝑋𝑖)² 𝑛(𝑛 −1) Keterangan :

SD = Simpangan Baku atau Deviasi Standar.

n = Jumlah Baris.

Xi2 = Jumlah keseluruhan kolom pangkat dua.

(50)

4) Pengamatan X1, X2, …….., Xn dijadikan bilangan Z1, Z2, . . . Zn dengan

Apabila data tersebut normal selanjutnya di uji homogenitas. Uji

homogenitas pada data hasil penelitian ini menggunakan uji Bartlett, karena k > 2.

Tabel 5. Ringkasan Perhitungan Homogenitas dengan Uji Bartlett. Sampel

Perhitungan varians gabungan (S²) dari semua sampel :

S2 = 𝛴𝑑𝑘 𝑆𝑖2

𝛴𝑑𝑘

Untuk menghitung harga satuan B :

B = (log S2) 𝚺dk

Untuk menghitung chi kuadrat :

(51)

Bila didapat 𝑋𝑕𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔2 < 𝑋𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 𝛼 2 (𝑘−1) maka data homogen.

(Sumber : Sudjana, 1996: 263)

2. Uji Analisis Data a. Anava Satu Arah

Untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh komposisi campuran filler

komposit dilakukan uji analisis varian satu arah. Rumus yang digunakan dalam

anava satu arah, yaitu :

Tabel 6. Daftar Anava Satu Arah

Sumber Variansi dk Jk KT F

Rata-rata 1 Ry R=Ry/1

Antar Kelompok k-1 Ay A=Ay/(k-1) A/D

Dalam Kelompok 𝚺(𝑛𝑖-1) Dy D=Dy/(𝑛𝑖−1)

Total 𝚺𝑛𝑖 𝚺Y² -

dk = derajat kebebasan

Jk = jumlah kuadrat

KT = kuadrat tengah

Ry = J²/𝚺𝑛𝑖 dengan J1, J2,… … …, Jn

Ay = (Ji2/n

1) – Ry

𝚺Y² = jumlah kuadrat-kuadrat (Jk) dari semua hasil pengamatan Dy = 𝚺Y²-Ry-Ay

Kesimpulan:

Bila harga F0≤Ft dalam taraf 1% maka hipotesis nihil (H0) diterima dan hipotesis kerja (H1) ditolak, kemudian sebaliknya bila F0>Ft maka hipotesis

kerja diterima dan hipotesis nihil (H0) ditolak.

(52)

b. Komparasi Ganda Pasca Anava

Komparasi ganda pasca anava bertujuan untuk mengetahui rerata mana

yang berbeda atau rerata mana yang sama. Dalam penelitian ini, komparasi ganda

yang digunakan untuk tindak lanjut pasca anava adalah dengan memakai metode

Scheffe.

Langkah-langkah yang harus ditempuh pada metode Scheffe adalah sebagai berikut :

1) Mengidentifikasikan semua pasangan komparasi rataan yang ada.

2) Menentukan tingkat signifikansi L = 0,01

3) Mencari nilai statistik uji F dengan menggunakan rumus:

Fij = (𝑋 𝑖−𝑋 𝑗)²

𝑅𝐾𝐺(1 𝑛𝑖+

1

𝑛𝑗) dengan :

Fi−j = Nilai Fobs pada pembandingan perlakuan ke-i dan perlakuan ke-j; 𝑋 𝑖 = Rataan pada sampel ke-i;

𝑋 𝑗 = Rataan pada sampel ke-j;

RKG = E = Rataan kuadrat galat;

ni = Ukuran sampel baris ke-i;

nj = Ukuran sampel baris ke-j;

4) tentukan daerah kritik dengan formula berikut:

Dk = { F │F > (p-1)Ftabel}

4) Menentukan keputusan uji untuk masing-masing komparasi ganda.

5) Mengambil keputusan kesimpulan uji yang ada.

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

Telah dijelaskan pada Bab III, bahwa dalam penelitian ini data diperoleh

berupa angka-angka (nilai) kekuatan bending komposit ampas tebu – serbuk kayu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang melibatkan satu faktor

bebas. Faktor tersebut adalah perlakuan variasi komposisi filler ampas tebu dengan serbuk kayu (10% : 30% ; 20% : 20% ; 30% : 30%). Variabel terikatnya

dalam penelitian ini adalah kekuatan bending komposit ampas tebu - serbuk kayu dengan matrik polyester. Jumlah keseluruhan sampel dalam penelitian sebanyak 3 buah yang dilakukan pengulangan sebanyak 4 kali perlakuan sehingga total data

sebanyak 12 data pengamatan. Data penelitian yang berjumlah 12 data tersebut

dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 7. Hasil Pengukuran Kekuatan Bending Berdasarkan Variasi Komposisi

Filler Komposit Ampas tebu – Serbuk Kayu Dengan Matrik Polyester

(54)

Dari hasil penelitian yang diperoleh dalam perhitungan kekuatan bending

berdasarkan variasi komposisi filler komposit ampas tebu – serbuk kayu dengan matrik polyester, maka dapat digambarkan dengan histogram dan grafik sebagai berikut :

Gambar 13. Histogram Pengaruh Komposisi Campuran Filler Terhadap Kekuatan

Bending Komposit Ampas Tebu - Serbuk Kayu Dengan Matrik Polyester

0

ampas tebu 10% : serbuk kayu 30%

ampas tebu 20% : serbuk kayu 20%

ampas tebu 30% : serbuk kayu 10%

Histogram Pengaruh Komposisi Campuran Filler Terhadap Kekuatan Bending Komposit Ampas Tebu - Serbuk Kayu

(55)

B. Pengujian Persyaratan Analisis

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang termasuk dalam kategori

penelitian kuantitatif, maka data yang diperoleh sebelum dianalisis dengan uji

analisis varian satu jalan, maka dilakukan uji prasyarat analisis dengan

menggunakan uji normalitas dan homogenitas.

1. Uji Normalitas

Sebelum dilakukan uji analisis varians satu arah, data harus memenuhi

syarat kenormalan. Oleh karena itu data diuji dengan uji normalitas, sedangkan uji

normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji normalitas Lilliefors, dengan taraf signifikansi 1%. Selanjutnya mencari harga L𝑚𝑎𝑘𝑠 = │F(Zi) – S(Zi)│ pada masing-masing kelompok perlakuan. Kemudian harga L𝑚𝑎𝑘𝑠 dikonsultasikan

ke tabel dengan harga n = 4 dan diperoleh L𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 sebesar 0,417. Jika hasil

perhitungan mendapatkan harga L𝑚𝑎𝑘𝑠 lebih kecil dari harga L𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙, maka data

berdistribusi normal. Adapun keputusan uji normalitas data selengkapnya dapat

dilihat pada Tabel 8 di bawah ini :

Tabel 8. Hasil Uji Normalitas Metode Lilliefors

(56)

2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas digunakan untuk menguji kesamaan beberapa buah

rata-rata. Pada penelitian ini, digunakan metode Bartlett untuk uji homogenitas. Dan pengambilan kesimpulan dengan taraf signifikansi 1%. Jika didapatkan harga

X² hitung lebih besar dari harga X² tabel, berarti data yang didapat berasal dari

sampel yang tidak homogen. Tetapi apabila didapat harga X² hitung lebih kecil dari

harga X² tabel, berarti data yang didapat berasal dari sampel yang homogen.

Adapun keputusan uji homogenitas data selengkapnya tersebut dapat

terlihat dalam tabel di bawah ini :

Tabel 9. Hasil Uji Homogenitas Dengan Metode Bartlet

Sumber Perlakuan 𝐗²𝐡𝐢𝐭𝐮𝐧𝐠 𝐗²𝐭𝐚𝐛𝐞𝐥 (X2(1-α)(k-1)) Keputusan Uji

10% : 30% ;

20% : 20% ;

30% : 10%

0.545 9.21

H0 diterima

Tabel 9 di atas menunjukkan populasi - populasi yang diperbandingkan

mempunyai variansi-variansi yang sama atau dengan kata lain sumber variansi

berasal dari populasi yang homogen. Hal ini dikarenakan masing-masing sumber

perlakuan mempunyai harga X² hitung < X² tabel, sehingga X² hitung tidak terdapat

pada daerah kritik dan H0 diterima.

C. Pengujian Hipotesis

1. Hasil Pengujian Hipotesis Analisis Varian Satu Jalan

Pengujian hipotesis merupakan langkah untuk menguji apakah

pernyataan yang dikemukakan dalam perumusan hipotesis diterima atau ditolak.

(57)

pengaruh variasi komposisi campuran filler terhadap kekuatan bending komposit ampas tebu – serbuk kayu dengan matrik polyester atau tidak.

Pengujian hipotesis yang digunakan adalah menggunakan Uji Analisis

Varians Satu Arah seperti Tabel 10 berikut:

Tabel 10. Hasil Pengujian Anava Satu Arah

Sumber Variasi dk JK KT Fobs Ftabel α

Rata-rata 1 18624.38 18624.38

Antar Kelompok 2 297.155 148.5775 57.365 8.02 0,01

Dalam Kelompok 9 23.315 2.59

Total 12 18944.85 -

Hasil perhitungan anava satu arah memperlihatkan bahwa harga Fobs =

57,365 sedangkan Ftabel dengan dk pembilang 2 dan penyebut 9 dengan taraf nyata α = 0,01 didapat Ftabel = 8,02 , jadi Fobs > Ftabel, sehingga hipotesis yang

menyatakan “Tidak ada pengaruh variasi komposisi filler terhadap kekuatan

bending pada komposit ampas tebu – serbuk kayu dengan matrik polyester” ditolak, sedangkan hipotesis kerja yang menyatakan “Ada pengaruh variasi komposisi filler terhadap kekuatan bending pada komposit ampas tebu – serbuk kayu dengan matrik polyester” diterima. Dengan demikian Ada pengaruh variasi komposisi filler terhadap kekuatan bending pada komposit ampas tebu – serbuk kayu dengan matrik polyester.

2. Hasil Komparasi Ganda Pasca Anava Satu Jalan

Setelah melakukan analisis dengan menggunakan analisis variansi satu

arah, maka untuk melihat perbedaan reratanya agar menjadi lebih jelas,

dilanjutkan dengan uji komparasi ganda pasca anava. Komparasi ganda setelah

anava yang dilakukan di sini adalah dengan menggunakan uji scheffe untuk

analisis variansi satu arah. Rataan masing-masing komparasi untuk komparasi

ganda pasca anava dapat dilihat pada lampiran hasil perhitungan uji scheffe untuk

Gambar

Gambar 1.  (a)  Limbah Ampas Tebu , (b) limbah serbuk kayu jati
Gambar 4. Komposit partikel
Gambar 6. Laminar composites
Tabel 1. Kandungan kimia serat alami
+7

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini ialah penambahan serat ampas tebu berpengaruh terhadap kekuatan tekan dan dapat meningkatkan kekuatan tekan resin komposit nanofil.. Kata

kekuatan impak pada material komposit serat kulit kayu sengon. bermatrik polyester BQTN 157

PENGARUH VARIASI BERAT FILLER BLACK KARBON AKTIF KULIT BAMBU TERHADAP STRUKTUR DAN KEKUATAN TARIK..

Dari hasil penelitian terhadap pengaruh fraksi volume serat dan rasio matrik dengan filler didapat kekuatan tarik terbesar pada fraksi volume serat 40% dimana kekuatan

Kekuatan bending dan ketangguhan impak komposit meningkat sampai fraksi volume nanosilika 30% karena filler nanosilika dapat menyebar secara merata dan dapat

Pada penelitian ini akan menggunakan serat alami dari ampas tebu (bagasse) untuk mencari perbandingan kekuatan tarik dan kegetasan polimer komposit polyester berpenguat serat

Judul : “ Analisis Kekuatan Impact Pada Bahan Komposit Serat Alam dengan Orientasi Sudut Ber Matrik Polimer Polyester ”.. Nama :

Kekuatan bending dan ketangguhan impak komposit meningkat sampai fraksi volume nanosilika 30% karena filler nanosilika dapat menyebar secara merata dan dapat