BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja merupakan kelompok manusia yang berada diantara usia kanak-kanak dan dewasa. Permulaan masa remaja dimulai saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat mencapai usia matang secara hukum diakui hak-haknya sebagai warga negara. Remaja sering kali disebut adolescence yang secara luas berarti masa tumbuh dan berkembang untuk mencapai kematangan mental, emosional, social dan fisik. Masa remaja menurut WHO adalah antara 10 –24 tahun, sedangkan menurut Monks masa remaja berlangsung pada umur 12 sampai 21 tahun dengan pembagian masa remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun) dan masa remaja akhir (18-21 tahun).
Masa remaja adalah salah satu fase yang penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan manusia. Kondisi seseorang pada masa dewasa banyak ditentukan oleh keadaan gizi dan kesehatan pada masa remaja. Oleh karena itu status gizi dan kesehatan merupakan factor penentu kualitas remaja. Dengan status gizi dan kesehatan yang optimal pertumbuhan dan perkembangan remaja menjadi lebih sempurna.
Remaja merupakan salah satu konsumen makanan yang aktif dan mandiri dalam menentukan makanan yang dikehendaki. Kecepatan pertumbuhan anak sekolah meningkat bersama dengan datangnya masa remaja. Pada tahap pertumbuhan ini anak mendapatkan pengalamannya dengan makanan yang diperoleh dari lingkungan keluarga dan diluar rumah.Remaja yang memperoleh konsumsi pangan yang memenuhi kecukupan gizi semenjak masa anak-anak akan 3 memiliki perkembangan tubuh yang baik, dengan postur tubuh yang lurus, otot yang kuat dan simpanan lemak yang cukup.
Masalah gizi pada remaja muncul dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidakseimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Masalah gizi yang dapat terjadi pada remaja adalah gizi kurang (under weight), obesitas (over weight) dan anemia. Gizi kurang terjadi karena jumlah konsumsi energi dan zat-zat gizi lain tidak memenuhi kebutuhan tubuh. Akan tetapi pada remaja putri, gizi kurang umumnya terjadi karena keterbatasan diet atau membatasi sendiri intik makannya.
anemia selain karena keterbatasan intik pangan hewani juga karena menstruasi dan meningkatnya kebutuhan zat besi selama growth spurt.Status gizi remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi, faktor budaya seperti kebiasaan makan dan lain sebagainya. Oleh karena itu berdasarkan faktor-faktor tersebut akan dibahas lebih lanjut tentang status gizi, masalah makan dan perilaku makan.
1.2 Rumusan masalah.
1. Apa saja Kebutuhan Gizi Remaja dan Dewasa?
2. Apa saja Faktor Penyebab Masalah Gizi Remaja dan Dewasa?
3. Apa saja Masalah Gizi yang sering Muncul pada Remaja dan Dewasa?
1.3 Tujuan
1. Untuk Kebutuhan Gizi Remaja dan Dewasa
2. Untuk Faktor Penyebab Masalah Gizi Remaja dan Dewasa
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kebutuhan Gizi Remaja dan Dewasa
Kebutuhan Gizi Remaja , relatif besar , karena remaja masih mengalami masa pertumbuhan. Selain itu , remaja umumnya melakukan aktivitas fisik yang lebih tinggi dibanding dengan usia lainnya , sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak .
Remaja meiliki kebutuhan nutrisi yang unik apabila ditinjau dari sudut pandang biologi , psikologi dan dari sudut pandang sosial. Secara biologis kebutuhan nutrisi mereka selaras dengan aktivitas mereka. Remaja membutuhkan lebih banyak protein, vitamin, dan mineral per unit dari setiap energi yang mereka konsumsi dubsnding dengan anak yang beluim mengalami pubertas .
Pada masa remaja kebutuhan nutrisi/gizi perlu mendapat perhatian karena :
a. Kebutuhan nutrisi yang meningkat karena adanya peningkatan pertumbuhan fisik dan perkembangan
b. Berubahnya gaya hidup dan kebiasaan makan pada masa ini berpengaruh pada kebutuhan dan asupan zat gizi/nutrient.
c. Kebutuhan khusus nutrient perlu diperhatikan pada kelompok remaja yang memiliki aktivitas olahraga , mengalami kehamilan , gangguuan perilaku makanan , restriksi asupan makanan , konsumsi alkohol , obat-obatan maupun hal-hal yang biasa terjadi pada remaja .
Kekurangan energi akan menjadikan tubuh mengalami keseimbangan negatif. Akibatnya berat badan kurang dari berat badan seharusnya (ideal). Bila terjadi pada bayi dan anak-anak akan menghambat pertumbuhan dan pada orang dewasa menyebabkan penurunan berat badan dan kerusakan jaringan tubuh (Almatsier, 2002).
Kelebihan energi akan diubah menjadi lemak tubuh. Ini berakibat terjadi berat badan lebih atau kegemukan. Kegemukan biasanya disebabkan oleh kebanyakan makan, dalam hal karbohidrat, lemak maupun protein, tetapi juga karena kurang bergerak (Almatsier, 2002).
2.1.1 Energi
Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi remaja adalah aktivitas fisik, seperti olahraga yang diikuti baik dalam kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah. Remaja yang aktif dan banyak melakukan olahraga memerlukan asupan energi yang lebih besar dibandingkan yang kurang aktif.
Sejak lahir hingga usia 10 tahun, energi yang dibutuhkan relatif sama dan tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Pada masa remaja terdapat perbedaan kebutuhan energi untuk laki-laki dan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh dan kecepatan pertumbuhan.
Kecukupan gizi (AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 2000-1200 kkal sedangkan untuk laki-laki antara 2400-2800 kkal setiap hari.
AKG energi ini dianjurkan sekitar 60% berasal dari sumber karbohidrat. Makanan sumber karbohidrat adalah: beras, terigu dan hasil olahannya (mie, spagetti, macaroni), umbi-umbian (ubi jalar, singkong), jagung, gula, dan lain-lain. 2.1.2 Protein
Kebutuhan protein juga meningkat pada masa remaja, karena proses pertumbuhan yang sedang terjadi dengan cepat. Pada awal masa remaja, kebutuhan protein remaja perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, karena memasuki masa pertumbuhan cepat lebih dulu.
Pada akhir masa remaja, kebutuhan protein laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan karena perbedaan komposisi tubuh. Kecukupan protein bagi remaja 1,5 – 2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein remaja dan dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki.
Makanan sumber protein hewani bernilai biologis lebih tinggi dibandingkan sumber protein nabati, karena komposisi asam amino esensial yang lebih baik, dari segi kualitas maupun kuantitas. Berbagai sumber protein adalah: daging merah (sapi, kerbau, kambing), daging putih (ayam, ikan, kelinci), susu dan hasil olahannya (keju, mentega, yakult), kedele dan hasil olahannya (tempe, tahu), kacang-kacangan, dan lain-lain.
2.1.3 Kalsium
remaja dan dewasa muda adalah 600-700 mg per hari untuk perempuan dan 500-700 mg untuk laki-laki. Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lain-lain.
2.1.4 Zat Besi.
Kebutuhan zat besi pada remaja juga meningkat karena terjadinya pertumbuhan cepat. Kebutuhan zat besi pada remaja laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan peningkatan konsentrasi haemoglobin (Hb).Setelah dewasa, kebutuhan zat besi menurun. Pada perempuan, kebutuhan yang tinggi akan zat besi terutama disebabkan kehilangan zat besi selama menstruasi. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih rawan terhadap anemia zat besi dibandingkan laki-laki.
Perempuan dengan konsumsi zat besi yang kurang atau mereka dengan kehilangan zat besi yang meningkat, akan mengalami anemia gizi zat besi. Sebaliknya defisiensi zat besi mungkin merupakan limiting faktor untuk pertumbuhan pada masa remaja, mengakibatkan tingginya kebutuhan mereka akan zat besi.
Hal lain yang perlu diingat, adalah bioavailability dari makanan umumnya sangat rendah yaitu kurang dari 10 persen. Sumber zat besi dari hewani mempunyai bioavailability yang lebih tinggi dibandingkan sumber nabati.
Status zat besi dalam tubuh juga mempengaruhi efisiensi penyerapan zat besi. Pada remaja dengan defisiensi zat besi maka penyerapan zat besi akan lebih efisien dibandingkan yang tidak defisiensi zat besi. Yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber nabati adalah vitamin C serta sumber protein hewani tertentu (daging dan ikan). Sedangkan zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi antara lain adalah cafein, tannin, fitat, zinc, dan lain-lain.
AKG besi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 19-26 mg setiap hari, sedangkan untuk laki-laki 13-23 mg per hari. Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah hati, daging merah (sapi, kambing, domba), daging putih (ayam, ikan), kacang-kacangan, sayuran hijau.
2.1.5 Seng (Zinc)
2.1.6 Vitamin
Kebutuhan vitamin juga meningkat selama masa remaja karena pertumbuhan dan perkembangan cepat yang terjadi. Karena kebutuhan energi meningkat, maka kebutuhan beberapa vitamin pun meningkat, antara lain yang berperan dalam metabolisme karbohidrat menjadi energi seperti vitamin B1, B2 dan Niacin. Untuk sintesa DNA dan RNA diperlukan vitamin B6, asam folat dan vitamin B12, sedangkan untuk pertumbuhan tulang diperlukan vitamin D yang cukup. Dan vitamin A, C dan E untuk pembentukan dan penggantian sel.
2.2 Faktor Penyebab Masalah Gizi Remaja dan Dewasa 2.2.1 Kebiasaan makan yang buruk
Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usiaremaja.Mereka makan seadanya tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka.
2.2.2 Pemahaman gizi yang keliru
Tubuh yang langsing sering menjadi idaman bagi para remaja t erutama wanita remaja. Hal itu sering menjadi penyebab masalah, karena untuk memelihara kelangsingan tubuh mereka menerapkan pengaturan pembatasan makanan secara keliru. Sehingga kebutuhan gizi mereka tak terpenuhi. Hanya makan sekali sehari atau makan makanan seadanya, tidak makan nasi merupakan penerapan prinsip pemeliharaan gizi yang keliru dan mendorong terjadinya gangguan gizi.
2.2.3 Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu
Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu saja menyebabkan kebutuhan gizi tak terpenuhi. Keadaan seperti itu biasanya terkait dengan “mode” yang tengah marak dikalangan remaja. Ditahun 1960-an misalnya remaja-remaja di Amerika Serikat sangat menggandrungi makanan berupa hot dog dan minuman coca cola. Kebiasaan ini kemudian menjalar keremaja-remaja diberbagai negara lain termasuk di Indonesia.
2.2.4 Promosi yang berlebihan melalui media massa.
makanan tersebut bukanlah makanan yang sehat bila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.
2.2.5 Masuknya produk-produk makanan baru.
Produk makanan yang berasaldarinegara lain secara bebas mempengaruhi kebiasaan makan para remaja.Jenis-jenis makanan siap santap (fast food) yang berasal dari Negara barat seperti hot dog, pizza, hamburger, fried chicken dan french fries, berbagai jenis makanan berupa kripik (junk food) sering dianggap sebagai lambing kehidupan modern oleh para remaja. Padahal berbagai jenis fast food itu mengandung kadar lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi disamping kadar garam. Zat-zat gizi itu memicu terjadinya berbagai penyakit kardiovaskuler pada usia muda.
2.2.6 Konsumsi makanan
Pada dasarnya intake makanan dipengaruhi olehdua hal, yaitu faktor internal dan factor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, dapat berupa emosi/kejiwaan yang memiliki sifat kebiasaan. Sementara itu, factor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar manusia, seperti ketersediaan bahan pangan yang ada dialam sekitar serta kondisi social ekonomi yang mempengaruhi tingkat daya beli manusia terhadap bahan pangan.
2.2.7 Pendidikan dan pengetahuan
Sering masalah gizi timbul karena ketidaktahuan atau kurang informasi tentang gizi yang memadai. Pendidikan sangat diperlukan agar seseorang lebih tanggap terhadap adanya masalah gizi.
Pentingnya pengetahuan gizi terhadap konsumsi didasari atas tiga kenyataan : 1) Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan 2) Setiap orang hanya akan cukup gizi yang diperlukan jika makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan, dan energi.
3) Ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu ,sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi (Suhardjo, 1986).
2.2.8 Jenis kelamin
tinggi.Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa kekurangan gizi lebih banyak terdapat pada anak perempuan dari pada anak laki-laki.
2.2.9 Sosial ekonomi
Faktor yang berpengaruh dalam menentukan status kesehatan seseorang adalah tingkat sosial ekonomi, dalam hal ini adalah daya beli keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas kemungkinan besar akan kurang dapat memenuhi kebutuhan zat gizi dalam tubuhnya. Pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin banyak pendapatan berarti semakin baik makanan yang diperoleh.
2.2.10 Aktifitas fisik
Aktifitas fisik atau disebut juga aktifitas eksternal adalah sesuatu yang menggunakan tenaga atau energi untuk melakukan berbagai kegiatan fisik, seperti berjalan, berlari, berolahraga, dan lain-lain. Setiap kegiatan fisik membutuhkan energi yang berbeda menurut lamanya intensitas dan sifat kerja otot. Latihan fisik dapat meningkatkan kemampuan fungsional kardiovaskular dan menurunkan kebutuhan oksigen otot jantung yang diperlukan pada setiap penurunan aktifitas fisik seseorang.
2.3 Masalah Gizi yang sering Muncul pada Remaja dan Dewasa 2.3.1 Makan Tidak Teratur
Aktivitas yang tinggi , baik di sekolah maupun diluar sekolah menyebabkan makan menjadi tidak teratur. Biasanya remaja melewatkan waktu makan pagi dan makan siang. Padahal sarapan sangat penting. Karena sarapan berfungsi untuk menjaga kondisi tubuh , dan meningkatkan konsentrasi belajar disekolah . sarapan juga berfungsi sebagai sumber tenaga untuk melkukan kegiatan .
Tidak jarang mereka makan diluar rumah dengan komposisi gizi tidak seimbang. Reamaja menyukai makanan ringan ,karena makanan ringan memenuhi nagian yang harusnya dipenuhi oleh zat gizi lain dalam satu hari . remaja sering melewatkan makan bersama keluarga dirumah, mereka lebih memilih untuk makan di luar . masukkan energi atau kalori berasal dari makanan ringan yang biasanya di makan . Fast food merupakan makanan favorit remaja , terutama pizza , mereka mengonsumsi fast food tidak hanya pada waktu makan , tetapi juga pada waktu senggang.
Kehamilan usia remaja adalah kehamilan yang berlangsung pada usia 11-18 tahun . angka kejadian kehamilan pada usia remaja cukup tinggi dan cenderung meningkat . kehamilan pada remaja terkait etar dengan ketergesaan remaja mempraktikkan hubungan seksuual . kehamilan pada usia remaja bukan hanya karena kematangan fisik dan psisik yang belum sempurna tetapi juga karena pendidikan rendah , kurangnya sosialisasi , konflik dengan keluarga , kecemasan dan lenyapnya sumber keuangan.
Remaja yang hamil memburtuhkan nutrisi yang adekuat agar pertumbuhan diri dan janinnya dapat berlangsung optimal. Secara fisik , remaja masih terus tumbuh . jika kemudian mereka hamil , kalori yang diperlukan berganting pada kecepatan dan pertambahan berat badan . jika berat badan seseorang remaja remaja perlu ditambah 5kg dalam setaun , setidaknya dibutuhkan energi sebanyak 2500 kkal . 2.3.3. Gangguan Makan
Terdapat dua macam gangguan makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Anoreksia dan bulimia adalah gangguan pola makan yang tampat atau sering terjadi pada remaja dan wanita dewasa , hanya sedikit laki-laki yang menderita gangguan makan ini . kedua gangguan ini biasanya terjadi akibat seseorang terobsesi untuk menjadi langsing. Keduanya juga mempuanyai tujuan yang sama yaitu untuk mengurus badan . gangguan tersebut biasanya muncul ketika seseorang memasuki usia puber. Jarang terjadi pada anak-anak. Kalaupun ada , mungkin hanya bibitnya saja.
2.3.3.1 Anoreksia Nervosa
kenyang, bahlan merada mual .Kebanyakan ketika mereka terpaksa makan akibat terlalu lapar, mereka akan merasa sangat bersalah, walaupun yang dimakan hanya sedikit. Kalau sudah merasa bersalah, mereka memuntahkan kembali makanannya. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk melakukan diet ketat demi untuk memilih tubuh yang kurus atau langsing. Penderita anoreksia nervosa memiliki rata-rata berat badannya 15% kurang dari berat badan normal. Meskipun sudah kurus, mereka masih tetap merasa tubuhnya gemuk.
Tanda-tanda seorang penderita anoriksia meliputi:
a. Kontrol asupan atau masukan makanan, biasanya membatasi masukan dengan makanan rendah kalori.
b. Kehilangan berat badan drastis semenjak penderita tidak mengizinkan dirinya untuk mengkonsumsi makanan berat. Jika dia merasa berat badannya naik, dia akan melakukan olahraga berat dan atau sengaja memuntahkan makannya untuk mengurangi berat badan.
Tanda khas lain adalah tidak mengalami menstruasi minimal 3 bulan. Hal ini terjadi karena dalam tubuhnya tidak ada nutrisi yang cukup, sehingga aktivitas hormonnya terganggu.
Prilaku anoreksia ini dapat berdampak fatal, karena menahan laparnya dilakukan mati-matian hingga kearah bunuh diri. Tanpa gizi yang cukup, tentu tubuh dan organ akan didalamnya tidak mampu bekerja dengan baik.
Kelainan ini menyebabkan beberapa perubahan dalam tubuh, yaitu: a. Penurunan berat badan ekstrem.
b. Kelainan hormon. c. Rambut rontok.
d. Penurunan sistem kekebalan tubuh. e. Mal nutrisi.
f. Kulit kering.
g. Gangguan sistem saraf. h. Sleeplessnes (insomnia).
Komplikasi medis pada penderita anoreksia nervosa adalah: a.Komplikasi metabolisme:
1. Kulit berwarna kuning. 2. Gangguan indra perasa. 3. Hipoglikemia.
b. Komplikasi gastrointestinal:
1. Perubahan pengosongan lambung. 2. Pembengkakakan kelenjar saliva. 3. Dilatasi gaster.
4. Konstipasi.
c.Komplikasi kardiovaskular: 1. Brakikardia.
2. Aritmia.
3. Efusi pericardia. 4. Edema.
5. Gagal jantung d. Komplikasi ginjal:
1. Perubahan konsentrasi urine. 2. Nefropati.
e.Komplikasi cairan dan elektrolit: 1. Dehidrasi.
2. Kelemahan. 3. Tetani.
f. Komplikasi hematologi: 1. Perdarahan. 2. Anemia. g. Komplikasi gigi:
1. Dekalsifikasi. 2. Karies.
h. Komplikasi endokrin: 1. Amenorrhea.
i. Komplikasi lain: 1. Hipotermia. 2. Bulimia nervosa.
Bulimia ialah makanan berlebihan, sesuka hati dalam periode waktu yang pendek, diikuti keinginan untuk memuntahkan atau mencuci perut dengan obat pencahar atau diuretik untuk mengontrol berat badan.
Bulimia berbeda dengan anoreksia. Penderita anoreksia berusaha keras untuk menahan lapar dan berusaha untuk tidak mkan atau hanya makan 2-3 sendok nasi per hari, penderita bulimia lebih cenderung ke binge atau berlabihan artinya penderita bulimia makan dalam jumlah banyak atau berlebihan.
Berbeda dengan penderita anoreksia, berat badan penderita bulimia biasanya normal atau sebelumnya memang obesitas, 40% mereka yang obesitas adalah menganut gaya makan binge. Ciri utama para penderita bulimia adalah memiliki kebiasaan binge dan muntah berkali-kali. Seperti halnya anorksia, bulimia juga bisa membahayakan jiwa. Bayangkan jika seorang terus-menerus memuntahkan makanan yang dikonsumsi. Tubuh mereka akan menjadi lemas, sulit berikir dan tidak ada energi beraktivitas. Apalagi jika mereka memuntahkan mkananannya dengan menggunakan alat, resiko pun bertambah. Komplikasi yang akan terjadi bersifat jangka panjang seperti kerusakan pada mulut, kerongkongan, tenggorokan, dan esophagus (saluran dari mulut ke paru). Perwujudannya berupa luka dan perdarahan. Selain itu, kelenjar liur pipinya bisa bengkak akibat tekanan pada perangsang muntah, gigi dan gusi rusak akibat sift asam muntahan, luka dan kapalan pada punggung jari akibat penusukan jari ketenggorokan. Adapun jika menggunakan pil atau obat-obatan, bisa terjadi keruakan dalam ginjal akibat penyalahgunaan obat diuretika dan gangguan pencernaan akibat obat pencahar.
Penyebab dari kedua gangguan makan tersebut adalah: a.Body Image
Dalam pandangan remaja, tubuh yang bau dalah yang langsing. Sehingga banyak yang merasa tidak percaya diri bila tubuhnya tidak langsing. Body image inilah yang menjadi trigger level munculnya gangguan makan
b. Biologis
Sebuah jurnal penelitian menyebutkan bahwa 56% anoreksia dan bulimia terjadi karena faktor genetis. Artinya, kalau ibu menderita anoreksia atau bulimia, besar kemungkinan anaknya juga mengalami hal yang sama.
c. Psikologis
bisa memicu timbulnya anoreksia atau bulimia. Fungsi psikologis lain yang memicu timbulnya anoreksia dan bulimia adalah penerapan yang tidak ralistis. Misalnya, remaja yang ingin tubuhnya selalu tampak bagus, meski sudah pernah melahirkan lebih dari sekali karena tidak berhasil dengan cara yang wajar, akhirnya mereka terjebak dalam anoreksia atau bulimia.
d. Social
Secara sosial seorang reamaja merasa lebih bisa diterima jika mereka memiliki tubuh kurus atau langsing. Maka ia akan berusa menurunkan berat badanya. Apabila jika dengan tubuh yang kurus membuat dia jadi populer, dipuji, mudah mencapai prestasi, mudah mendapat pacar, dan keuntungn lainnya. Menurut mereka, anoreksia dan bulimia menjadi cara yang paling tepat untuk mendapatkan tubuh kurus dalam waktu yang relatif cepat
e. Keluarga
Keluarga yang menerapkan pola asuh over protective bia mendorong terjadinya anoreksia atau bulimia pada remaja. Bayangka, jika ada orang tua yang sering mengkritik cara makan anak, lama-kelamaan anak akan takut sendiri jika makan karena terlalu banyak aturan. Kelaurga yang terlalu membebaskan anak untuk makan juga dapat memicu timbulnya obsesi untuk jadi kurus. Jadi setiap disuruh makan banyak, anak akan menurut, tetapi seelahnya sang anak akan memuntahkan kembali makanan yang sudah dimakannya. Orang tua yang punya kebiasaan menahan lapar atau malh meminum obat pencahar biasanya memicu anak untuk meniru.
f. Media
g. Budaya
Menjalani kebiasaan gangguan makan bisa dianggap tepat bagi mereka yang memiliki budaya high achiver, mereka berusah dengan keras untuk medapatkan sesuatu untuk mendapatkan tubuh yang langsing mereka rela menahan lapar atau memuntahkan makanan. Sebuah prinsip mereka adalah “no pain no gain”, wajarlah jika sakit yang dialami demi mendapat tubuh yang sesuai dengan keinginannya. 2.3.4 Obesitas (Kegemukan)
Obesitas diartikan sebagai peningkatan berat badan diatas 20% dari batas normal. Penderita obesitas memiliki status nutrisi yang memiliki kebutuhan metabolisme karena keebihan masukan kalori dan atau penurunan penggunaan kalori, artinya masukan kalori tidak seimbang dengan penggunaannya yang pada akhirnya berangsur-angsur berakumulasi meningkatkan berat badan.
Obesitas meningkat pada usia ini, karena penurunan aktivitas fisik dan peningkatan konsumsi tiggi lemak, tinggi karbohidrat dimana memiliki gizi rendah. Pada remaja hal ini dapat disebabkan faktor yang bersifat multifaktorial baik yang bersifat genetik, lingkungan maupun faktor psikologis. Perempuan yang mengalami berat badan berlebihan atau over weight mendapat resiko menderita penyakit sendi lebih tinggi pada saat mencapai usia menua. Walupun tidak terdapat tipe remaja obese, namun dapat dilihat pada karakteristik fisik, meliputi pematangan lebih awal, masa otot membesar dan menarche lebih awal. Adapun proses fisiologis pada remaja yang sering dihubungkan dengan obesitas adalah kelebihan berat badan. Kondisi kelebihan berat badan mereka disebabkan oleh hipertrofsi sel lemak dan hiperplasia, peningkatan level lipoprotein lipase, penurunan termogenetik potensial, insentivitas insulin, dan sifat bawaan gen.
2.3.5 Alkohol Dan Penyalahgunaan Obat.
2.3.6 Jerawat
Sekitar 50% remaja mempunyai masalah dengan jerawat. Jerawat pada remaja merupakan keadaan yang normal akibat dari pengaruh hormonal. sering makanan dituduh sebagai penyebabnya, tetapi ternyata dari berbagai penelitian tidak terbukti secara bermakna. Jerawat disebabkan oleh aktivitas yang tinggi dan kelenjar sebaseus yang berada dibawah permukaan kulit. Kelenjar in i memproduksi sebum, merupakan minyak alami yang menjaga kulit agar tetap lembut. Hormon yang aktif selama pubertas menyebabkan kelenjar sebaseus tumbuh menjadi besar dan memproduksi sebum lebih banyak. Sebum menjadi lebih tajam dan alirannya menjadi lebih lambat sehingga cenderung menyebbkan menutupnya pori-pori. Untuk mengurangi jerawat penting sekali menganjurkan remaja untuk banyak makan buah segar dan sayuran, serta hindari makan-makanan yang terlalu banyak mengandung lemak.
Jerawat sangat berhubungan dengan pemilihan makanan (makanan yang dipilih). Makanan berlemak, minuman bersoda, susu, kacang, gula, dan coklat adalah penyebab utama. Beberapa penelitian yakin jika masukkan rendah zink dan konsumsi tinggi alkohol juga merupakan penyebab. Penyebab lain yang dapat memperparah jerawat adalah stres.
2.3.7 Anemia
Remaja memiliki banyak kegiatan, seperti sekolah dari pagi hingga siang, diteruskan dengan kegiatan ekskul sampai sore, belum lagi ada les atau kegiatan tambahan: bahasa inggris, piano, berenang, basket, dan masih bnyak lagi. Semua kegiatan ini membuat mereka tidak sempat makan, apalagi memikirkan komposisi dan kadungan gizi yang masuk ke tubuh kita. Akibatnya para remaja sering merasa kelelahan, lemas, dan tidak bertenaga. Namun kondisi cepat lelah tadi bisa juga disebabkan anemia.
lain seperti vitamin dan mineral ke otak dan ke jaringan tubuh lain. Anemia terjadi bila jumlah sel darah merah secara keseluruhan atau jumlah hb dalam darh merah berkurang. Dengan berkurangnya hb atau darah merah, tentunya kemampuan sel darh merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh berkurang. Akibatnya tubuh kita juga kurang mendapat pasokan oksigen, yang menyebabkan tubuh lemas dan cepat lelah.
Jenis anemia yang sering timbul adalah kekurangan zat besi, yang terjadi bila kita kehilangan banyak darah dari tubuh ( baik karena perdarahan luka atau perdarahan menstruasi), ataupun karena makanan yang kita konsumsi kurang mengandung zat besi. Infeksi cacing tambang, malaria, ataupun disentri juga bisa menyebabkan kekurangna darah yang parah. Ada beberapa tahap sampai tubuh kita kekurangna zat besi. Mula-mula, simpanan zat besi dalam tubuh menurun. Denagn menurunnya zat besi, produksi hemoglobin dan sel darah merah berkurang.
Selain zat besi masih ada dua jenis lagi anemia yang timbul pada anak-anak dan remaja. Apalastic anemia terjadi bila sel yang memproduksi butir darah merah tidak dapat menjelaskan tugasnya. Hal ini dapat terjadi karena infeksi virus, radiasi, kemoterapi, atau obat tertentu. Adapun jenis berikutnya adalah haemolitic anemia, yang terjadi karena sel darah merah hancur secara dini, lebih cepat dari kemampuan tubuh untuk memperbaruinya. Penyebab anemia jenis ii bermacam-macam, bisa bawaan seperti talesemia atau sickle cell anemia. Pada kasus ini misalnya reaksi atas infeksi atau obat-obatan tertentu, sel darah merah dirusak sendiri oleh antiodi didalam tubuh.
Anemia (kurang darah:Hb <12 g %) sangat terkait erat dengan masalah kesehatan reproduksi (terutama pada perempuan). Jika perempuan mengalami anemia, maka akan menjadi sangat berbahaya pada waktu dia hamil dan melahirkan. Pperempuan yang menderita anemia berpotensi melahirkan bayi denag berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Di samping itu, anemia juga dapat menyebabkan kematian baik ibu maupun bayi pada proses persalinan. Tanda-tanda anemia adalah mudah lemah, letih, lesu, kurang bergairah dalam beraktifitas, sesak, dan lain-lain. Yang mungkin mengalami anemia adalah remaja.
a. Setiap bulan remaja putri mengalami menstruasi
Remaja putri yang mengalami menstruasi yang banyak selama lebih dari lima hari dikhawatirkan akan kehilnagna zat besi (membutuhkan zat besi pengganti) lebih banyak daripada reamaj putri yang menstruasinya hanya tiga hari dan sedikit.
b. Remaja putri seringkali menjaga penampilan, ingin kurus sehingga berdiet dan mengurangi makan. Diet yang tidak seimbang denagn kebutuhan tubuh akan menyebabkan tubuh kekurangna zat penting seperti zat besi.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpualan.
Kebutuhan Gizi Remaja , relatif besar , karena remaja masih mengalami masa pertumbuhan. Selain itu , remaja umumnya melakukan aktivitas fisik yang lebih tinggi dibanding dengan usia lainnya , sehingga diperlukan zat gizi yang lebih banyak .
Faktor Penyebab Masalah Gizi Remaja dan Dewasa Kebiasaan makan yang buruk, Pemahaman gizi yang keliru, Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu, Promosi yang berlebihan melalui media massa, Masuknya produk-produk makanan baru,Konsumsi makanan,Pendidikan dan pengetahuan,Jenis kelamin,Sosial ekonomi dan Aktifitas fisik.
Masalah Gizi yang sering Muncul pada Remaja dan Dewasa adalah Makan Tidak Teratur,Kehamilan usia remaja adalah kehamilan yang berlangsung pada usia 11-18 tahun. angka kejadian kehamilan pada usia remaja cukup tinggi dan cenderung meningkat . kehamilan pada remaja terkait etar dengan ketergesaan remaja mempraktikkan hubungan seksuual,Gangguan Makan ,Terdapat dua macam gangguan makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. Obesitas (Kegemukan),Alkohol Dan Penyalahgunaan Obat, Jerawat dan Anemia.
3.2 Saran