pada Anggota Komunitas Backpacker Indonesia Regional
Surabaya dengan Kepercayaan terhadap Dunia Maya
sebagai Intervening Variabel
Septalia Meta Karina
Suryanto
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Korespondensi: Septalia Meta Karina. Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya. Jalan Dharmawangsa Jalan Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286, Telp. (031) 5032770, (031) 5014460, Fax (031) 5025910. Email: [email protected]
Abstract.
This study has three aims. First, it aims to analyze the impact of self-disclosure to social acceptance at the members of Backpacker Indonesia Community regional Surabaya Indonesia. Secondly, to analyze the impact of trust on cyberspace to social acceptance at the members of Backpacker Indonesia Community Surabaya regional. Third, to analyze the impact of self-disclosure to social acceptance in at the members of Backpacker Indonesia Community Indonesia Surabaya regional with trust on cyberspace as intervening variable. The author adds trust on cyberspace as intervening variable, because Backpacker Indonesia Community, which is the context of this study, is virtual community. The research was conducted at Backpacker Indonesia Community Surabaya regional. Subjects in this study were members who have joined at least for a year that has been chosen randomly. Scale data collection tool in the form of self-disclosure, social acceptance, and trust on cyberspace by the authors.
The data was analyzed by using path analysis with the help of SPSS 16.0 for windows. Based on the data analyzed obtained three results. First, there is an impact between self disclosure to social acceptance at members of Backpacker Indonesia Community regional Surabaya. Second, there is no impact between trust of cyberspace to social acceptance at members of Backpacker Indonesia Community regional Surabaya. Three, there is no impact between self disclosure to social acceptance at members of Backpacker Indonesia Community regional Surabaya with trust on cyberspace as intervening variable.
Keywords: self disclosure, social acceptance, trust on cyberspace
Abstrak.
Penelitian ini memiliki tiga tujuan penelitian. Pertama, bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterbukaan diri terhadap penerimaan sosial pada anggota komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya. Kedua, untuk menganalisis pengaruh kepercayaan pada dunia maya terhadap penerimaan sosial pada anggota komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya. Ketiga, untuk menganalisis pengaruh keterbukaan diri terhadap penerimaan sosial pada anggota komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya dengan kepercayaan terhadap dunia maya sebagai intervening variable. Penulis menambahkan kepercayaan terhadap dunia maya sebagai intervening variable, dikarenakan Komunitas Backpacker Indonesia, yang menjadi konteks di dalam penelitian merupakan komunitas virtual.
demikian. Sekelompok orang bisa saja tergabung
A. Latar Belakang
dalam suatu komunitas, meskipun tidak terjadi Hasil riset memperlihatkan bahwa
pertemuan tatap muka di antara mereka, hal inilah pertumbuhan penggunaan Internet di Indonesia
yang disebut dengan komunitas virtual. terus meningkat. Jika di tahun 2010 lalu rata-rata
Komunitas virtual atau yang biasa disebut dengan penetrasi penggunaan Internet di kota urban
komunitas online adalah adalah sekelompok Indonesia masih berkisar diantara 30 hingga 35
orang yang menggunakan internet sebagai media persen, di tahun 2011 ini ditemukan oleh MarkPlus
utama dalam berkomunikasi dan tidak Insight bahwa angkanya sudah di kisaran 40
mengandalkan pertemuan langsung secara fisik hingga 45 persen. Hasil riset, yang dirilis oleh
(Jasmadi, 2008). Majalah Marketeers ini, dilakukan oleh MarkPlus
Di dalam sebuah komunitas perlu Insight terhadap 2161 pengguna Internet di
dikembangkan jaringan sosial diantara para Indonesia memberikan gambaran jelas mengenai
anggotanya guna mendorong kemampuan tren penggunaan Internet di Indonesia. Menurut
kolektif untuk mencapai kepentingan bersama, MarkPlus Insight, jumlah pengguna Internet di
sehingga dapat terbangun kekompakan dan Indonesia pada tahun 2011 ini sudah mencapai 55
solidaritas dalam suatu komunitas (Badarudin, juta orang, meningkat dari tahun sebelumnya di
dalam Nasution, 2005). Hubungan sosial yang angka 42 juta (TeknoKompas).
positif dalam suatu komunitas hanya akan dapat Maraknya penggunaan internet di Indonesia
terwujud apabila terdapat penerimaan sosial yang tentu membawa pengaruh pada sistem interaksi
tinggi diantara para anggotanya.Salah satu kondisi sosial yang terjadi di dalamnya. Komunitas virtual
yang menyebabkan individu diterima oleh pun semakin berkembang menjadi media
lingkungan sosialnya adalah sifat kepribadian interaksi baru bagi masyarakat Indonesia. Sebagai
yang dapat menimbulkan penyesuaian sosial yang media interaksi sosial yang baru, internet juga
baik seperti jujur, setia, tidak mementingkan menawarkan kesempatan bagi pengguna untuk
kepentingan diri sendiri, dan ekstraversi (Hurlock, mengembangkan hubungan pribadi dengan orang
1973). lain, bahkan berbagi identitas (Rheingold, 1993;
Sebagai sebuah komunitas virtual, proses Walthier, 1995).
interaksi yang terjadi dalam Komunitas Komunitas Backpacker Indonesia adalah
Backpacker Indonesia, tentu berbeda dengan sebuah komunitas virtual yang mewadahi para
proses interaksi yang terjadi pada komunitas riil. pecinta backpacking dan travelling. Jika dahulu
Interaksi sosial yang terjadi pada dunia maya komunitas selalu identik dengan sekelompok
memberikan kesempatan kepada individu untuk orang yang berkumpul bersama untuk
mengelola ambigiutas strategi serta melakukan mengadakan pertemuan tatap muka dalam suatu
aktivitas manajemen kesan (impression kegiatan tertentu, namun sekarang tidaklah
management) dengan tujuan untuk menciptakan penelitian ini adalah anggota yang telah bergabung minimal selama satu tahun yang telah dipilih secara random. Alat pengumpul data berupa skala keterbukaan diri, penerimaan sosial, dan kepercayaan terhadap dunia maya yang disusun sendiri oleh penulis.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisa jalur dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Dari hasil analisis data penelitian diperoleh tiga hasil penelitian. Pertama, terdapat pengaruh antara keterbukaan diri dengan penerimaan sosial pada anggota Komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya. Kedua. Tidak terdapat pengaruh antara kepercayaan pada dunia maya terhadap penerimaan sosial pada anggota Komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya. Ketiga, tidak terdapat pengaruh antara keterbukaan diri terhadap penerimaan sosial pada anggota Komunitas Backpacker Indonesia regional Surabaya dengan kepercayaan terhadap dunia maya sebagai intervening variable.
dan memelihara sebuah kesan stabil dan positif Ad a pu n Hu rl ock ( 19 7 3: 92 ) ya n g tentang diri sendiri yang dapat mempengaruhi mengartikan penerimaan sosial sebagai suatu persepsi orang lain dalam interaksi sosial. keadaan dimana keberadaan seseorang ditanggapi Berdasarkan uraian diatas dapat diambil secara positif oleh orang lain dalam suatu suatu kesimpulan bahwa di dalam lingkungan hubungan yang dekat dan hangat dalam suatu virtual, setiap orang bebas untuk menampilkan kelompok. Penerimaan sosial juga berarti dipilih diri seperti apa yang diinginkan serta bebas pula sebagai teman untuk suatu aktifitas dalam menginterpretasi penampilan diri seseorang yang kelompok dimana seseorang menjadi anggota. Ini ditampilkan melalui dunia maya. Sehingga, merupakan indeks keberhasilan yang digunakan penulis memutuskan untuk menggunakan konsep seseorang untuk berperan dalam kelompok sosial keterbukaan diri dengan kepercayaan terhadap dan menunjukkan derajat rasa suka anggota dunia maya sebagai intervening variable untuk kelompok yang lain untuk bekerja sama atau meneliti tentang penerimaan sosial yang dimiliki bermain dengannya (Hurlock, 1997). Sementara oleh anggota komunitas tersebut. itu pengertian penerimaan sosial menurut Berk (dalam Habibah, 2000) adalah kemampuan seseorang, sehingga ia dihormati oleh anggota
B. Tujuan Penelitian
kelompok yang lainnya sebagai partner sosial yang Tujuan penulis melaksanakan penelitian ini
berguna. Sedangkan menurut Leary (2010), adalah:
penerimaan sosial berarti adanya sinyal dari orang 1. Untuk menganalisis pengaruh keterbukaan
lain yang ingin menyertakan seseorang untuk diri terhadap penerimaan sosial pada anggota
tergabung dalam suatu relasi atau kelompok komunitas Backpacker Indonesia regional
sosial. Leary juga menyatakan bahwa peneriman Surabaya.
sosial terjadi pada kontinum yang berkisar dari 2. Untuk menganalisis kepercayaan pada dunia
menoleransi kehadiran orang lain hingga secara maya terhadap penerimaan sosial pada
aktif menginginkan seseorang untuk dijadikan anggota komunitas Backpacker Indonesia
partner dalam suatu hubungan. Hubungan regional Surabaya.
interpersonal ditandai oleh penerimaan sosial 3. Untuk menganalisis pengaruh keterbukaan
yang dilihat sebagai aspek yang fundamental bagi diri terhadap penerimaan sosial pada anggota
keberlangsungan hidup manusia (Miller, 2003). komunitas Backpacker Indonesia regional
Dari beberapa definisi diatas penulis pun Surabaya dengan kepercayaan terhadap
menyimpulkan bahwa penerimaan sosial adalah d u n i a m a y a s e b a g a i i n t e r v e n i n g
kesediaan individu menerima kehadiran orang variable.
lain dan melibatkan mereka dalam suatu interaksi sosial guna mengembangkan relasi sosial yang
C. Landasan Teori
positif. Dalam penelitian ini penulis ingin
1. Penerimaan Sosial
(Social
mengukur penerimaan sosial yang dimiliki olehAcceptance)
anggota Komunitas Backpacker IndonesiaPenerimaan menurut Tailor (dalam regional Surabaya terhadap anggota yang lainnya. Rakhmat, 1999: 131) adalah kemampuan untuk Penerimaan sosial dalam penelitian ini dapat berhubungan dengan orang lain, tanpa menilai diukur melalui bagaimana seorang subjek menilai dan tanpa mengendalikan. Menerima adalah sikap anggota kelompok yang lain. Dari definisi yang dapat melihat orang lain sebagai individu, konseptual yang telah dirangkum oleh penulis, sebagai manusia yang patut dihargai. Menurut akhirnya dapat dirumuskan bahwa indikator dari Rakhmat (1999: 167) menerima berarti lebih penerimaan sosial adalah:
menekankan dan memandang orang sebagai a) Keinginan untuk berinteraksi dengan orang person bukan sebagai objek. Gambaran tentang lain.
manusia yang merasa diterima ialah apabila dia b) Adanya kepercayaan yang diberikan kepada merasa diperhatikan, didukung secara emosional, orang lain.
dan merasakan hubungan yang erat dengan orang c) Kesamaan (similarity) yang dirasakan
c) Tingginya intensitas dalam berinteraksi
2. K e t e r b u k a a n D i r i
( S e l f
melalui dunia maya.
Disclosure)
d) Kebenaran informasi yang disampaikan Keterbukaan diri didefinisikan sebagai
melalui dunia maya. sebuah pesan tentang diri bahwa seseorang
melakukan komunikasi dengan orang lain (Cozby,
3. Kepercayaan terhadap Dunia
1973; Wheeless, 1978; Wheeless & Grotz, 1976).Maya
Altman dan Taylor (1973) mengemukakan bahwaketerbukaan diri merupakan kemampuan Wo r c h e l ( d a l a m D a r s o n o, 2 0 0 7 ) seseorang untuk mengungkapkan informasi diri mendefinisikan trust sebagai kesediaan kepada orang lain yang bertujuan untuk mencapai (willingness) individu untuk menggantungkan hubungan yang akrab. Sedangkan Person (1987) dirinya pada pihak lain dengan resiko tertentu. mengartikan keterbukaan diri sebagai tindakan Moorman, Deshpande, dan Zaltman (dalam seseorang dalam memberikan informasi yang Darsono, 2007). mendefinisikan trust sebagai bersifat pribadi pada orang lain secara sukarela kesediaan (willingness) individu untuk dan disengaja untuk maksud memberi informasi menggantungkan dirinya pada pihak lain yang
yang akurat tentang dirinya. terlibat dalam pertukaran karena individu
Keterbukaan diri adalah komponen kunci mempunyai keyakinan kepada pihak lain tersebut. dalam pengembangan hubungan pribadi karena Dua pendapat tersebut menekankan unsur dapat menumbuhkan kedekatan (Derlega, kesediaan (willingness) dan keyakinan dalam Winstead, Wong, & Greenspan, 1987). trust.
Keterbukaan diri memainkan peran penting Habermas (1984) memandang trust sebagai dalam pengembangan hubungan sosial antar prasyarat untuk tindakan komunikatif yang individu (Greene, Derlega, & Mathews, 2006). mengatur interaksi sosial dan politik. Trust harus Rogers (1980) mengatakan bahwa hubungan memainkan peran penting dalam setiap interaksi interaksi seseorang dalam keterbukaan diri yang dimana setiap individu memiliki harapan yang didasari perasaan yang tulus, penerimaan pada tinggi terhadap orang lain. Adam Seligman (1997) orang lain, dan rasa empati membuat hubungan mendefinisikan trust secara lebih sempit, yakni
menjadi lebih akrab. “trust sebagai fungsi dari agen sosial.” Trust yang
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil dimiliki oleh orang-orang tidak dapat terpisahkan suatu kesimpulan bahwa keterbukaan diri ialah dari trust dalam sistem yang abstrak. Interaksi kesediaan individu dalam mengungkap informasi interpersonal termasuk ekspektasi dari aturan yang bersifat pribadi tentang diri sendiri kepada yang di asosiasikan dengan sistem trust.
orang lain secara sukarela dalam rangka Giddens (1990) membedakan antara trust mengembangkan kedekatan (intimacy) terhadap pada orang-orang dan trust pada suatu sistem yang lawan interaksinya. Dimana dalam penelitian ini, abstrak. Giddens berpendapat bahwa sistem penulis ingin mengkaji tingkat keterbukaan diri abstrak yang menawarkan keamanan dalam yang dimiliki oleh masing-masing anggota dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga membawa suatu Komunitas Backpacker Indonesia regional permasalahan tentang “jarak ruang-waktu”. Surabaya, yang diasumsikan akan berdampak Khususnya adanya transformasi teknologi sebagai pada penerimaan sosial diantara para anggotanya. jalan dari interaksi sosial. Orang-orang terdorong Berdasarkan definisi konseptual dari untuk membangun relasi keluar yang saling keterbukaan diri yang telah disimpulkan oleh menguntungkan dari konteks lokal dan secara penulis, akhirnya di dapatkan beberapa indikator reflektif mendefinisikan ulang personal identitas dari keterbukaan diri yang sesuai dengan konteks dibawah lingkungan material yang baru.
penelitian, yakni: Kepercayaan terhadap dunia maya berarti
a) Kejujuran dalam repersentasi diri nyata ke kepercayaan serta harapan yang dimiliki oleh
dunia maya. individu terhadap dunia maya atau interaksi online
b) Interaksi yang berorientasi pada tujuan sebagai sarana untuk melakukan interaksi sosial.
sangat mirip dengan interaksi langsung. Melalui
E. Metode Penelitian
interaksi online sangat memungkinkan terjadinya Berdasarkan tujuan penelitian, penelitian ini interaksi sosial. Seseorang yang memiliki merupakan penelitian eksplanatori karena penulis kepercayaan terhadap dunia maya adalah berusaha untuk menguji akurasi teori atau prinsip seseorang yang melakukan pertukaran harapan yang telah ada dan menguraikan serta melaui dunia maya. Komunitas virtual mengacu memperkaya penjelasan teori yang lebih baik atas pada dimana seseorang hidup dan berkerja suatu fenomena (Neuman, 2000).
bersama-sama di balik cahaya gelombang Berdasarkan teknik pegumpulan data yang elektromagnetik. Melalui komunitas virtual, digunakan, penelitian ini digolongkan ke dalam masih sangat memungkin bagi masing-masing penelitian survey dengan kuesioner sebagai alat individu untuk berkomunikasi antara satu sama pengumpul data utama.
lain tanpa adanya kehadiran fisik. Dalam pengumpulan data, penulis
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan menyusun sendiri skala penerimaan sosial (15 bahwa kepercayaan terhadap dunia maya adalah aitem valid), skala ketebukaan diri (36 aitem valid), kesediaan individu yang disertai dengan harapan dan kepercayaan terhadap dunia maya (34 aitem dan keyakinan untuk menggantungkan hidupnya valid) berdasarkan indikaor yang telah diturunkan pada keberadaan dunia maya sebagai sarana untuk dari definisi konseptual dari masing-masing
melakukan interaksi sosial. variabel. Skala ini kemudian diuji cobakan
Berdasarkan definisi konseptual dari kelompok ujicoba dan dilakukan penghitungan kepercayaan terhadap dunia maya yang telah nilai reliabilitas dengan menggunakan bantuan disimpulkan oleh penulis, akhirnya di dapatkan SPSS for Windows 16.0. Berdasarkan uji coba beberapa indikator kepercayaan terhadap dunia tersebut, didapatkan reliabilitas (r) untuk skala
maya, yakni: penerimaan sosial sebesar 0.925, skala
a) Ketertarikan terhadap dunia maya. keterbukaan diri sebesar 0.873, dan skala b) Keterhandalan yang dirasakan terhadap kepercayaan terhadap dunia maya sebesar 0.846.
dunia maya.
c) Tingginya frekuensi pengunaaan dunia maya
F. Hasil Penelitian dan Pembahasan
dibanding media lainnya.
1. Hasil Penelitian
d) Usaha untuk mengembangkan diri melalui
Penulis melakukan penelitian ini dengan dunia maya.
menggunakan sampel penelitian sebanyak 52 anggota Komunitas Backpacker Indonesia
D. Hipotesis
regional Surabaya yang dipilih melalui purposiveDalam penelitian ini, penulis memberikan sampling dan simple random sampling. Setelah dua hipotesis penelitian sebagai berikut: mengumpulkan data, penulis kemudian
Hipotesis 1 : Ada pengaruh keterbukaan diri m e l a k u k a n 4 u j i a s u m s i , y a i t u u j i terhadap penerimaan sosial pada anggota multikoliniearitas, uji heterokedastisitas, ouliers, Komunitas Backpacker Indonesia regional dan uji normalitas. Hasil perhitungan tolerance
Surabaya. menunjukkan tidak terdapat variabel independen
Hipotesis 2 : Ada pengaruh kepercayaan pada yang memiliki nilai tolerance < 0,10. Hasil
dunia maya terhadap penerimaan sosial pada perhitungan VIF menunjukkan tidak terdapat anggota Komunitas Backpacker Indonesia variabel independen yang nilai VIF > 10 sehingga
regional Surabaya. asumsi multikolonieritas terpenuhi. Untuk uji
Hipotesis 3: Ada pengaruh keterbukaan diri heterokedastisitas, terlihat bahwa titik-titiknya
distance sebesar 0,287 sehingga tidak ada (kepercayaan terhdap dunia maya). Sehingga permasalahan yang berkaitan dengan outlier. dapat disimpulkan kepercayaan terhadap Untuk uji normalitas, didapatkan hasil bahwa baik dunia maya tidak memediasi hubungan data penerimaan sosial, keterbukaan diri, maupun antara keterbukaan diri dengan penerimaan kepercayaan terhadap dunia maya sama-sama sosial.
berdistribusi normal.
Kemudian penulis melakukan uji analisa 2.
Pembahasan
jalur. Pengujian ini digunakan untuk menguji Hasil uji hipotesis yang pertama mendukung pengaruh antara variabel x, y, dan z. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Calvaro dan analisis statistik yang telah dilakukan, terdapat Pelham (2006) yang berjudul When Fiends Become tiga hasil penelitian: Friends: The Need of Belong and Perceptions of a) Terdapat pengaruh antara variabel Personal and Group Discrimination yang keterbukaan diri dengan penerimaan sosial mendapatkan suatu kesimpulan bahwa dalam
2
dengan skor R square atau R atau koefisien berperilaku seorang indivdiu lebih berorientasi determinasi sebesar 0,440. Hal ini berarti pada tujuan interpersonal daripada motif pribadi bahwa 44% variasi penerimaan sosial dapat seperti halnya kebutuhan seksual dan kebutuhan dijelaskan oleh variasi keterbukaan diri. akan kekuasaan.
Sedangkan sisanya 56% dijelaskan oleh Hubungan antara keterbukaan diri dengan sebab-sebab lain di luar model. Dalam tabel penerimaan sosial adalah hubungan yang positif, correlation diketahui bahwa keterbukaan yang berarti bila individu memiliki kesediaan diri memiliki korelasi yang sangat kuat untuk mengungkapkan informasi yang bersifat dengan penerimaan sosial. Untuk pribadi tentang diri sendiri kepada orang lain, signifikansi dapat diketahui di dalam maka individu tersebut juga akan memiliki coefficient sebesar 0,000 atau p < 0,05 kesediaan untuk menerima kehadiran orang lain s e h i n g g a d a p a t d i k a t a k a n b a hwa dan melibatkan mereka dalam interaksi sosial keterbukaan diri berpengaruh terhadap (Lumsden, 1996).
penerimaan sosial. Hasil uji hipotesis kedua sejalan dengan
b) Tidak terdapat pengaruh antara kepercayaan pendapat yang dikemukakan oleh Wellman dan pada dunia maya terhadap penerimaan sosial Gulia (1999) yang menyatakan interaksi online dengan skor R square atau koefisen sangat mirip dengan interaksi tatap-muka. determinasi sebesar 0,004. Hal ini berarti Seorang individu ada di dalam suatu masyarakat bahwa 0,004% variasi penerimaan sosial karena dia memiliki akses informasi, baik itu dapat dijelaskan oleh variasi keterbukaan masyarakat riil ataupun virtual. Ruang informasi diri. Sedangkan sisanya 99,6% dijelaskan itulah membuat interaksi sosial menjadi mungkin. oleh sebab-sebab lain di luar model. Karena orang-orang masih dapat berkomunikasi c) Tidak terdapat pengaruh antara keterbukaan dengan orang lain tanpa adanya kehadiran fisik.
diri terhadap penerimaan sosial dengan Aktivitas manajemen kesan yang terjadi pada kepercayaan terhadap dunia maya sebagai interaksi di dunia maya tidak hanya dipengaruhi intervening variable dengan skor T hitung oleh fakor internal saja (kepercayaan) melainkan sebesar 0,194 dan T tabel sebesar 0,114 juga faktor ekternal, seperti tujuan yang hendak dengan tingkat signifikansi 0,303. Dari skor dicapai melalui aktivitas manajemen kesan yang diperoleh terlihat bahwa T hitung > T tersebut (Jones & Pittman dalam Park, Jin & Jin tabel, akan tetapi dengna tingkat signifikansi 2009).
penerimaan sosial yang tinggi, terlepas dari terlebih dahulu kepada calon subjek melalui seberapa tinggi tingkat kepercayaan terhadap direct message.
dunia maya yang dimilikinya. b) Pe n u l i s m e r a s a k e s u l i t a n u n t u k Akhirnya dapat disimpulkan bahwa hasil mendapatkan jumlah sample yang penelitian ini telah menjawab tujuan penelitian dibutuhkan, dikarenakan tidak semua subjek yaitu untuk mengetahui apakah terdapat bersedia mengisi kuesioner yang diberikan pengaruh keterbukaan diri terhadap penerimaan secara online oleh penulis.
sosial pada anggota Komunitas Backpacker c) Tidak adanya kontroldari penulis terhadap Indonesia regional Surabaya dengan kepercayaan subjek saat melakukan pengisian kuesioner, terhadap dunia maya sebagai intervening variabel. karena pengisian kuesioner dilakukan secara Dan dengan melihat analisa statistiknya, setelah online.
memasukkan varaibel kepercayaan terhadap
dunia maya, ternyata masih terdapat pengaruh G.
Kesimpulan
langsung antara keterbukaan diri terhadap Berdasarkan penelitian yang telah penerimaan sosial. Sehingga dapat dikatakan dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :
tidak terdapat pengaruh keterbukaan diri a. Hipotesis 1 diterima, yang menandakan terhadap penerimaan sosial pada komunitas terdapat pengaruh antara keterbukaan diri Backpacker Indonesia Regional Surabaya dengan terhadap penerimaan sosial pada anggota kepercayaan terhadap dunia maya sebegai Komunitas Backpacker Indonesia regional intervening variabel. Akan tetapi perlu diingat Surabaya.
bahwa hasil penelitian ini hanya dapat b. Hipotesis 2 ditolak, yang menandakan digeneralisasikan pada populasi penelitian saja, tidak terdapat pengaruh antara kepercayaan yaitu pada anggota Komunitas Backpacker pada dunia maya terhadap penerimaan sosial Indonesia regional Surabaya, dan bukan pada pada anggota Komunitas Backpacker anggota Komunitas Backpacker Indonesia secara Indonesia regional Surabaya.
keseluruhan. c. Hipotesis 3 ditolak, yang menandakan
Adapun hambatan yang dialami oleh penulis tidak terdapat pengaruh keterbukaan diri ketika melakukan penelitian ini adalah: terhadap penerimaan sosial pada anggota a) Proses pengambilan data memerlukan waktu Komunitas Backpacker Indonesia regional yang lama. Karena sebelum sebelum Surabaya dengan kepercayaan terhadap pembagian kuesioner secara online dunia maya sebagai intervening variable. dilakukan, penulis harus meminta kesediaan
PUSTAKA ACUAN
Calvaro, M., & Pelham, B.W. (2006) When Fiends Become Friends: The Need of Beong and Perceptions of Personal and Group Discrimination. Journal of Personality and Social Psychology 2006, Vol. 90, No 1, 94-108.
Corey, G. (1986). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy (3rd ed.). Monterey, California: Brooks, Cole Publishing Company.
Fukuyama, F. (1995). Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity. New York: Free- Press Paperbacks.
Latipun. (2002). Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.
Laudon, K. C., & Jane P. L.. (2007). Management Information Systems Managing the Digital Firm. Tenth Edition. Pearson Prentice Hall
Leary, M.R. (2010). (See References). A comprehensive review for readers wishing to expand their knowledge on the field of social acceptance and rejection.
Neumann, W. L. (2000). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approach – 4 th edition. Allyn & Bacon: Boston.
Wahyudi, R. (2011, Oktober). Naik 13 Juta, Pengguna Internet Indonesia 55 Juta Orang. TeknoKompas [on-l i n e ] . D i a k s e s p a d a t a n g g a [on-l 1 5 A g u s t u s 2 0 1 2 d a r i
.