MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN “Permasalahan HAM Mengenai Kasus
Wasior (2001) dan Wamena (2003) di Papua”
Disusun oleh :
Nama : Puji Nur Rahayu
NIM : 135040200111055
Kelas : N
Dosen : Mohamad Anas, M. Phil
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Hak merupakan unsur normatif yang melakat pada diri setiap manusia sejak manusia masih dalam kandungan sampai akhir kematiannya. Di dalamnya tidak jarang menimbulkan gesekan – gesekan antar individu dalam upaya pemenuhan HAM pada diri sendiri. Hal inilah yang kemudian bisa memunculkan pelanggaran HAM seseorang individu terhadap individu lain, kelompok terhadap individu, ataupun sebaliknya.
Setelah reformasi tahun 1998, indonesia mengalami kemajuan dalam bidang penegakan HAM bagi seluruh warganya. Istrumen- instrumen HAM pun didirkan sebagai upaya menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih optimal. Namun seiring dengan kemajuan ini, pelanggaran HAM kemudian juga sering terjadi di sekitar kita. Salah satu contoh pelanggaran HAM berat yang sampai sekarang belum terselesaikan dan mendapat solusi yang jelas adalah kasus Wasior 2001 dan Wamena 2003 di Papua, kasus ini “mandeg” karena masing-masing pihak tetap pada pendiriannya, Kejaksaan Agung mengembalikan berkas karena dianggap berkas belum memenuhi syarat sedangkan KOMNAS HAM Papua beranggapan berkas tersebut sudah memenuhi syarat sesuai dengan Undang-Undang.
Dalam makalah ini akan membahas mengenai kasus Wasior 2001 dan Wamena 2003 yang merupakan kasus pelanggaran HAM berat tetapi belum mendapat tanggapan yang serius dari pihak Kejaksaan Agung, Hak asasi korban telah dirampas tetapi tidak mendapat perlakuan sama sekali.Sehingga dalam pembuatan makalah ini diharapkan menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan tersebut.
1.2 Tujuan
BAB II
LANDASAN TEORI
Pelanggaran HAM berat yang menjadi yurisdiksi dari Pengadilan HAM hanya meliputi dua jenis kejahatan yaitu :
Pertama, kejahatan Genosida. Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis,kelompok agama, dengan cara: a) membunuh anggota kelompok, b) mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggotaanggota kelompok, c) menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya, d) memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, dan e) memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain. Secara umum pengertian dan penjelasan mengenai kejahatan genosida dalam UU no. 26 Tahun 2000 tidak berbeda dengan pengertian kejahatan genosida menurut statuta Roma tahun 1998.
BAB III STUDI KASUS
Kasus pelanggaran HAM di Wasior berawal dari konflik antara masyarakat yang menuntut ganti rugi atas hak ulayat yang dirampas oleh perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan. Dalam aksi masyarakat pada akhir bulan Maret 2001 tiba-tiba saja “kelompok tidak dikenal bersenjata” menembak mati 3 orang karyawan PT. DMP. Paska penembakan, Polda Papua dengan dukungan Kodam XVII Trikora melakukan“Operasi Tuntas Matoa”.
Operasi ini telah menyebabkan korban dikalangan masyarakat sipil. Berdasarkan laporan Komnas HAM telah terjadi indikasi kejahatan HAM dalam bentuk: 1. Pembunuhan (4 kasus); 2. Penyiksaan (39 kasus) termasuk yang menimbulkan kematian (dead in custody); 3. Pemerkosaan (1 kasus); dan 5. Penghilangan secara paksa (5 kasus); 6. Berdasarkan investigasi PBHI, terjadi pengungsian secara paksa, yang menimbulkan kematian dan penyakit; serta 7. Kehilangan dan pengrusakan harta milik.
Kasus indikasi kejahatan HAM di Wamena terkait dengan respon aparat militer atas kasus massa tak dikenal yang membobol gudang senjata Markas Kodim 1702/Wamena pada 4 April 2003. Pembobolan ini telah menewaskankan dua anggota Kodim dan seorang luka berat. Kelompok penyerang diduga membawa lari sejumlah pujuk senjata dan amunisi. Dalam rangka pengejaran terhadap pelaku, aparat TNI-Polri melakukan penyisiran, penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan atas masyarakat sipil, sehingga menciptakan ketakutan masyarakat Wamena.
Berberdasarkan laporan Komnas HAM telah terjadi indikasi kejahatan HAM dalam bentuk: 1. Pembunuhan (2 kasus); 2. Pengusiran penduduk secara paksa yang menimbulkan kematian dan penyakit (10 kasus); 3. Perampasan kemerdekaan fisik lain secara sewenang-wenang (13 kasus); 4. Penghilangan dan pengrusakan harta milik (58 kasus); 5. Penyiksaan (20 kasus); 6 penembakan (2 kasus); 9 orang menjadi Narapidana Politik (NAPOL).
BAB IV ANALISIS
Masalah Wasior 2001 dan Wamena 2003 merupakan pelanggaran HAM berat,diatur dalam Undang-Undang yakni Pasal 9 UU No 26 Tahun 2000 ( Unsure Kejahatan Kemanusiaan ), dan juga mengandung unsure pelanggaran hak asasi manusia dalam pasal ini menyebutkanmbahwa: “Kejahatan terhadap kemanusiaan … adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa: a) pembunuhan, b) pemusnahan, c) perbudakan, d) pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, e) perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenangwenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional, f) penyiksaan, g) perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemanduan atau sterilisasi secara paksa atau bentukbentuk kekerasan seksual lain yang setara...”. Tetapi walaupun termasuk pelanggaran HAM berat kasus ini dianggap seperti masalah biasa saja. Kasus ini sudah terjadi 11 tahun lalu tetapi sampai sekarang belum menemui ujung. Pada tanggal 14 Juli 2013 tahun lalu,sampai-sampai NAPAS (National Papua Solidarity) menggelar aksi Lilin Kemanusian Papua (LinK-Papua) untuk mengingatkan kejadian Wasior dan Wamena Berdarah secara serentak di Jakarta maupun diluar Jakarta seperti Salatiga, Jombang, Semarang, Surabaya, Bandung, Bogor, Bali; dan untuk Papua dan Papua Barat akan dipusatkan di Jayapura dan Sorong; sedangkan diluar negeri akan digelar di Manila, Austalia dan Amerika Serikat, lantaran mereka merasa kesal, karena Komnas HAM dan Kejaksaan Agung dinilai lamban menyelesaikan kasus tersebut. Mereka merasa masing-masing pihak paling berpegang teguh pada pendiriannya.”Kejaksaan Agung mengembalikan berkas itu kepada Komnas HAM karena menganggap berkasnya kurang lengkap. Sementara Komnas HAM berpendapat bahwa mereka sudah melakukannya sesuai dengan undang-undang", Kejadian ini telah memberikan impunitas kepada para pelaku dan menjauhkan keadilan bagi para korban(VIVAnews,2013).
Solusi :
2. Pemberian ganti rugi atas adanya kasus tersebut yang banyak memakan korban karena pengusiran dari kampung halaman sehingga terserang penyakit,kelaparan, dan kematian, pembunuhan,penyiksaan,dll, sehingga para korban yang masih hidup atau keluarga korban mendapat keadilan atas kasus yang pernah dialaminya.
3. Mengingatkan kembali KOMNAS HAM untuk mempertanyakan berkas Kasus Wasior ke Jaksa Agung yang sudah diserahkan pada 14 Juli 2004.
4. Tugas baru untuk masa Pemerintahan baru “Jokowi”,karena beliau sudah berjanji pada masa kampanye akan menuntaskan kasus 7 kasus pelanggaran HAM yang terjadi pada masa lampau agar tidak dihantui oleh masalah lampau yang salah satunya adalah masalah Wasior-Wamena ini.
5. Perlu penanaman kembali dasar-dasar kemanusiaan pada setiap diri seorang bangsa sehingga setiap manusia bisa menghargai hak-hak orang lain. Selain itu kita juga harus menuntaskan kewajiban kita terhadap orang lain sehingga tidak ada perampasan hak yang menimbulkan perpecahan dan kerusuhan.Begitu pula untuk para “Kaum bersenjata” jangan asal lepaskan peluru kepada manusia yang bukan sasarannya, cari dulu sasaran yang tepat baru ditembak karena “Setiap manusia memiliki hak yang sama”.
Perlu untuk kembali mengingatkan keseriusan dan tanggungjawab negara untuk penegakan HAM di negeri ini. Bila penegakan HAM di Papua tidak mengalami kemajuan, maka konflik dan kekerasan akan terus berulang. Penanganan serius kejahatan kemanusiaan di Papua dapat membuka jalan untuk mengawali dialog damai untuk mengakhiri konflik.
KESIMPULAN :
DAFTAR PUSTAKA
Halili.2010. Pengadilan Hak Asasi Manusia dan Pelanggaran Budaya Impunitas. CIVICS. Jurnal Kajian Kewarganegaraan volume 7, nomor 1/Juni 2010.
Kodrati, Finalia dan Arie Dwi Budiawati dalam VIVAnews.2013. http://nasional. news.viva. co.id/news/read/428826-aksi-damai-tuntut-penyelesaian-kasus-wasior-wamena diakses pada tanggal 23 Desember 2014.
Kompas. 2014. http://nasional.kompas.com/read/2014/12/09/15242571/Relawan. Jokowi. Desak.Penuntasan.Kasus.Pelanggaran.HAM diakses tanggal 23 Desember 2014.
Tempo.2010. http://www.tempo.co/topik/masalah/86/Kasus-Wamena-dan-Wasior diakses tanggal 23 Desember 2014.
Tim Koalisi LSM untuk Perlindungan dan Penegakkan Hak Asasi Manusia di Papua. 2003.