PERSPEKTIF MA’ANI ADAWATUT ISTIFHAM DALAM BAHASA AL-QUR’AN (STUDI SEMANTIK)
Lailatul Zuhriyah
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri
ABSTRAK : Kaidah istifham dalam bahasa al-Qur‟an memiliki makna-makna tertentu mengikuti siyaq dalam konteks kalimat yang disampaikan. Istifham berfungsi menuntut kepahaman akan sesuatu yang ingin dicarinya ataupun ingin mengetahuinya. Huruf
istifham dalam penggunaannya memiliki aturan tersendiri, banyak fungsi istifham yang keluar dari makna aslinya, dimana banyak unsur-unsur balaghah yang terkandung dalam kalimatnya, seperti tholab (mencari), amr (perintah), nahy (larangan), tamanna
(pengharapan), taswiyah (persamaan) dan sebagainya. Semua unsur-unsur pemaknaan tersebut terankum dalam ilmu ma‟ani.Ilmu Ma‟ani adalah pengetahuan untuk menentukan beberapa kaidah untuk pemakaian kata sesuai dengan keadaan (situasi dan kondisi). Penggunaan istifham dalam al-Qur‟an sebagai khitab atau pesan Allah SWT yakni untuk mengakomodir persoalan-persoalan dasar hingga yang mendetail bagi manusia, yang mana al-Qur‟an sebagai pedoman umat islam yang pertama. Dan adanya pembuktian ajara-ajaran Tuhan yang menjawab semua peristiwa-peristiwa alam, dan ajaran Tuhan yang peduli terhadap manusia.
Kata kunci: Bahasa al-Qur‟an, Ma‟ani Istifham, ilmu ma‟ani.
PENDAHULUAN
Al-Qur‟an memiliki keunikan, baik dari segi makna maupun kebahasaan, sehingga
memilki versi bahasa yang indah dalam setiap kalimatnya. Bahasa merupakan sesuatu yang
tidak pernah terpisahkan dari kehidupan manusia, karena bahasa adalah dasar yang
pertama dan paling berurat akar kehidupan manusia. Bahasa adalah alat yang dipergunakan
untuk membentuk pikiran, perasaan, keinginan, dan perbuatan-perbuatan manusia, alat
yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Bahasa adalah tanda yang jelas dari
kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga bangsa, tanda
yang jelas dari budi kemanusiaan. (Samsuri, 1987).
Sedangkan bahasa al-Qur‟an adalah bahasa kalam Allah yang mengandung
mukjizat, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malikat Jibril, yang tertulis
awal surah al-fatihah sampai an-nas. (al-Subhani, 1970). Bahasa al-Qur‟an diturunkan
menggunakan bahasa Arab. Kebanyakan bahasa yang digunakan dalam bahasa al-Qur‟an
adalah bahasa fusha.
Bahasa Arab juga salah satu bahasa internasional dalam dunia linguistik. Bahasa
Arab merupakan rumpun bahasa Semit yang digunakan orang-orang yang mendiami
daerah-daerah kecil dan sempit di wilayah semenanjung Arabiyah. Kelompok Semit ini
menduduki areal geografis yang terintegrasi kuat tanpa dipisah-pisahkan oleh asing,
(Kasim, 2009). Oleh karena itu, kelompok ini merupakan suku yang sangat kuat dalam
etnis kebangsaan serta keharmonisan persaudaraan.
Begitu pentingnya mempelajari bahasa dalam al-Qur‟an, sehingga seseorang yang
tidak mengenal bahasa akan merasa asing dan tenggelam dalam keasingan dan kebodohan.
Ketidaktahuannya akan bahasa menimbulkan potensi membangun kekerdilannya sendiri.
Oleh karena itu, altenatif yang mungkin dimunculkan adalah dengan mempelajari bahasa
dan seluk-beluk didalamnya. Perlu adanya pemahaman tentang ilmu ma‟ani. Ilmu ma‟ani
adalah ilmu yang mengandung kaidah-kaidah yang dapat dijadikan dasar untuk
menentukan kualitas kalimat dari sisi kesuaian kalimta itu sendiri dengan konteksnya.
Sebagaimana pendapat Ahmad (1960) bahwa ilmu ma‟ani sebagai salah satu ilmu
yang mengkaji susunana kalimat agar terhindar dari ketidak sesuaian antara maksud
pembicara dengan pemahaman pendengar. Maksudnya, berdasarkan ketepatan kalimata
secara grmatika, namun juga berdasarkan kesesuaian kalimat itu dengan kondisi yang
melingkupinya (muqtadho al-hal).
Didalam al-Qur‟an banyak surah yang dalam penyampaian informasi dan pesan
kepada ummat manusia yakni dengan istifham, baik itu terletak dalam awal, tengah
maupun akhir kalimat. Karena dalam penyampaian tersebut mengikuti akar historis yang
konkrit. Adawatut Istifham salah satu frasa yang digunakan dalam kalimat tanya, bahkan
sering ditemukan dalam kalimat non-question. Oleh karena itu untuk mengetahui jenis kata
Salah satu sifat pragmatik tersebut mempunyai persamaan dan perbedaan dalam
fungsi penggunaanya serta peranan penting dalam pembentukan kalimat dan segi
pemaknaanya. Maka dari itu perlu adanya studi semantik Istifham. Semantik, menurut
Chaer (2009) yang telah mengutip pendapat dari Verhaar (1981), yang merupakan studi
tentang teori makna atau teori arti, dimana sebuah bahasa yang menyelidiki arti dan makna
dalam tataran gaya bahasa.
METODE
Penelitian ini merupakan jenis kualitatif deskriptif yakni menggunakan data
kepustakaan, dalam hal ini peneliti berusaha menggambarkan, menganalisis, dan
menginterpretasikan objek penelitian materi-materi yang ada. (Maman, 2006). Pendekatan
yang digunakan approach dimana menggambarkan objek, dimensi dan unsur dalam kajian
penelitian.
Dalam pengumpulan data berupa kepustakaan (library research) dengan menelaah
beberapa buku atau kitab dengan cara: 1) kutipan langsung berarti mengambil data dari
referensi sesuai asli tanpa merubah makna dan redaksinya, 2) kutipan tidak langsung
mengutip pendapat para ahli dengan mengubah redaksinya sesuai bahasa penulis sendiri.
Sedangkan dalam pengolahan data, menggabungkan tiga metode analisis deskriptif yakni
metode induktif dan deduktif. Dimana kedua metode tersebut sama-sama mengambil
kesimpulan dari beberapa teks tersebut. (Arikunto, 2010).
ADAWATUT ISTIFHAM
Secara operasional Adawatut Istifham dalam bahasa Arab diartikan sebagai
kata-kata yang digunakan untuk menanyakan sesuatu. Istifham dalam kamus bahasa diartikan
sebagai pertanyaan permintaan, dan keterangan. Sedangkan menurut A. Wahab rukun istifham
Dari pendapat tersebut, istifham dapat diartikan sebagai kata tanya yang digunakan
untuk meminta keterangan terhadap sesuatu yang belum diketahui sebelumnya sesuai
perangkat dan tujuannya. Kaidah yang ditetapkan dalam penggunaan istifham adalah
setiap petanyaan dalam al-Qur‟an sebagai khitab (pesan dari Allah), sehingga orang yang
ditanya pasti akan mengetahui jawabannya, baik itu jawaban menyangkal atau mngiakan.
(as-Suyuthi, 2014).
MACAM-MACAM ISTIFHAM
Dalam kajian bahasa Arab, istifham terbagai menjadi dua bagian yakni istifham
haqiqi dan istifham majazi (al-Jeremy, 1951), defisini sebagai berikut:
Istifhamhaqiqi adalah pola istifham yang dilontarkan kepada seseorang untuk mengetahui
sesuatu yang belum diketahui.
Istifham majazi adalah pola istifham yang sudah diketahui kebenarnya. Fungsi dari istifam
majazi sudak tidak haqiqi (sifat aslinya) melainkan mengharapakan jawaban yang beralih
pada fungsi-fungsi lainnya seperti, doa, harapan, perintah, larangan, celaan, pengingkaran
dan lainnya.
Dalam penggunanan istifham haqiqi yaitu digunakan apabila seseorang ingin
mengehui hal atau sesuatu yang belum diketahui tanpa penalaran dan penafsiran.
Sementara istifham majazi dimana pola ini yang sebenarnya pertanyaan tersebut sudah
diketahui seseorang, dan pola istifaham berpindah fungsi dan makan sehingga
membutuhkan penalaran dan penafisran karena berubahnya makna yang disampaikan
kepada sipembicara.
PERANGKAT ISTIFHAM
Perangkat istifham yang dimaksud di sini adalah huruf atau kata yang digunakan
untuk membentuk kalimat pertanyaan. Dilihat dari fungsinya, perangkat istifham dibagi
(al-tashawwur). Kedua, istifham untuk membenarkan sesuatu (al-tashdiq). Ketiga, istifham
yang berfungsi sebagai al-tashawwur di satu sisi dan sebagai al-tashdiq di sisi lain.
Adapun perangkat-perangkat istifham yang biasa digunakan dalam kaidah
bahasa Arab, antara lain 5:
1.
Hamzah(
أ
)
Huruf hamzah sebagai sebuah perangkat istifham memiliki dua fungsi asli:
a. Tasawwur, Dalam hal ini hamzah langsung diiringi dengan hal yang ditanyakan
dan mempunyai bandingan dengan kata yang disebutkan setelah lafadz am yang
bearti “atau”. Contoh :
؟ديعس مأ ةركبلاب بعلي يرسم أ : س
(Apakah Samir yang main bola atau Said)ج
ةبرلب بعلي يرسم :
(Samir yang main bola)Contoh tersebut menanyakan tentang satu hal (mufrad). Contoh kalimat pertanyaan
diatas tidak mebutuhkan jawaban iya atau tidak tetapi membutuhkan jawaban
berupa gambaran tentang kejelasan yang ditanyakan.
b. Tasdiq, maksudnya berupa pembenaran terhadap hal yang ditanyakan dan tidak
menyebutkan bandingan perkara yang ditanyakan. Dalam bentk istifham ini tidak
membutuhkan jawaban tentang penggambaran terhadap sesuatu yang ditanyakan,
tetapi hanya membutuhkan pembenaran. Berikut contohnya:
؟كوخأ ميلس أ : س
يخأ ميلس ،معن : ج
2. Hal(
له
)
Penggunaan huruf “hal” dalam kalimat istifham hanya berfungsi sebagai
tashdiq saja, yang tujuannya untuk mengetahui terjadi atau tidaknya
sesuatu. Misal: كباتك اذه لهpertnyaan seperti ini membutuhkan jawaban “ya atau tidak”.
Dalam ketentuan bahasa Arab, istifham dengan menggunakan huruf “hal” tidak boleh
dipakai dalam kalimat-kalimat berikut:
a. Frasa yang didahului huruf nafi.
c. Klausa yang didahului oleh huruf inna
d. Klausa yang didalamnya menggunkan huruf „athaf
e. Klausa isin yang sesuadahnya terdapat fi‟il
3. Man
)هم(
kata ini berfungsi untuk menyatakan makhluk yang berakal yang diletakkan diawal
kalimat juga terletak sebelum isim. Posisi kata tanya هم sebagai subjek (mubtada‟).
Misal:
تدعاس نم
؟(Siapa yang kamu bantu)
Kata tanya “Man” bisa dapat didahului dengan huruf jar seperti
عم ،ل ،لىإ ،نع ،ـــب ،نم
dan posisi kata tersebut menjadi isim majrur.
4. Ma
(
ام
)
Kata tenya ini berfungsi menyakan sesuatu yang tidak berakal, yang terletak sebelum
fi‟il. Kata tanya ام berposisi sebagai mubtada‟ (subjek) seperti:
ام
عطقنا
؟
Apa yang dipotong?Sebagai posisi khobar :
؟ناسحلإا ام
Apa ihsan itu?Sebagai maf‟ul bih:
؟تبرش ام
Apa yang kamu minum?Kata tanya
ام
mendapat imbuhanاذ
menjadiاذام
. Adapaun kata setelah tambahanاذ
bersifat sim mausul dan isyarah. (Ghyalani: 2012, 140). Apabila kata tanya
اذام
mendapat huruf ل menjadi اذامل yang bearti “kenapa” yaitu menanyakan alasan
tentang dilakukannya suatu pekerjaan. Misal :
تبتك اذالم
؟كدلاو لىإ ةلاسرلا
Kenapa engkau menulis surat ke orang tuamu?
5. Mata
(
ىتم
)
Dalam kaidah bahasa Arab, kata ini berfungsi untuk menyakan keterangan waktu, baik
yang lalu maupun yang akan datang yang berposisi sebagai dhorof. Contoh:
6. Ayyana (
نايأ
)
Kata tanya ini biasanya terletak sebelum kata benda dan kata kerja. Fungsi kata tanya
tersebut menerangkan masa yang secara spesifik bersejarah. Misal:
؟ةمايقلا موي نايأ
Kapan terjadinya hari kiamat?7. Ayna (
هيأ
)
Kata tanya ini berfungsi menanyakan keterangan tempat yang posisinya sebelum kata
kerja dan kata benda. Misal:
؟كوبأ بهذ نيأ
(Bapak kamu pergi kemana?)8. Kaifa (
فيك
)
Dalam kaidah istifham terletak sebelum kata kerja dan kata benda, yang berfungsi
untuk menerangkan keadaan. Misal:
؟ةسردلما لىإ تبهذ فيك
Bagimana kamu pergi kesekolah?
9. Kam (
مك
)
Dalam tata bahasa kalimat tanya tersebut berfungsi untuk mengetahui jumlah. Misal:
؟ةرادلإا مامأ ةرايس مك
Berapa jumlah mobil dikantor?
10. Ayyu (
يأ
)
Kata ini berfungsi untuk menanyakan dan menghendaki perbedaan antara dua hal yang
terletas setelah kata benda yang menempati berbagi posisi, mubtada‟, khobar, maf‟ul
bih. Misal:
؟ةعاقلا في ذاتسلأا يأ
(Guru yang mana yang ada di aula?)11. Anna (
ى
وأ
)Kata tanya ini memiliki ciri khas tersendiri, yakni terletak sebelum huruf jar yang
memiliki beberapa makna sesuai dialognya seperti: Bagaimana, dari mana dan kapan.
Misal:
؟اذه كل نىأ
(Dari Mana kamu dapatkan ini?)Dari beberapa paparan diatas yang telah dikemukakan, maka dapat diketahui bahwa
kata tanya dalam bahasa Arab memiliki berbagai macam posisi atau kedudukan. Posisi
atau kedudukan sebuah kata tanya dapat diketahui apabila masuk dalam sebuah kalimat
atau menjadi bagian dari sebuah kalimat. Kemudian posisi kalimat dan makna istifham
haqiqinya sehingga muncul beragam karya makna dan multi tafsir. Fungsi istifham dalam
al-Qur‟an bukan lagi meminta jawaban atau penjelasan melainkan lebih memberikan kabar,
penegasan dan penalaran. (al-Qazawayni, t.th ).
DINAMIKA MA’ANI ADAWATUT ISTIFHAM DALAM AL-QUR’AN
Gaya bahasa Al-qur‟an sangat berbeda dengan bahasa di buku-buku bahasa arab,
syair, prosa sebagai halnya yang sudah kita ketahui, bahwa gaya bahasa Al-Qur‟an
mengandung unsur balaghah, untuk menambah keindahan makna yang tersurat maupun
tersirat di dalamnya. Dimana setiap unsur bahasa tersebut perlu penafsiran-penafsiran yang
terduga-duga serta didukung dengan pendalaman ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya.
Estetika bahasa istifham dalam al-Qur‟an memiliki makna-mana tertentu sesuai
siyaq atau konteks kalimat. Sebagaimana pemahaman istifham yakni dengan pengetahuan
tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui mengandung pengertian bahwa sebuah
pertanyaan diberikan hanya untuk mencari dari orang yang ditanya. Bila ditinjau dari ilmu
ma‟ani, tidak semua fungsi istifham menunjukkan arti mencari tahu, namun dapat bearti
perintah (amr) tergolong unsur tholab serta makna-makna yang lainnya. Sehingga letak
problematikanya adalah unsur pemaknaan sesuai konteks dan makna unsur historisnya.
Terkait dengan pola istifham terlepas dari fungsi asalnya yang memiliki makna
istifham beraneka ragam serta berbeda dengan fungsi dasarnya, maka sisi dinamika
kebahasaan kalimat istiham mulai bermunculan. Adapun beberapa fungsi kalimat istifham
majazi yang sering digunakan dalam ayat al-Qur‟an, antara lain:
1. Taqrir (menetapkan)
Dalam hal ini pola kalimat istifham tidak memerlukan terhadap jawaban,
sebab tujuannya adalah menetapkan suatu gagasan, bukan pertanyaan. Pola yang
sering digunakan hamzah yang kemudian diikuti oleh fi‟il nafi. Contoh kalmat
istifham dalam al-Qur‟an yang menetapakan taqrir surat al-fil ayat: 2.
Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah)
itu sia-sia?
Contoh tersebut, menggunkan hamzah kemudian diikuti kalam nafi, namun
sebaliknya menetapkan dan memberikan pembenaran terhadap kalimat yang ada
setelah huruf nafi tersebut. (Al-Jurjani: 111).
Contoh yang bersifat istifham taqriri:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap
tentara bergajah.
Penambahan dalam surah al-Insyiroh yang berupa hamzah dan alif maknaya sebagai
taqrir. Yang takdirnya ialah fi‟il madhi disertadi dengan qod dalam firmannnya.
Yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh
Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. sebelum masuk ke
kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan
batu-batu kecil sehingga mereka musnah. Ayat pertama yang menggunkan makna
majaz haqiqi kemudian ayat kedua menggunakan majaz taqriri, hal ini sebagai
jawaban pemberitahuan ketetapan tentang situasi tersebut. (As-Syuthi, 2006).
2. Ikhbar (Menginformasikan)
Ikhbar berfungsi menerangkan informasi tentang sesuatu. Pola istifham
semacam ini bertujuan untuk menguatkan informasi atau kabar yang disampaikan
dalam suatu kalimat. Kalimat istifham yang menjadi fungsi kedua ini biasanya
Sudah datangkah kepadamu berita (Tentang) hari pembalasan?
Dalam keterangan buku Quraisyi Syihab ingin menggambarkan melalui
pertanyaan-pertanyaan yang diawal surah. Allah SWT berupa penegasan, dengan
setelah ruh ditiupkan sehingga tumbuh menjadi sesuatu. Dan redaksi ini juga sebagai
tentang apa yang diberitakan sesuadah pertanyaan ini. (Syihab, 2002).
3. Al-Taswiyah (menyamakan)
Pola istifham ini bertujuan menyamakan dan menunjukkan kalimat dan
sesudah huruf istifham memiliki kedudukan yang sama. Perangkat yang digunakan
“hamzah” dan “hal”. Contoh dari pola ini adalah:
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.
Dalam ayat ini, pola istifham menggunakan “hamzah” berfungsi untuk
menyamakan watak dan kondisi orang kafir, baik itu ketika diberi peringatan
atau tidak diberi peringatan. Penyamaan (taswiyyah) dalam suatu kalimat
dengan menggunakan uslub istifham memang akan lebih memunculkan
estetika kebahasaan kalimat tersebut, dibanding jika penyamaan tersebut
diungkapkan dengan menggunakan pola kalimat biasa.
4. Al-Irsyad (Petunjuk) dan al-Tadzkir (pengingat)
Kedua uslub istifham dalam pola ini bertujuan sebagai petunjuk dan
pengingat, sebagaimana dalam surat al-Ghasiyyah ayat 18-21, berbunyi:
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia
ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan,
karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.
Istifham disini difungsikan sebagai evaluasi diri sendiri. Sebagaimana ayat
diatas menggambarkan situasi di hari pembalasan akan tergambarkan bagi
orang-orang hina, kafir, musyrik yang terancam api neraka karena manusia selama di alam
dunia tidak memanfaatkan alam semesta dengan baik. Istifham ini, dalam al-Qur‟an
melakukan hal yang sama di lain waktu. Sekaligus untuk memperbaiki berbagai
kesalahan masa tempo dalam koridor positif.
5. Ifham (Pemberian pemahaman)
Istifham berfungsi untuk memberikan pemahaman yang memiliki korelasi
dengan ayat sesudahnya, seperti halnya dalam surat al-Qodr ayat 2 – 3, yakni:
Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik
dari seribu bulan.
Dari pernyataan kalimat istifham yang digunakan bertujuan seberapa besar
pengetahuan manusia tentang “lailatur Qodr” dibulan puasa. Apakah mereka
mengetahui hakikat keistemewaan keindahan malam tersebut.
6. Tashwiq (memotivasi)
Istifham disini bertujuan untuk menggiring perasaan manusia kepada gagasan
yang dimunculkan dalam kalimat istifham tersebut.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan
yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
Dalam surat ini menerangkan, kepada seluruh manusia terutama orang- orang
yang beriman, dimana mereka akan diperlihatkan bentuk-bentuk amalan yang dapat
menolong mereka dari siksaan di hari kebangkitan (yaumul hisab) nanti, sebagi
bentuk motivasi mereka untuk membenahi diri selama mereka masih di alam dunia
maya.
7. Al-Amr (Perintah)
Penggunaan kalimat perintah disini memiliki pola sisi sendiri yang
menggunakan struktur istifham didahului dengan penjelasan-pejelasan terlebih
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara
kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum
kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada
jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu
tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang[1032],
Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan
memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam
menyiarkan berita bohong tentang diri Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang
beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada
terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu. (Ibnu
Katsir, 2010).
8. Nafi (meniadakan)
Fungsi istifham ini banyak sekali ditemukan dalam al-Qur‟an, sebagaimana
surat Ar-Rahman ayat 60, berbunyi:
Tidak ada Balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
Ayat ini menjelaskan tentang rasa kasih-sayang Allah yang diberikan kepada
manusia dalam bentuk apapun, dan apabila manusia mengingkari kenikmatan yang
telah diberikan kepadanya, maka tidak ada pula balasan yang baik kepadanya.
9. Tamanna (Pengharapan)
Istifham banyak sekali dipakai dalam al-Qur‟an ataupun percakapan Bahasa
Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu.
pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang
yang melupakannya[547] sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul
Tuhan Kami membawa yang hak, Maka Adakah bagi Kami pemberi syafa'at yang
akan memberi syafa'at bagi Kami, atau dapatkah Kami dikembalikan (ke dunia)
sehingga Kami dapat beramal yang lain dari yang pernah Kami amalkan?".
sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari
mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.
Maksudnya: orang-orang yang tidak beramal sebagaimana yang digariskan
oleh Al Quran. pada dasarnya mereka berharap agar datang seorang penolong
bagi mereka untuk mengembalikan mereka kedunia untuk memperbaiki
kesalahan dan beramal baik. (Al-Jurjani, 1988). Namun, harapan mereka tersebut
hanyalah harapan yang tidak mugkin terwujud.
10. Nahi (Larangan)
Situasi ini istifham berfungsi untuk menegaskan tentang pelarangan terhadap
sesuatu. Contoh al-Qur‟an dalam kalimat ini adalah surat al-Infithar ayat: 6, bunyi:
Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap
Tuhanmu yang Maha Pemurah.
Dalam ayat ini menjelaskan kepada manusia, mengapa mereka durhaka
kepada Allah SWT, sehingga ia telah melalaikan kewajibannya. Ayat ini
menunjukkan larangan kepada manusia untuk menjauhi hal-hal yang duniawi yang
membuat lalai dan terlena dalam kehidupan.
11. Taubikh (celaan)
Allah?". Isa menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa
yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan Maka tentulah
Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang
ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang
ghaib-ghaib".
Kalimat istifham di sini berfungsi sebagai ejekan dan celaan kepada para
Tuhan dimana Maryam dan Nabi Isa dijadikan Tuhan selain Allah. Kalimat
tersebut ditujukan kepada nabi Isa.
12. Ta‟zhim (mengagungkan)
Istifham juga berfungsi untuk mengagung-agungkan sesuatu, seperti surat
al-Baqoroh: 255, berbunyi:
....
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at
di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka
dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah
melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi[161] Allah meliputi langit dan bumi.
dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi
Maha besar.
Dalam ayat ini istifham tidak dimaksudkan untuk meminta jawaban,
melainkan memaparkan Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan
13. Tahqir (menghina/ merendahkan)
Model istifham disini bertujuan untuk menghina atau merendahkan derajat,
sebagaimana tercantum dalam surat al-Furqon ayat 41:
Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan
kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan): "Inikah orangnya yang di utus Allah
sebagai Rasul?.
Kalimat istifham yang dilontarkan oleh kaum kafir dalam ayat ini berfungsi
untuk menghina tentang kerasulan dan kenabian Muhammad SAW. Kalimat
istifham di sini juga berfungsi sebagai penguatan tentang keingkaran mereka
terhadap Muhammad sebagai Rasul yang diutus oleh Allah. (al-Suyuthi: 432).
14. Ta‟ajjub (mengagumi/ keheranan)
Contoh dari pola istifham berfungsi ta‟ajub ini adalh kalimat yang tercantum
dalam surat Shad ayat 5, berbunyi:
benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.
15. Al-Istibtho‟ ( menganggap lambat)
Pola istifham menunjukkan sifat keterlambatan atau mematahkan semangat,
cohtoh pola ini tercantum dalm surat al-Baqoroh ayat 214, berbunyi:
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.
Dari 15 fungsi dan tujuan adawatut istifham diatas, masih banyak lagi
pendalaman-pendalaman makna istifham, karena dilihat dari segi siyaq dan konteks sejarahnya, dan hal
ini belumlah kuantitas dari keseluruhan makna istifham. Pada dasarnya, masih banyak
karya makna dan sisi yang dikandung. Sebab pola istifham adalah pola kalimat dimana
pemahamanan terhadap makna suatu kalimat akan selalu berkembang dan sangat
bergantung kepada konteks dan kondisi ketika kalimat itu berbicara.
KESIMPULAN
Dari berbagai variasi istifham, sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh
al-Qur‟an, ketika menggunakan tata-bahasa istifham yakni untuk merespon apa yang
dihadapinya dalam konteks yang dibicarakan. Resitensinya dalam al-Qur‟an ketika
menggunakan istifham banyak sekali kegunaan dan manfaatnya, dimana al-Qur‟an
mengakomodir problematika mendasar yang menjadi ganjalan di sebagian besar manusia,
kemudian adanya pembuktian al-Qur‟an menunjukkan ajaran Tuhan yang menyentuh
ranah imanensi, sampai menjawab perkara yang dianggap manusia adalah remeh. Serta
adanya ajaran Tuhan yang peduli dengan manusia, bukan ajaran yang lepas begitu saja.
Esensi istifham bahasadalam al-Qur‟an, bahwa Allah mengutarakan isi kejadian dimasa
tempo dan akan datang dimana manusia perlu mengetahinya, serta memberikan informasi
dan pesan yang lugas melalui mukhattabnya kepada Nabi untuk selalu berlapang dada
ketika dihadapkan pada kondisi yang sulit yang telah menggiringnya.
Dari pembahasan diatas, dapat dilihat bahwa makna istifham bisa keluar dari makna
haqiqi, melainkan mengeluarkan makna lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat
pembentuknya. Makna tersebut bisa menjadi, nafi (meniadakan), inkar (pengingkaran),
taqrir (penegasan), taubikh (pencelaan), ta‟zhim (mengagungkan), tahqir (menghina),
istibtha‟ (melemahkan), ta‟ajjub (keheranan), taswiyyah (penyamaan), tamanni (harapan
yang mustahil tercapai), dan tashwiq (memotivasi), istibtho‟ (merendahkan).
DAFTAR PUSTAKA
Al- Jarimy, Amin Ali. 1951. Al-Balaghah Al-Wadhhihhah. Mesir: Dar Al-Ma‟arif.
Al- Qazawayni, Jalal Al-Din. t.t. Al-Idhah f „Ulum Al-Balaghah. Beirut: Dar AlKutub Al-„Ilmiyah.
Al- Shuyuthi, Imam Jalal Al-Din. 2014. Mahalli Al-Jalalain: Tafsir al-Jalalalin. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Al-Hasyimi, Ahmad. 1960. Jawahir alBalaghah fi al-Ma‟ani wa al-Bayan wa al-Badi‟. Beirut: Dar al-Fikr.
Arikunto, Suharsami. 2010. Dasar-dasar Evaluasi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar SemantikBahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Kasim, Amrah. 2009. Bahasa Arab Di Tengah Bahasa Dunia. Cet. I. Yogyakarta: Kota Kembang.
Katsir, Ibnu. 2010. Lubabut Tafsir min Ibnu Katsir. Terj. Ghofar Abdul Al-Atsari, Abu Hasan. Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi‟i.
Muhammad, Ali al-Subhani. 1970. At-Tibyan Fi Ulum Qur‟an. Beirut: Dar al-Irsyad.
Quraish, Shihab. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati. 2002.
Rachman, Maman. 2006. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian.Semarang: CV IKIP Semarang Press.