DALAM ISLAM
Andrie Irawan Dosen FH-UCY [email protected]
Abstrak
The discrimination against women as second-class citizens is diametrically opposed to the teachings of Islam. It raises the question of whether women have an equal political rights compare to their co partner men and how to guarantee the protection of political rights of women in Islam? The present article is a normative and historical studies with reference to the Qur'an and Sunnah that suggests the assertion that Islam is a religion ofrahmatan lil alaminwith all fittings which include
rules for all aspects of life including the guarantee of human rights that are non-discriminatory and equitable.
Keywords:women, guarantee, political rights, Islam
A. Pendahuluan
Perkembangan wacana hak asasi manusia (HAM) dalam Islam menjadi sorotan tajam tidak hanya oleh para pemikir Islam sendiri tetapi juga pihak lain atau dalam hal ini pemikir barat. Sorotan terhadap wacana tersebut dilandasi oleh banyaknya anggapan dari negara barat bahwa Islam tidak mengakui hak asasi manusia, tapi pendapat tersebut dipatahkan karena pada kenyataan Islam sangat menjunjung tinggi pengakuan terhadap hak asasi manusia. Pandangan Islam sendiri tentang hak asasi sebagaimana diatur di dalam syariat bahwa ada garis pemisah antara hak Allah dan Hak Manusia . Hak Allah adalah kewajiban yang dicanangkan kepada setiap manusia untuk dilaksanakannya yang mengandung makna adanya pengakuan terhadap keesaan, kemahakuasaan dan keunikan-Nya atau dengan kata lain hak-hak manusia dalam perspektif Islam adalah ketentuan moral yang diatur oleh hukum Allah. HAM dalam Islam adalah menempatkan manusia dalam suatu setting dimana hubungannya dengan Tuhan sama sekali tidak disebut dalam artian HAM diperoleh secara alamiah sejak kelahiran.
untuk mendukung wacana tersebut adalah pernyataan dari sebuah hadis yang menyatakan bahwa "Tidak akan berjaya satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan" (HR Ahmad, Bukhari, Nasai, dan Turmizi). Fenomena ini sangat mendiskriminasikan perempuan sebagai warga negara kelas dua (second class).
Hal ini tentunya bertentangan dengan anggapan bahwa Islam adalah Islam sebagai agama yang terakhir diturunkan Tuhan dianggap sebagai agama yang sempurna dan komplit, segala sesuatunya telah diatur secara proporsional, temasuk mengenai posisi manusia. Dalam kehidupan yang digambarkan Islam terdiri dari seperangkat hak dan kewajiban. Setiap orang yang menganut Islam sebagai agamanya terikat pada dua hal tersebut.
Melihat dari pernyataan yang sangat kontradiksi tersebut maka diskursus tentang apakah perempuan memiliki hak politik yang sama dengan laki-laki dari kacamata Islam masih banyak menjadi perdebatan sehingga dalam tulisan ini berupaya untuk melihat bagaimana jaminan perlindungan hak politik perempuan di dalam Islam?
B. Hak Asasi Manusia dalam Islam
Hak Asasi Manusia adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia dan sudah menjadi pemberian dari Pencipta manusia sendiri tanpa ada satupun pihak yang boleh mengambil hak tersebut. Keberadaan hak tersebut lahir pada diri manusia juga bukan merupakan pemberian oleh suatu masyarakat ataupun berdasarkan hukum positif dari suatu negara, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Dalam arti ini, maka meskipun seseorang terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan yang berbeda-beda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut dan inilah maksud yang menyatakan bahwa hak-hak asasi manusia bersifat universal.1
Sedangkan dalam Islam sendiri, HAM adalah seluruh kewajiban bagi negara maupun individu tidak boleh diabaikan. Oleh karena itu, negara bukan saja menahan diri dari menyentuh hak asasi tersebut tetapi juga mempunyai kewajiban untuk melindungi dan menjamin hak-hak tersebut.2
mempunyai tugas sosial yang apabila tidak dilaksanakan berarti tidak berhak untuk tetap memerintah.3Allah berfirman:
Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukannya di muka bumi, niscaya mereka menegakkan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma ruf dan mencegah perbuatan munkar. Dan kepada Allah-lah kembali semua urusan.4
Nurcholis Madjid dalam Prasetyo menjelaskan, Hak hak dan kewajiban kewajiban, maupun larangan dan perintah dalam Islam semuanya bersifat agama, di sini terlihat bahwa hubungan timbal balik harus tegas dan bersifat tetap, universal karena hukum yang diwahyukan itu berlaku untuk segala keadaan.5 Hukum Islam melihat segi individual dan kolektif adalah
dalam dua konsep tetapi mereka adalah serupa, dan hak hak perseorangan dengan keharusan kebaikan masyarakat harus ditempatkan dalam posisi yang seimbang.6
Di dalam Islam juga diakui akan adanya kebebasan, namun kebebasan ini mempunyai tugas dan tanggung jawab dan karenanya ia mempunyai hak dan kebebasan. Dasarnya adalah keadilan yang ditegakan atas dasar persamaan atau egaliter tanpa pandang bulu, artinya, tugas yang diemban tidak akan terwujud tanpa adanya kebebasan sementara kebebasan itu secara eksistensial tidak terwujud tanpa adanya tanggung jawa itu sendiri.7
Dari uraian diatas terlihat bahwa sebenarnya sistem HAM dalam Islam mengandung prinsip-prinsip dasar tentang persamaan, kebebasan, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Persamaan artinya Islam memandang setiap manusia baik laki-laki dan perempuan sama dan mempunyai kedudukan yang sama, satu-satunya keunggulan yang dinikmati oleh manusia terhadap manusia lainya adalah dilihat dari tingkat ketakwaannya.8
Aspek kebebasan yang dimaksud adalah kehadiran Islam ada agar manusia terhindar dari kesia-siaan dan tekanan, baik yang berkaitan dengan masalah agama, politik dan ideologi. Namun patut dipahami bahwa kebebasan ini tidak bersifat mutlak karena kebebasan yang ada harus memperhatikan hak dan kepentingan dari orang lain yang harus dihormati.
ketunggalan kemanusiaan, bukan kepada superioritas individual dan ras kesukuan tetapi kehormatan diterapkan secara universal melalui persamaan secara mutlak. Sebagai galian sejarah menyatakan bahwa setiap manusia adalah keturunan Adam dan Hawa yang diciptakan dari tanah dan mendapatkan kehormatan di sisi Allah, maka setiap anak dan cucunya pun mendapatkan kehormatan yang sama tanpa ada pengecualian.
Melihat tiga prinsip di atas maka sebenarnya tidak seharusnya ada diskriminasi bagi pihak tertentu misalnya perempuan dalam menjalankan aktivitasnya baik sebagai pihak secara personal maupun secara sosial. Tetapi apa yang menjadi perbedaan anatar laki-laki dan perempuan, bukan kepada perbedaan secara fungsi peran dalam menjunjung hak asasi masing-masing tetapi lebih kepada ukuran terhadap keimanan mana yang lebih baik akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah bukan dikarenakan alasan jenis kelamin.9
Deklarasi Allah tentang kesempurnaan Islam disampaikan kepada Nabi Muhammad di padang Arafah, dekat Mekkah. Pada pidato perpisahan tersebut, Nabi mengembangkan prinsip prinsip dasar Islam dengan apa yang disebut HAM. Hak asasi sebagai kebebasan hidup (Al-dima), kebebasan memiliki sesuatu (Al-Amwal), dan kehormatan atau pengakuan (Al-A rad). Ketiga hal tersebut dapat dibandingkan dengan yang ditulis John Locke yaitu hidup (life), kebebasan (liberty) dan harta benda (property).10
Sedangkan untuk pengakuan terhadapa HAM di dalam Islam juga telah dijelaskan di dalam Al Qur an, dimana beberapa hak asasi yang dijamin, antara lain: (a) Hak untuk mendapatkan jaminan keamanan jiwa;11 (b)
Perlindungan terhadap hak milik;12 (c) Hak mendapatkan atas kehormatan
diri;13 (d) Hak kerahasiaan;14 (e) Hak untuk melakukan protes terhadap
ketidakadilan;15 (f) Hak untuk menyuruh kepada kebaikan dan mencegah
kejahatan, termasuk hak untuk melancarkan kritik;16(g) Kemerdekaan untuk
berserikat; (h) Perlakuan yang sama bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
Pengklasifikasian beberapa hak asasi yang ada di atas sebenarnya sudah dapat membuktikan bahwa Islam sangat peduli dan mengakui keberadaaan hak-hak tersebut, namun yang patut menjadi perhatian jika ingin menegakkan pemenuhan suatu hak asasi tidak dapat secara mutlak karena tetap harus memperhatikan kepentingan dan hak orang lain.
kita sebagai umatnya diperintahkan untuk memelihara hak-hak manusia dan hak-hak kemulian walaupun terhadap orang yang berbeda agama atau keyakinan, sebagaimana sabda beliau: Barang siapa yang menzalimi seorang mu ahid (seseorang yang telah dilindungi oleh perjanjian damai) atau mengurangi haknya atau membebaninya di luar batas kesanggupannya atau mengambil sesuatau dari padanya dengan tidak rela hatinya, maka aku lawannya di hari kiamat.
Sejarah perkembangan Islam juga menunjukkan bahwa Islam pernah membentuk suatu piagam yang menjadi cikal bakal pedoman HAM dan sebagai contoh juga dalam perilaku umat Islam yang juga sangat menjunjung tinggi HAM dalam lingkup perspektif Islam melalui Piagam Madinah.
Esensi yang terkandung dalam Piagam Madinah adalah meliputi prinsip-prinsip persamaan, persaudaraan, persatuan, kebebasan, toleransi beragama, perdamaian, tolong menolong, dan membela yang teraniaya serta mempertahankan Madinah dari serangan musuh. Berikut adalah substansi ringkasan dari Piagam Madinah:17
1. Monotheisme,yaitu menyakini adanya satu Tuhan. Prinsip ini terkandung dalam Mukadimah, Pasal 22, 23 serta bagian akhir pasal 42.
2. Persatuan dan kesatuan (Pasal 1, 15 ,17, 25 dan 37) . Dalam pasal-pasal ini ditegaskan bahwa seluruh penduduk Madinah adalah satu umat. Hanya ada satu perlindungan, bila orang Yahudi telah mengikuti piagam ini, berarti berhak atas perlindungan keamanan dan kehormatan. Selain itu, kaum Yahudi dan orang-orang muslim secara bersama-sama memikul biaya perang.
3. Persamaan dan keadilan (Pasal 1, 2, 15, 16, 19, 22, 23, 24, 37, dan 40). Pasal-pasal ini mengandung prinsip bahwa selruh warga Madinah berstatus sama di muka hukum dan harus menegakan hukum beserta keadilan tanpa pandang bulu.
4. Kebebasan beragama (Pasal 25). Kaum Yahudi bebas menjalankan ajaran agama mereka sebagaimana umat Islam bebas menunaikan syari at Islam. 5. Bela negara (Pasal 24, 37, 38, dan 44). Setiap penduduk Madinah yang
mengakui Piagam Madinah mempunyai kewajiban yang sama untuk menjunjung tinggi dan membela Madinah dari serangan musuh, baik serangan dari luar dan serangan dari dalam.
7. Supermasi syari at Islam (Pasal 23 dan 24). Inti pokok dari supremasi ini adalah setiap perselisihan harus diselesaikan menurut ketentuan Allah SWT dan sesuai dengan keputusan Muhammad SAW.
8. Politik damai dan perlindungan internal serta permasalahan perdamaian ekternal juga mendapat perhatian serius dalam piagam ini. (Pasal 15, 17, 36, 37, 39, 40, 41, dan 47).
Jika dilihat secara seksama baik dari Al Qur an, hadis bahkan sampai dengan Piagam Madinah tidak ada satu pun yang menyatakan bahwa suatu hak hanya berlaku bagi jenis kelamin tertentu tau bahkan golongan tertentu tetapi hak asasi dalam Islam berlaku secara universal sehingga akan menjadi tidak relevan jika dalam dunia Islam (negara-negara berpenduduk mayoritas Islam) yang menyatakan bahwa perempuan adalah warga negara kelas dua (second class).
C. Jaminan Hak Politik Perempuan dalam Islam
Seperti diuraikan diatas bahwa tujuan dari tulisan ini adalah ingin beruaya mendiskontruksikan suatu wacana dalam dunia Islam yang masih sampai sekarang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh berbicara atau melakukan hal-hal yang berhubungan dengan politik. Hak politik pada prinsipya adalah hak asasi yang juga diatur oleh Islam dan berlaku untuk semua tanpa ada diskriminasi. Salah pemikiran awal kenapa diskursus tentang boleh atau tidaknya perempuan di dunia politik adalah dengan penafsiran ayat Al Qur an:ar-rijal qawwamun ala an-nisa bima fadlal Allah ba dlahum ala bad dl...18 Sesuai dengan realitas dewasa ini persamaan hak
antara kaum laki laki dan wanita dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk juga dalam memikul tanggung jawab, maka penafsiran teks keagamaan yang bersifat dikriminatif sudah saatnya perlu direkonstruksi dan direinterpretasi. Apalagi dalam kondisi dan situasi saat ini, dimana kaum wanita telah mencapai taraf pendidikan dan pengalaman yang sama dengan laki laki. Oleh karena itu cara memahami suatu teks keagamaan secara kontekstual dengan melihat sosiologis sangat turunnya. Namun dalam tulisan ini penulis tidak bermaksud untuk menafsirkan suatu ayat karena masih ada keterbatasan ilmu dalam hal tersebut.
Dalam perspektif Islam dalam Al Qur an sendiri sesungguhnya jelas menyatakan bahwa laki laki dan wanita mempunyai status yang setara di hadapan Allah. Al Qur an tidak menciptakan hierarki hierarki yang menempatkan laki-laki di atas wanita. Al Qur an juga tidak menempatkan laki laki dan wanita pada posisi saling bermusuhan.19 Tentang prinsip
dan wanita sebagai hamba Allah: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku (Az-Zariyat ayat 56); (2) Kesamaan laki laki dan perempuan sebagai kalifah di bumi;20(3) Kesamaan
laki-laki dan wanita menerima perjanjian primordial;21 (4) Kesamaan laki
laki dan wanita untuk meraih prestasi.22
Kembali berbicara politik tentu diarahkan ke wilayah publik dan hal ini juga menjadi suatu masalah bagi perempuan karena selalu dianggap bahwa perempuan hanya berada di wilayah domestik atau rumah tangga saja, konstruksi ini terjadi karena budaya patriakhi yang berpijak dari konsep superioritas laki-laki dewasa atas perempuan dan anak-anak telah menjadi isu sentra dalam wacana feminisme.23 Konstruk budaya patriakhi yang
mapan secara universal dan berlangsung secara berabad-abad tidak lagi dianggap ketimpangan dan sudah dianggap menhadi hal yang biasa bahkan diklaim fakta alamiah . Konstruksi tersbut telah membawa kepada posisi perempuan yang subordinat dan dengan datangnya agama pada dasarnya merupakan jeda yang secara periodik mencairkan kekentalan budaya patriakhi.24 Namun dalam perjalanannya juga mendapatkan pertentangan
karena sudah menjadi budaya yang sangat mapan bahkan sampai sekarang yang dikatakan sebagai era modern.
Islam sendiri sebenarnya secara fundamental adalah agama yang berupaya untuk menghapuskan segala bentuk penindasan termasuk budaya patriakhi. Hal itu dapat kita lihat dalam gambaran Al Qur an. Kedatangan Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk membebaskan umat manusia dari belenggu penindasan yang menghilangkan integritas kemanusiaan mereka.25
Sehingga jika kita mau jujur untuk melihat tulisan diatas sebenarnya diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang politik bukan merupakan ajaran Islam tapi lebih kepada konstruksi budaya yang sangat bias gender dan kenyataan ini sayangnya terjadi di negara-negara yang menyatakan dirinya sebagai negara Islam atau mayoritas penduduk Islam.
Cara pandang yang masih tertutup, intoleran, kaku dan radikal tentu saja bertentangan dengan semangat Al Qur an yang selalu mengajak manusia untuk berubah, tidak mandek, tidak rigid serta tidak statis, karena perubahan ke arah yang lebih baik merupakan sunnatullah. Selain memahami dalam konteks sosiologis, yang perlu dijadikan paradigma berpikir adalah bahwa Al Qur an dan Sunnah haruslah diyakini memiliki tujuan-tujuan kemanusiaan yang universal yaitu kemaslahatan, keadilan, kerahmatan dan kebijaksanaan.26Sehingga jika dihubungkan dengan bentuk penjaminan hak
atau penduduk mayoritas Islam seperti:27 hak untuk memilih dan dipilih
(pencalonan), hak musyawarah, hak kontrol rakyat, hak memecat, dan hak menjadi aparat negara.
D. Penutup
Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin dengan sehingga menjadikan agama tersebut sebagai agama yang universal yang tidak hanya melingkupi pembelajaran dalam aspek hubungan makhluk dan penciptanya tetapi juga hubungan antar sesama manusia. Sehingga Islam adalah agama yang lengkap dalam mengatur segala aspek kehidupan termasuk jaminan atas HAM yang tidak diskriminatif dan berkeadilan.
Melihat pemaparan diatas telah jelas pula bahwa konsep pengakuan HAM dalam Islam yang anti diskriminatif dan tentunya berbicara jaminan hak politik bagi perempuan tentunya sama dengan laki-laki sehingga tidak ada penyalahan lagi ketika seorang muslimah terjun ke dunia politik.
Catatan Akhir
1Rhona K. M Smith, at.al.Hukum Hak Asasi Manusia, Knut D. Asplund, Suparman
Marzuki, Eko Riyadi (Editor), (PUSHAM UII, Yogyakarta, 2008), hal. 11
2Mahfudz Siddiq, Hak Asasi Manusia dalam Islam , http://
www.angelfire.com/id/sidikfound/ham.html, diakses pada Kamis, 15 Oktober 2009
3Ibid.
4QS Al Hajj ayat 41
5Teguh Prasetyo, Hak Asasi Manusia dalam Tradisi Islam ,Jurnal Ilmu Hukum,
Vol. 10, No. 1 Maret 2007, hal. 48.
6Ibid.
7M. Luqman Hakim (ed), Deklarasi Islam tentang HAM, (Risalah Gusti, Surabaya,
1993), hal. 12
8QS Al Hujurat ayat 13
9QS An Nisa ayat 124
10QS Al Israa ayat 23
11QS Al Hujarat ayat 11-12
12QS An Nuur ayat 27 dan Al Hujarat ayat 12
13QS An Nisa ayat 148
14QS Ali Imran ayat 110, Al Maidah ayat 78-79 dan Al A raaf ayat 165
15QS Ali Imran ayat 3
16QS Al Anfaal ayat 61
17Egi Sujana,HAM dalam Perspektif Islam, (Nuansa Madani, Jakarta, 2002), hal. 89
18 QS An Nisa ayat 34 yang memiliki arti: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) . Namun tafsir lain ada yang menyatakan bahwa Kaum laki-laki itu adalahpembimbing bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita) sebagaimana yang
disampaikan oleh Siti Ruhaini Dzuhayatin dalam diskusi Seminar Regional Refleksi
terhadap Gerakan Kesetaraan Gender di Indonesia yang dilaksanakan oleh Pusat Studi Gender UII
19QS Al A raaf ayat 172
20QS Ali Imran ayat 195 dan An Nisa ayat 124
22Muhammad Yasir Alimi dalamIbid.,
23Siti Ruhaini Dzuhayatin,Pergulatan Pemikiran Feminis dalam Wacana Islam di
Indonesia, dalam Siti Ruhaini Dzuhayatin, Budhi Munawar-Rahman, Nasaruddin Umar dkk,
Rekonstruksi Metodelogis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam, PSW IAIN Sunan Kalijaga, McGill-ICHEP, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2002, hal. 9.
24Ibid, hal. 11.
25QS Al A raaf ayat 157
26Prasetyo,Hak , hal. 53
27 Lihat Muntoha, Fiqh Siyasah: Doktrin, Sejarah, dan Pemikiran Islam tentang
Hukum Tata Negara, (Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 1998), hal. 68-69.
Daftar Pustaka Al Qur an
Hakim, Luqman (ed). Deklarasi Islam tentang HAM. Surabaya: Risalah Gusti, 1993.
Muntoha. Fiqh Siyasah: Doktrin, Sejarah, dan Pemikiran Islam tentang Hukum Tata Negara. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 1998,.
Prasetyo, Teguh. HAM dalam Tradisi Islam. Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 10, No. 1 Maret 2007
Rhona K. M Smith, at.al.Hukum HAM.Knut D. Asplund, Suparman Marzuki, Eko Riyadi (Editor). Yogyakarta: PUSHAM UII, 2008,.
Siddiq, Mahfudz. HAM dalam Islam. http:// www.angelfire.com/id/ sidikfound/ham.html, diakses pada Kamis, 15 Oktober 2009
Siti Ruhaini Dzuhayatin, Budhi Munawar-Rahman, Nasaruddin Umar dkk.
Rekonstruksi Metodelogis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam.
PSW IAIN Sunan Kalijaga, McGill-ICHEP, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.