• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimasi Pemupukan pada Pertanian Rempah dengan Algoritme Genetika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Optimasi Pemupukan pada Pertanian Rempah dengan Algoritme Genetika"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Fakultas Ilmu Komputer

413

Optimasi Pemupukan pada Pertanian Rempah dengan Algoritme Genetika

Muhammad Fahmi Hidayatullah1, Imam Cholissodin2, Agus Wahyu Widodo3 Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya

Email: 1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

Abstrak

Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai banyak komoditas pertanian diantaranya rempah yang diminati bangsa asing dan mempunyai nilai dagang yang tinggi. Saat ini produksi dan ekspor rempah Indonesia tidak lagi menguasai pasar dunia, Indonesia sudah kehilangan kejayaan dalam perdagangan rempah dunia. Hal itu disebabkan banyak petani yang hanya menggunakan keterbatasan pengalaman dan pengetahuannya untuk melakukan pemupukan dalam pertanian rempah yang dapat menimbulkan kegagalan panen dan kerugian yang besar. Dari permasalahan tersebut, maka akan dirancang sebuah sistem cerdas yang dapat mengoptimasi pemupukan pertanian rempah agar mendapatkan pupuk yang optimal untuk pertanian rempah dengan Algoritme Genetika. Algoritme Genetika dipilih karena algoritme ini dapat digunakan pada optimasi masalah dalam ruang pencarian yang sangat luas dengan cepat. Dari hasil pengujian menggunakan 2 jenis tanaman, 3 jenis pupuk,

ukuran populasi 100, jumlah generasi 700, kombinasi cr 0.3 dan mr 0.7 mampu memenuhi kebutuhan

hara tanaman. Hasil terbaik yang didapatkan hasil pengujian sistem dapat menghemat biaya sebesar 0.23%.

Kata kunci: algoritme genetika, optimasi pemupukan, rempah

Abstract

Indonesia is an agricultural country which has many agricultural commodities such as spices demanded by foreign countries and has a high trade value. Currently, the production and export of Indonesian spices no longer dominate the global market, Indonesia has lost its glory in the world spices trade. It is caused by many farmers who only use limited experience and knowledge to fertilize the spices which can lead to crop failure and a big loss. Based on these problems, I will design an intelligent system that can optimize the fertilization in agricultural spices so the farmers could get optimal fertilizer for agricultural spices by using Genetic Algorithms. Genetic Algorithms was chosen because this algorithm can be used in problem optimization in a wide search space quickly. Test result using 2 type of plant, 3 types of fertilizers, 100 population size, 700 total generation, 0.3 cr and 0.7 mr combination can meet the nutrient needs of plants. The best result of this system testing can save cost of 0.23%.

Keywords: genetic algorithm, optimization fertilization, spice

1. PENDAHULUAN

Sejak zaman dahulu Indonesia adalah negara yang diminati oleh bangsa asing dikarenakan oleh beberapa komoditas pertanian. Indonesia juga mendapat julukan negara agraris disebabkan petani merupakan profesi sebagian besar penduduk Indonesia. Selain itu, Pertanian Indonesia juga didukung oleh iklim Indonesia yang sangat cocok untuk budidaya pertanian. Dengan dukungan penduduk agraris dan Iklim tropis serta lahan yang subur, Indonesia mampu

menghasilkan beragam hasil pertanian,

diantaranya buah-buahan, sayur-sayuran,

tanaman obat, rempah-rempah, dll. Hal ini terbukti dengan kedatangan penjajah Portugis

Vasco Da Gama, disusul Inggris, dan yang paling lama menjajah karena faktor sektor pertanian adalah Belanda. Tanaman rempah-rempah yang tumbuh subur di Indonesia menarik minat bangsa lain untuk menguasainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa dahulu banyak bangsa asing yang kaya raya akibat rempah-rempah dari Indonesia yang mempunyai nilai sangat tinggi.

(2)

ke pasar dunia dengan pasokan mencapai 21,17% dan turun menjadi 0,94% pada tahun 2007 (Pribadi, 2013). Produksi dan ekspor lada Indonesia merosot dari nomor 1 dunia menjadi nomor 4. Vanili Indonesia tergeser dari nomor 2 dunia ke nomor 5, ekspor kulit kina Indonesia merosot tajam dari negara eksportir kulit kina terbesar dunia (80%) kini menjadi importir terbesar di dunia. Selain itu beberapa jenis komoditi rempah dari Indonesia lainnya seperti kayumanis, pala, cengkeh dan lainnya posisinya sudah makin terancam oleh negara produsen baru seperti India, Sri Lanka, Madagaskar dan Granada (Sulkani, 2015). Hal itu disebabkan petani rempah sebagian besar belum memiliki kelembagaan petani yang kuat, mandiri dan mampu menjalin kerjasama kemitraan dengan pihak ketiga untuk mengembangkan usaha taninya. Selain itu Indonesia belum memiliki lembaga sertifikasi organik yang diakui oleh konsumen rempah luar negeri.

Sedangkan pemecahan permasalahan untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia yaitu Gerakan rehabilitasi atau Gerakan revitalisasi komoditas rempah. Cara-cara yang dapat ditempuh yaitu dengan pengembangan mutu rempah, memperbanyak lagi produksi rempah, serta efisiensi biaya untuk produksi tersebut (Sulkani, 2015). Hal yang perlu ditingkatkan antara lain dari sektor lahan yang mulai dikembalikan lagi untuk penanaman

rempah-rempah, petani yang memiliki

kelembagaan yang kuat dan mandiri, serta yang paling penting aspek tanah yang siap untuk pertanian rempah. Aspek tanah tersebut bisa

didukung dengan pupuk yang memiliki

komposisi yang sesuai dengan kandungan tanah yang ada serta tanaman rempah apa yang akan

ditanam. Banyak petani yang hanya

menggunakan keterbatasan pengalaman dan pengetahuannya untuk melakukan pemupukan

dalam pertanian rempah yang dapat

menimbulkan kegagalan panen dan kerugian yang besar.

Dari permasalahan tersebut, maka akan dirancang sebuah sistem cerdas yang dapat mengoptimasi pemupukan pertanian rempah agar mendapatkan pupuk yang optimal untuk pertanian rempah. Hal tersebut dapat dilihat dari unsur hara yang diperlukan dari tiap tanaman rempah dan kandungan unsur hara yang sudah tersedia di tanah tersebut. Setelah didapatkan unsur hara yang optimal, selanjutnya tinggal menyesuaikan dengan ukuran dari beberapa jenis pupuk yang optimal dan mengefisiensi

biayanya.

Pada penelitian sebelumnya telah

membahas tentang optimasi pemupukan

berimbang tanaman hortikultura menggunakan metode Algoritme Genetika dan metode

Analytical Hierarchy Process (AHP) sebagai

perekomendasian jenis pupuknya. Dari

penelitian ini didapatkan hasil terbaik dengan

nilai fitness tertinggi yang didapat dari

percobaan nilai cr 0,2, mr 0,8, ukuran populasi

80, ukuran generasi 800 yang dapat

menghasilkan penghematan biaya sebesar 0,25% per hektar tanah untuk penanaman 2 jenis tanaman dan penggunaan 3 jenis pupuk (Fadilah, 2015). Kekurangan penelitian ini adalah belum tentu petani memiliki jenis pupuk yang direkomendasikan tersebut dan biasanya petani sudah memiliki standart pupuk yang digunakan, oleh sebab itu penggunaan metode AHP kurang maksimal dalam penelitian tersebut sehingga tidak digunakannya metode AHP untuk selanjutnya.

Karena Algoritme Genetika telah sukses

digunakan pada permasalahan optimasi

pemupukan, pada penelitian ini Algoritme Genetika dimanfaatkan sebagai metode untuk sistem optimasi pemupukan pertanian rempah sehingga bisa didapatkan pupuk yang optimal untuk pertanian rempah tersebut dan menghemat biaya dalam pembelian pupuk.

2. DASAR TEORI 2.1. Pertanian Rempah

Rempah-rempah adalah bagian dari

tanaman yang memiliki aroma yang kuat. Biasanya rempah-rempah digunakan dalam makanan sebagai pemberi rasa dan aroma dalam masakan atau bisa juga menjadi bahan pengawet makanan. Banyak juga yang menggunakan rempah-rempah sebagai bahan dasar obat dan jamu. Banyaknya manfaat tiap jenis rempah yang ada di Indonesia antara lain rempah

mengandung antikanker, antibiotic, antioksidan,

antibakteri, antiseptic, antikhamir yang telah disimpulkan oleh pakar dunia (Riadi, 2011).

2.2. Pupuk dan Pemupukan

(3)

dan berfungsi sebagai zatyang dibutuhkan tanah dan tanaman. Perlu diperhatikannya pemberian pupuk pada tanaman sesuai dengan kebutuhan tiap jenis tanaman tersebut, diharapkan tanaman tidak mendapatkan pemberian hara yang berlebihan atau kurang. Pemberian unsur hara yang berlebih atau kurang dapat berpengaruh buruk pada pertumbuhan tanaman. Pupuk adalah faktor penting dibanding faktor produksi lainnya seperti ketersediaan lahan, modal, serta tenaga kerja. Pemupukan memiliki nilai yang sangat penting dalam upaya meningkatkan hasil dan mutu pertanian.

Proses pemupukan merupakan proses pemberian unsur kimia organik maupun anorganik pada tanah yang bertujuan untuk meningkatkan produktifitas tanaman dengan cara memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman serta dapat menyusun ulang kondisi kimia tanah dan mengganti unsur hara yang hilang di tanah yang telah digunakan. Unsur hara yang diberikan

tersebut antara lain nitrogen (N), fosfat (P),

Berikut ini ditunjukkan jenis-jenis pupuk anorganik pada Tabel 1 beserta kandungan hara masing-masing pupuk dan harganya.

Tabel 1. Data Kandungan Hara Pupuk Anorganik

Nama_Pupuk N P K Harga

Berikut ini ditunjukkan rekomendasi pupuk per kg/ha/musim tanam untuk tanaman rempah antara lain jahe, temulawak, cabai merah, dan bawang merah pada Tabel 2 beserta kebutuhan N, P, dan K per kg/ha/musim tanam untuk tanaman jahe, temulawak, cabai merah, dan bawang merah pada Tabel 3.

Tabel 2. Data Interval Dosis Pupuk Tanaman

No Tanaman Nama Rekomendasi pupuk (kg/ha/musim tanam)

Urea SP 36 KCl ZA

Sumber: Diadaptasi dari Ruhnayat (2010), Rahardjo (2010), Alviana (2009), Sumarni (2012)

Tabel 3. Data Kebutuhan N, P, K Tanaman

Sumber: Diadaptasi dari Ruhnayat (2010), Rahardjo (2010), Alviana (2009), Sumarni (2012)

Data dari Tabel 2 dan Tabel 3 berasal dari penelitian yang dituliskan pada jurnal pertanian

terkait. Untuk tanaman jahe, penelitian

dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug

Sukabumi, Jawa Barat. Untuk tanaman

temulawak, penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sukamulya Sukabumi, Jawa Barat.

Untuk tanaman cabai merah, penelitian

dilakukan di Danasworo Hydro-Garden, Ciapus

Bogor. Untuk tanaman bawang merah,

penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang.

2.3. Algoritme Genetika

Algoritme genetika (Genetic Algorithms,

GAs) adalah salah satu Evolutionary Algorithm

(EAs) yang terpopuler dan seringkali digunakan

pada penyelesaian masalah kompleks

(Mahmudy, 2013). Algoritme Genetika

merupakan Algoritme yang menggunakan mekanisme evolusi biologis pada pencarian

nilainya. Cara kerja di struktur GAs

menggunakan hukum genetika dengan

melakukan pemilihan individu secara alami, dimana seleksi alam terjadi ketika ada individu dengan daya tahan hidup tinggi akan bertahan hidup dan dapat membunuh individu yang memiliki daya tahan hidup rendah dan membuangnya (Goldberg, 1989). Dengan

adanya perkawinan silang (crossover) antara dua

(4)

bisa didapat juga akibat mutasi (mutation) gen dari individu.

Di dalam melakukan proses optimasi menggunakan Algoritme Genetika, terdapat parameter-parameter penting yang berperan dalam pengendalian kinerja dan perilaku dari Algoritme ini. Parameter penting tersebut adalah:

1. Ukuran populasi yang menunjukkan banyak kromosom dari populasi.

2. Probabilitas crossover biasa disingkat cr.

3. Probabilitas mutasi biasa disingkat mr.

4. Jumlah generasi atau dalam kata lain jumlah iterasi yang dilakukan selama proses Algoritme Genetika.

Dalam Algoritme Genetika, langkah awal yang harus dilakukan adalah membangkitkan populasi awal secara acak. Jenis representasi kromosom yang digunakan pada penelitian ini

adalah representasi real code. Metode crossover

yang digunakan adalah extend intermediate

crossover yang ditunjukkan dengan persamaan (1) dan persamaan (2) berikut.

offspring1 = P1 + a (P2 – P1) (1)

offspring2 = P2 + a (P1 – P2) (2) Dimana P1 dan P2 adalah dua parent yang

dipilih secara acak dan nilai a dibangkitkan

secara acak pada interval [-0,25; 1,5].

Metode mutasi yang digunakan adalah random mutation yang ditunjukkan dengan persamaan (3) berikut.

x’i = xi + r (Maxi - Mini) (3)

Dimana xi adalah nilai gen ke-i dan i

merupakan panjang kromosom, Maxi adalah

nilai batas atas interval gen ke-i, dan Mini adalah

nilai batas bawah interval gen ke-i. Nilai r

dibangkitkan secara acak pada interval [-0,1; 0,1].

Selanjutnya menghitung nilai penalty. Fungsi penalty ditunjukkan pada persamaan berikut (Fadilah, 2015).

(4)

(5)

(6)

Setelah didapatkan nilai penalty

masing-masing N, P, dan K, langkah selanjutnya adalah

menentukan nilai total penalty. Persamaan untuk

menentukan total penalty adalah sebagai berikut.

𝑝𝑒𝑛𝑎𝑙𝑡𝑦 = (𝑐 ∗ 𝛿𝑁) + (𝑐 ∗ δ 𝑃2𝑂5) + (𝑐 ∗ δ 𝐾2𝑂 ) (7)

Nilai c dalam kasus ini ditentukan sebesar

10.000 (Fadilah, 2015).

Langkah selanjutnya menghitung nilai

fitness dengan persamaan (8) berikut.

𝑓 =(ℎ+𝑎)1 (8)

Dimana a adalah bilangan kecil yang bervariasi sesuai dengan permasalahan yang ada

(dalam permasalahan ini adalah penalty), h

adalah sebuah fungsi yang diminimalkan (dalam

permasalahan ini adalah harga), dan f adalah

fungsi fitness.

Sedangkan untuk seleksi menggunakan metode elitism selection.

3. PERANCANGAN

Alir perancangan sistem untuk optimasi pemupukan pada pertanian rempah secara umum dapat dilihat pada Gambar 1.

Mulai

Jenis tanaman dan Pupuk yang digunakan,

Parameter Algoritme Genetika

Proses perhitungan optimasi pemupukan dengan Algoritme Genetika

Kadar pupuk optimal beserta harganya

Selesai

Gambar 1. Diagram Alir Perancangan Sistem

Pada Gambar 1 ditunjukkan bagaimana alir perancangan sistem untuk optimasi pemupukan pada pertanian rempah. Dimulai dengan memasukkan jenis tanaman yang ingin ditanam dan pupuk apa saja yang ingin digunakan beserta parameter Algoritme Genetika yang digunakan. Kemudian sistem akan melakukan proses

perhitungan optimasi pemupukan dengan

menggunakan Algoritme Genetika. Dari hasil perhitungan tersebut dihasilkan kadar pupuk optimal beserta harganya untuk pertanian rempah yang telah ditentukan tersebut.

(5)

Mulai

Tanaman dan Pupuk yang digunakan, Parameter Algoritme Genetika (ukuran populasi, crossover rate,

mutation rate, jumlah generasi)

Kromosom akhir yang optimal

Selesai

Crossover

Mutasi

Evaluasi

Hitung penalty

Hitung fitness

Seleksi Kromosom awal For ulangGen = 0 to

jumlah generasi -1

ulangGen == 0

ulang Gen

Ya

Tidak

Gambar 2. Diagram Alir Optimasi Algoritme Genetika

Pada Gambar 2 ditunjukkan bagaimana diagram alir proses optimasi Algoritme Genetika

yang langkah-langkahnya adalah sebagai

berikut:

1. Memasukkan tanaman dan pupuk yang

digunakan serta parameter Algoritme

Genetika, yaitu antara lain ukuran populasi,

crossoverrate (cr), mutation rate (mr), dan jumlah generasi.

2. Melakukan perulangan sebanyak jumlah generasi.

3. Jika perulangan (ulangGen) masih 0, maka melakukan representasi kromosom awal sebanyak ukuran populasi yang telah ditentukan.

4. Melakukan reproduksi crossover dan mutasi

sesuai cr dan mr yang telah ditentukan.

5. Melakukan penggabungan antara parent dan

child serta perhitungan harga dalam method evaluasi.

6. Menghitung nilai penalty tiap kromosom.

7. Menghitung nilai fitness tiap kromosom.

8. Melakukan proses seleksi untuk menentukan generasi selanjutnya.

9. Jika kondisi berhenti terpenuhi (mencapai jumlah generasi) maka proses selesai. Hasil akhir merupakan kromosom terbaik.

4. IMPLEMENTASI

Halaman optimasi pemupukan merupakan halaman utama ketika sistem dijalankan sekaligus halaman proses perhitungan optimasi

pemupukan pada tanaman rempah dan

menampilkan hasil optimasi tersebut. Pada halaman ini terdapat tempat masukkan untuk user yang dibagi menjadi tiga kategori yaitu Daftar Tanaman Rempah, Daftar Pupuk, dan Parameter Algoritme Genetika yang digunakan. Selain itu terdapat tombol Proses, Reset, dan Lihat Data serta tabel berupa tab untuk menampilkan hasil optimasi. Implementasi halaman optimasi pemupukan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Halaman Optimasi Pemupukan

(6)

Gambar 4. Halaman Data

5. PENGUJIAN DAN ANALISIS

Pengujian dan analisis menjelaskan tentang pengujian dan analisis terhadap sistem optimasi pemupukan pada tanaman rempah dengan Algoritme Genetika yang telah dibuat.

5.1. Pengujian dan Analisis Ukuran Populasi

Data yang digunakan pada pengujian ini adalah data dengan masukan jenis tanaman jahe dan cabai merah yang ditanam dalam satu lahan, serta jenis pupuk yang dipilih adalah pupuk Urea, SP-36 dan pupuk KCL. Jumlah generasi yang digunakan untuk pengujian awal ukuran populasi adalah sebanyak 100 generasi, ukuran populasi yang diuji adalah kelipatan 10, dimulai

dari ukuran populasi 10 sampai 100, nilai cr

yang digunakan adalah 0,4 dan nilai mr yang

digunakan adalah 0,2. Pengujian setiap generasi dilakukan 10 kali percobaan. Pada setiap percobaan ke-i dibangkitkan bilangan random sebagai populasi awal yang merepresentasikan solusi kadar pupuk yang diwakili oleh nilai-nilai

gen dalam kromosom, sehingga proses

Algoritme Genetika akan menghasilkan nilai

fitness yang berbeda untuk setiap kali percobaan.

Dan nilai yang diambil adalah nilai fitness

terbaik untuk tiap percobaan. Indikator dalam

pengujian ini adalah nilai rata-rata fitness dari

setiap populasi. Sehingga, ukuran populasi

terbaik didapatkan dari nilai rata-rata fitness

terbaik. Digambarkan grafik hasil pengujian terhadap ukuran populasi yang akan ditunjukkan pada Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Grafik Hasil Percobaan Ukuran Populasi

Berdasarkan Gambar 5, grafik

menunjukkan kecenderungan nilai rata-rata

fitness yang meningkat seiring dengan

meningkatnya ukuran populasi. Hal ini

menunjukkan bahwa ukuran populasi

mempengaruhi nilai fitness. Ukuran populasi

yang besar memungkinkan terjadinya variasi individu yang beragam. Sebaliknya, ukuran populasi yang sedikit mengakibatkan variasi

individu tidak beragam. Nilai rata-rata fitness

paling rendah terjadi pada ukuran populasi 10, kemudian grafik terus meningkat secara signifikan, namun pada ukuran populasi 60 tidak

terjadi peningkatan nilai rata-rata fitness secara

signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar ukuran populasi semakin luas juga ruang pencarian pada Algoritme Genetika membuat

semakin cepat mendekati nilai fitness yang

optimal, sehingga untuk ukuran populasi yang lebih besar lagi hanya sedikit perkembangan

nilai fitness yang lebih baik. Sedangkan ukuran

populasi yang terlalu kecil memungkinkan semakin kecilnya ruang pencarian yang dapat

dilakukan oleh proses crossover dan mutasi.

Berdasarkan Gambar 5 maka dapat disimpulkan bahwa percobaan ukuran populasi ini hampir mencapai konvergen pada saat ukuran populasi mencapai 60 dengan rata-rata selisih

nilai rata-rata fitness dari ukuran populasi 60

sampai 100 adalah 9,9107 x 10-11 dibanding

dengan rata-rata selisih nilai rata-rata fitness dari

populasi 10 sampai 60 adalah 1,0477 x 10-9 yang

mengalami peningkatan yang signifikan. Ukuran populasi terbaik dihasilkan dengan rata-rata nilai

fitness 1,8731 x 10-7 yaitu pada ukuran populasi sebesar 100.

5.2. Pengujian dan Analisis Jumlah Generasi

Indikator pengujian adalah nilai rata-rata

fitness dari setiap generasi. Data yang digunakan tetap sama dengan pengujian ukuran populasi sebelumnya. Sedangkan parameter Algoritme Genetika yang digunakan dalam pengujian terhadap jumlah generasi terbaik adalah

(7)

menggunakan ukuran populasi terbaik dari hasil pengujian ukuran populasi sebelumnya yaitu

sebesar 100, nilai cr adalah 0,4 dan nilai mr

adalah 0,2. Untuk pengujian jumlah generasi, masing-masing dilakukan sebanyak 10 kali dengan jumlah generasi kelipatan 100, dimulai dari jumlah generasi 100 sampai jumlah generasi 1000. Dari uji coba tersebut akan diperoleh jumlah generasi yang terbaik.

Gambar 6. Grafik Hasil Percobaan Jumlah Generasi

Berdasarkan Gambar 6 dapat ditunjukkan bahwa jumlah generasi yang meningkat akan

menaikkan nilai rata-rata fitness. Nilai rata-rata

fitness paling rendah terjadi pada jumlah generasi 100. Sedangkan pada jumlah generasi

200, 300, dan 400 nilai rata-rata fitness

meningkat secara signifikan. Hal ini

menunjukkan bahwa jumlah generasi yang besar akan mengakibatkan proses evolusi semakin sering dilakukan. Pada setiap generasi akan

dilakukan proses crossover dan mutasi, sehingga

semakin banyak jumlah generasi, maka proses

crossover dan mutasi akan semakin sering dilakukan yang menyebabkan variasi individu semakin beragam. Sedangkan pada jumlah generasi 500, 600, dan 700 tidak terjadi

peningkatan nilai rata-rata fitness secara

signifikan dikarenakan semakin besar jumlah generasi maka semakin banyak proses evolusi yang terjadi sehingga hasil yang didapatkan

sudah mendekati nilai fitness yang optimal,

sehingga untuk jumlah generasi yang lebih besar lagi tidak seberapa terlihat peningkatannya.

Berdasarkan Gambar 6 dapat disimpulkan bahwa pengujian jumlah generasi mencapai hampir konvergen pada jumlah generasi 700 sekaligus menjadi jumlah generasi terbaik

dengan rata-rata nilai fitness 1,8742 x 10-7. Pada

jumlah generasi selanjutnya, nilai rata-rata

fitness tidak jauh berbeda dari sebelumnya dan sedikit turun walaupun tipis sekali disebabkan faktor nilai random kromosom awal yang bisa mendapatkan hasil yang kurang baik dan didukung ruang pencarian yang tereksploitasi sebatas ukuran populasi yang sama.

5.3. Pengujian dan Analisis Kombinasi Cr dan Mr

Pengujian ini dilakukan untuk

mendapatkan nilai kombinasi cr dan mr terbaik.

Data yang digunakan dalam pengujian ini tetap sama dengan data yang digunakan dalam pengujian sebelumnya. Sedangkan parameter Algoritme Genetika yang digunakan adalah menggunakan ukuran populasi terbaik dari hasil pengujian ukuran populasi sebelumnya yaitu sebesar 100, dan jumlah generasi yang digunakan adalah jumlah generasi terbaik dari hasil pengujian sebelumnya yaitu sebesar 700.

Nilai cr dan mr yang diujikan adalah nilai-nilai

pada interval 0 sampai 1, dengan kombinasi sesuai dengan skenario perancangan pengujian

yang telah dilakukan. Setiap kombinasi cr dan

mr dilakukan percobaan sebanyak 10 kali.

Gambar 7. Grafik Hasil Percobaan Kombinasi Cr

dan Mr

Berdasarkan Gambar 7 ditunjukkan bahwa

kombinasi cr dan mr berpengaruh terhadap nilai

fitness yang dapat dilihat dari dengan

menggunakan mr yang semakin besar

menyebabkan peningkatan rata-rata nilai fitness

yang kemudian mencapai nilai terbaik pada

kombinasi cr 0,3 dan mr 0,7 dan mengalami

sedikit pernurunan diselanjutnya. Hal ini disebabkan oleh proses mutasi dapat melakukan

eksplorasi yang lebih luas daripada crossover

yang mengeksploitasi offspring selanjutnya berdasarkan 2 parent sebelumnya. Semakin

besar nilai mr, semakin banyak offspring yang

dihasilkan dari proses mutasi yang menyebabkan

meningkatnya rata-rata nilai fitness yang

didapatkan. Permasalahan yang ingin

diselesaikan juga mempengaruhi dalam

memperoleh nilai kombinasi cr dan mr yang

tepat (Mahmudy, 2014). Hal ini yang menyebabkan nilai terbaik dicapai pada

1,87E-07 1,872E-07 1,874E-07 1,876E-07

100 200 300 400 500 600 700 800 900

(8)

kombinasi cr 0,3 dan mr 0,7 dan mengalami

sedikit penurunan pada kombinasi cr 0,2 dan mr

0,8 serta kombinasi cr 0,1 dan mr 0,9. Nilai cr

atau mr yang terlalu rendah mengakibatkan

sebuah permasalahan sulit mendapatkan solusi terbaik karena Algoritme Genetika kurang efektif dalam melakukan pembelajaran dari generasi sebelumnya (Mahmudy, 2014). Hal ini

yang menyebabkan kombinasi cr 0 dan mr 1

serta kombinasi cr 1 dan mr 0 mempunyai nilai

rata-rata fitness yang rendah. Hal ini disebabkan

hanya digunakannya mutasi tanpa menggunakan

crossover, begitu pula sebaliknya.

Berdasarkan Gambar 7 dapat disimpulkan

bahwa kombinasi cr dan mr terbaik dihasilkan

dengan rata-rata nilai fitness 1,8743 x 10-7 yaitu

pada kombinasi cr 0,3 dan mr 0,7.

5.4. Analisis Global

Berdasarkan hasil pengujian yang

dilakukan pada sistem dengan menggunakan dua tanaman yaitu tanaman jahe dan cabai merah serta parameter Algoritme Genetika yang optimal yaitu dengan ukuran populasi sebesar 100, jumlah generasi sebanyak 700, kombinasi

cr 0,3 dan mr 0,7 didapatkan

kromosom-kromosom terbaik sebagai solusi untuk

menentukan kombinasi kadar pupuk untuk jenis tanaman tertentu yang dipilih. Dari banyak percobaan didapatkan hasil rekomendasi sistem terbaik yang ditunjukkan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Kadar Pupuk Optimal Rekomendasi Sistem

Tanaman Jahe

Pupuk Urea SP-36 KCl

Kadar Pupuk (kg) 572.98 347.06 372.01

Kandungan Hara (kg) 262.77

(N) 123.94 (P) 223.21 (K)

Hasil keluaran sistem menunjukkan

optimasi kadar pupuk untuk tanaman jahe yaitu Urea sebesar 572,98 kg/ha, SP-36 sebesar 347,06 kg/ha, KCl sebesar 372,01 kg/ha dan untuk tanaman cabai merah yaitu Urea sebesar 561,93 kg/ha, SP-36 sebesar 303,36 kg/ha, KCl sebesar 313,86 kg/ha.

Dari tabel rekomendasi tersebut kemudian dihitung kadar pupuk yang dianjurkan. Kadar pupuk rekomendasi pakar ditunjukkan dalam

Tabel 5.

Tabel 5. Kadar Pupuk Optimal Rekomendasi Pakar

Tanaman Jahe

Pupuk Urea SP-36 KCl

Kadar Pupuk (kg) 573 350 374

Kandungan Hara (kg) 262.78

(N) 125 (P) 224.4 (K)

dibandingkan dengan menghitung selisih kadar pupuk rekomendasi pakar dengan kadar pupuk

rekomendasi sistem. Selisih tersebut

ditunjukkan pada Tabel 6.

Tabel 6. Selisih Perbandingan Kadar Pupuk

Tanaman Jahe dibutuhkan dari rekomendasi sistem adalah sebesar Rp 5.320.288,00. Harga ini lebih murah jika dibandingkan dengan total harga sesuai rekomendasi yang diberikan pakar yaitu sebesar Rp 5.332.612,00, dengan selisih sebesar Rp 12.324,00. Berdasarkan hasil pengujian tersebut,

maka rekomendasi kadar sistem dapat

(9)

6. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian yang telah dilakukan mengenai penerapan Algoritme Genetika untuk menyelesaikan

permasalahan optimasi pemupukan pada

pertanian rempah, maka kesimpulan yang didapat adalah sebagai berikut:

1. Algoritme Genetika dapat diterapkan pada

permasalahan optimasi pemupukan pada pertanian rempah. Proses optimasi kadar

pupuk diawali dengan representasi

kromosom awal sebanyak ukuran populasi yang diinginkan. Masing-masing individu memiliki gen sebanyak jumlah pupuk yang

digunakan. Masing-masing gen

merepresentasikan kadar pupuk yang

dibangkitkan secara random pada interval atas dan bawah yang telah dianjurkan oleh

pakar. Representasi kromosom

menggunakan representasi real code. Yang

kemudian dilakukan proses crossover dan

mutasi sebagai proses reproduksi sehingga didapatkan sejumlah offspring yang akan diseleksi bersama dengan individu parent

berdasarkan nilai fitness-nya. Crossover

menggunakan metode extend intermediate

crossover, sedangkan mutasi menggunakan

metode random mutation. Seleksi

menggunakan metode elitsm selection dimana individu-individu dengan nilai

fitness terbaik yang akan diproses untuk generasi selanjutnya. Penggunaan elitsm

selection pada proses seleksi dapat

menjamin individu-individu terbaiklah yang akan terpilih untuk generasi selanjutnya. Hal ini ditunjukkan dengan grafik pengujian

parameter Algoritme Genetika yang

menunjukkan nilai fitness yang mengalami

kenaikan secara signifikan.

2. Parameter Algoritme Genetika yang tepat

untuk permasalahan optimasi pemupukan pada pertanian rempah ditentukan melalui hasil pengujian yaitu dengan menggunakan ukuran populasi sebesar 100, jumlah

generasi sebesar 700, nilai cr 0,3 dan mr 0,7.

3. Dari hasil pengujian tersebut diketahui

bahwa Algoritme Genetika dapat

merekomendasikan kadar pupuk yang memenuhi kebutuhan hara tanaman dengan harga yang lebih murah. Hasil pengujian terbaik menunjukkan bahwa Algoritme Genetika dapat memberikan solusi optimasi kadar pupuk untuk kasus tanaman jahe dan tanaman cabai merah yaitu untuk tanaman

jahe dengan Urea sebesar 572,98 kg/ha, SP-36 sebesar 347,06 kg/ha, KCl sebesar 372,01 kg/ha dan untuk tanaman cabai merah dengan Urea sebesar 516,93 kg/ha, SP-36 sebesar 303,36 kg/ha, KCl sebesar 313,86 kg/ha. Total harga yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 5.320.288,00. Harga ini lebih murah jika dibandingkan dengan total harga sesuai rekomendasi yang diberikan pakar yaitu sebesar Rp 5.332.612,00, dengan selisih sebesar Rp 12.324,00. Berdasarkan hasil pengujian tersebut, maka rekomendasi kadar sistem dapat memenuhi kebutuhan hara tanaman dan menghemat biaya sebesar 0,23% per hektar tanah untuk penanaman 2 jenis tanaman dan penggunaan 3 jenis pupuk.

7. DAFTAR PUSTAKA

ALVIANA, V., F., SUSILA, A., D., 2009.

Optimasi Dosis Pemupukan pada

Budidaya Cabai (Capsicum annum L.) Menggunakan Irigasi Tetes dan Musa Polyethylene. J. Agron. Indonesia.

GEN, M. & CHENG, R. 2000. Genetic

Algorithms and Engineering

Optimization. John Wiley & Sons, Inc., New York.

FADILAH, A., N., CHOLISSODIN, I.,

MAHMUDY, W., F., 2015.

Implementasi Metode Analytical

Hierarchy Process (AHP) dan Algoritme Genetika untuk Rekomendasi dan

Optimasi Pemupukan Berimbang

Tanaman Hortikultura. DORO:

Repository Jurnal Mahasiswa PTIIK Universitas Brawijaya, vol. 5, no. 14. GOLDBERG, D., E., 1989. Genetic Algorithms

in Search, Optimization and Machine

Learning. Massachusetts:

Addison-Wesley Publishing Company.

MAHMUDY, W., F., 2013. Algoritme Evolusi. Malang: Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK) Universitas Brawijaya.

PRIBADI, E., R., 2013. Status dan Prospek Peningkatan Produksi dan Ekspor Jahe Indonesia. Bogor: Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

(10)

Obat dan Aromatik.

RIADI, S., P., 2011. Rempah-Rempah yang Berpotensi di Indonesia. Tersedia di: < https://www.academia.edu/11775811/R EMPAH_REMPAH_YANG_BERPOT ENSI_DI_INDONESIA_MAKALAH_ TPPHP_> [Diakses 1 Oktober 2015] RUHNAYAT, A., 2007. Penentuan kebutuhan

pokok unsur hara N, P, K untuk pertumbuhan tanaman panili. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.

RUHNAYAT, A., HARTATI, S., Y.,

LUKMAN, W., MARDIANA, 2010.

Pemupukan Berimbang untuk

Meningkatkan Produksi (30 Ton/Ha) dan Ketahanan Tanaman Jahe Terhadap Ralstonia Solanacearum (>30%). Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. SOEMARNO, 2013. Pupuk dan Pemupukan Ramah Lingkungan. Malang: Fakultas

Pertanian Universitas Brawijaya.

Tersedia di: <http://goo.gl/aOB7Ux> [Diakses 1 Oktober 2015]

SULKANI, 2015. Mengembalikan kejayaan

rempah Indonesia. Tersedia di:

<http://ditjenbun.pertanian.go.id/tanreg

ar/berita-279-mengembalikan-kejayaan-rempah-indonesia.html> [Diakses 1 Oktober 2015]

Gambar

Tabel 3. Data Kebutuhan N, P, K Tanaman
Gambar 1.  Diagram Alir Perancangan Sistem
Gambar 2.  Diagram Alir Optimasi Algoritme
Gambar 4. Halaman Data
+3

Referensi

Dokumen terkait

Holy Lord I ain't, I'd take Starbuck away from this battalion and put you in charge.&#34; In truth Blythe despised Dennison for a boastful coward, and found it hard even to sit

Bentuk pelaksanaan bimbingan dan konseling bagi anak down syndrom dalam penelitian ini adalah bimbingan konseling Islam menggunakan terapi bermain lompat jingkat

Rekomendasi yang dapat ditawarkan dari penelitian ini adalah; (a) melakukan ujicoba modul dan penerapannya dalam bentuk pelatihan, (b) merealisasikan keinginan anak-anak

Namun, Lismayani (2016) hanya menerapkannya pada rancangan dengan satu faktor saja, sementara dalam penelitian sering ditemui percobaan yang dipengaruhi oleh

Kalimat yang bervariasi tersebut digunakan dalam wacana propaganda politik dalam kampanye pemilu 2009 sesuai dengan maksud-maksud yang diinginkan para

Pada penelitian jurnal Monica Amelia dengan judul Efek Antelmintik Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.) terhadap Ascaris suum Betina secara In Vitro tahun

Factor Disposisi, berdasarkan hasil penelitian ini, masih kurang tegasnya Implementator dalam menerapkan Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Pajak Hotel yang

1) Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik: Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa