SOLAR TRACKING DUAL – AXIS BERBASIS ARDUINO UNO DENGAN MENGGUNAKAN LENSA FRESNEL GUNA MENINGKATKAN
EFISIENSI PENGFOKUSAN CAHAYA MATAHARI
𝐈𝐦𝐚𝐝𝐮𝐝𝐝𝐢𝐞𝐧 𝐀𝐫𝐢𝐞𝐟𝐚𝟏 , 𝐍𝐮𝐫𝐮𝐥 𝐊𝐡𝐚𝐥𝐢𝐦 𝐌𝐚𝐮𝐥𝐢𝐝𝐢𝐲𝐚𝐡𝟐 ,
𝐑𝐚𝐭𝐮 𝐑𝐢𝐞𝐳𝐠𝐢𝐧𝐚 𝐀𝐥𝐢𝐲𝐚𝟑
Dosen Pembimbing : Margana, S.T., M.Eng.
𝑇𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝐾𝑜𝑛𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖 𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖, 𝑃𝑜𝑙𝑖𝑡𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝑁𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔, 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎 𝟏
Email: [email protected]
𝑇𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝐾𝑜𝑛𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖 𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖, 𝑃𝑜𝑙𝑖𝑡𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝑁𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔, 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎𝟐
Email: [email protected]
𝑇𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝐾𝑜𝑛𝑣𝑒𝑟𝑠𝑖 𝐸𝑛𝑒𝑟𝑔𝑖, 𝑃𝑜𝑙𝑖𝑡𝑒𝑘𝑛𝑖𝑘 𝑁𝑒𝑔𝑒𝑟𝑖 𝑆𝑒𝑚𝑎𝑟𝑎𝑛𝑔, 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎𝟑
Email: [email protected]
Abstrak
Indonesia merupakan negara yang dilalui garis khatulistiwa sehingga pencahayaan cahaya matahari yang didapatkan sangat baik sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembangkitan energi listrik oleh solar cell dan menghasilkan energi yang cukup besar untuk mencukupi kebutuhan listrik masyarakat Indonesia. Untuk mengoptimalkan energi listrik yang dihasilkan solar cell diperlukan sebuah alat yang dapat mengarahkan solar cell ke cahaya matahari.
Solar Tracking Dual-Axis Berbasis Mikrokontroler dengan Menggunakan Lensa Fresnel Guna Meningkatkan Efisiensi Pengfokusan Cahaya Matahari ini merupakan sebuah alat yang dirancang untuk mengarahkan solar cell ke cahaya matahari. Alat ini bekerja dengan menggunakan 4 buah sensor LDR (Light Dependent Resistor) dan dua Servo MG996 sebagai aktuator penggeraknya. Sistem ini dikendalikan oleh Arduino Nano yang menjalankan program yang ditanamkan oleh software Arduino IDE (Integrated Development Environment).
Hasil pengujian di bawah sinar matahari menunjukkan perbandingan tegangan dan arus yang dihasilkan solar cell yang terpasang pada alat sun tracking dengan alat yang posisinya tetap. Solar cell yang yang terpasang pada alat sun tracking
diharapkap dapat menghasilkan tegangan dan arus yang lebih besar dibanding dengan solar cell posisi tetap, sehingga mendapatkan nilai efisiensi yang tinggi.
Dari hasil perhitungan yang didapat dari data pengujian, daya rata-rata dan efisiensi yang dihasilkan menggunakan mode tracking dual-axis berturut-turut yaitu 6,81113 watt dan 68,113%, sedangkan mode diam yaitu 5,045593 watt dan 50,45593%, sehingga dapat disimpulkan bahwa mode tracking dual-axis lebih efisien dibandingkan mode diam.
Kata Kunci : Solar cell, Solar Tracking Dual-Axis, sensor LDR, Arduino Nano,
1. Pendahuluan
Kawasan Indonesia merupakan salah satu kawasan yang memiliki banyak sumber energi alam yang dapat digunakan sebagai energi alternatif untuk pembangkitan energi listrik. Upaya-upaya eksplorasi untuk membangitkan energi listrik sangat penting untuk dilakukan terutama dalam mengatasi krisis energi listrik yang sedang melanda negara kita. Indonesia sebagai negara tropis memiliki potensi insolasi matahari rata-rata 4.8 kWh/m2 per hari. Potensi terbesar terletak di Indonesia bagian timur sebesar 5,1 kWh/m2 per hari, sedangkan Indonesia bagian barat sebesar 4,5 kWh/m2 per hari [IEO,2010].Pemanfaatan energi surya di Indonesia perlu
dikembangkan termasuk
kemungkinannya untuk
diintegrasikan dengan jaringan PLN atau on-grid [IEO,2010].Kapasitas terpasang PLTS diseluruh pulau di
Indonesia terus mengalami
peningkatan dari tahun 2005 sebesar 1,23 MWp, hingga tahun 2009 sebesar 13,50 MWp [Statistik EBTKE,2011]. Kendala yang dihadapi pada penerapan PLTS adalah produksi panel surya yang
meningkatkan efisiensi panel surya yaitu dengan menambahkan sistem
solar tracker [Wafa B. et al.,2013].
Saat ini Litbang Kementerian ESDM juga sedang mengembangkan sistem
photovoltaic solar tracker untuk menambah dayakeluaran panel surya di desa Jambelaer Kabupaten Subang dengan kapasitas 8 kWp. Penelitian
[Salah A.,Salem N.,2004]
menyatakan bahwa konsumsi daya pada sistem solar tracking adalah 3% dari peningkatan daya yang dihasilkan.
Sistem solar tracker diklasifikasikan menjadi dua, yaitu single-axis dan
dual-axis. Dalam sistem dual-axis, sudut yang dikendalikan yaitu sudut
yaw dan sudut pitch. Sedangkan pada sistem single-axis, yang dikendalikan adalah salah satu dari kedua sudut tersebut [Tina G.M.,2012].
2. Metode
2.1. Komponen Alat Solar Cell
Gambar 1. PN junction
Sel surya bekerja berdasarkan efek Fotoelektrik adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi benda yang melewati radiasi sinar yang dipancarkan oleh sensor, yang kemudian dipantulkan kembali ke
receiver sensor. Sensor ini bersifat seperti saklar. apabila sensor mendeteksi benda maka saklar akan
ON, apabila tidak mendeteksi benda maka sensor OFF. pada material semikonduktor untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Sifat cahaya sebagai energi dalam paket-paket foton ini yang diterapkan pada sel surya. Semakin besar input
yang diberikan, maka daya listrik yang dapat dihasilkan oleh sel surya semakin besar. Daya listrik adalah besaran yang diturunkan dari nilai tegangan dan arus yang dihasilkan merupakan bagian dari kelistrikan yang dimiliki oleh sel surya. Daya listrik yang diberikan oleh sel surya adalah :
𝑃𝑠𝑒𝑙= 𝑉𝑠𝑒𝑙 . 𝐼𝑠𝑒𝑙 (2.1)
Efesiensi keluaran maksimum (ɳ) didefinisikan sebagai persentase daya keluaran optimum terhadap energy cahaya yang digunakan, yang berhadapan langsung dengan pancaran sinar matahari, dalam artian
posisi solar cell harus tegak lurus dengan cahaya yang datang. Dari kondisi ini, efektivitas solar cell
dalam menghasilkan daya yang lebih besar lebih mudah didapat
Gambar 2. Posisi Solar Cell dalam menerima cahaya matahari
Jenis Solar Cell
Jenis-jenis sel surya digolongkan
berdasarkan teknologi
pembuatannya. Secara garis besar sel surya dibagi dalam tiga jenis, yaitu:
1. Monocrystalline
Jenis ini terbuat dari batangan kristal silikon murni dan memiliki tebal yang sangat tipis. Kepingan sel surya yang identik satu sama lain dan memiliki kinerja tinggi.Sel ini surya yang paling efisien dibandingkan jenis sel surya lainnya, sekitar 15% – 20%.
2. Polycrystalline
Jenis ini terbuat dari beberapa batang kristal silikon yang dilebur / dicairkan kemudian dituangkan dalam cetakan yang berbentuk persegi. Kemurnian kristal silikonnya tidak semurni pada sel surya
yang dihasilkan tidak identik satu sama lain dan efisiensinya lebih rendah, sekitar 13% – 16% .
3. Thin Film Solar Cell (TFSC)
Jenis sel surya ini diproduksi dengan cara menambahkan satu atau beberapa lapisan material sel surya yang tipis ke dalam lapisan dasar. Sel surya jenis ini sangat tipis karenanya sangat ringan dan fleksibel. Jenis ini dikenal juga dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic).
LDR (Light Dependent Resistor)
Sebuah Light Dependent Resistor
(LDR) terdiri dari sebuah piringan bahan semikonduktor dengan dua buah elektroda pada permukaannya. Biasanya LDR terbuat dari bahan Cds, CdSe, PbS, Dn Bi2Se3.
Arduino Nano
Arduino Nano adalah salah satu papan pengembangan mikrokontroler yang berukuran kecil, lengkap dan mendukung penggunaan breadboard.
Arduino Nano diciptakan dengan basis mikrokontroler ATmega328 (untuk Arduino Nano versi 3.x) atau ATmega 168 (untuk Arduino versi 2.x).
Gambar 3. Arduino Nano
Motor servo MG995
Adalah sebuah perangkat atau aktuator putar (motor) yang dirancang dengan sistem kontrol umpan balik loop tertutup (servo), sehingga dapat di set-up atau di atur untuk menentukan dan memastikan posisi sudut dari poros output motor. motor servo merupakan perangkat yang terdiri dari motor DC, serangkaian gear, rangkaian kontrol dan potensiometer. Serangkaian gear
yang melekat pada poros motor DC akan memperlambat putaran poros dan meningkatkan torsi motor servo, sedangkan potensiometer dengan perubahan resistansinya saat motor berputar berfungsi sebagai penentu batas posisi putaran poros motor servo. Penggunaan sistem kontrol loop tertutup pada motor servo berguna untuk mengontrol gerakan dan posisi akhir dari poros motor servo.
Gambar 4. Servo MG995
Prinsip Kerja Motor Servo
Ketika lebar pulsa kendali telah diberikan, maka poros motor servo akan bergerak atau berputar ke posisi yang telah diperintahkan, dan berhenti pada posisi tersebut dan akan tetap bertahan pada posisi tersebut. Jika ada kekuatan eksternal yang mencoba memutar atau mengubah posisi tersebut, maka motor servo akan mencoba menahan atau melawan dengan besarnya kekuatan torsi yang dimilikinya (rating torsi servo). Namun motor servo tidak akan mempertahankan posisinya untuk selamanya, sinyal lebar pulsa kendali harus diulang setiap 20 ms (mili detik) untuk menginstruksikan agar posisi poros motor servo tetap bertahan pada posisinya.
Solar Charge Controller
Solar Charge Controller adalah peralatan elektronik yang digunakan untuk mengatur arus searah yang diisi ke baterai dan diambil dari baterai ke beban. Solar charge controller mengatur overcharging
(kelebihan pengisian - karena batere sudah 'penuh') dan kelebihan voltase dari panel surya / solar cell. Kelebihan voltase dan pengisian akan mengurangi umur baterai. Solar charge controller menerapkan
teknologi Pulse width modulation (PWM) untuk mengatur fungsi pengisian bateraidan
pembebasan arus dari baterai ke beban. Panel surya / solar cell 12
Volt umumnya memiliki tegangan
output 16 - 21 Volt.
Konsentrator lensa fresnel
Radiasi panas matahari pada prinsipnya dapat difokuskan dengan dua cara yaitu pemantulan (reflection) dan pembiasan (refraction) dengan menggunakan cermin atau lensa. Cermin ini dapat berupa bidang (heliostats atau parabola), sedangkan lensa dapat berupa lensa cembung atau lensa fresnel. Tipe lensa fresnel menurut Menghani, et.al, ada dua tipe fresnel yaitu lensa bias (refractive lens) dan cermin pantul (reflective mirrors). Lensa fresnel bias sebagian besar digunakan dalam aplikasi fotovoltaik sedangkan cermin reflektif banyak diaplikasikan dalam solar thermal power. Disain optikal lensa fresnel lebih fleksibel dan menghasilkan kerapatan fluks yang seragam pada
absorber.
Gambar 6. (a) Reflective Mirror
Fresnel, (b) Refractive Lens Fresnel
2.2. Metode Penelitian
Penulis menggunakan beberapa
metode penelitian untuk
mengarahkan penelitian
(perancangan) ini agar tujuan penelitian yang telah ditentukan dapat tercapai Bahan – bahan yang digunakan untuk membuat sistem ini
sebagai berikut :
a). 4 buah Sensor LDR yang dipasang disisi solar cell, digunakan untuk mendeteksi posisi matahari. b). Panel surya, yang digunakan untuk merubah energi matahari menjadi energi listrik.
c).Mikrokontoler Arduino Nano
d). LCD 2x16, untuk menampilkan hasil pengukuran secara digital.
e). 2 buah Servo MG995 sebagai penggerak posisi panel surya pada posisi sumbu –X dan sumbu-Z
Gambar 9. Skema Blok Diagram Pada Alat
3. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Data Hasil Pengujian Alat
Mode tracking dual-axis
Mode Diam Mode
tracking dual-axis
Mode Diam
Waktu (WIB)
Tegangan Solar Cell
(V)
Arus Solar Cell (A)
Tegangan Solar Cell
(V)
Arus Solar Cell (A)
Daya (watt)
Daya (watt)
11:15:0 13,14 0,48 13,01 0,4 6,3072 5,204
11:20:0 13,09 0,48 13,01 0,53 6,2832 6,8953
11:25:0 13,09 0,48 13,01 0,48 6,2832 6,2448
11:30:0 13,09 0,55 13,03 0,32 7,1995 4,1696
11:35:0 13,06 0,5 13,03 0,34 6,53 4,4302
11:40:0 13,09 0,48 13,03 0,26 6,2832 3,3878
11:45:0 13,09 0,55 13,03 0,34 7,1995 4,4302
11:50:0 13,09 0,54 13,03 0,24 7,0686 3,1272
11:55:0 13,06 0,48 13,03 0,18 6,2688 2,3454
12:0:0 13,09 0,48 13,03 0,4 6,2832 5,212
12:5:0 13,09 0,48 13,03 0,42 6,2832 5,4726
12:10:0 13,09 0,48 13,01 0,34 6,2832 4,4234
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7
11:15:00 11:20:00 11:25:00 11:30:00 11:35:00 11:40:00 11:45:00 11:50:00 11:55:00 12:00:00 12:05:00 12:10:00 12:15:00 12:20:00 12:25:00 12:30:00 12:35:00 12:40:00 12:45:00 12:50:00 12:55:00 13:00:00 13:05:00 13:10:00 13:15:00 13:20:00 13:25:00
A
ru
s
(A
)
Waktu (WIB)
Grafik Arus Mode tracking dual-axis dengan
Mode Diam
mode dual-axis mode diam
12:20:0 13,06 0,58 13,01 0,45 7,5748 5,8545
12:25:0 13,06 0,58 13,01 0,42 7,5748 5,4642
12:30:0 13,03 0,58 13,01 0,48 7,5574 6,2448
12:35:0 13,06 0,58 13,01 0,34 7,5748 4,4234
12:40:0 13,06 0,58 13,01 0,5 7,5748 6,505
12:45:0 13,06 0,53 12,98 0,4 6,9218 5,192
12:50:0 13,06 0,48 13,01 0,42 6,2688 5,4642
12:55:0 13,06 0,48 13,03 0,34 6,2688 4,4302
13:0:0 13,03 0,53 13,01 0,13 6,9059 1,6913
13:5:0 13,01 0,48 13,01 0,53 6,2448 6,8953
13:10:0 13,01 0,61 13,01 0,21 7,9361 2,7321
13:15:0 13,01 0,63 12,98 0,4 8,1963 5,192
13:20:0 13,03 0,5 12,98 0,55 6,515 7,139
13:25:0 13,01 0,48 13,01 0,63 6,2448 8,1963
Rerata 13,06222 0,521481 13,01333 0,387778 6,81113 5,045593
Gambar 11. Grafik Tegangan Mode tracking dual-axis dengan Mode Diam
Gambar 12. Grafik Daya Mode tracking dual-axis dengan Mode Diam
Berdasarkan grafik diatas dijelaskan bahwa tegangan yang dihasilkan sel
surya dengan mode diam
menghasilkan tegangan rata-rata 13,01333 Volt sedangkan tegangan yang dihasilkan sel surya dengan
mode tracking dual-axis
menghasilkan tegangan rata-rata 13,06222Volt. Selanjutnya arus rata-rata pada sel surya dengan mode diam sebesar 0,387778 Ampere
sedangkan arus rata-rata pada sel
12,9 12,95 13 13,05 13,1 13,15 13,2
11:15:00 11:20:00 11:25:00 11:30:00 11:35:00 11:40:00 11:45:00 11:50:00 11:55:00 12:00:00 12:05:00 12:10:00 12:15:00 12:20:00 12:25:00 12:30:00 12:35:00 12:40:00 12:45:00 12:50:00 12:55:00 13:00:00 13:05:00 13:10:00 13:15:00 13:20:00 13:25:00
T
e
g
an
g
an
(
V
)
Waktu (WIB)
Grafik Tegangan Mode tracking dual-axis
dengan Mode Diam
mode dual-axis mode diam
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
11:15:00 11:20:00 11:25:00 11:30:00 11:35:00 11:40:00 11:45:00 11:50:00 11:55:00 12:00:00 12:05:00 12:10:00 12:15:00 12:20:00 12:25:00 12:30:00 12:35:00 12:40:00 12:45:00 12:50:00 12:55:00 13:00:00 13:05:00 13:10:00 13:15:00 13:20:00 13:25:00
Daya (
W
att)
Waktu (WIB)
Grafik Daya Mode tracking dual-axis dengan
Mode Diam
surya dengan mode tracking dual-axis sebesar 0,521481 Ampere. Sedangkan daya yang dihasilkan sel surya dengan mode diam rata-rata sebesar 5,045593 Watt dan sel surya dengan mode tracking dual-axis
memiliki daya rata-rata sebesar 6,81113 Watt.
Dari data yang telah didapatkan, dapat terlihat bagaimana sel surya yang dilengkapi dengan sistem dual-axis mempunyai daya output yang lebih besar daripada sel surya dengan
mode diam.
Penghitungan efisiensi dengan menggunakan sistem tracking dual-axis
Penghitungan efisiensi sistem
tracking dual-axis ini diambil dari pukul 11.15 - 13.25 WIB pada hari minggu 1 Juli 2018 dengan daya maksimum sesuai dengan name plate
dari solar cell sebesar 10 Watt DC atau 𝑃𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 = 10 Watt DC. Sedangkan daya rata-rata yang dihasilkan sebesar 6,81113 Watt. Berikut analisa penghitungan efisiensi dangan mode tracking dual-axis : bahwa dengan menggunakan sistem
tracking dual-axis menghasilkan efisiensi penyerapan daya rata-rata sebesar 68,113% dari kemampuan maksimum penyerapan daya solar cell yang harusnya 10 Watt
berdasarkan spesifikasi yang tertulis.
Penghitungan efisiensi dengan menggunakan mode diam
Penghitunganefisiensi mode diam ini diambil dari pukul 11.15 - 13.25 WIB pada hari Sabtu 30 Juni 2018 dengan daya maksimum sesuai dengan name plate dari solar cell
sebesar 10 Watt DC atau 𝑃𝑜𝑢𝑡𝑝𝑢𝑡 = 10 Watt DC. Sedangkan daya rata-rata yang dihasilkan sebesar 5,045593 Watt. Berikut analisa penghitungan efisiensi dangan mode tracking dual-axis :
𝑃𝐼𝑛𝑝𝑢𝑡 bahwa dengan menggunakan mode diam menghasilkan efisiensi penyerapan daya rata-rata sebesar
50,45593% dari kemampuan
maksimum penyerapan daya solar cell yang harusnya 10 Watt berdasarkan spesifikasi yang tertulis.
Perhitungan Selisih Efisiensi Menggunakan Sistem Tracking Dual-Axis Dengan Mode Diam Δ Efisiensi Daya =
𝑃𝑇𝑟𝑎𝑐𝑘𝑖𝑛𝑔 𝐷𝑢𝑎𝑙−𝐴𝑥𝑖𝑠 - 𝑃𝑚𝑜𝑑𝑒 𝑑𝑖𝑎𝑚
= 68,113% - 50,45593%
= 17,65707%
Dari penghitungan diatas bahwa selisih efisiensi daya ketika menggunakan sistem tracking dual-axis dan mode diam sebesar
17,65707%. Penyeapan daya
dual-axis dibanding dengan menggunakan
mode diam, hal tersebut ditunjukkan dengan nilai daya rata-rata yang dihasilkan sebesar 6,81113 Watt
lebih besar dibanding dengan mode
diam sebesar 5,045593 Watt.
4. Kesimpulan
1. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengujian solar cell
dengan menggunakan sistem
tracking dual-axis dapat menghasilkan daya sebesar 68,113% dari 10 Watt sesuai dengan spesifikasi solar cell yang tertulis.
2. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pengujian solar cell
dengan menggunakan mode diam dapat menghasilkan daya lebih kecil dibanding dengan sistem
tracking dual-axis yaitu sebesar 50,45593% dari 10 Watt sesuai dengan spesifikasi solar cell yang tertulis.
3. Selisih efisiensi daya ketika menggunakan sistem tracking dual-axis dan mode diam sebesar 17,65707%.
5. Saran
1. Untuk pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan inovasi interkoneksi pada sistem konrol jarak jauh seperti menggunakan WIFI sehingga mempermudah dalam sistem monitoring.
6. Daftar Pustaka
Roni Syafrialdi, Wildian.
(2015). “SOLAR
TRACKER BERBASIS MIKROKONTROLER ATmega8535 dengan sensor LDR dan penampil
LCD” jurnal fisika
Universitas Andalas.
Sayyidah Khoirul Nisa. (2013).
“PROTOTIPEDUAL AXIS
SUN TRACKER DENGAN SENSOR LDR (LIGHT DEPENDENT RESISTOR) MENGGUNAKAN
ARDUINO UNO” e-Jurnal
D3 ELEKTRONIKA DAN INSTRUMENTASI Universitas Gadjah Mada.
Simatupang, S., Susilo, B., dan Hermanto, M.B., 2012, Rancang Bangun dan Uji Coba Solar Tracker pada Panel Surya Berbasis Mikrokontroler Atmega16,
Jurnal Keteknikan
Pertanian Tropis dan Biosistem,Universitas Brawijaya, Malang
Wildian. (2015). “SOLAR TRACKER BERBASIS MIKROKONTROLER ATmega8535 DENGAN SENSOR LDR DAN
PENAMPIL LCD”
KaberaEnergy. “Memilih Panel
Surya Berdasarkan Jenis
Sel Surya”
https://kaberaenergy.co.id/ memilih-panel-surya/
(Diakses tanggal 28 Juni 2018)
Cyber Code. “Mengenal Arduino
Nano”
http://familycybercode.bl ogspot.com/2016/01/men genal-arduino-nano.html