PERBEDAAN SKALA NYERI SEBELUM DAN
SESUDAH PEMBERIAN TRANSVERSE FRICTION
DAN KINESIOTAPING PADA KASUS PLANTAR
FASCITIS DI RAMAYANA BUKITTINGGI
TAHUN 2017
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai salah satu syarat
dalam memperoleh gelar Diploma III Fisioterapi
Oleh
:
TJELSE PUTRI PERZIA
NIM : 1411401080
PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
FORT DE KOCK BUKITTINGGI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FORT DE KOCK PROGRAM STUDI DIPLOMA III FISIOTERAPI
KTI, AGUSTUS 2017 TJELSE PUTRI PERZIA
PERBEDAAN SKALA NYERI SEBELUM DAN SESUDAH PEMBERIAN TRANSVERSE FRICTION DAN KINESIOTAPING PADA KASUS PLANTAR FASCITIS DI RAMAYANA BUKITTINGGI TAHUN 2017
VII BAB + 65 halaman + 5 tabel + 6 gambar + 2 bagan + 8 Lampiran
ABSTRAK
Plantar Fascitis adalah suatu peradangan pada plantar fascia yang disebabkan oleh penguluran yang berlebihan pada plantar fascia yang dapat mengakibatkan kerobekan kemudian timbul iritasi pada plantar fascia. Plantar fascitis disebabkan oleh faktor anatomi seperti arcus yang rendah dan arcus
yang tinggi serta obesitas, faktor biomekanik seperti tightness pada tendon
achilles, kelemahan fleksor plantar fascia dan faktor lingkungan seperti trauma dan aktivitas yang berlebihan. Di Indonesia angka kejadian Plantar Fascitis setiap tahunnya meningkat 25%. Pada tahun 2012 didapatkan data 220.000 kasus setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian Transverse Friction dan
Kinesiotaping pada penderita Plantar Fascitis di Ramayana Kota Bukittinggi tahun 2017.
Jenis penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan rancangan test dalam satu kelompok (One-Group pretest-postest). Penelitian telah dilakukan pada 9 Agustus- 23 Agustus 2017. Dengan jumlah populasi 78 orang karyawan wanita di Ramayana Bukittinggi. Teknik Sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah Purposive Sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 10 orang karyawan wanita Ramayana penderita Plantar Fascitis. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui observasi yaitu pengukuran nyeri responden dengan mengunakan uji t-dependen test.
Hasil menunjukkan rata-rata sebelum dilakukan pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping adalah 6.30 dan hasil rata-rata sesudah pemberian
Transverse Friction dan Kinesiotaping adalah 5.00. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik test dependen dengan nilai signifikan a = 0,05. Hasil bivariat di dapatkan p value 0,004. Menunjukkan bahwa ada perbedaan penurunan nyeri pada kasus Plantar Fascitis sebelum dan sesudah diberikan
Transverse Friction dan Kinesiotaping.
Dari hasil penelitian, peneliti menyimpulkan bahwa pemberian
Transverse Friction dan Kinesiotaping dapat menurunkan nyeri pada penderita
disarankan kepada penderita Plantar Fascitis agar bisa melakukan Transverse Friction secara mandiri.
Kata Kunci : Plantar Fascitis, Transverse Friction, Kinesiotaping
FORT DE KOCK HEALTH SCIENCE COLLEGE BUKITTINGGI DEPARTEMENT OF PHYSIOTHERAPY
SCIENTIFIC WRITING, AUGUST 2017 TJELSE PUTRI PERZIA
THE DIFFERENT OF SCALE PAIN BEFORE AND AFTER GIVING
TRANSVERSE FRICTION AND KINESIOTAPING AT PLANTAR FASCITIS CASE IN RAMAYANA BUKITTINGGI ON 2017
VII chapter + 65 pages + 5 tables + 6 images + 2 charts + 8 appendixes
ABSTRAK
Plantar Fascitis is an inflammation in plantar fascia that caused by overstretch of plantar fascia resulted in scrap and inflammation in plantar fascia. Plantar fascitis caused by anatomi factor like lower arcus and higher arcus and obesity, biomekanic factor like tightness on achilles, weakness of fleksor plantar fascia and environment factor like trauma and overuse. In Indonesia, the amount people who get plantar fascitis increase 25% in a year. At 2012, its about 220.000 cases each year. The goal of this research is to know the different of scale pain before and after giving Transverse Friction and Kinesiotaping at Plantar Fascitis case in Ramayana Bukittinggi on 2017.
This is a Quasi Eksperimen research where the test is done in group (One-Group pretest-postest). The research had done at 9 August- 23 August 2017. There are 78 population. The sampling technique that is used is Purposive Sampling so there are 10 samples, they are Ramayana’s employee who suffer
Plantar Fascitis. The data is collected through observation by measuring the pain in the sample through dependent test.
Based on research, it is known that most of the pain before giving Transverse Friction and Kinesiotaping is 6.30 and after giving Transverse Friction and Kinesiotaping is 5.00. Data were analyzed by using dependent test statistic with significant value of a = 0,05. The result of bivariate is p value
0,004. Indicates that there is a difference before and after giving Transverse Friction and Kinesiotaping at plantar fascitis case in Ramayana Bukittinggi on 2017.
From the results of the study, the researchers concluded that giving Transverse Friction and Kinesiotaping can reduce pain in Plantar Fascitis sufferers because of the use of high heels (High Heels). It is suggested to Plantar Fascitis sufferers to be able to perform Transverse Friction independently.
Keyword : Plantar Fascitis, Transverse Friction, Kinesiotaping
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Alhamdulillah, dengan mengucapkan puji dan syukur yang sebesar-besarnya kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah dan petunjuknya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
Judul Karya Tulis Ilmiah ini “Perbedaan Skala Nyeri Sebelum dan Sesudah
Pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping pada Kasus Plantar Fascitis di Ramayana Bukittinggi Tahun 2017” yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Pendidikan DIII Fisioterapi STIKes Fort De Kock Bukittinggi.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan bimbingan, arahan, dan dukungan dari Pembimbing I Ns. Lydia Mardison, M. Kes dan Penguji Oktavianis, S.ST, M. Biomed Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan tak terhingga, kepada yang terhormat :
1. Ibu Nurhayati, M.Biomed selaku Ketua STIKes Fort De Kock Bukittinggi yang telah memberikan fasilitas sarana dan prasarana kepada penulis selama perkuliahan.
2. Ibu Yelva febriani SST. FT, M. Kes selaku ketua program studi DIII Fisioterapi STIKes Fort de Kock sekaligus sebagai Pembimbing II.
4. Staf Dosen Pengajar Program Studi D III Fisioterapi STIKes Fort De Kock Bukittinggi yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan bantuan kepada penulis selama perkuliahan.
5. Teristimewa kepada keluarga tercinta yang telah begitu sabar membantu, berkorban, memberi dorongan, motivasi dan semangat bagi penulis baik moril maupun materil serta doa yang tulus dan kasih sayang.
6. Rekan rekan Program Studi D III Fisioterapi yang senangtiasa selalu bersama di saat saat sulit dan penuh perjuangan.
Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini belum sempurna. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dan kesempurnaannya. Semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi yang memerlukannya.
Bukittinggi, September 2017
Penulis
(Tjelse Putri Perzia)
DAFTAR ISI
D. Manfaat Penulisan ... ...6
E. Ruang Lingkup Penelitian... ...7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi Pergelangan Kaki.... ... 9
1. Tulang ... 9
B. Plantar Fasciitis ... 19
1. Definisi ... 19
2. Etiologi ... 20
3. Patofisiologi ... 20
4. Tanda dan Gejala ... 21
5. Pemeriksaan ... 22
6. Diagnosa Banding ... 23
C. Nyeri ... 23
1. Definisi ... 23
2. Patofisiologi ... 24
3. Klasifikasi ... 24
4. Respon tubuh terhadap nyeri ... 26
5. Mekanisme Nyeri pada Plantar Fasciitis... 27
6. Pengukuran Nyeri. ... 29
D. Transverse Friction ... 30
1. Definisi ... 30
3. Mekanisme penurunan nyeri dengan Transverse friction ... 31
4. Teknik aplikasi Transverse friction ... 32
E. Kinesiotaping ... 33
1. Definisi ... 33
2. Indikasi dan Kontraindikasi ... 35
3. Mekanisme Penurunan Nyeri dengan Kinesiotaping ... 35
4. Teknik Aplikasi ... 37
5. Cara Penggunaan Kinesiotaping. ... 37
F. Kerangka Berpikir ... 39
BAB III KERANGKA KONSEP A. Kerangka Konsep ... 40
B. Definisi Operasional ... 41
C. Hipotesis ... 42
BAB IV METODE PENELITIAN A.Desain Penelitian ... 43
B.Tempat dan waktu Penelitian ... 43
C.Populasi dan Sampel ... 44
D.Instrumen penelitian ... 46
E.Teknik pengumpulan data ... 46
F. Pengolahan data ... 46
G.Langkah-Langkah Penelitian ... 47
H.Analisa Data ... 48
BAB V HASIL PENELITIAN A.Gambaran Umum Tempat Penelitian . ... ...49
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Otot-otot pada Kaki...13
3.1 Kerangka konsep ... 35
5.1 Distribusi rata-rata intensitas nyeri sebelum intervensi. ... 50
5.2 Distribusi rata-rata intensitas nyeri sesudah intervensi. ... 51
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Tulang Pergelangan Kaki ... 9
2.2 Persendian anggota gerak bawah ... 13
2.3 Plantar Fasciitis ... 20
2.4 Visual Analogue Scale ... 30
2.5 Transverse Friction ... 33
DAFTAR BAGAN
Bagan Halaman
2.1 Kerangka berpikir ... 39
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Permohonan menjadi responden 2. Format Persetujuan
3. SOP Penelitian
4. Surat Balasan Penelitian
5. Surat Keterangan Validasi Data 6. Lembar Observasi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
WHO (2012), sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik,
mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan memperhatikan upaya kesehatan
kerja sangat penting untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari
gangguan kesehatan, serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan.
Kesehatan kerja diatur dalam bab tersendiri, yaitu Bab XII yang terdiri dari Pasal
164 sampai dengan Pasal 166. Kesehatan kerja dimaksud berlaku bagi setiap
orang selain pekerja yang berada di lingkungan tempat kerja.
Dewasa ini, dunia mode atau fashion tidak dapat dipungkiri sudah
berkembang dengan sangat cepat. Meskipun fashion tidak selalu memberikan
dampak positif bagi pemakainya, namun tidak sedikit wanita yang rela
mengabaikan dampak negatif dari fashion. Faktor kesehatan adalah salah satu
yang sering terabaikan oleh penggiat fashion. Contoh yang sering kita jumpai
adalah wanita pengguna sepatu hak tinggi (High Heels).
High-heeled footwear membuat posisi kaki menukik ke depan dan
tersebut dan dalam jangka waktu yang lama dapat membuat otot gastrocnemius
memendek.
Masalah lain yang timbul berupa gangguan postur, serta yang paling
umum terjadi adalah timbulnya rasa nyeri di kaki. Penelitian yang dilakukan
Defour, et al (2009) menyimpulkan bahwa 29% dari 1901 orang wanita di
Framingham Foot Study mengalami nyeri pada tumit (Heel Pain) dan nyeri pada
permukaan bawah kaki (Arc Pain) dikarenakan oleh pemakaian sepatu dengan
hak tinggi (High heels) selama lebih dari 5 tahun. Pada pengguna high heels,
keluhan nyeri yang paling sering terjadi adalah nyeri di bagian bawah kaki atau
plantar fascitis (Zidni, 2014).
Plantar Fascitis adalah peradangan dan atau degenerasi jaringan
collagen dari plantar fascia yang membujur sepanjang kaki bagian bawah.
Kondisi plantar fascitis dapat menyebabkan gangguan yang serius. Terlebih
untuk wanita yang memiliki mobilitas tinggi. Maka diperlukan penanganan yang
tepat pada kasus plantar fascitis. Karena jika dibiarkan akan terjadi gangguan
musculoskeletal lebih lanjut (Zidni, 2014).
Tempat kerja sebagaimana disebut di atas yaitu Mall dengan salah satu
jenis pegawainya adalah Sales Promotion Girl (SPG) yaitu salah satu pekerjaan
yang muncul akibat menjamurnya mall mall di kota besar. Seorang SPG harus
bekerja kurang lebih selama minimal 6 jam berdiri menonjolkan penampilan
lebih menarik yaitu dengan penggunaan sepatu high heels. SPG sering
fungsional pada bagian tumit. Karyawan harus mendapatkan perhatian yang
khusus dari perusahaan. Terutama dalam bidang kesehatan selama mereka
berkerja, sehingga dapat meningkatkan produktivitas saat bekerja dan mencegah
terjadinya disability akibat kecelakaan kerja.
Plantar fasciitis adalah penyakit umum yang biasa ditemukan pada
masyarakat, dari populasi Australia 33,4% nya mengeluhkan nyeri pada tumit
(Ameer& Nadien, 2012).
Di Indonesia angka kejadian plantar fasciitis setiap tahunnya meningkat
25%. Pada tahun 2012 didapatkan data 220.000 kasus setiap tahunnya. Di
Sumatera Barat sendiri berdasarkan observasi awal di Mall Ramayana kota
Bukittinggi ada 15 orang karyawan yang mengalami nyeri tumit. Kondisi
karyawan yang mengalami nyeri tumit sampai saat ini tidak ada perubahan,
mereka masih saja bekerja dengan jam yang sama, tetapi mengkondisikan
pemakaian High Heels tersebut. Apabila mereka merasa nyeri tumit di jam kerja,
maka karyawan dengan spontan membuka High Heels tersebut.
Saat ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi cedera
pada tumit meliputi obat, fisioterapi, dan terapi manual. Terapi manual
merupakan pemberian manipulasi yang memiliki tujuan untuk memfasilitasi
proses penyembuhan alami tubuh. Ada banyak ragam terapi seperti: terapi
masase, osteopathic, akupuntur, circulo massage, ayurveda, reflexology, rofling,
dan sport massage (Novita Intan Arovah, 2010). Banyaknya keluhan nyeri tumit
penanganan cedera otot tumit atau nyeri tumit menggunakan terapi masase
sebagai metode penyembuhan cedera. Bentuk dari penanganan terapi masase
yaitu masase frirage yang dilakukan dengan cara memberikan manipulasi
efflurage dan friction dengan ibu jari yang dilakukan secara bersamaan pada saat
melakukan pijatan untuk melemaskan otot, memperlancar peredaran darah dan
memudahkan pada saat reposisi sendi.
Fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada
individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara dan memulihkan
gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan dengan menggunakan
penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan (fisik, elektroterapeutik
dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi (Kep.Men.Kes 1363/2008).
Fisioterapi baik secara manual ataupun dengan penggunaan alat guna dapat
diaplikasikan pada pasient salah satu penanganannya bisa diaplikasikan pada
kasus plantar fasciitis.
Pada kasus ini dan untuk mendukung proses penelitian, penulis
menggunakan modalitas Kinesiotaping dan Transverse Friction.
Transverse Friction yaitu suatu teknik manipulasi yang bertujuan untuk
memperbaiki sirkulasi darah, menurun-kan rasa nyeri secara langsung, melepas
perlengketan jaringan atau mencegah pemben-tukan jaringan abnormal pada
jaringan lunak dengan memberi penekanan secara menyilang dengan ibu jari
Kinesiotaping adalah suatu modalitas yang menunjukkan kemanjurannya
melalui aktivasi saraf dan sistem sirkulasi darah, metode ini pada dasarnya
berasal dari ilmu kinesiologi, mengakui pentingnya tubuh dan gerakan otot
dalam rehabilitasi dan kehidupan sehari-hari. Kinesiotaping juga berfungsi untuk
menjaga kestabilan pada otot. Maka nama “kinesio” digunakan. Fungsi otot tidak hanya untuk gerakan tubuh, tetapi juga mengontrol peredaran vena dan
aliran getah bening. Oleh karena itu, kegagalan otot berfungsi dengan baik
menyebabkan berbagai macam penyakit kesehatan (Nugroho, 2013).
Zidni (2014) dalam penelitiannya yang berjudul “Penambahan Kinesiotaping pada Perlakuan Myosfascial Release Technique Lebih Baik
dalam Menurunkan Nyeri Fungsional pada Plantar Fasciitis oleh Karena
Pemakaian Sepatu Hak Tinggi (High Hels)” di Praktek Fisioterapi Sidhi Medika Canggu Badung mengatakan bahwa penggunaan Kinesiotaping dapat
menurunkan nyeri fungsional pada Plantar Fasciitis oleh karena penggunaan
sepatu hak tinggi (High Heels).
Pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping dilakukan secara
sejalan kepada penderita yang mengalami keluhan nyeri pada daerah tumit,
dengan demikian kita dapat mengetahui apakah ada perubahan atau penurunan
nyeri pada kasus Plantar Fasciitis dan peneliti akan menggunakan Verbal
Analog Scale (VAS) untuk mengukur tingkat nyeri yang dirasakan.
Berdasarkan pembahasan dari beberapa sumber diatas maka penulis
Friction dan Kinesiotaping, karena lebih efektif dalam mengurangi nyeri pada
Plantar Fasciitis dan peneliti akan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS)
untuk mengukur tingkat nyeri yang dirasakan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada pada kasus Plantar Fasciitis dalam
kaitannya dengan gangguan, maka rumusan masalah penelitian ini adalah
apakah intervensi Transverse Friction dan Kinesiotaping dapat mempengaruhi
penurunan nyeri pada kasus Plantar Fasciitis ?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahui perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian
Transverse Friction dan Kinesiotaping pada penderita Plantar Fasciitis.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui rata-rata nyeri sebelum pemberian Transverse Friction dan
Kinesiotaping pada kondisi Plantar Fasciits.
b. Diketahui rata-rata nyeri sesudah pemberian Transverse Friction dan
Kinesiotaping pada kondisi Plantar Fasciitis.
c. Diketahui perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah pemberian
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperdalam dan memperluas
wawasan dan pengetahuan penulis pada kondisi Plantar Fasciitis.
2. Bagi Pendidikan
Dapat bermanfaat bagi dunia pendidikan untuk lebih mengembangkan
ilmu pengetahuan, pengalaman dan menyebar luaskan ilmu mengenai kasus
Plantar Fasciitis
3. Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat bermanfaat bagi institusi-institusi kesehatan khususnya bagi
fisioterapi agar dapat lebih mengenali dan menambah pengetahuan tentang kasus
Plantar Fasciitis sehingga dalam penanganannya dapat ditangani secara optimal
dan tepat.
4. Bagi Pembaca
Diharapkan dapat menambah wawasan pembaca tentang kondisi
penderita Plantar Fasciitis serta mengetahui cara penatalaksaan fisioterapi pada
kondisi penderita Plantar Fasciitis.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini membahas tentang perbedaan skala nyeri sebelum dan
Fasciitis. Variabel penelitian meliputi Transverse Friction dan Kinesiotaping
sebagai variabel independen dan Plantar Fasciitis sebagai variabel dependen.
Jenis Penelitian Eksperimen semu (Quasi Eksperiment) dengan metode
rancangan rangkaian waktu (Times Seri Design). Penelitian ini dilakukan pada
bulan Agustus 2017 di Ramayana Bukittinggi, penelitian ini dilakukan untuk
memenuhi syarat awal dalam menyelesaikan tugas akhir Diploma III Fisioterapi,
penelitian ini ditujukan kepada pasient yang memiliki keluhan nyeri dibagian
tumit dan bersedia untuk menjadi responden, teknik pengambilan sampel
menggunakan teknik total sampel yaitu dengan cara mengambil semua anggota
populasi. Jumlah sampel yaitu 10 orang karyawan wanita di Ramayana
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Anatomi Pergelangan Kaki
1. Tulang
Gambar 2.1
Tulang pergelangan kaki dan jari kaki
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13.
(Sumber : Syaifudin, 2011)
a. Talus
Talus berhubungan dengan tibia dan fibula, terdiri dari kaput
talus, kolumna talus, dan korpus tali. Permukaan atas korpus tali
dari ujung sendi distal tibia dan fibula dinamakan trokhlea tali. Sebelah
medial permukaan berbentuk bulan sabit
(fasies molaris medialis) yang berhubungan dengan maleolus
medialis, sebelah lateral terdapat fasies maleolaris lateralis berbentuk
segitiga. Pada permukaan bawah berhubungan dengan kalkaneus yaitu
fasies artikularis kalkaneus anterior dan posterior.
b. Kalkaneus
Kalkaneus terletak di bawah talus, permukaan atas bagian medial
terdapat tonjolan yang dinamakan sustentakulum tali di bawahnya
terdapat sulkus muskulifleksor halusis longus. Bagian belakang
kalkaneus terdapat tonjolan besar tuberkalkanei mempunyai prosesus
tuberkalkanei dan prosesus medial. Permukaan lateralis kalkaneus
terdapat prosesus trokhlearis dan di bawahnya terdapat sulkus untuk M.
Peroneus longus. Bagian depan permukaan sendi kuboideum dinamakan
fasies artikularis kuboidea.
c. Navikular
Bagian medial terdapat tonjolan yang dinamakan tuberositas ossis
navikular pedis. Permukaan sendi belakang berhubungan dengan os
d. Os Kuboideum
Permukaan proksimal mempunyai fasies artikularis untuk
kalkaneus. Permukaan distal mempunyai 2 permukaan untuk metatarsal
IV dan V. Pada permukaan medial mempunyai dua permukaan sendi
untuk navikular dan kunaiformi medialis.
e. Os Kunaiformi
Terdiri dari kuneiformi lateralis, kuneiformi intermedialis, dan
kuneiformi medialis, semuanya berbentuk baji. Permukaan proksimal
berbentuk segitiga. Puncak dari kunaiformi lateralis menghadap ke atas
dan puncak kunaiformi medialis menghadap ke bawah.
f. Os Metatarsalia
Os metatarsalia mempuyai lima buah tulang metatarsalia I, II, III,
IV, dan V. Bentuk kelima tulang ini hampir sama yaitu bulat panjang.
Bagian proksimal dari masing-masing tulang agak lebar disebut basis
ossis metatarsal. Bagian tengah ramping memanjang dan lurus
sedangkan bagian distal mempunyai bongkol kepala (kaput ossis
metatarsal). Metatarsal I agak besar daripada yang lain. Metatarsal V
bagian lateral basisnya lebih menonjol ke proksimal, disebut tuberositas
ossis metatarsal V.
g. Os Falang Pedis
Os falang pedis merupakan tulang-tulang pendek. Falang I terdiri
masing-masing mempunyai tiga ruas lebih kecil dan lebih pendek
dibandingkan falang I. Pada ibu jari terdapat dua buah tulang kecil
berbentuk bundar yang disebut tulang baji (os esamoid) (Syaifudin 2011,
p. 107).
2. Sendi
a. Artikulasio Talotibia fibularis (pergelangan kaki), antara fascies
artikularis tali os tibia dan os fibula dengan trokhlea tali bagian
medial dan lateral. Bentuk sendi engsel. Gerakan sendi ini dapat
dilakukan dorsal fleksio dan plantar fleksio (ekstensi).
b. Artikulasio Talo tarsalia (sendi loncat) karena pada gerakan meloncat
ada dua bagian. Yaitu Art. Talo kalkanea (sendi loncat atas), antara
fascies artikularis kalkanei posterior ossis talus dan fascies artikularis
tali posterior ossis kalkaneus. Art. Talo kalkaneonavikularis (sendi
loncat bawah) antara fascies artikularis navikulare kalkanei media
anterior dan fascies artikularis navikulare ossis talus dengan fascies
tali media anterior ossis kalkaneus dan fascies artikularis tali ossis
navikulare pedis. Gerakan sendi dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu gerakan plantar fleksi dan adduksi serta gerakan dorsal fleksi
kaki disertai adduksi.
c. Artikulasio Tarsotransversa, merupakan linea amputasiones khoparti,
ada dua bagian yaitu Art. Talonavikularis pedis dan Art. Kalkanea
d. Artikulasio Tarsometatarsea, antara permukaan distal ossa kunaiformi
I, II, dan III dengan permukaan proksimal ossa metatarsalia I, II, dan
III. Permukaan sendi distal os kuboideum dengan permukaan
proksimal ossa metatarsalia IV dan V.
e. Antara permukaan distal ossa metatarsalia dengan permukaan
proksimal ossa falangea I, digiti I, II, III, IV dan V.
f. Artikulasio Interfalangeal, antara ruas jari I, II, dan III dan
masing-masing jari (digiti) I, II, III, IV, dan V. Gerakan fleksi dan ekstensi
bentuk sendi engsel (Syaifudin, 2011).
Gambar 2.2
Persendian anggota gerak bawah
Otot Superfisial Kruris Dorsal
6. Otot
Posterior talofibular ligament adalah ligament yang melekat pada
yang melekat pada tulang calcaneus dan fibula. Anterior talofibular
ligament adalah ligament yang melekat pada anterior tulang talus dan
fibula. Posterior tibiotalar ligament adalah ligament pada posterior tulang
tibia. Tibiocalcaneal ligament adalah ligament yang melekat pada tulang
tibia dan calcaneus. Tibionaviculare ligament adalah ligament yang melekat
pada tulang tibia dan naviculare. Anterior tibiotalar ligament adalh ligament
yang melekat pada anterior tulang tibia dan talus (Syaifudin, 2011).
5. Saraf
Persarafan pergelangan kaki berasal dari plexus lumbalis dan plexus
sacralis. Persarafan yang berfungsi mengontrol pergerakan pergelangan
kaki yaitu n. tibialis, n. fibularis profundus dan n. fibularis superficialis.
Saraf sensoris berasal dari n. suralis dan n. Saphenus (Syaifudin, 2011).
6. Biomekanik
a. Osteokinematik
Osteokinematik adalah gerak sendi yang dilihat dari gerak
tulangnya saja. Pada osteokinematik gerakan yang terjadi berupa
gerak rotasi ayun, rotasi putar, dan rotasi spin (Nindi, 2009).
Gerakan yang terjadi pada sendi ankle yaitu fleksi (ke arah atas)
dan ekstensi (ke arah bawah). Dalam keadaan normal, ekstensi ini bisa
dilakukan sampai punggung kaki segaris dengan permukaan depan
tungkai bawah. Dengan demikian, ROM ekstensi normal adalah 90o ,
. Fleksi mempunyai ROM ± 20o dari posisi netral. Posisi netral kaki
membentuk sudut 90odengan tungkai bawah (Harsanti, 2014).
b. Arthrokinematik
Arthrokinematik adalah gerakan yang terjadi pada permukaan
sendi. Pada arthrokinematik gerakan yang terjadi berupa gerak roll
dan slide. Dari kedua gerak tersebut dapat diuraikan lagi menjadi
gerak traksi-kompresi, translasi, dan spin (Nindi, 2009).
Dalam keadaan normal besarnya gerakan dorsal flexi adalah 20˚,
sedangkan plantar flexi adalah 45˚ dan gerakan eversi yaitu 20˚,
gerakan inversi 40˚ (Nindi, 2009).
Luas gerak sendi ankle untuk gerak plantar flexi sebesar 50
derajat dan gerak dorsi flexi sebesar 20 derajat yang diukur pada
posisi anatomis. Sedangkan untuk gerak inversi sebesar 40 derajat dan
eversi sebesar 20 derajat. Bila penulisan disesuaikan dengan standar
ISOM maka untuk gerak dorsi flexi dan plantar flexi akan tertulis (S)
20-0-50 dan gerak inversi dan eversi tertulis (S) 20-0-40 (Nindi,
2009).
B. Plantar Fasciitis
1. Definisi
Plantar Fasciitis adalah peradangan dan atau degenerasi jaringan
Kondisi plantar fasciitis dapat menyebabkan gangguan yang serius.
Terlebih untuk wanita yang memiliki mobilitas tinggi. Maka diperlukan
penanganan yang tepat pada kasus plantar fasciitis. Karena jika dibiarkan
akan terjadi gangguan musculoskeletal lebih lanjut (Zidni, 2014).
Gambar 2.3 Plantar Fasciitis
(Sumber : Mujianto 2013, p. 151)
2. Etiologi
Ada beberapa faktor penyebab pada kasus fasciitis plantaris.
Beberapa faktor tersebut antara lain yaitu faktor anatomi, faktor
arcus yang rendah atau pes planus, arcus yang tinggi atau pes cavus, dan
tekanan tubuh yang berlebih atau obesitas. Pada faktor biomekanik
termasuk tightness pada tendon achilles, kelemahan flexor plantar fascia.
Pada faktor lingkungan bisa disebabkan oleh trauma, dan aktivitas yang
berlebih (Alghadir, 2006).
3. Patofisiologi
Secara aktual patologi dari plantar fascitis berawal dari stress yang
berlebihan dari plantar fascianya, dimana dapat disebabkan oleh banyak
faktor. Salah satu faktor yang termasuk yaitu kurangnya fleksibilitas dari
plantar fascia dan tightnes otot otot gastroc atau soleus. Kelemahan dari
otot-otot intrinsik kaki dan yang utama yaitu otot tibialis posterior pada
ankle, penambahan berat badan atau aktivitas yang berat, kekurangan
proprio-sepsi atau adanya deformitas dari struktur kaki, seperti: pes cavus
dan fore foot varus. Hal tersebut akan mengakibatkan tarikan pada fascia,
sehingga terjadi kerobekan dan timbul iritasi pada fascia plantarisnya.
Efek dari posisi yang lama dan terus-menerus serta stress yang
berlebihan dari plantar fascia, akan menyebabkan perubahan pada serabut
collagen, dimana terjadi penurunan kandungan air 3-4% dan penurunan
GAG sekitar 20%. Sehingga akan menurunkan jarak diantara serabut-serabut
collagen dan menyebabkan perubahan gerak yang bebas diantara
serabut-serabut. Menurunnya gerakan diantara serabut collagen membuat jaringan
serabut collagen dalam pola yang acak, disamping itu produksi fibroblas
yang berlebihan pada fase produksi akan membentuk jaringan fibrous yang
tidak beraturan sehingga menciptakan terjadinya abnormal crosslink yang
akan menyebabkan perlengketan pada jaringan. Terjadinya abnormal
crosslink disertai dengan inflamasi pada fascia plantarisnya. Sehingga timbul
nyeri tekan pada fascianya.(Periatna, 2006).
4. Tanda dan Gejala
Nyeri pada pada plantar fasciitis biasanya muncul saat bangun tidur di
pagi hari saat ingin menapakkan atau menjejakkan kaki pertama kali ke
lantai, berdiri lama, berjalan jauh, duduk terlalu lama dan saat ingin berdiri
Plantar fasciitis biasanya timbul secara bertahap, tetapi dapat juga
datang dengan tiba-tiba dan langsung nyeri hebat. Dan meskipun dapat
mengenai kedua kaki akan tetapi lebih sering hanya pada satu kaki saja
(Alamsyah, 2016).
5. Pemeriksaan
Untuk menentukan berbagai masalah gangguan gerak dan fungsi pada
plantar fasciitis maka sebelumnya harus dilakukan analisa dan sintesa
melalui proses asuhan fisioterapi yang diawali dengan assesmen meliputi
anamnesa, pemeriksaan fisik tes cepat, inspeksi, tes pasif, tes aktif, tes
isometrik sampai tes khusus, pemeriksaan penunjang, pengukuran dan
Pada anamnesa di temui keluhan pada pasien dengan plantar fasciitis
yaitu nyeri di bagian medial atau lateral, kemudian pada pemeriksaan fisik
dalam tes cepat positif nyeri gerak saat dorsal fleksi ankle, dalam inspeksi
dibagi dua yaitu statik: terlihatobesitas, dinamis: flat foot dan analis gait,
pada tes pasif, tes aktif dan tes isometrik ditemukan nyeri regang saat dorsal
fleksi ankle. Setelah dilanjutkan dengan tes khusus yang akan memperkuat
diagnosa yaitu stretch test dilakukan pada posisi dorsal fleksi ankle dan
hasilnya nyeri regang pada fascia, palpasi dilakukan daerah fascia dan
hasilnya ditemukan tenderness pada sisi medial atau lateral dari tuberositas
calcaneus (Alamsyah, 2016).
6. Diagnosa Banding
Tarsal tunnel syndrome adalah nyeri pada kaki yang disebabkan oleh
tertekannya syaraf tibial posterior yang mana posisi dari syaraf tersebut
melintasi terowongan tarsal yang letaknya tepat di bawah tulang di bagian
dalam pergelangan kaki.
Pemeriksaan dan diagnosis tarsal tunnel syndrome yang paling utama
adalah mengobservasi daerah pergelangan kaki dan daerah kaki yang
terdampak. Inspeksi pada pergelangan kaki terhadap bentuk dan anatomy
kaki biasanya akan diketemukan bentuk kaki yang overpronasi ataupun
flatfoot.
Palpasi pada pergelangan kaki pasien terutama pada daerah sekitar
adalah test yang digunakan untuk mendiagnosis tarsal tunnel syndrome.
Caranya sangat mudah, peralatan yang digunakan hanya hammer medic
ataupun tangan terapis. Fisioterapis hanya mengetukkan hammer ataupun
tangannya kedaerah dibawah ataupun didepan maleolus medialis pasien,
jika pasien mengeluh nyeri seperti tertusuk paku atau jarum maka hasilnya
pasien positif terdampak tarsal tunnel syndrome.
C. Nyeri
1. Definisi
Nyeri merupakan respon subyektif dimana seseorang memperlihatkan
tidak nyaman secara verbal maupun non verbal atau keduanya, akut maupun
kronis. Respon seseorang terhadap nyeri dipengaruhi oleh emosi,tingkat
kesadaran, latar belakang budaya, pengalaman masa lalu tentang nyeri dan
pengertian nyeri. Nyeri mengganggu kemampuan seseorang untuk
beristirahat,konsentrasi dan kegiatan yang biasa dilakukan.Nyeri yang
dialami oleh klien artritis reumatoid didapatkan skala nyeri rata-rata enam
atau nyeri sedang (Dina, 2009).
2. Patofisiologi Nyeri
Nyeri lazimnya melibatkan empat proses : transduksi, transmisi, persepsi
Tranduksi adalah proses yang melibatkan konversi energi dengan stimulus termal, mekanik, atau kimia yang berbahaya menjadi impuls saraf oleh
reseptor sensorik yang disebut dengan “nociceptor”.
Transmisi adalah tahap selanjutnya dimana impuls saraf ini ditransmisi dari tempat tranduksi (Tepi/perifer) ke saraf spinal dan otak.
Persepsi adalah proses apresiasi sinyal yang telah tiba di struktur yang lebih tinggi sebagai nyeri, penentuan pengertian dan respon prilaku.
Modulasi adalah tahap penting dimana masukan/input berupa inhisi dan fasilitasi dari otak mempengaruhi/modulasi transmisi nociceptive pada
tingkat saraf spinal.
(Heru, 2011).
3. Klasifikasi Nyeri
Klasifikasi nyeri berdasarkan lokasi, nyeri dapat dibedakan menjadi
enam jenis, yaitu nyeri superfisial, nyeri somatik dalam, nyeri viseral, nyeri
alih, nyeri sebar, dan nyeri bayangan (fantom) (Tamsuri, 2007).
Nyeri superfisial biasanya timbul akibat stimulasi terhadap kulit
seperti pada laserasi, luka bakar, dan sebagainya. Nyeri jenis ini memiliki
durasiv yang pendek, terlokalisir, dan memiliki sensasi yang tajam
(Tamsuri, 2007). Nyeri somatik dalam (deep somatik pain) adalah nyeri
umumnya nyeri bersifat tumpul dan distimulasi dengan adanya peregangan
dan iskemia (Tamsuri, 2007).
Nyeri viseral adalah nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ
internal. Nyeri yang timbul bersifat difus dan durasinya cukup lama. Sensasi
yang timbul biasanya tumpul (Tamsuri, 2007). Nyeri sebar (radiasi) adalah
nyeri yang meluas dari daerah asal ke jaringan sekitar, nyeri jenis ini
biasanya dirasakan oleh klien seperti berjalan/bergerak dari daerah asal
nyeri ke sekitar atau kesepanjang bagian tubuh tertentu (Tamsuri, 2007).
Nyeri fantom adalah nyeri khusus yang dirasakan oleh klien yang
mengalami amputasi. Nyeri oleh klien dipersepsi berada pada organ yang
telah diamputasi seolah-olah masih ada (Tamsuri, 2007). Nyeri alih
(referred pain) adalah nyeri yang timbul akibat adanya nyeri viseral yang
menjalar ke organ lain, sehingga dirasakan nyeri pada beberapa tempat atau
lokasi (Tamsuri, 2007).
3. Respon tubuh terhadap nyeri
a. Respon fisik
Respon fisik timbul karena pada saat impuls nyeri ditransmisikan
oleh medula spinalis menuju batang otak dan talamus, sistem saraf
otonom terstimulasi, sehingga menimbulkan respon yang serupa dengan
Pada nyeri skala ringan sampai moderat serta pada nyeri
superfisial, tubuh bereaksi membangkitkan “General Adaption Sindrome” (Reaksi fight of fight), dengan merangsang sistem saraf simpatis. Sedangkan pada nyeri yang berat dan tidak dapat ditoleransi
serta nyeri yang berasal dari organ viseral, akan mengakibatkan stimulasi
terhadap saraf parasimpatis (Tamsuri, 2007).
b.Respon Psikologis
Respon psikologis sangat berkaitan dengan pemahaman klien
terhadap nyeri yang terjadi atau arti nyeri bagi klien. Klien yang
mengartikan nyeri sebagai suatu yang “negatif” cenderung memiliki suasana hati sedih, berduka, ketidakberdayaan, dan dapat berbalik
menjadi rasa marah dan frustasi. Sebaliknya pada klien yang memiliki
persepsi nyeri sebagai pengalaman yang “positif” akan menerima nyeri
yang dialaminya (Tamsuri, 2007).
c.Respon perilaku
Respon perilaku yang timbul pada klien yang mengalami nyeri
macam-macam. Fase antisipasi merupakan fase yang paling penting
karena pada fase ini merupakan penentuan untuk fase berikutnya. Pada
fase ini, merupakan fase yang memungkinkan individu untuk memahami
nyeri, untuk belajar dan mendapat gambaran tentang nyeri itu sendiri.
Pada fase ini klien dipersiapkan untuk belajar bagaimana mengendalikan
tindakan jika terapi atau tindakan yang dilakukan kurang efektif. Pada
fase antisipasi, klien juga belajar mengendalikan emosi (kecemasan)
sebelum nyeri itu sendiri muncul, karena kecemasan dapat menyebabkan
peningkatan sensasi nyeri yang terjadi pada klien dan/atau tindakan
ulang yang dilakukan oleh klien untuk mengatasi nyeri menjadi kurang
efektif (Tamsuri, 2007).
4. Mekanisme timbulnya nyeri pada Plantar Fasciitis
Secara anatomi, pada saat kita berjalan, semua berat badan kita
bertumpu pada tumit yang kemudian tekanan ini akan disebarkan ke
ligamen plantar fascia. Sehingga ligamen tersebut akan tertarik ketika kaki
melangkah, tegang, berulang terus menerus, sehingga terasa nyeri ringan
yang akhirnya mengalami inflamasi pada tuberositas calcaneus dan robekan
kecil di serabut ligamen plantar fascia akan menjadi teriritasi atau
meradang.
Plantar fasciitis adalah suatu peradangan pada otot fascia yang
disebabkan oleh penguluran yang berlebihan pada fascia plantarisnya yang
dapat megakibatkan kerobekan kemudian timbul suatu iritasi pada fascia
plantaris, khususnya mengenai bagian antero-medial tuberositas calcaneus
terkadang dapat juga terjadi pada bagian posterior calcaneus.
Nyeri pada plantar fasciitis diawali karena adanya lesi pada soft tissue
di sisi tempat perlengketan plantar aponeurosis yang letaknya dibawah dari
akibat dari penekanan dan penguluran yang berlebihan. Adanya penekanan
dan penguluran pada fascia plantaris dapat menimbulkan aksi potensial dari
ujung saraf nocisensorik (serabut saraf A-delta dan C) yang menghantarkan
impuls nyeri ke kornu dorsalis medula spinalis lalu ke otak, dan di otak
impuls tersebut di interpretasikan sebagai nyeri (Alamsyah, 2016).
Inflamasi dapat dikatakan sebagai penyebab utama dari nyeri pada
plantar fasciitis. Proses inflamasi menyebabkan jaringan di sekitar lesi
memproduksi mediator inflamasi yang dapat menyebabkan aktivasi
nosiseptor sehingga meransang serabut saraf afferen bermyelin tipis
(Serabut saraf A delta dan tipe C). Impuls tersebut dibawa ke ganglia akar
saraf dorsalis dan meransang serabut “P” substance yang memicu terjadinya
reaksi radang. Kemudian impuls tersebut dibawa ke cornu dorsalis medula
spinalis dan dikirim ke level SSP yang lebih tinggi melalui traktus
spinothalamicus. Pada level SSP yang lebih tinggi (Cortex sensorik,
hipothalamus dan limbik system) impuls tersebut mengalami proses
interaksi yang kemudian menghasilkan suatu perasaan subyektif yang
dikenal dengan persepsi nyeri. Nyeri yang ditimbulkan akan menyebabkan
spasme otot dan bila tidak ditangani dengan baik maka akan timbul
kelemahan otot, sehingga akan rentan terjadinya resiko cidera ulang yang
akan memperburuk kondisi nyeri.
Untuk menilai tingkat nyeri, ada berbagai macam alat ukur yang bisa
digunakan. Dalam penelitian ini, penulis memilih pengukuran dengan
menggunakan Visual Analogue Scale (VAS), cara pengukuran ini sangat
lazim digunakan oleh kalangan fisioterapis, hal ini disebabkan karena
pengukuran nyeri dengan VAS sangat mudah di terapkan kepada pasient
dimana besar nyeri yang dirasakan (Bambang, 2010).
VAS berupa sebuah garis lurus dengan panjang 10 cm/100 mm.
Dalam pelaksanaan pengukuran nyeri, pasient diminta untuk memberi tanda
pada garis sesuai yang dirasakan pasient.
Gambar 2.4
Visual Analogue Scale
(Sumber : Tamsuri, 2007 )
Keterangan :
1-3 : Nyeri ringan
6,1-10 : Nyeri berat (Tamsuri, 2007).
D. Transverse Friction
1. Definisi
Menurut Cyriax dan Russel (1980), salah satu tujuan transverse
friction massage yaitu untuk memproduksi traumatic hyperemia dengan
meningkatkan suplai darah di area otot yang spasme dengan cara
mengurangi nodule dan melemaskan struktur serat otot yang spasme. Hal ini
dapat mempengaruhi efektifitas gerakan dari serat otot seperti memanjang
dan otot akan mudah digerakan kembali sehingga peredaran darah dan
metabolisme disekitar otot tersebut dapat berjalan lebih lancar dan membuat
nyeri pada otot berkurang (Faradilah, 2013).
2. Indikasi dan Kontraindikasi
a) Indikasi
1) Kondisi sehabis trauma atau sehabis operasi sub akut dan
kronik pada sistem musculoskeletal.
2) Kondisi ketegangan, perlengketan dan pemendekan
jaringan otot dan jaringan lunak yang lain
3) Kondisi keluhan nyeri
4) Kondisi kurang lancarnya peredaran darah
b). Kontraindikasi
1) Osifikasi atau pengerasan pada jaringan lunak
3) Sepsis pada area setempat
4) Rheumatoid pada tendon maupun rheumatoid arthritis
5) Penekanan pada saraf
3. Mekanisme penurunan nyeri dengan Transverse Friction
Transverse friction akan merangsang serabut afferen Aδ dan C yang
akan memicu pelepasan sistem analgesik endogen sehingga akan terjadi
modulasi nyeri pada level supraspinal sehingga nyeri akan menurun.
Adanya vasodilatasi akibat aplikasi transverse friction maka akan
meningkatkan aliran darah yang mengalami kerusakan sehingga akan
membersihkan area ini dari iritan kimia yang dihasilkan dari proses radang,
menghilangkan jaringan fibrous, melemaskan dan melepaskan perlengketan
pada jaringan lunak sehingga dapat menyebabkan terjadinya sedative efek
yang menurunkan nyeri. Serta vasodilatasi yang terjadi juga akan
meningkatkan transportasi endogenous opiate (endorphine) sehingga dari
proses ini akan menghasilkan penurunan nyeri.
Menurut Cyriax dan Russel (1980), salah satu tujuan transverse
friction massage yaitu untuk memproduksi traumatic hyperemia dengan
meningkatkan suplai darah di area otot yang spasme dengan cara
mengurangi nodule dan melemaskan struktur serat otot yang spasme. Hal ini
dapat mempengaruhi efektifitas gerakan dari serat otot seperti memanjang
dan otot akan mudah digerakan kembali sehingga peredaran darah dan
metabolisme disekitar otot tersebut dapat berjalan lebih lancar dan membuat
4. Teknik aplikasi Transverse Friction
Transverse friction adalah Teknik massage yang dipopulerkan oleh
James Cyriax 1975 yang diaplikasikan pada jaringan spesifik soft tissue
dengan posisi jari membentuk tumpukan dan tegak lurus terhadap jaringan
yang akan ditreatment serta jaringan yang bersangkutan dan memperbaiki
ke dalam susunan jaringan yang lebih fisiologis.
Transverse friction diaplikasikan melintang pada jaringan lunak
dengan tekanan tegak lurus dengan jari tidak boleh bergeser dari kulit
sehingga jaringan lunak yang di intervensi dapat dirasakan oleh fisioterapi.
Intensitas: Sampai batas ambang nyeri, durasi 2 menit, frekuensi 3 kali
dalam seminggu selama 2 minggu.
Tujuan transverse friction yaitu untuk memperoleh efek traumatic
hyperemia dengan meningkatkan suplai darah di area otot yang spasme
dengan cara mengurangi nodule dan melemaskan struktur serat otot yang
spasme. Hal ini dapat mempengaruhi efektifitas gerakan dari serat otot
seperti memanjang dan otot akan mudah digerakan kembali sehingga
peredaran darah dan metabolisme disekitar otot tersebut dapat berjalan lebih
lancar dan membuat nyeri pada otot berkurang (Alamsyah, 2016).
(Sumber : plantarfasciopathy.org, 2010)
E. Kinesiotaping
1. Definisi
Kinesiotaping adalah metode rehabilitasi yang dapat menstabilkan
otot, sendi, serta melancarkan peredaran darah dan limfe. Sehingga
mengurangi nyeri pada proses penyembuhan tanpa membatasi gerakan
tubuh. Menurut Dr. Stewart Bruce (Pakar Physiology of Exercise)
Kinesiotaping dapat meningkatkan kekuatan dengan mengurangi energi
yang hilang bersamaan sewaktu melakukanpergerakan. Metode
kinesiotaping dengan cara melalui aktivasi sistemsaraf dan peredaran darah.
Metode ini pada dasarnya berasal dari ilmukinesiologi, Kinesiotaping dapat
digunakan diberbagai kondisi karenakemampuannya untuk mengurangi rasa
sakit, mengurangi peradangan, mengendurkan otot, meningkatkan kinerja
dan memfasilitasi rehabilitasi sementara yang mendukung otot-otot dalam
gerak.
Kinesiotaping adalah suatu modalitas yang didasarkan pada proses
penyembuhan alami tubuh kita. Metode Kinesiotaping menunjukkan
kemanjurannya melalui aktivasi saraf dan sistem sirkulasi darah. Metode ini
pada dasarnya berasal dari ilmu kinesiologi, mengakui pentingnya tubuh
dan gerakan otot dalam rehabilitasi dan kehidupan sehari-hari. Maka nama
kegagalan otot untuk berfungsi dengan baik menyebabkan berbagai macam
penyakit kesehatan (Nugroho, 2013).
Efek lifting pada kinesiotaping berpengaruh pada sistem limfatik.
Ketika terjadi inflamasi sistem limfatik pada superfisial dan deep limfatic
vessels akanpenuh. Dengan adanya efek lifting pada kinesiotaping akan
membantu aliran limfatik menjadi normal, sehingga terjadi penurunan
tingkat inflamasi (Nugroho, 2013).
2. Indikasi dan Kontraindikasi
a) Indikasi :
1) Stimulasi otot hipotonus
2) Inhibisi otot yang hipotonus
3) Melindungi otot agar tidak cedera
4) Mengurangi oedema
5) Mengurangi inflamasi
b) Kontraindikasi :
1) Trauma akut tanpa disertai dengan diagnosa yang jelas
2) Demam
3) Luka terbuka
4) Alergi terhadap penggunaan taping
3. Mekanisme penurunan nyeri dengan Kinesiotaping
Pemakaian kinesiotaping pada kasus plantar fasciitis ini telah
penguluran yang berlebihan yang dapat mengakibatkan elongasi
(pemanjangan) dari fascia plantaris sehingga tidak akan terjadi iritasi
berulang yang dapat mengakibatkan inflamasi baru, selain itu juga
untuk menjaga kestabilitas sendi karena dengan kinesiotaping tersebut
maka apponeurosis plantaris akan tersangga dengan baik sehingga
gerakan-gerakan yang diinginkan atau gerakan-gerakan ekstrim bisa
dihindari dan dapat menambah arcus medial pada kaki terutama pada
kondisi kaki yang flat foot.
Dalam kasus ini pemakaian kinesiotaping diharapkan dapat
mencegah terjadinya pemanjangan pada fascia plantaris yang akan
menimbulkan iritasi yang berulang. Nyeri yang disebabkan oleh
tarikan atau penguluran yang berlebihan pada fascia dapat diatasi
dengan adanya fiksasi atau stabilisasi pasif pada apponeurosis
plantaris sehingga dapat menghindari terjadinya pemanjangan pada
fascia plantaris. Serta dapat dicapai stimulasi propioseptik berupa
reflek stimulasi lansung dan proses belajar. Adanya fiksasi pada
apponeurosis plantaris dapat terjadinya pemblokiran nyeri pada
sensorik level, meningkatkan system aliran darah kapiler,
meningkatkan proses metabolisme dan membantu proses absrorbsi
otot-otot yang mengalami spasme dan kekakuan sendi dapat diatasi.
Selain itu kinesiotaping juga berperan dalam modulasi nyeri
pada level sentral yang melibatkan limbic system sebagai pusat
penderita plantar fasciitis secara psikologis dapat mempengaruhi
emosional penderita, dimana pasient sudah merasa aman dengan
memakai kinesiotaping sehingga pasient dapat melakukan aktifitas
kembali tanpa merasa takut dan keadaan ini secara temporer dapat
memblokade impuls nyeri di kornu posterior medulla spinalis.
4. Teknik pemasangan kinesiotaping pada kasus Plantar Fasciitis
a. Pastikan kulit pasient telah bersih dan kering, kemudian pasient
duduk dengan posisi hip dan knee lurus dan ankle dalam posisi
normal tanpa ada sanggahan.
b. Persiapkan alat yang akan digunakan untuk memasang
kinesiotaping.
c. Pasang pita perekat dari ujung bawah jari kelingking memutari
tumit dan menyilang fascia plantaris, berakhir di ujung metatarsal
V.
d. Pasang pita perekat kedua dari ujung bawah ibu jari kaki dan
menyilang plantar kaki, memutari tumit, berakhir di ujung
metatarsal
e. Pasang kinesiotaping mengelilingi kaki di daerah metatarsal I-V
f. Pasang kinesiotaping mengelilingi kaki sehingga menutupi fascia
plantaris dan arkus kaki
a.Kulit harus dalam kondisi kering tidak boleh lembab
b. Sebaiknya jangan memakai langsung setelah mandi, setelah
memakai lotion, dan setelah kulit berkeringat karena Kinesiotaping
tidak akan melekat sempurna.
c. Apabila dipasang dengan benar, Kinesiotaping bisa dipakai 3-5 hari
(apabila masih terasa menopang otot). Namun disarankan untuk
memakainya tidak lebih dari 3 hari.
d. Apabila dipasang dengan benar, Kinesiotaping tidak lepas walaupun
dipakai saat mandi (Waterproof).
e. Apabila telah dilepas setelah pemakaian, Kinesiotaping tidak bisa lagi
digunakan (Taping Techniques, p.5, 2004)
Gambar 2.6
Teknik pemasangan kinesiotaping pada plantar fasciitis
F. Kerangka Berpikir
Bagan 2.1 Kerangka berfikir
( Sumber : Alghadir, 2006 )
Anatomi Biomekanik Lingkungan
BAB III
KERANGKA KONSEP
A.
Kerangka KonsepKerangka konsep adalah merupakan formulasi atau simplikasi dari
rangka teori atau teori teori yang mendukung penelitian. Kerangka konsep
terdiri dari variabel variabel serta hubungan variabel dengan yang lain
(Notoadmodjo, 2010). Variabel yang diteliti terdiri dari variabel indepen
dan atau variabel bebas dan variabel dependen atau variabel terikat.
Bagan 3.1 Kerangka Konsep
Pretes Intervensi Postes
Pengukuran nyeri sebelum intervensi
pada
Pemberian
Transverse Friction
Dan
Pengukuran nyeri sesudah intervensi
B. Defenisi Operasional
Plantar fasciitis adalah
suatu kondisi
patologis pada fascia plantaris, dimana
Suatu modalitas yang dirasakan pada superficial dan deep limfatic vessels akan
C. Hipotesis penelitian
Ha : Ada perbedaan nyeri sebelum dan sesudah pemberian Transverse
Friction dan Kinesiotaping pada karyawan SPG penderita Plantar
Fasciitis di Ramayana Kota Bukittinggi tahun 2017.
normal, sehingga terjadi penurunan tingkat inflamasi
Independen :
Transverse Frictio n
Transverse friction adalah suatu pemberian penekanan ritmis
dengan arah
transversal untuk remodeling struktur kolagen dari jaringan ikat dan kemudian menempatkan kembali kolagen
BAB IV
METODE PENELITIAN
A.Desain Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian eksperimen semu (quasi
eksperiment) adalah rancangan rangkaian waktu (times series design).
Rancangan ini seperti menggunakan Uji T Dependen, kecuali mempunyai
keuntungan dengan melakukan observasi (pengukuran yang berulang ulang),
sebelum dan sesudah perlakuan (Notoadmodjo, 2010).
Pretes Perlakuan Posttes
01--- X --- 02
Keterangan :
X :Transverse Friction dan Kinesiotaping
01 :Pengukuran sebelum intervensi
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian ini dilakukan di Mall Ramayana kota Bukittinggi.
2. Waktu
Waktu penelitian yaitu pada bulan Agustus 2017 dengan waktu
pengambilan data pada bulan Januari 2017. Penelitian ini dilakukan dalam
Waktu dan frekuensi tersebut diambil dengan pertimbangan masa
efektivitas dari kinesiotaping. Penelitian Briem., et al (2011) menyatakan bahwa
dengan pemakaian kinesiotaping dengan interval 3 hari selama 2 minggu,
keluhan nyeri pada otot dapat berkurang secara signifikan. Penentuan waktu dan
frekuensi tersebut juga mempertimbangkan masa inflamasi pada suatu
perlukaan. Penggunaan Kinesiotaping dengan Frekuensi 1 kali sehari, Intensitas
60% tarikan, waktu dua hari sekali, tanpa repetisi. Sedangkan Transverse
Friction Frekuensinya 1 kali sehari, Intensitas tergantung toleransi pasien, tanpa
repetisi.
C.Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti
tersebut (Notoadmojo, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan
wanita di Mall Ramayana kota Bukittinggi yaitu sebanyak 78 orang.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmojo, 2010).
Setelah didapatkan sampel maka selanjutnya adalah pengambilan
sampel, dengan menggunakan purposive sampling yaitu suatu pertimbangan
tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat
Sampel dalam penelitian ini adalah 10 orang karyawan wanita yang
menderita Plantar Fasciitis di Mall Ramayana kota Bukittinggi.
Adapun kriteria sampel sebagai berikut :
a. Kriteria Inklusi
1. Karyawan wanita yang mengalami nyeri pada telapak kaki
terutama pada pagi hari saat bangun (sesuai diagnosa
fisioterapi).
2. Penderita berusia 20-35 tahun.
3. Penderita dengan tinggi sepatu 4-8 cm
4. Penderita memiliki jam kerja 5-8 jam
5. Penderita yang bersedia menjadi responden
6. Penderita yang memiliki nyeri VAS 6-7
7. Penderita dengan Index Massa tubuh normal yaitu 18,5-25
8. Penderita yang telah bekerja ≥6 bulan
b. Kriteria Eksklusi
1. Pasien yang memiliki diagnosa Tarsal Tunnel Syndrome
2. Pasien yang menolak menjadi responden.
3. Pasien dengan tanda-tanda inflamasi akut, tumor, fraktur dan
dislokasi.
4. Pasien yang memiliki kulit sensitif.
5. Karyawan yang sedang hamil
D.Instrumen penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah VAS, yang akan
digunakan untuk mengukur derajat nyeri dan dicatat pada lembar observasi.
E.Teknik pengumpulan data
1. Data yang dikumpulkan
Data yang diambil adalah nyeri pasien saat sebelum melakukan terapi
dan sesudah terapi dengan menggunakan Transverse friction dan
Kinesiotaping. Kemudian akan dicatat dalam lembar observasi yang telah
disediakan. Serta data lain yang dikumpulkan adalah meliputi nama, umur,
dan jenis kelamin.
2. Cara mengumpulkan data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara
mengambil data tentang karyawan yang ada di Mall Ramayana kota
Bukittinggi dan melalui assesment untuk mendapatkan data awal.
F. Pengolahan data
Pengolahan dilakukan dengan menggunakan komputer dengan tahapan
sebagai berikut :
1. Editing
Langkah ini dimaksudkan untuk melakukan pengecekan terhadap
kejelasan data, kelengkapan data, keseimbangan dan keselarasan data.
2. Coding
Langkah ini dimaksudkan untuk melakukan pengkodean data untuk
3. Processing
Pada tahap ini dilakukan kegiatan memasukkan data dan diolah dengan
menggunakan program komputer
4. Cleaning
Pada tahap ini, sebelum analisa data dilakukan terhadap data yang
sudah dimasukkan perlu dilakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap
kelengkapan data.
G. Langkah-Langkah Penelitian
1). Persiapan kegiatan sebelum diberikan Transverse Friction
a) Peneliti mengumpulkan responden sesuai dengan kriteria responden
setelah menyetujui lembaran persetujuan yang di ajukan peneliti.
b) Peneliti memberikan penjelasan tentang persiapan Transverse
Friction kepada responden.
c) Peneliti akan memberikan perlakuan intervensi sesuai frekuensi,
intensitas, dan waktu yang telah ditetapkan.
d) Peneliti akan memberhentikan pemberian intervensi apabila
ditemukan kontra indikasi pada pasien.
2). Kegiatan saat dilakukan Tranverse Friction
a) Kumpulkan sampel yang akan menjadi responden
b) Ukur nyeri sebelum dilakukan intervensi Transverse Friction
d) Lakukan Transverse Friction selama 3 kali dalam seminggu selama 2
minggu
e) Ukur kembali nyeri setelah diberikan intervensi Transverse Friction
3). Persiapan kegiatan sebelum diberikan Kinesiotaping
a) Peneliti mengumpulkan responden sesuai dengan kriteria responden
setelah menyetujui lembaran persetujuan yang di ajukan peneliti.
b) Peneliti memberikan penjelasan tentang persiapan Kinesiotaping
kepada responden.
c) Peneliti akan memberikan perlakuan intervensi sesuai frekuensi,
intensitas, dan waktu yang telah ditetapkan.
d) Peneliti akan memberhentikan pemberian intervensi apabila
ditemukan kontra indikasi pada pasien.
4). Kegiatan saat diberikan Kinesiotaping
a) Kumpulkan sampel yang akan menjadi responden
b) Ukur nyeri sebelum dilakukan intervensi Kinesiotaping
c) Bersihkan area yang akan diterapi
d) Lakukan Kinesiotaping selama 3 kali dalam seminggu selama 2
minggu.
H. Analisa data
1. Analisa Univariat
Bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap
variabel penelitian (Notoadmojo, 2010). Analisa ini digunakan untuk
mengetahui rata-rata nyeri sebelum dan sesudah dilakukan intervensi
Tranverse Friction dan Kinesiotaping pada karyawan Mall penderita Plantar
Fasciitis.
2. Analisa Bivariat
Untuk mengetahui perbedaan skala nyeri sebelum dan sesudah diberikan
Transverse Friction dan Kinesiotaping pada Plantar Fasciitis menggunakan
BAB V
HASIL PENELITIAN
A.Gambaran Umum Lokasi 1.Gambaran Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di PT. Ramayana Lestari Sentosa, TBK Ramayana
Bukittinggi (R-88) jalan Ahmad Yani No. 1 Benteng Pasar Atas, Guguk Panjang,
kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Dengan jumlah karyawan wanita sebanyak 78
orang dan laki laki sebanyak 72 orang. Saat jam kerja karyawan wanita
diharuskan menggunakan pakaian seragam orange hitam dan sepatu High Heels di
atas 5cm yaitu selama 8 jam sehari dan hanya mendapatkan waktu istirahat selama
1 jam.
2.Data Geografis
Bukittinggi terletak antara 100o20-100o25 BT dan 00o16-00o20’LS. Sekitar 780 -950 meter ketinggian dari permukaan laut.
Batas Daerah Ramayana :
Selatan : Benteng Pasar Atas
Barat : Jalan Veteran
Timur : Kampung Parak Kopi
B. Analisa Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan karakteristik variabel
penelitian. Pada penelitian ini analisa univariat dilakukan untuk
menggambarkan kondisi nyeri sebelum dan sesudah pemberian Transverse
Friction dan Kinesiotapping pada kasus Plantar Fasciitis.
1. Rata-rata skala nyeri pada kasus Plantar Fasciitis sebelum pemberian
Transverse Friction dan Kinesiotapping.
Tabel 5.1
Distribusi rata-rata skala nyeri sebelum pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping pada kasus Plantar Fasciitis di Ramayana Bukittinggi tahun
2017
Variabel Minimum Maksimum Mean SD N
Nyeri pada kasus
Plantar fasciitis 6 7 6.30 .483 10
Berdasarkan tabel 5.1 Diketahui bahwa rata-rata (Mean) nyeri pada
kasus Plantar Fasciitis, sebelum pemberian Transverse Friction dan
Kinesiotapping adalah 6.30 dengan standar deviasi 0.483 skala nyeri terendah
6 dan 7 tertinggi.
2. Rata-rata skala penurunan nyeri pada kasus Plantar Fasciitis sesudah
pemberian Transverse Friction dan Kinesiotapping.
Tabel 5.2
Perbedaan rata-rata skala nyeri sesudah Pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping terhadap penurunan nyeri pada kasus Plantar Fasciitis Di
Variabel Minimum Maksimum Mean SD N
Nyeri pada kasus
Plantar fasciitis 4 6 5.00 .471 10
Berdasarkan tabel 5.2 Diketahui bahwa rata-rata (mean) nyeri pada
kasus Plantar Fasciitis, sesudah pemberian Transverse Friction dan
Kinesiotapping adalah 5.00 dengan standar deviasi 0.471 skala nyeri terendah 4
dan 6 tertinggi.
C. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan, korelasi atau
pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen. Dalam penelitian
ini analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan penurunan nyeri pada
kasus Plantar Fasciitis dengan Transverse Friction dan Kinesiotapping.
1. Perbedaan penurunan rata-rata nyeri pada kasus Plantar Fasciitis sebelum dan
sesudah pemberian Transverse Friction dan Kinesiotapping.
Tabel 5.3
Perbedaan rata-rata skala nyeri pada kasus Plantar Fasciitis sebelum dan sesudah pemberian Transverse Friction dan Kinesiotaping di Ramayana
Berdasarkan uji wilcoxon pada tabel 5.3 Didapatkan nilai p untuk nyeri
pada kasus Plantar Fasciitis adalah 0.004 < α (α = 0.05) maka dapat di simpulkan bahwa ada pengaruh penurunan nyeri sebelum dan sesudah diberikan