KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas KuasaNya, makalah yang berisikan Arahan Pengembangan Ekonomi Wilayah Kabuptaen Lamongan Dengan Konsep Agropolitan ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat dalam memenuhi evaluasi IV mata kuliah Ekonomi Wilayah. Kami ingin menyampaikan terimakasih kepada:
1. Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg dan Vely Kukinul Siswanto, ST, MT, MSc. selaku dosen pengajar mata kuliah Ekonomi Wilayah.
2. Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan dalam penyelesaian makalah ini 3. Pihak-pihak lain yang telah memberikan bantuan terkait proses penyelesaian
makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi perbaikan makalah di masa mendatang. Kami berharap makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan masyarakat pada umumnya.
Surabaya, Mei 2016
DAFTAR ISI
2.5Konsep Agropolitan...11
2.5.1Ciri-Ciri Kawasan Agropolitan...16
2.5.2Kriteria Penetapan Kawasan Agropolitan...16
2.5.3 Konsep Struktur Tata Ruang Kawasan Agropolitan...18
2.5.4Kelebihan dan Kekurangan Konsep Teori Agropolitan...19
4.1 Analisa Sektor Unggulan...31
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Era globalisasi sekarang ini, kota-kota besar maupun kawasan-kawasan strategis di Indonesia akan berkembang menjadi sebuah sistem kewilayahan dimana satu sama lain akan terikat dalam suatu sistem pengembangan dan saling ketergantungan (complementarity and independency). Pembangunan nasional yang diarahkan pada pembangunan daerah, berdasarkan UU 32 tahun 2004 pada dasarnya adalah untuk memacu pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Di tingkat regional, pembangunan wilayah yang ditinjau dari aspek ekonomi harus menjadi prioritas utama dalam menggerakkan ekonomi nasional. Namun, pada kenyataannya Pemerintah Propinsi Jawa Timur masih mengalami kekurangan, yaitu masih terbatasnya pemberian wewenang kepada pemerintah lokal dalam mengelola potensi ekonominya. Untuk itu, agar pembangunan wilayah secara regional berjalan optimal, maka Pemerintah Propinsi Jawa Timur idealnya dapat mendelegasikan wewenang kepada daerah kabupaten/kota untuk mengembangkan dan mengelola wilayahnya sendiri.
Pembangunan ekonomi daerah merupakan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakatnya dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dalam rangka kesejahteraan masyarakat. Melalui pemberlakuan sistem otonomi daerah (desentralisasi) maka pemerintah daerah dituntut kreatif dan bijak dalam upaya memacu pertumbuhan dan pembangunan ekonomi daerahnya. Untuk itu perlu diketahui sector-sektor apa sajakah yang berpotensi untuk dikembangkan agar pertumbuhan wilayah dapat meningkat secara signifikan.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Pengembangan ekonomi berjangka panjang menunjukkan bahwa sektor industri secara umum tumbuh lebih cepat dari pada sektor pertanian (Arsyad, 1991). Berdasarkan hal inilah perhatian pemerintah saat ini lebih terkonsentrasi terhadap industri di Indonesia. Pengembangan ekonomi berbasiskan industri merupakan pilihan dalam memberdayakan masyarakat yang lebih luas melalui pengembangan ekonomi wilayah pada kawasan yang memiliki potensi industri. Telah diketahui bersama bahwa pengembangan ekonomi adalah bagian dari proses pembangunan suatu wilayah. Pengembangan ekonomi yang merupakan syarat keharusan (necessary condition) maupun syarat kecukupan (sufficient condition) dalam mengurangi kemiskinan.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan pengembangan ekonomi Kabupaten Lamongan berdasarkan sektor unggulan. Melihat potensi pengembangan ekonomi wilayah yang ada di Kabupaten Lamongan tersebut, maka dilakukan lah penelitian mengenai arahan penanganan sektor ekonomi unggulan dengan konsep agropolitan yang terdapat di Kabupaten Lamongan.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini adalah:
- Persoalan apakah yang terjadi pada Kabupaten Lamongan ditinjau dari aspek perekonomian wilayahnya?
- Bagaimanakah strategi penanganan dan rekomendasi yang tepat untuk pemecahan masalah tersebut?
1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari makalah mengenai persoalan yang terjadi pada Kabupeten Lamongan ditinjau dari aspek pereknomian wilayahnya, adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dan memahami persoalan yang terjadi pada Kabupaten Lamongan ditinjau dari aspek perekonomiannya.
2. Mengetahui strategi penanganan dan rekomendasi yang tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi pada Kabupaten Lamongan ditinjau dari aspek perekonomiannya.
1.4.1. Manfaat Teoritis
- Memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai persoalan Kabupaten Lamongan ditinjau dari aspek perekonomian wilayahnya.
1.4.2. Manfaat Praktis
- Penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan referensi bagi Pengelola, Pemerintah, dan Instansi terkait dalam pengambilan kebijakan atau keputusan terhadap permasalahan yang dihadapi Kabupaten Lamongan ditinjau dari aspek perekonomian wilayahnya.
1.5. Sistematika Penulisan Makalah
BAB I Pendahuluan
Bab ini menjelaskan mengenai latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan dan manfaat, sistematika pembahasan.
BAB II Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori yang digunakan atau dijadikan pedoman dalam melakukan proses analisa dalam mencapai tujuan penelitian dimana teori dan kebijakan yang berkaitan dengan topik yang dibahas
BAB III Gambaran Umum
Bab ini akan menjelaskan mengenai identifikasi gambaran umum wilayah dan gambaran umum mengenai sektor pertanian di wilayah studi
BAB IV Analisis
Bab ini menjelaskan mengenai tahapan analisis hingga mendapatkan strategi dalam mengembangkan ekonomi wilayah berkenaan dengan topik yang sedang dibahas BAV V Konsep dan Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah
Bab ini menjelaskan mengenai konsep yang dapat diterapkan di wilayah studi untuk mengembangkan potensi sektor perekonomiannya sehingga dapat membawa dampak positif bari perekonomian wilayah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 RTRW Kabupaten Lamongan
Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Lamongan adalah mewujudkan Kabupaten yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan berbasis pada sektor pertanian, industri dan pariwisata serta mampu mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam dan melindungi masyarakat dari bencana alam.
Sedangkan fungsi dari Rencana tata Ruang wilayah Kabupaten adalah :
1) Sebagai mantra spasial dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2) Sebagai penyelaras antara kebijakan penataan ruang nasional. Provinsi, dan daerah 3) Sebagai pedoman dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah
Sebagai acuan bagi instansi pemerintah, para pemangku kepentingan, dan masyarakat dalam pemanfaatan ruang di perkotaan.
Strategi untuk kebijakan pengembangan kawasan budidaya dengan tetap menjaga sistem keberlanjutan dalam jangka panjang meliputi:
1) Melakukan kerjasama dengan masyarakat dalam mengelola hutan dengan Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat
2) Mengembangkan kawasan pertanian melalui penetapan lahan pertanian pangan berkelanjutan
3) Meningkatkan produktivitas dan pemasaran perkebunan, pertanian, perikanan dan peternakan
4) Mengembangkan dan memberdayakan industri kecil dan home industri berbasis pengolahan hasil pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan.
Rencana pola ruang untuk pengelolaan kawasan kehutanan Kabupaten Lamongan ini diarahkan pada :
1) Percepatan rehabilitasi lahan yang mengalami kerusakan;
2) Peningkatan fungsi lahan melalui pengembangan hutan rakyat yang memberikan nilai ekonomi melalui pengambilan hasil buah bukan kayu, sehingga pola ini memiliki kemampuan perlindungan seperti hutan.
2.2 RPJMD Kabupaten Lamongan
Berdasarkan visi misi yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Lamongan tahun 2010-2015, terdapat misi dalam bidang perekonomian. Yaitu misi nomor 2 yang berisi “Memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, produktivitas sektor-sektor andalan, dan pendayagunaan sumber daya alam”. Selanjutnya untuk melaksanakan misi dalam bidang perekonomian tresebut ditetapkan 1 (satu) tujuan untuk lima tahun kedepan sebagai berikut :
a. Meningkatnya kemampuan ekonomi dan produktivitas andalan daerah.
Peningkatan perekonomian daerah merupakan indikator utama dalam usaha mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat. Meningktanya perekonomian daerah akan mendorong stabilitas perekonomian daerah. Ketidakstabilan perekonomian daerah akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang pada akhirnya akan memberikan efek terhadap tingginya pengangguran dan kemmapuan daya beli masyarakat.
b. Perkembangan perekonomian daerah diukur dengan menggunakan tolok ukur pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dihitung berdasarkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan tahun 2000. Selanjutnya untuk mencapai tujuan “Meningkatnya kemampuan ekonomi dan produktivitas andalan daerah” ditetapkan sasaran sebagai berikut :
1. Menigkatnya produksi dan produktivitas tanaman pangan dan holtikultura, dengan indikator:
- Produktivitas padi per hektar
- Produktivitas tanaman palawija per hektar - Kontiribusi sektor pertanian terhadap PDRB
- Produktivitas tanaman holtikultura per hektar (sayuran dan buaha-buahan) - Peningkatan produksi padi
- Peningkatan produksi palawija
- Peningkatan produksi holtikultura (sayuran dan buah-buahan)
2. Meningkatnya produksi dan produktivitas hasil perkebunan, dengan indikator : - Produktivitas tanaman perkebunan per hektar ( tembakau dan tebu) - Peningkatan produksi perkebunan (tembakau dan tebu)
3. Meningkatnya produksi dan konsumsi hasil peternakan, dengan indikator : - Peningkatan produksi hasil ternak berupa daging
- Peningkatan produksi hasil ternak berupa telur - Konsumsi daging
- Konsumsi telur
4. Menigkatnya produksi dan konsumsi ikan di masyarakat, dengan indikator : - Produksi perikanan
- Konsumsi ikan
5. Meningkatnya produksi sektor industri, dengan indikator : - Pertumbuhan Industri
- Kontribusi sektor industri terhadapPDRB - Peningkatan mutu IKM
6. Meningkatnya volume perdagangan, dengan indikator : - Ekspor bersih perdagangan
- Kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB - Peningkatan perdagangan
7. Meningkatnya produksi hasil hutan yan memperhatikan fungsi pelestarian hutan, dengan indikator :
- Produksi hasil hutan - Kerusakan kawasan hutan
- Rehabilitasi hutan dan lahan kritis
8. Meningkatnya jumlah kunjunan wisata, dengan indikator : - Kunjungan wisata
9. Meningkatnya kualitas koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM), dengan indikator:
- Koperasi aktif
- Usaha mikro dan kecil
10. Meningkatnya kualitas tenaga kerja dan kesmepatan kerja, dengan indikator : - Tingkat partisipasi angkatan kerja
- Persentase pencari kerja yang ditempatkan 11. Meningkatya investasi di daerah, dengan indikator :
- Kenaikan/penurunan nilai realisasi PMDN (milyar rupiah)
- Kenaikan/penuurunan nilai realisasi penanaman modal domestik (milyar rupiah) 12. Meningkatnya ketersediaan pangan utama masyarakat, dengan indikator :
- Regulasi ketahanan pangan - Ketersediaan pangan utama
13. Meningkatnya pengelolaanenergi dan sumber daya mineral daerah, dengan indikator : - Jumlah IKK desa yang belum terlayani energi listrik
- Pertambangan tanpa biji - Air tanah berijin
2.3 Komoditas Unggulan
Komoditas unggulan adalah komoditas andalan yang paling menguntungkan untuk diusahakan atau dikembangkan pada suatu daerah (Depkimpraswil, 2003). Menurut Saragih (2001), komoditas unggulan agribisnis diartikan sebagai komoditas basis agribisnis yang dihasilkan secara berlebihan dalam pengertian lebih untuk dipergunakan oleh masyarakat dalam suatu wilayah tertentu, sehingga kelebihan tersebut dapat dijual ke luar wilayah tersebut.
Keberadaan komoditas unggulan pada suatu daerah akan memudahkan upaya pengembangan agribisnis. Hanya saja, persepsi dan memposisikan kriteria serta instrumen terhadap komoditas unggulan belum sama. Akibatnya, pengembangan komoditas tersebut menjadi salah urus bahkan menjadi kontra produktif terhadap kemajuan komoditas unggulan dimaksud. Berikut adalah pengelompokan komoditas unggulan, sebagai rujukan untuk menempatkan posisi produk agro dari sisi teori keunggulan komoditas, antara lain :
b) Komoditas unggulan kompetitif : komoditas yang diproduksi dengan cara yang efisien dan efektif. Komoditas tersebut telah memiliki nilai tambah dan daya saing usaha, baik dari aspek kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas dan harga.
c) Komoditas unggulan spesifik : komoditas yang dihasilkan dari hasil inovasi dan kompetensi pengusaha. Produk yang dihasilkan memiliki keunggulan karena karakter spesifiknya.
d) Komoditas unggulan strategis : komoditas yang unggul karena memiliki peran penting dalam kegiatan sosial dan ekonomi.
Sebagai perbandingan, komoditas unggulan akan lebih mudah dan lebih rasional untuk dikembangkan jika memandang komoditas unggulan dari kebutuhan pasar. Dilihat dari sisi positif, jika mengelompokkan komoditas unggulan berdasarkan potensi pasarnya, mengingat ukuran keberhasilan komoditas unggulan dapat diukur dari perannya dalam memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha. Selain itu, memberikan kontribusi dalam pengembangan struktur ekonomi, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Adapun pengelompokan komoditas tersebut, dapat disusun sebagai berikut:
a) Komoditas unggulan pasar ekspor : komoditas yang telah mampu memenuhi persyaratan perdagangan di pasar ekspor. Ini menyangkut aspek keamanan, kesehatan, standard, dan jumlah yang memadai, sehingga komoditas tersebut diminati negara pengimpor.
b) Komoditas unggulan pasar tradisional : komoditas yang mampu memenuhi keinginan selera konsumen lokal, baik dari aspek cita rasa, bentuk, ukuran, kualitas harga, dan budaya lokal.
c) Komoditas unggulan pasar modern : komoditas yang telah memiliki daya saing tinggi dari aspek harga, kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, serta biasa dibutuhkan oleh berbagai kalangan konsumen secara internasional.
d) Komoditas unggulan pasar industri : komoditas yang merupakan bahan baku utama industri manufaktur agro.
e) Komoditas unggulan pasar antar pulau : komoditas yang dibutuhkan oleh pasar antar pulau karena komoditas tersebut tak mampu diproduksi di pulau tersebut.
f) Komoditas unggulan pasar khusus : komoditas yang memang dipesan oleh pasar tertentu lengkap dengan spesifikasinya. (Yuhana, 2008).
komoditas untuk memperoleh keuntungan ekonomi pada kondisi pasar persaingan sempurna (tidak ada distorsi kebijakan). Berbeda dari keunggulan komparatif, maka keunggulan kompetitif didefinisikan sebagai kemampuan sistem komoditas dalam menghasilkan keuntungan finansial pada pasar yang dihadapi secara riil. Analisis keunggulan kompetitif didasarkan pada sistem harga-harga pada pasar yang berlaku (dihadapi). Hal ini berarti sistem pasar baik pasar input, faktor domestik maupun pasar komoditas telah dipengaruhi oleh intervensi kebijakan pemerintah (Rukmantara, 2006). 2.4 Analisis Komoditas Unggulan
2.4.1 Analisis Location Quotient
Metode LQ digunakan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan, yang diakomodasi dari Miller danWright (1991), Isserman (1997), dan Ron Hood (1998). Menurut Hood (1998), Location Quotient adalah suatu alat pengembangan ekonomi yang lebih sederhana dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, sedangkan menurut Tarigan (2005), LQ adalah suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor/industri di suatu daerah terhadap besarnya peranan sektor/industri tersebut secara nasional. Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model ekonomi basis, sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan yang menjadi pemacu pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi melalui pendekatan perbandingan.
Teknik LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian atau mengukur konsentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sector suatu kegiatan ekonomi. Dasar pembahasannya sering difokuskan pada aspek tenaga kerja dan pendapatan.
Berdasarkan pemahaman terhadap teori ekonomi basis, teknik LQ relevan digunakan sebagai metode dalam menentukan komoditas unggulan khususnya dari sisi penawaran (produksi atau populasi). Untuk komoditas yang berbasis lahan seperti tanaman pangan, holtikultura, dan perkebunan, perhitungannya didasarkan pada lahan pertanian (area tanam atau area panen), dan produksi atau produktivitas. Sedangkan untuk komoditas pertanian yang tidak berbasis lahan seperti usaha ternak, dasar perhitungannya digunakan jumlah populasi (ekor).
Setiap metode analisis memiliki kelebihan dan keterbatasan, demikian halnya dengan metode LQ (Hendayana, 2003) :
Penyelesaian analisis cukup dengan spreed sheet dari Excel atau program lotus serta alat perhitungan lainnya.
b) Keterbatasannya adalah karena demikian sederhananya pendekatan LQ ini, maka yang dituntut adalah akurasi data. Sebaik apapun hasil olahan LQ, tidak akan banyak memanfaatkannya jika data yang digunakan tidak valid. Oleh karena itu sebelum memutuskan menggunakan alat analisis LQ maka validitas data sangat diperlukan. Disamping itu untuk menghindari bias musiman dan tahunan diperlukan bila rata-rata kurang dari 5 tahun. Sementara dilapangan, mengumpulkan data yang panjang sering mengalami hambatan.
Formula untuk Location Quotient (SLQ) adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Vik = Nilai output (PDRB) sektor i daerah studi k (kabupaten/kota misalnya) dalam pembentukan PDRB riil daerah studi k
Vk = PDRB total semua sektor di daerah studi k
Vip = Nilai output (PDRB) sektor i daerah referensi p (propinsi misalnya) dalam pembentukan PDRB daerah p.
Vp = PDRB total semua sektor di daerah referensi p
Asumsi utama dalam analisis LQ adalah bahwa semua penduduk di setiap daerah mempunyai pola permintaan yang sama dengan pola permintaan pada tingkat daerah referensi (pola pengeluaran secara geografis adalah sama), produktivitas tenaga kerja adalah sama dan setiap industri menghasilkan barang yang sama (homogen) pada setiap sektor (Arsyad, 1999) Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan di atas, maka ada tiga kemungkinan nilai LQ yang dapat ditemukan yaitu (Bendavid-Val, 1991): 1. Nilai LQ di sektor i = 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k
adalah sama dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perekonomian daerah refrensi p .
2. Nilai LQ di sektor i > 1. Ini berarti bahwa laju pertumbuhan sektor i di daerah studi k adalah lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan sektor yang sama dalam perkonomian daerah refrensi p. Dengan demikian, sektor i merupakan sektor unggulan daerah studi k sekaligus merupakan basis ekonomi untuk dikembangkan labih lanjut oleh daerah studi k.
perekonomian daerah refrensi p. Dengan demikian, sektor i bukan merupakan sektor unggulan daerah studi k dan bukan merupakan basis ekonomi serta tidak prospektif untuk dikembangkan lebih lanjut oleh daerah studi k.
2.5 Konsep Agropolitan
Penerapan model pusat-pusat pertumbuhan di negara-negara berkembang melalui strategi industrialisasi dan investasi ekonomi yang diarahkan pada perkotaan yang relatif memiliki petumbuhan cepat menyebabkan berbagai ketimpangan, termasuk antara wilayah perkotaan dengan wilayah perdesaan. Modernisasi baik secara sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh wilayah perkotaan tidak dapat dinikmati oleh penduduk perdesaan yang menyebabkan perdesaan semakin tertinggal dari wilayah perkotaan dan terdapat gejala kota mengeksploitasi sumberdaya alam perdesaan secara besar-besaran (urban bias).
Friedmann da Douglass (1975) menawarkan konsep agropolitan sebagai solusi atas terjadinya pembangunan yang tidak berimbang antara wilayah perkotaan dan perdesaa. Desa dan kota mempunyai peran yang sama dalam pengembangan ekonomi suatu wilayah. Jika peran desa dan kota tersebut dapat berjalan dengan baik maka akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Haeruman, 2001). Pembangunan wilayah yang ideal adalah terjadinya interaksi wilayah yang sinergis dan saling memperkuat, sehingga nilai tambah yang diperoleh dari adanya interaksi tersebut dapat terbagi secara adil dan proporsional sesuai dengan peran dan potensi sumber daya yang dimiliki masing-masing wilayah.
Gambar 2.1 Diagram Alir Sistem Kawasan Agropolitan Sumber : Materi Perkuliahan, 2015
Menurut Dr. Ir. Soenarno, agropolitan perlu diposisikan secara sinergis dalam pengembangan wilayah. Impelmentasi konsep agropolitan dalam pengembangan wilayahdilakukan melalui penerapan sistem permukiman kota dan perdesaan serta rencana tata ruang wilayah yang terkait dengan kawasan budidaya dan transportasi. Kawasan agropolitan juga discirikan dengan kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di pusat agropolitan yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan pertanan (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Pada konsep ini, strategi pengembangan harus menciptakan perekonomian perdesaan yang mandiri dan hubungan yang minimal pada ekonomi metropolis. Setiap daerah harus memiliki otonomi dan sumber daya yang cukup untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunannya sendiri.
Soleh (1998), besarnya biaya produksi dan biaya pemasaran dapat diperkecil dengan meningkatkan faktor-faktor kemudahan pada kegiatan produksi dan pemasaran. Faktor-faktor tersebut menjadi optimal dengan adanya kegiatan pusat agropolitan. Jadi peran agropolitan adalah untuk melayani kawasan produksi pertanian di sekitarnya dimana berlangsung kegiatan agribisnis oleh para petani setempat. Fasilitas pelayanan yang diperlukan untuk memberikan kemudahan produksi dan pemasaran antara lain berupa input sarana produksi (pupuk, bibit, obat-obatan, peralatan, dan lain-lain), sarana penunjang produksi (lembaga perbankan, koperasi, listrik, dan lain-lain), serta sarana pemasaran (pasar, terminal angkutan, sarana transportasi, dan lain-lain).
terbentuknya pusat-pusat pelayanan di kawasan perdesaan telah dikenal sejak lama. Pusat-pusat pelayanan tersebut dicirikan dengan adanya pasar-pasar untuk pelayanan masyarakat perdesaan. Mengingat volume permintaan dan penawaran yang masih terbatas dan jenisnya berbeda, maka telah tumbuh pasar mingguan untuk jenis komoditi yang berbeda (Anwar, 1999).
Pengembangan kawasan agropolitan merupakan alternatif solusi dalam pengembangan wilayah khususnya pedesaan. Kawasan agropolitan ini sebagai sistem fungsional desa-desa yan ditunjukkan dari hirarki keruangan desa yakni adanya pusat agropolitan dan desa-desa disekitarnya yang kemudian membentuk suatu kawasan agropolitan. Ciri dari konsep pengembangan agropolitan ini adalah konsep yang berbasiskan dengan pertumbuhan kawasan pertanian di daerah tersebut. Suatu kawasan agropolitan biasanya memiliki kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena adanya sistem dan usaha agribisnis. Pusat agropolitan ini diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya.
Dalam suatu pengembangan kawasan agropolitan yang terintegrasi diperlukan suatu penyusunan master plan pengembangan kawasan agropolitan yang nantinya akan digunakan sebagai acuan penyusunan program pengembangan. Adapun isi dari master plan tersebut adalah:
a. Pusat perdagangan dan transportasi pertanian (agricultural trade/ transport center) b. Penyedia jasa pendukung pertanian (agricultural support services).
c. Pasar konsumen produk non-pertanian (non agricultural consumers market). d. Pusat industri pertanian (agro-based industry).
e. Penyedia pekerjaan non pertanian (non-agricultural employment).
f. Pusat agropolitan dan hinterlannya terkait dengan sistem permukiman nasional, propinsi, dan kabupaten (RTRW Propinsi/ Kabupaten).
2. Penetapan unit-unit kawasa pengembangan yang berfungsi sebagai : a. Pusat produksi pertanian (agricultural production).
b. Intensifikasi pertanian (agricultural intensification).
c. Pusat pendapatan perdesaan dan permintaan untuk barang-barang dan jasa non pertanian (rural income and demand for non-agricultural goods and services).
d. Produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian (cash crop production and agricultural diversification). sumber air, dan jaringan utilitas (listrik dan telekomunikasi).
5. Dukungan sistem kelembagaan.
a. Dukungan kelembagaan pengelola pengembangan kawasan agropolitan yang merupakan bagian dari Pemerintah Daerah dengan fasilitasi Pemerintah Pusat.
b. Pengembangan sistem kelembagaan insentif dan disinsentif pengembangan kawasan agropolitan.
2.5.1 Ciri-Ciri Kawasan Agropolitan
a. Sebagian besar kegiatan masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan pertanian (dalam arti luas) dan atau agribisnis dalam suatu kesisteman yang utuh dan terintegrasi mulai dari :
• Subsistem usaha tani/ pertanian primer (on farm agribusiness) yang mencakup usaha : tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perikanan, dan peternakan. • Subsistem agribisnis hulu (up stream agribusiness) yang mencakup : mesin,
peralatan pertanian pupuk, dan lain-lain.
• Subsistem agribisnis hilir (down stream agribusiness) yang meliputi : industri-industri pengolahan dan pemasarannya termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor.
• Subsistem jasa jasa penunjang (kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis) seperti: perkreditan, asuransi, transportasi, penelitian dan pengembangan, pendidikan, penyuluhan, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah.
b. Adanya keterkaitan antara kota dengan desa (urban-rural linkages) yang bersifat interdependensi/timbal balik dan saling membutuhkan, di mana kawasan pertanian di perdesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan produk olahan skala rumah tangga (off farm) sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk berkembangnya usaha budidaya dan agribisnis seperti penyediaan sarana pertanian antara lain : modal, teknologi, informasi, peralatan pertanian, dan lain sebagainya.
c. Kegiatan sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut didominasi oleh kegiatan pertanian atau agribisnis termasuk didalamnya usaha industri (pengolahan) pertanian, perdagangan hasil-hasil pertanian (termasuk perdagangan untuk kegiatan ekspor bila dimungkinkan), perdagangan agribisnis hulu (sarana pertanian dan permodalan), agrowisata dan jasa pelayanan.
Kehidupan masyarakat di kawasan agropolitan sama dengan suasana kehidupan di perkotaan, karena prasarana dan infrastruktur yang ada di kawasan agropolitan diusahakan tidak jauh berbeda dengan di kota
2.5.2 Kriteria Penetapan Kawasan Agropolitan
Suatu kawasan agropolitan ditetapkan oleh kriteria-kriteria sebagai berikut (Rustiadi dan Sugimin Pranoto, 2007):
dimaksud seperti tanaman pangan (jagung, padi), hortikultura, perkebunanm perikanan, dan peternakan.
b. Memiliki daya dukung dan potensi fisik yang baik. Daya dukung lahan untuk pengembanagn agropolitan harus sesuai syarat dengan jenis komoditas unggulan yang akan dikembangkan meliputi: kemiringan lahan, ketinggian, kesuburan lahan, dan kesesuaian lahan.
c. Luas kawasan dan jumlah penduduk yang memadai. Untuk memperoleh hasil produksi yang dapat memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan perlu luas lahan yang memadai dalam mencapai skala ekonomi dan cakupan ekonomi.
d. Tersedianya dukungan prasarana dan sarana produksi yang memadai untuk mendukung kelancaran usaha tani dan pemasaran hasil produksi, antara lain jalan poros desa, pasar, irigasi, terminal, listrik, dsb.
Menurut Soenarno (2001), terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan akwasan agropolitan, antara lain:
1) Penetapan pusat agropolitan yang berfungsi sebagai: a. Pusat perdagangan dan transportasi pertanian
2) Penetapan unit-unit kawasan pengembangan yang berfungsi sebagai: a. Pusat produksi pertanian
b. Intensifikasi pertanian
c. Pusat pendapatan perdesaan dan permintaan untuk barang-barang dan jasa non pertanian
d. Produksi tanaman siap jual dan diversifikasi pertanian 3) Penetapan sektor unggulan:
a. Merupakan sektor unggulan yang sudah berkembang dan didukung sektor hilirnya.
b. Kegiatan agribisnis yang banayk melibatkan pelaku dan masyarakat yang paling besar (sesuai kearifan lokal)
c. Mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan untuk dikembangkan dengan orientasi ekspor.
4) Dukungan sistem infrastruktur
sumber air, dan ajringan utilitas. 5) Dukungan Kelembagaan
a. Dukungan kelembagaan pendukung pengembangan kawasan agripolitan yang merupakan bagian dari Pemerintahan Daerah dengan fasilitasi Pemerintah Pusat seperti lembaga penyuluhan dan penelitian.
b. Pengembangan sistem kelembagaan insentif dan disinsentif pengembangan kawasan agropolitan.
Konservasi alam dan kelestarian lingkungan hidup tercapai guna menjamin budidaya kelestarian sumberdaya alam, kelestarian sosial budaya maupun ekosistem yang berkelanjutan dalam RTRK/ RDTRK yang disepakati.
2.5.3 Konsep Struktur Tata Ruang Kawasan Agropolitan
Menurut pedoman pengelolaan ruang kawasan sentra produksi pangan (agropolitan) nasional dan daerah no. 15 tahun 2001, sistem kawasan agropolitan terdiri atas :
1. Kawasan lahan pertanian (hinterland)
2. Keterkaitan antara kawasan sentra produksi pangan (agropolitan) dengan kawasan lainnya misalnya, kawasan permukiman, kawasan industri, dan kawasan konservasi alam.
Berupa kawasan pengolahan dan kegiatan pertanian mencakup kegiatan pembenihan, budidaya dan pengolahan pertanian. Penentuan hinterland berupa kecamatan/desa didasarkan atas jarak capai/radius keterkaitan dan ketergantungan kecamatan/desa tersebut pada kawasan sentra produksi pangan (agropolitan) di bidang ekonomi dan pelayanan lainnya.
3. Kawasan permukiman
perdagangan, lembaga keuangan, terminal agribisnis dan pusat pelayanan umum lainnya.
Pada konsep ini, pedesaan yang tadinya tertutup diusahakan supaya lebih terbuka dan dapat terbentuk kota di wilayah pertanian (agropolis), sehingga penduduk pedesaan dapat meningkatkan pendapatannya serta mendapatkan prasarana sosialekonomi dalam jangkauannya, dan dengan demikian perpindahan ke kota dapat dikendalikan (Johara, 1992:178).
Konsep agropolitan membagi wilayah-wilayah yang berhubungan: secara fungsional dalam satu sistem kegiatan yakni :
a. Agropolitan centre yaitu pusat pengumpul dan pemasaran dengan fungsi sebagai pusat perdagangan, bursa komoditi, transportasi, industri, kegiatan manufaktur, pergudangan, jasa pendukung, pusat kegiatan tersier agribisnis, perbankan dan keuangan, serta pusat penelitian dan hasil percontohan komoditi.
b. Agropolitan district yaitu kawasan pusat pertumbuhan dan berfungsi sebagai pusat perdagangan sub wilayah, kegiatan agroindustri, pusat pelayanan pendidikan, pelatihan, pemuliaan komoditi unggulan, produksi dan diversifikasi.
c. Hinterlandatau satuan kawasan pertanian berfungsi sebagai kawasan produksi dan intensifikasi produk (Soenarno, 2003).
Konsep ini dijalankan melalui program pengembangan agropolitan dengan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agribisnis dalam suatu sistem yang utuh dan menyeluruh yang berdaya saing berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi yang digerakkan oleh masyarakat serta difasilitasi oleh pemerintah (Ir. Sjarifuddin Akil, 2002).
2.5.4 Kelebihan dan Kekurangan Konsep Teori Agropolitan
Konsep agropolitan ini juga memiliki kelebihan diataranya sebagai berikut. Bersifat demokratis dengan mengutamakan kepentingan rakyat
Pembangunan dengan memperhatikan aspek lingkungan (sustainable development)
Wilayah pedesaan (rural) menjadi basis perkembangan dalam beberapa sektor, khususnya pertanian
Tujuan yang diinginkan oleh rakyat dapat tercapai karena adanya pembagunan didasarkan pada keinginan, kebutuhan dan permadalahan rakyat
Peran pusat menjadi semakin kecil karena wilayah dengan agropolitan bisa berkembang secara mandiri
Belum berimbangnya tingkat kualitas sumber daya manusia, sumber daya sosial yang ada sehingga mempengaruhi produktivitas
BAB III GAMBARAN UMUM
3.1 Geografis dan Administratif
Secara geografis Kabupaten Lamongan terletak pada 6º 51’ 54” sampai dengan 7º 23’ 6” Lintang Selatan dan diantara garis bujur timur 112° 4’ 41” sampai 112° 33’ 12” bujur timur. Kabupaten Lamongan memiliki luas wilayah kurang lebih 1.812,80 Km² setara 181.280 Ha atau + 3.78 % dari luas wilayah Propinsi Jawa Timur. Wilayah Kabupaten terdiri dari daratan rendah dan bonorowo dengan tingkat ketinggian 0 – 25 meter seluas 50,17 %, sedangkan ketinggian 25 – 100 meter seluas 45,68%, selebihnya 4.15 % berketinggian diatas 100 meter diatas permukaan air laut, dan memiliki panjang garis pantai sepanjang 47 Km.
Batas wilayah administratif Kabupaten Lamongan adalah : Sebelah Utara : Berbatasan dengan Laut Jawa
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Lamongan
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kab. Jombang dan Kab. Mojokerto Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kab. Bojonegoro dan Kab. Tuban.
Wilayah Kabupaten Lamongan terdiri atas 27 kecamatan dengan jumlah desa/kelurahan sebanyak 474 desa/kelurahan (462 desa dan 12 kelurahan). Jumlah dusun sebanyak 1.431 dusun, Rukun Warga (RW) sebanyak 2.408 dan Rukun Tetangga (RT) sebanyak 7.085 RT. Berdasarkan tingkat perkembangan LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa), sebanyak 316 desa di kabupaten Lamongan termasuk dalam kategori II, sebanyak 70 desa termasuk dalam kategori I dan sebanyak 88 desa termasuk kategori III. Berdasarkan tingkat kemampuannya, seluruh desa dan kelurahan di kabupaten Lamongan masih tergolong kategori swadaya madya yang berarti bahwa seluruh desadan kelurahan di kabupaten Lamongan memiliki mata pencaharian homogen yang bersifat agraris, masyarakat memegang teguh adat, teknologi masih rendah, sarana dan prasarana sangat kurang.
Wilayah Kabupaten Lamongan dibelah oleh Sungai Bengawan Solo, dan secara garis besar daratannya dibedakan menjadi tiga karakteristik yaitu :
Bagian Tengah Selatan merupakan dataran rendah yang relatif subur yang membentang dari Kecamatan Kedungpring, Babat, Sukodadi, Pucuk, Lamongan, Deket, Tikung Sugio, Maduran, Sarirejo dan Kembangbahu
Bagian Tengah Utara merupakan daerah Bonorowo yang merupakan daerah rawan banjir. Kawasan ini meliputi Kecamatan Sekaran, Laren, Karanggeneng, Kalitengah, Turi, Karangbinangun dan Glagah.
Tabel 3.1 Luas Daerah Per Kecamatan Kabupaten Lamongan
3.2 Penggunaan Lahan
Kondisi tata guna lahan Kabupaten Lamongan Tahun 2010 adalah sebagai berikut : Tabel ... Kondisi Tata Guna Tanah Kabupaten Lamongan
No. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%)
1 Permukiman 13.030,00 7,19
12 Peruntukan Lainnya (rawa,tanah tandus dll)
5.997,00 3,31
Jumlah 181.280,00 100
Sumber: RTRW Kabupaten Lamongan 2008-2028
Berdasarkan karakteristik wilayah Kabupaten Lamongan, wilayah sebagai kawasan budidaya sesuai dengan pola ruang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan adalah sebagai berikut :
1) Hutan Produksi
Secara keseluruhan, luas hutan di Kabupaten Lamongan seluas 33.717,30 Ha dengan rincian 33.464,40 Ha merupakan hutan produksi yang terdapat di Kecamatan Laren, Brondong, Sukorame, Sugio, Sambeng, Bluluk, Kedungpring, Mantup, Ngimbang dan Modo dan selebihnya 252,9 Ha merupakan hutan lindung yang terdapat di Kecamatan Sugio, Sambeng, Modo dan Ngimbang. Hutan produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil hutan. Kawasan peruntukan hutan produksi merupakan kawasan hutan di luar kawasan hutan lindung.
2) Pertanian
3) Perkebunan
Di Kabupaten Lamongan perkebunan hampir tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Lamongan, dimana untuk pemanfaatan dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan perlindungan kawasan. Luas kawasan perkebunan di Kabupaten Lamongan sebesar 9.919,14 Ha atau sekitar 5,47 % dari luas wilayah yang tersebar di Kecamatan Sukorame, Kecamatan Bluluk, Kecamatan Ngimbang, Kecamatan Sambeng, Kecamatan Mantup, Kecamatan Kembangbahu, Kecamatan Sugio, Kecamatan Kedungpring, Kecamatan Modo, Kecamatan Babat, Kecamatan Karanggeneng, Kecamatan Laren, Kecamatan Solokuro, Kecamatan Paciran, Kecamatan Brondong.
Komoditi yang paling prospektif dikembangkan pada sektor perkebunan adalah tebu dan Kecamatan Mantup adalah penghasil komoditi tebu terbesar yaitu berkisar 5.115,004 ton (gula kristal) per tahun. Potensi di sektor perkebunan sangat ditunjang dan tergantung pada kesesuaian dan kemampuan tanah serta jenis tanaman yang ada. Potensi perkebunan jenis komoditi tebu sangat dimanfaatkan oleh penduduk karena untuk pengolahan komoditi ini, cukup mudah.
4) Kawasan Industri
3.3 Kondisi Demografi
Laju pertumbuhan kesejahteraan masyarakat tidak selalu tergantung pada pertumbuhan ekonomi, akan tetapi juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhan penduduk. Adapun pertumbuhan jumlah pendudukdapat dilihat pada tabel sebagai berikut
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan Tahun 2014
No. Kecamatan Jumlah Penduduk Kepadatan dengan memacu pertumbuhan wilayah kecamatan yang masih tertinggal.
persen, disektor jasa sebesar 10,35 persen, sektor industri 9,49 persen dan sisanya disektor pertambangan, gas, listrik dan air bersih, konstruksi, keuangan dan transportasi dan komunikasi. Melihat perkembangan Kabupaten Lamongan dimasa yang akan datang
menunjukkan sektor industri akan semakin meningkat, hal ini akan mempengaruhi sistem mata pencaharian masyarakat. Berkurangnya lahan pertanian untuk pengembangan kawasan industri akan mengakibatkan terjadinya peralihan mata pencaharian dari petani menjadi pekerja industri.
3.4 Kondisi Perekonomian
Kondisi perekonomian Kabupaten Lamongan ditentukan oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu kondisi secara makro diantaranya perkembangan situasi perekonomian nasional maupun internasional serta berbagai kebijakan Pemerintah Pusat baik yang berkaitan dengan sektor riil maupun moneter yang mempengaruhi perekonomian regional Jawa Timur, termasuk Lamongan. Kondisi tersebut di pertengahan tahun 2010 sudah mulai membaik dilihat dari menguatnya nilai Rupiah, meningkatnya pendapatan per kapita penduduk dan tingkat inflasi yang relatif rendah. Walaupun kondisi makro sangat menentukan, namun demikian tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamongan secara umum juga ditentukan oleh faktor-faktor internal yang berasal dari daerah itu sendiri seperti ketersediaan sumber daya alam, kualitas sumber daya manusia, kemampuan mengadaptasi teknologi terkini, serta meningkatnya permodalan dan kewirausahaan.
Seiring adanya berbagai kebijakan moneter dan fiskal yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, dan berbagai kebijakan pembangunan daerah yang didukung oleh kondisi politik dan keamanan yang cukup terkendali, membawa dampak yang positif bagi perkembangan perekonomian daerah Kabupaten Lamongan. Kondisi perekonomian daerah Kabupaten Lamongan pada lima tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat, yakni dari 5,39% pada tahun 2006 meningkat menjadi 6,89% pada tahun 2010.
Sementara laju inflasi Kabupaten Lamongan mengalami penurunan dari 5,74 % pada tahun 2007, menjadi 4,24 % pada tahun 2009.
1) PDRB Atas Dasar Harga Konstan
PDRB Atas Dasar Harga Konstan adalalah pertumbuhan riil yang tidak dipengaruhi oleh unsur kenaikan harga atau inflasi. Berikut disajikan perkembangan PDRB dengan Harga Konstan Kabupaten Lamongan dibawah ini.
SEKTOR
Industri Pengolahan 1.142,5 1.237,4 1.317,1 1.408,5 1.527,8
Listrik, air, gas 31,9 32,9 35 37,3 38,4
Konstruksi 1.876,1 1.963,8 2.042,5 2.162,7 2.272,6
Jasa lainnya 862,1 934,3 992,8 1065,4 1.150,8
Total 16.275,1 17.126,6 18.562,5 19.836,3 21.107,6
Sumber: PDRB Kab. Lamongan Dalam Angka
2) PDRB Atas Dasar Harga Berlaku
PDRB Atas Dasar Harga Berlaku merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu. Berikut disajikan perkembangan PDRB dengan Harga Berlaku Kabupaten Lamongan dibawah ini.
Tabel 3.4 Nilai dan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Tahun 2010 – 2014 Atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Lamongan (Milyar Rupiah)
Industri Pengolahan 1.142,5 1.320,3 1.464,6 1.615,8 1.835,9
Listrik, air, gas 31,9 32,9 35,8 38,2 40,3
Konstruksi 1.876,1 2.060,3 2.265,0 2.458,1 2.742,8
Transportasi dan Komunikasi
1325,4 1436,7 1555,3 1688,2 1.812,8
Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
1.420,1 1.631,6 1.831,8 2.009,5 2.154,1
Jasa lainnya 862,1 956,3 1.053,5 1169,8 1.333,2
Total 16.275,1 18.265,0 20.561,7 23.009,4 25.733,4
Sumber: PDRB Kab. Lamongan Dalam Angka
0.0 1,000.0 2,000.0 3,000.0 4,000.0 5,000.0 6,000.0 7,000.0 8,000.0 9,000.0
2012 2013 2014
BAB IV
ANALISIS
4.1 Analisa Sektor Unggulan
Produk Domestik Regional Bruto merupakan alat ukur pertumbuhan ekonomi pada sebuah daerah yang mana di dalamnya terbagi menjadi 9 sektor, yang meliputi:
a. Tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan b. Pertambangan dan penggalian
c. Industri Pengolahan d. Listrik, Gas, dan Air Bersih e. Konstruksi
f. Perdaganagan, Hotel, dan Restoran g. Pengangkutan dan Komunikasi
h. Keuangan, Persewaan, dan Jasa Perusahaan i. Jasa Jasa
Pada pertumbuhannya sektor-sektor tersebut pastinya tidak akan mengalami pertumbuhan yang sama. Dalam perhitungan analisa ekonomi, sektor-sektor tersebut dapat dijadikan 2 kelompok besar yakni sektor basis dan non basis. Sektor basis adalah sektor yang memiliki kemampuan ekspor, sedangkan sektor non basis adalah sektor yang tidak memiliki kemampuan ekspor. Untuk mengetahui suatu sektor tersebut termasuk sektor basis atau non basis dapat diidentifikasi dengan menggunakan analisa Location Quotient (LQ). Suatu sektor dikatakan basis bila nilai perhitungan LQ lebih dari 1 (>1) dan sektor non basis memiliki LQ kurang dari 1 (<1)
Tabel 4.1 Analisa LQ terhadap Sektor PDRB Kabupaten Lamongan
SEKTOR 2010 2011 2012 2013 2014
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 2,879 2,920 2,929 2,985 3,030
Listrik, air, gas 0,353 0,363 0,390 0,399 0,401
Konstruksi 1,273 1,271 1,210 1,177 1,167
Perdagangan, Hotel, dan Restoran 0,845 0,862 0,860 0,882 0,898
Transportasi dan Komunikasi 1,081 1,081 1,036 1,000 1,002
Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan 1,189 1,226 1,199 1,174 1,158
Jasa lainnya 1,141 1,172 1,146 1,136 1,148
Sumber: Hasil Analisa, 2016
Dari hasil analisa di atas terlihat bahwa sektor basis di Kabupaten Lamongan adalah Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan.
4.2 Analisa Subsektor dan Komoditas Unggulan
Produk Domestik Regional Bruto merupakan alat ukur pertumbuhan ekonomi pada sebuah daerah yang mana di dalamnya terbagi menjadi 9 sektor. Sektor basis di Kabupaten Lamongan adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dimana di dalamnya terdapat 5 subsektor seperti di bawah ini:
Pada pertumbuhannya, subsektor-subsektor tersebut pastinya tidak akan mengalami pertumbuhan yang sama. Dalam perhitungan analisa ekonomi, subsektor-subsektor tersebut dapat dijadikan 2 kelompok besar yakni basis dan non basis. Untuk mengetahui suatu subsektor tersebut termasuk basis atau non basis dapat diidentifikasi dengan menggunakan analisa Location Quotient (LQ). Suatu subsektor dikatakan basis bila nilai perhitungan LQ lebih dari 1 (>1) dan subsektor non basis memiliki LQ kurang dari 1 (<1)
Berikut ini adalah hasil perhitungan analisis LQ per subsektor di Kabupaten Lamongan tahun 2013-2014.
Tabel 4.2 Analisa LQ terhadap Subsektor Sektor Pertanian PDRB Kabupaten Lamongan
SEKTOR 2010 2011 2012 2013 2014
Tanaman pangan 1,265 1,276 1,267 1,239 1,222
Tanaman holtikultura 0,282 0,277 0,276 0,276 0,277
Tabel 4.3 Analisa LQ terhadap Komoditas Tanaman Pangan per Kecamatan di Kabupaten Lamongan
KECAMATAN
KOMODITAS
PADI JAGUNG KACANGTANAH KACANGHIJAU KEDELAI UBI KAYU UBI JALAR
Sukorame 1,126 0,647 0 1,267 0,113 0 0
Bluluk 1,136 0,829 0 0,692 0 0 0
Ngimbang 1,009 1,315 0,389 0,965 0,284 0 1,659
Sambeng 0,731 2,014 1,500 0,540 1,934 0 0
Mantup 0,820 1,230 0 0 3,148 0 0
Kembangbahu 0,891 0,919 0,905 1,005 2,836 0 0
Sugio 1,030 0,822 0,042 1,287 1,418 0 0
Kedungpring 1,029 0,966 0 0,342 1,162 0 0
Modo 1,177 0,510 0 0 0,515 0 1,343
Babat 1,106 0,995 0,004 0,165 0,129 0 0,419
Pucuk 1,069 0,821 0 3,538 0,662 0 0
Sukodadi 1,217 0,400 0,011 0,227 0,282 0 0
Lamongan 1,232 0,359 0,262 0,152 0,114 0 0
Tikung 0,974 0,520 0,047 0,384 3,010 0 0
Sarirejo 0,906 0,518 0,186 1,763 3,709 0 0
Deket 1,314 0,060 0 0 0 0 0
Glagah 1,322 0,020 0 0 0 0 0
Karangbinangun 1,251 0,360 0 0 0 0 0
Turi 1,256 0,315 0,018 0,172 0,006 0 0
Kalitengah 1,176 0,200 0,062 0 0 0 60,129
Karanggeneng 1,177 0,643 0 1,623 0 0 0
KECAMATAN
KOMODITAS
PADI JAGUNG KACANGTANAH KACANGHIJAU KEDELAI UBI KAYU UBI JALAR
Maduran 1,154 0,617 0 4,614 0 0 0
Laren 1,239 0,394 0,077 0,409 0 0 0
Solokuro 0,518 3,060 6,089 1,106 0,050 0,007 0
Paciran 0,116 4,728 9,030 0 0 0,010 0
Brondong 0,244 2,770 14,980 0 0 0,028 0
KETERANGAN
Basis
Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, terlihat bahwa 27 kecamatan yang masuk dalam klasifikasi sebagai daerah rekatif tertinggal memiliki 3 sektor basis yang kecenderungannya dimiliki oleh hampir seluruh kecamatan, antara lain:
a. Padi
Dari 27 kecamatan, sebanyak 19 kecamatan memiliki komoditas basis berupa padi. Kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Sukorame, Bluluk, Ngimbang, Sugio, Kedungpring, Modo, Babat, Pucuk, Sukodadi, Lamongan, Deket, Glagah, Karangbinangun, Turi, Kalitengah, Karanggeneng, Sekaran, Maduran, dan Kecamatan Laren.
b. Jagung
Dari 27 kecamatan, terdapat 6 kecamatan yang memiliki komoditas basis berupa jagung. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Mantup, Solokuro, Paciran, dan Kecamatan Brondong.
c. Kacang Tanah
Dari 27 kecamatan, terdapat 4 kecamatan yang memiliki komoditas basis berupa jagung. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Sambeng, Solokuro, Paciran, dan Kecamatan Brondong.
d. Kacang Hijau
Dari 27 kecamatan, terdapat 8 kecamatan yang memiliki komoditas basis berupa jagung. Kecamatan-kecamatan tersebut antara lain Kecamatan Sukorame, Kembangbahu, Sugio, Sarirejo, Karanggeneng, Sekaran, Maduran, dan Kecamatan Solokuro.
e. Kedelai
Kecamatan-kecamatan yang memiliki komoditas kedelai sebagai komoditas basis antara lain Kecamatan Sambeng, Mantup, Kembangbahu, Sugio, Kedungpring, Tikung, dan Kecamatan Sarirejo.
f. Ubi Kayu
Tidak ada satu pun kecamatan yang memiliki komoditas ubi kayu sebagai komoditas basisnya.
g. Ubi Jalar
Tabel 4.4 Komoditas Basis per Kecamatan
KECAMATAN KOMODITAS
Sukorame Padi, kacang hijau
Bluluk Padi
Ngimbang Padi, jagung, ubi jalar
Sambeng Jagung, kacang tanah, kedelai
Mantup Jagung, kedelai
Kembangbahu Kacang hijau, kedelai
Sugio Padi, kacang hijau, kedelai
Kedungpring Padi, kedelai
Modo Padi, ubi jalar
Babat Padi
Pucuk Padi
Sukodadi Padi
Lamongan Padi
Tikung Kedelai
Sarirejo Kacang hijau, kedelai
Deket Padi
Glagah Padi
Karangbinangun Padi
Turi Padi
Kalitengah Padi, ubi jalar
Karanggeneng Padi, kacang hijau
Sekaran Padi, kacang hijau
Maduran Padi, kacang hijau
Laren Padi
Solokuro Jagung, kacang tanah, kacang hijau
Paciran Jagung, kacang tanah
Brondong Jagung, kacang tanah
Sumber: Hasil Analisa, 2016
Dari hasil analisa di atas dapat ditarik informasi bahwa komoditas basis di Kabupaten Lamongan berupa padi dan kacang hijau.
Sumihardjo (2008, h.114) menjelaskan bahwa pengembangan sektor unggulan yang dimiliki daerah tercermin pada visi dan misi daerah yang tertuang di dalam rencana pembangunan jagka panjang daerah (RPJPD) dan rencana jangka menengah daerah (RPJMD). Selain itu, anggaran pendapatan dan belanja Daerah (APBD) harus mencerminkan program-program dan tujuan-tujuan pembangunan. Karena suatu renana akan bersifat operasionil apabila anggarannya tersedia.
Dalam dokumen RPJPD tahun 2005-2025, visi Kabupaten Lamongan tahun 2005-2025 adalah “Terwujudnya Lamongan yang Adil, Merata, Sejahtera, dan Berdaya Saing”. Salah satu misi Kab. Lamongan adalah Memacu pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, produktivitas sektor-sektor andalan, dan pendayagunaan sumber daya alam.
Dukungan Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam pengembangan potensi ekonomi lokalnya tercermin dalam prioritas program dalam dokumen RPJPD tahun 2005-2025 dan dokumen RPJMD tahun 2011-2015, yakni sektor yang diprioritaskan dalam pembangunan adalah sektor pertanian; perdagangan, hotel, dan restoran; serta sektor industri.
Pengembangan sektor pertanian dinilai sudah sangat tepat karena sektor pertanian berdasarkan hasil LQ mendapatkan nilai 2,9 yang berarti > 1 menandakan bahwa sektor tersebut merupakan sektor unggulan dan masuk kategori sektor unggulan yang mampu bersaing dengan sektor yang sama di daerah lain. Sedangkan, Prioritas program di sektor lainnya seperti industri dinilai kurang tepat karena sektor industri secara rata-rata mendapat nilai LQ<1, menandakan bahwa sektor tersebut bukan sektor basis (unggulan).
Sedangkan sektor konstruksi kurang mendapatkan prioritas program di RPJPD. Padahal, sektor konstruksi termasuk sektor basis (unggulan) dengan nilai LQ sebesar 1,220. Kebijakan Pemerintah dalam mendukung sektor pertanian diantaranya adalah sebagai berikut:
Meningkatkan produksi perikanan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi terhadap perairan umum, kolam, laut dan tambak
Optimalisasi pemanfaatan hutan dan lahan serta pengembangan tanamannya secara berkelanjutan
Meningkatnya produksi dan ketersediaan pangan secara berkelanjutan dan sumber karbohidrat dan sumber protein.
Jika diambil suatu benang merah maka, pada dasarnya pemerintah sudah berusaha meningkatkan kualiatas daya saingnya, namum berdasarkan penelitian dan analisa penulis, pemerintah Kabupaten Lamongan belum sepenuhnya memanfaatkan dan mengoptimalkan sektor-sektor unggulan untuk menguatkan daya saingya. Misalnya sektor listrik, gas, dan air bersih serta sektor pertambangan dan penggalian. Padahal jika dilihat kedua sektor ini jika di investasikan pada tahun ini, maka akan bermanfaat bagi pemerintah di tahun-tahun mendatang, karena sektor tersebut juga masuk dalam kriteria sektor unggulan, dan mempunyai tingkat daya saing. Apabila sektor-sektor unggulan lainnya diprioritaskan maka tidak menutup tingkat kemakmuran juga akan semakin meningkat. Jika masyarakat makmur, maka dapat dikatakan pembangunan daerahnya berhasil, yang pada akhirrnya akan memperkuat posisi daya saing daerahnya.
BAB V
KONSEP DAN STRATEGI PENGEMBANGAN
Menurut pandangan dari Bustanul Arifin dalam bukunya yang berjudul Formasi Strategi Makro-Mikro Ekonomi Indonesia menjelaskan bahwa secara teoritis dalam kerangka desentralisasi, strategi pengembangan ekonomi daerah melibatkan berbagai pemahaman mendasar tentang potensi dan peluang daerah, keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di daerah, pengembangan komoditas andalan dan komoditas unggulan daerah, dan sebagainya. Pada tingkat paling dasar, pengembangan ekonomi daerah juga berhubungan dengan peningkatan kapasitas (capacity building) para aparat daerah, wakil rakyat, pengusaha dan warga daerah secara umum.
Berdasarkan tinjauan kebijakan RTRW Kabupaten Lamongan 2008-2028 dan Surat Gubernur Jatim nomor 520/1181/202.2/2009 tentang Penetapan Kabupaten Lamongan sebagai Lokasi Pengembangan Kawasan Agropolitan di Jatim, mengukuhkan perkembangan ekonomi Kabupaten Lamongan diarahkan pada sektor pertanian. Dalam dokumen rencana tersebut, kawasan perdesaan dapat berbentuk kawasan agropolitan, yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis. Kawasan agropolitan di Kabupaten Lamongan di arahkan di Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Sugio dan Solokuro. Dengan ditetapkannya wilayah tersebut maka nantinya semua proses kegiatan industri akan dilakukan di wilayah tersebut mulai industri hilir hingga hulu di bidang pertanian. Mulai dari pra produksi, produksi, pasca produksi hingga pemasaran.
pengembangan kawasan Agropolitan di Jawa Timur melalui Keputusan Bupati Lamongan Nomor: 188/284/Kep/413. 013/2008 tentang Penetapan Sentra Kawasan Agropolitan di Kabupaten Lamongan.
Melalui pengembangan kawasan Agropolitan di Kabupaten Lamongan ini diharapkan dapat memicu perkembangan kawasan hinterland-nya. Sehingga pengembangan kawasan Agropolitan dapat berjalan dengan baik dan dapat terjadi peningkatan produk unggulan pertanian dan perekonomian masyarakat di wilayah yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat di wilayah Kabupaten Lamongan.
Agropolitan adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelilaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis (UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang).
Seperti yang telah disebutkan diatas, konsep yang ditawarkan adalah konsep agropolitan. Dimana dalam penerapannya akan dibuat fokusan kecamatan dimana akan terfokus pada kegiatan produksi, pengolahan, perdagangan dan ekspor dalam konteks integrasi yang lebih luas.
Gambar 5.1 Bagan Strategi Pengembangan Ekonomi Wilayah Kabupaten Lamongan
Kebijakan Pemerintah dan Dokumen Perencanaan
Penentuan Sektor Basis di Kabupaten Lamongan (Sektor Pertanian dengan sub sector tanaman bahan pangan )
Penentuan Sektor Basis di Kabupaten Lamongan (Sektor Pertanian dengan sub sector tanaman bahan pangan )
Penyediaan permodalan
Penyediaan
permodalan Pemberdayaan SDMPemberdayaan SDM Peningkatan Teknologi Peningkatan Teknologi
Sumber: Hasil Analisa, 2016
Penjelasan:
1. Penentuan Sektor Basis dikabupaten Lamongan
Yang pertama kali harus dilakukan oleh pemerintah adalah melakukan penentuan sector basis serta sector yang memiliki keunggulan komparatif untuk pengembangan Kabupaten Lamongan kedepan. Sector basis dijadikan sebagai sector utama karena usaha ini mampu untuk menembus pasar yang cukup luas baik dalam lingkup local hingga internasional. Sehingga jika terjadi peningkatan produksi pada sector basis, maka besar kemungkinan pasar dapat menyerap segala pertambahan produksi yang telah dihasilkan.
2. Kebijakan Pemerintah
Dalam hal ini, pengembangan konsep dan strategi pengembangan ekonomi wilayah membawa konsep yang berjudul “Agropolitan”. Pemerintah akan melakukan beberapa upaya untuk dapat mengembangkan sektor pertanian dan subsektornya dalam pegembangan Kabupaten Lamongan. Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi bersumber dari tiga hal, yaitu penyediaan permodalan, perbaikan metode kerja dan peningkatan kerajinan. Sehingga, dalam strategi kali ini pemerintah akan berusaha meningkatkan investasi dengan cara penambahan modal investasi (menumbuhkan iklim investasi yang kondusif). Untuk perbaikan metode kerja dapat dilakukan dengan peningkatan teknologi. Hal ini dikarenakan dengan melakukan peningkatan pada kualitas maupun kuantitas teknologi peralatan produksi maka akan dapat mengurangi biaya dan waktu dalam pembuatan suatu barang produksi. Peningkatan kerajinan akan dilakukan dengan melakukan pendayagunaan sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Lamongan. Berikut penjelasan mengenai upaya yang akan dilakukan:
a. Penyediaan permodalan
Dengan adanya permulaan yang cukup baik (penyediaan fasilitas permodalan) tersebut seharusnya dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi wilayah di kawasan pengembangan sektor dan subsector pertanian, sehingga pada kedepannya dapat memicu minat investor-investor lain untuk berinvestasi di kabupaten Lamongan.
Pemberdayaan SDM ini dilakukan semata-mata untuk dapat menigkatkan keterampilan SDM yang nantinya dapat menarik para investor untuk bersedia menanamkan modalnya kedalam usaha yang akan dilaksanakan. Selain itu, pemberdayaan SDM ini juga dilakukan untuk dapat menumbuhkan berbagai macam usaha baru serta inovasi baru baik dalam upaya peningkatan jumlah produksi tanaman bahan makanan maupun usaha pengolahannya. Setiap daerah selain harus memiliki keunggulan komparatif, juga diupayakan memiliki keunggulan kompetitif dari setiap barang produksi yang dihasilkannya. Keunggulan kompetitif ini dapat dilakukan dengan menghailkan produk yang unik dengan kualitas yang lebih baik dari pada produk lainnya atau minimal sama tetapi dengan harga pokok yang lebih rendah (efisien). Maka diperlukan suatu pemberdayan kemitraan untuk dapat meningkatkan daya saing wilayah tersebut.
Peningkatan ketrampilan atau skill masyarakat melalui dibukanya sekolah khusus untuk pertanian pada tingkat menengah kejuruan. Sementara, untuk pemberdayaan kemitraan sebagai upaya peningkatan daya saing dilakukan dengan merangkul pelaku ekonomi dan stakeholders lain sehingga terbentuk jejaring yang dapat mengundang investor baik dari dalam maupun luar untuk menginvestasikan modalnya. c. Peningkatan Teknologi
Saat ini produksi pertanian di kabupaten Lamongan masih dilakukan dengan cara konvensional dan hanya mengandalkan faktor given (pemberian alam). Untuk itu perlu dilakukan peningkatan teknologi guna meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi pertanian khsusnya pertanian tanaman bahan pangan.
3. Upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah membawa dampak bagi perkembangan ekonomi Kabupaten Lamongan pada umumnya, diantaranya adalah berkembangnya komoditas unggulan di kawasan pengembangan dan terbentuk/terciptanya pelaku usaha masyarakat, sehingga juga membawa dampak pada penambahan obyek pajak dan peningkatan kesejahteraan
4. Hasil dari penambahan obyek pajak dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana kawasan dan mengembangkan sektor basis lainnya, sehingga sektor/subsector yang unggul tidak hanya satu, melainkan dapat menjadi pemicu perkembangan sektor/subsector yang lainnya
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
• Dari hasil analisis LQ 27 kecamatan di Kabupaten Lamongan, kawasan agropolitan di Kabupaten Lamongan di arahkan di Kecamatan Ngimbang, Sambeng, Sugio dan Solokuro. Dengan komoditas unggulan yaitu padi dan kacang hijau
• Inti dari strategi kebijakan pembangunan adalah untuk meningkatkan potensi ekonomi daerah dengan memperdayakan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sektor unggulan daerah dan mengikutsertakan sektor non basis sebagai penunjang sektor unggulan daerah.
• Sebagai kawasan yang telah ditetapkan menjadi kawasan agropolitan, sehingga harus dilakukan pemerataan produktivitas hasil tani dengan peningkatan produktivitas hasil tani serta peningkatan kualitas di wilayah yang mengalami perlambatan pertumbuhan sehingga tetap sejajar dengan wilayah lain yang memiliki percepatan pertumbuhan untuk sektor tersebut.
6.2 Lesson Learned