• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Urban Desain Kawasan Perkotaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Urban Desain Kawasan Perkotaan"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA URBAN

DESAIN

PERKOTAAN

YOGYAKARTA

Mengidentifikasi tapak pada struktur perkotaan

ABSTRAK

Studi ini dilakukan untuk mengetahui keistimewaan perkotaan Yogyakarta sesuai dengan topografi dan natural settingnya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik DI.Yogyakarta, penduduk asli dan penduduk wisatawan tiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini menyebabkan perkembangan kota juga kian meningkat. Namun jika tidak dapat

dikendalikan maka akan terjadi suatu bentuk kota yang alami tanpa terkendali. Metode yang digunakan adalah studi literator serta survey melalui internet. Cara analisis dengan cara mempetakan hasil survey, lalu di analisis dengan teori dan referensi yang telah dipilih. Sehingga diketahui bahwasanya perkotaan Yogyakarta belum cukup istimewa karena adanya beberapa aspek wisata yang belum dimanfaatkan. Hal ini diketahui dari potensi dan

permasalahan yang dianalisis secara kualitatif dan deskriptif kuantitatif.

Kata Kunci: analisa urban, analisa topografi, natural setting,

perkotaan Yogyakarta,

Angga Ramadhan

1

Ir. Suparwoko., MURP., Ph.D.

2

1

Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam Indonesia

email : [email protected]

(2)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

1.1.1. Latar Belakang Proyek

Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesaia yang sedang mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tersebut bisa disebabkan karena pertumbuhan penduduk asli dan pertambahan pendatang.

Tabel 1. Jumlah Penduduk di D.I. Yogyakarta (berdasarkan Sensus Penduduk 1971-2010)

Kabupaten/Kota JumlahPenduduk(jiwa)

1971 1980 1990 2000 2010

Kulonprogo 370.629 380.685 372.309 370.944 388.869

Bantul 568.618 634.442 696.905 781.013 911.503

Gunungkidul 620.085 659.486 651.004 670.433 675.382

Sleman 588.304 677.323 780.334 901.377 1.093.110

Yogyakarta 340.908 398.192 412.059 396.711 388.627

DIY 2.488.544 2.750.128 2.912.611 3.120.478 3.457.491

Sumber : Data Sensus Penduduk, BPS DIY

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwasannya setiap periode sensus penduduk dalam kurun 10 tahun selalu memiliki peningkatan, dan pada tahun 2010, DI Yogyakarta memiliki jumlah penduduk sebanyak 3.457.491 jiwa.

Tabel 2. Jumlah Penduduk menurut Kabupaten/Kota di D.I. Yogyakarta (Estimasi Penduduk berdasarkan SP 2010)

Tahun/ Uraian Kabupaten/Kota /Regency/City

Year Description Kulon-

Bantul Gunung- Sleman Yogya DIY

2011 Jumlah/Total 390.207 921.263 677.998 1.107.304 390.553 3.487.325 % 11,19 26,42 19,44 31,75 11,2 100

2012*)

Jumlah/Total 393.221 927.958 684.740 1.114.833 394.012 3.514.762

% 11,19 26.40 19.48 31.72 11.21 100

(3)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 2 Berdasarkan tabel nomor 2 didapatkan kesimpulan bahwa jumlah penduduk

Daerah Istimewa Yogyakarta disetiap kabupaten/kota memiliki peningkatan dalam pertahunnya sebesar 0,009% (31,000 jiwa) dalam kurun waktu tahun 2007-2011, dan diperkirakan berjumlah penduduk 3.514.762 jiwa pada tahun 2012.

Tabel 3. Perkembangan Wisatawan ke DIY tahun 2010-2014 berdasarkan akomodasi yang digunakan

Sumber :http://visitingjogja.com/bank_data/kategori/MQ==

Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa setiap tahun Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki peningkatan jumlah pengunjung/wisatawan yang menginap/menetap sementara waktu di hotel tiap tahunnya dalam kurun waktu tahun 2010-2014, dan pada tahun 2014 berjumlah sebanyak 3.346.180 jiwa.

Sehingga, dari ketiga tabel diatas dapat disimpulkan setiap tahunnya Daerah Istimewa memiliki peningkatan penduduk baik penduduk asli yang menetap disana maupun peningkatan jumlah pendatang yaitu wisatawan yang tinggal sementara pada tiap tahunnya.

1.1.2. Latar Belakang Permasalahan

Kota merupakan suatu kesatuan pemukiman yang terbentuk dari beberapa sub-sub sistem dengan elemen-elemen penting yang di dalamnya membentuk suatu kota. Suatu kota pada hakekatnya akan senantiasa tumbuh dan berkembang, baik melalui rencana maupun tanpa rencana kota. Yang membedakan adalah bahwa apabila suatu kota tumbuh tanpa direncanakan terlebih dahulu, maka yang akan terjadi adalah suatu bentuk kota yang alami, tumbuh secara spontan dan cenderung tidak dapat dikendalikan. Namun sebaliknya apabila suatu kota telah melalui proses perencanaan dan perancangan yang matang, maka pertumbuhan dan perkembangan kota menjadi lebih terarah dan dapat dikendalikan dengan baik. (Ramdani, dkk. 2013)

1.2. TEORI

(4)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 3

1.3. RUMUSAN MASALAH

1.3.1. Permasalahan Umum

1. Apakah Perkotaan Yogyakarta sudah Istimewa ?

1.3.2. Permasalahan Khusus

1. Apakah bukit yang ada di site sudah dimanfaatkan sebagai view kedalam perkotaan Yogyakarta ?

2. Apakah riverfront yang ada di perkotaan Yogyakarta sudah memenuhi syarat waterfront yang memfasilitasi pengguna ?

3. Apakah Selokan Mataram yang merupakan kanal di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memenuhi fungsinya sesuai dari kriterianya ?

4. Dari Natural Setting dan Topografi di Perkotaan Yogyakarta, apakah sudah memenuhi syarat untuk dijadikan tempat wisata ?

1.4. LOKASI

Penelitian ini dilakukan di sekitar perkotaan Yogyakarta hingga batas provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi penelitian lebih diutamakan di kawasan perkotaan Yogyakarta yang mencakup daerah didalam lingkaran jalan ringroad (area berwarna biru). Jalan ringroad terdiri atas jalan ringroad utara, jalan janti, jalan ringroad selatan, dan jalan ringroad barat.

Gambar 1. Peta Lokasi

(5)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 4

1.5. SASARAN

Sasaran dari penelitian ini adalah natural setting dan topografi yang merupakan site/tapak dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini mencakup bukit dan hubungan antara pemandangannya, waterfront, dan kanal. (Holmes. 2003. p.2)

1.6. METODOLOGI

A. Survey 1) Sekunder

Data diperoleh dari mengakses berbegai informasi, berita, dan jurnal serta survey secara online menggunakan website google.com. Selain itu menggunakan kajian literatur untuk mendapatkan beberapa teori untuk digunakan analisa.

2) Sampel

Penelitian ini menggunakan sampel pada lokasi penelitiannya. Sampel yang digunakan yaitu beberapa bukit yang memiliki view kedalam perkotaan kota, sungai besar yang membentang melewati kawasan perkotaan Yogyakarta, dan sepanjang aliran selokan Mataram.

Gambar 2. Peta Sampel Sumber : Penulis, 2016

B. Cara Analisis

1) Kualitatif (Diskriptif dan Tertulis)

Analisis menggunakan sistem nilai atau sistem skor Likert. Skala Likert adalah sebuah tipe skala psikometri yang menggunakan angket dan menggunakan skala yang lebih luas dalam penelitian survei. Metode rating yang dijumlahkan

(6)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 5 Likert merupakan metode penskalaan pernyataan sikap yang menggunakan distribusi respons sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Dalam pendekatan ini tidak diperlukan adanya kelompok panel penilai (Judging Group) dikarenakan nilai skala setiap pernyataan tidak akan ditentukan oleh derajat favorabelnya masing-masing, akan tetapi ditentukan oleh distribusi respons setuju atau tidak setuju dari sekolompok responden yang bertindak sebagai kelompok uji coba1. Nilai yang digunakan dalam rentang 0-5 poin. Setiap nilai memiliki kriteria sendiri yaitu5=sangat baik, 4=cukup baik, 3 = cukup, 2=kurang baik, 1=kurang, 0= sangat kurang. Dari penilaian tersebut didapatkan kekurangan dan kelebihan sehingga didapatkan permasalahan yang dapat diselesaikan. Setiap angka yang ada dideskripsikan kedalam bentuk tulisan yang dapat menjelaskan setiap angka yang ada.

2) Diskriptif dan Grafis

Analisis secara grafis menggunakan software CorelDraw versi 17 untuk membuat peta lokasi dan membuat plottingan-plottingan. Hal ini digunakan untuk mempermudahkan pembaca mendapatkan gambaran peta yang sesuai dengan teori yang digunakan.

1.7. TUJUAN

Agar mengetahui Jogjakarta yang Istimewa sesuai dengan natural setting dan tapak.

(7)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 6

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1. PRINSIP URBAN DESAIN

“Recognise the role of the site within the urban structure. Integrate major new proposals into the city structure and ensure that new developments emphasise, retain or enhance the City’s identity (Holmes. 2003. p.1).” Dari teori yang digunakan, yang dilakukan adalah mengidentifikasi tapak kawasan dengan struktur perkotaan. Integrasi rencana pembangunan bangunan utama baik bangunan negeri (pemerintah) ataupun bangunan swasta di dalam struktur kota. Memberikan jaminan rencana pembangunan yang diusulkan dapat menekankan, menghambat atau meningkatkan dari identitas kota.

2.2. ISTIMEWA

Istimewa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan kata sifat yang berarti khas (untuk tujuan yang tertentu) dan berarti khusus. Selain itu juga dapat diartikan sebagai lain daripada yang lain atau sering disebut juga luar biasa. Istimewa juga dapt diartikan sebagai yang diutamakan (terutama) atau memiliki sesuatu hal yang lebih.2

Gambar 3. Peta Berfikir “Istimewa”

sumber :http://www.artikata.com/arti-331181-istimewa.html

2.3. TOPOGRAFI

Topografi adalah bentuk atau konfigurasi dari tanah, yang diwakili kedalam sebuah peta dengan garis kontur, hypsometric tints, dan bentuk relief.3 Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, topografi adalah kata benda yang berarti kajian atau penguraian yang terperinci tentang keadaan muka bumi pada suatu daerah; pemetaan yang terperinci tentang muka bumi pada daerah tertentu; uraian tentang suatu bagian tubuh sampai ke segala hal ihwal anatominya4

2

http://kbbi.web.id/istimewa

(8)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 7

2.4. NATURAL SETTING

Keadaan alam meliputi benda hidup dan tak hidup yang berada dan menempati alam di bumi atau sebagian daerah disana. Keadaan Alam meliputi interksi dari seluruh kehidupan species yaitu iklim, cuacu, dan sumber kehidupan alam yang mengakibatkan manusia bertahan dan aktivitas ekonomi. (Johnson, dkk. 1997). Keadaan suatu tempat dan kondisi adalah sesuatu yang terjadi atau yang ada. Hal ini akan menjadi suatu keadaan dengan kecantikan/kesempurnaan/idaman untuk sebuah wisata selain itu juga menjadikan kesempatan untuk melihat hewan-hewab di alam liarnya.

1. Bukit dan Hubungan Pemandangannya

a. Definisi Bukit

Bukit atau perbukitan adalah wilayah di permukaan bumi yang berketinggian antara 200-500 m di atas permukaan laut dan disertai beberapa bagian yang merupakan lembah.5 Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bukit merupakan kata benda yang berati tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, namun lebih rendah daripada gunung.6 Sedangkan gunung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bukit yang sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dari 600 m).7

b. Referensi Adelaide Hills

 tujuan : mengembangkan ekonomi, sosial dan nilai lingkungan dari wilayah

 Fasilitas pendukung seperti hunian, restaurant, tempat parkir  Atraksi balapan pacu kuda, dan penangkaran koala

Gambar 4. Peta Adelaide hills Sumber :http://www.adelaidehills.org.au/

5http://www.temukanpengertian.com/2014/04/pengertian-bukit.html 6http://kbbi.web.id/bukit

(9)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 8

Gambar 5. Aktivitas di Adelaide Hills Sumber :http://www.adelaidehills.org.au/

2. Waterfront

a. Definisi Waterfront

Pengertian waterfront dalam Bahasa Indonesia secara harafiah adalah daerah tepi laut, bagian kota yang berbatasan dengan air, daerah pelabuhan (Echols,

2003). Urban waterfront memiliki arti suatu lingkungan perkotaan yang

berada di tepi atau dekat wilayah perairan, misalnya lokasi di area pelabuhan besar di kota metropolitan (Wrenn, 1983). waterfront adalah suatu daerah atau area yang terletak di dekat / berbatasan dengan kawasan perairan di mana terdapat satu atau beberapa kegiatan dan Aktivitas pada area pertemuan tersebut.

b. Jenis-jenis Waterfront

Berdasarkan tipe proyeknya, waterfront dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:

 Konservasi (Conservation) : Waterfront jenis ini dilakukan dengan jalan penataan waterfront kuno atau lama yang masih ada sampai saat ini dan menjaganya agar tetap dinikmati masyarakat.

 Pembangunan Kembali (Redevelopment) : Waterfront jenis ini dilakukan dengan jalan menghidupkan kembali fungsi-fungsi waterfront lama yang sampai saat ini masih digunakan untuk kepentingan masyarakat dengan mengubah atau membangun kembali fasilitas-fasilitas yang ada.

 Pengembangan (Development) : Waterfront jenis ini dilakukan dengan usaha menciptakan waterfront yang memenuhi kebutuhan kota saat ini dan masa depan dengan cara mereklamasi pantai. Berdasarkan fungsinya, waterfront dapat dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:

Mixed-used Waterfront : Waterfront jenis ini merupakan

kombinasi dari perumahan, perkantoran, rumah makan, pasar, rumah sakit, dan / atau tempattempat kebudayaan.

Recreational Waterfront : Waterfront jenis ini menyediakan

sarana dan prasarana untuk kegiatan rekreasi, seperti: taman, arena bermain, tempat pemancingan, dan fasilitas untuk kapal pesiar.

Residential Waterfront : Waterfront jenis ini adalah perumahan,

(10)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 9

Working Waterfront : Waterfront jenis ini adalah tempat-tempat

penangkapan ikan komersial, reparasi kapal pesiar, industri berat, dan fungsi-fungsi pelabuhan.

c. Kriteria Waterfront

Kriteria umum dari penataan dan pendesainan waterfront (Prabudiantoro,

1997) adalah sebagai berikut:

1) Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai, dan sebagainya);

2) biasanya merupakan area pelabuhan, perdagangan, permukiman atau pariwisata;

3) memiliki fungsi-fungsi utama sebagai tempat rekreasi,permukiman, industri, atau pelabuhan;

4) dominan dengan pemandangan dan orientasi ke arah perairan; dan 5) pembangunannya dilakukan ke arah vertikal-horizontal.

d. Aspek Perencanaan Waterfront

Perencanaan waterfront mengandung tiga aspek yang dominan, yaitu: aspek arsitektural, aspek keteknikan, dan aspek sosial budaya. Aspek arsitektural berkaitan dengan pembentukan citra (image) dari kawasan waterfront dan bagaimana menciptakan kawasan waterfront yang memenuhi nilai-nilai estetika. Aspek keteknikan berkaitan terutama dalam perencanaan struktur dan teknologi konstruksi yang dapatmengatasi kendala-kendala dalam mewujudkan rancangan waterfront, seperti: stabilisasi perairan, banjir, korosi, erosi, kondisi alam setempat, dan sebagainya. Aspek sosial budaya bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan waterfront tersebut.

e. ReferensiPremier Inn Edinburgh Leith Waterfront

Gambar 6. Peta Waterfront Edinburgh

(11)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 10

Gambar 7. Aktivitas di Waterfornt Edinburgh

Sumber :http://www.premierinn.com/gb/en/hotels/scotland/lothian/edinburgh/edinburgh-leith-waterfront.html

3. Kanal

Kanal atau umumnya disebut dengan terusan (terusan kapal) merupakan jalur air buatan manusia. Kanal terdiri dari dua macam, yaitu kanal yang hanya digunakan untuk mengarahkan dan mengalirkan air saja dan satunya adalah kanal yang merupakan jalur transportasi yang dapat di navigasi, digunakan untuk angkutan barang dan orang, seringkali terhubung dengan sungai, laut dan danau.

a) Kanal dibagi menjadi dua berdasarkan fungsi:

1. Waterways

Kanal transportasi navigasi yang digunakan untuk membawa kapal dan barang kapal pengiriman dan menyampaikan orang, kemudian dibagi lagi menjadi dua jenis:

a. Yang terhubung ke danau yang ada, sungai, atau laut. Termasuk kanal antar-basin, seperti Terusan Suez, Erie Canal, dan Terusan Panama.

Gambar 8. Terusan Suez

Sumber : http://www.gurusejarah.com/2015/01/konferensi-london-tentang-terusan-suez.html

(12)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 11

Gambar 9. Grande Canal

Sumber : http://images.mapsofworld.com/allwonders/canal-grande-grand-canal-venice.jpg

2. Saluran air

Kanal pasokan air yang digunakan untuk pengangkutan dan pengiriman air minum untuk konsumsi manusia, menggunakan kota, dan irigasi pertanian. Anak sungai dan acequias adalah versi kecilnya.

Gambar 10. Kanal Banjir Timur

Sumber :https://ugm.ac.id/id/image/3925-ugm-dorong-modernisasi-irigasi-di-indonesia.jpg

b) Jenis - Jenis Kanal Buatan

Kanal yang dibuat dalam salah satu dari tiga cara, atau kombinasi dari ketiganya, tergantung pada ketersediaan air dan jalan yang tersedia:

1) Sebuah kanal yang dapat dibuat di mana tidak ada sungai.

(13)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 12

Gambar 11. Canal du Midi Sumber :

http://www.toulouse- visit.com/var/ezwebin_site/storage/images/media/images/canal-du-midi/67321-1-fre-FR/Canal-du-Midi.jpg

2) Sebuah sungai yang dibuat kanal.

Sungai dapat di kanalisasi untuk membuat jalur navigasi yang yang lebih dapat diprediksi dan lebih mudah melakukan manuver. Kanalisasi memodifikasi aliran untuk lebih aman membawa lalu lintas dengan mengendalikan aliran sungai dengan pengerukan, pembendungan, dan memodifikasi jalan. Contohnya Basse Saône, Canal de Mines de Fer de la Moselle, dan Sungai Aisne . Zona restorasi mungkin diperlukan.

Gambar 12. Basse Saône

Sumber :http://www.southfrance.com/boatrentalsfrance/photos/port-sur-saone.jpg

3) Kanal lateral

Kanal lateral yaitu ketika sungai terlalu sulit untuk dimodifikasi dengan kanalisasi, aliran kedua dapat dibuat di samping sungai yang ada. Aliran yang ada biasanya bertindak sebagai sumber air dan bank/badan tanah dari sungai dapat memberikan jalur bagi tubuh/badan sungai/saluran air baru. Contohnya termasuk Chesapeake dan Ohio Canal, Canal Lateral à la Loire, Garonne Canal Lateral, dan Canal lateral à l'Aisne.

Gambar 13. Garonne Canal Lateral

(14)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 13 4) Kanal transportasi

Kanal transportasi yang lebih kecil dapat membawa tongkang atau

narrowboats, sementara kanal kapal memungkinkan kapal yg berlayar di

lautan untuk melakukan perjalanan ke pelabuhan pedalaman (misalnya, Manchester Ship Canal), atau dari satu laut atau samudra ke samudera yang lain (misalnya, Caledonian Canal, Terusan Panama/Panama Canal).

Gambar 14. Terusan Panama

Sumber :http://www.panamacanaltrips.com/wp-content/uploads/2013/01/4.jpg

5) Kanal Banjir

Kanal yang digunakan sebagai jalur air / saluran air agar tidak memasuki pemukiman. Kanal ini berfungsi untuk pengendalian banjir contohnya Kanal Banjir Timur dan Kanal Banjir Barat yang ada di Jakarta.

Gambar 15. Kanal Banjir Timur

Sumber : http://beritadaerah.co.id/wp-content/uploads/2015/05/antarafoto-kanal-banjir-timur-jakarta-110515-aw-1.jpg

c) Referensi Union Canal

The Union Canal sebuah kanal di Skotlandia, berjalan dari Falkirk ke Edinburgh ,

(15)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 14

Gambar 16. Peta Union Canal

Sumber : https://www.scottishcanals.co.uk/canals/union-canal/

Gambar 17. Aktivitas di Kanal Union Sumber : https://www.scottishcanals.co.uk/canals/union-canal/ 2.5. DAYA TARIK WISATA

Daya Tarik Wisata sejatinya merupakan kata lain dari obyek wisata namun sesuai peraturan pemerintah Indonesia tahun 2009, kata obyek wisata sudah tidak relevan lagi untuk menyebutkan suatu daerah tujuan wisatawan maka digunakanlah kata "Daya Tarik

Wisata”

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 tahun 2009, Daya Tarik Wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki keunikan, kemudahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan.

Menurut Spillane (2002) ada lima unsur penting dalam suatu objek wisata yaitu:

1. Attraction atau hal – hal yang menarik perhatian wisatawan;

2. facilities atau fasilitas - fasilitas yang diperlukan;

3. infrastructure atau infrastruktur dari objek wisata,

4. transportation atau jasa – jasa pengangkutan;

(16)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 15 2.5. TABEL KAJIAN TEORI

No Landasan Teori Indikator Variabel Terpilih

1

Bukit atau perbukitan adalah wilayah di permukaan bumi yang

berketinggian antara 200-500 m di atas permukaan laut dan disertai beberapa bagian yang merupakan lembah.

Wilayah di permukaan bumi yang berketinggian antara 200-500 m di atas permukaan laut

Bukit

(http://kbbi.web.i d/bukit)

Bukit merupakan tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, namun lebih rendah daripada gunung (bukit yang sangat besar dan tinggi biasanya tingginya lebih dari 600 m dpal)

Bukit merupakan tumpukan tanah yang lebih tinggi daripada tempat sekelilingnya, berketinggian kurang

Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai, dan sebagainya);

Berada di tepi Perairan merupakan area pelabuhan,

perdagangan, permukiman atau pariwisata;

Area Permukiman Area Pariwisata memiliki fungsi-fungsi utama sebagai

tempat rekreasi,permukiman, industri, atau pelabuhan;

Berfungsi tempat rekreasi Berfungsi permukiman dominan dengan pemandangan dan

orientasi ke arah perairan Orientasi Bangunan ke arah sungai Pembangunan ke arah

Vertikal-Horizontal

Pembangunan ke arah Vertikal Pembangunan Ke arah Horizontal

3

Kanal atau umumnya disebut dengan terusan (terusan kapal) merupakan jalur air buatan manusia.

Kanal adalah jalur air buatan manusia

kanal yang hanya digunakan untuk mengarahkan dan mengalirkan air saja

Digunakan untuk mengalirkan air kanal yang merupakan jalur

transportasi yang dapat di navigasi, digunakan untuk angkutan barang dan orang,

Jalur transportasi seringkali terhubung dengan sungai,

laut dan danau. terhubung dengan sungai

4

Daya Tarik

Wisata (Spillane

(2002))

Atraksi Hal yang Menarik Wisatawan Fasilitas Fasilitas-fasilits pendukung dan

yang diperlukan Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung Objek wisata

Jalur Transportasi Transportasi Jasa-jasa transportasi Keramah-tamahan Kesediaan menerima tamu

Tabel 4. Tabel Kajian Teori

(17)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 16

BAB III

DATA

Gambar 18. Peta Data Natural Setting Sumber : Penulis, 2016

Gambar 19. Peta Data Natural Setting Sumber : Penulis, 2016

Berdasarkan data geografis, Kota Yogyakarta berada di ketinggian 114m diatas permukaan air laut.8 Sehingga dapat diasumsikan perkotaan Yogyakarta memiliki ketinggian rata-rata 114m diatas permukaan air laut.

(18)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 17

BAB IV

ANALISA POTENSI DAN PERMASALAHAN

4.1. Analisa Bukit di Yogyakarta

N

Bukit Perkotaan Yogyakarta Potensi dan Permasalahan

Ratu

Berbah Positif Negatif

1

Ratu Boko terletak di

ketinggian +197 meter dpal. Ketinggian kurang ke dalam kriteria bukit.

Candi Ijo berada di ketinggian

+ 389 meter dpal. -

Bukit Bintang (Bukit Pathuk) berada di ketinggian + 262 meter dpal.

-

Candi Abang berada di ketinggian + 146 meter dpal.

Ketinggian cukup jauh untuk masuk kriteria disebut bukit.

Bukit Berbah berada di ketinggian + 189 meter dpal.

Ketinggian kurang ke dalam kriteria bukit.

Ratu Boko terletak 83 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan yogyakarta

Cukup untuk mendapat view kedalam perkotaan

Yogyakarta

Candi Ijo berada 275 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta

-

Bukit Bintang (Bukit Pathuk) berada 148 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta

Cukup tinggi untuk mendapat view kedalam perkotaan Yogyakarta, namun tertutup bangunan.

Candi Abang berada 32 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta

Cukup rendah untuk mendapat view kedalam perkotaan Yogyakarta Bukit Berbah berada 75 meter

lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta

Cukup untuk mendapat view kedalam perkotaan

(19)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 18

Atraksi Hal yang Menarik

Wisatawan 5 4 3 2 1

Ratu Boko memiliki atraksi seperti pertujukan tarian dengan jadwal tertentu.

Jadwal pertunjukan yang kurang menentu.

Bukit Candi Ijo memiliki candi, lokasi dan view yang menarik.

Dibuka pada jam tertentu.

Bukit Pathuk hanya memiliki view pemandangan perkotaan Jogjakarta yang menarik.

Menjamurnya pembangunan fasilitas yang menutupi view ke arah perkotaan

Bukit Candi Abang hanya memiliki candi sebagai hal yang menarik

Kurangnya atraksi yang menarik, sehingga perlu ditambah karena lahan yang cukup luas.

Bukit Berbah hanya memiliki view yang cukup menarik karena ketinggian yang tidak cukup tinggi.

bukit belum terjamah oleh bangunan-bangunan, pohon hijau masih cukup banyak

Fasilitas

Fasilitas-fasilits pendukung dan yang diperlukan

5 3 4 1 1

Ratu Boko memiliki fasilitas pendukung seperti parkir yang luas (bus, mobil, motor), masjid, restaurant, KM, Penginapan.

untuk area parkir, bus yang besar masih cukup terbatas.

Bukit Candi Ijo memiliki fasilitas seperti parkir (Mobil dan motor), KM, dan warung-warung.

Fasilitas seperti warung masih belum diatur dengan baik. Area parkir masih di kelola oleh masyarakat setempat.

Bukit Pathuk memiliki fasilitas seperti parkir (bus,mobil, motor), restaurant, masjid, KM, dan Penginapan

Fasilitas parkir yang terbatas karena kesalahan perencanaan pembangunan, sehingga area tersebut sering terjadi kemacetan karena adanya keluar masuk bus besar.

Bukit Candi Abang memiliki parkir (mobil, motor) masjid, dan KM)

Fasilitas-fasilitas terletak sangat jauh dari puncak bukit, dan diaera puncak bukit yang merupakan candi tidak ada fasilitas pendukung tersebut.

Bukit Berbah memiliki tower listrik di puncak bukitnya.

(20)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 19

Ratu Boko sudah dilengkapi dengan infrastruktur pendukung wisata

Ratu Boko hanya kurang dalam maintanence.

Bukit Candi Ijo Sudah dilengkapi

Bukit Candi Ijo Kurang banyak atau jumlahnya penginapan dan tempat parkir

Bukit Candi Abang Cukup dilengkapi

Bukit Candi Abang jumlah dan jaranknya yang cukup jauh

Bukit Berbah Belum baik dalam infrastrutur pendukung wisata

Bukit Berbah perlunya peningkatan yang kucup besar sehinggabukit ini bisa dijadikan area wisata terutama untuk penginapan karena daerah yang didominasi residensial.

Jalur Transportasi 4 3 5 2 1

Ratu Boko memliki jalur transportasi yang baik beraspal dan rata

Ratu Boko memiliki jalur transportasi dengan kemiringan yang cukup curam.

Bukit Candi Ijo memiliki jalur beraspal

Bukit Candi Ijo jalur memiliki kemirigan yang curam

Bukit Pathuk memiliki jalur yang lebar, beraspal dan rata, karena merupakan jalur antar kabupaten/kota

Bukit Pathuk memiliki jalur transportasi yang sering terjadi kemacetan di area bukit bintang.

Bukit Candi Abang memiliki jalur transportasi beraspal dan rata

Bukit Candi Abang memiliki lebar jalan yang sempit. (cukup 1 mobil+1 motor berlawanan arah)

Bukit Berbah memiliki jaln yang belum beraspal

Bukit Berbah memiliki jalur yang kurang baik dengan jalan yang sempit (1 arah mobil) dan berlum beraspal.

Transportasi Jasa-jasa

transportasi 4 3 5 1 0

Ratu Boko memiliki jasa transportasi yang sepaket

(21)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 20

dengan wisata candi prambanan

Bukit Candi Ijo memiliki jasa transportasi satu paket dengan wisata candi prambanan

Bukit Candi Ijo Belum ada jalur kendaaran umu yang tepat masuk ke area bukit.

Bukit Pathukmemiliki jalur jasa transportasi dari bus pariwisata, antar kota dan antar provinsi

Bukit Candi Abang hanya ada jasa transportasi melalui ojek atau kendaraan pribadi.

Bukit Candi Abang belum memiliki fasilitas yang tepat untuk jasa trasportasi yang tepat pula

-

Bukit Berbah belum memiliki fasilitas jasa transportasi yang lengkap untuk menjangkau area tersebut.

Keramah-tamahan Kesediaan

menerima tamu 4 3 4 2 1

Ratu Boko sudah memiliki kesediaan menerima tamu, masyarakat cukup ikut ambil dalam pengelolaan aktivitas ekonomi dan pengaturan yang baik.

Ratu Boko, peletakan dan pengaturan masyarakat masih terlalu jauh dari objek wisata

Bukit Candi Ijo cukup memiliki kesediaan menerima tamu

Bukit Candi Ijo, pengelolaan oleh masyarakat yang belum diatur dengan baik

Bukit Pathuk sudah baik dalam pengelolaan menerima tamu, masyarakat cukup ikut ambil dalam pengelolaan aktivitas ekonomi.

Bukit Pathuk, pengelolaan letak atau area tapak yang belum baik.

Bukit Candi Abang, masyarakat sudah bergotong royong membuka jalur dan memfasilitasi wisatawan.

Bukit Candi Abang, cukup kurang dalam kesediaan menerima tamu, namun belum lengkap adanya fasilitas residensial.

-

(22)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 21

RATA-RATA 4,50 3,75 4,38 2,13 1,63

 Ratu Boko memiliki nilai tertinggi dengan permasalahan yang paling sedikit yaitu didominasi pada fasilitas jalan yang kurang mendukung

 Candi Ijo mendapat nilai rata-rata cukup keatas karena memiliki permasalahan dominan berupa fasilitas jalan dan fasilitas wisata yang kurang maksimal.

 Bukit pathuk mendapat nilai rata-rata cukup baik, permasalahan yang paling dominan adalah infrastruktur wisata yang kurang diperhatikan dengan baik seperti tempat parkir, letak gubahan massa bangunan, serta sustainability pada tapak.

 Candi abang mendapat nilai rata-rata kurang baik karena permasalahan yang ada sesuai fungsinya sebagai tempat wisata sangat dominan seperti tempat parkir yang jauh dan terbatas, jalan yang sempit, serta kurangnya tambhan fasilitas seperti toilet, residential dan restaurant.

 Bukit Berbah mendapat nilai rata-rata paling kecil dengan kriteria sangat kurang karena belum dimanfaatkan sebagai area wisata, sehingga fasilitas dan infrastrukturnya juga belum dibangun dengan prospek daya wisata.

Keterangan : 5=sangat baik, 4=cukup baik, 3 = cukup, 2=kurang baik, 1=kurang, 0= sangat kurang Tabel 5. Analisa Bukit di Yogyakarta

Sumber : Penulis, 2016

(23)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 22

4.2. Analisa Waterfront (Riverfront) di Perkotaan Yogyakarta

Landasan Teori Variabel Variabel

Terpilih

Waterfront Perkotaan Yogyakarta Potensi dan Permasalahan

Sungai

Berlokasi dan berada di tepi suatu wilayah perairan yang besar (laut, danau, sungai, dan sebagainya);

Berada di tepi

Perairan 5 5 5

Ketiga sungai memiliki area riverfront yang sangat dominan dan letaknya yang sangat dekat dengan sungai.

Ketiga area tersebut memiliki masalah yang sama, yaitu kelegalan kepemilikan di area tersebut.

Ketiga sungai memiliki area pemukiman yang didominasi oleh bangunan semi dan permanen.

Ketiga sungai memiliki permasalahan permukiman yang sama seperti kelegalan dan ketidak aturan.

Area

Pariwisata 1 3 5

Sungai Winongo mirip dengan sungai Code, sehingga dapat dimanfaatkan seperti Sungai Code

Sungai Winongo belum terdapat titik area tempat wisata yang dapat dimanfaatkan. Sungai Code memiliki

beberapa titik-titik area rekreasi, terutama pada jam malam yang difungsikan sebagai tempat makan, tempat nongkrong, dan tempat berkumpul.

Sungai code yang memiliki titik-titik rekreasi tersebut

Belum dimanfaat sebagai point dalam kebun binatang Gembira Loka

Sungai Winongo hampir mirip dengan sungai Code

Sungai Winongo belum memiliki area tempat rekreasi

Sungai Code memiliki fungsi tempat rekreasi, seperti yang telah diketahui kalayak umum, karena unikan kehidupan disana.

(24)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 23

Sungai Gajah Wong, cukup dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi seperti di Kebun Binatang Gembira Loka

Sungai Gajah Wong dapat dimanfaatkan sebagai tambahan tempat rekreasi.

Berfungsi

permukiman 5 5 4

Sungai Winongo, bibir sungai berfungsi sebagai Pemukiman

Di sungai winongo, perlu adanya penataan pemukiman daerah bibir sungai.

Sungai Code, bibir sungai berfungsi sebagai Pemukiman dengan karakter yang unik

Sungai Code, memiliki pemukiman yang cukup tertata karena memiliki nilai historis desain.

Sungai Gajah wong memiliki bibir sungai dengan tebing tanah dan bebatuan, dan beberapa dipenuhi oleh pemukiman.

Pemukiman sungai gajah wong, perlu adanya penataan pemukiman yang tegas. Keran belum sesuai dengan alam.

dominan dengan pemandangan dan orientasi ke arah perairan

Orientasi dan orientasi pada sungai.

Area Sungai Code, bangunan paling dekat sungai yang berorientasi ke sungai

Sungai Code kurang dalam memanfaatkan pemandangan dan orientasi pada arah sungai.

-

Sungai Gajah Wong sangat kurang dalam memanfaatkan

Sungai Winongo, memiliki area yang cukup datar karena dominasi bangunan rendah.

Sungai Winongo sangat kurang memanfaatkan area dengan pembangunan secara vertikal.

Sungai Code merupakan area sungai yang sangat terlihat terhadap pembangunan vertikalnya, sehingga RTH masih cukup ada.

Di Sungai Code perlu adanya penggalakan pembangunan vertikal

Sungai Gajah wong terdapat beberapa pembangunan vertikal dengan beberapa lantai yang berfungsi sebagai hotel dan gedung.

(25)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 24 dengan cukup besar dengan pembangunan horizontal

Sungai Winongo manjadi semakin kurang terhadap RTH, karena pembangunan yang lebih ke arah horizontal. Sungai Code memiliki

pemukiman dengan

pembangunan horizontal dan berundak. Sehingga memiliki karakter yang telah didesain.

di area Sungai Code sangat kurang dengan tumbuhan-tumbuhan hijau.

Sungai Gajah Wong, memiliki pemukiman dengan

pembangunan horizontal yang cukup cepat.

Sungai Gajah Wong, masih cukup banyak RTH, namun perluadanya pemabtasan pembangunan secara horizontal, sehingga masih terjaga area tanah asli yang subur.

RATA-RATA 3,00 4,00 3,75

 Sungai Winongo memiliki nilai cukup (3), namun tergolong paling rendah dibanding sungai lainya. Hal ini disebabkan penataan dan pembangunan desain sebagai area wisata, sehingga fasilitas dan infrastruktur yang ada belum sesuai dengan kriteria pariwisata.

 Sungai Code memiliki nilai rata-rata cukup baik (4), namun perlu ditingkatkan agar mendapat nilai sangat baik seperti desain pembangunan sesuai orientasi sungai dan pembangunan yang mengarah ke

vertikal-horizontal.

 Sungai Gaja Wong, memiliki nilai rata-rata hampir cukup baik (3,75), karena memiliki permasalhan pada yang kuraang sesuai dengan orientasi sungai.

Keterangan : 5=sangat baik, 4=cukup baik, 3 = cukup, 2=kurang baik, 1=kurang, 0= sangat kurang Tabel 6. Analisa Riverfront di Perkotaan Yogyakarta

Sumber : Penulis, 2016

(26)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 25

4.3. Analisa Kanal di Perkotaan Yogyakarta

N

o Landasan Teori Indikator Variabel Terpilih

Kanal Perkotaan Yogyakarta

Potensi dan Permasalahan

Selokan

Mataram Positif Negatif

1

Kanal atau umumnya disebut dengan terusan (terusan kapal) merupakan jalur air buatan manusia.

Kanal adalah jalur air

buatan manusia 4

Selokan Mataram merupakan jalur buatan Manusia

memiliki lebar yang berbeda-bed pada daerah-daerah tertentu sepanjang selokan.

kanal yang hanya digunakan untuk mengarahkan dan mengalirkan air saja

Digunakan untuk

mengalirkan air 4

Selokan Mataram digunakan untuk mengalirkan air

hanya berfungsi sebagai irigasi dan mengurangi debit air hujan pada saat curah hujan yang tinggi. (belum di manfaatkan sebagai tempat wisata) kanal yang merupakan jalur

transportasi yang dapat di navigasi, digunakan untuk angkutan barang dan orang,

Jalur transportasi 1

terdpat jalur transportasi darat di samping (pinggir) selokan sungai, laut dan danau.

terhubung dengan

sungai 5

Selokan Mataram terhubung dengan sungai-sungai besar yang ada di Yogyakarta

tidak terhubung langsung dengan perairan lain seperti laut, danau, waduk, dll.

2 Daya Tarik Wisata

(Spillane (2002))

Atraksi Hal yang Menarik

Wisatawan 3

masyarakat sering

berkunjung/berekreasi pada hilir selokan mataram (Ancol Jogja)

Kurang ada hal yang meraik di Selokan Mataram

Fasilitas

Fasilitas-fasilitas pendukung dan yang diperlukan

1 Fasilitas pendukung wisata hanya ada di area "Ancol",

Fasilitas pendukung wisata masih terbatas jumlahnya dan hanya ada di daerah Dam. Fasilitas itu seperti tempat parkir dan tempat makan.

Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung

Objek wisata 2

Baru ada jalan untuk mengakses area selokan mataram ini.

Selokan mataram kurang dalam infrastruktur pendukung wisata, seperti pencahayaan lampu jalan, tempat parkir yang terbatas, hingga fasilitas seperti KM, tempat makan, dan tempat berjualan souvenir.

Jalur Transportasi 4

Terdapat Jalur transportasi untuk mencapai ke Selokan Mataram dan Sepanjang aliran.

(27)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 26

Transportasi Jasa-jasa transportasi 1

Mobil dan Motor dapat mengakses area sepanjang selokan mataram.

Belum Ada Jasa transportasi yang mempublikasi dan menjadikan area ini sebagai tujuan wisata, karena memang belum dicanangkan sebagai area wisata.

Keramah-tamahan Kesediaan menerima

tamu 2

Masyarakat sudah mencoba membuat tenda-tenda sebagai tempat berjualan di area Dam

Fasilitas yang dibuat oleh sumberdaya masyarakat masih sangat kurang. Perlunya desainer tentang tatakelola pariwisata. Perlu adanya penambahan fasilits yang didukung oleh

pemerintah juga.

RATA-RATA 2,70

Selokan Mataram mendapat nilai rata-rata hampir cukup (2,70), hal ini disebabkan kurangnya pemanfaatan selokan mataram sebagai area wisata kanal. Hal ini juga yang menyebabkan kurangnya fasilitas dan infrastruktur pendukung wisata, seperti halnya terbatasnya aktivitas di area selokan mataram, tempat parkir yang tidak teratur, serta jasa transportasi, dan kesediaan masyarakat yang kurang ramah menerima tamu.

Keterangan : 5=sangat baik, 4=cukup baik, 3 = cukup, 2=kurang baik, 1=kurang, 0= sangat kurang Tabel 7. Analisa Selokan Mataram di Perkotaan Yogyakarta

Sumber : Penulis, 2016

(28)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 27

BAB V

ANALISIS DESAIN

Hubungan teori/referensi dengan kondisi dilapangan

Analisa pada tahap ini menggunakan pilihan sampel nilai rata-rata dibawah atau samadengan 3,00 berdasarkan tahapan analisis potensi dan permasalahan di tahap sebelumnya. Pada tahap ini, analisa menggunakan teori dan menghubungkan sesuai referensi desain urban yang sesuai sehingga didapatkan rekonsiliasi dan strategi yang tepat sehingga dapat mencapai nilai lebih tinggi (4,00-5,00) yang berarti sudah dimanfaatkan sesuai potensi yang ada..

5.1. Analisa Desain Bukit Berbah

N o

Landasan

Teori Indikator Variabel Terpilih Referensi Adelaide Hills Bukit Berbah

1 antara 200-500 m di atas permukaan laut

Berada di ketinggian 472 meter diatas

permukaan air laut (1548.56 ft) Berada di ketinggian + 189 meter dpal.

Bukit

yang sangat besar dan tinggi biasanya tingginya

Memiliki perbedaan 100m dari tanah sekitar

 Bukit Berbah berada 75 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta.

(29)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 28

2

Daya Tarik Wisata

(Spillane (2002))

Atraksi Hal yang Menarik Wisatawan

http://krjogja.com/photos/2eab5b27b4ea2314ab255 5f8e380705b.jpg

https://wartasembada.wordpress.com/2010/04/29/se ndratari-lingkungan-digelar-di-berbah/

Atraksi balapan pacu kuda, dan penangkaran koala.

 Sentral Minapolitan (Usaha perikanan dan pemasaran) tidak jauh dari bukit. Dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.

 Sendratari lingkungan pernah dilaksanakan di Goa Sentorejo, Berbah, seharusnya diadakan dengan jadwal yang tetap sehingga dapat dimanfaatkan sebagai tempat wisata. Fasilitas

(30)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 29

Fasilitas pendukung seperti hunian, restaurant,

 Rumah yang ada di sekitar site sudah memiliki desain yang baik. Namun belum dimanfaatkan untuk fasilitas pendukung wisata seperti hunian residensial.

 Fasilitas bisa berupa bangunan mixed use atau berbeda gubahan dengan penambahan fungsi tempat makan, dan lainnya.

Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung Objek wisata

tempat parkir yang luas

 Tempat pakir belum ada karena belum dijadikan sebagai area wisata. Jalan menuju puncak masih di dominasi dengan jalan bersemen.

(31)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 30

Jalur Transportasi

Jalur transportasi yang banyak dan dapat diakses dari banyak arah

 Puncak bukit (lingkaran putih) masih di terbatas dalam jumlah jalur transportasinya.

 Dapat dibuka jalur transportasi baru, sebaiknya di tambahakan jalur transportasi baru, sehingga sirkulasi dapat didesain dengan baik, yaitu arah barat (tanda panah merah)

Transportasi Jasa-jasa transportasi

Mobil, bus, dan taxi dapat mengakses keseluruhan area Adelaide Hills

(32)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 31

 Perlu adanya penambahan fasilitas seperti jalur transportasi public, baik bus atau pun sekelas taxi, krena jalan sudah ada, dan baik.

Keramah-tamahan Kesediaan menerima tamu

Masyarakat di Adelaide Hilss menyewakan rumahnya sebagai area tempat tinggal bersama, selain sebagai

sumber ekonomi.

 Masyarakat belum beralih ke komersial atau penyewaan rumah tradisional. Masyarakat masih berjualan dan bertani dalam mencari sumber ekonomi.

 masyarakat dapat memnfaatkan rumahnya sebagai rumah sewa/ penginapan.

 Desain bangunan sebaiknya menggunakan langgam tradisional Yogyakarta

 Homestay paling dekat berada di bukit pathuk yang berjarak +10km.

Tabel 8. Analisa Desain Bukit Berbah di Perkotaan Yogyakarta Sumber : Penulis, 2016

(33)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 32

5.2. Analisa Desain Bukit Candi Abang

No Landasan

Teori Indikator

Variabel

Terpilih Referensi Adelaide Hills Bukit Berbah

1 500 m di atas permukaan laut dan disertai beberapa bagian yang merupakan

Berada di ketinggian 472 meter diatas

permukaan air laut (1548.56 ft) Berada di ketinggian + 189 meter dpal.

Bukit

yang sangat besar dan tinggi biasanya tingginya

600m dpal. Memiliki perbedaan 100m dari tanah sekitar

 Candi Abang berada 32 meter lebih tinggi dari tanah sekitar dan perkotaan Yogyakarta

 Ketinggian cukup rendah sehingga view terbatas.

(34)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 33

http://turisma.co.id/berita-read-candi_abang_candi_misterius_di_dalam_bukit.html

Atraksi balapan pacu kuda, dan penangkaran koala.

 Sentral Minapolitan (Usaha perikanan dan pemasaran) tidak jauh dari bukit. Dapat dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.

 Sehingga diperlukan penambahan daya tarik seperti tarian.

Fasilitas

Fasilitas-fasilits pendukung dan yang diperlukan

Baru ada rumah warga

Fasilitas pendukung seperti hunian, restaurant,

(35)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 34

 Rumah warga yang telah ada disekitaran site dapat dimanfaatkan sebagai rumah sewa mengikuti desain homestay yang menjamur disekitaran berbah.

Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung Objek wisata

tempat parkir yang luas

 Tempat Parkir kendaraan berada di bawah (lingkaran merah) dan pengunjung diharuskan tracking menuju puncak bukit candi abang, dan masih terbtas jumlah kapasirtasnya..

 Tempat pakir dipuncak belum ada, bahkan yang tracking dengan sepeda masih belum teratur parkirnya.

(36)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 35

Jalur Transportasi

Jalur transportasi yang banyak dan dapat diakses dari banyk arah

 Parkir sudah dapat diakses melalui beberapa arah (panah kuning), namun puncak baru baru dapat diakses dari 2 arah.

 Panah Merah = jalur tracking sepeda dan jalan kaki.

Transportasi Jasa-jasa transportasi

Mobil, bus, dan taxi dapat mengakses keseluruhan area Adelaide Hills

 Sudah bias diakses sepeda, motor, dan mobil, namun dari arah entrance tertentu.

 Perlu adanya penambahan fasilitas seperti jalur transportasi public, baik bus pariwisata kecil atau pun sekelas taxi.

Keramah-tamahan

(37)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 36

Masyarakat di Adelaide Hilss menyewakan rumahnya sebagai area tempat tinggal bersama, selain sebagai sumber ekonomi.

 Masyarakat belum beralih ke komersial atau penyewaan rumah tradisional. Masyarakat masih berjualan dan bertani dalam mencari sumber ekonomi.

 masyarakat dapat memnfaatkan rumahnya sebagai rumah sewa/ penginapan.

 Desain bangunan sebaiknya menggunakan langgam tradisional Yogyakarta

 Homestay terdekat dekat dengan candi prambanan.

Tabel 9. Analisa Desain Bukit Candi Abang di Perkotaan Yogyakarta Sumber : Penulis, 2016

Dari analisa diatas dapat disimpulkan bahwa bukit candi abang masih sangat bisa dimanfaatkan sebagai area pariwisata dengan penambahan beberapa fasilitas seperti jalur transportasi, jasa-jasa transportasi, pembangunan dibidang arsitektural seperti bangunan yang menggunakan langgam tradisional.

5.3. Analisa Desain Riverfront

No Landasan Teori Indikator Variabel Terpilih Referensi Waterfornt Edinburgh Sungai Winongo

1

Daya Tarik

Wisata (Spillane

(2002))

Atraksi Hal yang Menarik Wisatawan

Pemandangan air sungai dan laut menjadikan hal utama, namun selain itu ada pemandangan

seperti kapal kecil dan jajaran bangunan menjadikan hal yang lebih menarik.

 Adanya penambahan gajebo wisata winongo belum meningkatkan pemandangan yang menarik.

(38)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 37

Fasilitas

Fasilitas-fasilits pendukung dan yang diperlukan

Adanya fasilitas pejalan kaki yang jelas dengan banyaknya pepohonan yang menghiasi samping

sungai.

 Fasilitas pejalan kaki sudah ada dengan adanya desain buatan manusia seperti pergola, dan taman.

 Sehinggga perlu pohon yang berfungsi arsitektural baik bagi riverfront, misalkan seperti pohon bunga yang besar atau tanaman pohon ber daun tidak hijau.

Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung Objek wisata

Adanya area duduk dan berjalan serta fasilitas lain sangat lengkap, hingga tempat parker,

restaurant, dan tempat tinggal

 Fasilitas wisata winongo baru dilengkapi dengan pergola dan taman sepanjang jalan setapak yang tidak lebar.

 Perlu fasilitas seperti tempat duduk (santai), pagar pembatas sungai yang baik, serta jalur pejalan yang jelas.

Jalur Transportasi

Dapat diakses oleh banyak kendaraan seperti, mobil, motor, bus, taxi, dlll

(39)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 38

Transportasi Jasa-jasa transportasi

Jasa transportasi public dapat berupa kapal, bus, taxi, dll

 Belum bisa diakses oleh kendaaaran massal/public hingga bibir sungai.

 Kebanyakan didominasi oleh pejalan kaki.

 Transportasi public hanya dapat mengakses di beberapa titik jembatan sungai winongo. Bisa penambahan jasa transportasi massal yang dapat mengakses seluruh kawasan seperti ojek motor atau sepeda.

Keramah-tamahan Kesediaan menerima tamu

Banyaknya fasilitas lain yang muncul sebagai upaya menerima tamu dari masyarakat sekitar.

 Sudah ada upaya menarik dan menerima tamu, namun belum banyak dilengkapi fasilitas-fasilitasnya.

 Lebih mencanangkan lagi publikasi area wisata winongo.

 Perlu ditambahkan lagi area-area mana saja yang dijadikan wisata.

Tabel 10. Analisa Desain Sungai Winongo di Perkotaan Yogyakarta Sumber : Penulis, 2016

(40)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 39

5.4. Analisa Desain Selokan Mataram

No Landasan Teori Indikator Variabel

Terpilih Referensi Union Canal Selokan Mataram

1 jalur air buatan manusia.

Kanal adalah jalur air buatan manusia

Merupakan jalur buatan manusia yang pada zaman pembangunan difungsikan sebagai jalur untuk distribusi mineral

batubara, dll

 Merupakan jalur buatan manusia yang pada zamannya difungsikan sebagai jalur pertahanan dan jalur irigasi persawahan

 bisa dimanfaatkan sebagai jalur distribusi sesuatu hal, atau jalur transportasi namun pada rentan tertentu (bebas jembatan) yaitu sisi barat selokan .

kanal yang hanya

Digunakan untuk mengalirkan air

 Digunakan mengalirkan air dari sungai progo ke sungai opak

(41)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 40

Jalur transportasi lebih didominasi dengan jalur air

 Jalur transportasi didominasi oleh jalur darat.

 Selokan Mataram hanya dimanfaatakan jalur transportasi pada sisi samping kanan dan kiri bibir kanalnya.

 Belum ada pemanfaatan wisata berbasis air, sepertu susur sungai dengan cano atau sejenisnya

seringkali terhubung dengan sungai, laut dan danau.

terhubung dengan sungai

Terhubung dengan beberapa sungai kecil disekitarnya

 Terhubung dengan sungai-sungai besar di Yogyakarta seperti winongo, Code, dan Gajah wong

 Air selokan mataram yang cenderung keruh menyebabkan kurangnya ketertarikan masyarakatnya.

 Terhubungnya dengan sungai-sungai besar sehigga dapat membantu mengontrol jumlah volume air sungai.

2 Daya Tarik Wisata

(Spillane (1985)) Atraksi

Hal yang Menarik Wisatawan

Banyaknya aktivitas fisik yang dapat dilakukan di union canal seperti memancing, bersepeda, naik cano,

naik kapal, dll

 Hanya terdapat pemanfaatan sebagai area bermain anak di area tertentu.

 Perlunya penambahan aktivitas seperti area bermain kano, bersepeda, berlari, memancing, dan area makan.

(42)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 41

Fasilitas

Fasilitas-fasilits pendukung dan yang diperlukan

Belum ada Adanya fasilitas untuk menikmati

kanal seperti kapal dan area rumah singgah

 Belum banyak dilengkapi oleh fasilitas seperti rumah singgah yang difungsikan sebagai wisata.

 Karena Selokan mataram juga belum dilengkapi fasilitas pariwisata yang cukup mendukung.

Infrastruktur

Infrastruktur Pendukung Objek wisata

Belum ada

Adanya fasiltas seperti tempat singgah dan lain-lain

 Belum ada fasilitas pendukung objek wisata

 fasilitas pendukung pariwisata sangat perlu adanya seperti residensial, transportasi unik, dan tempat parkir yang cukup untuk jumlah tertentu.

Jalur Transportasi

Jalur transportasi dapat diakses dengan darat dan air.

 Jalur transportasi dapat diakses dengan jalur darat, dari beberapa arah seperti dari Yogyakarta, Sleman, dan Kulon progo.

(43)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 42

Transportasi Jasa-jasa transportasi

Jasa transportasi lebih mengutamkan pada kapal dan penyewaaan kapal.

 Dapat diakses dengan motor, sepeda, taksi, bus pada area tertentu.

 Perlu ditambah untuk jasa sewa transportasi air

Keramah-tamahan

Kesediaan menerima tamu

Masyarakat menerima tamu dengan baik dengan membuka fasilitas seperti

rumah singgah dan residential.

 Masyarakat belum cukup terbuka terhadap are wisata, namun lebih cenderung mengutamakan pada kebutuhan lain seperti kebutuhan kos karena letaknya yang dekat dengan kampus.

Tabel 11. Analisa Desain Selokan Mataram di Perkotaan Yogyakarta Sumber : Penulis, 2016

(44)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 43

BAB VI PENUTUP

6.1. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari tahap analisa sebagai berikut :

1. Bukit berfungsi sebagai tempat mendapatkan pemandangan, namun di perkotaan Yogyakarta terdapat beberapa bukit yang telah dimanfaatkan sesuai fungsinya dan terdapat juga yang belum dimanfaatkan seperti bukit Berbah.

2. Bukit Berbah masih sangat bisa dimanfaatkan sebagai area pariwisata dengan penambahan beberapa fasilitas seperti jalur transportasi, jasa-jasa transportasi, dan penambahan atraksi dan aktivitas yang ada. Selain itu perlunya pembangunan dibidang arsitektural seperti bangunan yang menggunakan langgam tradisional. 3. Perkotaan Yogyakarta memiliki tiga waterfront dengan jenis riverfront yang

memiliki karakteristik yang hampir mirip, yaitu dimanfaatkan sebagai area pemukiman, orientasi bangunan yang belum mengarah ke sungai, dan arah pembangunan yang cukup besar disominasi dengan pembangunan horizontal. 4. Publikasi wisata winongo yang kurang serta fasilitas dan infrastruktur yang kurang

menjadikan sungai Winongo kurang berhasil dalam upaya mengkomersilkan daerah tersebut. Selain itu juga dikarenakan terbatasnya fasilitas pendukung wisata dan hanya bagian-bagian tertentu saja yang dijadikan pariwisata.

5. Selokan Mataram adalah kanal yang ada diperkotaan Yogyakarta yang merupakan saluran buatan manusia dengan nilai historis yang ada, namun belum dimanfaatkan untuk area pariwisata meski memiliki kesempatan untuk dikembangkan untuk hal tersebut

6. Perlunya penambahan aktivitas dan fasilitas pendukung wisata sehingga dapat menarik wisatawan. Selain itu perlu dijelaskan plotting aktivitas sesuai dengan potensi dari Selokan mataram.

(45)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 44

6.2. REKOMENDASI DESAIN

a) Bukit Berbah 1) Data Site

Gambar 20. Foto Udara Bukit Berbah

Sumber : https://www.google.co.id/maps/place/Pasar+Ikan+Minapolitan/@-

7.8218471,110.4612,1510m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x0:0x56a4ada83fb81813!8m2!3d-7.8269491!4d110.4370466

Gambar 21. Peta Topografi dan Kontur Bukit Berbah

Sumber : https://www.google.co.id/maps/place/Pasar+Ikan+Minapolitan/@-

(46)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 45

Gambar 22. Tampak Topografi Bukit Berbah Sumber : Penulis, 2016

2) Gagasan Desain

Bukit Berbah akan didesain dengan area pariwisata dengan :

 Jenis pariwisata :Desa wisata pemandangan perkotaan Yogyakarta.

 Tujuan mengembangkan ekonomi, sosial dan nilai lingkungan dari wilayah setempat.

 Penambahan fasilitas seperti hunian lebih diutamakan dengan rumah sewa, restaurant atau tempat makan, tempat parkir yang cukup besar, jalan yang lebih lebar dan rata.

 Penambahan daya Tarik dengan memanfaatkan titik Minopolitan.

3) Plotting Zonasi

(47)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 46

4) Referensi Desain Bangunan

Gambar 24. Joglo Mlati

Sumber : http://indonesia-feature.blogspot.co.id/2015/04/joglo-mlati-yogyakarta-tawarkan-paket.html

Gambar 25. Boutique Hotel

Sumber : http://www.hotelmurahdiyogyakarta.com/hotel/263454-Rumah-Sleman-Private-Boutique-Hotel

Gambar 26. Rumah Joglo

(48)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 47

b) Bukit Candi Abang 1) Data Site

Gambar 27. Foto Udara Bukit Candi Abang

Sumber : https://www.google.co.id/maps/@-7.8097633,110.4722933,1268m/data=!3m1!1e3

Gambar 28. Peta Topografi dan Kontur Bukit Candi Abang

Sumber : https://www.google.co.id/maps/place/Pasar+Ikan+Minapolitan/@-

(49)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 48

2) Gagasan Desain

Bukit Berbah akan didesain dengan area pariwisatadengan :

 Jenis pariwisata : Desa wisata pemandangan perkotaan Yogyakarta.

 Tujuan mengembangkan ekonomi, sosial dan nilai lingkungan dari wilayah setempat.

 Penambahan fasilitas seperti hunian lebih diutamakan dengan rumah sewa, restaurant atau tempat makan, tempat parkir yang cukup besar, jalan yang lebih lebar dan rata.

3) Plotting Zonasi

Gambar 29. Masterplan

(50)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 49

4) Referensi Desain Bangunan

Gambar 30. Joglo Mlati

Sumber : http://indonesia-feature.blogspot.co.id/2015/04/joglo-mlati-yogyakarta-tawarkan-paket.html

Gambar 31. Boutique Hotel

Sumber : http://www.hotelmurahdiyogyakarta.com/hotel/263454-Rumah-Sleman-Private-Boutique-Hotel

Gambar 32. Rumah Joglo

(51)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 50

c) Riverfront Sungai Winongo 1) Foto Site

Gambar 33. Foto waterfront Suungai Winongo Sumber :

https://www.google.co.id/maps/@-7.7826685,110.3571527,3a,90y,18.37h,75.63t/data=!3m6!1e1!3m4!1s3V7nEy6PShvm7Vnr NFKKDg!2e0!7i13312!8i6656

2) Gagasan Desain

Sungai Winongo akan didesain dengan area pariwisata dengan :

 Wisata Sungai Winongo

 Tujuan mengembangkan ekonomi, sosial dan nilai lingkungan dari wilayah setempat.

 Penambahan fasilitas seperti hunian lebih diutamakan dengan rumah sewa, restaurant atau tempat makan.

 Atraksi area berjalan kaki dengan view sungai winongo yang cukup hijau.

3) Masterplan

Gambar 34. Masterplan

(52)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 51

Gambar 35. Desain Jalan dan taman

Sumber : http://www.kleinandhoffman.com/site/project/richmond_riverfront_development/58

(53)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 52

d) Kanal Selokan Mataram 1) Foto Site

Gambar 37. Foto Udara Selokan Mataram, Yogyakarta

Sumber : http://jogjajelajah.blogspot.co.id/2012/06/tertarik-dengan-yang-ini-selokan.html 2) Gagasan Desain

Selokan Mataram akan didesain dengan area pariwisata dengan :

 Menggunakan area air.

 Tujuan mengembangkan ekonomi, sosial dan nilai lingkungan dari wilayah setempat.

 Penambahan aktivitas seperti menyusuri canal dengan kapal canoe, jalur tracking berlari, bersepeda dan memancing.

(54)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 53

3) Masterplan

(55)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 54

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Azwar, Saifuddin. 1995. Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Holmes, Andrew M. 2003. "The Edinburgh standart for Urban Design". Edinburgh : 1 Cockburn Street.

Spillane, James. 1985. “Ekonomi Pariwisata, Sejarah dan Prospeknya”. Yogyakarta:Kanisius.

Jurnal

Johnson, D. L.; Ambrose, S. H.; Bassett, T. J.; Bowen, M. L.; Crummey, D. E.; Isaacson, J. S.; Johnson, D. N.; Lamb, P.; Saul, M.; Winter-Nelson, A. E. (1997). "Meanings of Environmental Terms". Journal of Environmental Quality 26 (3): 581–589. doi:10.2134/jeq1997.00472425002600030002x

Pamulia, A A. 2014. "Tinjauan Mengenai Pengembangan Desa Wisata yang mengusung

karakter Budaya". Yogyakarta : UAJY.

Risnita. 2012. “Pengembangan Skala ModelLikert”. Jambi : IAIN Jambi.

Website

Adelaide Government. No date. “Adelaide Hills”. Di akses pada 01 juni 2016 dari website

http://www.adelaidehills.org.au/

Agoda. No date. “Hotel Murah di Yogyakarta” diakses pada 05 Juni 2016, dari website

http://www.hotelmurahdiyogyakarta.com/hotel/263454-Rumah-Sleman-Private-Boutique-Hotel

BPS Provinsi D.I. Yogyakarta. 2012. “Jumlah Penduduk menurut Kabupaten/Kota” diakses pada 01 Juni 2016, dari website http://yogyakarta.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/7 Disparda D.I.Yogyakarta.. 2014. “Statistik Pariwisata 2014” diakses pada 01 Juni 2016, dari

website http://visitingjogja.com/bank_data/kategori/MQ==

Google Corp. 2015. “Google Maps” diakses pada 15 Juni 2016, dari website

https://www.google.co.id/maps/place/Pasar+Ikan+Minapolitan/@-7.8218471,110.4612,1510m/data=!3m1!1e3!4m5!3m4!1s0x0:0x56a4ada83fb81813!8m 2!3d-7.8269491!4d110.4370466

Google Corp. 2015. “Google Maps” diakses pada 15 Juni 2016, dari website

(56)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 55 Google Corp. 2015. “Google Maps” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

https://www.google.co.id/maps/@-7.8097633,110.4722933,1268m/data=!3m1!1e3 Google Corp. 2015. “Google Maps” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

https://www.google.co.id/maps/@-7.7826685,110.3571527,3a,90y,18.37h,75.63t/data=!3m6!1e1!3m4!1s3V7nEy6PShvm 7VnrNFKKDg!2e0!7i13312!8i6656

Harun. 2011. “Peta Provinsi DIY Yogyakarta” diakses pada 01 Juni 2016, dari website http://harunarcom.blogspot.co.id/2011/02/peta-provinsi-diy-ygjakarta.html

Hoffman, and Klien. No date. “Richmond Riverfront Development” diakses pada 01 Juni 2016,

dari website

http://www.kleinandhoffman.com/site/project/richmond_riverfront_development/58 Michigan Goverment. No date. “Topografi” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

http://www.michigan.gov/cgi/0,1607,7-158-14767-31893--F,00.html

No Name. No date. “Edinburgh Leith Waterfront hotel”. Diakses pada 01 juni 2016 dari http://www.premierinn.com/gb/en/hotels/scotland/lothian/edinburgh/edinburgh-leith-waterfront.html

No Name. No date. "Setting". diakses pada 04 juni 2016, dari website

http://www.learnersdictionary.com/definition/setting

No Name. No date. “Istimewa” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

http://www.artikata.com/arti-331181-istimewa.html

No Name. No date. “Istimewa” diakses pada 06 Juni 2016, dari website

http://kbbi.web.id/istimewa

No Name. No date. “Topografi” diakses pada 05 Juni 2016, dari website

http://kbbi.web.id/topografi

No Name. 2014. “Pengertian Bukit” diakses pada 07 Juni 2016, dari website

http://www.temukanpengertian.com/2014/04/pengertian-bukit.html

No Name. No date. “Bukit” diakses pada 01 Juni 2016, dari website http://kbbi.web.id/bukit

No name. No date. “Gunung” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

http://kbbi.web.id/gunung

No Name. No date. “Edinburgh Leith Waterfront hotel” diakses pada 15 Mei 2016, dari website

http://www.premierinn.com/gb/en/hotels/scotland/lothian/edinburgh/edinburgh-leith-waterfront.html

No Name.2015. “Konferensi London tentang Terusan Suez” diakses pada 12 Mei 2016, dari

website http://www.gurusejarah.com/2015/01/konferensi-london-tentang-terusan-suez.html

No Name. 2015. “Joglo Mlati” diakses pada 01 Juni 2016, dari website http://indonesia

(57)

Angga Ramadhan [13-512-037] Pengantar Rancang Kota [C] 56

No Name. 2014. “St. Michael, Dragons, Serpentine Wall and the FBI” diakses pada 01 Juni

2016, dari website http://copycateffect.blogspot.co.id/2014_09_01_archive.html

No Name. 2012. “Selokan Mataram (Kali buatan Van Jogja)” diakses pada 01 Juni 2016, dari

website http://jogjajelajah.blogspot.co.id/2012/06/tertarik-dengan-yang-ini-selokan.html

Nurizati, Resy. 2013. “Waterfront City Konsep (Urban Planning)”. Diakses pada 26 mei 2016, dari website http://resynurizati.blogspot.co.id/2013/06/waterfront-city-konsep-urban-planning.html

Ramdani, Aditiya. dkk. 2013. "Elemen-elemen rancang kota yogyakarta". diakses pada 25 mei

2016, dari website

http://www.academia.edu/12980529/Elemen-elemen_rancang_kota_Yogyakarta

Scottish Canals Corp. No date. “Scottish Canals” diakses pada 01 Juni 2016, dari website https://www.scottishcanals.co.uk/canals/union-canal/

Sembada, Warta. 2010. “Sendratari lingkungan di gelar di Berbah” diakses pada 01 Juni 2016, dari website https://wartasembada.wordpress.com/2010/04/29/sendratari-lingkungan-digelar-di-berbah/

Tjerita, P R. 2013. “Definisi Kanal atau Terusan dan Jenisnya”. Diakses pada 26 mei 2016, dari website http://tukangbata.blogspot.co.id/2013/02/definisi-kanal-atau-terusan-dan-jenisnya.html

Webb, Alice. 2011. “Newton hill at Elm Park” diakses pada 01 Juni 2016, dari website https://landperspectives.com/2011/02/02/newton-hill-at-elm-park/

Wul, Ka. 2014. “Yogyakarta” diakses pada 01 Juni 2016, dari website

Gambar

Gambar 4. Peta Adelaide hills
Gambar 7. Aktivitas di Waterfornt Edinburgh
Gambar 10. Kanal Banjir Timur
Gambar 12. Basse Saône
+7

Referensi

Dokumen terkait

Meskipun sumberdaya arkeologi yang berada di kawasan Pangkalan Militer TNI AU Haluoleo belum dimanfaatkan akan keberadaanya. Namun menurut analisa hemat penulis,

Apabila terdapat daerah yang belum siap menjalankan pengalihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) pada akhir tahun 2013, maka daerah tersebut akan