• Tidak ada hasil yang ditemukan

VISI ANTROPOKOSMIK MEMBANGUN KERANGKA PR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "VISI ANTROPOKOSMIK MEMBANGUN KERANGKA PR"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

VISI ANTROPOKOSMIK: MEMBANGUN KERANGKA PRINSIP TEORETIS AKUNTANSI

Yulis Diana Alfia1) Iwan Triyuwono2) Aji Dedi Mulawarman2)

1) Universitas Mercu Buana, Jl. Meruya Selatan No. 1, Kembangan, Jakarta Barat, 11650 2)Universitas Brawijaya Malang, Jl. Veteran, Malang, Jawa Timur

Surel: [email protected]

Abstrak: Visi Antropokosmik: Membangun Kerangka Prinsip Teoretis Akuntansi. Peradaban modern yang dibangun sejak abad 17 – zaman pencerahan, tidak dapat dilepaskan dari paradigma Cartesian-Newtonian. Pola pikir fragmentatif dan mekanistik membawa pandangan ini pada pemisahan kesakralan alam dari manusia – antroposentrisme. Ilmu pengetahuan berperan sebagai alat pencarian kekuasaan guna mendominasi alam, yang mengidentifkasi kebenaran untuk kegunaan industrialisasi. Berbicara dalam konteks sejarah perkembangan akuntansi modern, kita tidak bisa melepaskan diri dari pathway perkembangan peradaban modern. Perkembangan the natural philosophy pada masa abad pencerahan banyak memengaruhi pemikiran-pemikiran ekonomi yang digunakan sebagai dasar asumsi akuntansi. Antroposentrisme dalam akuntansi dapat dilihat dalam dua hal, yaitu kepemilikian kapital dan hubungan keagenan. Akuntansi merupakan instrumen teknikal industrialisasi, yang mendukung pertambahan kepemilikan dan penguasaan terhadap alam. Hubungan keagenan yang termaktub dalam Agency Theory (AT) menempatkan asumsi dasar manusia sebagai rational economic man yang mendorong terjadinya conflict of interest. Berdasarkan beberapa diskursus, pandangan ini merupakan cikal bakal terjadinya berbagai macam problematika peradaban modern. Pada sisi lain, teoretisasi akuntansi yang dikembangkan berdasarkan AT juga telah mengalami perkembangan, yaitu Entity Theory, Stewardship Theory, dan Enterprise Theory yang kemudian diadopsi dalam pengembangan akuntansi syariah menjadi Sharia Enterprise Theory (SET). Adopsi ini membuktikan terjadinya hegemoni cartesian-newtonian. Visi antropokosmik merupakan cara pandang yang memahami bahwa manusia dan semesta sebagai sebuah kesatuan yang tunggal, keseluruhan yang organismik, sebagai sebuah kesadaran spiritual. Visi antropokosmik merupakan cara pandang yang ditawarkan sebagai alternatif pemikiran yang diharapkan dapat menjawab persoalan antroposentrisme akuntansi. Berdasarkan pandangan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk mengembangkan kerangka prinsip teoretis akuntansi (syariah) sebagai sebuah transisi teoretis. Prinsip flsafat hikmah Sadra dijadikan sebagai fundamen dalam menderivasi visi antropokosmik, sebagai basis epistemik dalam gagasan teoretisnya. Prinsip tersebut, antara lain: Prinsipalitas Wujud (Ashalat al-Wujud), Tasykik al-Wujud (Gradasi Wujud), Gerak Transubstansial, dan hubungan subyek – obyek pengetahuan. Hasil konstruksi ini melahirkan enam prinsip teoretis akuntansi, yaitu: Prinsip Kesalinghubungan, Orientasi Proses, Metafsika, Perrenial Wisdom, Multi disiplin, dan Sistem Moral Etik.

(2)

Abstract: Anthropocosmic Vision: Building the Theoretical Framework of Accounting Principles. Modern civilizations which was built starting the 17th century – the Age of Rationalism, can not be separated from the Cartesian-Newtonian paradigm. Fragmented and mechanistic mindset carries this view on the separation of the sanctity of nature from man -anthropocentrism. Science serves as the search tool of power to dominate nature, which identifies the truth for purposes of industrialization. Speaking in the context of the historical development of modern accounting, we can not escape from the development of modern civilization pathway. The development of the natural philosophy at the time of the enlightenment age influenced economic thinking that is used as the basis of accounting assumptions. Anthropocentrism in accounting can be viewed in two ways, that is the ownership of capital and the agency relationship. Accounting is a technical instrument of industrialization, which supports the growth of ownership and control over nature. Agency relationship that contained in the Agency Theory (AT) puts the basic assumptions of human beings as rational economic man that drives the conflict of interest. Based on some discourses, this view is the embryo of diferent kinds of problems of modern civilization. On the other hand, theorizing accounting that was developed based on AT also has been progressing, that is Entity Theory, Stewardship Theory, and Enterprise Theory, which was later adopted in the development of sharia accounting into the Sharia Enterprise Theory (SET). This adoption is proving the hegemony of Cartesian-Newtonian. Anthropocosmic vision is a worldview that understands that man and the universe as a single entity, the whole which organismic, as a spiritual awareness. The anthropocosmic vision worldview ofered as an alternative thinking that is expected to answer the question of anthropocentrism accounting. Based on this view, this paper aims to develop a theoretical framework of accounting principles (Sharia) as a theoretical transition. The principle of the Sadra’s philosophy of wisdom serve as fundamental to derive the anthropocosmic vision, as epistemic basis in theoretical ideas. These principles, among others: Principality of Existence (Ashalat al-Wujud), Tasykik al-Wujud (Gradation of Existence), Transubstansial Motion, and relationships subject - object of knowledge. The result of this reconstruction gave birth to six theoretical accounting principles, that is: the Principle of Interrelationships, Process Orientation, Metaphysics, Perrenial Wisdom, Multi-disciplinary, Ethical and Moral System.

Keywords: Anthropocentric, Anthropocosmic vision, Sadrian Wisdom, Theoretical Framework, Accounting Principles

Pendahuluan: Diskursus Antroposentrisme dalam Akuntansi

(3)

pandangan ini merupakan cikal bakal terjadinya berbagai macam problematika peradaban modern. Berkaitan dengan hal ini, Capra (2007) menyatakan bahwa keberadaan ini merupakan sebuah krisis perspektif.

Berbicara dalam konteks sejarah perkembangan akuntansi modern, maka kita tidak bisa melepaskan diri pada jalan (path way) perkembangan peradaban modern. Karena pandangan dunia yang terbangun dan termapankan oleh status quo kekuasaan dan ilmu pengetahuan modern inilah yang memengaruhi bentuk perkembangan akuntansi dalam konteks periodisasi sejarah di mana ia tumbuh. Abad modern ditandai dengan lahirnya scientific revolution pada abad 17, di mana Dollery, Jackson, dan Karayan (1996) menyitir McCloskey (1986:6) bahwa ilmu pengetahuan modern menjanjikan bebas dari keraguan, metafsika, moral, dan pendirian individu.

Terdapat sebuah perbedaan signifkan dalam melihat pengetahuan alam pada era 1700-an dengan era 1500-an, era materialisme, the secular age (Taylor 2007). Henry (2002) dalam historiografnya menandai kemunculannya dengan doktrin Francis Bacon yang menggantikan Aristotle’s Organon in His New Organon (1620); Galileo dengan tulisannya Two New Science (1638); dan Copernican yang menemukan A New Astronomy (1609), yang kemudian menjadi penempatan basis antroposentrisme (Heriyanto 2003). Terutama keimanan Baconian dalam scientific knowledge dengan sikap pragmatis fungsionalisnya (melalui pernikahan sains dan teknologi, penyatuan teoretis dan empiris pada natural environment), mengidentifkasikan kebenaran dengan identifkasi kegunaan industrialisasi (White 1976 dan Heriyanto 2003, lihat pula Wilson 1999). Nasr (1989) juga melukiskan bahwa sains Bacon berperan sebagai pencarian kekuasaan guna mendominasi alam (power to dominate over nature) dari pada memahami alam, yang berakibat pada pemaksaan alam untuk memenuhi kebutuhan materialisme manusia. Henry (2002) mengatakannya sebagai sebuah permasalahan whiggism.

Penandaannya – antroposentrisme - dalam akuntansi paling tidak bisa kita lihat dalam dua hal, yaitu kepemilikian kapital dan hubungan keagenan. Menelusurinya dapat dimulai dari pengembangan natural philosophy yang pada abad pencerahan, banyak memengaruhi pemikiran-pemikiran ekonomi (klasik dan neo klasik), yang kemudian banyak digunakan sebagai dasar asumsi dalam akuntansi (Sterling 1990). Yang paling mengemuka di antaranya adalah pada asumsi dasar ekonomi tentang keterbatasan sumber daya alam dan tindakan ekonomi, yang kemudian memunculkan doktrin akuntansi “menekan biaya serendah-rendahnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”. Tindakan ekonomi yang terkerangka dalam cara Baconian berpikir yaitu bagaimana melakukan penguasaan dan eksploitasi terhadap sumber daya alam (Capra 2004) dalam rangka untuk memaksimalkan utility dan profitnya. Asumsi “maju” bagi masyarakat modern menurut Heriyanto (2003) adalah pertambahan kepemilikan dan penguasaannya terhadap alam - merupakan konsepsi pandangan natural philosophy cartesian newtonian -yang mendorong pada pengembangan revolusi industri (industrialisasi) (Nasr 2005).

Sedangkan pada sisi akuntansi, Pollard (1965) seorang sejarawan ekonomi dan bisnis menyatakan akan signifkansi akuntansi sebagai faktor kesuksesan bisnis dalam revolusi industri (Carnigie, Napier, dan Parker 2014). Sejalan dengan hal ini, Chwastiak dan Young (2003) menyatakan bahwa akuntansi merupakan instrumen teknikal penting dalam mendukung pertambahan kepemilikan dan penguasaan terhadap alam. “Maximize return to shareholders” menjadi esensi utama bisnis dan akuntansi, baik bagi pemegang saham atau pun manajemen, hal ini terlihat jelas pada notasi-notasi akuntansi seperti net income, revenue, expense, dan sebagainya (Kelly 2003).

(4)

interest merupakan pusat teoretisasi AT dengan bahasan agency problem yang menimbulkan terjadinya agency cost dan mendorong terjadinya conflict of interest. Bricker dan Chandar (1998) menelusuri perkembangan model agensi dalam capital market yang digagas oleh Jensen dan Meckling (1976) merupakan hasil sintesis dari pemikiran Berle dan Means (1932) dan Coase (1937 dan 1960) terutama tentang property rights (Medema dan Zerbe 1999) dan literatur kontraktual. Terutama juga mengenai pemahaman “firm” sebagai sebuah “a nexus contract” antara principle dan agent (lihat juga Coase 1937). AT pada dasarnya merujuk pada teori expected utility (EU) Von Neumann dan Morgenstern (Leonard 1995), di mana axioma intuitif EU adalah bahwa agent akan berperilaku memaksimalkan expected value of utility function untuk tujuan kesejahteraan (Von Neumann dan Morgenstern 1944). Bentuk fungsi utilitas kemudian merefeksikan perilaku agent berdasarkan risiko dengan keputusan rasional. Bagi Neumann bentuk ini merupakan fakta empiris di mana manusia secara umum menolak preferensi risiko. Preferensi penolakan terhadap risiko ini pada dasarnya mengambil dasar asumsi dan cara kerja Darwinisme, bertahan hidup, keunggulan spesies, dan berevolusi. Konstruksi AT terbangun dari seperangkat teori pengambilan keputusan dan perilaku ekonomi yang digagas oleh Morgenstern awal tahun 40-an (Kuhn 2004) yang dibangun pada pondasi konstruksi game theory (minimax solution of zero-sum two-person games) dalam mathematical foundations quantum mechanics. Pondasi ini diambil dari gagasan Von Neumann yang dipublikasi pada 1928 (Nash 1953). Bahasan mengenai kapital dan hubungan keagenan dalam akuntansi jelas menunjukkan pandangan dunia antroposentris, yang terkerangka dari pandangan cartesian newtonian yang mekanistik, deterministik, dan terfragmentasi.

Metodologi: Dasar-Dasar Pengembangan Visi Antropokosmik

Apa yang telah dilakukan pada pengembangan-pengembangan akuntansi selanjutnya terutama pengembangan akuntansi syariah adalah dalam rangka mengkritisi dan menggantikan paham antroposentrisnya. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa visi Islam adalah membawa pesan rahmatan lil ‘alamin (Triyuwono 2012; 2013 dan Mulawarman 2011). Berkaitan dengan hal ini, Triyuwono (2006; 2012) dengan kekhasan manunggaling kawulo gusti, membawa isu epistemologi sinergi oposisi biner untuk menggantikan pandangan dualitas single vision atas dominasi maskulin dalam akuntansi. Mulawarman (2011) menawarkan kekhasan konsep tazkiyah dan zakka dengan cintanya. Maka di sini kita akan berbicara mengenai visi antropokosmik sebagai usaha dan alternatif pemikiran untuk menjawab beberapa celah epistemologis dalam pengembangan akuntansi syariah (lihat pula kritik atas celah tujuan akuntansi syariah dalam Alfa, 2015).

Perjalanan historis dalam paparan awal pendahuluan, telah menempatkan wajah akuntansi seperti yang kita lihat sekarang ini. Sebuah pandangan dunia yang antroposentris dengan perspektif cara pandang yang mekanistik dengan pola bagian-bagiannya yang terpecah-pecah (determinan). Hal ini tentunya memperlihatkan perbedaan yang cukup signifkan atas apa yang akan kita bahas dalam visi antropokosmik berikut ini. Bahwa keberagaman yang nampak dalam fenomena semesta, pada dasarnya memiliki kesalinghubungan. Mengapa antropokosmik? Pandangan epistemologis ini ditujukan untuk menjawab kegelisahan antroposentrisme dunia modern itu1. Antroposentrisme yang melepaskan Tuhan dari dirinya, yang menjelajah semesta dengan congkak dan keangkuhan untuk menguasai dan mengeksploitasinya.

Antropokosmik sendiri pada dasarnya merupakan pandangan Asia Timur yang khas dengan corak dan keyakinan spiritualitasnya. Sebuah pandangan yang memahami bahwa manusia dan semesta sebagai sebuah kesatuan yang tunggal, keseluruhan yang

1 Pandangan kritis ini dapat kita pelajari (ambil) dari ide yang digagas pula oleh Triyuwono

(5)

organismik2. Chittick3 (2010) sendiri mengambil pengistilahan ini dari Tu Weiming seorang profesor pengkaji Confusianis Cina. Weiming seperti dijelaskan Chittick (2010) menyatakan bahwa antropokosmik merupakan pandangan yang melekat di Asia Timur dan pada dasarnya tidak tergantikan oleh pandangan abad pencerahan (modern) yang melihat alam sebagai konglomerasi objek-objek dan memahami pengetahuan sebagai alat untuk mengontrol alam. Ketertarikannya pada visi antropokosmik sendiri adalah bertujuan untuk belajar bagaimana menjadi manusia sejatinya, yaitu sebagai jalan untuk mengaktualisasi kodrat sejati manusia sejak sebelum ia dihadirkan (lahir) di muka bumi.

Sedangkan Chittick sendiri yang berangkat dari pandangan tradisi hikmah Islam, mencoba melakukan revisi atas terminologi ini. Chittick (2010) memandang bahwa pandangan antropokosmik ini dapat digunakan untuk menjelaskan pandangan dunia Islam secara umum dan tradisi intelektual secara khusus. Chittick (2010) menyatakan bahwa hanya melalui para flsuf (ahli hikmah Islam)-lah maka pengembangan saintisme – dalam pengertian dewasa ini – dilakukan, di mana pendekatan ini memberikan signifkansi tentang “ada” dan “menjadi” tanpa mempertentangkan keyakinan dogma. Peletakan terminologis ini berpusat pada penjelasannya akan keyakinan tauhid, sebagai dogma pertama dan fundamental, yang tidak terkait dengan fakta-fakta sejarah kenabian dan Al-Qur’an. Dengan proses intelektual transendental, kita tidak bisa meragukan aksioma universal dan ahistoris sebagai kepastian unik akan keyakinan jiwa (Chittick 2010).

Menurut Chittick (2010), tauhid berdiri di luar sejarah dan penukilan, merupakan kebenaran universal yang tidak bergantung pada wahyu, yang mendahului Muhammad dan risalah yang dibawanya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tauhid merupakan kualitas yang inheren pada ftrah Adam dan anak cucunya. Berdasarkan sejarah kerasulan dan kenabian, tauhid merupakan pesan utamanya, bahwa setiap nabi dalam setiap kontekstualitas sejarahnya membawa pesan peng-Esa-an Tuhan4. Tauhid adalah pengakuan atas sebuah kebenaran universal yang mengekspresikan keadaan segala sesuatu secara aktual pada sepanjang masa dan selamanya. Karena segala sesuatu berada di bawah keesaan Tuhan, justru dari fakta bahwa Ia mewujud (Chittick 2010:152). Pandangan wahdatul wujud khas Al-Farabi5 - yang juga dikaji, ditafsir, dan disintesiskan

2 Pandangan yang menyebutkan bahwa alam semesta dan keseluruhan isinya merupakan satu

kesatuan utuh yang organis di mana diri menyatu dengan semesta. Pada dasarnya banyak sekali yang mendukung ide tentang hal ini meskipun masing-masing memiliki dasar fundamen dan konsep yang berbeda-beda satu sama lainnya. Selain Al-Farabi atau Mulla Sadra yang berbicara mengenai kesatuan wujud dalam flsafatnya, gagasan ini banyak diusung juga oleh pemikiran dan gerakan-gerakan lingkungan yang digagas oleh para ekolog seperti Naess (1978) dan Capra (1975). Dalam wacana spiritual dan etika manajemen, hal ini seperti juga yang diwacanakan oleh Imre Lazar dalam kajiannya Spirituality and Human Ecosystem (Zsolnai 2005). Dewasa ini, pandangan ini dinilai sebagai klaim pemikiran ketimuran – sebagai antitesis Barat.

3 William C. Chittick adalah seorang Profesor pengkaji dan penafsir flsafat dan mistisisme

Islam, seorang murid dari Seyyed Hossein Nasr. Beberapa tulisannya merupakan hasil kolaborasi pemikiran dengan Seyyed Hossein Nasr, Sachiko Murata (penulis The Tao of Islam) dan juga Tu Weiming (Wikipedia 2015).

4 Hal ini bisa kita lihat juga dari tradisi-tradisi kuno seperti Zoroaster Persia sampai

keyakinan-keyakinan primordial masyarakat Timur, seperti Taoisme dan Confusian sampai Kapitayan Jawa, yang membawa misi pesan ke-Esa-an Tuhan.

5 Pada dasarnya Al-Farabi sendiri tidak pernah memakai pengistilahan ini – wahdah al-wujud,

(6)

oleh Mulla Sadra6 - merupakan dasar fundamen pemikiran Chittick atas visi antropokosmik yang diadopsinya.

Mengapa pendekatan visi antropokosmik dilakukan dalam penulisan ini? Pendekatan ini secara terminologis (diharapkan) bisa menjadi jembatan epistemologis bagi peletakan prinsip-prinsip flsafat Sadra seperti yang akan dijelaskan berikut. Pendekatan ini dilihat sebagai upaya yang lebih konkret untuk bisa dijadikan sebagai landasan epistemik dalam mendekati bidang kajian akuntansi yang lebih bersifat praktis7. Poin inilah yang diharapkan dapat menjadi alternatif dalam menjawab celah ontologis epistemologis yang berkembang pada wacana akuntansi syariah sekarang ini – epistemologi sinergi oposisi biner (lihat pula Alfa 2015).

Prinsip flsafat hikmah Sadra yang dijadikan fundamen dalam menderivasi visi antropokosmik dalam gagasan tulisan ini adalah: prinsipalitas wujud (ashalat al-wujud), tasykik al-wujud (gradasi wujud), gerak transubstansial, dan hubungan subyek – obyek pengetahuan. Berikut ini akan kita jabarkan bagaimana prinsip-prinsip flsafat Sadra diderivasi menjadi basis epistemologi visi antropokosmik. Pembahasan tentang prinsip-prinsip ini tidak lepas dari pandangan wahdatul wujud. Kuswanjono (2010) menjelaskan bahwa terdapat empat tipologi hubungan antara wujud dan maujud, yaitu antara lain: 1) ketunggalan wujud dan maujud; 2) kejamakan wujud dan maujud; 3) ketunggalan wujud dan kejamakan maujud; 4) kejamakan wujud dan ketunggalan maujud. Berdasarkan kajian Kuswanjono (2010) dalam tipologi ini, flsafat Sadra masuk dalam kategori pertama dan ketiga. Kategori pertama merupakan tipologi yang banyak diyakini oleh para penganut sufstik, yang melihat pada dasarnya antara wujud dan maujud merupakan satu kesatuan. Kategori ketiga menggambarkan bahwa wujud adalah satu (univok) dan sekaligus ekuivok (Al Walid 2012), dalam penjelasan Kuswanjono (2010), dari Sang Satu ini berkembang menjadi beraneka maujud, atau seperti dijelaskan pula oleh Murata (1999) dari Sang Satu menjadi dualitas, tiga realitas, atau kemudian bahkan plural wujud. Berkaitan dengan hal ini Murata (1999:28) menjelaskannya sebagai berikut:

“Jika ada dualitas dalam kosmos, maka hal ini pasti terkait dengan Zat Yang Satu, yang di luar segala dualitas. “Sebelum” alam semesta ada, tidak ada sesuatu pun kecuali Pencipta. Eksistensi alam semesta ini bergantung pada Realitas Tunggal”.

Penjelasan mengenai kesatuan wujud bisa kita lihat dari penjelasan Murata (1999) yang menjabarkan tentang tanda-tanda Allah melalui penciptaan kosmos (alam semesta). Al-Qur’an berulang kali menyebukan bahwa segala sesuatu adalah “tanda-tanda” (ayat) Allah, dalam artian bahwa segala sesuatu mengabarkan hakikat dan realitas Allah (Murata 1999:32). Dalam Qur’an Surat Al-Hijr ayat 21 menyebutkan sebagai berikut:

6 Kuswanjono (2010) menjelaskan bahwa konsep flsafat wujud Mulla Sadra terdiri atas tiga

prinsip, yaitu wahdah al-wujud (kesatuan wujud), tasykik al-wujud, dan asalah al-wujud. Pandangan wahdah al-wujud ini diadopsi Mulla Sadra dari konsep mistisisme yang dikembangkan Al-Farabi (Kuswanjono 2010:93).

7 Pandangan visi antropokosmik dalam penelitian ini, menempatkan penelitian ini dalam

(7)

“Artinya: Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya8; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu”. (QS. 15:21)

Sabda Rasulullah SAW mengenai penciptaan semesta dikatakan bahwa, ”Allah berfrman: “Aku adalah khazanah tersembunyi dan Aku ingin diketahui. Karena itu aku menciptakan makhluk agar Aku diketahui”.” Melalui penciptaan alam semesta inilah Allah diketahui, sehingga keseluruhan ciptaan mengungkapkan Khazanah Tersembunyi itu. Hubungan Allah dengan ciptaan-Nya adalah manifetasi (zhuhur) dan pengungkapan diri (tajalli) (lihat juga Triyuwono 2012).

Berdasarkan kajian tentang kesatuan wujud tersebut, secara sederhana kita bisa memahami prinsip ashalat al-wujud yang digagas oleh Mulla Sadra dalam prinsip-prinsip flsafatnya (metafsika). Melalui perwujudan alam semesta, kita bisa mengungkap khasanah-khasanah tersembunyi serta mencari pemaknaan-pemaknaan (mahiyah/esensi). Pengungkapan (kemahiyahan) terjadi didahului oleh perwujudannya (dari ada menuju apa). Seperti dijelaskan sebelumnya, prinsip ini menekankan bahwa yang lebih utama (real) adalah wujud (eksistensi) bukan mahiyah (ke-apa-an), mahiyah hanya bisa didapat setelah adanya perwujudan. Jadi dalam prinsip ini, wujud merupakan hal yang lebih fundamen (Suwanjono 2010; Al Walid 2012; Nur 2012)9.

Tidak ada tuhan selain Allah, sehingga segala proses penciptaan ini hanya semata dari-Nya, berasal dari Dzat-Nya serta menggambarkan sifat-sifat dan nama-nama-Nya (refeksi/manifestasi). Semesta ini merupakan manifestasi-Nya sehingga bukan diri-Nya. Segala sesuatu berasal dari-Nya, sehingga selain diri-Nya adalah ciptaan yang membutuhkan dan tergantung kepada selain dirinya, yang dibatasi oleh sifat-sifat yang ada pada dirinya. Sedangkan Wujud Murni adalah wujud yang tidak bergantung kepada selain diri-Nya dan tidak terbatasi (dideterminasi) oleh apa pun. Keberadaan Wujud Murni mendahului segala sesuatu, yang ada pada Diri-Nya sendiri, tanpa perubahan, dan pergerakan. Dia adalah yang pertama, yang menjadi penyebab dan sumber dari segala sesuatu, tapi tidak berarti akan ada yang kedua setelah-Nya atau sebaliknya, karena kesatuan Tuhan bukanlah bersifat bilangan karena bilangan adalah karakteristik alam semesta (Suwanjono 2010).

Mengenai prinsip tasykik al-wujud ini, Al-Walid (2012) dalam kajiannya, mengemukakan tentang gradasi wujud, dalam istilah Mulla Sadra disebutkan tentang “pluralitas dalam ketunggalan dan ketunggalan dalam pluralitas”. Mulla Sadra menggambarkannya seperti perumpamaan cahaya, di mana pendaran cahaya-cahaya yang menampilkan beraneka warna itu adalah berasal dari satu cahaya, namun pendaran-pendaran itu bukanlah cahaya itu sendiri. Tiada perbedaan di antara semua cahaya-cahaya itu, kecuali pada kekuatan dan kelemahan intensitasnya (Al-Walid 2012:38). Berdasarkan pendekatan ini, Mulla Sadra ingin menyatakan bahwa wujud merupakan Wujud Tuhan, seperti cahaya memancarkan warna-warna, demikian pula Wujud Mutlaq

8 Maksudnya segala sesuatu itu sumbernya dari Allah SWT.

9 Suwanjono (2010:92-93) menjelaskan bahwa wujud dapat dijelaskan ke dalam dua

(8)

yang memancarkan kuiditas-kuiditas yang bersifat imkan10, yang tidak lain merupakan

ragam bentuk makhluk (Suwanjono 2010 dan Al Walid 2012).

Penempatan prinsip-prinsip flsafat Sadra tersebut di atas menekankan pada kesatuan wujud yang hadir pada segala sesuatu yang disebut maujud. Peletakan fundamental inilah, yang dinilai sebagai pijakan yang cukup bagi visi antropokosmik. Yang pada dasarnya merupakan pandangan yang melihat kosmos sebagai satu kesatuan yang tunggal organis – antropo berarti manusia, kosmik berarti alam – sebuah kesatuan antara alam-manusia, sebagai manifestasi Tuhan (pencipta Yang Satu). Dalam sejarah penciptaan semesta, bahwa tidak akan ada mikrokosmos (manusia) tanpa makrokosmos (alam). Penciptaan makrokosmos mendahului mikrokosmos, di mana makrokosmos diciptakan dalam eksistensi secara tepat untuk memungkinkan kemunculan keberadaan manusia. Tanpa keberadaan manusia, maka tidak ada alasan alam semesta untuk mewujud sejak semula, demikian sebaliknya (Chittick 2010).

Merujuk pada prinsip flsafat Sadra tentang kesatuan subyek-obyek pengetahuan, kita akan melihat kesesuaiannya dengan cara pandang visi antropokosmik Weiming. Dalam kajian kosmologinya, mengenai jiwa dan alam yang mengelaborasi hubungan keduanya secara mendalam, dan dimengerti dalam hubungan subyek – obyek. Chittick (2010) menjelaskan bahwa:

“Jiwa manusia adalah suatu subyek yang sadar yang bisa mengambil seluruh yang ada di alam raya sebagai obyeknya, sehingga mempunyai cara untuk merangkai jiwa dan kosmos, yang dalam kata-kata Weiming adalah hubungan antara keduanya adalah organismik”. (Chittick 2010:167)

Subyek yang melakukan proses persepsi terhadap wujud obyek - sebagai yang dipersepsi, sehingga terjadi hubungan eksistensial yang sederhana, di mana korelasi keduanya mewujudkan pengetahuan. Hal ini menurut Sadra, bahwa (subyek) jiwa yang mempersepsi suatu obyek akan menjadi bagian bentuk inteleknya (wujud mental). Bagi Sadra, sesungguhnya sudah menjadi karakter jiwa manusia untuk mempersepsi seluruh hakikat yang ada dan bersatu dengannya. Wujud mental yang terbentuk bukanlah sesuatu yang terpisah dari mental subyek, karena wujud adalah sesuatu yang satu (Al Walid 2012:53-54).

Dalam pahaman inilah maka ide Chittick (2010) berkaitan dengan hal ini adalah bagaimana manusia menjaga harmonisasinya dengan alam. Maka di sinilah nilai penting pemikiran epistemologis ini dalam membangun pengetahuan keakuntansian, sebagai penawar racun antroposentrisme (basis fundamen pengembangan akuntansi mainstream) (Mulawarman 2009). Visi intelektual yang ingin dikembangkan dalam basis visi antropokosmik ini adalah menyusun implikasi-implikasi tauhid secara teoretis dan praktis. Visi teoretisnya adalah membangun jalan untuk kembali pada Sang Pencipta dengan belajar menjadi manusia yang sesungguhnya dan kembali pada ftrahnya (menyempurna). Sedangkan visi praktisnya adalah tentang bagaimana membangun harmonisasi manusia dengan langit dan bumi.

Hal ini jika dipandang dalam tatanan kosmologisnya adalah seperti yang dijelaskan oleh Murata (1999), bahwa kosmos merupakan ungkapan Realitas Allah yang digambarkan dalam sifat-sifat yang saling bertentangan dan bertolak belakang. Kekhasan taoisme menyebutkannya dalam yin dan yang, seperti langit – bumi, makrokosmos–mikrokosmos, baik-buruk, siang-malam, spirit-materi, murka-rahmat dan sebagainya, yang semuanya

10 Imkan bisa diartikan sebagai eksistensinya secara esensial “mungkin meniscaya”, yang

(9)

ditunjukkan dalam seluruh eksistensi. Dari dualitas itu, yang kita tahu bahwa semuanya adalah bersumber dari Yang Satu adalah satu. Hal ini menyebabkan keduanya tidak saling bertentangan satu sama lainnya karena semuanya bersumber dari sumber yang satu, dan tidak terpisah-pisah. Murata (1999) menjelaskan hal ini sebagai sesuatu yang polar dan saling berhubungan, komplemen, dan bersifat mutualisme11. Dualitas dan pertentangan-pertentangan ini harus dipahami sebagai interaksi konstan dari perwujudan nama-nama-Nya melalui perubahan (harakah) dan transmutasi (isthala).

Dalam tradisi hikmah, bahasan mengenai harakah merupakan bagian dari dialektika pemikiran Sadra, yang masuk dalam kajian-kajian metafsika (Al Walid 2012). Sama halnya dengan Weiming, para pencari hikmah memiliki tujuan tertingginya yaitu mentransformasikan jiwa-jiwa mereka. Seperti yang dikatakan oleh Chittick (2010), dalam visi antropokosmik Confusian Weiming, mengatakan bahwa tindakan trasformatif disandangkan pada visi transenden yang menegaskan bahwa secara ontologis, diri manusia tidak berhingga dan lebih bernilai dari pada diri yang aktual ini. Sadra (2004) menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah kembali dipersatukan dengan Yang Ilahi, melalui re-emanasi yang bertingkat-tingkat (lihat pula Kuswanjono 2010). Menyatu dengan semesta pada esensinya adalah bentuk keberserahan akan kemenyatuan (primordial) diri dan alam dari proses emanasi Tuhan. Chittick (2005) meringkasnya sebagai berikut:

“Bahwa tauhid mendeklarasikan kesalinghubungan antar segala sesuatu, karena segala sesuatu berasal dari Prinsip Pertama, yang disambungkan secara konstan dan dipelihara oleh Prinsip Pertama, dan segala sesuatu akan kembali kepada Prinsip Pertama” (Chittick 2005).

Dualitas bahkan plural wujud yang berbeda-beda dan saling bertentangan itu merupakan bagian dari syarat gerak (harakah). Tanpa perbedaan ini maka tak akan ada gerak. Sadra (2005) melihat bahwa alam semesta ini dimulakan dengan ketiadaan dalam waktu, yang kemudian dibatasi oleh keberadaan ruang waktu. Dengan melihat kembali apa yang dianalogikan Murata (1999), bahwa alam dengan guratan dualitas, tiga realitas, dan plural, sehingga membuatnya dalam batasan (terbatas), dalam ruang waktunya12 dan yang menjadi syarat terjadinya gerak. Karena itu dalam prinsip gerak transubstansial Mulla Sadra dikatakan bahwa tidak ada satu hal pun di alam ini yang diam. Murata (1999)

11 Penjelasan menarik yang disampaikan oleh Murata (1999) adalah analoginya tentang tinta

(pena/jiwa), lembaran (kosmos), dan Tuhan. Jiwa merupakan perantaraan Tuhan dan kosmos (alam), dan karenanya jiwa menghadap dalam dua sisi, Tuhan dan alam. Lembaran (kosmos) menyebabkan terjadinya dualitas itu, yaitu lembaran (kosmos)-yang padanya guratan diciptakan (reseptif/feminin) – memanifestasikan perbedaan dan guratan tinta itu sendiri (memberi/aktif/maskulin) – memanifestasikan kontrol yang bersifat mengatur, karenanya dualitas hanya terjadi pada alam. Jiwa yang menghadap pada Allah sesungguhnya hanya memiliki satu substansi, cinta (menerima). Sehingga pola hubungannya bersifat polar, karena dualitas yang terjadi tidak berdiri secara sendiri-sendiri (independen/terfragmentasi), karena bersumber dari Sang Satu. Dalam tatanan ini, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa pola hubungannya sinergis (mensyaratkan kemandirian dalam pertentangannya), karena pada pola berpikir ini, berarti kita hanya akan berdiri pada dualitas itu sendiri, dan dualitas yang kita temui di alam pada dasarnya adalah semu, bukan yang sejati. Murata (1999) juga menyebutkan bahwa pendekaan dualistik banyak dijumpai dalam ajaran-ajaran sosial, dan pendekatan polar banyak dijumpai dalam ajaran-ajaran spiritual. Namun dalam tulisan ini, mencoba untuk memformulasi tatanan polar dalam visi teoretis dan praktis sekaligus, di mana akuntansi (pasti - harus ditempatkan) merupakan bagian dari implikasi-implikasi tauhid.

12 Hanya Tuhanlah yang Maha Tak Terbatas, Primer dan tak membutuhkan yang lain, sebuah

(10)

menggambarkan bahwa eksistensi segala sesuatu bagaikan seekor kuda yang berlari cepat. Melalui setiap gerakan, ia mengalami perubahan dan transformasi. Gerak ini menandakan ada yang dituju (menuju pada sesuatu), yaitu tempat dari mana setiap yang ada ini berasal. Menuju pada sesuatu yang diam (Wujud) dengan tingkatan eksistensi yang lebih sederhana, menuju pada Yang Kekal. Di sinilah transformasi jiwa itu terjadi, berdasarkan pada tingkatan-tingkatan dan kualitasnya masing-masing. Melalui interaksi konstan antara dirinya dan semestalah yang akan membawa jalan manusia pada kesempurnaan transformasi jiwanya.

Melalui penjelasan prinsip-prinsip yang diusung dalam flsafat hikmah Sadra, maka mencukupkan bagi kita untuk menggunakan pendekatan terminologis visi antropokosmik – dalam membangun pijakan epistemologis (dasar) akuntansi. Konsep kesatuan wujud (ashalat al-wujud dan tasykik al-wujud) memberikan kejelasan atas kesatuan kosmos dan manusia sebagai citra (manifestasi) Sang Satu. Melalui penjelasan ini, maka tugas kosmologis manusia adalah menjaga harmonisasi dirinya dengan semesta yang secara cermat dijelaskan oleh Sadra dalam prinsip hubungan subyek – obyek pengetahuan. Kedua point ini tentunya menyelesaikan permasalahan yang ada pada pandangan akuntansi modern, yang telah menciptakan dunia alienasi-alienasi obyek, sehingga ilmu pengetahuan lebih berfungsi sebagai alat untuk menguasai dan menjajah alam – sebuah jalan yang menjauhkan diri manusia pada kesempurnaan Illahiyah.

Prinsip gerak (harakah) Sadra menjelaskan bagaimana pola hubungan dualitas dan plural wujud dengan konsep kesatuan (tauhid). Hal ini menyelesaikan kegelisahan epistemologis dalam pengembangan akuntansi syariah sekarang ini, dari sinergi menuju polar, komplementer, dan mutual. Selain itu konsep gerak transubstansial Sadra memberikan ilustrasi yang jelas bagaimana setiap hal berjalan pada tujuan yang pasti pada asalnya yang immaterial. Maka transformasi jiwa yang menuju pada kesempurnaan (Illah) adalah hal yang ingin dituju dalam jalan visi antropokosmik. Apa yang harus kita cari sekarang ini (dalam tulisan ini) adalah menemukan prinsip-prinsip teoretis, sebagai transisi teoretis13 dengan basis epistemologi visi antropokosmik.

Hasil Penelitian: Prinsip-prinsip Teoretis Akuntansi

Berikut ini akan dijabarkan apa dan bagaimana prinsip-prinsip yang akan membentuk preposisi teori berdasarkan epistemologi visi antropokosmik. Terdapat beberapa hal yang diajukan dalam konstruksi ini, antara lain: prinsip kesalinghubungan, orientasi proses, metafsika, perrenial wisdom, multi disiplin dan sistem moral etik.

Kesalinghubungan dalam akuntansi secara sederhana dan esensial dapat kita lihat dari gambaran hubungan keagenan (agency theory). Konsep kesalinghubungan ini hanya terbatas pada hubungan reduktif principal (pemilik modal/kapital) dan agent (pemegang fungsi manajerial dalam pengelolaan modal). Hubungan yang terbatas – hanya antar manusia, bahkan person to person, yang memiliki sifat individual (self interest). Pola hubungan yang memuat fungsi akuntabilitas (pertanggungjawaban) kontraktual agent kepada principal (investor). Agency theory melahirkan beberapa pengembangan konsep teoretis, di antaranya Entity Theory (ET), Stewardship Theory, dan Enterprise Theory. Dari teori-teori ini, akuntansi syariah memandang bahwa Enterprise Theory dinilai sebagai teori yang lebih dekat dengan konsep Islam (Harahap 1997; Triyuwono 2012). Di mana kemudian dalam perkembangannya diekstensi menjadi SET dengan menginfltrasikan nilai ketauhidan (Triyuwono 2006). Pengembangan ini menggambarkan pola hubungan (akuntabilitas) stakeholder tiga aras, yaitu sosial, lingkungan, dan Tuhan sebagai stakeholder tertinggi.

13 Transisi teoretis dari Syariah Enterprise Theory (SET), yaitu sebagai sebuah teori akuntansi

(11)

Jika dilihat perkembangannya, pada dasarnya telah terjadi evolusi konsep, dari pola hubungan individual kepada pola hubungan yang lebih kompleks. Hal ini jelas bermuara pada, bahwa secara mendasar aktiftas ekonomi (bisnis) yang mengitari akuntansi, jelas merupakan aktiftas yang tidak hanya melibatkan entitas-entitas tertentu, dalam hal ini principalagent. Aktiftasnya juga melibatkan multi entitas, yaitu: sosial, lingkungan, dan Tuhan sebagai pengada (pencipta). Jika kita cermati terdapat pengerucutan pandangan, di mana hal ini secara logis menunjukkan bahwa pada dasarnya setiap hal yang ada pada tatanan kosmos (dunia) merupakan satu jalinan yang tidak dapat dipecah-pecah satu sama lainnya, seperti dijelaskan pula dalam Qur’an Surat Al-An’aam ayat 38. Setiap hal merupakan satu kesatuan entitas yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. Kesadaran inilah yang sedang terbangun, yang secara lebih mendalam adalah kesadaran akan keberadaan kosmos dan manusia di dalamnya adalah satu kesatuan organis, yang berasal dari Sang Satu (Allah SWT)14.

“Artinya: Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan”. (QS. 6:38)

Keberadaan AT yang jelas mereduksi keberadaan sesungguhnya realitas kosmos pasti akan merusak tatanannya yang terdalam. Di sini kita tidak perlu membahas lagi bagaimana reduksi ini terjadi. Namun yang jelas cara pandang yang memiliki basis dasar single vision ala newton ini ikut memengaruhi pengembangan teori-teori yang pada dasarnya memiliki visi akomodatif pada kompleksitas realitas. Seperti halnya pengembangan SET, tentang multi akuntabilitas (yang tidak hanya berpola principal-agent). Penempatan many stakeholders (Tuhan, alam, dan sosial) masih menunjukkan pola hubungan yang ekstrinsik atau permukaan.

Jika kembali pada konsistensi ontologisnya (tauhid), kita bisa merenungkan dua hal, yaitu: tentang penciptaan (kesatuan wujud) dan hari kebangkitan (maad). Tentang kesatuan wujud (seperti penjelasan di atas), bahwa terdapat pola kesalinghubungan yang intrinsik (interdependen). Sedangkan penempatan many stakeholders, menunjukkan pemisahan-pemisahan yang bukan berpola kesatuan dalam kesalinghubungannya. Tuhan adalah pencipta, di mana kosmos (alam dan manusia) merupakan ciptaan-Nya (manifestasi), penciptaan salah satunya merupakan alasan bagi penciptaan lainnya. Maka setiap perbuatan (manusia) juga memiliki implikasi (akibat) yang intrinsik kepada alam dan tentunya berpola hubungan ketuhanan.

Penciptaan berpegang pada ketauhidan dan memiliki visi ke-akhirat-an dan kebangkitan kembali (maad) (hanya menuju Tuhan). Maka konsekuensi logisnya adalah pada dasarnya manusia hanyalah memiliki satu simpul pertanggungjawaban yaitu hanya kepada Tuhan semata. Karena Allah adalah alasan dari setiap perbuatan manusia dan akan dipertanggungjawabkan hanya kepada-Nya, maka pengejawatahannya (manifestasi) adalah kearifan perilaku atas apa yang kita perbuat di dunia. Jadi setiap apa yang kita lakukan hanyalah merupakan manifestasi akuntabilitas kita kepada Tuhan. Sehingga pola

14 Ketika kita berasal dari Sang Satu, Zat yang Satu, maka pastilah keberadaan kosmos adalah

(12)

kesalinghubungannya lebih bersifat intrinsik (dalam). Kita dapat melihat ilustrasi perbedaan antar teori dalam Tabel 1.

Tabel 1. Pola Hubungan dalam Teori Akuntansi

Teori Pola Hubungan Sifat

ET Principal-Agent Individual

SET Stakeholders Sinergis

Tuhan-Alam-Sosial Ekstrinsik Visi Antropokosmik Pencipta-ciptaan Gradasi

Tuhan-jiwa-alam Intrinsik

Prinsip kesalinghubungan ini pada dasarnya berpegang pada tali ontologis Tauhid. Merujuk pada prinsip Sadra ashalat al-wujud dan tasykik al-wujud, semesta ini merupakan manifestasi Tuhan dalam gradasi-gradasi wujud. Sehingga keberadaannya pada dasarnya satu dan hakikat keberagamannya adalah satu, maka partikular-partikularnya pada dasarnya merupakan satu kesatuan organis. Berkaitan dengan keberadaan ini, akuntansi sebagai teknologi yang memproduksi informasi harus merefeksikan keberadaan ini. Sehingga informasi akuntansi dapat disajikan secara apa adanya dan sekaligus apa yang seharusnya. Sebuah informasi yang mencerminkan keberadaan ini, maka akan dapat menghilangkan reduksi15 akan kesalinghubungan dalam setiap aktiftas dalam kosmos. Di mana visi utamanya dan yang intrinsik adalah untuk mendukung keseimbangan alam dan keadilan sosial, sebagaimana peciptaan semesta ini ditegakkan dalam keseimbangan dan keadilan.

Implikasi (aksiologis) yang mungkin nampak adalah pengejawantahannya pada pembentukan akun-akun dalam akuntansi. Akun-akun yang terbentuk tentunya harus mencerminkan kesalinghubungan ini. Hal ini tentunya juga akan memengaruhi bentuk akuntansi yang terbangun, tidak lagi berupa kuantifkasi (dari atas ke bawah) yang merujuk pada hasil tertentu (orientasi hasil). Sehingga berdasarkan pada prinsip ini, maka bentuk akuntansi dan pembentukan akun-akunnya bersifat atau memiliki keunikannya masing-masing pada setiap implementasi yang berbeda. Karena bagaimana pun setiap partikular-partikular memiliki karakter dan keunikannya masing-masing atas setiap formasi kesalinghubungannya. Keunikan dan karakter yang beragam ini, misalnya dipengaruhi oleh kondisi geografs tertentu, perbedaan kontur alam, kondisi demograf dan cara (budaya) sosial masyarakat yang berbeda (antropologis dan sosiologis), dan lain-lainnya. Hal ini bisa digambarkan misalnya, sektor pertanian masyarakat Jawa dengan Sunda atau Sulawesi pasti memiliki keunikannya masing-masing. Pada sistem tertentu menetapkan pola hubungan bagi hasil, namun pada sistem yang lain memiliki ciri pertanian komunal, di mana hasil pertanian ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sosial (bersama) dan dikelola secara bersama-sama.

Berdasarkan penjelasan dari rumusan di atas, prinsip ini akan menjawab beberapa keraguan yang ada dalam pengembangan konsep teoretis saat ini. Prinsip kesalinghubungan ini akan mereduksi dan menghilangkan pengaruh cara pandang single vision ala newton pada kompleksitas cara pandang SET. Cara pandang yang biasa dengan pengotakan-pengotakan dan struktur sekat building block-nya. Di mana SET semestinya memiliki cara dan bahasa yang berbeda dalam menggambarkan dan menjelaskan kompleksitas hubungan yang sesungguhnya memiliki pola kesalinghubungan yang intrinsik, yang jelas nampak pada keberadaan ontologisnya, tauhid. Kedua, prinsip ini

15 Reduksi secara awal terjadi ketika ilmu pengetahuan dipisahkan dari Tuhan sehingga

menjauhkan dirinya dari realitas yang sebenarnya. Dengan melepaskan Tuhan, maka akan melepaskan segala macam bentuk pertalian yang ada pada kosmos. Maka di sinilah awal reifikasi

(13)

bertujuan untuk membentuk informasi yang apa adanya dan apa yang seharusnya, yaitu dengan memotret realitas yang pada dasarnya memiliki kesalinghubungan. Konsekuensinya adalah keberagaman bentuk informasi akuntansi. Visi utama dari prinsip ini adalah dalam usaha untuk mendukung keseimbangan alam dan keadilan sosial.

Orientasi Proses, dalam prinsip ini, kita perlu membuat penekanan atas perbedaan orientasi proses dan hasil (stock concept dalam konsep akuntansi mainstream). Berdasarkan penekanan ini, kita akan mengurai perbedaan dan gambarannya tentang bagaimana kedua konsep ini. Sebagaimana kita ketahui orientasi sistem akuntansi adalah pada “hasil” dengan menggunakan logika capital accumulation (Chwastiak 2003) atau stock concept (Rahmanti et al. 2013). Hal ini bisa kita lihat dalam gambaran laporan keuangan (akuntansi) berupa perubahan ekuitas dan neraca keuangan perusahaan. Laporan ini memberikan informasi tentang bagaimana kinerja manajemen dalam mengembangkan kapital pemilik modal sebagai bentuk akuntabilitasnya (Chen et al. 2012). Dari laporan neraca dan perubahan ekuitas ini, pemegang saham akan melihat progresiftas perubahan permodalan yang tertanam dalam perusahaan yang dikelola oleh manajemen.

Progresiftas atas laba akuntansi yang terkonsepsi pada matching concept (Mulawarman 2011) merupakan bentuk inheren akuntansi dalam membentuk income. Penandingan pendapatan - beban yang berakhir pada ambisi proft “laba” perusahaan pada laporan laba rugi, jelas merupakan konsep penting yang mendukung pada muara konsep “stock”. Konsep penandingan itu adalah menekan biaya serendah-rendahnya dan mendorong proft yang setinggi-tingginya. So, greed is good, adalah idiom para akuntan yang harus diusung tanpa rasa malu. Logika pertumbuhan tanpa batas dalam akuntansi jelas menciptakan kesenjangan dan ketidakseimbangan serta ketidakadilan seperti yang telah dibahas oleh Chwastiak dan Young (2003) dalam tulisannya.

Ravn-Jonsen (2009) dalam temuan penelitiannya melihat bahwa aplikasi Capital Theory yang diperkenalkan oleh Clark dan Munro (1975), pada model produksi ekosistem kelautan membawa pada konsekuensi interaksi pemangsa – mangsa (predator – prey interaction) dan pertumbuhan somatic predator sebagai hasil dari interaksi. Temuan-temuan ini secara jelas menunjukkan bahwa logika stock concept membawa pada eksploitasi dan pemangsaan yang berkuasa (kuat) atas yang lemah (secara kapital) yang akan membawa pada kesenjangan dan ketidakadilan. Berkaitan dengan hal ini pula, tentang capital accumulation yang didiskusikan dalam laporan tahunan, Chwastiak dan Young (2003) menyatakan bahwa maksimasi proft membawa pada isu dehumanisasi pekerja, dampak negatif atas eksploitasi bumi, neraka peperangan, pemiskinan manusia dan sosial yang tumbuh dari daya konsumerisme yang tinggi.

Pada sisi lain, dalam perkembangan dan praktik akuntansi sosial dan lingkungan (seperti Global Reporting Initiative) masih memakai dasar pemikiran triple bottom line Elkington (1997), 3P (People, Planet, Profit). Konsep 3P masih berkutat pada isu “growth” (pertumbuhan) “ekonomi”. Logika pertumbuhan ekonomi jelas mereduksi konsep keberlanjutan kehidupan yang divisikan. Konsep pertumbuhan menuntut terbentuknya konsepsi stock dalam pertumbuhan ekonomi (kapital), maka kedua unsur people dan planet akan sangat riskan hanya akan jatuh pada dilema legitimasi politik perusahaan, double standard (Chariri 2008). Hal ini juga tampak nyata bahwa laporan keuangan merupakan bentuk pelaporan mandatory dan laporan lingkungan dan sosial yang bersifat suplemen (voluntary)16. Orientasinya masih berpusat pada pembentukan stock dan rentan

16 Pada saat ini juga sedang digodog Integrated Reporting (IR) yang digagas oleh International

(14)

dalam hegemoni kepentingan capital (stock) pula. Meskipun telah muncul pula metamorfosis konsep Quadrangle Bottom Line yang digagas oleh Sukoharsono (2010), namun konsep ini masih belum memberikan bentuk dan posisioning yang jelas. Aspek spiritual yang digagas seharusnya secara mendasar mampu mereduksi tujuan dasar akuntansi yang bersifat capital acummulation, karena visi spiritualitas dan keTuhanan pasti membentuk perbedaan orientasi dan tujuan.

Lantas bagaimana dengan perkembangan akuntansi syariah sekarang ini? Perkembangannya pada era sekarang, pada dasarnya banyak dipengaruhi oleh keberadaan akuntansi mainstream (konvensional). Hal ini secara psikologis memang dipengaruhi oleh kebutuhan akan keberadaan perbankan yang akhirnya memunculkan perkembangan perbankan syariah dan akhirnya akuntansi (Zaid 2004). Berangkat dari sistem (besar) perbankan inilah yang kemudian memunculkan adopsi dan rekayasa transaksi yang pada akhirnya memengaruhi bentuk akuntansi syariah.

Secara spesifk zakat merupakan isu sentrum yang dijadikan dasar dalam pengembangan akuntansi syariah (Zaid 2004; Napier 2009; As’udi dan Triyuwono 2001; Triyuwono 2000 dan 2012; Mulawarman 2007 dan 2011) terutama berkaitan dengan masalah distribusi kekayaan (kesejahteraan) – sebagai bentuk counter akumulasi kekayaan pada satu kuasa, altruisme itu. Pergerakannya dalam akuntansi syariah bisa kita lihat juga dari bergantinya konsep laba rugi menjadi konsep nilai tambah yang diusung oleh Boydan dan Willet (1994; 2000), yang kemudian diadopsi dan diekstensi menjadi nilai tambah syariah oleh Mulawarman (2007). Lebih lanjut Mulawarman (2009; 2011) mengembangkan teknologi Trilogi Akuntansi Syariah berbasis Ma’isyah-Rizk-Maal, menggantikan trilogi akuntansi keuangan yang lama, Neraca - Arus Kas - Laba Rugi, dengan substansi nilai intrinsik yang berbeda. Demikian pula konstruksi pelaporan keuangan (akuntansi) yang dibangun oleh Triyuwono (2013), dengan pendekatan neuro linguistik-nya17.

Pendekatan zakat bisa kita lihat secara ilustratif dari apa yang dikaji oleh As’udi dan Triyuwono (2001), yaitu formulasi konsep laba dalam metafora zakat. Berdasarkan kajiannya yaitu bagaimana pendekatan-pendekatan penghitungan laba (income) dikonsepsi dalam pandangan yang islami dengan pemetaforaan zakat18. Pada dasarnya Mulawarman (2009; 2011) telah banyak melakukan terobosan-terobosan melalui konsep tazkiyahnya, mentransformasi zakat ke dalam (sebagai) zakka, dan konsepsi halal-haram (halal zaty, zamany, hukmy, dan makany), thoyib, dan bebas riba. Menurut Mulawarman (2009), konsep zakat yang banyak digagas dalam pengembangan akuntansi syariah, salah satunya seperti yang digagas oleh As’udi dan Triyuwono (2001) atau Baydoun dan Willett (1994; 2000) bahwa zakat masih ditempatkan hanya sebagai elemen distribusional. Mulawarman (2009) menyatakan bahwa zakat seharusnya memiliki tiga fungsi utama, yaitu menjadi pusat, dasar penyucian (tazkiyah) pembentukan nilai tambah, sekaligus

kerangka keadilan dan keseimbangan di mana dalam aktiftasnya (ekonomi) melibatkan multi entitas yang harus dihargai pula setiap keberadaannya, dan bukan hanya berfokus pada masalah kapital. Perubahan tidak bisa terjadi tanpa mengubah cara pandang secara mendasar. Di sini bisa dilihat bahwa IR bisa jadi merupakan bentuk (evolutif) antroposentrisme baru dalam akuntansi, melalui pergerakan dan progresiftas pasar global.

17 Neuro linguistik merupakan gagasan bahwa laporan keuangan (akuntansi) merupakan doa,

yang diharapkan dapat memengaruhi perilaku pengguna dan pelaku akuntansi. Hal ini berangkat dari dasar pandangan sosiologis akuntansi bahwa akuntansi bersifat socially constructing dan

socially constructed.

18 Pendekatan alternatif-alternatif dalam penghitungan laba untuk tujuan mereduksi riba dari

(15)

menjadi bagian yang didistribusikan, sehingga laporan nilai tambah harus memenuhi kriteria halal, thoyib, dan bebas riba.

Ketika zakat dimaknai hanya sebagai elemen distribusional, maka konsekuensi logisnya adalah bahwa akuntansi (kembali) berfokus pada pembentukan income, sehingga ia lebih berorientasi pada “hasil”. Maka bentuk akuntansinya seperti yang kita lihat, yaitu penghitungan dengan model kuantifkasi yang tertuju pada hasil (income) “keuangan”. Perbedaannya dengan akuntansi mainstream adalah pada masalah distribusi kekayaannya. Dalam konteks ini, bisa dikatakan bahwa income dan akuntansi masih sebagai “the twin”. Apa yang perlu kita kritisi dalam konteks ini? Kita mungkin bisa membuat sebuah analogi sederhana, kapitalisme dalam satu sisi, bertemu dengan antitesis marxisme, namun keduanya masih (sama-sama) berbicara dalam tatanan “materialisme”. Altruisme pada satu sisi dan greedy pada sisi yang lainnya, namun keduanya masih berada dalam pemodelan stock - dengan “distribusi”.

Altruisme dan philantropisme adalah sebuah sikap yang baik, tapi posisi ini masih menempatkan manusia dalam posisi superiotitasnya (perlu dipahami juga dasar asumsi manusianya) dan bahwa inti Islam adalah sabar dan ikhlas. Dalam hal ini berarti sebagai manusia, kita sama sekali tidak dianjurkan untuk mengejar hasil (sesuatu), karena segala sesuatu yang berada dalam kaitan ruang waktu ini adalah sesuatu yang semu, bahkan termasuk amalan-amalan, kecuali ia diamalkan dengan hati yang tunduk. Masalah penyebaran rahmat, tidak hanya mengacu pada masalah distribusi income, terlebih dalam tindakan ekonomi – yang melibatkan banyak aspek (entitas) yang saling berkait baik sosial atau alam, maka konteks penyebaran rahmat (rahmatan lil ‘alamin) dalam hal ini yang paling tepat adalah masalah bagaimana menjaga keseimbangan (alam) dan menegakkan keadilan (kemanusiaan). Dalam rangka menegakkan keduanya, bisa jadi dan sangat mungkin tidak hanya terkait dengan masalah kuantifkasi dan hitung menghitung uang. Penghargaan atas budaya dan tradisi suatu masyarakat tertentu terkadang juga menjadi aspek penting dalam penegakkan keadilan dan keseimbangan19.

Penandaan yang kita buat pada paragraf di atas, menunjukkan bahwa aspek proses (gerak predikasi aktif – diamalkan dengan) adalah satu aspek yang lebih penting dan mendasar dibandingkan dengan aspek hasil. Berdasarkan pandangan Sadra tentang prinsip gerak transubstansial mengatakan bahwa berdasarkan geraklah sebuah identitas terbangun (Kuswanjono 2010; Al Walid 2011). Kita bisa mengambil hikmah dari prinsip ini, bahwa kita tidak bisa mengatakan sesuatu itu akuntabel, jika sistem serta proses yang berjalan itu tidak akuntabel. Kita tidak akan mencapai hasil yang sustainable dari sebuah proses yang tidak sustainable. Maka hanya melalui proses dan gerak aktifah, identitas itu terbangun, sesuatu itu memiliki identitas akuntable dan sustainable atau tidak. Sehingga orientasi hasil dalam akuntansi pada dasarnya menciptakan kesemuan akuntabilitas. Hal ini terbukti dari praktik-paktik manajemen laba, window dressing, creative accounting lainnya, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya konsep yang diusung oleh Mulawarman (2009; 2011) merupakan konsep akuntansi yang telah merujuk dan mengedepankan pada kontektualisasi gerak (predikasi aktif) atau proses. Konsep pokok yang bisa kita lihat dalam konstruksi akuntansi Mulawarman (2011) adalah konsep ma’isyah sebagai dasar pijakan manusia untuk bekerja dengan penuh ketakwaan, dalam rangka memperoleh rejeki (rizk) yang

19 Industrialisasi dan mass product menciptakan mall dengan iklan-iklan yang mendorong

(16)

barokah, untuk memperoleh kekayaan (maal). Konstruksi dasar akuntansi Mulawarman (2011) jelas menunjukkan sebuah proses predikasi aktif – bekerja dengan ketakwaan. Lebih lanjut kita bisa melihat dari bahasannya mengenai zakat – sebagai esensi (isi) dari pelaporan keuangannya.

Zakat selain sebagai aspek distribusi, yang paling utama adalah sebagai pusat dan dasar penyucian pembentukan nilai tambah. Pernyataan ini jelas merujuk pada “laku” sebuah gerak aktif penyucian dalam pembentukan nilai tambah. Dasar konsep ini kemudian diderivasikan pada konsep pengakuan (akun kreatiftas dan ketundukan) dalam trilogi laporan keuangannya. Bangunan pengakuan kreativitas dan ketundukan, pada dasarnya ditujukan pada aspek gerak aktif (proses). Hal ini terlihat dalam syarat-syarat ketetapan halal dan bebas riba dalam pembentukan nilai akunnya. Halal dalam pijakan Mulawarman (2009) adalah halal zaty (bentuknya) dan zamany (waktu pelaksanaan) dari sisi fnansial, maupun halal hukmy (proses mendapatkan dan menggunakannya) dan makany (tempat pelaksanaannya) dari sisi sosial dan lingkungan. Keempat ketetapan halal ini jelas menunjukkan sebuah proses aktif ketundukan pada ketetapan. Bebas riba yaitu dalam artian melakukan reduksi atas riba dalam aktivitas ekonomi menjadi ba’i (jual beli) dan reduksi riba atas aktiftas sosial maupun lingkungan dalam bentuk shodaqoh.

Sayangnya, konsepsi ini tidak menjadi kajian yang cukup utuh ketika konstruksi pelaporan keuangan (akuntansi) yang dibentuk oleh Mulawarman (2011) masih terpatron pada bentuk pelaporan yang lama. Hal ini bisa dilihat dari model kuantifkasi matematis dari atas ke bawah dan menggeser hanya secara “substansi” trilogi pelaporan keuangan konvensional. Sehingga pelaporan (keuangan) akuntansi tidak bisa merepresentasikan secara utuh proses dan gerak aktif yang dikonsepsi. Dari penjelasan ini, kita bisa melihat permasalahan tekonologis “sebenarnya” pada konstruksi Mulawaran (2011), yaitu ketika menempatkan perspektif geraknya pada bentuk pelaporan yang berorientasi hasil. Di mana permasalahan ini berujung pada dikembalikannya masalah halal-haram pada otoritas kelembagaan tertentu (Mulawarman 2011). Lagi-lagi terjadi pseudo akuntabilitas (moral-etik) pada akuntansi, yaitu ketika akuntansi masih memerlukan otoritas-otoritas lain dalam menegakkan visi rahmatan lil ‘alaminnya.

Jika dicermati, kita bisa melihat salah satu kesulitan Mulawarman (2011) terutama berkenaan dengan term ketundukan dan kreatiftas dalam penderivasian pengakunan laporan keuangannya. Hal ini bisa jadi karena orientasi aktif dalam konsep-konsepnya berbenturan dengan bentuk pelaporan keuangan konvensional yang diadopsinya, yang jelas berorientasi pada hasil yang (pasti) memiliki dasar logika yang berbeda. Bagaimana lantas kita bisa menelusuri setiap proses ma’isyah (yang dilakukan dengan penuh ketakwaan) dengan ketentuan halal-haramnya, jika yang tersaji dalam laporan keuangan (akuntansi) hanya tertuju pada hasil akhirnya? Bagaimana kita mengetahui proses bisnisnya merupakan ba’i yang bertujuan mereduksi riba?20 Apakah kemudian setiap proses yang diajukan dengan ketentuan-ketentuannya hanya akan (lagi-lagi) berpulang pada permasalahan “himbauan” moral etik, sebatas membangun kesadaran? Dan (lagi-lagi) yang tampak muncul adalah sebatas pada distribusi hasil, zakat dan shodaqoh kepada 8 asnaf.

Apa kemudian pentingnya orientasi proses? Sebelum menjawab pentingnya prinsip ini, kita akan menjabarkan terlebih dahulu kenapa prinsip ini harus diajukan dalam konstruksi teoretis ini. Orientasi proses secara langsung merujuk pada realitas-realitas akuntansi yang dikonstruksi Alfa (2015), dan prinsip ini merupakan bagian konsekuensi

20 Akuntansi memang memiliki peran dalam perekaman aktiftas ekonomi kita, dengan

(17)

logisnya. Realitas informasi menentukan syarat bahwa informasi akuntansi harus disajikan secara apa adanya dan apa yang seharusnya. Maka konsekuensi logisnya adalah ketika akuntansi memiliki peran dalam melakukan proses capture atas aktiftas ekonomi – dalam bentuk pelaporan, maka aktiftas ini harus di-capture secara apa adanya dan tentunya hanya dalam basis proseslah, pelaporan dapat dikonstruksi. Karena demikianlah apa yang seharusnya yaitu menjunjung tinggi kejujuran. Melalui orientasi proseslah, kita bisa menelusuri apakah sebuah pelaporan atas aktiftas benar-benar bisa dipertanggungjawabkan, yaitu dalam hal menegakkan keseimbangan (alam) dan keadilan (sosial), sebagai bentuk pengejawantahan penyebaran rahmat.

Orientasi proses merupakan representasi realitas gerak akuntansi. Merujuk kembali pada pandangan Sadra, bahwa geraklah yang menentukan identitas sesuatu. Bahwa dengan kesadaran akan adanya realitas geraklah, maka orientasi proses bisa menjadi penekanan penting dalam pembentukan pelaporan akuntansi. Titik krusialnya adalah akan menuju kemana kita adalah ditentukan oleh gerak aktif (proses) yang kita pilih dan acu. Melalui gerak aktifah akan menentukan evolusi substansial kita, apakah menuju pada kesempurnaan Realitas Absolutnya atau tidak. Jika ingin “menyempurna” maka jika meminjam term Mulawarman (2009; 2011), maka di manakah gerak aktif (kreatiftas) itu? Gerak aktif kreatiftas itu berada pada ketundukannya21. Jadi antara kreatiftas dan ketundukan, itu bukanlah sesuatu dualitas yang terpisah, tapi sekali lagi menunjukkan sebuah pola hubungan yang polar. Kesimpulannya adalah kita tidak bisa memisahkan kedua pengakuan itu ke dalam akun yang berbeda.

Implikasi (aksiologis) penting lainnya adalah membentuk sistem moral etik yang inheren pada akuntansi, dengan mengacu pada kerangka pandangan hubungan subyek – obyek yang terpola dalam harmonisasi hubungan manusia-kosmik. Pengejawantahan gerak dalam pola hubungan inilah (sebagai bentuk ketundukan) yang diharapkan mampu membangun sebuah sistem organis moral etik, sehingga konteks moral etik bisa menjadi tata gerak yang inheren dalam perilaku. Di sinilah kreatiftas itu harus dibangun, yaitu pada kesadaran kemenyatuan manusia-kosmik sebagai kesadaran spiritual keTuhanan dan sebagai pengejawantahan ketundukannya. Maka di manakah posisi akuntansi dalam orientasi gerak (kreatiftas) itu?

Akuntansi memiliki peran dalam melakukan per(ng)hitungan atas setiap proses aktivitas ekonomi. Selama ini akuntansi hanya menjadi satu bagian mikro dari serangkaian proses manajemen – yaitu membuat pelaporan dengan melakukan tabulasi (recording dan summary) atas seluruh aktiftas22 yang telah dilakukan. Berdasarkan transaksi ekonomi yang terjadi, kemudian dengan metode akuntansi tertentu dan teknik penghitungan tertentu pula seperti cash basis, accrual basis, atau fair value yang dilakukan dengan konsep penghitungannya yang berorientasi hasil (stock). Dan selama ini kita hanya bermain-main dengan teknik atau pendekatan penghitungan yang demikian, untuk menyiasati (menghindari) terbentuknya riba dalam konsep time value of money-nya, misalnya fair value atau cash basis dianggap lebih bisa merepresentasikan nilai-nilai Islam. Pendekatan demikian jika dicermati dapat menyebabkan dua celah yang mungkin. Celah pertama adalah kita masih dijebak oleh sakralitas uang, sehingga akuntansi hanya berfokus pada masalah penghitungan uang, padahal ini adalah bentukan industrialisasi dan kesadaran materialisme masyarakat imperialis (Kusdewanti dan Alfa 2014). Hal ini akan mudah menggelincirkan kita pada riba, karena ditopang pula oleh sistem besar

21 Berkaitan dengan hal ini, akan dijelaskan lebih lanjut tentang penempatan human nature

yang akan dibahas secara khusus pada bab berikutnya.

22 Hal ini bisa kita lihat dari proses dan siklus akuntansi, yaitu berangkat dari transaksi

(18)

perekonomian yang berpusat pada money circle. Apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah keluar dari mindset sistem besar ini ‘uang’. Celah kedua, hal ini tentunya mereduksi visi rahmatan lil ‘alamin, jika menyebar rahmat hanya dinilai dalam masalah distribusi kekayaan “uang”.

Melalui orientasi proses, akuntansi harus berdiri pada tatanan makro yang memberikan arahan akuntabilitas dalam melakukan per(ng)hitungan atas setiap (proses) aktiftas, apa dan bagaimana sesuatu tindakan akan dilakukan dan dilaporkan. Karenanya akuntansi memiliki peran kunci dalam melakukan proses perhitungan atas tindakan ekonomi. Implikasi konkretnya adalah pelaporan akuntansi bisa dalam bentuk laporan proses produksi, laporan proses distribusi, laporan proses pengolahan bahan baku dan limbah, laporan proses eksplorasi, atau lain-lainnya. Jadi dalam setiap tindakan akuntabilitasnya adalah tercermin dalam perhitungan yang matang dan memiliki nilai akuntabel dan sustainabel. Pelaporannya merupakan serangkaian proses-proses, sehingga pelaporan yang satu dengan pelaporan yang lain memiliki kesalinghubungan (aliran). Hal ini menyebabkan satu laporan proses bisa menjadi inputan bagi laporan proses lainnya, dan begitu sebaliknya.

Maka konsekuensi perbedaannya adalah bahwa orientasi proses dalam menjawab visi rahmatan lil ‘alamin memiliki perspektif aliran, bukan distribusi. Sebagaimana sandaran-sandaran yang telah kita tetapkan dalam premis-premis akuntansinya, merujuk kembali QS. 67:3; QS. 55:7, bahwa Tuhan menciptakan semesta ini berdasarkan ukuran-ukuran tertentu di mana ditegakkannya keseimbangan dan keadilan. Kita bukanlah pemilik ukuran, tapi yang harus kita lakukan adalah mencari dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan (akuntansi) untuk dapat meniru (sunnatullah) Tuhan (Yazdi 2006). Karena Tuhan telah membuat saluran-saluran rizki untuk memberikan penghidupan pada semesta. Manusia atau sistem sama sekali bukan pemilik, maka dengan menetapi sabar dan ikhlas kita akan mengikuti aliran yang telah ditetapkan-Nya atas penjagaan keseimbangan dan keadilan. Perbedaan orientasi antar teori bisa kita ilusrasikan pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Perbedaan Orientasi Akuntansi

Teori Orientasi Tujuan Sifat

ET Stock Concept Akumulasi Kekayaan Kapitalis

SET Hasil Distribusi Kapitalis-Sosialis

Visi Antropokosmik Proses Aliran Antropokosmik

Prinsip Metafisika. Perubahan besar science dalam abad scientific revolution adalah dalam hal rekognisi dan pendekatan natural philosophy dalam memahami “physical world” (Henry 2002). Rene Descartes merupakan penyumbang terbesar dan paling berpengaruh dalam pengembangan natural philosophy, sebuah mechanical philosophy (Henry 2002). Capra (1997) menjelaskan bahwa Descartes melakukan reduksi pada fenomena alam (fsik), menjadi hubungan matematika yang pasti dan ia menyatakan bahwa seluruh fsikanya tidak lain kecuali geometri (Henry 2002 dan Heriyanto 2003). Filosofnya tentang semesta adalah mesin dan menganggap tubuh manusia adalah mesin, tak ubahnya seperti mesin jam. Berkaitan dengan hal ini, dalil cogito ergo sum merupakan dalil esensialnya, yang pada dasarnya menggarisbawahi pemikiran ke”pasti”an dan “fragmentasi” (keterpilahan) antara pikiran dan tubuh. Di sinilah konsep sentral ontologi dan epistemologi rasionalitas obyektifs, dualisme yang menyebabkan pola pikir dikotomis (logika biner).

(19)

2002). Newton mensintesiskan karya-karya besar Copernicus, Galileo, Bacon, dan Keppler dengan dasar flosof asumsi kosmologis (mekanistik, atomistik, deterministik, linear, dan kuantitatif-matematis) dan kesadaran modern yang dibangun oleh Descartes (Heriyanto 2003). Alam semesta ala Newton adalah gabungan visi rasionalisme Descartes dan visi empirisme Bacon. Dalam mentransformasikan ke dalam dunia nyata ia menggunakan peletakan dasar mekanika (Heriyanto 2003) dengan menerapkan metode eksperimental-induktif Baconian (Capra 1997). Hal ini sejalan dengan penjelasan Henry (2002), bahwa dalam era ini selain pengembangan natural philosophy23 juga dilakukan

pengembangan-pengembangan disiplin teknikal seperti astronomi, optik, mekanik, pharmacology, anatomi medis atau pun studi materia medica. Pecahan-pecahan disiplin teknis ini ditujukan untuk memberikan penjelasan secara hati-hati dan berkelanjutan tentang natural philosophy. Demikian karakter dan keberadaan pandangan dualistik mewarnai dan memengaruhi lini pengembangan peradaban modern, yang memiliki kecenderungan materialistis, fungsionalis-utilitarian, dan teknikal.

Dalam ranah akuntansi, Dollery et al. (1996) menyatakan bahwa akuntansi mengikuti adopsi retorika inquiri ekonomi yang positifstik dan terjadi paralelisme metodologi antara akuntansi dan ekonomi (lihat juga Kabir 2014). Lebih lanjut Dollery et al. (1996) menjelaskan bahwa anomali empirisme ekonomi yang terjadi pada akuntansi adalah pada mathematical general equilibrium theory, the new theory of the firm, social choice theory dan beberapa pengembangan lain. Seperti kita ketahui pula bahwa positivisme empiris24 merupakan perspektif mainstream yang menghegemoni akuntansi (Mulawarman 2007 dan Kabir 2014).

Penelitian akuntansi dengan menggunakan model empiris scientific mulai dikembangkan pada paruh kedua abad dua puluh (1960-an), ketika Ball dan Brown (1968) dan Beaver (1968) serta beberapa peneliti lainnya seperti Fama (1965) yang memperkenalkan metode penelitian empiris pada akuntansi keuangan. Pada fase ini, penelitian akuntansi didominasi oleh nilai kegunaan angka-angka akuntansi (net income) untuk memprediksi keputusan investasi dengan menggunakan mathematical constructions (Mulawarman 2007) dan menggunakan analisis ekonometri/statistika (Beaver 1981; Kabir 2014; Carnegie et al. 2014; dan Robertson 2014). Ball dan Brown (1968) merupakan pelopor dalam penelitian akuntansi empiris (Kabir 2014; dan Robertson 2014) yang mengadopsi “scientific method” (Mouck 1990) dan dikatakan oleh Gafkin (1988) sebagai the golden age. Pengembangan selanjutnya Watts dan Zimmerman (1978) menggunakan istilah “positif” untuk membedakannya dengan “presciptive theory”.

Demikian pengaruh dunia fsika matematika dalam ranah akuntansi, pengejawantahan nyatanya adalah pada perspektif PAT. Penempatan kuantifkasi variabel-variabel yang menjadi ciri khas metodologi ini, jelas mereduksi realitas dan makna sesungguhnya yang ada dalam setiap fenomena akuntansi. Karena apa? dengan merujuk pada prinsip gerak transubstansial Sadra, dikatakan bahwa setiap hal senantiasa bergerak, tidak ada sesuatu pun di alam ini yang diam (statis/pasti) dan karenanya selalu mengalami perubahan dan senantiasa hudust (baru). Berdasarkan prinsip ini, maka kuantifkasi matematika atas variabel-variabel tidak akan mampu dan tidak cukup valid menjawab realitas yang sesungguhnya dalam akuntansi.

Awal penciptaan semesta meletakkan tanda pula akan tujuan akhirnya. Tujuan akhir yang immaterial, setiap hal dan setiap realitas – termasuk realitas manusia dan akuntansi - akan menuju pada tujuan akhir yang sama, maka pertanyaannya cukupkah

23 Tujuan natural philosophy adalah untuk mendeskripsikan dan menjelaskan keseluruhan

sistem dunia (Henry 2002:4)

24 Heriyanto (2003:66) mengatakan bahwa positivisme merupakan anak kandung cartesian

Gambar

Tabel 1. Pola Hubungan dalam Teori Akuntansi
Tabel 2. Perbedaan Orientasi Akuntansi

Referensi

Dokumen terkait

Dalam tugasnya kepolisian merupakan aparat penegak hukum yang berwenang untuk melakukan dan melaksanakan ketertiban dalam masyarakat, dari sini upaya kepolisian

Sifat kimia tanah gambut Indonesia yang utama antara lain sifatnya yang sangat masam dengan kisaran pH 3–5, basa-basa dapat ditukarkan yang rendah, serta unsur mikro (Cu, Zn, dan

Selain alam, Kabupaten Buleleng juga memiliki banyak potensi budaya berupa pura-pura bersejarah yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda yang tersebar di desa-desa seperti

Menurut Soewarso (2000:11-13) dalam bukunya yang berjudul Cara-cara Penyampaian Pendidikan Sejarah Untuk Membangkitkan Minat Peserta Didik Mempelajari Bangsanya “kurang

Nama Field Jenis Panjang Keterangan KodeBrg Varchar 5 Kode barang NamaBrg Varchar 20 Nama Barang Satuan Varchar 1 1=KG 2=Ton 3=Liter 4=Kubik Master Pengelola

Pengaruh current ratio terhadap perubahan laba adalah semakin tinggi nilai current ratio maka laba bersih yang dihasilkan perusahaan semakin sedikit, karena rasio

Bahan-bahan yang berhasil dikumpulkan selanjutnya,dianalisis dengan metode deskriptif analitis, artinya semua bahan hukum atau refrensi yuridis yang dikumpulkan kemudian

gan dari algor tma Lowest C -First mencari nilai heuristic ritma yang men yang terdapat p gnakan kedua Pencarian akan Algo etia Racana ndung 40132, e dapat guna alam , dan