• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN PESANTREN DAN TANTANGAN MODER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDIDIKAN PESANTREN DAN TANTANGAN MODER"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN PESANTREN DAN TANTANGAN

MODERNISASI

MAKALAH

Pemikiran Pendidikan Islam Klasik dan Modern

Oleh : Batsits Sa’idi

Dosen Pembina,

Prof. Dr.HA. Saiful Anam, MA.

PROGRAM PASCASARJANA

MAGISTER STUDI ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

(2)

PENDIDIKAN PESANTREN DAN TANTANGAN MODERNISASI

A. Latar Belakang Masalah

Pesantren merupakan salah satu jenis pendidikan Islam Indonesia yang bersifat tradisional untuk mendalami ilmu agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan keseharian. Pesantren telah hidup sejak ratusan tahun yang lalu, serta telah menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat muslim. Eksistensi Pesantren dalam dunia pendidikan khususnya di Indonesia telah diakui bahkan tidak bisa dipungkiri telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan pada masa kolonialisme berlangsung, secara langsung maupun tidak, pesantren telah sangat berjasa baik dalam melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa maupun membina masyarakat dan tidak sedikit pemimpin-pemimpin bangsa yang ikut memproklamir-kan kemerdekaan adalah alumni atau setidak-tidaknya pernah belajar di pesantren.

Namun, kini reputasi pesantren tampaknya mulai dipertanyakan oleh sebagian masyarakat muslim Indonesia. Mayoritas pesantren masa kini terkesan berada di menara gading, jauh dari realitas sosial, ditambah lagi dengan problem keilmuan dari pesantren, yaitu adanya kesenjangan, antara ilmu yang didapat dari pesantren dengan kenyataan dunia modern. Sehingga terkadang lulusan pesantren kalah bersaing, atau tidak siap berkompetisi dengan lulusan umum dalam urusan profesionalisme di dunia kerja.

(3)

yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik”. Karena sekarang ini pesantren harus bisa mengurai secara cerdas problem kekinian dengan pendekatan-pendekatan kontemporer. Disisi lain, modernitas, yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh kalangan pesantren, ternyata berisi paradigma dan pandangan dunia yang sangat berbeda.

Dalam konteks yang dilematis ini, pilihan terbaik bagi insan pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigma dan pandangan dunia yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Maksudnya, insan pesantren perlu memposisikan warisan masa lalu sebagai “teman dialog” bagi modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya. Mereka harus membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. Masa lalu hadir atau dihadirkan dengan terang dan jujur, lalu dihadapkan dengan kekinian. Boleh jadi masa lalu tersebut akan tampak “basi” dan tak lagi relevan, namun tak menutup kemungkinan masih ada potensi yang dapat dikembangkan untuk zaman sekarang.

Salah satu hal yang perlu dimodifikasi adalah sistem pendidikan pesantren. Sistem pembelajaran tradisional, yaitu sorogan, blandongan, balaghah, atau halaqah seharusnya mulai diseimbangkan dengan sistem pembelajaran modern. Dalam aspek kurikulum, kalangan pesantren seharusnya mulai berani mengakomodasi dari kurikulum pemerintah.

B. Batasan Masalah

(4)

kepada persoalan yang menyangkut lembaga pesantren dan pengaruh modernisasi terhadap lembaga pesantren.

1. Pengertian Pesantren

Zamakhsari Dhofir dalam “Tradisi Pesantren” menyebutkan “ Secara bahasa, kata pesantren berasal dari kata santri dengan awalan pe- dan akhiran -an (pesantrian) yang berarti tempat tinggal para santri”. Zamakhsari Dhofir, Tradisi Pesantren, hal. 18). Sedangkan kata santri menurut Prof. John sebuah kata dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji, sedangkan C.C Berg berpendapat bahwa kata santri berasal kata “shastri”

(bahasas India) artinya orang yang tahu buku-buku suci Agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab suci Agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini menurut Nur Cholis Majid agaknya didasarkan atas kaum santri adalah kelas literary bagi orang jawa yang berusaha mendalami agama melalui kitab-kitab bertulisan dan berbahasa Arab. Ada juga yang mengatakan bahwa kata santri berasal dari bahasa Jawa, dari kata “cantrik”, yang berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi menetap.

(5)

dikembangkan ulama’ (kiai) dari masa ke masa, tidak terbatas pada periode tertentu dalam sejarah Islam.

Di Indonesia, istilah pesantren lebih populer dengan sebutan pondok pesantren. Lain halnya dengan pesantren, pondok berasal dari bahasa Arab

funduq, yang berarti hotel, asrama, rumah, dan tempat tinggal sederhana. Dari terminologi di atas, mengindikasikan bahwa secara kultural pesantren lahir dari budaya Indonesia. Mungkin dari sinilah Nur Cholis Majid berpendapat bahwa secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga makna keaslian Indonesia. Sebab, memang cikal bakal lembaga pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha, dan Islam tinggal meneruskan, melestarikan, dan mengislamkan-nya.

2. Macam-macam Pesantren

Tentang Macam-macam bentuk pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia, beberapa pengamat mengklasifikasikan pesantren menjadi empat macam, yaitu:

(6)

Sedangkan sorogan adalah pengajian yang merupakan permintaan dari seseorang atau beberapa orang santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab-kitab tertentu. Sedangkan istilah salaf ini bagi kalangan pesantren mengacu kepada pengertian “pesantren tradisional” yang justru sarat dengan pandangan dunia dan praktek Islam sebagai warisan sejarah, khususnya dalam bidang syari’ah dan tasawwuf. Misalnya: pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Jombang, dan lain sebagainya.

2. Pesantren khalafi, yaitu pesantren yang menerapkan sistem pengajaran klasikal (madrasi, memberikan ilmu pengetahuan umum dan agama dan juga memberikan keterampilan umum). Pesantren jenis ini juga membuka sekolah-sekolah umum. Misalnya: Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Tambak Beras Jombang, dan lain sebagainya.

3. Pesantren kilat, yaitu pesantren yang berbentuk semacam training dalam waktu yang relatif singkat, dan biasanya dilaksanakan pada waktu liburan sekolah. Misalnya Pesantren La Raiba Jombang yang programnya adalah pelatihan menghafal asam’ul husna, Al Qur’an dan yang lain sebagainya dengan metode Hanifida, metode khas pesantren tersebut.

(7)

kerja, dengan program yang terintegrasi. Santrinya kebanyakan berasal dari kalangan anak putus sekolah atau para pencari kerja.

3. Dinamika Pesantren

Dalam perspektif sejarah, lembaga pendidikan yang terutama berbasis di pedesaan ini telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, sejak sekitar abad ke-18. bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-13. Beberapa abad kemudian penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian. Bentuk ini kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi para pelajar (santri), yang kemudian disebut pesantren. Pesantren pertama didirikan oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim. Meskipun bentuknya masih sangat sederhana, pada waktu itu pendidikan pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang terstruktur. Sehingga pendidikan ini dianggap sangat bergengsi. Di lembaga inilah kaum muslimin Indonesia mendalami doktrin dasar Islam, khususnya menyangkut praktek kehidupan keagamaan.

(8)

pesantren di daerah-daerah yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi Belanda serta memberi kesempatan kepada rakyat yang belum mendapat pendidikan.

Pada tahun 1860-an, jumlah pesantren mengalami peledakan jumlah yang sangat signifikan, terutama di Jawa yang diperkirakan 300 buah. Perkembangan tersebut ditengarai berkat dibukanya terusan Suez pada 1869 sehingga memungkinkan banyak pelajar Indonesia mengikuti pendidikan di Mekkah. Sepulangnya ke kampung halaman, mereka membentuk lembaga pesantren di daerahnya masing-masing.

Pada era 1970-an, pesantren mengalami perubahan yang sangat signifikan yang tampak dalam beberapa hal. Pertama, peningkatan secara kuantitas terhadap jumlah pesantren.Tercatat di Departemen Agama, bahwa pada tahun 1977, ada 4.195 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 667.384 orang.Jumlah tersebut meningkat menjadi 5.661 pesantren dengan 938.397 orang santri pada tahun 1981.kemudian jumlah tersebut menjadi 15.900 pesantren dengan jumlah santri sebanyak 5,9 juta orang pada tahun 1985. Kedua, menyangkut penyelenggaraan pendidikan. Perkembangan bentuk-bentuk pendidikan di pesantren tersebut diklasifikasikan menjadi empat, yaitu:

(9)

2. Pesantren yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan agama dalam bentuk Madrasah Diniyah, seperti Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Sumber Sari Kediri, dan lain sebagainya.

3. Pesantren yang hanya sekedar manjadi tempat pengajian, seperti Pesantren milik Gus Khusain Mojokerto.

4. Pesantren yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan dalam bentuk Madrasah dan mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum meski tidak menerapkan kurikulum nasional. Dengan kata lain, ia mengunakan kurikulum sendiri. Seperti Pesantren Modern Gontor Ponorogo, dan Darul Rahman Jakarta. kurikulum sendiri. Seperti Pesantren Modern Gontor Ponorogo, dan Darul Rahman Jakarta.

Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa beberapa pesantren ada yang tetap berjalan meneruskan segala tradisi yang diwarisinya secara turun temurun, tanpa ada perubahan dan improvisasi yang berarti, kecuali sekedar bertahan. Namun ada juga pesantren yang mencoba mencari jalan sendiri, dengan harapan mendapatkan hasil yang lebih baik dalam waktu singkat. Pesantren semacam ini adalah pesantren yang kurikulumnya berdasarkan pemikiran akan kebutuhan santri dan masyarakat sekitarnya.

(10)

transfer ilmu-ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fi addin) dan nilai-nilai islam (Islamic values). (2) Lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial (social control). (3) Lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial (Social engineering). Perbedaan-perbedaan tipe pesantren diatas hanya berpengaruh pada bentuk aktualisasi peran-peran ini.

4. Modernisasi Pesantren

1. Pengertian Modern

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia modern diartikan sebagai

sikap dan cara berpikir serta cara bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Jika ditambahkan imbuhan sasi (modernisasi) berarti hal atau tindakan menjadikan modern; tindakan memberi sifat modern (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal. 965)

Menurut Istilah modernisasi mengandung pengertian sebagai berikut :

a) Widjojo Nitisastro, modernisasi adalah suatu transformasi total dari

kehidupan bersama yang tradisional atau pramodern dalam arti teknologi serta organisasi sosial, ke arah pola-pola ekonomis dan politis.

b) Soerjono Soekanto, modernisasi adalah suatu bentuk dari perubahan

(11)

Dengan dasar pengertian di atas maka secara garis besar istilah modern mencakup pengertian sebagai berikut.

a) Modern berarti berkemajuan yang rasional dalam segala bidang dan meningkatnya tarat penghidupan masyarakat secara menyeluruh dan merata.

b) Modern berarti berkemanusiaan dan tinggi nilai peradabannya dalam

pergaulanhidup dalam masyarakat.

Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa sebuah modernisasi memiliki syarat-syarat tertentu, yaitu sebagai berikut.

a) Cara berpikir yang ilmiah yang berlembaga dalam kelas penguasa atau-pun masyarakat.

b) Sistem administrasi negara yang baik, yang benar-benar mewujudkan birokrasi.

c) Adanya sistem pengumpulan data yang baik dan teratur yang terpusat pada suatu lembaga atau badan tertentu.

d) Penciptaan iklim yang menyenangkan dan masyarakat terhadap modernisasi dengan cara penggunaan alat-alat komunikasi massa. e) Tingkat organisasi yang tinggi yang di satu pihak berarti disiplin,

sedangkan di lain pihak berarti pengurangan kemerdekaan. (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

2. Dampak Modernisasi

(12)

yang berkaitan dengan perubahan sosial. Secara langsung maupun tidak, modernisasi akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara umum tidak terkecuali masyarakat pesantren.

Dampak positif adanya modernisasi adalah sebagai berikut :

 Perubahan tata nilai dan sikap ; Hal ini bisa dilihat dari cara

berpikir masyarakat dari yang irasional menjadi rasional.

 Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ; Ditandai dengan

adanya kemudahan dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju yang semua itu ditunjang dengan munculnya produk teknologi sebagai alat bantu dalam beraktivitas.

Tingkat kehidupan yang lebih baik ; Adanya Industri telah

menyebabkan terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang menyebabkan mereka memiliki income yang lebih yang bisa dipakai untuk membeli alat (produk teknologi) yang bisa mempermudah atau memperlancar aktivitas hidup masyarakatnya. Namun demikian tidak bisa dipungkiri disamping dampak positif yang muncul ada pula dampak negatifnya, yaitu :.

 Pola hidup konsumtif ; Karena terbiasa menikmati kemudahan dan

tingkat kemakmuran yang sudah diatas rata-rata telah menyebabkan masyarakat terpacu untuk menikmati produk teknologi yang setiap saat diluncurkan oleh pabrikan.

 Sikap Individualistik ; Karena masyarakat sudah dimanja dengan

(13)

orang lain khususnya dalam beraktivitas. Padahal manusia diciptakan sebagai makhluk sosial.

 Gaya Hidup Kebarat-baratan ; Ditandai dengan munculnya budaya

baru yang diakibatkan santernya informasi lewat media elektrolik (lewat TV dan internet) yang bisa melihat prilaku masyarakat barat dengan segala macam prilakunya

 Kesenjangan sosial ; Tidak setiap masyarakat modern bisa

beradaptasi dengan lingkungannya. Untuk mereka yang bisa beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman akan bisa memnuhi apa yang menjadi keinginannya, tetapi bagi mereka yang tidak bisa mengikuti mereka akan hidup dalam dunia lain yang kalau dibiarkan akan melahirkan kesenjangan sosial yang semakin dalam. Terlebih lagi munculnya budaya individualistik sedikit banyak punya kontribusi terhadap kesenjangan sosial yang ada.

 Kriminalitas ; Ketika ada sebagian masyarakat yang tidak bisa

(14)

Banyak anggapan bahwa modernisasi itu identik dengan westerni-sasi, padahal sebenarnya modernisasi itu tidak identik dengan westernisasi.

Secara ringkas keduanya bisa dibedakan sebagai berikut : Modernisasi :

 Mutlak ada dan diperlukan oleh setiap Negara

 Tidak mengesampingkan nilai-nilai agama

 Tidak mutlak sebagai westernisasi meski bisa saja mirip dengan westernisasi

 Proses perkembangannya bersifat umum.

Westernisasi :

 Mutlak sebagai suatu pembaratan

 Mempertentangkan budaya barat dengan budaya setempat

 Modernisasi munculnya di Barat sehingga cara westernisasi

merupakan satu-satunya cara untuk mencapainya (identik dengan

westernisasi)

(15)

Modernisasi atau inovasi pendidikan pesantren dapat diartikan sebagai upaya untuk memecahkan masalah pendidikan pesantren. Atau dengan kata lain, inovasi pendidikan pesantren adalah suatu ide atau metode baru dari seseorang atau sekelompok orang, baik berupa hasil penemuan (invention) maupun discovery, yang digunakan untuk mencapai tujuan atau memecahkan masalah pendidikan pesantren.

Miles mencontohkan inovasi (modernisasi) pendidikan adalah seba-gai berikut :

1. Bidang personalia. Pendidikan yang merupakan bagian dari sistem sosial, tentu menentukan personel sebagai komponen sistem. Inovasi yang sesuai dengan komponen personel misalnya adalah peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, dan sebagainya. Dalam hal ini, pesantren telah di bantu dengan adanya program beasiswa S1 untuk guru diniyah oleh Departemen Agama.

2. Fasilitas agamanya.

(16)

Menurut Nur Cholis Majid, yang paling penting untuk direvisi adalah kurikulum pesantren yang biasanya mengalami penyempitan orientasi kurikulum. Maksudnya, dalam pesantren terlihat materinya hanya khusus yang disajikan dalam bahasa Arab. Mata pelajarannya meliputi fiqh, aqa’id, nahwu-sharf, dan lain-lain. Sedangkan tasawuf dan semangat keagamaan yang merupakan inti dari kurikulum keagamaan cenderung terabaikan. Tasawuf hanya dipelajari sambil lalu saja, tidak secara sungguh-sungguh. Padahal justru inilah yang lebih berfungsi dalam masyarakat zaman modern. Disisi lain, pengetahuan umum nampaknya masih dilaksanakan secara setengah-setengah, sehingga kemampuan santri biasanya sangat terbatas dan kurang mendapat pengakuan dari masyarakat umum. Maka dari itu, Cak Nur menawarkan kurikulum Pesantren Modern Gontor sebagai model modernisasi pendidikan pesantren.

5. Tantangan Modernisasi Pendidikan Pesantren

(17)

dengan modernisasi pendidikan di pesantren. Diantara sisi positif tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadap perkembangan era globali-sasi. Hal ini mutlak harus dilakukan agar pesantren tetap eksis.

2. Sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan pesantren.

Sedangkan bagi kalangan pesantren yang tidak setuju dengan gagasan modernisasi berpendapat bahwa gagasan tersebut banyak sisi negatifnya, diantaranya adalah: Modernitas akan merubah cara pandang lama terhadap dunia dan manusia.

(18)

menerima modernisasi dalam semua aspek kehidupan tidak terkecuali dunia pesantren.

Lahirnya santri-santri yang memiliki kecakapan (keahlian) beraneka ragam dalam kehidupan modern akan bisa mengubur paradigma bahwa santri hanya mampu dibidang agama saja. Dan saat ini, banyak sekali komunitas pesantren (santri, kyai dan pesantren) yang bisa berinteraksi lewat dunia maya dan siap berbagi ilmu (lewat tanya jawab maupun kajian kitab klasik on-line) serta siap menampung dan mengatasi persoalan yang dihadapi masyarakat modern.

C. Penutup

Modernisasi merupakan sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar, terlebih lagi bagi sebuah pesantren. Ketika pesantren menolak eksistensi teknologi dari sebuah produk modernisasi maka pesantren akan terasing dan tidak bisa memberikan kontribusi untuk menata kehidupan masyarakat modern. Sebaliknya ketika pesantren bisa dan mau menerima teknologi pesantren akan memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan masyarakat.

(19)

berkaitan dengan pesantren maupun waktu dalam artian bagaimana mengatur waktu dengan menyesuaikan dengan kurikulumnya sehingga bisa berjalan efektif dan tepat sasaran.

DAFTAR PUSTAKA

Ensiklopedi Islam, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jilid IV, Jakarta, cet. VI. 1999. M. Arfan Mu’ammar, Abdul Wahid Hasan dkk. STUDI ISLAM Perspektif Insider/

Outsider, IRCiSoD, Jogjakarta, cet. I, 2012.

M. Utsman Najati, Dr. Al Qur’an dan Ilmu Jiwa Agama, terj. Ahmad Rofi’ Usman, Pustaka, Bandung, cet. I, 1985

Shoft ware Al Maktabatus Syamilah

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3S, cet I, 1982

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis data, peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang terkait dengan adanya integrasi sistem pendidikan pesantren dan madrasah, diantaranya:

Berdasarkan hasil analisis data, peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang terkait dengan adanya integrasi sistem pendidikan pesantren dan madrasah, diantaranya:

Judul : Pendidikan Pondok Pesantren Ta’mirul Islam (Tinjauan Historis dan Filosofis Pendidikan Yang Diterapkan).. Maka selaku pembimbing I dan II, kami berpendapat bahwa

Untuk memenuhi peran sebagai lembaga pendidikan yang menggabungkan mata pelajaran umum dan agama, pesantren menggabungkan kurikulum pesantren dalam bentuk pendirian sekolah dan

Sedangkan Yudian Wahyudi langsung mengaplikasikan konsep pesantren masa depan dengan mendirikan pesantren Sunan Averos di Yogyakarta yang berorientasi pada experimen sciences,

Berdasarkan temuan dari hasil penelitian disimpulkan bahwa terdapat beberapa problematika dan tantangan yang dihadapi oleh pondok pesantren di Kabupaten Gresik, yaitu

Modernisasi Pendidikan Pondok Pesantren Attaqwa Berawal dari lembaga pendidikan yang mengutamakan pendidikan agama Islam, Pondok Pesantren Attaqwa berkembang menjadi lembaga

Dalam kaitan ini, modernisasi kurikulum madrasah ini terintegrasi dengan tujuan pendidikan pesantren yaitu mencetak ulama.23 Oleh karena itu, Imam Zarkasyi berpendapat bahwa kesatuan