Isyu Legalitas, Akuntansi, Audit, Tata Kelola dan Etika Fintech Syariah
Dr. Murniati Mukhlisin, M.Acc, Wakil Ketua STEI Tazkia Dipresentasikan di Acara Seminar Nasional Fintech Syariah
dan Launching Pusat Studi Fintech Syariah Tazkia Kampus Tazkia, Sentul City, Bogor
Lanjutan Cerita
• Artikel ini adalah sambungan dari artikel sebelumnya yang berjudul Fintech Syariah yang telah
dibentangkan di seminar fintech syariah di Kampus Tazkia, Bogor, bulan Agustus yang lalu.
Peraturan OJK
• Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tanggal 29 Des 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
• Layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi adalah penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk
Definisi Syariah
• Walaupun belum ada definisi secara syariah, namun peraturan ini dapat dimaknai juga sebagai peraturan untuk layanan jual beli/kemitraan/pembiayaan/sewa menyewa syariah sebagai penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan
penjual/mitra/pemilik modal/pemilik aset dengan pembeli/mitra/pekerja/penyewa dalam rangka
melakukan jual beli/pembiayaan secara syariah dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem
elektronik dengan menggunakan jaringan internet.
Peraturan Bank Indonesia
• PBI 18/40/PBI/2016 tanggal 14 November 2016 tentang Penyelanggaraan pemrosesan transaksi pembayaran
• Peraturan secara syariah; Penyelanggaraan pemrosesan transaksi pembayaran secara syariah
Standar
• Standar akuntansi untuk bisnis syariah selalu merujuk fatwa Dewan Syariah Nasional –Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) sebelum mengeluarkan standar – standar akuntansi. Dari
tahun 2000 hingga saat ini sudah dikeluarkan 109 fatwa keuangan syariah.
• Fatwa dikeluarkan karena diminta oleh lembaga keuangan syariah baik itu bank, asuransi, pasar modal, maupun entitas syariah lainnya. Adapun dengan kehadiran bisnis FinTech
Jurnal Akuntansi
• Pengelola (Mudharib) melakukan permohonan
pembiayaan Mudharabah, melengkapi persyaratan yang diperlukan kepada Penyedia Jasa FinTech (Marketplace). Kemudian tim FinTech melakukan analisa pengajuan
pembiayaan Mudharabah oleh Pengelola (Mudharib) dan menawarkan ke Investor (Shahibul Maal).
• Pada tahapan ini, tidak ada jurnal baik dari sisi
Jurnal
…
• Investor (Shahibul Maal) menyetujui dan memberikan investasi modal pembiayaan Mudharabah kepada
Penyedia Jasa Fintech Pengelola (Mudharib) dengan nisbah bagi hasil yang disepakati. Pada saat Investor (Shahibul Maal) memberikan modal kepada Pengelola melalui Penyedia Jasa Fintech, maka jurnal yang dibuat oleh Shahibul Maal:
• Dana Investasi Mudharabah pada Kas. Jurnal di sisi
Jurnal
…
• Jasa FinTech (Marketplace) menyertakan modal
pembiayaan Mudharabah sesuai nisbah yang disepakati kepada Mudharib (Shahibul Maal). Jurnal pada saat
Penyedia Jasa Fintech menyertakan modal Mudharabah ke Pengelola (Mudharib), maka jurnal yang dibuat oleh Penyedia Jasa Fintech:
• Dana Inevstasi Mudharabah pada Kas. Jurnal di sisi
Pengelola (Mudharib): Kas pada Dana Syirkah Temporer.
Jurnal
…
• Pemberian bagi hasil pendapatan investor dari Pengelola kepada Penyedia Jasa Fintech dari hasil
keuntungan. Pada saat Pengelola (Mudharib) membagi keuntungan kepada Penyedia Jasa Fintech, jurnal yang dibuat oleh Penyedia Jasa Fintech:
Jurnal
…
• Pemberian bagi hasil pendapatan dari Penyedia Jasa Fintech kepada Investor dari hasil keuntungan. Pada saat Penyedia Jasa Fintech membagi keuntungan
kepada Investor, jurnal yang dibuat oleh Penyedia Jasa Fintech:
Jurnal..
• Pengembalian modal kepada Penyedia Jasa FinTech (Marketplace) oleh Pengelola (Mudharib). Pada saat Pengelola (Mudharib) mengembalikan Penyedia Jasa Fintech, jurnal yang dibuat oleh Penyedia Jasa Fintech: • Dana Investasi Mudharabah pada Kas. Jurnal di sisi
Jurnal
…
• Jasa FinTech (Marketplace) mengembalikan investasi modal kepada Investor (Shahibul Maal). Pada saat
Penyedia Jasa Fintech mengembalikan modal kepada Investor (Shahibul Maal), jurnal yang dibuat oleh
Penyedia Jasa Fintech:
• Dalam hal audit, peranan audit elektronik (Electronic Data Process - EDP) akan makin penting ketika
TARIF
• Transparency, Accountability, Responsibility, Independence dan Fairness (disingkat TARIF).
Tranparansi
• Informasi yang disediakan oleh bisnis FinTech harus memenuhi karakteristik informasi yang baik yaitu
akurat, relevan, memadai, real time, jelas dan mudah
Akuntabilitas
• Bisnis FinTech harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara transparan dan adil kepada pemangku kepentingan. Bentuk pertanggungjawaban berupa
laporan secara berkala kepada OJK dalam bentuk
Responsibilitas
• Bisnis FinTech juga harus mematuhi peraturan
Independen
• Bisnis FinTech harus bebas dari kepentingan pihak tertentu sehingga pengambilan keputusan dapat
dilakukan secara objektif. Benturan kepentingan juga dapat mengancam prinsip dasar etika bisnis syariah.
• Dewan Pengawas Syariah
Kewajaran dan kesetaraan
• Setiap individu yang berminat untuk bertransaksi
dengan bisnis FinTech memiliki kesamaan dalam hak, perlakuan dan kesempatan. Bisnis FinTech harus bersifat
tawazun (seimbang/adil) dalam memberikan layanan,
Jujur-Adil-Amanah-Ihsan
• 1. Jujur. Bisnis FinTech harus mampu menjaga kerahasiaan data pemangku kepentingan.
• 2. Adil. Bisnis FinTech harus memperhatikan
kepentingan semua pemangku kepentingan, tidak
Jujur-Adil-Amanah-Ihsan
• 3. Amanah. Bisnis FinTech harus mengedepankan
amanah, dimulai dari visi misi bisnis tersebut sehingga tujuan yang akan dicapai menjadi jelas. Tidak ada
konflik kepentingan ketika menjalankan tugas maka dari itu harus ada hak dan kewajiban yang jelas sesuai
dengan konsep TARIF dalam tata kelola.
• 4. Ihsan. Bisnis FinTech juga harus mengedepankan konsep berbagi bukan berlomba – lomba hanya untuk mencari keuntungan yang tidak peduli apabila
merugikan orang lain. Maka dari itu, para startup harus menyisihkan sebagian keuntungan untuk kegiatan