• Tidak ada hasil yang ditemukan

OPTIMALISASI SINERGITAS POLISIONAL ANTA. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "OPTIMALISASI SINERGITAS POLISIONAL ANTA. docx"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Untuk mewujudkan terjaganya kelestarian lingkungan hidup perlu dilakukan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yang merupakan upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Sesuai Pasal 13 dan 14 huruf j Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, lingkungan hidup merupakan urusan wajib dan dalam penyelenggaraannya berpedoman pada standar pelayanan minimal (SPM) yang dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. Hal ini sejalan dengan Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Standar pelayanan minimal bidang lingkungan hidup merupakan ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar bidang lingkungan hidup yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal, untuk mendapatkan mutu lingkungan hidup yang baik dan sehat secara berkelanjutan.

(2)

hutan/perkebunan, tanah longsor, banjir, dan kekeringan. Sektor industri yang potensial di Kabupaten Ciamis adalah industri kecil dan menengah, sedangkan industri besar tidak ada. Industri tersebut diantaranya ada yang memanfaatkan bahan baku dari pertanian/kehutanan yaitu industri tahu/tempe, nata de coco, kerupuk, keripik, tepung tapioka/sagu aren, gula kelapa/aren, tepung kelapa, kerajinan dari bambu/kayu, pengolahan kayu/meubeler, dan lain-lain. Industri jenis ini berpotensi menimbulkan pencemaran air dan udara. Adapun industri yang menggunakan bahan baku logam diantaranya bengkel las/pembuatan tralis, pagar, dan sejenisnya, pabrik peralatan rumah tangga seperti panci, katel, dan lain-lain yang sebagian bahan bakunya menggunakan bahan daur ulang (alumunium dari panci/katel bekas) yang berpotensi menghasilkan limbah B3 yang masuk ke badan air maupun udara. Sektor pertanian menjadi sektor andalan/utama di Kabupaten Ciamis dengan luas sawah pada tahun 2013 seluas 51,903.62 hektar dan menjadi salah satu lumbung padi di Jawa Barat. Sektor ini berpotensi menimbulkan pencemaran air akibat penggunaan pupuk dan pestisida kimiawi. Sektor peternakan juga cukup potensial dalam menunjang terjadinya pencemaran air, dan pencemaran udara akibat bau yang ditimbulkan. Kondisi kandang ternak yang berada tidak jauh dari pemukiman sering menimbulkan konflik dengan masyarakat akibat pencemaran yang ditimbulkan. Jumlah populasi komoditas peternakan pada tahun 2012 terdiri dari populasi sapi sebanyak 38.945 ekor, populasi domba sebanyak 229.166 ekor, populasi kambing sebanyak 154.208 ekor, ayam buras sebanyak 2.851.077 ekor, ayam ras pedaging sebanyak 14.029.441 ekor, dan ayam ras petelur sebanyak 587.646 ekor.

Sektor perikanan, kelautan, dan pariwisata terutama di kawasan wisata Pangandaran berpotensi menimbulkan pencemaran limbah padat maupun cair dari hotel dan restauran yang tidak dilengkapi dengan sarana pengolahan air limbah (IPAL), kunjungan wisatawan yang membuang sampah sembarangan, maupun industri perikanan.

(3)

manusia dan lingkungan. Dalam sektor pertambangan, potensi sumber daya mineral yang dimiliki antara lain : emas, tembaga, pasir besi, zeolite, fosfat, tanah liat, kwarsa, kalsit, pasir batu, kaolin, dan gambut. Akan tetapi yang sudah dieksploitasi sebagian besar terdiri dari bahan tambang galian C (pasir, batu) yang banyak menimbulkan pencemaran sungai, dan galian B (gambut) yang dapat mengurangi daerah-daerah resapan air. Dalam bidang kehutanan dan perkebunan banyak terjadi kasus penyerobotan lahan, penebangan liar/illegal logging di lahan/hutan negara yang menimbulkan kerusakan lahan/hutan.

Dengan meningkatnya berbagai usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan pencemaran air, pencemaran udara, kerusakan lahan dan/atau tanah, dan meningkatnya pengaduan masyarakat terkait adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup, maka diperlukan pengelolaan lingkungan hidup yang optimal agar masyarakat mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

(4)

m dpl sekitar 14%, serta Bagian Selatan merupakan daerah rawa. Jenis tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Ciamis didominasi oleh jenis Latosol, Podsolik, Aluvial, komplek Renzina dan Grumusol. Kecamatan Panawangan, Kawali, Lumbung, Cipaku, Panjalu, Ciamis, Sadananya, Baregbeg, Panumbangan, Cihaurbeuti, Cikoneng, Sindangkasih, Cijeungjing, Rajadesa, Jatinagara, Rancah, dan Tambaksari memiliki jenis tanah Latosol; Kecamatan Langkaplancar, dan Cimaragas (bagian selatan) memiliki jenis tanah Podsolik; Lakbok, dan Purwadadi memiliki jenis tanah Alluvial; Kecamatan Cisaga, Kecamatan Banjarsari, dan Kecamatan Pamarican memiliki jenis tanah Grumusol. Iklim di wilayah Kabupaten Ciamis dicirikan dengan adanya musim hujan dan musim kemarau dengan curah hujan dengan rata-rata 10,58 mm. Curah hujan tersebut mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung pola pertanaman temperatur mencapai 220C-310C dengan kelembaban udara 74,3-84,8% dan kecepatan angin rata-rata berkisar 3,88-6,88 knot/bulan. Suhu udara di suatu tempat antara lain ditentukan oleh tinggi rendahnya tempat tersebut terhadap permukaan laut dan jaraknya dari pantai. Kabupaten Ciamis merupakan suatu dataran yang mempunyai ketinggian rata-rata 800-22 m di atas permukaan laut. Kabupaten Ciamis sebagian besar wilayahnya termasuk dalam Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy, dan sebagian lagi termasuk DAS Cimedang. Pada DAS Citanduy mengalir sungai utama, yaitu Sungai Citanduy beserta anak-anak sungainya yang bermuara di Sagara Anakan , Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. Selain sungai besar dan kecil, Kabupaten Ciamis masih memiliki sumber-sumber air yang dimanfaatkan selama 3-9 bulan pertahunnya, bahkan terdapat sumber air yang dapat dimanfaatkan sepanjang tahun yaitu berada di Kecamatan Ciamis. Sungai-sungai dan mata air yang berada dan mengalir di Kabupaten Ciamis dan digunakan sebagai sumber air oleh PDAM Tirta Galuh, diantaranya adalah Sungai Citanduy, Sungai Cimuntur, Sungai Ciputrahaji, Sungai Citumang, Sungai Cikarak, Sungai Palataran, Mata Air Cigeresik, dan Mata Air Binuang.

(5)

memberikan informasi terkait pelanggaran hukum bidang lingkungan hidup yang ada di Kabupaten Ciamis. Padahal sudah seharusnya kedua instansi pemerintahan ini saling bersinergi untuk bersama-sama melakukan pengawasan, pengendalian serta penegakan hukum terkait kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh pelaku usaha yang ada di Kabupaten Ciamis. Dan berdasarkan hasil penelitian dilapangan belum adanya adanya Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) yang ada di Kabupaten Ciamis sehingga kordinasi antar instansi pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Padahal dilapangan berdasarkan hasil penelitian di Laboratorium Lingkungan Hidup banyak ditemukan pelanggaran ataupun kerusakan di bidang lingkungan hidup namun belum pernah ditindaklanjuti sampai ketingkat peradilan hukum pidana.

Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan penulisan terkait “OPTIMALISASI SINERGITAS POLISIONAL ANTARA POLRES CIAMIS DENGAN BPLHD KABUPATEN CIAMIS TERKAIT PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DALAM RANGKA MENDUKUNG PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN”

2. PERMASALAHAN

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka permasalahan yang penulis identifikasi antara lain :

A. Bagaimana sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mendukung sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis?

B. Bagaimana dukungan anggaran yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis?

C. Sarana dan prasarana apasaja yang mendukung pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis?

(6)

3. PERSOALAN

Berdasarkan permasalahan yang teridentifikasi di atas maka persoalan yang dimungkinkan terjadi antara lain:

A. Sumber daya manusia yang kurang dalam segi kuantitas maupun kualitas yang mampu mendukung pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis.

B. Dukungan anggaran yang belum tersedia untuk menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis.

C. Sarana maupun prasarana yang belum maksimal untuk mendukung pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis.

D. Metode yang berbeda antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis terkait penegakan hukum lingkungan hidup yang ada di Kabupaten Ciamis.

4. RUANG LINGKUP

Ruang lingkup penelitan penulisan naskah karya perorangan ini terkait “Optimalisasi sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis terkait penegakan hukum lingkungan hidup dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan” berada di wilayah hukum Polres Ciamis yaitu Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran.

5. MAKSUD DAN TUJUAN

A. MAKSUD PENELITIAN

1) Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai sumber daya manusia yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis.

2) Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai anggaran yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis.

3) Untuk mendapatkan data dan informasi mengenai sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis.

(7)

1) Sebagai saran / rekomendasi kepada pimpinan terhadap sumber daya manusia menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis

2) Sebagai saran / rekomendasi kepada pimpinan terkait anggaran yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis

3) Sebagai saran / rekomendasi kepada pimpinan terhadap sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis

4) Sebagai saran / rekomendasi kepada pimpinan terhadap metode yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis

6. METODE PENDEKATAN

Dalam penulisan naskah karya perorangan ini metode yang digunakan penulis adalah metode deskriptif analitis yaitu cara untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi dilakukan denganmenempuh jalan penngumpulan, klasifikasi, analisis data yang disimpulkan dengan tujuan untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif.

Metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis sosiologis yang merupakan pendekatan berdasarkan kenyataan dilapangan. Realita apa yang dialami, dirasakan, dan digambarkan responden, yang akhirnya dicari rujukan teorinya. Sehingga pada waktu akan melakukan penelitian ini, maka sebelumnya mempunyai kebenaran dari suatu teori yang dijadikan dasar berpijak, yaitu teori yang bertujuan mencari faktor-faktor yang mempengaruhi pelanggaran lalu lintas serta kecelakaan lalu lintas terhadap pelajar di Wilayah Hukum Polres Ciamis.

Untuk mengumpulkan bahan dan data penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :

A. Studi Kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan bahan dan data-data yang meliputi :

(8)

Meliputi Undang Undang Dasar 1945, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah dan perundang – undangan yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dibahas. Dalam hal ini kami berpedoman pada UU nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

2) Bahan Hukum Sekunder

Berupa buku-buku literatur, karya ilmiah, pendapat para pakar atau sarjana. Dalam hal ini kami memperoleh data dari SPM (standar pelayanan minimal) BPLHD Ciamis tahun 2014.

3) Bahan Hukum Tersier

Berupa kamus, ensikopedia, majalah dan artikel yang kami ambil di internet (sumber terlampir)

B. Studi Lapangan (field research) yaitu pengumpulan data yang meliputi :

1) Observasi lapangan yaitu pengamatan yang dilakukan dengan sengaja dan sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.

2) Wawancara (interview) yaitu metode proses tanya jawab secara lisan dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik yaitu pihak-pihak yang terkait dengan masalah yang dihadapi. Antara lain BPLHD Kabupaten Ciamis dan pelaku usaha yang aktifitasnya dimonitoring oleh BPLHD Kabupaten Ciamis.

7. SISTEMATIKA

Untuk memudahkan penulisan naskah karya perorangan ini penulis menyusun kedalam beberapa bab dengan sistematika pembahasan sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN BAB II : LANDASAN TEORI BAB III : KODISI SAAT INI

BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BAB V : KONDISI YANG DIHARAPKAN

BAB VI : OPTIMALISASI BAB VII : PENUTUP

(9)

Optimalisasi adalah menjadikan paling baik ; menjadikan paling tinggi ; proses, cara, perbuatan mengoptimal-kan (menjadikan paling baik, paling tinggi, dsb)

Sinergitas adaalah kegiatan atau operasi yang bersifat gabungan; sinergisme

Polisional bersifat atau mengenai polisi: aksi –

Polri adalah Kepolisian Nasional di Indonesia, yang bertanggung jawab langsung di bawah Presiden. Polri mengemban tugas-tugas kepolisian di seluruh wilayah Indonesia. Polri dipimpin oleh seorang Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri).

BPLHD adalah Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) adalah unsur Lembaga Teknis Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Badan ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 22 tahun 2008 dan melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsinya sesuai dengan Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Tugas Pokok dan Fungsi. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Provinsi Jawa Barat mempunyai tugas pokok yaitu menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah bidang pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan asas otonomi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Penegakan hukum adalah Penegakan hukum adalah proses dilaksanakannya upaya untuk memfungsikan norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam bermasyarakat dan bernegara.

(10)

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan,kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Rencana perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang selanjutnya disingkat RPPLH adalah perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup, serta upaya perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu.

Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan

(11)

BAB II

LANDASAN TEORI

9. KONSEP ANALISA SWOT

SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005:46), SWOT digunakan untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan tantangan-tantangan yang dihadapi.

(12)

Berikut ini merupakan penjelasan dari SWOT (David,Fred R.,2005:47) yaitu :

A. Kekuatan (Strenghts)

Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau keungulan-keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan di pasar.

B. Kelemahan (Weakness)

Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat merupakan sumber dari kelemahan perusahaan.

C. Peluang (Opportunities)

Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasokk merupakan gambaran peluang bagi perusahaan.

D. Ancaman (Threats)

Ancaman adalah situasi penting yang tidak menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi kesuksesan perusahaan.

(13)

Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering digunakan adalah sebagai kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.

10. TEORI MANAJEMEN DARI GEORGE R TERRY

Menurut George .R. Terry, manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen sebagai “proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan : perencanaan, pengorganisasian, menggerkan dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain”.

(George R. Terry, Ph.D) George R. Terry memberikan pengertian bahwa : “Manajemen adalah suatu proses yang berbeda terdiri dari planning, organizing, actuating, dan controling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya. Dengan kata lain, berbagai jenis kegiatan yang berbeda itulah yang membentuk manajemen sebagai suatu proses yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan sangat erat hubungannya.” (Yayat M. Herujito , 2001: 3

(14)

Manajemen juga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.

Menurut G. R. Terry dalam bukunya, “Principle of Management” : Koordinasi adalah suatu usaha yang sinkron / teratur untuk menyediakan jumlah dan waktu yang tepat dan mengarahkan pelaksanaan untuk menghasilkan suatu tindakan yang seragam dan harmonis pada sasaran yang telah ditentukan.

Menurut tinjauan manajemen, koordinasi menurut Terry meliputi :

1. Jumlah usaha baik secara kuantitatif, maupun secara kualitatif

2. Waktu yang tepat dari usaha-usaha tersebut

3. Directing atau penentuan arah usaha-usaha tersebut

Wewenang adalah kekuasaan resmi dan kekuasaan pejabat untuk menyuruh pihak lain supaya bertindak dan taat kepada pihak yang memiliki wewenang itu.

Fungsi-fungsi manajemen menurut George R.Terry: Ada 4 yaitu :

1. Perencanaan (planning)

a. menjelaskan, memantapkan dan memastikan tujuan yang di capai.

b. meramalkan keadaan untuk yang akan datang.

c. memperkirakan kondisi pekerjaan yang di lakukan.

d. memilih tugas yang sesuai untuk pencapaian tujuan .

e. membuat rencana secara menyeluruh dengan menekankan kreativitas.

(15)

g. mengubah rencana sesuai dengan petunjuk dan hasil pengawasan.

h. membiarkan peristiwa dan kemungkinan akan terjadi.

2. Pengorganisasian (organizing)

a. membagi pekerjaan ke dalam tugas-tugas operasional.

b. Mengelompokan tugas-tugas ke dalam posisi secara operasional.

c. menggabungkan jabatan operasional ke dalam unit yang berkaitan.

d. memilih dan menempatkan orang untuk pekerjaan sesuai.

e. menjelaskan persyaratan dari tiap jabatan.

f. menyesuaikan wewenang dan tanggung jawab dari tiap anggota.

g. menyediakan berbagai fasilitas untuk pegawai.

h. menyelaraskan organisasi sesuai petunjuk hasil pengawasan.

3. Penggerakan (actuating)

a. Melakukan partisipasi terhadap keputusan tindakan dan perbuatan.

b. mengarahkan orang lain dalam bekerja.

c. memotivasi anggota.

d. berkomunikasi secara efektip.

e. meningkatkan anggota agar memahami potensinya secara penuh.

(16)

g. memcukupi keperluan pegawai sesuai dengan kegiatan pekerjaannya.

h. berusaha memperbaiki pengarahan sesuai petunjuk pengawasan.

4. Pengendalian (controlling)

a. membandingkan hasil pekerjaan dengan rencana secara keseluruhan

b. menilai hasil pekerjaan dengan standar hasil kerja.

c. membuat media pelaksanaan secara tepat.

d. memberitahukan media pengukur pekerjaan.

e. memindahkan data secara rinci untuk melihat perbandingan & penyimpangannya.

f. membuat saran dan tindakan perbaikan.

g. memberitahukan anggota yang bertanggungjawab terhadap pemberian penjelasan.

h. melaksanakan pengawasan sesuai dengan petunjuk hasil pengawasan. Kegiatan dalam fungsi pengawasan dan pengendalian antara lain : mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan.

11. TEORI MANAJEMEN STRATEGI

Manajemen strategis adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang (J. David Hunger dan Thomas L. Wheelen, 1996 : 4).

(17)

keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai objektifnya.

Sedangkan Bambang Hariadi (2003 : 3) berpendapat bahwa manajemen strategis adalah suatu proses yang dirancang secara sistematis oleh manajemen untuk merumuskan strategi, menjalankan strategi dan mengevaluasi strategi dalam rangka menyediakan nilai – nilai yang terbaik bagi seluruh pelanggan untuk mewujudkan visi organisasi.

Menurut Wheelen dan Hunger (1996 : 9), proses manajemen strategis meliputi 4 elemen dasar, yaitu : pengamatan lingkungan, perumusan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi dan pengendalian.

A. Faktor Internal

1) Struktur adalah cara bagaimana perusahaan diorganisasikan 2) Budaya adalah pola keyakinan, pengharapan dan nilai-nilai yang

diberikan oleh anggota organisasi.

3) Sumber daya adalah aset yang merupakan bahan baku bagi produksi barang dan jasa organisasi.

Analisis internal adalah proses dimana perencana strategi mengkaji pemasaran dan distribusi perusahaan, penelitian dan pengembangan produksi dan operasi, sumberdaya dan karyawan perusahaan serta faktor keuangan dan akuntansi untuk menentukan di mana letak kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) perusahaan.

David Hunger. J & Thomas L. Wheelen (1996) dalam bukunya membagi beberapa faktor kekuatan atau kelemahan internal kunci yang nantinya mempengaruhi dasar analisis internal :

1). Visi, misi, strategi dan kebijakan perusahaan

2). Budaya Perusahaan (harapan, nilai-nilai organisasi) 3). Orientasi perusahaan saat ini

4). Struktur organisasi (komunikasi, wewenang dan arus kerja) 5). Pengalaman

(18)

8). Penelitian dan pengembangan (aplikasi dan pemanfaatan teknologi)

9). Posisi finansial (modal, pembiayaan dan hutang) 10). Fasilitas pemanufakturan

11). Saluran distribusi

B. Faktor Eksternal

Jauch dan Glack (dalam Iwan Setiawana, 2002) mendefinisikan analisis eksternal sebagai suatu proses yang dilakukan oleh perencana strategi untuk memantau sektor lingkungan dalam menentukan peluang (opportunity) dan ancaman (threat) bagi perusahaan.

1) Lingkungan mikro atau lingkungan luar dekat atau tugas.

2) Lingkungan makro atau lingkungan luar jauh

Menurut Wheelen dan Hunger (1996 : 17), dalam tahap implementasi strategi, manajemen mewujudkan strategi dan kebijakan dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran, dan prosedur.

12. TEORI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Menurut Brundtland Report dari PBB [1987], pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.

(19)

kondisi berkelanjutan (sustainable). Atau hubungan ketiganya dapat dilihat pada gambar berikut ini :

( Gambar I )

Pembangunan berkelanjutan adalah suatu cara pandang mengenai kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana dalam kerangka peningkatan kesejahteraan, kualitas kehidupan dan lingkungan umat manusia tanpa mengurangi akses dan kesempatan kepada generasi yang akan datang untuk menikmati dan memanfaatkannya (Budimanta, 2005)

(20)

BAB III

KONDISI FAKTUAL

13. SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber daya manusia yang menjalankan sinergitas polisional ini sangat minim sekali. Di polres Ciamis unit yang bertugas untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan Tindak Pidana lingkungan hidup ini dilakukan oleh Unit II (unit TIPIDTER) Satuan Reserse Kriminal Polres Ciamis yang dikepalai oleh seorang Kanit (kepala unit) dan beranggotakan 8 (delapan) personil.

(21)

NO. SAT

RESKRIM JUMLAH SDH DIKJUR BLM DIKJUR KET

1. Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis ini secara spesifik oleh negara dan hanya bersumber dari anggaran di masing-masing instansi. Misalkan Polres Ciamis menindaklanjuti laporan/ pengaduan terkait tindak pidana lingkungan hidup ini maka dana lidik/ sidik perkara akan di ambil dari DIPA (daftar isian dan penggunaan anggaran) Satuan Reserse Kriminal Polres Ciamis yang pada tahun 2016 ini sejumlah Rp 815.000.000,- (delapan ratus lima belas juta rupiah) yang peruntukkannya untuk tindak pidana umum sebesar Rp 402.000.000,- (empat ratus dua juta rupiah) dan untuk tindak pidana korupsi sebesar Rp 412.000.000,-(empat ratus dua belas juta rupiah).

Sedangkan pada BPLH Kabupaten Ciamis sumber angarannya dari APBD Kabupaten Ciamis. Terlihat pada hasil laporan SPM (standar pelayanan

(22)

minimal) BPLH Kabupaten Ciamis pada Tahun 2014 terdapat anggaran sebesar Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) diperuntukan dalam kegiatan pelayanan laporan/pengaduan masyarakat terkait adanya dugaan penemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup dan sebesar Rp 80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah) diperuntukan dalam kegiatan pelayanan pencegahan pencemaran air.

15. SARANA DAN PRASARANA

Sarana dan prasarana yang menunjang sinergitas polisional ini sangat terbatas. Di BPLHD Kabupaten Ciamis contohnya belum terakreditasinya laboratorium lingkungan hidup. Hal ini berdampak bahwa hasil laboratorium yang dikeluarkan oleh BPLHD Kabupaten Ciamis harus dilakukan uji ulang dan uji banding di laboratorium yang mempunyai akreditasi di bidang penelitian terhadap pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup.

16. METODE

Metode yang digunakan dalam hal sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis ini masih bersifat kordinasi. Dimana antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis belum pernah melakukan rapat sebagai kelompok kerja (pokja) terkait permasalahan lingkungan hidup diwilayah Kabupaten Ciamis. Hal ini dikarenakan PPNS dan PPLH di BPLHD Kabupaten Ciamis tidak tersedia, yang ada hanya Satuan Polisi Pamong Praja sebagai penegak peraturan daerah Kabupaten Ciamis yang tidak bisa melakukan penegakan terhadap Undang Undang Lingkungan Hidup . Jadi kordinasi masalah penegakan hukum lingkungan dari BPLHD selaku pengendali dan pengawas dilapangan ke pihak Polres Ciamis selaku penyidik tunggal sesuai KUHAP tidak berjalan sebegaimana mestinya. Dan merujuk pada pasal 3 UU No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia ayat :

(23)

b. penyidik pegawai negeri sipil; dan/atau

c. bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.

(2) Pengemban fungsi kepolisian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, b, dan c,melaksanakan fungsi kepolisian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukumnya masing-masing.

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

17. FAKTOR INTERNAL

A. Kekuatan

(24)

1) Kapolres Ciamis memiliki komitmen yang kuat untuk menangani TP Lingkungan.

2) Personil Polres Ciamis dituntut melaksanakan penyelidikan dan penyidikan secara optimal.

3) Polres Ciamis telah melakukan kordinasi dengan BPLHD Kabupaten Ciamis terkait penyamaan persepsi dalam menangani tindak pidana lingkungan hidup berupa pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup. Dan hasilnya akan dibuatkan MOU (memorandum of understanding) antara Polres Ciamis dengan Pemerintah daerah Kabupaten Ciamis terkait penangan tindak pidana lingkungan hidup.

4) Polres Ciamis telah berkordinasi dengan Bagian Perencanaan (Bagren) Polres Ciamis terkait DIPA (daftar isian penggunaan anggaran) yang menunjang penyelidikan dan penyidikan tindak pidana Lingkungan hidup di wilayah hukum Polres Ciamis.

5) BPLHD Kabupaten Ciamis telah mengajukan rekomendasi kepada Kepala BKD (badan kepegawaian daerah) dan Kepala Dinas Keuangan terkait permintaan terisinya jabatan fungsional serta tunjangan jabatannya di BPLH Kabupaten Ciamis yaitu 2 (dua) orang PPNS bidang lingkungan hidup yang telah mengikuti kejuruan atau pelatihan tentang lingkungan hidup dan 2 (dua) orang PPLHD (pejabat pengawas lingkungan hidup daerah).

6) Adanya pengawasan melekat yang intensif terhadap penyidik baik dari peran wasidik (pengawas penyidik) maupun dari atasan penyidik serta dari peran Sie Was (seksi pengawasan) serta Sie Propam.

B. Kelemahan

Yang menjadi kelemahan dalam pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLH Kabupaten Ciamis antara lain: 1) Jumlah personil Sat Reskrim Polres Ciamis masih kurang memadai,

khususnya di unit Tipidter selaku pengamban program sinergitas polisional ini.

(25)

3) Polres Ciamis belum mempunyai SOP (standar oprasional prosedur) dalam hal pelaksanaan penegakan hukum tindak pidana lingkungan hidup ini. Dikarenakan Polres Ciamis belum pernah menangani perkara tindak pidana lingkungan hidup ini.

4) Penyelidik dan penyidik yang ada di Polres Ciamis belum ada yang mengikuti pendidikan kejuruan tindak pidana lingkungan hidup, sehingga penerapan hukum terhadap unsur-unsur tindak pidana lingkungan hidup masih belum maksimal.

5) BPLHD Kabupaten Ciamis belum mempunyai laboratorium yang terakreditasi dan masih terbatasnya anggaran untuk uji laboratorium dan uji banding sehingga dalam pelaksanaanya terbentur masalah akreditasi dan hasil laboratorium belum bisa dipergunakan sebagai hasil akhir pengujian terhadap penncemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup.

18. FAKTOR EKSTERNAL

A. Peluang

Adapun peluang yang ada dalam pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis antara lain: 1) Adanya kesamaan persepsi dan tujuan antara Polres Ciamis

dengan BPLHD Kabupaten Ciamis terkait cara bertindak dalam menangani permasalahan pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan di wilayah Kabupaten Ciamis. Sehingga mungkin bisa dimanfaatkan dengan baik apabila ada sarana yang menunjang misalkan POKJA (kelompok kerja) yang terbentuk dengan dasar sinergi polisional ini.

2) Adanya rencana pembuatan MOU antara Polres Ciamis dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis dalam hal ini BPLHD Kabupaten Ciamis terkait penanganan tindak pidana pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup.

3) Tingginya tuntutan serta harapan masyarakat terhadap Polres Ciamis terkait kepastian hukum TP Lingkungan yang bersinergi dengan BPLHD Kabupaten Ciamis.

(26)

5) Keterbukaan informasi publik lewat media massa yang juga menjadi sumber informasi bagi masyarakat terkait sosialisasi terhadap tindak pidana lingkungan hidup.

B. Kendala

Yang menjadi kendala dalam pelaksanaan sinergitas polisional antara Polres Ciamis denga n BPLHD Kabupaten Ciamis antara lain:

1) Terbatasnya personil yang mengawaki sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis terutama tidak adanya pegawai di BPLHD yang berkedudukan sebagai PPNS dan PPLHD di BPLHD Kabupaten Ciamis.

2) Tidak tersedianya anggaran yang menunjang pelaksanaan sinegritas polisional ini. Sehingga sinergitas ini masih menunggu petunjuk lanjut dari Kepala Daerah Kabupaten Ciamis dalam hal alokasi anggaran dari APBD untuk kegiatan yang dimaksud.

3) Belum pernah ada perkara terkait pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup yang pernah dilakukan penyidikan oleh Polres Ciamis dan masuk sampai adanya putusan pengadilan terkait tindak pidana lingkungan hidup di wilayah hukum Polres Ciamis

BAB V

KONDISI IDEAL

19. SUMBER DAYA MANUSIA

Kodisi yang diharapkan dalam sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLH Kabupaten Ciamis terkait sumber daya manusia setidaknya tersedia pegawai yang berperan sebagai PPNS (penyidik pegawai negeri sipil) sebanyak 2 (dua) orang dan PPLHD (pejabat pengawas lingkungan hidup daerah) sebanyak 2 (dua) orang. Sehingga kordinasi dan pengawasan terkait tindak pidana lingkungan hidup antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis dapat dilaksanakan dengan baik dan cepat serta tetap sasaran.

(27)

20. ANGGARAN

Kondisi yang diharapkan terkait dengan anggaran yang menunjang pelaksanaan sinergitas anatra Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis setidaknya pagu anggaran terkait sinergitas ini ada dalam APBD Kabupaten Ciamis, sehingga tidak hanya diatur dalam masing-masing instansi sebagaimana kondisi yang ada pada saat ini. Hal ini menyangkut anggaran terkait kegiatan mulai dari tahap sosialisasi terhadap pencegahan dari pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup, penerimaan laporan dan atau pengaduan masyarakat terkait TP Lingkungan hidup, kemudian kegiatan pengecekan laboratorium dan menyajikan datanya untuk dibahas bersama dengan PPNS terkait (PPNS bidang lingkungan hidup dan PPLH) serta penyidik Polri dalam hal ini Unit II TIPIDTER satuan reserse kriminial Polres Ciamis. Dan apabila dipastikan merusak dan memenuhi unsur tindak pidana lingkungan hidup maka dilakukan proses lidik sidik terhadap pelaku usaha atau instansi tertentu yang diduga melanggar atau menyalahi aturan mengenai lingkungan hidup.

21. SARANA DAN PRASARANA

Demikian juga untuk sarana dan prasarana yang menunjang sinergitas polisional ini anatra lain:

A. BPLH Kabupaten Ciamis mempunyai laboratorium yang digunakan oleh BPLH Kabupaten Ciamis menyandang status terakreditasi dan tenaga ahli yang mumpuni, sehingga hasil laboratorium yang dijadikan dasar dalam pengecekan atas laporan dan atau pengaduan masyarakat terkait pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup dapat tersaji dengan baik dan akurat.

B. Mempunyai sarana berupa ruang pertemuan khusus yang disediakan di Polres atau di BPLHD Kabupaten Ciamis sehingga ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat mengolah atau mengkaji laporan dan atau pengaduan masyarakat yang baru didapat dan atau sudah ada hasil pengecekan laboratoriumnya.

22. METODE

(28)

A. membentuk suatu POKJA (kelompok kerja) yang diatur dalam MOU (memorandum of understanding) antara PPNS dan PPLHD Kabupaten Ciamis dengan penyidik Polres Ciamis tentang waktu pertemuan, anggaran, serta jumlah pokja itu sendiri, sehingga laporan dan atau pengaduan yang diterima oleh BPLHD secara tepat dapat diselesaikan melalui sanksi administrasi, sanksi perdata dan sanksi pidana. Dan kelompok kerja inipun yang akan mengkaji unsur-unsur yang memenuhi TP lingkungan hidup ini.

B. Membuat SOP (standar oprasional prosedur) terhadap penanganan TP lingkungan hidup berupa pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup yang sesuai juga dengan program pemerintah terkait pembangunan berkelanjutan.

BAB VI

PEMECAHAN MASALAH

23. VISI DAN MISI A. VISI

”DENGAN SINERGITAS POLISIONAL ANTARA POLRES CIAMIS DENGAN BPLHD KABUPATEN CIAMIS KITA TINGKATKAN KEPASTIAN HUKUM TINDAK PIDANA LINGKUNGAN YANG MENUNJANG PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN”

B. MISI

1) Menjadikan penyidik Polres Ciamis mahir dan mampu serta menguasai TP lingkungan hidup dengan dibantu oleh PPNS dan PPLHD Kabupaten Ciamis sesuai UU No 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia pasal 3 ayat (1) dan (2). 2) Memberikan kepastian hukum mengenai TP lingkungan hidup yang

terjadi di wilayah hukum Polres Ciamis yang menunjang program pembangunan berkelanjutan.

24. TUJUAN

Yang menjadi tujuan sinergitas polisional ini antara lain:

(29)

B. Adanya anggaran yang menunjang sinergitas polisional ini agar penyidik Polres Ciamis dan PPNS serta PPLHD Kabupaten Ciamis mampu melaksanakan tugas dengan baik dan maksimal dalam melaksanakan penegakan hukum TP lingkungan hidup ini.

C. Adanya sarana dan prasarana yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis guna menunjang pelaksanaan sinergitas polisional ini.

D. Adanya kesamaan metode atau cara bertindak yang digunakan dalam penanganan TP Lingkungan hidup yang dilakukan oleh pelaku usaha di Kabupaten Ciamis.

25. SASARAN

Yang menjadi sasaran sinegritas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis ini antara lain:

A. Sumber daya manusia masing-masing instansi yaitu penyidik Polres Ciamis dan PPNS serta PPLHD Kabupatren Ciamis yang mampu melaksanakan penegakan hukum TP lingkungan hidup ini.

B. Perencanaan aspek anggaran yang berkaitan tentang proses penelitian (pengambilan sample) yang ditimbulkan oleh pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup dan anggaran penyelidikan serta penyidikan kasus tindak pidana lingkungan hidup tahun 2016 ini. Dan anggaran mengenai tunjangan atau honor personil yang terlibat dalam pokja ini.

C. Sarana dan prasara yang mendukung keberlanjutan sinergitas polisional ini seperti bangunan atau ruang pertemuan, laboratorium yang memiliki akreditasi, dan kendaraan dinas yang menunjang pengambilan sample dari pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup yang dilakukan pelaku usaha di wilayah Kabupaten Ciamis ini.

D. Persamaan persepsi mengenai metode atau cara bertindak yang digunakan dalam penanganan sejak penerimaan laporan dan atau pengaduan terkait TP lingkungan hidup sampai dengan proses penyelidikan dan penyidikannya.

26. KEBIJAKAN

(30)

A. Melakukan inventarisasi terkait anggota reskrim selaku penyidik yang sudah melaksanakan pendidikan kejuruan tindak pidana lingkungan hidup untuk menempati posisi di unit II Tipidter (tindak pidana tertentu) yang akan menangani penyelidikan serta penyidikan tindak pidana lingkungan hidup.

B. Melakukan kordinasi dengan BPLHD agar segera mengisi atau menunjuk petugas PPNS dan PPLHD di BPLHD Kabupaten Ciamis. C. Melakukan kordinasi dengan bagian perencanaan dan bendahara

satuan terkait anggaran yang dapat digunakan dalam proses lidik sidik TP lingkungan hidup ini, dan bekerja sama dengan Dinas Keuangan untuk merumuskan tunjangan kinerja (honor) dalam pokja ini. Dan anggaran dalam proses pencegahan kerusakan atau pencemaran lingkungan hidup ini termasuk penelitian terhadap kegiatan pelaku usaha yang dimungkinkan merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup ini.

D. Membuat SOP (standar oprasional prosedur) terkait penanganan TP lingkungan hidup yang terjadi di wilayah Kabupaten Ciamis.

27. STRATEGI

A. Stategi Jangka Pendek

1) Melaksanakan pembinaan teknis terkait penanganan TP lingkungan hidup dengan mengundang narasumber dari satuan atas (Polda Jabar) dan BPLHD Provinsi Jabar terkait penanganan TP Lingkungan Hidup tersebut.

2) Melakukan pendataan terkait penyidik dan PPNS yang belum pernah mengikuti kejuruan ”Idik Tindak Pidana Lingkungan Hidup” di Pusdik Reskrim Megamendung dan mengajukan daftar nama-nama tersebut agar diikut sertakan dalam kejuruan tersebut.

3) Melakukan kordinasi dengan bagian perencanaa (bagren) Polres Ciamis dan Dinas Keuangan terkait anggran yang dapat digunakan dalam oprasionalisasi kegiatan sinergitas polisional ini.

4) Menyiapkan ruang sementara sebagai tempat kordinasi terkait masalah pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup ini. 5) Menggunakan fasilitas laboratorium yang ada untuk melakukan

(31)

understanding) terkait tindak pidana lingkungan hidup ini dari segi pencegahan, penanggulangan sampai dengan penegakan hukum lingkungan hidup.

7) Melakukan rapat bersama antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis terkait SOP (standar oprasional prosedur) penanganan tindak pidana lingkungan hidup.

B. Strategi Jangka Panjang

1) Mengajukan permintaan penambahan penyidik Polri yang memahami tentang Tindak Pidana Lingkungan Hidup sehingga mampu memaksimalkan proses penegakan hukum tindak pidana lingkungan hidup tersebut.

2) Mengajukan pemenuhan pegawai yang memenuhi syarat dan kompetensi sebagai PPNS dan PPLHD Kabupaten Ciamis.

3) Mengajukan anggaran yang mampu memenuhi kegitan sinergitas polisional ini dari proses pencegahan, penanggulangan, pengecekan sampel dilapangan sampai dengan proses penyelidikan dan penyidikan kasus tindak pidana lingkungan hidup dan tunjangan jabatannya.

4) Mengajukan MOU dengan pelaku usaha yang berpotensi melakukan kegiatan yang mencemarkan dan atau merusak lingkungan sekitar. Sehingga merekapun mempunyai kewajiban untuk menjaga lingkungan sekitar tempat dimana kegiatan pelaku usaha tersebut beroprasi.

5) Menggunakan media massa sebagai sarana sosialisasi untuk mencegah tindak pidana lingkungan hidup.

28. ACTION PLAN

A. Jangka Pendek

1) Mengajukan penambahan personil ke satuan atas (Polda Jabar) yang sudah mumpuni atau berpengalaman menangani tindak pidana lingkungan hidup.

2) Mengajukan anggaran dalam DIPA (daftar isian penggunaan anggraan) tahun 2016 untuk penggunaan dana penyelidikan dan penyidikan khusus untuk tindak pidana lingkungan hidup.

(32)

4) Membentuk pokja (kelompok kerja) yang bertugas membuat SOP (standard operation procedures) tentang penanganan dan penyelesaian tindak pidana lingkungan hidup yang mengacu kepada UU nomor 32 tahun 2009 tentang PPLH (perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup) dan peraturan pemerintah lainnya. 5) Melakukan pengawasan melekat terhadap penyidik yang ada di

kelompok kerja program sinergitas polisional antara Polres Ciamis dengan BPLHD Kabupaten Ciamis dengan menggunakan Sie Was dan Sie Propam serta mengoptimalkan peran Wasidik (pengawas penyidikan)

B. Jangka Menengah

1) Mengadakan pelatihan dan sosialisasi UU nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup kepada para anggota reskrim Polres Ciamis agar mengetahui dan memahami bagaimana teknis penanganan tindak pidana lingkungan hidup dengan mendatangkan narasumber dari satuan atas (Polda Jabar) dan dari BPLHD Provinsi Jawa Barat.

2) Memasukan pengajuan pendanaan khusus untuk kegiatan pemantauan terhadap pelaku usaha yang mengahsilan limbah dari proses usahanya baik berupa limbah padat maupun limbah cair dalam DIPA tahun 2016 dan mengajukan anggran patroli/ inspeksi mendadak bersama dengan BPLHD Kabupaten Ciamis dalam APBD Perubahan Kabutpaten Ciamis tahun 2016 ini.

3) Mengajukan fasilitas dan akreditasi laboratorium yang dikelola oleh BPLHD Kabupaten Ciamis terkait fasilitas dan akreditasi laboratorium yang masih minim saat ini.

4) Membuat MOU (memorandum of understanding) antara Polres Ciamis dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Ciamis tentang upaya pencegahan dan penyelesaian masalah lingkungan hidup yang menimbulkang pencemaran dan atau pengrusakan lingkungan hidup.

C. Jangka Panjang

(33)

tersebut sudah memiliki dasar atau pengetahuan penyidikan tindak pidana lingkungan hidup kepada satuan atas (Polda Jabar).

2) Merekomendasikan anggaran tahun 2017 agar mampu memenuhi kebutuhan penyidik dan PPNS serta PPLHD yang bersumber dari APBD (anggaran pendapatan belanja daerah).

3) Kelompok kerja merekomendasikan kepada Kepala Daerah Kabupaten Ciamis untuk menyediakan dan membantu pengadaan sarana dan prasarana yang menunjang pelaksanaan kegiatan sinergitas polisional ini. Baik di Polres maupun di kantor BPLHD kabupaten Ciamis.

4) Merencanakan pertemuan dan analisa evaluasi terhadap program-program yang sudah berjalan, sehingga dapat diketahui kekuatan (strenght) dan kelemahannya (weakness) dan setelah itu dapat dibuat rencana kerja yang sesuai dengan situasi dilapangan.

(34)
(35)

29. KESIMPULAN

Berdasarkan penulisan tersebut diatas, dapat diambil kesimpulan antara lain:

A. Sumber daya manusia terkait dengan sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis masih minim. Baik dari segi kuantitas di masing-masing instansi dan juga dari segi kualitas. Terbukti dari segi kuantitas anggota Polres Ciamis yang menguasai dan bertugas di bidang penegakan hukum lingkungan hanya sebanyak 8 (delapan) orang. Serta jumlah personil BPLHD Kabupaten Ciamis hanya 24 (dua puluh empat) orang dan dari 24 (dua puluh empat) orang tersebut tidak ada yang menjabat sebagai PPLHD dan PPNS. Dan dari segi kualitas penyidiknya belum ada yang pernah mengikuti kejuruan Tindak Pidana Lingkungan Hidup. Dan begitu pula di BPLHD Kabupaten Ciamis tidak ada yang pernah mengikuti diklat PPNS di Pusdik Reskrim Polri Megamendung.

B. Belum adanya angggaran untuk menunjang program sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis ini. Anggaran yang ada hanya untuk kegiatan pengecekan laboratorium terhadap pelaku usaha yang berpeluang untuk mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup sekitar.

Sedangkan utuk anggaran Polres Ciamis sendiri hanya untuk melakukan penyelidikan dan atau penyidikan terhadap tindak pidana lingkungan hidup. Tanpa ada biaya lainnya yang mengatur tentang program ini.

C. Sarana dan prasarana yang ada belum mumpuni untuk melaksanakan program sinergitas polisional ini, hal ini terlihat bahwa di Polres Ciamis dan kantor BPLHD Kabupaten Ciamis belum ada ruang kerja khusus untuk penetapan POKJA ini, dan masih belum ada status akreditasi di laboratorium pengujian yang ada di BPLHD Kabupaten Ciamis ini. D. Metode yang digunakan pada saat ini masih bersifat kordinasi tanpa

ada MOU (memorandum of understanding) dan SOP (standard oprating prosedure) yang disepakati bersama antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis, sehingga pelaksanaannya masih bersifat sektoral dan kurang komunikatif.

(36)

Dengan kesimpulan tersebut diatas maka penulis membuat rekomendasi antara lain:

A. Dengan tingginnya komitmen Kapolres Ciamis untuk melakukan penindakan terhadap tindak pidana lingkungan hidup ini maka penulis merekomendasikan penambahan personil yang berkompeten di bidang penegakan hukum lingkungan bagi Satuan Reserse Kriminal Polres Ciamis, serta melaksanakan pelatihan-pelatihan tentang tindak pidana lingkungan hidup agar penyidik lebih profesional dalam melaksanakan tugas pokoknya.

Perlu dibuatkan pengajuan terkait dengan pengisian terhadap jabatan PPNS dan PPLHD secara struktural dan fungsional pada BPLHD Kabupaten Ciamis.

Serta perlunya melakukan pengawasan yang lebih lagi terhadap program sinergitas ini dengan melibatkan kontrol sosial masyarakat yang lain selain dari internal Kepolisian itu sendiri guna memastikan bahwa program sinergitas ini menunjang program pembangunan berkelanjutan.

B. Merekomendasikan kepada pimpinan agar diajukan anggaran terkait program sinergitas polisional antara Polres Ciamis dan BPLHD Kabupaten Ciamis diantaranya dana untuk melakukan patroli bersama, rapat analisa dan evaluasi rutin, pembinaan PPNS dan PPLHD, serta sosialisasi terhadap pelaku usaha agar tidak melakukan pengrusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup di Kabupaten Ciamis.

C. Memberikan masukan dan saran kepada pimpinan terkait penambahan dan perbaikan fasiltas pendukung program sinergitas ini. Misalkan ruang khusus gelar dan rapat analisa evaluasi bersama, kendaraan yang digunakan untuk patroli bersama, serta kelengkapan laboratorium yang terakreditasi oleh Kementrian Lingkungan Hidup.

Gambar

TABEL 1 DATA PERSONIL

Referensi

Dokumen terkait

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

Surat Direktur Jenderal Anggaran Menteri Keuangan Nomor SP DIPA-018.09.2.567460/2016 tanggal 07 Desember 2015 Tentang Pengesahan Daftar Isian Pengguna Anggaran

DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (DIPA) INDUK KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK

Dokumen pelaksanaan anggaran untuk APBN dikenal dengan istilah Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Kementerian/Lembaga