TERAPAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)
Oleh: Jalaluddin Rumi Prasad*
(*Ikatan Geografiwan Universitas Gadjah Mada)
I. Management Support System (DSS dan EIS)
Abad 21 adalah abad di mana pemodelan interaksi, interelasi, dan interdependensi dalam sebuah fenomena di dunia nyata sangat bergantung pada teknologi informasi/sistem informasi. Dengan sistem informasi pembuat keputusan terhadap berbagai fenomena yang dihadapi dapat membuat perencanaan, distribusi, mekanisme produksi, hingga hubungan antar organisasi dilakukan secara lebih akurat. Sistem informasi juga dapat membantu penyelesaian masalah dan dapat memberikan peluang untuk meraih keunggulan bersaing secara tepat waktu dan tepat lokasi.
Tabel 1.
Fokus sistem informasi berdasarkan tipe
Type of Information System Focus
Expert Systems Knowledge – from experts
Decision Support Systems Decision – interactive support
Executive Information Systems Information – for executives
Management Information Systems Information – for managerial end users
Transaction Processing Systems Data – from business operations
Sistem informasi memiliki fokus terhadap fungsinya masing-masing (tabel 1). Sistem informasi yang digunakan akan berbeda disetiap manajemen, fungsi, dan tanggung jawab terhadap organisasi. Sebab, sebagai end-user (pemakai informasi) harus mempunyai pengetahuian yang spesifik bagaimana sistem informasi mempengaruhi fungsional-fungsional organisasi. Misalnya, manajer distribusi dan pemasaran sebuah produk harus mengetahui bagaimana sistem informasi digunakan dalam aktivitas distribusi dan pemasaran. Sehingga informasi yang diperoleh dari sistem informasi pemasaran sangat membantu dalam pengambilan keputusannya.
Gambar diatas memberikan gambaran bahwa dari setiap sistem informasi akan berbeda, mengikuti hirarki manajemen organisasi berdasar fungsi dan peran manajemen masing-masing di sebuah level sistem. Pertama, Support Operational System, mendukung level operasional bisnis dan level operasional manajemen, terdiri dari tipe Enterprise Collaboration Systems, Process Control System, Trancaction Processing Systems. Sistem ini melayani manajer operasional dengan cara mencatat aktivitas transaksi di dalam organisasi. Biasanya data yang tersedia harus dengan mudah didapat, akurat, dan belum kadaluarsa, contoh : Persediaan bahan baku. Kedua, Support Management System, mendukung level taktikal manajemen, dan level stategik manajemen, terdiri dari management Information Systems, Decision Support Systems, Executive Information Systems. Sistem ini melayani manajer taktikal dan eksekutif dengan cara memonitor, mengendalikan, mengambil keputusan. Data yang didapat berupa data berkala mengenai suatu aktivitas, contoh : Penentuan harga jual produk.
Pada tabel (tabel 2) di bawah diperlihatkan spesifik tipe-tipe sistem informasi yang dihubungkan pada tiap-tiap level pengguna (user) di dalam organisasi. Organisasi memiliki Executive Information Systems (EIS) pada level stratejik, Management Information Systems (MIS) dan Decision Support Systems (DSS) pada level manajemen, Enterprise Collaboration Systems (ECS) pada operational level, dan Transaction Processing Systems (TPS) pada level operasional bisnis. Tipe informasi ini akan secara khusus melayani setiap fungsi masing-masing area. Karena itu tipe sistem yang didapat di dalam organisasi dirancang untuk pekerja, manajer di setiap level dan informasi fungsional seperti sales, marketing, manufacturing, keuangan, akuntansi, dan sumber daya manusia.
Tabel 2.
Pengguna dan sistem pada tipe sistem informasi
Tip
e Input Proses output User
EIS Pengumpulan data; eksternal,
internal Grafik, Simulasi, interaktif Proyeksi jawaban pertanyaan Manajer senior
DSS Sejumlah data untuk dianalisis; model2 analitik dan alat2 bantu analisis
Interaktif, simulasi,
analisis Laporan2 khusus, analisis keputusan, jawaban pertanyaan
PCS Spesifikasi desain robotic Pemodelan, simulasi Model-model grafis Staf ahli, staf teknis
Dengan mengerti komponen dan filosofis dari DSS memungkinkan untuk membicarakan lebih rinci apa yang dimaksud dengan decision support. DSS dirancang untuk mendukung masalah semistruktur dan analisa masalah tidak terstruktur. Masalah tidak terstruktur adalah cerita tidak rutin, dimana tidak ada algoritma (rumus) untuk pemecahan masalah, sehingga tidak dapat dipecahkan dengan suatu persamaan sedangkan masalah semistruktur berbagi antara terstruktur dengan masalah tidak terstruktur. Masalah terstruktur adalah berulang-ulang dan rutin untuk algoritma yang diketahui dan akan mendukung pemecahan masalah.
Saat ini informasi dapat dikumpulkan sebanyak mungkin melalui berbagai media yang dimiliki, namun belum tentu dapat dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan pada waktu yang tepat secara efisien dan efektif. Kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan cermat akan menjadi kunci keberhasilan dalam persaingan global di waktu mendatang, memiliki banyak informasi saja tidak cukup, bila tidak mampu meramunya dengan cepat menjadi alternatif-alternatif terbaik untuk pengambilan keputusan. Perkembangan teknologi informasi telah memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara lebih cepat dan cermat.
Decision Support Systems berfokus pada pengambilan keputusan dan memungkinkan terjadinya komunikasi dan koordinasi antara berbagai bidang maupun tingkat manajemen. Adapun dasar-dasar mengenai pengambilan keputusan dapat diuraikan sebagai berikut:
Pengambilan keputusan di dalam suatu organisasi merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi yang terus dari keseluruhan organisasi.
Pendekatan dapat dilakukan melalui yang bersifat individual/kelompok, sentralisasi/desentralisasi, partisipasi/tidak partisipasi, demokrasi/konsensus.
Persoalan pengambilan keputusan pada dasarnya adalah bentuk pemilihan dari berbagai alternatif tindakan yang mungkin dipilih melalui mekanisme tertentu untuk menghasilkan keputusan yang terbaik.
Penyusunan model keputusan adalah suatu cara untuk mengembangkan hubungan-hubungan logika yang mendasari persoalan keputusan ke dalam suatu model matematis yang mencerminkan hubungan yang terjadi antara faktor-faktor yang terlibat.
Pada dasarnya DSS merupakan pengembangan lebih lanjut dari Sistem informasi manajemen terkomputerisasi (Computerized management Information System) yang dirancang sedemikian rupa seingga bersifat interaktif dengan pemakainya. Interaktif dimaksudkan untuk memudahkan integrasi antara berbagai komponen dalam proses pengambilan keputusan, seperti prosedur, kebijakan, teknik analisis, serta pengalaman dan wawasan manajerial guna membentuk suatu kerangka keputusan yang bersifat fleksibel.
seluruh tingkatan manajemen, pendekatan easy to use. DSS yang efektif adalah kemudahannya untuk digunakan dan memungkinkan pemakai memilih pendekatan-pendekatan baru dalam membahas masalah, kemampuan sistem beradaptasi secara cepat dapat menghadapi masalah baru dan menangani dengan mengadaptasi perubahan yang terjadi.
Pada Suatu DSS terdapat 3 komponen dasar yang utama untuk menentukan kapablitas teknis DSS yaitu :
User Interface Management (perangkat lunak penyelenggara dialog), → Software yang memungkinkan user menggunakan database dan membuat model untuk mengolah databasenya ataupun formula yang sesuai dengan keinginan user.
Model Management (manajemen basis model), → Suatu model adalah abstrak representasi yang menggambarkan komponen atau hubungan dari fenomena. Suatu model dapat menjadi phisic seperti model pesawat, suatu model matematika (seperti suatu persamaan) atau suatu model verbal (seperti penjabaran prosedure untuk menulis suatu pesanan).
Data Management (manajemen basis data), → DSS database adalah koleksi dari database saat ini dan data historis dari beberapa aplikasi di dalam organisasi atau kelompok untuk mudah diakses dengan aplikasi yang sesuai. Kemampuan yang dibutuhkan dari manajemen database sebagai berikut:
- Kemampuan untuk mengkombinasikan berbagai variasi data melalui pengambilan dan ekstraksi data
- Kemampuan untuk menambahkan sumber data secara cepat dan mudah
- Kemampuan untuk menggambarkan sruktur data logikal sesuai dengan pengertian pemakai sehingga pemakai mengetahui apa yang tersedia dan dapat menentukan kebutuhan penambahan dan pengurangan.
- Kemampuan untuk menangani data secara personil sehingga pemakai dapat mencoba berbagai alternatif pertimbangan personil
- Kemampuan untuk mengelola berbagai variasi data
I.2. Excecutive Information System (EIS)
EIS difokuskan terhadap penyediaan informasi sesuai dengan spesifikasi end-user, status access terhadap penggunaan time series data untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) dan penggunaan secara terintegrasi dari informasi eksternal untuk memberikan suatu konteks dari model dunia yang sebenarnya terhadap data internal organisasi. Penerapan EIS yang berhasil akan meminimalkan penggunaan laporan-laporan dalam bentuk hard-copy, namun tetap memberikan informasi-informasi yang paling mutakhir kepada eksekutif. Adapun komponen utama dari EIS, antara lain:
Sarana pembentukan keputusan (DSS), yang dapat membantu eksekutif dalam menjelaskan penyimpangan yang terjadi, membentuk suatu model, melihat hal yang bersifat subyektif.
Sarana sistem permintaan secara multi dimensi dan time series, sehingga mempermudah pembacaan informasi dan pengambilan keputusan karena informasi sudah dalam bentuk Matriks dan per periodik waktu.
Secara sederhana, EIS merupakan alat bantu pengambilan keputusan bagi level eksekutif berdasarkan data yang diolah/analisis. Konsep-konsep dasar manajemen EIS;
Management by exception merupakan perbandingan antara kinerja yang dianggarkan dan kinerja aktual, EIS bisa mengidentifikasikan pengecualian secara otomatis yang membuatnya diperhatikan oleh eksekutif.
Peran utama EIS adalah membuat sintesa/sari dari informasi bervolume besar, sehingga menghasilkan suatu gambaran/model mekanisme dari operasional perusahaan.
CSFs merupakan hasil analisis manajemen terhadap tujuan tertentu yang diajukan dalam bentuk penetapan elemen kritis agar tujuan tersebut dapat dicapai secara efektif.
Banyak faktor yang dibutuhkan untuk menentukan keberhasilan dari EIS, diantaranya komitmen dari pemangku kebijakan, sumberdaya manusia, manajemen data, dan lain sebagainya. Faktor-faktor penentu keberhasilan dari EIS;
Sponsor eksekutif yang mengerti dan berkomitmen, Usaha EIS yang paling berhasil adalah yang pemakai utamanya adalah puncak eksekutif.
Sponsor operasi bekerjasama dengan eksekutif pemakai dan spesialis informasi untuk memastikan bahwa pekerjaan itu terlaksana.
Staf jasa informasi yang sesuai, harus tersedia staf yang mengerti teknologi informasi dan juga mengerti cara eksekutif menggunakan sistem ini.
Teknologi informasi yang sesuai, penerapan EIS tidak berlebihan dalam memasukan perangkat keras/lunak yang tidak perlu, sistem itu harus sesederhana mungkin dan harus memberikan tepat seperti yang eksekutif inginkan.
Manajemen data, eksekutif harus mampu mengetahui seberapa mutakhir data, dan mampu mengikuti analisis data.
Kaitan yang jelas dengan tujuan bisnis, sebagian besar EIS yang berhasil dirancang utnuk memecahkan masalah-masalah spesifik atau memenui kebutuhan yang dapat ditangani oleh teknologi informasi.
KESIMPULAN
pemantauan terhadap perencanaan strategis perusahaan maupun untuk membantu dalam melakukan perencanaan strategis di masa yang akan datang.
Tabel 3.
Perbedaan cakupan dimensi pada DSS dan MIS
Dimensi DSS MIS
Philosophy Provide integrated tools, data, models, and
language to users Provide structured information to end users
System analysis Establish what tool are used in the decision
process Identify information requirements
Design Iteratve process Deliver system based on frozen requirements
II. Pengembangan Aplikasi SIG sebagai DSS
Mencermati berbagai fenomena data dan informasi bereferensi geografis, Masyarakat terdiri dari dua kelompok: (1) para pengambil keputusan publik yang akhirnya mempertimbangkan dan menyetujui sebuah konsep/model penerapan dalam hal ini pihak pemerintah, dan (2) masyarakat biasa, baik yang terorganisasi dari berbagai kelompok keilmuwan maupun pada tingkatan swasta. Dalam penanganan data bereferensi geografis, saat ini Sistem Informasi Geografi (SIG) semakin banyak digunakan baik di sektor publik maupun swasta untuk membantu proses pemetaan secara spasial dan pengelolaan basis datanya.
Namun ada beberapa persepsi, bahwa SIG hanya digunakan untuk penyimpanan data dan output grafis dalam bentuk peta. Mungkin ada alasan yang berbeda untuk pernyataan tersebut karena belum banyak yang memahami manfaat dari penggunaan sistem informasi geografis selain untuk pemetaan dan penanganan basis data spasial semata. Sistem komersial yang saat ini beredar tidak memiliki alat pemodelan yang memadai, sehingga sulit untuk digunakan kecuali pengguna memiliki akses ke perangkat lunak tambahan yang memungkinkan mereka untuk menggunakan alat (software) ini, meskipun dalam kasus tertentu terdapat integrasi modul SIG untuk menjadi sistem pendukung pengambilan keputusan (Decision Support System - DSS) masih bermasalah dalam penerapannya. Hal ini juga didukung oleh kenyataan bahwa sistem saat ini tidak benar-benar mendukung kebutuhan pengguna atau mendukung hanya bagian dari proses pengembangan rencana.
II.1. Spatial Decision Support System (SDSS)
DSS merupakan sebuah sistem berbasis komputer yang mengintegrasikan sumber data dengan pemodelan dan alat-alat analisis, memfasilitasi pengembangan, analisis, dan memeringkatkan berbagai alternatif dan membantu dalam pengelolaan ketidakpastian dapat meningkatkan pemahaman masalah secara keseluruhan. Sehingga, berurusan dengan masalah tidak jelas atau tidak terstruktur dibuat lebih efisien dengan cara mengeksplorasi dengan pengambil keputusan konsekuensi dari tindakan tertentu, merubah sebuah pemecahan masalah menjadi suatu masalah pemilihan. DSS memungkinkan pendekatan terstruktur dan sistematis, dengan memecah masalah menjadi serangkaian tindakan dinamis dan siklus untuk menghasilkan proses pemecahan masalah yang efektif dan transparan.
Pemodelan dalam proses pengambilan keputusan diperlukan karena proses pembuatan suatu keputusan bukanlah proses yang mudah dan harus melalui beberapa tahap untuk mendapatkan keputusan yang tepat. Pengelolaan SDA berkelanjutan membutuhkan pemikiran ulang tentang bagaimana pengambil keputusan bernegosiasi dan mengatur pemanfaatan SDA. Pengelolaan SDA tergantung pada tindakan informasi dari pengguna individu dan pengelola dari beberapa sumber daya. Semakin dikenalnya keterkaitan komprehensif antara subsistem alam, ekonomi dan manusia membuat sistem lingkungan pengelolaan berkelanjutan yang lebih kompleks.
Tujuan, perangkat kebijakan dan nilai-nilai dari kelompok (pemerintah, perencana dan masyarakat) yang berbeda beragam dan sering ada distribusi yang tidak merata dalam kekuasaan, yang menyebabkan konflik yangmenghambat pembangunan berkelanjutan. Berbagai isu dan masalah yang memerlukan keputusan oleh lembaga pemerintah atau swasta memunculkan aneka ragam solusi dalam hal metodologi dan kombinasi alat yang spesifik untuk memecahkan masalah secara tepat.
DSS untuk Pengelolaan SDA dirancang untuk mendukung masalah keputusan terdepan dan memaksimalkan efektivitas tujuan pengelolaan lingkungan. Perangkat ini biasanya terdiri dari berbagai berpasangan lingkungan dan model sosial-ekonomi, database dan perangkat penilaian yang terintegrasi di bawah Graphic User Interface (GUI) dan sering didukung oleh perangkat SIG. Dimensi spasial sangat penting karena mempromosikan data dan model integrasi melalui referensi spasial umum dan membuat interface lebih intuitif. Untuk alasan ini, suatu DSS sering menjadi Spasial DSS, dengan mengintegrasikan fungsi spasial atau penghubung dengan perangkat SIG yang ada.
SDSS membantu tercapainya pengelolaan berkelanjutan SDA ketika dirancang dengan baik dan menjadi alat yang berguna bagi para pembuat keputusan, "memungkinkan penggunaan yang lebih efektif dan kolektif dari informasi dalam menangani pertanyaan yang kompleks dan sering kurang terstruktur". Bahkan, ini ada usulan bahwa praktek yang efektif pengelolaan ekosistem tidak memungkinkan tanpa bantuan SDSS yang canggih memadai.
peningkatan aliran material lain di bidang pengelolaan SDA merupakan keputusan masyarakat. Tujuan pengelolaan menggambarkan keadaan yang diinginkan (atau skenario masa depan), yang harus dicapai untuk memenuhi tujuan legislatif atau lainnya. Para pengambil keputusan dapat berinteraksi dengan sistem dan membandingkan situasi negara/hadir saat ini dengan keadaan yang diinginkan (diproyeksikan) yang diberikan oleh tujuan pengelolaan. Beberapa tindakan dapat diturunkan untuk menganalisis bagaimana untuk mencapai sasaran (indikator). Proyeksi iklim, ekonomi agro dan perubahan demografis harus dipandang sebagai pengaruh penting. Atau, SDSS dapat digunakan untuk menilai dampak dari keputusan pengelolaan tertentu (misalnya perluasan kegiatan kehutanan di daerah tertentu) atau dampak perubahan iklim terhadap lingkungan. Dalam kasus keputusan pengelolaan yang baru, skenario mewakili perkembangan masa depan/ perubahan dapat dinilai dan dibandingkan dengan situasi saat ini dan/ atau terhadap tindakan yang berkelanjutan.
Penggunaan aplikasi SIG dalam rangka membantu pengambilan keputusan di Indonesia telah banyak digunakan di berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta (konsultan) seperti penyusunan rencana tata ruang wilayah dan kota maupun pada pembuatan program aplikasi berbasis komputer yang dilakukan oleh lembaga pemerintah. Hal ini akan mempermudah para pengambil kebijakan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar untuk melakukan survei dan observasi lapangan secara langsung. Sistem yang terkoneksi secara online akan memungkinkan pengguna berinteraksi dengan pengambil kebijakan baik antara staf dengan pimpinannya maupun interaksi dengan pengguna (masyarakat) yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi stakeholder sebelum mengambil keputusan yang tepat sasaran.
II.2. Contoh penerapan
Negara Bagian Victoria, Australia, beberapa lembaga yang bergerak di bidang lingkungan bekerjasama dengan badan pemerintah menuju sebuah inisiatif bersama untuk mengembangkan Spatial Decision Support System (SDSS) untuk terintegrasinya seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan. Tujuan dari proyek tersebut adalah untuk mengembangkan dan menunjukkan bagaimana sebuah SDSS dapat membantu pelaksanaan kebijakan dan strategi pengelolaan yangberkelanjutan, serta pembangunan kembali kebijakan yang berkelanjutan, menggunakan Westernport dan DAS-nya sebagai studi kasus, dan penelitian tersebut selanjutnya diberi nama "The Westernport (WP) Project".
pengelola pengelolaan air di Eropa dan memfasilitasi pelaksanaan Water Framework Directive Uni Eropa.
III. Pengembangan Aplikasi SIG sebagai EIS Bersambung…
IV. Pengembangan Aplikasi SIG sebagai MIS Bersambung…
CATATAN PENULIS: “Jika anda menemukan karya ini dari internet; paper ini tidak saya rekomendasikan untuk menjadi rujukan karya ilmiah terpublikasi, karena penulis tidak mencantumkan rujukan pada setiap kutipannya. Silahkan di copas, tapi tidak menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis terhadap karya anda”
REFERENSI SEMENTARA
Buede, D. (1986). Structuring Value Attributes. Interfaces, 16(2), 52-62.
Forgionne, G. (1991). Decision technology systems: a vehicle to consolidate decision making support. Information. Processing and Management. 27(6), 679-797.
Forgionne, G. (2000). Decision-Making Support System Effectiveness: the Process to Outcome Link. Information, Knowledge, Systems Management, 2 (2000) , 169-188.
Forgionne, G. & Kohli, R. (2000). Management Support System Effectiveness: further Empirical Evidence. Journal of the Association for Information Systems, May issue, 1, article 3, 1-37.
Forgionne, G., Mora, M., Gupta, J. & Gelman, O. (2005). Decision-Making Support Systems. In: M. Khosrow-Pour (Ed). Encyclopedia of Information Science and Technology, Hershey, PA: Idea Group, 759-765.
Mora, M., Forgionne, G., Cervantes, F., Garrido, L., Gupta. J.N.D., & Gelman, O. (2005). Toward a Comprehensive Framework for the Design and Evaluation of Intelligent Decision-making Support Systems (i-DMSS). Journal of Decision Systems, 14(3), 321-344.
Simon, H.A., Dantzing, G., Hogart, R., Plott, C., Raiffa, H., Schelling, T., Shepsle, K., Thaler, R., Tversky, A. & Winter, S. (1987). Decision Making and Problem Solving. Interfaces, 17(5), 11-31.