NAMA : RAHMI RAMADHANI
NIM : 8136172068
KELAS : PENDIDIKAN MATEMATIKA -1, B-1/2013
TUGAS : HAND OUT, FILSAFAT ILMU
DOSEN PENGAMPU : PROF. DR. BELFERIK MANULLANG
KEBENARAN ESENSIAL DAN KUALITAS KEHIDUPAN (INDIVIDU, MASYARAKAT DAN BANGSA)
Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, karena dalam keberadaannya manusia memiliki potensi akal untuk
berpikir, memahami, menghayati sesuatu objek. Pada gilirannya manusia dengan eksistensi dirinya secara potensial untuk memperoleh dan
mengembangkan pengetahuan. Manusia mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang ia dapatkan dari potensi akalnya untuk kehidupan individunya, kehidupan bermasyarakatnya serta kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, seiring berkembangnya potensial akal yang dimiliki oleh manusia, manusia tidak lagi memikirkan esensi keberadaan dirinya ditengah-tengah kehidupan dunia ini. Manusia tidak lagi memahami dan menghayati kebenaran esensial dirinya saat Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini. Manusia lebih mengedepankan sikap praktis dan cepat, tidak lagi mengikuti pola serta alur kehidupan yang seharusnya.
Akibatnya, kehidupan muka bumi rusak dikarenakan sikap praktis-teknologis yang dianut oleh manusia. Manusia bukan hanya lari dari esensinya sebagai individu yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini,
namun juga esensinya sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, serta esensinya sebagai makhluk yang memiliki rasa cinta dan memiliki nilai kebangsaan.
A. Kualitas Kehidupan Individu
Kehidupan individu yang terjadi pada masa kini semakin jauh dari kebenaran esensi yang sesungguhnya. Kualitas kehidupan individu sudah dirusak oleh kesenjangan sosial dan ekonomi, yang mengakibatkan
dan individu yang miskin masih mengemis dan menikmati kehidupannya seakan ia berada di neraka. Kesenjangan sosial yang terjadi pada
kehidupan individu meluas hingga ke aspek-aspek yang lain, baik aspek hak mendapat pendidikan, hak mendapat perlindungan hukum, hak mendapat keadilan dan lain sebagainya. Diambil satu contoh,
kesenjangan sosial yang terjadi pada aspek pendidikan. Pada dunia pendidikan saat sekarang ini, masih banyak siswa miskin yang pintar, cerdas, kreatif, tetapi tidak mendapat hak pendidikan yang pantas untuk ia rasakan, karena disudutkan akan masalah ekonomi. Si siswa tidak dapat melanjutkan ke pendidikan tinggi, karena tidak sanggup membayar uang pembangunan, uang kuliah, dan dana-dana yang lain agar ia dapat mencicipi bangku kuliah. Sehingga, yang dapat ia lakukan hanyalah meninggalkan dunia pendidikan dan langsung terjun ke dunia kerja, yang seharusnya belum saatnya ia rasakan. Begitu amat disayangkan, masalah kesenjangan sosial yang terjadi di dunia pendidikan tersebut, hanya karna si siswa tidak mampu membayar dana kelengkapan, ia tidak dapat
mencicipi hak yang seharusnya ia dapatkan, padahal siswa tersebut cerdas, kreatif yang nantinya dapat menjadi penerus bangsa yang dapat membanggakan bangsa ini. Sedangkan si kaya, dengan tingkat
intelegensi yang biasa-biasa saja, dapat masuk ke perguruan tinggi ternama dan fakultas berkelas, dikarenakan penghasilan orang tuanya yang lebih dari cukup. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Hal ini dapat terjadi karena individu manusia tidak lagi kembali pada kebenaran esensial kehidupannya. Tidak lagi menghayati esensi penciptaannya di muka bumi ini, semua hal dipandang dari segi ekonomi, finansial, bisnis dan lain hal.
Bagaimana seharusnya esensi kehidupan individu itu sendiri? Tuhan menciptakan manusia ini sederajat. Di mata Tuhan, manusia itu sama, yang membedakannya hanyalah tingkat keimanan yang ia yakini, bukan tingkat pendapatan orang tuanya, atau kekayaan yang ia miliki, rekan bisnis yang ia punya, dan lain-lain. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mempunyai akal pikiran, hati, sehingga
menolong dalam hal meningkatkan kualitas kehidupannya. Seharusnya, manusia itu bersyukur atas apa yang ia miliki, jika ia kaya, maka esensi nya ia harus membantu yang miskin untuk sama-sama mendapatkan hak kehidupan. Jika hal itu dihayati, dirasakan serta diaplikasikan dalam
kehidupan individu manusia, maka kulaitas kehidupan individu akan semakin baik serta kesenjangan sosial antar individu manusia tidak akan terjadi lagi.
B. Kualitas Kehidupan Bermasyarakat
Manusia merupakan makhkluk sosial, artinya manusia
membutuhkan manusia lain agar ia dapat meneruskan kehidupannya. Tidak ada satupun manusia yang hidup di dunia ini mengandalkan dirinya sendiri. Diambil satu contoh: kita membutuhkan makanan, pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Makanan yang kita makan, misalkan nasi, kita tidak dapat mencicipi nasi, jika tidak ada petani yang menanam padi, kemudian memanennya dan mendistribusikannya ke penjual yang akhirnya berada di tangan kita. Artinya adalah, kita bukan membutuhkan nasi, melainkan kita membutuhkan petani. Tanpa ada petani, maka tidak akan muncul yang namanya nasi atau beras. Begitu juga pakaian, kita tidak dapat memanjakan tubuh kita dengan pakaian-pakain mahal ,jika tidak ada penjahit yang menjahitkannya untuk kita. Namun yang terjadi pada kehidupan bermasyarakat saat sekarang ini, kita mengucilkan keberadaan mereka, dikarenakan kesenjangan ekonomi.
Masih tampak jelas dipandang mata, jika menghadiri pertemuan-pertemuan kenegaraan terbuka, masih tampak kesenjangan ekonomi yang terjadi antara pejabat Negara, pengusaha kaya, hingga rakyat kecil yang bekerja sebagai petani, buruh, nelayan, penjahit dan lain-lain. Tidak ada pembauran kasta antar masyarakat. Masih terbawa oleh kehidupan bermasyarakat, kehidupan saat Indonesia masih berupa kumpulan kerajaan-kerajaan. Kasta-kasta rendahan tidak dapat perlakuan yang sama dengan kasta yang tinggi, padahal kasta tinggi sangat
Kualitas kehidupan masyarakat akan rusak dan semakin jauh dari kebenaran esensialnya.
Kebenaran esensial dari kualitas kehidupan bermasyarakat hampir sama dengan kehidupan individu, yakni manusia diciptakan Tuhan di muka bumi ini sederajat, sama hak, sama kasta, dan sama jenjang. Selain itu, Tuhan menciptkan manusia di muka bumi ini tidak individu, tapi
berkelompok. Tuhan menciptakan manusai bukan sebagai makhluk individual, melainkan makhluk sosial. Makhluk yang saling menghargai keberadaannya, makhluk yang saling membantu, saling tolong-menolong agar kualitas kehidupan bermasyarakat semakin meningkat. Jika hal itu dimaknai dalam kehidupan bermasyarakat, tidak ada lagi kesenjangan kasta yang tampak saat acara-acara kenegaraan ataupun acara-acara resmi yang lainnya.
C. Kualitas Kehidupan Bernegara dan Berbangsa.
Kehidupan berbangsa dan bernegara yang terjadi pada zaman sekarang ini, telah terlalu jauh dari kebenaran esensial yang seharusnya. Sudah banyak penyimpangan sosial yang terjadi pada kehidupan
bernegara dan berbangsa, sehingga mengakibatkan rusaknya kualitas kehidupan. Penyimpangan sosial yang terjadi seperti, keegosian
kekuasaan, haus jabatan, korupsi, kolusi dan nepotisme. Sebagai contoh: sesorang yang menginginkan dirinya menjadi pejabat. Di masa sekarang, siapa saja dapat menjadi pejabat Negara, mulai dari kepala lingkungan, kepala desa, kepala lurah, kepala camat, bupati, gubernur, anggota DPRD, anggota DPR, menteri-menteri, hingga menjadi Presiden Negara. Tidak ada kriteria khusus yang harus dimiliki oleh seseorang tersebut. Yang terpenting adalah banyaknya suara rakyat yang memilihnya, atau
banyaknya dana pemilu yang ia miliki untuk mensukseskan pemilihannya. Seseorang dengan tingkat pendidikan, misalnya sarjana pertanian, menginginkan jabatan sebagai Gubernur suatu daerah, tanpa ia
menjabat, ia tidak tahu bagaimana menyelesaikan permasalahan hukum yang terjadi di daerahnya, permasalahan sosial, hingga internal
kepemerintahaannya. Ia melakukan proses pemecahan masalah yang serba praktis, menyerahkan semua pemecahan masalah pada bawahan-bawahan yang berwenang, tanpa melihat bahkan ikut serta
menyelesaiakannya. Mengapa hal itu dapat terjadi, dikarenakan ia tidak menghayati esensi kepemimpinannya. Jika seseorang ingin masuk ke daerah yang baru, maka ia harus mempelajari terlebih dahulu kultur budaya, kebiasaan bahkan bahasa yang terdapat di daerah tersebut, jika tidak kemungkinan ia akan dikucilkan. Hal tersebut tidak ia terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, semua yang ia lakukan adalah serba praktis, serba cepat, tanpa analisis dan pendasaran ilmu. Maka, tak heran jika permasalahan-permasalah kenegaraan tidak kunjung selesai.
Selain itu, contoh yang sangat sering terjadi adalah semakin banyak pejabat yang menyalahgunakan wewenang kekuasaannya untuk
melakukan penyimpangan sosial yakni KKN. Korupsi yang menjadi wacana tertinggi di bidang pemerintah di Indonesia saat sekaran ini, korupsi
sudah mendarah daging, artinya bahwa korupsi sudah dijadikan kebiasaan oleh sebagian pejabat Negara, untuk menutupi modal yang ia keluarkan saat ingin menduduki jabatnnya sekarang atau hanya sekedar
memperkaya diri selagi menjadi pejabat. Sungguh ironi, jika kita melihat fakta-fakta korupsi yang terjadi di Indonesia. Pejabat-pejabat yang
terhormat tersebut tidak lagi melihat esensi yang harusnya ia aplikasikan dalam kehidupan kepemimpinannya.
Kebenaran esensial yang seharusnya dimiliki oleh pejabat-pejabat terhormat tersebut adalah kesadaran akan tugas dan amanah yang
diberikan oleh rakyat kepadanya. Menjadi wakil rakyat, penyambung lidah rakyat, serta mengapresiasikan keinginan rakyat. Selain itu, esensinya ia mengetahui bagaimana seharu snya dasar yang harusnya dimiliki oleh pemimpin, bagamana menjadi pemimpin. Tidak hanya sekedar