• Tidak ada hasil yang ditemukan

s.. fr1m sejahtera bagi kita sekalian.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "s.. fr1m sejahtera bagi kita sekalian."

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

\'1·\Vi\]·J PERWAKILAN RAKYAT RI FRAKS1ABRI

PENDAPAT AKHIR FRAKSI ABRI DPR RI ATAS

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENT ANG

I

PENGESAHAN CONVENTION AGAINST TOR1VRE AND OlliER CRUEL, INHUMAN OR DEGRADING TREATMENT OR PUNISIL.l!ENT ( KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU FENGHUKUMAN LAIN YANG KE.JAM, TIDAK MANUSIAWI, ATAU

MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA)

,\';';;:,lann1'alaihun \Vr. \Vb.

s .. fr1m sejahtera bagi kita sekalian.

'y

·wg tcrilormat Saudara Pimpinan Rapat

·{:~:

ig tc'rhonnat Saudara Menteri Luar Negeri selaku Wakil Pemerintah,

p,,

rn J\nggota Dewan dan Hadirin yang karni honnati,

Mcngawali penyampaian Pendapat Akhir Fraksi ABRI DPR-RI ini, marilah kita panjatkan puji

:r~ehadirat

Tuhan Yang Maha Esa karena atas ijin dan perkenan-Nya lah, kita dapat hadir dalarn

'.:Z

av<:r Paripurna Dewan hari ini dalam keadaan sehat wal'afiat untuk melaksanakan Pembicaraan Tingkat

lV/Pcngambilan Keputusan atas Usul InisiatifRancangan Undang-undang tentang Pengesahan Convention

l;;ci.'1.st Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment ( Konvensi

\

lent~ntang

Penyiksaan dan Perlakuan a.tau Penghukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau

\l erendallkan Martabat Manusia), l.llltuk selanjutnya kami sebut Konvensi Menentang Penyiksaan.

Pada kesempatan ini, atas nama Fraksi ABRI, perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kcpada Pimpinan Rapat, atas kesempatan yang diberikan untuk menyampaikan Pendapat Akhir Fraksi 1\BRI 1erhadap usul inisiatif Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Konvensi menentwg P:-.-

r

1yik:-aan.

Fiuminan Rapat dan Anggota Dewan yang kami honnati,

Undang-undang Dasar 1945 sebagai sumber dari segala sumber hukum nasional telah memberikan

1

·:•.;yakiium melarang praktek-praktek penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak ruismsiaw:i, merendahkan martabat dan harkat rnanusia, karena tidak sesuai dengan pandangan hidup b:mgsa Indonesia dalam bennasyarakat dan bernegara. Bangsa Indonesia juga sangat rnenghargai hak asasi warga negaranya untuk menc1apatkan perlakuan yang manusiawi dan tidak akan pemah melakukan tindakan r .cnyiksann, dan perlakuan atau penghukurnan lain yang kejarn, tidak manusiawi atau rnerendahkan n1:ntabat manusia.

Fraksi ABRI menyambut dengan rasa syukur dan bangga atas keberhasilan DPR-RI yang telah

(2)

Krmvensi Menentang Penyiksaan tersebut. Hal ini mengandung makna sejarah yang patut dicatat, karena 1mhik per1ama kalinya dalam sejarah DPR-RI selama tiga dasawarsa terakhir. Makna sejarah tersebut :;c:rrnkiJ1 berart.i, karena Rancangan Undang-undang yang diajukan berkenaan dengan pengesahan suatu I< 051.vrmsi yang telah diterima oleh masyarakat intemasional sebagai salah satu perangkat intemasional di hchng lwk asasi manusia (HAM) yang sangatmendasar.

Pengesahan Konvensi ini sekaligus akan menepis kekhawatiran dan suara-suara sumban.g pihak-pihak

t'~rtentu

bahwa Indonesia secara sadar dan sengaja selama :ini menutup mata, hati dan telinga terhadap peJanggaran atas hak setiap orang unluk bebas dari segala bentuk penyiksaan.

Rnpat Paripuma Dewan yang kami honnati,

Fraksi ABRl berkeyak:inan bahwa peran dan pengamh Undang-undang tersebut sangat besar dan bcmilni strategis terhadap upaya meningkatkan peran Indonesia dalam usaha-usaha intemasional untuk penrnjuan dan perlindungan HAM, klmsusnya untuk mencegah dan menanggulangi perbuatan penyiksaan

dr~n

lain-lain, perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendall.kan martabat manusia, sebagaimana diamanatkan pada sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Atas dasar keyakinan itu, Fraksi ABRI memandang perlu adanya suatu kerjasama intemasional yang didasari oleh landasan hu};um yaJ1g kuat serta penanganan yang konsisten, guna mencegah dan melarang segala bentuk pcHyiksaan dan perlakuan atau hukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat rnanusia, dimana saja dan kapan saja.

! l adiri11 yang kami horrnali,

Di dalam rnembahas R.ancangan Undang-undang ini Fraksi ABRI berpedoman pada pokok-pokok pikirnn yang teJah disampaikan dalam Rapat Paripuma Dewan pada tanggal 8 Juli 1998, sebagai berikut : Pcrtmna:

Kcclua:

Ket~ga:

Kcernpat

Masyarakat perlu mendapatkan perlindungan dati praktek penyiksaan maupun kekejaman serta tindakan yang tidak manusiawi yang dapat merendahkan martabat manusia. Untuk itu kita perlu aktif mengusahakannya.

Walaupun Indonesia sudah aktif dalam forum intemasional dan telah menandatangani Konvensi Menentang Penyiksaan, namun sampai saat ini belum meratifikasinya.

Berkaitan dengan munculnya aspirasi masyarakat dan berkembangnya era reforrnasi maka sudah sewa,jamyalah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia membuat usul inisiatif untuk meratifikasi Pengesahan Convention Againsts Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman Lain Yang Kejarn, Tidak Manusiawi dan Merendahkan Martabat Manusia).

Walaupun Republik Indonesia akan meratifikasi Konvensi tersebut namun perlu mernberikan pertimbangan tersendiri terhadap Pasal 30 ayat (1) yang mengatur apabila terjadi pertentangan antara dua atau lebih negara pihak mengenai penafsiran atau penerapan konvensi, yang menyatakan bahwa atas pennintaan salah satu negara itu, akan dapat diserahkan kepada arbitrase. Fraksi ABRI menyarankan ketentuan tersebut dinyatakan sebagai suatu pensyaratan (reservaJion).

Dengan meratifikasi konvensi ini akan menjadi landasan hukum untuk penyesuaian

peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menjabarkan lebih lanjut konvensi ini

dalarn undang-undang tersendiri.

(3)

H

:i pa~

Dewan yang kami horrnati,

Berangkat dari pandangan-pandangan Fraksi AI3RI tersebut di atas, maka keikutsertaan Indonesia cLdam konvensi i.ril. mernpunyai arti yang sangat penting karena :

Pe1t~una:

Kei.kut5crtaan Indonesia dal.am upaya untuk melaksanakan ke- tertiban dunia yang bcrdasarkan kemerdckaan, perdarnaian abadi dan keadilan sosial perlu diperkuat dengan · meratifikasi Konvensi Menentang Penyiksaan. Dengan rnenjadi negara pihak Indonesia dapat berpartisipasi pcnuh dalam berbagai npaya untuk mengamankan kepentingan rrnsional daii kemungkinan adanya tindakan dari negara lain.

Sebagai negara pihak Indonesia dapat memberikan perlinclungan hukum kepada setiap · warga negara secara universal dan optimal, serta akan menjamin tercapainya rnasyarakat Indonesia yang tertib, teratur dan berbudaya.

Scbagai Negara Pihak, secara bertan.ggtmg jawab Indonesia clapat menunjukkan kesungguhannya dalam upaya pemajuan clan perlindungan HAM, khustisnya hak bebas dari penyiksaan. Hal ini a.ka.:n lebih meningkatkan citra positi.f Indonesia di dunia intemasional clan alrnn memantapkan kepercayaan masyarakat intemasional terhadap Indonesia.

Sebagai Negarn Pihak, Indonesia dapat bekerja sama dengan Negara-negara Pihak Iainnya dan masyarakat Intemasional untuk mencegah dan menanggulangi perbuatan penyiksaan.

Bcrdilsarknn alasan dan pertimbangan tersebut di. atas, maka Fraksi ABRI berkeyakinan betapa perlu dan

1J;~;1tingnya

Indonesia segera meratifikasi Konvensi ini.

!Z<•pai Dewan yang kami horrnati,

Pengesahan Konvensi ini baru mempakan langkah awal dala.m ra.ngka pelaksanaan seluruh isinya yang nierupakan suatu proses yang berkes:inambungan untuk mencapai tujuan Pokok Konvensi, yakni pcncegahan dan pelarangan segala bentuk penyiksaa:n dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, ticiak manusiawi, a.tau merendahkan martabat manusia dimana saja clan kapan saja. Hams diakui bahwa urn ya pe11egakkan HAM dimanapun dan kapanpun rnerupakan suatu perjuangaan yang berat.

Sejak tanggal 13 sampfil dengan 21 Juli 1998, Rancangan Undang-undang ini telah dibahas hcrsarna Pemerintah dengan prosedur singkat. Didalam pembahasan Fraksi ABRI berupaya untuk n iengakornodasikan aspirasinya dengan aspirasi Fraksi lainnya dan Pemerintah, yang pada dasamya rnc:ndapat dulumgan yang konstrukti.f dari berbagai pihak. Fraksi lain dan Pemerintah pada umurnnya dapat

1

nemahami hal-hal yang diusulka:n oleh Fraksi ABRI, antara lain pada Diktum Menimbang yang rnerupakan landas::m filosofis, politi.s, ymidis dan sosiologis dari Undang-undang ini Fraksi ABRI telah rnengajukan usnhm penyempumaan sehingga mernperjelas arah dan manfaat merati..fikasi Konvensi ini guna rncningkatkan kerjasama internasional.

Mengenai pasal 20 Konvensi yang mengatur tentang Kewenangan Komite Menentang Penyiksaan ';ccwa urnmn, Fraksi ABRI juga mengusulkan untuk mernbuat Pemyataan atau Deklarasi. Hal ini

rru~r1egaskan

bahwa dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban sebagaimana dimuat dalam Konvensi, kedaul.atan nasional dan keutuhan wilayalt Negara Pihak harus dihormati. dan

dijur~ung

tinggi. Sesuai 'ceL:n\wrnn hukum intemasional, Pemyataan itu tidak mempunyai kekuatan rnengikat secara hukum, dan riJ;ik rrienghapuskat1 kewajiban atau ta.nggung jawab Negara Pihak untuk melaksanakan Konvensi.

Pasal 21 clan 22 Konvensi yang mengatur tentang persyaratan bagi pengajuan laporan pengaduan

lbri suatu Negara Piha.k atau dari perorangan mengenai pelaksanaan kewajiban suatu Negara Pihak lain

(4)

rnelalui pengajuan deklarasi. Hal ini memungkinkan bagi suatu Negara Pihak "sewaktu-waktu dapat mrmlmat deklarasi mengakui kewenangan Komite untuk menerima dan membahas laporan pcngaduan .... ". Fraksi ABRI sepakat untuk pasal i.n:i, belum perlu menyampaikan declara1io11 (pernyataan).

Khusus pasal 30 ayat (1) Konvensi, Fraksi ABRI juga menyepakati untuk menyatakan' r12sen·ation (pensyaratan) karena pasal ini mengatur tentang upaya penyelesaian sengketa mengenai •

pt~nafsiran

dan pelaksaan Konvensi rnelalui arbitrase Mahkamah Intemansional. Sikap ini diambil atas pertimbangan bahwa Indonesia tidak mengakui jurisdiksi mengikat dari Mahkamah Intemasional, dan lY:nsyaratan terse but sesuai ketentuan huk'1un internasional yang berlaku. ·

Syukur alhamclullllah., semua tugas yang diberikan oleh Dewan untuk rnembahas Rancangan Undang-undang ini dapat diselesa.ikan, berkat adanya saling pengertian dan sating menghargai terhadap pendapat dan pemikiran masing-masing Fraksi dan Pemerintah, dalam suasana keterbukaan yang akrab dan pen uh rasa kekeluargaan serta dilandasi semangat musyawarah untuk mencapai mufakat..

Rapat Dewan yang karni hormati,

Mengalir dari uraian tersebut di atas dan untuk mewadah:i aspirasi masyarakat yang disalurkru1 rnelnlui Fraksi ABRI, serta dilandasi rasa t~gung jawab untuk memajukan dan,menegakkan hak asasi rmmusia dan pembangunan huk'UID di Indonesia, maka dengan ini :

''Fraksi ABRI menyatakan menerima dau menyetuJui Rancangan Undang-undang tentang Pengesahan Convention Against Torture and Other Crue4 Inhuman or Degrading Treatment or Punishment (Konvcnsl Mencntang Pcnylksaan dan Perlakuau atau Pengbukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Mercndahkan Mru1abat Manusia) basil Pembicaraan Tingk.'lt III untuk disahkan menjadi Undang-undang oleh Presiden Republik Indonesia".

Selanjutnya pada kesempatan yang berbahagia ini Fraksi ABRI ingin menyarnpaikan beberapa lmapan kepada Pemerintah sebagai tindak lanjut dari Pengesahan Undang-undang ini sebagai berikut : Pertama:

Kedua :

Kc1.iga:

Keempat:

Perlu segera rnengarnbil langkah-langkah. konkrit guna menyelaraskan peraturan perundang- undangan yang ada sebagaimana dikehendaki. oleh Konvensi.

Pemerintah hendaknya secara aktif mengambil prakarsa guna meningkatkan upaya-upaya untuk mencegah dan melarang penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia melalui kerja sama, baik bilateral rnaupun multilateral dengan Negara-negara Pihak dalam Konvensi ini.

Mengingat pentingnya tindak lanjut dari pengesahan Konvensi ini, Pemerintah perlu segera menyerahkan piagam Konvensi kepada Sekretaris Jenderal PBB, karena Konvensi ini baru akan diberlakukan pada hari ketiga puluh setelah penyerahan piagam terse but.

Setelah Rancangan Undang-undang ini diundangkan, maka Pemerintah segera menindaklanjuti dan melengkapinya dengan peraturan pefWldang-undangan yang diperlukan, disertai dengan langkah-langkah pemasyarakatannya. ·

Pimpinan Rapat dan haclirin yang kami horrnati,

Sebelum rnengakhiri pendapat akhir ini, perkenankanlah Fraksi ABRI menyarnpaikan terirna kasih

yang sebesar-besamya kepada Fraksi Karya Pembangunan, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia dan Fraksi

Persatuan Pembangunan yang telah bersama-sama dengan Fraksi ABRI menyelesaikan tugas pembahasan

(5)

P,:1nc;mgan Undang-undang ini dalam suatu kerja sama yang erat, saling pengertian dan toleransi yang ,

!inggi, sehingga pembahasan dapat 'diselesaikan tepat waktu.

Terima kasih dan penghargaan yang tulus kami sampaikan pula kepada Pemerintah beserta jajarannya dan instansi terkait yang dengan penuh perhatian, ketekunan, kesabaran dan kerja keras telah

rnem hantu memperlancar pernbahasan pada Pembicaraan Tingkat III atas Rancangan Undang-undang ini.

Tidak lupa kami sampaikan terima kasih dan penghargaan kepada saudara-saudara wartawan baik d:lri media cetak maupun elektronik yang telah meliput kegiatan pembahasan Rancangan-undang Undang ini scrta menyebarluaskannya kepada masyarakat.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu melimpahkan taufik dan hidaya11-Nya kepada kita semua dalam mengemban tugas pengabdian kepada Bangsa dan Negara yang kita cintai. Amin

Sckian dan terinm kasih.

'IVassalamu'alaikum Wr. Wb.

rv1engetahui~

/\J1.

Ketua Fraksi ABRI Korbid Polkam ScJakn Pelaksana Harian,

TID

HA. ROESTANDI, SH A-441

Jakarta, 24 Juli 1998 Juru bicara Fraksi ABRI,

ITD

H.SUWANDI, S.IP

A-458

Referensi

Dokumen terkait

1945 (Pasal 1 Undang-Undang Republik Nomor 27 Tahun 2009 tentang.. Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan. Perwakilan Daerah, dan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Pemilihan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara

9 Undang-Undang Republik Indonesia No.17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

- Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara

Yang melatar belakangi penulisan skripsi ini adalah dengan munculnya pengaturan hukum tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,