• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

6

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1. Pengertian Bank

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 1990 tanggal 10 November 1998 dalam Kasmir (2012:24) tentang pebankan, yang dimaksud dengan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Menurut Ismail (2014:12) “Bank merupakan lembaga keuangan yang fungsi utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat, menyalurkan dan kepada masyarakat, dan juga memberikan pelayanan dalam bentuk jasa-jasa perbankan.”

Sedangkan menurut Hermansyah (2008:7) “Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perorangan, badab usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya.

2.1.1. Jenis-Jenis Bank

Menurut Kasmir (2012:31) perbedaan jenis perbankan dapat dilihat dari segi fungsi, serta kepemilikan bank. Dari segi fungsi perbedaan yang terjadi terletak pada luasnya kegiatan atau jumlah produk yang dapat ditawarkan serta jangkauan wilayah operasinya. Sedangkan berdasarkan kepemilikannya dilihat dari kepemilikan saham yang ada serta akte pendirinya.

(2)

Perbedaan lainnya dari segi siapa nasabah yang mereka layani apakah masyarakat luas atau masyarakat dalam lokasi tertentu. Jenis perbankan juga dibagi kedalam cara menentukan harga jual dan beli.

Adapun jenis perbankan dapat ditinjau dari berbagai segi antara lain:

1. Dilihat dari Segi Fungsinya a. Bank Umum

b. Bank Perkreditan Rakyat (BPR) 2. Dilihat dari Segi Kepemilikannya

a. Bank Milik Pemerintah b. Bank Milik Swasta Nasional c. Bank Milik Koperasi

d. Bank Milik Asing e. Bank Milik Campuran 3. Dilihat dari Segi Statusnya

a. Bank Devisa b. Bank Non Devisa

4. Dilihat dari Segi Cara Menentukan Harga

a. Bank yang Berdasarkan Prinsip Konvensional b. Bank yang Berdasarkan Prinsip Syariah

(3)

2.1.2. Usaha-Usaha Bank

Menurut Hasibuan (2007:5) usaha pokok bank didasarkan atas empat hal pokok, yaitu:

1. Denomination Divisibility

Bank menghimpun dana dari pihak yang kelebihan dana yang masing-masing nilainya relatif kecil, tetapi secara keseluruhan jumlahnya akan sangat besar.

2. Maturity Flexibility

Bank dalam menghimpun dana menyelenggarakan bentuk-bentuk simpanan yang bervariasi jangka waktu dan penarikannya, seperti rekening, giro, deposito berjangka, buku tabungan, dan sebagainya.

3. Liquidity Transformation

Dana yang disimpan oleh penabung kepada bank umumnya bersifat likuid. Karena itu, penabung dapat dengan mudah mencairkannya sesuai dengan bentuk tabungannya.

4. Risk Deversification

Bankmenyalurkan kredit kepada banyak pihak atau debitur dan sektor-sektor ekonomi yang beraneka ragam, sehingga risiko yang dihadapi bank dengan cara menyebarkan kredit semakin kecil.

2.2. Pengertian Kredit

Menurut Sudirman (2013:57) “kredit adalah Penyediaan sejumlah uang atau dana atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan oleh bank berdasarkan persetujuan pinjam meminjam antara bank dengan pihak peminjam atau debitur dan

(4)

debitur atau peminjam diwajibkan melunasi pinjaman atau utangnya itu dalam jangka waktu tertentu dan dengan jumlah bunga yang disepakati.”

Sedangkan menurut Muchdarsyah dalam Fahmi (2008:4) “kredit adalah suatu pemberian prestasi oleh suatu pihak kepada pihak lain dan prestasi itu akan dikembalikan lagi pada suatu masa tertentu yang akan disertai dengan suatu kontraprestasi berupa bunga.”

2.2.1. Unsur-Unsur Kredit

Menurut Fahmi (2008:6) unsur-unsur kredit adalah sebagai berikut:

1. Kepercayaan

Kepercayaan (Trust) adalah suatu yang paling utama dari unsur kredit yang harus ada karena tanpa ada rasa saling percaya antara kreditur dan debitur akan sangat sulit terwujud suatu sinergi kerja yang baik.

2. Waktu

Waktu (Time) adalah bagian yang paling sering dijadikan kajian oleh pihak analis finance khususnya oleh analis kredit.

3. Risiko

Risiko disini menyangkut persoalan seperti Degree of Risk. Disini yang paling dikaji adalah pada keadaan yang terburuk yaitu pada saat kredit tersebut tidak kembali atau timbulnya kredit macet.

(5)

4. Prestasi

Prestasi yang dimaksud disini adalah prestasi yang dimiliki oleh kreditur untuk diberikan kepada debitur.

5. Adanya Kreditur

Kreditur yang dimaksud adalah pihak yang memiliki uang, barang, atau jasa untuk dipinjamkan kepada pihak lain, dengan harapan mendapatkan keuntungan dalam bentuk bunga (interest) sebagai balas jasa dari uang, barang, atau jasa yang telah dipinjam tersebut.

6. Adanya Debitur

Debitur yang dimaksud adalah pihak yang membutuhkan uang, barang, atau jasa dan berkomitmen untuk mampu mengembalikannya tepat sesuai dengan waktu yang disepakati serta bersedia menanggung berbagai resiko juka melakukan keterlambatan sesuai dalam kesepakatan.

2.2.2. Jenis-Jenis Kredit

Menurut Kasmir (2012:90) jenis-jenis kredit yang lazim terjadi didunia perbankan dilihat dari berbagai segi, yaitu sebagi berikut:

1. Dilihat dari Segi Kegunaan a. Kredit Investasi

Kredit jangka panjang yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan dan membangun proyek/pabrik baru atau untuk keperluan rehabilitasi. Contoh kredit investasi misalnya untuk membangun pabrik atau membeli mesin-mesin.

(6)

b. Kredit Modal Kerja

Kredit yang digunakan untuk keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalanya. Contoh kredit modal kerja adalah untuk membeli bahan baku, membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainya yang berkaitan dengan proses produksi perusahaan.

2. Dilihat dari Segi Tujuan kredit a. Kredir Produktif

Kredit yang digunakan untuk peningkatkan usaha atau produksi atau investasi.

Sebagai contohnya kredit untuk membangun pabrik yang nantinya akan menghasilkan barang.

b. Kredit Konsumtif

Kredit yang digunakan untuk dikonsumsi secara pribadi. Sebagai contoh kredit untuk perumahan, kredit mobil pribadi, kredit perabotan rumah tangga, dan lainnya.

3. Dilihat dari Segi Jangka Waktu a. Kredit Jangka Pendek

Kredit yang memiliki jangka waktu kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal.

b. Kredit Janka Menengah

Kredit yang memiliki jangka waktu berkisar antara 1 tahun sampai 3 tahun dan biasanya kredit ini dugunakan untuk investasi.

(7)

c. Kredit Jangka Panjang

Kredit yang masa pengembaliannya diatas 3 tahun sampai 5 tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk investasi jangka panjang seperti perkebunan karet, kelapa sawit, atau kredit perumahan.

4. Dilihat dari Segi Jaminan a. Kredit Dengan Jaminan

Kredit yang diberikan dengan suatu jaminan dapat berbentuk barang berwujud atau tidak berwujud. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi minimal senilai jaminan atau untuk kredit tertentu jaminan harus melebihi jumlah kredit yang diajukan calon debitur.

b. Kredit Tanpa Jaminan

Kredit yang diberikan tanpa jaminan barang. Kredit jenis ini diberikan dengan prospek usaha, karakter, serta loyalitas atau nama baik calon debitur selama berhubungan dengan bank atau pihak lain

5. Dilihat dri Segi Sektor Usaha a. Kredit Pertanian

Merupakan kredit yang diberikan untuk sektor perkebunan atau pertanian rakyat. Contohnya untuk pertanian jangka pendek atau jangka panjang.

b. Kredit Peternakan

Kredit yang diberikan untuk sektor peternakan. Contohnya peternakan ayam, peternakan kambing, dan peternakan sapi.

(8)

c. Kredit Industri

Kredit yang diberikan untuk membiayai industri baik itu industri kecil, industri menengah atau industri besar.

d. Kredit Pertambangan

Kredit yang membiayai usaha pertambangan biasanya untuk jangka panjang seperti tambang emas, minyak atau timah.

e. Kredit Pendidikan

Kredit yang diberikan untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk beasiswa.

2.2.3. Tujuan Kredit

Pemberian kredit selain untuk memberikan keuntungan bagi bank juga berperan dalam pemerataan ekonomi. Menurut Taswan (2010:309) tujuan utama pemberian kredit sebagai berikut:

1. Bagi Bank

Sebagai instrumen bank dalam memelihara likuiditas, solvabilitas, dan rentabilitas, kemuduan dapat menjadi pendorong peningkatan penjualan produk bank yang lain dan kredit diharapkan dapat menjadi sumber utama pendapatan bank yang berguna bagi kelangsungan hidup bank tersebut.

2. Bagi Debitur

Bahwa pemberian kredit oleh bank dapat digunakan untuk memperlancar usaha dan selanjutnya meningkatkan gairah usaha sehingga keberlangsungan operasional

(9)

perusahaan terjaga yang dapat menggerakan perekonomian masyarakat serta mampu menyerap tenaga-tenaga kerja.

3. Bagi Negara

Bagi negara kredit dapatdigunakan sebagai instrumen moneter. Pemerintah dapat mempengaruhi penyebaran kredit perbankan melalui kebijakan moneter dan perbankan. Selain itu secara tidak langsung pemberian kredit oleh bank dapat meningkatkan pendapatan negara yang berasal dari pajak perusahaan yang berkembang usahanya serta bea cukai bagi perusahaan yang melakukan ekspor dari hasil produksinya.

2.2.4. Fungsi Kredit

Fungsi kredit menurut Hasibuan (2007:88) adalah:

1. Menjadi motivator dan dinamisator penigkatan kegiatan perdagangan dan perekonomian.

2. Memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

3. Memperlancar arus barang dan arus uang.

4. Meningkatkan hubungan internasional.

5. Meningkatkan produktifitas dana yang ada.

6. Meningkatkan daya guna (Utility) barang.

7. Meningkatkan kegairahan berusaha masyarakat.

8. Memperbesar modal kerja perusahaan.

9. Meningkatkan Income PerCapita (IPC) masyarakat.

10. Mengubah cara berfikir/bertindak masyarakat untuk lebih ekonomis.

(10)

2.3. Kredit Bermasalah (Non Performing Loan)

2.3.1. Pengertian Kredit Bermasalah (Non Performing Loan)

Menurut Mahmoeddin (2010:2) “Kredit bermasalah adalah kredit yang tidak menepati jadwal angsuran sehingga terjadi tunggakan.”

Menurut Iswi (2010:52) “Kredit bermasalah adalah kredit yang tergolong kredit kurang lancar, diragukan, dan macet.” Rasio Non Performing Loan (NPL) dapat dirumuskan sebagai berikut:

= ℎ ℎ

100%

Menurut Bank Indonesia dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) menetapkan bahwa tingkat rasio NPL yang sehat adalah ≤ 5%.

2.3.2. Kolektabilitas Kredit

Menurut Sudirman (2013:115) “Kolektabilitas kredit adalah suatu keadaan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bunga kredit oleh peminjam atau debitur serta tingkat kemungkinan diterimanya kembali dana yang digunakan untuk kredit, termasuk dana yang diterimanya kembali atas dana yang ditanamkan dan ditempatkan oleh bank.”

(11)

Menurut Iswi (2010:36) kolektabilitas kredit dibagi menjadi 5, yaitu sebagai berikut:

1. Kredit lancar (Pass), yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat.

b. Memiliki mutasi rekening yang aktif.

c. Bagian kredit yang dijamin dengan agunan tunai.

2. Kredit dalam perhatian khusus (Special Mention), yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan agunan pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 (sembilan puluh) hari.

b. Kadang-kadang terjadi cerukan.

c. Mutasi rekening relatif rendah.

d. Jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan.

e. Didukung oleh pinjaman baru.

3. Kredit kurang lancar (Substandard), yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terjadi tunggakan agunan pokok dan/atau bunga yang telah mencapai 90 (sembilan puluh) hari.

b. Sering terjadi cerukan.

c. Frekuensi mutasi rekening relatif rendah.

d. Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 (sembilan puluh) hari.

(12)

e. Terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.

f. Dokumentasi pinjaman yang rendah.

4. Kredit diragukan (Doubtful), yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang melampaui 180 hari.

b. Terdapat cerukan yang bersifat permanen.

c. Terdapat wanprestasi lebih dari 180 hari.

d. Terjadi kapitalisasi bunga.

e. Dokumentasi hukum lemah, baik untuk perjanjian kredit atau pengikatan jaminan.

5. Kredit macet (Bad-Debt), yaitu apabila memenuhi kriteria:

a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari.

b. Kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru.

c. Dari segi hukum dan kondisi pasar jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai yang wajar.

(13)

2.4. Penyebab Kredit Bermasalah

Menurut Mahmoeddin (2010:52) faktor penyebab terjadinya kredit bermasalah yaitu:

1. Faktor Internal

Yang dimaksud faktor internal adalah terjadinya kredit bermasalah akibat kelalaian bank. Faktor internal tersebut antara lain:

a. Kelemahan dalam analisa kredit.

b. Kelemahan dalam dokumen kredit.

c. Kelemahan dalam supervisi kredit.

d. Kecerobohan petugas bank.

e. Kelemahan bidang agunan.

f. Kelemahan sumber daya manusia.

g. Kelemahan teknologi h. Kecurangan petugas bank.

2. Faktor Eksternal

Sedangkan faktor eksternal adalah terjadinya kredit bermasalah yang disebabkan oleh pihak nasabah. Faktor eksternal tersebut yaitu:

a. Kelemahan karakter nasabah.

b. Kelemahan kemampuan nasabah.

c. Musibah yang dialami nasabah.

d. Kecerobohan nasabah dalam mengatur keuangan.

e. Kelemahan manajemen nasabah.

(14)

f. Kegagalan bisnis nasabah.

3. Faktor Tak Terduga

Faktor tak terduga adalah suatau kondisi dimana pihak bank maupun nasabah tidak berperan dalam terjadinya kredit bermasalah. Faktor tak terduga tersebut yaitu:

a. Situasi ekonomi yang negatif.

b. Situasi politik dalam negeri yang merugikan.

c. Politik negara lain yang merugikan.

d. Situasi alam yang merugiakan.

e. Peraturan pemerintah yang merugikan.

Referensi

Dokumen terkait

KESATU : Membentuk Tim Pelaksana Teknis Penyusunan Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sumedang dan Menunjuk Tenaga Ahli Bidang Pemerintahan pada Sub

Sesuai dengan pembatasan dan perumusan masalah tersebut diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui efektifitas metode pembelajaran permainan kooperatif

Senang Kharisma Textile mewujudkannya dalam bentuk pemberian upah, jaminan sosial, dan fasilitas kesejahteraan yang baik.. Perusahaan ini merupakan salah satu dari

Selanjutnya terkait hasil uji empiris atau hasil implementasi perangkat pembelajaran di kelas, diperoleh temuan-temuan: (a) Penerapan pembelajaran bertanya (LBQ)

Juga untuk menanyakan hal yang berkaitan dengan waktu, tempat, keadaan, jumlah, baik yang berakal maupun yang tidak. • Ayyu = digunakan untuk menanyakan dengan mengkhususkan salah

Bedasarkan penilaian tingkat kesehatan yang telah ditentukan oleh Bank Indonesia PT BPR Dana Utama berasa pada kriteria “Tidak Sehat” dan rasio NPL yang

Kiprah asimetris biasanya terlihat pada anak-anak ketika tungkai perbedaan panjang tidak lebih dari 3,7% menjadi 5,5% [38,74] Dalam upaya untuk menjaga tingkat

Pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) sektor pertanian dalam arti sempit (Tanaman Pangan, Perkebunan dan Peternakan) tahun 2005 turun menjadi hanya 1.62 persen jauh