BAB II
KERANGKA PEMIKIRAN
2.1 Penelitian Terdahulu
Peneliti telah melakukan analisa terhadap beberapa penelitian yang pernah dilakukan agar peneliti mendapatkan referensi dan bahan pembelajaran. Penelitian yang dipilih sejenis dan memiliki objektif yang serupa. Masing-masing penelitian yang peneliti analisa membantu peneliti dalam memahami teori dan konsep yang akan peneliti gunakan dalam penelitian ini.
Penelitian pertama berjudul “Social media engagement in the digital age: Accountability or threats” yang ditulis oleh Yanfang Wu pada 2018 dari Universitas Missouri dan telah dipublikasikan di ResearchGate. Wu ingin mencari tahu bagaimana media sosial dipandang di mata jurnalis saat bekerja di sebuah newsroom. Penelitian ini didasari kesadaran Wu bahwa era digital membuat audiens dapat mengonsumsi berita kapan saja, di mana saja, dan melalui banyak medium, termasuk media sosial.
Selain itu, media sosial juga digunakan oleh para jurnalis untuk mencari audiens baru, sarana promosi liputan, membangun keterlibatan dengan narasumber, serta verifikasi informasi. Wu mengatakan media sosial dapat menjadi sarana untuk melibatkan audiens dengan cara yang cepat dan murah. Bahkan ia memberi contoh bahwa tayangan live di Facebook tergolong efektif untuk menarik lebih banyak audiens pada sebuah media.
Wu juga menjelaskan bahwa media sosial memfasilitasi partisipasi audiens dalam proses produksi konten berita sehingga ekspektasi audiens terhadap konten berita jadi berubah. Ia menyatakan media sosial menjadi kanal bagi interaksi antara jurnalis dan audiensnya, yang merupakan dasar bagi audience engagement.
Wu mengungkapkan tidak ada hal yang benar-benar dapat mengukur sebuah engagement, tapi dipercaya bahwa pengukuran itu berkaitan erat dengan partisipasi, keterhubungan, dan keterlibatan audiens. Penelitian tersebut menggunakan konsep social media, engagement, dan accountability and threats. Wu menyatakan media sosial memfasilitasi engagement. Goode dalam Wu (2018, p. 3) mendefinisikan engagement secara operasional sebagai sharing (membagikan kembali konten yang telah tersedia), menambahkan komentar, merekomendasikan konten tersebut ke orang lain, rating (memberi peringkat atau penilaian), memberi tag, dan memberi like (tanda suka terhadap sebuah konten). Wu menyatakan engagement merupakan sebuah hal yang dapat membantu memenuhi dua hal dalam jurnalisme, yaitu melayani publik dan menciptakan profit.
Penelitian Wu menemukan bahwa apabila jurnalis menganggap instruksi di media sosial pada newsroom mereka jelas dan bermanfaat, maka semakin besar kemungkinan jurnalis tersebut jadi terlibat dan menggunakan media sosial. Keterlibatan itu membuat jurnalis tersebut semakin merasa bahwa media sosial tidak menimbulkan ancaman bagi dunia jurnalistik.
Ketika mereka sadar bahwa media sosial bukanlah sebuah ancaman, maka
mereka akan merasa konten yang mereka publikasikan di media sosial dapat meningkatkan engagement audiens dan menambah nilai bagi media mereka.
Melalui penelitian pertama, peneliti mengetahui lebih jauh mengenai engagement di media sosial dan cara pandang para jurnalis terhadap media
sosial. Penelitian Wu bermanfaat bagi penelitian ini untuk memberi pemahaman bahwa media sosial dapat memfasilitasi engagement.
Engagement dapat membantu media memenuhi dua hal, yaitu melayani
kepentingan publik dan menciptakan profit. Hal tersebut mendukung penelitian ini yang fokus pada salah satunya, yaitu engagement untuk kepentingan publik seperti yang berhasil dijalankan di Mata Najwa menurut hasil riset KPI.
Penelitian kedua berjudul “Pemanfaatan Insta Story Dalam Aktivitas Jurnalistik Oleh Majalah Gadis”, ditulis oleh Cerysa Nur Insani, Dadang Rahmat Hidayat, Ipit Zulfan dari Universitas Padjajaran pada 2019.
Penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran para peneliti bahwa media konvensional tidak hanya terpaku pada satu saluran untuk penyebarannya, salah satunya media sosial Instagram yang meluncurkan fitur Instagram Story. Instagram Story dapat menjadi sarana untuk mengunggah foto atau video 15 detik yang dapat dilihat pengguna lainnya selama 24 jam.
Penelitian tersebut menggunakan teori social construction of technology yang dicetuskan oleh Wiebe Bijker dan Trevor Pinch. Mereka menggunakan teori ini untuk menjadi pedoman analisis tentang cara Majalah
Gadis mengartikan Insta Story sebagai teknologi. Kemudian, mereka menggunakan konsep jurnalisme digital sebagai konsep utama, untuk menjadi pedoman identifikasi penggunaan Insta Story untuk kegiatan jurnalistik.
Mereka menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif.
Untuk mengumpulkan data, para peneliti tersebut melakukan observasi, wawancara mendalam dengan tiga informan, dan dokumen yang terdiri dari bahan visual Majalah Gadis, data online dari situs Majalah Gadis, dan data online dari situs lain yang berkaitan dengan penelitian tersebut.
Para peneliti tersebut membagi hasil dan pembahasan penelitian ke beberapa bagian. Bagian pertama adalah mengenai pertimbangan Majalah Gadis memanfaatkan fitur Insta Story. Ada beberapa hasil yang dipaparkan pada bagian ini. Pertama, Majalah Gadis melakukan survei secara rutin kepada khalayaknya dan menemukan bahwa rata-rata usia dan tingkat pendidikan dari khalayaknya masuk ke dalam generasi Z yang merupakan generasi internet. Akhirnya tim Majalah Gadis mempertimbangkan pola pencarian informasi generasi Z dan akhirnya berusaha hadir pada sarana pencarian informasinya, salah satunya adalah Insta Story.
Kedua, fitur Instagram mendapatkan lebih banyak feedback dari khalayak Majalah Gadis. Di Instagram, Insta Story merupakan fitur yang paling mudah diakses. Ketiga, karena keefektifan Insta Story untuk mencapai khalayaknya, akhirnya Majalah Gadis menggunakan Insta Story untuk melakukan tiga kegiatan jurnalistik, yaitu laporan secara langsung,
mendistribusikan artikel yang telah dibuat, dan berinteraksi dengan khalayak mereka.
Bagian kedua dari hasil dan pembahasan adalah mengenai aplikasi kegiatan jurnalistik menggunakan Insta Story. Dalam bagian ini, para peneliti menjabarkannya berdasarkan hasil yang didapat di bagian pertama mengenai pemanfaatan fitur Insta Story dalam tiga kegiatan jurnalistik. Pada kegiatan pertama yaitu pelaporan langsung, Majalah Gadis memanfaatkannya dengan cara mewajibkan setiap liputan untuk diunggah ke Insta Story. Beberapa liputan yang dianggap krusial diletakkan di highlight Insta Story, yaitu fitur Instagram yang memungkinkan pengguna lain tetap dapat melihat Insta Story meskipun waktunya telah lebih dari 24 jam.
Majalah Gadis menetapkan waktu prime time, yaitu pada pukul lebih dari 2 siang, hal ini disesuaikan dengan jam pulang sekolah sebab khalayak Majalah Gadis yang merupakan generasi Z banyak yang masih menjalankan sekolah.
Selain untuk peliputan, fitur Insta Story juga dilakukan Majalah Gadis untuk membagikan link yang mengarah ke situs Majalah Gadis, yaitu melalui fitur Swipe Up pada Insta Story. Link tersebut mengarah ke artikel, gambar, informasi kuis, giveaway, yang ada pada situs Majalah Gadis. Pada kegiatan ini, redaktur akan memilih artikel mana yang akan ditampilkan di Insta Story untuk diunggah dan diberi fitur Swipe Up.
Selain kedua hal tadi, fitur Insta Story juga dimanfaatkan untuk membangun engagement dengan khalayaknya. Saat Majalah Gadis membuat
Insta Story, khalayak dapat menanggapi Insta Story tersebut dengan cara mengirim pesan di kolom bagian bawah Insta Story, yang akan langsung diterima Majalah Gadis melalui Direct Message Instagramnya. Dari penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa khalayak biasanya menanggapi dengan pertanyaan atau tanggapan terhadap Insta Story yang dibuat tersebut. Ketika mendapatkan tanggapan tersebut, pihak Majalah Gadis biasanya akan membalas atau memberikan simbol hati (suka) sebagai tanda terima kasih atas tanggapan tersebut.
Selain dari Insta Story, salah satu cara Majalah Gadis membangun engagement dengan khalayak adalah dengan mengadakan kuis dan giveaway. Ada pula Insta Story Majalah Gadis yang kontennya adalah unggahan ulang dari Insta Story khalayaknya yang memberi tag kepada Majalah Gadis. Selain itu, Majalah Gadis juga beberapa kali membuat polling melalui Insta Story agar dapat membangun interaksi dengan khalayak.
Bagian ketiga dari hasil dan pembahasan penelitian tersebut adalah mengenai strategi cross media dan jurnalisme digital yang digunakan Majalah Gadis saat memanfaatkan fitur Insta Story. Strategi cross media dilakukan Majalah Gadis, dapat dilihat pada peliputan-peliputan yang didistribusikan tidak hanya di satu medium saja.
Bagian keempat dari hasil dan pembahasan adalah implikasi dari penggunaan Insta Story bagi media. Pertama, Majalah Gadis merasa pemanfaatan Insta Story merupakan langkah yang efektif dan sesuai dengan
target khalayak mereka. Kedua, mereka merasakan adanya peningkatan jumlah pengunjung situs mereka akibat pemanfaatan Swipe Up pada Insta Story. Ketiga, interaksi yang membangun engagement antara Majalah Gadis dengan khalayaknya jadi dapat dijalankan dengan mudah dan Majalah Gadis jadi mendapatkan banyak feedback dari khalayaknya. Keempat, feedback yang didapat dari khalayak memudahkan Majalah Gadis untuk mengetahui isu apa yang disukai oleh khalayak. Kelima, fitur Insta Story menjadi salah satu cara pembuktian Majalah Gadis sebagai media yang kredibel.
Penelitian kedua bermanfaat memberi gambaran mengenai penggunaan fitur Instagram yang dapat memudahkan interaksi yang membangun engagement. Dari penelitian tersebut, dapat ditemukan bahwa satu fitur Instagram saja dapat memberi banyak dampak bagi media yang menggunakannya. Satu fitur dari Instagram dapat memudahkan interaksi yang membangun engagement antara media dan khalayaknya. Kemudian, melalui satu fitur Instagram saja, terdapat banyak sekali feedback yang dapat membantu media tersebut mengetahui hal yang disukai oleh khalayaknya.
Penelitian ketiga berjudul “Model Bisnis Media Online: Studi Kasus Inovasi Media Online Narasi.tv”, ditulis oleh Tjin Cindy Nevada Giovana Yamin dari Universitas Multimedia Nusantara pada tahun 2019. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan internet yang menimbulkan sebuah fenomena yaitu konvergensi media. Banyak media yang turut menggunakan platform digital, salah satunya Narasi.tv yang merupakan media online yang inovatif. Di penelitian tersebut, Yamin ingin mengetahui bagaimana model
bisnis Narasi.tv sebagai media online yang lebih inovatif sehingga ia dapat mengetahui bentuk produksi konten, bentuk distribusi konten, model pemasaran, dan model pendapatan Narasi.tv.
Yamin menggunakan konsep jurnalisme online, media sosial sebagai kanal berita, model bisnis media online yang terbagi menjadi model konten, model pemasaran, model distribusi, dan model pendapatan. Jenis penelitian tersebut adalah kualitatif, bersifat deskriptif, menggunakan metode studi kasus, dan menggunakan paradigma post-positivisme, sebab paradigma tersebut mampu memberi gambaran terhadap sebuah situasi yang sedang berkembang, sesuai dengan penelitian Yamin.
Penelitian Yamin menemukan bahwa Narasi.tv berpedoman pada tiga pilar untuk menjalankan medianya, yaitu content, collaboration, dan community. Target dari Narasi.tv adalah generasi millennial dan generasi Z sehingga konten dan penyebarannya menyesuaikan dengan target tersebut.
Media tersebut ingin target sasarannya dapat mengakses konten dengan mudah, maka Narasi.tv menyediakan konten secara gratis di berbagai platform digital dan menyebarkan kontennya dalam bentuk audiovisual.
Untuk program Mata Najwa, Narasi.tv melakukan kolaborasi dengan sebuah media konvensional yaitu Trans 7, salah satu alasan distribusi konten ini adalah menambah engagement dari audiens media konvensional. Selain kolaborasi tersebut, Narasi.tv juga menjalankan kolaborasi dengan produk, media, beberapa tokoh yang terkenal di kalangan target sasaran, dan perusahaan agar dapat membantu penyebaran kontennya.
Selain itu, Yamin menyatakan bahwa ada inovasi Narasi.tv yaitu membentuk komunitas agar keinginan audiens dapat tersalurkan dan konten yang diberikan dapat berdampak besar dan luas. Yamin berkata bahwa Narasi.tv saat ini fokus untuk mencapai engagement melalui media sosial untuk menciptakan partisipasi yang sifatnya langsung.
Penelitian Yamin bermanfaat bagi penelitian ini untuk memberi gambaran lebih mendalam mengenai Narasi.tv, yaitu media yang menjadi rumah bagi program Mata Najwa. Penelitian Yamin memberikan pemahaman bahwa saat ini Narasi.tv sedang fokus menjalani engagement melalui media sosialnya untuk mendapat partisipasi langsung dari masyarakat. Hal ini berguna sebagai gambaran situasi di Narasi.tv saat ini.
Namun, meski Narasi.tv sedang fokus menjalankan engagement melalui media sosial, penelitian Yamin tidak fokus meneliti mengenai bagaimana strategi mereka untuk menjalankan engagement tersebut.
Tabel 2.1 Uraian Penelitian Terdahulu
Judul Social media engagement
in the digital age:
Accountability or threats
Pemanfaatan Insta Story Dalam Aktivitas Jurnalistik Oleh Majalah Gadis
Model Bisnis Media Online: Studi Kasus Inovasi Media Online Narasi.tv
Penulis Yanfang Wu Cerysa Nur Insani, Dadang
Rahmat Hidayat, Ipit Zulfan
Tjin Cindy Nevada Giovana Yamin
Tahun 2018 2019 2019
Institusi Universitas Missouri Universitas Padjajaran Universitas Multimedia Nusantara
Metode Penelitian Survei Analisis isi kualitatif Studi kasus
Jenis penelitian Kuantitatif Kualitatif Kualitatif
Teori dan konsep Konsep social media,
engagement, dan
accountability and threats.
Teori social construction of technology, konsep jurnalisme digital
Konsep jurnalisme online, media sosial sebagai kanal berita, model bisnis media online
Hasil penelitian Riset ini mendapatkan hasil bahwa semakin jelas instruksi di media sosial kepada jurnalis di newsroom, maka semakin jurnalis tersebut semakin terlibat dan menggunakan media sosial. Akhirnya, keterlibatan tersebut membuat jurnalis merasa bahwa media sosial bukanlah ancaman bagi
Majalah Gadis
memanfaatkan Insta Story sebab sesuai dengan khalayaknya. Selain itu, mereka juga menetapkan
prime time agar
menyesukaikan waktu unggahan dengan target khalayak mereka. Majalah Gadis memanfaatkan Insta Story untuk 3 kegiatan jurnalistik, salah satunya
Narasi.tv berpedoman pada tiga pilar, yaitu content, collaboration, dan community. Konten dan penyebaran Narasi.tv disesuaikan dengan target audiens mereka yaitu generasi millennial dan generasi Z. Model konten yang diterapkan Narasi.tv merupakan gabungan beberapa model. Model
jurnalistik. Pemahaman tersebut membuat para jurnalis menggunakan media sosial dalam usaha meningkatkan engagement audiens dan value medianya.
adalah membangun
engagement dengan khalayak. Engagement dengan khalayak didapat ketika khalayak menanggapi atau memberi pertanyaan dengan membalas Insta Story yang langsung dihubungkan ke direct message Instagram. Melalui interaksi tersebut, Majalah Gadis jadi mengetahui apa
saja kesukaan dan
pertanyaan khalayaknya.
Oleh sebab itu, redaksi Majalah Gadis mampu menjalankan kurasi untuk memilih artikel apa yang akan didistribusikan di Insta Story yang akan dihubunkan langsung ke situs melalui fitur Swipe Up. Selain beberapa cara tersebut,
distribusi Narasi.tv adalah model cross media, yaitu menyebarkan konten di lebih dari satu platform.
Program yang turut didistribusikan di media konvensional adalah Mata Najwa, sebuah tayangan talkshow politik.
Narasi.tv memasarkan kontennya secara gratis di beberapa platform, menerapkan lima model pemasaran. Media ini juga menggunakan beberapa model dalam model pendapatannya.
Sekarang, Narasi.tv fokus untuk mendapatkan engagement audiensnya dari media sosial.
Majalah Gadis juga mengadakan kuis dan giveaway untuk lebih menarik engagement kepada khalayaknya.
2.2 Teori dan Konsep
2.2 1 Konvergensi Media
Perkembangan teknologi dalam komunikasi massa dapat terlihat dari pertama kali munculnya mesin cetak sehingga terdapat buku, surat kabar, dan sebagainya. Kemudian, ada gelombang elektromagnetik yang memungkinkan adanya televisi dan radio. Akhirnya, muncul pula internet yang menjadi dasar lahirnya dari media baru yang mengubah perkembangan media (Iskandar, 2018, p.10).
Pavlik dalam Iskandar (2018, p.11) menjelaskan bahwa perkembangan tersebut menyebabkan beberapa perubahan pada jurnalisme. Pertama, perubahan terhadap pengumpulan juga pelaporan dari sebuah berita. Kedua, perubahan terhadap pengumpulan informasi, pembuatan indeks, dan berbagai pengembangannya, terutama dalam pembuatan konten yang ditujukan pada platform multimedia. Ketiga, perubahan pada proses, produksi, dan editorial.
Keempat, perubahan pada cara distribusi dan penerbitan konten media
tersebut. Kelima, perubahan pada akses, tata letak konten, dan tampilannya.
Menurut Jenkins (2006, p.15), konvergensi adalah penyatuan beberapa bagian dari segi teknologi, kontennya, industri, dan khalayak.
Jenkins juga menjelaskan bahwa konvergensi dapat mengubah cara produksi sebuah media dan cara bagaimana media tersebut dikonsumsi (p. 16). Iskandar (2018, p. 12) menyatakan konvergensi tidak hanya dilihat dari segi teknologinya saja, tapi juga ada perubahan konten yang berintegrasi dari segi gambar, teks, suara, dan angka, juga perubahan pada cara konten itu diproduksi, didistribusi, dan dikonsumsi. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa konvergensi media memungkinkan sebuah media tidak hanya memiliki media konvensional saja, tapi juga media sosial (p.12).
Konsep ini dapat bermanfaat memberi pemahaman bagi penelitian ini bahwa pemanfaatan media sosial oleh sebuah media merupakan salah satu hasil dari konvergensi media. Konvergensi media merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang akhirnya mengubah cara produksi dan konsumsi sebuah media.
2.2 2 Media Sosial
Khan menjelaskan bahwa media sosial adalah platform yang dapat digunakan untuk menciptakan dan membagikan konten dalam
(2018, p.274) menyatakan media sosial tidak hanya menjadi tempat interaksi dan komunikasi yang terbatas pada komentar, tapi juga dapat menjadi tempat bagi khalayak untuk menyampaikan pendapat dan pandangannya.
Terdapat beberapa karakteristik media sosial yaitu jaringan, informasi, arsip, interaksi, simulasi sosial, dan konten oleh pengguna.
Jaringan diartikan sebagai sebuah alat penghubung komputer dengan berbagai perangkat keras yang dibutuhkan untuk perpindahan data.
Jaringan tesebut dapat menciptakan komunikasi antarpengguna (Nasrullah, 2015, dalam Setiadi, 2016, Karakteristik Media Sosial section, paras. 1-2)
Karakter kedua adalah informasi. Informasi adalah entitas yang penting bagi penggunaanya sebab pengguna berkreasi dengan membuat konten, merepresentasikan identitasnya melalui informasi yang ia tuangkan, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi yang ada di media sosial. Ketiga adalah arsip, hal ini maksudnya adalah informasi yang dipublikasikan ke media sosial menjadi sesuatu yang selalu tersimpan dan dapat diakses (Nasrullah, 2015, dalam Setiadi, 2016, Karakteristik Media Sosial section, paras. 3-4).
Karakter keempat yaitu interaksi. Media sosial bukan hanya menjadi tempat saling mengikut (following dan followers), tapi juga mampu menjadi tempat interaksi antar para penggunanya. Kelima
yaitu simulasi sosial, hal ini berarti media sosial menjadi sebuah wadah sosial yang ada di dunia virtual atau dunia maya. Kegiatan sosial yang dilaksanakan di kehidupan nyata dapat dilakukan di dunia virtual melalui media sosial (Nasrullah, 2015, dalam Setiadi, 2016, Karakteristik Media Sosial section, paras. 5-6).
Karakter terakhir adalah konten oleh pengguna atau user- generated content. Media sosial membuat konten menjadi hal yang didasari oleh pengguna dan pemilik akun. Pada media lama, khalayak hanya sebatas audiens yang pasif, hal ini berbeda dengan media baru (Nasrullah, 2015, dalam Setiadi, 2016, Karakteristik Media Sosial section, para. 17).
Konsep ini bermanfaat untuk memberi pemahaman pada penelitian ini mengenai media sosial dan bagaimana karakteristiknya sehingga dapat memastikan bahwa Mata Najwa menggunakan media sosial yang memenuhi karakteristik-karakteristik tersebut.
2.2.2.1 Instagram
Bergstrom dan Backman (2013, p.11) menjelaskan bahwa Instagram merupakan perusahaan dari Amerika yang berdiri sejak 2010. Sejak 2010 hingga 2013, Instagram memiliki 100 juta pengguna aktif, 40 juta gambar yang diunggah per hari, dan
8.500 likes per detik.
Instagram dapat digunakan dengan sederhana. Pertama, pengguna membuat akun. Kemudian, pengguna tersebut dapat mengikuti (following) atau diikuti oleh followers (pengguna lain).
Setelah itu, pengguna akan melihat foto-foto yang diunggah oleh orang-orang yang mereka ikuti, foto tersebut dapat terlihat di home page maupun di profil orang tersebut.
Foto tersebut dapat disukai (dengan memencet tombol like), kemudian foto dengan like yang banyak akan muncul pada halaman explore. Halaman explore dapat digunakan untuk mencari profil pengguna lain atau foto lain dengan menggunakan hashtag atau tagar (Bergstrom dan Backman, 2013, p.11).
Pengguna juga dapat melihat aktivitas orang yang diikuti dan membagikan konten Instagram ke pengguna lain (Bergstrom
& Backman, 2013, p.12). Bagi sebuah perusahaan, Instagram dapat digunakan sebagai alat atau sarana untuk komunikasi dan menghubungkan perusahaan tersebut dengan penggunanya, terutama pengguna yang menjadi targetnya. Instagram dapat digunakan untuk merepresentasikan brand mereka (Bergstrom &
Backman, 2013, p.12).
Konsep ini bermanfaat untuk memberi pengetahuan mengenai beberapa fitur Instagram dan manfaatnya sebagai sarana komunikasi antara media dan target audiensnya.
2.2 3 Jurnalisme Publik
Jurnalisme publik merupakan sebuah gerakan yang pertama kali muncul di Amerika Serikat pada sekitar tahun 1990 untuk menarik banyak orang agar berpartisipasi ke media dengan cara menunjukkan nilai dari media tersebut ke masyarakat, sebab saat itu jumlah pembaca dan penonton menurun (Kurpius, 2008, p.1). Hal ini sama seperti pernyataan Bro (2019, p.1) yaitu jurnalisme publik adalah tipe jurnalisme yang mendorong masuknya masyarakat dalam media berita sehingga masyarakat dapat tergabung dalam sebuah diskusi publik dan memungkinkan mereka terlibat dalam penyelesaian masalah masyarakat.
Pembuat jurnalisme publik percaya bahwa jurnalisme dapat mengembangkan dialog publik dengan cara mengembangkan konten yang dapat mengengage masyarakat melalui sebuah diskusi sehingga nantinya hal tersebut dapat membangun solusi dari permasalahan yang umum (Kurpius, 2008, p.1).
Jurnalisme publik mendorong jurnalis untuk bekerja secara sistematis dari bawah ke atas. Hal ini berbeda dengan jurnalisme tradisional. Pada jurnalisme tradisional, biasanya proses kerja dimulai dengan membingkai masalah dari kaum atas terlebih dahulu, seperti misalnya pejabat. Namun, di jurnalisme publik, proses kerjanya melihat dari sudut pandang masayarakat terlebih dahulu, mengenai
keprihatinan, aspirasi, dan masalah mereka sehingga dapat menciptakan solusi yang bisa dipertimbangkan bagi masyarakat tersebut (Kurpius, 2008, p.1).
Terdapat banyak kesamaan antara jurnalisme publik dan engagement audiens di masa ini. Namun, ada satu perbedaan yang sangat menonjol, yaitu internet. Di saat ini, engagement audiens bisa diraih melalui berbagai sarana secara online. Meskipun menggunakan cara yang berbeda, tujuan utamanya tetap sama (Ferrucci, Nelson &
Davis, 2020, p.1590). Dalam penelitian mengenai perkembangan Public Journalism ke Engaged Journalism, Ferruci, Nelson & Davis (2020, p.1599) menyatakan bahwa hal yang mendasari kedua hal tersebut adalah masyarakat yang kecewa terhadap berita yang semakin dipengaruhi oleh kaum elit sehingga masyarakat akan cenderung mengonsumsi dan mendukung berita bila mereka diberi peran lebih besar dalam proses produksinya.
Konsep ini bermanfaat memberikan pemahaman bahwa keterlibatan audiens atau engagement dari audiens merupakan hal yang sudah diperhatikan sebelum jurnalisme di era digital ini. Dahulu, hal tersebut tertuang dalam jurnalisme publik untuk mendorong masyarakat dalam media berita.
2.2 4 Engagement
Engagement adalah pengalaman yang didapat oleh pembaca, penonton, dan pengunjung sebuah media yang dapat membuat audiens tersebut membaca, menonton, atau berinteraksi dengan media tersebut (Malthouse & Peck, 2011, dalam Batsell, 2015, pp.6-7). Batsell (2015, p.9) menyatakan agar jurnalisme mampu bertahan, pembuat konten berita harus mendengarkan, berinteraksi, dan memenuhi kebutuhan audiensnya.
Batsell (2015, p.12) menjelaskan tidak hanya jurnalisme yang baik yang diperlukan pada sebuah industri berita, tapi juga kemampuan yang baik untuk menyampaikan berita tersebut agar audiens merasakan pengalaman dan keterkaitan dengan konten tersebut. Yemma (dalam Batsell, 2015, p. 133) menyatakan, meski pembuat konten harus mampu menarik banyak audiens, konten yang dibuat harus tetap berkualitas, jangan hanya memerhatikan traffic.
Batsell (2015, p.5) menyatakan engagement yang efektif dan memiliki arti didapatkan ketika jurnalis mendapat perhatian audiens, membuat audiens setia, dan membuat kepercayaan audiens semakin dalam. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa engagement menjadi hal yang penting, sebab di era digital ini perlu adanya hubungan yang kuat antara pembuat konten berita dengan publik. Kehadiran media sosial dapat menjembatani hubungan tersebut (Batsell, 2015, p.6).
2.2.4.1 Strategi Engagement
Batsell (2015, p.10-11) menyatakan ada beberapa strategi engagement yang dapat dijalankan oleh organisasi berita, yaitu yaitu media mengumpulkan audiensnya, media berinteraksi dengan audiensnya, media fokus kepada kepuasan audiensnya, media memberikan audiens kebebasan dalam memilih konten, dan media memperhitungkan efektivitas dan menciptakan nilai.
a. Mengumpulkan Audiens
Loyalitas audiens dapat terbangun dengan adanya pertemuan tatap muka yang dihubungkan dengan edukasi atau hiburan. (Batsell, 2015, p.10).
Untuk melaksanakan tahap ini, media sosial dapat dimanfaatkan untuk meyakinkan audiens bahwa mereka harus datang, seperti yang diterapkan Texas Tribune yang mengunggah tweet pada Twitternya untuk mengajak audiens datang ke festival musik yang mereka selenggarakan (Batsell, 2015, p.28).
b. Interaksi dengan Audiens
Hal paling mendasar pada engagement adalah membangun percakapan dengan audiens. Hal ini dapat terfasilitasi dengan alat digital yaitu media
sosial (Batsell, 2015, p.10). Dalam bukunya, Batsell menjelaskan salah satu contoh yaitu Belief Blog yang kerap memberikan pertanyaan bagi audiensnya agar tercipta diskusi yang berkualitas dengan tujuan mendengar dan bereaksi terhadap pemikiran audiens Belief Blog, bukan untuk mendapatkan “like”
(Batsell, 2015, p.45).
c. Media Fokus pada Kepuasan Audiens
Media harus dapat menyajikan konten yang relevan dengan audiensnya Hal ini untuk memenuhi kebutuhan audiens tersebut. Apabila hal ini dapat berjalan, maka media tersebut dapat mampu memberikan hal yang dibutuhkan oleh audiensnya.
d. Media Mendorong Audiens Memenuhi Rasa Penasaran
Media memberikan audiensnya kemudahan untuk secara mudah mencari informasi yang paling penting untuk mereka atau bahkan yang membuat mereka tertarik untuk berkontribusi (Batsell, 2015, p.11). Pada pembahasannya, Batsell menyatakan bahwa ia melihat bagaimana sebuah newsroom
berpartisipasi dengan mereka. Untuk meningkatkan rasa penasaran, sebuah media dapat membuat konten dalam bentuk kuis berita, permainan, kontes (Batsell, 2015, p.14). Batsell menyatakan bahwa pada era digital, interaktivitas menjadi hal yang efektif untuk membangun engagement (2015, p.105).
e. Media Mengukur Efektivitas dan Keberhasilan
Organisasi berita yang menggunakan media sosial memiliki sebuah pengukuran metriknya untuk mengukur engagement (Batsell, 2015, p.11).
Kebanyakan media mengukurnya dari page views (banyaknya orang yang melihat halaman media tersebut), re-tweet, share, komentar (Batsell, 2015, pp.127-128).
Haile dalam Batsell (2015, p. 131) mengatakan bahwa sekarang banyak media yang membeli traffic, menggunakan headline yang tujuannya mendapatkan banyak klik, padahal tujuan utama media adalah membangun audiens, bukan membangun traffic. Yemma (dalam Batsell, 2015, p.133) mengatakan media memang membutuhkan
traffic, tapi tetap lebih membutuhkan kualitas, jangan sampai hanya trafficnya saja yang dikejar.
2.2.4.2 Tahap Engagement pada Audiens
Di era ini, engagement tidak lagi sama dengan media tradisional, sebab partisipasi menjadi bagian dari engagement, tidak hanya berhenti sampai tahap audiens mengonsumsi konten saja (Evans & McKee (2010, p.11). Lebih lanjut mereka menyatakan bahwa engagement dapat menjadi dasar bagi pemasaran dan bisnis melalui media sosial.
Evans dan McKee (2010, p.15) menjelaskan saat ini teknologi mampu mendorong terjadinya collaboration. Namun, ada tahap lain sebelum collaboration. Lebih lengkap, tahap- tahap tersebut adalah consumption, curation, creation, dan collaboration.
Gambar 2.1 Tahap Engagement
Sumber: Evans dan McKee, 2010
a. Consumption
Tahap pertama adalah consumption, Evans dan McKee (2010, p.16) menjelaskan consumption merupakan tahap saat audiens mengonsumsi konten yang ada pada media sosial. Pada media sosial, mengonsumsi dapat berarti membaca, menonton, mendengarkan, dan mengunduh konten digital. Hal ini tidak mengandung interaksi antara audiens dengan pembuat konten.
Lebih lanjut mereka menjelaskan bahwa tahap ini merupakan tahap awal dari setiap tahap selanjutnya. Evans dan McKee menjelaskan, tidak mungkin seseorang membagi konten tersebut ke orang lain apabila orang tersebut tidak terlebih dahulu mengonsumsi konten tersebut. Seseorang tidak mungkin membagi konten yang tidak ia ketahui isinya. Maka, konsumsi konten merupakan tahap awal. Evans dan McKee menjelaskan apabila media dapat membuat tahap ini terlaksana, maka dapat mengarahkan tahap-tahap selanjutnya dalam tahap engagement.
b. Curation
Tahap kedua adalah curation. Evans dan McKee (2010, p. 17) menyatakan tahap ini mencakup penyaringan, penilaian, peninjauan, dan tag. Tahap yang dijelaskan Evans dan McKee merupakan tahap curation yang dijalankan oleh audiens yang telah mengonsumsi konten (tahap consumption).
Sebagai contoh, Evans dan McKee menjelaskan salah satu tahap curation adalah ulasan yang seseorang buat mengenai sebuah produk. Pada sebuah media sosial, hal ini misalnya dilakukan dalam bentuk like. Ulasan tersebut dapat menjadi salah satu penilaian orang lain terhadap produk itu sehingga dapat membuat mereka memutuskan akan membeli produk itu atau tidak.
Tahap curation membuat konten dapat lebih bermanfaat, terutama apabila konten yang disajikan sesuai dan berguna dengan audiens. Sebagai contoh, bila produk yang disajikan sesuai dengan minat dan ketertarikan target audiens, maka review yang diberikan terhadap produk itu akan lebih bernilai dan sesuai dengan target audiens yang lebih luas.
c. Creation
Tahap ketiga adalah creation, Evans dan McKee (2010, p. 18) menyatakan tahap ini adalah ketika audiens dapat membuat konten media sosial yang berhubungan dengan tema yang sedang diusung oleh media tersebut. Saat menjalankan ini, media tersebut harus menyediakan hal-hal yang dapat mendukung pembuatan konten oleh audiensnya. Misalnya, media tersebut mengajak audiens untuk mengunggah foto mereka ke media sosial dan memberi tag pada media mereka, maka bisa saja media tersebut menyediakan template, aturan format, contoh, dan sebagainya yang dapat memudahkan audiens melakukan hal itu.
Hal yang harus diingat oleh media adalah membuat audiens mengeluarkan usaha sekecil- kecilnya dalam melaksanakan tahap ini. Evans dan McKee memberi contoh, misalnya sebuah media memberi arahan bagi audiens untuk mengunggah foto, pastikan foto yang diunggah dapat diterima dalam beragam ukuran. Sebab, misalnya media itu hanya mampu menerima foto dalam ukuran 100KB, orang-orang yang ingin mengirim foto dengan size
lebih besar dari itu akan membatalkan keinginannya untuk mengikuti tahap ini.
d. Collaboration
Tahap keempat adalah collaboration. Evans dan McKee (2010, p. 19) menjelaskan bahwa tahap consumption, curation, dan creation sebenarnya mampu untuk menciptakan traffic sebuah media sosial, menaikkan jumlah view, followers, dan sebagainya. Namun, hal itu tidaklah cukup, sebab ketiganya tidak mampu menciptakan aksi sosial yang dibutuhkan. Hal yang dapat melengkapinya adalah kolaborasi. Salah satu bentuk kolaborasi adalah adanya percakapan antara penyedia konten dengan audiensnya di media sosial.
Sebelum kehadiran media sosial, Evans dan McKee (2010. p.19) menyatakan sifat dari media tradisional adalah satu arah. Misalnya, seorang jurnalis mempublikasikan artikel di surat kabar, lalu dibaca oleh audiensnya, kemudian audiens tersebut memberi feedback dengan cara mengirim surat kepada media tersebut. Setelah itu, tidak ada proses lagi sebab jurnalis tersebut tidak akan mengirim
surat balasan ke satu individu tersebut. Inilah yang mereka katakan sebagai proses satu arah.
Sekarang ketika sudah serba digital, adanya media sosial membuat proses tersebut tidak terpaku satu arah. Percakapan mungkin saja terjadi di kolom komentar sebuah sosial antara seorang audiens dengan penyedia kontennya, maka hal tersebut menciptakan sebuah kolaborasi.
Konsep engagement yang mencakup strategi dan tahap engagement menjadi pedoman bagi peneliti dalam melaksanakan penelitian ini. Strategi engagement menurut Batsell akan peneliti gunakan untuk melihat strategi engagement yang dijalankan di Instagram Mata Najwa, sedangkan tahap engagement menurut Evans dan McKee akan peneliti gunakan untuk melihat bagaimana tahap engagement pada user Instagram Mata Najwa tercipta.
2.3 Alur Penelitian
Perkembangan teknologi menghasilkan internet hingga media sosial. Media sosial dapat menjadi sebuah fasilitas untuk partisipasi, partisipasi tersebut sama seperti yang diusung dalam konsep jurnalisme publik. Kedua hal tersebut dapat digunakan untuk memenuhi salah satu fungsi engagement yaitu melayani kepentingan publik.
Narasi.tv mementingkan engagement untuk menciptakan partisipasi masyarakat dan untuk nantinya menjalankan model pendapatannya. Salah satu programnya yang mendapat indeks paling tinggi dalam memenuhi kebutuhan publik adalah program Mata Najwa. Oleh sebab itu, penelitian ini meneliti strategi engagement dan pengaruhnya untuk menciptakan tahap engagement pada Instagram Mata Najwa.
Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Penelitian
Sumber: Peneliti, 2020