BAB I PENDAHULUAN. Media audio atau yang biasa disebut dengan radio merupakan salah satu

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Media audio atau yang biasa disebut dengan radio merupakan salah satu penemuan besar dalam sejarah peradaban manusia

1

dan saat ini semakin berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dari manusia itu sendiri. Tanpa meninggalkan fungsi dasarnya sebagai alat komunikasi, radio saat ini menjadi media hiburan dan informasi yang murah, efisien serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik dari perkotaan sampai daerah terpencil atau pedesaan.

Manusia yang mendapatkan hiburan dengan adanya radio tersebut dengan cara mendengarkan musik dan lagu yang selalu diputar oleh setiap stasiun radio atau Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (selanjutnya disingkat RSSNI) yang ada di setiap wilayah Negara Republik Indonesia. Musik dan lagu yang diputarkan oleh stasiun radio tersebut biasanya berasal dari kaset maupun Compact Disc yang dimiliki oleh pemilik stasiun radio yang bersangkutan dengan cara membeli ataupun berasal dari para musisi dan group band yang mempromosikan album terbarunya secara gratis yang bertujuan supaya album tersebut dikenal di masyarakat sehingga masyarakat yang senang terhadap album tersebut, maka akan membeli kaset ataupun

      

1 Sejarah perkembangan radio bisa dirunut sejak September 1899, ketika seorang penemu dan pengusaha Italia berusia 25 Tahun bernama Gugleilmo Marconi mengenalkan telegraf tanpa kabel yang mengawali era komunikasi melalui gelombang udara, lihat http://www.jurnalis/oko.blogspot.com

(2)

Compact Disc-nya, sehingga hal ini menimbulkan keuntungan bagi para musisi dan

group band tersebut.

Sementara itu keuntungan bagi stasiun radio dengan pemutaran musik dan lagu oleh stasiun radio atau RSSNI tersebut adalah keuntungan secara tidak langsung, maksudnya kalau musik dan lagu yang diputarkan tersebut merupakan musik dan lagu hits (terkenal) dipasaran maka stasiun radio bersangkutan menjadi terkenal secara tidak langsung dan dampak yang timbul adalah banyaknya tawaran dari pihak masyarakat untuk memasang iklan di stasiun radio tersebut. Oleh karena itu, pemutaran musik dan lagu tersebut berkaitan erat dengan Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disingkat HKI), sebab jika dilihat dari aspek hukumnya, maka musik dan lagu yang diputar oleh stasiun radio atau RSSNI merupakan suatu hasil karya cipta seseorang, sehingga tentunya tidak terlepas dari HKI.

Berdasarkan data pada tahun 2003 yang terdaftar di balai Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Klas II Medan jumlah Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di Sumatera Utara tercatat ada 103 stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (tidak termasuk Radio Republik Indonesia) dengan pertumbuhan yang dapat dilihat dalam tabel di bawah ini

2

:

Tabel 1 : Jumlah Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di Sumatera Utara

Sumber data : http://www.pppi.or.id

No. Tahun Medan & Jlh Stasiun Daerah Tkt II & Jlh Stasiun

1. 1980 17 Stasiun Radio 3 Stasiun Radio

2. 1990 19 Stasiun Radio 23 Stasiun Radio 3. 2000 20 Stasiun Radio 35 Stasiun Radio 4. 2003 19 Stasiun Radio 73 Stasiun Radio

      

2 http://www.pppi.or.id., diakses pada tanggal 21 Maret 2010.

(3)

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka dapat dilihat bahwa yang benar-benar beroperasi hanya sekitar 60 % (enam puluh persen). Pada tahun 2003 anggota PRSSNI di Medan sebanyak 19 stasiun radio dan Daerah Tingkat II sebanyak 35 stasiun radio.

3

Di kota Medan tercatat 29 (dua puluh sembilan ) stasiun radio yang mengudara pada jalur FM dan 1 (satu) stasiun radio di jalur AM. Pada hal menurut kanalisasi yang disusun oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi dengan jarak spasi 800 (delapan ratus) KHz jatah frekuensi FM di Medan membuat tidak terpenuhinya standar spasi 800 (delapan ratus) KHz tapi sementara ditetapkan 400 (empat ratus) KHz dengan catatan akan diseleksi selama 10 (sepuluh) tahun ke depan untuk selanjutnya jumlah Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia disesuaikan agar bisa memenuhi spasi 800 (delapan ratus) KHz.

4

Sedangkan untuk tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 jumlah stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota Medan sebanyak 63 (enam puluh tiga) stasiun, sementara yang menjadi anggota PRSSNI di kota Medan sebanyak 50 (lima puluh) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

      

3 http://www.pppi.or.id.,diakses pada tanggal 21 Maret 2010.

4 http://www.pppi.or.id.,diakses pada tanggal 21 Maret 2010.

(4)

Tabel 2 : Jumlah Stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di Kota Medan Tahun 2005-2010

No. Tahun Anggota PRSSNI

Bukan Anggota PRSSNI

Jumlah Stasiun RSSNI di Kota

Medan 1. 2005 29 Stasiun Radio 3 Stasiun Radio 32 Stasiun Radio 2. 2006 35 Stasiun Radio 3 Stasiun Radio 38 Stasiun Radio 3. 2007 39 Stasiun Radio 4 Stasiun Radio 43 Stasiun Radio 4. 2008 45 Stasiun Radio 6 Stasiun Radio 51 Stasiun Radio 5. 2009 48 Stasiun Radio 10 Stasiun Radio 58 Stasiun Radio 6. 2010 50 Stasiun Radio 13 Stasiun Radio 63 Stasiun Radio

Sumber Data : Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di Kota Medan tahun 2005-2010

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 penambahan stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota Medan sebanyak 31 (tiga puluh satu) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia dengan kurun waktu 5 (lima) tahun. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dilihat bahwa penambahan yang terjadi tidak terlalu signifikan, karena terlihat dari tabel 2 tersebut setiap tahunnya hanya terjadi penambahan antara 5 (lima) sampai dengan 7 (tujuh) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.

5

Sedangkan untuk keanggotaan PRSSNI di kota Medan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 terjadi penambahan sebanyak 21 (dua puluh satu) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia untuk kurun waktu 5 (lima) tahun. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dilihat bahwa penambahan yang terjadi tidak terlalu signifikan,

      

5 Wawancara pada tanggal 01 Juni 2010 dengan Bahrum Syah, Staf Administrasi di Kantor Wilayah Yayasan Karya Cipta Indonesia di Kota Medan.

(5)

karena terlihat dari tabel 2 tersebut setiap tahunnya hanya terjadi penambahan antara 2 (dua) sampai dengan 6 (enam) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.

6

Setelah mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kondisi fisik stasiun radio dan keberadaannya di kota Medan, maka ada baiknya juga berbicara tentang HKI merupakan dasar hukum dari penggunaan Hak Cipta musik dan lagu yang diputar di stasiun radio di kota Medan tersebut. Ada beberapa perangkat hukum yang mengatur tentang HKI tersebut, antara lain

7

:

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varitas Tanaman

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang (Trade Secret).

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri.

4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Letak Sirkuit Terpadu.

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 Tentang Paten (Patent).

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek Dagang (Trade Mark) dan untuk Indikasi Geografis tidak ada peraturan perundang-undangan yang mengaturnya secara tersendiri, namun dalam Pasal 56 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek ada mengatur tentang Indikasi Geografis.

7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (Copy Right).

Berdasarkan ketentuan tersebut di atas mengenai perangkat hukum dari HKI, maka untuk pemutaran atau penyiaran musik dan lagu di setiap radio atau RSSNI tersebut dilindungi oleh perangkat hukum HKI khususnya di bidang Hak Cipta

      

6 Wawancara pada tanggal 01 Juni 2010 dengan Bahrum Syah, Staf Administrasi di Kantor Wilayah Yayasan Karya Cipta Indonesia di Kota Medan.

7 Adrian Sutedi, Hak Atas Kekayaan Intelektual, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal. 60.

(6)

berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta (selanjutnya disingkat UUHC). Hal tersebut dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 1 UUHC yang menyebutkan “Hak Cipta adalah Hak eksklusif bagi Pencipta maupun Penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku”.

Sebagaimana yang telah disebutkan dalam Pasal 1 angka 1 tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa UUHC memberikan perlindungan hukum kepada Pencipta atau Penerima hak dari suatu ciptaan dengan adanya penegasan terhadap pengakuan hak yang dimiliki Pencipta atau Penerima hak. Selain daripada itu, hak tersebut menurut UUHC adalah hak eksklusif dalam hal untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan dari Pencipta atau Penerima hak.

Menurut Eddy Damian,

Istilah hak mengumumkan sering digunakan dalam perwujudan suatu ide dengan cara-cara pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran atau penyebaran suatu ciptaan dari Pencipta atau Penerima hak dengan menggunakan alat apapun, termasuk media internet atau melakukan dengan cara apapun sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar ataupun dilihat orang lain.

8

Berdasarkan pernyataan yang telah dikemukakan oleh Eddy Damian tersebut di atas, musik dan lagu yang diputarkan melalui penyiaran oleh radio atau RSSNI merupakan bagian dari penggunaan Hak Cipta berdasarkan Pasal 1 angka 1 UUHC.

Selain daripada radio atau RSSNI berkaitan dengan Hak Cipta musik dan lagu, maka

      

8 Eddy Damian, Hukum Hak Cipta, PT. A lumni, Bandung, 2009, hal. 135.

(7)

ada Badan Hukum lain yang juga berhubungan atau berkaitan dengan Hak Cipta musik dan lagu yaitu Yayasan Karya Cipta Indonesia (selanjutnya disingkat YKCI).

YKCI tersebut, “didirikan pada tahun 1990 yang merupakan perwujudan dari keinginan daripada Pencipta lagu Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya, terutama dalam pengelolaan hak ekonomi yang tercakup dalam bidang hak mengumumkan atau performing right”.

9

Selain daripada itu, “dibentuk dan didirikannya YKCI tersebut bertujuan untuk membantu para Pencipta mengelola Hak Cipta atas musik dan lagu bagi para Pencipta yang digunakan oleh para pengguna musik dan lagu (user) yang bermaksud untuk menggunakan karya ciptaanya bagi kepentingan komersial”.

10

Berkaitan dengan penggunaan karya cipta musik dan lagu, para Pencipta atau Pemegang hak cipta tidak memiliki kemampuan untuk memonitoring atau mengawasi setiap penggunaan karya ciptanya oleh pihak lain. Pemegang Hak Cipta tersebut tidak bisa setiap waktu mengontrol atau mengawasi setiap stasiun televisi, radio maupun restoran untuk mengetahui berapa banyak karya cipta musik dan lagu yang telah diperdengarkan ditempat-tempat tersebut. Oleh karena itu, untuk melakukan kemudahan baik terhadap Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dalam melakukan pengawasan atau memonitoring terhadap penggunaan karya ciptanya tersebut oleh para pemakai atau pengguna Hak Cipta (user) musik dan lagu, maka Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu tersebut akan menunjuk seseorang atau suatu

      

9 Kiprah Pencipta Lagu Dalam Memperjuangkan Hak-Haknya, http://www.kci.or.id, diakses tanggal 5 Maret 2010.

10 Ibid.

(8)

Badan Hukum ataupun lembaga tertentu sebagai kuasa untuk melakukan tugas tersebut.

Penunjukan kuasa terhadap seseorang atau Badan Hukum ataupun lembaga tertentu oleh Pencipta atau Pemegang Hak Cipta di Indonesia biasanya dilakukan oleh YKCI, dan Badan Hukum ini juga telah didukung oleh pemerintah Republik Indonesia (Tim Keppres 34 dan Departemen Kehakiman Republik Indonesia).

11

Badan Hukum nirlaba ini merupakan pengelola Hak Cipta musik dan lagu yang bersifat kolektif, karena diberi kuasa dari pihak Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu di Indonesia maupun pihak asing dan juga diberikan tugas untuk menangani lisensi terhadap pengguna musik dan lagu (user) di wilayah Negara Republik Indonesia dan termasuk di dalamnya setiap stasiun radio atau RSSNI.

Melalui pemberian kuasa tersebut, YKCI juga mempunyai tugas mengumpulkan royalty untuk para Pencipta musik dan lagu dari para pengguna karya musik dan lagu (user) yang selanjutnya diikuti dengan pemberian lisensi musik dan lagu yang merupakan bagian daripada kuasa yang diberikan oleh Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu. Kemudian pihak YKCI mendistribusikannya kepada para pencipta musik dan lagu yang berhak.

12

Berdasarkan tugas dari YKCI tersebut, maka dapat dikatakan bahwa YKCI merupakan fasilitator yang sangat penting terhadap Pencipta atau Pemegang Hak

      

11 Tim Lindsey, dkk (ed)., Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, PT. Alumni, Bandung, 2006, hal. 119.

12 Tanpa pengarang, Pengantar Umum Karya Cipta Indonesia, Karya Cipta Indonesia, Jakarta, 1990, hal. 4.

(9)

Cipta musik dan lagu maupun Pengguna dari karya cipta musik dan lagu (user), karena YKCI tersebut menjembatani hubungan antara Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu dengan pengguna karya musik dan lagu dalam hal menerima pembayaran royalty atas penggunaan karya cipta musik dan lagu.

13

Ada beberapa katagori yang dapat menjadikan musik dan lagu sebagai usaha bagi para pengguna musik dan lagu (user) tersebut, antara lain:

1. Featuring musik, artinya kegiatan usaha tersebut tidak dapat berjalan tanpa adanya lagu, sebagai contoh konser musik, karaoke, pub atau night club dan sebagainya.

2. Background musik, artinya lagu tersebut memberikan nilai tambah pada suatu usaha demi kenyamanan konsumen, seperti cafe, restoran, dan sebagainya.

3. Entertainment musik, artinya suatu kegiatan usaha yang tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya musik dan lagu, seperti stasiun televisi, radio dan sebagainya.

14

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka salah satu dari pengguna karya cipta tersebut adalah radio. Radio merupakan media penyiaran yang kegiatannya menyelenggarakan siaran-siaran yang ditujukan kepada khalayak ramai atau umum yang dapat menerima siaran melalui sarana komunikasi dan salah satu fungsinya sebagai media hiburan bagi para pendengarnya dengan memutarkan dan memperdengarkan musik dan lagu.

15

Kehidupan masyarakat pada saat ini menganggap musik dan lagu sebagai suatu kebutuhan rohaniah dalam wujud hiburan. Pada umumnya orang akan merasa senang,

      

13 Ibid.

14 Hulman Panjaitan, Lisensi Pengumuman Musik /Lagu Dan Aspek Hukumnya, http://www.

poterindosiana.com., diakses tanggal 3 Maret 2010.

15 Fungsi Radio, http://pdfqueen.com., diakses tanggal 13 Maret 2010.

(10)

terhibur dan puas dapat mendengarkan musik dan lagu tanpa membeli kaset ataupun Compact Disc (selanjutnya disingkat CD), hal ini disebabkan orang dapat

menikmatinya melalui media audio atau radio, dimana musik dan lagu tersebut merupakan menu utama dalam penyajian diseluruh stasiun radio.

16

Radio pada dasarnya memang tidak memperoleh suatu keuntungan secara langsung dengan adanya permintaan dari pendengar untuk memutarkan musik dan lagu. Namun pemutaran atau penggunaan musik dan lagu tersebut sebagai sarana untuk menarik jumlah pendengar untuk kepentingan komersial dari Radio tersebut dalam persaingan untuk mendapatkan pemasangan iklan yang merupakan sumber dana bagi eksistensinya Radio tersebut.

Tidak sedikit pelaku usaha yang belum mengetahui substansi dari hak mengumumkan yang disebutkan pada Pasal 1 angka 1 UUHC tersebut, maka terdapat 2 (dua) hak eksklusif yang dilindungi oleh UUHC yaitu hak mengumumkan dan hak memperbanyak. Pada umumnya masyarakat lebih mengenal hak memperbanyak seperti menggandakan suatu ciptaan musik dan lagu dengan menggunakan suatu kaset maupun CD sebagai media atau alat untuk menggandakannya.

Sementara dengan membeli suatu kaset atau CD yang original atau asli, maka dengan demikian secara langsung akan menegakkan ketentuan dari UUHC dari segi hak memperbanyak (mechanical right), sedangkan dengan membeli kaset atau CD non-original atau bajakan merupakan hal yang melanggar UUHC dari segi

      

16 Otto Hasibuan, Hak Cipta Di Indonesia, Tinjauan Khusus Hak Cipta Lagu, Neighbouring Rights Dan Collecting Society, PT. Alumni, Bandung, 2008, hal. 164.

(11)

pelanggaran hak memperbanyak atas suatu ciptaan karya musik dan lagu.

Menikmati musik dan lagu dari kaset yang dibeli tentunya telah menjadi hak sepenuhnya dari si pembeli, namun ternyata hak pembeli tidak termasuk dalam hak mengumumkannya kepada khalayak ramai atau umum terutama untuk kepentingan komersial. Kegiatan mengumumkan ciptaan musik dan lagu tersebut telah memasuki wilayah hak eksklusif lainnya, yaitu hak mengumumkan dan Pencipta atau Pemegang hak telah menerima hasil dari mechanical right namun masih berhak atas hak mengumumkan (performing right).

17

Penggunaan karya cipta musik dan lagu oleh pihak lain untuk digunakan pada kegiatan yang bersifat komersial, baik secara langsung maupun tidak langsung telah mendapatkan manfaat ekonomi dari penggunaan karya cipta musik dan lagu, wajib hukumnya menurut UUHC untuk meminta izin terlebih dulu dari Pencipta atau Pemegang hak cipta yang sah. Pemberian izin tersebut dilakukan dalam bentuk pemberian lisensi, yaitu izin yang diberikan oleh Pencipta atau Pemegang Hak Cipta kepada pihak lain untuk menggunakan, memperbanyak atau mengumumkan (menyiarkan) ciptaannya dengan persyaratan tertentu.

Pemegang Hak Cipta musik dan lagu berhak memberikan suatu lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian lisensi kecuali jika diperjanjikan lain, maka lingkup lisensi tersebut meliputi seluruh ciptaan musik dan lagu untuk jangka waktu tertentu dan berlaku untuk seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. Sementara jika

      

17 Kata “mengumumkan” Mengacu Pada Performing Right Hak Cipta Lagu, http://www,hukumonline.com/detail.asp., diakses tanggal 5 Maret 2010.

(12)

diperjanjikan lain, maka Pemegang Hak Cipta musik dan lagu tetap boleh melaksanakan sendiri atau memberikan lisensi kepada pihak ketiga lainnya.

Adapun tujuan dari pemberian lisensi adalah untuk memberikan kesempatan kepada pihak yang bukan Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu untuk memanfaatkan hasil ciptaan dari Pencipta dan bagi Pencipta ataupun Pemegang Hak Cipta musik dan lagu dapat menerima imbalan atau royalty atas hasil ciptaannya tersebut.

Pembayaran royalty yang dilakukan pengguna (user) kepada YKCI tersebut bukan untuk kepentingan YKCI, akan tetapi ditujukan kepada para Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu yang karya cipta musik dan lagunya telah dipergunakan oleh pengguna (user), jadi pihak YKCI hanya mengutip pembayaran royalty saja.

18

Sementara itu setelah pembayaran royalty selesai dilakukan oleh para pengguna (user) karya cipta musik dan lagu, maka pihak YKCI akan memberikan sertifikat lisensi musik dan lagu.

Pemberian sertifikat lisensi kepada para pengguna (user) karya cipta musik dan lagu oleh pihak YKCI berhubungan dengan perjanjian, maka pada dasarnya harus disepakati oleh para pihak yang melakukan perjanjian tersebut tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Namun begitu, walaupun tanpa ada paksaan dari pihak manapun untuk penggunaan setiap karya cipta musik dan lagu, maka terhadap pengguna (user) karya cipta musik dan lagu harus tetap membayar royalty demi tegakkan UUHC.

      

18 Tanpa pengarang, Op. Cit., hal. 6.

(13)

Sementara yang dimaksud tanpa ada paksaan dari pihak manapun adalah bahwa sebelum pembayaran royalty yang dilakukan oleh para pengguna (user) karya cipta musik dan lagu (dalam hal ini adalah RSSNI) kepada pihak YKCI, maka ada kesepakatan bagi para pihak dalam menentukan beberapa hal seperti berapa lama jangka waktu berlakunya sertifikasi lisensi musik dan lagu, berapa besarnya royalty yang akan dibayarkan, bagaimana cara pembayarannya dan sebagainya.

Berdasarkan dari uraian di atas dan melalui serangkaian penelitian awal yang didapat, maka peneliti mengadakan penelitian tentang Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik Dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional Oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia Di Kota Medan.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada uraian dari latar belakang tersebut di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini yang perlu mendapat kajian lebih lanjut, antara lain :

1. Mengapa diperlukan sertifikasi lisensi Hak Cipta oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) ?

2. Bagaimana kedudukan hukum sertifikasi lisensi Hak cipta yang dikeluarkan Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) ?

3. Hambatan dan upaya apa saja yang timbul dalam pelaksanaan Sertifikasi Lisensi

Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya

Cipta Indonesia (YKCI) ?

(14)

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui diperlukannya sertifikasi lisensi Hak Cipta oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI).

2. Untuk mengetahui kedudukan hukum sertifikasi lisensi Hak cipta yang dikeluarkan Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI).

3. Untuk mengetahui hambatan dan upaya yang timbul dalam pelaksanaan Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI)

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu :

1. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa sumbang saran dan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut untuk melahirkan berbagai konsep kajian yang pada gilirannya dapat memberikan masukan pada perkembangan ilmu hukum, khususnya mengenai Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI).

2. Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat digunakan, antara lain :

(15)

a. Sebagai masukan kepada instansi terkait guna menentukan kebijakan dan langkah-langkah untuk memecahkan masalah yang timbul sehubungan dengan Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI).

b. Sebagai informasi bagi masyarakat tentang perlunya perlindungan hukum kepada Pencipta musik dan lagu dari pengguna atau pemakai (user) terhadap ciptaan musik dan lagu yang digunakan dalam kaitannya dengan usaha yang bersifat komersial yaitu dengan menerbitkan sertifikat lisensi pengumuman musik dan lagu.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan secara kepustakaan di perpustakaan Universitas Sumatera Utara oleh peneliti, maka didapat informasi bahwa penelitian tentang Hak Cipta pernah dilakukan oleh Lasmauli Sylvia Riolina, dengan judul “Perlindungan Hak Cipta Bagi Pencipta Lagu di Tinjau dari Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta” dan permasalahan yang dikaji antara lain :

1. Bagaimana bentuk pengaturan mengenai perlindungan hak pencipta lagu di Indonesia?

2. Bagaimana bentuk pelanggaran hak pencipta lagu di Indonesia ?

(16)

3. Bagaimana pelaksanaan penegakan hak atas pelanggaran hak pencipta lagu di Indonesia ?

4. Bagaimana usaha untuk mengatasi terjadinya pelanggaran Hak Cipta ?

Sedangkan peneliti melakukan penelitian tentang Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (suatu penelitian di Kota Medan), jadi dilihat dari segi judul dan permasalahan penelitian Lasmauli Sylvia Riolina tersebut jelas berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat dijamin keasliannya.

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Suatu penelitian hukum biasanya ada kerangka konsepsional dan landasan atau kerangka teori yang merupakan suatu hal yang penting. Pada kerangka konsepsional diungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum, dan di dalam landasan/kerangka teoritis diuraikan segala sesuatu yang terdapat dalam teori sebagai system aneka “thoere’ma” atau ajaran.

19

      

19 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 6.

(17)

Kerangka teori adalah, “suatu kerangka berfikir lebih lanjut terhadap masalah- masalah yang diteliti”

20

. Kerangka teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori hukum hak dan kewajiban dari seorang ahli hukum Belanda yang bernama Gevers.

Menurut Gevers ahli hukum bangsa Belanda, menerangkan fungsi hukum secara umum dalam masyarakat, bahwa :

Hukum berfungsi sebagai alat untuk membagi hak dan kewajiban diantara para anggota masyarakat. Peraturan hukum memberikan suatu petunjuk arah kepada tuntutan yang dapat dilaksanakan oleh berbagai peserta dalam lalu lintas sosial satu sama lain.

21

Ada 2 (dua) teori dalam ilmu hukum yang menjelaskan keberadaan hak, yaitu:

1. Teori kepentingan (Belangen Theorie) dianut oleh Rudolf Von Jhering, yang berpedapat hak itu sesuatu yang penting bagi seseorang yang dilindungi.

2. Teori kehendak (Wilsmacht Theorie) dianut oleh Benhard Winsceid, yang bependapat hak adalah kehendak yang diperlengkapi dengan kekuatan dan diberi oleh tata tertib hukum kepada seseorang.

22

Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum, suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum. baik pribadi maupun umum. Dapat diartikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau layak diterima.

Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat kontraktual, dengan kata lain kewajiban adalah sesuatu yang sepatutnya diberikan.

      

20 Ibid.

21 Gevers, Hukum dan Masyarakat, (dalam Algra, Mula Hukum terjemahan Rechts aanvang oleh Simorangkir),Cet I, Binacipta, Bandung, 1983, hal. 379,382,385.

22 http:// repository UI.ac.id/dokumen/lihat/1649-pdf—ik-, diakses tanggal 9 Agustus 2010.

(18)

Hak dan kewajiban timbul pada subyek hukum disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya akibat terjadi perjanjian yang di sepakati oleh para pihak. Sertifikasi lisensi mengumumkan musik dan lagu, merupakan suatu perjanjian lisensi mengumumkan musik dan lagu antara YKCI dengan Pencipta atau emegang Hak Cipta, YKCI memperoleh kuasa dari Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu untuk mengelola hak ekonominya dalam hak mengumumkan. Dengan demikian YKCI untuk dan atas nama Pencipta atau Pemegang Hak Cipta, dapat memberikan izin kepada pengguna musik dan lagu untuk menggunakan lagunya untuk kepentingan komersial. Dengan demikian timbul hak dan kewajiban diantara YKCI dan pengguna hak cipta musik dan lagu, apa yang menjadi hak bagi pengguna musik dan lagu merupakan kewajiban bagi YKCI.

Pencipta dan ciptaan merupakan 2 (dua) hal yang saling berhubungan satu sama lainnya yang berkaitan dengan Hak Cipta. Namun di dalam UUHC membedakan 2 (dua) pengertian tentang Hak Cipta itu sendiri. Pada Pasal 1 angka 1 UUHC menyebutkan bahwa, “Hak Cipta adalah Hak eksklusif bagi Pencipta maupun Penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku”.

Sedangkan pada Pasal 2 ayat (1) UUHC menyebutkan bahwa, “Hak Cipta

adalah Hak eksklusif bagi Pencipta atau Penerima hak untuk mengumumkan atau

memperbanyak suatu Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu Ciptaan

(19)

dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan-pembatasan menurut perundang-undangan yang berlaku”.

Sebenarnya Pasal 1 angka 1 UUHC dan Pasal 2 ayat (1) UUHC tersebut hanya berbeda dari segi penulisan saja, hal ini dapat dilihat dalam Penjelasan Pasal 1 angka 1 UUHC, bahwa pengertian Hak Cipta tersebut tidak dijelaskan lebih lanjut, karena diangap sebagai suatu ketentuan umum saja. Sedangkan Pasal 2 ayat (1) UUHC dapat dilihat dalam penjelasannya yang menyatakan bahwa, “yang dimaksud dengan hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pemegangnya….”, jadi Pasal 2 ayat (1) UUHC tersebut merupakan penjelasan dari Pasal 1 angka 1 UUHC, sehingga pada prinsipnya boleh dikatakan tidak berbeda satu sama lainnya.

Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, selain untuk melindungi hak Pencipta atau Pemegang Hak, UUHC juga memiliki fungsi sosial. Pasal 2 ayat (1) UUHC di atas ada menyebutkan pembatasan menurut undang-undang, hal tersebut menyatakan bahwa dalam hal tertentu yang menyangkut kepentingan Negara dan masyarakat, ada kalanya pengumuman dan perbanyakan ciptaan oleh yang bukan Pencipta tidak dianggap sebagai pelanggaran Hak Cipta walaupun tidak ada izin dari Pencipta.

Terhadap adanya pembatasan-pembatasan tertentu menurut undang-undang,

maka UUHC telah memberikan sarana guna mewujudkan prinsip fungsi sosial yang

(20)

harus melekat pada hak milik sebagaimana lazimnya, yang memberikan kemungkinan kepada masyarakat luas untuk memanfaatkan atau menikmati suatu ciptaan yang dilindungi hak ciptanya sebagai salah satu hak milik.

23

Sedangkan berbicara tentang kepemilikan, maka erat kaitannya dengan keberadaan konsep hak milik yang sudah diakui lama oleh hukum. Pemberian kekuasaan memonopoli kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

24

Suatu persoalan yang penting dalam Hak Cipta adalah menyangkut tentang hak mengumumkan musik dan lagu, yaitu menyangkut cara pemberian lisensi oleh Pencipta lagu kepada pemakai atau pengguna (user), pembayaran dan penerimaan royalty, pengawasan terhadap pelaksanan lisensi dan pengawasan terhadap pemakai musik dan lagu yang tanpa lisensi.

Pengidentifikasian kegiatan pengumuman musik dan lagu atau pemakaian musik dan lagu untuk disiarkan, dipertunjukkan atau diputar untuk konsumsi umum, antara lain :

1. Menyiarkan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi secara langsung maupun melalui kaset, CD atau VCD oleh lembaga penyiaran seperti radio dan televisi, baik yang menggunakan kabel atau tanpa kabel;

2. Mempertunjukkan atau memperdengarkan lagu melalui konser-konser musik dan acara pertunjukkan musik yang bukan konser, seperti pesta-pesta, pertunjukkan di tempat-tempat hiburan malam;

3. Memperdengarkan lagu melalui pemutaran kaset atau CD lagu diberbagai tempat seperti : diskotik, karoke, cafe, bar, hotel, restoran, mall, plaza, supermarket, toko-toko, angkutan umum, rumah sakit, sekolah/universitas, perpustakaan, stasiun angkutan umum dan sebagainya;

      

23 Rahmadi Usman, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual-Perlindungan Dan Dimensi Hukumnya Di Indonesia, PT. Alumni, Bandung, 2003, hal. 87.

24 Sanusi Bintang, Hukum Hak Cipta, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998, hal. 39.

(21)

4. Menggunakan musik dan lagu sebagai nada dering dan nada sambung telepon selular.

25

Terhadap pemakaian musik dan lagu begitu luasnya yang berkaitan dengan menyiarkan, mempertunjukkan atau memperdengarkan musik dan lagu di stasiun- stasiun radio yang terletak di berbagai kota di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia, tidak mungkin Pencipta musik dan lagu sendiri melaksanakan pemberian lisensi, memungut royalty dan memperkarakan bilamana ada orang secara tidak sah atau tanpa izin melakukan penyiaran, mempertunjukkan atau memperdengarkan musik dan lagu. Sehingga diperlukan lembaga yang dapat mewakili para Pencipta musik dan lagu ialah YKCI.

Mekanisme pengadministrasian kolektif diawali dengan pemberian kuasa oleh Pencipta atau Pemegang Hak Cipta musik dan lagu kepada YKCI untuk memungut fee atau royalty hak mengumumkan (performing right) atas pemakaian Hak Ciptanya

oleh orang lain untuk kepentingan komersial, baik berupa pertunjukkan maupun penyiaran dan pendistribusian hasil royalty tersebut kepada Pencipta yang berhak setelah dipotong biaya administrasi.

Lisensi YKCI merupakan suatu izin untuk mengumumkan musik dan lagu milik Pemegang Hak Cipta Indonesia dan asing yang dikelola yang dikelola YKCI.

Sistem ini untuk menghindari para pengguna dari kewajiban mencari, meminta izin, bernegosiasi dan membayar royalty kepada pemegang Hak Cipta satu persatu.

      

25 Otto hasibuan, Op. Cit., hal. 197.

(22)

Lisensi pengumuman musik dan lagu pada dasarnya merupakan suatu perjanjian lisensi antara Pencipta yang telah dikuasakan kepada Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) dengan pihak pengguna atau pemakai musik dan lagu, pada hakikatnya merupakan suatu perjanjian keperdataan

26

yang mengatur penggunaan atau pemakaian karya cipta musik dan lagu, dengan pembayaran dan penerimaan royalty.

Selain berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diatur di dalam UUHC, maka dalam kaitannya dengan perjanjian lisensi pengumuman musik dan lagu, perlu diperhatikan pada Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (selanjutnya disingkat KUHPerdata) yaitu tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu perjanjian. Bilamana suatu perjanjian telah memenuhi syarat-syarat sahnya suatu perjanjian, maka perjanjian tersebut berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya (Pasal 1338 KUHPerdata).

27

Pasal 1320 KUHPerdata menyebutkan bahwa untuk sahnya persetujuan- persetujuan tersebut diperlukan 4 (empat) syarat, yaitu :

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya (the consent of the parties);

2. Kemampuan untuk membuat suatu perikatan (the capacity to contract);

3. Adanya suatu hal tertentu (a certain subject);

      

26 Menurut KUHPerdata Pasal 1233 sumber-sumber perikatan (verbentenis) adalah perjanjian (overeenkomst) dan undang-undang (wet), selanjutnya Pasal 1313 menetapkan bahwa suatu perjanjian adalah perbuatan yang terjadi antara satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap orang lain atau lebih.

27 Insan Budi Maulana, Bianglala Haki (Hak Kekayaan Intelektual), PT. Hecca Mitra Utama, Jakarta, 2005, hal. 144.

(23)

4. Adanya suatu sebab yang halal (a permissible cause).

28

Terhadap kedua syarat yang pertama dinamakan syarat subjektif, karena kedua syarat tersebut mengenai subjek perjanjian, kemampuan melakukan perbuatan hukum, kesepakatan (consensus) yang menjadi dasar kebebasan menentukan kehendak (tidak ada paksaan, kekhilafan ataupun penipuan). Sedangkan kedua syarat terakhir disebut syarat objektif, karena mengenai objek perjanjian, ditentukan bahwa apa yang diperjanjikan harus cukup jelas, harus sesuatu yang halal dalam arti tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum dan kesusilaan.

29

Syarat pertama tentang perlu adanya kesepakatan (consensus) antara pihak- pihak yang mengadakan perjanjian, artinya kedua belah pihak harus mempunyai kebebasan kehendak untuk mengadakan perjanjian. Para pihak tidak mendapat tekanan apapun juga yang dapat mengakibatkan cacat bagi terwujudnya kehendak tersebut. Pengertian sepakat dilukiskan sebagai pernyataan kehendak yang disetujui (overeenstemende wilverklaring) antara pihak-pihak. Pernyataan pihak yang mengajukan tawaran dinamakan (offerte), pernyataan pihak yang menerima tawaran dinamakan akseptasi (acceptatie).

30

Syarat kedua, kecakapan pihak-pihak yang mengadakan perjanjian, artinya bahwa para pihak yang mengikatkan diri dalam suatu perjanjian harus telah dewasa

      

28 Eddy Damian, Op. Cit., hal. 208.

29 Rumusan Hasil Simposium, Pembaharuan Hukum Perdata Nasional, diselenggarakan BHPN-Depkeh bekerja sama dengan FH-GAMA, 21023 Desember 1981 di Yogyakarta, dimuat dalam buku Mariam Darus Badrulzaman, KUHPerdata Buku III, Hukum Perikatan Dengan Penjelasan, PT.

Alumni, Edisi kedua, 1996, hal. 245.

30 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal. 73.

(24)

dan tidak di bawah pengampuan. Kedewasaan atau kriteria belum dewasa seseorang pengaturannya beragam, dalam Pasal 330 KUHPerdata menetapkan seseorang sebagai orang yang belum dewasa bila seseorang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum menikah.

31

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menetapkan usia dewasa untuk seorang wanita adalah 16 (enam belas) tahun dan untuk seorang pria adalah 18 (delapan belas) tahun.

Syarat ketiga, adanya keharusan adanya objek tertentu yang dapat ditentukan dalam suatu perjanjian lisensi pengumuman musik dan lagu, obyeknya yaitu Hak Cipta suatu ciptaan berupa karya musik dan lagu yang akan disiarkan oleh pengguna musik dan lagu.

Syarat keempat adanya suatu sebab yang halal, mengenai unsur “sebab” atau kausa” undang-undang tidak memberikan pengertian yang baku. Namun pada dasarnya yang dimaksud dengan “sebab” bukanlah hubungan sebab akibat, sehingga pengertian “sebab” tersebut tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan ajaran kausaliteit. Jadi yang dimaksud dengan pengertian “sebab” bukan juga sebab yang

mendorong para pihak untuk mengadakan perjanjian, karena apa yang menjadi menjadi motif dari seseorang untuk mengadakan perjanjian itu tidak menjadi perhatian hukum.

32

Pembentuk undang-undang mempunyai pandangan bahwa perjanjian-perjanjian mungkin juga diadakan tanpa sebab atau dibuat dengan sebab terlarang. Sementara

      

31 Ibid, hal 78

32 Ibid., hal. 81

(25)

yang dimaksud dengan sebab terlarang ialah sebab yang dilarang menurut undang- undang atau berlawanan dengan kesusilaan baik atau ketertiban umum (Pasal 1337 KUHPerdata). Perjanjian yang dibuat dengan sebab yang demikian tidak mempunyai kekuatan hukum (Pasal 1335 KUHPerdata).

Lisensi adalah suatu bentuk pemberian izin pemafaatan atau penggunaan Hak atas Kekayaan Intelektual yang bukan pengalihan hak, yang dimiliki oleh pemilik lisensi kepada penerima lisensi, yang pada umumnya disertai dengan imbalan berupa royalty.

33

Dalam hal ini YKCI telah menerima kuasa dari pemilik hak untuk membuat perjanjian dengan pengguna musik komersial dengan menerbitkan Sertifikat Lisensi Pengumuman Musik (SLPM). Diterbitkannya Sertifikat Lisensi pengumuman musik dan lagu oleh YKCI ini membuktikan kepeduliannya suatu organisasi masyarakat ikut serta mengefektifkan pelaksanaan UUHC di Indonesia sekaligus memberikan perlindungan hukum kepada Pencipta.

       

Sebagai kosekuensi dari pengertian Hak Cipta sebagai hak eksklusif sebagaimana diuraikan di atas, demikian halnya dengan Hak Cipta musik dan lagu, maka setiap orang atau badan usaha yang menggunakan musik dan lagu untuk kegiatan komersial, harus meminta izin terlebih dahulu kepada Penciptanya dan atau kepada Pemegang Hak Ciptanya yang sah.

 

33 Gunawan Widjaja, Lisensi (seri Hukum Bisnis), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal. 44.

(26)

2. Konsepsi

Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Peranan konsepsi dalam penelitian adalah untuk menghubungkan teori dan observasi, antara abstrak dan kenyataan, sedangkan konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang disebut definisi operasional.

34

Kegunaan dari adanya konsepsi agar ada pegangan dalam melakukan penelitian atau penguraian, sehingga dengan demikian memudahkan bagi orang lain untuk memahami batasan-batasan atau pengertian-pengertian yang dikemukakan. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini dikemukakan beberapa konsep dasar sebagai berikut :

a. Sertifikasi adalah penyertifikatan, mendapat sertifikat, atau telah disertifikasi.

35

b. Sertifikat adalah tanda atau surat keterangan (pernyataan tertulis) atau tercetak

dari orang yang berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan atau suatu kejadian.

36

c. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang Hak terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak Ciptaannya atau produk Hak terkaitnya dengan persyaratan tertentu.

37

d. Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau Penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaanya atau memberikan izin untuk itu

      

34 Samadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998, hal.

28.

35Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cetakan ke-4, Departemen Pendidikan Nasional, PT.

Gramedia, Jakarta, 2008, hal. 1290.

36 http://kamus bahasaindonesia.org/, diakses tanggal 10 Agustus 2010.

37 Pasal 1 angka 14, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

(27)

dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku.

38

e. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks adalah Ciptaan utuh yang terdiri dari unsur lagu dan melodi, syair atau lirik dan aransemen, termasuk notasinya.

39

Musik diartikan sebagai cetusan ekspresi isi hati yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bahasa bunyi (lagu) dan apabila cetusan isi hati dikeluarkan melalui mulut disebut vokal, dan apabila dikeluarkan lewat alat musik disebut instrumental.

40

f. Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) adalah lembaga nirlaba pengelola Hak Cipta musik secara kolektif yang mendapat kuasa dari Pencipta musik dan lagu Indonesia maupun asing bertugas untuk memberikan sertifikat lisensi pengguna musik di wilayah Indonesia dan mendistribusikannya kepada para pencipta yang berhak.

41

g. Radio siaran adalah pancaran radio yang langsung ditujukan kepada umum dalam bentuk suara dan mempergunakan gelombang radio sebagai media.

42

h. Pengumuman adalah pembacaan, penyiaran, pameran, penjualan, pengedaran atau penyebaran suatu Ciptaan dengan menggunakan apapun, termasuk media internet

      

38 Pasal 1 angka 1, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

39 Pasal 12 ayat (1), Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta, dan

Penjelasannya.

40 Atan Hanjau dan Armillah Windawati, Pengetahuan Seni Musik, Mutiara, Jakarta, 1981, hal.

9.

41 Tanpa Pengarang, Op. Cit., hal. 4.

42 Pasal 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1970 Tentang Radio Siaran Non Pemerintah.

(28)

atau melakukan dengan cara apapun sehingga ciptaan dapat dibaca, didengar atau dilihat orang lain.

43

i. Perbanyakan adalah penambahan jumlah sesuatu Ciptaan, baik secara keseluruhan maupun sebagian yang sangat substansial dengan menggunakan bahan-bahan yang sama ataupun tidak sama, termasuk mengalih wujudkan secara permanent atau temporer.

44

j. Royalty adalah suatu persentase dari harga jual atau harga ongkos objek yang diberikan suatu lisensi atau produksi-produksi yang dihasilkan dengan objek lisensi tersebut.

45

k. Menyiarkan adalah memberitahukan kepada masyarakat atau umum dengan pemutaran radio, televisi, surat-surat kabar, selebaran-selebaran dan sebagainya.

46

l. Penyiaran radio adalah media komunikasi massa dengar yang menyalurkan

gagasan dan informasi dalam bentuk suara secara umum dan terbuka, berupa program yang teratur dan berkesinambungan.

47

m. Lembaga Penyiaran Swasta adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia yang bidang usahanya khusus menyelenggarakan siaran radio atau siaran televisi.

48

      

43 Pasal 1 angka 5, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

44 Pasal 1 angka 6, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

45 Roeslan Saleh, Seluk Beluk Praktis Lisensi, Sinar Grafika, Jakarta, 1991, hal. 30.

46 Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, Pustaka Amani, Jakarta, 1990, hal. 439-440.

47 Pasal 1 angka 5, Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Komisi Penyiaran Indonesia.

48 Pasal 16 ayat (1), Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.

(29)

G. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

Penelitian adalah, “usaha atau pekerjaan untuk mencari kembali yang dilakukan dengan suatu metode tertentu dengan cara hati-hati, sistematis serta sempurna terhadap permasalahan, sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan atau menjawab problemnya”.

49

Penelitian hukum pada dasarnya merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya, kecuali itu maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian yang ditimbulkan di dalam gejala yang bersangkutan.

50

Sementara menurut Peter Mahmud Marzuki, “penelitian hukum adalah suatu proses untuk menemukan aturan hukum, prinsip-prinsip hukum, maupun doktrin- doktrin hukum guna menjawab isu hukum yang dihadapi. Hal ini sesuai dengan karakter prespektif ilmu hukum”.

51

Penelitian ini mengenai Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu Radio Siaran Swasta Nasional oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (suatu penelitian di Kota Medan) merupakan penelitian yang bersifat deskriptif analitis, artinya penelitian ini merupakan penelitian yang berupaya untuk menggambarkan, menjelaskan serta menganalisa peraturan-peraturan yang berhubungan dengan Hak Cipta dan kemudian

      

49 Joko P. Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 2.

50 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press : Jakarta, 1981, hal. 43.

51 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Pranada Media Group, Jakarta, 2005, hal. 35.

(30)

akan membandingkan dengan praktek pelaksanaan sertifikasi lisensi pengumuman Hak Cipta musik dan lagu pada Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Penelitian ini menggunakan metode pendekatan hukum normatif yang didukung oleh wawancara dan informan, karena merupakan penelitian hukum doktrinal yang disebut juga penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan hukum yang tertulis atau bahan hukum yang lain berupa dokumen-dokumen dan berbagai teori, serta kemudian dihubungkan dengan prilaku yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.

52

2. Sumber Data Penelitian

Sumber data dalam penelitian adalah :

a. Bahan Hukum Primer, bahan-bahan yang mengikat, yakni :

1) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek).

2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1970 Tentang Radio Siaran Non Pemerintah.

3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran.

      

52 Bambang Waluyo, Metode Penelitian Hukum, Ghalia Indonesia Semarang, 1996, hal.

13.

(31)

5) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2007 Tentang Komisi Penyiaran Indonesia.

b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti buku, hasil-hasil penelitian dan karya ilmiah dari kalangan hukum, yang ada hubungannya dengan judul dan permasalahan dalam penelitian.

c. Bahan Hukum Tertier adalah bahan pendukung di luar bidang hukum seperti kamus, ensiklopedia atau majalah, artikel dari media massa dan internet yang terkait dengan permasalahan yang dikemukakan.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan antara lain :

a. Penelitian Kepustakaan (library research) yaitu menghimpun data dengan melakukan penelaahan bahan kepustakaan atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.

b. Penelitian lapangan (field research), yaitu metode pengumpulan data yang

didasarkan atas penelitian di lapangan yang berhubungan erat dengan

permasalahan yaitu mengenai Sertifikasi Lisensi Hak Cipta Musik dan Lagu

Radio Siaran Swasta Nasional Oleh Yayasan Karya Cipta Indonesia (Suatu

Penelitian di Kota Medan).

(32)

4. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu :

a. Studi dokumen, yaitu membaca, mempelajari, meneliti, mengindentifikasi dan menganalisis literatur-literatur, peraturan-peraturan yang berkaitan dengan Hak Cipta, laporan penelitian, dokumen-dokumen tertulis serta sumber-sumber bacaan lainnya yang ada kaitannya dengan penelitian ini.

b. Wawancara, yaitu cara yang digunakan untuk mendapatkan atau memperoleh keterangan secara lisan guna mencapai tujuan yang berhubungan erat dengan permasalahan. Dalam penelitian lapangan ini dilakukan wawancara langsung dengan informan dan responden atau para pihak yang terkait dengan judul dan permasalahan dalam penelitian ini dan dapat dipertanggung-jawabkan akan isi dan kebenarannya. Wawancara tersebut dilakukan terhadap 5 (lima) Stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota Medan serta Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI).

Dasar perhitungan dari Populasi yaitu Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota Medan sebanyak 50 (lima puluh) Stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia.

Jadi sampel yang wajar diambil sebagai objek penelitian adalah 10 % (sepuluh

persen) dari 50 (lima puluh) Stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota

Medan yaitu 5 (lima) Stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia di kota Medan.

(33)

c. Daftar Kuesioner, yaitu berupa daftar pertanyaan yang disusun untuk Yayasan Karya Cipta Indonesia (YKCI) di Kota Medan, Persatuan Radio Siaran Swasta Negara Indonesia (selanjutnya disingkat PRSSNI) di Kota Medan dan 5 (lima) stasiun Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia yang menjadi anggota PRSSNI yang ada di Kota Medan.

5. Analisa Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, yaitu analisis data yang dilakukan berdasarkan atas peraturan perundang-undangan, pandangan-pandangan reponden sehingga dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Namun jika didapat data berupa angka-angka, maka tidak menutup kemungkinan penelitian ini juga dilakukan dengan analisis kuantitatif.

Semua data yang diperoleh kemudian dikelompokkan atas data yang sejenis untuk kepentingan analisis dan diterjemahkan secara logis sistematis untuk selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode pendekatan deduktif.

Kesimpulan adalah merupakan jawaban khusus atas permasalahan yang diteliti,

sehingga diharapkan akan memberikan solusi atas permasalahan dalam penelitian ini.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :