• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK KURMA MUDA TERHADAP PERCEPATAN KALA I PERSALINAN ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK KURMA MUDA TERHADAP PERCEPATAN KALA I PERSALINAN ABSTRAK"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Halaman | 114 EFEKTIVITAS PEMBERIAN EKSTRAK KURMA MUDA TERHADAP

PERCEPATAN KALA I PERSALINAN Nanik Nur Rosyidah1), Kiftiyah2)

1)Program Studi Kebidanan, STIKES Dian Husada, Email : [email protected] 2)Program Studi Kebidanan, STIKES Dian Husada, Email : [email protected]

ABSTRAK

Kala satu persalinan adalah permulaan kontraksi persalinan yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif yang diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm). Salah satu gangguan persalinan yang mungkin dialami ibu bersalin adalah keterlambatan terjadinya persalinan kala I. Cara mempercepat persalinan kala I adalah dengan mengusahakan terjadinya kontraksi dan mengurangi intensitas nyeri yang dialami ibu bersalin. Salah satu terapi nonfarmakologis untuk memicu kinerja hormon oksitosin guna percepatan persalinan kala I, dapat berikan kurma segar. Pada kurma segar, mengandung hormon oksitosin. Oksitosin sendiri adalah hormon yang akan menyebabkan kontraksi pada rahim. Hormon ini akan meningkat pada saat persalinan berlangsung. Wanita hamil yang pada saat persalinan kontraksi rahimnya lemah biasanya akan diberi suntikan hormon ini untuk memperbaiki kontraksi rahimnya sehingga persalinan akan berjalan dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu terjadinya kala I persalinan dan mengetahui efektifitas pemberian ekstrak kurma muda terhadap percepatan kala I persalinan

Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan post test only control group

desain. Pengukuran dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan

kelompok intervensi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh primigravida yang bersalin di BPM yang berada di wilayah Desa Lengkong Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto. Untuk kelompok ekeperimen, diberikan sari kurma sebagai alternatif untuk mempercepat persalinan kala 1. Penelitian ini dilakukan di Desa Lengkong Kabupaten Mojokerto Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang memenuhi kriteria penelitian sebanyak 14 responden yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kontrol. Variabel dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak kurma muda dan percepatan kala 1 persalinan. Analisis bivariate digunakan untuk melihat pengaruh dari variable menggunakan uji statistik Mann Whitney

Dari hasil penelitian didapatkan, rerata lama persalinan kala I untuk kelompok kontrol sebesar 930,00 menit dan untuk kelompok eksperimen sebesar 787,14 menit. Dari hasil uji statistik Mann-whitney didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,035 yang berarti pemberian ekstrak kurma muda efektif terhadap percepatan kala I persalinan

Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk dapat menerapkan penggunaan ekstrak kurma muda selama persalinan dan menjelang persalinan karena dari hasil penelitian nampak bahwa sari kurma muda dapat mempercepat proses persalinan kala I. Selain itu dibutuhkan pula kajian yang lebih banyak mengenai manfaat sari kurma untuk peningkatan derajat kesehatan ibu terutama dalam masa kehamilan, persalinan dan menyusui

(2)

Halaman | 115 PENDAHULUAN

Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2007). Kala satu persalinan adalah permulaan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif yang diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm) pada primipara kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam (Varney, 2007). Terdapat 2 fase pada kala satu, yaitu : fase laten (merupakan periode waktu dari awal persalinan hingga ketitik ketika pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya dimulai sejak kontraksi mulai muncul hingga pembukaan tiga sampai empat sentimeter atau permulaan fase aktif berlangsung dalam 7-8 jam) dan fase aktif (merupakan periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan menjadi komplit dan mencakup fase transisi, pembukaan pada umumnya dimulai dari 3-4 cm hingga 10 cm dan berlangsung selama 6 jam). Setiap persalinan yang terjadi beresiko mengalami komplikasi persalinan yang berdampak pada terjadinya kematian ibu. Berangkat dari fakta tersebut, banyak upaya yang dilakukan guna penurunan AKI. Berbagai program telah diluncurkan oleh pemerintah untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi persalinan.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka kematian ibu (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Upaya strategis yang dilakukan dalam upaya menekan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah dengan pendekatan safe motherhood, dengan menganggap bahwa setiap kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan dalam keadaan baik. Di tahun 2000, Kementerian Kesehatan RI memperkuat strategi intervensi sektor kesehatan untuk mengatasi kematian ibu dengan mencanangkan strategi Making Pregnancy

Safer. Pada tahun 2012 Kementerian

Kesehatan meluncurkan program Expanding

Maternal and Neonatal Survival (EMAS)

dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%. Selain itu, peningkatan pelayanan Obstetrik dan Neonatal Emergensi Komprehensif juga

dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (Kemenkes, 2014).

Persalinan merupakan tugas berat yang harus dilakukan oleh seorang ibu hamil. Mudah atau sulitnya suatu proses persalinan tergantung oleh banyak faktor, salah satunya adalah dukungan yang cukup dari pihak suami dan keluarga, serta adanya perasaan nyaman saat melahirkan. Kebutuhan dasar selama persalinan tidak terlepas dengan asuhan yang diberikan bidan. Asuhan kebidanan yang diberikan, hendaknya asuhan yang sayang ibu dan bayi. Salah satu upaya penerapan asuhan sayang ibu selama proses persalinan adalah menganjurkan suami dan keluarga untuk mendampingi ibu dan mendukung ibu selama proses persalinan dan kelahiran bayi (Pusdiknakes, 2003). Persalinan dimulai sejak uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Tahapan persalinan diawali dengan kala I yaitu kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm). Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan Kurve Friedmen, diperhitungkan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam (Bonny dan Meilasari, 2008). Keterlambatan pembukaan pada kala I sering ditemukan pada proses persalinan. Percepatan kala I merupakan unsur utama dalam proses persalinan pada ibu inpartu. Keterlambatan dalam pembukaan merupakan ancaman bagi nyawa ibu maupun bayinya. Wanita yang mengalami keterlambatan pembukaan pada kala I berdampak juga terhadap psikologisnya.

Salah satu faktor penyulit persalinan kala 1 adalah terjadinya nyeri persalinan. Nyeri yang tidak cepat teratasi dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi karena nyeri menyebabkan pernafasan dan denyut jantung ibu akan meningkat yang menyebabkan aliran darah dan oksigen ke plasenta terganggu. Penanganan dan pengawasan nyeri persalinan pada kala I fase aktif sangat penting karena ini sebagai titik penentu apakah seorang ibu bersalin dapat menjalani persalinan normal atau diakhiri dengan suatu tindakan dikarenakan adanya penyulit yang diakibatkan nyeri yang sangat hebat (Hermawati, 2009). Rasa nyeri, tegang, dan takut yang dialami ibu bersalin dapat menghasilkan sejumlah katekolamin

(3)

Halaman | 116 (hormone stress) yang berlebihan seperti

ephinephrin dan norephinephrin. Tingkat katekolamin yang tinggi dalam darah bisa memperpanjang persalinan dengan mengurangi efisiensi kontraksi rahim dan dapat merugikan janin dengan mengurangi aliran darah menuju plasenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan penatalaksanaan persalinan menjadi kurang terkendali dan memungkinkan terjadi trauma pada bayi (Astuti, 2009).

Cara mempercepat persalinan kala I adalah dengan mengusahakan terjadinya kontraksi dan mengurangi intensitas nyeri yang dialami ibu bersalin. Banyak cara yang dapat digunakan dalam menghilangkan rasa nyeri saat persalinan, cara tersebut antara lain dengan tindakan farmakologis dan tindakan nonfarmakologis. Tindakan farmakologis yang digunakan antara lain dengan penggunaan analgesik, suntikan epidural, intractheal labor analgesik (ILA) dan lain-lain. Tindakan-tindakan tersebut hampir semua mempunyai efek samping pada ibu dan juga janin. Analgesik dapat menembus plasenta sehingga menimbulkan efek terhadap pernafasan bayi serta ibu menjadi tidak dapat mengandalkan otot perutnya dan mendorong ketika terjadi kontraksi rahim sehingga persalinan menjadi lebih lama (Wong, 2004). Berangkat dari alasan tersebut, tindakan nonfarmakologis dalam persalinan merupakan pilihan baru yang dapat dikembangkan untuk mengurangi nyerida merangsang kontraksi guna mempercepat proses persalinan. Metode nonfarmakologis dapat memberikan efek relaksasi kepada ibu bersalin dan dapat membantu meringankan ketegangan otot dan emosi serta dapat mengurangi nyeri persalinan (Astuti, 2009).

Saat proses persalinan dimulai serviks akan berdilatasi sehinga memulai refleks neural yang menstimulasi pelepasan oksitosin dan kontraksi uterus. Oksitosin adalah suatu hormon yang diproduksi di hipotalamus dan diangkut lewat aliran aksoplasmik ke hipofisis posterior yang jika mendapatkan stimulasi yang tepat, hormon ini akan lepas kedalam darah. Hormon ini diberi nama oksitosin berdasarkan efek fisiologisnya yakni percepatan proses persalinan dengan merangsang kontraksi otot polos uterus. Hormon oksitosin dihasilkan oleh hipotalamus dan disimpan di kelenjar pituitari. Pada saat yang tepat, sebuah isyarat syaraf dikirimkan oleh hipotalamus ke kelenjar pituitari agar melepaskan hormon ini. Tujuannya adalah

memastikan terjadinya pengerutan saluran-saluran susu dan otot-otot rahim ketika waktu kelahiran tiba. Dengan cara ini, hormon memudahkan proses persalinan. Pada otot polos uterus. Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin. Dengan dosis beberapa miliunit permenit intra vena, rahim yang hamil sudah berkontraksi demikian kuat sehingga seakan-akan dapat membunuh janin yang ada didalamnya atau merobek rahim itu sendiri atau kedua-duanya (Wahyuningsih, 2014).

Salah satu terapi nonfarmakologis untuk memicu kinerja hormon oksitosin guna percepatan persalinan kala I, dapat berikan kurma segar. Pada kurma segar, mengandung hormon oksitosin. Oksitosin sendiri adalah hormon yang akan menyebabkan kontraksi pada rahim. Hormon ini akan meningkat pada saat persalinan berlangsung. Wanita hamil yang pada saat persalinan kontraksi rahimnya lemah biasanya akan diberi suntikan hormon ini untuk memperbaiki kontraksi rahimnya sehingga persalinan akan berjalan dengan baik. Pada masa pasca persalinan hormon ini akan dikeluarkan ketika bayi sedang menyusu. Peningkatan hormon ini pada masa pasca persalinan akan mempercepat proses penghentian perdarahan serta proses pemulihan anatomi dan fungsi rahim

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian ekstrak kurma muda terhadap percepatan kala I persalinan.

TINJAUAN TEORI 1. Definisi Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Prawirohardjo, 2005). Persalinan kala II adalah proses pengeluaran buah kehamilan sebagai hasil pengenalan proses dan penatalaksanaan kala pembukaan yang dimulai dengan pembukaan lengkap dari serviks dan berakhir dengan lahirnya bayi (Saifudin,

(4)

Halaman | 117 2007). Menurut Prawirohardjo (2005),

persalinan dibagi menjadi 4 tahap yaitu : a. Kala I (kala pembukaan)

Kala satu persalinan adalah permulaan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif yang diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm) pada primipara kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kira-kira 7 jam (Varney, 2007).

b. Kala II (kala pengeluaran janin)

Beberapa tanda dan gejala persalinan kala II adalah Ibu merasakan ingin meneran bersamaan terjadinya kontraksi, Ibu merasakan peningkatan tekanan pada rectum atau vaginanya, perineum terlihat menonjol, vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka, peningkatan pengeluaran lendir darah. Pada kala II his terkoordinir, kuat, cepat dan lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris timbul rasa mengedan, karena tekanan pada rectum, ibu seperti ingin buang air besar dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his kepala janin mulai terlihat, vulva membuka dan perenium meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahirlah kepala dengan diikuti seluruh badan janin. Kala II pada primi : 1½ - 2 jam, pada multi ½ - 1 jam (Mochtar, 2002)

c. Kala III (pengeluaran plasenta)

Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal dibawah ini: Perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang, semburan darah tiba-tiba. Setelah bayi lahir kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus uterus setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2 kali sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan pengeluaran uri. Dalam waktu 5-10 menit plasenta terlepas, terdorong ke dalam vagina akan lahir spontan atau sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc (Mochtar, 2002).

d. Kala IV

Kala pengawasan selama 2 jam setelah plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama bahaya perdarahan postpartum

2. Manfaat Kurma

Kurma (Phoenix Dactylifera) adalah sejenis tanaman yang banyak ditanam di Timur Tengah dan Afrika bagian Utara, pohonnya berukuran sedang, tingginya sekitar 15-25 meter, seringkali tumbuh bergerombol dengan beberapa batang pohon muncul dari satu akar yang sama, namun juga tumbuh sendiri-sendiri. Dari kelembutan daging buahnya, dikenal 3 jenis kurma, yaitu kurma basah / Ruthab (daging buahnya sangat lembut, manis dan lembab dengan warna agak kehitaman hingga agak kemerahan), Kurma kering /Tamr (daging buahnya kering, agak keras, sedikit berserat dan bijinya mudah dipisahkan dari daging buahnya), dan Kurma setengah basah (rasanya kurang manis meskipun aromanya lebih kuat dan daging buahnya cukup lembut)

Pada ibu hamil trimester 3 yang bayinya belum menunjukkan tanda-tanda kelahiran pada perkiraan waktu yang telah ditentukan, umumnya akan menimbulkan kecemasan pada sang ibu. Kecemasan ini akan mempengaruhi proses pengeluran oksitosin sehingga berdampak pada waktu persalinan. Pada saat bersalin ibu akan mengalami Inersia Uteri, dan apabila kondisi ini tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat dapat berdampak pada kematian baik pada ibu maupu pada janin. Adapun tanda-tanda inersia uteri yaitu : kontraksi uterus kurang dari 3 kali dalam sepuluh menit, dengan interval kurang dari 40 detik. Penanganan inersia uteri umumnya akan mendapatkan penambahan hormon oksitosin yang berasal dari luar (oksitosin sintetis) dimana dalam bahasa medis sering disebut dengan induksi persalinan. Induksi persalinan adalah suatu upaya stimulasi mulainya proses persalinan (dari tidak ada tanda-tanda persalinan, kemudian distimulasi menjadi ada). Namun dari tindakan Induksi persalinan yang sering dilakukan guna menanggulani inersia uteri memiliki beberapa kelemahan antara lain : tidak efisien (waktu, tenaga), hanya untuk ibu-ibu hami tertentu.

Sebagaimana buah-buahan yang lain, kurma mengandung nutrisi yang amat baik. Kandungan gula yang terdapat di dalam buah kurma dapat langsung diserap oleh tubuh. Kandungan gula dalam buah ini berbeda dengan kandungan gula dalam makanan yang lain, sebab kandungan gula

(5)

Halaman | 118 yang biasanya harus diuraikan terlebih

dahulu dan baru diserap oleh tubuh. Para pakar diet menilai kurma sebagai makanan terbaik bagi wanita hamil dan ibu menyusui. Hal ini dikarenakan kurma mengandung elemen-elemen yang membantu meringankan depresi ibu, serta memperkaya ASI dengan zat-zat yang mendukung kesehatan dan daya tahan bayi. Kurma yang baik untuk dikonsumsi ibu hamil adalah jenis kurma basah (Ruthab), karena kandungan dalam kurma ini lebih baik dari jenis kurma yang lain.

Ekperimen ilmu kedokteran modern membuktikan bahwa kurma mengandung zat yang dapat mengerutkan rahim serupa dengan oksitosin – stimulan yang memperkuat otot rahim pada bulan-bulan akhir kehamilan. Kurma dapat membantu pelebaran rahim saat persalinan dan pengurangi perdarahan setelahnya karena didalam kurma terkandung zat yang dapat mengontrol tekanan darah (Badwilan, 2008). Pendapat ini diperkuat oleh Rostita (2009) yang mengemukakan bahwa kurma matang mengandung subtansi yang mendorong peregangan rahim dan meningkatkan kontraksi. Substansi tersebut mirip dengan oksitosin yang dikeluarkan secara alami oleh wanita dalam proses persalinan dan menyusui. Penelitian lain menyatakan bahwa ruthab (kurma basah / sari kurma) berpengaruh dalam mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistol (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi) dan membuat gerakan kontraksi rahim bertambah teratur sehingga proses persalinan menjadi lebih mudah

METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan post test only control group desain. Pengukuran dilakukan pada dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh primigravida yang bersalin di BPM yang berada di wilayah Desa Lengkong Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto. Untuk kelompok ekeperimen, diberikan sari kurma sebagai alternatif untuk mempercepat persalinan kala 1. Penelitian ini dilakukan di Desa Lengkong Kabupaten Mojokerto. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang memenuhi kriteria penelitian

yaitu : 1) Ibu yang melahirkan untuk pertama kali, 2) Ibu bersalin di BPM yang masuk wilayah kerja Desa Lengkong Kabupaten Mojokerto, 3) Ibu bersalin yang tidak mengalami komplikasi persalinan sehingga harus dirujuk atau tidak mengalami persalinan normal, 4) Ibu bersalin yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian, dan 5) Ibu bersalin yang dapat melakukan komunikasi dengan baik. Variabel dalam penelitian ini adalah percepatan kala I persalinan. Sampel data diambil dari 2 kelompok responden yaitu kelompok kontrol dan kelompok ekperimen. Percepatan kala I persalinan diukur dan ditabulasi dalam lembar kuerioner. Pengolahan data penelitian meliputi tahap editing, coding, scoring dan tabulating. Analisis univariate digunakan untuk menganalisis variabel karakteristik responden dan untuk mendeskripsikan percepatan kala I persalinan yang dialami masing-masing kelompok. Data dianalisis untuk mengetahui skor maksimal, skor minimal, rata-rata dan standar deviasi. Analisis bivariate digunakan untuk melihat pengaruh dari variable menggunakan uji statistik Mann Whitney. HASIL PENELITIAN

1. Karakteristik responden

Tabel 1. Karakteristik responden

No Variabel N % 1 Umur ibu Remaja akhir (17-25 tahun) Dewasa awal (26-35 tahun) 11 3 78,6 21,4 2 Paritas Primigravida Multigravida 14 0 100 0 3 Pekerjaan ibu Bekerja

Tidak bekerja IRT

8 6

57,1 42,9 Dari tabel diatas, sebagian besar responden termasuk dalam kategori remaja akhir (usia 17-25 tahun) yaitu sebanyak 11 responden (78,6%), untuk paritas seluruh responden adalah primigravida dan untuk pekerjaan ibu, sebagian besar responden adalah bekerja yaitu sebanyak 8 responden (57,1%)

(6)

Halaman | 119 2. Lama Persalinan Kala 1

Tabel 2. Lama persalinan kala I Kel Eksperimen Kel Kontrol Mean 787,143 930,000 Median 760,000 945,000 Modus 630 945 Min 630,00 855,00 Max 980,0 990,0 Standar Deviasi 125,36 50,49 Dari tabel diatas, untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok kontrol didapatkan nilai rerata lama persalinan sebesar 930,00 menit, waktu terendah sebesar 855 menit, waktu terlama sebesar 990 dan standar deviasi sebesar 50,49. Untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok eksperimen didapatkan nilai rerata lama persalinan sebesar 787,14 menit, waktu terendah sebesar 630 menit, waktu terlama sebesar 980 dan standar deviasi sebesar 125,36

3. Efektivitas pemberian ekstrak kurma muda terhadap percepatan kala I persalinan Tabel 3. Efektivitas pemberian ekstrak kurma muda terhadap percepatan kala I persalinan Test Statisticsb Lama Persalinan Kala I Mann-Whitney U 8.000 Wilcoxon W 36.000 Z -2.111

Asymp. Sig. (2-tailed) .035

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.038a a. Not corrected for ties.

b. Grouping Variable: Kelompok Responden Dari hasil uji statistik Mann-whitney didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,035 yang berarti bahwa pemberian ekstrak kurma muda efektif untuk mempercepat proses kala I persalinan

PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian didapatkan, untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok kontrol didapatkan nilai rerata lama persalinan sebesar 930,00 menit, waktu terendah sebesar 855 menit, waktu terlama sebesar 990 dan standar deviasi sebesar 50,49. Untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok eksperimen didapatkan nilai rerata lama

persalinan sebesar 787,14 menit, waktu terendah sebesar 630 menit, waktu terlama sebesar 980 dan standar deviasi sebesar 125,36. Dari hasil uji statistik Mann-whitney didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,035 yang berarti bahwa pemberian ekstrak kurma muda efektif untuk mempercepat proses kala I persalinan

Kala I persalinan (pembukaan jalan lahir) dimulai dengan kontraksi uterus yang teratur dan diakhiri dengan dilatasi serviks lengkap. Dilatasi lengkap dapat berlangsung kurang dari satu jam pada sebagian kehamilan multipara. Pada kehamilan pertama, dilatasi serviks jarang terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Rata-rata durasi total kala I persalinan pada primigravida berkisar dari 3,3 jam sampai 19,7 jam. Pada multigravida ialah 0,1 sampai 14,3 jam (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). Ibu akan dipertahankan kekuatan moral dan emosinya karena persalinan masih jauh sehingga ibu dapat mengumpulkan kekuatan (Manuaba, 2006). Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap (10 cm). Kala satu persalinan terdiri atas dua fase yaitu fase laten dan fase aktif) (JNPK-KR, 2008).

Dari hasil penelitian yang dilakukan nampak bahwasanya pemberian ekstrak kurma muda pada kelompok eksperimen terbukti efektif untuk mempercepat proses persalinan kala satu. Dari hasil analisa data rerata lama persalinan kala satu untuk kelompok kontrol adalah 930,00 menit dan untuk kelompok eksperimen yang diberikan sari kurma muda sebesar 787,14 menit. Menurut Wiknjosastro (2005), saat persalinan dimulai, maka frekuensi dan amplitude his meningkat sampai 60 mmHg pada akhir kala I dan his 2-4 kontraksi tiap 10 menit. Lama his meningkat dari hanya 20 detik pada awal inpartu menjadi 60 detik pada akhir kala I. His yang sempurna dan efektif adalah bila ada koordinasi dari gelombang kontraksi sehingga kontraksi otot polos uterus simetris dengan dominasi di fundus uteri. Amplitudo berkisar antara 40-60 mmHg dan berlangsung selama 60 detik dengan jangka waktu 2-4 menit. Fase relaksasi amplitude kurang dari 12 mmHg. Jika frekuensi dan amplitude his tinggi maka akan mengurnagi pertukaran oksigen antara uterus dan plasenta sehingga janin akan kekurangan oksigen. Janin akan mengalami hipoksia dan timbullah gawat janin. Frekuensi observasi his pada kelompok eksperimen jauh

(7)

Halaman | 120 lebih besar dibanding kelompok kontrol.

Keadaan ini sangat menguntungkan karena stressor persalinan semakin berkurang sehingga menambah kenyamanan saat bersalin bagi ibu dan pendamping persalinan.

His yang efektif memberikan perasaan nyaman pada ibu karena nyeri akibat proses persalinan berkurang. Menurut Saiffudin (2002) peran penolong sangat dibutuhkan untuk memberikan perasaan nyaman tersebut. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kala satu pada kelompok eksperimen lebih cepat jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Waktu persalinan yang lebih cepat secara tidak langsung akan menurunkan tingkat kelelahan yang dialami oleh ibu bersalin sehingga ibu bersalin masih memiliki banyak energi untuk terjadinya proses metabolisme menggunakan jalur fosforilasi oksidatif. Jalur ini memungkinkan energi (ATP) yang dihasilkan lebih banyak dibanding saat ibu mengalami fase kelelahan. Menurut Klein dalam Prichard (1993), persalinan merupakan pekerjaan berat yang banyak menggunakan cairan dalam tubuh. Cairan yang dapat membuat ibu merasa lebih baik saat persalinan antara lain; air kelapa, air gula, madu, jus buah, pepermint. Kondisi dehidrasi membuat persalinan berjalan lambat dan lebih menyakitkan. Seorang ibu saat bersalin memerlukan dukungan secara fisik dan psikis. Dukungan tersebut salah satunya adalah pemberian minuman untuk memenuhi kecukupan energi. Kecukupan energi selama proses persalinan akan membantu ibu dalam melewati masa persalinan. Dalam persalinan itu sendiri akan terjadi kontraksi otot yang berlangsung cukup lama dan mengakibatkan kelelahan otot. Proses ini terjadi akibat ketidakmampuan proses kontraksi dan metabolisme sel otot. Apabila kekurangan ATP, maka potensial aksi otot dan syaraf menjadi lemah, bila hal ini terjadi di otot polos miometrium mengakibatkan his melemah dan in adekuat. Hambatan aliran darah yang menuju otot yang sedang kontraksi juga mengakibatkan kelelahan otot. Kelelahan ini diakibatkan oleh produk asam laktat. Produk ini dihasilkan dari proses an-aerob. Oleh karena itu pada saat proses persalinan ibu disarankan untuk mengkonsumsi cairan yang lebih banyak.

Pemberian ekstrak kurma muda secara tidak langsung akan memberikan energi tambahan bagi ibu untuk menjalani persalinan kala satu. Selama proses persalinan ibu akan membutuhkan banyak gula dan vitamin B1

untuk membantu dalam mengontrol laju gerak rahim dan menambah masa sistole (kontraksi jantung ketika darah dipompa ke pembuluh nadi). Sari kurma juga mengandung zat besi dan kalsium yang dapat dengan cepat menggantikan tenaga ibu yang terkuras saat persalinan. Selain itu dalam sari kurma juga terkandung hormon yang menyerupai hormon oxytocine yang salah satu fungsinya membantu ketika wanita melahirkan.

Penelitian yang dilakukan oleh Al-Kuran, dkk selama bulan Februari 2007 – Januari 2008 di Jordan University of Science and Technology (2011) dilakukan untuk mempelajari manfaat kurma terkait proses persalinan. Penelitian ini dilakukan hanya pada 69 orang ibu hamil yang diberikan enam buah kurma setiap harinya selama empat minggu sebelum tanggal estimasi kelahiran bayi. Adapun temuan-temuan yang didapat dari penelitian tersebut antara lain :

1. Proses pembukaan yang lebih cepat

Pada proses persalinan, rahim akan mengalami dilatasi atau pembukaan. Pembukaan rahim berlangsung dari awal pembukaan hingga pembukaan penuh (selebar 10 cm). Tahapan ini disebut kala 1. Kala 1 itu sendiri terdiri dari dua fase, yaitu : a) Fase laten. Pada umumnya, dibutuhkan 8 jam selama mengalami proses pembukaan mulut rahim dari 1 hingga 3 cm, b) Fase aktif. Pada umumnya, dibutuhkan 6 jam selama mengalami proses pembukaan mulut rahim hingga 10 cm (lengkap). Pada penelitian tersebut, kelompok ibu hamil yang mengonsumsi buah kurma di akhir masa kehamilannya, fase laten-nya berlangsung lebih cepat daripada kelompok ibu hamil yang tidak mengonsumsi kurma. Pada penelitian ini juga ditemukan kelompok ibu yang mengonsumsi kurma sudah mengalami pembukaan yang lebih progresif saat sampai ke rumah sakit. 2. Ketuban tidak mudah pecah

Ketuban adalah selaput berisi cairan yang menyelimuti seluruh tubuh bayi di dalam kandungan. Ketika bayi akan lahir, selaput ketuban akan pecah. Namun, ada juga kemungkinan yang mana ketuban sudah pecah terlebih dahulu sebelum bayi terlahir. Ketuban yang pecah sebelum waktunya dapat mengundang sejumlah komplikasi, antara lain infeksi dan peradangan selaput amnion. Kelompok ibu hamil yang rutin mengonsumsi buah kurma pada minggu-minggu terakhir sebelum

(8)

Halaman | 121 persalinan, lebih banyak memiliki selaput

ketuban yang tidak pecah sebelum persalinan jika dibandingkan dengan kelompok ibu hamil yang tidak mengonsumsi kurma.

3. Angka persalinan normal lebih tinggi

Pada penelitian tersebut, 96 persen dari kelompok ibu hamil yang mengonsumsi kurma, mengalami persalinan secara normal. Sedangkan pada ibu hamil yang tidak mengonsumsi buah kurma secara teratur, kelahiran normal hanya mencapai 79 persen.

4. Kebutuhan oksitosin lebih rendah

Oksitosin adalah hormon yang berfungsi untuk merangsang kontraksi rahim untuk mempermudah proses persalinan. Pada persalinan lama, misalnya karena fase laten yang berlangsung memanjang, suntikan oksitosin dapat diperlukan untuk menginduksi terjadinya kontraksi rahim.

Pada penelitian yang dilakukan, kelompok ibu hamil yang rutin mengonsumsi buah kurma di akhir masa kehamilan membutuhkan penggunaan oksitosin yang lebih rendah daripada kelompok yang tidak rutin mengonsumsi kurma. Dari hal ini nampak bahwasanya sari kurma efektif untuk mempercepat proses persalinan kala satu. Untuk menerapkan ini pada semua proses persalinan adalah bukan hal yang mudah untuk dilakukan mengingat selama ini konsep medis yang berkembang adalah penggunaan terapi farmakologi yang sudah teruji secara klinis dianggap lebih baik dibandingkan dengan terapi non farmakologi. Terapi non farmakologi seringkali dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak. Untuk itu dibutuhkan kegiatan penelitian yang lebih lanjut guna mengkaji mengenai manfaat sari kurma untuk membantu selama proses persalinan terjadi pada khususnya dan peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak dalam jangka panjang pada umumnya.

SIMPULAN

Dari hasil penelitian, didapatkan untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok kontrol didapatkan nilai rerata lama persalinan sebesar 930,00 menit, waktu terendah sebesar 855 menit, waktu terlama sebesar 990 dan standar deviasi sebesar 50,49. Untuk lama persalinan kala 1 pada kelompok eksperimen didapatkan nilai rerata lama persalinan sebesar 787,14 menit, waktu terendah sebesar 630 menit, waktu terlama

sebesar 980 dan standar deviasi sebesar 125,36. Dari hasil uji statistik Mann-whitney didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,035 yang berarti bahwa pemberian ekstrak kurma muda efektif untuk mempercepat proses kala I persalinan

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kuran, Al-Mehaisen, H Bawadi, S Beitawi, Z Amarin. (2011). The effect of late pregnancy consumption of date fruit on labour and delivery. Publication on Journal of Obstetrics and Gynaecology, Volume 31,

2011, Issue 1.

http://dx.doi.org/10.3109/01443615.2010.5 22267

Anonim. (2013). Pemilihan Tempat Bersalin

Ideal. Diakses dari :

https://indonesiana.tempo.co/read/4865/20 13/11/09/Pemilihan-Tempat-Bersalin-Ideal- Aprillia, Y., (2010). Analisis Sosialisasi

Program Inisiasi Menyusu Dini dan ASI Eksklusif kepada Bidan di Kabupaten Klaten (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).

Azwar, Saifuddin. (2007). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, edisi 2, Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Bobak, Lowdermilk, Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas / Maternity Nursing (Edisi 4), Alih Bahasa Maria A. Wijayati, Peter I. Anugerah, Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Chaniago, Amran, Y. S. (2002). Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Bandung : Pustaka Setia

Dewi, Sunarsih. (2011). Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika

Gilarso, T. (2008). Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro, Edisi 5. Yogyakarta : Kanisius

Henderson, C. (2006). Buku Ajar Konsep Kebidanan (Essential Midwifery). Jakarta : EGC

JNPK-KR. (2008). Pelatihan Klinik ; Asuhan Persalinan Normal ; Asuhan Esensial, Pencegahan dan Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta ; Departemen Kesehatan Republik Indonesia : Jaringan Nasional Pelatihan Klinik - Kesehatan Reproduksi.

Kemenkes RI. (2014). Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta ; Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI

(9)

Halaman | 122 Kristiyansari, W. (2009). ASI : Menyusui dan

Sadari. Yogyakarta : Nuha Medika

Manuaba, dkk. (2006). Buku Ajar Patalogi Obstetri Untuk Mahasiswa Kebidanan. Cetakan I. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC

Mudyahardjo, Redja. (2008). Pengantar Pendidikan Sebuah Studi Awal Tentang Dasar-dasar Pendidikan pada Umumnya dan Pendidikan di Indonesia. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Nastiti, Budi Puji. (2013). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Praktek Inisiasi Menyusu Dini Di Wilayah Kerja Puskesmas Pangkah Kabupaten Tegal Tahun 2012. Semarang ; Universitas Negeri Semarang. Diunduh dari

http://lib.unnes.ac.id/18274/1/ 6450407008.pdf

Notoatmodjo, Soekidjo. (2003). Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta ; Rineka Cipta

Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Nursalam. (2003). Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika Saifuddin, A.B. (2002). Buku Acuan Nasional

Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Salmah. (2006). Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta : EGC

Gambar

Tabel 2. Lama persalinan kala I  Kel  Eksperimen  Kel  Kontrol  Mean  787,143  930,000  Median  760,000  945,000  Modus  630  945  Min  630,00  855,00  Max  980,0  990,0  Standar  Deviasi  125,36  50,49  Dari  tabel  diatas,  untuk  lama  persalinan  kala

Referensi

Dokumen terkait

(Priacanthus macracanthus) yang terinfeksi larva stadium tiga Anisakis simplex di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong Lamongan adalah 74,99%, prevalensi ini termasuk

Instagram merupakan salah satu media sosial yang menggunakan foto sebagai instrumen untuk berkembangnya budaya visual yang makin memperkuat berlangsungnya simulakra

Kelompok ekstrak buah belimbing wuluh dengan dosis 0,25 gram/kgBB memiliki perbedaan penurunan kadar glukosa darah yang lebih bermakna bila dibandingkan

Adapun keterbatasan yang ditemukan pada penelitian ini perlakuan kontrol positif dan kontrol negatif tidak dilakukan dalam satu cawan petri yang sama dengan perlakuan berbagai

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis pelarut terhadap karakteristik fitokimia dan toksisitas dari ekstrak buah ciplukan matang (Physalis angulata

Subjek SA adalah seorang yang terinfeksi HIV hampir 1 tahun belakangan ini. Yang diperkirkan subjek ini terinfeksi dari berhubungan badan dengan orang laki-laki atau

Dalam membincangkan interpretasi seni catan Melayu tradisional dalam karya ‘Siri Dungun’ oleh Ruzaika Omar Basaree ini, kaedah apresiasi seni digunakan ke atas penelitian

Identifikasi masalah merupakan langkah pertama untuk menganalisa masalah-masalah yang ada didalam suatu sistem, dari hal itu dapat diketahui adanya kesalahan, kekurangan