• Tidak ada hasil yang ditemukan

Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P U T U S A N No. 205 PK/Pdt/2010

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G

memeriksa perkara perdata dalam peninjauan kembali telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:

H. MUHAMMAD SELAMAT BARUS, Direktur CV. Apotik Leo Sakti, bertempat tinggal dan berkantor di Jalan Serdang Nomor 16 Lubuk Pakam, dalam hal ini diwakili oleh Taufik Siregar, S.H., M.Hum., dan Hakim Tua Harahap, S.H., Advokat, berkantor di Jalan Prof. HM.

Yamin, S.H. Komplek Serdang Mas Blok B Nomor 9, berdasarkan surat kuasa tanggal 28 Juli 2009;

Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Kasasi/

Penggugat/Terbanding;

melawan:

1. DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Cq. DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA WILAYAH I MEDAN, Cq. KEPALA PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA MEDAN;

2. KEPALA KANTOR LELANG NEGARA MEDAN;

Keduanya berkedudukan di Jalan P. Diponegoro Nomor 30-A Medan;

3. PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) KANTOR PUSAT DI JAKARTA, Cq. PIMPINAN PT.

BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) CABANG TEBING TINGGI, berkedudukan di Jalan Dr. Sutomo Nomor 32 Tebing Tinggi;

4. Tn. TJI KIM, bertempat tinggal di Jalan Sultan Hasanuddin Nomor 24 Toko Ahim, Lubuk Pakam;

5. Tn. IFAN RIZHAM, bertempat tinggal di Jalan Kartini Nomor 76, Lubuk Pakam;

6. PENGURUS KPRI GURU-GURU SD KECAMATAN LUBUK PAKAM, berkedudukan di Jalan Kartini, Lubuk Pakam;

Hal.

1

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1

(2)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Para Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai para Termohon Kasasi/Tergugat I, II, III, IV, V dan VI/para Pembanding;

Mahkamah Agung tersebut;

Membaca surat-surat yang bersangkutan;

Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa Pemohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai Pemohon Kasasi/Penggugat/Terbanding telah mengajukan permohonan peninjauan kembali terhadap putusan Mahkamah Agung Nomor 1606 K/Pdt/2007 tanggal 17 Januari 2008 yang telah berkekuatan hukum tetap, dalam perkaranya melawan para Termohon Peninjauan Kembali dahulu sebagai para Termohon Kasasi/Tergugat I, II, III, IV, V dan VI/para Pembanding dengan posita gugatan sebagai berikut:

Bahwa pada tahun 1989 Penggugat ada berhutang kepada Tergugat III sebesar Rp 85.000.000,00 yaitu berupa pinjaman Kredit Modal Kerja yang pembayarannya dilakukan secara cicilan dan berjangka waktu 1 tahun;

Bahwa hutang tersebut Penggugat telah menyerahkan sebagai agunan, yaitu sebidang tanah hak milik seluas 295 m

3

berikut dua pintu rumah toko di atasnya bertingkat dua yang terletak di Jalan Serdang Nomor 16 Lubuk Pakam, sebidang tanah berikut rumah di atasnya dan segala hak yang ada di atasnya seluas 6.838 m

2

, terletak di Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam dan sebidang tanah 535 m

2

berikut segala hak yang ada di atasnya terletak di Jalan Kartini, Kelurahan Lubuk Pakam III, Kecamatan Lubuk Pekam;

Bahwa hutang tersebut di atas telah Penggugat bayar lunas pada bulan Juli 1990, dan pada waktu pelunasan hutang tersebut Penggugat kembali meminjam kepada Tergugat III yaitu sejumlah Rp 100.300.000,00 dengan persyaratan sama yaitu berjangka waktu tahun (sampai bulan Juli 1991);

Bahwa meskipun pinjaman kedua tersebut telah Penggugat bayar dengan mencicil setiap bulannya, namun Penggugat tidak dapat melunasinya tepat waktu;

Bahwa pada tanggal 14 Juli 1993 Tergugat III menyatakan bahwa Penggugat masih mempunyai hutang sejumlah Rp 119.985.535,00 padahal menurut perhitungan Penggugat telah membayar tunai kepada Tergugat III hutang tersebut sejumlah Rp 151.712.014,00 akan tetapi Tergugat III tidak mengakuinya;

Bahwa oleh karena selisih jumlah hutang Penggugat dengan Tergugat tersebut, maka Penggugat tidak lagi membayar hutangnya kepada Tergugat III sehingga oleh Tergugat III telah menyatakan hutang Penggugat tersebut

Hal.

2

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2

(3)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

sebagai kredil macet dan mengajukan permasalahan hutang tersebut kepada Tergugat I pada tanggal 16 April 1994 Nomor TTI/13/0165/R;

Bahwa Tergugat I mengatakan hutang Penggugat kepada Negara berjumlah Rp 147.601.595,00 ditambah ongkos tagih sebesar 10%;

Bahwa meskipun selisih jumlah hutang Penggugat dengan Tergugat III belum terselesaikan, namun Tergugat I tetap mendesak dan memaksa agar Penggugat menanda-tangani surat pernyataan bersama yang berbunyi antara lain menyatakan bahwa pihak kesatu (H. Moh. Selamat Barus/Penggugat) tidak mampu membayar sesuai ketentuan yang berlaku di PUPN/KP3N;

Bahwa surat pernyataan bersama tidak benar karena tidak mencantumkan tempat, tanggal, bulan dan tahun, maka surat pernyataan bersama tersebut batal demi hukum;

Bahwa meskipun Penggugat telah membantah keabsahan surat pernyataan bersama Nomor PB.30/PUPNW.I/1994 tanggal 20 Juni 1994, Surat Perintah Penyitaan Nomor SPS.208/PUPNW.I/1994 tanggal 06 Agustus 1994, Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan Nomor SPPBS.77/PUPNW.I/1994 tanggal 09 September 1994 dan petikan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggat 21 November 1994;

Bahwa pelelangan terhadap barang agunan yang telah dilakukan oleh Tergugat II yang dilaksanakan berdasarkan adanya Surat Pernyataan Bersama Nomor PB.30/PUPNW.I/1994 adalah tidak sah sebab bukti pendukung yaitu Surat Pernyataan Bersama tersebut mengandung cacat hukum, oleh karena itu pelelangan terhadap barang agunan yang telah dilakukan oleh Tergugat II berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 adalah batal demi hukum;

Bahwa oleh karena lelang yang dilakukan berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 dinyatakan batal demi hukum, maka sejalan dengan itu Surat Perintah Penyitaan Nomor SPS.208/

PUPNW.I/1994 tanggal 06 Agustus 1994 menjadi tidak berharga dan tidak mempunyai kekuatan hukum;

Bahwa oleh karena lelang berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 batal demi hukum, meka jual beli melalui lelang tersebut yang telah dimenangkan oleh Tergugat IV, Tergugat V dan Tergugat VI terhadap barang agunan hutang Penggugat kepada Tergugat III, yaitu:

Hal.

3

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3

(4)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

1. Sebidang tanah hak milik seluas 295 m

2

berikut dua pintu rumah toko di atasnya bertingkat dua yang terletak di Jalan Serdang Nomor 16 Lubuk Pakam;

2. Sebidang tanah berikut rumah di atasnya dan segala hak yang ada di atasnya seluas 6.838 m

2

, terletak di Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam;

3. Sebidang tanah seluas 535 m

2

berikut segala hak yang ada di atasnya terletak di Jalan Kartini, Kelurahan Lubuk Pakam III, Kecamatan Lubuk Pakam;

Bahwa oleh karena lelang tersebut berkaitan dan berlandaskan kepada Surat Pernyataan Bersama Nomor PB.30/PUPNW.I/1994 tanggal 20 Juni 1994, maka jual beli melalui lelang kepada Tergugat IV, Tergugat V dan Tergugat VI dengan sendirinya batal demi hukum;

Bahwa selisih jumlah hutang Penggugat kepada Tergugat III kelak akan Penggugat ajukan dalam gugatan sendiri;

Bahwa pada tanggal 24 Februari 1995 Penggugat telah mengajukan gugatan melalui Pengadilan Negeri Tebing Tinggi terhadap Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III yang terdaftar Nomor 5/Pdt/1995/G/PN.TTD., yang mana dalam putusannya tanggal 08 November 1995 Pengadilan Negeri Tebing Tinggi telah mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian, yang amar putusannya sebagaimana dalam gugatan;

Bahwa atas kekalahan tersebut para Tergugat telah mengajukan banding kepada Pengadilan Tinggi Medan dan Pengadilan Tinggi Medan dalam putusannya Nomor 287/Pdt/1996/PT.Mdn. tanggal 30 April 1997 telah menguatkan putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli tersebut;

Bahwa atas kekalahannya tersebut Tergugat I, II dan III telah mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung R.I. dan Mahkamah Agung R.I. dalam putusannya Nomor 3777 K/Pdt/1998 tanggal 09 Oktober 2002, telah memberikan keputusan yang amarnya sebagaimana dalam gugatan;

Bahwa oleh karena Mahkamah Agung R.I. dalam keputusannya telah menyatakan bahwa gugatan Penggugat tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard), maka kiranya Penggugat dalam upaya hukum untuk menuntut dan memperjuangkan keadilan, dengan ini melalui Pengadilan Negeri Tebing Tinggi karena gugatan yang terdahulu ada kekeliruan;

Hal.

4

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4

(5)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Penggugat mohon kepada Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli agar terlebih dahulu meletakkan sita jaminan ternadap barang agunan kredit macet:

1. Sebidang tanah hak milik seluas 295 m

2

berikut dua pintu rumah toko di atasnya bertingkat dua yang terletak di Jalan Serdang Nomor 16 Lubuk Pakam;

2. Sebidang tanah berikut rumah di atasnya dan segala hak yang ada di atasnya seluas 6.838 m

2

, terletak di Desa Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam;

3. Sebidang tanah seluas 535 m

2

berikut segala hak yang ada di atasnya terletak di Jalan Kartini, Kelurahan Lubuk Pakam III, Kecamatan Lubuk Pakam;

dan selanjutnya menuntut kepada Pengadilan Negeri tersebut supaya memberikan putusan yang dapat dijalankan lebih dahulu sebagai berikut:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk keseluruhannya;

2. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah diletakkan terhadap barang agunan kredit Penggugat;

3. Menyatakan demi hukum bahwa surat pernyataan bersama Nomor PB.30/PUPNW.I/1994 yang dibuat tidak bertanggal dan hal/bulan dan Berita Acara Penyitaan tanggal 10 Agustus 1994 adalah cacat hukum dan dinyatakan batal;

4. Menyatakan demi hukum bahwa tindakan Tergugat I dan Tergugat II yang telah melakukan pelelangan atas tanah-tanah yang merupakan agunan kredit Penggugat kepada Tergugat III adalah perbuatan melawan hukum;

5. Menyatakan batal demi hukum Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994;

6. Menyatakan batal demi hukum jual beli melalui lelang berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 yang telah dimenangkan oleh Tergugat IV, Tergugat V dan Tergugal VI;

7. Menghukum Penggugat membayar biaya-biaya yang timbul akibat perkara ini;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut para Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

EKSEPSI TERGUGAT I DAN II:

Hal.

5

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5

(6)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa berdasarkan putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 3777 K/

Pdt/2005 atas perkara Nomor 5/Pdt/1995/G/PN.TTD. yang telah dlputus dan berkekuatan hukum pasti pada dasarnya dinyatakan bahwa gugatan Penggugat tidak dapat diterima karena Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli tidak berwenang mengadili perkara a quo karena Pemohon Kasasi I (i.c. Tergugat I dan Tergugat II) adalah merupakan Pejabat Tata Usaha Negara dan obyek gugatan adalah produk yang dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara sehingga yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo adalah Pengadilan Tata Usaha Negara;

Bahwa dalam posita dan petitum gugatannya, Penggugat menyatakan bahwa surat-surat dari Tergugat I dan II sehubungan dengan pelaksanaan pelelangan umum, harus dinyatakan batal demi hukum;

Bahwa berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku surat-surat yang dikeluarkan oleh Tergugat I dan II merupakan suatu keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana yang dimaksud dan diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986, sehingga untuk menyatakan batal atau tidak sahnya suatu Keputusan Tata Usaha Negara merupakan wewenang Pengadilan Tata Usaha Negara. Hal tersebut juga diperkuat dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I. Nomor 1456 K/Pdt/1998 tanggal 28 Juni 1999;

EKSEPSI TERGUGAT IV:

Bahwa Penggugat telah meminta dinyatakan batal Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 yang dibuat/diterbitkan oleh Kantor Lelang Negara Medan. Risalah Lelang obyek sengketa adalah merupakan suatu surat keputusan yang diterbitkan/dikeluarkan oleh Pejabat Tata Usaha Negara (Kantor Lelang i.c. Tergugat II) sehingga berdasarkan PasaI 1 angka 3 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1986 dan Surat Edaran Mahkamah Agung R.I.

Nomor 1 Tahun 1991 tanggal 22 Januari 1991 kewenangan untuk memerksa dan mengadili sengketa ini adalah pada Pengadilan Tata Usaha;

Bahwa gugatan pembatalan terhadap Risalah Lelang obyek sengketa Penggugat ajukan adalah didasarkan kepada adanya sangkaan pelaksanaan pelelangan yang dijalankan oleh Kantor Lelang Negara Medan (Tergugat II) tersebut telah menyimpang dan melanggar dari ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku, hingga sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I.

tanggal 28 Juni 1999 Nomor 1456 K/Pdt/1998 yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara ini adalah Pengadilan Tata Usaha Negara;

EKSEPSI TERGUGAT V DAN VI:

Hal.

6

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6

(7)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa melihat dasar gugatan Penggugat dalam perkara ini adalah putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 3777 K/Pdt/1998 tanggal 09 Oktober 2002 yang telah berkukuatan hukum yang tetap. Yang disebutkan Penggugat putusan Mahkamah Agung itu menyatakan N.O. (niet ontvankelijk verklaard) yang berarti gugatan Penggugat semula tidak dapat diterima, sehingga Penggugat mengulang lagi atau memajukan kembali gugatan perkara terdahulu (perkara perdata Nomor 5/Pdt.G/1995/PN.TTD.) ke Pengadilan Tinggi (perkara sekarang). Akan tetapi Penggugat tidak menjelaskan dalil-dalil gugatannya putusan N.O. yang bagaimana yang dimaksud oleh Mahkamah Agung tersebut;

Bahwa menurut hukum, tidak semua putusan N.O. bisa diajukan lagi, pemeriksaan perkaranya. Hanya terhadap gugatan N.O. yang disebabkan oleh karena tidak memenuhi persyaratan formil gugatan yang masih dapat diajukan kembali. Hal ini sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung R.I. Nomor 1343/Sip/1975, tanggal 15 Mei 1979. Sedangkan gugatan N.O. yang didasari karena tidak berwenangnya hakim menyangkut kewenangan mengadili antara pengadilan, maupun kewenangan mengadili antara peradilan tidak bisa diajukan lagi atau tidak bisa diulang kembali pemeriksaan perkaranya ke Pengadilan Negeri yang memutus semula;

Bahwa melihat pekara ini yang landasan gugatan mengacu pada putusan Mahkamah Agung yang telah berkekuatan hukum yang tetap yang sekaligus sebagai dasar dalil gugatan ini, ternyata dalam amar putusannya adalah menyebut: Menyatakan bahwa Pengadilan Tinggi Medan tidak berwenang untuk mengadili perkara ini, dan menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima (N.O.), sehingga Mahkamah Agung membatalkan putusan Judex Facti;

Bahwa putusan N.O. Mankamah Agung Nomor 3777 K/Pdt/1998 tersebut di atas adalah putusan N.O. tentang tidak berwenangnya Peradilan Umum Pengadilan Negeri Tebing Tinggi dan Pengadilan Tinggi Medan, bukan N.O.

yang didasarkan atas gugatan yang kurang memenuhi persyaratan formilnya gugatan. Bahwa karena putusan N.O. Mahkamah Agung sebagai dasar gugatan Penggugat dalam perkara ini adalah putusan N.O. yang didasari tidak berwenangnya Hakim Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Medan memeriksa perkara tersebut, oleh karena itu berdasarkan alasan ini gugatan tidak dapat diajukan ke Pengadilan Negeri Tebing Tinggi. Maka berdasarkan alasaa ini gugatan terhadap perkara ini haruslah dinyatakan hakim bahwa Pengadilan Negeri Tebing Tinggi tidak barwenang untuk mengadili perkara ini;

Bahwa disamping itu, terlepas dari amar putusan Mahkamah Agung, melihat obyek dan dasar dalil gugatan Penggugat adalah tetap mempersoalkan

Hal.

7

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7

(8)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

dan mendalilkan "Surat Pernyataan Bersama" Nomor PB.30/PUPNW.I/1994 baik dalam perkara terdahulu maupun dalam perkara sekarang yang menurut Penggugat "Surat Pernyataan Bersama" tersebut tidak benar karena tidak mencantumkan tempat, tanggal, bulan, tahun sehingga batal demi hukum. Yang selanjutnya Penggugat mendalilkan bahwa pelelangan terhadap barang agunan Penggugat yang telah dilakukan oleh Tergugat Kantor Lelang Negara Medan berdasarkan "Surat Pernyataan Bersama" tersebut adalah batal demi hukum;

Bahwa dari uraian, dalil gugatan Penggugat ini dapat disimpulkan bahwa dalam gugatan tersebut yang dipermasalahkan oleh Penggugat adalah adanya sangkaan bahwa lelang tersebut dilaksanakan bertentangan/tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang, "Surat Pernyataan Bersama" itu tidak mencantumkan tempat, tanggal, bulan dan tahun, sehiugga lelang tersebut dituntut Penggugat untuk dibatalkan;

Bahwa menurut Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 1456 K/Pdt/1998 gugatan semacam ini merupakan wewenang Peradilan Tata Usaha Negara, karena fokusnya menyangkut tindakan hukum dari Badan/Pejabat Tata Usaha Negara, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara;

Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat IV dan VI telah menyangkal dalil-dalil gugatan tersebut dan sebaliknya mengajukan gugatan balik (rekonvensi) yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:

REKONVENSI TERGUGAT IV:

Bahwa berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1994 tanggal 21 November 1994 yang dibuat/diterbitkan oleh Kantor Lelang Negara Medan (Tergugat II dalam Konvensi), Penggugat Rekonvensi adalah sebagai pemenang lelang/pembeli lelang terhadap obyek lelang, yaitu:

Sebidang tanah seluas 6.838 m

2

, berikut bangunan rumah di atasnya, terletak di Jalan Serdang, Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, dengan batas-batas sebagai berikut:

• Utara : Persil Rohani dan Amat Buang;

• Timur : Persil Yakmin;

• Selatan : Jl. Serdang/persil Amat Buang dan Maimunah;

• Barat : Persil Margono, Parja dan Sardi;

Sesuai dengan Akta Penjualan/Ganti Kerugian Tanah Nomor 165/3/1982 tanggal 10-03-1982 atas nama Sri Rahmawati br. Barus, maka Penggugat Rekonvensi

Hal.

8

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8

(9)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

patut dinyatakan sebagai pembeli lelang yang beritikad baik, yang hak dan kepentingan hukumnya terhadap obyek sengketa dilindungi hukum;

Bahwa sejak Penggugat Rekonvensi membeli dan memiliki hak atas tanah dan bangunan rumah obyek sengketa berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994, Penggugat Rekonvensi tidak pernah dan maupun belum pernah menguasai/menempati dan mengambil manfaat ataupun mempergunakan tanah dan bangunan rumah obyek sengketa karena tanah dan bangunan rumah obyek sengketa masih dan tetap ditempati oleh Tergugat Rekonvensi;

Bahwa berdasarkan kenyataan tersebut, maka sangat beralasan jika Tergugat Rekonvensi dihukum untuk membayar ganti rugi kepada Penggugat Rekonvensi, yang perinciannya sebagaimana dalam gugatan rekonvensi;

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Penggugat dalam Rekonvensi menuntut kepada Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli supaya memberikan putusan sebagai berikut:

PRIMER:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat dalam Rekonvensi untuk seluruhnya;

2. Menyatakan sah dan berharga putusan provisionil yang telah diberikan dalam perkara ini;

3. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah dijalankan dalam perkara ini;

4. Menyatakan sah dan berharga Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 yang dibuat/diterbitkan oleh Kantor Lelang Negara Medan, terutama terhadap penjualan di muka umum (lelang) terhadap tanah dan bangunan rumah obyek sengketa berupa:

Sebidang tanah seluas 6.838 m

2

, berikut bangunan rumah di atasnya, terletak di Jalan Serdang Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, dengan batasbatas sebagai berikut:

• Utara : Persil Rohani dan Amat Buang;

• Timur : Persil Yakmin;

• Selatan : Jalan Serdang/persil Amat Buang dan Maimunah;

• Barat : Persil Margono, Parja dan Sardi;

Sesuai dengan Akta Penjualan/Ganti Kerugian Tanah Nomor 165/3/4982 tanggal 10-03-1982 atas nama Sri Rahmawati Barus;

Hal.

9

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9

(10)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

5. Menyatakan Penggugat dalam Rekonvensi sebagai pembeli dan pemenang lelang yang yang beritikad baik atas:

Sebidang tanah seluas 6.838 m

2

, berikut bangunan rumah di atasnya, terletak di Jalan Serdang Kelurahan Bakaran Batu, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, dengan batas- batas sebagai beriku:

• Utara : Persil Rohani dan Amat Buang;

• Selatan : Jalan Serdang/persil Amat Buang dan Maimunah;

• Barat : Persil Margono, Parja dan Sardi;

• Timur : Persil Yakmin;

Sesuai dengan Akta Penjualan/Ganti Kerugian Tanah Nomor 165/3/1982 tanggal 10-03-1982 atas nama Sri Rahmawati br. Barus;

Obyek sengketa berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 yarg dibuat/diterbitkan oleh Kantor Lelang Negara Medan, sehingga tanah dan bangunan rumah obyek sengketa merupakan milik yang sah dari Penggugat dalam Rekonvensi;

6. Menyatakan perbuatan Tergugat dalam Rekonvensi yang tidak bersedia mengosongkan dan menyerahkan obyek sengketa kepada Penggugat dalam Rekonvensi sebagai pemilik yang sah berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994 tersebut merupakan perbuatan yang melawan hukum;

7. Menghukum Tergugat dalam Rekonvensi untuk mengosongkan dan menyerahkan tanah dan bangunan rumah obyek sengketa kepada Penggugat dalam Rekonvensi dalam keadaan baik dan kosong serta tanpa syarat apapun;

8. Menghukum Tergugat dalam Rekonvensi untuk membayar ganti rugi kepada Penggugat dalam Rekonvensi, yaitu:

1. Ganti rugi atas tidak dapat menempati dan memanfaatkan rumah obyek sengketa, yang patut dihitung berdasarkan per tahunnya sebesar Rp 500.000,00;

2. Ganti rugi atas tidak dapat ditempati dan memanfaatkan tanah sawah seluas 15 rante, dalam 1 rante dapat menghasilkan 30 kaleng gabah (1 kaleng = 11 Kg), dengan harga @ Kg = Rp 1.200,00 dan dalam 1 tahun dapat 2 kali panen, sehingga

Hal.

10

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10

(11)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

dalam setahun dapat menghasilkan 15 x 30 x 11 x 2 x Rp 1.200,00

= Rp 11.880.000,00;

3. Ganti rugi atas biaya yang telah dikeluarkan untuk menghadapi sengketa ini sebesar Rp 30.000.000,00

9. Menghukum Tergugat dalam Rekonvensi untuk membayar uang paksa (dwangsom) sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta Rupiah) per hari, terhitung sejak perkara ini memperoleh putusan yang berkekuatan hukum tetap sampai dikosongkan dan diserahkan obyek sengketa kepada Penggugat dalam Rekonvensi dalam keadaan baik dan kosong tanpa syarat apapun;

10. Menghukum Tergugat I, Tergugat Il, Tergugat III dalam Konvensi untuk tunduk dan patuh terhadap putusan ini;

11. Menyatakan putusan dalam rekonvensi ini dapat dijalankan terus dengan serta merta, kendatipun ada perlawanan, banding dan kasasi (uitvoerbaar bij voorraad);

12. Menghukum Tergugat dalam Rekonvensi untuk membayar semua biaya yang timbul dalam perkara ini;

SUBSIDER:

Mohon putusan yang seadil-adilnya;

REKONVENSI TERGUGAT VI:

Bahwa Penggugat Rekonvensi sebagai pembeli yang beritikad baik, atas obyek perkara yang dibeli dari penangkap lelang Tergugat V, akan tetapi akibat adanya gugatan Tergugat Rekonvensi yang ditujukan kepada Penggugat Rekonvensi dan dilakukan penyitaan atas tanah tersebut yang sudah menjadi milik Penggugat Rekonvensi serta dan penyitaan atas tanah tersebut yang sudah menjadi milik Penggugat Rekonvensi serta dilakukannya pelarangan atas kelanjutan bangunan yang sedang dikerjakan oleh Penggugat Rekonvensi, menyebabkan Penggugat Rekonvensi mengalami kerugian yang perinciannya sebagaimana dalam gugatan rekonvensi;

Bahwa sebagai jaminan tuntutan Penggugat Rekonvensi agar tidak hampa atau sia-sia nantinya bila gugat rekonvensi ini dikabulkan, maka mohon diletakkan sita jaminan atas harta milik Tergugat Rekonvensi baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak;

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Penggugat dalam Rekonvensi menuntut kepada Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli supaya memberikan putusan sebagai berikut:

Hal.

11

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11

(12)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

1. Mengabulkan gugatan Penggugat Rekonvensi seluruhnya;

2. Menyatakan sah dan berharga sita yang telah dijalankan oleh Jurusita Pengadilan Negeri Tebing Tinggi;

3. Menghukum Tergugat Rekonvensi/Penggugat Konvensi untuk membayar ganti rugl kepada Penggugat Rekonvensi/Tergugat VI sebesar Rp 2.070.424.900,00 (dua milyar tujuh puluh juta empat ratus dua puluh empat ribu sembilan ratus rupiah);

4. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan serta merta walaupun ada banding, kasasi, perlawanan (verzet);

5. Menghukum Tergugat Rekonvensi untuk membayar dwangsom bila lalai memenuhi putusan perkara ini yang dihitung setiap harinya sebesar Rp 200.000,00 terhitung sejak putusan perkara ini mempunyai kekuatan yang tetap;

6. Menghukum Tergugat Rekonvensi untuk membayar biaya- biaya yang timbul gugat rekonvensi ini;

Bahwa terhadap gugatan tersebut Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli telah mengambil putusan, yaitu putusan Nomor 36/Pdt.G/2003/PN.TTD. tanggal 09 Juli 2004 yang amarnya sebagai berikut:

DALAM KONVENSI:

TENTANG EKSEPSI:

• Menolak eksepsi dari Tergugat-Tergugat;

TENTANG PROVISI:

• Menolak gugatan Penggugat;

TENTANG POKOK PERKARA:

1. Mengabulkan gugatan Penggugat seluruhnya;

2. Menyatakan sah dan berharga sita jaminan (conservatoir beslag) yang telah diletakkan terhadap barang agunan kredit Penggugat;

3. Menyatakan demi hukum bahwa Surat Pernyataan Bersama Nomor PB.30/ PUPNW.I/1994 yang dibuat tidak bertanggal dan bulan dan Berita Acara Penyitaan tanggal 10 Agustus 1994 adalah cacat hukum dan dinyatakan batal;

4. Menyatakan demi hukum bahwa tindakan Tergugat I dan II yang telah melakukan pelelangan atas tanah-tanah yang merupakan agunan

Hal.

12

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12

(13)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

kredit Penggugat kepada Tergugat III adalah perbuatan melawan hukum;

5. Menyatakan batal demi hukum Risalah Lelang Nomor 361/1994-1995 tanggal 21 November 1994;

6. Menyatakan batal demi hukum jual beli melalui lelang berdasarkan Risalah Lelang Nomor 361/IP94-1995 yang telah dimenangkan oleh Tergugat IV, Tergugat V dan Tergugat VI;

DALAM REKONVENSI:

• Menolak gugatan Penggugat seluruhnya;

DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI:

• Menghukum Tergugat-Tergugat dalam Konvensi/Penggugat dalam Rekonvensi membayar biaya-biaya yang timbul dalam perkara ini hingga kini sebesar Rp 664.000,00 (enam ratus enam puluh empat ribu Rupiah);

Menimbang, bahwa dalam tingkat banding, atas permohonan para Tergugat, putusan Pengadilan Negeri tersebut telah dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi Sumatera Utara di Medan dengan putusan Nomor 115/Pdt/2005/PT.Mdn.

tanggal 12 Oktober 2005 yang amarnya sebagai berikut:

• Menerima permohonan banding dari para Tergugat/para Pembanding;

• Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli tanggal 22 Juli 2004 Nomor 39/Pdt.G/2004/PN.TTD. yang dimohonkan banding tersebut;

MENGADILI SENDIRI:

DALAM KONVENSI:

TENTANG EKSEPSI:

• Menerima eksepsi dari para Tergugat/para pembanding;

• Menyatakan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara ini;

TENTANG PROVISI:

• Menyatakan tuntutan provisi tidak dapat diterima;

TENTANG POKOK PERKARA:

Menyatakan gugatan Penggugat/Terbanding tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard);

Menyatakan tidak sah dan tidak berharga sita jaminan (conservatoir beslag) yang lelah diletakkan terhadap barang agunan kredit Penggugat/

Hal.

13

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13

(14)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Terbanding sebagaimana dalam Berita Acara Sita Jaminan (conservatoir beslag) tanggal 23 Januari 2004 Nomor 01/CB/2004/36/Pdt.G/2003/

PN.TTD/PN.LP;

• Memerintahkan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli untuk mengangkat sita jaminan (conservatoir beslag) atas barang agunan kredit Penggugat/

Terbanding tersebut;

DALAM REKONVENSI:

• Menyatakan gugatan Penggugat I dan II dalam Rekonvensi/Tergugat IV dan VI dalam Konvensi/Pembanding IV dan VI tidak dapat diterima (niet ontvankelijke verklaard);

DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI:

• Menghukum Penggugat dalam Konvensi/Tergugat dalam Rekonvensi/

Terbanding untuk membayar biaya perkara di kedua tingkat peradilan, yang dalam tingkat banding ditetapkan sebesar Rp 110.000,00 (seratus sepuluh ribu Rupiah);

Menimbang, bahwa amar putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 1606 K/

Pdt/2007 tanggal 17 Januari 2008 yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut adalah sebagai berikut:

Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: H. Muhammad Selamat Barus, Direktur CV. Apotik Leo Sakti, tersebut;

Menghukum Pemohon Kasasi/Tergugat/Pembanding untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat peradilan, yang dalam tingkat kasasi ini sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu Rupiah);

Menimbang, bahwa sesudah putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap tersebut, yaitu putusan Mahkamah Agung Nomor 1606 K/Pdt/2007 tanggal 17 Januari 2008 diberitahukan kepada Pemohon Kasasi/Tergugat/

Terbanding pada tanggal 03 Februari 2009, kemudian terhadapnya oleh Pemohon Kasasi/Tergugat/Pembanding, (dengan perantaraan kuasanya, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 28 Juli 2009) diajukan permohonan peninjauan kembali secara lisan pada tanggal 30 Juli 2009 sebagaimana ternyata dari akte permohonan peninjauan kembali Nomor 36/Pdt.G/2003/

PN.TTD., yang dibuat oleh Wakil Panitera Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli, permohonan mana disertai dengan memori peninjauan kembali yang memuat alasan-alasan yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri tersebut pada tanggal 30 Juli 2009;

Hal.

14

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14

(15)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa setelah itu oleh para Termohon Kasasi/para Tergugat/para Pembanding yang pada tanggal 20 Oktober 2009 telah diberitahu tentang memori peninjauan kembali dari Pemohon Kasasi/Penggugat/Terbanding diajukan jawaban memori peninjauan kembali yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli pada tanggal 17 November 2009;

Menimbang, bahwa permohonan peninjauan kembali a quo beserta alasan- alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan seksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan dalam undang- undang, maka oleh karena itu permohonan peninjauan kembali tersebut formal dapat diterima;

Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali dalam memori peninjauan kembali tersebut pada pokoknya ialah:

I. Tentang adanya kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata karena tidak menerapkan Pasal 1 butir 3 Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo. Undang -Undang Nomor 9 Tahun 2004:

Bahwa asal-muasal pertama dan utama dari silang sengketa adalah terpusat pada bukti P-1 yang sama dengan T.I.II-3 Nomor PB.30/

PUPN.W.I/1994 yaitu surat pernyataan Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali mempunyai hutang sebesar Rp 147.601.595,00 (seratus empat puluh tujuh juta enam ratus satu ribu lima ratus sembilan puluh lima Rupiah) ditambah biaya administrasi PUPN sebesar 10%

sehingga semua berjumlah Rp 162.361.754,50 serta Pernyataan Pemohon Peninjauan Kembali tidak mampu membayar sesuai ketentuan yang berlaku di PUPN/KP3N dan Surat tersebut juga diteken oleh Tergugat I, II dan dua orang saksi, tetapi surat itu tidak memuat tempat, tanggal, bulan dan tahun pembuatannya;

Bahwa Pengadilan Tinggi Medan dalam Putusan Nomor 115/Pdt/2005/

PT.Mdn. telah memberi pertimbangan hukum yang menyatakan bahwa surat pernyataan Nomor PB.30/PUPN.W.I/1994 adalah merupakan Keputusan Tata Usaha Negara sehingga Pengadilan Tinggi Medan tidak berwenang mengadili, dan pertimbangan itu kemudian oleh MARI dinyatakan "TIDAK SALAH MENERAPKAN HUKUM" hal mana adalah merupakan suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata;

Bahwa Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo. Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2004 adalah berbunyi:

Hal.

15

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15

(16)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

"Badan atau Pejabat TUN adalah badan atau pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”;

Sedangkan Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali adalah subyek hukum "orang biasa" dan bukan badan, dan bukan pula pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan, dan karena itu mustahil untuk menerbitkan Keputusan Tata Usaha Negara sebagaimana bukti P-1 atau T.I.II-3 maka nyatalah Judex Juris telah mengalami suatu kekeliruan yang nyata atau telah terjadi suatu kekhilafan yang nyata karena menyebutkan P-1 atau T.I.II-3 sebagai produk Pejabat Tata Usaha Negara;

Bahwa selain itu bukti P-I atau T.I.II-3 bukan merupakan keputusan sepihak atau perbuatan hukum bersegi satu (eenzijdige) yang lazimnya dimiliki oleh Pejabat Tata Usaha Negara yang memiliki wewenang pemerintah dalam menerbitkan suatu keputusan yang menimbulkan akibat hukum tanpa memerlukan persetujuan pihak lain, tetapi nyata sekali P-I atau T.I.II-3 adalah dibuat oleh pembuat pernyataan dan Tergugat I, II menerima pernyataan itu, sehingga menjadi sangat nyata bahwa P-I atau T.I.II-3 adalah perbuatan hukum bersegi dua (tweezijdige) yang memerlukan persesuaian kehendak (wilsovereenstemming) yang merupakan dan berada dalam ranah keperdataan;

Bahwa oleh karena telah nyata bukti P-I atau T.I.II-3 adalah perbuatan hukum bersegi dua yang berada dalam ruang lingkup hukum perdata maka nyatalah adanya kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata dalam pertimbangan Judex Juris pada Putusan Nomor 1606 K/Pdt/2007 sehingga mohonlah berkenan untuk dibatalkan;

II. Tentang adanya kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata dalam pertimbangan tentang tiadanya wewenang pemerintahan pada Penggugat.

Bahwa sebagaimana disebutkan di atas bahwa surat pernyataan Nomor PB.30/PUPN.W.I/1994 isinya diantaranya adalah tentang Pernyataan Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali tidak mampu membayar hutang sebesar Rp 162.361.754,50,00 sesuai ketentuan yang berlaku di PUPN/KP3N yang oleh MARI adalah suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata;

Bahwa agar suatu subyek hukum dapat melakukan atau menerbitkan keputusan Tata Usaha Negara maka ia mestilah memiliki wewenang pemerintahan yang bersumber dari peraturan perundang-undangan;

Hal.

16

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16

(17)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Bahwa secara teoritik, kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang-undangan diperoleh melalui 3 cara yaitu:

• Atribusi yakni pemberian wewenang pemerintah oleh pembuat Undang-Undang kepada organ pemerintah/subyek hukum atau;

• Delegasi yaitu pelimpahan wewenang dari organ pemerintah atau;

• Mandat yaitu keizinan yang diberikan oleh organ pemerintah untuk menggunakan kewenangannya;

Bahwa akan tetapi dalam dan pada saat membuat P-I yang identik dengan T.I.II-3 Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali tidak mempunyai wewenang baik cara Atribusi atau Delegasi maupun Mandat, sehingga menjadi sangat nyata memberikan pertimbangan kepada Penggugat Asal/

Pemohon Peninjauan Kembali sebagai Pejabat Tata Usaha Negara dalam menerbitkan P-I yang sama dengan T.I.II-3 sebagaimana halnya yang dilakukan Judex Juris adalah merupakan suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata, atas dasar mana mohonlah kiranya Majelis Hakim Agung yang mulia berkenan membatalkan Putusan MARI yang dimohonkan Peninjauan kembali a quo;

III. Tentang adanya kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata karena mengabaikan fungsi saksi-saksi sebagai elemen hubungan keperdataan:

Bahwa surat bukti P-1 yang sama dengan T.I.II-3 yang merupakan pernyataan Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali tentang ketidak- mampuan membayar hutang dan pernyataan itu diterima oleh dua orang saksi bernama Drs. Tambok Gultom dan Saul Hutabarat, S.E. yang keduanya turut membubuhkan tanda tangannya pada surat pernyataan P-1 tersebut;

Bahwa fungsi keberadaan saksi dalam surat tersebut adalah untuk membuktikan adanya pertemuan dua kehendak (wilsovereenstemming) yaitu kehendak Pemohon Peninjauan Kembali dan kehendak Termohon Peninjauan Kembali I tentang jumlah hutang Pemohon Peninjauan Kembali yang memenuhi syarat-syarat obyektif dan syarat-syarat subyektif sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang kemudian dituangkan dalam bukti P-1 yang sama dengan T.I.II-3 sehingga jelaslah P-I itu merupakan hubungan keperdataan;

Bahwa akan tetapi fungsi saksi yang membuktikan hubungan keperdataan dalam surat P-1 yang sama dengan T.I.II-3 itu telah diabaikan oleh Judex

Hal.

17

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17

(18)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Facti Pengadilan Tinggi Medan dan dibenarkan oleh MARI, hal mana adalah merupakan suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata;

Bahwa seandainya P-1 yang sama dengan T.I.II-3 itu adalah merupakan keputusan Pejabat Tata Usaha Negara -quod non- maka tentulah tidak diperlukan saksi-saksi yang membubuhkan tandatangannya dalam bukti P-1 itu, karena sebagai Pejabat Tata Usaha Negara adalah memiliki kedudukan istimewa (bijzonderstatus) dan hak-hak istimewa (exorbinare rechten) dan memiliki monopoli paksaan fisik (monopoli van het pysiekegeweld) dan oleh karena itu sebagai Pejabat TUN tidak memerlukan seorang saksipun dalam menerbitkan keputusannya dan memang belum pernah ada suatu keputusan Pejabat TUN terbit dengan dibubuhi sejumlah saksi;

Bahwa dengan demikian sudah nyata dan terang bahwa bukti P4 yang sama dengan T.I.II-3 bukan merupakan keputusan Pejabat Tata Usaha Negara sebagaimana pertimbangan Judex Juris, atas dasar mana mohonlah kiranya Majelis hakim Agung berkenan membatalkan Putusan MARI Nomor 1606 K/Pdt/2007 tanggal 17 Januari 2008 dan setelah itu menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli Nomor 36/

Pdt.G/2003/PN.TTD. tanggal 22 Juli 2004;

IV. Tentang adanya kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata dalam menilai eksepsi:

Bahwa para Termohon Peninjauan Kembali telah menggiring kesan arus perkara a quo seakan-akan pokok persoalan atau sengketa adalah semata- mata tentang surat-surat yang dikeluarkan oleh Tergugat I dan II berkaitan dengan risalah lelang sehingga menjadi terfokus seakan-akan sengketa a quo berada di ranah Tata Usaha Negara;

Bahwa hal demikin telah mengakibatkan Judex Facti/Pengadilan Tinggi Medan keliru menilai eksepsi dalam pertimbangannya yang dikutip sebagai berikut :

"Menimbang bahwa menurut hemat Pengadilan Tinggi, berdasarkan Putusan Mahkamah Agung R.I. Nomor 3777 K/Pdt/1998 tanggal 09 Oktober 2002 yang telah membatalkan Putusan Pengadilan Tinggi Medan tanggal 30 April 1997 Nomor 287/Pdt/1996/PT.Mdn. yang menguatkan Putusan Pengadilan Negeri tebing Tinggi Deli tanggal 08 November 1995 Nomor 05/

Pdt/1995/G/PN.TTD. Sebagaimana telah dipertimbangkan di atas, maka Mahkamah Agung R.I. telah berpendapat bahwa Tergugat I dan II/

Pembanding I dan II telah menerbitkan surat pernyataan bersama Nomor

Hal.

18

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18

(19)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

P.B. 30/PUPNW.I/1994 berikut berita acara penyitaan tanggal 10 Agustus 1994 adalah sebagai Pejabat Tata Usaha Negara sehingga dengan demikian surat-surat yang diterbitkan oleh tersebut di atas adalah Tergugat I dan II/Pembanding I dan II tersebut adalah merupakan keputusan Tata Usaha Negara, oleh karena itu Pengadilan Tinggi tidak berwenang mengadili perkara a quo, yang berwenang mengadilinya adalah Pengadilan Tata Usaha Negara”;

(hal. 12 Putusan Pengadilan Tinggi Medan);

Nyata sekali Judex Facti/Pengadilan Tinggi Medan telah keliru karena berpendapat Tergugat I dan II/Pembanding I dan II telah menerbitkan Surat Pernyataan bersama Nomor P.B.30/PUPNW.I/1994 (sependapat dengan MARI dalam Putusan Nomor 3777 K/Pdt/1998), padahal surat pernyataan bersama itu bukan diterbitkan oleh Tergugat I dan II melainkan Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali dengan Tergugat I, dan karena Penggugat Asal tidak dilekati dengan legalitas sebagai Pejabat Tata Usaha Negara maka surat pernyataan tersebut tentu tidak dapat menjadi produk keputusan Pejabat Tata Usaha Negara;

Bahwa oleh karena pertimbangan Judex Facti/Pengadilan Tinggi Medan yang keliru di atas telah dinyatakan "tidak salah" oleh MARI, maka tentulah telah terjadi suatu kekhilafan Hakim atau suatu kekeliruan yang nyata, atas dasar mana, beralasanlah kiranya untuk membatalkan Putusan MARI Nomor 1606 K/Pdt/2007 tanggal 17 Januari 2008 dan seterusnya menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli Nomor 36/

Pdt.G/2003/PN.TTD. tanggal 22 Juli 2004;

V. Tentang adanya kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata dalam memberikan kualitas bukti dalam pertimbangan:

Bahwa yang Pemohon Peninjauan Kembali maksudkan dalam uraian ini adalah masih tentang pertimbangan Judex Facti yang pada intinya memberikan kualitas bukti P-1 (yang sama dengan T.I.II-3) sebagai keputusan Tata Usaha Negara. Jika pertimbangan ini seandainya benar maka akan muncul beberapa kekaburan yaitu:

Kepada siapakah itu ditujukan? Pertanyaan ini sehubungan dengan keputusan TUN Pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 jo.

Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, kalau ditujukan kepada Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali, akan menjadi terbantahkan karena Penggugat Asal/Pemohon Peninjauan Kembali merumuskan kehendaknya dengan antara lain menyatakan tidak mampu membayar hutang dan

Hal.

19

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19

(20)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Pemohon Peninjauan Kembali adalah juga penandatangan dari surat pernyataan tersebut, sehingga mustahil ditujukan pada Pemohon Peninjauan Kembali sendiri;

Dapatkah seorang warga negara "biasa" bersama seorang Pejabat TUN menerbitkan surat keputusan bersama yang berkualitas sebagai putusan Tata Usaha Negara? Jawaban yang paling tepat tentu adalah dengan mengatakan "tidak" sebab jika dijawab "dapat" muncul pertanyaan selanjutnya tentang soal dari mana warga negara "biasa" itu mendapat legalitas?;

Bahwa dengan demikian semua rentetan pertanyaan yang lahir akan memperdalam atau menambah lebih kabur lagi pertimbangan Judex Juris, karena memang sejatinya bukti P-1 yang sama dengan T.I.II-3 adalah merupakan bukti hubungan keperdataan dan bukan sebagai keputusan Pejabat Tata Usaha Negara sebagaimana pendapat Judex Facti yang dibenarkan Judex Juris;

Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan peninjauan kembali tersebut Mahkamah Agung berpendapat:

Bahwa alasan Pemohon Peninjauan Kembali tidak dapat dibenarkan, oleh karena meneliti dengan seksama memori peninjauan kembali tanggal 30 Juli 2009 dan kontrak memori peninjauan kembali tanggal 17 Jaunari 2008 Nomor 1606 K/Pdt/2007 dan putusan Medan tanggal 12 Oktober 2005 Nomor 115/

Pdt/2005/PT.Mdn. yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli tanggal 22 Juli 2004 Nomor 36/Pdt.G/2003/PN.TTD. ternyata tidak salah dan tidak ada kekeliruan dalam penerapan hukum dan telah memberi pertimbangan yang cukup dan benar, karena yang dipermasalahkan dalam perkara a quo adalah produk Pejabat Tata Usaha Negara yaitu Risalah Lelang Nomor 361/1994-1195 tanggal 21 November 1994, maka Pengadilan yang berwenang mengadili perkara ini adalah Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN);

Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, maka permohonan

peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali:

H. Muhammad Selamat Barus tersebut harus ditolak;

Menimbang, bahwa oleh karena permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali ditolak, maka Pemohon Peninjauan Kembali dihukum untuk membayar biaya perkara dalam pemeriksaan peninjauan kembali ini;

Hal.

20

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20

(21)

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Mahkamah Agung Republik Indonesia

Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009 serta peraturan perundang-undangan lain yang bersangkutan;

M E N G A D I L I:

Menolak permohonan peninjauan kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali: H. MUHAMMAD SELAMAT BARUS tersebut;

Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara dalam pemeriksaan peninjauan kembali ini sebesar Rp 2.500.000,00 (dua juta lima ratus ribu Rupiah);

Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada hari Selasa, tanggal 31 Mei 2011 oleh Dr. HARIFIN A. TUMPA, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, DJAFNI DJAMAL, S.H., M.H. dan I MADE TARA, S.H., Hakim- Hakim Agung sebagai Anggota, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis beserta Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh H. PRAYITNO IMAN SANTOSA, S.H., M.H., Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.

Hakim-Hakim Anggota: Ketua,

ttd. ttd.

DJAFNI DJAMAL, S.H., M.H. DR. HARIFIN A. TUMPA, S.H., M.H.

ttd.

I MADE TARA, S.H.

Panitera Pengganti, ttd.

H. PRAYITNO IMAN SANTOSA, S.H., M.H.

Biaya-Biaya Peninjauan Kembali:

1. Meterai ………….. Rp .000,00

2. Redaksi …………. Rp .000,00

3. Administrasi PK … Rp .489.000,00 Jumlah ……… Rp .500.000,00

Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.

Hal.

21

dari

22

hal. Put. No. 205 PK/Pdt/2010

Disclaimer

Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.

Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]

Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21

Referensi

Dokumen terkait

11/33/PBI/2009 tentang pelaksanaan GCG Bagi Bank Umum, Bank Syariah dan UUS dalam Pasal 2 dijelaskan bahwa pelaksanaan pelaksanaan prinsip- prinsip GCG minimal

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai persepsi mahasiswa perempuan tentang tayangan serial drama Korea dengan mengambil tujuh dari delapan

Untuk itu akan dilakukan penelitian nilai delay untuk mengetahui kinerja dari jaringan nirkabel 4G di Surabaya, agar didapatkan hasil performansi dari TCP/IP, sehingga

Secara hukum, perjanjian yang dibuat menimbulkan akibat hukum dan para pihak yang terkait berhak mengajukan pembatalan perjanjian atau menjadikannya sebagai alasan

Hasil penelitian terhadap nilai bau menunjukkan perbedaan jarak tungku tidak berpengaruh signifikan (P>0,05) terhadap bau ikan asap, namun dengan semakin

Pada angket no 12 yang menjawab benar atau tahu berjumlah 63 orang atau 63%, kemudian yang menjawab salah/ tidak tahu berjumlah 37 orang atau 37% maka rata-rata

Hal itu sejalan dengan penelitian dari D (2017) nilai OR 11,7 sehingga dapat di simpulkan bahwa terdapat ada hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian preeklamsia pada

Dalam tugas akhir ini penulis mengangkat sebuah judul tentang “Pembangunan Aplikasi Mobile Donor Darah Berbasis Geolocation Menggunakan Metode Reactive