Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi
Oleh:
ZEIN RENA SIANTURI
161301197
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2021
i
Konstruksi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa
Zein Rena Sianturi dan Ika Sari Dewi Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
ABSTRAK
Regulasi emosi merupakan sebuah usaha untuk mengatur atau mengelola emosi, tetapi konsep regulasi emosi ini masih sangat jarang digunakan dalam penelitian yang ada di Indonesia, terutama dalam hal konstruksi alat ukur. Tujuan penelitian ini ialah untuk membuat alat ukur regulasi emosi yang sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Konstruksi alat ukur regulasi emosi ini menggunakan konsep yang telah dikemukakan oleh Gross. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif deskriptif dengan analisis yang dilakukan dalam proses penyusunan alat ukur ini adalah validasi dengan validitas isi yang diperoleh dari professional judgement dan kemudian diolah dengan formula Aiken’s V. Selain itu, analisis reliabilitas alat ukur ini menggunakan alpha cronbach dan analisis daya diskriminasi aitem menggunakan formula product moment pearson. Alat ukur ini diberikan kepada 280 partisipan usia dewasa awal yang masih berkuliah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa alat ukur ini terdiri dari 25 aitem yang terbukti akurat berdasarkan hasil validitas isi, reliabilitas dan daya diskriminasi aitem untuk alat ukur regulasi emosi.
Kata Kunci: Regulasi Emosi, Mahasiswa, Validitas Isi, Reliabilitas
ii
The constructions of Emotion Regulation Scale Zein Rena Sianturi and Ika Sari Dewi
Faculty of Psychology University of Sumatera Utara
ABSTRACK
Emotion regulation is an attempt to regulate or manage emotions, but the concept of emotion regulation is still very rarely used in research in Indonesia, especially in terms of the construction of scale. The purpose of this study is to create a scale for emotion regulation that is in accordance with the culture in Indonesia. The construction of this emotion regulation scale uses the concept that has been proposed by Gross. This research is a descriptive quantitative research method with the analysis used in this research is validation with content validity obtained from professional judgment and then processed with the Aiken's V formula. In addition, the reliability analysis of this scale uses Cronbach's alpha and Item discrimination. Item discrimination using Pearson's product moment formula. This scale was given to 280 participants in early adulthood who are still in college. The results of this study indicate that this measuring instrument consists of 25 items which are proven to be accurate based on the results of content validity, reliability and item discrimination for measuring emotion regulation.
Key Word: Emotion Regulation, College Student, Content Validity, Reliability
iii
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan segala puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat melewati dan sampai di tahap ini untuk menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Konstruksi Alat Ukur Regulasi Emosi Untuk Mahasiswa” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana (S1) pada Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Selama penyusunan skripsi ini, peneliti sadar bahwa banyak dukungan, bimbingan, doa, saran, serta motivasi yang peneliti dapatkan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan banyak terimakasih yang tulus kepada:
1. Bapak Zulkarnain, Ph.D, Psikolog, selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Ika Sari Dewi, M.Pd, Psikolog, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan ilmu, nasihat, bimbingan, serta waktunya untuk membimbing peneliti selama berproses dalam skripsi ini.
3. Kak Sherry Handiyani, M.Psi, Pak Ferry Novliadi, M.Si, Pak Fahmi Ananda, M.Psi, Psikolog, Bu Rahmi Putri Rangkuti, M.Psi, Psikolog, Bu Raras Sutatminingsih, Ph.D, Psikolog, Bu Indri Kemala Nasution, M.Psi, Psikolog, Bu Rr. Lita Hadiati Wulandari, M.Si, Psikolog, Bu Sri Supriyantini, M.Si, Psikolog, Kak Juliana I
iv
Saragih, M.Psi, Psikolog, Pak Ari Widiyanta, M.Si, Psikolog dan Ibu Filia Dina Anggraeni, M.Pd yang telah memberikan bimbingan, saran, motivasi, serta waktu dalam menyelesaikan proses penyusunan aitem dalam skripsi ini.
4. Ibu dan Ayah peneliti yang selalu memberikan doa, saran, nasihat yang baik, bantuan moral dan moril, bantuan materi, yang selalu memotivasi dan selalu setia mendampingi peneliti dalam penyelesaian skripsi ini, mereka yang sangat ingin melihat anaknya wisuda dan memakai toga.
5. Teman seperjuangan peneliti yaitu Cindy Florentina dan Ester Siringo-ringo yang telah memberikan banyak bantuan kepada peneliti, dan yang selalu memberikan semangat kepada peneliti, dan selalu ada untuk membantu peneliti disaat susah maupun senang.
6. Dhea Oriza, Reyhan, Maudy, Debora, Aliya dan Ester terimakasih banyak atas bantuan dan waktu yang diberikan untuk membantu peneliti.
7. Teman-teman seperdopingan peneliti yaitu Adi Ignatius, Aliya, Maya, Debora, Hanan dan Shyntia yang telah banyak membantu peneliti dalam hal mencari data penelitian serta memotivasi peneliti.
8. Lissa, Winia, Nora, Sintia, Septi yang telah banyak membantu peneliti dalam membagikan skala peneliti.
v
9. Teman-teman angkatan 2016, 2017, 2018, 2019 dan 2020 yang telah membantu penulis dalam mencari data lapangan untuk penelitian ini.
10. Yemima, Siska sahabat peneliti yang telah memberikan peneliti motivasi dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
11. Kak Dewi, Kak Meni, Agnes, Yunus, Daniel dan seluruh teman seperjuangan yang ada di RM. Sianturi atas bantuan dan selalu menemani peneliti disaat senang maupun sedih.
12. Jonatan Tamba teman sekaligus sahabat peneliti yang selalu memberikan dukungan mental, kasih, waktu, motivasi, dan selalu ikut serta dalam membantu peneliti dikala sedih maupun senang.
13. Seluruh orang-orang yang membantu peneliti dalam mengambil data, dan yang mengisi serta membagikan skala peneliti yang tidak bisa peneliti sebutkan satu per satu namanya.
Dalam pembuatan Skripsi ini walaupun telah berusaha semaksimal mungkin, tentunya masih banyak kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki, oleh karena itu diharapkan saran dan kritik untuk membangun kesempurnaan skripsi ini, Semoga skripsi ini bermanfaat bagi banyak pihak.
Medan, Juli 2021 Zein Rena Sianturi
vi
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR RUMUS ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 10
D. Manfaat Penelitian ... 10
1. Manfaat Teoritis ... 10
2. Manfaat Praktis ... 10
E. Sistematika Penulisan ... 11
BAB II LANDASAN TEORI ... 12
A. Regulasi Emosi ... 12
vii
1. Definisi Regulasi Emosi ... 12
2. Aspek Regulasi Emosi ... 14
3. Strategi Regulasi Emosi ... 16
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi ... 17
B. Konstruksi Alat Ukur ... 20
1. Konstruksi Tes Psikologi ... 20
2. Ciri-ciri Tes Psikologi ... 21
3. Langkah-langkah Konstruksi Tes Psikologi ... 21
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Jenis Penelitian ... 29
B. Definisi Operasional ... 29
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 30
1. Populasi ... 30
2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 30
D. Prosedur Konstruksi Alat Ukur Regulasi Emosi untuk Mahasiswa 31 E. Teknik Analisis Data ... 36
1. Validitas Isi ... 36
2. Daya Diskriminasi Aitem ... 37
3. Reliabilitas ... 38
F. Metode Penskalaan dan Teknik Penskoringan ... 39
viii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42
A. Gambaran Umum Penelitian ... 42
B. Deskripsi Hasil Penelitian ... 44
1. Validitas Isi ... 44
2. Hasil Try Out Alat Ukur Regulasi Emosi untuk Mahasiswa 50 3. Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem ... 50
a. Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek Cognitive Reappraissal ... 51
b. Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek Expressive Suppression ... 52
4. Karakteristik Aitem Berdasarkan Validitas Isi dan Daya Diskriminasi Aitem ... 54
5. Hasil Analisis Reliabilitas ... 57
C. Pembahasan ... 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 65
A. Kesimpulan ... 65
B. Saran ... 65
1. Saran Metodologis ... 65
2. Saran Praktis ... 67
ix
DAFTAR PUSTAKA ... 68
LAMPIRAN ... 76
x
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Contoh tampilan Blue-Print ... 23
Tabel 2. Blue-Print Alat Ukur Regulasi Emosi Untuk Mahasiswa ... 33
Tabel 3. Skala Likert ... 40
Tabel 4. Kriteria Interpretasi Skor ... 41
Tabel 5. Proporsi Sampel Berdasarkan Usia ... 42
Tabel 6. Proporsi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin ... 43
Tabel 7. Proporsi Sampel Berdasarkan Suku ... 43
Tabel 8. Proporsi Sampel Berdasarkan Asal Kampus ... 44
Tabel 9. Deskripsi Professional Judgement ... 45
Tabel 10. Hasil Analisis Validitas Isi ... 47
Tabel 11. Validitas Isi Alat Ukur Regulasi Emosi Untuk Mahasiswa ... 48
Tabel 12. Ringkasan Hasil Analisis Validitas Isi ... 49
Tabel 13. Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek Cognitive Reappraisal ... 51
Tabel 14. Ringkasan Hasil Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek Cognitive Reappraisal ... 52
xi
Tabel 15. Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek Expressive Suppression ... 52 Tabel 16. Ringkasan Hasil Analisis Daya Diskriminasi Aitem Pada Aspek
Expressive Suppression ... 53 Tabel 17. Karakteristik Aitem Berdasarkan Hasil Validitas Isi dan Daya
Diskriminasi ... 54 Tabel 18. Format Final Aitem ... 55
Tabel. 19 Koefisien Reliabilitas Pada Setiap Aspek ... 57
xii
DAFTAR RUMUS
Rumus 1. Validitas Isi ... 36
Rumus 2. Daya Diskriminasi Aitem ... 38
Rumus 3. Reliabilitas ... 39
Rumus 4. Teknik Penskoringan ... 40
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat Ukur Penelitian ... 77
Lampiran 2. Reliabilitas dan Daya Diskriminasi Aitem Alat Ukur Regulasi
Emosi untuk Mahasiswa ... 87 Lampiran 3. Validitas Isi Alat Ukur Regulasi Emosi untuk Mahasiswa ... 90
Lampiran 4. Blue-print Format Final Alat Ukur Regulasi Emosi untuk
Mahasiswa ... 93 Lampiran 5. Data dan Skor Subjek Alat Ukur Regulasi Emosi untuk
Mahasiswa ... 96
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Regulasi emosi begitu erat dengan emosi sehingga beberapa ahli teori melihat regulasi emosi sebagai bagian tak terpisahkan dari emosi (Campos, dkk, dalam Frijda, 1986). Emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu (Goleman, 2002), sedangkan regulasi dapat mempengaruhi perilaku dan pengalaman seseorang. Hasil regulasi dapat berupa perilaku yang ditingkatkan, dikurangi, atau dihambat dalam ekspresinya (Nansi, 2016) jadi, regulasi emosi ialah usaha untuk mengatur atau mengelola emosi atau bagaimana seseorang mengalami dan mengungkapkan emosi yang dapat mempengaruhi perilaku individu untuk mencapai tujuannya (Balter, dalam Silaen, 2015). Regulasi emosi memiliki tujuan untuk meminimalkan dampak negatif dari masalah yang dihadapi dengan cara memonitor dan mengevaluasi pengalaman emosional (Kring, 2010). Regulasi emosi memiliki pandangan yang berbeda dalam budaya (Gross & John, 2003), perbedaannya dapat dijelaskan pada pengungkapan ekspresi emosi yang pada akhirnya berkaitan dengan Norma budaya yang mengatur bagaimana emosi diungkapkan (Mesquita & Walker, 2003).
Berbicara mengenai regulasi emosi, dewasa ini banyak konsep
regulasi emosi yang dikemukakan oleh beberapa peneliti dari luar negeri, seperti yang dikemukakan oleh Gratz dan Roemer (2004) yang konsep regulasi emosinya memiliki empat aspek yaitu acceptance of emotional respon,, strategies to emotion regulation, engaging in goal directed behavior, dan control emotional responses. Konsep ini menyatakan bahwa regulasi emosi sebagai konstruk yang melibatkan kesadaran, pemahaman dan penerimaan emosi, kemampuan untuk terlibat dalam perilaku yang bertujuan dan mencegah perilaku impulsif ketika mengalami emosi negatif (Gratz &
Roemer, 2004). Selain itu konsep regulasi emosi dari Thompson yang menghasilkan tiga aspek regulasi emosi yaitu emotions monitoring, emotions evalutating, dan emotions modifications (Gross & Thompson, 2007).
Banyak penelitian yang dilakukan terkait konsep regulasi emosi seperti penelitian yang dilakukan oleh Yusuf (2017) yang melihat hubungan antara regulasi emosi dengan perilaku prososial pada siswa sekolah menengah atas. Penelitian ini menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Thompson yaitu emotions monitoring, emotions evaluating, dan emotions modifications. Lalu penelitian lainnya juga dilakukan oleh Silaen (2015) yang juga melihat hubungan antara regulasi emosi dengan asertivitas pada anak SMA, penelitian ini juga menggunakan konsep Thompson yang memiliki tiga aspek yaitu emotions monitoring, emotions evaluating, dan emotions modification. Penelitian yang dilakukan dengan siswa SMA banyak dilakukan karena mereka dikategorikan pada usia remaja, menurut
Santrock (2015) remaja berada pada usia 10 sampai 20 tahun. Di Indonesia, siswa SMA sendiri berada pada rentang usia 16 sampai 18 tahun (PSMA, 2017). Pada masa ini, remaja banyak dihadapkan pada masalah seperti tekanan akademis, keinginan populer, keinginan untuk diterima, merasa cocok pada kelompok sosial, dan hubungan dengan lawan jenis serta body image (Neff & McGehee, 2010).
Selain itu, penelitian terkait konsep regulasi emosi juga dilakukan pada dewasa awal. Menurut Hurlock, masa dewasa awal dimulai dari usia 18 hingga 40 tahun (Putri, 2019). Pada masa ini, dewasa awal dihadapkan pada pola kehidupan baru dan pengembangan sikap baru (Lybertha, dkk, 2016) mereka dihadapkan pada berbagai macam tantangan yaitu pencarian, penemuan, pemantapan dan masa yang produktif dimana mereka dihadapi dengan masalah dan ketegangan emosional, komitmen, perubahan nilai-nilai hingga penyesuaian diri dengan pola hidup yang baru (Santrock, dalam Putri, 2019). Hal yang sama juga dirasakan oleh mahasiswa, mahasiswa dikategorikan sebagai dewasa awal karena berada pada rentang usia 18 sampai dengan 25 tahun (Yusuf, 2012).
Dalam tumbuh kembangnya, mahasiswa memiliki berbagai macam permasalahan khususnya dalam bidang akademik seperti kurang memahami istilah asing, sukar menyelesaikan masalah, kurang memahami penjelasan dosen, sukar belajar kelompok, takut bicara di kelas, kurang mampu memahami buku dan membaca cepat, kurang konsentrasi, kurang mampu
belajar efektif, khawatir gagal atau mendapat nilai rendah, cara mengajar dosen membosankan (Hidayat, 2011), tuntutan keluarga untuk berprestasi, tugas kuliah yang banyak, kompetensi dengan teman untuk mendapat nilai yang baik dan adaptasi terhadap perubahan sistem pendidikan yang lebih menuntut kemandirian (Misra & Castilo, 2004). Begitu juga permasalahan yang dialami oleh mahasiswa yang berada di Negara Barat, permasalahan yang dihadapi sama dengan mahasiswa yang ada di Indonesia. Perbedaannya terletak pada budaya serta regulasi emosi yang ada pada mahasiswa Indonesia lebih baik karena diuntungkan pada norma dan budaya dan penyesuaian sosial yang baik, sedangkan mahasiswa Barat cenderung lebih buruk pada norma budaya dan penyesuaian sosial (Landa, 2018). Hal ini juga didukung oleh penelitian Matsumoto (2008) bahwa mahasiswa barat cenderung menampilkan hubungan, komunikasi, hubungan sosial, dan juga dukungan sosial yang kurang baik.
Permasalahan ini dapat menjadi stres bagi mahasiswa, respon stres yang dihasilkan dapat berupa respon emosional. Adanya permasalahan tersebut membuat mahasiswa menjadi lelah, sedih, kesal, gelisah dan marah sehingga mahasiswa mengalami penurunan konsentrasi, khawatir, berpikir negatif, mood tidak menentu dan menajadi pelupa (Putri, 2014). Respon emosi yang dirasakan juga sama seperti mahasiswa barat, mereka juga merasakan kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, depresi, dan juga kecemasan (Misra, 2004). Keadaan emosional yang tidak
ditangani ini dapat menghasilkan efek jangka panjang pada diri mahasiswa, sehingga penting bagi mahasiswa untuk dapat meregulasi emosinya (Putri, 2014).
Deteksi regulasi emosi mahasiswa yang tepat dan akurat dapat dilakukan dengan membuat suatu alat ukur regulasi emosi agar dapat diberikan tindakan preventif dan kuratif, karena mahasiswa dikategorikan dalam masa dewasa awal yang dimana memiliki banyak permasalahan.
Dalam membuat alat ukur yang baik dibutuhkan suatu konsep dan teori, dalam penelitian ini menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Gross (1998). Konsep regulasi emosi yang dikemukakan oleh Gross dihasilkan dari penelitian beliau dengan menyajikan film yang dapat menimbulkan rasa jiik sehingga timbul regulasi emosi dari partisipan berupa menahan rasa jijik dan rasa emosi mereka terhadap film tersebut. Respon itu kemudian dilaporkan oleh partisipan dengan self report data yang diberikan oleh Gross. Hasil penelitian tersebut menghasilkan dua aspek regulasi emosi yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppresion.
Konsep regulasi emosi milik Gross (1998) sebelumnya sudah pernah dipakai dalam penelitian yang ada di Indonesia, seperti penelitian yang dilakukan oleh Lucia Putri Kristiyanti (2019) yang melihat hubungan regulasi emosi dan kualitas persahabatan pada mahasiswa perantauan, peneliti mengembangkan alat ukurnya sendiri dari konsep yang dikemukakan oleh Gross. Lalu penelitian lainnya dilakukan oleh Muhammad
Noor Hidayat (2016) tentang perbedaan strategi regulasi emosi pada perokok yang mengalami negative affect, peneliti juga mengembangkan alat ukurnya sendiri dengan menggunakan konsep dan aspek milik Gross.
Di Indonesia konsep regulasi emosi sangat jarang ditemukan, dan kebanyakan penelitian yang ada di Indonesia memakai konsep yang berasal dari luar negeri. Adapun konsep dari luar negeri tersebut belum tentu sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia (Suharsono, 2014). Maka dari itu pentingnya untuk membuktikan apakah sebuah konsep dapat dipakai pada suatu budaya.
Konsep regulasi emosi yang dikemukakan oleh Gross telah terbukti dapat digunakan pada budaya Asia, khususnya Asia Timur. Penelitan itu ditunjukkan oleh Eng (2012) yang melihat konsep regulasi emosi dan budaya, hasilnya adalah bahwa penggunaan regulasi emosi pada orang Barat dan orang Asia Timur cenderung menampilkan perbedaan. Perbedaan itu terlihat dari cara mengekspresikan emosi seperti orang Asia lebih sering mengontrol emosinya ketika marah dibandingkan orang Amerika (Mauss, dalam Ford, dkk, 2015). Ditegaskan juga oleh Benekdiktus dan Bond konsepsi pada rakyat dan catatan etnografi juga berbeda pada nilai-nilai yang berkaitan dengan emosi dan kontrol emosi. Studi empiris yang lebih baru juga menunjukkan bahwa orang Barat dan Asia Timur menunjukkan respon emosi yang berbeda (Tsai, dkk dalam Eng, 2012). Selain Eng, penelitian lainnya juga dilakukan oleh Matsumoto (2006), dengan melibatkan 6,409
orang Jepang dan 1,013 orang Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa adanya perbedaan penggunaan regulasi emosi pada orang Amerika dan Jepang, dikatakan bahwa orang Amerika lebih terbuka terhadap emosinya, sedangkan orang Jepang lebih menyesuaikan diri terhadap kelompok atau konteksnya.
Alasan peneliti menggunakan konsep dari Gross selain karena konsep ini telah dibuktikan secara budaya bahwa konsep ini dapat digunakan di Asia Timur juga karena adanya persamaan budaya antara Barat dan Asia Timur.
Kesamaan budaya itu terletak pada self-enhancement atau disebut peningkatan diri, orang pada budaya Barat cenderung memandang diri mereka positif, memandang diri mereka lebih baik daripada sebelumnya bahkan sebelum adanya perubahan begitu juga dengan orang Asia Timur tidak menunjukkan perbedaan (Boucher, 2010).
Dalam pembuatan alat ukur psikologi, dibutuhkan ilmu pengukuran sebagai dasar untuk menguji kelayakan psikometris alat ukur psikologi yang dibuat yang bertujuan membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel (Azwar, 2005). Penelitian ini merupakan studi awal alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa yang sesuai dengan budaya Indonesia, maka penelitian ini hanya sampai pada tahap validitas isi saja. Validitas isi adalah validitas untuk menguji kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau expert judgment. Validitas isi
diperlukan untuk melihat kelayakan aitem-aitem tes dalam mengungkap apakah atribut yang diukur sesuai dengan indikator perilaku yang dibentuk dan untuk mengetahui bahwa aitem-aitem yang diukur telah mencakup keseluruhan domain isi yang hendak diukur (Coaley, 2010). Untuk menguji validitas isi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa dengan tujuan mendorong penelitian yang lebih lanjut. Oleh karena itu dibutuhkan prosedur yang panjang untuk bisa menghasilkan alat ukur yang mumpuni, maka penelitian ini masih sampai pada tahap merancang dan melakukan studi validitas isi, reliabilitas dan daya diskriminasi.
Alat ukur regulasi emosi ini nantinya akan diberikan kepada dewasa awal yang sedang berkuliah yaitu mahasiswa. Mahasiswa dipilih karena penelitian mengenai alat ukur regulasi emosi ini masih sedikit dilakukan, selain itu permasalahan mahasiswa Indonesia sangat beragam dan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai regulasi emosi mahasiswa.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Kota Medan dengan sampel mahasiswa Kota Medan dengan rentang usia 18 sampai dengan 25 tahun.
Mahasiswa Kota Medan dipilih karena penelitian ini merupakan penelitian awal dalam pembentukkan alat ukur regulasi emosi mahasiswa, sehingga mahasiswa merupakan data awal untuk dapat melakukan penelitian lebih lanjut nantinya.
B. Rumusan Masalah
Alat ukur regulasi emosi ini diperlukan dalam melihat kemampuan regulasi emosi pada mahasiswa. Saat ini, alat ukur regulasi emosi yang ada menggunakan konsep dari luar negeri dan adaptasi, tanpa mengetahui apakah konsep tersebut sesuai dengan budaya yang ada di Indonesia. Peneliti kemudian ingin membuat alat ukur regulasi emosi dengan budaya yang sesuai dengan Indonesia. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan konsep yang sudah ada yaitu konsep regulasi emosi milik Gross (1998). Sebagai upaya dalam menjawab permasalahan tersebut, maka peneliti merumuskan tiga pertanyaan, yaitu:
1. Apakah aitem-aitem yang dimuat dalam alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa sudah valid untuk mengukur regulasi emosi pada mahasiswa menurut konsep yang dikemukakan oleh Gross?
2. Apakah hasil pengukuran dengan alat ukur regulasi emosi yang dibentuk memiliki akurasi sesuai dengan standar pengukuran?
3. Apakah aitem-aitem yang dimuat dalam alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa memiliki validitas isi, reliabilitas dan daya diskriminasi yang baik?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji validitas isi, reliabilitas dan daya diskriminasi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa yang memiliki Norma yang sesuai dengan budaya Indonesia serta dapat digunakan oleh banyak pihak dari disiplin ilmu untuk mengukur kemampuan regulasi emosi pada mahasiswa.
D. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan menambah khazanah ilmu psikologi tentang regulasi emosi pada mahasiswa dan bermanfaat dalam pengkajian alat ukur regulasi emosi pada mahasiswa, sehingga dapat menjadi sumber referensi dan informasi bagi akademisi maupun dalam penelitian regulasi emosi mahasiswa.
b. Manfaat Praktis
1. Adanya alat ukur regulasi emosi pada mahasiswa ini diharapkan berguna dalam mengukur kemampuan regulasi emosi pada mahasiswa, sehingga dengan mengetahui kemampuan regulasi emosi mahasiswa dapat membantu individu dalam melalui masa perkuliahan dan berdampak positif dalam kehidupannya.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya yang bermaksud untuk meneliti
mengenai regulasi emosi pada mahasiswa dalam hubungannya dengan konstrak psikologis lainnya.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan ini adalah:
BAB I : Pendahuluan
Bab ini berisikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan juga sistematika penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Bab ini berisikan mengenai teori regulasi emosi, konstruksi alat ukur psikologi, dan langkah-langkah konstruksi alat ukur.
BAB III : Metode Penelitian
Bab ini berisikan mengenai metode penelitian, yaitu jenis penelitian, definisi operasional, populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel dan prosedur konstruksi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa.
BAB IV : Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisikan mengenai gambaran umum data penelitian, deskripsi hasil penelitian dan hasil penelitian.
BAB V : Kesimpulan dan Saran
Bab ini berisikan mengenai kesimpulan dari hasi penelitian serta saran berupa saran praktis dan metodologis.
12
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Regulasi Emosi
1. Definisi Regulasi Emosi
Konsep regulasi emosi yang dikemukakan oleh Gross (1998) berawal dari sebuah penelitian eksperimen yang melibatkan 120 partisipan.
Partisipan ini datang dari etnik yang berbeda-beda yaitu 1% Amerika- Afrika, 55% Amerika-Asia, 33% Kaukasia, 3% Latin, dan 8% lagi lainnya.
Data yang dikumpulkan dalam tiga domain yaitu expressive behavior, subjective experience, dan physiology. Partisipan kemudian diberikan stimulus berupa film, ada 3 film yang disajikan film pertama mengenai hujan yang menampilkan tampilan abstrak dinamis yang hanya memunculkan sedikit saja emosi, film kedua dan ketiga menampilkan prosedur medis, yang pertama menampilkan film luka bakar yang berdurasi 55 detik, kemudian film kedua adalah film amputasi yang berdurasi 64 detik.
Partisipan dibagi menjadi tiga kondisi, yang pertama adalah partisipan reappraisal, peserta pada reappraisal diminta untuk bersikap lepas dan tidak emosional saat menonton film. Kedua adalah suppression, partisipan pada suppression diminta untuk berperilaku sedemikian rupa
sehingga orang yang menonton tidak akan tahu bahwa dirinya merasakan apapun. Lalu yang ketiga adalah partisipan watch yang mana mereka adalah kelompok kontrol yang diminta hanya untuk menonton film saja.
Partisipan direkam dan reaksi fisiologis mereka dipantau. Kemudian, setelah diberikan film mereka diminta untuk mengisi formulir penilaian emosi untuk menggambarkan pengalaman emosi mereka (Gross, 1998).
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Gross (1998), diperoleh bahwa pengertian regulasi emosi ialah mengacu pada proses di mana individu memengaruhi emosi yang mereka miliki, kapan mereka memilikinya, dan bagaimana mereka mengalami dan mengekspresikan emosi tersebut.
Menurut Eng (2012) respon dari emosi sering kali disebabkan oleh perbedaan penggunaan pada proses regulasi emosi, yang mana karena adanya perbedaan budaya yang menjadi pengaruh dalam penggunaan regulasi emosi (Matsumoto, 2006). Seperti pada budaya Barat (Amerika Serikat, Kanada, Australia) dan budaya Asia Timur (Cina, Jepang, Korea) yang menampilkan kontras budaya yang menarik sehubungan dengan regulasi emosi (Eng, 2012). Secara khusus, konsep pada penduduk umumnya dan catatan etnografi telah lama menegaskan bahwa kedua konteks budaya ini berbeda dalam nilai-nilai yang berkaitan dengan regulasi emosi, selain itu juga studi empiris menunjukkan bahwa orang
Barat dan Asia Timur menunjukkan respon emosional yang berbeda (Eng, 2012).
Kemudian Eng (2012) melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh budaya dan diri pada Asia Timur dan Barat dalam penggunaan suppression dan reappraisal. Penelitian ini menggunakan alat ukur ERQ (Emotion Regulation Questionnaire) yang dibuat oleh Gross dan John (2003) berdasarkan dua aspek yaitu suppression dan reappraisal. Kedua aspek ini berkorelasi nol yang artinya menunjukkan bahwa keduanya mengukur proses regulasi yang digunakan individu dalam berbagai tingkat. Item ERQ secara hati-hati dibangun untuk menjelaskan dengan jelas proses regulasi emosi yang dimaksudkan dan untuk menghindari terjadinya bias.
2. Aspek-aspek regulasi emosi
Menurut Gross (1998) terdapat dua aspek yang mencakup konsep regulasi emosi, yaitu:
1. Cognitive reappraisal
Cognitive reappraisal adalah menilai kembali atau mengevaluasi ulang secara kognitif situasi yang berpotensi memunculkan emosi, dengan kata lain dilakukan untuk mengurangi dampak emosional. Dalam cognitive reappraisal yaitu
menghindari kejadian buruk, menjauhi orang, berpikir positif pada masalah yang terjadi, dan mengalihkan perhatian (Gross, 1998).
Dalam penelitian mengenai cognitive reappraisal antar- kultur yang dilakukan oleh Eng (2012) menemukan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Barat dan orang Asia Timur dalam penggunaan cognitive reappraisal dalam kehidupan sehari- harinya. Hal ini dikarenakan cognitive reappraisal tidak menciptakan perbedaan antara batin dengan perilaku ekspresif saat cognitive reappraisal terjadi. Dalam penelitiannya mengenai cognitive reappraisal, Eng (2012) menemukan bahwa sesuai dengan prediksinya bahwa tidak ada perbedaan antara orang Barat dan Asia Timur dalam penggunaan cognitive reappraisal sebagai regulasi emosi.
2. Expressive suppression
Expressive suppression didefinisikan sebagai penghambat perilaku ekspresif emosi saat terangsang secara emosional.
Dalam expressive suppression yaitu mencari jalan keluar masalah, mengurangi ekspresi marah, dan membatasi respon fisik (Gross, 1998).
Dalam penelitian mengenai expressive suppression, Eng (2012) menemukan bahwa orang Asia lebih mungkin menekan emosinya daripada orang Barat, karena secara khusus konteks budaya Asia menekankan pada penyesuaian diri dan hubungan yang harmonis. Hal ini diperkuat dalam penelitiannya yang melibatkan 173 orang Amerika-Eropa, 195 orang Amerika-Asia, 164 orang Asia Timur (yang tinggal di Jepang), dan 74 orang Amerika-Asia timur yang lahir di Asia Timur dan tinggal di Amerika selama 11 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Amerika-Eropa memang jarang menggunakan suppression daripada orang Asia Timur.
3. Strategi Regulasi Emosi
Menurut Gross (1998) ada 5 strategi yang dapat dilakukan dalam regulasi emosi, yaitu:
1. Seleksi Situasi (Situation Selection) yaitu suatu cara dimana individu mendekati/menghindari orang atau situasi yang dapat menimbulkan emosi yang berlebihan.
2. Modifikasi Situasi (Situation Modification) yaitu suatu cara dimana seseorang mengubah lingkungan sehingga akan ikut mengurangi pengaruh kuat dari emosi yang timbul.
3. Mengalihkan Perhatian (Attention Deployment) yaitu suatu cara dimana seseorang mengalihkan perhatian mereka dari situasi yang tidak menyenangkan untuk menghindari timbulnya emosi yang berlebihan.
4. Perubahan Kognitif (Cognitive Change) yaitu suatu strategi dimana individu mengevaluasi kembali situasi dengan mengubah cara berpikir menjadi lebih positif sehingga dapat mengurangi pengaruh kuat dari emosi.
5. Respon (Respon Modulation) mengacu pada yang langsung mempengaruhi fisiologis, pengalaman, atau perilaku merespons.
Modulasi respons terjadi di akhir proses generatif emosi, setelah kecenderungan respons dimulai.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Regulasi Emosi
Menurut Gross (dalam Lewis, dkk, 2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi regulasi emosi yaitu sebagai berikut:
a. Budaya
Kepercayaan yang terdapat dalam kelompok masyarakat tertentu dapat mempengaruhi cara individu menerima, menilai suatu pengalaman emosi, dan menampilkan suatu respon emosi.
Dalam hal regulasi emosi berarti culturally permissible (apa yang dianggap sesuai) dapat mempengaruhi cara seseorang berespon
dalam berinteraksi dengan orang lain dalam cara ia meregulasi emosi.
b. Religiusitas
Setiap agama mengajarkan seseorang untuk dapat mengontrol emosinya. Seseorang dengan tingkat religiusitas yang tinggi akan berusaha untuk menampilkan emosi yang tidak berlebihan bila dibandingkan dengan orang yang tingkat religiusitasnya rendah.
c. Kemampuan individu / tipe kepribadian
Kepribadian yang dimiliki seseorang mengacu pada apa yang dapat individu lakukan dalam meregulasi emosinya. Kemampuan seseorang dalam mengontrol perilaku terutama ketika seseorang lebih memilih untuk menahan dirinya (sabar) merupakan keterampilan regulasi emosi yang dapat mengatur emosi positif maupun emosi negatif.
d. Usia
Penelitian menunjukkan bahwa bertambahnya usia seseorang dihubungkan dengan adanya peningkatan kemampuan regulasi emosi, dimana semakin tinggi usia seseorang, semakin baik kemampuan regulasi emosinya. Sehingga, dengan bertambahnya usia seseorang menyebabkan ekspresi emosi semakin terkontrol.
e. Jenis kelamin
Beberapa penelitian menemukan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda dalam mengekspresikan emosi baik verbal maupun ekspresi wajah sesuai dengan gendernya. Perempuan menunjukkan sifat feminimnya dengan mengekspresikan emosi marah dan bangga yang menunjukkan sifat maskulin. Perbedaan gender dalam pengekspresian emosi sedih, takut, cemas, dan menghindari mengekspresikan emosi marah dan bangga yang menunjukkan sifat maskulin.
Perbedaan gender dalam pengekspresian emosi dihubungkan dengan perbedaan dalam tujuan laki-laki dan perempuan mengontrol emosinya. Perempuan lebih mengekspresikan emosi untuk menjaga hubungan interpersonal serta membuat mereka tampak lemah dan tidak berdaya. Sedangkan laki-laki lebih mengekspresikan marah dan bangga untuk mempertahankan dan menunjukkan dominasi.
f. Kondisi psikologis
Kondisi psikologis yang dimiliki oleh masing-masing individu berbeda-beda, tergantung pada permasalahan yang dialami oleh masing-masing individu. Sejatinya, setiap individu memiliki reaksi psikologis pada saat menghadapi sebuah masalah atau cobaan, ada
yang sudah mampu mengontrol permasalahan yang dihadapi (Gross dalam Lewiss, dkk, 2008).
B. Konstruksi Alat Ukur 1. Konstruksi Tes Psikologi
Pengukuran psikologi adalah pengukuran aspek‐aspek tingkah laku yang tampak, yang dianggap mencerminkan prestasi, bakat, sikap dan aspek‐aspek kepribadian yang lain. Pengukuran psikologi merupakan pengukuran dengan obyek psikologis tertentu. Objek pengukuran psikologi disebut sebagai psychological attributes atau psychological traits, yaitu ciri yang mewarnai atau melandasi perilaku. Perilaku sendiri merupakan ungkapan atau ekspresi dari ciri tersebut, yang dapat diobservasi. Namun tidak semua hal yang psikologis dapat diobservasi. Oleh karena itu dibutuhkan indikator-indikator yang memberikan tanda tentang derajat perilaku yang diukur.
Agar indikator-indikator tersebut dapat didefinisikan dengan lebih tepat, dibutuhkan psychological attributes atau traits yang disebut konstruk (construct) (Muhid, 2017).
Konstruk adalah konsep hipotesis yang digunakan oleh para ahli yang berusaha membangun teori untuk menjelaskan tingkah laku. Indikator dari suatu konstruk psikologis diperoleh melalui berbagai sumber seperti hasil- hasil penelitian, teori, observasi, wawancara, elisitasi (Muhid, 2017).
Atribut-atribut dari konstrak dinamakan variabel, yaitu kuantifikasi suatu konstrak yang ada dengan menggunakan instrumen tertentu atau dapat juga
disebut pengukuran. Pengukuran suatu variabel dapat dilakukan dengan pengukuran kontinum yakni dari rendah ke tinggi atau ada dan tidak ada dan dengan gambaran kualitatif (Osterlind, 2010).
2. Ciri-ciri Tes Psikologi
Terdapat beberapa ciri-ciri skala psikologi menurut Azwar (2005) yaitu:
1. Skala psikologi cenderung digunakan untuk mengukur aspek bukan kognitif melainkan aspek afektif
2. Stimulus skala psikologi berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan.
3. Jawaban/opsi dalam tiap itemnya lebih bersifat proyektif yaitu mencerminkan kepribadian, sikap, dan kecenderungan perilaku responden.
4. Selalu berisi banyak item berkenaan dengan atribut yang diukur.
5. Respon subyek/responden tidak diklasifikasikan sebagai jawaban
“benar” atau “salah”, semua jawaban dianggap benar sepanjang sesuai keadaan yang sebenarnya, jawaban yang berbeda diinterpretasikan berbeda pula.
3. Langkah-langkah Konstruksi Tes Psikologi
Berikut langkah-langkah dasar dalam konstruksi skala psikologi menurut Azwar (dalam, Hidayatullah, 2020).
1. Identifikasi Tujuan Ukur
Awal kerja penyusunan suatu skala psikologi dimulai dari melakukan identifikasi tujuan ukur, yaitu memilih suatu definisi, mengenali dan memahami dengan seksama teori yang mendasari konstrak psikologi atribut yang hendak diukur.
2. Pembatasan Domain Ukur
Pembatasan kawasan (domain) ukur berdasarkan pada konstrak yang didefinisikan oleh teori yang dipilih. Pembatasan domain dilakukan dengan cara menguraikan konstrak teoretik atribut yang diukur menjadi beberapa rumusan dimensi atau aspek keperilakuan yang konsep keperilakuannya lebih jelas. Dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi yang jelas, maka skala psikologi akan mengukur secara komprehensif dan relevan, sehingga menunjang validitas isi skala.
3. Operasionalisasi Konsep
Sekalipun dimensi keperilakuan, sudah lebih jelas konsep keperilakuannya, biasanya masih konseptual dan belum terukur sehingga perlu dioperasionalkan ke dalam bentuk keperilakuan yang lebih konkret sehingga penulis aitem akan memahami benar arah respon yang harus diungkap dari subjek. Operasionalisasi ini dirumuskan ke dalam bentuk indikator keperilakuan (behavioral indocators).
4. Kisi-kisi (Blue-print) dan Spesifikasi Skala
Himpunan indikator-indikator keperilakuan beserta dimensi yang diwakilinya kemudian dituangkan dalam kisi-kisi atau blue-print yang setelah dilengkapi dengan spesifikasi skala, akan dijadikan acuan bagi para penulis aitem. Blue‐print juga digunakan untuk mendukung validitas isi skala yang dikembangkan dan juga sebagai perbandingan proporsional bobot komponen didasarkan pada analisis faktor, professional judgement.
Tabel 1. Contoh Tampilan Blue-Print
Aspek Indikator Bobot (%)
Aspek I 1.
2.
Aspek II 1.
2.
5. Penskalaan
Berbeda dari prosedur penyusunan tes kemampuan kognitif yang dalam penentuan pilihan format aitemnya memerlukan beberapa pertimbangan menyangkut keadaan subjek, materi uji, dan tujuan pengukuran, pada perancangan skala psikologi penentuan format aitemnya tidak terlalu mempertim-bangkan keadaan subjek maupun tujuan penggunaan skala. Penskalaan adalah prosedur penempatan kelima pilihan jawaban termaksud pada suatu kontinum kuantitaif sehingga titik angka pilihan jawaban tersebut menjadi nilai atau skor yang diberikan pada masing masing jawaban.
6. Penulisan Aitem
Penulisan aitem harus selalu memperhatikan kaidah-kaidah penulisan yang sudah ditentukan. Pada tahapan awal penulisan aitem, umumnya dibuat aitem yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah yang direncanakan dalam spesifikasi skala, yaitu sampai tiga kali lipat dari jumlah aitem yang nanti akan digunakan dalam skala bentuk final. Hal ini dimaksudkan agar nanti penyusunan skala tidak kehabisan aitem akibat gugurnya aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan.
Berikut adalah beberapa kaidah penulisan aitem, yaitu:
1. Gunakan kata-kata dan kalimat sederhana, jelas, mudah dimengerti tapi tetap sesuai tata tulis dan bahasa Indonesia yang baku.
2. Jangan menimbulkan penafsiran ganda terhadap istilah yang digunakan.
3. Jangan menanyakan langsung atribut/variabel yang akan digunakan.
4. Perhatikan indikator perilaku yang akan diungkapkan, stimulus dan pilihan jawaban tetap relevan dengan tujuan pengukuran.
5. Cobalah menguji pilihan jawaban yang telah ditulis.
6. Tidak mengandung social desirability (dianggap baik oleh norma sosial).
7. Sebagian aitem dibuat unfavorable untuk menghindari stereotype jawaban.
Reviu (review) pertama harus dilakukan oleh penulis aitem sendiri, yaitu dengan selalu memeriksa ulang setiap aitem yang baru saja ditulis apakah telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman penulisan aitem.
Apabila semua aitem telah selesai ditulis, reviu dilakukan oleh beberapa orang yang berkompeten (sebagai panel). Kompetensi yang diperlukan dalam hal ini meliputi penguasaan masalah konstruksi skala dan masalah atribut yang diukur. Selain itu penguasaan bahasa tulis standar sangat diperlukan. Semua aitem yang diperkirakan tidak sesuai dengan spesifikasi blue-print atau yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan harus diperbaiki atau ditulis ulang.
7. Uji Coba Bahasa
Ketentuan meloloskan aitem dalam tahap evaluasi kualitatif oleh panel para ahli tersebut adalah kesepakatan expert judgment bahwa isi aitem yang bersangkutan adalah logis untuk mengungkap indikatornya (logical validity). Sampai pada tahap ini, kerja sistematik yang dilakukan merupakan dukungan terhadap validitas isi (content validity) dan validitas konstruk (construct validity) skala.
Kumpulan aitem yang telah berhasil melewati proses reviu kemudian harus dievaluasi secara kualitatif lebih jauh, yaitu dengan diujicobakan pada sekelompok kecil responden guna mengetahui apakah kalimat yang digunakan dalam aitem mudah dan dapat dipahami dengan
benar oleh responden. Reaksireaksi responden berupa pertanyaan mengenai kata-kata atau kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan pertanda kurang komunikatifnya kalimat yang ditulis dan itu memerlukan perbaikan.
8. Field tes
Setelah perbaikan bahasa dan kalimat selesai dilakukan, pada tahap berikut adalah langkah evaluasi terhadap fungsi aitem secara kuantitatif, yaitu berdasar skor jawaban responden. Data skor aitem dari responden diperoleh dari hasil field-test. Evaluasi terhadap fungsi aitem yang biasa dikenal dengan istilah analisis aitem merupakan proses pengujian aitem secara kuantitatif guna mengetahui apakah aitem memenuhi persyaratan psikometrik untuk disertakan sebagai bagian dari skala.
9. Seleksi Aitem
Hasil analisis aitem menjadi dasar dalam seleksi aitem. Aitem- aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometrik akan disingkirkan atau diperbaiki lebih dahulu sebelum dapat menjadi bagian dari skala. Di samping memperhatikan parameter aitem, kompilasi skala harus dilakukan dengan mempertimbangkan proporsionalitas aspek keperilakuan sebagaimana dides-kripsikan oleh blue-printnya.
Komputasi koefisien reliabilitas sebagai estimasi terhadap reliabilitas skala dilakukan bagi kumpulan aitem-aitem yang telah terpilih
yang banyaknya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasi oleh blue-print. Apabila koefisien reliabilitas skala ternyata belum memuaskan, maka penyusunan skala dapat kembali ke langkah kompilasi dan merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem-aitem yang memiliki daya beda tinggi sekalipun perlu sedikit mengubah proporsi aitem dalam setiap komponen atau bagian skala.
10. Validasi Konstrak
Validasi skala pada hakikatnya merupakan suatu proses berkelanjutan. Pada skala-skala yang hanya akan digunakan secara terbatas memang pada umumnya dicukupkan dengan validasi isi yang dilakukan melalui proses reviu aitem oleh panel ahli (expert judgement) namun sebenarnya semua skala psikologi harus teruji konstraknya. Skala yang secara isi sudah sesuai dengan kisi-kisi indikator perilaku tetap perlu ditunjukkan secara empirik apakah konstrak yang dibangun dari teori semula memang didukung oleh data.
11. Kompilasi Final
Format final skala dirakit dalam tampilan yang menarik namun tetap memudahkan bagi responden untuk membaca dan menjawabnya.
Dalam bentuk final, berkas skala dilengkapi dengan petunjuk pengerjaan dan mungkin pula lembar jawaban yang terpisah. Ukuran kertas yang digunakan perlu juga mempertimbangkan usia responden jangan sampai
memakai huruf berukuran terlalu kecil sehingga responden yang agak lanjut usia kesulitan membacanya.
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian awal dalam membuat alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh Gross dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Menurut Bungin (2005) penelitian kuantitatif deskriptif digunakan untuk menggambarkan, menjelaskan, atau meringkaskan berbagai kondisi, situasi, fenomena, atau berbagai variabel penelitian menurut kejadian. Penelitian kuantitatif deskriptif bukan merupakan penelitian yang mencari hubungan atau membuat perbandingan dengan variabel lainnya (Sugiono, 2008).
Jenis penelitian ini dipilih karena tujuan penelitian yang dilakukan adalah konstruksi alat ukur berdasarkan konsep yang telah ada, sehingga penelitian ini melihat deskriptif karakteristik psikometri yang meliputi analisis kualitas aitem berupa validitas isi aitem, reliabilitas serta indeks daya diskriminasi aitem alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa.
B. Definisi Operasional
Pada penelitian ini, konstruk yang digunakan adalah regulasi emosi.
Regulasi emosi merupakan kemampuan seseorang dalam menghindari kejadian buruk, kemampuan untuk menjauhi orang, berpikir positif pada
masalah yang terjadi, mengalihkan perhatian, mencari jalan keluar masalah, mengurangi ekspresi marah, dan membatasi respon fisik.
Dalam regulasi emosi ini memiliki dua aspek yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppression. Cognitive reappraisal adalah menilai kembali atau mengevaluasi ulang secara kognitif situasi yang berpotensi memunculkan emosi, dengan kata lain dilakukan untuk mengurangi dampak emosional. Kemudian Expressive suppression ialah penghambat perilaku ekspresif emosi saat terangsang secara emosional.
C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2011). Dalam penelitian ini populasi yang diambil adalah dewasa awal yang sedang berkuliah atau mahasiswa di Kota Medan. Menurut Yusuf (2012) mahasiswa dikategorikan pada usia 18 sampai 25 tahun. Adapun peneliti menggunakan populasi dewasa awal yang sedang berkuliah karena penelitian ini merupakan penelitian tahap awal dalam konstruksi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa.
2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Sujarweni (dalam Komala, dkk, 2017), sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh populasi yang digunakan
untuk penelitian. Sampel juga diambil dari populasi yang benar-benar mewakili dan valid yaitu dapat mengukur sesuatu yang seharusnya diukur.
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik insidental dimana pengambilan sampel berdasarkan siapa saja yang peneliti temui dan memenuhi karakteristik populasi sehingga dipandang cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2006). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dewasa awal yang berkuliah atau mahasiswa kota medan, adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 280 orang, seperti yang dikatakan oleh Azwar (1994) banyaknya subjek yang digunakan untuk sampel adalah 5 sampai 10 kali lipat dari jumlah aitem.
D. Prosedur Konstruksi Alat Ukur Regulasi Emosi Untuk Mahasiswa 1. Identifikasi Tujuan Ukur
Tahapan awal adalah penetapan tujuan yaitu memilih suatu definisi dan mengenali teori yang mendasari konstrak psikologis atribut yang hendak diukur. Dalam penelitian ini konstruk yang digunakan adalah konsep regulasi emosi yang dikemukakan oleh Gross.
2. Pembatasan Domain Ukur
Pada tahap ini adalah menetapkan batasan domain ukur berdasarkan konstrak yang didefinisikan oleh teori yang bersangkutan, dengan mengenali batasan ukur dan adanya dimensi yang jelas, maka
skala psikologi akan mengukur secara komprehensif dan relevan, sehingga menunjang validitas isi skala.
Dalam penelitian ini, konsep regulasi emosi milik Gross memiliki dua aspek yaitu cognitive reappraisal dan expressive suppression.
Cognitive reappraisal adalah menilai kembali atau mengevaluasi ulang secara kognitif situasi yang berpotensi memunculkan emosi dengan kata lain untuk mengurangi dampak emosional, sedangkan expressive suppression adalah penghambat perilaku ekspresif emosi saat terangsang secara emosional.
3. Operasionalisasi Konsep
Atribut psikologis adalah uraian komponen‐komponen atau faktor‐faktor yang ada dalam konsep teoritik mengenai atribut yang hendak diukur, sedangkan indikator perilaku ialah bentuk‐bentuk perilaku yang mengindikasikan ada tidaknya atribut psikologi. Dalam penelitian ini, konsep regulasi emosi milik Gross memiliki indikator perilaku yang akan di jelaskan di dalam tabel blue-print.
4. Kisi-kisi (Blue-print) dan Spesifikasi Skala
Tabel 2. Blue-Print Alat Ukur Regulasi Emosi Untuk Mahasiswa
No Aspek Definisi Operasional Indikator Perilaku Jenis dan Nomor Aitem Jumlah
Aitem Bobot Favorable Unfavorable
1 Cognitive Reappraisal
Menilai kembali atau mengevaluasi ulang secara kognitif situasi yang berpotensi memunculkan emosi dengan kata lain untuk mengurangi dampak emosional
a. Menghindari kejadian buruk
8,2,18 25 4 57,14%
b. Menjauhi orang 7,20,26 12 4
c. Berpikir positif pada masalah yang terjadi
22,13,1 19 4
d. Mengalihkan perhatian
3,17,11 21 4
2 Expressive Suppression
Penghambat perilaku ekspresif emosi saat terangsang secara emosional
a. Mencari jalan keluar 23,5,9 15 4 42,85%
b. Mengurangi ekspresi marah
27,14,28 6 4
c. Membatasi respon fisik
24,10,16 4 4
5. Penskalaan
Penskalaan adalah prosedur penempatan kelima pilihan jawaban termaksud pada suatu kontinum kuantitaif sehingga titik angka pilihan jawaban tersebut menjadi nilai atau skor yang diberikan pada masing masing jawaban.
6. Penulisan Aitem
Pada tahap ini adalah tahap penulisan aitem, setelah menemukan indikator indikator dari setiap aspek maka diuraikan menjadi aitem yang akan dimuat dalam alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa. Proses penulisan aitem tersebut tentunya mengikuti kaidah-kaidah penulisan aitem yang sudah dijelaskan dalam BAB II pada bagian kaidah-kaidah penulisan aitem.
7. Seleksi aitem
Seteleh menuliskan aitem peneliti akan memeriksa apakah aitem telah sesuai dengan indikator perilaku yang hendak diungkap dan apakah juga tidak keluar dari pedoman penulisan aitem. Setelah itu seleksi kedua dilakukan oleh orang lain yang dianggap kompeten untuk menyeleksi (Expert/ahli).
8. Uji coba
Dalam tahap ini adalah menguji coba aitem, tujuan pertama uji coba item adalah untuk mengetahui apakah kalimat-kalimat dalam aitem mudah dan dapat dipahami oleh responden. Reaksi-reaksi responden berupa pertanyaan-pertanyaan apakah kalimat yang digunakan dalam aitem merupakan pertanda kurang komunikasinya kalimat yang ditulis dan memerlukan perbaikan. Tujuan kedua, uji coba dijadikan salah satu jawaban praktis untuk memperoleh data jawaban dari responden yang akan digunakan untuk penskalaan atau evaluasi kualitas aitem secara statistik.
9. Analisis Aitem, dan Menguji Validitas dan Realibilitas
Pada tahapan ini peneliti akan menentukan analisis aitem, validitas dan juga realibilitas yang akan dipakai dalam penelitian. Hal ini akan dijelaskan pada sub bab teknik analisis data.
10. Kompilasi Pertama
Berdasarkan dari analisis aitem, maka aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan psikometris harus diperbaiki terlebih dahulu supaya dapat masuk ke dalam skala, begitu pula aietm-aitem yang telah memenuhi persyatan tidak serta merta dapat masuk ke dalam skala, karena proses kompilasi harus mempertimbangkan proporsionalitas skala sebagaimana dideskripsikan oleh blue‐print nya.
11. Kompilasi Kedua
Aitem-aitem yang terpilih yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah yang telah dispesifikasikan oleh blue‐print, selanjutnya dilakukan uji reliabilitas. Jika koefisien reliabilitas kurang memuaskan, maka kembali ke tahap kompilasi dan merakit ulang skala dengan lebih mengutamakan aitem dengan daya diskriminasi tinggi.
12. Format Akhir
Dalam format akhir skala sebaiknya ditata dalam tampilan yang menarik tetapi tetap memudahkan responden untuk membaca dan menjawabnya.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Validitas Isi
Pada penelitian ini hanya akan dilaporkan sebagai bukti validitas isi, karena fokus penelitian ini hanya pada validitas isi saja.
Adapun uji validitas isi pada penelitian ini menggunakan formula Aiken’s V yang di dasarkan pada hasil penelitian dari panel ahli sebanyak n orang terhadap suatu aitem dari segi sejauh mana aitem tersebut mewakili konstruk yang diukur (Azwar, 2012). Adapun formula Aiken’s V sebagai berikut:
Keterangan:
S = r – Lo
Lo = angka penilaian terendah (dalam penelitian ini 1) C = angka penilaian tertinggi (dalam penelitian ini 5) r = angka yang diberikan oleh penilai
Berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh Aiken, standar minimal Aiken V adalah -1 sampai dengan 1 (Supahar, dalam Bashooir, 2018). Suatu butir dapat dikategorikan berdasarkan indeksnya, jika indeksnya kurang atau sama dengan 0,4 dapat dikatakan validitasnya kurang, jika 0,4 sampai 0,8 maka dapat dikatakan validitasnya sedang, dan jika lebih besar dari 0,8 maka dapat dikatakan valid (Retnawati, 2015).
2. Daya Diskriminasi Aitem
Dalam tahapan ini peneliti akan menentukan daya diskriminasi, ini dilakukan untuk melihat sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki atribut dengan yang tidak memiliki atribut yang akan diukur (Azwar, 2012). Formula yang akan digunakan ialah koefisien korelasi product-moment pearson.
Korelasi product-moment pearson tidak menunjukkan adanya hubungan kausal antar variabelnya (Sugiyono, 2003). Adapun rumus statistik daya diskriminasi aitem, yaitu:
Keterangan:
= korelasi product-moment n = jumlah responden
x = jumlah skor tiap pertanyaan y = jumlah skor total
Dalam penelitian ini, koefisien yang digunakan ialah > 0.30 sudah dianggap memberikan kontribusi yang baik, tetapi bila jumlah aitem yang lolos tidak mencukupi atau jauh dari jumlah yang diinginkan yang semula 0.30 dapat diturunkan menjadi 0.25 (Azwar, 2012).
Untuk mempermudah perhitungan dalam penelitian analisis aitem akan menggunakan aplikasi JASP 0.14 dalam membantu mendapatkan data yang tepat.
3. Reliabilitas
Pengujian reliabilitas pada tes ini akan menggunakan teknik alpha cronbach. Uji alpha cronbach digunakan karena untuk instrumen yang memiliki jawaban benar lebih dari satu (Adamson & Prion, 2003). Instrumen tersebut misalnya berbentuk esai, angket, atau kuisioner (Yusup, 2018).
Adapun rumus reliabilitas alpha cronbach ialah:
Keterangan:
= Koefisien reliabilitas alpha cronbach = jumlah aitem soal
=
jumlah varians skor tiap aitem= varians total
Koefisien reliabilitas dinyatakan dalam rentang dari 0.00 sampai dengan 1.00. Semakin tinggi koefisien reliabilitas mendekati 1.00 maka semakin tinggi reliabilitasnya, sedangkan semakin mendekati 0.00 maka semakin rendah reliabilitasnya (Azwar, 2012).
Dalam pengujian reliabilitas ini akan menggunakan aplikasi JASP 0.14 untuk membantu dalam memperoleh data yang tepat.
F. Metode Penskalaan dan Teknik Penskoringan
Dalam tahap ini ialah melakukan tahap penentuan metode penskalaan dan teknik penskoringan terhadap hasil data yang telah diperoleh dengan menggunakan analisis data yang telah dijelaskan sebelumnya.
Alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa ini akan menggunakan metode penskalaan likert. Skala likert pertama kali dikembangkan oleh Rensis Likert pada tahun 1932 dan memiliki lima gradasi penskoran yaitu sangat
setuju (SS), setuju (S), netral (N), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS) (Mawardi, 2019).
Tabel 3. Skala Likert
No Simbol Keterangan Skor
1 SS Sangat Setuju 5
2 S Setuju 4
3 N Netral 3
4 TS Tidak Setuju 2
5 STS Sangat Tidak Setuju 1
Berdasarkan jawaban responden, selanjutnya akan didapatkan satu kecenderungan atas skor yang diperoleh menggunakan indeks jawaban yaitu sebagai berikut (Riduwan, 2009):
Nilai Indeks = ((F1x1) + (F2x2) + (F3x3) + (F4x4) + (F5x5) / 5 Keterangan:
F1 = frekuensi jawaban respon yang menjawab STS (sangat tidak setuju)
F2 = frekuensi jawaban respon yang menjawab TS (tidak setuju) F3 = frekuensi jawaban respon yang menjawab N (netral) F4 = frekuensi jawaban respon yang menjawab S (setuju)
F5 = frekuensi jawaban respon yang menjawab SS (sangat setuju) Dalam penelitian ini, penilaian pada jawaban respon ialah diawali dari angka 1 hingga 5. Untuk pilihan jawaban Sangat Setuju nilainya adalah 5,
Setuju nilainya 4, Netral nilainya 3, Tidak Setuju nilainya 4 dan Sangat Tidak Setuju nilainya ialah 1.
Untuk menentukan interval dari pilihan jawaban akan digunakan nilai interval dari jarak 0% hingga 100%, hingga didapat hasil sebagai berikut:
Tabel 4. Kriteria Interpretasi Skor
Inteval Keterangan
0% - 20% Sangat Tidak Setuju 21% - 40% Tidak Setuju
41% - 60% Netral
61% - 80% Setuju
81% - 100% Sangat Setuju
42
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dalam Bab ini, merupakan penjabaran hasil dari penelitian konstruksi alat ukur regulasi emosi untuk mahasiswa yang terdiri atas gambaran umum penelitian, hasil dari validitas isi, daya diskriminasi aitem serta reliabilitas aitem.
A. Gambaran Umum Penelitian
Penelitian ini menggunakan sampel dewasa awal yang sedang berkuliah di Kota Medan dengan rentang usia 18 sampai dengan 25 tahun.
Jumlah sampel dalam penelitian ini ialah 280 orang. Adapun gambaran umum sampel penelitian akan dijabarkan dalam usia, jenis kelamin suku dan asal kampus yang akan disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 5. Proporsi Sampel Berdasarkan Usia Usia Frekuensi Persentase
(%) Usia Frekuensi Persentase (%)
18 3 1.1% 22 81 28.9%
19 12 4.3% 23 56 20%
20 50 17.9% 24 11 3.9%
21 65 23.2% 25 2 0,7%
Dalam tabel 5 terlihat bahwa usia 22 tahun memiliki persentase paling tinggi yaitu 28.9%, diikuti oleh usia 21 tahun yang memiliki persentase 23.2%, usia 23 tahun dengan persentase 20%. Sementara usia lainnya yaitu berkisar antara 1.1% sampai dengan 17.9%.
Tabel 6. Proporsi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)
Laki-laki 82 29.3%
Perempuan 198 70.7 %
Dalam tabel 6 juga terlihat sebagian besar yang menjadi responden dalam penelitian ini ialah perempuan dengan persentase 70.7% dan laki-laki dengan persentase 29.3%.
Tabel 7. Proporsi Sampel Berdasarkan Suku Suku Frekuensi Persentase
(%) Suku Frekuensi Persentase (%)
Batak Toba 133 47.5% Jawa 47 17.2%
Batak Karo 36 12.8% Tionghoa 17 6%
Batak
Mandailing 10 3.5% Nias 8 2.8%
Batak
Simalungun 2 0.7% Betawi 4 1.4%
Batak
Pakpak 2 0.7% Melayu 4 1.4%
Batak
Angkola 1 0.3% Dll 16 5.7%
Pada tabel 7 dapat dilihat bahwa penelitian ini didominasi oleh suku batak toba dengan persentase sebesar 47.5%, diikuti oleh suku jawa dengan persentase 17.2%, suku batak karo dengan persentase 12.8% dan suku Tionghoa dengan persentase 6%. Sementara untuk suku lainnya berada pada rentang 0.3% hingga 5.7%.
Tabel 8. Proporsi Sampel Berdasarkan Asal Kampus Asal Kampus Frekuensi Persentase
(%) Asal Kampus Frekuensi Persentase (%) Universitas
Sumatera Utara
184 66.1% STIE Eka
Prasetya 6 2.1%
Universitas
Negeri Medan 22 7.8% Universitas
Medan Area 6 2.1%
Universitas
Darma Agung 15 5.3%
Universitas HKBP Nommensen
5 1.7%
Universitas
Prima 8 2.8%
Universitas Metodhist Indonesia
4 1.4%
STMIK Triguna Dharma
7 2.5% Dll 23 8.2%
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa sampel pada asal kampus sebagian besar berasal dari Universitas Sumatera Utara dengan persentase 66.1%, diikuti oleh Universitas Negeri Medan dengan persentase 7.8% dan Universitas Darma Agung dengan persentase 5.3%. Sementara untuk asal kampus Universitas Prima dan lainnya berkisar dari antara 2.8% hingga 8.2%.
B. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Validitas Isi
Validitas isi alat ukur dalam penelitian ini diperoleh dari para professional judgement. Adapun jumlah dari professional judgement dalam penelitian ini ialah 10 orang.
Tabel 9. Deskripsi Profesional Judgement No Inisial Pengalaman
Mengajar Departemen Justifikasi
1 S.H 8 Tahun Psikologi Industri
dan Organisasi
Beliau adalah dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara yang memiliki pengalaman mengajar selama 7 tahun, selain itu beliau memahami mahasiswa sehingga peneliti meminta bantuan dalam hal professional judgement.
2 F.N 16 Tahun Psikologi Industri dan Organisasi
Beliau adalah dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara yang memiliki pengalaman mengajar selama 15 tahun dan dekat dengan mahasiswa, sehingga peneliti meminta bantuan professional judgement pada beliau.
3 F 8 Tahun Psikologi Industri
dan Organisasi
Beliau merupakan dosen Psikologi Universitas Sumatera Utara yang mengajar pada bidang Industri dan Organisasi yang memiliki pengalaman belajar selama 7 tahun sehingga peneliti meminta bantuan professional judgement pada beliau
4 R.P.R 11 Tahun Psikologi Umum
dan Eksperimen
Beliau merupakan dosen yang mengajar mata kuliah Kontruksi Alat Ukur pada Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara dan beliau memiliki pengalaman mengajar selama 11 tahun sehingga peneliti meminta bantuan dalam hal professional judgement.
5 R.S 16 Tahun Psikologi Klinis
Beliau merupakan dosen yang mengajar pada departemen psikologi klinis yang memiliki pengalaman mengajar selama 21 tahun dan memiliki keahlian dalam regulasi emosi dan juga terhadap permasalahan mahasiswa.
6 I.K.N 15 Tahun Psikologi
Perkembangan
Merupakan dosen dengan pengalaman mengajar selama 15 tahun dan memahami makna dari konsep regulasi emosi sehingga peneliti