• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

8 1. Lingkungan Hidup

a. Pengertian Lingkungan Hidup

Kepedulian terhadap lingkungan merupakan sikap atau kemampuan internal dalam mengambil tindakan terhadap segala sesuatu yang berada di sekitar kita, mampu memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Menurut Winkel (2006: 104) mengambil sikap, bertahan dalam sikap tertentu atau berubah sikap, semuanya memegang peranan penting dalam kehidupan manusia dan merupakan sumber energi mental.

Lingkungan adalah seluruh faktor luar yang mempengaruhi suatuorganisme hidup (biotik faktor) atau variabel-variabel yang tidak hidup(abiotik faktor) misalnya suhu, curah hujan, panjangnya siang, anginserta arus-arus laut (Mulyanto, 2007:1). Menurut UU No. 23 Tahun1997 tentang Pengolahan Lingkungan Hidup dalam pasal 1 ayat (1),lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, daya,keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia, dan perilakunya, yangmempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusiaserta makhluk hidup lain.

Lingkungan menurut Munadjat Danusaputra adalah semua bendadan kondisi termasuk didalamnya manusia dan tingkah perbuatannya,yang terdapat dalam ruang dimana manusia berada dan mempengaruhikelangsungan hidup serta kesejahteraan manusia dan jasad hiduplainnya. Sedangkan menurut Soemarwoto, lingkungan adalah jumlahsemua benda kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yangmempengaruhi kehidupan kita (Abdurrahman, 2003: 8).

Menurut Arianto (2008: 21) lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup lainnya. Di atas lingkungan hidup inilah manusia berusaha mencapai dan meningkatkan kemakmuran.

(2)

Usaha untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan memerlukan peran penyandaran dan informasi. Setelah proses penyandaran informasi, yang diperlukan adalah merubah sikap yang positif terhadap peningkatan kepedulian lingkungan. Jika sikap telah terbentuk akan memunculkan perbuatan yang sesuai dan mendukung usaha meningkatkan kepedulian lingkungan.

Pengembangan kepedulian lingkungan menuntut adanya penanaman nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup, yang sebaiknya ditanamkan sejak anak-anak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sehingga akan membentuk perilaku siswa sekaligus mampu menciptakan rasa ingin tahu yang lebih jauh pada siswa. Kepedulian membutuhkan kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan partisipasi dalam suatu kegiatan yang berupa pengelolaan lingkungan hidup. Kesadaran akan pentingnya dan perlunya pengeloalaan lingkungan hidup baik yang timbul dari pendidikan, pelatihan, pemberian penghargaan, rangsangan, dorongan, penerangan, dan informasi yang terus-menerus diberikan, dengan demikian diharapkan akan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan berperan aktif melakukan kegiatan melestarikan lingkungan sekitar.

Kualitas hidup dari semua warga negara di dunia telah dipengarui oleh lingkungan berbagai peristiwa-peristiwa global. Kita perlu menginterprestasikan lingkungan daik fisik, biologi, dan sosial menjadi lebih penting karena perubahan secara signifikan terjadi secara cepat di lingkungan kita. Oleh karena itu, perlu untuk mengintegtrasikan kepedulian lingkungan di semua tingkat nasional atau perencanaan internasional menjadi lebih nyata dan pernah dilaksanakan. Peningkatan kepedulian lingkungan perlu diarahkan agar dapat menjangkau semua lapisan yang lebih luas.

Oleh karena itu, ketersediaan informasi yang berkenaan dengan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan dikembangkan dan diperluas sehingga pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang lingkungan hidup dapat lebih meningkat. Dari berbagai pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kepedulian lingkungan adalah sikap dalam mengambil tindakan terhadap segala sesuatu yang berbeda di sekitar kita yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan dengan menumbuhkan percaya dan kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan partisipatif dalam suatu kegiatan. Menurut Inpres No 1 tahun 2010, tentang pendidikan karakter dinyatakan

(3)

tentang deskripsi peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

b. Sikap Peduli Terhadap Lingkungan

Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental. Menurut Bruno (1987) sikap (attitude)adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu (Muhibbin Syah, 2005:120).

Sikap biasanya identik dengan sifat. Banyak persepsi yang menyamakan antara sikap dengan sifat. Menurut Allport yang dikutip oleh Sumadi Suryabrata (2006:209) persamaan antara sikap dengan sifat adalah predisponsisi untuk berespon, kedua-duanya adalah khas, kedua-duanya dapat memulai atau membimbing tingkah laku; kedua-duanya adalah faktor genetis dan belajar.

Namun jika diteliti ada juga perbedaan antara kedua hal tersebut seperti sikap (attitude) berhubungan dengan suatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak.

Jadi sikap itu lebih sempit dari pada sifat. Dan sifat itu biasanya memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi.

Dengan demikian pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecenderungan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa akan ditandai dengan munculnya kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah, terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya. Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap:

1) Faktor intern, yaitu faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri.

Berupa selektifitas atau daya pilih seseorang untuk menerima dan mengolah pengaruh-pengaruh dari luar dirinya.

2) pilihan tersebut berhubungan erat dengan motif-motif dan attitude-attitude di dalam diri pada waktu tersebut. Disesuaikan dengan motif, minat, dan perhatiannya.

(4)

3) Faktor ekstern, yaitu faktor yang terdapat di luar pribadi manusia. Berupa interaksi sosial di luar kelompok dengan hasil kebudayaan manusia. Biasanya melalui media komunikasi (massa). Pembentukan dan perubahan sikap terjadi dengan sendirinya (Muhibbin Syah, 2005:123).

Menurut Muhammad Ali (2004:56) pada masa remaja, ada tiga hal penting dalam pembentukan sikap, antara lain:

1) Mass media 2) Kelompok sebaya

3) Kelompok yang meliputi lembaga sekolah, lembaga keagamaan, organisasi kerja.

Sekolah merupakan tempat dimana seorang siswa untuk mendapatkan pendidikan selain dirumah. Didalam sekolah terjadi proses belajar mengajar.

Belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu.

Menurut Gagne dalam Muhibbin Syah, (2005:124). perubahan sikap yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :

1) Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.

2) Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.

3) Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapanintelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada pada proses pemikiran.

(5)

4) Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan vertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.

c. Peduli Terhadap Lingkungan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32/2009 Pasal 1 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, yang dimaksud lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manuasia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.

Menurut Arianto (1988: 21) lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup lainnya. Di atas lingkungan hidup inilah manusia berusaha mencapai dan meningkatkan kemakmuran.

Kepedulian lingkungan merupakan sikap/kemampuan internal dalam mengambil tindakan terhadap segala sesuatu yang berada di sekitar kita, mampu memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Menurut Winkel (1996:

104) mengambil sikap, bertahan dalam sikap tertentu atau berubah sikap, semuanya memegang peranan penting dalam kehidupan manusia dan merupakan sumber energi mental.

Berdasarkan pernyataan tersebut berarti lingkungan berkenaan dengan segala sesuatu yang ada di sekitar kita yaitu, udara, air, tanah dan tumbuh- tumbuhan, hewan dan microorganism yang mendiaminya. Ilmu lingkungan adalah suatu studi tentang lingkungan, baik komponen hidup dan tidak hidup serta interaksi antara komponen-komponen tersebut. Segala sesuatu itu disebut komponen lingkungan, ada yang bersifat abiotik, ada pula yang bersifat biotik,

(6)

termasuk manusia dengan segala perilakunya. Adapun komponen abiotik pada umumnya adalah faktor lingkungan yang mempengaruh imahluk-mahluk hidup yang terdiri dari tanah, atmosfer (lapisan udara yang mengelilingi bumi), air, dan sinar matahari, sedangkan komponen biotic berupa semua makhluk hidup, baik tumbuh-tumbuhan, hewan maupun manusia.

Sikap peduli terhadap lingkungan ditanamkam melalui proses belajar.

Penanaman sikap ini dilakukan dengan berulang-ulang dengan konteks yang berbeda agar tidak terjadi suatu pengulangan materi dan disertai dengan bukti hasil perlakuan manusia terhadap lingkungannya, sehingga siswa sebagai penerima materi geografi akan merasa memiliki kewajiban untuk memelihara lingkungan agar tidak berakibat buruk terhadap manusia lain. Sikap demikian seperti yang dikemukanan oleh Allport (1988) yang dikutip dalam bukunya Nursis Sumaatmadja (1997:62) ialah “keadaan mental dan syaraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya”.

Sikap peduli terhadap lingkungan akan muncul apabila ada motivasi.

Motivasi akan muncul dengan hadirnya minat dan perhatian terhadap adanya bukti-bukti yang jelas dari perlakuan manusia terhadap lingkungan, setelah siswa melihat, mendengar, mengamati bukti tersebut, baik dalam bentuk gambar, klipping maupun pengalaman pengajaran di luar kelas.

Perubahan sikap yang ingin dicapai setelah mempelajari materi ajar geografi mengenai lingkungan hidup, yaitu:

1) Siswa dapat membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan.

2) Siswa menjaga kebersihan kamar kecil.

3) Siswa dapat menjaga kebersihan taman baik yang ada disekeliling sekolah ataupun dirumahnya.

4) Siswa dapat menjaga kebersihan kelas, perpustakaan, dan laboraturium.

5) Serta keaktifan siswa untuk ikut serta dalam kegiatan sosial lingkungan baik disekolah, maupun dimasyarakat.

(7)

Usaha untuk menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan memerlukan peran penyandaran dan informasi.Setelah proses penyandaran informasi, yang diperlukan adalah merubah sikap yang positif terhadap peningkatan kepedulian lingkungan. Jika sikap telah terbentuk akan memunculkan perbuatan yang sesuai dan mendukung usaha meningkatkan kepedulian lingkungan. Pengembangan kepedulian lingkungan menuntut adanya penanaman nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup, yang sebaiknya ditanamkan sejak anak-anak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Sehingga akan membentuk perilaku siswa sekaligus mampu menciptakan rasa ingin tahu yang lebih jauh pada siswa. Kepedulian membutuhkan kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan partisipasi dalam suatu kegiatan yang berupa pengelolaan lingkungan hidup.Kesadaran akan pentingnya dan perlunya pengeloalaan lingkungan hidup baik yang timbul dari pendidikan, pelatihan, pemberian penghargaan, rangsangan, dorongan, penerangan, dan informasi yang terus-menerus diberikan, dengan demikian diharapkan akan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan berperan aktif melakukan kegiatan melestarikan lingkungan sekitar.

d. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup

Soemarwoto (2007:57) menyebutkan bahwa kerusakan lingkungan atau degradasi lingkungan merupakan tanda-tanda telah dilampauinya daya dukung lingkungan. Menurut Budiyanto, (2003: 22). Bentuk kerusakan lingkungan hidup diantaranya adalah sebagai berikut:

1) Gunung Meletus

Gunung meletus (erupsi) adalah aktivitas gunung berapi yangmengeluarkan materi berupa bahan padat, cair, dan gas dari dapur magma ke permukaan bumi.

2) Gempa Bumi

Gempa bumi adalah suatu peristiwa pelepasan energi gelombang seismik secara tiba-tiba diakibatkan oleh adanya deformasi lapisan lempeng tektonik yang terjadi pada kerak bumi.

(8)

3) Badai Siklon

Siklon adalah tekanan udara rendah berupa angin taifun atau badai, terdapat dua jenis siklon yaitu siklon di daerah lintang sedang dan siklon di daerah lintang rendah (tropik) (Sunarko, 2007:53).

4) Kerusakan Hutan

Kerusakan hutan diakibatkan oleh kegiatan manusia seperti pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebihan, penyempitan hutan, penebangan hutan dan pengalih fungsi hutan menjadi lahan pertanian, pemukiman atau kegiatan pertambangan (Sunarko,2007:54).

5) Pencemaran

Menurut Sunarko (2007:58), pencemaran atau polusi adalah berubahnya keadaan alam karena unsur-unsur baru atau meningkatnya unsur-unsur tertentu sehingga menimbulkan gangguan terhadap kualitas lingkungan hidup bahkan mengakibatkan kerusakan ekosistem. Ada beberapa macam pencemaran, yaitu.

a) Pencemaran udara

Pencemaran udara adalah terganggunya unsur-unsur udara karena polutan yang bersumber dari asap industri, pesawat terbang, kendaraan bermotor, bau sampah, pembaaran sampah,kebakaran hutan, dll.

b) Pencemaran suara

Pencamaran suara adalah terganggunya ketenangan lingkungan karena bisingnya suara mesin kendaraan bermotor dan aktivitas industri.

c) Pencemaran air

Pencemaran air menurut Fardiaz dalam Sunarko (2007:59), adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal. Pencemaran lingkungan meliputi kualitas air sumur, air sungai, danau dan air laut.

d) Pencemaran tanah

Pencemaran tanah dapat terjadi karena kontaminasi cairan kimia berbahaya, pemakaian detergen, debu-debu radio aktif dan buangan industri lainnya

(9)

6) Banjir

Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan yang biasanya kering oleh air yang berasal dari sumber-sumber air yang ada disekitarnya seperti meluapnya air sungai ke lingkungan sekitarnya akibat curah hujan yang sangat tinggi juga diakibatkan oleh manusia yang membuang sampah sembarangan, adanya bangunan di bantaran sungai, tertutupnya daerah resapan air, dan juga rusaknya hutan bakau.

7) Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan bagian dari gerakan tanah yang menyebabkan berpindah atau bergesernya massa tanah dari daerah energi potensial tinggi ke daerah dengan potensial rendah. Longsoran merupakan hal umum terjadi sejak bumi ada.

e. Kesadaran Lingkungan

Kesadaran lingkungan adalah pikiran sadar (pengetahuan) yang mengatur akal, hidup wujud yang sadar, bagian dari sikap atau perilaku yang dilukiskan sebagai gejala dalam alam dan harus dijelaskan berdasarkan prinsip sebab musabab (Brauwer dalam Neolaka, 2008:18).

Solso (2008:240) menyatakan kesadaran adalah kesiagaan seseorang terhadap peristiwa-peristiwa di lingkungannya serta peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan,dan sensasi-sensasi fisik. Definisi kesadaran memiliki dua sisi yakni kesadaran meliputi suatu pemahaman terhadap stimuli lingkungan sekitar. Kesadaran juga meliputi pengenalan seseorang akan peristiwa mentalnya sendiri, seperti pikiran-pikiran yang ditimbulkan oleh memori dan oleh kesadaran pribadi akan jati dirinya.Pierson & Trout dalam Solso (2008:250) menyatakan bahwa satu-satunya alasan kita memiliki kesadaran adalah kesadaran memungkinkan kita melakukan pergerakan atas kemauan sendiri.Pergerakan atas kemauan sendiri adalah pergerakan yang dibuat berdasarkan keputusan, bukan berdasarkan insting dan refleks. Dengan memiliki kesadaran, kita mampu melakukan pergerakan atas kemauan sendiri, kita dapat mengarahkan atensi dan

(10)

perilaku kita kepada aspek-aspek dalam lingkungan yang akan menimbulkan hasil akhir yang lebihbaik.

Sedangkan kesadaran lingkungan menurut M.T. Zen (1985) adalah usaha melibatkan setiap warga negara dalam menumbuhkan dan membina kesadaran untuk melestarikan lingkungan, berdasarkan tata nilai, yaitu tata nilai dari pada lingkungan itu sendiri dengan filsafat hidup secara damai dengan alam lingkungannya (Neolaka, 2008:20). Kesadaran lingkungan menurut Priyono (1998) (dalam Wahyuningsih, 2006:11)

1) Memahami kompleksitas lingkungan

2) Memahami resiko jangka panjang dan jangka pendek tentang dampak pencemaran lingkungan

3) Memiliki rencana aksi untuk menyelamatkan lingkungan 4) Berkomitmen menjaga lingkungan

Menurut penelitian Wahyu ningsih (2006) bahwa setelah menggunakan model pembelajaran tertentu dalam penelitian tersebut yakni PBI menunjukan bahwa tingkat kesadaran lingkungan yang dimiliki siswa sesudah pembelajaran lebih baik atau mengalami peningkatan jika dibanding sebelum pembelajaran seperti dilihat pada;1) pemahaman siswa mengenai kompleksitas permasalahan lingkungan meningkat dari 16,89% menjadi 75,45%; 2) siswa sudah mampu memahami resiko jangka pendek atau jangka panjang dari kegiatan yang tidak berwawasan lingkungan; 3) siswa memiliki rencana dan aksipraktis realitis mengenai usaha menyelamatkan lingkungan.Kesadaran lingkungan dapat diartikan sebagai pemahaman yang mendalam baik terhadap masalah lingkungan maupun terhadap pemecahan masalah lingkungan. Memahami sebab akibat yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia terhadap lingkunganya, memahami dampak dari kerusakan lingkungan, dan memiliki rencana untuk menyelamatkan dan menjaga lingkungan agar tidak mengalami kerusakan.Kesadaran lingkungan juga memiliki makna kognitif dan afektif. Artinya kesadaran lingkungan berawal dari pengetahuan yang dimiliki,kemudian direfleksikan kedalam ranak afektif yang berupa sikap atau tindakan. Prosesnya untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan

(11)

dari pengetahuan lingkungan menjadi kesadaran lingkungan, dari kesadaran lingkungan menjadi sikap kemudian menjadi tindakan lingkungan.

f. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kesadaran Lingkungan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kesadaranlingkungan anak menurut Wittmann dalam Cristian dalamWahyuningsih, (2006: 15) yaitu:

1) Pengalaman anak sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya, siswa akan melihatmasalah- masalah lingkungan yang terjadi. Dari pengalaman ituseorang anak tidak akan merasa apatis terhadap apa yang terjadi disekitarnya. Hal ini akan menimbulkan suatu rasa ingin tahu pada diri anak untu mengetahui apa yang terjadi terhadap lingkungannya dan bagaimana untuk mengatasinya.

2) Pandangan orang tua

Pandangan orang tua merupakan salah satu komponen yang dapat membentuk kesadaran lingkungan pada diri seorang anak. Apabila orang tua memiliki pandangan yang positif tentang lingkungan maka anak akan memiliki pandangan positif juga tentang lingkungan, begitu juga sebalikya.

3) Hubungan guru-murid

Guru merupakan orang tua kedua dari siswa. Guru adalah orang tua sedangkan siswa adalah anak. Curahan rasa kasih sayang sangat diharapkan dari seorang anak terhadap orang tuanya begitu pula seorang siswa terhadap gurunya. Apabila hubungan antara siswa dan guru baik, maka siswa akan meneladani figur gurunya.

4) Motivasi guru

Untuk meningkatkan semangat dalam berperilaku sadar lingkungan, siswa memerlukan motivasi yang tinggi, baik motivasi dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Seseorang yang dapat memotivasi siswa untuk berperilaku sadar lingkungan, utamanya adalah gurunya sendiri.

5) Pelajaran dan lingkungan sekolah

Pengetahuan merupakan dasar dari kesadaran terhadap lingkungan.Di sekolah siswa mendapatkan pengetahuan tentang ligkungan melalui pelajaran

(12)

yang diberikan guru dalam kelas. Selain memperoleh pengetahuan tentang lingkungan, siswa hendaknya menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hariny disekolah. Adanya peraturan-peraturan sekolah tentang lingkungan akan lebih menajamkan pemahaman siswa tentang lingkungan.

6) Pengaruh penggunaan media

Pemanfaatan media pembelajaran akan sangat membantu penyaluran informasi dari guru ke siswa. Media yang dapat digunakan oleh guru dalam menanamkan rasa kesadaran lingkungan siswa seperti slide gambar tentang lingkungan, poster, film, bahkan lingkungan sekitar sekolah sendiri.

7) Interaksi sosial di luar sekolah

Kesadaran lingkungan tidak hanya harus dimiliki dalam lingkungan sekolah saja, tetapi juga di luar sekolah. Peran masyarakat sangat penting dalam menyebarkan informasi tentang lingkungan, karena lingkungan merupakan tanggung jawab setiap aspek masyarakat, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, ibu rumah tangga dan organisasi lainnya, pengaruhnya akan cukup besar bagi anak-anak.

2. Kajian Geografi Terhadap Pendidikan Lingkungan Hidup

Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup adalah program pendidikan untuk membina peserta didik agar memiliki pengetahuan, kesadaran, sikap dan tingkah laku secara rasional dan bertanggung jawab tentang pengarauh timbal balik antara penduduk dengan lingkungan dalam berbagai aspek kehidupan (Sunarko, 2007:6). Pelaksanaan pembelajaran PLH dilakukan dengan pendekatan monolitik dan integratif. Pendekatan monolitik dimana PLH merupakan mata pelajaran yang berdiri sendiri. Sedangkan pembelajara PLH dengan pendekatan terintegratif adalah PLH terintegrafi dalam bidang studi IPA, IPS, Penjaskes dan Bahasa Indonesia (cuchuz.blogspot.com/1/28/2010).

Definisi geografi menurut para pakar geografi dalam seminar dan lokakarya di Semarang tahun 1988 adalah ilmu yang mempengaruhi persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau kelingkungan dalam konteks keruangan. Geografi memandang lingkungan hidup

(13)

manusia terdiri dari lingkungan fisik,lingkungan biologis dan lingkungan sosial.

Dengan adanya geografi, kita akan berusaha memahami dan membahas hubungan-hubungan yang ada serta keadaan saling mempengaruhi antara manusia bagi kehidupan manusia.Menurut Suharyono (2006: 105) tujuan pembelajaran geografi disekolah meliputi tiga aspek pengetahuan, ketrampilan dan sikap (afektif).Sasaran pencapaian pembelajaran bidang afektif meliputi:

a. Menumbuhkan pengenalan dan cinta akan tanah air serta menanamkan rasa cinta dan hormat pada sesama manusia

b. Memberikan kemampuan untuk membudayakan alam sekitar, serta menanamkan kesadaran dan keharusan kerja dan berusaha untuk dapat menikmati dan memanfaatkan kekayaan alam sekitar.

c. Memupuk kesadaran ekologi (lingkungan)

d. Menanamkan pengertian tentang potensi lingkungan dan kemungkinan usaha yang ada dalam lingkungan serta mengembangkan pandangan luas dan cita- cita yang rasional dalam mengkreasikan lapangan kerja.

Berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang standar isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mata pelajaran IPS (Geografi)SMP/MTs kelas VIII semester 1, terdapat Standar Kompetensi 1 yaitu Memahami permasalahan sosial berkaitan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Pada Kompetensi Dasar 1.3 Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup dan upaya penanggulangnnya dalam pembangunan berkelanjutan dengan materi pokok Pelestarian Lingkungan Hidup.

3. Pengajaran Geografi a. Pengertian Geografi

Menurut Suherman (2004:34) Geografi berasal dari bahasa Yunani, gêo ("Bumi") dan graphein ("menulis", atau "menjelaskan"). Dalam bahasa Yunani geografi berarti penggambaran bumi meliputi tanah, iklim, laut, flora dan manusia.

(14)

Sedangkan menurut Gurniwan, (2002:22) “Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan”.

Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa geografi sebagai ilmu yang mempelajari atau mengkaji bumi dan segala sesuatu yang ada diatasnya seperti penduduk, flora, fauna, iklim, udara dan segala interaksinya.

Pengertian geografi yang sebenarnya adalah uraian (grafien artinya menguraikan atau melukiskan) tentang bumi (geos) dengan segenap isinya, yakni manusia, yang kemudian ditambah lagi dengan dunia hewan dan dunia tumbuhan.

Secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa geografi merupakan suatu ilmu mempelajari seluk-beluk permukaan bumi serta hubungan timbal balik antar manusia dan lingkungannnya (Harmanto, 2013:3).

Geografi tidak hanya memiliki kepentingan yang terletak pada sumbangannya yang mendasar bagi lahirnya ilmu-ilmu baru, akan tetapi pada isinya yakni yang menelaah relasi antara manusia dan lingkungan alamnya.

Dengan demikian sudah selayaknya bahwa geografi disebut pula ilmu tentang sebaran gejala-gejala alami dan manusiawi di permukaan bumi, atau juga ilmu tentang integrasi wilayah yakni bagaimana wilayah tersusun oleh gejala-gejala fisis dan sosial.

Dengan argumen tersebut, bidang pengetahuan apa pun yang dipelajari seseorang selalu dimulai dengan pengamatan di permukaan bumi, sehingga jika ditinjau dari seluruh kegiatan hidup umat manusia tidak dapat dilepaskan dari permukaan bumi.

Dengan demikian, geografi yang objek studinya permukaan bumi dengan relasi keruangannya, memiliki kedudukan yang kuat dalam memberikan dasar pengetahuan kepada tiap orang dalam mempelajari dan melakukan studi berbagai aspek kehidupan dipermukaan bumi ini.

b. Pengajaran Geografi

Menurut Bakarudin (2010:24) Pendidikan geografi mempunyai pemaknaan hidup membentuk jiwa yang berkarakter mulia. Geografi sebagai ilmu yang fokus

(15)

pada objek ruang, wilayah, lingkungan dalam hubunganya dengan kehidupan.

Kompetensi pendidikan geografi membentuk manusia cinta wilayah tanah air dan mampu melestarikan hubungan harmonis alam dengan manusia beserta sumber kehidupannya.

Secara sederhana, pengajaran geografi adalah geografi yang diajarkan ditingkat sekolah dasar dan sekolah menengah. Karena itu, penjabaran konsep- konsep, pokok bahasan, dan subpokok bahasannya harus disesuaikan dan diserasikan dengan tingkat pengalaman dan perkembangan mental anak pada jenjang-jenjang pendidikan yang bersangkutan (Sumaatmadja, 1997:9).

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kamil (2002:7) menyatakan bahwa pengajaran geografi pada hakikatnya adalah pembelajaran tentang aspek-aspek keruangan permukaan bumi yang merupakan keseluruhan gejala alam dan kehidupan umat manusia dengan variasi kewilayahannya. Studi geografi maupun pengajaran geografi pada hakikatnya berkenaan dengan aspek-aspek keruangan permukaan bumi (geosfer) dan faktor-faktor geografis alam lingkungan dan kehidupan manusia. Oleh karena itu, ruang lingkup pengajaran geografi sama dengan ruang lingkup geografi yang meliputi:

1) Alam lingkungan yang menjadi sumber daya bagi kehidupan manusia.

2) Penyebaran umat manusia dengan variasi kehidupannya interaksi keruangan umat manusia dengan alam lingkungan yang memberikan variasi terhadap ciri khas tempat-tempat di permukaan bumi.

3) Kesatuan regional yang merupakan perpaduan matra darat, perairan, dan udara dia atasnya (Waluya, 2009:16).

Geografi berkenaan dengan dunia nyata, dunia yang dipelajari seseorang dengan baik. Namun penelaahan geografi tidak berakhir pada hal-hal terlihat dari luar, penelaahan tersebut juga meliputi sebab-akibat mengapa dunia nyata tersebut menampakkan demikian yang dipandang sebagai keseluruhan yang menghubungkan bagian-bagian sebagaimana adanya. Hal itu meliputi hubungan dengan ilmu kealaman, berkenaan dengan cara bagaimana hal-hal itu telah mempengaruhi manusia dan kebalikannya telah dimodifikasi, diubah dan diadaptasi oleh tindakan manusia.

(16)

Fungsi dari adanya pendidikan geografi menurut Fairgrive yang dikutip oleh Nursid Sumaatmadja (2007:16) yaitu membina warga masyarakat yang akan datang, untuk sadar akan kedudukannya sebagai insan sosial terhadap kondisi dan masalah kehidupan yang dihadapinya.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa fungsi pendidikan geografi untuk mengembangkan kemampuan calon warga masyarakat dan warga negara yang akan datang untuk berpikir kritis terhadap masalah kehidupan yang terjadi disekitarnya, dan melatih mereka untuk cepat tanggap terhadap kondisi lingkungan serta kehidupan di permukaan bumi pada umunya.

Dari adanya fungsi pendidikan geografi tersebut diharapkan siswa sebagai pelaksana pengajaran peka terhadap masalah lingkungan yang ada disekitar mereka. Ini berbanding terbalik dengan kenyataan sekarang yang banyak sekali terjadi kerusakan lingkungan padahal siswa sebagai generasi penerus bangsa sudah memperoleh pendidikan khususnya pendidikan geografi.

c. Materi Ajar Geografi

Materi ajar adalah segala bentuk materi yang digunakan untuk membantu guru atau instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Materi yang dimaksud bisa berupa tertulis, maupun materi tidak tertulis. Dalam website dikmenjur menjelaskan bahwa materi ajar merupakan seperangkat materi atau substansi pelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran (Prastowo, 2012:40).

Dengan materi ajar memungkinkan siswa dapat mempelajari suatu kompetensi atau kompetensi dasar secara runtut dan sistematis, sehingga secara akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa materi ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis sehingga tercipta lingkungan atau suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar. Adapun tujuan dari adanya materi ajar menurut Prastowo, (2012:41)., yaitu:

1) Membantu siswa dalam mempelajari sesuatu,

(17)

2) Menyediakan berbagai jenis pilihan materi ajar,

3) Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran, serta 4) Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik

Materi ajar geografi berasal dari kehidupan masyarakat, alam lingkungan dengan segala sumber dayanya serta region-region dipermukaan bumi. Dengan demikian, segala kenyataan yang ada dan terjadi dipermukaan bumi, baik yang berkenaan dengan kehidupan manusia maupun yang berkaitan dengan alam lingkungan dan segala prosesnya, menjadi sumber pengajaran geografi. Dengan demikian, sumber pengajaran geografi itu sangat luas sehingga pengajaran itu tidak akan pernah kering oleh materi yang disajikan kepada siswa (Sumaatmadja, 2007:13).

Jadi materi ajar geografi adalah seperangkat materi mengenai bumi dan segala sesuatu yang ada diatasnya seperti penduduk, flora, fauna, iklim, udara dan segala interaksinya yang disusun oleh guru atau instruktur secara sistematis sehingga memungkinkan siswa untuk belajar.

d. Fungsi Pengajaran Geografi

Fairgrieve (Somantri, 1999: 32) mengemukakan fungsi pendidikan dan pengajaran geografi adalah mengembangkan kemampuan calon warga masyarakat dan warga negara yang akan datang untuk berfikir kritis terhadap masalah kehidupan yang terjadi di sekitarnya, dan melatih mereka untuk cepat tanggap terhadap kondisi lingkungan serta kehidupan di permukaan bumi pada umumnya.

Dalam Depdiknas (2011) menyebutkan bahwa pengajaran geografi mempunyai nilai ekstensi yang meliputi nilai nilai teoritis, praktis, filosofis, dan ketuhanan. Fungsi dan tujuan pembelajaran geografi di SMA adalah:

Fungsi pengajaran geografi di SMA dan MA yaitu :

1) Mengembangkan pengetahuan tentang pola-pola keruangan dan proses yang berkaitan.

2) Mengembangkan keterampilan dasar dalam memperoleh data dan informasi, mengkomunikasikan dan menerapkan pengetahuan geografi.

(18)

3) Menumbuhkan sikap, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup dan sumber daya serta toleransi terhadap keragaman sosial budaya masyarakat.

e. Pengaruh Materi Ajar Geografi Terhadap Perubahan Sikap Siswa dalam Kepedulian Lingkungan Hidup

Permasalahan lingkungan menjadi perbincangan masyarakat dunia mulai dari pemanasan global sampai pencemaran air, tanah, dan udara. Jika dilihat dari segi pelakunya, ternyata sebagian besar permasalahan lingkungan berasal dari manusia. Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun berkaita erat dengan pemahaman konsep lingkungan dan perilaku manusia terhadap lingkungan hidupnya. Penanaman kesadaran manusia untuk berperilaku hidup bersih dan sehat merupakan hal yang tidak mudah dilakukan karena usaha ini memerlukan waktu yang relatif lama melalui kegiatan pembelajaran, kesadaran serta pembiasaan pada diri manusia sendiri.

Dalam pengelolaan lingkungan hidup juga terdapat di materi ajar geografi.

Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa bagaimana cara manusia terutama siswa yang mempelajari materinya tersebut untuk merubah sikap mereka yang selama ini acuh atau merusak lingkungan agar sadar terhadap lingkungannya.

Bertolak dari definisi geografi, pemahaman lingkungan harus dimulai dari objek geografi yaitu landschaft yang artinya menurut Bintarto yaitu “daerah yang mempunyai individualitas tersendiri berbeda dengan daerah-daerah lain, dengan bagian-bagian yang berhubungan akan berbeda pula baik dalam arti fisis maupun sosial” (Sumaatmadja, 2007:63). Dengan demikian, suatu daerah yang telah diubah oleh manusia akan mempunyai pengaruh terhadap wilayah lain, suatu lingkungan yang mengalami gangguan akan berpengaruh terhadap lingkungan lain yang berhubungan. Karena itu, baik atau buruknya perlakuan terhadap lingkungan dipengaruhi sikap manusia terhadap lingkungannya.

Pembelajaran geografi yang berisi penanaman sikap terhadap lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam pokok-pokok bahasan yang berkaitan dengan kependudukan, sumber daya alam, iklim, geomorfologis dan pokok bahasan lain

(19)

yang berhubungan dengan aktivitas manusia dengan lingkungan. Guru sebagai pendidik dituntut kreatif dalam mengolah materi pelajaran dengan memasukkan unsur-unsur lingkungan ke dalamnya, sedangkan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya keseimbangan lingkungan pada siswa dapat dilakukan melalui pengajaran geografi di luar kelas, dengan membawa siswa ke tempat-tempat yang berhubungan dengan hasil perlakuan buruk manusia terhadap lingkungan.

Penanaman sikap juga banyak dipengaruhi oleh guru dan lingkungan sekolah sebagai tempat utama kegiatan belajar mengajar. Perilaku guru akan dilihat oleh siswa yang kemungkinan akan dijadikan contoh dalam menghadapi masalah lingkungan. Oleh karena itu, guru harus hati-hati dalam bertindak dan mengajar, seperti membuang sampah sembarangan, cara berpakaian dan lain-lain.

Keadaan kelas yang bersih sebelum guru mengajar akan memberikan semangat untuk belajar, karena kelas merupakan contoh yang paling awal dalam menanamkan kesadaran akan kepedulian lingkungan. Dengan demikian, motivasi kesadaran terhadap lingkungan akan muncul dari keadaan lingkungan sendiri, karena motivasi merupakan segi dinamis untuk mencapai tujuan, yaitu peduli terhadap lingkungan, maka guru mutlak untuk mengembangkan motivasi terhadap lingkungan dari masing-masing siswanya.

Pengajaran geografi yang diberikan di kelas berdasarkan GBPP tidak akan cukup untuk membentuk kesadaran terhadap lingkungan apabila tidak disertai dengan kesediaan dan kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan pengetahuan geografi. Oleh karenanya, tugas guru geografi tidak saja menyampaikan aspek kognitif dari materi pelajaran, namun juga aspek afektif, sehingga dapat membentuk sikap peduli terhadap lingkungan. Usaha ini merupakan jalan membentuk individu yang bertanggungjawab atas keseimbangan lingkungan, yang dimulai dari lingkungan yang terdekat.

Pembelajaran geografi di setiap jenjang pendidikan dapat mengenalkan dan memberi pemahaman bahwa geografi bukanlah mata pelajaran yang semata-mata ilmu pengetahuan berdasarkan buku dan kegiatan motorik belaka, tetapi dapat membangkitkan motivasi untuk peduli terhadap lingkungan pada setiap orang yang mempelajarinya. Menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan bukanlah

(20)

hal yang mudah, tetapi dengan melibatkan siswa sebagai bagian dari lingkungan dan berperan dalam ekosistem, diharapkan tumbuh kesadaran terhadap lingkungan, sehingga ia dapat menyadari setiap perbuatannya terhadap lingkungan sebagai pemelihara lingkungan.

Dengan demikian, penelaahan kehidupan manusia di permukaan bumi khususnya di Indonesia dengan pemanfaatan sumber daya lingkungan dan permasalahannya yang menjadi materi pengajaran geografi, menjadi sarana pengajaran geografi mengembangkan citra anak didik terhadap makna dan kepentingan lingkungan hidup bagi umat manusia (Nursid Sumaatmadja, 1997:64)

B. Penelitian Yang Relevan

Setelah peneliti menelusuri penelitian-penelitian yang dilakukan oleh orang lain atau sebuah lembaga dalam masalah yang sama, atau memiliki kemiripan baik yang berkenaan dengan “Hubungan Pemahaman Santri Terhadap Nilai-nilai Sosial Dengan Perilaku Kehidupan Sehari-hari Pada Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon” ditemukan beberapa hasil penelitian sebagai berikut:

1. Nur Khusnul Khotimah (2012). Peranan Pembelajaran Geografi Terhadap Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas XI IPS

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

a. Berdasarkan hasil penelitian diketahui sebagian besar (70,84%) siswa menyatakan bahwa pembelajaran geografi dapat menumbuhkan sikap peduli lingkungan hidup pada siswa.

b. Sebagian besar (81,25%) siswa menyatakan bahwa pembelajaran geografi dalam materi abiotic environment sebagai komponen lingkungan fisik/non hayati dapat menumbuhkan sikap peduli lingkungan hidup pada siswa 2. Riani Rohmawati (2010).Peran Guru Geografi Dalam Menanamkan

Kesadaran Lingkungan Pada Siswa Smp Sekecamatan Margasari Kabupaten Tegal.

(21)

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan peran guru Geografi dalam menanamkan kesadaran lingkungan dalam kategori baik dengan persentase 65,34%. Dengan rincian, peran guru Geografi dalam menanamkan kesadaran lingkungan melalui pengetahuan dalam kategori baik dengan persentase 67,17%, melalui sikap dalam kategori cukup dengan persentase 59,97% dan melalui tindakan dalam kategori baik dengan persentase 68,89%..

3. Novia Kresnawati (2014). Korelasi Kualitas Pembelajaran Geografi Dan Hasil Belajar Terhadap Sikap Peduli Lingkungan Siswa Kelas XII IPS SMAN 1 Ponorogo

Kesimpulan dari penelitian ini adalah :

Ada pengaruh yang signifikan kualitas pembelajaran Geografi dan hasil belajar dengan sikap peduli lingkungan siswa kelas XII IPS SMA Negeri 1 Ponorogo.Kualitas pembelajaran dan hasil belajar berpengaruh terhadap pembentukan sikap. Jadi semakin tinggi kualitas pembelajaran maka sikap siswa akan semakin positif dan semakin bagus hasil belajar, sikap siswa akan semakin positif pula.

C. Kerangka Pemikiran.

Menurut Ahmad Fauzi (2012:11) salah satu tujuan dari adanya pendidikan adalah merubah sikap manusia yang tidak baik menjadi sikap yang lebih baik lagi.

Dalam hubungannya dengan alam, manusia hendaknya mengikuti aturan yang sudah ada Ini berarti bahwa pendidikan mampu membentuk suatu kepribadian yang dihasilkan dari proses pembelajaran yang baik kepada manusia dari kecil hingga dewasa.

Di sisi lain, pendidikan yang dibekali dengan banyaknya berbagai teori dan materi yang mendidik dalam proses pembelajaran telah mampu membentuk suatu karakter manusia yang memiliki kepribadian tersendiri. Teori-teori yang membahas pendidikan akan membantu manusia untuk memahami dan menelaah serta mengaplikasikan perbuatan secara nyata. Dengan bekal teori dan aplikasi

(22)

yang didapatkan disekolah, diharapkan para siswa mampu mengapresiasikan kedalam pelaksanaan dikehidupan nyata.

Didalam pendidikan tidak terlepas dari adanya kurikulum, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar, dan hasil belajar, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan pendidikan (Mulyasa, 2006:4).

Pengaplikasian terhadap pendidikan dan kurikulum yang didapat perlu dilaksanakan oleh para pendidik dan peserta didik guna mengukur seberapa besar pemahaman mereka terhadap ilmu yang mereka dapatkan selama ini. Dalam pengaplikasian pendidikan ini perlu adanya kerjasama yang baik antara pendidik dan peserta didik. Karena pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) sebagai salah satu bidang dalam pendidikan berfungsi untuk membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna untuk masa depannya, keterampilan sosial dan intelektual dan membina perhatian serta kepedulian sosialnya sebagai SDM yang bertanggung jawab dalam merealisasikan tujuan pendidikan nasional (Khoiru Ahmad, 2011:9).

Kerusakan lingkungan yang terjadi sekarang ini tidak lepas dari keterkaitan dengan pendidikan. Bagaimana tidak masyarakat dengan semena- mena mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampak dari apa yang mereka lakukan. Lingkungan hidup dapat diartikan sebagai keseluruhan unsur atau komponen, maka tentu saja setiap lingkungan dapat dibedakan menjadi lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Menurut (Wardiyatmoko, 2006:106), komponen-komponen lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi komponen benda-benda hidup (biotik) dan komponen benda-benda mati (abiotik). Termasuk dalam komponen biotik adalah manusia, hewan, dan tumbuhan, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah udara, tanah dan air. Baik komponen biotik maupun abiotik membentuk satu kesatuan atau tatanan yang disebut dengan ekosistem, sehingga lingkungan hidup sering pula disamakan dengan ekosistem.

(23)

Pembelajaran geografi mengenai materi lingungan hidup ini memiliki tujuan yang ingin dicapai daintaranya, yaitu siswa diharapkan mampu memahami arti lingkungan hidup, siswa diharapkan mampu mengaplikasikan materi yang mereka dapat kedalam dunia nyata, siswa diharapkan mampu menjaga dan mencintai lingkungannya, dan siswa diharapkan mampu bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Untuk meminimalisir dari dampak adanya kerusakan lingkungan salah satunya yaitu dengan mempelajari geografi. Karena dengan mempelajari mata pelajaran geografi diharapkan siswa lebih peduli terhadap lingkungan yang ada disekitarnya. Yang akan dijelaskan pada diagram berikut ini:

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran

D. Hipotesis

Suharsimi Arikunto, (2006:71) mengatakan “hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”. Berdasarkan kajian teori yang telah dipaparkan sebelumnya maka penulis membuat hipotesis dengan rumusan

”kontribusi materi ajar geografi dalam penanaman sikap siswa terhadap kepedulian lingkungan hidup”.

Guru

Siswa

peduli terhadap lingkungan IPS

(GEOGRAFI)

Referensi

Dokumen terkait

Pihak Pertama berjanji akan mewujudkan target kinerja yang seharusnya sesuai lampiran perjanjian ini, dalam rangka mencapai target kinerja jangka menengah seperti yang telah

Standar Operasional Prosedur Pendampingan Proses Akreditasi Program Studi Di Universitas Muslim Indonesia.. Kegiatan Pelaksana Dokumen

• Aspek pencahayaan perlu diperhatikan dalam perancangan panti werdha, karena cahaya tersebut mempengaruhi kesehatan lansia. Lansia perlu mendapatkan cahaya matahari

Keberkesanan wakaf tunai dilihat dari perspektif prestasi kutipan dana wakaf di Selangor dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya adalah membuat perancangan yang rapi

TEKNIK A.B.C Teknik A.B.C adalah teknik mencipta tajuk produk digital yang saya cipta untuk anda membuat penilaian keseluruhan kandungan produk digital berdasarkan 3 kriteria

Perlakuan stek 3 buku dapat meningkatkan bobot bunga terubuk dan jumlah tunas, namun tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman.. Pemupukan dengan pupuk gabungan (pupuk

CAPM menunjukkan tingkat pengembalian (return) aset yang diharapkan pada suatu aset berisiko merupakan fungsi dari tiga faktor, antara lain : tingkat keuntungan bebas risiko,

Perubahan jam operasi bandar udara yang bersifat sementara harus 1 (satu) jam diNOTAMkan sebelum keberangkatan pesawat udara dari bandar udara asal oleh Kepala Badan Usaha Bandar