Abstrak—Diffuser merupakan suatu komponen teknik yang memanfaatkan konsep aliran fluida yaitu dengan memperlambat kecepatan aliran fluida sehingga diperoleh peningkatan tekanan aliran fluida. Peningkatan tekanan aliran tersebut memiliki potensi sangat besar sebagai penyebab terjadinya adverse pressure gradient yang sangat kuat. Adverse pressure gradient ini menimbulkan perkembangan boundary layer aliran semakin cepat dan semakin sensitif terhadap terjadinya separasi aliran.
Hal inilah yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai koefisien tekanan (Cp) suatu diffuser serta menimbulkan rendahnya nilai pressure recovery coefficient (Cpr). Salah satu cara untuk meningkatkan Cpr pada difuser adalah melakukan perubahan konstruksi diffuser. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan boundary layer di dalam asymmetric flat-walled diffuser. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dan numerik pada bilangan Reynolds 5,85 x 104 dan 10,5 x 104. Asymmetric flat-walled diffuser memiliki sudut divergensi 1 (θ1) = 10˚, sudut divergensi 2 (θ2) = 10˚, tinggi inlet (w1) = 50 mm, lebar inlet (b1) = 100 mm, serta aspect ratio (AR) ditentukan konstan dengan b/w sisi inlet sama dengan b/w sisi outlet. Pada penelitian eksperimen dilakukan pengambilan data tekanan stagnasi pada beberapa titik pengukuran. Tekanan statis diukur pada beberapa sisi dengan berbagai variasi jarak antar gap. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terjadi separasi pada sisi midspan vertikal. Separasi terjadi pada sisi midspan horizontal pada x/L1 = 0,8 berdasarkan vektor kecepatan untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104. Peningkatan bilangan Reynolds sebesar 80 % tidak mampu menunjukkan permulaan separasi aliran secara jelas.
Kata Kunci - asymmetric flat-walled diffuser, metode numerik, pressure recovery coefficient, separasi aliran, model turbulen.
I. PENDAHULUAN
ALAM
perkembangan teknologi saat ini, diffuser merupakan salah satu bagian yang memiliki peranan penting sebagai alat pendukung suatu proses dalam bidang keteknikan. Penggunaan difuser sering dijumpai khususnya di dalam komponen-komponen pendukung, seperti sudu impeller pada pompa sentrifugal, pada subsonic maupun supersonic wind tunnel, pada ducting system untuk pendistribusian aliran udara pada Central Air Conditioner, dan rear bumper pada mobil balap.Sebagai contoh penggunaan diffuser dalam dunia olah raga otomotif, yaitu pada mobil balap Formula One yang saat ini sedang menjadi hal menarik untuk dibicarakan.
Berdasarkan berita yang sedang berkembang, pada pertengahan tahun 2011 otoritas balap dunia, FIA mengubah regulasi khusus terkait dengan penggunaan diffuser. Mulai pertengahan tahun tersebut, FIA secara resmi melarang penggunaan difuser. Hal ini dimaksudkan agar persaingan menjadi lebih ketat karena setelah penggunaan diffuser dilegalkan terdapat tiga tim yang dinilai terlalu mendominasi pada setiap sesi balapan. Berdasarkan hasil
studi FIA, penggunaan diffuser yang lebih lebar bisa membuat mobil memiliki waktu tempuh 0,5 detik lebih cepat dalam setiap putaran. Hal ini dikarenakan, semakin cepat aliran udara yang melintasi bagian bawah mobil maka tekanan di bagian bawah mobil akan semakin rendah sehingga akan membuat mobil mendapatkan downforce yang tinggi. Oleh karena itu, pengembangan desain difuser yang berkelanjutan diharapkan mampu meningkatkan performa mobil di lintasan balap.
Diffuser merupakan suatu bentuk saluran tertutup yang mengalami perbesaran luas penampang melintang searah dengan lintasan aliran utama di antara sisi inlet dan outlet saluran tersebut. Secara teoritis, perbesaran luas penampang ini akan menyebabkan penurunan kecepatan aliran akan tetapi terjadi peningkatan tekanan aliran di dalam difuser.
Peningkatan tekanan aliran tersebut memiliki potensi yang sangat besar sebagai penyebab terjadinya gradien tekanan positif (adverse pressure gradient) yang sangat kuat.
Adverse pressure gradient yang sangat kuat ini menimbulkan perkembangan boundary layer aliran yang semakin cepat dan semakin sensitif terhadap terjadinya separasi aliran. Terjadinya separasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai koefisien tekanan (Cp) suatu difuser.
Beberapa penelitian pada flat-walled diffuser telah dilakukan, khususnya pada symmetric flat-walled diffuser.
Rinenggo [1] melakukan penelitian mengenai pengendalian pasif terhadap boundary layer pada symmetric flat-walled diffuser untuk sudut divergensi (2θ) = 20° dengan suction dan blowing melalui rectangular slot. Hasil yang dicapai pada penelitiannya adalah peningkatan Cpr untuk sudut kemiringan slot blowing 45° dan 30° pada bilangan Reynolds yang rendah. Harbangan [2] melakukan studi mengenai pengaruh aspect ratio dengan penambahan splitter pada symmetric flat-walled diffuser untuk sudut divergensi (2θ) = 20°. Pada penelitiannya digunakan dua konfigurasi pembagian diffuser dengan 1 splitter dan 2 splitter. Dari penelitiannya diperoleh peningkatan Cpr untuk kedua konfigurasi tersebut, dimana peningkatan Cpr pada diffuser dengan 2 splitter lebih tinggi dari pada 1 splitter.
Selain itu, terdapat juga penelitian asymmetric flat-walled diffuser yang dilakukan oleh El-Behery dan Hamed [4]
melalui penelitian secara numerik menggunakan software Fluent 6.3.26. pada asymmetric flat-walled diffuser 10˚.
Pada penelitian mereka bertujuan untuk membandingkan ditribusi koefisien tekanan antara hasil eksperimen dan hasil numerik dengan variasi 6 model turbulen, antara lain;
standard k-ε, low Reynolds number k-ε model, standard k-ω model, shear stress transport k-ω (SST), Reynolds stress model (RSM), dan model turbulen v2-f. Dari penelitian didapatkan model turbulen v2-f, standard k-ω, dan shear stress transport k-ω memiliki hasil mendekati eksperimen.
Studi Eksperimen dan Numerik Karakteristik Boundary Layer Turbulen di dalam Asymmetric Flat-Walled
Diffuser
Dhudy Pratyangga, Sutardi
Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: [email protected]
D
II. METODE
A. Metode Eksperimen
Instalasi penelitian yang digunakan dalam metode eksperimen berupa benda uji dan peralatan pendukung.
Skema instalasi penelitian secara keseluruhan ditunjukkan pada gambar 1.
Gambar 1. Skema Instalasi Penelitian
Instalasi penelitian memiliki spesifikasi umum dimensi total dengan panjang 2500 mm, lebar 274 mm dan tinggi 200 mm. Instalasi penelitian terdiri dari beberapa bagian utama yaitu blower, honey comb, dan test section berupa asymmetric flat-walled diffuser dengan aspect ratio constant yang memiliki spesifikasi dan dimensi sebagai berikut (gambar 2).
-
Bahan : Akrilik - Panjang diffuser (L2) : 500 mm - Panjang upstream channel (L1) : 500 mm - Panjang total channel (L3) : 1.500 mm - Lebar span inlet (b1) : 100 mm - Lebar span outlet (b2) : 216,32 mm - Tinggi inlet (W1) : 50 mm - Tinggi outlet (W2) : 138,16 mm - Sudut divergensi 1 (θ1) : 10°- Sudut divergensi 2 (2θ2) : 20
°
Gambar 2. Test section
Penelitian ini menggunakan beberapa peralatan pendukung yang digunakan untuk pengambilan data-data eksperimen seperti wall pressure tap, Pitot tube, mikrometer, inclined manometer V, mistar, termometer dan water pass. Peralatan pendukung tersebut digunakan dalam pengukuran beberapa parameter, seperti wall pressure tap dan inclined manometer V yang berfungsi untuk mengukur tekanan statis di sepanjang dinding dari test section.
Pengambilan data tekanan statis dilakukan mulai nilai x/L1 = -0,4 hingga posisi x/L1 = 2 dengan variasi dua bilangan Reynolds yaitu ReW1 = 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104. Bilangan Reynolds ini berbasis pada tinggi inlet (W1) dan nilai Umax fluida pada inlet diffuser.
Perhitungan nilai koefisien tekanan (Cp) sesuai dengan persamaan berikut:
𝐶𝐶𝐶𝐶 =𝐶𝐶1𝑠𝑠,𝑖𝑖− 𝐶𝐶𝑠𝑠,0
2𝜌𝜌𝑈𝑈𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟2
,
(1) dimana:𝐶𝐶𝑠𝑠,𝑖𝑖 : tekanan statis dinding pada x/Li= i 𝐶𝐶𝑠𝑠,0 : tekanan statis referensi pada inlet diffuser Uref : kecepatan referensi pada inlet test section
ρ : massa jenis udara
½ ρ Uref : tekanan dinamis pada inlet diffuser
Untuk menyatakan performa diffuser dapat ditentukan dengan pressure recovery coefficient (Cpr),
𝐶𝐶𝐶𝐶𝑟𝑟 =𝐶𝐶1𝑠𝑠,𝑟𝑟 − 𝐶𝐶𝑠𝑠,0
2𝜌𝜌𝑈𝑈𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟𝑟2
,
(2) dimana:𝐶𝐶𝑠𝑠,𝑟𝑟: tekanan statis pada diffuser outlet.
B. Metode Numerik
Penelitian numerik dilakukan dengan menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan software Fluent 6.3.26 dan dengan software GAMBIT 2.4.6.
Prosedur yang dilakukan terbagi menjadi tiga tahap yaitu:
1. Pre-processing
Tahap pre-processing merupakan tahap permodelan geometri dan dimensi dari test section yang akan disimulasikan. Dilanjutkan dengan proses meshing dengan kerapatan mesh yang merapat ke arah dinding dan perubahan penampang. Kondisi batas yang digunakan adalah inlet adalah velocity inlet. Kondisi batas outlet adalah pressure outlet. Sedangkan kondisi batas untuk dinding adalah wall dan centerline menggunakan symmetry.
2. Solving
Tahap simulasi numerik ini dilakukan dengan software Fluent 6.3.26 yang dimulai dengan read data hasil eksport GAMBIT. Kemudian dilakukan pengecekan grid. Setelah itu ditentukan skala dalam mm. Turbulence model yang digunakan adalah realizable k-ε. Pengisian material (density dan viscosity) dan operating condition disesuaikan dengan kondisi eksperimen.
Proses pemberian nilai dari boundary condition yaitu pada daerah inlet ditetapkan sebagai velocity inlet dengan nilai kecepatan sesuai penelitian eksperimen untuk kondisi bilangan Reynolds pada sisi diffuser inlet ReW1 = 5,85 x 104 sebesar 18,9 m/det dan ReW1 = 10,5 x 104 sebesar 33,95 m/det. Sedangkan outlet adalah pressure outlet dengan nilai tekanan statis outlet ditentukan dari
-0.1 0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
-0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 1.8 2.0
Cp
x/L1
eks. Rew1=58500 eks. Rew1=105000 num. Rew1=105000 num. Rew1=58500 Inviscid
penelitian eksperimen untuk kondisi bilangan ReW1 = 5,85 x 104 sebesar -163,97 Pa dan ReW1 = 10,5 x 104 sebesar -559,88 Pa. Wall merupakan batasan semua dinding diffuser dan bagian sisi centerline diberi kondisi batas symmetry.
Solusi yang digunakan dalan simulasi ini adalah discretization second order untuk pressure, second-order upwind untuk momentum, turbulence kinetic energy dan turbulence dissipation rate. Langkah berikutnya adalah initialize yang merupakan perhitungan awal untuk memudahkan dalam mendapatkan hasil yang konvergen pada tahap iterasi. Kriteria konvergensi ditetapkan sebesar 10-6, artinya proses iterasi dinyatakan telah konvergen setelah residualnya mencapai harga lebih kecil daripada 10-6. Untuk kecepatan ke arah X, Y, Z ditetapkan kriteria konvergensi sebesar 10-6. Tahap terakhir adalah iterate dilakukan sampai convergence criterion sebesar 10-6 serta grid independency.
3. Post-processing
Tahap post-processing merupakan tahap penampilan data yang telah diperoleh dari proses solver sebelumnya berupa data kuantitatif dan kualitatif.
III. HASILDANPEMBAHASAN
Sudut divergensi merupakan perameter utama yang berpengaruh terhadap performa sebuah diffuser. Dengan adanya sudut divergensi ini, diffuser dapat mengubah energi kinetik fluida menjadi energi potensial berupa tekanan.
Performa sebuah diffuser dapat ditentukan oleh nilai pressure coefficient (Cp), khususnya nilai pressure recovery coefficient (Cpr).
Gambar 3 menunjukkan distribusi Cp pada upper wall untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan 10,5 x 104 dari eksperimen dan numerik. Pada analisa ini juga disertakan nilai Cpinviscid sebagai perbandingan untuk mengetahui seberapa besar losses yang terjadi. Distribusi Cp dari hasil numerik memiliki kecenderungan yang mendekati eksperimen. Saat akan memasuki inlet diffuser, distribusi Cp pada upper wall dari metode eksperimen maupun metode numerik mengalami penurunan sangat drastis mencapai harga Cp = 0.
Fenomena ini dipengaruhi oleh adanya penebalan boundary layer yang menyebabkan kenaikan nilai Umax seiring perubahan jarak. Sehingga dapat dikatakan bahwa pada daerah tersebut bukan merupakan daerah yang bersifat zero pressure gradient melainkan merupakan daerah yang bersifat favorable pressure gradient (FPG) dimana berdampak pada peningkatan kecepatan fluida sehingga gradien tekanan yang terjadi negatif. Hal inilah yang menyebabkan penurunan nilai Cp. Kemudian nilai Cp mengalami kenaikan secara cepat sampai pada x/L1 = 0,15 sebesar 0,43 untuk numerik dan sebesar 0,15 untuk eksperimen.
Gambar 3. Distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen dan numerik untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104 pada sisi upper wall
Pada gambar 3 terdapat beberapa perbedaan kecenderungan grafik Cp antara hasil eksperimen dengan hasil numerik. Cp untuk jarak x/L1 > 0,08 mengalami hambatan kenaikan sampai pada x/L1 = 0,2 untuk eksperimen dan x/L1 = 0,4 untuk numerik. Cp numerik mengalami sedikit kenaikan untuk jarak x/L1 > 0,4 sampai pada x/L1 = 2 sedangkan Cp eksperimen cenderung konstan untuk jarak x/L1 > 0,2 sampai pada x/L1 = 1 kemudian mengalami penurunan dan kenaikan hingga mencapai Cpmaks pada x/L1 = 2. Fenomena terbentuknya nilai Cp minimum pada x/L1 = 1,4 disebabkan oleh besarnya vortex yang terbentuk pada cross section tersebut. Adanya vortex tersebut menyebabkan berkurangnya luasan efektif dari cross section tersebut yang berkorelasi dengan menurunnya nilai tekanan.
Berdasarkan perbandingan distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen untuk kedua bilangan Reynolds yang ditampilkan pada gambar 3 tersebut tidak dapat ditunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap distribusi peningkatan koefisien tekanan (Cp). Hal ini didasari oleh selisih nilai Cpmaks antara kedua distribusi data tersebut, dimana peningkatan bilangan Reynolds sebesar 80 % menimbulkan penurunan nilai Cp sebesar 0,09 atau 9 %. Oleh karena itu, berdasarkan selisih nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan bilangan Reynolds tidak mampu memperbaiki performa diffuser secara signifikan serta Cpmaks tidak terjadi pada bagian pada bagian outlet diffuser, melainkan terjadi pada downstream channel.
Distribusi Cp dari eksperimen dan numerik untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan 10,5 x 104 pada lower wall ditunjukkan pada gambar 4. Distribusi Cp pada lower wall dari metode numerik mengalami penurunan yang relatif tidak terlalu drastis dibandingkan dengan distribusi Cp pada upper wall sebesar 0,018 sedangkan dari metode eksperimen mengalami nilai yang konstan. Kemudian nilai Cp mengalami sedikit kenaikan sampai pada x/L1 = 0,2 sebesar 0,13 untuk numerik dan sebesar 0,11 untuk eksperimen.
-0.1 0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
-0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 1.8 2.0
Cp
x/L1
eks. Rew1=58500 eks. Rew1=105000 num. Rew1=105000 num. Rew1=58500 Cp Inviscid
-0.1 0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
-0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 1.8 2.0
Cp
x/L1
eks. Rew1=58500 eks. Rew1=105000 num. Rew1=105000 num. Rew1=58500 Inviscid
Gambar 4. Distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen dan numerik untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104 pada sisi lower wall
Berdasarkan perbandingan distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen untuk kedua variasi bilangan Reynolds yang ditampilkan pada gambar 4 tersebut, dapat menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak signifikan terhadap distribusi peningkatan pressure coefficient (Cp). Hal ini didasari oleh selisih nilai Cpmaks, yaitu dengan adanya peningkatan bilangan Reynolds sebesar 80 % menimbulkan peningkatan nilai Cp sebesar 0,02 atau 2
%. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa peningkatan bilangan Reynolds tidak mampu memperbaiki performa diffuser secara signifikan serta Cpmaks tidak terjadi pada bagian yang diharapkan yaitu pada bagian outlet diffuser, melainkan terjadi pada bagian downstream channel.
Distribusi Cp dari eksperimen dan numerik untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan 10,5 x 104 pada side wall ditunjukkan pada gambar 5. Serupa dengan distribusi Cp pada upper wall sebelumnya, distribusi Cp pada side wall antara kedua metode memiliki kecenderungan distribusi Cp yang sama.
Pada data ini terjadi penurunan nilai Cp yang drastis hingga mencapai harga Cp = 0. Kemudian nilai Cp mengalami kenaikan secara cepat sampai pada x/L1 = 0,06 sebesar 0,31 untuk numerik dan pada x/L1 = 0,2 sebesar 0,24 untuk eksperimen.
Gambar 5. Distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen untuk ReW1
= 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104 pada sisi side wall
Berdasarkan perbandingan distribusi koefisien tekanan (Cp) hasil eksperimen untuk kedua variasi bilangan Reynolds yang ditampilkan pada gambar 5 tersebut, dapat ditunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak signifikan terhadap distribusi peningkatan koefisien tekanan (Cp). Hal ini didasari oleh selisih nilai Cpmaks antara kedua distribusi data tersebut, yaitu dengan adanya peningkatan bilangan Reynolds sebesar 80 % hanya menimbulkan sedikit peningkatan nilai Cp sebesar 0,02 atau 2 %.
Pressure coefficient maksimum (Cpmaks) terjadi pada jarak x/L1 = 2 (outlet downstream channel). Dari gambar 3, 4, dan 5 dapat dilihat bahwa Cp pada kondisi eksperimen dibandingkan dengan kondisi inviscid mengalami losses yang sangat besar. Secara keseluruhan besarnya losses Cpmaks yang dihasilkan untuk dua bilangan Reynolds ditampilkan pada tabel 1.
Tabel 1. Nilai losses Cpmaks dari hasil eksperimen dan numerik untuk kedua bilangan Reynolds.
ReW1 Losses Cpmaks (%)
Eksperimen Numerik
5,85 x 104 63,28 28,28
10,5 x 104 73,28 29,28
Adanya perbedaan nilai losses antara hasil eksperimen dengan numerik dikarenakan pengondisian test section dalam eksperimen yang menggunakan adaptor (sambungan) pada perubahan penampangnya sedangkan dalam permodelan numerik tidak terjadi. Tabel 2 menunjukkan nilai Cpr dan Cpmaks dari hasil eksperimen dan numerik untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan 10,5 x 104.
Tabel 2. Nilai Cpr dan Cpmaks dari hasil eksperimen dan numerik untuk kedua bilangan Reynolds
ReW1 Eksperimen Numerik
Cpr Cpmaks Cpr Cpmaks
5,85 x 104 0.29 0,35 0,63 0,70
10,5 x 104 0,20 0,25 0,63 0,69
Distribusi Cp hasil eksperimen diffuser asimetris dan simetris Retno [3] pada upper wall untuk ReW1 = 5,85 x 104 dan 10,5 x 104 ditunjukkan pada gambar 6. Secara garis besar kecenderungan grafik Cp antara hasil data diffuser asimetris dengan diffuser simetris relatif sama mulai jarak x/L1 = -0,2 hingga x/L1 = 0,2. Saat akan memasuki inlet diffuser, empat data Cp mengalami penuruan nilai secara drastis dan seketika itu juga mengalami kenaikan drastis sampai pada x/L1 = 0,2. Kemudian nilai Cp mengalami kenaikan sejalan dengan kenaikan x/L1. Kecenderungan kenaikan nilai Cp untuk empat data Cp pada hasil eksperimen mengalami kenaikan sampai pada outlet diffuser (x/L1 = 1). Pada nilai x/L1 = 1 hingga nilai x/L1 = 2 terjadi penurunan dan kenaikan nilai Cp untuk keempat data Cp tersebut. Dalam hal ini, ada beberapa perbedaan data Cp, yaitu terletak pada peningkatan distribusi Cp diffuser asimetris pada ReW1 = 5,85 x 104 dimana merupakan peningkatan yang terbesar, yaitu dengan nilai Cpmaks sebesar 0,35.
-0.1 0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
-0.4 -0.2 0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0 1.2 1.4 1.6 1.8 2.0
Cp
x/L1
diffuser asimetris Rew1 = 58500 diffuser asimetris Rew1 = 105000 diffuser simetris Rew1 = 58500 diffuser simetris Rew1 = 105000
Gambar 6. Distribusi pressure coefficient (Cp) hasil eksperimen diffuser asimetris dan diffuser simetris [3] pada sisi upper wall.
IV KESIMPULAN
Berdasarkan analisa mengenai karakteristik boundary layer di dalam asymmetric flat-walled diffuser dengan aspect ratio konstan untuk studi kasus menggunakan ReW1 = 5,85 x 104 dan ReW1 = 10,5 x 104 baik secara eksperimen maupun numerik dapat disimpulkan bahwa performa asymmetric flat-walled diffuser yang kurang baik diakibatkan oleh adanya efek adverse pressure gradient yang kuat. Hal ini berdasarkan nilai pressure recovery coefficient (Cpr) yang rendah. Pressure coefficient maksimum (Cpmaks) terjadi pada jarak x/L1 = 2 (outlet downstream channel). Tabel 1 menunjukkan hasil dari nilai Cpr dan Cpmaks untuk kedua bilangan Reynolds.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada laboratorium Mekanika dan Mesin-Mesin Fluida Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri ITS yang telah banyak mendukung kelancaran penelitian kali ini.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Rinenggo. N, “Pengendalian Pasif terhadap Boundary Layer di Flat- Walled Diffuser 20˚ dengan Suction dan Blowing melalui Rectangular Slot”. Tugas Akhir. Teknik Mesin ITS, Surabaya (2007).
[2] Harbangan. W, “Studi Eksperimen Pengaruh Aspect Ratio dengan Penambahan Splitter pada Flat-walled Diffuser dengan Sudut Divergensi 20o”. Tugas Akhir. Teknik Mesin ITS, Surabaya (2009).
[3] Retno. D, “Studi Eksperimen dan Numerik Karakteristik Boundary Layer Turbulen di dalam Symmetric 3D Flat-Walled Diffuser dengan Rasio b/w Konstan”. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Mesin ITS, Surabaya (2012). (belum dipublikasikan).
[4] El-Behery, S.M., Hamed, M.H, “A Comparative Study of Turbulence Models Performance for Turbulent Flow in a Planar Asymmetric Diffuser,” International Journal of Mechanical Systems Science and Engineering, vol.2 no.2 (2010) 78-89.