PENGARUH PERTAMINA TERHADAP KOTA PANGKALAN BRANDAN (1947- 2009)
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN O
L E H
NAMA : Hilwa Zulmi NIM : 140706018
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah, rahmat serta karunia-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Walau tantangan,kesulitan,cobaan melintang namun penulis masih diberi kesabaran,keikhlasan dan ketangguhan sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini hingga sampai akhir. Tanpa bantuan dan tuntunan yang maha kuasa,maka suatu kemustahilan skripsi ini.
Dalam perjalanan panjang melakukan penelitian dan pengumpulan data,sungguh sebuah kebahagiaan dan anugerah bagi penulis dapat menyelesaikan sebuah tulisan sejarah yang terbentuk skripsi dengan judul “PENGARUH PERTAMINA TERHADAP KOTA PANGKALAN BRANDAN (1947-2009)”.
Skripsi ini penulis ajukan untuk meraih gelar sarjana di Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari skripsi ini masih banyak sekali kekurangan dan masih sangat jauh dari kata sempurna. Untuk itu,dengan kerendahan hati,penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat dan menambah ilmu bagi kita semua.
Medan, Juni 2019 Penulis
Nama :Hilwa Zulmi Nim : 140706018
UCAPAN TERIMAKASIH
Pertama sekali penulis mengucapkan syukur dan terimakasi kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan penulis hidup yang indah dan mencoba berari kepada sesama ciptaan-Nya. Skripsi ini juga tidak akan pernah selesai tanpa bantuan baik moril ataupun materil, semangat, dorongan, motivasi dar berbagai pihak. Untuk itu, dengan menyucapkan syukur penulis mengucapkan terimakasih yang sangat mendalam kepada orang-orang yang berjasa dalam penulisan skripsi ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada
1. Bapak Dr.Budi Agustono,M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan para Wakil Dekan, beserta seluruh Staf dan pegawai di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs.Edi Sumarno,M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara beserta ibu Dra. Nina Karina Purba,MSP.selaku sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah yang telah membantu lancarnya penulisan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Wara Sinuhaji,M.Hum. selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing penulis serta selalu memberi bantuan,masukan,dan doa kepada penulis sejak masa proposal skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsinya dengan baik.
4. Seluruh staf pengajar di Program Studi Ilmu Sejarah, yang telah banyak memberi bimbingan, pengetahuan, pengalaman, pendidikan dan pencerahan selama penulis menjadi mahasiswa. Tidak lupa juga pada staf administrasi
Program Studi Ilmu Sejarah, Bang Ampera yang telah banyak membantu penulis selama penulis menjadi mahasiswa.
5. Kepada bapak/ibu serta seluruh staf Pertamina, Arsip dan warga Pangkalan Brandan terimakasih telah memebrikan penulis sumber data untuk mendukung skripsi ini menjadi valid.
6. Sumber semangat penulis yaitu keluarga penulis, Ayahanda Zulkarnain dan ibunda Misna Suri yang telah membimbing, mendidik, membesarkan dan memberikan penulis segenap kasih sayang yang tulus dari awal penulis menghirup udara, hingga mencapai proses akhir perkuliahan. Kepada kedua orang tua kedua penulis Ayahanda Armi Yetlin dan ibunda Zulmainar saya ucapkan banyak terimakasih atas dukungannya selama masa perkuliahan dan pengerjaan skripsi ini.
7. Kepada Mas Gaek’s penulis ucapkan terimaksih atas dukungan dan telah menemani serta memberi semangat dan kasih sayang selama penulis menjalankan penulisan skripsi ini.
8. Kepada Manis manja, rekan juang, sahabat, tematcurhat, mulai dari smester 1 sampai akhir walaupun mereka tamat terlebih dahulu, terimakasih atas kesetiaan kalian dalam membimbing penulis hingga selesai mengerjakan penulisan skripsi ini (Santet, Gultom, Tikot, Serik)
9. Rekan, teman dan keluarga penulis semua teman-teman yang membantu selama menjadi mahasiswa, Stambuk 2014 meledak meletus yang sangat istimewa bagi penulis: Roni dan Rimhot terimakasih penulis ucapakan atas
penulis, Fauzi, terimakasih udah jadi apara yang mengerti selama beberapa semester ini, Delfi, terimakasih banyak atas bantuanmu terhadap penulis selama melakukan penelitian ke jakarta yang selalu setia menemani hingga kembali lagi ke medan. rici, habibi terimakasih banyak yang selalu setia mengantar jemput penulis selama masa perkuliahan/mahasiswa, yang banyak membantu mulai dari awal menjadi mahasiswa hingga sampai berakhir. Serta rekan lain yang tidak bisa disebut satu persatu namanya,yang selalu menunjukan kebersamaa baik di lingkungan kampus maupun diluar kampus yang sangat melekat dalam hati penulis,serta seluruh suka maupun duka yang kita lewati bersaa semakin mempererat kekeluargaan kita. Kita membuktikan bahwa kita bukan hanya teman karena perkuliahan. Setiap tawa dan airmata tidak akan pernah terlupakan dan akan selalu diukir penulis dalam hati.
Terkhususnya penulis mengucapkan terimakasi kepada Winda, Riri, Tika yang selalu membantu penulis dalam hal apapun baik yang kecil maupun yang besar. Kalian selalu mendapat tempat khusus di hati penulis.
10. Keluarga Besar Sejarah USU, senior Iwan Tobing, Roy Harianto Sitorus, yang telah banyak memberikan arahan, masukan, bantuan, bimbingan hingga semangat bagi penulis hingga penulis dapat mengerjakan skripsi sejauh ini.
11. Rekan juang GMNI Fakultas Ilmu Budaya, Bung Ikhsan, Bung Roni, Bung Maruli, terimakasih sudah mau bersama-sama mnjadi satu kepengurusan bersama penulis hingga banyak mengalami perihnya demi mebangun organisasi yang baik, serta kepada para perintis dari awal hingga meresakan
pandang kepada Bung Daniel, Bung Roy, Bung Jacob, Bung Wilson, Bung Fenrico, penulis ucapkan terimakasih banyak sudah mau menjadi Sarinah pertama yang membimbing kami sampai sekarang ialah Sarinah Isti Julianti.
Dan terimakashi juga kepada Bung dan Sarianh Sejajaran Kota Medan, yang telah setia sampai akhir memperjuangkan marhaenisme secara bersama-sama, dan terimakasih atas kepengurusan priode 2019-2020, Bung Vren, Sarinah Juli, Bung Crist, Sarinah Oki, Sarinah Winda. Dan terimakasih kepada dua Bung yang paling penulis sayang selama penulis ber-GMNI Bung Fathur dan Bung Bristone.
12. Yang selalu mengerti keadaan penulis dan selalu mau mendengarkan kelu kesah penulis walaupun berbeda stambuk Ardiansyah Hasibuan, banyak kenangan yang dilewati walaupun mengenalmu baru, terimakasih sudah menjadi abang atau senior yang baik buat penulis, semoga abang selalu tenang dan damai disisinya.
13. Tak lupa pula kepada adek tersayang Aba’a, yang telah banyak membantu dan menghibur kalau penulis sedang sedih dan bete dan terimakasih atas pinjaman laptopnya.
14. Dan yang terakhir tak lupa penulis ucapkan beribu terimakasih kepada Selvi, Devi, Zika dan Agung. Selvi yang berbesar hati menampung penulis pertama kali menginjakkan ibu kota dan tinggal di rumahnya. Devi, yang selalu berbesar hati penulis repoti ketika di kosan, hingga sampai hal yang sekecilpun ia rela meminjamkan barangnya ke penulis padahal baru kenal.
pinjam selama satu bulan selama penelitian dan Agung yang selalu setia nemeni penulis membeli keperluan karena takut penulis kesasar di jakarta.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH ... ii
DAFTAR ISI ... vi
ABSTRAK ... viii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
1.5 Tinjauan Pustaka ... 8
1.6 Metode Penelitian ... 10
BAB II KOTA PANGKALAN BRANDAN SEBELUM KEMERDEKAAN 2.1 Sejarah Singkat Pangkalan Brandan ... 12
2.2 Letak Geografis dan Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan 2.2.1 Letak Geografis ... 34
2.2.2 Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan……... 35
BAB III KEBERADAAN PERTAMINA DI KOTA PANGKALAN BRANDAN
3.1 Gambaran Umum Daerah Pertamina Wilayah I Pangkalan Brandan ... 42
3.1.1 Daerah Penelitian ... 42
3.1.2 Struktur Organisasi ... 44
3.2 Latar Belakang Berdirinya Pertamina Wilayah I Pangkalan Brandan .... 49
3.3 Arti dan Keberadaan Pertamina Wilayah I Pangkalan Brandan ... 67 BAB IV PENGARUH PERTAMINA TERHADAP KOTA PANGKALAN BERANDAN 4.1. Faktor yang mempengaruhi perkembangan Kota Pangkalan Brandan 4.1.1. Faktor Internal ... 76
4.1.2 Faktor Eksternal ... 80
4.2. Faktor yang mempengaruhi kemunduran Pangkalan Brandan ... 83
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 86
5.2 Saran ... 89
DAFTAR PUSTAKA ... 91
DAFTAR INFORMAN ... 93
ABSTRAK
Skripsi ini meneliti tentang “PENGARUH PERTAMINA TERHADAP KOTA PANGKALAN BRANDAN (1947-2009)”, sebagai suatu Kota kecil yang memiliki beragam suku,agama dan ras.
Adapun penelitian ini menggunakan metode sejarah yang umum yaitu:
Heuristik, Sumber, Interpretasi, Historiografi dan juga menekankan tentang aspek manusia,temporal dan spasial.
Pangkalan Brandan merupakan sebuah kota kecil non administratif yang berada di Kabupaten Langkat bagian Utara, terletak di pesisir timur pantai Sumatera dan sekitar 60 km ke Utara Kota Binjai dan 82 km sebelah Utara Kota Medan. Kota Pangkalan Berandan sendiri terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Babalan, Kecamatan Berandan Barat, dan Kecamatan Sei Lepan. Dalam perjalanan sejarah pembangunan nasional, minyak bumi dan gas alam memiliki peran penting dan strategis. Selain menguasai hajat hidup orang banyak, migas juga merupakan sumber energi bagi kegiatan ekonomi nasional. Penemuan minyak di Telaga Said, Pangkalan Brandan tidak dapat dilepaskan dari peran Aeliko Janszoon Zijilker, Upaya pencarian sumber-sumber minyak bumi tidak berhenti di Telaga Said saja upaya pencarian sumur minyak merembet ke wilayah sekitar Pangkalan Brandan misalnya di Pangkalan Susu, Tamiang dan Nanggroe Aceh Darusalam. Kabar mengenai pertambangan minyak ini ternyata cepat menyebar ke berbagai pelosok dunia, sehingga banyak negara-negara terutama dari Eropa dan Amerika memiliki hasrat untuk mendapat bagian dalam pertambangan di Indonesia.
Peristiwa pembakaran dan peledakan Kilang Minyak dan Kota Pangkalan Brandan sebagai bentuk politik bumi hangus dari tentara dan laskar rakyat penduduk Pangkalan Bradan terhadap Agresi Militer 1 Belanda yang dilakukan pada tahun 1947. Akibat peristiwa tersebut terjadilah ledakan kilang minyak dan membumi hanguskan Kota Pangkalan Berandan. Setelah peristiwa pembumi hangusan ini terjadi banyak akibat yang terjadi mulai dari aksi penuntutan kelompok bangsa cina dan Belanda tidak pernah menduduki Kota Pangkalan Brandan.
Kata Kunci : Pengaruh, Pertamina, Pangkalan Brandan.
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang Masalah
Pangkalan Brandan1 merupakan sebuah kota kecil non administratif yang berada di Kabupaten Langkat bagian Utara, terletak di pesisir timur pantai Sumatera dan sekitar 60 km ke Utara Kota Binjai dan 82 km sebelah Utara Kota Medan. Kota Pangkalan Berandan sendiri terdiri dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Babalan, Kecamatan Berandan Barat, dan Kecamatan Sei Lepan.
Dalam perjalanan sejarah pembangunan nasional, minyak bumi dan gas alam memiliki peran penting dan strategis. Selain menguasai hajat hidup orang banyak, migas juga merupakan sumber energi bagi kegiatan ekonomi nasional.
Sejarah mencatat bahwa Kilang Minyak Pangkalan Brandan telah menorehkan Sumatera Utara sebagai Negara penambang minyak di Indonesia.
Tambang minyak di Pangkalan Brandan dikenal sebagai tambang minyak terbesar kedua di dunia setelah Pennsylvania, Amerika Serikat hingga tahun 1870-an, yaitu era sebelum penambangan minyak di Negara-negara Timur Tengah. Keberadaan kilang tersebut memiliki aspek historis terhadap lahirnya perusahaan Tambang
1Pangkalan Brandan merupakan ibu Kota dari Kecamatan Babalan, Kecamatan Sei-Lepan, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat Sumatera Utara. (Http://dinas pertambangan dan energi, Kab langkat.go.id – diakses pada 01-03-2018 -13:12)
Minyak Nasional (Pertamina) di Indonesia.2 Sumur – sumur minyak di kawasan ini juga telah menghantarkan Indonesia menjadi anggota Organization of Petroleum Eksporting Contrys (OPEC). Namun sejalan dengan merosostnya cadangan minyak, kawasan ini pun semakin terlupakan dalam sejarah. Awal pemburuan minyak bumi di Indonesia hanya selisih waktu dua belas tahun dengan peristiwa penting yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1859, ketika Colonel Edwin L Drake di Titusville, Pennsylvania, melakukan pemboran sumur minyak pertamanya. Pencarian tersebut dilakukan oleh Jan Reerink, yang kemudian tercatat sebagai orang pertama yang melakukan pemboran minyak bumi di Indonesia, tepatnya di kaki lereng Gunung Ceremai (Cibodas), Jawa Barat. Tapi sayang, usaha Reerink tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan. Empat sumur telah dibor, tapi hasilnya tidak komersial, walaupun di kawasan lereng Gunung Ceremai banyak terdapat rengkah-rengkahan tanah yang mengandung minyak (oil seepages).
Penemuan minyak di Telaga Said, Pangkalan Brandan tidak dapat dilepaskan dari peran Aeliko Janszoon Zijilker, yang bekerja menjadi inspektur perkebunan tembakau di Langkat. Ia adalah pindahan dari semarang yang setiap harinya melakukan pekerjaan untuk mengawasi tembakau di perkebunan Langkat yang menjadi wilayah kerajaan.
Upaya pencarian sumber-sumber minyak bumi tidak berhenti di Telaga Said saja upaya pencarian sumur minyak merembet ke wilayah sekitar Pangkalan Brandan
2Eron Damanik, dkk., Kilang Minyak Pangkalan Brandan. Medan: Pemerintah Provinsi Sumatera Utara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Museum Anak Negeri. 2011, hlm. 3.
misalnya di Pangkalan Susu, Tamiang dan Nanggroe sssAceh Darusalam. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila hampir seluruh wilayah Pangkalan Brandan hingga Pangkalan Susu menjadi areal Tambang Minyak bumi hingga zaman kolonial.
Kabar mengenai pertambangan minyak ini ternyata cepat menyebar ke berbagai pelosok dunia, sehingga banyak negara-negara terutama dari Eropa dan Amerika memiliki hasrat untuk mendapat bagian dalam pertambangan di Indonesia.
Kebijaksaan Pemerintah Hindia-Belanda yang berkaitan dengan kegiatan pencarian minyak bumi bertolak belakang dari Undang – Undang Pertambangan (Mijnwet) tahun 1899.3 Menurut Undang- Undang tersebut kegiatan di bidang ini dapat diberikan kepada suatu perusahaan minyak atas dasar sistem konsesis. Konsesus ini berlaku untuk jangka waktu 75 tahun, yang hasilnya setiap sore dipungut suatu pembayaran ditambah dengan satu persen pungutan lainnya yang berasal dari nilai yang dihasilkan4. Tentu Belanda berusaha agar semakin sedikit perusahaan asing yang mengeksploitasi sumber minyak di Indonesia.
Adanya pertambangan minyak di Pangkalan Brandan yang pada awalnya hanya satu sumur, telah berkembang menjadi puluhan sumur minyak yang ditambang oleh perusahaan maupun masyarakat. Hal ini mengakibatkan terjadi penyedotan tenaga kerja dalam jumlah besar, serta meningkatkan taraf ekonomi masyarakat yang
3 Humas Pertamina, Minyak Untuk Kemakmuran Rakyat. Jakarta: 1982, hlm.12.
4 Zarnis Maksum, Sejarah Berdirinya Pertamina Wilayah I Pangkalan Brandan (1957-1982), Skripsi, Medan: Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara 1993, hlm. 25
membuat perkembangan kota Pangkalan Brandan lebih maju daripada daerah di sekitarnya.
Peristiwa pembakaran dan peledakan Kilang Minyak dan Kota Pangkalan Brandan sebagai bentuk politik bumi hangus dari tentara dan laskar rakyat penduduk Pangkalan Bradan terhadap Agresi Militer 1 Belanda yang dilakukan pada tahun 1947. Akibat peristiwa tersebut terjadilah ledakan kilang minyak dan membumi hanguskan Kota Pangkalan Berandan. Namun sebelum peristiwa ini berlangsung, para penduduk telah terlebih dahulu diungsikan beberapa hari sebelumnya. Upaya ini berhasil menghentikan niat Belanda untuk menguasai kembali pertambangan minyak di Pangkalan Brandan pada tanggal 13 Agustus 1947.
Setelah peristiwa sepuluh tahun kemudian masyarakat mulai membangun kembali kota yang sudah hangus terbakar akibat peristiwa Brandan Bumi Hangus.
Namun, usaha menguasai sepenuhnya pertambangan minyak di Pangkalan Brandan mengalami banyak kendala,terutama belum adanya Peraturan resmi dari Pemerintah terkait pertambangan minyak, sehingga masih menggunakan perundang-undangan zaman Hindia-Belanda. Setelah melalui situasi politik yang sulit dan berat barulah akhirnya Pemerintah melakukan pengambilalihan pertambangan minyak dengan cara Nasionalisasi asset asing di Indonesia yang menyusul dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan UU tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi sehingga Undang – undang Belanda sebelumnya dinyatakan tidak berlaku.
Berdirinya Pertamina di Pangkalan Brandan sangat berpengaruh terhadap perkembangan Kota Pangkalan Brandan. Hal ini dilihat dari dibangunnya infrastruktur berupa komplek perumahan karyawan Pertamina di Pangkalan Brandan yang jumlahnya mencapai ribuan rumah, komplek olahraga lengkap, sekolah, dan penginapan. Perkembangan Pertamina tentu menyedot masyarakat ke Pangkalan Brandan sebagai tenaga kerja, dikarenakan upah karyawan Pertamina tergolong tinggi pada saat itu. Hal ini tentu memicu pertumbuhan ekonomi di Pangkalan Brandan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat yang semakin banyak dan berkaitan dengan kebutuhan para karyawan Pertamina.
Sejarah Pertambangan di Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari era kolonialisme. Meskipun disatu sisi kolonialisme itu memberikan dampak negatif terhadap negeri terjajah berupa eksploitasi ekonomi, budaya, politik ideology, maupun sosial. Namun disisi lain, era kolonialisme juga memberikan Indonesia dampak positif berupa aspek – aspek modernitas bangsa. Industri minyak yang paling gemilang di era penduduk Belanda di Indonesia bermula di Pangkalan Brandan adalah salah satu contohnya. Dampak positif seperti ini tidak jarang memberikan beberapa kontribusi yang dapat dinikmati oleh bangsa terjajah tersebut pasca kolonialisme berakhir.
Sejak berproduksi perdana tahun 1885 hingga tahun 2010, tambang minyak Pangkalan Brandan telah bereksplorasi selama 127 tahun. Sebuah waktu yang cukup relatif lama untuk sebuah eksploitasi sumber daya alam yang tidak dapat
diperbaharui. Kurun waktu yang lama tersebut telah memberikan sejumlah keuntungan yang tidak sedikit bagi Belanda, Jepang serta Sekutu (sebelum nasionalisasi) dan bagi bangsa Indonesia (pasca nasionalisasi).
Kini Pangkalan Brandan seolah – olah menjadi kota mati. Bangunan – bangunan yang menandai era kejayaan minyak di Brandan itu sudah tidak terurus.
Sumur – sumur minyak yang terdapat di Telaga Said ditinggalkan begitu saja. Pipa – pipa penyalur minyak dari Telaga Said menuju kilang minyak di Pangkalan Brandan pun dibiarkan begitu saja. Berbagai fasilitas yang di bangun sewaktu kegemilangan minyak bumi di Pangkalan Brandan seperti lapangan olah raga, perumahan karyawan, rumah sakit, bengkel, sekolah, kolam renang dan lain sebagainya dalam kondisi yang memprihatinkan. Demikian pula kilang – kilang minyak yang terluas di Pangkalan Brandan yang menjadi saksi bisu kegemilangan itu, separuh diantaranya berada dalam kondisi terlantar. Hal ini dikarenakan Pertamina secara resmi telah berhenti beroperasi di Pangkalan Brandan pada tahun 2006 sehingga mengakibatkan berhentinya seluruh aktivitas penambangan minyak di kawasan itu.
Alasan peneliti memilih hal ini menjadi topik kajian adalah karena belum pernah ada sejarawan yang fokus menuliskan tentang bagaimana perjalanan sejarah Pangkalan Brandan,terutama dampak pertambangan minyak dalam perkembangan kota di Indonesia serta menjadi berita hangat yang banyak menjadi wacana masyarakat.
Dari uraian di atas, skripsi ini diberi judul “Pengaruh Pertamina Terhadap Kota Pangkalan Brandan (1947–2009)” Periode waktu yang dipilih dalam penelitian ini adalah 1947 hingga 2009, karena tahun 1947 adalah peristiwa ledakan pertambangan minyak dan pembakaran Pangkalan Bradan sebagai reaksi perlawanan dikuasainya Pangkalan Brandan dalam operasi Agresi Militer I Belanda. Alasan penulis membatasi hingga tahun 2006 adalah karena tahun 2006 adalah masa Pertamina mengakhiri aktivitas penambangan minyak di Pangkalan Brandan yang mengakibatkan perpindahan pekerja secara besar-besaran yang berakhir pada tahun 2009.
1. 2 Rumusan Masalah
Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana periode awal sumur minyak yang ada di Pangkalan Brandan ? 2. Bagaimana pengelolaan sumur minyak sebelum era kemerdekaan di
Pangkalan Brandan?
3. Bagaimana pengaruh Pertamina terhadap Kota Pangkalan Brandan?
1. 3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan dan manfaat yang penting tentunya, bukan hanya bagi peneliti tetapi juga bagi masyarakat umum. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan tentang:
1. Menjelaskan periode awal sumur minyak yang ada di Pangkalan Brandan 2. Menjelaskan pengelolaan sumur minyak sebelum era kemerdekaan di
Pangkalan Brandan
3. Menjelaskan pengaruh keberadaan Pertamina terhadap Kota Pangkalan Brandan
1. 4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menambah referensi dan khasanah kajian historiografi Sejarah perkembangan Pangakalan Brandan sebagai kota pertambangan minyak pertama di Indonesia. Bagi masyarakat umum, penelitian ini dapat memberi pengetahuan baru tentang pertambangan bukan hanya sebagai sumber pendapatan Negara, tapi juga mendorong perkembangan daerah.
2. Agar masyarakat tau bagaimana perkembangan pertambangan minyak tradisional menuju Pertamina untuk pertama kalinya.
3. Aspek praktis yang mungkin diharapkan dari penelitian ini adalah timbulnya pengetahuan baru bagi masyarakat bahwa Indonesia mengenai sejarah pedesaan dan perkotaan.
1. 5 Tinjauan Pustaka
Pangkalan Brandan secara khusus pertambangan minyaknya di Sumatera Utara telah disinggung dalam beberapa tulisan, baik berupa skripsi, disertasi, maupun
buku. Namun dalam tulisan-tulisan tersebut menjelaskan hanya sekilas tentang pasca peristiwa bumi hangus.
Ulasan rinci tentang awal dimulainya penambangan minyak bumi terdapat dalam karya "Anderson G. Bartlett dkk, PERTAMINA: Perusahaan MinyakNasional, terjemahan. Mara Karma".Karya Anderson G. Barlet ini merupakan karya yang monumental dan menjadi rujukan utama untuk memahami awal mula ditemukannya dan bagaimana Belanda meminta konsesi terhadap Sultan Langkat. Ulasan yang dicakup di dalamnya meliput latar belakang Aeilko J. Zijlke rmeminta konsesi terhadap Sultan Langkat. Kajian Anderson seluruhnya mencakup perkembangan Pertambangan minyak Telaga Said. Periode yang dicakupnya juga mencakup Awal mula Ziljker menemukan sumber minyak dan meminta konsesi kepada Sultan Musa sampai Pertamina menjadi milik Republik Indonesia.
Buku kedua adalah buku karya “Hadi Wardoyo dkk, Dari Pangkalan Brandan Migas Indonesia mendunia. Transformasi ke non Migas di Pangkalan Brandan suatu Keniscayaan Penerbit Petrominer 2013”. Buku ini menjelaskan tentang bagaimana dari Kota Pangkalan Brandan minyak di Indonesia dapat di eksport ke berbagai belahan dunia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi industry dan kendaraan. Buku ini juga mengulas bagaimana ketergantungan masyarakat terhadap sector migas di Pangkalan Brandan yang sangat sulit dilepaskan serta tidak adanya alternatif lain selain migas di Pangkalan Brandan. Buku yang berisi 374 halaman ini sangat membantu penulis dalam memahami masalah yang saya tulis dalam penulisan skripsi ini.
Selanjutnya adalah buku “Erond Damanik dkk, Kilang Minyak Pangkalan Brandan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Medan 2011”. Buku ini menjelaskan tentang Pangkalan Brandan sebagai titik awal eksplorasi minyak bumi secara komersial di Indonesia. Dijelaskan juga bagaimana awal penemuan dan proses awal penambangan minyak di Telaga Said serta kendala beserta foto bukti-bukti penambangan. Selain itu buku ini juga menjelaskan bagaimana usaha rencana menasionalisasi Pertambangan Minyak agar dikuasai oleh Negara.
1. 6 Metode Penelitian
Penelitian yang akan saya lakukan adalah sebuah penelitian sejarah yang menekankan pada aspek manusia, temporal, dan spasial. Oleh karena itu penelitian ini akan menggunakan metode sejarah. Yang dimaksud dengan metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau5. Metode sejarah berisi tahapan yang harus dilalui untuk menghasilkan sebuah tulisan sejarah. Tahapan-tahapan tersebut adalah heuristik, kritik, intepretasi, dan historiografi.
Tahap pertama adalah heuristik. Secara sederhana heuristik berarti proses pengumpulan sumber – sumber historis yang berkaitan dengan topik penelitian.
Dalam kaitannya dengan hal ini, peneliti akan melakukan studi arsip dan studi
5 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terjemahan Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985, hlm. 39.
pustaka. Selain sumber primer, peneliti akan mengumpulkan sumber sekunder melalui studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan sumber-sumber yang berhubungan dengan topik penelitian ini baik dalam bentuk buku, skripsi, tesis, disertasi, jurnal dan lainnya. Untuk mengumpulkan sumber pustaka penulis mengunjungi Arsip Nasional Republik Indonesia, Kantor Pusat Pertamina di Jakarta, Badan Pusat Statistik dan beberapa perpustakaan yakni, Perpustakaan Pertamina, Perpustakaan Pemerintah Kabupaten Langkat, Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Daerah Sumatera Utara dan Perpustakaan Tengku Lukman Sinar, dan Perpustakaan Nasional. Dalam penelitian lapangan yang telah dilakukan, penulis mengunakan metode interview guide. Interview guide adalah panduan atau pedoman bagi penulis dalam melakukan wawancara, yang pertanyaan-pertanyaan tersebut telah disiapkan dan disusun oleh penulis. Wawancara yang dilakukan ditujukan kepada informan yang berhubungan dengan topik penelitian.
Setelah mendapatkan sumber – sumber yang diinginkan, maka tahap selanjutnya adalah melakukan kritik terhadap sumber. Pada tahap ini, sumber-sumber relevan yang telah diperoleh diverifikasi kembali untuk mengetahui keabsahannya6. Oleh karena itu perlu dilakukan kritik, baik kritik eksteren maupun interen. Kritik eksteren mencakup seleksi dokumen. Apakah dokumen tersebut Perlu digunakan atau tidak dalam penelitian. Kemudian juga menyoroti tampilan fisik dokumen, mulai dari
6 Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995, hlm.
99
ejaan yang digunakan, jenis kertas, stempel, atau apakah dokumen tersebut telah dirubah atau masih orisinil.
Tahap selanjutnya adalah intepretasi. Intepretasi merupakan penafsiran- penafsiran terhadap sumber – sumber yang telah dikritik. Dalam tahap ini, peneliti akan melakukan analisa dan sintesa. Analisa berarti menguraikan. Dari proses analisa akan diperoleh fakta-fakta. Kemudian data – data yang telah diperoleh disintesakan sehingga mendapat sebuah kesimpulan7.
Tahap terakhir dari penelitian sejarah adalah historiografi, yang merupakan proses penulisan fakta – fakta yang telah diperoleh secara kronologis dan kritis–
analitis. Penulisan tersebut akan dituangkan dalam bentuk skripsi yang berpedoman pada outline yang telah dirancang sebelumnya.
7Ibid., hlm. 100.
BAB II
KOTA PANGKALAN BRANDAN SEBELUM KEMERDEKAAN
2. 1 Sejarah Singkat Pangkalan Brandan
Pangkalan Brandan8 merupakan Ibu Kota Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat,Provinsi Sumatera Utara. Jarak dari Medan sebagai Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara adalah 82 km atau 43 km dari Stabat sebagai Ibu Kota Kabupaten Langkat, kota ini terdiri dari empat kelurahan yaitu : kelurahan alur dua, Kelurahan Brandan Barat, Kelurahan Brandan Timur,dan Kelurahan Sungai Bilah. Pangkalan Brandan berbatas sebagai berikut :
1. Sebelah Utara dengan Desa Sicurai.
2. Sebelah Selatan dengan Desa Perlis.
3. Sebelah Timur dengan Desa Pelawi.
4. Sebelah Barat dengan Desa Neku.
Luas wilayah Kota Pangkalan Brandan adalah 411,07 km persegi. Wilayah Kota ini terdiri dari dataran rendah seluas 50% , rawa-rawa 20% dan 30% lainnya adalah dataran yang berbukit-bukit.
Mata pencaharian penduduknya adalah bertani, nelayan, karyawan swasta, pegawai negeri/ABRI, karyawan Pertamina dan lain-lainnya.
8 Karl J. Pelzer, Toean Keboen dan Petani-Politik Kolonial - Perjuangan Agraria di Sumatera Timur, Indonesia Sinar Harapan: 1985, hlm-156.
Penduduk Kota Pangkalan Brandan sampai dengan bulan Agustus 1986 berjumlah 12.090 jiwa, sementara jumlah penduduk pada masa perjuangan kemerdekaan antara tahun 1945-1949 tidak diperoleh data-datanya, namun demikian untuk mendapatkan suatu gambaran tentang penduduk daerah ini, dikemukakan jumlah penduduk daerah Langkat ketika Pangkalan Brandan termasuk Afdeling Langkat yang terletak di Langkat Hilir. Pada tahun 1930 jumlah penduduk daerah Langkat adalah 254.000 jiwa dan pada tahun 1943 penduduknya berjumlah 279.000 jiwa. Kota Pangkalan Brandan tumbuh dan berkembang secara bertahap sesuai dengan adanya perkembangan kegiatan penduduk yang berada di dalam maupun di luar wilayahnya.
Nama Kota Pangkalan Brandan adalah nama yang tak terlepas dari perkembangan masyarakat. Semula Kota itu bernama “Tangkahan Pandan Berduri”, yang terletak 3 km di sebelah Barat Pangkalan Brandan sekarang. Tempat tersebut merupakan salah satu pusat kegiatan masyarakat pantai dalam aktifitas ekonomi yaitu perdagangan antar kampung dan antar negeri. Sebutan “Tangkahan”, karena di tempat itu merupakan tempat untuk menambatkan perahu-perahu para pedagang yang berlabuh, sedangkan sebutan “Pandan Berduri” adalah nama sejenis tumbuhan yang terdapat di sekitarnya. Kurang jelas diketahui sejak kapan sebutan
“Tangkahan” tersebut mulai berkembang sebagai mana banyak juga terdapat nama tempat yang mempunyai kata “Tangkahan” seperti tangkahan serai, tangkahan durian, tangkahan legan,dan sebagiannya. Nama kesemuanya tidak seharum nama
Tangkahan Pandan Berduri. Namun pertemuan di antara para pedagang di tempat itu sudah berlangsung sejak lama, mereka melakukan tukar-menukar barang. Hasil utama dari Tangkahan Pandan Berduri adalah tikar yang dianyam terbuat dari daun pandan tersebut. Sementara daerah-daerah lain menjual barang-barang untuk kebutuhan-kebutuhan setempat.
Penduduk Tangkahan Pandan Berduri 9sejak lama sudah menggunakan minyak sebagai bahan bakar alat penerangan. Kemudian datang seorang bangsa Belanda bernama Van Huy Gen pada abad ke-17. Kedatangannya merupakan awal Era baru bagi perkembangan kegiatan masyarakat di tempat tersebut. Minyak sebagai bahan bakar yang menimbulkan kebakaran (Brand) kemudian jadi terkenal ke Daerah, lalu orang Belanda menyebut minyak itu dengan sebutan Brand yang artinya
“Sumber Ke Bakaran”, semantara itu kata “Tangkahan” berubah menjadi
“Pangkalan” yang artinya tidak berbeda dengan Tangkahan. Selanjutnya timbul ucapan “Pangkalan Brandan” kata yang terakhir berasal dari dua kata dan dua bahasa yaitu “Brand” dari bahasa Belanda dan “Pandan” dari bahasa Melayu.
Perpaduan kedua kata ini disebabkan adanya pengaruh pengucapan yang akhirnya menjadi terbiasa.
Pangkalan Brandan memang di kenal sebagai Kota minyak, minyak sebagai bahan bakar tersebut sudah ditulis oleh seorang Belanda bernama Jan Huygen dalam
9 Tengku Lucman Sinar, Sejak zaman ke-17 pelawat dan penulis Belanda Jan Huygen Van Lindschotan telah mencatat adanya minyak tanah di wilayah ini, Tengku Lucman Sinar, harian Waspada, Selasa 10 Maret 1981
kisah perjalanannya. Kemudian seorang Belanda10 lainnya Aielko Jan Zijilker berhasil membuka pertambangan minyak pertama di daerah ini menjelang akhir abad ke-19. 11
Pada mulanya Zijilker menemui hambatan didalam hal pembukaan pertambangan minyak tersebut seperti sering terjadinya banjir,disamping kekurangan tenaga kerja karena penduduk yang berada di Daerah Teluk Haru enggan bekerja dengan orang Asing. Selain itu terjadinya wabah penyakit serta kurangnya dana untuk modal kerja. Namun hal ini tidak membuat zijiker menjadi patah semangat di dalam usaha mendirikan pertambangan minyak pada tahun 1883 ia menemukan sebuah sumur minyak di Telaga Tiga yang sebelumnya telah menjumpai sumber minyak yang banyak di manfaat-kan penduduk. Dua tahun kemudian tepatnya pada tanggal 15 Juni 1885 di temukan pula sumur minyak di Telaga Sunggal.
Sementara itu untuk meningkatkan usahanya Zijilker dihadapan pada masalah modal, oleh sebab itu pula pihak kerajaan Langkat sering membebaskan dari pembayaran pajak tanah setiap akhir tahun, untuk mendukung usahanya lalu pemerintahan Hindia Belanda meminjamkan sejumlah perlengkapannya dan tenaga ahli pengeboran guna mendapatkan minyak. Meskipun demikian ia masih membutuhkan sejumlah uang yaitu untuk mendirikan pabrik penyaringan pipa-pipa
10 Belanda terus bermaksud untuk menggenggam Indonesia. Mereka melakukan siasat perjuangan yang rapi teratur yang dapat mengikat dan mengalahkan Republik sektor demi sektor, sambil memperoleh jaminan bahwa perang gerilianya rakyat tidak akan meletus secara umum dan luas, Lihat:(A.H. Nasution,IV,1978,hlm-273).
11 Anderson G.Barlet III dkk, “Pertamina Indonesia National Oil”,1972,hlm-43
dan tangki-tangki minyak. Peralatan ini untuk mengalirkan minyak mentah dari sumber – sumber minyak ke pabrik maupun ketempat-tempat penjualan. Disamping itu juga untuk membangun instalasi-instalasi minyak di beberapa tempat sebagai sarana untuk memperbesar tempat penyimpanan minyak. Untuk itu ia pun membentuk organisasi penjualan diluar daerah produksi guna menangani pengeksporan minyak. Sementara tantangan yang di hadapi Zijiliker bertambah pula dengan terbakarnya sumur minyak di Telaga Tunggal pada tahun 1888. Untuk mengatasi masalah tersebut, baru pada tahun 1890 Zijiliker berhasil menghubungi beberapa pemilik modal yang bersedia menanamkan sahamnya di pertambangan yang dikelolanya itu. Para pemilik modal tersebut berasal dari Negeri Belanda termasuk pula Raja Belanda sebagai pemilik sahamnya12.
Sejak tahun 189013 Pangkalan Brandan dikenal sebagai tempat eksplorasi minyak. Tempat ini merupakan pusat kerja pertambangan dan penyulingan minyak.
Kemudian Pangkalan Brandan menjadi pusat kedudukan pimpinan pertambangan yang mengantur jalannya roda produksi dan pemasaran minyak ke berbagai tempat.
12 Pada tanggal 16 Juni 1890 terbentuklah perusahaan baru yang bernama “Koninklijke Nederlandsche Mmaatschappij Tot Exploitie Van Petro Leum Bronnen in Nederlandsch Indie”,karena adanya saham pribadi raja Belanda masuk dari sini (Tengku Luckman Sinar-1981, hlm-76).
Sumur – sumur minyak kemudian di temukan di beberapa tempat sekitar Teluk Haru. Pelabuhan terpenting adalah Pangkalan Susu dimana minyak dialirkan melalui pipa ke Pangkalan Brandan14.
Perusahaan tambang minyak pemerintah Belanda di Pangkalan Brandan semakin berkembang. Pada tahun 1907, Royal Dutch meningkatkan negoisasi modal dengan sebuah perusahaan tambang minyak Amerika yaitu Shell Transport and Trading Company. Dari penggabungan dua perusahaan ini dibentuklah Bataafsche Petroleum Maatschaappij (BPM) dengan modal sebesar f 80.000.000,- perusahaan BPM semakin hari semakin meningkat hasilnya. Pada tahun 1920 modalnya sudah mencapai f 300.000.000 (tiga ratus juta gulden) yang terdiri dari modal pemerintah Royal Ducht sebesar f 180.000.000 dan modal Shell f 120,000,000. Peningkatan modal itu diperoleh dari keuntungan-keuntungan perusahaan diantaranya ekspor minyak mentah yang mencapai nilai f 35.400.000.000, dalam tahun 1981. Ekspor itu 35.3% dari nilai ekspor Sumatera Timur seluruhnya dalam tahun yang sama.
Perkembangan perusahaan tambang minyak BPM sampai tahun 1942 menunjukkan peningkatan. Hal itu terlihat dengan dibangunnya pabrik penyulingan pada tahun 1927. Pada tahun 1930 selesai dibangun pabrik penyulingan minyak hingga tingkat trombel yaitu penghasilan bensin yang kurang baik mutunya.
Menjelang pecahnya perang dunia ke-II kapasitas pabrik penyulingan Pangkalan
14 Anderson G. Barlet,dkk., Pertamina Indonesia National Oil. Singapoer:Amerisian Ltd:
1971, hlm-44).
Brandan di tingkatkan dengan membangun instalasi penyulingan minyak dengan bangunan setinggi kurang lebih 10 meter yang di kenal dengan nama Pretoping,instalasi tersebut selesai di bangun pada tahun 1940. Dengan berfungsinya instalasi tersebut pabrik penyulingan Pangkalan Brandan dapat menghasilkan segala jenis minyak mulai dari Residu, Minyak Diesel, Minyak Pelumas, Solar Berat, Solar Ringan Kerosin, Bensin Berat, Bensin Ringan, Penton, Butan dan Propan.
Ketika pasukan Belanda akan mengundurkan diri ke Tanah Alas karena tidak sanggup lagi menahan serangan tentara jepang di dataran rendah, komples perusahaan tambang minyak Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu terutama pabrik penyulingan minyaknya di bumi hanguskan oleh pasukan-pasukan Belanda pada tanggal 9 Maret 1942. Jepang yang membutuhkan minyak dengan cepat merehabilitasi perusahaan tambang minyak yang mengalami kerusakan itu. Jepang mengerahkan para ahlinya yang berpengalaman serta membawa peralatan dan suku cadang yang memang sudah di persiapkan semenjak semula dari negerinya. Dalam waktu yang singkat pabrik minyak itu sudah berfungsi kembali seperti sediakala.15
Peralihan pemilikan perusahaan minyak dari pihak Belanda kepada Jepang merupakan era baru bagi pertambangan minyak di Indonesia yakni dengan ikut sertanya bangsa Indonesia dalam pimpinan perusahaan. Dalam hal ini S.H Sapardan kemudin menjabat kepala bidang administrasi. Sebelumnya ia adalah pegawai
15 Hasan Basri ZT, Pangkalan Brandan di Bumi Hanguskan, Medan:Badan Musyawarah Perjuangan Republik Indonesia, 1983, hlm, 11-12.
menengah biasa administrasi di perusahaan tambang minyak Plaju. Dengan demikian bangsa Indonesia sudah di percayakan memegang jabatan penting di perusahaan tambang minyak. Dari sanalah bangsa Indonesia dapat belajar bagaimana bertanggung jawab mengelola usaha pertambangan minyak.
Sementara itu Jepang terus mendesak di seluruh medan perang pasifik. Pada tanggal 14 januari 1945 komplek perusahaan tambang minyak Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu berhasil di bom oleh angkatan udara sekutu sehingga instalasi tambang minyak tersebut mengalami kerusakan berat16.
Pada tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyatakan kalah perang pada sekutu.
Indonesia pun menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka dengan berkumandangnya proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945. Di Sumatera Timur proklamasi kemerdekaan secara resmi di nyatakan pada tanggal 30 September 1945 di gedung Taman Siswa jalan Amplas Medan.
Sebelum tentara sekutu mendarat di Sumatera Timur pada Tanggal 10 Oktober 1945 pemerintahan Indonesia sudah berkuasa secara Defenitif sehingga sekutu tidak sempat mengambil alih perusahaan tambang minyak.
Namun pihak Indonesia tidak dapat menguasai tambang minyak tersebut karena tentara Jeapang meskipun telah kalah perang masih tetap mempertahankan dan mengawasi tambang minyak itu atas perintah Sekutu. Pemerintah RI melalui
16 Ibid., hlm,11-12
Komite Nasional Indonesia (KNI) Teluk Haru yang didukung oleh barisan pemuda tambang minyak Pangkalan Brandan mendesak pihak Jepang pada tanggal 4 Oktober 1945 supaya menyerahkan perusahaan tersebut,namun tidak dikabulkan. Akibatnya pada dini hari tanggal 8 Oktober 1945 sekelompok kecil anggota Barisan Pemuda Indonesia (BPI) Tambang Minyak dngan membawa bendera merah-putih menerobos pengawalan tentara Jepang. Mereka memanjat tangga instalsi minyak dan mengibarkan bendera merah-putih. Pada saat sangsaka merah-putih di puncak instalasi penyulingan mulai berkibar, kemudian BPI Tambang Minyak dengan di dukung oleh segenap pegawai tambang minyak yang berbangsa Indonesia tidak mau lagi menjalankan perintah-perintah Jepang, sebaliknya mereka tetap menduduki dan menguasai seluruh pos dan jabatan-jabatan dalam perushaan tersebut.
Usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintahan RI untuk menguasai pabrik minyak itu untuk sementara tidak berhasil karena pihak Jepang tidak mengijinkan pengambilalihannya. Akibatnya selama beberapa bulan keadaan perusahaan menjadi tidak menentu,para pekerja tidak menjalankan tugasnya. Tetapi masih menduduki pos dengan maksud supaya perusahaan tersebut tidak terlepas lagi dari bangsa Indonesia. Gaji mereka pun tidak di bayar lagi oleh pihak Jepang karena pabrik minyak tidak berproduksi lagi. Persediaan minyak masih ada yang belum di pasarkan menjadi rebutan antara pihak pemerintah RI dengan Jepang.
Para pekerja bangsa Indonesia memang sudah bertekad tidak bersedia lagi bekerja di bawah kekuasaan Jepang. Keputusan itu dinyatakan sejak adanya delegasi
para pekerja pabrik minyak dan juga laskar rakyat sewaktu menemui pimpinan tentara Jepang di kompleks perusahaan minyak tersebut.
Akibatnya para pekerja tidak menentu hidupnya. Mereka mengalami penderitaan karena kesulitan pangan, di antaranya ada yang mulai berusaha dengan berjualan secara kecil-kecilan atau berladang maupun mengerjakan pekerjaan lain yang dapat menghasilkan uang. Namun masih banyak lagi yang tidak dapat melakukan pekerjaan lain dan hanya berdiam diri sehingga masa-masa yang tidak menentu ini merupakan saat yang kritis17.
Tentara Jepang ternyata hanya menguasai pabrik Pangkalan Brandan, sedangakn sumur-sumur minyak lainnya terdapat dua tempat yang utama yang menghasilkan minyak tanpa melalui penyulingan yaitu Telaga 49 di Lubuk Kertang dan Paluh Tabuhan. Minyak yang di sedot dari dalam tanah langsung dapat di pergunakan untuk kendaraan bermotor. Dari tempat ini minyak di jual ke berbagai tempat lainnya di Sumatera Timur. Kegiatan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok buruh tambang minyak yang ber-tugas di Telaga tersebut di bawah pimpinan mandor Karsani dan Hamdani,mereka berhasil menguasai pemompaan minyak mentah dari Telaga tersebut lalu dikemas dalam drum-drum sehingga merupakan suatu usaha produksi minyak bumi secara kecil-kecilan. Usaha ini lalu di atur oleh sekretaris KNI Wilayah Teluk Haru (Aminudin Nasir). Kemudian penyaluran minyak mentah ini
17 A.H. Nasution, IV,1973, hlm-273. Belanda terus bermaksud untuk tetap menggenggam Indonesia, mereka melakukan siasat perjuangan yang rapi dan teratur yang dapat mengikat dan dapat mengalahkan republik sektor demi sektor.
pemasarannya dilakukan oleh ERRI/ENRI(Ekonomi Rakyat Republik Indonesia/Ekonomi Negara Republik Indonesia). Hasil penjualannya di pergunakan untuk membiayai hidup para buruh yang bekerja di telaga 49 itu dan untuk menutup sebagian dari biaya yang di butuhkan badan-badan pemerintah dan badan-badan pejuang senjata yang berada di kawasan Teluk Haru.
Meskipun Telaga 49 telah membantu usaha RI dalam pengadaan dana untuk perjuangan,namun usaha untuk memiliki pabrik minyak pangkalan Berandan terus di perjuangankan. Memasuki bulan juni 1946 terjadi suatu perubahan berdasarkan keputusan sekutu yaitu seluruh tentara Jepang yang telah di peralat oleh sekutu untuk membantu pihak Belanda dalam usaha pengambilalihan tambang minyak di pulangkan ke negerinya. Tentara Inggris sendiri tidak dapat menguasai tambang minyak itu karena mereka tidak dapat memasuki daerah Langkat. Mereka Terkurung di Medan Area sejak Mei 1946,akibatnya suasana Medan Area semakin panas sejak kedatangannya yang menyebabkan timbulnya pertentangan-pertentangan dengan tentara dan laskar-laskar rakyat.
Pada tanggal 13 Juni 1946 pimpinan tentara Sekutu di Medan mengeluarkan pernyataan agar menyerahkan secara resmi penguasaan tambang minyak Pangkalan Berandan kepada Gubernur Symatera yang berkedudukan di Pematang Siantar.
Gubernur Sumatera menyampaikan keputusan pihak Sekutu tersebut kepada Bupati Langkat,ketua KNI Wilayah Teluk Haru dan Wedana Teluk Haru yang berkedudukan di Pangkalan Berandan. Gubernur T.M. Hasan mengintruksikan agar wakil-wakil
pihak Sekutu di terima dengan baik serta menerima penyerahaan penguasaan atas perusahaan tambang minyak. Oleh para pimpinan RI di Pangkalan Berandan ,instruksi Gubernur itu lalu dirundingkan. Hadir dalam rapat Bupati Langkat,Wedana Teluk Haru,Ketua KNI Teluk Haru dan Komandan Keamanan Wilayah Teluk Haru,rapat mengambil keputusan sebagai berikut :
1. Serah terima perusahaan tambang minyak Pangkalan Berandan oleh Sekutu kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia akan dilaksanakan dengan sebaik mungkin.
2. Kedatangan wakil-wakil Sekutu ke pangkalan Beranfan untuk maksud tersebut di atas akan di terima dengan baik,dan keselamatan mereka akan di jamin sepenuhnya dengan ketentuan sebagai berikut :
a) Mereka tidak diperbolehkan datang ke Pangkalan Berandan melalui darat akan tetapi harus melalui laut dengan menumpang kapal laut.
b) Mereka tidak diperkenankan memeriksa kompleks perusahaan tambang minyak dan demikian pula tidak di perkenankan memasuki serta meninjau Kota Pangkalan Berandan.
Syarat-syarat yang diajukan oleh pemerintahan RI di Teluk Haru ternyata di terima oleh pihak Sekutu.
Upacara serah terima berlangsung pada tanggal 17 Juni 1946 di Pangkalan Berandan oleh pihak Inggris atas nama Sekutu. Sebelumnya pada pagi hari pukul
10.00 WIB sebuah kapal pengawal pantai berukuran kecil yang berbendera kerajaan Inggris memasuki muara sungai Babalan dan kemudian berlabuh di dermaga milik perusahaan tambang minyak. Wakil-wakil tentara Inggris beserta wakil-wakil dari pemerintahan Propinsi Sumatera yang terdiri dari Residen yang di perbantukan pada Residen Sumatera Timur,Abdul Xarim MS dan Residen Sumatera Timur Mr.Luat Siregarturun dari kapal. Rombongan di sambut oleh Bupati Langkat Adna Nur Lubis,Wedan Teluk Haru Basir Nasution,ketua KNI wilayah Teluk Haru merangkap anggota Dewan Sumatera Amin Nasir dan komandann keamanan wilayah Teluk Haru Letnan II M.Haiyar. wakil-wakil dari pihak sekutu di kawal dengan rapi sesuai dengan apa yang telah ditentukan sebelumnya yaitu untuk menjaga keselamatan mereka,Upacara serah terimapenguasaan atas perusahaan tambang minyak Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu berjalan lancar. Pihak Sekutu antara lain mengatakan,bahwa penegasan dan pengusahaan tambang minyak Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu di serahkan kepada pemerintah Republik Indonesia . Namun untuk sementara waktu penyerahaan di lapangan masih akan di tentukan karena Sekutu terlebih dahulu harus melaksanakan memulangkan tentara Jepang.
Oleh sebab itu tentara Jepang masih tetap menjaga keselamatan perusahaan tambang minyak sampai saatnya mereka kembali.
Residen Abdul Xarim MS atas nama Gubernur Sumatera menerima penyerahan perusahaan tambang minyak tersebut secara resmi. Residen menerima
syarat yang di tentukan oleh Sekutu. Upacara serah terima berjalan tertib dimana kedua belah pihak saling menerima syarat yang ditentukan.
Adapun tentara Jepang yang terdapat di Pangkalan Berandan dan sekitarnya berjumlah 2.942 orang,terdiri dari perwira,bintara,bawahan serta lainnya. Sejak bulan april 1946 mereka secara berangsur-angsur berangkat meninggalkan Pangkalan Berandan menuju Belawan untuk selanjutnya pulang ke negeri asalnya.
Dalam rangka kelancaran pengelolaan tambang minyak Pangkalan Berandan oleh Gubernur Sumatera di Langkat Amin Sutardjo untuk mengantur dan menertibkan serta mengangkat orang-orang yang layak untuk memimpin perusahaan.
Untuk itu surat keputusan Gubernur Sumatera dikeluarkan pada tanggal 20 Juni 1946.
Pada tanggal 5 juni 194618 tentara Jepang yang tugasnya menjaga keamanan dan keselamatan tambang minyak seluruhnya selesai berangkat dari Pangkalan Berandan. Pada saat inilah penyerahan di lapangan dilakukan oleh komandan tentara Jepang kepada pemerintahan RI yang diwakili oleh Amin Sutardjo. Upacara serah terima tidak berlangsung lama dan setelah selesai seluruh tentara Jepang berangkat meninggalkan Kota Pangkala Berandan.
Dengan demikian pengelolaan atas tambang minyak di Pangkalan Berandan dan Pangkalan Susu sudah di tangani secara langsung oleh bangsa Indonesia.
18Segera sesudah itupasukan-pasukan KLA ini melancarkan ofensif balasan terhadap kedudukan musuh di stabat disekitarannya yang berlangsung tanggal 26-30 juli 1947”. (Hasan Basrie ZT,1983, hlm-2-3)
Tambang minyak tersebut diterima dalam keadaan yang cukup baik,karena semua kerusakan akibat pemboman Sekutu sebelumnya telah di perbaiki oleh pihak Jepang.
Sejak saat penyerahan perusahaan tambang minyak inilah bermulanya fungsi perusahaan tersebut sebagai alat perjuangan bangsa Indonesia di Sumatera Timur.
Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda Kabupaten Langkat masih ber-status Keresidenan dan kesultanan(kerajaan) dengan pimpinan pemerintahan yang disebut Residen dan berkedudukan di Binjai dengan Residennya Morry Agestend residen mempunyai wewenang mendampingi Sultan Langkat di bidang orang-orang asing saja sedangan bagi orang-orang asli (pribumi) berada di tangan pemerintahan Kesultanan langkat berturut-turut dijabat oleh:
Sultan Haji Musa Alhamadamsyah 1865-1892
Sultan Tengku Abdul Aziz Abdul Jalik Rakhmatsyah 1893-1927
Sultan Mahmud 1927-1945
Dibawah pemerintahan Kesultanan dan asisten residen struktur pemerintahan disebut LUHAK dan di bawah Luhak disebut kejuruan (raja kecil) dan distrik,secara berjenjang disebut penghulu balai (Raja kecil karo) yang berada di desa.
Pemerintahan Luhak di pimpin oleh seorang Pangeran Pemerintahan Kejuruan di pimpin seorang Datuk,Pemerintahan Distrik dipimpin seorang kepala distrik,dan untuk jabatan kepala Kejuruan Datuk harus di pegang oleh penduduk asli yang pernah menjadi Raja di daerahnya.
Pemerintahan Kesultanan di Langkat dibagi atas 3 Kepala Luhak :
1. Luhak Langkat hulu yang berkedudukan di Binjai dipimpin oleh T.Pangeran Adil wilayah ini dibagi tiga Kejuruan dan 2 Distrik yaitu :
Kejuruan Selesai
Kejuruan Bahorok
Kejuruan Sei Bingai
Distrik Kuala
Distrik Salapian
2. Luhak Langkat Hilir yang berkedudukan di Tanjung Pura di pimpin oleh Pangeran Tengku Jambak/T.Pangeran Ahmad,wilayah ini memiliki 2 Kejuruan dan 4 Distrik,yaitu:
Kejuruan Stabat
Kejuruan Bingei
Distrik Secanggang
Distrik Padang Tualang
Distrik Cempa
Distrik Pantai Cermin
3. Luhak Teluk Haru berkedudukan di Pangkalan Brandan dipimpin oleh Pangeran Tumenggung (Tengku Jakfar),wilayah ini terdiri dari satu Kejuruan dan dua Distrik,yaitu:
Kejururan Besitang meliputi Aceh Tamiang dan Salah Haji
Distrik Pulau Kampai
Distrik Sei Lepan
Awal 1942,kekuasaan pemerintahan kolonial Belanada beralih kepemerintahan Jepang,namun sistem pemerintahan tidak mengalami perubahan,hanya sebutan Keresidennya saja yang berubah menjadi SYU,yang di pimpin oleh Syucokan. Afdeling di ganti dengan sebutan Bunsyu di pimpin oleh Bunsyuco kekuasaan di Jepang ini berakhir pada saat kemerdekaan Indonesia yang di proklamasikan pada tanggal 17-08-1945
Negara Republik Indonesia berdiri sebagai sebuah negara bekas usaha perjuanagan bangsa Indonesia sampai pada tahun 1945. Tepatnya diawali dengan diumumkannya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 yang sebelumnya berada dalam alam penjajahan. Kemudian bangsa Indonesia ingin mengisi kemerdekaannya. Namun datang bangsa Belanda yang merasa masih berhak atas wilayah Nusantara setelah Jepang menyerah. Mereka merasa berhak karena Jepang yang menjadi penguasa di Indonesia sejak tahun 1942 telah menyatakan kalah perang terhadap Sekutu pada tanggal 15 agustus 1945.
Dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaan di Indonesia Belanda menjalin kerjasama dengan Inggris. Pada tanggal 24 agustus 1945 di Chequers yaitu di sanggrahan Perdana Menteri Inggris di luar Kota London berlangsung pembicaraan perundingan tentang misi penguasaan Belanda di Indonesia. Hasil pembicaraan
kemudian di rumuskan di Brisbane (Australia). Pada akhir agustus 1945 dibentuk suatu badan pemerintahan sipil di Australia dengan nama Nederlands Indies Administration (NICA) dengan Ch.o.Van der Plass menjadi kepalanya. Dengan masuknya Inggris ke Indonesia pada bulan oktober 1945,maka orang-orang Belanda turut serta dan bersembunyi di balik pakaian seragam tentara Inggris. Mereka lalu mengadakan provokasi. Mengadu domba dan melancarkan fitnah yang ditujukan kepada pada pemimpin bangsa dan rakyat Indonesia dalam usaha menanamkan pengaruhnya.
Pada awal kedatangan pihak Inggris ke Kota Medan Tanggal 10 Oktober 1945 mereka mengakui berdirinya Negara Indonesia dengan mengatakan demi untuk ”Law And Order”. Law And Order yang dimaksudkan adalah antara bangsa Indonesia dengan bekas tawanan Jepang tidak di benarkan saling membunuh. Mereka tidak berurusan dengan wakil pemerintah Belanda dan melarang melakukan provokasi di samping tidak membenarkan dikibarkannya bendera merah-putih-biru. Tugas tentara Inggris adalah melepaskan dan memerdekakan para tawanan perang pemerintah militer Jepang selain melucuti tentara Jepang dan mengembalikannya ke Negeri asalnya. Untuk itu Inggris membentuk team “Rehabilitation of Allied Prisoners of Ward and Intrenees” (RAPWI),untuk memperlancar tugas pembebasan bekas tawanan perang Jepang.
Kenyataannya Inggris menyimpang dari tugasnya semula. Mereka menciptakan suasana tidak aman untuk mengacau keadaan. Karena suasana aman dan
tentram dianggap mereka akan menguntungkan pihak RI dalam usaha membangun dan menegakkan Negara Indonesia. Akhirnya insiden-insiden pun terjadi di seluruh Indonesia termasuk di Kota Medan. Keterlibatan Inggris dalam usaha membantu pihak Belanda untuk menguasai Indonesia khususnya Sumatera Timur semakin nyata sejak tanggal 18 Oktober 1945. Tentara Inggris melarang bangsa Indonesia memegang senjata dan harus menyerahkannya kepada tentara Sekutu. Sikap Inggris di susul pula dengan diberikannya kesempatan kepada NICA untuk melakukan tindakan-tindakan provokasi. Hal ini mengakibatkan hilangnya simpati bangsa Indonesia terhadap Inggris yang semula hanya di tugaskan untuk melucuti tentara Jepang. Selain itu tentara Jepang yang masih berada di luar Kota Medan diperintahkan untuk menjaga keamanan dan menjalankan roda pemerintahan.
Kenyataannya pihak Jepang juga tidak bodoh dengan begitu saja mau di korbankan oleh pihak Inggris. Mereka juga menyadari bahwa pihak Sekutulah yang mengalahkannya di medan perang dan tetap menganggapnya sebagai musuhnya.
Selama tentara Inggris berada di Medan, Belanda punya kesempatan untuk membangun kekuatan militernya. Mereka membebaskan para tawanan perang Jepang khususnya yang pernah menjadi anggota Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) semasa pemerintahan Hindia-Belanda di kamp-kamp Pamingke,Pematang Siantar,dan lain-lain, mereka dilatih dan dipersenjatai disusun dalam organisasi militer. Para bekas tawanan yang dikumpulkan kemudian disatukan kedalam Batalyon-IV KNIL Gagak Hitam. Perkembangan militer Belanda di Sumatera Timur
juga di bantu oleh Poh Antui (batalyon pengawal keamanan) yang terdiri dari pemuda-pemuda Cina di bawah pimpinan Lim Seng dan memihak Inggris. Oleh tentara Inggris kemudian organisasi itu dijadikan bagian penting dari kekuatan militer Belanda di Sumatera Timur. 19
Sementara itu para pejuang RI berhasil membentuk pasukannya. Pemerintah RI membentuk badan yang dikenal dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang bertugas menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat yang merupakan tentara yang mandiri dalam pertahanan kemerdekaan. Badan ini TKR dibentuk berdasarkan dekrit presiden RI pada tanggal 5 oktober 1945. Di sumatera Timur realisasi pembentukan TKR pada tanggal 10 oktober 1945.
Barisan pejuang RI tidak hanya terbatas pada TKR saja,dimana sejak tanggal 3 November 1945 berdasarkan dekrit wakil presiden RI lahir lah laskar-laskar rakyat yang berasal dari organisasi politik. Diantaranya PNI membentuk laskar Napindo, Pesindo membentuk barisan Ksatryaan Pesindo, Masyumi membentuk Hizbullah, PKI membentuk Barisan Merah, PSI membentuk Bintang Merah dan Parkindo membentuk Divisi Panah. Pejuang RI pun bertambah banyak, tetapi tidak teratur dan tidak terkordinir kecuali tentara yang terus mengalami reorganisasi menjadi TRI sejak tanggal 1 Januari 1946.
19 “Pembumi hangusan kota pangkalan Brandan dan tambang minyak.prasarana memperingati hari pembumi hangusan Kota Pangkalan Brandan dan Tambang minyak pangkalan brandan,13 agustus 1973”, (Lubis Zainal Abidin,1973, hlm-10)
Pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melakukan Agresi Militernya yang pertama. Pasukan RI yang berada di sektor Barat/Utara Medan Area mendapat serangan sejak pagi harinya. Pasukan RI pada mulanya mengalami desintegrasi dan mundur secara tidak teratur,namun dapat berkumpul di Tanjung Pura yang selanjutnya membentuk komando Langkat Area (KLA) pada tanggal 23 juli 1947.
Kemudian Panglima Divisi X Tri Kolonel Husin Yusuf memerintahkan Letnan Kolonel Hasballah Haji membentuk pertahanan baru di daerah Langkat yaitu Komando Sektor Brata Oetara (KSBO) tanggal 4 Agustus 1947. Ia juga memerintahkan agar perusahaan tambang minyak di Pangkalan Brandan dan Pangkalan susu di bumihanguskan.
Pasukan militer Belanda berhasil menduduki Kota Tanjung Pura pada tanggal 4 Agustus 1947. Jatuhnya Kota ini merupakan ancaman langsung terhadap Kota Pangkalan Brandan yang dikenal sebagai tempat penyulingan minyak di Sumatera Timur. Usaha – usaha pasukan RI untuk membendung serangan Belanda memang sudah dilakukan sejak tanggal 26 juli 1947 sampai dengan 31 juli 1947 merupakan usaha Ofensive balasan terhadap Stabat. Namun serangan tersebut gagal. Sebaliknya Belanda terus mengancam kedudukan pasuka RI di Pangkalan Brandan. Selanjutnya tindaka-tindakan yang dilakukan oleh pasukan RI dalam membendung serangan Belanda adalah membumihanguskan perusahaan tambang minyak atas perintah Panglima Divisi X TRI dan membumi hanguskan Kota Pangkalan Brandan atas
inisiatif Plastselij Militer Komandan (PMC) yaitu Komandan Militer Kota Pangkalan Brandan di bawah pimpinan Mayor Nazarudin.
2. 2 Letak Geografis dan Kondisi Masyarakat Pangkalan Berandan
2. 2. 1 Letak Geografis
Pangkalan Brandan adalah ibu Kota Babalan,dan ada 3 kecamatan yang mencakup dalam kota ini yaitu kecamatan Sei Lepan,kecamatan Berandan Barat dan Brandan Timur. Kabupaten Langkat,terletak di pesisir pantai timur Pulau Sumatera Utara,sekitar 60 km di sebelah utara kota Binjai. Kelurahan ini terletak strategis karena dilalui oleh jalan raya lintas Sumatera dan merupakan pintu gerbang Provinsi Sumatera Utara menuju Aceh20.
Kondisi geografi daerah Kabupaten Langkat terletak pada 3 14` dan 4 13`
lintang utara serta 93 51` dan 98 45` bujur timur dengan batas-batas sebagai berikut.
Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka dan Prov D.I Aceh.
Sebelah Selatah berbatas dengan Dati II Kabupaten Karo.
Sebelah Timur berbatas dengan Dati II Deli Serdang.
Sebelah Barat berbatas dengan Dati D.I Aceh (Aceh Tengah)
Topografi Daerah Tingkat II Langkat di bedakan atas 3 bagian :
Pesisir pantai dengan ketinggian 0-4M diatas permukaan laut.
20 Https://www.Langkat.go.id. Diakses pada jum’at, 21 februari 2016.
Dataran rendah dengan ketinggian 0-30M diatas permukaan laut.
Dataran tinggi dengan ketinggian 30-1200M diatas permukaan laut.
Pangkalan Brandan terkenal karena merupakan salah satu ladang minyak tertua di Indonesia dan telah di eksplorasi sejak masa zaman Hindia-Belanda.
Daerah Kab.Langkat adalah satu-satunya di sumatera utara yang mempunyai tambang minyak yang dikelola oleh Pertamina dan berada di kota Pangkalan Brandan yang menghasilkan :
Kapasitas CDU (MBCD)-Actual 0.51 (510 Barrel/hari) Discharged 0,5 (500 barel/hari)
Kapasitas CDU-II (MBCD)-actual 4,69(4690 barrel/hari) Discharged 4,50 ($%)) bareel/hari)
Aspek di pangkalan susu-actual 400 Mm3/hari (400.000m3/hari)
Discharged 850 Mm3/hari (850.000 m3/hari)
Disamping pertambangan minyak di Kabupaten Langkat juga terdapat industri gula yang di kelola oleh PTP IX Kwala Madu serta banyak bahan-bahan tambang yang belum dikelola seperti Coal,Tras,Gamping Stone,pasir kwarsa daln lain-lain.
2. 2. 2 Peristiwa Bumi Hangus Kota Pangkalan Berandan
Terjadinya suatau peristiwa di dalam sejarah mengandung dua unsur yang saling berkaitan. Disuatu pihak adalah kumpulan sebab-sebab yang menjadi latar
belakang peristiwa dan dilain pihak adalah kumpulan akibat yang timbul setelah terjadinya peristiwa.
Peristiwa pembumihangusan Kota Pangkalan Brandan dan menyebabkan akibat anatara lain :
Terjadinya aksi penuntutan kelompok bangsa Cina.
Belanda tidak pernah menduduki Pangkalan Brandan.
Aksi penuntutan oleh kelompok orang-orang Cina dilakukan dan ditujukan kepada pihak militer RI di Pangkalan Brandan. Tuntutan terjadi karena perintah untuk meninggalkan Kota yang dikeluarkan oleh PMC Pangkalan Brandan tidak di jelaskan maksudnya. Kemudian terjadinya pemaksaan pengambilan harta yang di lakukan jauh sebelum terjadi pembumi hangusan,pada saat terjadinya Pembumi Hangusan maupun ssudahnya.
Perintah yang di keluarkan oleh PMC Pangkalan Brandan pada tanggal 11-12 Agustus 1947 telah menimbulkan malapetaka. Dua buah pesawat terbang Belanda yang terbang rendah menembaki para pengungsi di atas prahu dengan senapan mesin.
Terdapat 14 orang diantaranya tewas,12 orang mengalami luka-luka berat dan 5 orang lainnya menderita luka - luka ringan21.
21. Wakil Presiden/wakil Panglima tertinggi angkatan Perang Republik Indonesia yang berkedudukan di Bukit Tinggi mengirimkan Nota pada tanggal 23 Agustus kepada Panglima divisi-V TRI yan menjelaskan tentang perotes konsul Tiongkok tersebut dan kemudian memerintahkan Panglim divisi-X TRI agar segera melakukan pemeriksaan yang teliti mengenai peristiwa tersebut
Persoalan pengungsian penduduk keturunan Cina itu akhirnya selesai juga setelah mereka di angkut dengan kereta api dari pangkalan brandan ke Aceh Timur.
Bantuan berupa bahan makanan selama dalam perjalanan di berikan oleh pihak militer Pangkalan Brandan,perintah daerah kabupaten Langkat dan Dinas Sosial Kabupaten Aceh Timur. Jumlah pengungsi seluruhnya 6.373 jiwa yang berasal dari Pangkalan Brandan,Pangkalan Susu,Besitang dan sekitarnya. Diantaranya 3.676 jiwa tinggal dirumah famili atau sahabat mereka dan selebihnya di tampung di asrama- asrama yang disediakan oleh jawatan sosial Kabupaten Aceh Timur.
Meskipun urusan pengungsi orang-orang Cina telah selesai dilakukan,tetapi masalahnya masih berkepanjangan. Pihak Konsultan Republik Tiongkok22 (Cina Nasionalis) yang berada di Medan mengajukan protes keras kepada pemerintah RI diBukit Tinggi mengenai perlakukan tidak wajar serta kerugian harta benda yang tidak sedikit dan kesengsaraan yang diderita oleh orang-orang Cina di Kota Pangkalan Berandan. Oleh karena perotes tersebut sifatnya meluas,maka demi nama baik pemerintah RI selalu menjawabnya dengan mengusut perkara tersebut.
Peristiwa pembumihangusan Kota Pangkalan Berandan kemudian diusut oleh pihak divisi X TRI Mayor Nazarudin selaku PMC Pangkalan Berandan dipanggil melaporkan kepada wakil presiden/panglima tertinngi angkatan perang RI, Lihat (Hasan Basrie ZT,1983,hlm,50-51).
22 “Bahwa Pembakaran kota Pangkalan Brandan yang mengakibatkan kerugian pada pihak penduduk orang Tionghoa pada pokoknya adalahtanggung jawab pihak Belanda yang agresif dan terus menerus mengancam kedudukan pihak republik. Dan dalam rangka mempertahankan diri,taktik bumi hangus totak terpaksa dilaksanakan oleh pihak Republik. Disamping itu kerugian besar yang dideritapenduduk bangsa Tiongkoktidak luput daripada kesalahan mereka sendiri,karena mereka tidak mematuhi petunjuk-petunjuk yang telah diberikan oleh penguasa Militer Pangkalan Berandan”Lihat (Hasan Basrie ZT,1983:hlm-53).