3. 1 Gambaran Umum Daerah Pertamina Pangkalan Brandan
3. 1. 1 Daerah Penelitian
Pertamina wilayah I terbagi dalam satu daerah pusat administrasi yaitu Pangkalan Brandan,dua daerah lapangan produksi yaitu Pangkalan Brandan dan Rantau Panjang (Aceh Timur) serta satu derah unit pemasaran yaitu Medan.
Di pilihnya Kota Pangkalan Brandan sebagai pusat administrasi bermula dari di bangunnya penyulingan minyak pertama untuk Hindia-Belanda di Pangkalan Brandan pada tahun 1892 oleh perusahaan Koninklijke Nederlandsche Petroleum Company yang memegang konsensi Telaga Said. Kota Pangkalan Brandan yang terletak kurang lebih 82 km di sebelah barata laut Medan. Sejak di ambil alih dan dikelola oleh pihak Pertamina,kilang minyak Pangkalan Brandan berkembang pesat menjadi salah satu Kota industri perminyakan di Indonesia dengan fasilitas yang di anggap cukup memadai,seperti fasilitas hiburan,kesehatan dan olahraga serta fasilitas-fasilitas lainnya24.
Kota Pangkalan Susu yang jaraknya kurang lebih 23km di sebelah Laut Utara Kota Pangkalan Brandan merupakan daerah Pelabuhan Pertamina Wilayah I,tempat
24. William H Fedrick:Soeri Soertono, Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi, Jakarta:LP3ES, 1989, hlm-49
pengapalan minyak yang akan di ekspor ke luar Negeri. Kota Pangkalan Susu ini pada mulanya sama seperti Kota Pangkalan Brandan yang memepunyai penduduk dengan mata pencarian utama adalah nelayan,tetapi semenjak di bangunnya pelabuhan Pangkalan Susu dan perumahan untuk karyawan Pertamina serta sarana penunjang lainnya bagi karyawan Pertamina banyak masyarakatnya yang beralih pekerjaan dengan bekerja di perusahaan pertamina. Memang tidak semua masyarakatnya beralih pekerjaan dari nelayan menjadi karyawan,masih ada juga masyarakat yang masih memepertahankan pekerjaannya sampai sekarang menjadi nelayan. Kota yang terletak di tepi laut ini berhawa cukup panas jika di bandingkan dengan Kota Pangkalan Brandan yang juga terletak di tepi pantai.
Lapangan minyak Rantau panjang di Daerah Aceh timur terletak lebih kurang 5,5 km dari Pangkalan Brandan. Lapangan produksi Rantau Panjang ini pertama kali berproduksi pada tahun 1929. Dibandingkan dengan Kota Pangkalan Brandan dan Pangkalan susu Daerah Rantau Panjang memiliki sumur-sumur produksi minyak yang lebih banyak.
Pertamina wilayah I selain memiliki tiga daerah wilayah produksi juga mempunyai satu daerah unit pemasaran yaitu Medan. Sebenarnya daerah produksi atau yang lebih dikenal dengan nama daerah wilayah berbeda manajemen dan pimpinan,tetapi setiap daerah pemasaran yang terdapat di dalam daerah produksi pertamina harus tunduk terhadap pimpinan unit daerah wilayah tersebut. Medan
misalnya, walaupun merupakan daerah pemasaran tetapi harus tunduk kepada pimpinan unit daerah yang berkedudukan di Pangkalan Brandan.
3. 1. 2 Struktur Organisasi
Berdasarkan UU No.8 tahun 1971,Direksi Pertamina bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina (DKPP). Yang termasuk dalam dewan komisaris pemerintah untuk pertamina yaitu :
1) Menteri Pertambangan Dan Energi sebagai Ketua Dewan.
2) Menteri Keuangan sebagai Wakil Ketua Dewan
3) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bapenas sebagai anggota dewan.
4) Menteri Riset Dan Teknologi sebagai anggota dewan.
5) Menteri Sekeretaris Negara sebagai anggota dewan dan seorang sekretaris dewan.
Dewan Komisaris Pemerintah untuk Pertamina di angkat dan bertanggung jawab kepada Peresiden RI.
Susunan Dewan Direksi Pertamina terdiri dari :
Direktur Utama
Direktur Eksplorasi dan Produksi
Direktur Pengelolahan
Direktur Pemasaran dan Pembekalan Dalam Negeri
Direktur Perkapalan,Kendaraan dan Komunikasi
Direktur keuangan
Direktur Umum
Untuk Pertamina wilayah I Pangkalan Brandan di pimpin oleh Pimpinan Unit Daerah (PUD) yang berkedudukan di Pangkalan Brandan. PUD bertanggung jawab kepada Direktur Utama dan dalam tugas-tugasnya PUD di bantu oleh Meneger-Manager Bagian. Susunan Menager Pertamina wilayah I Pangkalan Brandan :
Manager Umum
Manager-manager di bantu oleh kepala-kepala bagian yang juga bertanggung jawab kepada manager25. Untuk Pangkalan Brandan yang merupakan daerah pusat administrasi Pertamina Wilayah I langsung di pimpin oleh pimpinan unit daerah, sedangan untuk daerah lapangan minyak Pangkalan Susu dan Rantau Panjang di pimpin oleh kepala lapangan yang kedudukannya stingkat denga manager. Untuk
25 Abdoel Kadir, latar Belakang Sejarah Perminyakan di Indonesia, harian waspada,Medan : 10 maret 1981.
Medan yang merupakan daerah pemasaran di pimpin oleh manager pemasaran.
Bagian – bagian yang berada di bawah pimpinan manager umum adalah : Personalia, Kesehatan, Humas, Logistik, Pamper, Fire dan Safety. Bagian yang berada di bawah manager keuangan adalah bagian keuangan. Bagian yang berada di bawah manager produksi adalah bagian produksi dan teknik. Bagian yang berada di bawah manager P&T adalah bagian perkapalan dan telekomunikasi. Bagian yang berada di bawak manager eksplorasi adalah bagian eksploitasi dan eksplorasi serta bor. Bagian yang di bawah manager pengelolahan adalah bagian pengelolahan dan kilang.
Struktur organisasi untuk Pertamina wilayah I unit lapangan Pangkalan Susu dan Rantau Panjang adalah kepala lapangan yang bertanggung jawab kepada pimpinan daerah yang berkedudukan di Pangkalan Brandan sebagai pusat administrasi Pertamina wilayah I. Kepala lapangan di bantu oleh kepala-kepala bagian seperti bagian personalia, teknik, pengolahan, kilang, kesehatan, logistik, jasa – jasa, telekomunikasi, perkapalan, eksplorasi, eksploitasi, fire dan Safety.
Struktur organisasi Pertamina Wilayah I unit pemasaran yang berkedudukan di Medan di pimpin oleh manager pemasaran yang juga bertanggung jawab kepada pimpinan unit.
Untuk susunan atau struktur organisasi unit pemasaran mereka lebih kecil karena unit pemasaran tidak mempunyai bagian-bagian struktur organisasi seperti di
unit wilayah. Unit pemasaran hanya mempunyai Manager pemasaran yang di bantu oleh kepala pemasaran.
Oleh sebab itu jikalau dilihat dari jumlah karyawan, unit wilayah mempunyai jumlah karyawan yang lebih besar, tetapi wilayahnya atau daerah cakupan Pertamina untuk unit wilayah hanya meliputi daerah-daerah yang mempunyai cengkungan-cengkungan minyak. Sementara itu Pertamina Unit Pemasaran cakupan wilayah kerjanya meliputi seluruh Kota besar yang ada di Indonesia.
Bagian personalia yang berada di bawah pimpinan manager umum masih membawahi beberapa bagian lainnya,seperti bagian PIII (personalia III) membawahi bidang personalia laut. Bagian ini terpisah dari bagian perkapalan,kalau bagian perkapalan hanya mengurusi keluar masuknya kapal dan kegiatan kapal lainnya tetapi bagian personalia laut mengurusi karyawan yang bekerja di bagian perkapalan.
Bagian PII (personalia II) membawahi bidang hukum perburuhan,menyangkut hubungan kerja antara karyawan dengan perusahaan. Bagian PI (personalia) membawahi seluruh bidang kegiatan yang menyangkut tentang kesejahteraan pegawai Pertamina,seperti penyediaan rumah untuk karyawan,penyediaan sarana transportasi udara dan darat serta fasilitas lainnya. Bagian diklat (pendidikan kilat) yang di khususkan untuk karyawan-karyawan pertamina. Diklat ini
menyelenggarakan pendidikan khusu karyawan dan diklat juga menentukan dimana pendidikan itu akan dilaksanakan26.
Jumlah karyawan pertamina wilayah I Pangkalan Brandan berjumlah kurang lebih 8.000 orang yang terdiri dari karyawan staf pimpinan,staf madya dan non staf serta karyawan harian. Semua karyawan tersebut di tempatkan di Pangkalan Brandan,Pangkalan Susu,Rantau Panjang & Medan.
Di Pertamina berlaku peraturan bagi karyawati dokter. Mereka tidak termasuk karyawati tetap,tetapi honorer. Mereka di gaji menurut golongannya dan juga mendapat tunjangan jabatan serta fasilitas lainnya,tetapi mereka tidak mendapat hak dan pensiun walaupun sewaktu masuk bekerja di pertamina mereka langsung mendapat golongan staf madya.
Bagi karyawan yang staf madya berlaku praturan yang mengharuskan mereka pindah kedaerah lapangan lain atau ke wilayah lain setiap dua tahun sekali. Hal ini dijalankan orang para karyawan tersebuh tidak cepat merasa jenuh dalam bekerja,sebab biasanya daerah-daerah yang menjadi tempat tinggal karyawan pertamina tersebut adalah daerah-daerah terpencil yang jauh dari keramaian Kota,walaupum di setiap kompleks Pertamina di bangun sarana hiburan. Peraturan tersebut juga berlaku bagi staf pimpinan, tetapi untuk golongan yang non staf tergantung kepada kebijaksanaan pimpinan bagiannya.
26 Tengku Lukman Sinar, Sejarah Lahirnya Tambang Minyak di Kabupaten Langkat dan di Sumatera Utara, Medan:1981, hlm-33.
3. 2 Latar Belakang Berdirinya Pertamina Wilayah I Pangkalan Brandan
Penemuan minyak bumi serta permulaan pengusahaannya mempunyai dampak yang luas bagi Indonesia. Disamping memberikan manfaat besar bagi Indonesia sebagai Negara penghasil minyak, juga telah mendatangkan berbagai malapetaka dan kerugian,seperti dengan berebutnya Negara-negara Asing menguasai Indonesia karena kakayaan alamnya yang sangat berharga itu. Ini terbukti pada waktu sebelum dan sesudah perang dunia I dan II,pada saat nama Indonesia yang tergolong sebagai Negara penghasil minyak ke lima terbesar di dunia menjadi incaran negara-negara industri.
Bangsa Indonesia telah mengenal minyak bumi itu secara tidak langsung semenjak abad VIII. Penduduk yang bermukim di sepanjang pantai Selat Malaka telah memanfaatkan sejenis “Lumpur Hitam” yang ternyata minyak mereka ciduk dari rembesan-rembesan sumur dangkal untuk menyalakan obor bambu sebagai alat penerangan. Nyala api yang berasal dari rembesan minyak itu tahan lebih lama dan punya daya pancar yang lebih terang di bandingkan dengan sinar obor yang terbuat dari daun kelapa kering.
Selain itu minyak juga ternyata merupakan senjata ampuh yang pernah di gunakan dalam beberapa pertempuran khususnya di lautan. Untuk mengusir
perompak dan bajak laut yang sering mengganas dan mengganggu penduduk yang tinggal di sepanjang pantai.27
Keampuhan senjata dari minyak ini juga di buktikan dalam suatu pertempuran antara pelaut Aceh melawan armada perang Portugis yang terjadi dilaut lepas antara di Semenanjung Melayu dan Pantai Sumatera pada abad XVI. Armada Portugis yang berpangkalan di semenanjung Melayu berusaha mendarat di pantai Aceh dalam usahanya untuk mencari rempah-rempah yang akan di bawa ke negerinya. Armada yang dipimpin laksamana Alfonso D'Al’uquerque itu dapat dikalahkan dengan menggunakan senjata bola-bola api yang di lontarkan bagai hujan kearah lawan.
Bola-bola api tersebut tidak lain adalah semacam peluru yang dicelupkan terlebih dahulu kedalam cairan minyak bumi yang setelah di nyalakan lalu dilentingkan ke kapal-kapal musuh. Akan tetapi bangsa yang pertama kali melakukan pecarian minyak bukanlah bangsa Indonesia. Hal ini memang sesuai dengan tingkat kemajuan dan situasi bangsa Indonesia pada saat itu yang tidak mengetahui bagaimana menambang minyak bumi tersebut.
Bermula dari di keluarkannya pengumuman oleh pihak pemerintah Belanda yang didapat dari Proceeding Of The Royal Netherlands Academy Of Sciences pada tahun 1869 di Amsterdam,bahwasanya telah ditemukan 53 rembesan minyak bumi di
27 Tengku Lukman Sinar, Sejarah Lahirnya Tambang Minyak di Kabupaten Langkat dan di Sumatera utara, Harian Waspada, Medan 10 Maret 1981, hlm-23.
tanah Hindia-Belanda. Laporan inilah agaknya yang menggerakkan orang-orang Belanda untuk mencari minyak di wilayah Hindia-Belanda.
Kegiatan pencarian minyak pertama kali diawali dengan percobaan melakukan eksplorasi di kaki gunung Ciremai didekat Kota Cirebon pada tahun 1871.
Percobaan itu dilakukan oleh Jan Rerink bersama rekannya Van Hoevel yang melakukan pengeboran disekitar desa Maja dan Cibodas. Usaha mereka belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan,dan akhirnya mereka tidak meneruskan usaha pencarian minyak tersebut.
Dua belas tahun sesudah usaha yang dilakukan di Jawa maka pada tahun 1883 di Daerah Pangkalan Brandan di temukan areal tanah yang mengandung minyak.
Setelah ditemukannya minyak pertama di Pangkalan Brandan,kemudian di beberapa daeran Indonesia juga di temukan sumur-sumur minyak yang dilanjutkan dengan pendirian kilang di daerah tersebut. Di Daerah Jawa Timur oleh Adrian Stoop yang melakukan pemboran di Surabaya diperoleh hasil yang cukup baik. Pada tahun 1890 didirikan pabrik pengilangan minyak dilapangan Kruka,yang merupakan lapangan tertua di daerah tersebut. Dan merupakan pengilangan minyak bumi pertama di pulau Jawa,yaitu kilang Wonokrom. Dengan berhasilnya pula pemboran di Cepu,Jawa Tengah,maka didirikan pula pabrik pengilangan di tempat tersebut.
Di kalimantan,usaha pencarian minyak dilakukan oleh J.H Meeten yang memperoleh konsesi daerah Sanga-Sanga dari Sultan Kutai pada tahun 1888. Lima
tahun kemudian lapangan sanga-sanga mulai berproduksi,namun untuk produksi komersilnya baru terjadi pada tahun 1894 yang mendorong didirikannya sebuah pabrik penyulingan kecil di balik papan,pada tahun 1897.
Memasuki abad ke-20 minyak telah diketemukan di negeri ini di beberapa lapangan di Sumatera Utara,Sumatera Tengah,Sumatera Selatan,Kalimantan dan daerah Irian Jaya.
Sumur-sumur eksplorasi pada masa pengeboran pertama selalu di bor disekitar “Olo Speges” yang merupakan petunjuk kearah diketemukannya sumur-sumur minyak dangkal yang dapat dibor dengan peralatan sederhana.
Usaha pencarian minyak di Pangkalan Brandan bukanlah suatu perencanaan,artinya penemuan minyak yang terdapat di lokasi tersebut adalah secara kebetulan pada mulanya. Seorang inspektur perkebunan didaerah Langkat (Sumatera Utara),Aeilko Janszoon Zijlker adalah merupakan orang kedua yang tercatat sebagai pencari minyak di negeri ini28.
Pada suatu ketika,ia sedang melaksanakan inspeksi perkebunan dikarenakan hari hujan terpaksa ia berteduh dalam sebuah gubuk sampai hari menjelang malam,seorang pembantunya menyalakan beberapa batang obor untuk penerangan.
Salah satu dari obor itu menarik perhatian Zijlker. Ia terheran-heran melihat nyala apinya yang begitu terang,jauh lebih terang dari sinar api obor lainnya. Pembantunya
28 Ibid., hlm-23.
menjelaskan bahwa dia baru saja mencelupkan ujung obornya ke dalam cairan sebuah kubangan yang terdapat di belakang gubung tersebut. Itulah sebabnya kenapa api obor itu jauh lebih terang dari pada obor lain yang terbuat dari suluh daun kepala,Zijlker lalu menyaksikan percobaan itu,mengambil sedikit cairan kehitaman dan dibawanya pulang yang selanjutnya dikirimkan ke laboraturium utuk di periksa.
Hasil pemeriksaan laboraturium membenarkan bahwa bahan tersebut adalah minyak bumi,dari mana berasal minyak lampu yang sangat laku di pasaran Eropa.
Bahkan jenis yang di temukan Zijlker konon lebih tinggi mutunya.
Dengan mengumpulkan modal antara lain dengan rekan-rekannya yang berada di negeri Belanda, Zijlker lalu mengadakan pengeboran di tempat tersebut.
Untuk usaha tersebut dia telah mendapat konsesi dari Sultan Langkat, yaitu sebidang tanah di Pangklan Brandan pada tahun 1883.
Usaha pengeboran pertama di Telaga Tiga gagal menemukan minyak dalam jumlah besar. Pengeboran kedua dilakukan di Telaga Tunggal yang letaknya masih dalam wilayah konsesi. Setelah setahun lamanya melakukan pencarian,pada tanggal 15 Juni 1885, Zijlker berhasil menemukan sumur minyak dengan produksi besar yang mencapai kedalaman 121 meter.
Sumur tersebut kemudian tercatat sebagai sumur minyak pertama di Hindia-Belanda yang memiliki taraf produksi komersial. Sumur Telaga Tunggal 1 kemudian segera di susul oleh penemuan – penemuan sumur lainnya di Telaga Said, yang
terletak tidak jauh dari pantai Sumatera Timur. Sumur ini sangat produktif dan terus menghasilkan minyak selama lebih dari 15 tahun.
Pada akhir abad ke-19,berita tentang penemuan minyak di Hindia Belanda menarik minat bagi negara – negara Eropa dan Amerika. Dalam hal ini negara-negara Eropa dan Amerika Serikat berkeinginan mendapatkan tempat di Indonesia.
Kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda yang berkaitan dengan kegiatan pencarian minyak bumi bertolak dari undang – undang pertambangan tahun 1899 menurut undang – undang tersebut kegiatan di bidang ini dapat di berikan kepada suatu perusahaan minyak atas dasar sistem konsensus. Konsensus ini berlaku untuk jangka waktu 75 tahun,yang dari padanya untuk setiap sore di pungut suatau pembayaran di tambah dengan suatu persen pungutan lainnya yang berasal dari nilai minyak yang dihasilkan.
Untuk mencegah semakin banyaknya perusahaan asing yang mencari minyak di Indonesia, maka Belanda pada tahun 1904 merubah undang-undang tersebut dengan meniadakan konsesi baru. Kebijaksanaan ini mendapat perotes dari pemerintah dan perusahan minyak Amerika Serikat. Segera setelah itu pemerintahan Amerika Serikat mengadakan tekanan terhadap pemerintahan Belanda di Den Haag,agar diskriminasi yang dilakukan pemerintah jajahannya terhadap perusahaan Amerika Serikat segera dicabut. Perusahaan minyak Amerika Serikat bukan hanya untuk daerah Pangkalan Brandan saja yang tidak mendapat konsesi, keadaan ini juga diberlakukan Belanda terhadap perusahaan minyak Amerika Serikat yang
berkeinginan untuk mendapatkan konsesi didaerah Jambi. Setelah beberapa kali pemerintah Amerika Serikat mengadakan tekanan, barulah pihak pemerintah jajahan Belanda memberikan konsesi kerja sama perminyakan di Hindia-Belanda kepada Amerika Serikat. Sampai tahun 1940-an diseluruh tanah air yang memiliki tambang minyak telah dimasuki oleh perusahaan asing dan untuk daerah Sumatera Utara perusahaan Shell mendapatkan tempat yang baik.
Menjelang perang dunia II perindustrian minyak di Indonesia terutama di kuasai oleh Shell dan Stanvac. Daerah operasi Shell dari Sumatera Utara meluas sampai ke Irian Jaya kecuali Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Untuk pemasaran dalam negeri juga dikuasai oleh kedua perusahaan itu dengan Shell sebagai pemegang jaringan pemasaran yang lebih besar.
Indonesia pada waktu itu di samping merupakan penghasil minyak terbesar di Timur jauh juga merupakan penghasil karet. Rata-rata lebih kurang 62 juta barrel minyak pertahun di hasilkan dalam tahun 1939 dan 1940. Mengingat minyak dan karet merupakan bahan yang cukup penting,maka setelah melakukan pemboman atas Pearl Herbour kemudian Indonesia pun mendapat giliran penyerbuan dari bala tentara Jepang.
Pada tanggal 12 Maret,tentara Jepang telah sampai di Sumatera Timur dan mendarat di Tanjung Tiram. Mendengar berita tersebut,maka pemerintahan Hindia-Belanda merasa gentar dan menyadari tidak akan mampu menahan serangan Jepang.
Untuk mempersulit masuknya bangsa Jepang ke Pangkalan Brandan,maka bangsa Belanda menghancurkan jembatan-jembatan,jalan kereta api,gedung-gedung tinggi serta melakukan pembumi hangusan terhadap lapangan minyak Pangkalan Brandan dan Pangkalan Susu. Ini adalah salah satu taktik yang dilakukan pihak Belanda,agar bila Jepang menduduki daerah ini maka Jepang akan mengalami kesulitan dan tidak mendapatkan hasil dari kilang minyak yang ada.
Tindakan pembumi hangusan kilang minyak yang ada di Pangkalan Brandan di lakukan bangsa Belanda dengan bekerja sama dengan perusahaan asing. Akan tetapi karena dilakukan dalam keadaan yang sangat terburu-buru,jadi tidak seluruhnya fasilitas minyak dapat di musnahkan.
Penyerbuan yang di Lakukan Jepang berlangsung sangat cepat dan mereka berhasil menduduki lapangan-lapangan minyak dan menempatkan operasi perminyakan itu di bawah pengawasan komandan militer setempat. Untuk merehabilitasi lapangan dan pabrik-pabrik pengilangan,Jepang mengerahkan bekas pegawai perusahaan minyak disamping tenaga romusa. Dengan mengerahkan pekerja-pekerja bangsa Indonesia di bawah pimpinan tenaga-tenaga ahli di bawa dari negerinya membuat Jepang dalam waktu yang sangat singkat dapat merehabilitasi dan memperbaiki kembali sumur-sumur minyak dan kilang bekas Shell dan Stanvac serta Caltex.
Sumur-sumur minyak dan fasilitas perminyakan di seluruh Indonesia dikuras dengan paksa melebihi kapasitas produksi. Kilang Pangkalan Brandan yang tadinya berkapasitas sekitar 300 ton sehari telah di oprasikan sampai menghasilkan sekitar 10.000 ton bahan bakar minyak sehari.
Disamping melanjutkan pemboran pada sumur-sumur yang berhasil diperbaiki, Jepang juga melakukan pemboran sumur-sumur baru. Di daerah kewenangan mereka berhasil menemukan 15 buah sumur baru. Karena potensi dan peranan minyak yang besar,dan untuk menunjang operasi militernya,Jepang di dalam masa penjajahannya telah berhasil meningkatkan produksi dan kapasitas pengolahan secara paksa. Indonesia kembali menjadi perhatian. Karena itu semua fasilitas perminyakan menjadi incaran penyerbuan pihak Sekutu untuk melumpuhkan kekuatan Jepang.
Sejarah telah menentukan tidak selamanya Jepang dapat menguasai Indonesia beserta tambang minyak yang ada. Tepatnya pada bulan Agustus 1945,Jepang mengalami kekalahan terhadap sekutu,akibat pemboman yang dilakukan di Nagasaki dan Hiroshima. Keadaan demikian dimanfaatkan bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekannya.
Dalam usaha mempertahankan kemerdekaan Indonesia,setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945,dibidang perminyakan para pejuang kemerdekaan berusaha merebut lapangan
pengilangan dan fasilitas perminyakan dari tangan bala tentara Jepang. Di Sumatera Utara, tambang minyak Pangkalan Brandan yang telah selesai di rehabilitasi dan dikuasi oleh bangsa Jepang akhirnya terpaksa harus di serahkan kepada bangsa Indonesia, walaupun mulanya mereka enggan untuk melepaskan tambang-tanbang minyak tersebut. Tetapi karena situasi pada saat itu lebih menguntungkan pihak pemuda dan pejuang-pejuang Indonesia,penguasa dan karyawan-karyawan Jepang yang ada di tempat itu tidak mampu membendung derasnya arus tuntutan yang dilakukan pemuda dan karyawan bangsa Indonesia. Pihak Jepang tidak mempunyai alternatif lain kecuali menyerahkan sumur dan kilang minyak tersebut pada pihak penuntut, jika tetap mempertahankannya berarti dapat menimbulkan bentrokan-bentrokan yang dapat menimbulkan korban.
Berkat perjuangan gigih akhirnya pada bulan September 1945 diadakan serah terima seluruh tambang minyak yang berada di Pangkalan Brandan dari pihak tentara Jepang kepada anggota pemerintah RI Sumatera Utara dengan disaksikan oleh Komisi Tiga Negara (KTM). Peristiwa ini segera disusun dengan pembentukan perusahaan minyak nasional pertama yang di beri nama dengan perusahaan tambang minyak negara RI (PTMN RI).
Berkat perjuangan gigih akhirnya pada bulan September 1945 diadakan serah terima seluruh tambang minyak yang berada di Pangkalan Brandan dari pihak tentara Jepang kepada anggota pemerintah RI Sumatera Utara dengan disaksikan oleh Komisi Tiga Negara (KTM). Peristiwa ini segera disusun dengan pembentukan perusahaan minyak nasional pertama yang di beri nama dengan perusahaan tambang minyak negara RI (PTMN RI).