• Tidak ada hasil yang ditemukan

Meninjau Sejarah. Kisah Hidup Muhammad Natsir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Meninjau Sejarah. Kisah Hidup Muhammad Natsir"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

Meninjau Sejarah

Kisah Hidup

Muhammad Natsir

(2)

UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4

Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.

Pembatasan Pelindungan Pasal 26

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:

i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual; ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian

ilmu pengetahuan;

iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan

iv. Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3)

Meninjau Sejarah

Kisah Hidup

Muhammad Natsir

Jarudin, Ph.D.

Editor :

Dr. Yendra, S.S., M.Hum.

Kata Pengantar Oleh :

(4)

MENINJAU SEJARAH KISAH HIDUP MUHAMMAD NATSIR Jarudin Editor : Yendra Desain Cover : Dwi Novidiantoko Sumber : Jarudin Tata Letak : Gofur Dyah Ayu

Proofreader : Avinda Yuda Wati

Ukuran : xii, 99 hlm, Uk: 15.5x23 cm ISBN : 978-623-02-1567-4 Cetakan Pertama : September 2020 Hak Cipta 2020, Pada Penulis Isi diluar tanggung jawab percetakan Copyright © 2020 by Deepublish Publisher

All Right Reserved Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang keras menerjemahkan, memfotokopi, atau

memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit. PENERBIT DEEPUBLISH (Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA)

Anggota IKAPI (076/DIY/2012)

Jl.Rajawali, G. Elang 6, No 3, Drono, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman Jl.Kaliurang Km.9,3 – Yogyakarta 55581

Telp/Faks: (0274) 4533427 Website: www.deepublish.co.id

www.penerbitdeepublish.com E-mail: [email protected]

(5)

KATA PENGANTAR

uji syukur ke hadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga buku Meninjau Sejarah, Kisah Hidup Muhammad Natsir telah dapat diselesaikan. Buku ini merupakan bagian dari disertasi S-3 penulis di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), yang secara spesifik berisi tentang sejarah kehidupan dan pelibatan Muhammad Natsir dalam berbagai aktivitas sosial dan politik. Muhammad Natsir adalah tokoh yang mampu memadukan antara kegiatan politik dengan kegiatannya sebagai seorang pendakwah (da‟i atau mubaligh). Kekhususan ini yang membedakannya dari tokoh-tokoh lain. Setiap persoalan yang diuraikan Muhammad Natsir selalu berasaskan nilai-nilai dasar Islam. Pemikiran yang beliau nyatakan tidak lari dari ketinggian dasar ajaran Islam. Beliau mengatakan, Islam mesti dijadikan ciri seorang muslim dalam segala aspek kehidupan.

Penghargaan dan ucapan terima kasih penulis rekamkan kepada Yayasan Pendidikan PGRI Sumatera Barat dan Ibu Dr. Zusmelia, M.Si. selaku Ketua STKIP PGRI Sumatera Barat. Terima kasih juga disampaikan kepada Dr. Yendra, S.S., M.Hum., dan Ami Anggraini Samudra, M.Sc., atas kontribusi dalam editing dan penyelesaian buku ini.

Ucapan terima kasih dan permohonan doa kepada Allah Swt., supaya selalu melimpahkan rahmat dan ampunan serta keselamatan dunia dan akhirat ke atas Ayahanda H. Kasim Pakih Kayo dan Ibunda tercinta Hj. Janiar yang telah mengasuh dan mendidik penulis sejak kecil sehingga dewasa. Begitu pula, terima kasih yang mendalam dan tulus penulis ucapkan kepada istri terkasih Zil Arifa, M.Hum. yang telah rela dalam kesendirian untuk masa yang tidak singkat, serta permataku, Adriya Fajar Hudaya, Alfy Fajar Khairan, dan Anniqy Fajar Altafa. Untuk mereka karya ini penulis persembahkan. Penulis menyadari masih terdapat kekurangan

(6)

dalam buku ini untuk itu kritik dan saran terhadap penyempurnaan buku ini sangat diharapkan. Semoga buku ini dapat memberi manfaat bagi mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat khususnya dan bagi semua pihak yang membutuhkan.

Penulis,

(7)

KATA PENGANTAR Prof. Dr. YUZRIL IHZA MAHENDRA, S.H., M.Sc.

M. Natsir, Tokoh yang Konsisten

dengan Perjuangan

Kata Pengantar Oleh:

Prof. Dr. Yuzril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

embincang dan menulis tentang M. Natsir ibarat menimba air dari sumur yang tidak pernah kering. Semakin banyak air ditimba, semakin banyak pula air baru yang mengalir keluar. Semakin banyak membahas dan menggali Natsir, semakin banyak hal baru yang belum tergali dan terungkap tentang tokoh bangsa ini. Ratusan tulisan tentang Natsir, telah pula dapat kita baca dan pelajari. Namun demikian, masih banyak hal baru yang belum dan perlu ditulis tentang Natsir.

Saya sendiri, dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh jurnal Studia Islamika seperempat abad yang lalu telah mengulas biografi Nasir sebagai tokoh yang mengombinasikan antara aktifisme dan intelektualisme. Sebagai cendikiawan, Nasir telah merespon berbagai kondisi aktual dalam tulisan-tulisannya yang tajam dan kritis. Sebagai aktifis, Natsir juga merespon berbagai persoalan bangsa melalui berbagai bentuk gerakan sosial yang dilakukan secara nyata untuk memperbaiki keadaan. Peran dan kiprahnya ini yang membuat Natsir tidak pernah berhenti memberikan kritik dan masukan terhadap pemerintah sepanjang hayatnya. Karena peran dan kiprahnya itu, saya memposisikan Nasir sebagai intelektual dan sekaligus aktifis. Mengapa demikian? Karena bagi saya, Nasir tidak hanya sebagai seorang cendikia, namun juga aktifis yang berupaya merubah keadaan dengan kecendekiawanannya melalui tulisan dan tindakan.

Tentu saja, Natsir bukan hanya seorang penulis dan aktifis. Padanya, kita menemukan sosok intelektual sekaligus ulama yang kharismatik, guru

M

(8)

yang hebat, pemikir bangsa yang cerdas, jurnalis yang kritis, politisi ulung, hingga komunikator hebat yang menguasai banyak bahasa. Pada tokoh yang pernah menjabat perdana menteri RI Indonesia ini pula kita menemukan spirit berjuang hingga akhir hayat meskipun tanpa panggung dan jabatan. Kita semua mengetahui, setelah mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri pada tanggal 26 April 1951 karena tidak menemukan kecocokan dengan Soekarno, Ia tidak pernah berhenti bekerja untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Bahkan, karena semangat juangnya, beliau dituding melakukan pemberontakan bersama PRRI dan dipenjara oleh pemerintah Orde Lama. Setelah dipenjara dan dibebaskan pada pemerintahan Orde Baru, Natsir tetap tidak berhenti dan terus terlibat dalam gerakan sosial kemasyarakatan. Untuk mengokohkan gerakan sosial, Natsir mendirikan Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDI) didirikan Natsir. Bersama DDII Natsir merobah haluan gerakan dari gerakan politik ke gerakan dakwah.

Perjalanan hidup Natsir, sejak dilahirkan hingga akhir hayatnya penuh liku dan tantangan sesuai dengan zaman saat itu. Pada masa kecil, Natsir harus rela tidak dapat mengecap pendidikan di Hollandse Inlandse School (HIS) yang dicita-citakannya sejak kecil. Keinginannya terhalang karena HIS hanya menampung anak-anak demang, bangsawan dan pegawai-pegawai tinggi pemerintahan. Natsir kecil yang anak seorang juru tulis kerajaan Belanda di Maninjau, tidak masuk dalam kategori. Untuk itu, natsir kecil harus rela bersekolah di Hollandse Inlandse School (HIS) Adabiyah Partikiler yang didirikan oleh Syarikat Usaha. Demi pendidikan pula, Natsir haru rela berpisah dengan orang tua sejak kecil (baca bab pendidikan). Namun, pendidikan itu pula yang merubah cara pandang Natsir terhadap kehidupan sosial di sekitarnya. Maka, hal pertama yang dibenahi oleh Natsir adalah pendidikan dengan mendirikan Pendidikan Islam di Bandung.

Gerakan sosial di bidang pendidikan yang dilakukan Natsir juga penuh tantangang. Bahkan, Natsir harus berulang kali menggadaikan harta benda Ummi, sang istri untuk membiayai sekolah Pendidikan Islam yang didirikannya (baca bab Perjuangan). Keterlibatan di organisasi dan terutama di politik juga memberikan dilema tersendiri bagi Natsir karena harus meninggalkan Pendidikan Islam yang didirikannya (baca bab

(9)

Organisasi). Namun, di sini ketenangan dan kematangan Natsir menentukan pilihan dibuktikan. Di bidang politik natsir menonjol hingga menjabat sebagai Perdana Menteri Indoensia ke-5. Namun, Natsir mengambil keputusan untuk mundur setelah tidak sependapat dengan Sokarno yang menganut paham nasionalisme dan menyokong sekularisme yang mengkritik islam sebagai ideologi. Sebaliknya, Natsir mengkritik sekularisme dan memperjuangkan islam sebagai ideologi (Baca bab Masyumi).

Konsistensi Natsir dengan gagasan bernegara yang diusungnya bahkan mengantarkannya ke penjara. Pemerintah Orde Lama di bawah sistem demokrasi terpimpin yang dikomandoi Soekarno memenjarakan Natsir karena dinilai melakukan pemberontakan bersama Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang menentang pemerintahan otoriter selama demokrasi terpimpin. Natsir setuju dengan PRRI yang menuntut otonomi daerah yang lebih luas, dan hal ini disalahtafsirkan oleh Soekarno sebagai pemberontakan (Baca bab Klaim Pemerintah). Selepas dari penjara, setelah dikeluarkan tanpa proses pengadilan di era Orde Baru, Natsir kembali ke jalan dakwah dengan mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) (Baca Bab DDII).

Perjalanan panjang dan konsistensi Natsir telah menjadikannya sebagai tokoh yang paling kompleks di antara para tokoh nasional Indonesia, untuk itulah karya tentang beliau tidak pernah tuntas. Tulisan-tulisan yang membahas tentang Natsir yang saya simak sejauh ini bermuara pada dua hal tentang Natsir. Pertama membahas dan membincangkan ketokohan dan gerakannya yang cenderung membahas sosok Natsir dan aktifitasnya di panggung politik, gerakan sosial dan peran-perannya sebagai tokoh bangsa. Kedua, membahas tentang pemikiran-pemikirannya, baik yang dituangkan dalam tulisan sendiri maupun dituliskan oleh orang lain. Tulisan di kelompok kedua ini cenderung membahas gagasan-gagasan yang ditawarkan oleh Natsir dalam mengurai dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada.

Buku yang ditulis oleh Jarudin ini merupakan sebuah kolase yang menghimpun perjalanan hidup Natsir sejak lahir hingga wafat dengan menggunakan pendekatan sejarah, termasuk tokoh-tokoh besar mempengaruhi pemikirannya. Sebagai sebuah tulisan sejarah, meskipun

(10)

ditulis secara ringkas dan tidak panjang lebar, tulisan ini memberikan warna tersendiri bagi karya-karya dan tulisan-tulisan yang membahas tentang Natsir. Tulisan ini berfokus pada ketokohan Natsir dan gerakan sosial yang dilakukannya dengan pendekatan sejarah, bukan pada pemikiran-pemikiran Natsir. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ditemukan pemikiran Natsir dalam buku ini, karena pada dasarnya, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Natsir seperti mendirikan Pendis, mengoordinasi pendidikan islam, terlibat dalam PSII, terlibat dalam partai Masyumi dan menjadi ketua, hingga mendirikan DDII adalah hasil dari pemikiran-pemikiran Natsir. Tentu saja buku ini sangat penting bagi pemula yang ingin mengetahui sosok Natsir sebagai tokoh bangsa yang konsisten dengan perjuangannya.

(11)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... v

KATA PENGANTAR Prof. Dr. YUZRIL IHZA MAHENDRA, S.H., M.Sc. ...vii

DAFTAR ISI ... xi

Bagian 1 PENDAHULUAN ... 1

Bagian 2 MASA PENDIDIKAN ... 13

Bagian 3 PERJUANGAN ... 20

1. Pendirian Pendidikan Islam (Pendis) ... 20

2. Koordinasi Perguruan Islam ... 30

Bagian 4 ORGANISASI ... 33

Bagian 5 MASYUMI ... 41

1. Sejarah Pembentukan Masyumi ... 41

2. Perjuangan Muhammad Natsir dalam Masyumi ... 44

Bagian 6 DDII ... 53

1. Sejarah Lahirnya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ... 53

2. Perjuangan Dakwah Muhammad Natsir dalam Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ... 56

(12)

Bagian 8 PENGARUH TOKOH ... 76

1. Ahmad Hassan ... 77

2. Haji Agus Salim ... 78

3. Ahmad Sukarti ... 79 4. Al-Ghazaliyy ... 79 5. Jamaluddi al-Afghani ... 80 6. Muhammad Abduh ... 81 7. Rashid Ridha ... 82 Bagian 9 PENUTUP ... 85 DAFTAR PUSTAKA ... 95 PROFIL PENULIS ... 99

(13)

Bagian 1

PENDAHULUAN

Berbicara tentang sejarah Indonesia, tidak akan terlepas dari mata rantai keterlibatan para tokoh kebangsaan yang memiliki peranan besar dalam proses perjuangan mewujudkan kemerdekaan dari penjajahan dan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mereka telah berhasil menempa sejarah dengan pengorbanan, pertumpahan darah, karya gemilang dan prestasi serta masukan yang bernilai tinggi, berguna untuk hari ini dan untuk generasi yang akan datang, dalam mengukuhkan modal dasar ideal dan membangunkan motivasi, sehingga peradaban dapat dibina secara lebih baik dari masa ke masa.

Indonesia dijajah oleh Belanda selama lebih kurang 350 tahun, kemudian dijajah oleh Jepang lebih kurang 3,5 tahun. Penjajahan ini talah merengut pelbagai aspek penting kehidupan masyarakat Indonesia. Namun penjajahan ini juga telah melahirkan para pejuang, pahlawan, dan tokoh yang berusaha mewujudkan kemerdekaan. Mereka adalah tokoh-tokoh yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, seperti Cuk Nyak Din dan Cik Ditiro dari Nanggroe Aceh Darussalam, Tuanku Imam Bonjol dari Minangkabau Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro dari Pulau Jawa, I Gusti Ngurah Rai dari Pulau Bali, Pangeran Antasari dari Pulau Kalimantan, Sultan Alauddin dari Sulawesi, dan Kapiten Pattimura dari Maluku. Mereka adalah sebagian dari para pemimpin yang berada di garis depan perjuangan dalam perang melawan penjajah.

Mendekati abad ke-19 perjuangan melawan penjajah mendekati saat-saat kemerdekaan. Para pejuang Indonesia telah terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah mereka yang secara langsung memimpin pertempuran melawan penjajah, seperti halnya Jenderal Soedirman sebagai pemimpin perang gerilya, Bung Tomo, Bagindo Azis Khan, dan pemimpin-pemimpin lainnya yang berjuang mengangkat senjata. Bagian

(14)

kedua adalah mereka yang berjuang dengan menggunakan pemikiran dan ide mereka. Kebanyakan dari mereka memperjuangkan kemerdekaan secara diplomatis seperti Presiden Soekarno, Muhammad Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, Sutan Syahrir, Sjafruddin Prawiranega, H.O.S. Tjokro Aminoto, Hamka, Muhammad Roen dan Muhammad Natsir.

Soekarno dan Muhammad Hatta adalah tokoh Proklamator Kemerdekaan Indonesia. Mereka telah memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sejarah menyebut kedua tokoh ini dengan nama Dwi Tunggal. Selama negara Republik Indonesia terus berdiri, maka selama itu pula masyarakat Indonesia akan mengingat mereka sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia.

Soekarno merupakan Presiden pertama Indonesia dan salah seorang tokoh yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia, dan juga seorang tokoh nasionalis yang menggubah dasar negara yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Indonesia yang majemuk yang terdiri dari pelbagai agama, suku dan ras.

Muhammad Hatta adalah tokoh yang juga ikut memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia bersama Soekarno pada saat menjadi Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Muhammad Hatta dikenali sebagai tokoh yang pandai melakukan diplomasi. Selain itu beliau juga dikenal sebagai pakar ekonomi kerakyatan, yaitu kegiatan-kegiatan ekonomi yang berasaskan kepada masyarakat kalangan menengah ke bawah. Oleh karenanya sejarah Indonesia telah menjadikan beliau sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Haji Agus Salim dikenal sebagai tokoh pergerakan nasional yang sangat besar perhatiannya terhadap pendidikan. Hal itu dapat dilihat dari pendapat-pendapatnya baik secara lisan maupun artikel-artikel yang ditulisnya mengenai pendidikan. Haji Agus Salim mempunyai prinsip pendidikan homeschooling yaitu keberhasilan pendidikan yang bergantung kepada orang tua sebagai pendidik. Beliau juga dikenal sebagai tokoh pejuang diplomasi yang disegani dunia. Kejayaan diplomasi beliau adalah setelah memenangkan bendera Merah Putih dalam perundingan antar bangsa melawan kerajaan Polandia di Den Haag Belanda.

Muhammad Yamin dikenal sebagai pejuang multidimensi yang memiliki pelbagai kemahiran. Dalam setiap dimensinya beliau

(15)

menunjukkan bakat dan eksistensi baik sebagai politikus dan ahli hukum, maupun sebagai penyair angkatan Pujangga Baru. Muhammad Yamin terlibat dalam percaturan politik praktis sebagai bentuk perjalanannya menjadi seorang intelektual. Jasa besar beliau sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia adalah menjadi salah seorang perumus teks Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Sutan Sjahrir adalah salah seorang tokoh nasionalis pejuang pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia. Pemikiran beliau yang bercorak nasionalis hampir sama dengan pemikiran Soekarno. Beliau mengatakan bahwa tidaklah mustahil suatu masyarakat sosialis diwujudkan di Indonesia di masa hidupnya. Selain itu, beliau juga pernah mengatakan bahwa menjadi tugas yang luar bisa melakukan konsolidasi nasional dalam sebuah Nusantara yang luas dan terbagi-bagi secara sosial. Syafruddin Prawiranegara adalah seorang pejuang, tokoh politik, dan negarawan muslim yang banyak memainkan peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan negara republik Indonesia. Pada zaman penjajahan Jepang beliau mulai aktif mendiskusikan masa depan tanah air Indonesia. Setelah Indonesia merdeka Pelbagai tugas kenegaraan pernah diembannya. Pada 25 Agustus 1945 beliau dipercayakan memegang jabatan sebagai pimpinan Sekretariat Komite Nasional Indonesia (KNI), Karesidenan Priagan, dan pada bulan Oktober tahun yang sama beliau menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dalam bidang pemerintahan, jabatan pertamanya adalah Menteri Muda Keuangan dalam kabinet Syahrir ke-2 yang dibentuk pada 3 Maret 1946. Kemudian beliau menjabat sebagai Menteri Keuangan pada kabinet Syahrir ke-3 2 Oktober 1946. Pada masa inilah beliau menyampaikan gagasannya kepada Wakil Presiden Muhammad Hatta agar Indonesia mencetak mata uang sendiri, mata uang tersebut dikenali dengan nama Oeang Repoelik (Ridwan, 2004).

Buya Hamka adalah sosok seorang pejuang pergerakan kemerdekaan yang memiliki karismatik yang dikagumi. Meskipun beliau telah tiada, tetapi secara hakiki beliau akan senantiasa hidup dalam sanubari para sastrawan, dalam ingatan para sejarawan, dalam pikiran para cendekiawan, dalam dunia para ahli politik, dalam jiwa masyarakat muslim dan dalam ingatan baik kawan maupun lawan. Seluruh gambaran

(16)

keistimewaan kepribadian Buya Hamka tercermin dalam setiap karya yang telah dihasilkannya. Keseluruhan hasil karyanya memiliki latar belakang sejarah yang khas dan mencirikan perkembangan pemikirannya. Salah satu antara karya terbesar beliau ialah Tafsir Al-Azhar. Karya agung Buya Hamka ini merupakan satu wahana pembaharuan Islam di Indonesia.

Demikian tersebut tokoh-tokoh Indonesia baik pejuang, ulama, sejarawan, diplomat, ahli politik, ahli ekonomi, maupun ahli-ahli di bidang ilmu lain yang telah berjasa besar mewujudkan kemerdekaan dan membangun Indonesia. Muhammad Natsir (1908–1993) menjadi salah seorang tokoh di antara mereka. M. Natsir kelahiran Minangkabau Sumatera Barat Indonesia adalah pribadi yang memiliki integritas dan unik. Semenjak mudanya beliau telah terlibat dalam pelbagai polemik intelektual keagamaan, sosial dan senantiasa menjadi tumpuan perhatian para pemikir.

Kehadiran Muhammad Natsir sebagai seorang intelektual, senantiasa menjadi topik perbincangan hangat pada masanya. Sebagai pemimpin, kehebatan dan kebesarannya tidak hanya dihormati oleh kawan tetapi juga disegani oleh lawan. Peranan Muhammad Natsir sangat menonjol dalam dunia politik. Beliau digelar sebagai ahli politik andal. Keterlibatan beliau dalam bidang politik telah mempengaruhi nilai perjuangan kebangsaan Indonesia di zaman kolonial Belanda dan menjelang kemerdekaan.

Pada sisi lain, Muhammad Natsir adalah seorang pemikir dan penulis yang produktif. Beliau mengawali kegiatan tulis-menulis sejak sekolah menengah. Pada masa itu beliau berumur 20-an dan tidak berhenti menulis sampai akhir hayatnya. Pemikiran beliau telah dihimpun dalam pelbagai buku, risalah dan artikel, yang merupakan salah satu sumbangan besar untuk mengayakan khazanah ilmu pengetahuan dan juga pemaparan tentang sejarah Indonesia. Muhammad Natsir mengemukakan pemikirannya tidak hanya sebagai bahan kajian intelektual semata-mata tetapi beliau menuliskan pemikirannya berdasarkan kepada pelibatan dalam pergerakan sosial keagamaan dan politik yang dialaminya sendiri. Banyak tulisan Muhammad Natsir dalam tahun 1930-an yang membangunkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk bersikap optimis dan tidak merendah diri apabila berhadapan dengan pemerintahan kolonial

(17)

Belanda yang saat itu telah membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang kehilangan kepercayaan diri. Muhammad Natsir tidak yakin dengan anggapan bahwa hanya bangsa atau ras (tingkatan) tertentu yang dapat maju melainkan seluruh umat manusia. Beliau berkeyakinan bahwa kemajuan bergantung kepada kemampuan manusia untuk bisa menjadikan mereka layak atau tidak layak berkuasa di negerinya sendiri (Natsir, 1937).

Perjuangan dan kegigihannya dalam membangun Indonesia menjadi salah satu aspek yang menyokong beliau untuk menduduki beberapa jabatan penting dalam pemerintahan Republik Indonesia. Pada zaman kemerdekaan beliau menjadi menteri penerangan RI untuk tiga kali masa jabatan, yaitu pada Kabinet Parlementer Syahril dan Hatta (tahun 1946 - 1949). Pada tahun 1950 sampai dengan tahun 1951 beliau menduduki jabatan tertinggi sebagai Perdana Menteri

Republik Indonesia (Mahendra, 1995). Pemikiran, pelibatan dan aktivitas politik Muhammad Natsir semakin terasah dan teruji, setelah berkenalan dengan sejumlah tokoh pergerakan politik Indonesia, antaranya ustaz Ahmad Hasan, Haji Agus Salim, dan Ahmad Surkati. Selain tokoh-tokoh Indonesia, pemikiran Muhammad

Natsir juga dipengaruhi oleh tokoh-tokoh luar negeri seperti al-Ghazaliyy Muhammad Abduh, Rashid Rida, Hassan dan al-Banna. Mereka adalah tokoh-tokoh filsafat dan pembaharuan pemikiran Islam.

Sebagai seorang tokoh agama intelektual Muhammad Natsir telah mewariskan sejumlah besar ide dan gagasan pemikiran yang sangat berharga yang tidak ternilai. Beliau telah banyak meninggalkan karya tulisan yang monumental. Tulisan dan karya ilmiah beliau terwujud dalam pelbagai jenis dan corak yang hampir meliputi semua aspek kehidupan. Antaranya bidang politik dan pemerintahan, sosial, ekonomi, dakwah, falsafah, keagamaan, pendidikan, kebudayaan dan sejarah.

Satu persoalan menarik dalam karya-karya ilmiahnya tersebut adalah ditampilkannya Islam sebagai persoalan utama. Banyak buku yang telah dihasilkan, dan tidak kurang dari 92 karangan sejak tahun 1929

“Kemajuan tergantung kepada kemampuan

manusia untuk bisa menjadikan mereka layak atau tidak layak berkuasa

di negerinya sendiri”

(18)

sampai ke akhir hayatnya. Diantara karya tulis beliau, yang utama dan banyak dikenal adalah:

1. Capita Selekta terdiri dari dua jilid. Karya ini dicetak ulang beberapa kali. Buku ini menghimpun 64 buah tulisannya dalam berbagai-bagai bidang. Beliau menulis buku ini dari tahun 1929 sampai dengan tahun 1941 yang dikumpulkan oleh DP. Sati Alimin. Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1973.

2. Islam dan Kristen di Indonesia. Buku ini menghimpun 29 buah tulisan dari tahun 1930 sampai dengan tahun 1969. Dihimpun oleh Endang Saifuddin Ansari. Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1969. 3. Fiqh al-Dakwah. Buku ini membahas jejak risalah dan dasar-dasar

dakwah. Buku ini dinilai para pakar sebagai pemikiran terbesar M. Natsir dalam bidang dakwah.

4. Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah. Buku ini membahas kebudayaan dan sejarah yang diterbitkan pada tahun 1980.

5. Qur‟an en Evangelie, dan Mohammad als Profeet, merupakan tulisan pertama yang dipublikasikan ke masyarakat luas. Tulisan itu dimuat dalam bahasa Belanda Algemeen Indische Dabblad (AID) September 1929, sebagai sanggahan dari ceramah pendeta Christoffels yang dimuat oleh media pada saat itu. Oleh Ustaz A. Hassan, kedua tulisan itu diterbitkan ulang dalam bentuk buku dengan judul yang sama, atas nama Komite Pembela Islam. Dari kedua tulisan ini, tulisan-tulisan berikutnya dimuat di berbagai media massa ketika itu, baik dalam bahasa Indonesia, Belanda atau Inggris, dan termasuk di dalamnya adalah polemik yang pernah ditulis oleh cendekiawan Indonesia di tahun 1930-an yang bertemakan: Islam, Kebangsaan dan Kenegaraan. Polemik itu dilakukan oleh Muhammad Natsir atau dengan nama samaran A. Muchlis di satu pihak – dan Ir. Soekarno dkk di pihak lainnya. Polemik-polemik itu, pada umumnya dimuat di pelbagai media seperti Pembela Islam (majalah, terbit di Bandung dengan Muhammad Natsir dan A. Hassan sebagai penanggung-jawabnya), Panji Islam (majalah, terbit di Medan yang digerakkan oleh H. Z.A. Ahmad), pedoman masyarakat (majalah, terbit di Medan yang dipimpin oleh Hamka dan M. Yunan Nasution), pemandangan (surat

(19)

kabar harian, terbit di Jakarta dengan pengemudinya RHO Djoenaidi dan Tabrani), dan lain-lain.

6. Politik Melalui Jalur Dakwah, adalah sebuah tulisan yang berisi tentang penjelasan M. Natsir mengenai perjalanan sejarah pada awal kemerdekaan, yang banyak diselewengkan oleh para ahli sejarah Indonesia.

7. Indonesia di Persimpangan, buku ini berisi tentang sejarah terbentuknya negara kesatuan, yang sebelumnya banyak mengalami pergolakan politik.

8. Islam Sebagai Dasar Negara, adalah tulisan yang membahas upaya M. Natsir meletakkan Islam sebagai dasar negara dan upaya menepis aliran sekular yang memisahkan antara agama dan negara. Buku ini diterbitkan tahun 2000 dengan kerja sama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Universitas M. Natsir dan Penerbit Media Dakwah.

9. Dari Masa ke Masa, berisi tentang pribadi Rasulullah, pembinaan keluarga dan kesan dari penjajahan yang membawa kesuraman, serta nasehat untuk memelihara dan memupuk kemerdekaan. Buku ini merupakan pemikiran beliau semenjak Orde Baru dari tahun 1969 sampai dengan tahun 1973.

Tulisan dalam bahasa Indonesia yang pertama dibukukan adalah Cultur Islam. Beliau menulis buku ini bersama-sama dengan C.P. Wolf Kemal Schoemaker pada tahun 1936 (Rosidi, 1990), Muhammad Natsir juga menulis beberapa buah buku kecil dalam bahasa Belanda yang sangat populer di kalangan kaum terpelajar Indonesia pada masanya. Diantara buku-kubu tersebut adalah:

1. Het Islamietiesche Geloof pada tahun 1931. Buku ini membicarakan masalah keimanan.

2. Komt tot het Gebed pada tahun 1932 yang bermakna marilah solat. Buku ini membahas tentang solat secara lengkap.

3. Golden Regels uit den Quran pada tahun 1932 yang bermakna kalimat-kalimat emas daripada Al-Qur’an.

4. De Islamietesche Vrouw en Haar Recht pada tahun1932. Buku ini menyentuh hak-hak wanita dalam Islam.

(20)

Menurut penilaian Presiden Soekarno, tulisan-tulisan tersebut sangat penting untuk kalangan intelektual Indonesia pada masa itu yang lebih menguasai dan menghargai tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda daripada tulisan dalam bahasa Indonesia (Solihin, 1993).

Di samping buku-buku yang telah disebutkan di atas, masih banyak karya tulis M. Natsir lainnya yang tersebar dalam pelbagai majalah dan surat kabar. Begitu juga dengan kertas-kertas kerja yang dibentangkan di dalam pelbagai forum. Khazanah penulisan Muhammad Natsir dalam pelbagai bahasa masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Jakarta, Perpustakaan Universiti Laiden di Belanda, dan Perpustakaan Universiti Cornell di Amerika Serikat.

Dari pemikiran dan tulisan-tulisannya, tergambar bahwa Muhammad Natsir adalah tokoh yang mampu memadukan antara kegiatan politik dengan kegiatannya sebagai seorang pendakwah (mubalig). Kekhususan ini yang membedakannya dari tokoh-tokoh lain. Setiap persoalan yang diuraikan Muhammad Natsir senantiasa berasaskan nilai-nilai dasar Islam. Pemikiran yang beliau nyatakan tidak lari daripada ketinggian dasar ajaran Islam. Beliau mengatakan, Islam mesti dijadikan ciri seorang muslim dalam segala hal (Natsir, 1961).

Pemikiran ini dikemukakan oleh Muhammad Natsir setelah menyaksikan gejala buruk perkembangan agama Islam di Indonesia yang diakibatkan oleh penjajahan. Pemerintahan kolonial Belanda berusaha membatasi bahkan melarang kegiatan-kegiatan keagamaan umat Islam. Agama Islam tidak dibenarkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah terutama di sekolah Belanda. Kebijakan pemerintahan Belanda ini telah memberi pengaruh besar terhadap kepribadian dan sikap beragama umat Islam di Indonesia saat itu. Kebanyakan mereka beragama Islam tetapi tidak memahami dan melaksanakan ajaran Islam menurut yang sepatutnya. Dalam pandangan Muhammad Natsir, Islam bukanlah semata-mata suatu ajaran agama tetapi Islam adalah suatu pandangan hidup yang universal, meliputi persoalan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Beliau berpendapat Islam adalah puncak inspirasi semua bentuk perjuangan dan revolusi. Islam menjadi dasar perjuangan melawan semua bentuk penjajahan. Selain itu, beliau mengatakan Islam menjadi asas perlawanan eksploitasi manusia terhadap manusia lain, memberantas

(21)

kebodohan, kemiskinan, dan kemelaratan. Oleh sebab itu, Islam tidak boleh dipisahkan antara keagamaan dengan kenegaraan (Natsir, 1961).

Muhammad Natsir adalah pribadi yang prolific. Dalam tubuhnya yang sederhana terdapat cita-cita yang besar. Meskipun, peranan beliau lebih dikenal dalam bidang politik dan dakwah tetapi sumbangan beliau tidak kurang hebatnya dalam bidang agama, falsafah, kebudayaan dan pendidikan. Perjalanan panjang Muhammad Natsir meniti karier perjuangannya yang penuh rintangan tidak pernah melunturkan semangat hingga akhir hayatnya. Berbagai klaim dan cap juga melekat pada dirinya dari pemerintah Indonesia. Mulai dari masa orde lama (Presiden Soekarno), orde baru (Presiden Soeharto), sampai pada masa pasca reformasi yaitu pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada era kepemimpinan Presiden Soekarno, Muhammad Natsir dan beberapa tokoh lainnya ditangkap atas tuduhan terlibat dalam pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Muhammad Natsir kemudian diasingkan dan menjalani tahanan politik di Batu Malang, Jawa Timur pada tahun 1960 sampai dengan 1962. Kemudian beliau dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer pada tahun 1962 sampai dengan 1966. Pada bulan Juli 1966 Muhammad Natsir dibebaskan dengan tampa melalui proses hukum.

Pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, Muhammad Natsir juga dicekal oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena beliau bersama beberapa tokoh Indonesia lainnya mengajukan gugatan kepada kebijakan pemerintah orde baru Pada 5 Mei 1980. Gugatan ini dikenal sebagai Petisi 50. Akibatnya beliau diawasi dan dilarang untuk pergi ke luar negeri hingga akhir hayatnya.

Selanjutnya, sebagai tanda akhir perjuangannya beliau meninggal dunia pada 6 Februari 1993 di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, pada usia 85 tahun. Kemudian setelah lima belas tahun keberpulangannya, tepatnya pada tanggal 1 November 2008. Presiden keenam Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan anugerah gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana sebagai penghargaan tertinggi atas jasa yang telah beliau berikan kepada Indonesia.

(22)

M. Natsir

kelahiran Minangkabau Sumatera Barat Indonesia adalah pribadi yang memiliki integritas dan unik. Semenjak mudanya beliau telah terlibat dalam pelbagai polemik intelektual keagamaan, sosial dan senantiasa menjadi tumpuan perhatian para pemikir. Pada sisi lain, Muhammad Natsir adalah seorang pemikir dan penulis yang produktif. Banyak tulisan Muhammad Natsir dalam tahun 1930-an yang membangunkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk bersikap optimis dan tidak merendah diri. Muhammad Natsir tidak yakin dengan anggapan bahwa hanya bangsa atau ras (tingkatan) tertentu yang dapat maju melainkan seluruh umat manusia. Beliau berkeyakinan bahwa kemajuan bergantung kepada kemampuan manusia untuk bisa menjadikan mereka layak atau tidak layak berkuasa di negerinya sendiri. Dari pemikiran dan tulisan-tulisannya, tergambar bahwa Muhammad Natsir adalah tokoh yang mampu memadukan antara kegiatan politik dengan kegiatannya sebagai seorang pendakwah (mubalig). Pemikiran yang beliau nyatakan tidak lari daripada ketinggian dasar ajaran Islam. Menurut beliau, Islam mesti dijadikan ciri seorang muslim dalam segala hal. Islam bukanlah semata-mata suatu ajaran agama tetapi Islam adalah suatu pandangan hidup yang universal, meliputi persoalan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Beliau berpendapat Islam adalah puncak inspirasi semua bentuk perjuangan dan revolusi.

(23)
(24)
(25)

Bagian 2

MASA PENDIDIKAN

Dalam suasana kenyamanan daerah Alahan Panjang, tepatnya di kampung Jembatan Berukir (Jambatan Baukie) Sumatera Barat Indonesia. Muhammad Natsir yang digelar Datuk Sinaro Panjang, dilahirkan pada hari Jumat 17 Juli 1908. Beliau dibesarkan oleh seorang ibu yang bernama Khadijah dan ayahnya bernama Idris Sutan Saripado. Muhammad Natsir mempunyai tiga orang saudara, yaitu Yukinan, Rabi’ah, dan Yohanusun (Solihin, 1990).

Muhammad Natsir dibesarkan dalam lingkungan keluarga sederhana yang taat beribadah. Ayahnya Idris Sutan Saripado adalah seorang juru tulis pada sebuah pejabat kerajaan Belanda di daerah Maninjau. Keluarganya adalah keluarga yang mementingkan pendidikan dan pelajaran agama. Ibu-bapaknya juga telah memberikan contoh yang baik semenjak ia kecil, supaya Muhammad Natsir bijak menghargai waktu dan mendisiplinkan diri (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, 1993).

Pada tahun 1912 pemerintah Belanda mendirikan Sekolah Kelas I berbahasa Belanda yang kemudian pada tahun 1915 sekolah itu dinamakan Hollandse Inlandse School (HIS). Sejak berumur delapan tahun, sekitar tahun 1916, Natsir kecil bercita-cita untuk masuk HIS, Namun ia tidak termasuk antara anak yang dapat bersekolah di HIS tersebut, karena saat itu murid-murid yang dapat diterima di sekolah itu dipilih dari anak-anak demang, bangsawan dan pegawai-pegawai tinggi pemerintahan. Anak-anak dari golongan kaum tani atau buruh dan pegawai kecil tidak diterima sekolah itu.

Pendidikan formal Muhammad Natsir bermula di sekolah Gubermen Kelas II yang terletak di Maninjau, Kabupaten Agam. Sekolah ini menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah itu, beliau kemudian melanjutkan

(26)

sekolah ke Hollandse Inlandse School (HIS) Adabiyah Partikiler yang didirikan oleh Syarikat Usaha yang dipimpin oleh salah seorang tokoh pembaharu di kota Padang yaitu Haji Abdullah Ahmad. Tempo pembelajaran Muhammad Natsir di sini tidak berlangsung lama, hanya menghabiskan waktu beberapa bulan saja, karena beliau dipindahkan oleh ayahnya ke HIS pemerintah yang sepenuhnya mengikuti sistem pendidikan Barat (Belanda) di kota Solok. Sekolah ini merupakan sekolah rendah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Untuk mendapatkan pendidikan agama, Muhammad Natsir mengaji Al-Qur’an pada malam hari di langgar sebagai kewajiban yang mesti dilakukan oleh setiap anak Minangkabau. Pagi hari belajar di HIS. Tengah hari sampai petang beliau belajar agama di Madrasah Diniyah. Di sinilah Muhammad Natsir memperoleh asas-asas pendidikan agama, mengaji Al-Qur’an dan Bahasa Arab serta ilmu-keagamaan lainnya.

Selama masa sekolah di HIS Solok, Muhammad Natsir tinggal di rumah saudagar yang bernama Haji Musa teman ayahnya. Pada tahun ketiga masa sekolahnya, beliau diminta oleh kakaknya Rabi’ah untuk tinggal bersama-sama kembali di Padang. Akhirnya beliau pindah ke kota Padang dan duduk di kelas lima sekolah HIS yang dulu pernah menolaknya dengan alasan anak seorang pegawai kecil (Yusuf Abdullah Puar, 1978).

Pada tahun 1923 Muhammad Natsir berhasil menamatkan belajar di HIS dengan predikat kelulusan sangat baik, predikat itu telah memberinya peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang selama empat tahun hingga tahun 1927. Sekolah ini juga menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Tidaklah mengherankan jika beliau mampu menguasai bahasa Belanda dengan baik secara lisan maupun tulisan dalam usia yang masih muda.

Semasa bersekolah di MULO Muhammad Natsir menjadi anggota pandu Natipij yaitu perkumpulan Jong Islamieten Bond (JIB) Padang yang dipimpin oleh Sanusi Pane. Menurut Muhammad Natsir, persatuan pelajar ini merupakan pendidikan penunjang selain pendidikan formal yang didapatkan di sekolah. Kegiatan organisasi ini sangat berarti sekali bagi beliau untuk persiapan hidup di tengah masyarakat. Pembelajaran seperti

(27)

ini telah menumbuhkan generasi-generasi yang akan tampil di masa hadapan sebagai pemimpin bangsa menurutnya.

Setelah menamatkan pendidikan di MULO, dengan semangat yang haus akan ilmu pengetahuan dan sokongan penuh dari kedua orang tuanya, Muhammad Natsir berpisah dengan ibu bapanya dan meninggalkan kampung halaman. Muhammad Natsir berangkat ke Bandung, Jawa Barat untuk meneruskan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) dalam bidang kesusasteraan Klasik Barat selama tiga tahun yaitu dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1930. Di sekolah inilah Muhammad Natsir mulai mempelajari ilmu pengetahuan Barat lebih mendalam dari masa-masa sebelumnya. Beliau mempelajari pelbagai aspek sejarah peradaban Islam, Romawi, Yunani, dan Eropa, melalui buku-buku berbahasa Arab, Perancis, dan Latin.

Pada umur 21 tahun, usia yang masih sangat muda Muhammad Natsir telah menguasai lima bahasa asing yaitu bahasa Belanda, Arab, Inggris, Perancis, dan Latin. Selain itu beliau sangat mengerti dengan bahasa Indonesia, Bahasa Minang dan Sunda. Penguasaan pelbagai bahasa ini membuat Muhammad Natsir dapat menguasai pelbagai disiplin ilmu di samping beliau belajar agama Islam secara mendalam dan ikut melibatkan diri dalam pergerakan politik, dakwah dan pendidikan.

Dalam perjuangannya mencari ilmu di kota Bandung, Muhammad Natsir mulai tertarik pada pergerakan Islam dan belajar politik di perkumpulan JIB Bandung. JIB adalah sebuah organisasi pemuda Islam yang beranggotakan pelajar-pelajar bumi putra yang belajar di sekolah Belanda. Pada saat itulah beliau bertemu dengan tokoh radikal Ahmad Hassan pendiri Persatuan Islam (Persis), yang sangat mempengaruhi corak pemikirannya (A.W. Praktiknya, 1989). Selain itu, suatu keuntungan pula bagi Muhammad Natsir, pada usianya yang tergolong muda beliau sempat bergaul dengan tokoh-tokoh nasional seperti Muhammad Hatta, Prawoto Mangunsasmito, Yusus Wibisono, Tjokrominoto, dan Muhammad Roem pada saat di JIB (Mahendra, 1994).

Kemudian, karena kepandaian dan kearifan yang dimiliki Muhammad Natsir dalam berorganisasi akhirnya beliau dipilih sebagai ketua JIB Bandung pada tahun 1928 sampai dengan tahun 1932. Jabatan ini turut memberi pengaruh dalam membina kemampuan politiknya.

(28)

Pelbagai peristiwa pada masa persekolahannya itu telah menumbuhkan aspek positif dalam sanubarinya. Beliau yakin bahwa tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh dan melakukan apa yang sanggup dilakukan, maka Allah Yang Maha Rahman dan Rahim akan membukakan jalan untuk meraih semua yang dicita-citakan. Hal ini adalah akibat dari hatinya selalu pilu melihat ketidak adilan yang berlaku dalam dunia pendidikan karena wujud jurang pemisah antara orang kaya dangan orang miskin.

Setelah menyelesaikan pendidikan di AMS, Muhammad Natsir tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau memilih untuk mengajar di salah satu Cawangan sekolah MULO di Bandung dan sekolah guru Gunung Sahari di Lembang. Keputusan ini adalah bentuk kesadarannya untuk mengajar agama. Pada masa itu jarang dijumpai orang yang ingin untuk menjadi guru agama. Beliau menyadari sistem aliran sekolah kebangsaan tidak mempunyai mata pelajaran agama. Semua subjek pelajaran bersifat duniawi lebih menekankan penguasaan ilmu-ilmu akademik dan keduniaan. Namun kurang menumpukan aspek kerohanian dan mental para pelajar. Keadaan ini akan mewujudkan para pelajar yang tidak memahami ajaran agama yang berujung pada kekosongan jiwa.

Muhammad Natsir senantiasa berusaha meningkatkan kemampuannya sebagai seorang guru. Beliau tidak merasa puas dengan ilmu yang telah beliau kuasai. Oleh sebab itu, beliau mengikuti kursus perguruan selama satu tahun. Kursus ini diadakan oleh pihak kerajaan Belanda. Beliau mengambil kesempatan baik ini untuk menjadikannya seorang guru yang lebih baik dan juga sebagai pendukung dalam melaksanakan gagasan pendidikannya ke arah yang lebih sempurna. Selain itu, beliau meneruskan penyelenggaraan penerbitan majalah Pembala Islam terbit dua kali sebulan. Kegiatan beliau dalam JIB juga kian meningkat. Muhammad Natsir adalah orang yang sangat sibuk dan senantiasa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Setelah kursus

Tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh dan melakukan apa yang sangup dilakukan, maka Allah Yang Maha Rahman dan Rahim

akan membukakan jalan untuk meraih semua yang dicita-citakan

(29)

perguruan berakhir, maka beliau memperoleh Lager Onderwijs (LO) yaitu ijazah yang memberi izin kepada seseorang untuk menjadi guru profesional. Muhammad Natsir menjadi lebih yakin untuk melanjutkan perjuangannya membina sistem baru pendidikan Islam.

Pada tanggal 20 Oktober 1934 beliau menikah dengan Nur Nahar di Bandung. Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh enam orang anak yaitu Siti Muchlisah yang lahir pada 20 Maret 1936. Abu Hanifah lahir pada 29 April 1937. Asma Farida lahir pada 17 Maret 1939. Hasna Faizah lahir pada 5 Mei 1941. Hasyatul Asryah lahir pada 20 Mei 194. dan Ahmad Fauzi lahir pada 26 April 1944.

(30)

Pagi

hari belajar di HIS. Tengah hari sampai petang beliau belajar agama di Madrasah Diniyah. Pada tahun 1923 Muhammad Natsir berhasil menamatkan belajar di HIS dengan predikat kelulusan sangat baik. Bermodal hal tersebut Natsir melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang selama empat tahun hingga tahun 1927.Setelah menamatkan pendidikan di MULO, Muhammad Natsir berangkat ke Bandung, Jawa Barat untuk meneruskan pendidikan di Algemene Middelbare School (AMS) dalam bidang kesusasteraan Klasik Barat selama tiga tahun yaitu dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1930.Setelah menyelesaikan pendidikan di AMS, Muhammad Natsir tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Beliau memilih untuk mengajar di salah satu Cawangan sekolah MULO di Bandung dan sekolah guru Gunung Sahari di Lembang.

(31)

Rumah Muhammad Natsir Alahan Panjang – Kab. Solok

(32)

Bagian 3

PERJUANGAN

(Perjuangan Muhammad Natsir dalam Dunia Pendidikan)

1. Pendirian Pendidikan Islam (Pendis)

Setelah Muhammad Natsir menyelesaikan pendidikan pada Algemene Middelbare School (AMS) di Bandung propinsi Jawa Barat dengan pencapaian yang sangat baik. Muhammad Natsir tidak meneruskan pendidikannya ke tingkat universitas, meskipun beliau berpeluang untuk mengikuti program ijazah dalam program undang-undang (hukum). Beliau juga berpeluang menjadi pegawai kerajaan Belanda dengan gaji yang sangat lumayan. Jenis pekerjaan yang menjadi impian setiap lulusan AMS. Sebaliknya, beliau memilih untuk menjadi seorang Guru dan mendalami ilmu agama di bawah bimbingan gurunya Ahmad Hassan. Bimbingan dan didikan Ahmad Hassan telah menjadikannya seorang yang memahami ajaran-ajaran agama dengan baik.

Keadaan ini semakin menumbuhkan kesadarannya untuk berjuang demi kejayaan Islam. Muhammad Natsir memulai tugas sebagai seorang guru di Bandung Jawa Barat. Di tempat ini bakat beliau sebagai seorang guru yang mementingkan pendidikan Islam. Beliau amat menyadari betapa pentingnya bidang pendidikan dalam rangka membangunkan kesadaran umat Islam. Oleh sebab itu beliau bertekad untuk memperbaiki keadaan. Perbaikan yang ditujukan untuk menyelamatkan orang-orang yang seusia dengan beliau dan untuk menyelamatkan generasi yang akan datang supaya mereka tidak terus berada dalam suasana buta agama. Jika hal ini dibiarkan terus berlangsung, maka sendi-sendi Islam di kalangan rakyat pribumi akan pudar secara perlahan.

Muhammad Natsir merupakan tokoh karismatik yang pandai membaca situasi dan kondisi. Beliau mengetahui bahwa gaya hidup dan bahasa Belanda mempunyai peranan besar dalam mengubah gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia. Muhammad Natsir berjuang untuk

(33)

mengembalikan kepribadian masyarakat Indonesia yang telah pudar dengan pendekatan bahasa Belanda. Artinya beliau menyampaikan nilai-nilai dasar Islam dengan menggunakan bahasa yang dipandang sebagai bahasa yang paling baik dan bergaya. Inilah kaidah pendidikan yang sangat berpengaruh pada masa itu.

Muhammad Natsir kemudian memulai gagasan pendidikan Islam beliau dengan menulis buku-buku yang diterbitkan secara berkala (serial). Buku-buku ini ditulis dalam bahasa Belanda. Karya-karya awal ini sangat popular terutama di kalangan orang-orang yang belajar di sekolah Belanda. Diantara buku-buku itu adalah Het Islamietische Geloof yang menjelaskan mengenai masalah Iman kepada Allah. Buku Komt tot bet Gebed yang menjelaskan mengenai seruan untuk melaksanakan salat. Buku Gulden Regels in Quran mengenai kalimat-kalimat emas dalam Al-Qur’an. Dan selanjutnya, Buku De Ismietische Vrouw en Haar Recht yang bercerita mengenai hak-hak seorang wanita Islam.

Buku-buku Muhammad Natsir mengenai nilai-nilai dasar pendidikan Islam ini memunculkan pelbagai tanggapan dari tokoh-tokoh nasional lain. diantaranya ialah Soekarno. Soekarno menulis sepucuk surat dari Ende kepada Ahmad Hassan pada tahun 1935. Beliau memuji buku karangan Muhammad Natsir yang mengandung seruan untuk melaksanakan salat. Pada kesempatan lain Presiden Soekarno juga memuji Muhammad Natsir sebagai mubalig yang berkualitas dan berkaliber tinggi (Rosidi, 1990).

Muhammad Natsir semakin bergiat dalam perjuangannya. Beliau berkeinginan untuk mengubah sistem pembelajaran ke sistem yang baru. Beliau tidak mempedulikan masalah gaji yang diterima setiap bulannya. Beliau merancang gagasan sistem pendidikan yang paling bersesuaian untuk putra dan putri muslim Indonesia. Alasan utama beliau untuk mengemukakan gagasan ini berdasarkan kepada realitas pendidikan Islam yang jauh terbelakang jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah umum lain. Keinginan ini adalah perjuangan untuk membela Islam dengan meningkatkan taraf pendidikan masyarakat muslim (Rosidi, 1990).

Beliau menyadari bahwa pendidikan tradisional Islam saat itu seperti di pesantren dan madrasah hanya dapat menghasilkan orang-orang yang beriman dan berakhlak baik tetapi kurang bahkan tidak mampu

(34)

menguasai ilmu-ilmu lain yang telah menyokong perkembangan dunia. Kekurangan ini menurut Muhammad Natsir tidak menepati perintah Allah Swt. untuk membina keseimbangan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya pendidikan pola Barat yang dilaksanakan oleh penjajah Belanda hanya mengisi kemampuan otak saja. Pendidikan agama sama sekali tidak diajarkan, bahkan dibatasi dan dilarang.

Akhirnya Muhammad Natsir bersedia mendirikan satu sekolah dengan sistem baru. Pembangunan sekolah ini dilakukan setelah beliau memperoleh pertimbangan dari gurunya Ahmad Hassan dan bantuan daripada kawan-kawan beliau yang lain. Sekolah baru yang akan didirikan ini mempunyai sistem bersepadu yaitu satu sistem pendidikan yang harmoni dengan menggabungkan materi pendidikan (kurikulum) seimbang antara ilmu-ilmu Islam dengan ilmu-ilmu umum dengan tingkat mulai dari Taman Kanak-kanak (kindergarten) sampai dengan tingkat Menengah yang sederajat dengan MULO (Rosidi, 1990).

Muhammad Natsir mengharapkan bahwa kaidah ini akan membantu pelajar-pelajar muslim untuk tidak saja memahami dan mahir menguruskan hal keduniaan tetapi juga mampu menjadi para muslim yang beriman dan berpribadi mulia. Dasar-dasar pendidikan yang berpadu ini disusun oleh Muhammad Natsir dalam sebuah risalah yang bertajuk Cita-Cita Pendidikan Islam. Risalah ini diterbitkan dalam Capita Selekta (Puar, 1978).

Gagasan pembangunan sekolah dengan kaidah baru ini menimbulkan pelbagai masalah. Mulai dari aspek-aspek penyokong (infrastruktur) sekolah, guru yang akan mengajar, murid yang akan belajar sampai kepada aspek-aspek penyokong lainnya. Setelah membincangkan perkara ini dengan kawan-kawannya, akhirnya dibuat keputusan bersama mengenai pelaksanaan pembelajaran di sekolah baru ini. diantaranya beliau sendiri yang akan menjadi guru pertama. Kemudian sebuah rumah yang terletak di Jalan Sumedang disewa secara bersama-sama dengan pihak lain untuk tujuan yang berbeda. Pagi digunakan oleh Muhammad Natsir untuk dijadikan sekolah, dan sore harinya digunakan oleh penyewa lain untuk belajar tambahan Bahasa Inggris.

Pada awalnya sekolah itu dimulai dengan lima orang murid saja. Mereka terdiri dari pelajar-pelajar tamatan HIS yang tidak bisa

(35)

meneruskan pelajaran pada peringkat yang lebih tinggi. Sistem yang beliau gunakan adalah sistem guru dan murid duduk bersama di sekitar meja panjang dan belajar secara berdiskusi seperti kaidah yang pernah beliau terima dari gurunya Ahmad Hassan.

Demikian gambaran perjuangan Muhammad Natsir untuk mewujudkan gagasan pendidikannya. Permulaan sekolah yang banyak kekurangan tetapi beliau tidak berhenti kerana kekurangan-kekurangan itu. Beliau mempunyai semangat juang yang tidak ternilai dan memiliki semangat juang yang tidak banyak orang memilikinya. Tujuan beliau tidak lain hanya untuk kemajuan pendidikan masyarakat muslim pada masa yang akan datang.

Seiring berjalannya waktu sekitar dua bulan berjalan, sekolah tersebut menunjukkan kemajuan. Murid-murid beliau semakin bertambah dari hari ke hari. Karenanya perlu penambahan perangkat-perangkat sekolah seperti meja tulis, kursi, dan lain-lain. Muhammad Natsir tidak mampu untuk mengadakan semua keperluan itu. Beliau berinisiatif untuk meminjam uang kepada Haji Muhammad Yunus. Haji Muhammad yunus adalah seorang dermawan di kota Bandung. Beliau banyak membantu Muhammad Natsir untuk menjamin sekolah ini agar terus dilaksanakan. Bantuan-bantuan seperti ini senantiasa diberikannya, bahkan sampai membantu pemindahan sekolah ke tempat yang lebih baik di kawasan Lengkong Besar nomor 16.

Akhirnya, Muhammad Natsir berhasil mendirikan dan menyusun rumusan Pendidikan Islam yang sederajat dengan MULO. Sehubungan dengan hal itu, beliau mendapat bantuan tenaga pengajar yang mencukupi, diantaranya adalah Ir. Ibrahim (Direktur Syarikat Semen Gresik pada zaman Republik Indonesia merdeka), Ir. Inderacaya (Menteri Perhubungan serta Kemakmuran Kabinet Republik Indonesia 1948 -1949), dan Fakhruddin al-Khairi yaitu seorang keturunan India Muslim dan juga sahabat lamanya semenjak dari zaman persekolahan.

Walaupun demikian, Muhammad Natsir masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan tenaga pengajar pada tingkat HIS dan taman didikan kanak-kanak (kindergarten). Namun, Muhammad Natsir terus berusaha mencari guru tetap untuk tingkat pendidikan kanak-kanak. Akhirnya, beliau mengajak seorang kawan yang sama-sama aktif dalam perkumpulan

(36)

JIB Bandung yaitu Nur Nahar yang lebih dikenal dengan panggilan Ummi. Pada mulanya, Ummi bertugas sebagai seorang guru tetap di Sekolah Arjuna yang mendapat subsidi daripada kerajaan, namun akhirnya beliau setuju untuk membantu Muhammad Natsir menjadi guru didikan kanak-kanak.

Nur Nahar telah berperanan aktif dalam mewujudkan pencapaian cita-cita program Pendidikan Islam. Ummi adalah orang yang pandai menilai besarnya perjuangan Muhammad Natsir. Pada awalnya Muhammad Natsir merasa ragu untuk meminta Ummi menjadi tenaga pengajar. Sekolahnya hanya sebuah sekolah swasta yang tidak mendapatkan subsidi daripada pihak mana pun. Selain itu, pembayaran pengajiannya juga tidak menentu karena banyak muridnya yang tidak membayar iuran sekolah karena mereka terlalu miskin. Artinya sekolah tersebut tidak mempunyai sumber keuangan yang kuat dan tidak mampu untuk membayar gaji guru menurut yang sepatutnya. Perkara inilah yang membimbangkan Muhammad Natsir jika permintaannya ditolak oleh Ummi. Namun beliau memberanikan diri menawarkan jabatan guru kepada Ummi. Jawaban Ummi di luar dugaan Muhammad Natsir, karena masalah gaji tidak menjadi persoalan bagi Ummi. Dia memahami dan berminat untuk turut menyertai cita-cita perjuangan Muhammad Natsir. Tanpa berfikir lebih panjang lagi, Ummi menyertai Program Pendidikan Islam (juga dikenal dengan singkatan “Pendis”) dan meninggalkan perkerjaannya sebagai guru tetap di Sekolah Arjuna. Ummi mengelola pendidikan kanak-kanak itu secara baik. Keterlibatan beliau telah turut membantu terwujudnya gagasan pendidikan bersepadu yang telah disusun oleh Muhammad Natsir pada masa itu.

*****

Kegigihan Muhammad Natsir dan kawan-kawan telah menunjukkan hasil yang nyata. Dari hari ke hari Pendidikan Islam yang dipimpin oleh Muhammad Natsir menjadi populer dan dikenal khalayak ramai. Orang mulai membicarakan Pendidikan Islam yang setingkat dengan MULO, HIS dan Taman Asuhan Kanak-kanak. Berita ini tersebar luas di kalangan masyarkat. Semakin hari murid-murid semakin bertambah. Para penerbit

(37)

buku-buku sekolah seperti J.B. Wolters semakin percaya untuk membekalkan buku-buku yang dibayar secara angsuran ke Pendidikan Islam. Perangkat-perangkat sekolah lain juga dibayar secara angsuran.

Perkembangan pesat sekolah baru ini seiring juga dengan timbulnya masalah baru. Bangunan sekolah tidak memadai lagi untuk menampung murid yang semakin bertambah banyak. Akhirnya Haji Muhammad Yunus berusaha mencari bangunan lain yang lebih besar. Kemudian sekolah dipindahkan dari jalan Lengkong Besar no 16 ke tempat baru di jalan Lengkong Besar nomor 74. Tempat ini lebih memadai untuk situasi belajar. Di tempat ini tersedia kawasan halaman untuk para pelajar bermain-main dan beristirahat. Seluruh biaya pemindahan sekolah ini termasuk sewa bangunan tersebut diselesaikan oleh Haji Muhammad Yunus.

Pendidikan Islam yang didirikan oleh Muhammad Natsir dibagi menjadi beberapa tingkat. Beliau lebih bersemangat untuk menyusun satu rancangan pendidikan yang lebih

teratur dan lengkap. Tingkat pendidikan yang telah berjalan dari Taman Pendidikan Kanak-Kanak, HIS dan MULO kemudian ditambah dengan tingkat pendidikan khusus yaitu Kweekschool – Kweekschool adalah sekolah keguruan yang sangat

diperlukan untuk mendidik dan membina guru-guru muda yang akan meneruskan Pendidikan Islam nantinya. Pembinaan guru-guru muda ini akan dapat menyokong kelanjutan pendidikan Islam yang akan semakin berkembang dan maju dari hari ke sehari.

Seiring berjalannya waktu, Muhammad Natsir semakin bersemangat mengembangkan Pendidikan Islam. Beliau berusaha menambah jumlah sekolah di pelbagai tempat. Penambahan ini dimaksudkan untuk menampung para pelajar muslim yang berkeinginan untuk sekolah di pendidikan Islam ini. Selain itu, sekolah-sekolah swasta (sekolah umum) lainnya juga semakin banyak didirikan. Persoalan ini menjadi masalah tersendiri pula bagi Muhammad Natsir, karena orang pada saat itu masih banyak berfikir bahwa sekolah umum tetap lebih baik daripada sekolah

“Hasil yang lebih baik akan mengubah pandangan masyarakat secara perlahan

bahwa Pendidikan Islam bukanlah sistem pendidikan

(38)

agama. Walaupun demikian, keadaan ini tidak mematahkan semangat Muhammad Natsir dan kawan-kawan. Kemudian beliau terus berusaha memperbaiki sistem dan kaidah yang telah disusun supaya memperoleh hasil yang lebih baik. Hasil yang lebih baik akan mengubah pandangan masyarakat secara perlahan bahwa Pendidikan Islam bukanlah sistem pendidikan yang terkebelakang. Semangat beliau didorong oleh cita-cita yang ingin membangunkan suatu sistem pendidikan yang mantap dan bersesuaian dengan ajaran Islam.

Seiringan dengan itu, Muhammad Natsir digerakkan oleh niat ikhlas untuk menyelamatkan umat Islam dari kerusakan sistem pendidikan sekular Belanda. Pendidikan maju yang akan membawa bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Gagasan Muhammad Natsir berdasarkan kepada semangat untuk membangunkan masyarakat Islam pada posisi umat yang seimbang (ummatan wasatan). Beliau menyusun kurikulum yang menekankan semangat berdikari dan tidak bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan masalah. Menurut Muhammad Natsir konsep yang paling bersesuaian dengan contoh teladan yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. dalam mendidik umat Islam. Gagasan-gagasan yang telah dikemukakan oleh Muhammad Natsir ini telah dikemukakannya dalam pelbagai tulisan. Gagasan ini telah dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional sampai saat ini.

Muhammad Natsir dan para guru di Pendidikan Islam melaksanakan kaidah pembelajaran akademik seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah Belanda. Kaidah ini dikembangkan dengan melatih murid-murid agar lebih aktif dan tidak bergantung sepenuhnya kepada guru. Mereka dituntun untuk membaca dan berdiskusi agar mentalnya dapat berfungsi secara maksimum dan tidak sekadar menghafal pelajaran saja. Pelajaran agama juga disampaikan sebagai subjek mata pelajaran wajib. Para murid diajar untuk salat berjamaah di sekolah. Sekolah memberi kesempatan kepada murid-murid sekolah keguruan untuk menjadi khatib. Sebuah kepercayaan besar untuk membangkitkan semangat para pelajar supaya lebih bergiat dalam belajar.

Selain itu, perguruan Pendidikan Islam yang dipimpin oleh Muhammad Natsir ini tidak hanya mengutamakan pelajaran-pelajaran akademik saja, tetapi para pelajar juga dididik untuk menguasai

(39)

bidang-bidang kejuruan untuk membina keahlian hidup. Misalnya para pelajar dibina untuk pandai membuat kerajinan tangan. Bidang kejuruan ini diajarkan kepada setiap murid mulai daripada sekolah rendah hingga ke sekolah menengah. Para pelajar sekolah menengah setingkat MULO dan Kweekschool dilatih dalam bidang pertanian sekali dalam seminggu di kawasan pertanian seluas satu hektar di daerah Ciateul Jawa Barat.

Keistimewaan lain sekolah ini adalah kesempatan para pelajar untuk mengikuti kelas seni musik. Murid-murid diperkenalkan dan diajarkan bernyanyi dan bermain musik. Penguasaan seni musik bertujuan untuk memperhalus jiwa dan meninggikan nilai seni khususnya seni musik. Lagu dan irama musik yang diajarkan di Pendidikan Islam ini diubah sesuai dengan tujuan untuk mengembangkan nilai-nilai positif dan nilai-nilai keislaman dengan tidak menekankan perkara yang sia-sia atau merangsang nafsu syahwat. Selanjutnya para murid Kweekscholl dianjurkan supaya mengubah lagu-lagu sendiri untuk diajarkan kepada murid-murid sekolah rendah.

Dalam hal ini, Muhammad Natsir melaksanakan gabungan tiga kaidah pembelajaran dalam Pendidikan Islam yaitu penguasaan teori (dalam bidang ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu umum), praktikal-praktikal kejuruan, dan penguasaan bidang seni yang dalam pendidikan modern saat ini dikenal dengan istilah Afektif (sikap), Psikomotor (Kecakapan), dan Kognitif (pengetahuan).

Penguasaan teori adalah mutlak diperlukan oleh setiap pelajar yang akan berguna sebagai pedoman dasar berfikir dan bertindak. Praktikal-praktikal kejuruan diperlukan para pelajar untuk mengetahui keahlian ilmu-ilmu yang telah diperoleh maupun untuk mendidik para pelajar menguasai satu atau lebih keahlian hidup. Keahlian dalam satu bidang atau lebih sangat diperlukan para pelajar untuk belajar hidup dalam dunia yang nyata. Dan pengetahuan agama sebagai penuntun kedua hal tersebut ke arah yang benar di jalan Allah.

Artinya, para pelajar atau lulusan sekolah yang berilmu tinggi tetapi tidak memiliki berbagai keahlian, tidak akan siap untuk mengarungi hidup di tengah masyarakat. Muhammad Natsir juga berpendapat bahwa kedua aspek di atas yaitu penguasaan materi ilmu dan penguasaan berbagai keahlian belum dirasa cukup memadai untuk seorang pelajar muslim. Oleh

(40)

sebab itu, pengetahuan dan penguasaan seni musik diperlukan sebagai penyeimbang pribadi seorang pelajar Islam yang tinggi ilmu dan mahir bekerja.

Untuk meningkatkan hubungan sekolah dengan orang tua murid, Pendidikan Islam menyelenggarakan acara pagelaran sekali dalam setahun. Acara ini disebut dengan “Malam Ibu-bapak”. Pada malam ibu-bapak ini diselenggarakan pentas sandiwara, seni musik dan tari-tarian yang tidak bertentangan dengan dasar-dasar agama Islam. Penyelenggaraan malam ibu-bapak adalah momen besar bagi para pelajar untuk memamerkan keahlian-keahlian yang telah mereka peroleh di sekolah seperti pertunjukan keahlian seni, hasil kerajinan tangan dan lain-lain. Untuk persiapan, pelbagai latihan yang dilaksanakan di Pendidikan Islam tidak hanya sekadar aktivitas sambilan. Namun seluruh aktivitas itu adalah bagian penting dari rancangan Pendidikan Islam.

Pendidikan Islam mengharapkan agar para pelajar memiliki daya inisiatif dan keberanian untuk menciptakan satu benda yang dapat bermanfaat untuk kehidupan. Selain itu, acara malam ibu-bapak seperti ini dapat membina hubungan harmonis antara para guru, murid dan orang tua murid khususnya dan masyarakat pada umumnya. Pada kesempatan itu juga, para guru dapat lebih dalam mengenali watak para murid mereka masing-masing. Karenanya perasaan “rendah diri” yang telah lama tertanam dalam sanubari para pelajar muslim akibat penjajahan dapat terkikis habis.

Berdasarkan uraian di atas, nyatalah bahwa hakikat tujuan Muhammad Natsir membina lembaga Pendidikan Islam seperti ini adalah untuk membangunkan semangat dan kepercayaan diri para pelajar muslim. Kepercayaan diri yang telah lama hilang sebagai akibat dari penjajahan, kemiskinan, dan kekurangan pendidikan. Pendidikan Islam yang beliau tubuhkan tidak semata-mata untuk meningkatkan kemampuan akademik para pelajar. Namun sebenarnya beliau sedang berjuang memulihkan dan mengembalikan jiwa, roh, dan hakikat diri para pelajar Islam khususnya dan masyarakat muslim Indonesia umumnya yang telah direnggut oleh penjajahan Belanda. Apabila para pelajar muslim telah kembali merasakan jiwa yang tertanam dalam sanubarinya, maka tubuh dan badan lainnya akan bergerak meraih kejayaan.

(41)

Selanjutnya, didikan dan latihan pada sekolah Pendidikan Islam membuat para pelajar dapat merasakan bahwa Islam itu benar-benar hidup dan tidak penghambat kepada kemajuan dunia. Pelajar dibina untuk mempertingkatkan ibadah kepada Allah Swt. Sekolah ini juga melahirkan lulusan yang mampu hidup berdikari dan bersaing dalam masyarakat. Mereka mampu menghadapi semua itu kerana mereka telah dibekali dengan keterampilan yang sesuai dengan bakat mereka masing-masing. Sejarah telah membuktikan bahwa pelajar tamatan Pendidikan Islam dapat berdiri sejajar dengan para pelajar tamatan sekolah Belanda. Misalnya, pada zaman pra-kemerdekaan Republik Indonesia, ada diantara lulusan Pendidikan Islam yang memasuki bidang ketentaraan dan berjuang memimpin pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ada juga diantara mereka yang menjadi pegawai menengah pada Jabatan Pendidikan Agama dan menjadi ahli politik aktif (Yusuf Abdullah Puar, 1978). Kejayaan ini hanyalah sebagian kecil dari tujuan perjuangan Muhammad Natsir dalam pendidikan. Tujuan perjuangan Beliau lebih besar daripada itu, yaitu membangunkan kepercayan dan keyakinan diri para pelajar meneruskan kaidah pembelajaran harmonis yang telah disusunnya.

Perkembangan Pendidikan Islam yang dipimpin oleh Muhammad Natsir ini tidak dapat dipisahkan dari pertolongan orang-orang yang dekat dengannya. Mereka turut bersama-sama membantu mewujudkan tujuan yang mulia ini. Diantaranya yang paling berkesan adalah Nur Nahar (Ummi), guru pendidikan taman kanak-kanak sekolah Pendidikan Islam. Pertemuan antara Muhammad Natsir dengan Ummi telah membawa keistimewaan tersendiri bagi mereka berdua. Pada 20 Oktober 1934, Muhammad Natsir menikah dengan Ummi dalam satu perhelatan yang sederhana. Muhammad Natsir mengatakan bahwa pengorbanan Ummi sangat luar biasa. Muhammad Natsir menceritakan pelbagai pertolongan yang telah diterimanya dari Ummi.

*****

Selanjutnya, setelah Haji Muhammad Yunus meninggal dunia, maka kesulitan demi kesulitan melanda Pendidikan Islam. Masalah keuangan adalah perkara utama yang selalu menghambat laju perkembangan sekolah

(42)

saat itu. Kemudian pada saat itu juga Ummi memainkan peranan penting. Ummi memberikan harta benda yang dimilikinya kepada Muhammad Natsir untuk digadaikan, kemudian ditebus lagi, digadaikan lagi, kemudian ditebus lagi. Bahkan, Muhammad Natsir tidak mampu lagi mengingat perpindahan tangan harta benda Ummi untuk menyokong keberlangsungan sekolah Pendidikan Islam.

Setelah pelbagai kesulitan dan kesukaran senantiasa mengiringi langkah Muhammad Natsir dalam membina Pendidikan Islam setelah wafat haji Muhammad Yunus sebagai penjamin utama sekolah ini, maka Muhammad Natsir mesti memikirkan cara lain untuk menghadapi masalah keuangan. Akhirnya sekolah Pendidikan Islam dipindahkan ke Gong Ciguriang. Sekolah Pendidikan Islam terus dilaksanakan di tempat ini sampai Jepang menjajah Indonesia pada tahun 1942. Jepang memaksa seluruh sekolah swasta ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan, termasuk sekolah Pendidikan Islam yang dipimpin oleh Muhammad Natsir (1932-1942). Penjajahan kembali akan merenggut satu-satunya benda berharga yang dimiliki oleh rakyat Indonesia yaitu jiwa, roh, semangat, dan kepercayaan diri.

Pengabdian Muhammad Natsir dalam membina sekolah Pendidikan Islam telah menumbuhkan kepercayaan masyarakat kepadanya. Setelah Pendidikan Islam ditutup karena penjajahan Jepang, beliau dilantik menjadi pengarah Pendidikan Islam di Bandung. Kepercayaan ini adalah bukti kesungguhan dan keinginannya untuk memperjuangkan pendidikan Islam di Indonesia.

2. Koordinasi Perguruan Islam

Pada tahun 1938 perguruan-perguruan Islam mulai tersebar ke seluruh Indonesia. Muhammad Natsir mengemukakan gagasannya agar semua perguruan Islam mengadakan koordinasi dalam program pendidikannya. Muhammad Natsir memandang perlu agar pelaksanaan pendidikan Islam berada dalam satu kaidah yang sama dan jelas (berstandar). Beliau berfikir untuk kelanjutan pendidikan Islam di masa depan. Kesatuan akan mewujudkan kekuatan. Koordinasi dalam pendidikan hanya boleh berlaku apabila terdapat persamaan dasar dan tujuan dalam semua perguruan Islam. Koordinasi ini bertujuan untuk

Gambar

Diagram 1.1 Kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Dewan dakwah
Diagram  di  atas  menunjukkan  kegiatan  dakwah  Dewan  Dakwah  Islamiyah Indonesia. Dengan penjelasan sebagai berikut:

Referensi

Dokumen terkait