• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perjuangan Dakwah Muhammad Natsir dalam Dewan

Bagian 6 DDII

2. Perjuangan Dakwah Muhammad Natsir dalam Dewan

Islamiyah Indonesia

Sejarah mencatat bahwa jabatan tertinggi perhimpunan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia diduduki oleh Muhammad Natsir sampai akhir hayatnya (1993). Beliau mengetuai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yaitu selama 26 tahun. Artinya lebih kurang seperempat abad Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berada di bawah kepimpinannya. Karenanya perhimpunan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selalu diidentikkan dengan pemikiran Muhammad Natsir. Beliau menjadi pemimpin yang bijaksana, sehingga pemikiran beliau banyak mewarnai perjalanan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Dalam kedudukan yang lain beliau dikenal dengan sebutan “hati nurani umat”, karena benar-benar merasa dimiliki dan menjadi milik umat.

Kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia secara lengkap dapat dilihat melalui Diagram 1.1.

Diagram 1.1 Kegiatan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Dewan dakwah

Islamiyah Indonesia (DDII)

Pengaderan Dai Pengiriman Dai Penerbitan

Masjid Pesantren Kampus Koordinasi

Diagram di atas menunjukkan kegiatan dakwah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Dengan penjelasan sebagai berikut:

a. Koordinasi dalam melaksanakan kerja-kerja dakwah.

b. Pengaderan dai yang berkualitas melalui tiga institusi utama yaitu; masjid, kampus dan Pesantren.

c. Pengiriman dai untuk pemerataan jangkauan pesan dakwah.

d. Penerbitan sebagai usaha memberikan atau mengisi kekosongan yang dirasakan oleh masyarakat Islam dibidang literatur. Namun tidaklah dapat dinafikan peranan yang diberikan terhadap dakwah ataupun perkembangan wacana pemikiran Islam sangatlah besar. a. Koordinasi Dakwah

Menurut Muhammad Natsir, dakwah adalah tugas berat yang tidak mungkin dipikul sendirian oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sebagai sebuah gerakan dakwah, apalagi oleh dirinya sendiri secara perseorangan. Dalam Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Muhammad Natsir berusaha melakukan koordinasi dalam melaksanakan kerja-kerja dakwah. Baik hubungan secara individu dengan para alim ulama dan cendekiawan, atau pun secara kolektif dengan organisasi dakwah yang lain, termasuk perhimpunan-perhimpunan sosial kemasyarakatan yang dianggap mempunyai kesamaan visi dan misi dakwah dengannya.

Contoh nyata yang beliau lakukan diantaranya seperti yang ditulis dalam majalah “Suara Masjid” (1993). Antara lain dinyatakan, sejak tahun 70-an beliau telah mulai mengajak berdialog para intelektual dan pemikir kampus seperti Imaduddin Abdurrahim, Amien Rais, H. Syaifullah Mahyuddin, Fuad Amsyari, Hasan Langgulung, Mochtar Naim, AM Lutfi, H. Sjadali dan lain-lain untuk membicarakan pelaksanaan dakwah (Luth, 1999).

Selain itu, beliau juga mendorong dibentuknya Lembaga Islam untuk Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LIPPM). Membentuk Badan Kerja sama Perguruan Tinggi Islam (BKSPTIS), Badan Kerja sama Pondok Pesantren (BKSPP) dan Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Begitu juga jaringan komunikasi dan informasi dakwah.

Di samping institusi-institusi dakwah yang ada di Asean, beliau juga melakukan hubungan dengan pihak-pihak di Muhammadistan, Jepang,

Timur Tengah, Afrika Selatan, Eropa, Amerika, Australia dan kawasan pasifik lainnya. Dalam hal ini Pengalaman Muhammad Natsir sebagai bekas seorang Perdana Menteri Indonesia dan juga tokoh antar bangsa, memudahkan beliau untuk menjalin kerja sama dan membuat jaringan dakwah dengan berbagai-bagai pihak. Semua itu benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung dan membantu terciptanya kerja sama yang baik dalam melaksanakan kerja-kerja dakwah.

b. Pengkaderan Dai

Pada suatu acara pembukaan bengkel dai di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Muhammad Natsir mengatakan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sedang berusaha membina dan mencetak jenderal-jenderal lapangan dan bukan membina seorang prajurit, kerana satu orang jenderal lapangan yang ahli strategi sama dengan seribu prajurit. Ada tiga institusi utama pengaderan yang mesti berhubungan (bersinergi) dan saling mendukung, yaitu masjid, kampus (universitas) dan pesantren. Ketiga-tiganya mesti mendapatkan keutamaan dalam pembinaan dan pembangunan, karena ketiga-tiganya menjadi tonggak utama umat Islam sebagai tempat pencetak generasi penerus bangsa.

Institusi pertama adalah masjid sebagai tempat pembinaan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, baik orang kaya, orang miskin, ahli akademik, orang awam, orang tua, orang muda dan ataupun kanak-kanak. Usaha ini ialah mengembalikan fungsi masjid seperti pada masa Rasulullah saw. Masjid tidak hanya sekadar tempat untuk beribadah tetapi juga merupakan tempat pembinaan yang baik untuk peningkatan kualitas umat. Hasan Basri menyatakan bahwa fungsi masjid tidak hanya sekadar sarana kaum muslimin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. tetapi juga sebagai sarana membina keutuhan ikatan jamaah dan muslimin, sarana menyurat, pembinaan dan pengembangan kaderisasi pimpinan umat dan lain sebagainya (Hasan Basri, 1993).

Dalam risalah Islam, masjid mempunyai fungsi dan peranan tertentu yang melambangkan masyarakat Islam bukan perseorangan. Masjid melambangkan Islam sebagai agama jamaah. Hal ini dapat dimengerti daripada tindakan Rasulullah saw. sesampainya di Madinah sewaktu hijrah. Pertama kali yang dibangun ialah masjid. Dari masjidlah

masyarakat Islam disusun, nilai-nilai Islam dihidupkan dan dilembagakan dalam kehidupan bersama. Masjid mesti difungsikan sebagai pusat reintegrasi umat (A.M. Fatwa, 2001).

Usaha yang banyak dilakukan oleh Muhammad Natsir melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selain mempelopori pembinaan masjid-masjid, juga berusaha meningkatkan pemanfaatannya. Sehingga benar-benar berfungsi sebagai sarana peningkatan kualitas umat Islam. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia telah membuktikan amal nyata atau dakwah bi al-hal berupa pendirian tempat-tempat ibadah (masjid atau musala) di tempat-tempat umum, kampus, pemukiman transmigrasi, kompleks rumah sakit, perkampungan, kompleks penjara ataupun di tempat-tempat lain (Haryono, 1995).

Muhammad Natsir berusaha membina dan mengembangkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sehubungan dengan kerja sama dengan pelbagai pihak. Beliau menerima banyak pertolongan dari kaum muhsinin terutama daripada Timur Tengah untuk menyumbang pendirian masjid-masjid baru. Demikian juga sumbangan-sumbangan dari pemerintah Saudi Arabia, terutama pada masa beliau menduduki jabatan sebagai Ketua Maktab Rabithah Alam Islami untuk Indonesia yang banyak dirasakan manfaatnya oleh kaum muslimin di Indonesia (Nasution, 1989).

Usaha Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini memunculkan komentar banyak kalangan pejabat diantaranya Ramelan Marjoned, ia mengatakan bahwa diantara tugas dakwah yang dikerjakan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ialah mengembalikan fungsi dan peranan masjid, agar dapat dimakmurkan. Oleh sebab itu itu dihidupkan kembali Ikatan Masjid di Djakarta (IMD) yang dipimpin oleh K.H. Taufiqurrahman. IMD telah didirikan sejak bulan Maret 1951, kemudian tahun 1974 ditingkatkan menjadi Ikatan Masjid Indonesia (IKMI). Diantara tugas IKMI adalah mengadakan silaturrahmi antara ahli kuasa masjid dan khatib, muballigh pada setiap hari-hari besar Islam. Dalam pertemuan itu, di susun jadwal khotbah Jumat, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, dan peringatan hari besar lainnya, serta Menggerakkan jamaah untuk menghimpun bantuan jika terjadi musibah (Ramlan Mardjoned 1991).

Institusi kedua adalah pesantren, tempat dibentuknya para ulama dan para ustaz yang ahli dalam ilmu agama. Muhammad Natsir menyebutkan bahwa pesantren berfungsi sebagai benteng pertahanan mental dari abad ke abad. Pesantren merupakan pusat perkaderan dalam melahirkan ulama dan pemimpin umat yang berkualitas, memiliki komitmen dan semangat kuat untuk mendakwahkan Islam di samping berfungsi sebagai kegiatan pendidikan dan dakwah dalam memberi peringatan kepada umat.

Muhammad Natsir menyiapkan pelbagai cara untuk menjamin pesantren dapat terus bertahan pada masa akan datang. Beliau mengingatkan bahwa Institusi pendidikan ini mesti mampu menghadapi perkembangan dan perubahan yang terjadi di luar sesuai dengan kemajuan zaman. Kemampuan pesantren menangani

isu tersebut menjadi tolok ukur kemampuannya dalam menghadapi arus kemajuan. Pesantren tidak hanya berada dan berfikir dalam dunianya saja tetapi hendaklah bersifat terbuka dan bersedia menerima kemajuan zaman, seperti kemajuan teknologi dan perkembangan

arus globalisasi. Pesantren bersedia membina anak didik dengan didikan yang sempurna berdasarkan wahyu Ilahi serta membekalkan mereka dengan keterampilan dan kemahiran yang sesuai dengan bakat serta bermanfaat bagi kehidupan mereka.

Institusi ketiga adalah kampus (universitas). Fungsi kampus menurut Muhammad Natsir diantaranya adalah membentuk ahli akademik yang ahli dalam bidang ilmu pengetahuan umum dan teknologi. Kampus diharapkan melahirkan cendekiawan dan pemimpin di pelbagai lapangan kehidupan. Betapa besar kekuatan yang dapat dibangun jika dipertemukan antara pesantren dengan universitas. Kemudian, sama-sama berjumpa di masjid. Perpaduan ketiga institusi ini tidak semata-mata bersifat fisik, tapi juga perpaduan persepsi, pemikiran, dan amaliah. Dengan kata lain, kaum cendekiawan dan para ahli akademik di kampus harus memahami pesantren dan masjid. Seperti kaum santri juga dituntut untuk dapat memahami kampus dan masjid.

M.Natsir : Tidak ada pemisahan (dikotomi) antara agama dengan

Gambaran uraian di atas, menunjukkan kemampuan Muhammad Natsir sebagai seorang mujahid dakwah yang berpandangan visioner. Dalam sebuah wawancara dengan Jurnal Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Muhammad Natsir mengatakan apabila tiga unsur itu dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara. Beliau selalu mengingatkan para sarjana dan calon intelektual muslim yang sedang menjalani pendidikan agar memiliki wawasan keumatan. Siapa pun dia, baik guru, dokter, insinyur, ulama, maupun siapa saja. Jika sudah menghayati persoalan umat di lapangan, maka

diharapkan akan bergerak maju memperbaiki keadaan.

Muhammad Natsir pernah menyatakan, bahwa tidak ada pemisahan (dikotomi) antara agama dengan urusan dunia. Oleh sebab itu, umat Islam dituntut untuk tidak membiarkan orang

memisahkan antara ulama dengan intelektual muslim. Keduanya mempunyai daya intelektual, daya pikir dan daya cipta yang disebut dalam Al-Quran dengan istilah ulu al-albab (Natsir, 1937).

Pengkhususan (spesialisasi) yang berlebihan dan tidak lagi mengambil bidang-bidang lain terutama bidang agama, niscaya kekhususan itu akan mempersempit pandangan dan persepsi. Hal ini bukannya memecahkan persoalan, tetapi malah menimbulkan persoalan baru.

Ketiga-tiga institusi ini mesti saling mengisi dan bersinergi. Para ahli akademik mesti sering dipertemukan dengan para penuntut di pesantren agar mereka saling bertukar pikiran dan saling menimba ilmu. Untuk meningkatkan kualitas kader di segala bidang baik bidang umum ataupun agama. Selain itu, perlu diusahakan beasiswa belajar untuk pendidikan dalam negeri ataupun luar negeri.

Selain membina kerja sama antara ketiga institusi di atas, maka pola halakah adalah pola pengkaderan yang juga sesuai. Pola ini mengikut kaidah Rasulullah saw. dalam membina akidah, ilmu dan keteguhan prinsip para sahabat. Pola ini adalah cara terbaik dalam membentuk

Institusi pertama adalah mesjid, institusi kedua adalah pesantren, institusi

ketiga adalah kampus

persaudaraan yang ikhlas, saling memperhatikan, saling membela dan mempedulikan. Pola halakah ini dimanfaatkan oleh Muhammad Natsir dan rekan-rekannya sebagai tempat untuk berdiskusi tentang permasalahan negara dan umat. Pola kunjungan kepada orang-orang tertentu juga merupakan pola dakwah terpenting dalam membentuk kader-kader dakwah. Pada dasarnya kader-kader dakwah dari Madinah sebagai bakal umat Islam Madinah adalah hasil daripada pembinaan Rasulullah saw. di Makkah ketika mereka datang untuk berkunjung dalam rangka melaksanakan ibadah. Pola pembinaan seperti ini akhirnya menghasilkan bentuk nyata perjuangan Rasulullah saw. yang tertulis dalam Bai‟ah aqabah al-ula dan as-tsaniyah.

c. Pengiriman Pendakwah

Salah satu kegiatan utama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sebagai sebuah institusi dakwah adalah membina dan juga mengirimkan tenaga Pendakwah ke daerah-daerah dan pelosok tanah air. Kepedulian Muhammad Natsir ini berasaskan kepada keadaan umat Islam di daerah yang lemah dari segi akidah dan kekhawatiran terhadap usaha pemurtadan oleh para sekular. Keadaan-keadaan ini menyebabkan beliau memberikan tumpuan yang tinggi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Dalam pelaksanaan pengiriman kader pendakwah ke desa-desa, para pendakwah umumnya diambil dan direkrut dari masyarakat desa itu sendiri. Mereka dididik, dilatih, dibekali dengan berbagai ilmu dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas di daerahnya. Sehubungan dengan pengiriman Pendakwah ini, diharapkan umat Islam yang berada di daerah-daerah tersebut dapat terbina keimanan dan keislamannya (Luth. 1999).

Selain itu, bentuk kegiatan ini juga membina Pendakwah kontrak. Para santri tamatan pesantren diajak berdakwah ke daerah transmigrasi, daerah pedalaman atau daerah yang jauh dari kota-kota besar. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia melakukan ikatan kontrak atau perjanjian selama 2 tahun dengan para santri yang bersedia menjadi Pendakwah. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia mempersiapkan tenaga dai, masyarakat setempat diajak pula menerima dan menampung para dai tersebut, sehingga kerja sama memikul beban dakwah dapat terlaksana.

Oleh yang demikian risalah Rasulullah saw. bersambung dengan dakwah Islamiyah. Kewajiban wajib dakwah itu adalah milik umat Islam secara keseluruhan.

Dalam hal ini, Muhammad Natsir mempunyai peranan yang besar dalam usaha membentengi akidah umat Islam dari kehancuran. Pengiriman pendakwah ke daerah-daerah benar-benar dirasakan manfaatnya sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap keadaan umat Islam di daerah-daerah. Hal ini diakui oleh Menteri Agama Tarmidzi Taher. Beliau menyatakan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia merupakan salah satu organisasi pelopor yang mengader dan mengirim para dai sampai ke tempat-tempat terpencil sekalipun, di berbagai-bagai pelosok Nusantara untuk memperkuat akidah dan ibadah umat muslim (Dewan Dakwah Sumbar, 2002).

d. Penerbitan

Salah satu program yang dirintis oleh Muhammad Natsir melalui Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang lainnya adalah dakwah melalui tulisan. Beliau membentuk satu bidang khusus dalam Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yaitu bidang penerbitan atau percetakan. Tujuan utama bidang penerbitan ini adalah menambah bahan bacaan dan literatur agama umat Islam yang sangat sedikit. Namun tidak boleh dinafikan bahwa penerbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia telah menyumbangkan peranan besar penyiaran, pengembangan, dan pemikiran Islam.

Selain itu, bagian-bagian institusi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia seperti Ikatan Masjid Indonesia (IKMI) juga telah memiliki pelbagai penerbitan dalam bentuk majalah ataupun brosur di antaranya Buletin Dakwah yang terbit setiap jumat, Media Dakwah, Sahabat (majalah anak-anak), Suara Masjid, Serial Khotbah Jumat dan penerbitan buku-buku Media Dakwah. Penjualan penerbitan-penerbitan ini setiap bulan mencapai satu juta eksemplar. Penjualan literatur diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ini tersebar di seluruh pelosok tanah air, bahkan juga sampai ke berbagai negara Asean, Eropa dan Amerika (Suara Masjid, 1993).

Pesan dakwah yang diterbitkan dan dipublikasikan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia selalu menjadi bahan berita yang ditunggu, dan dinantikan umat. Terbitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia menjadi pegangan para pendakwah yang akan bertugas. Demikian pula majalah Serial Khotbah Jumat yang diedarkan ke masjid-masjid di seluruh Nusantara pada setiap Jumat. Tidak hanya berisikan bahan-bahan bacaan khotbah, tetapi menjadi bacaan segar bagi jamaah menjelang khatib naik ke mimbar. Buletin Dakwah yang umur penerbitannya sama dengan Dewan-Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, selalu berisi informasi dalam berbagai-bagai peristiwa. Menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan yang selalu dikaitkan dengan ajaran agama Islam yang dibahas secara jelas dan populer. Sehingga, dengan lembaran buletin itu saja, umat mendapatkan siraman rohaniah secara berkelanjutan, di samping memperoleh pegangan yang meyakinkan yaitu Al-quran.

Tulisan-tulisan para pakar dan ulama panutan umat ini sarat dengan isi. Terutama pada masa penerbitan ini dikelola oleh Bapak KH. M. Yunan Nasution, Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Perwakilan DKI Jakarta Raya. Gagasan-gagasan Islam yang ada dalam buletin ini, pada akhirnya dihimpun dalam “Bunga Rampai Ajaran Islam” berjilid-jilid di jadikan buku. Suatu karya yang besar yang berisikan pula informasi tentang dunia Islam dan Islam di daerah-daerah. Mimbar masjid tidak semata menjadi tempat dibacakannya khotbah Jumat. Namun lebih dari itu, sebagai tempat paling utama menyampaikan problematik kehidupan umat dan pemecahannya, sehingga keberadaannya lebih bermanfaat untuk kepentingan umat Islam (Suara Masjid, 1993).

M.Natsir

telah terlibat secara mendalam dan sarat dengan pengalaman politik. Beliau mengabdi pada pemerintah dan menduduki beberapa jabatan tinggi eksekutif negara. Beliau juga terlibat dalam prahara PRRI menentang pemerintahan “kiri” Presiden Soekarno. Pada tahun 1976 Muhammad Natsir dan kawan-kawan mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia di sebuah masjid yang terletak di kawasan Kramat Jaya yang ramai penduduk yang berada di tengah kota Jakarta. Dakwah Islam dinilai berjalan tidak merata dan kurang terorganisasi. Dalam dokumen yayasan dinyatakan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dibentuk atas dasar takwa dan keridaan Allah. Selain itu, tujuan pembentukan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia sekaligus memurnikan tradisi Islam yang telah dinodai oleh nilai-nilai non Islam. Sejarah mencatat bahwa jabatan tertinggi perhimpunan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia diduduki oleh Muhammad Natsir sampai akhir hayatnya (1993). Beliau mengetuai Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yaitu selama 26 tahun.

Muhammad Natsir di Pejabat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Muhammad Natsir dan Anggota Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia

Muhammad Natsir Merasmikan Islamic Centre Padang, Sumatera Barat