47 Perspektif Akuntansi Volume 5 Nomor 1 (Februari 2022), hal. 047-076 ISSN: 2623-0194(Print), 2623-0186(Online) Copyright© The Authors(s). All Rights Reserved Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Kristen Satya Wacana DOI: https://doi.org/10.24246/persi.v1i2.p047-076 http://ejournal.uksw.edu/persi
PEMBAYARAN ONLINE PBB: EFEK TINGKAT PENDIDIKAN, PEMAHAMAN DAN GENERASI
Marcelina Pujiono1
PT Nikorama Citra Tobacco
Received 22/02/2022 Revised 25/03/2022 Accepted 13/04/2022
Abstract. The application of online PBB payment is one method to fulfil tax obligations. This flexible service is provided by banks in cooperation with the local government. There are several factors that influence the success of this payment application, education level, understanding, and generation as moderated variables. The purpose of this paper is to know the influence of education level, understanding and factor of generation which can weaken or strengthen taxpayer’s enthusiasm for using online PBB.. This paper used primary data by distributing questionnaires directly to tax payers in Salatiga city, both those who have used and have never used online payments for PBB. Analysed data using logistic regression tests and different tests. Result shows that education level has no influence on using online PBB, understanding the application of online PBB has positive influence, generation does not moderate education level on applying online PBB, generation moderates understanding of application of online PBB.
Keywords: Education level, understanding, generation, payment application of online LBTT
48 Abstrak. Penggunaan online PBB merupakan sarana pembayaran PBB dalam pemenuhan kewajiban perpajakan, merupakan layanan yang disediakan perbankan yang bekerjasama dengan pemerintah daerah bersifat fleksibel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan pembayaran online PBB antara lain tingkat pendidikan, pemahaman, generasi sebagai variabel pemoderasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara tingkat pendidikan, pemahaman, dan faktor generasi yang dapat memperlemah atau memperkuat wajib pajak terhadap penggunaan pembayaran online PBB. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dengan membagikan kuesioner secara langsung pada wajib pajak di kota Salatiga baik yang sudah dan belum pernah menggunakan pembayaran online PBB. Data dianalisis dengan menggunakan uji regresi logistik dan uji beda. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa (1) tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap penggunaan online PBB, (2) pemahaman berpengaruh positif terhadap penggunaan online PBB, (3) generasi tidak memoderasi tingkat pendidikan terhadap penggunaan online PBB, (4) generasi memoderasi pemahaman terhadap penggunaan online PBB
Kata kunci: tingkat pendidikan, pemahaman, generasi, penggunaan pembayaran online PBB
Pendahuluan
Pajak merupakan sumber terbesar penerimaan negara. Pajak Bumi Bangunan pedesaan dan perkotaan atau PBB P2 merupakan pajak daerah yang dipungut berdasarkan objek pajak. Wajib pajak dapat melakukan pembayaran PBB P2 melalui kantor pos ataupun di bank persepsi, wajib pajak terkadang mengantri lama untuk membayarkan tagihan PBB P2. Pada saat ini pembayaran PBB juga dipengaruhi modernisasi yang dapat dilakukan secara online melalui internet banking dan melalui mesin ATM dengan sistem host to host. Tujuan dari sistem host to host yaitu untuk meningkatkan kualitas pelayanan pada wajib pajak.
Di Salatiga host to host baru diterapkan pada tahun 2016 yang dinilai akan meningkatkan pelayanan pajak daerah, karena wajib pajak akan lebih fleksibel membayar PBB yang dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, wajib pajak juga tidak perlu untuk datang dan mengantri (Wibisono, 2016). Wajib pajak tidak perlu membawa SPPT, wajib pajak tetap bisa membayar dengan memasukan Nomor Objek Pajak atau NOP maka akan muncul data dari wajib pajak yang bersangkutan dan rincian yang harus dibayarkan. Pembayaran online juga dapat mengurangi kesalahan dalam transaksi pembayaran.
49 Didukung juga dalam buku "Paying Taxes 2016" oleh World Bank (2016), diketahui jika pembayaran secara online terus meningkat dibandingkan dengan pembayaran secara langsung. Termasuk pembayaran PBB secara online di Salatiga juga mengalami peningkatan, data diperoleh langsung dari Badan Keuangan Daerah Salatiga, jumlah pengguna pembayaran PBB online meningkat dari tahun 2017 sejumlah 123 menjadi 66.320 untuk tahun 2018.
Penggunaan pembayaran online PBB dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Wulandari (2014) membuktikan jika kepatuhan pembayaran PBB dipengaruhi pengetahuan, tingkat pendidikan, sanksi. Dalam penggunaan pembayaran online PBB, pengetahuan wajib pajak harus terus dibangun agar wajib pajak mempunyai pemahaman yang benar mengenai penggunaan pembayaran online, walaupun tidak diwajibkan untuk melakukan pembayaran online.
Karena jika masyarakat paham, maka wajib pajak tidak akan merasa sulit dalam menggunakan pembayaran online PBB. Penelitian Yusnidar et al. (2015) membuktikan bahwa pemahaman merupakan salah satu faktor penyebab seseorang patuh dengan membayar pajak. Pemahaman mengenai pembayaran pajak akan timbul dari pengetahuan yang dapat diperoleh melalui tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan yang ditempuh akan menghasilkan pengetahuan tentang apa yang menjadi objek, tarif, hak dan kewajiban serta dasar pengenaan pajak yang dapat dijadikan dasar saat melakukan pembayaran.
Melalui tingkat pendidikan seseorang akan lebih memahami tentang sesuatu termasuk metode penggunaan pembayaran online PBB yang diakibatkan kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Penelitian Husnia et al. (2016) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan yang diperoleh wajib pajak tidak hanya diperoleh dari jenjang pendidikan formal tetapi juga dapat melalui pendidikan informal. Tingkat pendidikan juga dipengaruhi perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang akan menghasilkan kesenjangan antar generasi dalam penggunaan teknologi (Kusuma, 2017).
Kesenjangan dapat terjadi karena terdapat generasi yang sudah melekat dengan teknologi dan ada yang kurang mengerti tentang penggunaan teknologi, sehingga penggunaan teknologi atau modernisasi juga dipengaruhi oleh faktor generasi. Semakin muda generasi maka semakin dapat untuk menggunakan teknologi yang berkembang. Generasi X merupakan generasi yang belum terlalu mengenal teknologi, sedangkan generasi Y mendapatkan segala informasi dengan cepatnya atau secara instan melalui teknologi yang ada.
Sesuai dengan penelitian Avianti dan Kartika (2017) tentang kualitas kinerja pada generasi X dan Y yang memiliki konsep atau kesukaan, gaya kerja dan tujuan profesional yang berbeda pada era kelahiran yang berbeda juga.
50 Hasil penelitian dari Maryati (2014) membuktikan jika tingkat pendidikan mempunyai pengaruh positif terhadap kepatuhan pajak. Hasil penelitian Yusnidar et al. (2015) membuktikan jika faktor-faktor seperti pengetahuan, kesadaran, kualitas pelayanan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam pembayaran PBB. Wulandari (2014) membuktikan jika pengetahuan, tingkat pendidikan dan juga sanksi berpengaruh signifikan pada kepatuhan pajak dalam melakukan pembayaran PBB. Dari paparan tersebut, studi sebelumnya membahas mengenai kepatuhan wajib pajak dalam melakukan pembayaran PBB, sementara penelitian ini lebih berfokus pada bagaimana wajib pajak merespon teknologi baru dalam membayar PBB atau penggunaaan pembayaran online PBB.
Beberapa riset menyimpulkan adanya perbedaan perilaku antara generasi X dan Y dalam merespon teknologi baru (Made dan Bunga, 2016), oleh sebab itu riset ini akan menambahkan variabel generasi sebagai variabel moderasi, selain itu penelitian sebelumnya membahas penggunaan pembayaran online PBB menggunakan pendekatan kualitatif (Husnia et al., 2016). Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menganalisis dampak penggunaan pembayaran online PBB P2 melalui aspek tingkat pendidikan, pemahaman dan generasi dari wajib pajak. Direktorat Jenderal Pajak (2019) menjelaskan bahwa di Indonesia generasi Y merupakan generasi yang mendominasi sebesar 33,75%, generasi Z merupakan generasi terbesar kedua di Indonesia 29,23% namun generasi Z belum menjadi wajib pajak, sedangkan generasi X merupakan generasi terbesar ketiga yang mempunyai persentase sebesar 25,74% dan baby boomers merupakan generasi yang mempunyai persentase paling sedikit 11,27%. Saat ini wajib pajak pembayaran PBB P2 didominasi oleh generasi X dan Y, sehingga penelitian ini menggunakan generasi X dan Y sebagai subjek penelitian dimana generasi Y merupakan generasi yang sangat dekat dengan pengaruh teknologi. Perbedaan kedekatan teknologi ini diduga akan berpengaruh untuk memperkuat atau memperlemah penelitian ini.
Variabel generasi ditambahkan karena penelitian sebelumnya membahas perbedaan generasi dari sisi kinerja dan psikologis generasi, belum ada yang membahas tentang pembayaran online pajak bumi dan bangunan. Selain itu, variabel generasi belum banyak mendapat perhatian, padahal variabel tersebut dapat memperkuat dan juga dapat memperlemah, sebab generasi yang berbeda akan mempunyai respon terhadap teknologi yang berbeda (Kirana dan Iqbal, 2017).
Sistem pembayaran online PBB sangatlah membantu saat melakukan pembayaran, namun sebagian wajib pajak belum menggunakan pembayaran
51 online karena belum mengetahui pembayaran online PBB dan cara penggunaannya. Dari hal tersebut, ada beberapa pertanyaan dalam penelitian ini yang dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan pembayaran online PBB di Salatiga? (2) Bagaimana pengaruh pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB di Salatiga? (3) Bagaimana pengaruh tingkat pendidikan yang dipengaruhi generasi terhadap penggunaan pembayaran online PBB di Salatiga? (4) Bagaimana pengaruh tingkat pemahaman yang dipengaruhi generasi terhadap penggunaan pembayaran online PBB di Salatiga?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara tingkat pendidikan, pemahaman, dan faktor generasi yang dapat memperlemah atau memperkuat wajib pajak terhadap penggunaan pembayaran online PBB.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah Salatiga dalam membuat kebijakan pengembangan mengenai modernisasi perpajakan, dan bagi ranah akademis penelitian ini akan memberikan informasi bagi jenjang pendidikan perlunya meningkatkan kemauan untuk memperbaharui pengetahuan yang terus berkembang dan kemauan mengikuti modernisasi untuk menghasilkan SDM yang terlatih untuk menyesuaikan diri terhadap hal-hal baru dan juga dapat dijadikan sebagai referensi bagi peneliti lain.
Telaah Pustaka
Penggunaan Pembayaran Online PBB
Perkembangan teknologi dan informasi pada saat ini mendorong pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan sehingga tercapainya keefisienan dalam melakukan operasi pemerintah (Saha, Nath, dan Salehi-Sangari, 2012).
Pembayaran online PBB P2 terbentuk karena adanya kerjasama antara pemerintah dan bank untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada wajib pajak. Layanan yang disediakan kepada wajib pajak tersebut menggunakan fasilitas host to host yang merupakan teknik komunikasi antara satu pihak dengan yang lainnya atau disebut teknik switching (Titi dan Sari, 2017). Melalui layanan pembayaran online PBB, pemerintah juga dimudahkan untuk mengontrol transaksi PBB karena teknik switching. Selain kemudahan pengendalian yang didapat oleh pemerintah, PBB P2 online juga memudahkan wajib pajak untuk melakukan pemenuhan kewajibannya dalam melakukan pembayaran secara lebih fleksibel dan tanpa mengantri.
Penelitian Mulyadi (2015) membuktikan bahwa kemudahan dalam penggunaan dan pemakaiannya untuk melakukan transaksi pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan internet banking. Begitu juga dengan
52 pembayaran online PBB juga dapat dilakukan dengan mudah melalui internet banking. Selain menggunakan internet banking, pembayaran dapat dilakukan melalui mesin ATM dengan menggunakan kartu debit yang merupakan metode dalam melakukan pembayaran akibat kemajuan teknologi (Foscht, Maloles, Swoboda, dan Chia, 2010). Cara untuk menggunakan pembayaran online PBB adalah melalui kartu debit yang dimasukan pada mesin ATM, setelah kartu dimasukan pada menu utama pilihlah pembayaran lainnya, kemudian klik bagian pembayaran pajak, setelah itu pilihlah pembayaran PBB serta memasukan NOP, kemudian muncul rincian atau tagihan pembayaran PBB yang berisikan objek, setelah itu konfirmasi pembayaran dan yang terakhir dengan mencetak bukti penerimaan negara. Dengan kemudahan dan fleksibilitas pembayaran online yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, wajib pajak mempunyai pilihan untuk menggunakan fasilitas pembayaran PBB P2 secara online tersebut maupun secara manual.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan merupakan sarana proses pembelajaran secara bertahap untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tingkat pendidikan dapat membentuk karakter dan kecerdasan, memberikan motivasi dan menumbuhkan bakat bagi individu. Saat ini tingkat pendidikan terus mengalami kemajuan dan perkembangan, bahkan untuk sistem pendidikannya sudah ada yang menggunakan pendidikan online (Aithal, 2016). Tingkat pendidikan dapat ditempuh melalui dua cara, yang pertama yaitu pendidikan yang terorganisasi atau disebut pendidikan formal dengan menjalankan pendidikan akademis yang merupakan pendidikan berjenjang dan pendidikan yang tidak terorganisasi atau informal yang merupakan pendidikan tidak berjenjang. Pendidikan formal dan informal dapat mengembangkan pengetahuan, potensi, perilaku, mengubah pola pikir, dan memunculkan kesadaran diri sebagai wajib pajak. Pengetahuan dan cara tingkah laku wajib pajak ditentukan melalui pendidikan yang diterimanya (Marpaung, 2016).
Dengan memperoleh tingkat pendidikan maka wajib pajak akan memperoleh pengetahuan tentang perpajakan yang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebagai wajib pajak dan melalui pengetahuan yang diperoleh, wajib pajak dapat menentukan sikap dan memenuhi kewajibannya sebagai wajib pajak. Pemenuhan kewajiban dapat dilakukan dengan cara membayar pajak negara. Pembayaran pajak dapat dilakukan secara langsung atau dengan online.
Pemahaman penggunaan pembayaran online PBB P2
Pemahaman merupakan suatu proses mengartikan, memaknai, menerjemahkan sesuatu hal tertentu atau bahkan prosedur tertentu. Seseorang akan mengartikan dan memaknai hal tertentu jika dia berkeinginan untuk
53 mengetahui lebih lanjut pengetahuan yang ada atau sesuatu hal secara mendalam dengan melakukan analisis apakah bermanfaat dan berdampak dengan dirinya maupun untuk lingkungannya. Jika seseorang merasa bahwa pemahaman yang telah dilakukan bermanfaat dan berdampak bagi diri dan lingkungannya, maka pemahaman akan berpengaruh pada perilaku seseorang dalam pengambilan keputusan, sebaliknya seseorang juga dapat menolak untuk menerima sesuatu jika pemahaman yang dilakukan tidak memiliki dampak dan manfaat untuk diri dan lingkungannya. Sejalan dengan penelitian Aggestam et al. (2014) jika pengetahuan yang diperoleh secara benar dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Pemahaman yang dimaksudkan adalah bagaimana wajib pajak dapat memaknai dan menganalisis prosedur atau cara penggunaan pembayaran online PBB P2, dari hal tersebut wajib pajak dapat mengetahui apakah pembayaran online PBB P2 memiliki dampak dan manfaat untuk dirinya maupun lingkungan. Dari dampak dan manfaat, wajib pajak akan menerima dan melakukan jika dirasa mempunyai dampak dan manfaat atau bahkan menolaknya jika tidak memiliki dampak dan manfaat (Supriyanto, 2013).
Generasi
Generasi merupakan kelompok yang terbentuk menurut tahun kelahiran.
Menurut Duffrin et al. (2016) generasi X adalah mereka yang lahir antara 1961- 1980, merupakan generasi yang menginginkan untuk lebih terlibat dalam interaksi satu dengan yang lainnya. Menurut Mangundjaya dan Ratnaningsih (2017) untuk tahun kelahiran 1965-1976 merupakan generasi X dan tahun kelahiran 1977-1997 merupakan generasi Y. Setiap generasi mempunyai sikap, nilai dan perilaku yang berbeda (Jurney, Rupert, dan Wartick, 2017). Generasi X memiliki sifat royal, melaksanakan berbagai prosedur yang sudah ada, mempunyai rencana, serta sulit untuk menerima pekerjaan yang baru dan akan lebih memilih pekerjaan di perusahaan sesuai kemauan dan tujuan mereka.
Generasi Y mempunyai karakter sangat senang dan menerima hal yang baru dan bebas dalam melakukan pekerjaan, mereka akan lebih senang untuk bekerja saat mereka menyukai atau bahkan memulai suatu usaha yang baru (Mangundjaya dan Ratnaningsih, 2017).
Perbedaan sifat dan karakter yang dimiliki generasi X dan Y juga menyebabkan generasi X dan Y mempunyai sikap yang berbeda dalam hal penerimaan pelayanan administrasi pajak. Generasi Y merupakan generasi yang lahir ditandai dengan perkembangan teknologi, mereka menginginkan sebuah pelayanan secara cepat dan mudah (Bencsik, Juhász, dan Horváth-Csikós, 2016). Generasi X mengharapkan kualitas pelayanan yang bervariasi, cepat, aman dan tempat yang mudah untuk di akses (Rehman, 2014). Generasi yang mendapat kualitas layanan pajak yang diinginkan akan lebih patuh, namun
54 generasi Y merupakan generasi yang lebih tidak patuh dari generasi sebelumnya (Jurney et al., 2017).
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Tingkat pendidikan atau pendidikan berjenjang merupakan suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Pendidikan akan terus menerus mengembangkan potensi yang dimiliki seseorang secara maksimal.
Pendidikan yang diperoleh akan bertujuan untuk mengembangkan kemampuan agar memiliki kepribadian yang baik, mengembangkan kecerdasan, serta keterampilan pada seseorang dan mampu membentuk sebuah pendirian seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh wajib pajak, maka akan semakin meningkatnya pengetahuan atau yang disebut kemampuan kognitif, kemampuan untuk menentukan sikap atau disebut dengan kemampuan afektif dan semakin meningkatnya kemampuan untuk merespon atau disebut kemampuan psikomotorik (Suwarno, Sartohadi, Sunarto, dan Sudharta, 2014). Melalui tingkat pendidikan seseorang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Dalam perpajakan penelitian Maryati (2014) membuktikan jika terdapat pengaruh yang positif antara tingkat pendidikan terhadap kepatuhan wajib pajak dan penelitian Littig dan Littig (2006) membuktikan jika tingkat pendidikan akan membentuk sikap seseorang untuk selalu belajar dan menyesuaikan diri pada teknologi baru.
Pertumbuhan teknologi pada era modernisasi saat ini merupakan salah satu sarana yang inovatif yang dapat membantu individu untuk memperoleh informasi yang diperlukan saat menempuh jenjang pendidikan. Teknologi dibutuhkan untuk meningkatkan persaingan dan kompetitif. Saat ini sudah terdapat aplikasi mengenai pembelajaran budaya yang dapat diakses dengan mudah, dengan tujuan mengenalkan budaya terhadap user tentang Toba Samosir (Nicky, 2016). Selain terdapat pendidikan berbasis aplikasi, penelitian Malelak dan Memarista (2013) membuktikan jika tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor demografi yang berpengaruh positif terhadap pemakaian kartu kredit untuk transaksi. Kartu kredit dan kartu debit adalah kartu yang dapat digunakan untuk melakukan transaksi, hanya saja kartu kredit disebut dengan kartu utang, sementara kartu debit merupakan kartu yang memotong saldo tabungan ketika melakukan transaksi, digunakan untuk pengambilan kas secara tunai, dan dapat digunakan untuk membayar online melalui internet banking. Jika tingkat pendidikan tersebut berpengaruh untuk pemakaian kartu kredit, maka diduga tingkat pendidikan juga akan berpengaruh pada penggunaan pembayaran online PBB melalui ATM dengan
55 menggunakan kartu debit sama halnya penggunaan melalui kartu kredit. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Tingkat pendidikan berpengaruh positif terhadap penggunaan pembayaran online PBB.
Pengaruh Pemahaman terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Pemahaman dapat timbul jika seseorang mempunyai suatu usaha untuk lebih mengetahui mengenai sesuatu hal secara mendalam bahkan sesuatu yang baru akibat perkembangan, dalam hal ini adalah penggunaan pembayaran online PBB P2. Pemahaman wajib pajak mengenai cara melakukan pembayaran online yang dapat dilakukan melalui internet banking atau melalui ATM bank harus ditingkatkan agar tercipta keefektifan pelayanan pajak akibat kemajuan teknologi, untuk mendapatkan pemahaman pembayaran tersebut dapat dilakukan dengan cara memahami langkah-langkah penggunaan pembayaran online PBB P2 dengan membaca atau memperoleh informasi dari wajib pajak yang sudah dapat menggunakannya, setelah memahaminya wajib pajak akan menentukan respon. Terbukti dengan penelitian Yusnidar et al. (2015) mengenai pemahaman seseorang sebagai wajib pajak PBB yang memiliki pengaruh positif dalam penerimaan pembayaran dan Penelitian Marpaung (2016) pemahaman seseorang akan mempunyai pengaruh pada kepatuhan UMKM.
Wajib pajak akan memiliki respon terhadap sesuatu ketika wajib pajak sudah memahaminya termasuk jika wajib pajak memahami langkah pembayaran yang berbasis online, maka penggunaan pembayaran online PBB P2 akan semakin meningkat dan bahkan bisa menyebabkan wajib pajak tidak malas untuk memenuhi kewajibannya, karena wajib pajak dapat menggunakan dengan mudah. Meningkatnya penggunaan sistem juga dipengaruhi oleh pemahaman, seperti hasil penelitian Meng et al. (2014) yang membuktikan jika penggunaan sistem dapat meningkat dikarenakan oleh pengetahuan atau pemahaman online dari sistem yang terus mengalami peningkatan dan pembaharuan pengetahuan. Dalam dunia perpajakan, penelitian Suprayogo dan Hasymi (2018) membuktikan jika seorang wajib pajak yang memahami internet dengan baik maka wajib pajak akan lebih terdorong menggunakan e- filing dan hal tersebut dapat berpengaruh positif dalam peningkatan kepatuhan dalam membayar pajak dan penelitian Liu dan Lee (2010) juga membuktikan jika seseorang yang memahami twitter akan terus menggunakan media tersebut jika orang yang menggunakan memiliki kepuasan yang diterimanya.
Hal tersebut akan sama jika wajib pajak memiliki pemahaman mengenai cara dan manfaat serta kemudahan yang diperoleh saat melakukan pembayaran
56 online PBB. Oleh karena itu, dirumuskan hipotesis sebagai berikut dalam penelitian ini:
H2: Pemahaman berpengaruh positif terhadap penggunaan pembayaran online PBB.
Generasi Memoderasi Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Generasi X dan Y merupakan generasi yang dapat beradaptasi dengan teknologi, berbeda dengan generasi sebelumnya (Tjondro, 2019). Generasi tersebut adalah generasi yang unik yang memiliki preferensi yang berbeda (Rehman, 2014). Generasi Y merupakan generasi yang ada di era modernisasi dengan ketersediaan teknologi. Dalam dunia pendidikan, generasi Y mempunyai karakteristik berbeda dari generasi X untuk mendapatkan pengetahuan. Generasi Y merupakan generasi yang aktif untuk mendapatkan sesuatu yang ingin didapatkan, sedangkan untuk generasi X akan lebih suka dan dihargai untuk melakukan pelatihan atau seminar yang diadakan perusahaan untuk pengembangan diri mereka (Chandra, Hubeis, dan Sukandar, 2017). Dari hal tersebut, cara memperoleh pengetahuan atau sebuah ilmu dalam menempuh tingkat pendidikan mempunyai ciri yang berbeda antar generasi, semakin muda generasi maka semakin tinggi keinginannya untuk mendapat pendidikan yang lebih maju dan berkembang, media baru akan digunakan sebagai sumber daya yang fleksibel (Chang, Eleftheriadis, Mcclintock, dan Member, 1998). Generasi Y merupakan generasi yang cenderung melekat dengan penggunaan media digital seperti penggunaan media sosial seperti email, youtube, facebook, twitter, google adalah media sosial untuk mencari referensi dalam bidang akademis, dan mendapatkan informasi, serta sebagai media untuk berinteraksi (Hidayat dan Saefuddin, 2016). Oleh karena hal tersebut, dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3: Generasi memoderasi pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan pembayaran online PBB.
Generasi Memoderasi Pengaruh Pemahaman terhadap Pembayaran Online PBB
Pemahaman merupakan tindak lanjut seseorang dalam melakukan pembelajaran atau mendalami informasi yang menurut seseorang dibutuhkan bahkan penting. Pemahaman seseorang mengenai informasi dapat berbeda dan dapat juga sama. Jika seseorang mendalami sebuah informasi lebih mendalam maka pemahaman yang diperoleh akan semakin tinggi dan pemahaman yang semakin tinggi akan menentukan seseorang untuk menindak lanjuti pemahaman yang sudah didapatkan. Jika wajib pajak paham akan cara
57 penggunaan pembayaran online, maka wajib pajak akan menerapkannya, didukung dengan generasi muda yang memiliki hubungan yang melekat dengan teknologi.
Pengetahuan teknologi dan penerapan perilaku generasi X dan Y terhadap pengenalan dan cara merespon penggunaan teknologi akan berbeda, hal tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan Kusuma (2017). Generasi X adalah generasi sebelum generasi Y yang memahami teknologi hanya digunakan untuk menjalankan kewajiban, berbeda dengan generasi Y yang lahir dengan kemudahan teknologi, mereka lebih memahami dan menggunakan teknologi untuk bisa mendapatkan sesuatu dan berkomunikasi dengan cepat. Generasi muda yang lahir dengan kemudahan teknologi akan sulit untuk menerima dan memahami budaya dahulu yang jauh dari perkembangan teknologi, seperti wayang. Dari hal tersebut, budaya harus beradaptasi dengan media online atau web yang saat ini banyak digunakan oleh generasi muda, dengan media online generasi akan lebih memahami dan melestarikan budayanya (Candra dan Rizkiantono, 2014). Sama halnya pembayaran PBB yang tadinya hanya dilakukan secara manual juga harus beradaptasi dengan media online sehingga generasi Y akan lebih mudah memahami pembayaran online PBB. Begitu juga sebaliknya, generasi X yang lahir jauh dari perkembangan teknologi akan menyesuaikan dan memahami perkembangan teknologi. Hal ini juga berlaku bagi penggunaan pembayaran online PBB yang diterapkan, generasi akan menjalankan kewajibannya sebagai wajib pajak dengan melakukan pembayaran pajak dengan mengikuti perkembangan teknologi yang akan memudahkan wajib pajak dalam memenuhi tanggung jawab pembayaran. Dengan demikian, dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4: Generasi memoderasi pengaruh pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB
58
Metoda
Data dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer dengan menggunakan kuesioner sebagai alat untuk mengukur pengaruh antar variabel.
Indikator dari setiap variabel yang digunakan dalam penelitian ini tersaji dalam Tabel 1.
Tabel 1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel Definisi Operasional Indikator
Tingkat
Pendidikan Tingkat pendidikan yang diwajibkan di Indonesia meliputi pendidikan dasar, menengah, atas, diatur dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, bahkan bisa dilanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi untuk terus mengembangkan kemampuan dan kepribadian.
1. Tidak sekolah.
2. Lulus SD.
3. Lulus SMP.
4. Lulus SMA.
5. Lulus perguruan tinggi.
(Kurniawati, Nurrochmah, dan Katmawanti, 2017).
Pemahaman pembayaran online PBB
Wajib pajak PBB P2 akan lebih memilih pembayaran PBB secara online jika mereka memahami akan kemudahan penggunaan, cepat dan dapat dilakukan kapan dan dimana saja. Begitu juga sebaliknya, wajib pajak akan menolak jika tidak mengetahui prosedur pembayaran online dan dinilai tidak memiliki manfaat dan dampak (Supriyanto, 2013).
1. Pemahaman pemenuhan kewajiban sebagai wajib pajak PBB P2.
2. Pemahaman hak akan kualitas layanan PBB yang disediakan.
3. Pemahaman akan manfaat penggunaan pembayaran online PBB.
4. Pemahaman mengenai tata cara penggunaan pembayaran online PBB
(Ardi, Trimurti, dan Suhendro, 2016).
Generasi Generasi merupakan kelompok menurut tahun kelahiran. Menurut Duffrin et al. (2016), yang
mempunyai sikap, nilai dan perilaku berbeda (Jurney et al., 2017).
Generasi Y merupakan generasi ditandai perkembangan teknologi (Bencsik et al., 2016).
1. Generasi X yang lahir pada tahun 1965-1976.
2. Generasi Y yang lahir pada tahun 1977-1997.
(Mangundjaya dan Ratnaningsih, 2017).
Penggunaan pembayaran online PBB
Kondisi nyata wajib pajak yang menggunakan pembayaran online PBB P2 yang merupakan bentuk dari perkembangan teknologi dan informasi yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanan, dengan menggunakan fasilitas host to host atau teknik switching (Titi dan Sari, 2017).
Indikator yang digunakan untuk mengukur variabel Penggunaan pembayaran online PBB P2:
(1) Pernah menggunakan;
(2) Belum pernah menggunakan.
(Rahmawati ,2016).
59 Kuesioner dibagikan secara langsung pada calon responden berisi pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda. Populasi dalam penelitian ini adalah wajib pajak PBB di kota Salatiga, Jawa Tengah. Jumlah populasi wajib pajak PBB P2 71.745, data diperoleh dari Badan Keuangan Daerah Salatiga, Jawa Tengah. Dari seluruh jumlah wajib PBB di kota Salatiga, diambil sampel wajib pajak orang pribadi yang melakukan pembayaran PBB dari berbagai macam tingkat pendidikan dan pemahaman yang dimiliki wajib pajak, baik wajib pajak yang sudah pernah menggunakan online maupun yang belum pernah.
Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan multiple step. Langkah pertama pengambilan sampel menggunakan stratified sampling dengan cara mengambil sampel sejumlah 200 wajib pajak terdiri dari yang pernah menggunakan dan belum pernah menggunakan online, langkah yang kedua dalam pengambilan sampel menggunakan convenience sampling didasarkan ketersediaan responden.
Penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Logistik (ARL) biner/ Binary Logistic yang merupakan teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini, karena variabel terikat merupakan variabel kategorial, dalam penelitian ini menggunakan tiga variabel bebas yaitu tingkat pendidikan, pemahaman, generasi, dimana variabel generasi sebagai variabel pemoderasi, dan variabel terikat penggunaan pembayaran PBB baik yang sudah pernah menggunakan online maupun yang belum pernah menggunakan pembayaran online, penelitian ini menggunakan program Statistical Product and Service Solution (SPSS). Rumus yang digunakan dalam penelitian ini:
Model 1 : Ln = 𝛼 + 𝛽1X1 + 𝛽2X2 + e
Model 2 : Ln = 𝛼 + 𝛽1X1 + 𝛽2X2 + 𝛽3X1Z + 𝛽4X2Z+ e Keterangan:
Ln =Variabel dummy penggunaan online PBB (1=pernah;0=belum) α0 =Konstanta
β =Koefisien Regresi
X1 =Tingkat pendidikan wajib pajak X2 =Pemahaman wajib pajak Z =Generasi
ε =Standar Error
Sebelum dilakukan teknik analisis regresi logistik diperlukan uji prasyarat yaitu melakukan uji multikolinearitas (Gudono, 2016). Uji kelayakan model regresi dilakukan untuk menilai regresi tersebut layak atau tidak digunakan dengan melihat Goodness of fit tests. Uji kelayakan dapat dilihat dari tabel overall model fit, hosmer dan lemeshow. Hosmer dan lemeshow menguji H0
untuk mengetahui apakah model sesuai atau tidak, jika Hosmer dan lemeshow memiliki nilai lebih dari 0,05 maka hipotesis nol diterima karena tidak terdapat
60 perbedaan yang signifikan, sehingga model layak untuk dilakukan uji regresi, dapat dilihat melalui nilai chi square jika mempunyai nilai lebih kecil dibandingkan chi square tabel Df 2 (variabel independen-1) maka dapat diterima/layak. Overall Model Fit atau menilai keseluruhan model, yaitu dengan cara membandingkan nilai dari -2 Log Likelihood awal (-2LL) pada blok no=0 dengan nilai dari -2 Log Likelihood akhir pada blok no=1. Apabila terdapat penurunan nilai likelihood mempunyai makna jika model regresi tersebut baik.
Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji beda. Uji beda yang digunakan untuk menentukan apakah dari dua kelompok sampel memiliki perbedaan atau tidak. Dalam penelitian ini menggunakan uji kolmorgonov smirnov Z karena menggunakan dua sampel independen non parametrik yang nilai H0 akan ditolak jika sig<0,05% dan nilai Z observasi>Z tabel, selain kolmorgonov smirnov uji regresi logistik biner juga digunakan dalam uji beda untuk membandingkan generasi X dan generasi Y H0 akan ditolak jika memiliki sig <5% nilai ά.
Selain itu penelitian ini juga melakukan robustness test dilakukan untuk mengetahui kehandalan kemampuan metode yang digunakan melalui hasil uji yang didapatkan. Dalam penelitian ini hasil uji antara uji regresi logistik dan uji beda dibandingkan untuk menguji kekonsistenan hasil dan kekokohan terhadap model yang jauh dari penyimpangan (Huber, 1981).
Hasil dan Pembahasan Hasil Pengumpulan Data
Penyebaran kuesioner dalam penelitian ini dilakukan dengan menyebarkan 200 kuesioner secara langsung di Salatiga. Distribusi kuesioner dalam dilihat melalui tabel 2
Tabel 2. Distribusi Kuesioner
Jumlah Persentase Kuesioner yang disebar dan kembali 200 100%
Kuesioner yang terlalu ekstrim (outlier) 7 3,5%
Kuesioner yang diolah 193 96,5%
Sumber: Data primer 2019
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa kuesioner yang disebar sejumlah 200 kuesioner dan kembali dengan jumlah 200 kuesioner. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan interaksi langsung dengan responden atau menggunakan teknik secara langsung. Kuesioner yang dapat diolah sebesar 193 kuesioner dari 200 kuesioner yang dibagikan.
Dari 193 responden, 96 responden merupakan generasi X dan 97 responden merupakan generasi Y. Terdiri dari 72 responden yang berjenis kelamin
61 perempuan dan 83 laki-laki dan 38 responden tidak diketahui karena tidak mengisi jenis kelamin pada kuesioner, sedangkan responden memiliki berbagai macam pekerjaan, pekerjaan responden yang paling banyak dilakukan responden adalah wiraswasta. Dari tabel tersebut juga diketahui jika 101 responden pernah menggunakan online PBB dan 92 belum pernah.
Tabel 3. Profil Responden
No Keterangan Responden
Frekuensi Persentase 1. Generasi
X (43-54)
Y (22-42) 96
97 49,7%
50,3%
2. Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Tidak diketahui
72 83 38
37% 43%
20%
3. Pekerjaan Wiraswasta
PNS 53
27 27%
14%
Ibu Rumah Tangga Karyawan
Bank Guru
Pensiun Guru Bidan Dosen Marketing Ketua RT Driver Online Jasa Konstruksi
13 9 4 6 3 1 5 1 1 1 1
7% 5%
2% 3%
1,5%
0,5%
2,5%
0,5%
0,5%
0,5%
0,5%
4. Penggunaan pembayaran online PBB Pernah Menggunakan
Belum Pernah 101
92 52%
48%
Sumber: Data primer 2019
Uji Asumsi Klasik
Hasil uji multikolinearitas tersebut diukur menggunakan tolerance value atau variance inflation factor (VIF) dan tolerance, antar variabel terikat penggunaan pembayaran online PBB dan variabel bebas pendidikan, pemahaman, generasi yang memiliki nilai VIF 1,209; 1334; 1,153 dan memiliki nilai tolerance 0,827;
0,750;0,867. Dari hasil nilai yang dihasilkan menunjukan jika tidak terjadi multikolinearitas atau tidak terdapat korelasi antar variabel karena VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1.
62
Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dari variabel generasi, tingkat pendidikan serta pemahaman tersaji dalam
Tabel 4. Statistik Deskriptif
Pernah menggunakan
online Belum menggunakan online
Generasi X 48 48
Generasi Y 44 53
Tingkat Pendidikan :
S1 dan Kursus 4 4
S1 dan Kursus (Generasi X) 2 3
S1 dan Kursus (Generasi Y) 2 1
S1 69 54
S1(Generasi Y) 45 32
SMA 23 28
SMA (Generasi X) 18 19
SMA(Generasi Y) 5 9
SMP 7 4
SMP (Generasi X) 6 2
SMP(Generasi Y) 1 2
Pemahaman :
1-4 Soal terjawab benar 2 10
1-4 Soal terjawab benar (Generasi X) 2 9
1-4 Soal terjawab benar (Generasi Y) 0 1
5-8 Soal terjawab benar 99 82
5-8 Soal terjawab benar (Generasi X) 46 39
5-8 Soal terjawab benar (Generasi Y) 53 43
Sumber: Olah data spss 2019
Dalam tabel statistik deskriptif dalam penelitian ini menyajikan karakteristik dari variabel yang digunakan dalam bentuk jumlah. Dapat dilihat jika tingkat pendidikan baik tanpa generasi dan dengan generasi baik yang sudah pernah menggunakan online PBB ataupun belum pernah memiliki tingkat pendidikan dengan variasi jumlah yang tidak terlalu berbeda, memiliki nilai yang hampir sama. Variabel pemahaman baik yang tanpa generasi dan dengan generasi baik yang sudah pernah menggunakan online PBB maupun yang belum pernah menggunakan pembayaran online PBB mempunyai variasi nilai atau jumlah yang dimiliki lebih beragam.
Uji Kelayakan/Fit of Goodness Uji Hosmer dan Lemeshow
Hasil penelitian pada tabel hosmer dan lemeshow dalam pengujian yang dilakukan mempunyai nilai signifikansi 0,954 jika tanpa moderasi dan 0,992.
Nilai signifikansi lebih dari 0,05 dari hal tersebut, data dinyatakan layak dan H0
63 dapat diterima karena sesuai dengan data observasi untuk digunakan pengujian selanjutnya atau mampu untuk dapat menjelaskan data.
Overall Test
Hasil penelitian pada tabel overall test dinyatakan Fit karena terjadi penurunan dari -2 Log Likelihood blok 0 ke -2 Log Likelihood blok 1, dari hasil uji didapatkan jika -2 Log Likelihood blok 0 memiliki nilai 267,135 sedangkan -2 Log Likelihood blok 1 memiliki nilai sebesar 242,576 tanpa moderasi dan 231,668 dengan moderasi
Uji Simultan Uji Omnibus
Berdasarkan hasil uji omnibus diketahui bahwa pada kedua tahap tanpa moderasi dan dengan moderasi tersebut memiliki nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal ini membuktikan bahwa kedua tahap tersebut H0 ditolak, dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan jika hanya terdapat minimal satu variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap pembayaran online PBB P2.
Uji Koefisien Determinasi
Dari tabel Nagelkerke R square dapat diketahui jika tanpa moderasi variabel dependen seperti tingkat pendidikan, pemahaman merupakan faktor yang mempengaruhi pembayaran online PBB P2 sebesar 16,4%. Jika dengan pemoderasi faktor yang diakibatkan oleh tingkat pendidikan, pemahaman dan generasi sebagai variabel yang memoderasi tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB P2 memiliki faktor sebesar 23.2%.
Tabel 5. Model Summary
-2 Log likelihood Cox and Snell R
Square Nagelkerke R Square
Tanpa Moderasi 241,901 0,123 0,164
Dengan Moderasi 230,224 0,174 0,232
Sumber: Olah Data SPSS 2019
Uji Parsial
Variabel tingkat pendidikan merupakan satu-satunya variabel kategorik yang dilakukan analisis odds ratio yang dapat dilihat dari tabel variables in the equation. Pada odds ratio tanpa menggunakan moderasi memiliki nilai sebesar 0,616 yang menyatakan jika terjadinya peningkatan penggunaan pembayaran PBB secara online pada wajib pajak PBB di Salatiga yang berpendidikan SMA dapat meningkatkan penggunaan pembayaran online sebesar 0,616 kali lebih besar dibanding pendidikan SMP. Odds ratio sebesar 0,921 memiliki arti bahwa
64 wajib pajak yang menggunakan pembayaran PBB secara online pada wajib pajak di kota Salatiga yang menempuh pendidikan perguruan tinggi dapat meningkatkan penggunaan pembayaran online PBB 0,921 kali lebih besar dibanding pendidikan SMP. Odds ratio sebesar 0,750 yang menyatakan bahwa wajib pajak yang menggunakan pembayaran PBB secara online pada wajib pajak di kota Salatiga yang menempuh pendidikan perguruan tinggi dan disertai dengan tambahan kursus dapat meningkatkan penggunaan PBB online 0,750 kali lebih besar dibanding pendidikan SMP.
Tabel 6. Odds Ratio
Tanpa Moderasi Dengan Moderasi
Pendidikan Β Exp(β) Β Exp(β)
Pendidikan(1) -0,484 0,616 1,258 3,519
Pendidikan(2) -0,082 0,921 2,133 8,437
Pendidikan(3) -0,288 0,750 2,890 18,000
Sumber: Olah Data SPSS 2019
Pada odds ratio tanpa menggunakan variabel generasi sebagai moderasi memiliki odds ratio 3,519 menunjukan jika peluang meningkatnya penggunaan pembayaran online meningkat sebesar 3,519 oleh faktor generasi seiring meningkatnya tingkat pendidikan dari SMP ke SMA. Odds ratio sebesar 8,437 menunjukan jika peluang meningkatnya penggunaan pembayaran online meningkat sebesar 8,437 oleh faktor generasi seiring meningkatnya tingkat pendidikan dari SMP ke perguruan tinggi dan Odds ratio sebesar 18,000 menunjukan jika peluang meningkatnya penggunaan pembayaran online meningkat sebesar 18,000 oleh faktor generasi seiring meningkatnya tingkat pendidikan dari SMP ke perguruan tinggi ditambah dengan kursus.
Wald Test
Uji hipotesis pertama menunjukan jika pendidikan tidak berpengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB dengan signifikansi sebesar 0,673 lebih besar dari nilai ά 5% dan memiliki nilai koefisien regresi negatif. Hasil uji tersebut menunjukan jika H0 diterima dan H1 ditolak.
Hasil uji hipotesis kedua menunjukan jika pemahaman berpengaruh positif terhadap penggunaan pembayaran online PBB, memiliki signifikansi sebesar 0,000, nilai tersebut menunjukan jika signifikansi <5% nilai ά dan nilai koefisien bernilai positif. Hasil menunjukan jika H0 ditolak dan H1 diterima.
Hasil uji untuk hipotesis ketiga penelitian ini, menunjukan variabel generasi merupakan variabel yang tidak memperkuat antara variabel tingkat pendidikan terhadap penggunaan pembayaran online PBB karena memiliki signifikansi sebesar 0,379 yang menunjukan jika nilai tersebut >5% dari nilai ά
65 dan memiliki nilai koefisien regresi positif. Hasil tersebut menunjukan jika H0 diterima dan H1 ditolak.
Tabel 7. Uji Wald pada Tahap Tanpa Moderasi dan Dengan Moderasi Tanpa Moderasi Dengan Moderasi
Β Sig Β Sig
Pendidikan 0,673 0,770
Pendidikan(1) -0,484 0,552 -1,153 0,337
Pendidikan(2) -0,082 0,916 -1,099 0,355
Pendidikan(3) -0,288 0,782 -1,504 0,307
Pemahaman PBB P2 online
0,546 0,000 0,450 0,004
Generasi -0,376 0,264 -1,792 0,287
Pendidikan*Generasi 0,379
Pendidikan(1)*Generasi 1,258 0,485
Pendidikan(2)*Generasi 2,133 0,216
Pendidikan(3)*Generasi 2,890 0,204
Generasi -4,561 0,066
Pemahaman PBB P2 online*Generasi
0,598 0,085 Sumber: Olah Data SPSS 2019
Hasil uji hipotesis keempat menunjukan bahwa generasi sebagai variabel pemoderasi memperkuat hubungan antara pengaruh pemahaman terhadap pembayaran online PBB ditunjukan dengan nilai sig sebesar 0,085 <10% dari nilai ά dan nilai koefisien regresi bernilai positif. Hasil tersebut menunjukan jika H0 ditolak dan H1 diterima.
Uji Beda
Dari nilai asymp. Sig pada tingkat pendidikan diketahui memiliki nilai sebesar 0,974 >5%, dan memiliki nilai Z sebesar 0,483 < Z tabel (1,65). Dari hal tersebut, maka H0 diterima, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara tingkat pendidikan yang ditempuh dengan yang pernah menggunakan online PBB maupun yang belum pernah menggunakan. Hal tersebut juga membuktikan jika kedua sampel berasal dari distribusi populasi yang sama.
Tabel 8. Hasil Uji Statistik
Tingkat
Pendidikan Pemahaman Most Extreme
Differences Absolute 0,070 0,249
Positive 0,007 0,000
Negative -0,070 -0,249
Kolmogorov-
Smirnov Z 0,483 1,727
Asymp. Sig. (2-
tailed) 0,974 0,005
Sumber: Olah Data SPSS 2019 (Grouping Variable: Pembayaran)
66 Pada tabel uji statistik nilai asymp. Sig untuk pemahaman 0,005 nilai tersebut
<5%, dan nilai Z > Z tabel (1,65), maka H0 ditolak, maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan pemahaman antara pemahaman yang pernah menggunakan online PBB dan yang belum pernah menggunakan online PBB.
Hal tersebut juga membuktikan jika kedua sampel berasal dari distribusi populasi yang berbeda.
Wald Test
Tabel 9. Uji Wald Test pada Generasi X
B Sig.
Pendidikan 0,770
Pendidikan(1) -1.153 0,337
Pendidikan(2) -1,099 0,355
Pendidikan(3) -1,504 0,307
Pemahaman 0,450 0,004
Sumber: Olah Data SPSS 2019
Tabel 10. Uji Wald Test pada Generasi Y
B Sig.
Pendidikan 0,383
Pendidikan(1) 0,105 0,938
Pendidikan(2) 1,034 0,407
Pendidikan(3) 1,386 0,423
Pemahaman 1,049 0,001
Sumber: Olah Data SPSS 2019
Hasil uji regresi logistik menunjukan jika tingkat pendidikan untuk generasi X maupun generasi Y tidak berpengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB, memiliki signifikansi 0,770 dan 0,383 nilai signifikansi >5% nilai ά dan nilai koefisien bernilai negatif untuk generasi X dan koefisien bernilai positif untuk generasi Y. Hasil menunjukan jika H0 diterima dan H1 ditolak.
Hasil uji regresi logistik menunjukan jika pemahaman generasi X maupun generasi Y berpengaruh terhadap pembayaran online PBB karena memiliki nilai signifikansi 0,004 dan 0,001 <5% nilai ά. Nilai koefisien regresi bernilai positif. Hasil menunjukan jika H0 ditolak dan H1 diterima.
Robustness Test
Berdasarkan uji logistik dan uji beda yang telah dilakukan membuktikan jika uji yang dilakukan strong dan robust. Karena hasil uji regresi logistik dan uji beda memiliki hasil yang sama. Kedua uji tersebut membuktikan jika tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB karena tidak adanya perbedaan tingkat pendidikan baik yang sudah pernah menggunakan pembayaran online PBB maupun yang belum pernah menggunakan pembayaran online PBB. Sementara, pemahaman pembayaran
67 online PBB berpengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB karena terdapat perbedaan pemahaman antara yang sudah menggunakan maupun yang belum menggunakan pembayaran online PBB.
Variabel generasi sebagai variabel pemoderasi antara tingkat pendidikan dan pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB. Generasi tidak dapat memoderasi pendidikan terhadap penggunaan pembayaran online artinya penggunaan pembayaran online PBB tidak dipengaruhi tinggi rendahnya tingkat pendidikan generasi X maupun generasi Y. Generasi Y adalah generasi yang lebih dekat dengan teknologi dan memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik, maka seharusnya dapat mempengaruhi dalam menggunakan pembayaran online PBB karena mendapatkan pengetahuan yang lebih.
Generasi Y yang menggunakan pembayaran online PBB dengan tingkat pendidikan akhir S1 lebih banyak dibandingkan generasi X, namun kenyataannya generasi X juga banyak menggunakan online PBB bahkan lebih banyak daripada generasi Y dengan padahal tingkat pendidikan yang ditempuh generasi X di bawah generasi Y yaitu SMA dan SMP. Hal itu dapat dilihat pada tabel statistik deskriptif. Pada tingkat pendidikan perguruan tinggi S1 yang sudah menggunakan terdapat 69 responden terdapat 45 generasi Y dan 24 generasi X. Pada tingkat SMA dan SMP yang menggunakan online PBB terdapat 30 responden terdapat 25 generasi X dan 5 generasi Y.
Berbeda dengan sebelumnya, variabel generasi dapat memoderasi pengaruh pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB disebabkan generasi Y merupakan generasi yang lahir dengan kemajuan teknologi yang akan lebih paham akan teknologi, sedangkan generasi X juga dapat memahami cara penggunaan pembayaran online PBB dengan menyesuaikan diri dengan cara belajar dari orang yang sudah menggunakan atau belajar dari internet. Hal tersebut dibuktikan dalam tabel statistik deskriptif, pemahaman yang dimiliki dapat dilihat dari jumlah responden, walaupun generasi X dan Y untuk penggunaan pembayaran online PBB sama-sama dipengaruhi oleh pemahaman, namun generasi Y lebih memiliki pemahaman yang baik dibandingkan generasi X baik yang sudah maupun yang belum menggunakan online PBB. Dilihat dari kemampuan menjawab 1-4 soal dengan benar mengenai pemahaman penggunaan pembayaran online PBB, generasi Y hanya terdapat 1 wajib pajak, sedangkan generasi X terdapat 11 orang. Selain itu, juga dapat dilihat dari kemampuan menjawab 5-8 soal dengan benar, terdapat 96 wajib pajak generasi Y, 55% responden yang sudah pernah menggunakan online PBB dan 45% yang belum pernah menggunakan online PBB, sedangkan generasi X terdapat 85 responden, sebanyak 54% responden yang sudah pernah menggunakan online PBB dan 46% yang belum pernah menggunakan online PBB.
68
Pembahasan
Pengaruh Tingkat Pendidikan Terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Hasil penelitian ini membuktikan jika hipotesis ditolak atau tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB, hal tersebut berlawanan dengan penelitian Maryati (2014) yang membuktikan jika terdapat pengaruh positif antara tingkat pendidikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Namun penelitian ini sejalan dengan penelitian Marpaung (2016) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan tidak mempunyai pengaruh terhadap kepatuhan UMKM pada PP 46 dan penelitian dari Hudha (2017) yang menyatakan jika tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap penggunaan informasi akuntansi dikarenakan terdapat latar belakang yang berbeda. Dalam penelitian ini tingkat pendidikan juga tidak berpengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB, dikarenakan tidak seluruh wajib pajak mengetahui tata cara pembayaran PBB online.
Tingkat pendidikan akan mendorong seseorang untuk memperbaharui pengetahuan yang dimilikinya secara terus menerus. Namun, terlepas dari tingkat pendidikan yang mendorongnya untuk memperbaharui pengetahuan yang dimiliki, wajib pajak belum memiliki pengetahuan tentang adanya pembayaran online PBB karena minimnya sosialisasi mengenai tata cara pembayaran online PBB dari pemerintah. Wajib pajak biasanya mengetahui dan dapat menggunakan pembayaran online PBB melalui sosialisasi, baik sosialisasi yang dilakukan secara tidak langsung maupun secara langsung.
Pembayaran online PBB merupakan wujud kerjasama antara pemerintah daerah dan bank yang menyebabkan wajib pajak yang memiliki pekerjaan sebagai PNS dan Pegawai bank akan mengetahui terlebih dahulu walaupun tanpa ada sosialisasi, sehingga wajib pajak tersebut telah menggunakan pembayaran online PBB. Dibuktikan dari 31 orang atau 16% PNS dan pegawai bank yang menjadi responden, 11% PNS dan pegawai bank yang sudah menggunakan pembayaran online PBB dan 5% PNS dan pegawai bank masih belum pernah menggunakannya.
Selain itu, didukung juga dengan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap wajib pajak. Pada tingkat perguruan tinggi disertai dengan kursus pajak, wajib pajak yang sudah menggunakan dan yang belum menggunakan pembayaran online PBB memiliki persentase yang sama yaitu sebesar 50% , sedangkan pada tingkat perguruan tinggi wajib pajak yang belum pernah menggunakan pembayaran online PBB sebanyak 44% dan yang sudah pernah menggunakan sebesar 56%. Pada tingkat SMA wajib pajak yang masih belum menggunakan online 55% dan untuk yang sudah pernah menggunakan sebesar 45%. Pada
69 tingkat SMP wajib pajak yang belum pernah menggunakan online sebesar 36%
dan yang sudah menggunakan online 64%. Dari hal tersebut dapat diketahui jika tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap pembayaran online PBB baik pendidikan informal maupun pendidikan formal, karena wajib pajak yang mengikuti kursus perpajakan yang merupakan pendidikan informal sama besarnya antara yang sudah pernah menggunakan pembayaran online dan yang belum menggunakan. Begitu juga dengan pendidikan formal baik perguruan tinggi, SMA, dan SMP memiliki persentase yang pernah menggunakan pembayaran online dan yang belum pernah hampir seimbang dan mendekati 50%.
Pengaruh Pemahaman Terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Hasil penelitian ini membuktikan jika hipotesis kedua diterima atau pemahaman memiliki pengaruh positif terhadap pembayaran online PBB.
Penelitian Yusnidar, Sunarti, dan Prasetya (2015) juga menyatakan jika pemahaman seseorang sebagai wajib pajak PBB memiliki pengaruh positif dalam penerimaan pembayaran, begitupun dalam penelitian Marpaung (2016) yang menunjukan hasil jika pemahaman seseorang akan mempunyai pengaruh pada kepatuhan UMKM dan dalam penelitian Ilhamsyah (2016) menyatakan bahwa pemahaman berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan pajak. Sejalan dengan penelitian ini yang membuktikan jika wajib pajak akan menggunakan pembayaran online PBB, maka wajib pajak akan mencari informasi dan memahami penggunaan pembayaran online tersebut.
Pemahaman tersebut dapat diperoleh dengan cara mengakses informasi melalui internet mengenai langkah-langkah untuk melakukan pembayaran online PBB, selain itu wajib pajak juga dapat memahami penggunaan pembayaran online PBB dengan bertanya kepada wajib pajak yang telah menggunakannya. Hal tersebut dapat diketahui jika hampir seluruh wajib pajak sebesar 79% atau 80 responden dari responden yang menggunakan pembayaran PBB online yang berjumlah 101 wajib pajak memiliki jawaban yang sama atas soal kuesioner yang dibagikan pada no 6 mengenai pemahaman penggunaan pembayaran online PBB yang dapat dipelajari dan dipahami melalui akses dari internet dan dari orang yang sudah menggunakan pembayaran online PBB. Selain itu, dapat dilihat dari keseluruhan responden dalam menjawab keseluruhan pertanyaan mengenai pemahaman, terdapat 65 wajib pajak yang benar semua dalam menjawab soal. Persentase wajib pajak yang memahami dan menggunakan sebesar 71% persentase tersebut lebih besar daripada yang memahami tetapi tidak menggunakan yaitu sebesar 29%.
Dari hal tersebut dapat disimpulkan jika rata-rata orang yang menggunakan
70 online PBB adalah wajib pajak yang pasti sudah paham mengenai penggunaan pembayaran online PBB.
Pengaruh Tingkat Pendidikan yang diperkuat oleh Generasi Terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Hasil penelitian yang dilakukan membuktikan jika hipotesis ketiga ditolak, sama dengan uji hipotesis pertama sebelum menggunakan variabel generasi sebagai pemoderasi yang hasil uji hipotesisnya ditolak. Hal tersebut mempunyai arti jika variabel generasi sebagai pemoderasi tidak memiliki pengaruh untuk memperkuat.
Hal tersebut berlawanan dengan penelitian dari Hidayat dan Saefuddin (2016) menyatakan jika generasi Y merupakan generasi yang cenderung melekat dengan penggunaan media digital seperti penggunaan media sosial seperti email, youtube, facebook, twitter, google adalah media sosial untuk mencari referensi dalam bidang akademis, untuk mencari dan mendapatkan informasi, dan sebagai media untuk berinteraksi. Namun penelitian tersebut sejalan dengan penelitian Iswahyudi et al. (2018) yang membuktikan jika pendidikan kewirausahaan pada generasi milenial yang dilakukan pada perguruan tinggi belum mampu menumbuhkan minat mereka untuk berwirausaha.
Begitu juga dengan penggunaan pembayaran online PBB setinggi apapun pendidikan yang ditempuh oleh wajib pajak baik generasi X maupun generasi Y tidak akan mempengaruhi penggunaan pembayaran online PBB, karena penggunaan pembayaran online PBB dapat dipelajari sendiri dengan melakukan pencarian informasi melalui internet.
Terbukti dari hasil kuesioner yang dibagikan, wajib pajak yang menempuh tingkat pendidikan akhir di perguruan tinggi yang termasuk generasi Y dan menggunakan pembayaran online PBB mempunyai persentase lebih tinggi sebesar 65% dibandingkan dengan generasi X sebesar 35%, namun wajib pajak dengan pendidikan akhir SMA dan SMP yang menggunakan online PBB lebih banyak generasi X daripada generasi Y. Pendidikan akhir SMA yang menggunakan pembayaran online PBB sebesar 78% untuk generasi X dan sebesar 22% untuk generasi Y, sedangkan wajib pajak yang menempuh pendidikan akhir SMP sebesar 86% untuk generasi X dan sebesar 14% untuk generasi Y. Artinya, penggunaan pembayaran online PBB tidak ditentukan oleh tingkat pendidikan antar generasi X maupun generasi Y. Setiap wajib pajak mempunyai kesempatan yang sama dalam menempuh tingkat pendidikan, semakin muda generasi semakin memiliki keinginan yang tinggi untuk mendapat pendidikan yang lebih maju dan berekembang, begitu juga dengan generasi Y dibandingkan generasi X. Dalam penggunaan pembayaran online
71 PBB kebanyakan generasi Y menempuh tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari generasi X, sedangkan tingkat pendidikan SMA dan SMP banyak ditempuh oleh generasi X yang juga menggunakan pembayaran online PBB. Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan yang ditempuh oleh masing-masing generasi baik tingkat pendidikan tinggi atau rendah, tidak menentukan wajib pajak dalam penggunaan pembayaran online PBB.
Pengaruh Pemahaman yang diperkuat oleh Generasi Terhadap Penggunaan Pembayaran Online PBB
Hasil penelitian yang dilakukan membuktikan jika hipotesis diterima. Hal tersebut menunjukan jika variabel generasi sebagai pemoderasi mampu untuk memperkuat pengaruh pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online berpengaruh positif. Hal tersebut sejalan dengan penelitian dari Candra dan Rizkiantono (2014) bahwa budaya harus beradaptasi dengan media online atau web yang digunakan oleh generasi muda, dengan media online generasi akan lebih memahami dan melestarikan budayanya.
Perkembangan layanan pembayaran online PBB merupakan salah satu wujud dari kemajuan teknologi, secara tidak langsung wajib pajak akan beradaptasi untuk menggunakan pembayaran online PBB tersebut, jika wajib pajak merasa memiliki keuntungan untuk dirinya seperti lebih fleksibel,efisien dan efektif, tanpa perlu mengantri untuk melakukan pembayaran PBB. Cara wajib pajak beradaptasi terhadap kemajuan teknologi berbeda antar generasi. Generasi Y adalah generasi muda yang lebih memahami teknologi karena dilahirkan dengan berbagai kemudahan teknologi dan merupakan generasi yang aktif mengikuti perkembangan dan lebih memahami penggunaan teknologi daripada generasi X yang membutuhkan penyesuaian untuk mengikuti perkembangan teknologi dan memahami penggunaan teknologi termasuk penggunaan pembayaran online PBB. Sama halnya dalam penelitian ini, generasi dapat memperkuat pengaruh pemahaman terhadap penggunaan pembayaran online PBB.
Dibuktikan dari 157 responden yang memahami penggunaan pembayaran online PBB dengan menjawab dengan benar pertanyaan kuesioner nomor 7 mengenai pembayaran online PBB yang dapat dibayarkan melalui ATM dengan memasukan NOP. Terdapat 95 responden yang paham mengenai penggunaan pembayaran online PBB dan yang sudah menggunakan pembayaran online PBB, Generasi Y mempunyai persentase lebih tinggi sebesar 52% sementara generasi X sebesar 48%, sedangkan dari 62 responden yang paham penggunaan pembayaran online PBB namun belum menggunakan pembayaran online PBB, generasi Y juga memiliki persentase pemahaman lebih tinggi sebesar 52% sementara generasi X sebesar 48%. Dari hal tersebut dapat
72 diketahui bahwa generasi Y lebih memahami penggunaan pembayaran online PBB dan menggunakan pembayaran online PBB dibandingkan generasi X, dapat disimpulkan generasi dapat memperkuat pengaruh pemahaman dengan penggunaan pembayaran online PBB.
Simpulan, Keterbatasan dan Saran Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap pembayaran online PBB, karena minimnya sosialisasi yang menyebabkan wajib pajak belum mendapatkan pengetahuan mengenai pembayaran online PBB, walaupun tingkat pendidikan dapat mendorong seseorang untuk memperbaharui pengetahuannya. Dalam penelitian ini, pemahaman juga memiliki pengaruh positif terhadap penggunaan pembayaran online PBB, karena penggunaan pembayaran online PBB dapat dilakukan jika wajib pajak memahami cara penggunaan pembayaran online PBB yang dapat dipahami dengan mencari informasi melalui internet atau wajib pajak yang sudah pernah menggunakan online PBB.
Variabel moderasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu generasi. Hasil analisis data yang telah dilakukan dan dapat ditarik kesimpulan bahwa generasi tidak dapat memperkuat pengaruh tingkat pendidikan terhadap pembayaran online PBB. Semakin muda generasi, pendidikan yang ditempuh juga semakin tinggi dan lebih dekat dengan teknologi, namun kenyataannya tingkat penggunaan pembayaran online PBB tidak diperkuat oleh generasi, karena pada kenyataannya generasi Y yang berlatar belakang perguruan tinggi lebih banyak menggunakan pembayaran online PBB daripada generasi X, namun pada tingkat pendidikan akhir SMA dan SMP, generasi X lebih banyak yang menggunakan online PBB. Akan tetapi generasi memperkuat pengaruh pemahaman terhadap pembayaran online PBB, karena generasi Y merupakan generasi yang lebih memahami teknologi dibandingkan generasi X yang membutuhkan penyesuaian untuk mengikuti perkembangan teknologi. Jadi, diharapkan kedepannya pemerintah kota Salatiga meningkatkan sosialisasi penggunaan online PBB, sosialisasi diharapkan akan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman wajib pajak mengenai penggunaan pembayaran online PBB agar semakin banyak wajib pajak yang menggunakan pembayaran online PBB.
Keterbatasan Penelitian dan Agenda Penelitian Mendatang
Keterbatasan penelitian ini adalah (1) Variabel dalam penelitian masih belum dapat menjelaskan pengaruh pembayaran online PBB dengan kuat, terbukti dari nilai Nagelkerke R Square yang rendah; (2) Variabel sosialisasi tidak
73 dimasukan dalam penelitian ini, padahal sosialisasi diduga memiliki pengaruh terhadap penggunaan pembayaran online PBB; (3) Penelitian ini hanya meneliti penggunaan online PBB melalui fasilitas yang disediakan oleh perbankan; (4) Identitas wajib pajak yang menggunakan pembayaran online PBB sangat terbatas; (5) Pengisian kuesioner kurang maksimal karena beberapa responden tidak mendapat penjelasan secara langsung, karena tidak berada di rumah.
Berdasarkan keterbatasan penelitian tersebut, berikut merupakan agenda untuk peneliti berikutnya: (1) Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambah variabel seperti sosialisasi dan pekerjaan wajib pajak; (2) Menambahkan variabel sosialisasi untuk diuji secara empiris; (3) Menambah aplikasi yang dapat digunakan dalam pembayaran PBB secara online; (4) peneliti selanjutnya juga diharapkan mampu mendapatkan identitas wajib pajak yang sudah diperbaharui dan benar-benar akurat; (5) dan untuk peneliti selanjutnya juga diharapkan untuk menjelaskan secara langsung untuk pengisian kuesioner yang dibagikan.
Daftar Pustaka
Aggestam, L., Durst, S., & Persson, A. (2014). Critical success factors in capturing knowledge for retention in it-supported repositories. Information, 5, 558–569.
https://doi.org/10.3390/info5040558
Aithal, S. (2016). Impact of on-line education on higher education system. International Journal of Engineering Research and Modern Education (IJERME), I(I), 225–235.
Ardi, D. M., Trimurti, & Suhendro. (2016). Pengaruh persepsi wajib pajak orang pribadi terhadap tindakan penggelapan pajak di kota Surakarta. Journal of Economic and
Economic Education, 4(2), 178–192.
https://doi.org/10.22202/economica.v4i2.384
Avianti, D. A., & Kartika, L. (2017). Analisis quality of work life pada generasi X dan Y alumni fakultas ekonomi dan manajemen IPB. Jurnal Riset Manajemen Dan Bisnis (JRMB) Fakultas Ekonomi UNIAT, 2(2), 95–106.
Bencsik, A., Juhász, T., & Horváth-Csikós, G. (2016). Y and Z generations at workplaces.
Journal of Competitiveness, 6(3), 90–106.
https://doi.org/10.7441/joc.2016.03.06
Candra, A., & Rizkiantono, R. E. (2014). Perancangan web-komik wanorosingo sebagai media alternatif pengenalan wayang cek-dong untuk generasi muda. Jurnal Sains Dan Seni, 3(1), 1–6.
Chandra, D. O., Hubeis, A. V. S., & Sukandar, D. (2017). Kepuasan kerja generasi X Dan generasi Y terhadap komitmen kerja di Bank Mandiri Palembang. Jurnal Aplikasi Bisnis Dan Manajemen, 3(1), 12–22. https://doi.org/10.17358/jabm.3.1.12
74
Chang, S., Eleftheriadis, A., Mcclintock, R., & Member, A. (1998). Next-generation content representation , creation , and searching for new-media applications in education. Proceedings Of The IEEE, 86(5).
Direktorat Jenderal Pajak. (2019). Generasi patriot pajak. Retrieved February 1, 2019, from www.pajak.go.id website: https://www.pajak.go.id/id/artikel/generasi- patriot-pajak
Duffrin, C., Cashion, M., Cummings, D. M., Whetstone, L., Firnhaber, J., Levine, G., … Lambert, A. (2016). Generational differences in practice site selection criteria amongst primary care physicians. Marshall Journal of Medicine, 2(1).
https://doi.org/10.18590/mjm.2016.vol2.iss1.9
Elisa Tjondro, K. G. S. and N. P. (2019). Perceptions of service-orientation and trust of tax officers between millenials, X, and baby boomers. Mix: Jurnal Ilmiah Manajemen, 9(1), 1–18.
Foscht, T., Maloles, C., Swoboda, B., & Chia, S. L. (2010). Debit and credit card usage and satisfaction: Who uses which and why - evidence from Austria. International
Journal of Bank Marketing, 28(2), 150–165.
https://doi.org/10.1108/02652321011018332
Gudono. (2016). Analisis data multivariat (4th ed.). Yogyakarta: BPFE.
Hidayat, Z., & Saefuddin, A. (2016). Motivasi, Kebiasaan, dan Keamanan Penggunaan Internet. Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(9), 129–150.
Hudha, C. (2017). Pengaruh tingkat pendidikan, pengetahuan akuntansi dan pelatihan akuntansi terhadap penggunaan informasi akuntansi di moderasi ketidakpastian lingkungan usaha kecil menengah. Jurnal Ekonomi Pendidikan Dan Kewirausahaan, 5(1), 68–90.
Husnia, F. N., Hidayat, K., & Dewantara, R. Y. D. (2016). Analisis penerapan elektronik pajak bumi dan bangunan (E-PBB) (studi pada dinas pendapatan daerah kabupaten Lamongan). Jurnal Perpajakan (JEJAK), 9(1), 1–9.
Ilhamsyah, R. (2016). Pengaruh Pemahaman dan Pengetahuan Wajib Pajak Tentang Peraturan Perpajakan, Kesadaran Wajib Pajak, Kualitas Pelayanan, dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor (Studi Samsat Kota Malang). Jurnal Perpajakan (JEJAK), Vol. 8, 1–9.
Iswahyudi, M., Ekonomi, F., Iqbal, A., Ekonomi, F., Kewirausahaan, P., Intentions, E., … Feasibility, P. (2018). Minat generasi milenial untuk berwirausaha. Assets:Jurnal Akuntansi Dan Pendidikan, 7, 95–104.
J.Huber, P. (1981). Robust statistics (wiley series in probability and mathematical statistics). Canada: John Wiley and Sons, Inc.
Jurney, S., Rupert, T., & Wartick, M. (2017). Generational differences in perceptions of tax fairness and attitudes towards compliance. Advances in Taxation, 24, 163–
197. https://doi.org/10.1108/S1058-749720170000024004