• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

1

MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE DAN PENGUNGKAPAN

INTELLECTUAL CAPITAL (Studi pada Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang Terdaftar di

Bursa Efek Indonesia Tahun 2015)

PENDAHULUAN

Saat ini perusahaan dituntut merubah strategi bisnis berdasarkan tenaga kerja (labor-based business) menuju bisnis berdasarkan pengetahuan (knowledge based business). Kondisi persaingan bisnis yang kompetitif dan perkembangan teknologi yang tinggi menuntut perusahaan merubah strategi agar dapat bertahan (Kuryanto dan Syafruddin, 2009). Keberhasilan perusahaan dan kinerja keuangan bukan hanya dihasilkan oleh tangible asset, tetapi juga dihasilkan oleh intangible asset seperti intellectual capital, yang saat ini menjadi sorotan karena berbasis pada pengetahuan. Intellectual capital merupakan kepemilikan pengetahuan dan pengalaman, kecakapan dan pengetahuan profesional, hubungan baik dengan pelanggan, dan kemampuan teknologi, yang ketika diterapkan akan memberikan nilai tambah pada perusahaan (CIMA, 2004).

Intellectual capital dibagi ke dalam tiga komponen yaitu modal manusia (human capital), modal organisasi (structural capital atau organizational capital), dan modal pelanggan (relational capital atau costumer capital) (Bontis, 2000).

Intellectual capital didefinisikan sebagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses, atau teknologi. Pengungkapan intellectual capital dapat dikatakan sebagai suatu laporan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pihak yang berkepentingan. Namun, saat ini pengungkapan intellectual capital masih bersifat voluntary atau sukarela (Zulkarnaen dan Mahmud, 2013).

Pengungkapan intellectual capital muncul karena adanya agency problem, yang merupakan ketidaksejajaran kepentingan antara manajer (agent) dan pemegang saham (principal). Dimana manajer (agent) memiliki informasi yang lebih banyak dibanding pemegang saham (principal) sehingga menimbulkan asimetri informasi yang merupakan ketidakseimbangan perolehan informasi

(2)

2

antara manajer dan pemilik sebagai pengguna informasi (Arifah, 2012).

Pengungkapan intellectual capital dapat menjadi salah satu cara untuk meminimalkan asimetri informasi antara manajer dan pemegang saham.

Penerapan corporate governance sebuah perusahaan digunakan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan, mewujudkan nilai pemegang saham (principal), dan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders seperti karyawan, kreditur, dan masyarakat. Mekanisme corporate governance digunakan untuk mencapai corporate governance yang baik, agar dapat mengurangi agency problem dan memaksimalkan nilai perusahaan dengan cara meningkatkan prinsip transparansi, akuntabilitas, bertanggung jawab, independensi dan kewajaran (Keputusan Menteri BUMN, 2002). Mekanisme corporate governance digunakan sebagai tindakan monitoring, mengurangi perilaku oportunistik manajemen dan asimetri informasi. Dengan monitoring yang baik manajer tidak akan menggunakan informasi perusahaan untuk kepentingan pribadi. Mekanisme corporate governance mendorong dilakukannya pengungkapan intellectual capital untuk kepentingan para pemilik sehingga dapat meminimalkan terjadinya asimetri informasi (Fitriani 2012).

Mekanisme corporate governance dibagi menjadi dua yaitu mekanisme internal dan mekanisme eksternal. Mekanisme internal adalah cara untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan struktur dan proses internal seperti rapat umum pemegang saham (RUPS), komposisi dewan direksi, komposisi dewan komisaris dan pertemuan dengan dewan direksi. Eksternal mekanisme adalah cara mempengaruhi perusahaan selain dengan menggunakan mekanisme internal, seperti pengendalian oleh perusahaan dan pengendalian pasar (Iskandar dan Chamlou, 2000). .

Penelitian tentang mekanisme corporate governance dan pengungkapan intellectual capital telah banyak dilakukan oleh Li et al. (2007), Arifah (2012), Fitriani (2012), dan Tohir (2013) yang menunjukkan bahwa mekanisme corporate governance berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital. Penelitian Li et al. (2007) menunjukkan bahwa ukuran komite audit dan kepemilikan saham direktur (kepemilikan manajerial) berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital pada perusahaan intellectual capital intensive. Sedangkan,

(3)

3

proporsi dewan komisaris dan konsentrasi kepemilikan berpengaruh negatif terhadap pengungkapan intellectual capital. Fitriani (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh struktur corporate governance terhadap intellectual capital pada perusahaan keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital, sedangkan jumlah rapat Dewan Komisaris, ukuran Komite Audit, jumlah rapat Komite Audit, dan konsentrasi Kepemilikan Saham tidak berpengaruh pengungkapan intellectual capital. Arifah (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh mekanisme Corporate Governance terhadap pengungkapan intellectual capital pada perusahaan intellectual capital intensive. Hasil penelitian menunjukkan komite audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital, sedangkan ukuran dewan komisaris dan kesibukan komisaris tidak berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital. Tohir (2013) melakukan penelitian mengenai struktur Corporate Governance dan pengungkapan intellectual capital pada perbankan. Hasil penelitian menunjukkan komposisi komisaris independen dan kepemilikan institusional memiliki pengaruh positif signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital, sedangkan kepemilikan manajerial tidak memiliki pengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital.

Dengan beberapa penelitian terdahulu mengenai mekanisme corporate governance dan pengungkapan intellectual capital, maka penelitian ini ingin meneliti lebih lanjut dengan menggunakan kembali variabel ukuran Dewan Komisaris, ukuran Komite Audit, dan Kepemilikan Manajerial karena adanya ketidakkonsistensian baik dari penelitian di Indonesia dan di luar negeri.

Perbedaan dari penelitian sebelumnya adalah peneliti menambah variabel yang berkaitan dengan mekanisme Corporate Governance berdasarkan saran penelitian terdahulu yaitu kepemilikan Asing yang belum diuji dalam penelitian sebelumnya.

Selain itu, sampel yang digunakan dalam penelitian ini difokuskan pada Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji dan menganalisis pengaruh mekanisme corporate governance yang terdiri dari ukuran dewan komisaris,

(4)

4

ukuran komite audit, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan asing terhadap pengungkapan intellectual capital pada Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015.

Peneliti fokus pada sektor Perbankan dan Asuransi karena Perbankan dan Asuransi merupakan salah satu industri intellectual capital intensive yang mempunyai kekayaan intellectual capital yang tinggi (Firrer dan Williams, 2003).

Perusahaan IC intensive yaitu perusahaan otomotif, kabel, elektronik, obat-obatan, kosmetik, real estate & property, telekomunikasi bank, institusi keuangan, sekuritas, asuransi, penanaman modal, iklan & media, dan pelayanan komputer.

Selain itu, dari aspek intelektual, secara keseluruhan karyawan sektor Perbankan dan Asuransi lebih homogen dibandingkan sektor ekonomi lainnya (Kubo dan Saka, 2002). Industri Perbankan dan Asuransi lebih berpatokan pada pemberdayaan sumber daya karyawan daripada asset yang dimiliki perusahaan.

Bank dikategorikan sebagai industri yang basis intelektualitasnya berinovasi dalam produk dan jasa, serta pengetahuan dan fleksibilitas yang merupakan aspek penting dalam menentukan kesuksesan bisnis (Sianipar, 2009).

Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi: (a) akademisi, dapat mendorong adanya penelitian dan pengembangan tentang standar pelaporan untuk pengungkapan intellectual capital pada Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di BEI karena pengungkapan intellectual capital masih bersifat pengungkapan sukarela, (b) investor, adanya pengungkapan intellectual capital dapat digunakan oleh pemegang saham untuk pengambilan keputusan dalam investasi dana ke perbankan; (c) perbankan, diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas pengungkapan intellectual capital dalam laporan tahunan sehingga dapat memberikan nilai tambah di dunia bisnis.

TELAAH TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan merupakan hubungan kontrak antara principal dengan agent, dimana principal melibatkan agent untuk mengelola perusahaan dengan sebaik-baiknya (Jensen dan Meckling, 1976). Manajer merupakan agent dari pemegang saham sebagai pemilik perusahaan. Manajer diberi hak untuk membuat keputusan bisnis bagi kepentingan pemegang saham, namun kepentingan antara

(5)

5

manajer dan pemegang saham tidak selalu sejalan yang menyebabkan terjadinya

konflik berupa ketidaksejajaran kepentingan antara principal dan agent (Arifah 2012). Konflik kepentingan muncul ketika pemegang saham menghendaki

bertambahnya kekayaan dan kemakmuran, tetapi disisi lain pihak manajer ingin memaksimalkan diri dengan mendapatkan insentif atau keuntungan dari perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976).

Masalah yang muncul dalam teori agensi adalah adanya asimetri informasi, dimana manajer mempunyai lebih banyak informasi mengenai perusahaan secara keseluruhan dibandingkan informasi yang dimiliki para pemegang saham. Hal inilah yang mengakibatkan adanya ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh pemegang saham dan manajer (Nasution dan Doddy, 2007). Untuk mengurangi masalah tersebut, pemegang saham menuntut manajer perusahaan melakukan pengungkapan secara menyeluruh mengenai informasi perusahaan yang relevan bagi pemilik untuk pengambilan keputusan.

Pengungkapan intellectual capital merupakan salah satu cara yang digunakan oleh pemilik untuk meminimalkan asimetri informasi, sehingga informasi yang dimiliki pemilik mengenai intangible asset sama dengan informasi yang dimiliki manajer (Fitriani, 2012). Mekanisme corporate governance digunakan untuk menciptakan corporate governance yang baik dan mengurangi masalah agensi (Ujiyantho, 2007), dimana corporate governance sebagai pihak monitoring dan mendorong manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan kecurangan yang dilakukan manajer dapat diminimalkan.

Dengan mekanisme corporate governance yang baik dapat mendorong manajer lebih transparan dalam memberikan informasi untuk kepentingan pemegang saham yang dapat dilakukan dengan adanya pengungkapan intellectual capital (Linda, 2012).

Intellectual Capital

Intellectual capital adalah kepemilikan pengetahuan dan pengalaman, pengetahuan professional dan skill, hubungan yang baik dengan pelanggan, kapasitas teknologi yang diterapkan untuk memberikkan keunggulan kompetitif organisasi (CIMA, 2004). Contoh intellectual capital seperti tingkat perputaran karyawan dan kepuasan pekerjaan, pelatihan karyawan, tingkat perputaran

(6)

6

pelanggan, kepuasan pelanggan, dan sebagainya. Abeysekera dan Guthrie (2005) menyebutkan bahwa intellectual capital perusahaan sebagai bentuk unaccounted capital pada sistem akuntansi tradisional. Dengan demikian, menunjukkan bahwa perusahaan memiliki intellectual capital yang berwujud intangible asset. Dari uraian diatas dapat disimpulkan intellectual capital merupakan aset tidak berwujud berbasis sumber daya pengetahuan, berupa pengetahuan karyawan, kepuasan pelanggan, pelatihan karyawan, proses, dan teknologi sebagai keunggulan kompetitif perusahaan dan menciptakan nilai bagi perusahaan.

Menurut Sawarjuwono (2010), intellectual capital terdiri dari 3 (tiga) elemen utama yaitu (1) Human Capital, merupakan sumber inovasi dan pengembangan yang mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan, menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang- orang yang ada dalam perusahaan (2) Organizational Capital/Structural Capital, merupakan kemampuan perusahaan memenuhi proses rutinitas perusahaan dan struktur yang mendukung usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal, misalnya sistem operasional perusahaan, proses manufaktur, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan (3) Relational Capital, merupakan hubungan harmonis yang dimiliki perusahaan kepada mitra, seperti pemasok, pelanggan, pemerintah maupun masyarakat.

Pengungkapan Intellectual Capital

Hendrikson dan Breda (2000) mendefinisikan pengungkapan sebagai penyampaian informasi keuangan pada pihak yang membutuhkan informasi mengenai perusahaan dalam laporan keuangan. Suwardjono (2008), pengungkapan terdiri dari pengungkapan wajib (mandatory disclosure) dan pengungkapan sukarela (voluntary disclosure). Pengungkapan intellectual capital sampai saat ini merupakan pengungkapan sukarela (voluntary), karena belum adanya standar atau peraturan resmi yang mengatur tentang pengungkapan intellectual capital yang menyebabkan sulit mengidentifikasi item-item apa saja yang merupakan komponen intellectual capital.

Intellectual capital tidak dapat dihitung pada neraca dan sulit diukur, sehingga pengungkapan intellectual capital dituangkan dalam informasi tambahan

(7)

7

dalam annual report perusahaan. Agar manajer dapat mengungkapkan informasi secara transparan, perusahaan dapat menggunakan mekanisme corporate governance untuk memonitor kinerja manajer dan mendorong pengungkapan intellectual capital. Pengungkapan intellectual capital secara transparan dan jujur dapat memenuhi kebutuhan informasi para pemegang saham, sehingga asimetri informasi antara pihak manajemen dengan pemegang saham dapat diminimalkan.

Mekanisme Corporate Governance

Mekanisme corporate governance digunakan untuk menciptakan corporate governance yang baik (Ujiyanto, 2007), yang digunakan sebagai tindakan monitoring dan mendorong manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemegang saham, sehingga asimetri informasi dapat diminimalkan. Dengan mekanisme corporate governance yang baik mendorong manajer lebih transparan dalam memberi informasi untuk kepentingan pemegang saham (Linda, 2012).

Salah satu cara yang dilakukan manajer dalam memberikan informasi yang lebih transparan adalah dengan pengungkapkan intellectual capital.

Mekanisme corporate governance dibagi menjadi dua yaitu mekanisme internal dan mekanisme eksternal. Mekanisme internal adalah cara untuk mengendalikan perusahaan dengan menggunakan struktur dan proses internal.

Mekanisme Eksternal adalah cara mempengaruhi perusahaan selain dengan menggunakan mekanisme internal, seperti pengendalian oleh perusahaan dan pengendalian pasar (Iskandar dan Chamlou, 2000). Menurut Junawatiningsih dan Harto (2014) mekanisme internal corporate governance adalah konsentrasi kepemilikan, kepemilikan institusional, dan komite audit. Sedangkan mekanisme eksternal adalah audit tenure, Laverage, dan spesialisasi industri auditor.

PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Ukuran Dewan Komisaris dan Pengungkapan Intellectual Capital

Dewan Komisaris bertugas dan bertanggungjawab secara kolektif untuk melakukan pengawasan dan memberikan nasihat kepada Direksi, serta memastikan bahwa perusahaan melaksanakan Good Corporate Governance (KNKG, 2006).

Dewan Komisaris bertugas melakukan monitoring terhadap tindakan manajer sehingga kecurangan manajer dapat diminimalkan, dengan adanya Dewan

(8)

8

Komisaris maka tindakan pengawasan dan pengendalian menjadi lebih baik dan efektif, sehingga dapat mendorong pengungkapan intellectual capital (Fitriani, 2012).

Fitriani (2012) juga menyatakan bahwa berdasarkan teori agensi, Dewan Komisaris dapat berfungsi sebagai alat pengendalian tertinggi bagi perusahaan.

Dewan Komisaris bertugas melakukan monitoring terhadap tindakan manajer sehingga asimetri informasi dapat diminimalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital. Semakin banyak jumlah Dewan Komisaris, mereka semakin berperan memonitor perilaku manajer sehingga dapat meminimalkan asimetri informasi. Dengan pengungkapan intellectual capital, para pemegang saham diharapkan dapat mengetahui informasi mengenai intangible asset, sehingga semakin besar ukuran Dewan Komisaris di suatu perusahaan dapat meningkatkan pengungkapan intellectual capital.

H1: Ukuran Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital.

Ukuran Komite Audit dan Pengungkapan Intellectual Capital

Menurut Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-29/PM/2004, Komite Audit adalah komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka membantu melaksanakan tugas dan fungsinya. Salah satu tugas Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa laporan tahunan

disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum (KNKG, 2006). Dalam konteks sebagai penghubung antara manajer dengan

Dewan Komisaris, Komite Audit membantu memberikan transparansi laporan tahunan perusahaan yang dibuat oleh manajer. Sedangkan dalam konteks sebagai penghubung antara perusahaan dengan investor, Komite Audit membantu mengurangi asimetri informasi yang terjadi diantara pihak internal perusahaan dengan pihak eksternal perusahaan melalui pengungkapan informasi perusahaan yang lebih banyak, seperti pengungkapan informasi mengenai intellectual capital (Indriani dan Nurkholis, 2002).

(9)

9

Hasil penelitian Li et al (2007) menunjukkan bahwa ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital. Semakin besar jumlah Komite Audit maka semakin luas pula pengungkapan intellectual capital.

Sejalan dengan hasil penelitian Arifah (2012) menunjukkan bahwa ukuran komite audit berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital. Semakin banyak jumlah Komite Audit maka akan mendorong manajer dalam memberikan pengungkapan yang lebih luas mengenai aset perusahaan yang harus diketahui oleh pemilik perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi dengan pemilik perusahaan. Asimetri informasi dapat berkurang melalui pengungkapan informasi perusahaan yang lebih luas seperti pengungkapan intellectual capital. Sehingga semakin besar Komite Audit di suatu perusahaan dapat meningkatkan pengungkapan intellectual capital.

H2: Ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital.

Kepemilikan Manajerial dan Pengungkapan Intellectual Capital

Masalah utama keagenan adalah adanya perbedaan kepentingan antara pemilik dan Manajer. Salah satu cara untuk meminimalkan masalah keagenen adalah meningkatkan Kepemilikan Manajerial suatu perusahaan (Jensen &

Meckling, 1976). Menurut Saleh et al (2009) Kepemilikan Manajerial terdiri atas

kepemilikan saham oleh Dewan Komisaris, Dewan Direksi, dan Manajer.

Li et al. (2007) menemukan bahwa Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital.

Dalam Kepemilikan Manajerial, Manajer akan cenderung terlibat dalam aktivitas penciptaan nilai yang dapat meningkatkan keunggulan kompetitif jangka panjang bagi perusahaan karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan Manajer untuk menciptakan nilai perusahaan, Manajer dapat melakukan pengungkapan lebih luas mengenai sumber daya yang dimiliki perusahaan pada laporan tahunan. Seperti melakukan pengungkapan intellectual capital lebih luas, agar dapat memenuhi kebutuhan pemegang saham.

(10)

10

Dengan tingkat Kepemilikan Manajerial yang tinggi, Manajer akan mengungkapkan intellectual capital secara lebih rinci untuk meningkatkan kualitas laporan tahunan yang diharapkan mampu memberikan image baik dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Sedangkan, perusahaan dengan Kepemilikan Manajerial yang rendah maka tingkat pengungkapan intellectual capital juga akan rendah karena manajer tidak merasa memiliki perusahaan dan tidak merasakan dampak atas kualitas laporan tahunan perusahaan (Aisyah, 2014).

Sehingga semakin besar Kepemilikan Manajerial maka pengungkapan intellectual capital semakin tinggi.

H3: Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap Pengungkapan Intellectual Capital

Kepemilikan Asing dan Pengungkapan Intellectual Capital

Menurut Undang-undang No. 25 tahun 2007 pasal 1 angka 6, kepemilikan asing adalah perseorangan warga Negara Asing, badan usaha Asing, dan Pemerintah Asing yang melakukan penanaman modal di wilayah Republik Indonesia (Ramadhan, 2010). Perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Asing biasanya lebih sering menghadapi masalah asimetri informasi dikarenakan hambatan geografis dan bahasa. Oleh sebab itu, perusahaan dengan Kepemilikan Asing kepemilikan asing yang besar akan terdorong melaporkan dan mengungkapkan informasi secara sukarela dan luas (Xiaotie et al, 2004).

Pengungkapan perusahaan Asing lebih tinggi karena pemilik perusahaan sebisa mungkin mengikuti dan mendukung penerapan standar akuntansi global (IFRS) untuk meningkatkan transparansi keuangan. Manfaatnya adalah para pengguna informasi dapat memperoleh laporan tahunan yang lebih berkualitas dan transparan sehingga tingkat pengungkapan intellectual capital lebih tinggi (Silviana, 2014). Perusahaan yang memiliki jumlah Kepemilikan Asing tinggi dituntut mengungkapkan intellectual capital secara lebih luas karena dituntut untuk mengikuti standar akuntansi global (IFRS) seperti perusahaan Asing.

Sedangkan, perusahaan dengan presentase Kepemilikan Asing yang rendah maka tingkat pengungkapan intellectual capital juga rendah, karena kurangnya tuntutan

(11)

11

oleh investor asing mengenai kelengkapan laporan tahunan. Sehingga semakin besar kepemilikan asing maka pengungkapan intellectual capital semakin tinggi.

H4: Kepemilikan Asing berpengaruh positif terhadap Pengungkapan Intellectual Capital

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2015. Pemilihan Perusahaan Perbankan dan Asuransi sebagai sampel penelitian karena perbankan memiliki aspek intelektual yang tinggi dibanding sektor lain. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria dalam pengambilan sampel adalah (1) Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2015, yang menerbitkan dan mempublikasikan laporan tahunan (annual report) di website Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id),

(2) laporan tahunan (annual report) berakhir pada 31 Desember 2015, (3) memiliki data-data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang

digunakan dalam penelitian.

Variabel Dependen:

Pengungkapan intellectual capital

Variabel Kontrol:

1.Size 2.Laverage 3.Profitabilitas Variabel Independen:

1.Ukuran dewan komisaris 2.Ukuran komite audit 3.Kepemilikan manajerial

4.Kepemilikan asing

Gambar 1 Model Penelitian

(12)

12

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat pengungkapan intellectual capital yang diukur dengan ada tidaknya pengungkapan intellectual capital pada annual report tahun 2015. Indeks yang digunakan adalah indeks pengungkapan modal intelektual (intellectual capital disclosure index) yang dikeluarkan oleh International Federation of Accountants (IFAC) yang juga digunakan oleh Chartered Institute of Management Accountants (CIMA) (Febriana dan Nugrahanti, 2011). Pengungkapan intellectual capital diukur dalam tiga komponen yaitu Organizational Capital, Relational Capital, dan Human

Capital dengan total 30 item pengungkapan.

Pengukuran indeks pengungkapan intellectual capital ini menggunakan rumus :

ICD Index: Jumlah pengungkapan yang dilakukan perusahaan Jumlah total pengungkapan yang seharusnya (30 item)

Variabel Independen

1 .Ukuran Dewan Komisaris

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Pasal 20 tahun 2014, Dewan Komisaris paling kurang terdiri dari 2 (dua) orang anggota. Dewan Komisaris terdiri dari 2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris, 1 (satu) diantaranya adalah Komisaris Independen. Ukuran dewan komisaris dapat diukur dengan cara menghitung jumlah dewan komisaris dalam annual report perusahaan.

2. Ukuran Komite Audit

Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite Audit, emiten dan perusahaan publik diwajibkan membentuk komite audit yang berjumlah sekurang- kurangnya 3 (tiga) orang dimana salah satunya merupakan komisaris independen perusahaan dan bertindak sebagai ketua komite audit (Bapepam-LK No.IX.I.5I).

Ukuran komite audit dapat diukur dengan cara menghitung jumlah komite audit di perusahaan dalam annual report perusahaan.

3. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial ditunjukkan dengan presentase saham perusahaan X 100%

(13)

13

yang dimiliki dewan komisaris, dewan direksi dan manajer eksekutif. Pengukuran ini digunakan karena manajer eksekutif mempunyai kekuasaan dan kontrol dalam perusahaan (Saleh et al, 2009). Kepemilikan manajerial dapat diukur dengan rumus sebagai berikut:

Jumlah saham yang dimiliki manajer Jumlah saham beredar

4. Kepemilikan Asing

Menurut Peraturan Bank Indonesia Pasal 2 ayat (2) tahun 2012, batas maksimum kepemilikan saham perorangan baik perorangan Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing sebesar 20% dari modal bank (untuk bank umum konvensional), sedangkan 20% dari modal bank (untuk bank umum syariah). Kepemilikan asing (Ltd) dapat diukur dengan rumus, sebagai berikut:

Variabel Kontrol

Ukuran (size) Perbankan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital Perusahaan dengan ukuran (size) yang besar memiliki lebih banyak pemegang saham yang menjadi sorotan di pasar modal sehingga pengungkapan akan lebih luas karena tuntutan dari pemegang saham (Gunawan, 2000).

Perusahaan besar lebih mendapat sorotan publik disbanding perusahaan kecil, maka pengungkapan informasi mengenai intellectual capital dalam annual report dituntut lebih luas (Sutanto dan Supatmi, 2012). Dengan demikian perusahaan dengan karakteristik ukuran (size) yang besar dapat digolongkan dalam perusahaan yang memiliki tingkat pengungkapan intellectual capital lebih tinggi dibanding dengan perusahaan tingkat ukuran (size) yang kecil (Maulany dan Nugrahanti, 2013). Ukuran perusahaan dapat diukur dengan rumus sebagai berikut:

Ukuran Perusahaan = Ln (Total Aset)

Kepemilikan Manajerial = X 100%

X 100%

Kepemilikan Asing =

Jumlah saham kepemilikan asing Jumlah saham beredar

(14)

14

Laverage Perbankan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital

Laverage merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang yang harus ditanggung perusahaan (Hery, 2015). Perusahaan yang memiliki tingkat laverage yang tinggi akan mengurangi pengungkapan seperti pengungkapan intellectual capital untuk mengurangi perhatian para pemegang saham (Jesen dan Mckling, 1976).

Perusahaan dengan tingkat laverage yang rendah ingin semakin meyakinkan bahwa kondisi keuangan perusahaan benar-benar baik dan mereka memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajibannya pada saat jatuh tempo dengan cara mengungkapkan intellectual capital secara penuh (Sudarmaji dan Sularto).

Laverage dapat diukur dengan rumus CAR (Capital Adequacy Ratio) mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, sebagai berikut:

Modal Bank

Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP, 2001)

Profitabilitas Perbankan Terhadap Pengungkapan Intellectual Capital Profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya (Hery, 2015). Perusahaan dengan profitabilitas rendah akan berusaha

meningkatkan modal sebaik mungkin, sehingga akan banyak melakukan pengungkapan lebih luas untuk menarik perhatian pemegang saham dengan berusaha mengungkapkan intellectual capital secara luas (Surtanto dan Supatmi, 2012). Sedangkan perusahaan dengan profitabilitas tinggi cenderung mengurangi tingkat pengungkapan intellectual capital karena kinerja perusahaan sudah baik dan laba perusahaan sudah tinggi yang mengakibatkan tidak ada kebutuhan untuk mengungkapkan intellectual capital (Marisanti, 2012). Profitabilitas dapat diukur dengan rumus Return on Asset (ROA). ROA dapat digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset (Hery, 2015) sebagai berikut:

Capital Adequacy Ratio (CAR) =

(15)

15

Laba sebelum pajak

Rata- rata total aset

(Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP, 2001)

Teknik Analisis Data

a) Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan suatu data yang dilihat dari mean, median, maximum, minimum. Analisis statistik deskriptif bertujuan untuk mengetahui tingkat pengungkapan intellectual capital pada annual report Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2015.

b) Uji Asumsi Klasik

Asumsi klasik merupakan data yang dipilih secara random, berdistribusi normal, berpola linier, dan sudah homogen. Untuk mendapatkan model regresi yang baik maka model tersebut harus tidak memiliki

penyimpangan terhadap asumsi klasik:

1) Uji Normalitas

Data penelitian yang baik adalah data yang terdistribusi secara normal sehingga nilai residual terdistribusi normal, uji statistik digunakan untuk menguji normalitas residual dalam penelitian ini adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov Smirnov (K-S). Pengambilan keputusan Ho diterima atau berdistribusi normal bila hasil statistik diperoleh nilai Asymph-Sign (2-tailed) signifikan berada di atas 0,5 atau 5%.

2) Uji Multikolineraritas

Menganalisis matriks korelasi antar variabel independen.

Multikolineraritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan lawannya Variance Inflation Factor (VIF). Nilai cut off yang umum digunakan adalah nilai tolerance o,10 atau sama dengan nilai VIF diatas 10. Apabila nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10 maka tidak ada Multikolonieritas antar variabel independen dalam model regresi.

3) Uji Heteroskedastisitas Return on Asset (ROA)=

(16)

16

Dalam penelitian metode Glejser digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya Heteroskedastisitas. Data yang tidak memiliki masalah heteroskedastisitas ditunjukkan dengan tidak adanya hasil yang signifikan lebih besar dari 0,05 (sig > 0,05).

c) Pengujian Hipotesis

1) Model Regresi Berganda

Bertujuan untuk mengukur kekuatan hubungan antara ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan asing sebagai variabel independen dengan variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan, laverage¸dan profitabilitas terhadap pengungkapan intellectual capital sebagai variabel dependen. Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan model regresi linier berganda dengan rumus sebagai berikut:

ICD Index = β0 + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4 X4 + β5 X5 + β6 X6 + β7 X7 + e Keterangan:

ICD Index: Indeks Pengungkapan Intellectual Capital

X1: Ukuran Dewan Komisaris

X2: Ukuran Komite Audit

X3: Kepemilikan Manajerial

X4: Kepemilikan Asing

X5: Ukuran (SIZE) Perusahaan

X6: Leverage X7: Profitabilitas

Β : Koefesien Regresi

(17)

17 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pengambilan Sampel Penelitian

Berdasarkan kriteria pengambilan sampel penelitian yang sudah ditentukan, berikut tabel 1 yang menunjukkan jumlah sampel penelitian.

Dari tabel di atas diperoleh informasi yang menjadi sampel penelitian adalah perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di BEI tahun 2015 sebanyak 46 perusahaan. Semua populasi tidak dapat dijadikan sampel karena ada 2 (dua) perusahaan yang tidak menyediakan laporan tahunan (annual report) dan 3 (tiga) perusahaan tidak memiliki kelengkapan data yang digunakan dalam penelitian.

Analisis Deskriptif

Berikut hasil analisis deskriptif dengan pengukuran mean, nilai minimum, dan nilai maximum pada 8 (delapan) variabel yaitu Pengungkapan IC, ukuran Dewan Komisaris, ukuran Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Asing, Size, Laverage, dan ROA.

No. Keterangan Jumlah

1 Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI) tahun 2015, 51 Perusahaan perbankan dan Asuransi yang tidak mempublikasikan laporan

tahunan (annual report) yang berakhir 31 Desember 2015 (2) Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang tidak memiliki kelengkapan data

dalam penelitian (3) Jumlah Sampel 46

Tabel 1 Sampel Penelitian

2 3

Sumber: Diuji oleh Peneliti (2016)

(18)

18

Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa perusahaan Perbankan dan Asuransi memiliki tingkat pengungkapan minimum sebesar 7 (tujuh) pengungkapan, pengungkapan maximum sebesar 17 (tujuh belas) pengungkapan dengan rata-rata (mean) 11,3261. Pada lampiran 3 menunjukkan perusahaan Perbankan dan Asuransi yang melakukan pengungkapan intellectual capital minimum adalah PT Asuransi Ramayana Tbk, dan pengungkapan intellectual capital maximum oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Jumlah Dewan Komisaris minimum sebanyak 3 (tiga) orang Dewan Komisaris dan jumlah maximum sebanyak 8 (delapan) Dewan Komisaris dengan rata-rata jumlah Dewan Komisaris perusahaan Perbankan dan Asuransi sebesar 5 (4,6) orang. Kepemilikan jumlah Dewan Komisaris minimum berada pada 11 (sebelas) perusahaan Perbankan dan 5 (lima) perusahaan Asuransi, kemudian 3 (tiga) perbankan lainnya memiliki jumlah Dewan Komisaris maximum sebesar 8.

Pada pengukuran jumlah Komite Audit terlihat jumlah Komite Audit minimum sebanyak 2 (dua) orang Komite Audit dan jumlah maximum sebesar 6 (enam) orang Komite Audit dengan rata-rata (mean) jumlah Komite Audit perusahaan Perbankan dan Asuransi sebesar 4 (3,6) orang. Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang memiliki jumlah Komite Audit minimum adalah PT Bank MNC Internasional Tbk, PT Bank Mega Tbk, dan Pt Asuransi Ramayana Tbk.

Kemudian, kepemilikan jumlah Komite Audit maximum berada pada PT Bank

N Mean Minimum Maximum

Pengungkapan_IC 46 11.3261 7 17

Uk_Dekom 46 4.6304 3 8

Uk_Komdit 46 3.5870 2 6

Kep_Manj 46 0.0605 0.0000 0.7455

Kep_Asing 46 0.2924 0.0000 1.2363

SIZE 46 30.1015 22.85 34.44

Leverage 46 0.7678 0.00 0.95

ROA 46 2.0880 -5.37 9.43

Tabel 2 Statistik Deskriptif

Sumber: Hasil olah SPSS (2016)

(19)

19

Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank CIMB NIAGA Tbk, dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk.

Jumlah Kepemilikan Manajerial minimum sebesar 0 ini berarti masih ada perusahaan Perbankan dan Asuransi yang tidak memiliki bagian dalam presentase kepemilikan saham oleh manjerial perusahaan. Sedangkan, jumlah kepemilikan Manajerial maximum sebesar 0,7 menunjukkan perusahaan Perbankan dan Asuransi yang listing di BEI tahun 2015 hanya memberi bagian sebesar 0,7% dari kepemilikan sahamnya dengan jumlah rata-rata (mean) kepemilikan manjerial sebesar 0,06. Perusahaan Perbankan dan Asuransi yang tidak memiliki jumlah kepemilikan manajerial berada di 16 perusahaan Perbankan dan 8 perusahaan Asuransi, serta PT Bank Mestika Dharma Tbk yang memiliki kepemilikan Manajerial maximum.

Jumlah Kepemilikan Asing perusahaan Perbankan dan Asuransi yang terdaftar di BEI tahun 2015 dengan kepemilikan asing minimum sebesar 0 dan maximum sebesar 1,2 ini menunjukkan perusahaan Perbankan dan Asuransi hanya memberi bagian sebesar 1,2% dari 100% sahamnya bagi kepemilikan asing. Rata- rata (mean) kepemilikan asing di perusahaan Perbankan dan Asuransi tersebut sebesar 0,3. Perusahaan yang memiliki jumlah kepemilikan asing maximum adalah PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat & Banten Tbk. Sedangkan, perusahaan dengan jumlah kepemilikan asing minimum dimiliki oleh 10 perusahaan Perbankan dan 5 perusahaan Asuransi.

Variabel kontrol size, laverage, dan ROA dalam penelitian ini memiliki ukuran minimum 22,85 dan maximum 34,44 dengan rata-rata (mean) 30,10 pada variabel Size. Laverage dengan angka minimum 0, maximum 0,95 dan rata-rata (mean) 0,77. Sedangkan, variabel ROA dengan nilai minimum sebesar -5,37, maximum 9,43 dan rata-rata (mean) 2,09.

Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas yang dilakukan menggunakan Kolmogorov Smirnov Z.

Berdasarkan lampiran 4 tabel 3 dapat dilihat bahwa besarnya nilai Kolmogorov Smirnov Z sebesar 0.506 dan signifikan pada 0.960. Hal ini menyatakan bahwa data residual berdistribusi normal karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05.

(20)

20

sehingga model regresi layak digunakan dan dapat dilanjutkan ke tahap selanjutnya karena telah memenuhi asumsi normalitas.

Uji Multikolinieritas

Dapat dilihat pada lampiran 4 tabel 4 bahwa hasil perhitungan nilai tolerance antar variabel independen menunjukan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance lebih besar dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen. variance Inflation Factor (VIF) juga menunjukkan hal yang sama yaitu tidak ada satupun variabel independen yang memiliki nilai VIF lebih besar dari 10, yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen, maka dapat disimpulkan bahwa model ini tidak terjadi multikolinieritas.

Uji Heteroskedastisitas

Dapat dilihat pada lampiran 4 tabel 4 bahwa hasil perhitungan menunjukkan jumlah signifikansi lebih besar dari 0,05 yang menunjukkan adanya ketidaksamaan varian dari residual ke residual lainnya. Maka dapat disimpulkan bahwa model ini tidak terjadi heteroskedastisitas.

Uji Regresi Berganda

Berikut hasil Uji regresi berganda pada 7 (tujuh) variabel yaitu ukuran Dewan Komisaris, ukuran Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Asing, Size, Laverage, dan ROA.

Model B t Sig.

(Constant) 5.424 1.363 0.181

Uk_Dekom 0.382 1.697 0.098

Uk_Komdit 0.802 2.441 0.019

Kep_Manj -0.922 -0.603 0.550

Kep_Asing -0.821 -0.954 0.346

SIZE -0.012 -0.085 0.933

Leverage 2.702 1.680 0.101

ROA -0.074 -0.660 0.513

R Square = 0,535 Adjusted R Square = 0,449 F = 6,237 Sig. = 0,000 Tabel 3

Hasil Uji Regresi

Sumber: Hasil olah SPSS (2016)

(21)

21 Uji Koefisien Determinan (R2)

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa nilai koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 0,449 yang berarti pengungkapan Intellectual Capital yang dipengaruhi oleh ukuran Dewan Komisaris, ukuran Komite Audit, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Asing, size, Laverage, dan ROA sebesar 44,9%.

Sedangkan sisanya sebesar 55,1% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian.

Uji Signifikan Simultan (Uji Statistik F)

Dapat dilihat pada tabel di atas bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 dimana lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan adanya pengaruh antara ukuran dewan komisaris, ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, kepemilIkan manjerial, kepemilikan asing, size, laverage, dan ROA secara simultan terhadap pengungkapan intellectual capital. Artinya, semakin meningkatnya Ukuran Dewan Komisaris, Ukuran Dewan Komisaris, Ukuran Komite Audit, Kepemilkan Manajerial, Kepemilikan Asing, Size, Laverage, dan ROA maka semakin meningkat pula pengungkapan intellectual capital.

Hasil Pengujian Hipotesis

Ukuran Dewan Komisaris terhadap pengungkapan Intellectul Capital

Pengujian hipotesis ukuran Dewan Komisaris terhadap pengungkapan intellectual capital pada lampiran 4 tabel 4 terjadi hubungan arah positif dari ukuran Dewan Komisaris terhadap pengungkapan intellectual capital. Dengan kata lain saat ukuran Dewan Komisaris bertambah maka pengungkapan intellectual capital bertambah. Hasil ini tidak berpengaruh signifikan dengan signifikansi 0,098 yang lebih besar dari 0,05, dengan demikian hipotesis 1 ditolak.

Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Cerbioni dan Parbonetti (2007) dan Arifah (2012). Ukuran Dewan Komisaris tidak berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital, kondisi ini mengindikasikan bahwa semakin besar jumlah anggota Dewan Komisaris tidak menjamin fungsi pengawasan berjalan efektif yang ditunjukkan oleh semakin luasnya pengungkapan. Ukuran Dewan Komisaris berbanding terbalik dengan kualitas pengawasan sehingga pengungkapan menjadi tidak mencukupi.

Semakin banyak jumlah Dewan Komisaris maka akan menimbulkan

(22)

22

beberapa masalah komunikasi dan koordinasi, karena kurangnya koordinasi bisa jadi membuat kemampuan Dewan Komisaris untuk mengawasi pihak manajemen menjadi berkurang sehingga menimbulkan masalah agensi (Cerbioni dan Parbonetti, 2007). Semakin banyaknya ukuran Dewan Komisaris akan membuat mekanisme pengawasan menjadi tidak efektif karena kurangnya koordinasi dan komunikasi. Mekanisme pengawasan pihak manajerial seharusnya dapat dilakukan semaksimal mungkin sehingga dapat memaksimalkan nilai perusahaan dan mengurangi masalah agensi. Menurut peraturan Otoritas Jasa Keuangan Pasal 20 tahun 2014, Dewan Komisaris minimal terdiri dari 2 (dua) orang anggota.

Lalu, jumlah Dewan Komisaris di atas 2 (dua) orang hanya untuk memenuhi regulasi saja tetapi kinerja Dewan Komisaris belum optimal yang terlihat dari jumlah pengungkapan intellectual capital. Besarnya tingkat pengungkapan intellectual capital dan ukuran Dewan Komisaris dalam penelitian ini menunjukkan perusahaan Perbankan dengan ukuran Dewan Komisaris minimum justru dapat mengungkapkan intellectual capital lebih banyak daripada perusahaan Perbankan dengan ukuran Dewan Komisaris maximum dengan pengungkapan intellectual capital yang lebih sedikit.

Data menunjukkan PT Bank Agris Tbk. dan PT Sinar Mas Tbk.

memiliki ukuran Dewan Komisaris minimum sebanyak 3 orang namun dalam annual report menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital sebanyak

12 pengungkapkan dari 30 item yang terdiri organizational capital sebanyak 4 pengungkapan, relational capital sebanyak 3 pengungkapan, dan human capital

sebanyak 5 pengungkapan pada PT Bank Agris. Kemudian, pada PT Sinar Mas Tbk. sebesar 12 pengungkapan dari 30 item intellectual capital yang terdiri atas

organizational capital sebanyak 5 pengungkapan, relational capital sebanyak 2 pengungkapan, dan human capital sebanyak 5 pengungkapan.

Ukuran Dewan Komisaris maximum terdapat pada PT Bank QNB Indonesia Tbk. dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk. dimana ukuran Dewan Komisaris terdiri dari 6 dan 4 orang, dengan pengungkapan intellectual capital sebanyak 11 dan 10 pengungkapan. Data menunjukkan PT Bank QNB Indonesia Tbk. dan PT Bank Mayapada Internasional Tbk. dalam annual report justru mengungkapkan intellectual capital sebanyak 11 pengungkapkan dari 30 item

(23)

23

yang terdiri atas organizational capital sebanyak 4 pengungkapan, relational capital sebanyak 2 pengungkapan, dan human capital sebanyak 5 pengungkapan pada PT Bank QNB Indonesia Tbk. dan pada PT Bank Mayapada Internasional Tbk. sebesar 11 pengungkapan intellectual capital yang terdiri atas organizational capital sebanyak 3 pengungkapan, relational capital sebanyak 3 pengungkapan, dan 4 human capital sebanyak pengungkapan.

Ukuran Komite Audit terhadap pengungkapan Intellectul Capital

Pengujian hipotesis ukuran Komite Audit terhadap pengungkapan intellectual capital pada lampiran 4 tabel 4 terjadi hubungan arah positif dari ukuran Komite Audit terhadap pengungkapan intellectual capital. Dengan kata lain saat ukuran Komite Audit bertambah maka pengungkapan intellectual capital bertambah. Hasil ini berpengaruh signifikan dengan signifikansi 0,02 yang lebih kecil dari 0,05, dengan demikian hipotesis 2 diterima. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Li et al (2007) dan Arifah (2012). Ukuran Komite Audit berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital dimana semakin banyak jumlah Komite Audit maka semakin luas pula pengungkapan intellectual capital.

Menurut Arifah (2012) pengungkapan intellectual capital yang luas berhubungan dengan tanggung jawab Komite Audit yang terkait erat dengan keberlanjutan perusahaan di masa depan dan melindungi kepentingan pemegang saham di masa depan melalui pengungkapan informasi yang relevan. Sehingga Komite Audit memiliki pengaruh dalam mengungkapkan nilai informasi, karena alasan tersebut dapat diasumsikan bahwa semakin besar ukuran Komite Audit maka akan semakin luas pengungkapan intellectual capital.

Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 18 perusahaan Perbankan memiliki ukuran Komite Audit maximum (lebih dari 4 orang) yang memiliki pengungkapan intellectual capital yang tinggi. Perusahaan Perbankan tersebut adalah PT Bank Bukopin Tbk., Bank Negara Indonesia, Bank Tabungan Negara, PT Bank Yudha Bakti Tbk., Bank Danamon, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk., Bank Mandiri, PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT Bank Maybank Indonesia Tbk., Bank Victoria Internasional, PT Bank Dinar Indonesia Tbk., PT Bank Artha Graha Internasional Tbk., Bank OCBC NISP, PT Bank

(24)

24

Nationalnobu Tbk., Panin Bank, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk.

Hal ini menunjukkan ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital dimana semakin besar Komite Audit dalam sebuah Perusahaan Perbankan, pengungkapan IC diharapkan semakin tinggi.

Sebaliknya ditemukan Perusahaan Perbankan yang memiliki ukuran Komite Audit tinggi namun pengungkapan IC masih rendah terlihat pada perusahaan PT Bank J Trust Indonesia Tbk., yang memiliki jumlah Komite Audit sebanyak 5 (lima) orang dengan 11 pengungkapan intellectual capital.

Ukuran Kepemilikan Manajerial terhadap pengungkapan Intellectul Capital Pengujian hipotesis ukuran Kepemilikan Manajerial terhadap pengungkapan intellectual capital pada lampiran 4 tabel 4 terjadi hubungan arah negatif dari Kepemilikan Manajerial terhadap pengungkapan intellectual capital.

Dengan kata lain saat ukuran Kepemilikan Manajerial bertambah maka pengungkapan intellectual capital berkurang. Hasil ini tidak berpengaruh signifikan dengan signifikansi 0,55 yang lebih besar dari 0,05 dengan demikian hipotesis 3 ditolak. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Febriana (2013) dan Aisyah (2014). Ukuran Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh terhadap pengungkapan intellectual capital kondisi ini mengindikasikan bahwa semakin besar jumlah Kepemilikan Manajerial tidak meningkatkan luasnya pengungkapan intellectual capital.

Menurut Febriana (2013) perusahaan dengan tingkat Kepemilikan Manajerial yang rendah dan tinggi akan mengungkapkan informasi mengenai intellectual capital secara lengkap karena adanya peningkatan kebutuhan para pemegang saham luar. Para pemegang saham akan mendorong manajer agar melakukan pengungkapan secara lebih luas. Sedangkan, menurut Aisyah (2014) perusahaan dengan tingkat Kepemilikan Manajerial yang tinggi akan lebih sedikit mengungkapkan informasi intellectual capital karena manajer telah terlebih dahulu memiliki informasi mengenai kondisi perusahaan dan tidak tergantung dengan kelengkapan informasi di annual report sehingga tidak mengungkapkan intellectual capital secara lengkap.

Besarnya tingkat pengungkapan intellectual capital dan Kepemilikan Manajerial dalam penelitian ini menunjukkan perusahaan Perbankan dengan

(25)

25

ukuran Kepemilikan Manajerial minimum justru dapat mengungkapkan intellectual capital lebih banyak daripada perusahaan Perbankan dengan ukuran Kepemilikan Manajerial yang tinggi dengan pengungkapan intellectual capital yang lebih sedikit.

Data menunjukkan Bank Negara Indonesia dan PT Bank Bukopin Tbk.

memiliki Kepemilikan Manajerial minimum sebanyak 0,02% namun dalam annual report menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital sebanyak 17 dan 15 pengungkapkan dari 30 item yang terdiri organizational capital sebanyak 6 pengungkapan, relational capital sebanyak 4 pengungkapan, dan human capital sebanyak 7 pengungkapan pada Bank Negara Indonesia.

Kemudian, pada PT Bank Bukopin Tbk. sebesar 15 pengungkapan dari 30 item intellectual capital yang terdiri atas organizational capital sebanyak 6 pengungkapan, relational capital sebanyak 3 pengungkapan, dan human capital sebanyak 6 pengungkapan.

Kemudian, PT Bank Mestika Dharma Tbk. dan PT Bank Mitraniaga Tbk.

dengan Kepemilikan Manajerial maximum sebanyak 74,55% dan 72,07% namun dalam annual report menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital sebanyak 13 dan 10 pengungkapkan dari 30 item yang terdiri organizational capital sebanyak 5 pengungkapan, relational capital sebanyak 2 pengungkapan, dan human capital sebanyak 6 pengungkapan pada PT Bank Mestika Dharma Tbk. Kemudian, pada PT Bank Mitraniaga Tbk. sebesar 15 pengungkapan dari 30 item intellectual capital yang terdiri atas organizational capital sebanyak 2 pengungkapan, relational capital sebanyak 2 pengungkapan, dan human capital sebanyak 6 pengungkapan.

Ukuran Kepemilikan Asing terhadap pengungkapan Intellectul Capital

Pengujian hipotesis ukuran Kepemilikan Asing terhadap pengungkapan intellectual capital pada lampiran 4 tabel 4 terjadi hubungan arah negatif dari Kepemilikan Asing terhadap pengungkapan intellectual capital. Dengan kata lain saat ukuran Kepemilikan Asing bertambah maka pengungkapan intellectual capital berkurang. Hasil ini tidak berpengaruh signifikan dengan signifikansi 0,35 yang lebih besar dari 0,05 dengan demikian hipotesis 4 ditolak. Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian Karima (2014). Karena tidak semua

(26)

26

perusahaan yang memiliki rasio kepemilikan asing besar akan melakukan pengungkapan CSR (Corporate Social Responsibility) lebih baik daripada perusahaan yang memiliki rasio kepemilikan lebih kecil. Karena pihak asing yang memiliki saham di Indonesia cenderung tidak menuntut adanya pengungkapan CSR (Corporate Social Responsibility) yang luas dalam annual report.

Begitu pula pada pengungkapan intellectual capital yang ditunjukkan pada data PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. dan PT Bank Artha Graha Internasional Tbk. memiliki Kepemilikan Asing minimum sebanyak 0,03% dan 3,44% namun dalam annual report menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital sebanyak 13 pengungkapkan dari 30 item yang terdiri organizational capital sebanyak 6 pengungkapan, relational capital sebanyak 3 pengungkapan, dan human capital sebanyak 4 pengungkapan pada PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. Kemudian, pada PT Bank Artha Graha Internasional Tbk. sebesar 13 pengungkapan dari 30 item intellectual capital yang terdiri atas organizational capital sebanyak 5 pengungkapan, relational capital sebanyak 2 pengungkapan, dan human capital sebanyak 6 pengungkapan.

Kemudian, PT Bank J Trust Indonesia Tbk. dan PT Bank QNB Indonesia Tbk. dengan Kepemilikan Asing maximum sebanyak 99% dan 84,05% namun dalam annual report menunjukkan bahwa pengungkapan intellectual capital sebanyak 11 pengungkapkan dari 30 item yang terdiri organizational capital sebanyak 3 pengungkapan, relational capital sebanyak 4 pengungkapan, dan human capital sebanyak 4 pengungkapan pada PT Bank J Trust Indonesia Tbk.

Kemudian, pada PT Bank QNB Indonesia Tbk. sebesar 11 pengungkapan dari 30 item intellectual capital yang terdiri atas organizational capital sebanyak 4 pengungkapan, relational capital sebanyak 3 pengungkapan, dan human capital sebanyak 4 pengungkapan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis data sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa: ukuran Komite Audit sebagai variabel independen berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital. Sedangkan, ukuran Dewan Komisaris, Kepemilikan

(27)

27

Manajerial, Kepemilikan Asing sebagai variabel independen kemudian, size, Laverage, dan ROA sebagai variabel kontrol tidak berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan intellectual capital.

Implikasi Terapan

Hasil penelitian menunjukkan ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital. Komite Audit sebagai Komite yang dibentuk oleh Dewan Komisaris dalam rangka membantu melaksanakan tugas dan fungsi dalam perusahaan dimana Komite Audit ini bertugas memastikan bahwa laporan tahunan (annual report) yang disajikan perusahaan sudah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum. Ukuran Komite Audit memiliki pengaruh positif terhadap pengungkapan intellectual capital. Semakin besar jumlah Komite Audit dalam sebuah perusahaan, maka semakin luas pula pengungkapan intellectual capital. Semakin banyak jumlah Komite Audit akan mendorong manajer memberi pengungkapan yg lebih luas mengenai aset perusahaan yang harus diketahui oleh investor perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi antara investor dan manajer, dengan berkurangnya asimetri informasi maka pengungkapan informasi perusahaan akan lebih luas.

Keterbatasan Penelitian

Belum ada aturan yang pasti dalam menetapkan penilaian atas pengungkapan intellectual capital yang menyebabkan terjadinya tingkat kejelian yang tinggi dalam mengkategorikan informasi yang terkandung dalam annual report untuk kemudian dikelompokkan dalam setiap kategori intellectual capital. Sehingga, diharapkan untuk penelitian selanjutnya sudah terdapat aturan yang tegas mengenai pengungkapan intellectual

capital.

Karena belum adanya aturan yang pasti mengenai pengungkapan intellectual capital, maka kemungkinan ada perusahaan yang tidak mengungkapkan item intellectual capital masih sangat terbatas.

Dalam item intellectual capital ada yang tidak dimiliki oleh seluruh perusahaan Perbankan dan Asuransi. Sehingga, item intellectual capital belum mencerminkan kondisi intellectual capital di seluruh sektor 1.

2.

3.

.

(28)

28

perusahaan. Sebagai contoh, hak paten, hak cipta, hak desain, dan rahasia dagang yang lebih mengacu ke perusahaan manufaktur. Sehingga jumlah pengungkapan intellectual pada sektor Perbankan dan Asuransi terlihat kecil.

4. Indeks dalam menghitung pengungkapan intellectual capital memiliki subjektivitas yang tinggi.

Saran Penelitian Mendatang

Untuk penelitian selanjutnya, supaya dapat mencoba menggunakan variabel kepemilikan saham yang lainnya agar hasil penelitian lebih bervariasi.

Seperti kepemilikan saham oleh institusional dan kepemilikan saham oleh keluarga. Untuk penelitian selanjutnya dapat mengganti variabel independen yaitu ukuran Dewan Komisaris dan ukuran Komite Audit dalam penelitian selanjutnya mengukur dengan aktivitas Dewan Komisaris dan Komite Audit yang terukur seperti jumlah frekuensi rapat. Dan populasi penelitian yaitu Lembaga Keuangan yang terdaftar di BEI yang terdiri atas perusahaan Perbankan, Asuransi, Industri Keuangan, Sekuritas, Dana Pensiun, Pegadaian, dan Koperasi Kredit. Kemudian, untuk penelitian ini menggunakan variabel kontrol yaitu Return on Assets (ROA) dan diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat menggunakan rasio Return on Equity (ROE) sebagai variabel kontrol. Lalu, agar pengungkapan intellectual capital tidak mengalami subjektivitas terlalu tinggi maka pengungkapan perlu dilakukan oleh beberapa peneliti lalu dengan menghitung rata-rata dari hasil penelitian tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam iklim pertumbuhan ekonomi tinggi, peningkatan UMP biasanya tidak lagi menjadi fokus dalam proses pembangunan karena pertumbuhan itu sendiri secara otomatis akan

Mahasiswa yang dideskripsikan pada tulisan ini adalah sebanyak empat orang mahasiswa semester VII tahun akademik 2016/2017 yang dipilih secara acak. Untuk melihat apakah

Jadi aku lebih seneng kalo ngelakuin sesuatu hal tu yang bener-bener sendiri aja, kecuali emang orangnya yang sudah deket banget sama aku dan tau kalo aku ngomong sesuatu tu

Ali Marwan HSB dan Evlyn Martha Julianty, Pelaksanaan Kewenangan Atribusi Pemerintahan Daerah Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah, dalam

Secara umum Implementasi Wireless Monitoring Energi Listrik Berbasis Web Database ini dimulai dengan mengambil keluaran dari sensor tegangan dan sensor arus untuk kemudian

Komposisi substrat bagase dan zeolit memberikan hasil yang paling tinggi pada biomassa dan volume bunga, sedangkan volume akar tertinggi yaitu pada komposisi

Berhubung produk yang akan dirancangkan desain kemasan merupakan produk lokal dari Kabupaten Pangkep, maka dapat di tentukan konsep yang akan digunakan yakni

Dari nilai standar deviasi baku atau penyimpangan pada saat penelitian pada gas normal maka dapat terlihat bahwa standar deviasi baku pada motor berdiameter 10