• Tidak ada hasil yang ditemukan

dengan sumber daya alam (natural resources) beserta sumber daya budaya (cultural

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "dengan sumber daya alam (natural resources) beserta sumber daya budaya (cultural"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

DALAM MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP BESERTA FUNGSINYA UNTUK MEWUJUDKAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Oleh :

Prof. Dr. I Made Arya Utama,S.H.,M.Hum.

PENDAHULUAN A. Latar belakang

Negara Indonesia secara geografis membentang luas dari Sabang sampai Merauke dengan sumber daya alam (natural resources) beserta sumber daya budaya (cultural resources) yang melimpah bagaikan untaian zamrud mutu manikam di sepanjang garis khatulistiwa. Sementara itu secara historis dan faktual, Negara Indonesia juga dikenal sebagai negara yang bercorak multikultural, multi etnik, agama, ras, dan golongan. Multidemensi potensi dan kekuatan tersebut oleh para pendiri negara disepakati dikelola dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang divisualisasikan melalui sesanthi Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, sumber daya alam dan budaya Indonesia perlu dikelola secara bijaksana dan rasional untuk mewujudkan amanat alinea keempat Pembukaan UUDNRI 1945, yakni kesejahteraan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya melalui pembangunan secara berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan secara konsepsional adalah pembangunan yang dapat berlangsung secara terus menerus dan dapat memenuhi kebutuhan generasi masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi masa mendatang. Untuk dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan maka unsur-unsur pendukung pembangunan, seperti sumber daya alam hayati dan non hayati, sumber daya buatan maupun sumber daya manusianya diperlukan dalam keadaan berimbang. Dalam rangka hal itu, maka

(4)

kepentingan untuk pelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya harus dimasukkan kedalam penyelenggaraan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah maupun agenda program dan partisipasi masyarakat, baik pada proses politik, ekonomi, hukum, maupun pengembangan sosial budaya.

Secara konstitusional, kewenangan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup ditetapkan menjadi tanggung jawab Negara yang secara concurent didistribusikan antar penyelenggara pemerintahan baik di pusat dan/atau di daerah. Namun demikian, dengan paradigma baru berupa desentralisasi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang dikembangkan pada UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059), telah menyebabkan kewenangan Pemerintah Pusat di bidang lingkungan hidup menjadi berkurang. Sebaliknya, kewenangan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjadi semakin luas di Provinsi dan Kabupaten/Kota dengan harapan pengelolaannya dapat lebih tepat sasaran sesuai dengan karakteristik permasalahan lingkungan hidup setempat. Hal ini menunjukkan telah terjadinya pendelegasian (penyerahan) sebagian tanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dari Pemerintah menjadi tanggung jawab bersama dan menyeluruh dari semua pihak yang terkait (stakeholders) termasuk pula kepada masyarakat hukum adat maupun lembaga Perguruan Tinggi.

Keikutsertaan masyarakat hukum adat dalam perlindungan dan pengelolaan Lingkungan Hidup sejalan dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan demokratis yang berdasar pada kedaulatan rakyat dengan memberikan ruang partisipasi masyarakat untuk turut serta dalam penyelenggaraan tugas-tugas negara. Sementara itu, keikutsertaan

(5)

pendidikan tinggi sesuai dengan tujuan pendidikan nasional untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani serta mempunyai rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan pendidikan nasional tersebut mengamanatkan agar perguruan tinggi seperti Universitas dan Institut untuk mengembangkan kebijakan, program dan kegiatan berupa :

1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi serta kesenian;

2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Partisipasi masyarakat hukum adat dan pendidikan tinggi di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup seperti di atas sejalan dengan tujuan mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang telah menjadi tuntutan masyarakat dunia,1 nasional maupun daerah, dan pertumbuhan kesadaran manusia didalam menghormati serta melindungi lingkungan hidup dengan mengakui “hak atas lingkungan hidup yang baik

1Kazi F. Jalan dan JoAnne DiSano, Final Report, Conclusions and Recommendations of the Regional Consultative Meeting” dalam “Sustainable Development Asian and Pacific Perspectives”, Asian Development Bank, Manila, 1999, hlm. 1 dikemukakan “……the 1998 Asia-Pacifik Consultative meeting be taken as a first step in strengthening linkages with all main actors in the region, and harnessing regional institutions to further global and national concerns.

Linkages between regional and subregional organizations need to be strengthened, as do those between major international and multilateral agencies dealing with sustainable development”.

(6)

dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia”.2 Dalam kaitan itu, sangat menarik dikaji persoalan kedudukan masyarakat adat dan perguruan tinggi dalam melestarikan lingkungan hidup beserta fungsinya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan, adapun permasalahan yang dibahas melalui artikel ini adalah :

a. Bagaimanakah keterkaitan antara pembangunan berkelanjutan dengan kedudukan masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi ?

b. Bagaimanakah upaya masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui upaya perlindungan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya ?

C. Metode Penelitian

Penulisan artikel ini dikualifikasikan sebagai hasil penelitian hukum normatif yang mendasarkan sumber bahan hukumnya terutama pada bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier. Mengenai tehnik pengumpulan bahan hukum yang diterapkan untuk penulisan artikel ini adalah melalui tehnik study kepustakaan dengan menelaah berbagai bahan hukum yang terkait. Dengan demikian, metode analisis

2Prinsip Pertama Deklarasi Stockholm tentang Lingkungan Hidup jis. Prinsip ke-1 Deklarasi Rio de Janeiro tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Bagian I angka 11 Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak Asasi Manusia, Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945 hasil Amandemen Kedua, Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 hasil Amandemen Keempat dan lihat juga W. Paul Gormely, Human Rights and Environment : The Need for International Co- operation, A.W. Sijthoff International Publishing Company, Leyden-Netherland, 1976, hlm. 2.

(7)

yang diterapkan dalam penulisan artikel ini adalah metode sistematisasi, interpretatif, evaluatif, dan argumentatif untuk menghasilkan simpulan atas permasalahan yang dikaji.

PEMBAHASAN

A. Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk Pembangunan Berkelanjutan

Pasal 1 angka 2 UU No. 32 Tahun 2009 menetapkan konsep perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagai “upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/

atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”. Dalam kaitan itu, melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan terhdap lingkungan hidup menjadi kewajiban Pemerintah bersama semua pihak terkait, seperti masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi untuk mewujudkan adanya lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana diamanatkan Pasal 28 H UUDNRI 1945.

Masyarakat hukum adat yang menunjuk kepada sekelompok orang yang hidup dalam suatu wilayah (ulayat) tempat tinggal tertentu, memiliki kekayaan, pemimpin, tata aturan (sistem) hukum, dan pemerintahan sendiri, tentu berkewajiban memelihara lingkungan hidup untuk keberlanjutan kehidupannya. Demikian pula perguruan tinggi sebagai institusi akademis yang berbasiskan pada kebenaran ilmiah berkewajiban untuk

(8)

turut serta mengembangkan pemikiran ilmiah untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dengan melindungi lingkungan hidup dari perusakan dan/atau pencemaran.

Istilah pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada awalnya dimuat pada TAP MPR Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis Garis Besar Haluan Negara. Adapun pengaturan pembangunan berkelanjutan pada Ketetapan MPR tersebut dapat ditemukan pada Bab IV huruf h angka 4, yang menyebutkan:

Mendayagunakan Sumber Daya Alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan Lingkungan Hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan ekonomi dan budaya masyarakat lokal, serta penataan ruang, yang pengusahaannya diatur dengan Undang-Undang.

(cetak miring dari penulis)

Istilah pembangunan berkelanjutan lebih lanjut secara tersirat dapat disimak pada Pasal 33 ayat (4) UUDNRI 1945 yang menyatakan “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan hidup, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”. Sedangkan dalam dunia internasional, mengenai konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dikembangkan melalui laporan Komisi Dunia tentang Lingkungan Hidup dan Pembangunan (The World Commission on Environment and Development) tahun 1987

(9)

yang lebih dikenal dengan “Laporan Brundtland”3 dengan judul “Our Common Future”

(Masa Depan Kita Bersama). Pada laporan tersebut dikemukakan adanya keharusan setiap negara untuk menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable development concept).

Yoshiro Matsui dalam kaitan di atas mengemukakan bahwa untuk dapat mewujudkan pembangunan berkelanjutan maka antara strategi pembangunan dan kebijakan lingkungan hidup haruslah terintegrasi, sebagaimana dapat disimak dari pernyataannya sebagai berikut :4

The concept of sustainable development provides a framework for the integration of environmental policies and development strategies on the understanding that

“Environmental and development are not separate challenges; they are inexorably linked. Development cannot subsists upon a deteriorating environmental resource base; the environment cannot be protected when growth leaves out of account the costs of environmental destruction.

(Terjemahan bebasnya : Konsep pembangunan berkelanjutan menyediakan suatu kerangka pengintegrasian strategi pembangunan dan kebijakan lingkungan hidup untuk memahami bahwa "lingkungan dan pembangunan bukan dua hal yang dipertentangkan; Kedua hal itu tak dapat dielakan saling berhubungan.

Pembangunan tidak boleh mengakibatkan kerusakan sumber daya lingkungan

3Janine Ferretti, Common Future, Penerbit Pollution Probe, Toronto, Ontario, 1989, hlm. vii.

4Yoshiro Matsui, “The road to sustainable development : evolution of the concept of development in the UN”, dalam Konrad Ginther, et. al. (ed), Sustainable Development and Good Governance, Penerbit Martinus Nijhoff Publishers, London, 1994, hlm. 66.

(10)

hidup; lingkungan hidup tidak bisa dilindungi bila pembangunan tidak memasukkan perhitungan biaya kerusakan lingkungan).

Selanjutnya menurut Otto Soemarwoto,5 pembangunan berkelanjutan dimaknai dengan pembangunan yang dilaksanakan tidaklah bersifat serakah untuk kepentingan diri sendiri, melainkan memperhatikan juga kepentingan anak cucu dengan berusaha meninggalkan sumber daya yang cukup dan lingkungan hidup yang sehat serta dapat mendukung kehidupan mereka dengan sejahtera. Sedangkan secara normatif konstitutum, konsep pembangunan berkelanjutan diatur pada Pasal 1 angka 3 UU No. 32 Tahun 2009 yang menetapkan sebagai “upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan”.

Dalam pada itu, pembangunan berwawasan lingkungan hidup dapat diidentifikasi sebagai kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. M. Daud Silalahi mengibaratkan antara konsep pembangunan berkelanjutan dengan konsep berwawasan lingkungan hidup itu sebagai dua sisi dari mata uang yang sama, sehingga saling berkaitan.6 Demikian pula Emil Salim, melalui pendekatan ekologis mengemukakan hubungan antara kedua konsep tersebut sebagai berikut :7

5Otto Soemarwoto, Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Penerbit PT.

Gramedia Pustaka Utama, Cet. ke-2, Jakarta, 1992, hlm. 7.

6M. Daud Silalahi, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penerbit Alumni, Cet. ke-1, Bandung, 1992, hlm. 168.

7Emil Salim, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, Penerbit LP3ES, Cet. ke-6, Jakarta, 1993, hlm. 184-185.

(11)

Pembangunan berkelanjutan mengharuskan kita mengelola sumber alam serasional mungkin. Ini berarti bahwa sumber-sumber daya alam bisa diolah, asalkan secara rasional dan bijaksana. Untuk ini diperlukan pendekatan pembangunan dengan pengembangan Lingkungan Hidup, yaitu eco-development. Pendekatan ini tidak menolak diubah dan diolahnya sumber alam untuk pembangunan dan kesejahteraan manusia. Tetapi “kesejahteraan manusia” mengandung makna lebih luas, mencakup tidak hanya kesejahteraan materiil, pemenuhan kebutuhan generasi hari kini, tetapi juga mencakup kesejahteraan nonfisik, mutu kualitas hidup dengan Lingkungan Hidup yang layak dihidupi (liveable environment) dan jaminan bahwa kesejahteraan terpelihara kesinambungannya bagi generasi mendatang.

Lekatnya hubungan antara kedua konsep di atas, maka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup pada hakikatnya merupakan upaya sadar dan terencana dari semua pihak (stakeholders) termasuk juga masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi untuk mengintergarsikan dan mengharmonisasikan lingkungan hidup ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Konsep pembangunan berkelanjutan juga mengandung dimensi yang luas, tidak saja dimensi fisik-ekologis, melainkan juga dimensi religius, sosial, budaya, politik serta hukum. Dimensi religius tentu sangat penting untuk memberikan pijakan yang kuat bagi manusia dengan berbagai dimensinya untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup sebagai bagian dari kewajibannya menghormati, memelihara, dan menjaga keberlanjutan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Tindakan manusia yang merusak dan/atau mencemarkan

(12)

lingkungan hidup pada hakikatnya secara tidak sadar membunuh dirinya sendiri secara perlahan namun pasti. Sementara itu, dimensi sosial, budaya, politik, dan hukum sangat penting di negara berkembang oleh karena ketimpangan faktor itu cukup besar.

Konsekuensinya, konsep pembangunan berkelanjutan bukan merupakan konsep yang statis dan deterministik (tidak dapat dirubah), namun merupakan suatu konsep yang dinamis dan terbuka sehingga perlu terus dikaji dan dikembangkan. Konsep pembangunan berkelanjutan juga mengandung dua konsep pokok. Pertama adalah konsep needs (kebutuhan), terutama kebutuhan dari rakyat miskin di dunia yang memerlukan prioritas penanganan. Kedua adalah keterbatasan (limitations) kemampuan lingkungan hidup dalam memenuhi kebutuhan manusia sekarang maupun yang akan datang.

Konsep pembangunan berkelanjutan mengintegrasikan pendekatan “deep- ecology” atau “ecosentris” yang mempengaruhi gerakan-gerakan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dikritik terlalu utopia (terlalu muluk-muluk) dan hanya menekankan kepada kepentingan sumber daya alam dengan pendekatan

“anthropocentris” atau “homo-centris” yang dikritik terlalu egois yang hanya menekankan kepada kepentingan manusia. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan mensintesakan antara konsep ecosentris dan antroposentris yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan berdasarkan fokus pendalamannya. Dalam kaitan ini maka upaya pelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya sangat perlu dan aktual untuk dilakukan oleh semua pihak termasuk dari kaum intelektual melalui kajian-kajian ilmiah beserta pengaplikasiannya.

Dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di daerah maka hubungan antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota dalam pengelolaan lingkungan hidup

(13)

tidak lagi berdasarkan hierarkhi, tetapi berdasarkan sinergi yang harmonis antar kalangan pemerintah dan juga antara pemerintah dengan dunia swasta, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi masyarakat, dan masyarakat hukum adat. Hal ini berarti, pelaksanaan otonomi daerah dalam pengelolaan lingkungan hidup diharapkan dapat menumbuhkan komitmen baru seluruh pihak untuk mewujudkan tata kelola lingkungan hidup yang baik (environmental good governance), dimana semua pihak yang berkepentingan (pemangku kebijakan) termasuk masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi dapat membentuk suatu aliansi strategis dalam melindungi maupun mengelola lingkungan hidup. Pemerintah Daerah diberikan tanggung jawab penuh dalam perencanaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi pengelolaan lingkungan hidup secara proporsional sesuai dengan prioritas masalah setempat. Sebaliknya kepada pihak masyarakat hukum adat, perguruan tinggi, beserta organisasi kemasyarakatan lainnya di daerah diberikan peluang yang cukup besar untuk turut serta melindungi lingkungan hidupnya dengan membantu serta mengontrol pemerintah untuk mewujudkan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan sehat.

2.2. Partisipasi Masyarakat Hukum Adat dan Perguruan Tinggi Dalam Mewujudkan Lingkungan Hidup Yang Baik dan Sehat

Dari kajian antropologis dimana ada masyarakat di sana ada hukum (ubi societas ibi ius). Dengan mengikuti pendapatnya Lawrence M. Friedman, bahwa setiap bentuk kesatuan masyarakat akan memiliki sistem hukum tersendiri yang terdiri dari struktur hukum (legal structure), substansi hukum (legal substance), dan budaya hukum (legal

(14)

culture) dengan efektifitasnya tergantung pada nilai, persepsi, sikap, kebiasaan (custom) dan tradisi (tradition), atau budaya hukum (legal culture) dari masyarakat bersangkutan8. Dalam kaitan ini akan muncul adanya sistem hukum negara dan sistem hukum masyarakat yang tidak harus dipertentangkan namun semestinya harmonis atau berkesuaian. Sistem hukum dari manapun dibuat semestinya mengabdi untuk kepentingan kemanfaatan negara, bangsa, masyarakat, dan lingkungan hidup. Oleh karena itu, dalam kerangka perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah sebagai pembentuk Hukum Negara berkewajiban memberikan kesempatan kepada masyarakat termasuk juga masyarakat hukum adat untuk berpartisipasi dalam penyusunan politik hukum beserta produk hukumnya, pelaksanaan serta pengawasan atas produk hukum di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini sejalan dengan pengakuan dan penghormatan Negara secara konstitusional terhadap keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat sebagaimana diatur pada Pasal 18 B ayat (2) UUDNRI 1945 yang menetapkan sebagai berikut :

(2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

Dengan demikian, kesatuan masyarakat hukum adat yang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat maupun prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia diakui

8Lawrence M. Friedman, 1969, The Legal System : A Social Science Perspective, Russel Sage Foundation, New York, hlm.16.

(15)

keberadaan beserta hak-hak tradisionalnya, termasuk dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup untuk keberlangsungan eksistensi kesatuan masyarakat hukum adat bersangkutan.

Kesatuan masyarakat hukum adat berhak untuk turut serta dalam 6 (enam ) aspek kegiatan yakni perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup baik yang secara langsung maupun tidak langsung menganggu kelangsungan dan kesejahteraannya beserta keberlanjutan lingkungan hidupnya. Hal ini sejalan dengan konsep lingkungan hidup dalam Pasal 1 angka 1 UU no. 32 Tahun 2009 yang menetapkan “Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain”. Adapun wujud partisipasi masyarakat hukum adat dapat disalurkan dengan memberikan masukan atau informasi dalam penyusunan dokumen-dokumen kebijakan seperti dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH), Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), Baku Mutu dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup, penyusunan peraturan perundang-undangan berbasis lingkungan hidup, anggaran berbasis lingkungan hidup, studi kelayakan lingkungan seperti AMDAL, UKL-UPL terhadap pemrakarsa kegiatan yang rencana kegiatan atau usahanya diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Wujud partisipasi lainnya dapat melalui partisipasi aktif dalam pengembangan penegakan hukum responsif untuk secara dini ikut mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat melalui sadar lingkungan hidup beserta fungsinya yang berkelanjutan secara mandiri maupun terhadap pikiran,

(16)

perkataan dan perbuatan pihak lain yang akan dan/atau telah merusak maupun mencemarkan lingkungan hidup sesuai koridor hukum yang ditentukan. Hak dan kewajiban masyarakat, termasuk juga kesatuan masyarakat hukum adat untuk mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat juga diakui pada Pasal 65, 66 dan Pasal 67 UU No. 32 Tahun 2009 yang pada intinya mengakui setiap orang tidak dapat dituntut secara pidana maupun perdata dalam memperjuangkan haknya mendapatkan akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat dengan kewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Mengenai kedudukan Perguruan Tinggi dalam pengelolaan lingkungan hidup akan menyangkut minimal 2 (dua) aspek. Pertama, Perguruan Tinggi diberikan tugas yang semakin luas dalam turut serta membangun kemakmuran dan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat melalui pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Kedua, Perguruan Tinggi juga diharapkan mampu menghasilkan kajian ilmiah dan/atau tindakan konkret untuk mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat. Hal ini sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi telah membawa perubahan yang signifikan dan mendasar hampir pada semua aspek kehidupan manusia.

Perubahan yang terjadi disamping memberikan manfaat namun juga tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan tidak saja bagi mahluk hidup namun juga terhadap sumber daya alam tempat mahluk hidup melangsungkan kehidupannya. Berbagai permasalahan yang terjadi sering sangat sulit dapat dipecahkan kecuali dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh umat manusia.

(17)

Perguruan tinggi merupakan satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut. atau universitas. Menurut Pasal 1 angka 2 UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi ditetapkan bahwa ”Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia”. Pendidikan tinggi diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan. teknologi dan/atau kesenian.

Dari segi penjenjangannya, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Adapun struktur pendidikan tinggi di Indonesia terdiri dari dua jalur pendidikan, yaitu pendidikan akademik dan pendidikan profesional. Pendidikan akademik menghasilkan lulusan dengan gelar S1, S2 dan S3.

Pendidikan jalur profesional menghasilkan lulusan yang memperoleh sebutan profesional melalui program diploma (D1, D2, D3, D4) atau Spesialis (Sp1, Sp2).

Pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional akan memiliki peran strategis didalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu pengetahuan, dan teknologi dengan memperhatikan, menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang berkelanjutan. Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi pendidikan mengemban amanah untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi manusia beserta lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, perguruan tinggi

(18)

mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat maupun dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dalam hal ini perguruan tinggi harus mengupayakan dan menjadikan dirinya sebagai pusat pengembanan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.

Keempat kewajiban yang dipikul oleh Perguruan Tinggi tersebut oleh Perguruan Tinggi diwujudkan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Dengan dharma pendidikan, perguruan tinggi diharapkan mampu melakukan peran pencerdasan masyarakat dan transformasi pengetahuan dalam memberikan perlindungan terhadap kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Adapun wujud kegiatan yang dapat dilaksanakan perguruan tinggi dalam mengimplementasikan dharma pendidikan terhadap kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya antara lain :

a. Membentuk institusi yang secara khusus mengkaji secara ilmiah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup beserta fungsinya, seperti mendirikan program Studi Ilmu Lingkungan;

b. Mengembangkan kajian-kajian terhadap lingkungan hidup yang terinternalisasi dalam kurikulum Mata Kuliah suatu Program Studi, seperti MK Hukum Lingkungan, MK Kesehatan Lingkungan, MK Ekonomi Lingkungan, MK Tehnik Lingkungan;

c. Mengembangkan kajian-kajian terhadap lingkungan hidup yang bersifat ekstrakurikuler melalui diskusi kelompok atau focus group discussion antar mahasiswa dan/atau dosen pengajar terkait;

(19)

Dengan dharma penelitian, perguruan tinggi diharapkan melakukan temuan- temuan baru ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk juga inovasi kebudayaan terkait dengan upaya memberikan perlindungan terhadap kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Adapun wujud kegiatan yang dapat dilaksanakan perguruan tinggi dalam mengimplementasikan dharma penelitian dalam menwujudkan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya antara lain :

a. Membentuk institusi yang secara khusus melakukan kegiatan penelitian atau pengkajian secara ilmiah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup beserta fungsinya, seperti mendirikan Pusat Studi atau Pusat Penelitian Lingkungan Hidup;

b. Mengembangkan topik-topik penelitian inovatif yang akan dibiayai oleh perguruan tinggi terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, seperti penelitian tentang Perlindungan Daerah Aliran Sungai (DAS), sampah, konservasi hewan endemik, kawasan lindung, sempadan jurang;

c. Memberikan pendampingan sebagai konsultan dan/atau bantuan sebagai penyusun dokumen-dokumen kelayakan lingkungan seperti AMDAL, UKL- UPL terhadap pemrakarsa kegiatan yang rencana kegiatan atau usahanya diperkirakan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup;

d. Membangun kerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah dalam penelitian dan/atau penyusunan Naskah Akademik suatu produk hukum terkait dengan upaya pelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.

(20)

Melalui dharma pengabdian masyarakat, perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat dan lingkungan hidup untuk ikut mempercepat proses peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat melalui upaya perlindungan terhadap kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya. Melalui pengembangan dharma pengabdian pada masyarakat ini, perguruan tinggi juga akan memperoleh feedback dari masyarakat terkait daya guna dan relevansi bidang keilmuan dan penelitian yang dihasilkan. Adapun wujud kegiatan yang dapat dilaksanakan perguruan tinggi dalam mengimplementasikan dharma pengabdian kepada masyarakat dalam mewujudkan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya antara lain :

a. Menugaskan dosen yang berkompeten untuk bertugas sebagai Tim Penilai dokumen-dokumen kelayakan lingkungan seperti AMDAL, UKL-UPL di instansi pemerintahan yang berwenang melakukan penilaian atas dokumen- dokumen kelayakan lingkungan;

b. Menyelenggarakan kursus atau pelatihan kepada masyarakat dan/atau aparat Pemerintah terkait dengan lingkungan hidup melalui Pusat Studi yang berkompeten di lingkungan Perguruan Tinggi;

c. Melakukan kegiatan-kegiatan ramah lingkungan di dalam dan di luar kampus seperti penghijauan, prilaku peduli lingkungan;

d. Menggali dan mengembangkan dana abadi lingkungan untuk cadangan pendanaan dalam upaya menanggulangi pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;

(21)

e. Membentuk komunitas mahasiswa peduli lingkungan yang dapat melaporkan kepada instansi yang berwenang sebagai upaya preventif atas adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup;

f. Turut serta mengupayakan perlindungan lingkungan hidup melalui jalur hukum yang tersedia sebagai upaya represif atas adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Ketiga dharma perguruan tinggi itu diupayakan dapat berlangsung sinergis dan saling terkait, sehingga suatu peguruan tingi tidak boleh hanya berperan dalam sebagian dharma dan meninggalkan dharmanya yang lain.

Dengan pendekatan sinergis dan holistik yang dikembangkan dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi untuk mewujudkan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya maka impian pembangunan berkelanjutan akan lebih mudah direalisasikan.

Pada pihak lain, mahasiswa secara langsung mendapatkan pendewasaan keilmuan dan keterampilan empiris bersama-sama dengan masyarakat dan dosen dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan melalui perlindungan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya. Secara tidak langsung, hal itu pada esensinya adalah sebagai bagian dari upaya mensukseskan pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya sesuai tujuan bernegara yang diamanatkan pada alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indoensia Tahun 1945. Hal ini sejalan dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi sebagaimana ditetapkan pada Pasal 5 UU No. 12 Tahun 2012, yakni :

a. berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu,

(22)

cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa;

b. dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa;

c. dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia;

dan

d. terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Uraian di atas menunjukkan melalui partisipasi masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi akan dilahirkan insan-insan yang cerdas dan berkearifan lokal dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup yang baik dan sehat menunju pembangunan yang berkelanjutan.

III. PENUTUP

Berdasarkan uraian pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi

(23)

masa mendatang, sehingga membutuhkan komitmen dan/atau partisipasi seluruh pihak termasuk juga masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi dalam upaya melestarikan lingkungan hidup beserta fungsinya untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan;

2. Masyarakat hukum adat bersama perguruan tinggi dalam rangka melestarikan lingkungan hidup beserta fungsinya mengejawantahkan dirinya melalui pengembangan prilaku yang dijiwai pemikiran, perkataan dan perilaku yang ramah lingkungan serta secara dini partisipatif, ilmiah, sesuai ketentuan hukum yang berlaku mewujudkan lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai kunci mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Sementara itu kepada masyarakat hukum adat dan perguruan tinggi didalam mengupayakan perlindungan kelestarian lingkungan hidup beserta fungsinya disarankan agar bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam pembentukan produk hukum yang berkarakater ramah lingkungan dan bersifat holistik dengan mempertimbangkan semua komponen lingkungan hidup. Pada pihak lain, adanya aparat pemerintah yang peduli lingkungan juga perlu dibangun melalui pendidikan dan pelatihan oleh perguruan tinggi sehingga aparat pemerintah memiliki daya tanggap dan reaksi yang cepat dan tepat dalam menegakan hukum lingkungan di daerah.

DAFTAR BACAAN

Arya Utama, Hukum Lingkungan, Sistem Hukum Perizinan Berwawasan Lingkungan Untuk Pembangunan Berkalnjutan, Pustaka Sutra, Jakarta, 2007.

Ferretti, Janine, Common Future, Penerbit Pollution Probe, Toronto, Ontario, 1989.

(24)

Ginther, Konrad, et. al. (ed), Sustainable Development and Good Governance, Penerbit Martinus Nijhoff Publishers, London, 1994.

Gormely, W. Paul, Human Rights and Environment : The Need for International Co- operation, A.W. Sijthoff International Publishing Company, Leyden-Netherland, 1976.

Jalan, Kazi F. dan JoAnne DiSano, Final Report, Conclusions and Recommendations of the Regional Consultative Meeting” dalam “Sustainable Development Asian and Pacific Perspectives”, Asian Development Bank, Manila, 1999

Friedman, Lawrence M., 1969, The Legal System : A Social Science Perspective, Russel Sage Foundation, New York.

Salim, Emil, Pembangunan Berwawasan Lingkungan, Penerbit LP3ES, Cet. ke-6, Jakarta, 1993.

Silalahi, M. Daud, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Penerbit Alumni, Cet. ke-1, Bandung, 1992.

Soemarwoto, Otto, Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global, Penerbit PT.

Gramedia Pustaka Utama, Cet. ke-2, Jakarta, 1992.

Syafrudin, Ateng (penyadur), Pemerintah dan Yang Diperintah, Penerbit Tarsito, Bandung, 1978.

(25)

BIODATA (CURRICULUM VITAE)

Nama NIP

Tempat/Tanggal lahir Jenis Kelamin

Pekerjaan

Pangkat/Golongan

: : : : :

Prof. Dr. I Made Arya Utama,S.H.,M.H.

131918557 (19650221 199003 1 005) Bangli, 21 Pebruari 1965

Pria

PNS (Tenaga Edukatif FH. Unud) Pembina Utama Madya, IV/D Jabatan Fungsional : Guru Besar Madya

Bidang Keahlian : Hukum Lingkungan dan Hukum Perizinan

Alamat : Jalan Tukad Batanghari V/2 Panjer

Denpasar, Telp. (0361) 243466 – 264812 HP. 08164729289, 081337322303

Email : [email protected]

I. Riwayat Pendidikan

1. SARJANA Fak. Hukum Univ.

Udayana

Hukum Ad- ministrasi

No. 4718/PT.

17/3/S1/89 Tahun 1989

Denpasar Prof. I Gusti Ketut Sutha, S.H.

2. PASCA SARJANA Ilmu Hukum Univ.

Padjadjaran

Hukum Keta- tanegaraan

No. J06.3893/

L2.1792 Tahun 1997

Bandung Prof. Dr. H. Burhan Arief, Ir.

3. DOKTOR Ilmu Hukum Univ.

Padjadjaran

Hukum Keta- tanegaraan/

Hukum Lingkungan

No. J06.3893/

L2.1792 Tahun 2006

Bandung Prof. Dr. H. Himendra Wargahadibrata, Ir.

II. Judul Penelitian Dalam Mengikuti Program S1 sampai S3

No. Karya Ilmiah Judul Tahun

1. Skripsi Pengaturan dan Mekanisme Pengawasan Umum Terhadap Pelaksanaan Pemerintahan Daerah

1990 2. Tesis Penerapan Paksaan Pemerintahan Dalam Penegakan Peraturan

Daerah di bidang Lingkungan Hidup (Studi Kasus di Daerah Tingkat II Badung)

1997 3 Disertasi Sistem Hukum Perizinan Berwawasan Lingkungan Hidup

Dalam Mewujudkan Pembangunan Daerah yang Berkelanjutan (Suatu Studi terhadap Pemerintahan di wilayah Pemerintah Daerah Provinsi Bali)

2006

Denpasar, 10 Mei 2018 TTd

Prof. Dr. I Made Arya Utama,S.H.,M.H.

NIDN. 19650221 199003 1 005

Referensi

Dokumen terkait

KAJIAN STRUKTUR, NILAI MORAL, DAN REPRESENTASI BUDAYA JAMBI PADA KUMPULAN CERPEN NEGERI CINTA BATANGHARI SERTA PEMANFAATAN CERPEN SEBAGAI MODUL SISWA SMP..

Pada saat Uni Eropa melakukan larangan impor minyak sawit, maka kebijakan yang perlu dilakukan Pemerintah adalah mempercepat pelaksanaan kegiatan replanting karena

SIMULASI PENJADWALAN PRODUKSI PADA INDUSTRI FURNITURE SEBAGAI SOLUSI ESTIMASI TOTAL WAKTU SELESAINYA ORDER..

Penelitian ini mengembangkan sistem keamanan loker dengan menggunakan barcode scan berbasis Arduino sebagai kunci untuk membuka dan mengunci loker yang digunakan agar

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui proses tuturan ritual adat Mosooli, formula mantranya, serta fungsi ritual tersebut

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data rata-rata skor pemahaman konsep materi segiempat peserta didik yang menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Number Head

Hal tersebut disebabkan karena Andisol merupakan tanah yang berasal dari bahan induk vulkan, yang mana pada periode tertentu, terjadi penambahan bahan induk akibat

Raja Inggris Henri II, ia dibunuh oleh empat Ksatria suruhan Raja pada Desember 1170.. omnipotensi Tuhan, melainkan melalui ‘kedaulatan’. Fitur utama kedaulatan Westphalia,