INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT PENDATANG DENGAN MASYARAKAT LOKAL DI DESA HUTA BARGOT
NAULI KEC. HUTA BARGOT KAB. MANDAILING NATAL PROV. SUMATRA UTARA
SKRIPSI
‘’Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana S1 di IAIN Bukittinggi’’
Oleh:
MAISYAROH 4616.068
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BUKITTINGGI
2021 M/1442 H
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Integrasi Sosial Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat Lokal di Desa Huta Bargot Nauli Kecamatan Huta Bargot Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatra Utara”.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan, bantuan, serta motivasi dari berbagai pihak. Terima kasih untuk Ayah tercinta Abd. Solih Nst dan Ibu tercinta Rosita yang telah bersusah payah memberikan pendidikan terbaik untuk penulis, seterusnya pada kesempatan ini juga penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Ibu Dr. Ridha Ahida, M. Hum, selaku Rektor IAIN Bukittinggi yang telah memberikan dorongan kepada penulis untuk bisa menyelesaikan tugas kependidikan sebagai mahasiswa.
2. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc, M.Agselaku Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepada penulis.
3. Ibu Vivi Yulia Nora,M.Si,sebagaiKetuaProdi Sosiologi Agama yang telah memberikan nasehat-nasehat agar penulis lebih terarah untuk mengambil keputusan.
4. Bapak Dr. Gazali, M.Ag, selaku Penasehat Akademik yang selalu bersedia memberikan masukan dan solusi yang membangun bagi pendidikan penulis.
5. Bapak Dr. H. Nunu Burhanuddin, Lc, M.Ag selaku Pembimbing yang telah mengorbankan waktu, tenaga dan fikiran untuk selalu
memberikan masukan dan solusi kepada penulis.
6. Bapak/Ibu dosen serta staf pengajar Prodi Sosiologi Agama.
7. Kepada seluruh masyarakat serta bagian yang turut andil untuk terus memberikan kemudahan dan dorongan kepada penulis dalam melakukan penelitian serta mempermudah penulis dalam menyelesaikan pendidikan.
Penulis menyadari adanya keterbatasan pengetahuan, kemampuan,dan pengalaman. Oleh karena itu,saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat dan Allah SWT memberikan balasan kebaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Bukittinggi, Januari 2020 Penulis
Maisyaroh NIM. 4616068
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Batasan Masalah C. Rumusan Masalah D. Tujuan Penelitian E. Manfaat Penelitian F. Penjelasan Judul G. Sitematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Multikultural
1. Pengertian Multikultural B. Integrasi Sosial
1. Pengertian Integrasi Sosial 2. Integrasi menurut para Ahli
3. Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi 4. Manfaat Integrasi
C. Masyarakat
1. Pengertian Masyarakat
2. Masyarakat Menurut Para Ahli
3. Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang D. Struktural Fungsional
E. Penelitian Terdahulu F. Kerangka Berfikir
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
B. Lokasi Penelitian C. Informan Penelitian D. Teknik Pengumpulan Data E. Teknik Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran umum Desa Huta Bargot Nauli 1. Sejarah Desa Huta Bargot Nauli
2. Kondisi Geografis Desa Huta Bargot Nauli 3. Jumlah Penduduk
B. Proses Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang 1. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan
2. Kegiatan-Kegiatan Ritual Keagamaan 3. Kegiatan Adat
4. Kegiatan Kebangsaan
5. Proses Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat pendatang
6. Integrasi Sosial Sudah Berjalan dengan Baik atau Belum
7. Peran Tokoh Masyarakat dalam Mengintegrasikan Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang di Desa Huta Bargot Nauli
8. Pernah Terjadi Konflik antara Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang?
9. Proses Integrasi Sosial adakah Perlakuan Khusus terhadap Masyarakat Pendatang dari Pemerintah
C. Faktor Pendukung Terwujudnya Integrasi Sosial Masyarakat lokal dengan Masyarakat Pendatang
1. Ada Tidaknya Faktor Pendukung Integrasi Sosia 2. Faktor Pendukung Terlihat dalam Integrasi Sosial
3. Rasa Kesadaran Diri sebagai Mahkluk Sosial yang tidak dapat Hidup Sendiri sebagai Faktor Pendukung Integrasi Sosial
4. Sikap Kesadaran Diri Sebagai Makhluk Sosial dapat Mempengaruhi Proses Integrasi Sosial
D. Faktor Penghambat Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang
1. Adakah Faktor Penghambat yang Bapak/Ibu Lihat dalam Peoses Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyrakat Pendatang 2. Faktor Penghambat Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan
Masyarakat Pendatang yang Bapak/Ibu Lihat di Desa Huta Bargot Nauli
3. Perbedaan Kebudayaan juga menjadi Faktor Penghambat Integrasi sosial
4. Perbedaan Agama antara Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang menjadi Faktor Penghambat Proses Integrasi Sosil
5. Peran Tokoh Masyarakat dalam Mengharmonisasikan Kebudayaan yang Berbeda antara Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang E. Analisis Penelitian
1. Proses Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang
2. Faktor Pendukung Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang
3. Faktor Penghambat Integrasi Sosial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
ABSTRAK
Skripsi atas nama MAISYAROH NIM. 4616.068, yang berjudul
“INTEGRASI SOSIAL MASYARAKAT PENDATANG DENGAN MASYARAKAT LOKAL DI DESA HUTA BARGOT NAULI KEC. HUTA BARGOT KAB. MANDAILING NATAL PROV. SUMATRA UTARA”, Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittingggi. 2021.
Penelitian ini mengkaji tentang integrasi masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal di desa Huta Bargot Nauli kec. Huta Bargot kab. Mandailing Natal prov. Sumtra Utara. Integrasi sosial diantara kedua kelompok masyarakat berjalan sangat baik. Wujud integrasi sosial ini tampak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, kegiatan-kegiatan ritual keagamaan, kegiatan adat, dan kegiatan kebangsaan, meskipun ada beberapa faktor yang menyebabkan terhambat terwujudnya proses integrasi sosial baik diantara dua kelompok tersebut.
Penelitian ini bertujuan unutuk mendeskrpsikan integrasi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal, wujud-wujud integrasi sosial diantara kedua kelompok masyarakat tersebut, dan faktor yang menyebabkan terwujudnya dan terhambatnya proses integrasi sosial di desa Huta bargot Nauli.
Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif yaitu mendeskripsikan suatu, gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi disaat sekarang.
Informan dalam penelitian ini adalah empat orang masyarakat lokal, tiga orang masyarakat pendatang dan dua orang pula kepala tokoh adat serta satu orang alim ulama di desa Huta Bargot Nauli kec. Huta Bargot kab. Manailing Natal prov.
Sumtra Utara. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini berupa Observasi, Wawancara, Dokumentasi.
Dari hasil penelitian terlihat bahwa Proses integrasi sosial masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang sudah berjalan dengan baik meskipun masih begitru banyak perbedaan yang ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Disini sangat diperlukan tokoh masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang sehingga tidak ada lagi rasa kecemburuan sosial antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang, dan tidak ada lagi prasangka buruk terhadap pendatang bahwa mereka mendapat perlakuan khusus dari tokoh masyarakat. Proses integrasi sosial terkadang juga sering sekali gagal, proses integrasi sosial terkadang dapat menimbulkan konflik di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun di desa Huta Bargot Nauli tidak pernah terjadi konflik, jikapun ada itunya konflik ringan yang dengan mudah bisa diselesaikan bersama.
Kata Kunci: Integrasi Soaial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Integrasi berasal dari bahasa Inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Defenisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan masing-masing.1
Masyarakat indonesia merupakan masyarakat yang multikultural yang artinya memiliki banyak budaya.2 Terjadinya multikultural dalam masyarakat salah satunya dikarenakan adanya transmigrasi dimasa lalu.
Baik dengan tujuan ekonomi dan lain-lain sebagainya.3 Salah satu daerah tujuan transmigrasi pada masa itu adalah Sumatera, dan seluruh pelosok- pelosok Sumatera.
Mengenai masyarakat multikultural merupakan suatu keadaan masyarakat yang di dalamnya terdapat keanekaragaman budaya, termasuk
1 https://www.gurupendidikan.co.id/integrasi-adalah/ diakses tgl 24 Februari 2020 pukul 08.30 wib.
2 Herimanto and Wiranto, Ilmu Sosial & Budaya Dasar (Jakarta : TP, 2015) hal 103.
3 Komang Swasta, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harmonisasi Perdamaian Antaretnis (Study pada Masyarakat Desa Negara Ratu, Kecamatan Pakuan Ratu, Kabupaten Way Kanan, Lampung): (Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2018) hal 3.
didalamnya terdapat keanekaragaman bahasa, suku bangsa, adat istiadat, dan pola-pola sebagai tatanan perilaku anggota masyarakatnya.4
Sebagaimana terdapat dalam surah al-Hujurat ayat 13.5
Berdasarkan ayat di atas, Allah menerangkan bahwa dengan dijadikan berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan bergolong-golongan tidak lain adalah agar kita saling kenal dan saling menerima perbedaan. Adanya ragam perbedaan merupakan kenyataan sosial, sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dipungkiri. Karena perbedaan diciptakan agar kita berusaha lebih dalam mencintai sesama.
Indonesia adalah negeri yang kaya dengan keberagaman budaya.
Kemajemukan budaya tersebut merupakan suatu keniscayaan yang pasti kita jumpai dalam setiap masyarakat di manapun. Namun demikian, meskipun secara fisik manusia telah mampu untuk tinggal bersama dalam masyarakat majemuk, secara sosial spritual mereka belum memahami arti sesungguhnya dari hidup bersama dengan orang yang memiliki perbedaan kultur.
Beragamnya kultur dan budaya mengakibatkan rentan bagi timbulnya konflik antar budaya dan kultur yang berbeda. Persoalan tersebut menjadi salah satu penyebab utama dari terjadinya konflik sosial.
Dalam konteks kehidupan dan relasi sosial di tengah komunitas yang beragam memiliki kekuatan dalam menciptakan suasana sosial yang
4 Elly M.Setiady & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Kencana Prenadamedia group, 2013) hal 553.
5 Al-Qur’an Surat al-Hujurat Ayat-13
kondusif. Untuk itu perlu diciptakan suasana sedemikian rupa hingga menimbulkan kesadaran perlunya upaya untuk memahmi dan membuka diri dengan belajar menghormati pendapat orang lain.
Nilai yang paling penting untuk menciptakan wawasan tersebut adalah dengan kesediaan diri untuk mengakui eksistensi orang lain dan mau menyikapinya secara objektif sekaligus menghargai tanpa adanya kehilangan identitas serta kepribadian dari keyakinan sendiri. Demikian sejatinya dapat memberikan peran bagi tertatanya hubungan sosial yang harmoni dan semangat saling menghargai dan menghormati satu sama lain.6
Desa Huta Bargot Nauli merupakan salah satu daerah penerima transmigrasi, dari tahun 2010 sampai dengan 2011 transmigrasi. Walaupun desa Huta Bargaot Nauli merupakan salah satu desa yang dulunya merupakan desa terpencil namun sekarang sudah menjadi daerah transmigrasi yang terletak di Kecamatan Huta Bargot, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Otomatis desa tersebut memiliki banyak perbedaan baik itu dari segi suku, budaya, bahasa, adat- istiadat dan lain sebagainya. Namun, dari sekian banyak perbedaan tersebut tidak ada konflik yang terjadi di desa Huta Bargot Nauli yang terekspos media. Transmigrasi yang dilakukan di desa Huta Bargot Nauli adalah karena adanya tambang emas yang dikaitkan dengan program
6 Yusnacna dan Syahril, Pengaruh Integritas terhadap Kenirja Pada Sekertariat Daerah Kabupaten Pesisir selatan, E-Jurnal Menara Ilmu, 2013. No.42.
transmigrasi atau disingkat PIR-Trans. PIR-Trans merupakan sebuah paket pengembangan wilayah yang utuh. 7
Desa Huta Bargot Nauli terdiri dari dua unsur masyarakat yaitu masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, masyarakat lokal adalah masyarakat setempat (warga asli dari suatu negeri)8. Jika dilekatkan pada masyarakat lokal Huta Bargot Nauli, maka dapat diartikan masyarakat yang sudah tinggal atau menetap di suatu tempat yang menjadi tempat lahir, tumbuh dan berkembang. Masyarakat lokal di Desa Huta Bargot Nauli adalah masyarakat Huta Bargot Nauli itu sendiri.
Sedangkan masyarakat pendatang menerut George W, Barclay merupakan sumber perubahan jumlah penduduk, karena aliran imigrasi mudah terpengaruhi oleh fluktuasi.9 Abu Ahmadi Kaelani H.D tentang penduduk pendatang bahwa penduduk pendatang dapat terjadi di tingkat desa, kabupaten, pulau dan negara.10 Dalam penelitian ini adalah, yang dimaksud peneliti masyarakat pendatang adalah masyarakat yang berasal dari daerah dengan berbagai alasan kemudian menetap di desa Huta Bargot Nauli. Yaitu masyarakat Jawa.
Berdasarkan data tahun 2020 kawasan desa Huta Bargot Nauli dengan luas 3409,05 hektar persegi dihuni oleh penduduk dengan jumlah
7 Hasil wawancara dengan ibu Maimunah yang merupakan suku asli lokal pada tanggal 05 Januari 2020.
8 Abdullah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Sandro Jaya) hal 238.
9 George W, Barclay. Teknik Analisa Kependudukan (Jakarta: Bina Aksara, 1983) hal.61.
10 Abu Ahmadi Kaelani H.D, Kependudukan di Indonesia Berbagai Aspek (Semarang Mutiara Permata, 1982) hal 50.
1580 dengan 452 KK. Penduduk perempuan lebih banyak jumlahnya dibanding dengan jumlah laki-laki, perempuan berjumlah 862 orang sedangkan laki-laki 718 orang. Dengan perkiraan masyarakat pendatang 40% dan masyarakat lokal 60%. Dari kedua unsur masyarakat tersebut nampaknya mereka hidup berdampingan dan harmonis dengan segala dinamika kehidupan.11
Berdasarkan observasi awal peneliti di lapangan yang dilakukan pada Sabtu 04 Januari 2020,12 peneliti melihat integrasi yang berjalan di desa tersebut seperti, masing-masing suku saling membantu dan antusias dalam melaksanakan adat atau kegiatan masing-masing (suku), gotong royong dalam menjaga keamanan kampung pun dilaksanakan bersama- sama, saling membaur dan tanpa cangguang meskipun di dalamnya terdapat banyak perbedaan, baik perbedaan bahasa, budaya maupun adat- istiadat. Kedua suku tersebut bermasyarakat dengan harmonis dan rukun.
Integrasi tersebut bukan datang secara tiba-tiba, tetapi ada upaya yang lama dalam jalinan kehidupan diantara mereka sehingga keberagaman-keberagaman bukan menjadi ancaman, tetapi keragaman itu menjadi berguna bagi mereka sebagaiman disebutkan oleh Gandhi keberagaman itu bermanfaat dan berguna selama di dalamnya ada toleransi.13
11 Dokumen Data Profil Desa Huta Bargot Nauli
12 Observasi Awal, Sabtu 04 Januari 2020.
13 Silfia Hanani, Episteme “Studi Negosasi Kultural yang Mendamaikan Antaretnik dan Agama di Kota Tanjung Pinang” Vol. 12, No. 1 Juni 2017.
Terkait dengan ini maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Integrasi Sosial Masyarakat Pendatang dengan Masyarakat Lokal di Desa Huta Bargot Nauli Kecamatan Huta Bargot Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatra Utara”
B. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka batasan masalah dalam penelitian ini adalah integrasi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal. Hal ini terdapat pada masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal di desa Huta Bargot Nauli.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan adalah:
1. Bagaimana integrasi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal di Desa Huta Bargot Nauli Kecamatan Huta Bargot Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatra Utara ? D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan semua masalah di atas, serta mengkaji secara mendalam. Sehingga data yang diperoleh nantinya dapat dipertanggung jawabkan. Adapun tujuan masalah secara spesifik adalah:
1. Untuk mengetahui integrasi sosial masyarakat pendatang dengan masyarakat lokal di Desa Huta Bargot Nauli Kecamatan Huta Bargot Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatra Utara
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Untuk menambah khasanah keilmuan dan keilmuan pengetahuan sosial, khususnya ilmu “ Sosiologi Agama” dan manfaat yang diperoleh dari penelitian dan bersifat penelitian.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi penulis, memberikan bekal dan pengalaman ilmu yang didapat selama duduk dibangku kuliah untuk digunakan dalam kehidupan yang nyata.
b. Bagi yang diteliti, memberikan saran atau masukan yang konstruktif untuk kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang.
c. Bagi almamater, sebagai tolak ukur daya setiap mahasiswa yang bersangkutan selama menempuh pendidikan dibangku kuliah dalam merealisasikan ilmunya secara praktis.
F. Penjelasan Judul
Untuk menyamakan pemahaman dalam memahami judul penelitian ini, dan menghindari kesalahpahaman maka dapat peneliti jelaskan judul penelitian ini sebagai berikut:
Integritas Sosial: Integritas sosial berasal dari bahasa Inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur- unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Defenisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan masing-masing.14
14 https://www.gurupendidikan.co.id/integritas-adalah/ diakses tgl 24 Februari 2020 pukul 08.30 wib.
Masyarakat Lokal: Adalah masyarakat setempat (warga asli dari suatu negeri).15 Jika dilekatkan pada masyarakat desa Huta Bargot Nauli, maka dapat diartikan masyarakat yang sudah tinggal atau menetap di suatu tempat yang menjadi tempat lahir, tumbuh dan berkembang.
Masyarakat Pendatang: Penduduk pendatang merupakan sumber perubahan jumlah penduduk, karena aliran imigrasi mudah terpengaruhi oleh fluktuasi.
16Penduduk pendatang dapat terjadi ditingkat desa, kabupaten, pulau dan negara.17 Dalam penelitian ini, yang dimaksud peneliti masyarakat pendatang adalah masyarakat yang berasal dari daerah lain dengan berbagai alasan kemudian menetap di desa Huta Bargot Nauli.
15 Abdullah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Sandro Jaya) hal 238.
16 George W, Barclay. Teknik Analisa Kependudukan ( Jakarta: Bina Akasara, 1983) hal 61.
17 Abu Ahmadi Kaelani H.D. Kependudukan di Indonesia Berbagai Aspek (Semarang Mutiara Permata, 1982) hal 50.
G. Sistematika Penulisan
Penelitian ini tersusun secara sistematis dan terarah dari pokok permasalahan yang telah dirumuskan, keseluruhan pembahan proposal ini secara umum dapat peneliti sajikan dalam sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah b. Batasan Masalah
c. Rumusan Masalah d. Tujuan Masalah e. Manfaat Masalah f. Penjelasan Judul g. Sistematika Penulisan
Bab II Tinjauan Pustaka
a. Multikultural
1. Pengertian Multikultural b. Integrasi Sosial
1. Pengertian Integrasi Sosial 2. Integrasi Menurut Para Ahli 3. Karakteristik Integrasi 4. Manfaat Integrasi c. Masyarakat
1. Pengetian Masyarakat
2. Masyarakat Menurut Para Ahli
3. Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang d. Struktural Fungsional
e. Kajian Terdahulu f. Kerangka Berfikir
Bab III Metode Penelitian
a. Jenis Penelitian b. Lokasi Penelitian c. Informan Penelitian d. Teknik Pengumpulan Data e. Teknik Analisis Data
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Multikultural
1. Pengertian Multikultural
Akar kata multikultural adalah kebudayaan. Secara etimologis, multikultural dibentuk dari kata multi (banyak), kultur (budaya). Secara hakiki, dalam kata itu terkandung pengakuan akan martabat manusia yang hidup dalam komunitasnya dengan kebudayaannya masing-masing yang unik.18 Dengan demikian, setiap individu merasa dihargai sekaligus merasa bertanggung jawab untuk hidup bersama komunitasnya.
Multikultural berarti beraneka ragam kebudayaan.
Masyarakat multikultural merupakan keadaan masyarakat yang di dalamnya terdapat keanekaragaman, termasuk di dalamnya terdapat keragaman bahasa, agama, adat-istiadat dan pola-pola sebagai tatanan perilaku anggota masyarakatnya.19
Adapun multikultural menurut Parsuadi Suparlan dalam buku yang ditulis Elly M. Setiadi & Usman Kolip,20 berasal dari kata kebudayaan, yaitu kebudayaan yang dilihat dari fungsinya sebagai pedoman bagi kehidupan umat manusia.
18 Choirul Mahfud. Pendidikan Multikultural (Yogyakarta : Pustaka pelajar, 2006) hal 75.
19 Elly M. Setiadi & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman Fakta Dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahnya (Jakarta: Kencana, 2011) hal 552.
20 Ibid, 553.
Dalam konteks pembangunan bangsa, istilah multikultural ini telah membentuk suatu ideoligi yang disebut multikulturalisme.
Dengan demikian multikulturalisme merupakan paham yang dianut oleh suatu bangsa.
Masyarakat multikultural, J,S Furnivar dal buku yang ditulis Elly M. Setiadi & Usman Kolip21 bahwa dimasa penjajahan Belanda, masyarakat indonesia merupakan masyarakat yang memiliki perbedaan-perbedaan agama, suku bangsa, ras, adat, dan kedaerahan yang antara elemen yang satu dengan elemen lainnya dalam kehidupan sehari-hari tidak ada pembauran dalam kesatuan politik. Dalam hal ini Furnival memberikan batasan bahwa masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembaruan satu sama lain dalam satu kesatuan politik.
Multikultural menghendaki adanya sebuah kehidupan masyarakat yang demokratis, kesamaan, kebebasan dan wawasan pluralisme. Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, melainkan juga hubungan manusia dengan manusia, alam jagat raya dan lainnya. Dengan demikian multikulturalisme dengan pilar- pilarnya itu: demokrasi, kesamaan, kebebasan, dan pluralisme
21 Ibid, 554.
juga dapat perhatian dan respons dari ajaran Islam. Respons dan perhatian diberikan oleh Islam, agar konsep multikulturalisme dengan pilar-pilarnya itu tunduk pada nilai- nilai yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan, adat- istiadat, moral dan agama.22
Dengan demikian multikulturalisme yang dibangun adalah multikultural yang berbasis pada keseimbangan antara kebebasan manusia dan kehendak mutlak Tuhan, antara kepentingan individu dan sosial, antara mayoritas dan minoritas, serta nilai-nilai yang bersifat universal, unggul dan bertujuan untuk kebaikan dan kemajuan hidup jangka panjang yaitu multikulturalisme yang di dasari pada nilai-nilai keadilan, toleransi, kejujuran, kepentingan bersama dan keseimbangan dalam segala bidang.23
B. Integrasi Sosial
1. Pengertian Integrasi Sosial
Integrasi sosial Integrasi berasal dari bahasa Inggris
“integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan.
Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian fungsi. Defenisi lain mengenai integrasi
22 Abuddin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014) hal 254.
23 Ibid, 255.
adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan masing-masing.24
Integritas memiliki dua pengertian, yaitu:
a. Pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu.
b. Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur- unsur tertentu.
Suatu integrasi sosial diperlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun mengahdapi berbagai tantangan, baik berupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.
Dalam studi Sosiologi, teori integrasi berkembang dalam paradigma fungsionalisme struktural yang dicetuskan oleh Talcot Person. Paradigma fungsionalisme struktural ini berasumsi bahwa masyarakat berada dalam sebuah sistem sosial yang mengikat mereka dalam keseimbangan (ekuilibrium). Hal ini dapat dilihat dari dua pengertian dasar integrasi sosial, yaitu: pertama, pengendalian terhadap konflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu, dan kedua, menyatukan unsur-unsur tertentu dalam
24http://www.gurupendidikan.co.id/integrasi-adalah/ diakses tgl 24 Februari 2020 pukul 08.30 wib.
suatu masyarakat sehingga tercipta sebuah ketertiban sosial.
Proses ini bertujuan mengintegrasikan kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat dengan cara menjembatani perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh faktor-faktor teritorial/kultur, agama, kepentingan, kelas sosial dan sebagainya, dengan mengurangi kesenjangan yang di timbulkan oleh faktor-faktor tersebut.
2. Integrasi Sosial Menurut Para Ahli a. Paul B.Horton
Integrasi adalah proses pengembangan masyarakat yang mana segenap kelompok ras dan etnik mampu berperan secara bersama-sama dalam kehidupan budaya dan ekonomi.25
b. Kun Maryati dan Juju Suryawati
Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan sosial, ras, etnik. Agama, bahasa.
Kebiasaan, sistem nilai, dan norma.
25 http://www.seputarpengetahuan.co.id.pengertianintegrasi. Diakses tgl 01 Maret 2020 pukul 10.16 wib.
c. Soerjono Soekanto
Sebuah proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi gol melawan lawan yang disertai dengan ancaman/kekerasan.
d. Michael Banton
Mendefinisikan integrasi sebagai suatu pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat, tetapi tidak memberikan fungsi penting pada perbedaan ras tersebut. Hak dan kewajiban yang terkait serta ras seseorang hanya terbatas pada bidang tertentu saja dan tidak ada sangkut pautnya dengan bidang pekerjaan atau status.
e. Gillin
Bagian dari proses sosial yang terjadi karena perbedaan fisik, emosional. Budaya dan perilaku.
3. Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi Sosial
Berikut ini terdapat beberapa faktor pendorong dan penghambat integrasi sosial, diantaranya adalah:
a. Faktor Pendorong
1) Identifikasi, yaitu upaya yang dilakukan seseorang untuk menjadi sama (identik) dengan orang yang ditiru.
2) Motivasi, yaitu dorongan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang bersifat positif.
b. Faktor Penghambat
1) Stereotip, yaitu kecurigaan atau prasangka terhadap orang lain.
2) Apatis, yaitu rasa tidak peduli akan satu hal.
4. Manfaat Integrasi
Adapun manfaat integritas yaitu sebagai berikut:
a. Manfaat secara fisik
Diri kita akan merasa fit, sehat dan bugar.
Kita selalu siap melakukan aktivitas atau pekerjaan sehari-hari.
b. Manfaat secara intelektual
Dengan mental dan pengetahuan kita dapat mengoptimalkan kemampuan otak kita.
c. Manfaat secara emosional
Diri menjadi penuh motivasi, sadar diri, empati, simpati, solidaritas tinggi dan syarat kehangatan emosional dalam interaksi kerja.
d. Manfaat secara spritual
Menjadikan diri jadi lebih bijaksana dalam memaknai segala sesuatu termasuk pengalaman-
pengalaman hidup, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan contohnya keberhasilan, kegagalan dan penderitaan.
e. Manfaat secara sosial
Kita semakin mampu mengembangkan hubungan baik satu sama lain dalam lingkungan masyarakat mau bekerja sama untuk menyelesaikan tugas atau kegiatan yang menuntut kekompakan dan kerja sama yang baik, memiliki kepekaan hati dan perasaan untuk selalu memberi tempat bagi orang lain di dalam hati kita.26
C. Masyarakat
1. Pengertian Masyarakat
Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut dengan society, asal kata socius yang berarti kawan. Masyarakat (society) adalah wadah dari segenap antar hubungan sosial yang terdiri atas banyak sekali kolektiva-kolektiva serta kelompok dan tiap- tiap kelompok terdiri atas kelompok-kelompok lebih baik atau sub-kelompok. Masyarakat adalah suatu kebulatan daripada
26 Digilib.uinsgd.ac.id.FDF. integritas Moral. Diakses tgl 03 Maret 10.16 wib.
segala perkembangan dalam kehidupan bersama antara manusia dengan manusia lainnya.27
Adapun kata masyarakat dari bahasa Arab, yaitu syirk yang artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tentunya dikarenakan adanya bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan melainkan oleh unsur-unsur kekeuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan.
Jadi, masyarakat itu dibentuk oleh individu-individu yang berada dalam keadaan sadar. Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang menjadi dasar kehidupan sosial dalam lingkungan mereka sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Setiap itu masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidupnya masing-masing. Mereka melangkah berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut. Inilah yang melahirkan watak dan kepribadiannya yang khas.28
2. Masyarakat Menurut Para Ahli a. Aguste Comte
Aguste Comte berpendapat bahwa masyarakat merupakan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-
27 Suhada Idad, Ilmu Sosial Dasar (Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2016) hal 53.
28 Ibid, 54.
hukumnya sendiri dan tumbuh berkembang menurut pola perkembangan yang tersendiri.
b. Hassan Shadily
Hassan Shadily mendefinisikan masyarakat sebagai golongan besar atau kecil dari beberapa manusia, yang dengan atau sendirinya bertalian secara golongan dan mempunyai pengaruh kebatinan satu sama lainnya.
c. M.J Herskovist
Menurut M.J Herskovist masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan menjalankan serta mengikuti satu cara hidup tertentu.
d. J.L Gillin dan J.P Gillin
Mereka berpendapat bahwa masyarakat merupakan kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama.29
3. Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang a. Masyarakat lokal
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI, masyarakat lokal adalah masyarakat setempat (warga asli dari suatu negeri).30 Masyarakat yang sudah tinggal
29 Ibid, 55-56
30 Abdullah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarata: Sandro Jaya) hal 238.
atau menetap di suatu tempat yang menjadi tempat lahir, tumbuh dan berkembang.
b. Masyarakat Pendatang
Masyarakat pendatang menurut George W, Barclay
31merupakan sumber perubahan jumlah penduduk, karena aliran imigrasi mudah terpengaruhi oleh fluktuasi. Abu Ahmadi Kealani H.D tentang penduduk pendatang bahwa penduduk pendatang dapat terjadi di tingkat desa, kabupaten, pulau dan negara.
D. Struktural Fungsional
Struktural fungsional adalah salah satu paham atau perspektif di dalam sosiologi yang mengandung masyarakat sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama alain dan bagian yang satu tak dapat berfungsi tanpa ada hubungan dengan bagian yang lain. Kemudian, perubahan yang terjadi pada salah satu bagian akan menyebabkan ketidakseimbangan dan pada gilirannya akan menciptakan perubahan pada bagian lain.32
Asumsi dasar teori struktural fungsional adalah setiap struktur dalam sistem sosial, juga berlaku fungsional terhadap yang lainnya. Sebaliknya, kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak
31 George W, Barclay. Teknik Analisa Kependudukan (Jakarata: Bina Aksara, 1983) hal 61.
32 George Ritzer. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Jakarta: CV Rajawali, 1985) hal 25.
akan ada atau hilang dengan sendirinya. Teori ini cenderung melihat sumbangan satu sistem atau peristiwa terhadap sistem lain.
Karena itu mengabaikan kemungkinan bahwa suatu peristiwa atau suatu sistem dalam operasi menentang fungsi-fungsi lainnya dalam suatu sistem sosial. Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan semua struktur adalah fungsional bagi masyarakat.33
Teori struktural fungsional mempunyai empat imperetatif funsional bagi sistem “ tindakan “ yaitu skema AGIL. Fungsi adalah suatu gugusan aktivitas yang diarahkan untuk memenuhi satu atau beberapa sistem. Persons percaya ada empat ciri A (adaptasi), G (goal attaiment), pencapaian tujuan, I (integrasi), L (latensi), atau pemeliharaan pola.34
1. Agar bertahan hidup, sistem harus menjalankan ke empat fungsinya tersebut:
Adaptasi : sistem harus mengatasi kebutuhan situasional yang datang dari luar, ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan menyesuaikan linkungan dengan kebutuhan-kebutuhannya.
2. Pencapaian Tujuan : sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan-tujuan utamanya.
33 Ibid, 25.
34 George Ritzer- Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi (Bantul: Kreasi Wacana, 2011) hal 257-258.
3. Integrasi : sistem harus mengatur hubungan bagian- bagian yang menjadi komponennya dan itupun harus mengatur hubungan antar ketiga imperatif fungsional tersebut (A, G, L).
4. Latensi : sistem harus melengkapi, memelihara dan memperbaharui motivasi individu dan pola-pola budaya yang menciptakan dan mempertahankan motivasi tersebut.
Persons mendesain skema AGIL agar dapat digunakan pada semua level sistem teoritisnya. Dengan begitu agar suatu sistem dapat bertahan maka harus memenuhi empat persyaratan yaitu AGIL. Sistem akan berkembang apabila ke empat syarat itu saling berkaitan dan berhubungan kemudian syarat ini saling terpenuhi.
E. Penelitian Terdahulu
Penelitian tentang kehidupan masyarakat multikultural memang telah dilakukan oleh beberapa peneliti, namun bukan dalam arti kita bisa mewakili seluruh konteks kenidupan masyarakat multikultural diberbagai wilayah di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelusuran penulis, ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat multikultural yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam penulisan pembahasan ini.
Berikut adalah hasil review dari penelitian yang berkaitan yang sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya:
1. Rini Nafika menguraikan tentang Strategi Membangun Kerukunan antara Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang di Desa Limbur Baru. Hasil penelitian ini adalah kondisi masyarakat yang rukun ini merupakan hasil dari berbagai strategi yang dilakukan oleh semua aspek masyarakat, baik itu dari masyarakat lokal maupun dari masyarakat pendatang. Strategi dari masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang setidaknya mampu menjawab sebab kondisi masyarakat yang rukun dapat dicapai, dan berbagai ketegangan dapat diredam sehingga tidak pernah berujung kekerasan antar suku di desa Limbur Baru.35
2. Rozalita menguraikan tentang Hubungan Sosial Warga pendatang dengan Warga Tempatan di Desa Bagan Tujuh Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu. Hasil penelitian ini adalah interaksi yang dilakukan oleh warga pendatang dan warga tempatan baik itu berupa kerja sama, asimilasi, amalgamasi maupun kontraversi. Kerja yang dilakukan warga pendatang dengan warga tempatan saling menguntungkan satu dengan yang lain. Contoh kerja sama yang dilakukan warga yaitu warga yang memiliki
35 Rini Nafika, Strategi Membangun Kerukunan antara Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang di Desa Limbur Baru, (Bukittinggi: Jurusan S1 Prodi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Bukittinggi, 2019).
lahan perkebunan membutuhkan buruh untuk memanen kelapa sawit, sedangkan buruh membutuhkan pekerjaan untuk menafkahi keluarga dan anak-anak. Hubungan sosial terjalin baik antara pemilik lahan dengan buruh tani yang disebabkan pertemuan yang sering terjadi antara kedua belah pihak dan terbentuk interaksi yang saling merespon dengan baik.36
3. Intan Resmana Ujirahayu menguraikan tentang Kerukunan antar Suku dalam Masyarakat Multikultural di Kampung Kutowinangan Kec. Sedang Agung Kab.
Lampung Tengah. Penelitia ini bertujuan untuk mengetahui kerukunan antar suku sebagai masyarakat yang terjalin di kampung tersebut, serta untuk mengetahui upaya dan usaha yang dilakukan oleh petinggi kampung dalam mewujudkan kerukunan antar suku yang terjalin di kampung Kutowinangan. Adapun hasil penelitian yang diperoleh adalah kerukunan antar suku yang terjalin di kampung Kutowinangan dibangun melalui interaksi antar suku yang selalu terjadi dan yang bersifat rutin. Melalui interaksi tersebut maka tumbuhlah keterbukaan dan toleransi serta solidaritas antar suku. Selain kerukunan antar suku di kampung
36 Rozalita, Hubungan Sosial Warga Pendatang dengan Warga Tempatan di Desa Bagan Tujuh Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rakon Hulu, (Pekanbaru: Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau, Pekanbaru, 2016).
Kutowinangan di dorong oleh kepentingan dan kebutuhan yang sama, dalam mencapai kebutuhan serta kepentingan yang sama mereka membentuk suatu perkumpulan atau asosiasi sesuai kepentingan yang akan mereka capai.37
F. Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis perputaran antar variabel yang akan diteliti.
Tabel 2.1
37 Ujirahayu, Intan Resmana, Kerukunan antar Suku dalam Masyarakat Multikultural di Kampung Kutowinangan Kec. Sedang Agung Kab. Lampung Tengah (Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2016).
Masyarakat Lokal Masyarakat Pendatang
Integritas Sosial
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan diskriptif. Penelitian deskriptif merupakan sebuah penelitian yang bersifat pemaparan dalam rangka menggambarkan selengkap mungkin suatu keadaan yang berlaku di tempat tertentu, suatu gejala yang ada, atau suatu peristiwa tertentu yang terjadi dalam masyarakat dalam konteks penelitian.38
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, maka peneliti menjadi instrumen. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument. Menurut Sugiyono, untuk dapat menjadi instrumen, peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas, sehingga mampu bertanya, menganalisis, memotret dan mengkontruksi obyek yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.39
Dengan menggunakan pendekatan deskriftif, peneliti diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh terhadap permasalahan.
Pendekatan deskriptif akan memungkinkan peneliti mendapatkan data.
Peneliti menggali informasi dari informan tanpa berusaha mempengaruhi
38 Rulam Ahmadi, Metodelogi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2014) hal 14.
39 Sugioyono, Memahami Penelitian Kualitatif ( Bandung: Pusat Bahasa Depdiknas 2008) hal 1.
informan. Peneliti mendapatkan hasil berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari informan dan menyajikannya dengan apa adanya.
Penentu informan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik snowball sampling. Snowball sampling adalah mengambil informan
berdasarkan titik jenuh. Diibaratkan seperti halnya bola salju yang diawali dengan sangat kecil, mengelinding semakin jauh dan semakin padat dan besar.40
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di Desa Huta Bargot Nauli. Desa Huta Bargot Nauli merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Huta Bargot Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara. Desa ini terdiri dari dua unsur masyarakat yaitu masyarakat lokal dan masyarakat pendatang.
Melalui proses transmigrasi banyak masyarakat dari berbagai latar belakang baik suku maupun budaya yang berbeda datang dan masuk ke Desa Huta Bargot Nauli ini. Mulai dari masyarakat Jawa, Nias, dan Sunda.
Sehingga Desa Huta Bargot Nauli memiliki berbagai perbedaan baik dari segi bahasa, seni, budaya, adat-istiadat dan lain sebagainya.
Alasan peneliti memilih Desa Huta Bargot Nauli sebagai lokasi penelitian dikarenakan desa ini merupakan desa kecil yang di dalamnya terdapat multietnik dan banyak perbedaan yang ada namun meraka dapat
40 Imam Suproyogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001) hal 166.
menjalani hidup berdampingan secara damai. Sementara di daerah lain perbedaan tersebut menjadi salah satu penyebab konflik.
C. Informan Penelitian
Informan adalah orang yang paling mengetahui tentang apa yang sedang diteliti oleh peneliti untuk mendapatkan data. Dalam hal ini, informan terbagi menjadi dua yaitu:
1. Key Informan (kunci)
Informan kunci dalam penelitian ini adalah warga masyarakat lokal dan warga masyarakat pendatang di Desa Huta Bargot Nauli, Kecamatan Huta Bargot, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.
2. Informan Pendukung
Informan pendukung dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat pendatang dan tokoh masyarakat lokal, serta pemuda-pemudi dari kedua masyarakat tersebut di Desa Huta Bargot Nauli, Kecamatan Huta Bargot, Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan ketiga teknik tersebut, namun disini yang lebih utama adalah teknik observasi partisipasi karena teknik ini peneliti dapat terjun langsung dan berbaur dengan masyarakat untuk mengungkapkan makna yang tersembunyi dibalik suatu
fenomena yang nampak. Sedangkan dengan teknik pengumpulan data dengan wawancara dan dokumentasi digunakan untuk membantu, memperkaya, dan melengkapi data penelitian yang akan diperoleh oleh peneliti.
1. Pengamatan atau Observasi
Observasi adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami, mencari jawaban, mencari bukti terhadap fenomena (perilaku, kejadian-kejadian, keadaan, benda dan simbol-simbol tertentu) selama beberapa waktu tanpa mempengaruhi fenomena yang diobservasi, dengan mencatat, merekam, dan memotret fenomena tersebut guna penentuan data analisis.41
Saat mengadakan pengamatan peneliti terlibat sepenuhnya terhadap apa yang dilakukan sumber data dengan mengamati apa yang sedang dilakukan dan dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan dan berpartisipasi dalam aktivitas mereka.
Peneliti mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian berupa integritas sosial masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang di Desa Huta Bargot Nauli.
2. Wawancara
41 Suproyogo, Imam dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial- Agama (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001) hal 167.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur atau terbuka dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pertanyaan biasanya tidak disusun terlebih dahulu, namun disesuaikan dengan keadaan dan ciri yang unik dari informan. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.42
Wawancara dilakukan berdasarkan perjanjian terlebih dahulu agar tidak mengganggu kegiatan rutinitas informan.
Lamanya wawancara sekitar 1 jam. Rekaman data dilakukan dengan menggunakan handphone. Setelah mengadakan wawancara, rekaman wawancara dan catatan hasil wawancara tersebut selanjutnya ditulis ulang ke dalam kertas buram.
Wawancara dilakukan terhadap masyarakat lokal, masyarakat pendatang, pemuda-pemudi masyarakat lokal dan masyarakat pendatang. Peneliti akan mengadakan wawancara tentang integritas sosial masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang di Desa Huta Bargot Nauli.
3. Dokumentasi
Metode dokumrntasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel-variabel yang
42 Imam Suproyogo dan Tobrani, Ibid, hal 177.
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, agenda dan lain sebagainya.43 Peneliti dalam hal ini menggunakan teknik dokumentasi untuk memperoleh data yang berupa arsip-arsip, catatan-catatan, buku-buku yang berkaitan dengan integritas masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang. Dokumentasi yang dimaksud bisa berupa foto-foto, dokumrn dan transkip wawancara, kemudian dokumentasi ini akan dikumpulkan untuk di analisis demi kelengkapan data penelitian.
E. Teknik Analisis Data
Menurut Miles dan Huberman dan juga Yin dalam buku yang ditulis Imam Suproyogo dan Tobroni44 tahap analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum dimulai sejak pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara dengan berbagai sumber data dari integritas sosial masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang di tengah masyarakat yang beragam. Selain itu dikumpulkan juga hasil observasi dan dokumentasi yang diperoleh sesuai dengan sub fokus dalam penelitian ini.
Reduksi data dilakukan untuk menelaah kembali seluruh catatan lapangan yang diperoleh, kemudian membuat rangkuman, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, kemudian membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan
43 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, Cet. 13. 20, 2006.
44 Imam Suproyogo dan Tobroni, Ibid, 192.
memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya bila diperlukan.
Penyajian data disusun sesuai dengan sub fokus penelitian agar lebih mudah untuk dipahami. Penyajian data diarahkan agar data hasil reduksi terorganisasikan. Data yang telah terkumpul, kemudian peneliti pilah-pilah sesuai dengan sub fokus penelitian, selanjutnya disajikan dalam bentuk naratif, bagan dan matriks, atau dideskripsikan secara jelas gambaran sebenarnya yang dihasilkan peneliti di lapangan.
Menarik kesimpulan dilakukan berdasarkan temuan dan verifikasi data. Data-data yang disajikan tersebut baik dari hasil wawancara, observasi, maupun dokumentasi kemudian disimpulkan. Kesimpulan ini akan berubah bila ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung tahap pengumpulan data berikutnya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti inilah yang disebut dengan verifikasi data. Peneliti menyimpulkan bahwa proses reduksi data dan penarikan kesimpulan sementara dilakukan selama pengumpulan data masih berlangsung. Sedangkan untuk verifikasi dan penarikan kesimpulan akhir dilakukan setelah pengumpulan data selesai.
Dalam pengertian ini, analisis data kualitatif merupakan upaya yang berkelanjutan, berulang dan terus-menerus. Masalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan menjadi gambaran kebenaran secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling susul- menyusul.45
45 Imam Suproyogo dan Tobroni, Ibid, hal 193-197.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Desa Huta Bargot Nauli 1. Sejarah Desa Huta Bargot Nauli
Desa Huta Bargot Nauli adalah desa yang terletak di wilayah kecamatam Huta Bargot kabupaten Manailing Natal provinsi Sumatra Utara, yang secara rinci tidak ada sejarah yang dapat diungkapkan maupun dituliskan, karena desa Huta Bargot Nauli merupakan sebuah desa yang melakukan pemekaran pada tahun 1980. Sebelum desa Huta Bargot Nauli melakukan pemekaran, desa Huta Bargot Nauli masih berupa desa yang bergabung dengan Desa Simalagi.
2. Kondisi Geografis Desa Huta Bargot Nauli
Desa Huta Bargot Nauli merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Huta Bargot dengan luas wilayah ± 95 ha. Jumlah penduduk desa Huta Bargot Nauli 1.626 jiwa dengan jumlah 446 KK (kepala keluarga) dengan 443 unit rumah, dan yang memimpin saat ini Desa adalah Ahmad Roihan.46
Penduduk di Desa Huta Bargot Nauli mayoritas beragan Islam.
Mayoritas pekerjaan penduduk Desa Huta Bargot Nauli adalah bertani.
Selain bertani pekerjaan penduduk Desa Huta Bargot Nauli ada yang
46 Arsip Desa Huta Bargot Nauli Kec. Huta Bargot Kab. Mandailing Natal Prov. Sumatra Utara tahun 2020
berdagang, honorer, tambang emas, pegawai negri, pegawai swasta, dan lain-lain.
3. Jumlah Penduduk
Penduduk desa Huta Bargot Nauli mayoritas bersuku Mandailing.
Jumlah penduduk di desa Huta Bargot Nauli berjumlah setiap tahunnya selalu bertambah, hal ini bisa terjadi disebabkan akan kelahiran lebih tinggi dibaningkan angaka kematian pada setiap tahunnya.
Adapun jumlah penduduk desa Huta Bargot Nauli aalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah Penduduk
1 Laki-Laki 750
2 Perempuan 876
Jumlah 1.626
4. Agama
Penduduk desa Huta Bargot Nauli mayoritas memeluk agama Islam. Hal tersebut juga bisa dilihat dari sarana peribadahan yang mempunyai 2 mesjid dam 4 mushallah.
B. Proses Integrasi Soaial Masyarakat Lokal dengan Masyarakat Pendatang 1. Kegiatan Sosial Kemasyarakatan
Suatu masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya pasti mempunyai kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan orang-orang yang tinggal dan masuk ke dalam komunitas masyarakat di wilayah dimana mereka berdomisili, dari sini peneliti melihat sebagai gambaran penerimaan masyarakat lokal terhadap masyarakat pendatang di desa Huta Bargot Nauli. Masyarakat pendatang yang berada di desa Huta Bargot Nauli telah menunjukkan kerjasama yang baik dengan dasar hubungan sosial kemanusiaan antara satu dengan yang lainnya.
Dari beberapa informasi yang peneliti rangkum, tidak ada satu informasi yang mengindikasikan akan kesan jelek terhadap kerjasama yang ditunjukkan oleh masyarakat pendatang atas kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan di lokasi penelitian. Beberapa kegiatan sosial kemasyarakatan di lokasi penelitian, yaitu:
a. Musyawarah desa
Musyawarah desa merupakan kegiatan dalam pengambilan keputusan pada suatu forum dan agenda yang akan dilaksanakan bersama secara mufakat. Musyawarah juga merupakan wadah penting dan strategis bagi masyarakat untuk menyalurkan gagasan dan kebutuhannya agar dapat difasilitasi pemerintah desa untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat
desa. Biasanya musyawarah dilakukan apabila ada permasalahan yang akan dipecahkan atau mencari jalan keluar dari kesulitan. Tujuan tersendiri adanya musyawarah untuk mufakat ialah untuk membentuk rakyat yang harmonis, erat akan kekeluargaan, dan semangat kebersamaan.
Masyarakat desa Huta Bargot Nauli sering melakukan musyawarah apabila ada kegiatan-kegiatan penting.
Masyarakat setempat sebisa mungkin harus datang untuk menghadirinya baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. Seperti kata Bapak Udin:
“Apabila ada kegiatan sosial kemasyarakatan seperti musyawarah desa, kami masyarakat lokal selalu mengutamakan kehadiran masyarakat pendatang, karena disini kami tidak membeda-bedakan baik itu masyarakat lokal ataupun masyarakat pendatang.
Intinya kami sama-sama masyarakat desa Huta Bargot Nauli”.47
Jadi peniliti menyimpulkan bahwa apabila ada kegiatan sosial kemasyarakatan semua masyarakat setempat diharapkan kehadirannya, baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. Sebab mereka semua sama, sama-sama masyarakat desa Huta Bargot Nauli.
b. Kerjasama atau gotong royong
Alasan utama yang menjadi pola mereka melakukan pembauran antara masyarakat setempat adalah dengan cara
47 Wawancara dengan Bapak Udin, pada tanggal 11 November s/d 12 November tahun 2020
bekerjasama. Kegiatan kerjasama tolong menolong, gotong royong antara masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang ini menandakan bahwa mereka memiliki sikap saling ketergantungan satu sama lain, yang dimana sikap ini merupakan salah satu ciri budaya masyarakat di desa Huta Bargot Nauli sebagai masyarakat multi etnis yang telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Hasil wawancara dengan bapak Juanda mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat desa Huta Bargot Nauli pada hari Jum’at pagi mengadakan kerjasama dan gotong royong bersama membersihkan kampung. Baik itu dipekarangan rumah sendiri maupun jalan. Kegiatan tersebut dilakukan secara kerjasama dan suka rela, bahkan jika ada salah satu warga masyarakat yang berhalangan mengikuti kegiatan tersebut, mereka akan menyumbangkan berupa kue dan minuman sebagai pengganti diri.
Gotong royong juga dilakukan ketika akan diadakan acara- acara tertentu. Seperti gotong royong dalam memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan sebagainya. Dengan adanya kegiatan gotong royong masyarakat akan saling berinteraksi secara langsung sehingga akan menguatkan rasa sosial, solidaritas sosial, serta mempererat hubungan silaturahmi antar masyarakat.
Kerjasama dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan seperti yang diuraikan di atas, peneliti akumulasi dari informasi-informasi beberapa informan diantaranya seperti yang dituturkan oleh bapak Ahmad Roihan, beliau adalah kepala desa Huta Bargot Nauli. Menurutnya bahwa masyarakat pendatang bertahan lama karena disebabkan mereka mau bekerjasama.
“Masyarakat pendatang itu gampang diarahkan, namun pada dasarnya itu tergantung dari pemimpinnya, Cuma yang banyak terdengar bahwa masyarakat pendatang ini mudah untuk diajak kerjasama”.48
Kutipan wawancara uraian tersebut membuktikan bahwa komunitas masyarakat pendatang menganggap diri mereka merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelompok masyarakat yang lain di desa Huta Bargot Nauli, sehingga setiap ada kegiatan-kegiatan sosial yang melibatkan orang banyak mereka harus ikut serta di dalamnya. Uraian-uraian tersebut juga diperkuat oleh bapak Agam (30) yang berasal dari Jawa, berikut pernyataannya:
“Kami dari dulu tidak pernah melihat seseorang ari latar belakang yang mereka miliki, selama mereka tidak mengganggu kami maka kami juga berlaku sama dengan apa yang mereka lakukan. Kami sangat menjunjung tinggi identitas kami dan begitu juga suku Jawa, tapi
48 Wawancara dengan Bapak Ahmad pada tanggal 13 November s/d 14 November tahun 2020
sekali lagi itu bukan menjadi hambatan untuk saling bekerjasama dan hidup berdampingan”.49
Dari pandangan-pandangan tersebut, diakui bahwa mereka bekerjasama satu dengan yang lainnya untuk tetap menjadi satu bagian dan menjadi satu seperti halnya masyarakat yang tidak memiliki perbedaan mendasar yang selalu dibesar-besarkan.
Disini peneliti melihat apapun kegiatannya masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang tetap saling bantu membantu, karena mereka sadar bahwa mereka saling ketergantungan satu sama lain. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Begitu juga dengan masyarakat lokal tidak bisa hidup tanpa bantuan masyarakat pendatang begitu juga sebaliknya.
2. Kegiatan- Kegiatan Ritual Keagamaan
Masyarakat desa Huta Bargot Nauli merupakan masyarakat yang agamis, dimana mayoritas penduduknya menganut agama Islam.
Karena itu akan memudahkan masyarakatnya untuk saling berhubungan atau berkomunikasi dengan masyarakat pendatang yang juga beragama Islam. Hal tersebut dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan
49 Wawancara dengan Bapak Agam pada tanggal 15 November s/d 16 November tahun 2020
keagamaan yang sangat berkembang dan hampir diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal suku atau kelas sosial.
Jalur hubungan dalam kegiatan ritual keagamaan, penulis membaginya dalam tiga bagian, yaitu shalat berjama’ah, pengajian mingguan, dan hubungan dalam memeperingati Hari-Hari Besar Islam (PHBI).
a. Shalat Berjama’ah
Shalat berjama’ah diikuti oleh seluruh masyarakat, baik masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. Shalat berjama’ah merupakan sarana yang baik untuk saling mengenal, bersilaturahmi, dan tidak adanya stratifikasi sosial.
Shalat berjama’ah juga mempunyai nilai tinggi dibandingkan dengan shalat sendiri.
Penuturan Tokoh Agama: Bapak Gozali:
“Shalat berjama’ah yang sering dilakukan oleh masyarakat lokal, yaitu Shalat Jum”at, Shalat Tarawih dan Witir, Shalat Hari Raya Islam (Idul Fitri dan Idul Adha), serta shalat magrib dan shalat isya meskipun shalat ini masih jarang sekali diikuti oleh masyarakat pendatang”.50 Hubungan dalam shalat berjama’ah dapat dilihat dari kebiasaan para jamaah sesudah melaksanakan shalat magrib yang tidak langsung pulang ke rumah, tetapi mereka malah berbincang-bincang sambil menunggu datangnya shalat isya dan setelah itu juga para jamaah ssling berjabat tangan ketika
50 Wawancara dengan Bapak Gozali pada tanggal 17 November s/d 18 November tahun 2020
shalat sudah selesai. Hal tersebut akan menambah keakraban dan jiga terjalinnya ukhuwah islamiah.
b. Pengajian Mingguan
Pengajian mingguan ini diikuti bapak-bapak, ibu-ibu, dan para remaja baik itu masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang. Pengajian ini dilaksanakan di tempat yang berbeda- beda. Pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu dilaksanakan di balai desa setiap hari sabtu. Sementara pengajian remaja dilaksanakan di rumah secara bergantian setiap malam jum’at.
Dengan tujuan agar mereka saling mengenal atau bersilaturahmi antara yang satu dengan yang lainnya.
Kegiatan pengajian ini selain membaca Al-Qur’an, atau ilmu tauhid dan lain-lain. Pengajian ini juga bersifat sosial, yaitu mengadakan arisan, menabung, dan mengumpulkan infak shadaqah yang dimintakan kepada para jamaah pengajian pada setiap minggunya yang akan digunakan untuk santunan anak yatim, para jamaah yang terkena musibah. Hal inilah yang membuat pengajian di daerah ini sangat berkembang sampai sekarang.
Selain itu, pengajian ini tidak hanya dilakukan di balai desa saja, tetapi juga dilakukan di rumah seseorang yang mempunyai hajat dengan tujuan meminta do’a bagi keluarganya, seperti tujuh bulanan, selamatan pernikahan,
sunatan dan juga tahlilan. Kegiatan pengajian ini tidak memandang dari mana mereka berasal, kaya atau miskin yang terpenting adalah mencari keridhan Allah SWT.
c. Kegiatan dalam memperingati Hari-Hari Besar Islam (PHBI) PHBI merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan setiap tahunnya oleh umat Islam, seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Tahun Baru Islam, Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya.
Salah satu PHBI yang saling menguatkan persaudaraan baik dikalangan masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang, yaitu Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan Tahun Baru Islam yang berupa pengajian.
Penuturan dari bapak Khoirul :
“Kegiatan tersebut dikoordinir oleh panitia yang berasal dari para remaja di bawah perlindungan aparatur desa dan juga melibatkan bapak-bapak dan ibu-ibu pengajian. Panitia peringatan ini juga melibatkan masyarakat lokal dengan masyarakat pendatang, mereka bersama-sama melaksanakan kegiatan peringatan tersebut. Selain itu panitia peringatan juga membutuhkan partisipasi masyarakat untuk mendukung acara tersebut’.51
Masalah pendanaan, panitia peringatan meminta dana kepada masyarakat baik masyarakat lokal maupun masyarakat pendatang seikhlasnya. Selain itu panitia juga mencari dana dari para donatur yang berasil dari orang-orang yang
51 Wawancara dengan Bapak Khoirul pada tanggal 19 November s/d 20 November tahun 2020
mempunyai kekayaan lebih atau toko-toko yang ada di daerah tersebut demi kelangsungan acara tersebut.
Untuk mensukseskan acara ini, panitia meminta kepada seluruh masyarakat untuk berpartisipasi menghadiri acara tersebut tanpa membedakan suku, status sosial, dan sebagainya.
Selain PHBI yang sudah dijelaskan di atas, ada juga acara PHBI yang selalu di rayakan oleh umat Islam, yaitu Idul Fitridan Idul Adha. Dimana masyarakat pendatang yang tidak pulang ke kota asalnya mereka saling mengunjungi para tetangga dari rumah ke rumah dengan membawa kue lebaran.
Selain itu adanya hari raya tersebut mereka saling mengucapkan selamat dan meminta maaf atas segala kesalahan yang dibuatnya dalam kehidupan seharai-hari. Hal yang sama juga dilakukan oleh tuan rumah dengan cara menghidangkan kue-kue lebaran dan minta maaf juga atas kesalahan yang diperbuatnya. Sedangkan bagi mereka yang pulang ke kota asalnya, mereka akan kembali ke tempat ini dengan membawakan oleh-oleh khas asal mereka yang sengaja dibawakan untuk para tetangganya sambil meminta maaf lahir batin.